Artikelilmiahs

Menampilkan 2.021-2.040 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
202111704F1G011036MEMAHAMI MAKNA TEKS-TEKS TEMBANG JAWA
PADA KESENIAN TRADISIONAL GONDOLIO DI BANYUMAS
Skripsi berjudul Memahami Makna Teks-teks Tembang Jawa pada Kesenian Gondolio di Banyumas ini mengambil latar belakang kearifan lokal yang khas di desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana mendeskripsikan makna pada teks-teks tembang gondolio. Tujuan masalah ini adalah untuk mendeskripsikan makna enam teks kesenian gondolio, yaitu Gondolio, Jo Liyo, Ilir-ilir Kangkung, Kuluh-kuluh, Bendrong Kulon, dan Cucuk Benik.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan fokus penelitian adalah mendeskripsikan makna yang ada di dalam teks-teks gondolio.
Hasil penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, teks gondolio menceritakan kehidupan pertanian di Desa Gondolio. Ketika menjelang panen, para petani memainkan gondolio untuk menemani mereka menjaga padinya dari burung, babi hutan dan hama lainnya. Teks kedua adalah berisi tentang seorang kaya bernama Jo Liyo yang tinggal di sebuah desa yang miskin sehingga masyarakat banyak tergantung padanya.
Teks ketiga adalah Ilir-ilir Kangkung berisi tentang kehidupan pertanian yang di pedesaan yang mulai rusak karena ulah manusia yang serakah. Kerusakan ekosistem membuat tanaman menjadi tidak tumbuh subur. Teks keempat adalah Kuluh-kuluh, berisi tentang masyarakat desa biasanya suka membicarakan keburukan orang lain..
Teks kelima Bendrong Kulon, adalah teks yang berisi tentang seorang laki-laki yang tak berani melamar perempuan yang dicintainya karena tidak percaya diri. Teks keenam adalah Cucuk Benik, berisi silsilah keluarga pada saat ini mulai dilupakan oleh sebagaian masyarakat.
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah teks-teks gondolio berisi tentang kehidupan pedesaan. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan bagi peneliti selanjutnya agar kesenian dapat dikaji secara lebih mendalam.
The study entitled Memahami Makna Teks-teks Tembang Jawa pada Kesenian Gondolio di Banyumas was taking a background of the uniqueness of local wisdom in Tambaknegara village, Rawalo subdistrict, Banyumas. The research question in this study is how to describe the song texts of gondolio. The purpose of this study is to describe the six texts of gondolio meaning, there are Gondolio, Jo Liyo, Ilir-ilir Kangkung, Kuluh-kuluh, Bendrong Kulon, and Cucuk Benik.
The method that was used in this study is qualitative descriptive research which is focus on describing the meaning in the gondolio texts.
There are five results in this study. First, the text tells about Gondolio farm life in the Gondolio village. When there will be harvest, the farmers play gondolio to accompany themselves in keeping the rice from birds, wild pigs and other pests. The second text contains of a rich man namely Jo Liyo who lived in a village, so there are many poor people that depend on him.
The third text is Ilir-ilir Kangkung, it tells about the agricultural life in the countryside that has damaged by the greediness of human activity. The damage of ecosystem makes the plants become thriving. The fourth text is Kuluh-kuluh, it contains of the villagers that were usually like to make a gossip of others.
The fifth text is Bendrong Kulon, it is a text which contains about a man who was afraid to purpose the woman that are he love because they are not confident. The sixth is Cucuk Benik text, it contains of a family tree that is forgotten by the public today.
The conclusion of this study is the texts of gondolio tells about rural life. This study is hopefully can give input for the next researcher so the art can be studied more deeply.
202211705B1J010072KERAGAMAN KUMBANG COLEOPTERA PADA HUTAN DAMAR DAN PINUS DI DESA SERANG PURBALINGGALereng timur Gunung Slamet merupakan salah satu kawasan hutan di Indonesia yang dipengaruhi oleh hutan hujan bagian barat dan hutan musim bagian timur Jawa. Beberapa hutan alam di daerah ini telah diubah menjadi hutan tanaman industri terutama pinus dan damar sejak bertahun-tahun yang lalu (1917). Karakteristik dari kanopi, fragmentasi hutan, dan iklim mikro dari lantai hutan telah berubah. Akibatnya, struktur komunitas, distribusi dan komposisi kelompok organisme mungkin telah berubah karena adanya perubahan iklim mikro habitat serangga tanah termasuk kumbang (Coleoptera). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman kumbang (Coleoptera) di lantai hutan pinus dan damar hutan lereng timur Gunung Slamet, Desa Serang, Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini dilakukan selama bulan Februari hingga Mei 2014, dengan menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel purposive random sampling (kuadran) sepanjang garis transek. Setiap baris terdiri dari lima kuadran diletakkan alat perangkap secara acak. Variabel yang diteliti adalah keragaman spesies dan parameter meliputi jumlah familia dan spesies Coleoptera. Parameter tambahan meliputi pH, kelembaban dan tekstur tanah. Sampel diidentifikasi di Laboratorium Entomologi, Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Data dianalisis dengan menggunakan indeks Shannon-Wiener. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan total individu dari hutan pinus dan hutan damar sebanyak 112 individu dari ordo Coleoptera yang terdiri dari 4 familia yaitu Nitidulidae sebanyak 13 individu, Laemophloeidae sebanyak 3 individu, hydrophilidae sebanyak 7 individu dan Scarabidae sebanyak 89 individu. Dari hutan damar, ditemukan sebanyak 96 individu sebanyak 4 spesies . Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan hutan pinus di mana diperoleh hanya 16 individu sebanyak 3 spesies. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener hutan damar adalah 3,295 (sedang) dan hutan pinus adalah 0,463 (rendah). Perbedaan indeks keanekaragaman Coleoptera dikarenakan adanya perbedaan kelembaban dan intensitas cahaya yang terkait dengan tingkat dekomposisi humus.





.
SUMMARY
The eastern slope of Mount Slamet is one of the Indonesian rain forest area that is influenced by the wet rainforest of the western part and the monsoon forest of the eastern part of Java. Some natural forests in this area have been converted into industrial forest especially pine and dammar since many years ago (1917). Consequently, the chracteristics of the canopies, forest fragmentation, and the microclimate of the forest floor have been altered. As a result, the community structure, distribution and the composition of organismal groups may have changed due to the changes in microclimate of the habitat of soil insects including beetles (Coleoptera). The aim of this research is to investigate the diversity of beetles (Coleoptera) on the forest floor of the pine and dammar forests of the eastern slope of Mount Slamet, Serang village, Karangreja District, Purbalingga Regency. This research was conducted during the months of February until May 2014, using a survey method with a purposive random sampling technique along transect lines. Each line was consisted of five quadrants where pitfall traps were randomly placed. The variable studied was the species diversity and the parameters were the numbers of families and species of Coleoptera. The additional parameters were pH, humidity and the soil texture. The samples were indentified in the Laboratory of Entomology, Faculty of Biology, Jenderal Soedirman University Purwokerto. The data were analysed by using Shannon-Wienner Index. The results showed that there were found from both pine and dammar forests the total of 112 individuals of Coleopteran families consisted of 4 Nitidulidae that as many as 13 individuals, Laemophloeidae as much as 3 individuals, hydrophilidae much as 7 imdividuals and Scarabidae as many as 89 individuals. From the dammar forest, 96 individuals were found consisted of 4 species. These number were greater than that of the pine forests where there were obtained 16 individuals consisting of 3 species. Diversity index Shannon-Wienner of dammar forest was 3.295 (high) and of pine forest was 0.463 (low). This difference of diversity index of Coleoptera may be due to the difference in humidity and light intensity associated with the decomposition rate of the humus.



.

202311706P2CC11029PENGARUH MINAT PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN SISTEM
INFORMASI TERHADAP KINERJA INDIVIDU
MENGGUNAKAN MODEL UTAUT
Penelitian ini membahas tentang bagaimana minat pemanfaatan dan penggunaan sistem pada pegawai Pengadilan Negeri Banyumas dan Pengadilan Negeri Purwokerto. Sistem tersebut yaitu Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) dan Direktori Putusan MA RI. Selanjutnya penelitian ini juga menguji pengaruhnya terhadap kinerja individu pegawai. Sebanyak 57 kuesioner yang kembali dan dapat diolah dari 60 kuesioner yang telah dibagikan. Dengan menggunakan Sem-PLS, hasil penelitian telah menunjukkan bahwa Minat pemanfaatan dan penggunaan kedua sistem tersebut tinggi dan berpengaruh positif terhadap kinerja individu. Ekpektansi kinerja dan ekpetansi usaha berpengaruh positif terhadap minat pemanfaatan sistem informasi, selain itu minat pemanfaatan sistem informasi berpengaruh positif terhadap penggunaan sistem informasi. Sedangkan pengaruh sosial terbukti tidak berpengaruh terhadap minat pemanfaatan sistem informasi dan kondisi fasilitas juga tidak berpengaruh terhadap penggunaan sistem informasi. This study discusses how the interests of utilization and use of the system to the employees of the District Court and Court of Purwokerto, Banyumas. The system is the Search Case Information System (SIPP) and Decision Directory MA RI. Furthermore, this study also tested the effect on the performance of individual employees. A total of 57 questionnaires were returned and can be processed from 60 questionnaires that have been distributed. By using the Sem-PLS, research has shown that behavioral intention and use of both systems have high and positive effect on the individual performance. work expectancy and effort expectancy have positive effect on behavioral intention (BI), in addition BI have positive effect on the use of information systems. Despite of social influence proved not affect BI and facilitating condition also does not affect the use of information systems.
202411707G1D008089HUBUNGAN KEIKUTSERTAAN LANSIA DALAM KELOMPOK SWABANTU DENGAN PERILAKU PENGENDALIAN HIPERTENSI DI DESA LINGGASARI KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMASHUBUNGAN KEIKUTSERTAAN LANSIA DALAM KELOMPOK SWABANTU DENGAN PERILAKU PENGENDALIAN HIPERTENSI DI DESA LINGGASARI KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS
Fitriani Maba1, Asep Iskandar2, Aswin3

1Mahasiswa Jurusan Keperawatan, FIKes Unsoed

2Departemen Keperawatan Komunitas, Jurusan Keperawatan, FIKes Unsoed

3Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas

Email: v3_maba@yahoo.co.id

ABSTRAK
Latar belakang: Hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi didalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keikutsertaan lansia dalam kelompok swabantu dengan perilaku pengendalian hipertensi di Desa Linggasari Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan rancangan cross-sectional. Sampel sebanyak 44 responden diambil dengan tehnik total sampling, instrumen penelitian yang digunakan adalah kuisioner dengan uji chi square.
Hasil: Lansia yang mengalami hipertensi paling banyak berjenis kelamin perempuan berusia 45-59 tahun yang memiliki tingkat pendidikan SD dan memiliki perilaku pengendalian hipertensi yang cukup. Hasil analisis chi square didapatkan nilai p=0,013.
Kesimpulan: Adanya hubungan antara keikutsertaan lansia dalam kelompok swabantu dengan perilaku pengendalian hipertensi
Kata Kunci: Hipertensi, kelompok swabantu, lansia, perilaku

RELATIONSHIP OF THE PARTICIPATION OF THE ELDERLY IN THE SELF-HELP GROUP WITH THE HYPERTENSION CONTROL BEHAVIOUR IN LINGGASARI VILLAGE KEMBARAN SUBDISTRICT BANYUMAS REGENCY

Fitriani Maba1, Asep Iskandar2, Aswin3

1Student of nursing,facultly of health sciences of, jendral soedirman university

2Depertement of medical surgical nursing, nursing, faculty of health sciences of jendral soedirman university

3Health district office in Banyumas

Email: v3_maba@yahoo.co.id

ABSTRACT

Background: Hypertension is a condition without symptoms, which are abnormally high pressure in the arteries leading to icreased risk for stroke, aneurysm, heart failure, heart attack and kidney damage.
Object: This research aims to determine the relationship of the participation of the elderly in the self-help group with the hypertension control behaviour in Linggasari village, Kembaran subdistrict, Banyumas regency.
Method: This is a quantitative study, using cross sectional design. A total of 44 respondent were participate in this study. Data were collected using questionnaire. Chi square was used to analyzed the data.
Result: The most elderly experiencing hypertension are women aged 45-59 years old who educated at elementary school and have difficient hypertension control behaviour. The result of Chi square analysis p=0,013.
Conclusion: Participation of the elderly in the self-help group has adequate hypertension behaviour.

Keywords: Hypertension, self-help group, elderly, behaviour.



202511710G1F011054ANALISIS KUALITATIF PERSEPSI DOKTER TERHADAP PERAN APOTEKER DALAM AKTIFITAS FARMASI KLINIK DI RSUD. PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTOSistem pelayanan kesehatan yang berkualitas sangat bergantung pada profesional kesehatan khususnya dokter dan apoteker. Penerimaan dokter terhadap layanan apoteker tergantung pada penilaian dokter yang melekat pada kompetensi apoteker. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan persepsi dokter terhadap peran apoteker dalam aktifitas farmasi klinik di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam (indepth interview). Informan dalam penelitian ini adalah dokter spesialis penyakit dalam atau dokter penyakit anestesi yang bertanggungjawab di ruang ICU yang berpraktek di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo. Teknik sampling yang digunakan dengan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel didasarkan atas kriteria atau pertimbangan yang diambil berdasarkan tujuan peneliti. Analisa data menggunakan analisa data secara kualitatif deskriptif yaitu dengan menggunakan proses berpikir induktif, dimana dalam pengujiannya bertitik tolak dari data yang terkumpul kemudian disimpulkan. Validitas data dilakukan dengan teknik triangulasi, yaitu suatu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain, di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa dokter memahami beberapa peran apoteker dalam bidang farmasi klinik di rumah sakit, dan dokter merasa terbantu dengan adanya layanan farmasi klinik oleh apoteker di rumah sakit. Dokter juga memiliki harapan yang besar terhadap apoteker untuk melakukan visite di rawat inap serta menilai apoteker perlu meningkatkan skill dan kompetensi yang dimiliki sehingga dokter lebih percaya kepada apoteker mengenai informasi obat. Selain itu, dokter menilai apoteker perlu meningkatkan kualitas dalam berkomunikasi. Dokter juga menganggap perlu menambah sumber daya apoteker, dan berharap apoteker dan dokter untuk bekerja secara sinergis. Pada proses triangulasi, apoteker sependapat dengan informasi yang diberikan oleh dokter dan berusaha merealisasikan harapan yang diinginkan dokter.
The quality of health services system is really depend on the health profesional especially the physicians and pharmacist. Physicians acceptance of pharmacist service depend on physicians assessment which is close to pharmacist competencies. The purpose of this research was to describe physicians perception of pharmacist roles in clinical pharmacy activities in RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
The research was a qualitative research using indepth interview. Informan on this research were physicians who practice in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. The sampling technique used was puposive sampling method. The sample taken based on criteria or considerations by researcher. Data analyzed using qualitative descriptive method that used inductive thinking process, where the test started from the data gathering and ended in data summary. Validity of data was done by triangulation techniques, an assessment of data validity which use other data than the sample for checking the data.
The result showed physicians had known some of the pharmacists role in the field of clinical pharmacy at the hospital, and physicians felt that the clinical pharmacy services by pharmacists in hospitals. Physicians also had great expectations for the pharmacist to visit in hospitalization as well as assessing the pharmacist needed to improve the skills and competencies so that the physician had more confidence in pharmacists about drug information. In addition, physicians had assessed that the pharmacist needed to improve the quality of communication. Physicians also considered the need to add more pharmacists, and wish both pharmacists and physicians to be able to work synergistically. In the process of triangulation, pharmacists agreed with the information given by the physicians and tried to realize the desired expectations physicians.
202611712G1F011065Analisis Kualitatif Faktor-faktor Pendukung Kepatuhan ODHA (Orang dengan HIV AIDS) dalam Meminum Obat Antiretroviral di RSUD Margono Soekardjo
HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrom) adalah salah satu masalah kesehatan terbesar di Indonesia. ARV (Antiretroviral) adalah obat yang mampu menghambat progresivitas HIV/AIDS. Kepatuhan dalam mengonsumsi ARV dapat memperpanjang umur harapan hidup ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) secara bermakna. Kendala-kendala yang dialami ODHA dalam menjalankan terapi ARV dapat berupa efek samping, frekuensi, biaya, akses, dan jumlah obat serta ketidakpercayaan akan efektivitas obat. Sehubungan dengan ketersediaan ARV yang hanya ada dua jenis ARV, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung kepatuhan ODHA, selain faktor karakteristik obat, dalam meminum obat ARV.
Studi ini merupakan penelitian kualitatif di RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Margono Soekarjo, Purwokerto, Jawa Tengah yang dilaksanakan selama empat bulan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan penelitian yaitu ODHA yang telah menerima terapi ARV dari RSUD Margono Soekarjo paling sedikit selama tiga bulan. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Jumlah informan dianggap telah memadai jika data telah jenuh atau telah mencapai redudancy. Analisis data dilakukan secara kualitatif deskriptif dengan proses berpikir induktif.
Hasil penelitian menyatakan faktor-faktor pendukung kepatuhan ODHA dalam meminum obat ARV adalah keinginan untuk sembuh atau sehat, ARV gratis, anak, dukungan dari keluarga dan komunitasm hubungan yang baik dengan dokter, pelayanan klinik VCT, stigma dan diskriminasi. Peneliti menyarankan pemerintah untuk memberikan edukasi pada masyarakat tentang penularan dan pencegahan penyakit HIV/AIDS serta tetap mengupayakan tersedianya ARV gratis bagi ODHA

HIV (Human Immunodeficiency Virus) and AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) is one of the most common health problems in Indonesia. ART (Antiretroviral Therapy) are medications that have the ability to inhibit the progression of HIV/AIDS. Adherence in taking ART can prolong the life expectancy of PLHIV (People Living with HIV/AIDS) significantly. Constraints experienced by PLHIV in commit ART could be the side effects, frequency, cost, access, and the amount of the drug as well as distrust of the effectiveness of the drugs. Because of the availability of ART drugs that only two types, this study aims to identify factors, except for charackeristics of drugs factor, that support PLHIV adherence in taking ART drugs.
This study is a qualitative research in Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional General Hospital, Purwokerto, Central Java, which was conducted over four months. Data collected by doing in-depth interviews with informants. They are PLHIV who have been receiving ART treatment from the hospital for at least three months. The sampling technique was purposive sampling. The number of informants deemed adequate if the data has been surfeited or has achieved redundancy. The data were analyzed with descriptive qualitative inductive thinking process.
It was concluded that the supporting factors PLHIV to adherence in taking ART drugs are the eagerness to get cured or to be healthy, free ART drugs, children, the support from their families and peer groups, a good relationship with the doctor, the service of VCT clinic, stigma and discrimination. Author suggests the government to educate the public about transmission and prevention of HIV/AIDS, also keep the effort to provide free ART drugs for PLHIV.
202711756H1A011002IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER FRAKSI N-HEKSANA DARI EKSRTAK METANOL(Mangifera indica L.) SEBAGAI ANTIBAKTERIMangga (Mangifera indica L.) merupakan tanaman yang banyak digunakan dalam obat tradisional terutama bagian daun, batang, buah dan biji. Beberapa penyakit yang melanda masyarakat disebabkan oleh bakteri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui golongan metabolit sekunder pada biji mangga dan uji aktivitas sebagai antibakteri. Biji mangga dimaserasi dengan pelarut metanol dan difraksinasi dengan n-heksana. Ekstrak metanol dan fraksi n-heksana dilakukan uji fitokimia, selanjutnya fraksi n-heksana dilakukan uji aktivitas antibaktetri terhadap bakteri B. cereus dan bakteri E. coli. Uji aktivitas antibakteri dibandingkan dengan kontrol positif amoxycillin dan kontrol negatif DMSO menggunakan metode difusi sumur agar. Fraksi n-heksana dilakukan fraksinasi dengan kromatografi kolom. Eluen terbaik dianalisis menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil kromatografi kolom dikumpulkan menjadi fraksi menggunakan kromatogram KLT dan spektrofotometer UV-Vis. Berdasarkan uji fitokimia diketahui bahwa ekstrak metanol mengandung tanin, flavonoid dan terpenoid sedangkan fraksi n-heksana mengandung terpenoid. Aktivitas antibakteri biji mangga dapat menghambat B. cereus lebih besar dibandingkan dengan bakteri E. coli. Diameter zona hambat tertinggi pada bakteri B. cereus adalah pada konsentrasi 20 % pada waktu 18 jam dan pada bakteri E. coli adalah pada konsentrasi 20 % pada waktu 12 jam. Daya kekuatan antibakteri fraksi n-heksana dikategorikan lemah dan bersifat bakteriostatik.Mango (Mangifera indica L.) is a plant that is widely used in traditional medicine, especially the leaves, stems, fruits and seeds. Some diseases that hit the community caused by bacteria. This research was conducted to know the secondary metabolites compounds in mango seed and antibacterial activity test. Mango seeds are macerated with methanol and fractionated with n-hexane solvent. Methanol extract and fractions of n-hexane phytochemical test, the next fraction of n-hexane test antibaktetri activity against bacteria B. cereus and E. coli bacteria. Test antibacterial activity compared with the positive control is amoxicillin and negative control is DMSO by using agar diffusion method. Fraksination of n-hexane be fraksination by column chromatography. Best eluent was analyzed using thin layer chromatography (TLC). The results were collected into fractions column chromatography using TLC chromatogram and UV-Vis spectrophotometer. Based on the test phytochemical known that methanol extract contains tannins, flavonoids and terpenoids whereas n-hexane fraction containing terpenoids. Antibacterial activity of mango seed may inhibit B. cereus is greater than the E. coli bacteria. The highest inhibition zone diameter on B. cereus bacteria are at a concentration of 20% at 18 hours and the bacterium E. coli is at a concentration of 20% at 12 hours. Antibacterial power of n-hexane fraction categorized weak and is bacteriostatic.
202811715G1F011028EVALUASI TITIK PATAH, TITIK LELEH DAN UJI IRITASI
LIPSTIK EKSTRAK METANOL KULIT BUAH MANGGIS
(Garcinia mangostana L.) DENGAN VARIASI KONSENTRASI
CERA ALBA DAN OLEUM RICINI
Sediaan lipstik ekstrak metanol kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) telah diteliti sebelumnya memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sediaan lipstik ekstrak metanol kulit buah manggis memenuhi syarat titik patah dan titik leleh sediaan lipstik, serta mengetahui apakah lipstik ekstrak metanol kulit buah manggis mempunyai efek iritasi pada kulit.
Lipstik ekstrak metanol kulit buah manggis dengan variasi ekstrak 0%, 3,88%, 5,82%, dan 7,76% diuji titik patah, titik lebur dan dilakukan uji iritasi. Uji titik patah dilakukan dengan penambahan beban, dan uji titik leleh dilakukan dengan dilelehkan dalam alat uji titik leleh. Uji iritasi dilakukan dengan uji tempel terbuka (Patch Test) yaitu dengan mengoleskan sediaan pada kulit lengan kiri bawah bagian dalam dengan luas 2,5 x 2,5 cm pada lengan bawah bagian dalam terhadap 30 orang panelis. Perlakuan dilakukan 3 kali sehari selama 3 hari berturut-turut yaitu pagi, siang dan malam. Setiap perlakuan diberi jarak waktu 8 jam. Pengamatan dilakukan terhadap edema dan eritema yang terjadi setiap 8 jam sekali yaitu pada jam ke 8, 16, 24, 32, 40, 48, 56, 64 dan 72. Penilaian derajat iritasi dilakukan dengan cara memberi skor 0 sampai 4 tergantung tingkat keparahan reaksi eritema dan edema pada kulit yang terlihat. Titik patah dan titik leleh dianalisis menggunakan Uji T dan ANOVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95%. Apabila data yang diperoleh berbeda secara signifikan, maka dilanjutkan dengan uji LSD (Least Significant Difference).
Hasil menunjukkan bahwa formula lipstik ekstrak metanol kulit buah manggis memiliki titik patah dan titik leleh yang baik. Lipstik dengan ekstrak 5,28% patah pada penambahan beban sebesar 38,96 gram dan memiliki titik patah paling mendekati Lip Ice yang patah pada penambahan beban seberat 37,63 gram. Titik leleh semua formula memasuki rentang kriteria titik leleh lipstik yang baik, yaitu antara 55-75°C. Ekstrak metanol kulit buah manggis maupun lipstik tanpa ekstrak metanol kulit buah manggis memiliki indeks iritasi 0,000 yaitu tidak menyebabkan iritasi, sedangkan formula lipstik dengan ekstrak 5,28% memiliki indeks iritasi 0,099 yaitu menyebabkan iritasi lemah pada kulit.
The existence of lipstick made from methanol extract of mangosteen (Garcinia mangostana L.) rind have been studied previously to have antioxidant activity. This study aims to determine whether the content of the methanol extract lipstick mangosteen rind qualifies the breaking point, and melting point of lipstick, as well as to determine whether the methanol extract of the mangosteen rind in the lipstick has irritating effect to human the skin.
The substance of lipstick with variation of 0%, 3.88%, 5.82%, and 7.76% methanol extract of mangosteen rind lipstick was tested with breaking point test, melting point test and irritation test. Break point test conducted by adding of the load weight, and the melting point test was done inside the melting point test tool. Irritation test performed with a patch test to the inner forearm with an area of 2.5 x 2.5 cm of the 30 panelists. The treatment is done 3 times a day for 3 consecutive days in the morning, noon and night. Each treatment was given within 8 hours. Observations were made on edema and erythema that occurs every 8 hours is the hour to 8, 16, 24, 32, 40, 48, 56, 64 and 72. Assessment degree of irritation was done by giving a score of 0 to 4 depending on the severity of erythema reaction and edema of the skin. Break point and melting point were analyzed using T test and one-way ANOVA with a 95% of confidence level. If the data obtained are significantly different then will be procced to the LSD (Least Significant Difference) test.
The result shows that lipstick with methanol extract of mangosteen rind has a good broken point and melting point. The substance of lipstick formula with 5,28% break at 38.96 gram of load addition and is a the formula which has the closest breaking point to the Lip Ice which break at the addition of 37,63 gram of load. The melting point of all formulas entered the ranges of good criteria of lipstick melting point, which is between 55-75° C. Methanol extract of mangosteen rind and lipstick formulas without methanol extract of mangosteen rind has 0,000 irritation index which means non-irritating, while the lipstick formula to extract 5.28% has an index of 0.099 irritation that causes weak irritation to the skin.
202911674F1G011021PENAMAAN PANTAI DI KABUPATEN CILACAP (KAJIAN SEMANTIK)Penelitian ini berjudul “Penamaan Pantai Di Kabupaten Cilacap (Kajian Semantik)”. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan referen-referen yang terdapat pada leksikon penamaan pantai di Kabupaten Cilacap dan jenis penamaan pantai di Kabupaten Cilacap.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif. Dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan metode simak. Metode simak yang digunakan adalah metode simak libat cakap dengan teknik sadap sebagai teknik dasar dan teknik catat sebagai teknik lanjutannya. Pada tahap analisis data, metode yang digunakan adalah metode padan. Teknik dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pilah unsur penentu dan teknik hubung banding sebagai teknik lanjutannya. Teknik hubung banding digunakan untuk membedakan leksikon dengan makna menurut informan dan referennya.
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : pertama, leksikon penamaan pantai di Kabupaten Cilacap bereferen pada nama tempat, keadaan pantai, mitos dan kepercayaan masyarakat, bangunan atau gedung, dan tanaman. Kedua, terdapat jenis penamaan pantai di Kabupaten Cilacap antara lain jenis penamaan pantai berdasarkan penyebutan sifat khas, tempat asal, bahan, keserupaan, pemendekan, dan penyebutan bagian.
The title of this study is "Beach Naming in Cilacap (Semantics Study)". The aim of this study is to describe the referents which are contained in lexicon of beach naming and the types of beach naming in Cilacap.
The method of this study was qualitative descriptive method. This study used observation method in collecting the data. The observation method that was used in this study is participation observation method with tapping technique as the basic technique and note taking technique as the next technique. The method that was used in analyzing the data is identity method. The basic technique that was used in this study is dividing key technique and the next technique is connecting and comparing technique. Connecting and comparing techniques was used to distinguish the lexicon with the meaning according to informants and their referents.
Based on the data analysis, the first result is, the lexicon of beach naming in Cilacap were referenced to the name of place, beach condition, myth and the public belief, building, and plants. Second, there are some beach in Cilacap that the names are based on the unique things, place of origin, materials, likeness, shortening, and mentioning the parts.
203011720G1B007010HUBUNGAN ASUPAN ENERGI, FREKUENSI JAJAN DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN OVERWEIGHT PADA MAHASISWA FKIK UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO TAHUN 2014

Gizi lebih (overweight) merupakan masalah baru yang terus menunjukan kenaikan selama beberapa tahun terakhir. Saat ini, 1,6 miliar orang dewasa di seluruh dunia mengalami berat badan berlebih (overweight), dan sekurang-kurangnya 400 juta diantaranya mengalami obesitas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara asupan energi, frekuensi jajan, dan aktivitas fisik dengan overweight pada mahasiswa FKIK Universitas Jenderal Soedirman. Jenis penelitian ini menggunakan desain penelitian crossectional. Jumlah sampel sebanyak 85 responden. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar asupan energi responden kurang yaitu sebesar 97,6%, sebagian besar frekuensi jajan responden rendah yaitu sebesar 51,8%, sebagian besar aktivitas fisik responden ringan yaitu sebesar 72,9%, sebagian besar responden tidak overweight yaitu sebesar 62,4%, tidak ada hubungan bermakna antara asupan energi dengan overweight (p=0,148), ada hubungan bermakna antara frekuensi jajan dengan overweight (p=0,013), ada hubungan bermakna antara aktivitas fisik dengan overweight (p=0,000). Mahasiswa harus memilih jajanan yang sehat, tidak hanya memilih jajanan karena rasanya yang enak dan murah tapi juga memperhatikan nilai gizi jajanan tersebut. Mahasiswa juga diharapkan meningkatkan aktivitas fisiknya untuk mencegah terjadinya overweight seperti dengan melakukan jalan kaki selama 30 menit. Hal ini lebih baik daripada duduk sambil nonton tv atau browsing internet.Overweight is a new problem that continues to show increase every year. Now, 1,6 billion adult in the world have overweight, and at least 400 million of them are obese. The purpose of this research is to know the correlation between energy intake, frequency of snacks and physical activity with overweight on student in faculty of medice and health sciences of Jenderal Soedirman University Purwokerto 2014. This research was used crossectional design. Total sample is 85 respondents. The result showed 97,6% respondents is less energy intake, 51,8% respondents is low snack frequency,72,9% respondents is light physical activity, 62,4% respondents are not overweight, there are not significant correlation between energy intake and overweight (p=0,148), there are significant correlation between frequency of snacks and overweight (p=0,013), there are significant correlation between physical activity and overweight (p=0,000). The students have to choose the healthy snacks, not only choose the snacks because it has a good taste and low price but also have to notice the nutrient value of the snacks. The students also expected to increase their physical activity to prevent overweight with walking for 30 minutes. That is better than watching tv or internet browsing.
203111701G1D011062ANALISIS FAKTOR-FAKTOR MOTIVASI INTERNAL UNTUK MELANJUTKAN PENDIDIKAN PROFESI NERS PADA MAHASISWA JURUSAN KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Latar Belakang : Pendidikan profesi ners sangat diperlukan bagi mahasiswa keperawatan yang akan berdampak baik terhadap kualitas perawat dan perkembangan profesi keperawatan. Faktor internal diduga berperan dalam memberikan motivasi untuk melanjutkan pendidikan profesi ners.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor motivasi internal melanjutkan pendidikan profesi ners pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Responden penelitian dipilih menggunakan teknik total sampling sejumlah 86 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji statistik regresi linier berganda.
Hasil : Karakteristik responden sebagian besar berjenis kelamin perempuan (86%) dan IPK rata-rata 3,13 dengan kategori ≥ 3,00 (74,4%). Tingkat faktor internal motivasi mahasiswa sebagian besar baik, attention (57%), relevance (38,4%), confidence (53,5%), satisfaction (47,7%). Tingkat motivasi mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan profesi ners sebagian besar sangat baik (67,4%). Analisis bivariat menghasilkan hubungan yang signifikan antara attention (p=0,000), relevance (p=0,000), satisfaction (p=0,000), dan motivasi melanjutkan pendidikan profesi ners dengan tingkat korelasi sedang, serta IPK (p=0,034), dengan tingkat korelasi lemah. Sedangkan jenis kelamin (p=0,554), dan confidence (p=0,151), memiliki hubungan yang tidak bermakna. Analisis multivariat menghasilkan faktor internal yang paling dominan mempengaruhi motivasi melanjutkan pendidikan profesi ners adalah satisfaction (p=0,007).
Kesimpulan : Faktor internal IPK, attention, relevance, dan satisfaction berpengaruh terhadap motivasi melanjutkan pendidikan profesi ners, dengan satisfaction sebagai faktor yang paling dominan.

Background: The ners profession education is very needed for nursing student that will give good impact to nurse qualification and profession development. Internal factor was expected had a role in student’s motivation to continue the ners profession education.
Purpose: This research aimed to analyze the internal motivation factors to continue the ners profession education for the Nursing Departement student of Jenderal Soedirman University.
Methods: This research used a cross sectional method. Respondent was chosen used total sampling technique with 86 respondents. Data collected by using questionnaire. Data analysis used double linier regression test.
Results: Characteristic of respondents were mostly female (86%) and average Cumulative Index’s Value (IPK) 3,13 with category ≥ 3,00 (74,4%). The internal factor rate of student’s motivation, most of them is good, attention (57%), relevance (38,4%), confidence (53,5%), satisfaction (47,7%). The student’s motivation rate to continue the ners profession education, most of them is very good (67,4%). Bivariat analysis produced significant correlation between the attention (p=0,000), relevance (p=0,000), satisfaction (p=0,000), and motivation to continue the ners profession education with the medium correlation rate, and Cumulative Index’s Value (p=0,034) with the weak correlation rate. The gender (p=0,554) and confidence (p=0,151) do not have the meaningful correlation. Multivariate analysis produced the most dominant factor that influence motivation to continue the ners profession education is satisfaction (p=0,007).
Conclusion: Internal factor of IPK, attention, relevance, and satisfaction affect motivation to continue the ners profession education, with satisfaction as the most dominant factor.
203211213D1E011216PENGGUNAAN FERMEHERBAFIT DALAM RANSUM AYAM BROILER TERHADAP KADAR ERITROSIT DAN HEMATOKRITPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan fermeherbafit dalam ransum ayam broiler terhadap kadar eritrosit dan hematokrit. Materi penelitian yang digunakan adalah 80 ekor ayam broiler betina umur sehari (DOC), fermeherbafit yang merupakan beberapa bahan herbal yakni daun kelor, mengkudu, kunyit, bawang putih dan temulawak yang difermentasi dengan bakteri asam laktat (BAL). Metode penelitian adalah eksperimental secara in vivo menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan, dan setiap perlakuan diulang 5 kali, terdapat 4 ekor ayam broiler pada setiap ulangan. Perlakuan terdiri dari : R0 : Pakan dengan penambahan fermeherbafit sebanyak 0%; R1 : Pakan dengan penambahan fermeherbafit sebanyak 2%; R2 : Pakan dengan penambahan fermeherbafit sebanyak 4%; dan R3 : Pakan dengan penambahan fermeherbafit sebanyak 6%. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan fermeherbafit dalam ransum dengan level yang berbeda berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kadar eritrosit dan hematokrit darah ayam broiler. Kesimpulan penelitian ini adalah Penggunaan fermeherbafit dalam pakan sampai taraf 6% menghasilkan kadar eritrosit dan hematokrit darah yang relatif sama pada ayam broiler.This research aimed to assess the effect of using fermeherbafit in broilers feed against erythrocytes and hematocrites levels. The research materials were 80 female day old chickens (DOC) of broiler and fermeherbafit consisted of several herbal ingredients such as Moringa leafes, noni, turmeric, garlic and ginger which fermented with lactic acid bacteria (LAB). The research method was experimental in vivo using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments, and each treatment was repeated 5 times, there are 4 broiler chickens at each repetition. Treatment consists of: R0 : Feed with fermeherbafit addition of 0%; R1 : Feed with fermeherbafit addition of 2%; R2 : Feed with fermeherbafit addition of 4%; and R3 : Feed with fermeherbafit addition of 6%. Data were analyzed using analysis of variance. The results showed that the use of fermeherbafit in feed with different levels were not significant (P>0,05) on levels of erythrocytes and hematocrites of broiler chickens blood. The conclusion of that research was the use of fermeherbafit in feed up to 6% levels produced erythrocytes and hematocrites relatively equal in broiler chickens.
203311723F1C011057Strategi Komunikasi Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana dalam Mencegah Kasus Kekerasan Berbasis Gender di Kabupaten BanyumasJumlah kekerasan di Indonesia semakin bertambah, kekerasan tersebut berbagai macam bentuknya dan mampu menimpa siapa saja termasuk kekerasan berbasis gender yang dialami oleh para perempuan. Di Kabupaten Banyumas, badan yang menangani kasus kekerasan ini adalah BAPERMAS, oleh sebab itu penelitian ini berjudul Strategi Komunikasi Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana dalam Mencegah Kasus Kekerasan Berbasis Gender di Kabupaten Banyumas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan strategi komunikasi yang dilakukan oleh BAPERMAS dalam mencegah kasus kekerasan berbasis gender di Kabupaten Banyumas.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik pemilihan informan dengan menggunakan purposive sampling dan sampel insidental, yang menghasilkan subjek penelitian Pegawai Bidang Pemberdayaan Perempuan, PPT-PKBGA, P2TP2A, dan masyarakat. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model analisis interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Validitas data menggunakan triangulasi data model sumber.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Strategi komunikasi yang dijalankan oleh BAPERMAS dalam mencegah kasus kekerasan berbasis gender adalah 1) Membangun kemitraan dengan lembaga P2TP2A, PPT-PKBGA, PKK, serta kedinasan lainnya, 2) Melakukan penyuluhan kepada tokoh masyarakat dan tokoh agama disetiap kecamatan yang akan menjadi opinion leader, dengan memberikan pengetahuan mengenai gender dan mengharapkan tujuan adanya kesetaraan gender di Kabupaten Banyumas, 3) Pemanfaatan media radio, leaflet. Hambatan yang dialami adalah hambatan sosiologi, antropologi, psikologis.
The number of violence case in Indonesia is increase rapidly, violence in any form and able to happen to anyone, including gender-based violence experienced by women. In Banyumas, the agency that handles cases of violence are BAPERMAS,. So that, this research title Communication Strategy of Agency for Community Empowerment, Women Empowerment, and Family Planning in Preventing Violation Based Gender Case in Banyumas. Its purpose is to describe communication strategy that has been carried out by BAPERMAS in preventing violation gender based in Banyumas.
This research is a qualitative research with descriptive methods. It uses purposive sampling and accidental sampling as informant choice methods and based on that, its subject is personnel of Woman Empowerment Division, PPT-PKBGA, P2TP2A, and people. Data collecting method uses in depth interview, observation, and documentation. Data analysis uses interactive analysis model through data reduction, data display, and conclusion. Data validity uses data triangulation source model..
The results showed that the communication strategy run by BAPERMAS in preventing gender-based violence cases are 1) .Membangun partnerships with institutions P2TP2A, PPT-PKBGA, PKK, as well as other official, 2) .Melakukan outreach to community leaders and religious leaders in every districts will be opinion leaders, to provide knowledge on gender and gender equality objectives are expecting in Banyumas, 3) .Pemanfaatan radio media, leaflet. Barriers are obstacles experienced sociology, antropology, psychological.
203411724F1C010050Strategi Komunikasi Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) Desa Tangguh
Bencana Widarapayung Wetan Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap
Strategi Komunikasi dalam upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas yang dilaksanakan melalui pengembangan kapasitas warga Desa/Kelurahan Tangguh Bencana perlu dipadukan ke dalam perencanaan dan praktik pembangunan reguler. Proses komunikasi pembangunan di desa ini dilakukan dengan aksi-aksi dari komunikator desa yang membentuk suatu komunitas kebencanaan.
Penelitian yang berjudul “Strategi Komunikasi Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) Desa Tangguh Bencana Widarapayung Wetan Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap”, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi komunikasi rencana aksi komunitas yang di gerakkan oleh kelompok SIBAT pada program desa tangguh bencana dan mendeskripsikan faktor penghambat dan faktor pendukung dalam kegiatan rencana aksi komunitas program desa tangguh bencana di Desa Widarapayung Wetan, Kecamatan Binangun, Cilacap. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan yang dipilih dengan cara purposive sampling berjumlah empat orang yang merupakan kepengurusan kelompok SIBAT.
Hasil penelitian diketahui bagian dari proses pengembangan desa tangguh, yang kemudian dilakukan dengan aksi-aksi dari komunitas untuk melakukan berbagai kegiatan yang mengarah kepada upaya pengurangan risiko bencana. Strategi komunikasi yang dilaksanakan pelaksana Rencana Aksi Komunitas (RAK) langsung kepada masyarakat dengan adanya keterlibatan masyarakat dan Opinion Leader, kerjasama dengan Stakeholder dan pemanfataan media baik massa maupun non massa. Strategi komunikasi tersebut ditemukan peneliti dalam komunitas SIBAT yang merupakan sebuah upaya yang efektif bagi komunitas dalam upaya pengurangan resiko bencana wilayah, khususnya di Desa Widarapayung Wetan.
Communication strategies in disaster risk reduction is implemented through community-based capacity building residents Village / Sub Disaster Resilient needs to be integrated into regular development planning and practice. The process of communication in rural development is done by the actions of village communicator who form a community disaster.
The study, entitled "Communication Strategy for Community-Based Disaster Preparedness (SIBAT) Disaster Resilient Village Widarapayung Binangun Wetan District of Cilacap", this study aimed to describe the communication strategy of the community action plan in motion by SIBAT group on disaster resilient village program and describe the factors inhibiting and supporting factor in the activities of community action plans in disaster resilient rural program Widarapayung Wetan village, District Binangun, Cilacap. The method used is descriptive method with qualitative approach. Informants were selected by purposive sampling were four people who constitute the management group SIBAT.
The survey results revealed part of the process of rural development resilient, which is then carried by the actions of the community to perform various activities that lead to disaster risk reduction. Implementing communication strategies implemented Community Action Plan (RAK) directly to the public with the involvement of the community and Opinion Leader, cooperation with stakeholders and pemanfataan both mass media and non-mass. The communication strategy in the community SIBAT researchers found that an effective effort for the community in the area of disaster risk reduction efforts, particularly in the village of Widarapayung Wetan.
203511727A1M010035Kajian Pengaruh Jenis Rempah, Jenis Gula dan Bentuk Minuman Terhadap Sifat Fisikokimia dan Sensori Minuman Kunyit AsamMinuman kunyit asam merupakan minuman fungsional yang dapat dibuat dengan bahan dasar rimpang kunyit, campuran rempah dan gula. Penambahan rempah cengkeh, kapulaga dan sereh serta pemanis gula nira dan gula tebu dapat meningkatkan aktivitas antioksidan dan nilai sensorisnya. Minuman kunyit asam dapat dibuat dalam bentuk cair dan serbuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan jenis rempah, jenis gula dan bentuk minuman terhadap sifat fisikokimia dan sensori minuman kunyit asam serta menentukan kombinasi perlakuan minuman kunyit asam terbaik. Metode yang digunakan pada penelitian adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan dengan 12 kombinasi perlakuan dan diulang 3 kali sehingga diperoleh 36 unit percobaan. Faktor yang dicoba meliputi tiga faktor yaitu jenis rempah (R) terdiri dari kunyit-asam (R1); kunyit-asam-sirih (R2); kunyit-asam-sirih-campuran rempah (R3); jenis gula (S) terdiri dari gula nira kelapa (S1); gula tebu (S2); bentuk minuman (T) terdiri dari bentuk cair (T1); serbuk (T2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan rempah meningkatkan rendemen, kandungan fitokimia (terpenoid dan flavonoid), rasa pahit, rasa getir, kenampakan, dan aroma minuman kunyit asam. Jenis gula nira meningkatkan nilai pH, rasa pahit, dan kenampakan minuman kunyit asam dibandingkan penggunaan gula tebu. Minuman bentuk cair meningkatkan nilai pH, rendemen dan rasa pahit dibandingkan bentuk minuman serbuk. Kombinasi perlakuan R2S1T1 (kunyit asam sirih yang ditambahkan gula nira dengan bentuk cair merupakan perlakuan terbaik yang menghasilkan minuman kunyit asam dengan sifat sensori dengan warna kuning tua (nilai 1,85), rasa getir sedikit kuat (2,92), rasanya pahit (3,56), kenampakan sedikit bening (2,72) dan aroma sedikit kuat (3,17). Selain itu menghasilkan sifat fisikokimia seperti pH asam (4,13), rendemen sebesar 37,96% bb, dan positif mengandung senyawa fitokimia terpenoid dan flavonoid.Turmeric acid beverages is one of the funcsional beverage products made with the basic ingredients of turmeric rhizome, acid, sugar and extra spices. Sugar can be added coconut sap sugar and cane sugar and spices can be added betle leaf, cardamon, cloves and ginger lemongrass and tumeric acid beverage can be made in the form of powder and liquid. The purpse of this study was to determine the effect of spices, sugar types and forms of beverages to the physicochemical and sensory properties of tumeric acid beverage and determine the combined treatment of tumaric acid beverage the best. This research includes an experimental method with a randomized block design (RBD), in order to obtain 12 combinations of treatments, repeated 3 times and obtained 36 experimental units. Factors examined in this study included 3 factors:1) the spices type (R) consists of 3 levels are turmeric acid (R1) turmeric-acid-betle leaf (R2) and turmeric-acid-betle leaf- a mixture of spices (R3).2) the sugar types (T) consists of two levels are coconut sap sugar (S1) and sugar cane (S2). 3) form of drink (C) consists of two levels are liquid (T1) and powder (T2). The results showed that the addition of spices increase yield, phytochemical content (terpenoids and flavonoids), bitter taste, level of clarity and smell of tumeric acid beverages. Type sap sugar increases the pH value, bitter taste, level of clarity. Beverage liquid form increases the pH value, yield, and bitter tastethan the form of powder beverages. Combination treatment R2S1T1 (turmeric acid addition of sap sugar and liquid form) is the best treatment combination with the turmeric acid beverages best characteristic sensory properties are dark yellow colors (2.21), less bitter taste (3.56), slightly tart taste strong (2.92), slightly translucent appearance (2.72), and slightly stronger aroma (3,17).In addition to produce a tumeric acid beverage with physicochemical properties such as acid pH (4.13), yield of 37.96%, and detected phytochemical compounds such as terpenoids and flavonoids.
203611729H1F008016GEOLOGI DAN ANALISIS GEOMORFOLOGI UNTUK KELAYAKAN GUNA LAHAN DAERAH SOMAGEDE DAN SEKITARNYA KECAMATAN SEMPOR, KABUPATEN KEBUMEN JAWA TENGAHLahan mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, tumbuhan dan makhluk lainnya. Manusia selalu berusaha memiliki dan menguasai lahan yang ikut menentukan status sosialnya. Pengelolaan lahan merupakan upaya yang dilakukan manusia dalam pemanfaatan lahan sehingga produktivitas lahan tetap tinggi secara berkelanjutan (jangka panjang).Tata guna lahan memberi arti pada seberapa luas dimensi ruang sumber daya tanah yang dapat dimanfaatkan manusia. Dalam hal ini, makna tata guna lahan dapat juga disebut sebagai tata ruang, yaitu keluasan sumber daya lahan dengan segala potensi dan karakteristik tanah serta lingkungan yang melingkupinya. Pengaturan ruang berdasarkan berbagai fungsi kepentingan tertentu bagi berbagai kegiatan dan kebutuhan manusia.The land has an important role in human life, plants and other creatures. Human has always tried to own and control land that will determine social status.
Land management is an attempt by man in land use that land productivity remains high in a sustainable (long-term). Land use to give meaning to the extent of land resource-dimensional space that can be utilized humans. In this case, meaning land use can also be referred to as spatial, namely the breadth of the land resources with all the potential and characteristics of the soil and the environment that surrounds them. Setting space based on various functions of particular interest for a variety of activities and human needs.
203711730G1G010048PERBEDAAN KEKUATAN GESER ANTARA KOMPOSIT METHACRYLATE DAN SILORANE TERHADAP KOMPOSIT BULKFILL DENGAN PENYINARAN UNIFORM CONTINUOUS
DAN INTERMITTENT
Resin komposit yang sering digunakan saat ini yaitu komposit berbasis methacrylate dan silorane. Peningkatkan kekuatan geser komposit dapat dicapai dengan penggunaan komposit flowable bulkfill sebagai dasar restorasi dan penggunaan teknik penyinaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kekuatan geser antara komposit methacrylate dan silorane terhadap komposit bulkfill dengan penyinaran uniform continuous dan intermittent. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris murni dengan metode post test only control group design. Sebanyak 24 sampel dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu kelompok 1 kombinasi bulkfill dan methacrylate dengan penyinaran uniform continuous, kelompok 2 kombinasi bulkfill dan silorane dengan penyinaran uniform continuous, kelompok 3 kombinasi bulkfill dan methacrylate dengan penyinaran intermittent, kelompok 4 kombinasi bulkfill dan silorane dengan penyinaran intermittent. Uji kekuatan geser dilakukan dengan alat Pearson Panke Equipment Universal Testing Machine. Uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok 1 dan kelompok 2 (p=0,001), kelompok 3 dan kelompok 4 (p=0,002), sedangkan tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok 1 dan kelompok 3(p=0,755), serta kelompok 2 dan kelompok 4 (p=0,689). Resin komposit flowable bulkfill lebih kompatibel sebagai lapisan dasar restorasi komposit methacrylate dan teknik penyinaran intermittent menghasilkan kekuatan geser yang lebih tinggi dibandingkan penyinaran uniform continuous.Composite resin which often used today is composite based on methacrylate and silorane. An enhancement of composite shear bond strength can be reached with the use of flowable bulkfill composite as restoration basic and the use of curing technique. This research aims to compare the shear bond strength of methacrylate composite and silone toward bulkfill composite with uniform continuous and intermittent curing. The type of this research is laboratory experiment with post test control group design method. There are 24 samples are classified into 4 groups which are group 1 combination of bulkfill and methacrylate with uniform continuous curing, group 2combination of bulkfill and silorane with uniform continuous curing, group 3 combination of bulkfill and methacrylate with intermittent curing, group 4 combination of bulkfill and methacrylate with intermittent curing . The shear bond strength equipment by pearson panke equipment universal testing machine. ANOVA test shows a significant difference between group 1 and group 2 (p=0,001), group 3 and group 4 (p=0,002), while there is no significant difference between group 1 and group 3 (p=0,755), and group 2 and group 4 (p=0,689). Flowable bulkfill composite resin is more compatible as a base layer of restoration methacrylate composite and intermittent curing produces higher shear bond strength than uniform continuous curing.

203811734C1B011050PREDIKSI KESULITAN KEUANGAN MENGGUNAKAN ANALISIS DISKRIMINAN
(Studi Kasus pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia)
Penelitian ini bertujuan untuk menguji rasio-rasio keuangan dalam memprediksi kondisi financial distress dan non-financial distress pada perusahaan manufaktur. Objek penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009 s/d 2013. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 22 perusahaan, terdiri dari 11 perusahaan financial distress dan 11 perusahaan non-financial distress. Sampel dipilih dengan teknik purposive sampling.
Rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi, rasio likuiditas, leverage, efisiensi, profitabilitas, dan arus kas. Data diproses menggunakan metode statistik analisis diskriminan. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antara rasio keuangan perusahaan financial distress dan non-financial distress. Rasio-rasio yang optimal dan signifikan dalam memprediksi kondisi financial distress dan non-financial distress yaitu WCTA (Working Capital/Total Assets) dan EBITTA (Earning Before Interest and Tax/Total Assets). Secara keseluruhan model yang terbentuk dapat mengelompokan kondisi financial distress dan non-financial distress dengan akurasi yang cukup tinggi, yaitu 90,9%.
The purpose of this research is to examine financial ratios that affect financial distress condition of a manufacture company. The Object of this research is manufacture company that listed in Indonesian Stock Exchange above between 2009-2013. The sample of this research consist of 11 distress firms and 11 non-distress firms, it is chosen by purposive sampling.
Financial ratios that are used in this study includes, liquidity, leverage, efficiency, profitability, and cash flow ratio. The data was processed by using statistic method and as a tool to test hypothesis, it used discriminant analysis. The results showed that there are differences between the financial ratios of financial distress and non-financial distress company. The optimal and significant of financial ratios in predicting financial distress and non-financial distress are WCTA (Working Capital/Total Assets) and EBITTA (Earning Before Interest and Tax/Total Assets). Overall, discriminant models that formed can classify the condition of financial distress and non-financial distress with a high degree of accuracy (90.9%).
203911731G1G009034PENGARUH PEMBERIAN KOLOSTRUM SAPI TERHADAP KADAR ENZIM SUPEROXIDE DISMUTASE GINGIVAL CREVICULAR FLUID DAN STATUS PERIODONTAL PENDERITA GINGIVITIS PADA ANAK
Gingivitis adalah suatu penyakit gingiva yang ditandai dengan adanya inflamasi tanpa disertai hilangnya perlekatan gingiva pada gigi. Inflamasi memicu peningkatan produksi reactive oxygen species (ROS) yang kemudian dapat menyebabkan kerusakan oksidatif jaringan. Kolostrum sapi mengandung enzim superoxide dismutase (SOD) yang berperan penting dalam perlindungan sel terhadap stres oksidatif karena dapat menangkal ROS. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian kolostrum sapi terhadap kadar SOD gingival crevicular fluid (GCF) dan status periodontal penderita gingivitis pada anak. Sampel penelitian 10 anak kelompok non gingivitis, 20 anak gingivitis kategori sedang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kolostrum murni dan kolostrum pabrik masing-masing 10 responden. Responden diukur massa tubuh dan status periodontal, pengambilan GCF, dan pengukuran kadar enzim SOD GCF menggunakan spektofotometri. Uji paired t-test dan One Way Anova digunakan untuk uji beda, dan uji regresi linier sederhana untuk uji hubungan. Hasil uji paired t-test kadar enzim SOD GCF dan indeks gingiva ketiga kelompok perlakuan menunjukkan ada perbedaan bermakna (p<0,05), kecuali indeks gingiva kelompok non gingivitis (p=0,087). Hasil Uji One Way Anova pada ketiga kelompok perlakuan menyatakan bahwa tidak ada perbedaan selisih kadar enzim SOD GCF yang bermakna (p=0,053), dan ada perbedaan selisih indeks gingiva yang bermakna (p=0,002) yaitu antara kelompok non gingivitis dengan kelompok gingivitis-kolostrum murni maupun pabrik. Ada hubungan antara kenaikan kadar enzim SOD GCF dengan penurunan indeks gingiva kelompok non gingivitis. Simpulan penelitian ini adalah tidak terdapat pengaruh pemberian kolostrum sapi terhadap kadar enzim SOD GCF dan ada pengaruh pemberian kolostrum sapi terhadap status periodontal penderita gingivitis pada anakGingivitis is a disease characterized by the presence of gingival inflammation without loss of gingival attachment to the tooth. Inflammation triggers increased production of reactive oxygen species (ROS), which then can cause oxidative tissue damage. Bovine colostrum contains the enzyme superoxide dismutase (SOD), which plays an important role in protecting cells against oxidative stress because it can counteract the ROS. The purpose of this study was to determine the effect of bovine colostrum on activity levels of SOD gingival crevicular fluid (GCF) and periodontal status of patients with gingivitis in children. The research sample were group of 10 non gingivitis children, group of 20 children with gingivitis which divided into two groups: pure and factory bovine colostrum 10 respondents each. Respondents measured weight and periodontal status, taking GCF, and measurement of GCF SOD enzyme levels using spectophotometric. Paired t-test and One Way Anova is used for test of difference and simple linear regression to test the relationship. Paired t-test of SOD GCF levels and gingival index three treatment groups showed no significant difference (p<0.05), except for a group of non gingivitis gingival index (p=0.087). One Way Anova test results in all three treatment groups stated that there was no significant difference in the levels of SOD GCF (p=0.053), and there are significant differences in gingival index (p=0.002) among non gingivitis group with pure or factory colostrum gingivitis group. There is a relationship between increased levels of SOD enzyme with decreased gingival index non gingivitis group. The conclusions of this study is there is no effect of bovine colostrum against GCF SOD enzyme levels and there is effect of bovine colostrum on periodontal status of patients gingivitis in children.
204011732G1G010028PERBEDAAN MIKRODENSITAS DENTIN PADA HARI KE-5 DAN HARI KE-15 PASCA BLEACHING INTRAKORONAL TEKNIK WALKING BLEACH
Perawatan bleaching intrakoronal mampu mengoreksi secara total atau sebagian diskolorasi tetapi bahan bleaching dapat membuat perubahan mikrodensitas dentin yaitu perubahan morfologi dentin dan perubahan struktur kimia dentin. Frekuensi pengaplikasian bahan bleaching dan jenis bahan bleaching dapat mempengaruhi besarnya perubahan mikrodensitas dentin. Penelitian ini bertujuan mengetahui besarnya perbedaan mikrodensitas dentin pada hari ke-5 dan hari ke-15 pasca bleaching intrakoronal teknik walking bleach. Jenis penelitian ini adalah eksperimen laboratorium murni dengan metode post test control group design. Sebanyak 30 sampel premolar rahang bawah dibagi secara acak menjadi tiga kekompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari 10 sampel. Bahan bleaching intrakoronal yang digunakan berupa sodium perborat dan hidrogen peroksida. Kelompok 1 tanpa pengaplikasian bahan bleaching, kelompok 2 pengaplikasian bahan bleaching sodium perborat (subkelompok 2A mikrodensitas dentin pada hari ke-5, dan subkelompok 2B mikrodensitas dentin pada hari ke-15), dan kelompok 3 pengaplikasian bahan bleaching hidrogen peroksida. (subkelompok 3A mikrodensitas dentin pada hari ke-5, dan subkelompok 3B mikrodensitas dentin pada hari ke-15). Uji mikrodensitas dentin dilakukan dengan alat Scanning Electron Microscope. Uji One Way Anova menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara ketiga kelompok dengan p=0,000 (p<0,05). Kelompok 1 memiliki nilai mikrodensitas tertinggi (100%), selanjutnya subkelompok 2A dan 2B (94,52% dan 85,50%), dan subkelompok 3A dan 3B (89,3% dan 73,89%). Mikrodensitas dentin pada hari ke-5 lebih tinggi dibandingkan pada hari ke-15 pasca bleaching intrakoronal teknik walking bleach. Mikrodensitas dentin pasca bleaching intrakoronal teknik walking bleach dengan sodium perborat lebih tinggi dibandingkan dengan hidrogen peroksida. Saran yang dapat diberikan adalah pengaplikasian bahan bleaching dilakukan secara hati-hati dengan menggunakan rubber dam dan sarung tangan untuk meminimalisir sifat iritatif bahan bleaching yang dapat terjadi pada mukosa.Intracoronal bleaching is one of the treatment of choice to partially or completely correct tooth discoloration. The intracoronal bleaching agents caused alterations in the chemical structure of dentin, dentin morphology and microdensity, mainly affected by the frequency and the agents used in the treatment. The aim of this study was to determine the difference of dentin microdensity at 5th and 15th days after intracoronal walking bleach. This study was a pure experimental laboratory with post-test control group design. 30 extracted human mandibular premolars were randomly divided into 3 large groups based on the bleaching agents used: Group 1 (non-bleaching group/positive control), Group 2 (Sodium Perborat), Group 3 (Hydrogen Peroxide). Each group was then subdivided into 2 groups: Group A (5th day) and Group B (15th day). The dentin microdensity was determined with Scanning Electron Microscope. One way ANOVA revealed that there was statistically significant difference between the three group p=0,000 (p<0,05). The highest microdensity was obtained by Group 1 (100%), followed by Group 2A (94,52%) and 2B (85,50%), and Group 3A (89,3%) and 3B (73,89%). The dentin microdensity at 5th day was lower than the microdensity at 15th day. The dentin microdensity after sodium perborat application was higher than the dentin microdensity after hydrogen peroxide apllication as intracoronal bleaching agent. To minimize the irritative effect of bleaching agents, protection of mucosal tissues must be emphasized in bleaching treatments by using rubber dam and gloves/handscoen.