Artikelilmiahs

Menampilkan 2.001-2.020 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
200111671C1K011024THE IMPACT OF SERVICE EXPERIENCE AND CUSTOMER SATISFACTION TOWARDS REPATRONAGE INTENTION IN SHELL GAS STATION AT GRAND WISATA BEKASIPenelitian ini menganalisis pengaruh pengalaman layanan di SPBU Shell di re-patronase niat pelanggan, yaitu, keinginan pelanggan untuk melakukan pembelian ulang. Pengalaman pelayanan meliputi tiga aspek: servicescape, kerja karyawan, dan layanan inti. Dampak pengalaman layanan pada respons emosional, kepuasan dengan nilai yang dirasakan, dan niat ulang patronase dibahas. Pertama, di-Shell wawancara pompa bensin dengan daerah manajer senior adalah untuk mengidentifikasi layanan inti di SPBU Shell. Kedua, metode SEM digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Hasil analisis dari 143 sampel dapat disimpulkan bahwa pengalaman layanan memiliki efek positif pada respons emosional, dan dua aspek pengalaman layanan yang layanan scape dan layanan inti memiliki efek positif pada nilai yang dirasakan, sementara layanan karyawan tidak berpengaruh pada nilai yang dirasakan. Respon emosional dan nilai yang dirasakan memiliki efek positif pada kepuasan pelanggan terhadap niat ulang patronase.This paper analyze the effect of service experience at Shell gas station on the customer’s re-patronage intentions, that is, the customer’s desire to make a repeat purchase. Service experience covers three aspects: servicescape, employee service, and core service. The impact of service experience on emotional response, satisfaction with perceived value, and re-patronage intentions are discussed. First, in-Shell gas station interviews with senior managers areas is to identify core service at Shell gas station. Second, the SEM method is used to test the hypotheses of the study. The analysis result of 143 sample can be concluded that service experience have a positive effect on emotional response, and the two aspects of service experience which are service scape and core service have a positive effect on perceived value, while the employee service have no effect on perceived value. The emotional response and perceived value have a positive effect on customer’s satisfaction towards re-patronage intention.
200211666F1A010074ANALISIS KASUS KEKERASAN TERHADAP ANAK DALAM KELUARGA PADA HARIAN KOMPAS TAHUN 2014Skripsi ini berjudul Analisis Kasus Kekerasan Terhadap Anak dalam Keluarga pada Harian KOMPAS Tahun 2014. Skripsi ini termasuk dalam lingkup Sosiologi Keluarga. Kasus kekerasan terhadap anak dalam keluarga banyak diberitakan oleh media baik dari televisi maupun media cetak seperti koran. Dalam penelitian ini, harian KOMPAS tahun 2014 menjadi sumber utama untuk menganalisis adanya kasus kekerasan terhadap anak dalam keluarga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk kekerasan, mendeskripsikan faktor kekerasan, mendeskripsikan hubungan korban dengan pelaku, mendeskripsikan karakteristi pelaku dan korban, mendeskripsikan wilayah yang paling banyak terdapat kasus kekerasan terhadap anak, mendeskripsikan pendampingan Lembaga Perlindungan Anak dan mendeskripsikan akibat kekerasan yang dialami korban. Metode yang digunakan adalah content analysis (analisis isi) yang berbasis data kuantitatif.Sumber Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang bersumber dari teks berita kekerasan terhadap anak dalam keluarga pada Harian KOMPAS selama tahun 2014. Metode analisis yang digunakan adalah metode kuantitatif yang dalam pengolahannya menggunakan bantuan program SPSS (Statistical Product and Service Solution). Penyajian data menggunakan tabel distribusi frekuensi, diagram batang, dan pie chart.Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk kekerasan yang banyak dialami oleh anak yakni kekerasan fisik dengan faktor utamanya yaitu faktor ekonomi dan masalah jiwa atau psikologis. Kekerasan terhadap anak dalam keluarga lebih banyak dilakukan oleh laki-laki dengan status orang tua kandung (tepatnya ayah) dengan usia antara 18 hingga 40 tahun dan lebih banyak berprofesi sebagai buruh . Sedangkan korban kekerasan terhadap anak paling banyak dialami oleh laki-laki dengan rentang usia dua hingga enam tahun. Dampak paling dominan yang dialami korban adalah meninggal dunia, dan sebagian besar korban ditangani oleh Lembaga Perlindungan Anak.Jakarta menjadi wilayah paling banyak terjadi kasus kekerasan terhadap anak, dan bulan paling sering terdapat pemberitaan kekerasan terhadap anak adalah bulan apri.Implikasi yang dapat diambil dari penelitian ini adalah banyaknya kasus kekerasan terhadap anak dalam keluarga sebaiknya dapat membuat kita bercermin dan lebih hati-hati dalam mendidik dan merawat buah hati agar tidak ada penyesalan dikemudian hari.Diperlukan adanya penelitian lebih lanjut untuk mengungkapkan berbagai penyebab kekerasan terhadap anak khususnya dalam keluarga.This thesis is entitled Analysis of Violence against Children in Family at 2014 KOMPAS. This thesis is included in the scope of Family Sociology. Cases of violence against children in family were widely reported by media both on television and printed media like newspapers. In this study, 2014 KOMPAS daily newspaper becomes the main source for analyzing the existence of violence cases against children in family. The purpose of this study is to describe the form of violence, the violence factors, the relationship between the perpetrators and the victims, the characteristics of the perpetrators and the victims, the most populous area of this case, mentoring (National Commission for the Protection of Children) KOMNAS PA and the consequences of violence experienced by the victims.The method used is content analysis based on quantitative data. The source of data used in this research is from news about violence against children in family printed at KOMPAS during 2014. The analytical method used is quantitative method in which the researcher uses SPSS program (Statistical Product and Service Solutions) to process the data. The presentation of the data uses frequency distribution tables, bar charts, and pie charts.The result of this study shows that many violence mostly experience by the children namely physical violence and the main factor are economic factor and psicological problem. Violence against the children in family mostly done bymen as a father with ages between 18 to 40 years old and mostly are laboners. While the victims of violence against children mostly experienced by th son with an age range 2 to 6 years od.Themost dominant impact suffered by the victim is dead, and most of the victims are handled by a child protection agency, Jakarta being the most common area of violence against children, and mostly report of violence against children is in April. The implications that can be drawn from this study is that the number of cases of violence against children in family it should be able to make us reflect and be more careful in educating and caring for children to have no regrets in the future. It is need to make father study to reveal the various causes of fiolence against children especially in the family.
Key Words : Family, violence, chidren.
200311673G1B010057HUBUNGAN BEBAN KERJA FISIK DAN MENTAL DENGAN KELELAHAN KERJA PADA DOSEN BIOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANHUBUNGAN BEBAN KERJA FISIK DAN MENTAL DENGAN KELELAHAN KERJA PADA DOSEN BIOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Oleh :
Siti Ramla Elsunan, Nur Ulfah, dan Setiyowati Raharjo
Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan

INTISARI
Kelelahan adalah fenomena yang umum terjadi pada berbagai tipe pekerjaan, setiap jenis pekerjaan mempunyai karakteristik kelelahan kerja tersendiri yang berbeda dimensinya. Pada institusi pendidikan tinggi tidak banyak yang memberikan jaminan perlindungan secara nyata kepada dosen.Penilaian akreditasi program studi dalam institusi perguruan tinggipun tidak melibatkan aspek-aspek tersebut.Kondisi tersebut dapat diartikan bahwa monitoring atau pengawasan terhadap pelaksanaan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja pada dosen dari pemerintah masih sangat lemah.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan beban kerja fisik dan mental dengan kelelahan kerja pada dosen Biologi Universitas Jenderal Soedirman.Metode penelitian eksplanatory research dengan menggunak an pendekatan cross sectional. Penggunaan sampel menggunakan teknik Minimal simple size.Sampel penelitian berjumlah 47 orang dengan ditentukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat (chi square). Hasil bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara beban kerja fisik dengan kelelahan kerja p-value = 0,014. Dan terdapat hubungan yang bermakna antara beban kerja mental dengan kelelahan kerja p-value = 0,012. Saran Memberikan tugas kepada dosen sesuai dengan kemampuannya baik fisik maupun mental dan perlu memberikan sosialisasi pengendalian kelelahan kerja kepada dosen.

Kata Kunci: Beban Kerja Fisik, Mental, Kelelahan
Kepustakaan: 63 (1979-2014)
PUBLIC HEALTH DEPARTMENT
FACULTY OF HEALTH SCIENCES
JENDERAL SOEDIRMAN UNIVERSITY
PURWOKERTO
2015
ABSTRACT

SITI RAMLA ELSUNAN
RELATIONSHIP BETWEEN PHYSIQUE AND MENTAL WORKLOAD WITH WORK FATIGUE OF BIOLOGY’S LECTURERS UNIVERSITY OF JENDERAL SOEDIRMAN
Fatigue is a common phenomenon that occurs in all kinds of jobs, every kind of job has its own characteristics different job burnout dimensions. In the higher education institutions is not much that guarantees real protection to the lecturer. Moreover, the assessment of accreditation in education institutions not involves these aspects. These conditions can be interpreted that the monitoring or supervising toward implementation safety protection and health protection toward a lecturer from the government is still very weak. The purpose of this study was to find out the relationship of physique and mental workload with work fatigue on faculty of Biology, University of Jenderal Soedirman. Research methods explanatory research using cross sectional approach.The use of the sample using simple random sampling technique. These samples included 47 people with determined based on inclusion and exclusion criteria. Data analysis was performed using univariate and bivariate (chi square). The results show there is a significant relationship between physique workload with work fatigue -value = 0.014. And there is a significant relationship between mental workload with work fatigue p-value = 0.012. Should socialize fatigue control work in the lecturer as a way to keep the jobs, and how to keep healthy body

Keyword: Physique and mental workload, work fatigue.
Bibliography : 63 (1979-2014)
200411626H1L009051RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PENERIMAAN SISWA
BARU BERBASIS WEB DI SMA NEGERI 3 PURWOKERTO
Penerimaan siswa baru pada kebanyakan Sekolah Menengah Atas belum menggunakan sistem
online. Selain tidak efisien karena membutuhkan banyak biaya juga tidak efektif karena memakan
waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu dibuatlah Sistem Informasi Penerimaan Siswa Baru. Sistem
Informasi Penerimaan Siswa Baru merupakan sarana yang dapat membantu calon siswa untuk dapat
melakukan pendaftaran secara online tanpa harus dipersulit oleh kurangnya informasi yang didapat
dari penerimaan calon siswa baru yang masih menggunakan sistem manual yang membuat pendaftar
harus berbondong-bondong datang ke setiap sekolah yang diminati. Metode penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode waterfall. Sistem ini dibangun dengan menggunakan Framework
YII yang merupakan kerangka dari pemrograman PHP. Hasil dari penelitian ini adalah sistem
informasi penerimaan siswa baru yang memudahkan calon siswa untuk dapat melakukan pendaftaran
dimanapun termasuk dari rumah sendiri tanpa harus datang langsung ke sekolah yang bersangkutan.
Selain itu calon siswa juga diberikan informasi secara realtime oleh sistem ini dalam mendapatkan
informasi sedang berada di peringkat berapakah calon siswa tersebut bersaing dengan calon siswa
yang lain dan juga informasi mengenai peringkat akhir apakah calon siswa tersebut dinyatakan lulus
atau tidak.
Admission of new student at most high school still has not using an online system. Not only it is not
efficient because needs a lot of expense, but also it’s not effective because it’s time consuming. Based
on that phenomenon, the researcher created New Student Admission Information System. New
Student Admission Information System is a tool that can help prospective students to be able to
register online without having complicated situation due to the lack of information obtained from the
manual new student admission system that makes the registrant must come to their ideal school. The
method that used in this research is the waterfall method. This system is developed using Yii
Framework as a foundation of PHP programming. The result of this research is the new student
admission information system that beneficially the prospective students to register anywhere,
including from their own home without having to come directly to the related school. In addition,
prospective students are also provided with information in real time by the system in getting
information being ranked at how prospective students compete with other prospective students and
also information regarding the final rankings whether the prospective student passed or not.
200511678C1C009121Peranan Analisis Informasi Akuntansi Diferensial Dalam Keputusan Menjual Guna Memaksimalkan Laba Pada Usaha Ternak Ayam PedagingPenelittian dengan Judul “Peranan Analisis Informasi Akuntansi Diferensial Dalam Keputusan Menjual Guna Memaksimalkan Laba Pada Usaha Ternak Ayam Pedaging’ dilakukan untuk mengetahui keputusan yang tepat dalam menjual ayam pada bobot tertentu sehingga peternak dapat memperoleh laba yang maksimal. Caranya yaitu dengan membandingkan antara pendapatan diferensial dengan biaya diferensial sehingga diperoleh laba diferensial dalam penjualan pada bobot ayam yang berbeda.
Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif. Data penelitian ini merupakan data primer yang diperoleh secara langsung dari peternak.
Hasil dari penelitian ini adalah bahwa menjual ayam pada bobot 2,5 Kg menghasilkan laba yang paling maksimal diantara bobot 2,00 Kg dan 2,30 Kg. Sehingga jika memungkinkan sebaiknya peternak menjual ayamnya pada bobot 2,50 Kg.
The Research off “ The Role of Accounting Differential Information in Decision Selling too Maximize Profit in Chicken Broiler Farming “ is to know decision exactly in selling chicken therefore Farmer will get the maximum profit. The Maximum profit is known by decreased differential income with differential expense therefore we know profit differential in selling chicken which different weight.
This Research was done with descriptive quantitative. The data was earned from the farmer and this research use primary data.
The result of this research show that selling chicken in 2,50 Kg of body weight will get the most profit then selling in 2,30 or 2,50 kg of body weight. If it possible the farmer should breed their chicken until 2,50 kg of body weight.
200611677F1F011067HYSTERIA OF KELLY AS DEPICTED IN SYDNEY SHELDON’S ARE YOU AFRAID OF THE DARK?Penelitian berjudul “Hysteria of Kelly as Depicted in Sydney Sheldon’s ARE YOU AFRAID OF THE DARK?” bertujuan untuk menganalisa sebab dan akibat-akibat dari histeria Kelly terhadap perilakunya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam menganalisa datanya. Data utama dalam penelitian ini adalah sebuah novel karya Sydney Sheldon berjudul ARE YOU AFRAID OF THE DARK?. Data utama dianalisa dengan menggunakan pendekatan psikologi yang berisi teori Psikoanalisa olehSigmund Freud. Dalam penelitian ini, teori psikoanalisa digunakan untuk mendukung dua penelitian yaitu histeria dan mekanisme pertahanan. Teori ini digunakan untuk menganalisa sebab dan akibat histeria Kelly bentuk dari mekanisme pertahanan terhadap traumanya.
Ada beberapa tahapan dalam menganalisa untuk menjawab rumusan-rumusan masalah dalam penelitian ini. Pertama, setelah data terkumpul, peneliti mereduksi data yang tidak berhubungan dengan tokoh Kelly. Kedua, peneliti mengklasifikasi data yang termasuk unsur instrinsik novel yang berhubungan dengan tokoh Kelly. Kemudian, peneliti mengklasifikasi bukti-bukti mana yang temasuk penyebab dan mana yang termasuk akibat dari histeria Kelly. Ketiga, peneliti menguji data dengan menggunakan teori psikoanalisa untuk menganalisa sebab-sebab dan akibat-akibat histeria Kelly serta penekanan dan pemisahan dirinya sebagai wujud mekanisme pertahanannya yang mempengaruhi perubahan perilakunya. Terakhir, penulis menyimpulkan analisa tersebut.
Hasil dari analisa ini, peneliti menemukan bahwa histeria Kelly disebabkan karena dia menjadi korban pasif dari pelecehan seksual dan karenapenekanannya terhadap ingatan traumatisnya tentang pelecehan seksual pada masa kanak-kanaknya. Kemudian, histeria Kelly diekspresikan sebagai rasa takutnya terhadap beberapa hal yang mengindikasikan bahwa dia mengalami beberapa perubahan perilaku karena penekanan trauma seksualnya. Sehingga, beberapa perubahan perilaku Kelly kemudian menjadi akibat-akibat dari histerianya. Beberapa perubahan perilaku tersebut yaitu: Pemisahan diri Kelly, Kelly menjadi takut dengan gelap secara berlanjut, Kelly takut dengan pria asing, serta Kelly takut dengan hubungan seksual sampai masa dewasanya.
This research entitled “Hysteria of Kelly as Depicted in Sydney Sheldon’s ARE YOU AFRAID OF THE DARK?” is purposed to analyze the cause and the effects of Kelly’s hysteria toward her behaviour. This research used qualitative method in analysing the data. The main data of this research is a novel by Sydney Sheldon entitled ARE YOU AFRAID OF THE DARK?. The main data are analyzed by using psychological approach which is contained of psychoanalysis theory by Sigmund Freud. In this research, the theory is divided into two investigations, Hysteria and Defence Mechanism. The theory is used to analyze the cause and the effect of Kelly’s hysteria and her form of her defence mechanism to her trauma.
There were some steps in analysing this research to answer the research questions. First, after data were collected, the researcher reduced the data which are not related with Kelly’s character. Second, the researcher classified the data which were the intrinsic element of the novel related Kelly’s character. Then, the researcher classified the evidences which is the cause and which are included the effects of Kelly’s hysteria. Third, the researcher examined the data by using psychoanalysis theory to analyze the Kelly’s hysteria causes and effects along withher repression and her dissociation as her defence mechanisms which influenced her behaviour changing. Last, the researcher concluded the analysis.
The result of the analysis, the researcher founds that Kelly’s hysteria are caused by her becoming into a passive victim of sexual abuse and her repression of her traumatic memory of her sexual abused at her childhood. Then, Kelly’s hysteria be expressed as her fears of several things which in indicates that she had some changess of her behaviour because of her repressed sexual trauma. Hence, some of Kelly’s behaviour changes then become the effects of her hysteria. Some of Kelly’s behaviour changes are: Kelly’s dissociation, Kelly’s continual fears with a dark, fears with a stranger man, and fears with sexual intercourse until her adulthood.
200711680B1J010188EFEK NAA DAN BAP TERHADAP PEMBENTUKAN TUNAS, DAUN, DAN TINGGI TUNAS STEK MIKRO
Nepenthes ampullaria Jack.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui interaksi antara NAA dan BAP dalam memacu pertumbuhan stek mikro N. ampullaria dan mendapatkan kombinasi perlakuan NAA dan BAP terbaik dalam memacu pertumbuhan stek mikro N. ampullaria.
Penelitian dilakukan secara eksperimental, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan pola faktorial. Sebagai blok digunakan letak ruas batang. Ruas I digunakan sebagai blok I, diikuti ruas II dan III masing-masing sebagai blok II dan blok III. Faktor yang diuji terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama adalah NAA yang terdiri atas empat taraf konsentrasi, yaitu 0, 5, 10, dan 15 µM. Faktor kedua adalah BAP dengan empat taraf konsentrasi, yaitu 0, 9, 18, dan 27 µM. Penelitian ini terdiri atas 16 kombinasi perlakuan, masing-masing diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 48 unit percobaan. Parameter yang diukur adalah waktu inisiasi tunas, waktu inisiasi akar, jumlah tunas, jumlah daun, jumlah akar, panjang daun terpanjang, panjang akar terpanjang, dan tinggi tanaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara NAA dan BAP dalam memacu pertumbuhan N. ampullaria. Kombinasi NAA 0 µM dan BAP 18 µM merupakan kombinasi paling baik dalam memacu pertumbuhan N. ampullaria. Sementara itu, untuk memacu jumlah tunas dapat digunakan NAA 0 µM dan BAP 27 µM.
This study aimed to know the interaction between NAA and BAP as well as to obtain the best combination of both treatments in promoting the growth of Nepenthes ampullaria microcutting. An experiment arranged in a factorial Randomized Complete Block Design (RCBD) was applied. Stem segments were used as blocks, where block I was the first segment followed by the next two segments as block II and III respectively. Two factors, i.e. NAA concentrations (0, 5, 10, 15 µM) and BAP concentrations (0, 9, 18, 27 µM) were employed giving rise to 16 combination of treatments. Each treatment combination was replicated three times resulting in 48 experimental units. The parameters measured were date of shoot initiation, date of root initiation, shoot number, leaf number, root number, length of longest leaf and shoot height. The results showed that interaction between NAA and BAP in promoting N. ampullaria microcutting growth was observed. Combination between NAA of 0 µM and BAP of 18 µM was found to be the best in promoting N. ampullaria microcutting growth. Meanwhile, combination between NAA 0 µM and BAP 27 µM was recommended to promote shoot number of N. ampullaria.

200811681B1J010086PERBANDINGAN VEGETASI TUMBUHAN BAWAH PADA TEGAKAN DAMAR (Agathis dammara) DI BATURRADEN KABUPATEN BANYUMAS DAN SERANG KABUPATEN PURBALINGGATumbuhan bawah berfungsi sebagai penutup tanah yang menjaga kelembaban tanah sehingga dapat mempercepat proses dekomposisi dan menyediakan unsur hara untuk tanaman pokok. Ketinggian tempat sangat mempengaruhi kondisi iklim seperti : suhu, kelembaban udara dan curah hujan, ketiga komponen tersebut berpengaruh terhadap vegetasi yang ada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan komposisi dari vegetasi tumbuhan bawah pada tegakan damar dengan ketinggian yang berbeda dan mengetahui perbedaan jenis tumbuhan bawah dengan ketinggian yang berbeda. Lokasi pengambilan sampel dibagi menjadi dua tempat berdasarkan ketinggian di Kebun Raya Baturraden Kabupaten Banyumas dan Serang Kabupaten Purbalingga. Struktur tumbuhan bawah di Kebun Raya Baturraden tersusun atas tumbuhan herba, rumput-rumputan, perdu, semak, paku-pakuan, dan di RPH Serang tersusun atas tumbuhan paku, rumput, herba, perdu dan semak. Komposisi tumbuhan yang ditemukan di Kebun Raya Baturraden terdiri dari 24 jenis dari 12 familia dan 17 jenis dari 14 familia di RPH Serang. Perhitungan Indeks Kesamaan (IS) dari kedua lokasi penelitian didapatkan sebesar 31,60% yang menunjukkan bahwa struktur dan komposisi tumbuhan bawah dikedua lokasi penelitian adalah berbeda.Undergrowth serves as a ground cover that keep the soil moist so that it can accelerate the decomposition process and provide nutrients to staple crops. Altitude affect climatic conditions such as temperature, humidity and rainfall, these three components affect the existing vegetation. The purpose of this study was to determine the structure and composition of vegetation under the stands of resin with different heights and know the different types of undergrowth with different heights. Sampling sites were divided into two places based on height at the Botanical Gardens of Baturraden, Banyumas and Serang, Purbalingga. The structure of undergrowth in the Botanical Gardens Baturraden composed of herbaceous plants, grasses, shrubs, bushes, ferns, and at RPH Serang composed of ferns, grasses, herbs, shrubs and bushes. Composition of herbs found in the Botanical Gardens Baturraden consists of 24 types of 13 familia and 17 types of 14 RPH familia in Serang. Calculation of Similarity Index (IS) of both sites obtained by 31.60%, which indicates that the structure and composition of the plant under study is different in both locations.
200911661F1A010056JANGAN MENGAKU KAYA KALAU BELUM PUNYA MOTOR TUA
(Fenomena Motor Antik Sebagai Simbol Status Sosial di Purwokerto)
Alat transportasi dari masa ke masa, terus mengalami berbagai perkembangan, perkembangan alat transportasi ini bertujuan untuk mempermudah manusia dalam proses kehidupan sosialnya. Seperti halnya sepeda motor yang keberadaannya diperuntukkan sebagai alat transportasi yang mudah dan efisien dan terus berkembang dari masa ke masa, akibat dari berkembangnya zaman, pergeseranpun terjadi, motor pada masa kini tidak lagi hanya digunakan sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai gaya hidup. Salah satunya adalah motor antik yang keberadaannya sudah kian menjamur di tengah perkembangan motor-motor baru yang semakin canggih dan futuristik. Membuat fenomena ini menarik untuk dikaji karena keberadaan mereka yang jarang dan sering dipandang sebelah mata tetapi begitu berharga bagi penggemarnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana motor antik digunakan sebagai simbol status sosial bagi pemiliknya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling , sasaran penelitiannya adalah pemilik motor antik yang berada di dalam komunitas maupun yang tidak tergabung dalam komunitas kemudian didukung dengan masyarakat awam yang tidak menggunakan motor antik sebagai sasaran pendukung. Hasil penelitian yang didapatkan melalui serangkaian wawancara dengan pemilik motor antik, motor antik dipilih karena motor antik memiliki bentuk yang berbeda serta memiliki ruh dan aura yang membuatnya berbeda dengan motor kebanyakan. Dari segi penggunaan motor antik tidak digunakan sebagai alat transpotasi sehari-hari tetapi lebih kepada barang koleksi yang hanya digunakan pada saat-saat tertentu. Pada penggunaan lain, ada juga yang digunakan sebagai alat transportasi harian tetapi melalui pertimbangan tertentu. Kemudian juga ditemukan istilah kolekdol dikoleksi tapi juga dijual, sebagian responden juga menganggap motor antik dapat dijadikan barang investasi karena tren harga yang terus meninggi. Dari data yang diperoleh, pemilik motor antik sendiri bangga dengan tunggangan mereka, karena mereka menganggap tunggangan mereka berharga layaknya berlian yang membuat mereka merasa kaya dalam memilikinya. Hal ini disebabkan karena terdapat kesulitan tersendiri dalam merawatnya, kesulitan tersebut kemudian diperkuat dengan jargon “jangan mengaku kaya kalau belum punya motor tua” yang dibentuk oleh komunitas. Secara umum masyarakat ada yang mengetahui hobi ini bukanlah hobi yang murah untuk digeluti, tetapi ada juga yang menganggap bahwa motor antik kurang memiliki nilai.
From time to time, mode of transport keeps continuing to undergo many developments, this mode of transport development has a purpose to ease people in their social life process. As well as motorcycles, their existence is aimed to be a mode of transport which is easy and efficient. Furthermore, their existence keeps developing from time to time as the result of the era changes. As the reshuffling of the meaning, motorcycles in this era are not only used as mode of transport, but also as a life style. One of the examples is antique motorcycles which become popular in the middle of new motorcycles development that is sophisticated and futuristic. This condition makes this phenomenon becomes interesting to be analyzed because their rare existence and underestimation from people is in the opposite way of the admiration from their fans.
This research has a purpose to describe about the way of antique motorcycles is used as a symbol of social status for the owners. The method of this research is qualitative descriptive method. The sampling technique is purposive sampling. The subject of the research is the owners of antique motorcycle inside the community or those who do not join in a community, and the ordinary people who do not use antique motorcycle as a supporting subject. As result of the research which is obtained from some interviews with the owners of antique motorcycles, the antiques motorcycles are chosen because they have different shape, and they have soul and aura that make them different from other motorcycles. From the side of the usage of the antique motorcycles, they are not be used as the daily mode of transport. The antique motorcycles are only collections and used in particular occasion. For the other owners, they use the antique motorcycles for daily mode of transport in some considerations. There is also a word “kolekdol” which means the collection to sell. Some correspondents think that antique motorcycles can be things for investment because of the price trend which gets higher by the time. From the result data, the owners of antique motorcycles are proud of their vehicles because they think their motorcycles are as precious as a diamond, and it makes them feel rich to have those vehicles. This condition is caused because the difficulty to take care the antique motorcycles, and another difficulty comes from the jargon “do not feel rich before owing antique motorcycles” that grows in the community. In general, people know that this hobby is not a low budged hobby, however, some of people think that antique motorcycles have less meaning.
201011684B1J010036KEKERABATAN ANGGREK GENUS Phalaenopsis BERDASARKAN SIFAT MORFOLOGI DI BATURRADENPhalaenopsis merupakan salah satu genus anggrek yang memiliki bunga sangat indah dan dikenal sebagai anggrek alam, dan ditemukan di Pulau Jawa dan Sumatera.anggrek ini terdorong epifit yang tidak suka dengan media terlalu lembab atau bahkan kering, jika dikoleksi harus disesuaikan dengan kondisis alam asli tempat hidupnya untuk kelangsungan hidup dan kecepatan berbunga Kebun Raya Baturraden dan Kebun Benih Hortikultura (KBH) Baturraden merupakan tempat konservasi tanaman. Di kebun tersebut banyak di jumpai berbagai tanaman, termasuk genus anggrek Phalaenopsis. Perlu dilakukan penelitian yang terkait dengan kekerabatan anggrek genus Phalaenopsis berdasar sifat morfologi yang ada di dua lokasi penelitian tersebut . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman spesies anggrek genus Phalaenopsis yang ada di Kebun Raya Baturraden dan Kebun Benih Hortikultura (KBH) Baturraden dan mengetahui hubungan kekerabatan anggrek genus Phalaenopsis berdasarkan sifat morfologi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik pengambilan sampel secara menyeluruh di dua lokasi. Data yang diperoleh diidentifikasi dan diamati karakter morfologinya kemudian dianalisis kekerabatan fenetik tanaman anggrek genus Phalaenopsis menggunakan metode UPGMA (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic) menggunakan software MEGA 5 (Molecular Evolutionary Genetics Analysis using Maximum).
Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 11 spesies Phalaenopsis dari dua lokasi penelitian. P. cornu-cervi memiliki jumlah individu yang paling banyak, diikuti P. javanica, P. amabilis, P. amboinensis, P. violacea, P. fasciata, Pcelebencis, P. gigantean, P. denevei, P. pelehari. P. viridis, P. fasciata. Mempunyai Indeks kesamaan terjauh yaitu antara Phalaenopsis gigante, P. celebensis, P. violacea, P. viridis dan P. cornu cervi dengan Indeks kesamaan terdekat yaitu antara Phalaenopsis amabilis dan P. fasciata dengan nilai ketidaksamaan 0,327 dan Indeks kesamaan terjauh yaitu antara Phalaenopsis pelehari, P. fasciata dengan nilai ketidaksamaan 2.456.
Phalaenopsis is one of orchid which have beautiful flower and called wild orchid. More of many Phalaenopsis were found in Jawa and Sumatera island. This orchid have more flore life time than others. The beauty and interest of orchid are an shape and color whose have variety color. The flower characteristic make chose to cultivare it as ornamental plant. Kebun Raya Baturraden and Kebun Benih Hortikultura (KBH) Baturraden are conservation plants. A study on the phonetic kinship of Phalaenopsis is needed. So, it’s needed an research about phylogenetic Phalaenopsis genus from morphology in Baturraden. This research is to know how variety of Phalaenopsis genus in Kebun Raya Baturraden and Kebun Benih Hortikultura (KBH) Baturraden and phylogenetic of it. The method used deskriptif method which sampling both of the locations. We identify it and look the morphology characteristic, the analyze the phonetic using UPGMA (Unweighted Pair Group Meth od with Arithmetic) and MEGA 5 softwere (Molecular Evolutionary Genetics Analysis). The result is can give information and as a database of Phalaenopsis genus in Baturraden.
The results showed that there are 11 species of Phalaenopsis of the two study sites. P. cornu-cervi have a number of individuals at most, followed by P. javanica, P. amabilis, P. amboinensis, P. violacea, P. fasciata, Pcelebencis, P. gigantean, P. denevei, P. pelehari. P. viridis, P. fasciata. Has a similarity index between Phalaenopsis amabilis dan P. fasciata with 0,327 inequality value. and the closest similarity index of between Phalaenopsis pelehari, P. Fasciata with a value of 2,456 inequality.
201111702F1F008035An Analysis of Spoken and Written Language Found in Feature of The Sun’s E-Paper on 24-28 November 2014 Edition Tujuan penelitian ini adalah menemukan jenis karakteristik bahasa dan menjelaskan realisasi bahasa lisan dan tulis dalam kolom Feature majalah The Sun versi elektronik pada tanggal 24-28 November 2014. Penelitian ini menerapkan metode penelitian deskriptif kualitatif. Sampel data dalam penelitian ini berasal dari teks bertema Horoscope, Real life adventure dan artikel utama dalam Feature majalah The Sun versi elektronik pada tanggal 24-28 November 2014. Data-data ini juga dianalisis menggunakan pendekatan analisis wacana pada bahasa lisan dan tulis dari Halliday (1985).
Hasil penelitian menunjukan bahwa bahasa lisan dan tulis ditemukan dalam kolom Feature majalah The Sun. Penggunaan bahasa lisan diterapkan dalam 5 teks Real life adventure dan 60 teks Horoscope, selain itu bahasa lisan diterapkan dalam 5 teks artikel utama. Realisasi dari bahasa lisan dan tulis itu memiliki sedikit perbedaan dalam karakteristiknya yang dipengaruhi oleh dimensi Mode. Teks-teks real life adventure menunjukan Channel dan Medium-nya sejalan beriringan dalam Channel fonik atau suara, dialog, Medium bahasanya lisan, dan peranan bahasa-nya diterapkan dalam kegiatan yang berlangsung. Bagaimanapun juga, teks-teks Horoscope menunjukan ketidaksesuaian Channel dan Medium-nya, yaitu penggunaan Channel grafik atau tulisan, monolog, Medium bahasanya lisan, dan peran bahasa-nya diterapkan atau dibangun di dalam kegiatan. Akan tetapi, penggunaan bahasa tulis pada teks-teks artikel utama menunjukan Channel dan Medium-nya sejalan dalam Channel grafik atau tulisan, monolog, Medium bahasanya tulis, dan bahasanya berperan untuk membangun kembali atau menginterpretasi suatu kegiatan.
The purposes of this research are finding out type of language characteristics and describing the realization of spoken and written language found in Feature of The Sun’s E-paper on 24-28 November 2014 edition. This research applies descriptive qualitative research method. The sample is taken from horoscope, main article and real life adventure texts of Feature of The Sun’s E-paper on 24-28 November 2014 edition. Then, the data are analyzed using a discourse analysis approach of spoken and written language by Halliday (1985).
The result of the research shows that both spoken and written language are found in Feature of The Sun. The application of spoken language are found in 5 real life adventure and 60 horoscope texts while the application of written language are found in 5 main article texts.The realization of both languages in those texts have few difference in the characteristics influenced by the mode dimension. These real life adventure texts confirm that the congruent channel and medium in phonic channel, dialogue interaction, spoken medium, and the role of language which is embedded in action. While these horoscope texts confirms that the channel and medium are not be congruent in graphic channel, monologue interaction, spoken medium, the role of language which is embedded or constructed in action. However, the written language of these main article texts have the congruent channel and medium in graphic channel, monologue interaction, written medium, and the role of language which reconstructs and reflects action.
201211690G1A010084HUBUNGAN ANTARA UKURAN LINGKAR LENGAN ATAS DENGAN FREKUENSI TRANSFUSI DARAH PADA ANAK DENGAN THALASSAEMIA MAYOR DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2013HUBUNGAN ANTARA UKURAN LINGKAR LENGAN ATAS DENGAN FREKUENSI TRANSFUSI DARAH
PADA ANAK DENGAN THALASSAEMIA MAYOR
DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2013


Nurul Apriliani, Ariadne Tiara Hapsari, Madya Ardhi Wicaksono
Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
E-mail: nrlapriliani@gmail.com


ABSTRAK

Latar Belakang. Thalassaemia merupakan penyakit kelainan darah yang diwariskan dan paling umum di dunia. Di Indonesia jumlah penderita thalassaemia dapat bertambah setiap tahunnya. Pada thalassaemia mayor, terjadi anemia hemolitik yang akan berlangsung seumur hidup. Transfusi darah masih merupakan terapi utama. Kondisi ini dapat berpengaruh pada status gizi anak. Status gizi dapat diukur dengan mengukur lingkar lengan atas, karena pada pasien thalassaemia terdapat pembesaran organ.
Tujuan. Mengetahui hubungan antara ukuran lingkar lengan atas dengan frekuensi transfusi darah pada anak dengan thalassaemia mayor di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto tahun 2013.
Metode Penelitian. Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan cross sectional yang dilaksanakan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dengan melibatkan 6 pasien anak dengan thalassaemia mayor, rentang usia 6-11 tahun. Pemilihan subjek penelitian dilakukan dengan teknik total sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman.
Hasil dan Pembahasan. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,913 yang menunjukkan bahwa hubungan antara ukuran LiLA dengan frekuensi transfusi darah adalah tidak bermakna. Rerata ukuran LiLA 18,04 cm. Rerata frekuensi transfusi darah per tahun 5,933 kali.
Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara ukuran lingkar lengan atas dengan frekuensi transfusi darah pada anak dengan thalassaemia mayor di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto tahun 2013.

Kata Kunci: Thalassaemia mayor, lingkar lengan atas, frekuensi transfusi darah
Correlation Between Mid-Upper Arm Circumference And Frequency Of Blood Transfusion In Children With Thalassaemia Major In Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Hospital In 2013


Nurul Apriliani, Ariadne Tiara Hapsari, Madya Ardhi Wicaksono
Student of Medical Education Program of Jenderal Soedirman University, Purwokerto
E-mail: nrlapriliani@gmail.com


ABSTRACT

Background. Thalassaemia is the most common inherited blood disorder in the world. In Indonesia its number can rise every year. In thalassaemia major, chronic hemolytic anemia will last a lifetime. Blood transfusion is still the therapy. This condition can affect the growth. The nutritional status can be determined by measuring the mid-upper arm circumference, because in thalassaemia patients there is organ enlargement.
Objective. To determinate the correlation between mid-upper arm circumference and frequency of blood transfusion in children with thalassemia major in Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Hospital in 2013.
Methods. This research is an analytic observational study with cross-sectional design. This study was conducted in the Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Hospital involving 6 children with thalassaemia major, with ages range 6-11 years old. Selection of the subject conducted with total sampling technique. Analysis of data using Spearman correlation test.
Results. The result of statistical test showed the value of p=0,913) which indicates that the relationship between mid-upper arm circumference and frequency of blood transfusion is not significant. The mean of MUAC is 18.04 cm. The mean of frequency of blood transfusion per year is 5.933 times.
Conclusion. There is no significant relationship between mid-upper arm circumference and frequency of blood transfusion in children with thalassemia major in Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Hospital in 2013.

Keywords: Thalassaemia, thalassaemia major, mid-upper arm circumference, frequency of blood transfusion
201311686B1J010105POTENSI KAPANG DAGE BANYUMAS DALAM MENGHIDROLISIS SELULOSA, MENGHASILKAN FLAVONOID
DAN PRODUKSI VITAMIN B2
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi isolat kapang tempe dage dari Sokaraja, Karanglewas dan Ajibarang, Kabupaten Banyumas dalam menghidrolisis selulosa, menghasilkan flavonoid dan vitamin B2, serta kapang dage yang mampu menghasilkan produk tempe dage terbaik ditinjau dari kandungan vitamin B2. Penelitian dilakukan dengan metode survei dan eksperimental (Rancangan Acak Lengkap (RAL)). Variabel bebas yang digunakan adalah isolat kapang tempe dage, sedangkan sebagai variabel tergantung adalah daya selulolitik, kandungan flavonoid (kualitatif) dan vitamin B2 (kuantitatif). Data produksi vitamin B2 dianalisis menggunakan uji f dan uji lanjut BNT.
Hasil pengujian potensi selulolitik kapang menunjukkan bahwa semua isolat kapang memiliki kemampuan dalam menghidrolisis selulosa. Hal tersebut dilihat dari diameter rata-rata zona jernih yang dihasilkan oleh semua kapang pada medium CMC agar. Uji potensi kapang dalam menghasilkan flavonoid menunjukkan bahwa tempe dage yang dihasilkan oleh semua isolat mengandung flavonoid. Analisis kandungan riboflavin dari tempe dage yang dihasilkan dari inokulum terpilih hasil identifikasi menunjukkan bahwa tempe dage yang dihasilkan oleh Mucor racemosus menghasilkan riboflavin tertinggi yaitu sebesar 58,040 ppm. Hasil analisis ragam (ANOVA) dan uji lanjut BNT menunjukkan bahwa isolat kapang memberikan pengaruh yang nyata terhadap kandungan riboflavin pada tempe dage yang dihasilkan.
This research aims to know the potential of tempe dage mold isolates from Sokaraja, Karanglewas and Ajibarang, Banyumas in cellulose hydrolyze, produce flavonoids and vitamin B2, and dage mold that can produce the best tempe dage in terms of vitamin B2 content. The research method used are survey and experimental (completely randomized design (RAL)). The independent variable are the tempe dage mold isolates, while the dependent variable are the cellulolitic power, flavonoids (qualitative) and vitamin B2 (quantitative). The production of vitamin B2 data is analyzed using the F test and LSD test. The test results of cellulolytic potential molds showed that all mold isolates have the ability to hydrolyze cellulose. The results seen from the average diameter of the clear zone produced by all molds on CMC medium. The test results of potential mold to produce flavonoids showed that tempe dage made by all isolates contain flavonoids. Analysis results of the riboflavin content from tempe dage made by the selected inoculum identification results show that tempe dage made by Mucor racemosus produce the highest riboflavin at 58.040 ppm. Results of analysis of variance (ANOVA) and LSD test showed that mold isolates significant on the content of riboflavin in tempe dage which is made.
201411588C1B011086Pengukuran Efisiensi Bank Sebelum dan Setelah Merger Dengan Metode Data Envelopment Analysis dan CAELTujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis nilai efisiensi dan kinerja keuangan bank setelah merger. Populasi penelitian merupakan bank yang melakukan merger dari tahun 2006 - 2013. Sampel dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling, dengan jumlah sampel sebanyak enam bank. Efisiensi bank dihitung dengan metode DEA denga variabel input (modal, tenaga kerja, dan total biaya) serta variabel output (dana pihak ketiga, jumlah pembiayaan, dan total pendapatan). Kinerja keuangan bank dihitung dengan metode CAEL: Capital (CAR), Asset (NPL), Earning (ROA, ROE, NIM, dan BOPO), serta Liquidity (LDR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat efisiensi yang signifikan sebelum dan setelah merger. Hal yang sama juga terjadi pada kinerja rasio keuangan bank tidak mengalami perubahan yang signifikan setelah dilakukannya merger. Namun terdapat korelasi yang signifikan antara nilai efisiensi dengan rasio ROE dan NIM pada bank sebelum dan setelah merger.The purposes of this research were to analyze the bank’s efficiency score and financial performance after merger. Population of the study were bank that did merger in 2006 – 2013. Samples were selected using purposive sampling, the total number of sample selected are six banks. Bank’s efficiency measured by DEA method with input variables (capital, labour, and total expense) and output variables (third party fund, funding, and total revenue). Financial performance measured by CAEL method: Capital (CAR), Asset (NPL), Earning (ROA, ROE, NIM, and BOPO), and Liquidity (LDR). The result shows that there is no difference in efficiency score in banks before and after merger. Furthermore, bank’s financial performance are not getting better significantly after merger. But, there is significant correlation between efficiency score with ROE and NIM.
201511687B1J010235JENIS-JENIS TUMBUHAN BAWAH YANG BERPOTENSI SEBAGAI TUMBUHAN OBAT DI BAWAH TEGAKAN JATI (Tectona grandis) DAN TEGAKAN PINUS (Pinus merkusii) DI RPH CIMANGGUHutan merupakan suatu areal yang dihuni oleh berbagai masyarakat tumbuhan seperti pohon dan tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah adalah tumbuhan yang berada di lantai hutan dan berfungsi sebagai penutup tanah. Beberapa jenis tumbuhan bawah diidentifikasi sebagai tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat. Penelitian ini dilakukan pada tegakan Jati (Tectona grandis) dan tegakan Pinus (Pinus merkusii) di RPH Cimanggu yang merupakan wilayah KPH Banyumas Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan bawah yang berpotensi sebagai tumbuhan obat dan untuk mengetahui perbedaan jenis-jenis tumbuhan bawah sebagai tumbuhan obat pada tegakan jati dan tegakan pinus.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Pengukuran struktur vegetasi tumbuhan bawah yang terdapat pada lokasi tegakan jati dan tegakan pinus dibuat petak tunggal ukuran 1 ha. Pada kuadrat 1 ha dibuat kuadrat 2 m x 2 m yang diletakkan pada setiap titik diagonal kuadrat 1 ha. Variabel pada penelitian ini adalah variabel bebas dan variabel tergantung. Variabel bebas adalah faktor lingkungan meliputi suhu, intensitas cahaya, kelembapan, dan pH tanah yang diukur pada petak berukuran 2 m x 2 m, sedangkan variabel tergantung adalah komposisi tumbuhan bawah yang berpotensi sebagai tumbuhan obat pada setiap tegakan. Parameter penelitian ini adalah jumlah spesies dan jumlah individu setiap spesies tumbuhan bawah yang berpotensi sebagai tumbuhan obat. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan perhitungan indeks nilai penting, indeks keanekaragaman (index diversity of Shennon-Wiener) dan indeks kesamaan (index of similarity).
Hasil penelitian di dapatkan 16 spesies tumbuhan obat pada tegakan jati dan 12 spesies pada tegakan pinus. Nilai indeks keanekaragaman tumbuhan obat pada tegakan jati yang diperoleh yaitu 2.45 dan nilai indeks keanekaragaman tumbuhan obat pada tegakan pinus yang diperoleh yaitu 2.25 yang menunjukkan keanekaragaman jenis yang sedang pada suatu kawasan. Indeks kesamaan yang diperoleh dari 2 tegakan yang dibandingkan yaitu 54.72 % yang menunjukkan pada kedua tegakan tersebut berbeda.
Forest is an area inhabited by various plant communities such as trees and undergrowth. Undergrowth is a plant that lies on the forest floor and functions as ground cover and several undergrowth species are identified as plants that can be used as medicinal plants. This study was conducted on Teak (Tectona grandis) stands and Pine (Pinus merkusii) stands in RPH Cimanggu which was a KPH region of West Banyumas. The aim of this study was to find out the undergrowth plant species which have potential as medicinal plants and to learn the difference of undergrowth plant species as medicinal plants on teak stands and pine stands.
Method used in this study was survey. Measurement of undergrowth vegetation structure on teak stands and pine stands location used a single plot with an area of 1 ha. Plot square of 2 m x 2 m was sampled diagonally on four sides and in the middle of each 6 plots so that there are 30 plots of 2 m x 2m in 1 ha. Variables in this study was independent variables and dependent variables. Independent variables were environmental factors such as temperature, light intensity, humidity, and soil pH which was measured on 2 m x 2 m plots, while dependent variables were undergrowth composition which have potential as medicinal plants on each stands. Parameters of this study was total number of species and total number of individual from each undergrowth species which have potential as medicinal plants. Collected data was analyzed with calculations of index of important value, index of diversity (Shannon-Wiener) and index of similarity.
Results found 16 medicinal plants species on teak stands and 12 species on pine stands. The index of diversity values on teak stands and pine stands was 2.45 on teak stands and 2.25 on pine stands which showed a moderate amount of species diversity in a region. Index of similarity from 2 compared stands was 54.40 % which showed that both of these stands were different.
201611703G1A011025Identifikasi Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kasus Malaria di Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas Tahun 2012Malaria merupakan penyakit infeksi yang menjadi masalah kesehatan masyakarat. Kabupaten Banyumas merupakan salah satu daerah High Case Incidence (HCI) malaria di Jawa Tengah. Kecamatan Tambak memiliki insidensi malaria tertinggi di Banyumas tahun 2012. Penelitian bertujuan mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian malaria di Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, tahun 2012. Penelitian menggunakan case control study dengan sampel 132 orang, terdiri dari 66 kasus dan 66 kontrol. Pengambilan data dilakukan dengan mengunjungi rumah responden. Pengumpulan data menggunakan wawancara berbasis kuesioner dan observasi peneliti. Analisis bivariabel menggunakan chi-square dan analisis multivariabel menggunakan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara pekerjaan (p=0,001; OR=7,933), pendapatan (p=0,003; OR=3,095), riwayat bepergian ke daerah endemik (p=0,001; OR=24,375), penggunaan obat nyamuk (p=0,001; OR=11,083), kebiasaan beraktivitas di luar rumah pada malam hari (p=0,001; OR=4,706), penggunaan kawat kassa (p=0,001; OR=25,081), dan keberadaan kandang ternak (p=0,001; OR=3,619) dengan kejadian malaria. Kesimpulan penelitian yaitu terdapat hubungan antara pekerjaan, pendapatan, riwayat bepergian ke daerah endemik, penggunaan obat nyamuk, kebiasaan beraktivitas di luar rumah pada malam hari, penggunaan kawat kassa, dan keberadaan kandang ternak dengan kejadian malaria. Faktor risiko paling berpengaruh yaitu pendapatan, riwayat bepergian ke daerah endemik, penggunaan obat nyamuk, kebiasaan beraktivitas di luar rumah pada malam hari, penggunaan kawat kassa, dan keberadaan kandang ternak.Malaria is infectious disease which still being public health problem. Banyumas regency is one of High Case Incidence (HCI) area in Central Java. Tambak is sub-district with the highest incidence of malaria in Banyumas in 2012. Identification of malaria risk factors be needed to know appropriate preventive measures of malaria. The research aims to know risk factors related to malaria cases at Tambak sub-district, Banyumas regency, in 2012. Research used case control study with 132 samples, consists of 66 cases and 66 controls. Data took by home visit ro respondent’s house. Questionnaire-based interview and researcher observation used to collect data. Bivariable analysis used chi-square, and multivariable analysis used multiple logistic regression. The result showed there were relation between occupation (p=0,001; OR=7,933), income (p=0,003; OR=3,095), history of travel to endemic areas (p=0,001; OR=24,375), use of repellent (p=0,001; OR=11,083), habit of outdoor activity at night (p=0,001; OR=4,706), use of wire net (p=0,001; OR=25,081), and existence of cattle sheds (p=0,001; OR=3,619) with malaria cases. The most dominant risk factors were income, history of travel to endemic areas, use of repellent, habit of outdoor activity at night, use of wire net, and existence of cattle sheds.
201711847G1A011029KORELASI LINGKAR PINGGANG DENGAN TEKANAN DARAH
PASIEN HIPERTENSI PESERTA PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) DI PURWOKERTO
Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting secara global, dan sebagai faktor risiko terjadinya penyakit jantung koroner, dan stroke. Sebagian besar kasus hipertensi berkaitan dengan distribusi lemak tubuh dan obesitas. Lingkar pinggang merupakan salah satu parameter antropometrik yang mampu menggambarkan risiko tejadinya penyakit kardiovaskular, termasuk hipertensi secara lebih akurat dibanding BMI. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis korelasi lingkar pinggang dengan tekanan darah pasien hipertensi peserta PROLANIS di Purwokerto. Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional dengan besar sampel 47 responden. Analisis bivariabel menggunakan uji korelasi Spearman untuk menganalisis korelasi lingkar pinggang dengan tekanan darah sistolik dan diastolik. Penelitian ini telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian Kedokteran FKIK Unsoed. Analisis pada seluruh responden tanpa memperhatikan jenis kelamin menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara lingkar pinggang dengan tekanan darah sistolik dan diastolik yang bermakna (p<0,001) dengan arah positif dan kekuatan korelasi sedang (r= 0,519 untuk sistolik dan r=0,504 untuk diastolik). Dapat disimpulkan, semakin besar lingkar pinggang pasien berdampak pada semakin tingginya tekanan darah pasien PROLANIS di Purwokerto dan berlaku sebaliknya.Hypertension is a globally important public health problem, as a risk factor for coronary heart disease and stroke. Most cases of hypertension associated with body fat distribution and obesity. Waist circumference is one of anthropometric parameter which indicates the risk of cardiovascular diseases, including hypertension more accurate than BMI. The aim of this study was to analyze correlation of waist circumference and blood pressure in patients with hypertension at “PROLANIS” program in Purwokerto. This was cross-sectional study with 47 subjects. Bivariable analysis was done by using Spearman correlation test to analyze the correlation of waist circumference with systolic and diastolic blood pressure. This study was approved by the Ethics Committee of FK Unsoed. There was a significant correlation of waist circumference with sistolic and diastolic blood pressure (p<0.001) with positive direction and moderate correlation (r = 0.519 for systolic and r = 0.504 for diastolic). It was concluded, the greater the value of waist circumference on the greater systolic and diastolic blood pressure in patients with hypertension at “PROLANIS” program in Purwokerto, and vice -versa.
201811696G1D008088GAMBARAN TINGKAT STRES PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJOGAMBARAN TINGKAT STRES PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO

Nun Aineka1, Iwan Purnawan2, Keksi Girindra Swasti3

1Mahasiswa Jurusan Keperawatan, FIKes Unsoed

2Depertemen Keperawatan Medikal Bedah, Jurusan Keperawatan, FIKes Unsoed

3Depertemen Keperawatan Jiwa, Jurusan Keperawatan, FIKes Unsoed

Email: aineka_nun@yahoo.com

ABSTRAK

Latarbelakang: Diabetes mellitus adalah suatu gangguan metabolism karbohidrat, lemak dan protein dalam tubuh akibat kekurangan hormon insulin yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah atau hiperglikemia. Hal ini mengakibatkan berbagai komplikasi pada DM. Komplikasi tersebut menyebabkan stres pada penderitanya. Stres adalah respon tubuh terhadap setiap kebutuhan tubuh yang terganggu. Stres juga dapat berdampak secara negative pada individu baik dari segi fisik, psikologi, intelektual, sosial, maupun spiritual.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran tingkat stres pada pasien diabetes mellitus di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekardjo
Metode: Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain analisis deskriptif dan pendekatan cross sectional. Sampel dipilih secara consecutive sampling sebanyak 30 orang. Analisis data dilakukan secara univariat.
Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden berusia 61-82 tahun sebanyak 13 orang (43,3%), sebanyak 20 orang (66,7%) berjenis kelamin perempuan, sebanyak 14 (46,7%) mempunyai pendidikan SD, sebanyak 18 orang (60%) bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 20 (66,7%) mempunyai pendapatan di bawah UMR. Gambaran tingkat stres pada pasien diabetes mellitus didapatkan bahwa tingkat stres yang paling banyak adalah tingkat stres ringan yaitu sebanyak 27 orang (90%). Gambaran tingkat stres berdasarkan sumber dukungan pada pasien DM di dapatkan bahwa sumber dukungan paling besar berasal dari lingkungan keluarga dan masyarakat.
Kesimpulan: Gambaran tingkat stres pada pasien diabetes mellitus sebagian besar berada pada tingkat stres ringan

Kata Kunci: Diabetes mellitus, tingkat stres.
STRESS LEVELS OVERVIEW IN DIABETES MELLITUS PATIENTS
AT PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO HOSPITALS

ABSTRACT

Nun Aineka1, Iwan Purnawan2, Keksi Girindra Swasti3

1student of nursing,facultly of health sciences of, jendral soedirman university

2Depertement of medical surgical nursing, nursing, faculty of health sciences of jendral soedirman university

3Depertementof psychiatric nursing, nursing, faculty of health sciences of jendral soedirman university


Email: aineka_nun@yahoo.com

Background: Diabetes mellitus is one of the progressive chronic disease caused by an increase in blood sugar levels are then sustained and varied resulting in complications in patients with diabetes is heart, kidney and hypertension. These complications will cause stress on the sufferer. Stress is the body's response that is not specific to any of the body's needs, stress can also impact negatively on the individual both in terms of physical, psychological, intellectual, social, and spiritual.
Objective: This study aimed to identify the picture of stress levels in patients with diabetes mellitus in Prof. Dr Margono Soekardjo hospitals
Methods: The method in this research is quantitative, descriptive analysis design with cross sectional approach. Samples were selected by consecutive sampling so as to be 30 people. Data Analysis used in univariate.
Results: The results showed that respondents aged 61-82 years were 13 (43.3%), as many as 20 people (66.7%) were female, 14 (46.7%) had low or elementary education, as much as 18 people (60%) worked as a housewife and as many as 20 (66.7%) have incomes below the minimum wage. The level of stress in patients with diabetes mellitus was found that the level of stress that most are mild stress level as many as 27 people (90%).
The level of stress based source of support in patients with DM in getting most of the sources of support that comes from interpersonal ie 2,46.
Conclusion: The level of stress in patients with diabetes mellitus are at mild stress levels.

Keywords: Diabetes mellitus, stress levels,


201911697G1D009032STRATEGI KOPING PENDERITA ULKUS DIABETES MELLITUS DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
Latar Belakang : Ulkus diabetikum merupakan luka terbuka pada lapisan kulit sampai kedalam dermis. Adanya ulkus dapat memicu stres bagi penderita diabetes mellitus, sehingga perlu strategi koping untuk menghadapi atau menyelesaikan kondisi tersebut.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi koping yang digunakan oleh penderita ulkus diabetes mellitus.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 10 responden. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner. Instrumen strategi yang digunakan diadopsi dari Coping Orientations and Prototypes (COAP). Analisis data menggunakan ukuran pemusatan dan penyebaran.
Hasil : karakteristik responden berdasarkan usia diperoleh nilai median 54 tahun dengan usia minimal 32 tahun dan maksimal 67 tahun. Responden jenis kelamin perempuan dan laki-laki masing-masing 50%. Penderita ulkus diabetes mellitus sebagian besar berpendidikan SD 60% dan tidak bekerja 70%. Frekuensi terkena ulkus DM mayoritas satu kali 40% dan lama menderita DM mayoritas lebih dari 10 tahun 60%, sedangkan lama menderita ulkus kurang dari 2 bulan 50%. Strategi koping penderita ulkus diabetes mellitus yang selalu digunakan adalah strategi yang berorientasi pada keagamaan dengan nilai rerata 4,50 sering digunakan adalah berorientasi pada eksistensi 4,09. Sedangkan strategi yang berorientasi pada situasi 3,21, berorientasi pada emosi 2,92, berorientasi pada pencegahan 3,24, dan berorientasi pada restrukturasi diri 2,94 hanya kadang-kadang digunakan.
Kesimpulan : strategi koping yang sering digunakan oleh penderita ulkus diabetes mellitus adalah strategi yang berorientasi pada keagamaan dilanjutkan dengan berorientasi pada eksistensi.
Background : Diabetics ulcers is an open wound from the skin layer into the dermis ulcers can that it cause stress for the suffereis, therefore itneeds coping strategy to face and solve the condition.
Purpose : The research intend to find out the coping strategy to diabetic ulcer.
Methods : This strategy uses Cross-sectional design. The sampling uses consecutive sampling with 10 respondents. Measuring instruments used in this study was a questionnaire . Instruments used strategies of coping orientations adopted and Prototypes ( COAP ) . Analysis of data using measures of central tendency and the spread.
Result : characteristics of respondents by age is obtained median age of 54 years with a minimum of 32 years and maximum 67 years. Respondents female sex and male respectively 50%. Patients with diabetes mellitus ulcer mostly elementary education 60%, most do not work 70%, affected by the frequency of diabetes mellitus ulcer majority of 40% of the time and duration of diabetes mellitus majority of more than 10 years of 60%, while the long-suffering ulcers are less than 2 months 50%. Coping strategies ulcer patients with diabetes mellitus who always used is a religious-oriented strategy with a mean value of 4.50 followed by that is often used is oriented in existence with a mean value of 4.09. While the strategy is oriented to the situation with a mean value of 3.21, emotion-oriented with a mean value of 2.92, prevention-oriented with a mean value of 3.24, and oriented restructuring themselves with a mean value of 2.94 is only occasionally used.
Conclusion : Strategy with oriented by religion and continuing by the existence is the most well used as the coping strategy for diabetic ulcer sufferers.
202011699G1F011003EFEK EKSTRAK ETANOLIK DAUN COCOR BEBEK (Bryophyllum pinnatum) TERHADAP PENURUNAN TERMAL HIPERALGESIA PADA MODEL TIKUS NYERI INFLAMASI KRONIK Ekstrak daun cocor bebek (Bryophyllum pinnatum) telah terbukti memiliki aktivitas analgetik pada nyeri akut. Salah satu kandungan cocor bebek yang berperan dalam aktivitas analgetik dan antiinflamasi adalah flavonoid, yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai terapi nyeri inflamasi kronik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek ekstrak etanolik daun cocor bebek terhadap penurunan termal hiperalgesia pada model tikus nyeri inflamasi kronik.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan hewan uji tikus Wistar model nyeri inflamasi kronik yang diinduksi Complete Freund’s Adjuvant (CFA) pada hari pertama. Hewan uji sebanyak 30 tikus dibagi menjadi 5 kelompok (n=6), terdiri dari kontrol positif (ketamin 10 mg/kgBB), kontrol negatif (CMC-Na 0,5%), dan 3 kelompok perlakuan ekstrak etanolik daun cocor bebek dosis 200, 400 dan 600 mg/kgBB. Pemberian sediaan uji dilakukan 2 kali seminggu selama 4 minggu, pada hari ke-3 dan ke-6. Uji efek penurunan termal hiperalgesia dilakukan dengan metode hot-plate pada hari ke 7, 14, 21 dan 28 sehingga didapatkan waktu laten kemudian dihitung persentase kenaikan waktu laten. Data waktu laten dan persentase kenaikan waktu laten dianalisis menggunakan uji Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95% dilanjutkan uji Least Significance Different (LSD).
Ekstrak etanolik daun cocor bebek 200, 400, 600 mg/kg BB mempunyai efek penurunan termal hiperalgesia dengan meningkatkan waktu laten secara berturut-turut sebesar 3,18; 4,33 dan 6,12 detik. Dosis optimum sebagai antihiperalgesia adalah 600 mg/kgBB, dengan menaikkan waktu laten sebesar 2 kali lipat dibandingkan kelompok kontrol negatif.
Extracts of cocor bebek (Bryophyllum pinnatum) had proven effects in acute pain. The content flavonoid in cocor bebek had role in the analgesic and anti-inflammatory activity, thereby potentially being developed as a therapy of chronic inflammatory pain. This study was conducted to determine the effect of leaves cocor bebek ethanolic extract as attenuation of thermal hyperalgesia in rat model of chronic inflammatory pain.
This study used a completely randomized design with animal of Wistar rats model of chronic inflammatory pain induced Complete Freund's Adjuvant (CFA) at first day. Animals were 30 rats were divided into 5 groups (n = 6), consisted of a positive control (ketamine 10 mg/kg BB), negative control (CMC Na 0,5%), and 3 treatment groups ethanolic extracts of leaves cocor bebek dose of 200, 400 and 600 mg/kg BW. The administration of dilution test was given twice a week for 4 weeks, at days 3 and 6. The effect from attenuation of thermal hyperalgesia was carried out using a hot-plate at days 7, 14, 21 and 28 to measure latency time then the percentages increase in latency time was calculated. Latency time and the percentages increase in latency time were analyzed by Analysis of Variance (ANOVA) with 95% confidence level and continued by Least Significance Different test (LSD).
Ethanolic extracts of cocor bebek leaves 200, 400, 600 mg/kg BB had effect of attenuation of thermal hyperalgesia by increasing latency time by 3.18, 4.33 and 6.12 seconds respectively. The optimum dosage as antihiperalgesia was 600 mg/kg BB, with increase latency time twice as many as negative control group.