Artikelilmiahs

Menampilkan 9.281-9.300 dari 48.927 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
92819398C1L010059FACTORS AFFECTING CREDIT DECISION: STUDY ON THE BRANCH OF BRI IN PURWOKERTOThe aims of research were to find out the partially influence of business age, business capacity, debtor characteristics as well as financial statement on lending decision and to find out the simultaneous influence of business age, capacity effect, debtor characteristics and financial statement on lending decision. The research was conducted at units of Bank BRI located in Purwokerto. Population target of this research was credit officers of BRI Units in Purwokerto. The research method was survey, with sampling techniques used are convenience sampling and Slovin formula. Based on the calculation using Slovin formula, it obtained 43 respondents as research sample. From 43 questionnaires distributed, there are 39 feasible questionnaires (86.67%). Furthermore, the technique of data analysis used in this research was multiple regression analysis. Based on the result of data analysis, it can be concluded that business age, business capacity, characteristic as well as financial statement influence on lending decision partially and also business age, business capacity, characteristic and financial statements influence on lending decision simultaneously.The aims of research were to find out the partially influence of business age, business capacity, debtor characteristics as well as financial statement on lending decision and to find out the simultaneous influence of business age, capacity effect, debtor characteristics and financial statement on lending decision. The research was conducted at units of Bank BRI located in Purwokerto. Population target of this research was credit officers of BRI Units in Purwokerto. The research method was survey, with sampling techniques used are convenience sampling and Slovin formula. Based on the calculation using Slovin formula, it obtained 43 respondents as research sample. From 43 questionnaires distributed, there are 39 feasible questionnaires (86.67%). Furthermore, the technique of data analysis used in this research was multiple regression analysis. Based on the result of data analysis, it can be concluded that business age, business capacity, characteristic as well as financial statement influence on lending decision partially and also business age, business capacity, characteristic and financial statements influence on lending decision simultaneously.
92825584B1J009022PENYAKIT CENDAWAN DAN PERSENTASE PENYAKIT PADA TANAMAN KENTANG
(Solanum tuberosum L.) DI DAERAH SIRAMPOG, BREBES

Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan jenis tanaman sayuran yang diusahakan di dataran tinggi daerah Brebes. Peningkatan produksi kentang memiliki banyak kendala, salah satunya adalah penyakit yang disebabkan oleh patogen terutama cendawan yang mampu menurunkan hasil produksi cukup besar sehingga produksi tidak maksimal. Penelitian dilakukan di Desa Dawuhan Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis penyakit cendawan pada tanaman kentang dan mengetahui jenis penyakit cendawan yang paling dominan serta untuk mengetahui seberapa besar persentase penyakit yang disebabkan oleh cendawan yang ada di pertanaman kentang daerah Sirampog, Brebes. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-Mei 2013 dengan menggunakan metode survey dan pengambilan sampel dengan simple random sampling secara diagonal di tiga lokasi berbeda. Sampel tanaman sakit diidentifikasi berdasarkan gejala yang ditunjukkan, kemudian dideskripsikan sesuai gejala penyakitnya menggunakan buku: “Penyakit-Penyakit Hortikultura Di Indonesia” dan “Ilmu Penyakit Tumbuhan” dilanjutkan dengan menghitung persentase penyakitnya (Anonim, 1984). Hasil yang dari penelitian ini diperoleh tiga jenis penyakit yang disebabkan oleh cendawan yaitu Hawar daun (Phytopthora infestans) dan dua jenis penyakit layu yang disebabkan Fusarium oxysporum dan Colletotrichum coccodes, dengan frekuensi paling sering muncul yaitu penyakit Hawar daun, dan untuk persentase penyakit yang disebabkan oleh cendawan adalah 61,6%.

Potato (Solanum tuberosum L.) is a kind of vegetable crops wich is in highland area of Brebes. The increased production of potatoes has many obstacles, such as disease caused by pathogen especially fungi which is able to decrease the production until the production is not maximized. This research was done in the village of Dawuhan, sub-district of Sirampog, Brebes. The purpose of this research were to know the kind of the diseases on potatoes caused by the fungi and to know the most dominant disease caused by the fungi and also to know the disease percentage caused by the fungi in Sirampog, Brebes. This research was done in February-March 2013 using survey method with simple random sampling at three different locations. The samples of attached plants were identified based on symptoms, then were described based on book entitled, “Penyakit-penyakit Hortikultura di Indonesia” and “ Ilmu Penyakit Tumbuhan”, then continued counting disease percentage. The results of this research showed three diseases caused by fungi i.e., blighted leaf by Phytopthora infestans and two kind of withered diseases by Fusarium oxysporum and Colletotrichum coccodes, with the most frequent one was blighted leaf disease and the percentage of disease caused by fungi was about 61,6%.

92839399G1G009018PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI PASTA KOMBINASI ANTIBIOTIK 3MIX-KITOSAN DAN PASTA ANTIBIOTIK 3MIX PASARAN SEBAGAI BAHAN DESINFEKSI SALURAN AKAR GIGI
Kerusakan pulpa terjadi akibat infeksi bakteri pada gigi yang mengalami karies dalam. Infeksi bakteri dapat dihilangkan menggunakan bahan dressing saat perawatan saluran akar. 3Mix merupakan salah satu bahan dressing yang sering digunakan, sedangkan kitosan adalah bahan alam yang mempunyai sifat antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan efektivitas antibakteri antara pasta kombinasi antibiotik 3mix-kitosan dan pasta 3mix pasaran sebagai bahan dressing saluran akar. Metode yang digunakan yaitu eksperimental laboratoris. Penelitian ini menggunakan 24 sampel gigi insisivus pertama bawah kelinci yang dipreparasi hingga saluran akar dan dibagi menjadi 3 kelompok untuk diberi perlakuan dengan pasta kombinasi antibiotik 3Mix-kitosan, pasta 3Mix pasaran, dan pasta kalsium hidroksida (kontrol positif). Data dianalisis menggunakan uji statistik one way ANOVA dilanjutkan dengan uji Post-Hoc LSD. Hasil uji statistik one way ANOVA membuktikan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05) antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Pada uji beda LSD menunjukkan bahwa efektivitas antibakteri pasta kombinasi antibiotik 3mix-kitosan dan pasta 3mix pasaran berbeda bermakna (p<0,05). Simpulan dari penelitian ini adalah pasta antibiotik 3mix-kitosan lebih efektif dalam mendesinfeksi bakteri saluran akar gigi dibandingkan pasta 3mix pasaran.Pulpa damage caused by bacterial infection on the teeth that experienced deep caries. Bacterial infections can be eliminated using dressings as root canal treatment. 3Mix is one frequently used dressings materials, while chitosan is a nature ingredient has antibacterial properties. The aim of this research is comparing the effectiveness of antibacterial between paste combination of antibiotics 3mix-chitosan and pasta 3mix market as a dressing the root canal. The method used is an experimental laboratory methods. This research used 24 sample of first lower incisor teeth’s rabbit has been preparated until the root canal and divided into 3 groups for a given treatment with paste combination of antibiotics 3mix-chitosan, paste 3mix in market, and calcium hydroxide paste (positive control). The data was analyzed using one way ANOVA test dan Post-Hoc LSD test. The results of one way ANOVA statistical test proving the existence of significant diferences (p<0,05) between treatment and control group. In different test LSD showed that effectiveness antibacterial pasta combination of antibiotics 3mix-chitosan and pasta 3mix different significant (p<0,05). The conclusion of this research is the antibiotics paste 3mix-chitosan is more effective in dental root canal bacteria disinfect compared 3mix paste market.
92849400H1F009030STUDI POTENSI GAS METANA BATUBARA DESA PANDAN SARI, KECAMATAN SEGAH, KABUPATEN BERAU PROVINSI KALIMANTAN TIMURGas Metana Batu Bara (GMB) atau yang sering disebut coal bed methane (CBM) adalah gas metana yang terbentuk dalam lapisan batu bara. Gas dalam lapisan batu bara biasanya terdiri dari metana (CH4), karbon dioksida (CO2), nitrogen (N2) dan air (H2O). Daerah penelitian bertempat di Desa Pandan Sari, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau pada koordinat 2° 2' 32” - 2° 6' 13.3" LU dan 117° 9' 53" - 117° 13' 55.2" BT dengan koordinat lubang bor PS-01 yaitu 2° 5' 3" LU dan 117° 12' 59" BT.
Satuan batuan daerah penelitian dibagi menjadi tiga yaitu dari urutan yang tertua satuan batupasir, satuan batupasir-batulempung, dan satuan endapan alluvial. Satuan geomorfologi dibagi menjadi dua yaitu satuan perbukitan struktural denudasional (S9) dan satuan dataran fluvial (F4).
Terdapat 11 seam batu bara di lokasi penelitian. Seam tersebut diantaranya seam L, seam M1, seam M2, seam O, seam P1, seam P2. Seam P3, seam P4, dan seam R. Jenis batu bara yang ada adalah subbituminous A – high volatile C bituminous. Lingkungan pengendapan batu bara di lokasi penelitian adalah upper delta plain-fluvial.
Perhitungan sumber daya batu bara dilakukan dengan metode circular USGS. Sumber daya terukur batu bara dengan titik informasi 400 m adalah 17.166.310,83 ton. Sumber daya tertunjuk batu bara dengan titik informasi 1000 m adalah 137.012.232.2 ton. Besar sumber daya tereka batu bara dengan titik informasi 1500 m adalah 247.263.845,85 ton. Besarnya kandungan gas metana batu bara di sumur PS-01 adalah 8.227.813,52 scf.
Coal bed gas (CBG) or which called coal bed methane (CBM) is am methane gas which formed in a coal bed. Gas in coal bed usually consist of methane (CH4), carbon dioxide (CO2), Nitrogen (N2) dan water (H2O). Research area located in Pandan Sari village, Segah subdistrict, District of Berau at coordinate 2° 2' 32” - 2° 6' 13.3" latitude and 117° 9' 53" - 117° 13' 55.2" " longitude with bore hole PS-01 coordinate is 2° 5' 3" latitude dan 117° 12' 59" longitude.
Lithological unit in the research are divided into 3 groups, from the oldest are sandstone unit, alternation of sandstone-claystone unit, and deposit of alluvial unit. Geomorphological unit divided into two unit, that is structural denudational hills unit (S9) and fluvial land unit (F4).
There are 11 seams of coal in research are. The seams are seam L, seam M1, seam M2, seam O, seam P1, seam P2, seam P3, seam P4, dan seam R. Type of coal belonging to subbituminous A – high volatile C bituminous. Depositional environment of coal is upper delta plain-fluvial.
Calculation of coal resources based on circular USGS method. Measured coal resources with information distance centre 400 m is 17.166.310,83 ton. Indicated coal resources with information distance centre 1000 m is 137.012.232.2 ton. Inferred coal resources with information distance centre 1500 m is 247.263.845,85 ton. Coal bed methane resources in research area is 8.227.813,52 scf.
928510743P2EA12041IMPLEMENTASI GOOD GOVERNANCE DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH DI KOTA BUKITTINGGI
Penyelenggaraan otonomi daerah dengan asas desentralisasi memberikan dampak yang positif dalam rangka pemerataan dan peningkatan pembangunan di daerah yang merupakan sarana untuk memampukan masyarakat daerah untuk dapat mengoptimalkan kemampuan diri dalam mensejahterakan kehidupan mereka. Ide desentralisasi muncul sebagai dampak adanya tuntutan masyarakat akan perlunya percepatan pelayanan publik yang harus dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat. Keberhasilan pelaksanaan fungsi pelayanan publik oleh pemerintah daerah akan mempengaruhi terwujudnya konsep negara kesejahteraan.
Tugas dari pemerintah daerah selaku penyelenggara pemerintahan di daerah adalah untuk menyelenggarakan pelayanan publik secara prima dan maksimal. Keberhasilan pelayanan publik yang diberikan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu daerah itu sendiri. Sehubungan dengan itu, sebuah konsep tata kepemerintahan yang baik (Good Governance), yang menjadi kunci dalam wacana untuk membenahi sistem penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia dan juga pada pemerintahan di daerah.
Implementasi dari prinsip-prinsip Good Governance ini dituangkan dalam hukum positif di Indonesia yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi Kolusi dan Nepotisme yang didalamnya terdapat 7 (tujuh) Asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan yang Baik sebagai tuntunan bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam memaksimalkan pelayanan publik.
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Untuk menganalisis Implementasi Good Governance Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Di Kota Bukittinggi; dan (2) Untuk menganalisis kendala-kendala dalam Implementasi Good Governance Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Di Kota Bukittinggi.
Penelitian ini dilakukan di Pemeritah Daerah Kota Bukittinggi melalui Dinas-dinas dan DPRD Kota Bukittinggi. Data yang telah diolah akan disajikan dalam bentuk teks naratif, yaitu suatu uraian dan penjabaran yang tersusun secara logis, konsisten, rasional dan sistematis. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan metode pendekatan undang-undang dan analitis. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Implementasi Good Governance dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah di Kota Bukittinggi berdasarkan Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan yang Baik yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi Kolusi dan Nepotisme, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Implementasi Good Governance dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah di Kota Bukittinggi berjalan cukup efektif pada DPRD selaku lembaga legislatif daerah serta dinas-dinas selaku unit pelaksana teknis daerah.
2. Kendala yang mempengaruhi Implementasi Good Governance dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah di Kota Bukittinggi diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Pada dinas-dinas, kendala yang dialami diantaranya kualitas dan kuantitas dari SDM, sarana dan prasarana, perda-perda yang belum secara keseluruhan mengatur tentang kinerja pelayanan publik.
b. Pada DPRD yaitu kendala kelembagaan, kendala SDM, kendala anggaran, dan kendala peraturan yang kesemuanya kendala tersebut berkaitan dengan fungsi DPRD itu sendiri yang memunculkan ketidakmasimalan pencapaian kinerja oleh anggota DPRD.
The implementation of regional autonomy with the principle of decentralization have a positive impact in the context of equity and increased development in the area which is a means to enable local people to be able to optimize the ability to prosper in their lives. The idea of decentralization emerged as a result of the demands and needs in the acceleration of public service that should be done by the government to the public. Successful implementation of public service functions by local governments will affect the realization of the conceptof the welfarestate.
The task of the local government area as the organizer is to organize public services prime and maximal. The success of public services provided will improve the welfare of the local community itself. Accordingly, a concept of good governance which is the key to improve the system in the discourse of governance in Indonesia and also in local government.
Implementation of the principles of good governance as embodied in positive law in Indonesia contained in Law No. 28 of 1999 on State Implementation of the Clean and Free of Corruption, Collusion and Nepotism in which there are seven General Principles of Good Governance as a guide for local government to improve the welfare of the community in maximizing public services.
This study used to: (1) To analize the implementation of good governance in Bukittinggi’s Government; and (2) To analize the constraints in the implementation of good governance in the administration of government in Bukittinggi.
This research was conducted in the city of Bukittinggi via the Local Government agencies and the Parliament of Bukittinggi. This research used normative methode which used law statute approach and analutycal approach.
Based on the results of research and discussion regarding the mplementation of good governance in local government activity in Bukittinggi based on the general principles of good governance contained in Law No. 28 of 1999 on the Implementation of the Clean and Free State Corruption, Collusion and Nepotism, it can be concluded as follows:
1. Implementation of good governance in local government activity in Bukittinggi run quite effectively in Parliament as an institution as well as the local legislative offices as the technical implementation unit area.
2. Constraints that affect the implementation of good governance in local government activity in Bukittinggi are as follows:
a. In offices, constraints experienced such quality and quantity of human resources, facilities and infrastructure, local regulations are not yet on the whole set of public service performance.
b. In parliament that institutional constraints, human resource constraints, budget constraints, and constraint rules which all the constraints associated with the function of Parliament itself that not enough achievement of the performance by legislators.
92869401G1F010045OPTIMASI PATCH TRANSDERMAL CAPTOPRIL DENGAN PLASTICIZER POLIETILEN GLIKOL, ENHANCER PROPILEN GLIKOL, DAN COSOLVENT ISOPROPIL ALKOHOL
Captopril, obat golongan Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor memiliki waktu paruh eliminasi 1,6-1,9 jam, adanya makanan menurunkan absorbsi menjadi 30-50%. Formulasi patch transdermal captopril menggunakan polietilen glikol, propilen glikol, dan isopropil alkohol dalam polimer HPMC dan eudragit RL100 diharapkan dapat menjadi alternatif sistem penghantaran captopril dengan bioavailabilitas baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik fisik dan formula optimum patch transdermal captopril.
Patch transdermal captopril dibuat dengan mengkombinasikan polietilen glikol, propilen glikol, dan isopropil alkohol yang dirancang berdasarkan simplex lattice design. Evaluasi karakteristik fisik meliputi visual, ketebalan, bobot, susut pengeringan, daya serap kelembaban, dan ketahanan terhadap pelipatan patch transdermal. Formula optimum ditentukan menggunakan software Design Expert v.7, diverifikasi menggunakan software OpenStat v.2012 dan diuji drug content.
Karakteristik fisik patch transdermal captopril dengan plasticizer polietilen glikol, enhancer propilen glikol, dan cosolvent isopropil alkohol menghasilkan patch dengan tampilan visual baik, bobot 122-268 mg, ketebalan 0,20-0,63 mm, susut pengeringan 2,59-18,20%, daya serap kelembaban 0-9,27%, dan ketahanan terhadap pelipatan 52-300 kali. Proporsi formula optimum yaitu 5% polietilen glikol, 1% propilen glikol, dan 10% isopropil alkohol dengan karakteristik visual baik, bobot 147,67 mg, ketebalan 0,25 mm, persentase susut pengeringan 7,56%, daya serap kelembaban 5,35%, dan ketahanan terhadap pelipatan lebih dari 300 kali. Kandungan obat formula optimum 100,62%.
Captopril, an Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor has elimination half-life 1,6 to 1,9 hours, food that are present will reduce 30-50% the absorbtion. Transdermal patch captopril formulations using polyethylene glycol, propylene glycol, and isopropyl alcohol in the polymer HPMC and Eudragit RL100 is expected to be an alternative delivery systems captopril with good bioavailability. The purpose of this research is to know physical characteristics and the optimum formula of transdermal patch captopril.
Transdermal patch captopril was made by combining polyethylene glycol, propylene glycol, and isopropyl alcohol designed based on simplex lattice design. Physical evaluation includes visual characteristics, thickness, weight, loss on drying, moisture uptake, and folding endurance. Optimum formula was determined using software Design Expert v.7, Verified using software OpenStat v.2012, and drug content be tested.
Physical characteristics transdermal patch captopril with polyethylene glycol as plasticizer, propylene glycol as enhancer and isopropyl alcohol as cosolvent result good visual impression, weights 122-268 mg, thickness 0,2-0,63 mm, loss on drying 2,59-18,20%, moisture uptake 0-9,27%, and folding endurance 52-300 times. Proportion of the optimum formula is 5% polyethylene glycol, 1% propylene glycol and 10% isopropyl alcohol with good visual impression, weights 147,67 mg, thickness 0,25 mm, loss on drying 7,56%, moisture uptake 5,35%, and folding endurance >300 times. Drug content of the optimum formula is 100,62%.
92879402C1B009046ANALISIS PENGARUH GAYA HIDUP SEHAT, PENGETAHUAN NUTRISI DAN PERHATIAN LABEL NUTRISI TERHADAP MINAT BELI, SERTA GAYA HIDUP SEHAT DAN PENGETAHUAN NUTRISI TERHADAP PERHATIAN LABEL NUTRISI
(Studi Pada Produk Herbalife Purwokerto)
Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan menganalisis pengaruh gaya hidup sehat dan pengetahuan nutrisi terhadap perhatian label nutrisi dan minat beli produk Herbalife di Purwokerto. Penelitian diproses menggunakan lima pengembangan hipotesis sebagai model. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu data primer, seperti melalui wawancara pribadi dalam bentuk kuesioner kepada 150 sampel responden menggunakan metode random sampling. Untuk membuktikan hipotesis penelitian ini, menggunakan alat analisis Structural Equation Modelling (SEM). Subyek penelitian ini adalah para calon pengguna dan pengguna yang sudah ditawari produk herbalife di Purwokerto. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan nutrisi berpengaruh positif dan signifikan terhadap perhatian label nutrisi, namun gaya hidup sehat tidak berpengaruh terhadap perhatian label nutrisi. Serta gaya hidup sehat dan perhatian label nutrisi berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli, sedangkan pengetahuan nutrisi tidak berpengaruh terhadap minat beli pada produk Herbalife di Purwokerto.

Kata kunci : gaya hidup sehat, pengetahuan nutrisi, perhatian label nutrisi, dan minat beli.
The purpose of this research is to describe and analyze the effect of healty life style and nutrition knowledge to the nutrition label attention and purchas intention Herbalife Purwokerto. Processed using the five research hypotheses development as a model. Data collection methods used are primary data, such as through personal interviews in the form of questionnaires to a sample of 150 respondents using a random sampling method. To prove the hypothesis of this study, using analytical tools Structural Equation Modelling ( SEM ). The results of this study it can be concluded that the nutrition knowledge of a positive and significant effect on nutrition label attention. As well as healty life style and nutrition label attention positive and significant effect on purchas intention Herbalife Purwokerto. While the healty life style does not influence nutrition label attention, and nutrition knowledge does not influence purchas intention Herbalife Purwokerto.

Keywords : healty life style, nutrition knowledge, nutrition label attention, purchas intention, and Herbalife Purwokerto
92889026E1A010039PENOLAKAN PEMBATALAN PERKAWINAN KEDUA (Studi Kasus Terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor: 245K/AG/2012)Putusan Hakim bagi para pencari keadilan merupakan wujud dari kepastian hukum yang mencerminkan kebenaran dan keadilan, maka Hakim dalam pertimbangan hukumnya harus bisa memenuhi tuntutan tersebut. Dalam putusan Mahkamah Agung Nomor: 245K/AG/2012 ada suatu permohonan pembatalan perkawinan telah ditolak oleh Hakim dengan alasan daluarsa. Hal ini menarik untuk diteliti sebab suatu perkawinan yang dimohonkan untuk dibatalkan karena didalilkan telah melanggar syarat-syarat perkawinan maupun telah melanggar undang-undang (tentang poligami); dengan demikian telah terjadi suatu ketidakpastian dalam hukum, khususnya dilapangan hukum perkawinan. Pertimbangan Hakim selalu bersisi argumentasi yang merupakan dasar pemikiran yuridis dalam mengambil keputusan, maka dalam penelitian ini untuk memperoleh penjelasan ilmiah mengenai permasalahan di atas, digunakan pendekatan yuridis normatif dengan metode analisis kualitatif.
Hasil penelitian yang diperoleh mengenai dasar pemikiran yang digunakan oleh Hakim dalam mengambil keputusan adalah didasarkanpada Pasal 1946 dan Pasal 1948 KUHPerdata, yang menyatakan bahwa permohonan Pemohon telah daluarsa dikarenakan Pemohon baru mengajukan permohonan pembatalan perkawinan ini pada saat almarhum SR (suaminya) telah meninggal dunia, padahal seharusnya Pemohon mengajukan permohonan ini pada saat almarhum SR (suaminya) masih hidup, kemudian Pemohon juga dianggap telah melepaskan haknya untuk mengajukan permohonan pembatalan perkawinan ini dikarenakan perkawinan almarhum SR dengan Termohon I telah berlangsung selama 9 tahun, sehingga Pemohon dianggap telah mengetahui adanya perkawinan tersebut dan Pemohon dianggap secara diam-diam telah menyetujui adanya perkawinan tersebut. Berdasarkan hal tersebut Majelis Hakim menolak permohonan yang diajukan Pemohon terhadap perkawinan kedua antara almarhum SR (suaminya) dengan Termohon I. Hakim dalam memutus perkara tersebut kurang tepat, karena penggunaan daluarsa sebenarnya lebih tepatdigunakan dilapangan hukum harta kekayaan bukan dilapangan hukum keluarga, dan Hakim sebaiknya juga memperhatikan konteks substansi hukumnya agar keputusannya mencerminkan kepastian hukum, kebenaran dan keadilan.
The verdict of the Judges for the seekers of Justice is a form of legal certainty reflecting the truth and justice, then Judges in consideration of the law should be able to meet these demands. In the Supreme Court verdict number: 245K/AG/2012 there is apetition for annulment of the marriage has been rejected by the judge by reason ofexpired. This is interesting because a marriage is examined for who petitioned for the cancelled due to postulated had violated the terms of the marriage or has contravened the Act (about polygamy); Thus there has been a degree of uncertainty in the law, especially in field matrimonial law. Consideration the judge always sided argument which is the juridical rationale in taking decisions, then in this study to obtain ascientific explanation of the problems above, the juridical normative approach used by the method of qualitative analysis.
The research results obtained regarding the rationale used by the judge in the decisionis based on Article 1946 and Article 1948 in Code of Civil Law, which States that the petition has been prescription due to Applicants applying for the annulment of the marriage when SR (her husband) has died, even though the Applicant shouldapply when SR (her husband) is still alive, then the applicant is also deemed to have relinquished its right to apply for annulment of marriage due to the marriage of the deceased SR with the first respondent have lasted for 9 years, so that the applicant is considered to have been aware of the existence of the marriage and the applicant are considered tacitly approved the existence of the marriage. The Tribunal Judges rejected a petition filed against the second marriage between Petitioner late SR (husband) and the first respondent. Judge in provide decision of the case inappropriate, due to theuse of prescription is actually more appropriate to use the real property instead of the real family law, and the judge should also pay attention to the context of the legal substance so that its decision reflected the certainty of law, truth and justice.
92899403P2BA10023PERFORMA REPRODUKSI Trichopodus trichopterus (Pallas, 1770) YANG TERTANGKAP DI PERAIRAN TERCEMAR LIMBAH CAIR BATIK: EVALUASI TERHADAP ENDOCRINE DISRUPTING COMPOUNDS
Mekanisme internal pengaturan reproduksi ikan ditentukan oleh hormon yang disekresikan oleh poros otak-hipotalamus-pituitari-gonad. Mekanisme internal tersebut dipengaruhi pula oleh faktor lingkungan. Salah satunya adalah senyawa kimia sintetik maupun alami yang terdapat di perairan yang berpotensi menggangu sistem endokrin dengan mempengaruhi fungsi normal hormon. Senyawa tersebut dikategorikan sebagai endocrine disrupting compounds (EDCs). Ikan yang terpapar senyawa EDCs mengalami gangguan reproduksi seperti penurunan fekunditas, abnormalitas genitalia, perubahan perilaku serta respon terhadap stres dan penyakit. Senyawa EDCs dapat berasal dari berbagai sumber. Senyawa EDCs dari jenis fenol dapat ditemukan pada limbah cair batik. Limbah cair batik di Kabupaten Pekalongan dibuang ke perairan terbuka salah satunya Sungai Meduri. Hal ini dapat menurunkan populasi ikan yang hidup di dalamnya seperti ikan sepat rawa (Trichopodus trichopterus Pallas, 1770). Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi performa reproduksi T. trichopterus jantan dan betina yang hidup di Sungai Meduri, mengevaluasi kualitas air Sungai Meduri, dan menganalisis korelasi antara performa reproduksi T. trichopterus dan kualitas air Sungai Meduri.
Penelitian ini dilakukan di lima stasiun pengambilan sampel di Sungai Meduri pada tanggal 26 Juli 2011, 2 Agustus 2011, dan 10 Agustus 2011. Variabel penelitian yang diamati yaitu performa reproduksi T. trichopterus jantan dan betina, serta kualitas air Sungai Meduri. Parameter performa reproduksi ikan jantan yang diamati adalah volume milt, morfologi testis, GSI, histologi testis, jumlah sel spermatozoa, proporsi luas lobula testis berisi spermatozoa, kandungan testosteron, dan HSI. Parameter performa reproduksi ikan betina yang diamati adalah morfologi ovarium, GSI, histologi ovarium, proporsi oosit yang mengalami atresia, fekunditas, kandungan E2 dan HSI. Parameter kualitas fisika air Sungai Meduri yang diamati adalah suhu air, sedangkan parameter kualitas kimia air yang diukur adalah pH, DO, BOD, COD, dan kandungan fenol.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa morfologi dan histologi gonad normal. GSI pada ikan jantan cenderung meningkat selama periode penelitian (tidak terukur-0,32±0,56%). GSI tertinggi dijumpai di stasiun 3 pada periode 10 Agustus 2011, dengan jumlah sel spermatozoa (tidak dapat dihitung), proporsi luas lobula testis berisi spermatozoa sebesar 46,46±35,76%, kandungan testosteron sebesar 3,29±0,26 ng/mL, dan HSI sebesar 0,79±0,38%. GSI pada ikan betina cenderung tinggi pada periode 2 Agustus 2011, dengan nilai tertinggi sebesar 7,90±2,41% dijumpai di stasiun 1, kemudian mengalami penurunan pada periode 10 Agustus 2011, dengan nilai terendah (1,60±1,07%) dijumpai di stasiun 4. Fluktuasi proporsi oosit yang mengalami atresia (0-1,33%), fekunditas (64.481-365.700 butir), kandungan E2 dalam serum (402,93-3.103,47 pg/mL), dan HSI (0,88±0,19%-2,17±0,33%) sejalan dengan perkembangan gonad. Parameter kualitas air Sungai Meduri yang meliputi suhu air (29-34ºC), pH (7-10), DO (0-3,4 mg/L), BOD (5,64-80 mg/L), COD (120-960 mg/L) dan fenol (0,296-6,03 mg/L) melebihi ambang batas baku mutu. Performa reproduksi T. trichopterus jantan maupun betina lebih dipengaruhi oleh suhu air, DO, dan fenol dibandingkan pH, BOD, dan COD. Fenol sebagai EDCs meningkatkan HSI pada ikan jantan, tetapi menurunkan GSI, proporsi luas lobula testis berisi spermatozoa dan kandungan testosteron. Fenol meningkatkan HSI, fekunditas, dan kandungan E2 pada ikan betina, tetapi menurunkan GSI dan proporsi oosit yang mengalami atresia.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa performa reproduksi T. trichopterus jantan maupun betina yang tertangkap di Sungai Meduri dikategorikan normal. Kualitas air Sungai Meduri dikategorikan tercemar, tetapi masih mendukung kehidupan T. trichopterus. Performa reproduksi T. trichopterus lebih dipengaruhi suhu air, DO dan fenol. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui kadar vitelogenin dalam hepar T. trichopterus jantan dan betina sebagai dampak paparan fenol. Pembentukan dan peningkatan kadar vitelogenin pada ikan jantan maupun betina merupakan salah satu indikator adanya efek estrogenik yang ditimbulkan fenol.
Internal mechanisms of fish reproduction is controlled by hormones secreted by the brain-hypothalamus-pituitary-gonadal axis. The mechanism is influenced by environmental factors such as sintetic or natural chemical compounds polluting the water. Such compounds have the potential to disrupt the endocrine system by affecting the normal functioning of hormones. This compound is classified as endocrine disrupting compounds (EDCs). EDCs exposure to the fish resulted in reproductive disorders indicating by decreases of fecundity, genital abnormalities, behavioral changes and response to stress and disease. EDCs can be derived from various sources. Phenol is one of EDCs found in industrial Batik wastewater. Batik wastewater in Pekalongan was discharged into waters such as the Meduri River. It can decreased fish populations that live in it like a three spot gourami (Trichopodus trichopterus Pallas, 1770). The purpose of the study were to evaluate the reproductive performance of male and female fish that live in the Meduri River, to evaluate water quality of the Meduri River, and to analyze correlation between the reproductive performance of fish with water quality of Meduri River.
This study was conducted at five sampling stations in Meduri River at July 26, 2011, August 2, 2011, and August 10, 2011. The research variables were reproductive performance of male and female, and the water quality of the Meduri River. The parameters of reproductive performance in male were milt volume, morphology of the testes, GSI, histology of the testes, number of sperm, the proportion of testicular lobula containing spermatozoa, serum testosterone concentration, and HSI. Parameters of reproductive performance in female were morphology of the ovary, GSI, histology of the ovary, the proportion of atretic oocytes, fecundity, serum E2 concentration, and HSI. Physical parameters of water quality was water temperature, while the chemical parameters measured were pH, DO, BOD, COD, and phenolic concentration.
The results showed that based on morphological and histological features, the gonads are considerably normal. GSI of the male increased during study period (not measured able until 0.32±0.56%). The highest GSI was found at 3rd station on August 10, 2011 with number of sperm count (not measured able), the proportion of testicular lobula containing spermatozoa 46.46±35.76%, serum testosterone concentration 3.29±0.26 ng/mL, and HSI 0.79±0.38%. GSI of the females was high on August 2, 2011, with the highest value (7.90±2.41%) at 1st station, then decreased on August 10, 2011, with the lowest value (1.60±1.07%) at 4st station. Fluctuation in atretic oocytes proportion (0-1.33%), fecundity (64,481-365,700 eggs), serum E2 concentration (402.93-3,103.47 pg/mL), and HSI (0.88±0.19%-2.17±0.33%) were in agreement to the gonadal development. Water temperature of the Meduri River (29-34ºC), pH (7-10), DO (0-3.4 mg/L), BOD (5.64-80 mg/L), COD (120-960 mg/L), and phenol concentration (0.296-6.03 mg/L). It was higher than the quality standard. Reproductive performance of both male and female fish are more affected by water temperature, DO, and phenol compared pH, BOD, and COD. Phenol as EDCs increased the HSI in male fish, but decreased the GSI, proportions lobula testicular containing spermatozoa and testosterone concentration. Phenol increased the HSI, fecundity, and E2 concentration of female fish, but decreased the GSI and the proportion of atretic oocytes.
It can be concluded that the reproductive performance of both the male and female T. trichopterus is categorized normal. Water quality of Meduri River is categorized polluted, but still support T. trichopterus life. Reproductive performance of T. trichopterus are more affected by water temperature, DO and phenol. Further research is needed to determine vitelogenin levels of liver in males and females fish as a result of exposure to phenol. Production or elevated of vitellogenin levels in male and female fish is an indicator of estrogenic effect of phenol.
92905614G1A009053HUBUNGAN RIWAYAT PEMBERIAN
PENGGANTI AIR SUSU IBU (PASI)
DENGAN KEJADIAN ASMA PADA BALITA
Latar Belakang: Tingkat asma pada Balita di dunia melonjak 160% lebih selama tahun 1980-1994 dan menunjukkan tidak adanya tanda-tanda penurunan disetiap tahunnya. Data dari Riskesdas menunjukkan peningkatan prevalensi pada Balita dari tahun 2007 hingga 2011yaitu sebesar 1,36% hingga 28,72%. Hal ini disebabkan oleh 2 faktor utama, yaitu faktor modernisasi dan urbanisasi, sebagai contoh menurunnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Pengganti ASI 80% berasal dari susu sapi yang dilaporkan dapat menyebabkan alergi.
Tujuan Mengetahui hubungan riwayat pemberian Pengganti Air Susu Ibu (PASI) dengan kejadian asma pada Balita di Poliklinik Anak RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
Metode: Desain penelitian menggunakan analitik observasional dengan pendekatan case control. Responden terdiri dari 25 Balita yang menderita asma, serta 25 Balita yang tidak menderita asma. Data dianalisis dengan uji Chi square dengan tingkat kemaknaan p<0.05.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan hubungan riwayat pemberian Pengganti Air Susu Ibu (PASI) terhadap kejadian asma pada Balita di Poliklinik Anak RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto (p<0.021; OR= 4,030; CI 95%).
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara riwayat pemberian Pengganti Air Susu Ibu (PASI) terhadap kejadian asma pada Balita.
Background: the asthma level of toddlers (under five-year-old babies) in the world is increasing dramatically to more than 160% from 1980-1994, and it does not show any reduction every year. The data showed an increase in the prevalence of Riskesdas on toddlres from 2007 to 2011 is 1,36% to 28,72%. It is caused by two main factors, i.e. modernisation and urbanisation, the examples are the decrease in exclusive breastfeeding. 80% of breast milk substitutes derived from cow’s milk, that has been reported to cause allergy.
Objective: to know the relationship of the history of the giving of the breast milk substitutes to the toddlers asthma incident in children polyclinic of RSUD Prof. Margono Soekarjo Purwokerto
Method: the research design used observational analysis with case control approach. The respondents were 25 toddlers who suffered asthma and 25 toddlers who did not. The data was analyzed by Chi Square test with significance level p<0.05.
Result: the research showed that the relationship between the history of the giving of the breast milk substitutes to the incident of asthma in toddlers in children polyclnic of RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto was (p<0.021; OR= 4,030; CI 95%).
Conclusion: there was a relationship between the history of the giving of the breast milk substitutes to the incident of asthma in toddlers
92919404G1F010069PEMBUATAN NANOEMULSI MINYAK BIJI JINTAN HITAM (Nigella sativa L.) MENGGUNAKAN KOMBINASI SURFAKTAN TWEEN 80 DAN SPAN 80 SECARA SNEDDSSaat ini perkembangan obat herbal sangat banyak digunakan secara bertahap sebagai alternatif obat-obat sintetik kimiawi. Minyak biji jintan hitam telah banyak digunakan sebagai obat antiinflamasi, antibakteri, antikanker, dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat nanoemulsi minyak biji jintan hitam secara SNEDDS (Self Nanoemulsifiying Drug Delivery System) yang diharapkan dapat meningkatkan efektifitas dari minyak biji jintan hitam.
Nanoemulsi minyak biji jintan hitam (Nigella sativa L) dibuat menggunakan kombinasi surfaktan tween 80 dan span 80 serta kosurfaktan propilen glikol dengan metode SNEDDS. Selanjutnya dilakukan evaluasi stabilitas termodinamik, self-emulsifikasi dan presipitasi, serta waktu emulsifikasi dan karakterisasi menggunakan transmission electron microscopy (TEM).
Hasil nanoemulsi minyak biji jintan hitam (Nigella sativa L.) diperoleh melalui formula SNEDDS yang paling stabil yakni yang terdiri dari 20% minyak biji jintan hitam, 48% tween, 16% span dan 16% PPG atau dengan perbandingan minyak dan sistem yakni 1 : 4 (formula 8). Formula 8 ini stabil dalam uji stabilitas termodinamik, self-emulsifikasi dan presipitasi, serta menunjukkan waktu emulsifikasi yang cepat (≤1 detik). Tetesan nanoemulsi formula 8 setelah diamati dari hasil TEM, memiliki ukuran berkisar 58 – 270 nm. Kesimpulannya formula 8 dapat membentuk nanoemulsi minyak biji jintan hitam yang optimum dan stabil dengan perbandingan minyak : sistem yaitu 1 : 4.
The Making of Nanoemulsion Of Black Cumin Seed Oil (Nigella sativa L.) Using Combination Surfactant Tween 80 And Span 80 With SNEDDS
92929405C1C009082Pengaruh Tingkat Adopsi International Financial Reporting Standards (IFRS) Terhadap Kualitas Pelaporan Keuangan Listed Companies di Negara BerkembangPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat adopsi IFRS terhadap kualitas pelaporan keuangan listed companies di negara berkembang dan untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya. Tingkat adopsi IFRS diukur dengan skala likert dalam 5 tingkatan, yaitu sebagai berikut; (1) not adopted at all, (2) referenced, (3) piecemeal, (4) adopted, (5) full adoption. Absolute discretionary accruals, yang mengindikasikan keberadaan unsur manipulasi melalui diskresi manajemen, diestimasi dengan menggunakan Modified Jones Model dan digunakan sebagai proxy kualitas pelaporan keuangan.

Sampel yang dipilih adalah sebanyak 267 listed companies yang berasal dari berbagai negara berkembang. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier.

Penelitian ini menemukan bahwa tingkat adopsi IFRS berpengaruh positif terhadap kualitas pelaporan keuangan listed companies di negara berkembang. Meskipun demikian, koefisien determinasi menunjukkan bahwa tingkat adopsi IFRS memiliki kemampuan yang kecil dalam mempengaruhi/menjelaskan perubahan dari kualitas pelaporan keuangan listed companies di negara berkembang.
This study tests whether level of IFRS adoption affects listed companies’ financial reporting quality in developing countries. Level of IFRS adoption is scaled into five levels. Those five levels of IFRS adoption are; (1) not adopted at all, (2) referenced, (3) piecemeal, (4) adopted, (5) full adoption. Financial reporting quality is proxied by absolute discretionary accruals estimated using Modified Jones Model.

Data is collected from 267 listed companies and prosessed using regression analysis. This study finds that level of IFRS adoption affects listed companies’ financial reporting quality in developing countries in a positive way. However, it only has small effect on listed companies’ financial reporting quality in developing countries.
929310744B1J010231KOMPOSISI VEGETASI JALUR HIJAU DAN DAYA
SERAPNYA TERHADAP KARBON DIOKSIDA (CO2)
DI KOTA PURWOKERTO
Jalur hijau merupakan daerah hijau sekitar lingkungan permukiman atau sekitar kota-kota, yang dibentuk bertujuan untuk mengurangi pencemaran udara terutama pada jalan-jalan perkotaan. Peran penting jalur hijau antara lain sebagai penyerap karbon yang berdampak positif terhadap upaya penurunan emisi gas rumah kaca. Unsur utama jalur hijau berupa vegetasi yang berfungsi sebagai pembersih polutan gas pada atmosfir dengan menyerapnya melalui fotosintesis pada daun. Vegetasi ini berfungsi sebagai filter hidup yang menurunkan tingkat polusi dengan mengabsorbsi, detoksifikasi, akumulasi dan atau mengatur metabolisme di udara sehingga kualitas udara dapat meningkat dengan pelepasan oksigen di udara melalui fotosintesis di daun. Seiring dengan pentingnya fungsi jalur hijau tersebut maka mendorong untuk dilakukan penelitian mengenai komposisi pohon pelindung dan daya serap karbon di jalur hijau kota Purwokerto. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui komposisi pohon pelindung di jalur hijau kota Purwokerto dan mengetahui daya serap CO2 pohon pada jalur hijau di kota Purwokerto. Penelitian ini menggunakan metode survei teknik pengambilan sampel menggunakan metode observasi. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi variabel tergantung dan variabel bebas. Variabel tergantung adalah daya serap karbon pohon pada jalur hijau, sedangkan variabel bebas adalah jenis pohon pelindung. Parameter yang diukur dalam penelitian adalah jumlah individu pohon, komposisi pohon, kerapatan pohon, diameter batang setinggi dada, jumlah daun per cabang, luas daun per pohon, massa karbohidrat, serta daya serap CO2 per luas daun, daya serap CO2 per helai daun, daya serap CO2 per pohon, dan CO2 per panjang jalan. Vegetasi utama pada jalur hijau berupa pohon, ada 17 jenis pohon yang tersebar di 3 lokasi penelitian. Komposisi vegetasi pada jalur hijau memiliki tingkat yang berbeda, pada jalan Kampus memiliki 7 jenis pohon, untuk jalan dr Angka ada 6 jenis pohon sedangkan jalan Gerilya memiliki 11 jenis.Total daya serap CO2 pohon di jalan Kampus adalah adalah 5,83 ton.km-1.tahun-1, untuk jalan Dr Angka adalah 461,61 ton.km-1.tahun-1, dan untuk jalan Gerilya adalah 732,27 ton.km-1.tahun-¹. Guna meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan terutama pada jalan-jalan perkotaan, maka perlu dilakukan penanaman jenis tumbuhan yang tepat seperti ketapang (Termiinalia catappa), kerai payung ( Filicium decipiens), angsana (Pterocarpus indicus), flamboyan (Delonix regia), Beringin (Fiscus benjamina) dan mahoni (Swietenia mahagoni).Green belt area is a green area around a residential environment or around cities, with the purpose of reducing air pollution especially in city roads and reducing greenhouse gas emission. The main constituent of green belt area is vegetation have function as living filter which reduces pollution level by absorbing, detoxify, accumulate and or regulate metabolism in the air so that air quality can increase along with oxygen release in the air through photosynthesis in the leaves. With the importance of green belt area’s function it is necessary to do a study concerning the composition of protection tree and carbon dioxyde absorbance in the Purwokerto green belt area. This research used survey method with sampling technique of observation method. The variables measured in this research include the dependent variable and independent variables. Dependent variable is carbon absorption capacity of trees in the green belt area, while the independent variable is the type of tree. Parameters observed in this study were total tree individuals, tree composition, calculating dansity of tree, stem diameter at chest height, total leaf per branch, leaf area per tree, carbohydrate mass, CO2 absorbance per area leaf, CO2 absorbance per leaf, CO2 absorbance per tree, and CO2 per lenght of road. The main vegetation on the green belt in the form of a tree, there are 17 species of trees are scattered in three research locations. Vegetation composition in gren belt area had a different levels, in Campus road there were 7 tree types, in dr Angka road there were 6 tree types and in Gerilya road there were 11 tree types. Total CO2 absorbance in Kampus road were 5,83 ton.km-1.year-1, for dr Angka road were 461,61 ton.km-1.year-1, and for Gerilya road were 732,27 ton.km-1.year-1. To increase the environmental quality of cities especially city roads, it is necessary to plant the right types of trees such as bangal almond tree (Termiinalia catappa), glosarium tree (Filicium decipiens), narra tree (Pterocarpus indicus) flamboyant tree (Delonix regia), Banyan tree (Fiscus benjamina) and maghony tree (Swietenia mahagoni).
929410746E1A011279Konsep Sumber Kewenangan Pejabat Tata Usaha Negara Sebagai Dasar Pembatalan Keputusan Tata Usaha Negara (Studi Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Yogyakarta Nomor 06/G/2011/PTUN.YK). Skripsi ini berjudul : “Konsep Sumber Kewenangan Pejabat Tata Usaha Negara Sebagai Dasar Pembatalan Keputusan Tata Usaha Negara” (Studi Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Yogyakarta Nomor 06/G/2011/PTUN.YK). Penelitian ini akan menguraikan keabsahan Keputusan Tata Usaha Negara ditinjau dari sumber kewenangan yang dimiliki oleh Pejabat Tata Usaha Negara.
Sumber bahan hukum penelitian ini yaitu Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Yogyakarta Nomor 06/G/2011/PTUN.YK. Tergugat dalam perkara a-quo adalah Walikota Yogyakarta, dan objek gugatannya yakni Surat Keputusan Walikota Yogyakarta Nomor 503/687 tentang Pemberitahuan Penutupan Usaha beralamat di Jalan Mendung Warih Nomor 147 RT 32 RW II Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbul Harjo, Kota Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Yuridis Normatif dengan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Surat Keputusan Objek Sengketa yang dikeluarkan oleh Walikota Yogyakarta, bertentangan dengan peraturan perundang-undangan ditinjau dari Aspek Substansi/Materiil sebagaimana diatur dalam KeputusanWalikota Yogyakarta Nomor 232/KEP/2007 tentang Pelaksanaan Tugas Khusus Wakil Walikota dan Keputusan Walikota Yogyakarta Nomor 50/KEP/2007 tentang Pendelegasian Wewenang Walikota kepada Wakil Walikota Untuk Penandatanganan Naskah Dinas.
Majelis Hakim berpendapat bahwa Wakil Walikota telah keliru menafsirkan sumber wewenang yang dimilikinya, seharusnya Wakil Walikota memperoleh wewenang berdasarkan delegasi, akan tetapi Wakil Walikota menganggapnya sebagai mandat. Majelis Hakim menyatakan bahwa Surat Keputusan objek sengketa batal, sehingga gugatan Penggugat dinyatakan dikabulkan. Pertimbangan hukum Majelis Hakim tersebut sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan doktrin.
Akibat hukum dikabulkannya gugatan penggugat yakni Surat Keputusan objek sengketa batal, Tergugat berkewajiban mencabut Surat Keputusan objek sengketa.
This thesis entitled: " The concept of authority source of administrative officer as the basis of cancelation of administrative decision " (Study of State Administrative Court Decision Yogyakarta No. 06 / G / 2011 / PTUN.YK). This study will explain the validity of an administrative decision in terms of sources of authority possessed by the Administrative Officer.
Material sourced from the State Administrative Court Decision Yogyakarta No. 06 / G / 2011 / PTUN.YK. Defendants in the case a quo is the Mayor of Yogyakarta, and the object of the lawsuit is the administrative decission No. 503/687 about business closure notification located in Mendung Warih street Number 147 RT. 32 RW. II Giwangan, sub-district Umbul Harjo, Yogyakarta. The method that used in this research is normative juridical approach with the approach of legislation, case-based approach, and the conceptual approach.
The results showed that the the administrative decision that released by the mayor of Yogyakarta is contrary to the laws and regulations in terms of aspect Substance / Material as set forth in Mayor Yogyakarta’s decision No. 232 / KEP / 2007 on the Implementation of the Special duties of Deputy Mayor and Mayor of Yogyakarta Decree No. 50 / KEP / 2007 on the Delegation of Authority to the Deputy Mayor To signing Official Papers.
The judges found the Deputy Mayor had wrongly interpreted the source of its authority, the Deputy Mayor should obtain authority by delegation, but Deputy Mayor has been considered it as a mandate. The judges stated that the object of administrative decision void, so that Plaintiff stated granted. Consideration of the judges of the law is in conformity with the laws and doctrines.
As a result of the law granting plaintiff object of the cancellation of administrative decission, the Defendant is obliged to revoke the administration decission that has been the object of the lawsuit.
929510062B1J010017Karakterisasi Tiga Kultivar Salak [Salacca zalacca (Gaertn.) Voss] Lokal Banyumas Menggunakan Marka RAPDSalak [Salacca zalacca (Gaertn.) Voss] merupakan tumbuhan asli daerah tropik dan tergolong suku Arecaceae. Kultivar salak dibedakan berdasarkan asal daerah, warna kulit buah, warna daging buah, aroma dan rasa. Di Kabupaten Banyumas terdapat tiga kultivar salak berdasarkan daerah asal tumbuhnya yaitu S. zalacca ‘Kedung Paruk’ di Desa Ledug Kecamatan Kembaran, S. zalacca ‘Kalisube’ di Desa Kalisube Kecamatan Banyumas dan S. zalacca ‘Candinegara’ di Desa Candinegara Kecamatan Pekuncen. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi keragaman genetik tiga kultivar salak lokal banyumas dengan menggunakan teknik RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA). Amplifikasi marka RAPD menggunakan sepuluh primer yaitu OPA-9, OPA-10, OPA-11, OPA-16, OPA-18, OPC-8, OPD-18, OPM-10, OPW-13 dan OPX-17. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sepuluh primer tersebut mampu mendeteksi 50 pita polimorfik (80,6%) dari total sebanyak 62 pita yang dapat teramati dengan jelas. Persentase lokus polimorfik S. zalacca ‘Candinegara’ sebesar 64,00%, S. zalacca ‘Kedung Paruk’ 62,00% dan S. zalacca ‘Kalisube’ 44,00%. Nilai heterozigositas S. zalacca ‘Candinegara’ sebesar 0,1590, S. zalacca ‘Kedung Paruk’ 0,1449 dan S. zalacca ‘Kalisube’ 0,1136. Jarak genetik terdekat ditunjukan oleh S. zalacca ‘Kalisube’ dan S. zalacca ‘Candinegara’ sebesar 0,0235 sedangkan jarak genetik terjauh ditunjukan oleh S. zalacca ‘Kedung Paruk’ dan S. zalacca ‘Candinegara’ sebesar 0,0704.
Salak [Salacca zalacca (Gaertn.) Voss] is originated from tropical area and it is included in Arecaceae. Salak's cultivars are divided according to their place of origin, shell's colour, fruit flesh's colour, smell, and also taste. There are three salak cultivars found in Banyumas Regency, i.e., S. zalacca 'Kedung Paruk' in Ledug Village at Kembaran District, S. zalacca 'Kalisube' in Kalisube Village at Banyumas District, and S. zalacca 'Candinegara' in Candinegara Village at Pekuncen District. The aim of the study was to know the detailed information of those three salak cultivars genetic diversity by using RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) technique. Ten primers used were OPA-9, OPA-10, OPA-11, OPA-16, OPA-18, OPC-8, OPD-18, OPM-10, OPW-13, and OPX-17. The result of this study showed that those ten primers could detect 50 polymorphic bands (80,6%) from total of 62 bands which could be observed clearly. The percentage of polymorphic loci in S. zalacca 'Candinegara' were 64,00%, S. zalacca 'Kedung Paruk' 62,00%, and S. zalacca 'Kalisube' 44,00%. The heterozygosity value of S. zalacca 'Candinegara' was 0,1590, S. zalacca 'Kedung Paruk' 0,1449, and S. zalacca 'Kalisube' 0,1136. The closest genetic distace was showed by S. zalacca 'Kalisube' and S. zalacca 'Candinegara' (0,0235). Meanwhile, the furthest genetic distance was showed by S. zalacca 'Kedung Paruk' and S. zalacca ‘Candinegara’ (0,0704).
929610738E1A011283PEMBATALAN SURAT KEPUTUSAN KEPALA SUKU DINAS PENGAWASAN DAN PENERTIBAN BANGUNAN (P2B)
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA SELATAN
NOMOR 722/1.795.2/SPB/5/2011
TENTANG PELAKSANAAN PEMBONGKARAN BANGUNAN
(Tinjauan Yuridis Putusan Nomor : 214/G/2011/PTUN-Jakarta)

Penelitian ini bersumber pada putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Nomor 214/G/2011/PTUN-Jakarta, bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pertimbangan hukum Hakim dalam Pelaksanaan Pembongkaran Bangunan dan mengetahui serta menganalisis pertimbangan hukum Hakim apakah telah sesuai atau tidak dengan Peraturan Perundang-undangan dan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif, dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus.
Penggugat dalam perkara a-quo yakni PT. Konsorsium Komet, Tergugatnya Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penerbitan Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan, objek gugatannya Surat Perintah Bongkar (SPB) Nomor 722/1.785.2/SPB/5/2011 terhadap Menara Telekomunikasi milik Penggugat.
Pertimbangan hukum Hakim menyatakan bahwa Surat Keputusan Objek Sengketa bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan dari segi wewenang, karena Tergugat tidak berwenang menerbitkan Surat Keputusan Objek Sengketa, seharusnya yang berwenang menerbitkan Surat Keputusan Objek Sengketa adalah Walikota Jakarta Selatan. Pertimbangan hukum Hakim sudah sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yakni Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997, dan sudah sesuai dengan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik yakni khususnya asas kepastian hukum, asas keterbukaan dan asas akuntabilitas.
Kata Kunci : Pembatalan, Surat Keputusan, Pembongkaran dan Putusan PTUN.
This research source in decision of state Administrative Court Number 214/G/2011/PTUN-Jakarta, purposed to recognize and analyze Judge law consideration wheter it is proper with the statute and principles of Good Governance. The method that used this research is normative juridical with statute approach and case approach.
Plaintiff in case a-quo that Konsorsium Komet Company, Defendants to Chief of the Supervision ang Building Publishing Official (P2B) of South Jakarta, the object lawsuit is Demolition Order Letter (SPB) Nomor 722/1.785.2/SPB/5/2011 against the Telecommunication Tower’s Plaintiff.
The consideration law Judge in this case a-quo council object of dispute that the decree has ben in contracdition with the statute in term of authority, because defendants is not authorized issue the object of dispute, authorities should issue the object of dispute is the Mayor of South Jakarta. Judge law considerations are in accordance with the statute that decree of the Governor of Jakarta Number 1068 of 1997, and is in conformity with the Principles of Good Governance in particular the principles of legal security, principles of openness and principles of accountability.
Key words : Cancellation, decree, demolition and decision PTUN.
929710745A1C008083PERSEPSI IBU RUMAH TANGGA TERHADAP BUDIDAYA
SAYURAN ORGANIK DI PEKARANGAN SEMPIT
(Studi Kasus Lahan Pekarangan Sempit di Desa Karanglewas Kidul Kabupaten Banyumas)
Hidup sehat merupakan dambaan bagi setiap individu, dengan kondisi sehat orang bisa lebih produktif untuk melakukan kegiatannya. Salah satu alternatif hidup sehat yaitu dengan berbudidaya sayuran organik di pekarangan sempit. Sayuran organik memiliki manfaat bagi kesehatan karena diproduksi dengan tidak menggunakan bahan kimia. Berbudidaya sayuran organik di lahan pekarangan sempit dapat mengurangi pengeluaran keluarga yang biasa digunakan untuk membeli kebutuhan sayuran sehari-hari. Kecenderungan berperilaku ibu rumah tangga untuk membudidayakan sayuran organik di lahan pekarangan sempit ataupun tidak, tergantung pada persepsinya terhadap budidaya sayuran organik di pekarangan sempit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi ibu rumah tangga terhadap budidaya sayuran organik di pekarangan sempit, serta untuk mengetahui faktor pembentuk persepsi yang dominan terhadap budidaya sayuran organik di pekarangan sempit. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Karanglewas Kidul, Kabupaten Banyumas pada Bulan Juli sampai Agustus 2014. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode sensus dengan jumlah 35 orang dijadikan sebagai responden. Hasil pengumpulan data ditabulasi dan dianalisis dengan menggunakan Methode Successive Interval dan Analisis Faktor dengan bantuan program SPSS 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu rumah tangga di Desa Karanglewas Kidul memiliki persepsi baik (positif) terhadap budidaya sayuran organik di pekarangan sempit. Faktor pembentuk persepsi ibu rumah tangga yang dominan adalah Komponen Faktor 1 yang terdiri dari variabel pengolahan tanah, ketersediaan bibit, dan perawatan tanaman. Penulis menyarankan perlunya budidaya sayuran organik di pekarangan sempit dapat dikembangkan dan ibu rumah tangga dapat memperoleh hasil yang lebih baik. Hasil yang diperoleh dari budidaya sayuran organik di pekarangan sempit perlu ditingkatkan supaya tidak hanya untuk dikonsumsi sendiri tetapi juga dijual, agar menambah pendapatan ibu rumah tangga.
Healthy living is a dream for every individual, with healthy condition, people can be more productive to do the activities. One alternative to a healthy life is the cultivation of organic vegetables in a narrow yard. Organic vegetables have health benefits because it is produced by not using chemicals. Cultivation of organic vegetables in the narrow yard can reduce expenditure used to buy needs vegetables daily. The tendency behave housewives to grow organic vegetables in their yards narrow or not depends on the perceptions of the organic vegetable cultivation in the narrow yard. The purpose of this study to determine the perception of housewives towards cultivation of organic vegetables in a narrow yard, and to investigate the factors forming perception of housewives the dominant towards cultivation of organic vegetables in a narrow yard. The research was conducted in the village of Karanglewas Kidul Banyumas Regency on July until August 2014. The sampling method used is the method of census the number 35 used as respondents. The data collected were tabulated and analyzed using the method of Successive Interval and Factor Analysis with SPSS 16.0. The results showed that housewives in the village Karanglewas Kidul have good perception (positive) on organic vegetable production in the narrow yard. Factors forming housewife perception the dominant is component of Factor 1, which consists of a tillage variable, seed availability, and plant maintenance. The author suggests the need for cultivation of organic vegetables in a narrow yard can be developed and housewives can obtain better results. The results obtained from the cultivation of organic vegetables in a narrow yard needs to be improved in order not only for their own consumption but also for sale, in order to increase revenue housewife.
92989406G1F010048IDENTIFIKASI PROBLEM TERAPI OBAT PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK GERIATRI DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTOPenyakit Paru Obstruktif Kronik merupakan penyakit yang bersifat progresif dan termasuk penyakit dengan tingkat prevalensi, insidensi, dan mortalitas yang meningkat dengan bertambahnya usia dan jumlah perokok. PPOK lebih banyak diderita pada geriatri dibandingkan dengan kelompok usia dewasa. Pasien geriatri membutuhkan banyak obat dalam suatu terapi penyakit atau disebut polifarmasi. Banyaknya obat yang digunakan akan memperbesar terjadinya Problem Terapi Obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya Problem Terapi Obat pada pasien PPOK geriatri di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif terhadap kartu rekam medik pasien. Sampel diambil dengan metode simple random sampling, dimana diambil 82 rekam medik pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis secara deskriptif dengan melihat kejadian Problem Terapi Obat yang terjadi yang meliputi dosis kurang, dosis berlebih, obat salah, dan potensi interaksi obat yang didasarkan pada literatur. Hasil disimpulkan dengan persentase masing-masing Problem Terapi Obat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi Problem Terapi Obat pada 79 pasien (96,34%). Problem terapi obat yang terjadi berupa dosis kurang sebanyak 49 pasien (59,75%), dosis berlebih sebanyak 2 pasien (2,44%), obat salah sebanyak 51 pasien (62,20%), sedangkan potensi interaksi obat sebanyak 56 pasien (68,30%). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi problem terapi obat pada pasien penyakit paru obstruktif kronik di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.


Chronic Obstructive Pulmonary Disease is a disease that is progressive and including the level of disease prevalence, incidence, and mortality increase with age and the number of smokers. COPD affects more on the elderly than adult age group. Geriatric patients require a lot of drugs in a therapeutic or disease is called polypharmacy. The amount of drug that is used to enlarge the Drug Therapy Problem. This study aimed to identify the presence of Drug Therapy Problem in COPD geriatric patients at Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto hospital.
This research was a descriptive retrospective with data collection against the patient's medical record. Samples were taken by simple random sampling method, which was taken 82 medical records of patients who met the inclusion criteria. Data were analyzed descriptively by looking at events that happened Drug Therapy Problem that include dosage too low, dosage too high, incorrect drug, and potential drug interactions based on the literature. The result concluded with the percentage of each Drug Therapy Problem.
The result showed that the Drug Therapy Problem occurs in 79 patients (96,34%). Drug therapy problems that occur as a dosage too low 49 patients (59,75%), dosage too high 2 patients (2.44%), incorrect drug 51 patients (62,20%), meanwhile potential drug interactions 56 patients (68,30%). Based on the result, we could conclude that there were Drug Therapy Problems in Chronic Obstructive Pulmonary Disease geriatric patients at Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto hospital.


92995608A1M009078OPTIMASI PRODUKSI BIOETANOL DARI NIRA NIPAH MENGGUNAKAN MIKROBA INDIGENOUS Saccharomyces sp. DENGAN VARIASI KONSENTRASI STARTER DAN GLUKOSANira nipah mengandung gula yang tinggi sehingga memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan dasar produksi bioetanol. Fermentasi nira nipah akan lebih optimal jika menggunakan kultur murni yang diperoleh dari isolasi lingkungan tanaman. Kultur murni tersebut yaitu mikroba indigenous. Mikroba indigenous akan lebih efektif digunakan karena mikroba sudah teradaptasi dengan baik pada lingkungan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menentukan konsentrasi starter yang optimal untuk menghasilkan etanol dengan rendemen yang tinggi; 2) menentukan konsentrasi glukosa yang optimal untuk menghasilkan etanol dengan rendemen yang tinggi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang dicoba meliputi konsentrasi starter dan konsentrasi glukosa. Taraf yang dicoba untuk konsentrasi starter, yaitu: 5%; 7,5% dan 10%; sedangkan konsentrasi glukosa, yaitu: 12%; 14%, dan 16%. Faktor-faktor tersebut disusun secara faktorial sehingga diperoleh 9 kombinasi perlakuan. Masing-masing perlakuan dilakukan ulangan sebanyak 3 kali, sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi starter yang optimal tidak dapat ditentukan. Rendemen yang diperoleh berkisar antara 6,57%-6,78%. Konsentrasi glukosa yang optimal pada penelitian ini tidak dapat ditentukan, akan tetapi diperoleh perlakuan konsentrasi glukosa terbaik yaitu pada taraf 12% dengan kadar etanol yaitu 7,39% dan rendemen sebesar 8,04%.

ABSTRACT
Nipah sap has high sugar containe so that it has the potential to be used as a raw material for the production of bioethanol. Fermented nypa sap would be optimal if using pure cultures. That pure culture is the indigenous microbe. Indigenous microbe would be more effectively used because microbes can adapt well at the environment. This study aims to: 1) determine the optimal concentration of starter to produce ethanol at high yield, 2) determine the optimal concentration of glucose to produce ethanol at high yield. The experimental design used is Completely Randomized Design. Included factors are the concentration of starter and sugar concentration. Extent that was tried to starter concentration, ie: 5%, 7.5% and 10%, while the sugar concentration, ie: 12%, 14%, and 16%. These factors were arranged in factorial combination of treatments so that there were 9 treatments. Each treatmentss was repeated in 3 times, in order to be obtained 27 experimental units. The results showed that optimal starter concentrations was not fixed. The yield is 6.57-6,78%. Optimal glucose concentration was not fixed, but being obtained the best concentration starter on the level of 12% with the ethanol content is 7.39% and the yield is 8.04%.
93009341G1F010034Analisis Kejadian Rawat Inap Ulang (Readmission) di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
Kualitas dari suatu pelayanan kesehatan dapat diukur dengan angka kejadian readmission di rumah sakit. Readmission adalah suatu kejadian seorang pasien dirawat kembali yang sebelumnya telah mendapatkan layanan rawat inap dirumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka kejadian, pola penyakit pasien dan gambaran demografi pasien yang mengalami kejadian readmission di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo periode Januari – Desember 2012.
Penelitian ini bersifat retrospektif dengan menggunakan data rekam medik pasien di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo periode Januari–Desember 2012. Data-data dari rekam medik pasien meliputi umur, jenis kelamin, diagnosa utama, diagnosa penyakit penyerta, lama rawat inap di rumah sakit, status keluar rumah sakit. Analisa data dilakukan secara deskriptif dan data disajikan dalam bentuk tabel dan gambar berdasarkan diagnosa penyakit yang mengalami kejadian readmission, kemudian dihitung persentase angka kejadian readmission.
Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 12.958 pasien dengan jumlah kujungan pasien sebanyak 16.384 kali terdapat 114 pasien yang mengalami kejadian readmission dengan jumlah kejadian readmission sebanyak 174 kali. Berdasarkan hasil penelitian, diagnosa penyakit pada pasien readmission paling banyak terdapat pada diagnosa penyakit CHF dan CRF. Pasien readmission lebih banyak terjadi pada laki-laki yaitu sebanyak 82 pasien (71,93%) daripada perempuan yaitu sebanyak 32 pasien (28,07%) dan dengan usia 46-65 tahun. Persentase angka kejadian readmission yaitu sebesar 1,06%.
The quality of health service can be measured by the incidence of hospital readmission. Readmission is a re-occurrence of a previously treated patient who received inpatient hospital services. This study determines the incidence, disease patterns and demographic patients in hospital readmission Prof. Dr. Margono Soekarjo the period January to December 2012.
This study is a retrospective study that used medical records of patients in Prof. Dr. Margono Soekarjo hospital on January to December 2012. Data from patient records include age, sex, primary diagnosis, comorbid disease diagnoses, length of stay in the hospital, and hospital discharge status. Data were analyzed descriptively and presented in table and picture form based diagnosis of disease and then calculated the percentage of incidence of readmission.
The results showed that of the 12 958 patients in Prof. Dr. Margono Soekarjo hospital on January-December 2012 there were 114 patients experienced a readmission events. The total number of patient visits to the hospital and the total number of occurrences of each readmission is as much as 16,384 times and 174 times. The percentage figures represent the number of occurrences readmission events divided by the total number of patient visits hospital in 2012 is equal to 1.09%.
The results showed that of the 12.958 patients with a total of 16,384 patients visited number of times there were 114 patients with incident readmission to the events as much as 174 times. Based on the research results, diagnosis of disease in a patient readmission are most numerous in disease diagnosis CHF and CRF. Patient readmission occurs more frequently in males as many as 82 patients (71.93%) than females as many as 32 patients (28.07%) and by the age of 46-65 years. Percentage incidence of readmission is equal to 1.06%.