Artikelilmiahs

Menampilkan 9.341-9.360 dari 48.923 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
93419432G1F010001EVALUASI PENGGUNAAN SUPLEMEN BESI PARENTERAL PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK HEMODIALISIS DENGAN ANEMIA DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTOSuplemen besi parenteral merupakan terapi yang digunakan untuk pasien gagal ginjal kronik hemodialisis dengan anemia untuk meningkatkan dan memelihara nilai hemoglobin, TSat dan ferritin sesuai target. Evaluasi penggunaan suplemen besi parenteral penting dilakukan agar efektivitas klinis dan ekonomi dapat diperoleh pasien. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi penggunaan suplemen besi parenteral pada pasien gagal ginjal kronik hemodialisis dengan anemia di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto berdasarkan kriteria yang dibuat meliputi indikasi, indikator proses, komplikasi dan penilaian outcome.
Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif berdasarkan teknik total sampling menggunakan data rekam medik pasien gagal ginjal kronik selama bulan Januari-Desember 2013. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan antara data dan kriteria yang telah dibuat.
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 20 pasien gagal ginjal kronik hemodialisis dengan anemia yang menggunakan terapi suplemen besi parenteral. Kesesuaian indikasi pada pasien gagal ginjal kronik dengan anemia terjadi pada 65% pasien dan pada pasien yang diberikan terapi ESA terjadi pada 75% pasien. Kesesuaian dosis terapi besi fase koreksi terjadi pada 61,11% pasien dan ketidaksesuaian terapi besi fase pemeliharaan terjadi pada 100% pasien. Kontraindikasi terjadi pada 70% pasien. Monitoring yang dilakukan meliputi tekanan darah (100%), frekuensi nadi dan pernapasan (70%), hemoglobin dan hematokrit pada (90%), nilai Fe, TiBC dan TSat pada (65%), pemeriksaan nilai ferritin, SGPT dan SGOT tidak dilakukan serta tidak ditemukan adanya interaksi obat potensial. Komplikasi yang muncul meliputi penurunan tekanan darah (25%), peningkatan frekuensi pernapasan (100%), sakit kepala (30%), edema ekstremitas (75%), kram (10%). Pencapaian nilai outcome terjadi pada 15,38% pasien.
Parenteral iron supplementation is one of therapy that used for anemic chronic kidney disease patients on hemodialysis to increased and maintained the value of hemoglobin, TSat (transferrin saturation) and ferritin based on target. Drug use evaluation of parenteral iron supplementation is important due to the improvement of patient’s clinical and economic effectiveness. The purpose of this study is to evaluate the use of parenteral iron supplementation in anemic chronic kidney disease patients on hemodialysis at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto based on the criteria which have been made include indication, process indicators, complication and outcome achievement.
Data was collected retrospectively with total sampling technique using the medical record of chronic kidney disease patients during January-December 2013. A descriptive analysis of the datawas carried out by comparing the data and criteria which have been made.
Amount of sample were 30 anemic chronic kidney disease patients on hemodialysis whom received parenteral iron supplementation. Appropriate indication for anemic chronic kidney disease patients occurs in 65% patients and whom received ESA therapy in 75% patients. Appropriate dose whom in correction phase were 61,11% patients and inappropriate dose for whom in maintenance phase were 100% patients. Contraindication occurs in 70% patients. Monitoring conducted include blood pressure (100%), the frequency of the pulse and respiration (70%), hemoglobin and hematokrit (90%), the value of Fe, TiBC and the TSat (65%), checking the value of ferritin, SGPT and SGOT were not done and not found any potential drug interactions. The complications that emerge include decreased blood pressure (25%), increased respiratory frequency (100%), headache (30%), extremities edema (75%), cramps (10%). Outcome achievement occurs at 15,38% patients.
934210755A1L010111UJI Trichoderma sp. ISOLAT TERPILIH DALAM FORMULA CAIR DAN
PADAT ORGANIK TERHADAP PENYAKIT
LAYU FUSARIUM LADA PERDU (Piper nigrum L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, kombinasi isolat Trichoderma sp. terbaik
untuk: pengendalian patogen penyebab penyakit layu fusarium lada perdu, pertumbuhan lada
perdu, dan kandungan fenol (saponin, tanin, dan glikosida) yang terdapat pada jaringan tanaman.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman dan rumah plastik Fakultas
Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok
Lengkap (RAKL), perlakuan yang diuji adalah kontrol (D0), substrat padat berisi Trichodema sp.
isolat perakaran pisang + bawang merah (D1), substrat padat berisi Trichoderma sp. isolat
perakaran pisang + bawang merah + nanas (D2), substrat cair berisi Trichodema sp. isolat
perakaran pisang + bawang merah (D3), substrat cair berisi Trichodema sp. isolat perakaran pisang
+ bawang merah + nanas (D4), D1 + D3 (D5), D2 + D4 (D6), D2 + D1 (D7), D1 + D4 (D8), D1+
D3 + D4 (D9), D2 + D3 + D4 (D10), setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan, dan setiap unit terdiri
dari 2 sampel tanaman. Variabel yang diamati meliputi masa inkubasi, intensitas penyakit,
kepadatan akhir Trichoderma sp., dan Fusarium oxysporum, tinggi tanaman, jumlah daun, bobot
tanaman segar, bobot tanaman kering, panjang akar, bobot akar segar, bobot akar kering, dan
kandungan fenol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaplikasian Trichoderma sp. tidak
berpengaruh terhadap semua variabel yang diamati, kecuali masa inkubasi, intensitas penyakit,
kepadatan akhir Trichoderma sp. dan Fusarium oxysporum.
The research aimed to know, the best combination of Trichoderma sp. isolate to: control
Fusarium pathogen of wilt disease in shrubs pepper, growth of shrubs pepper, and phenolic
compounds (saponins, tannins, and glycosides) in plant tissues. The research was carried in the
Laboratory of Plant Protection and plastic house, Agricultural Faculty, Jenderal Soedirman
University. The research used Randomized Complete Block Design (RCBD), treatments were
control (D0), solid substrate containing Trichoderma sp. isolates from banana + shallot roots
(D1), solid substrate containing Trichoderma sp. banana + shallot + pineapple roots (D2), liquid
substrate containing Trichoderma sp. banana isolates + shallot isolates (D3), liquid substrate
contained Trichoderma sp. banana isolate + shallot isolate + pineapple isolate (D4), D1 + D3
(D5), D2 + D4 (D6), D2 + D1 (D7), D1 + D4 (D8), D1+ D3 + D4 (D9), D2 + D3 + D4 (D10),
each treatment consisted of 3 replicates, and each unit consisted of 2 plant samples. The observed
variables were incubation period, the intensity of the disease, final density of Trichoderma sp. and
Fusarium oxysporum, plant height, number of leaves, plants fresh weight, plant dry weight, root
2
length, root fresh weight, root dry weight, and phenolic compounds. Results showed that
Trichoderma sp. application did not give significan effect to all observed variables, except
incubation period, intensity of disease, final density of Trichoderma sp. and Fusarium oxysporum.
934310756E1A011179SENGKETA TATA USAHA NEGARA MENGENAI SURAT KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENGANGKATAN HAKIM MAHKAMAH KONSTITUSI ( Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Nomor : 139/G/2013/PTUN.JKT.)
SENGKETA TATA USAHA NEGARA MENGENAI SURAT KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENGANGKATAN HAKIM MAHKAMAH KONSTITUSI
( Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan PTUN Jakarta Nomor: 139/G/2013/PTUN-Jkt.)

Oleh:
RISTI MUTIARA K.
E1A011179

ABSTRAK
Keabsahan Keputusan Tata Usaha Negara harus sesuai dengan perundang-undangan dan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik, jika tidak akan berakibat pada dinyatakan batal atau tidak sahnya KTUN. Salah satu kasus mengenai pembatalan KTUN, terdapat dalam Putusan PTUN Jakarta Nomor 139/G/2013/PTUN-JKT . Dalam hal ini Peneliti tertarik meneliti mengenai keabsahan Surat Keputusan objek sengketa dari aspek wewenang, substansi, prosedur dan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik, serta mengenai akibat hukum atas dibatalkannya Surat Keputusan objek sengketa terhadap keabsahan Hakim Mahkamah Konstitusi yang bersangkutan.
Dalam rangka menjawab permasalahan di atas, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tipe penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan metode pendektan kasus. Metode analisis yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan model intepretasi.
Hasil penelitian menyatakan bahwa dari aspek prosedur penerbitan Surat Keputusan objek sengketa oleh Tergugat telah bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik terutama asas kepastian hukum, asas kepentingan umum, asas akuntabilitas dan asas keterbukaan. Adapun akibat hukum dibatalkannya Surat Keputusan objek sengketa bahwa Surat Keputusan objek sengketa masih tetap dianggap sah menurut hukum sebelum adanya putusan pengadilan yang telah inkrah yang membatalkan Surat Keputusan objek sengketa tersebut.


Kata Kunci: Keabsahan KTUN, Aspek prosedur, Pembatalan dan Akibat hukum.

ABSTRACK
Validity of State Administration Decision must be appropriate with law and good general principle goverment if it is not, it will cause the cancellation or invalidity of State Administration Dicision. One of the cases about cancellation of state administration decision is contained in Jakarta state administration decision number 139/G/2013/PTUN-JKT. Researcher are attracted to research about validity of dispute object decision letter from authority, substance, procedure aspect and good general principle government also about legal consequence on cancellation of dispute object letter decision toward validity court judge constitution concerned.
In order to answer that problem research method used on this research is using normative juridical research type by law approach and case approach method. Analytical method in used is qualitative by using interpretation models
Research result claim that publishing procedure of dispute objet decision letter by defendant has conflicted with rules and good government general procedure especially the principle of legal certainty, public interest, accountability, and openness. The legal consequence on cancellation dispute object decision letter that is dispute object decision still valid according to law before the dispute.

Key words: Validity State Administrative Decision, Procedure Aspect, Cancellation and Legal Consequence.
93449438G1F010016KAJIAN PELAKSANAAN HANDLING SITOTOKSIK DI RSUD PROF DR MARGONO SOEKARJO PURWOKERTOHandling sitotoksik adalah suatu proses penanganan terhadap obat sitotoksik yang berfungsi untuk melindungi personil pelaku handling sitotoksik dan juga melindungi obat sitotoksik dari kontaminan yang dilakukan di ruangan steril berdasarkan prosedur handling sitotoksik. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat kesesuaian pelaksanaan handling sitotoksik yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto berdasarkan pedoman dari DitjenBina Kefarmasian tahun 2009.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, pengambilan data dilakukan secara cross sectional dengan menggunakan lembar observasi. Analisis data dengan melakukan skoring yang diperoleh dari 5 bagian, yaitu ruangan pelaksanaan handling sitotoksik, proses sebelum melakukan handling sitotoksik, pelaksanaan handling sitotoksik (pencampuran obat sitotoksik dari vial atau ampul ke dalam infus iv atau iv bolus), post handling sitotoksik, dan pengolahan limbah sitotoksik, yang dilakukan pada bulan Mei 2014. Data yang didapatkan digunakan untuk menghitung persentase dari pelaksanaan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto sebagai gambaran pelaksanaan proses handling sitotoksik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kesesuaian ruangan handling sitotoksik 50% (kategori kurang baik), proses sebelum pelaksanaan handling sitotoksik 89% (kategori baik), persentase kesesuaian proses handling sitotoksik semuanya termasuk dalam kategori baik,yang meliputi ampul ke infus iv 90,53 %, ampul ke iv bolus 94,12%, vial cair ke infus iv 82,5%, vial cair ke iv bolus 85,71%, dan vial kering ke infus iv 86,67%. Persentase kesesuaian proses post handling sitotoksik yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto sebesar 70% (kategori cukup) dan proses pengolahan limbah sitotoksik mencapai 87,5% (kategori baik) berdasarkan Pedoman Ditjen Bina Kefarmasian Tahun 2009.
Handling cytotoxic is a process for handling cytotoxic to cytotoxic drugs which serves to protect the perpetrators personnel handling cytotoxic and cytotoxic drugs also protect from contaminants were performed in a sterile room based cytotoxic handling procedures. The purpose of the study to determine the level of conformity of the implementation of handling cytotoxic performed in Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto hospitals based on guidelines of Ditjen Bina Kefarmasian Tahun 2009.
This research is a descriptive study, data collection was done using a cross sectional observation sheet. Analysis of the data obtained by making scoring of 5 parts, that implementation of handling cytotoxic room, before handling cytotoxic processes, implementation of handling cytotoxic (cytotoxic drug mixing of the vial or ampoule into the iv infusion or iv bolus), post handling cytotoxic, and sewage treatment cytotoxic, which was conducted in May 2014 data obtained is used to calculate the percentage of implementation in Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto hospitals as a description of the implementation process of handling cytotoxic.
The results showed that the percentage of indoor suitability handling cytotoxic 50% (unfavorable category), the process prior to the implementation of the 89% cytotoxic handling (both categories), the percentage of the suitability of the cytotoxic handling are all included in either category, which includes ampule iv infusion to 90.53% , ampoule to 94.12% iv bolus, iv infusion vial of liquid to 82,5%, a vial of liquid to iv bolus 85,71% and iv infusion vial dry to 86,67%. Percentage of the suitability of the post process handling cytotoxic performed in Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto hospitals by 70% (category enough) and cytotoxic waste treatment process to reach 87.5% (both categories) based on the guidelines of Ditjen Bina Kefarmasian Tahun 2009.
934510757A1C010091PRODUKSI DAN KONSUMSI KEDELAI DALAM NEGERI SERTA IMPLIKASI IMPOR TERHADAP PASAR KEDELAI
Kedelai merupakan komoditas strategis tetapi kontradiktif dalam sistem usahatani di Indonesia. Pesatnya peningkatan laju konsumsi tidak selaras dengan peningkatan laju produksi maka terjadi kesenjangan yang memicu ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi, jumlah impor, konsumsi, dan harga kedelai, (2) menganalisis respon pasar dilihat dari produksi, impor, konsumsi dan harga kedelai (3) menganalisis dampak impor kedelai terhadap pasar kedelai. Penelitian ini menggunakan data time series tahun 2009-2013. Model disusun dengan pendekatan model ekonometrika dengan persamaan simultan dan dianalisis dengan two stage least square (2SLS).
Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) Produksi kedelai secara nyata (direpresentasikan oleh respon luas panen dan produktivitas) dipengaruhi oleh jumlah impor, luas panen periode sebelumnya dan produktivitas periode sebelumnya, harga pupuk urea bersubsidi dan rasio harga kedelai/harga pupuk urea, dan harga kedelai di tingkat petani. Impor kedelai secara nyata dipengaruhi oleh harga kedelai impor, kurs dan impor periode sebelumnya. Harga kedelai domestik secara nyata dipengaruhi oleh produksi, kurs dan harga kedelai domestik periode sebelumnya. Konsumsi kedelai secara nyata dipengaruhi oleh jumlah penduduk dan pendapatan per kapita. (2) Hasil respon pasar dapat ditinjau dari segi penawaran, segi permintaan, dan segi pembentukan harga. Elastisitas dari faktor-faktor yang mempengaruhi secara nyata terhadap respon pasar kedelai dari segi penawaran berkisar 0,21-1,09 dan dari segi permintaan sebesar 16,6 dan 4,84. Elastisitas dari segi pembentukan harga kedelai domestik berkisar 0,28-0,47. (3) Dampak impor kedelai terhadap pasar kedelai di Indonesia: jumlah kedelai impor berpengaruh nyata terhadap luas panen sedangkan harga kedelai impor tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi.
Kebijakan perlindungan harga ditingkat petani sangat diperlukan karena akan memberikan jaminan terhadap petani. Kebijakan subsidi pada input produksi juga akan mendorong petani untuk menanam kedelai karena biaya produksi yang dikeluarkan menjadi lebih sedikit dari pada yang seharusnya. Kebijakan stabilitas harga kedelai di pasar domestik merupakan kebijakan yang sangat diperlukan petani kedelai.
Soybean is strategic commodity but contradictory in farming systems in Indonesia. Increasing rate of consumption is not in line with increasing rate of production occurs a gap that triggered Indonesia's dependence on import soybeans. The research aimed to analyze: (1) the factors that affect production, the amount of imports, consumption, and soybean prices, (2) the response of market is observed of production, imports, consumption, and soybean prices (3) the impact of imports soybean to soybean market. Data used based on secondary data from 2009 to 2013. The data was analyzed by econometrics approach using Two Stage Least Square (2 SLS) method.
The results of research showed that (1) Soybean production (represented by the response of harvested area and productivity) influenced significantly by the amount of imports, last period harvested area and productivity, price of subsidized urea fertilizer, ratio soybean price / urea fertilizer prices, and soybean prices at the farm level. Imports of soybean influenced significantly by import soybean price, rate of exchange and last period import. Domestic soybean price influenced significantly by production, rate of exchange, and last period domestic soybean. The soy consumption influenced significantly by the number of population and income per capita. (2)Response of market observed from aspect of offer, demand, and price formation. The elasticity of aspect of offers range velue 0,21-1,09 and of aspect of deman value 16,6 dan 4,84. The elasticity of Aspect of price formation of the domestic range value 0,28-0,47. (3)The impact of import to soybean market in Indonesia: the amount of imports given influence significantly about harvested area, and import soybean price has not give influence significantly about consumption.
Farm level price protection policy is very necessary because it will provide a guarantee to farmers so that farmers want to plant soybeans. the subsidy policy on production inputs will also encourage farmers to plant soybeans because the cost of production is lower than should be. Soybean price stability policy in the domestic market is an indispensable policy to soybean farmers.
93469433H1C008005PERKIRAAN USIA KANDUNGAN MELALUI SEGMENTASI UTERUS DENGAN MENGGUNAKAN METODE DETEKSI TEPI DAN OPERASI MORFOLOGI DENGAN VARIABEL PANJANG JANINSelama kehamilan, pemeriksaan yang sering dilakukan adalah pemeriksaan ultrasonografi (USG). Dari pemeriksaan ini, alat USG kemudian memberikan beberapa informasi di antaranya adalah panjang embrio/janin (CRL), lingkar kepala (BPD), panjang paha (FL), lingkar perut (AC), mendiagnosis bila terjadi hambatan pertumbuhan janin (IUGR), dan lokasi plasenta. (Sudaryanto, 2011). Data citra USG ini dapat diproses untuk memberikan informasi di atas dengan menggunakan metode-metode pengolahan citra seperti deteksi tepi dan operasi morfologi. Metode deteksi tepi berfungsi untuk mendapatkan tepi-tepi citra yang diinginkan. Operasi morfologi berfungsi untuk membersihkan citra USG dari noise, kemudian dilakukan operasi lain untuk mendapatkan variabel panjang janin yang digunakan untuk menentukan usia kandungan.During pregnancy, the examination is often done is the examination of ultrasonography (ultrasound). From this examination, Ultrasound devices then give some information which is Crown Rump Length (CRL), Bipariental Diameter (BPD), Femur Length (FL), Abdominal Circumference (AC), diagnose fetal growth if there are obstacles (IUGR), and the location of the placenta. (Sudaryanto, 2011). This Ultrasound image data can be processed to provide the above information with the methods of image processing like edge detection and morphological operations. Edge detection method serves to get the edges of the image that you want. Morphological operations serve to clean the Ultrasound image from the noise, then performed another operation to get the variable crown rump length which is used to determine the age of the content.
93479434G1F010072Evaluasi Pemberian Transfusi Darah dalam Manajemen Terapi Anemia pada Pasien Gagal Ginjal Kronik dengan Hemodialisis di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo PurwokertoTransfusi darah merupakan salah satu terapi pilihan anemia pada pasien gagal ginjal kronik. Evaluasi pemberian terapi transfusi darah dilakukan agar pasien memperoleh efektivitas klinis dan ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah membuat kriteria evaluasi transfusi darah pada pasien gagal ginjal kronik dengan anemiaserta untuk mengetahui kesesuaian pemberian transfusi darah dengan kriteria yang dibuat yang meliputi indikasi, proses indikator, komplikasi, dan penilaian outcomedi RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Metode yang digunakan adalah deskriptif evaluatif dengan teknik pengumpulan data secara retrospektif.Sampel yang digunakan sejumlah 66 berupa data rekam medik pasien gagal ginjal kronik dengan anemia yang menerima terapi transfusi darah pada bulan Mei – Desember 2013.Analisis data dilakukan dengan membandingkan data dengan kriteria yang dibuat meliputi indikasi, proses indikator, komplikasi dan penilaian outcome.Data disajikan dalam bentuk tabel dan gambar.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kesesuaian indikasi yang terjadi pada 66 pasien (100%). Proses indikator meliputi rekomendasi dosis, penghentian pemberian, kontraindikasi, dan monitoring. Rekomendasi dosis berupa kesesuaian dosis awal terjadi pada 37 pasien (56,06%),ketepatan penghentian pemberian terapi terjadi pada 29 pasien (43,94%), dan kontraindikasi pemberian terapi terjadi pada 11 pasien (16,67%). Monitoring utama pasca transfusi adalah nilai Hb dan Hct yang dilakukan pada 66 pasien (100%) dan semuanya menujukkan peningkatan pasca transfusi darah. Monitoring nilai status besi yang dilakukan pada 3 pasien (4,54%) dan semuanya dalam kondisi normal. Monitoring selanjutnya adalah nilai SGOT dan SGPT dilakukan pada 28 pasien (42,42%) dan 8 pasien (12,12%) diantaranya mengalami peningkatan nilai SGOT dan SGPT. Monitoring nilai trombosit dilakukan pada 50 pasien (75,75%) dan 9 pasien (13,63%) diantaranya mengalami penurunan nilai trombosit. Monitoring nilai leukosit dilakukan pada 50 pasien (75,75%) dan 11 pasien (16,67%) diantaranya mengalami peningkatan nilai leukosit. Outcome yang membaik bagi pasien ditinjau dari tercapainya target Hb yaitu 10-11 g/dL yang terjadi pada 29 pasien (43,94%).
Blood transfusion is one of therapy that used for anemic chronic kidney disease patients. Drug use evaluation of blood transfusion is important due to the improvement of patient’s clinical and economic effectiveness. The purpose of this study is to create the criteria evaluation of blood transfusion for anemic chronic kidney disease patients and to evaluate the use of blood transfusion in anemic chronic kidney disease patients on hemodialysis based on the criteria which have been made that include indication, indicator of process, complication, and outcome measure at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
The method used is descriptive evaluative with retrospectively data collecting technique. Sixty six samples were used in this study was medical record of anemic chronic kidney disease patient who received blood transfusion during May until December 2013. The datapresentedin the form oftables and figures.
The result showed that indication reability for anemic chronic kidney disease patients occurs in 66 patients (100%). The indicator of process which consist of dose recomendation, discontinuance of therapy, contraindication, and monitoring. The reability of dose recomendation occurs in 37 patients (56,06%), discontinuance of therapy reability occurs in 29 patients (43,94%), contraindication occurs in 11 patients (16,67% ). Monitoring of hemoglobin and hematocrit post transfusion were done in 66 patients (100%) which showed the increase of hemoglobin and hematocrit. Monitoring the value of Si, TiBC and the TSat were done in 3 patients (4,54%) which showed normal condition of Si, TiBC and TSat. Monitoring of SGOT and SGPT were done in 28 patients (42,42%), the increase of SGOT and SGPT occurs in 8 of them (12,12%). Monitoring of thrombocyte were done in 50 patients (75,75%), and the decrease of thrombocyte occurs in 9 of them (13,63%). Monitoring of leukocyte were done in 50 patients (75,75%), and the increase of occurs in 11 of them (18,18%). Outcomes achievement reability on patient with Hb 10-11 g/dL occurs at 29patients (43,94%).
93489435H1C008021PERANCANGAN SISTEM PAKAR BERBASIS KOMUNITAS SEBAGAI TINDAKAN PREVENTIF TERHADAP KEHAMILAN RESIKO TINGGIKesehatan seorang wanita yang sedang menjalani masa-masa kehamilan adalah faktor terpenting dari beberapa faktor yang harus selalu dijaga dan dipelihara selama masa kehamilan. Ada beberapa penyakit yang menyebabkan kematian pada ibu hamil baik pada masa kehamilannya maupun pada persalinan. Sebagai contoh, Hipertensi, Eklamsia (kejang), Pendarahan, penyakit tersebut biasa disebut kehamilan reisko tinggi. Banyak dari calon ibu yang tidak mengetahui bahwa bahayanya mengalami gejala kehamilan reisko tinggi baik bagi calon ibu maupun sang bayi. Mengusung kerjasama dengan bidan setempat, Sistem deteksi penyakit pada masa kehamilan dengan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) yang menggunakan gejala berbasis komunitas sebagai basis datanya diharapkan bisa dimanfaatkan oleh pusat kesehatan masyarakat untuk mendeteksi gejala awal dari kehamilan maupun kehamilan resiko tinggi tanpa melalui uji klinis, sehingga masyarakat bisa memeriksakan gejala yang dirasakan ke puskesmas terdekat dengan biaya yang lebih terjangkau. Dengan demikian penanganan dini terhadap gejala penyakit kehamilan bisa dilakukan sebelum penyakit tersebut bertambah parah. Dan dengan adanya sistem ini, diharapkan bisa membantu kinerja dokter ataupun tenaga medis di puskesmas.The health of a woman is undergoing times of pregnancy is the most important factor of a number of factors that must always be guarded and maintained during pregnancy. There are some diseases that cause of death in pregnant women either during her pregnancy and in childbirth. For example, hypertension, Eklamsia (seizures), Bleeding, the disease commonly called a high risk pregnancy. Many of the would-be mother who doesn't know that the danger having symptoms of pregnancy high reisko for both the expectant mother and the baby. Carry cooperation with local midwife detection system disease in pregnancy with the analytic method hierarchy process that uses symptoms ( ahp ) based on community as the base data is expected can be misused by community health centers to detect early symptoms of pregnancy or a high-risk pregnancy without through clinical trials, so public can check up symptoms perceived to puskesmas nearest to charge more affordable. Thus early handling of the symptoms of pregnancy can be done before the disease just getting worse, and following this system is expected to assist the doctor or medical officer in puskesmas.
93499436G1F010032FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN TUBERCULOSIS PARU DI BKPM PURWOKERTOIndonesia menempati urutan kelima negara dengan beban TB tertinggi di dunia pada tahun 2010. Pada tahun 2012, di Kabupaten Banyumas terjadi peningkatan pasien TB pada tiap triwulan, salah satu faktornya yaitu karena ketidakpatuhan pasien dalam minum obat ini seringkali menjadi penyebab kegagalan pengobatan TB. Penelitian ini bertujuan agar dapat diperoleh gambaran mengenai kepatuhan minum obat penderita TB paru dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross-sectional. Populasi yang digunakan adalah pasien TB Paru menjalani pengobatan di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru Purwokerto pada periode Oktober-Desember 2013 yang berdomisili di Kabupaten Banyumas. Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran sosiodemografik ketidakpatuhan minum obat. Analisis bivariat dilakukan untuk mencari hubungan antara variabel independen (sosiodemografis, pengetahuan pasien, efek samping obat, peran keluarga atau PMO, serta peran petugas kesehatan) dengan variabel dependen (kepatuhan minum obat pasien tuberkulosis) menggunakan uji chi square. Analisis multivariat untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh pada kepatuhan menggunakan analisis regresi logistik ganda.
Hasil penelitian ini menunjukkan dari 54 pasien terdapat 14 pasien TB paru memiliki tingkat kepatuhan yang rendah, 24 responden memiliki tingkat kepatuhan yang sedang dan 16 responden memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi. Variabel bebas Pengetahuan pasien tentang penyakit TB paru memiliki hubungan yang bermakna dan tingkat keeratan hubungan yang kuat. Sedangkan variabel lain tidak mempunyai hubungan yang bermakna. Kesimpulan dari penelitian ini, pengetahuan pasien tentang TB paru merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan minum obat di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru Purwokerto.
Indonesia was 5th highest country with TB burden in the world in 2010. In 2012, there is a an TB patient increase every 3 months in Banyumas, non compliance medication by patient is one of factors that cause failure in TB treatment. The aim of this study is to obtain an overview of medication adherence of pulmonary tibercolosis patients and its influencing factors.
This research is non experimental using cross sectional study. Population used in this study is pulmonary TB patient who has undergoing treamtment at Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru Purwokerto in October-Desember 2013 period. Univariate analysis was performed to describe sociodemographic on TB non compliance medication. Bivariate analysis was performed to find the relationship between the independent variables (sociodemographic,patient education,medication side effects,role of family or PMO, and the role of health workers) with the dependent variables (TB medication adherence) using Chi Square. Multivariate analysis was performed to determine the most influential factors on TB medication adherence using multiple regression logistic analysis.
The results of this study showed that from 54 pulmonary TB patients overall, there is 14 pulmonary TB patients have low medication adherence, 24 pulmonary Tb patients have moderate medication adherence and 16 pulmonary tb patients have high medication adherence. Knowledge Independent variables have a significant relationship in high level with medication adherence. While age, gender, education, employment, role of family or PMO, and role of health workers don’t have a meaningful relationship. The conclusion of this study is patient knowledge about pulmonary TB was the most influential factor in TB pulmonary medication adherence at Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru Purwokerto.
935011728G1A011077PERBEDAAN ANGKA KEJADIAN EPILEPSI PASCA CEDERA KEPALA ANTARA CEDERA KEPALA RINGAN, SEDANG DAN BERAT DI RSUD MARGONO SOEKARJO PURWOKERTOLatar Belakang: Epilepsi adalah kelainan neurologis kronik yang insidensinya di seluruh dunia cukup tinggi. Di Indonesia, saat ini sekitar 1,1 juta hingga 8,8 juta penduduk mengidap penyakit epilepsi, epilepsi dapat menyerang laki- laki atau perempuan. Salah satu penyebab epilepsi dapat dikarenakan oleh cedera kepala. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui angka kejadian epilepsi pasca cedera kepala antara cedera kepala ringan(CKR), cedera kepala sedang(CKS) dan cedera kepala berat(CKB). Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian menggunakan catatan rekam medik pasien stroke selama 5 tahun dari tahun 2009-2013. Setelah ditemukan catatan rekam medik yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebagai penderita epilepsi pasca cedera kepala maka jumlah angka kejadian dapat terlihat. Data dianalisis dengan uji X2. Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 6485 kasus cedera kepala terdapat 57(0,9%) kasus menderita epilepsi pasca cedera kepala, dari 3539 kasus CKB sebesar 36 orang (1,0%) mengalami epilepsi, dari 249 kasus CKS sebesar 14 orang(5,6%) menderita epilepsi, dan dari 2697 kasus CKR sebesar 7 orang(0,9%) mengalami epilepsi. Kesimpulan: Terdapat perbedaan angka kejadian epilepsi pasca cedera kepala pada pasien dengan CKR,CKS dan CKB. Background: Epilepsy is a chronic neurological disorder worldwide incidence is quite high. In Indonesia, currently around 1.1 million to 8.8 million people suffer from epilepsy, epilepsy can affect men or women. One of the causes of epilepsy can be caused by head injuries. Objective: The purpose of this study was to determine the incidence of epilepsy after a head injury between mild head injury (CKR), moderate head injury (CKS) and severe head injury (CKB). Methods: This study used observational analytic with cross sectional study design. The research used a medical record of stroke patients for 5 years from 2009 to 2013. Having found a medical record which meets the criteria for inclusion and exclusion as with epilepsy after a head injury, the total number of events can be seen. Data were analyzed by X2 test. Results: The results showed that from 6485 there were 57 cases of head injury (0.9%) cases of epilepsy after a head injury, from 3539 CKB cases of 36 people (1.0%) had epilepsy, out of 249 cases of 14 people CKS ( 5.6%) suffered from epilepsy, and from 2697 CKR case of 7 people (0.9%) had epilepsy. Conclusions: There are differences in the incidence of epilepsy after a head injury in patients with CKR, CKS and CKB.
935110758A1L010129PENGARUH LAMA PERENDAMAN DALAM BEBERAPA KONSENTRASI AIR
KELAPA TERHADAP PEMATAHAN DORMANSI DAN PERTUMBUHAN
AWAL BENIH SIRSAK (Annona muricata L).
Penelitian ini bertujuan; 1) Mengkaji pengaruh lama perendaman benih dalam air
kelapa terhadap perkecambahan dan pertumbuhan awal biji sirsak; 2) Mengkaji pengaruh
perbedaan konsentrasi air kelapa terhadap perkecambahan dan pertumbuhan awal biji; 3)
Mengkaji interaksi antara lama perendaman dan konsentrasi air kelapa terhadap
perkecambahan dan pertumbuhan awal biji sirsak. Penelitian tersebut dilaksanakan di
Laboratorium Agronomi dan Screen House Fakultas Pertanian Jenderal Soedirman,
Purwokerto Utara, pada bulan Agustus 2014 sampai November 2014. Rancangan penelitian
yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dan diulang 3 kali. Perlakuan
yang di coba terdiri 2 faktor yaitu lama perendaman terdiri dari 3 taraf ( 8 jam, 16 jam, 24
jam) dan konsentrasi air kelapa terdiri 4 taraf (0%, 25%, 50% , 100%), dengan parameter
pengamatan, presentase daya tumbuh, kecepatan tumbuh, panjang hipokotil, panjang
epikotil, jumlah daun, panjang akar, volume akar, berat basah akar, berat basah tajuk, berat
kering akar, dan berat kering tajuk. Data dianalisis menggunakan uji F, apabila ada beda
nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5% dan
analisis regresi. Hasil penelitian menunjukan tidak ada pengaruh antara konsentrasi dan
interaksi perlakuan pematahan dormansi sirsak dalam air kelapa terhadap perkecambahan
dan pertumbuhan awal sirsak. Sedangkan lama perendaman yang paling efektif adalah
perlakuan perendaman 24 jam mampu meningkatkan panjang hipokotil tanaman sirsak
sebesar 4,9 cm.
This research was to: 1) Determine the effect of coconut water flooding treatment
on soursop seed to its germination and its early growth; 2) Determine the effect of different
interval of coconut water flooding treatment on soursop seed to its germination and its
early growth; 3) Examine the interaction between the intervals and concentration of
coconut water flooding. The research was conducted at the Screen House of Agronomy
Laboratory in Jenderal Soedirman University, north Purwokerto. Started from August to
November 2014. The research used completely factorial randomized design with 3
repetitions. The factors were the intervals of flooding (8 h, 16 h, 24 h) and the
concentration of coconut water(0%, 25%, 50%, 100%). The observing parameter were
viability presentation, growth time, hipocotyl and epicotyl length, leaves amount, root
length, root volume,root wet and dry weight. The F test was used to analyze the data and
continued by LSD and Regression test. The result showed that concentrations and
interraction treatments did not affect the early growth and germination of soursoup but the
most effective treatment of flooding interval for hipocotyl length was 4,9 cm on 24 h
treatment
935213269B1J011038STUDI PENGARUH BAP DAN IAA PADA INDUKSI TUNAS PISANG KEPOK KUNING DALAM KULTUR IN VITROPenelitian dengan tujuan untuk mempelajari pengaruh interaksi BAP dan IAA pada induksi tunas dan menentukan konsentrasi BAP dan IAA yang paling baik untuk memacu pertumbuhan tunas pisang kepok kuning secara in vitro telah dilakukan. Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola perlakuan faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi BAP (B) yang terdiri dari empat taraf yaitu, B1: 15 µM; B2: 20 µM; B3: 25 µM; dan B4: 30 µM. Faktor kedua adalah konsentrasi IAA (I) yang terdiri dari empat taraf yaitu I1: 1,5 µM; I2: 2,0 µM; I3: 2,5 µM; dan I4: 3,0 µM. Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali. Variabel yang diamati adalah pertumbuhan tunas pisang. Parameter yang diukur meliputi saat muncul tunas; jumlah tunas per eksplan; panjang tunas terpanjang; dan jumlah akar tiap eksplan. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis Ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada tingkat kepercayaan 95% dan 99%. Hasil pengamatan selama 12 minggu menunjukkan bahwa persentase eksplan yang membentuk tunas baru (apikal dan mikro) pada penelitian ini adalah 29.17%. Lebih lanjut, interaksi antara BAP dan IAA berpengaruh terhadap pemanjangan tunas. Tunas terpanjang (2.033 cm) diperoleh pada perlakuan media MS dengan penambahan 30 µM BAP dan 2.5 µM IAA. This research has been carried out with a view to investigate the effects of the interaction between BAP and IAA on shoot induction of banana cv. kepok kuning and to determine the best concentration of BAP and IAA to stimulate shoot induction of banana cv. kepok kuning. This research has been carried out experimentally using a Completely Randomised Design (CRD) on a factorial treatment pattern. The first factor was BAP (B) concentrations which consisted of four levels i.e. B1: 15 µM; B2: 20 µM; B3: 25 µM; and B4: 30 µM . The second factor was IAA (I) concentrations which consisted of four levels I1: 1,5 µM; I2: 2,0 µM; I3: 2,5 µM; and I4: 3,0 µM.. Each treatment combination was repeated three times. The variables observed were the growth of banana shoots. The parameters measured were shoot emergence time, the number of shoots per explant, the length of the longest shoot, and the number of roots per explant. The data were analysed using an Analysis of Variance (ANOVA) followed by a Honestly Significant Difference (HSD) test at 95% and 99% level of confidences. The research results after 12 weeks of observation showed that the percentage of explants forming new shoots (both apical and micro shoots) was 29.17%. Moreover, it was also found that the interaction between BAP and IAA affected shoot elongation. The longest shoot (2.033 cm in length) was found in MS medium supplemented with 30 µM BAP and 2.5 µM IAA.
935312106A1L011028PATOGENISITAS NEMATODA ENTOMOPATOGEN Heterorhabditis sp. ISOLAT CILONGOK TERHADAP HAMA ULAT GRAYAK (Spodoptera litura F.) PADA TANAMAN KUBIS (Brassica oleracea L.) DI RUMAH KACAPenelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui kemempanan nematoda entomopatogen Heterorhabditis isolat Cilongok terhadap mortalitas larva S. litura di rumah kaca, 2) mengetahui kemampuan nematoda entomopatogen Heterorhabditis isolat Cilongok terhadap intensitas serangan S. litura pada tanaman kubis di rumah kaca, 3) mengetahui kemampuan nematoda entomopatogen Heterorhabditis isolat Cilongok untuk menyelamatkan hasil tanaman kubis yang terserang S. litura di rumah kaca. Penelitian ini dilaksanakan dari Januari sampai Juni 2015 di Laboratorim Perlindungan Tanaman dan rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 6 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan yang dilakukan adalah tanpa perlakuan (kontrol) , insektisida sipermetrin 4ml/, serta NEP dengan konsentrasi 200 JI/ml, 400 JI/ml, 600 JI/ml dan 800 JI/ml. Variabel yang diamati adalah mortalitas larva, intensitas serangan, imago terbentuk dan bobot tanaman kubis segar. Data dianalisis dengan uji F pada taraf kesalahan 5% kemudian dilanjutkan dengan DMRT. Hasil penelitian menunjukkan NEP isolat Cilongok konsentrasi 800 JI/ml mampu menimbulkan mortalitas larva S.litura sebesar 87,5 %. NEP mampu menekan intensitas serangan S.litura hingga 7,75 % serta mengurangi terbentuknya imago hingga 12,5%, namun belum mampu menyelamatkan hasil tanaman kubis.This research aims to 1) know the efficacy of entomopathogenic nematode Heterorhabditis isolate of Cilongok against mortality larvae S.litura in greenhouse, 2) know the efficacy of entomopathogenic nematode Heterorhabditis isolate of Cilongok against intensity of attack S. litura on cabbage in greenhouses, 3) know the ability of entomopathogenic nematode Heterorhabditis isolate of Cilongok maintain to yield of the cabbage plant are attacks by S.litura in greenhouse. The research was carried out from January until June 2015 at Laboratory of Plant Protection and Greenhouse of Faculty of Agriculture Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The experiment used randomized completed block design with 6 treatments and 4 replications. The treatment were control (without treatment), cypermethrin insecticide 4ml/liter of water, entomopathogenic nematode with concentration of 200 JI/ ml, 400 JI/ml, 600 JI/ml and 800 JI/ml. Observed variables were larval mortality, the intensity of attacks , formed imago and fresh weight of cabbage. Data were analyzed using F test at the 5% level of error then followed by DMRT. The results showed that entomopathogenic nematode isolates Cilongok with concentration 800JI/ml were able to cause S.litura larval mortality of 87.5%. The nematode was able to suppress the intensity of attacks S.litura up to 7.75 % and reduce formed imago until 12.5%, but has not been able to maintain yield of cabbage.
935410761P2EA12050PENGADAAN TANAH BERDASARKAN UNDANG UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM (STUDI DI KABUPATEN CILACAP)
Di dalam kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum telah banyak dikeluarkan peraturan mengenai pengadaan tanah untuk kepentingan umum diantaranya Keputusan Presiden nomor 55 tahun 1993, Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 15 tahun 1975, Peraturan Presiden nomor 36 tahun 2005 yang kesemuanya belum berpihak kepada masyarakat dan memenuhi rasa keadilan. Terbitnya Undang-undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang pengadaan tanah (UU pengadaan tanah) sebagai suatu landasan hukum bagi pemerintah yang akan melakukan kegiatan pembangunan yang memerlukan tanah diharapkan dapat menjamin kepastian hukum dalam perolehan tanah serta memenuhi rasa keadilan bagi pihak yang terkena pembebasan tanahnya. Dasar filosofis UU pengadaan tanah adalah Pancasila khususnya sila kedua,keempat dan kelima dan merupakan sumber dari tertib hukum Indonesia sehingga peraturan perundangan yang diundangkan harus merupakan merupakan penjabaran dari nilai-nilai yang terkandung dari sila-sila Pancasila. Setiap tertib hukum esensi utamanya adalah sinkronisasi dan harmonisasi peraturan perundang-undangan dalam tata urutan berjenjang, sebagai sebuah susunan yang sistimatik, logis dan rasional.
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengadaan tanah untuk pembangunan bagi kepentingan umum di Kabupaten Cilacap dan menganalisis kendala-kendala normatif yang ditemui dalam pengadaan tanah di Kabupaten Cilacap berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2012
Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif yaitu metode pendekatan yang menggunakan legisme positivisme yang berpendapat hukum identik dengan norma-norma tertulis yang dibuat dan diundangkan oleh lembaga atau pejabat negara yang berwenang. Selain itu konsepsi ini juga memandang hukum sebagai sistem normatif yang bersifat otonom, tertutup dan terlepas dari masyarakat.
Hasil-hasil penelitian bahwa pengadaan tanah untuk kepentingan umum berdasarkan Undang-undang nomor 2 tahun 2012 di Kabupaten Cilacap mencakup 4 (empat) tahap yaitu:
1. Perencanaan Pengadaan tanah
2. Persiapan Pengadaan Tanah
3. Pelaksanaan Pengadaan Tanah
4. Penyerahan Hasil.
Ganti kerugian yang merupakan ruh dari pengadaan tanah merupakan bagian dari pelaksanaan pengadaan tanah. Adanya lembaga penilai yang independent untuk menilai nilai ganti kerugian dalam pengadaan tanah merupakan dasar dari pelaksanaan pengadaan tanah (BPN) dalam mengadakan musyawarah ganti kerugian dengan para pihak yang berhak. Perubahan mindset atau pola pikir masyarakat saat ini telah berubah kaitannya dengan ganti kerugian dalam pengadaan tanah.


UU pengadaan tanah mengisyaratkan tidak mengatur tawar menawar harga dalam musyawarah tetapi yang dimusyawarahkan adalah bentuk ganti kerugiannya. Bentuk ganti kerugian dalam pengadaan tanah adalah berupa uang, tanah pengganti, pemukiman kembali, kepemilikan saham atau bentuk lain yang disetujui oleh kedua belah pihak. Kendala normatif yang dihadapi adalah tidak adanya sinkronisasi dan harmonisasi terlihat dalam peraturan pelaksanaan UU pengadaan tanah yaitu dalam tahap persiapan yang pelaksanaannya diatur dalam peraturan gubernur jawa tengah nomor 18 tahun 2013 yaitu mengenai tim persiapan dan tim kajian. Adanya ketidak harmonisan dalam UU pengadaan dengan UUPA ini terlihat pula pada waktu penyerahan tanda bukti hak atas tanah pada saat pelepasan hak atas tanah yang tidak dapat diganggu gugat dikemudian hari (UU pengadaan tanah pasal 42 ayat (2) dan (3)), merupakan hal tidak tepat. Tanda bukti hak atas tanah berupa sertipikat tanah merupakan tanda bukti yang kuat (UUPA pasal 19 ayat (2) huruf c), bukanlah yang mutlak, Pemerintah sendiri belum bisa menjamin apabila tanah sudah bersertifikat tidak bisa diganggu gugat di kemudian hari,dikarenakan hukum tanah di Indonesia menganut sistim negatif ke arah positif. Kendala normatif lainnya adalah jangka waktu ganti kerugian dalam bentuk tanah pengganti dan pemukiman kembali yang memerlukan waktu 6 (enam) bulan sampai dengan 1 (satu) tahun, padahal pihak yang berhak telah melepaskan tanahnya untuk pengadaan tanah.
In the development activities in the public interest has been issued regulations regarding land acquisition for public purposes including Presidential Decree No 55 of 1993, Regulation of the Minister of the Interior number 15 in 1975, Presidential Decree number 36 of 2005 which were not in favor to the community and sense of fairness . The issuance of Law No. 2 of 2012 on land acquisition (land procurement law) as a legal basis for the government to be doing activities that require land development is expected to ensure legal certainty in land acquisition and sense of fairness to the parties affected by land acquisition. Philosophical basis for land acquisition law is the second principle of Pancasila particular, the fourth and fifth and a source of Indonesian law and order so that regulations promulgated shall constitute a translation of the values contained on the principles of Pancasila. Every legal order is the main essence of synchronization and harmonization of legislation in order tiered system, as an arrangement of systematic, logical and rational.
This study aims to analyze the provision of land for the construction of the public interest in Cilacap district and analyze the normative constraints encountered in land acquisition in Cilacap district by Act No. 2 of 2012.
The method used is a normative juridical approach uses the method legisme legal positivism, which argues identical with the norms made written and promulgated by agencies or officials of the state. In addition, this conception also sees the law as a normative system of autonomous, closed and separated from the community.
The results of the study that the acquisition of land for public purposes under Law No. 2 of 2012 in Cilacap district includes four (4) phases :
1.Procurement Planning soil
2. Preparation of the Land Acquisition
3. Implementation of the Land Acquisition
4. Submission of Results.
Compensation which is the Spirit of land acquisition is part of the implementation of land acquisition. The existence of an independent assessment institution to assess the value of compensation in land acquisition is the basis of the implementation of land acquisition (BPN) held a consultation in restitution to the party entitled. Change mindset of today's society has changed in relation to compensation for land acquisition. Law does not regulate land acquisition signaled a bargain price in the deliberations but the disadvantages discussed is changing shape. Form of compensation in land acquisition is in the form of money, in land, resettlement, ownership or other form approved by both parties. Normative constraints faced is the lack of synchronization and harmonization seen in the regulations implementing the land acquisition law is under preparation that implementation is set in Central Java governor regulation number 18 of 2013 which is about the team and the preparation of the study team. The existence of disharmony in the BAL procurement law is seen also at the time of submission of proof of rights to land at the disposal of land rights can not be contested in the future (Land Acquisition Act article 42 paragraph (2) and (3)), is not exactly. Proof of land rights in the form of land certificate is proof of the strong (BAL article 19 paragraph (2) letter c), is not absolute, the Government alone can not guarantee when the soil has been certified can not be contested in the future, due to the law of the land in Indonesia adheres to the negative system in a positive direction. Other normative constraints is a period of compensation in the form of replacement land and resettlement which takes six (6) months to one (1) year, when the party entitled has been releasing land for land acquisition.
93559439G1B010003KINERJA INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL)
DI PABRIK TAHU KALISARI KECAMATAN CILONGOK
KABUPATEN BANYUMAS
Pembangunan di Indonesia mendasar pada konsep pembangunan yang berkelanjutan. Kegiatan industri mulai menjadi perhatian masyarakat secara serius karena dampak yang ditimbulkan yaitu semakin berat beban badan air. Limbah cair industri tahu mengandung bahan organik yang tinggi jika dibuang kedalam air tanpa pengolahan terlebih dahulu akan menimbulkan dampak negatif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kinerja instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di Pabrik Tahu Desa Kalisari Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan kuantitatif deskriptif. Pengambilan sampel air limbah pada titik inlet tabung penampung, outlet tabung digester serta outlet sungai dengan parameter yang diteliti adalah suhu, bau, pH, TSS dan BOD. Cara pengumpulan data menggunakan metode observasional dengan melakukan pengukuran langsung di lapangan maupun laboratorium serta wawancara informal. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa proses pengolahan air limbah (IPAL) Biolita IV adalah proses anaerobik-aerobik yang terdiri dari tabung penampung, tabung digester, tabung gasholder serta bak buffle reactor serta parameter suhu serta pH titik outlet tabung digester dan outlet sungai yang memenuhi persyaratan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 Tahun 2004. Saran bagi IPAL Biolita IV Industri Tahu Kalisari dengan memperbaiki tabung penampung dengan penetralan pH serta penyempurnaan proses aeobik pada bak buffle reactor. Indonesia’s Development based on the concept of sustainable development. Industrial activity began to the attention of the public concern, because the impact will appear to a heavy burden that the body of water. Industrial liquid waste of tofu containing organic material high if discarded into the water without any prior processing and give negative effects. The purpose of this research is to know the performance of waste water treatment installations (IPAL) in the tofu factory Cilongok Village, district of Banyumas Regency Kalisari. The research method used quantitative descriptive. Wastewater sampling at the point of inlet tube reservoir, outlet tube outlet as well as the typical analysis for digester with the parameters examined were temperature, odour, pH, TSS and BOD. The method used was observational data collection with direct measurements in the field or in the laboratory as an informal interview. The results of this research indicates that the management process of waste water treatment installations (IPAL) Biolita IV were an aerobic – aerobic process included tube reservoir, outlet tube digester, tube gasholder and reactor buffle and the parameters of temperature and pH at outlet tube digester and tube outlet fulfilled Perda Jateng No. 10 of 2004. Suggestions for IPAL Biolita IV tofu factory Kalisari should repaired the tube reservoir neutrally pH parameter and completed the aerobic process at reactor buffle.
93569440P2EA12017PERLINDUNGAN HUKUM HAK CIPTA ATAS TARI TOPENG DAN SINTREN DI CIREBONTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perlindungan hukum hak cipta atas Tari Topeng dan Sintren di Cirebon dan mengetahui implementasi Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2012 tentang Perlindungan Kekayaan Intelektual atas Tari Topeng dan Sintren di Cirebon.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Hukum Alam dari John Locke dan Teori Utilitarianisme yang dikembangkan oleh Jeremy Bentham dikaitkan dengan folklor. Selain itu teori perlindungan hukum preventif, represif dan defensive.
Metode penelitian yang digunakan di dalam tesis ini adalah penelitian hukum normatif–empiris. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam, pada rumusan masalah pertama menggunakan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual dan pendekatan analisis serta purposive sampling untuk rumusan masalah yang kedua. Lokasi penelitian tesis ini dilakukan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah raga Kabupaten Cirebon, Taman Mini Indonesia Indah (Anjungan Jawa Barat) dan Perpustakaan Daerah Cirebon. Sumber data terdiri data primer merupakan data yang bersumber langsung dari informan dan data sekunder merupakan bahan hukum yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Metode pengumpulan data dalam penelinitian ini dengan studi kepustakaan dan penelitian lapangan melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk teks naratif yang disusun secara sistematis.
Hasil penelitian tentang perlindungan hukum hak cipta atas Tari Topeng dan Sintren di Cirebon yaitu : Perlindungan hukum preventif yaitu adanya Undang-undang Hak Cipta Nomor 19 Tahun 2002 khususnya diatur dalam pasal 10, Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2012 tentang Perlindungan Kekayaan Intelektual dan kebijakan-kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang berkaitan dengan folklor ; Perlindungan hukum represif yaitu upaya perlindungan hukum yang dilakukan oleh Negara jika ada klaim dari Negara lain atas folklor yang ada di Indonesia, oleh karenanya upaya inventarisasi dan dokumentasi yang telah disusun rapih dalam basis data oleh pihak Kementerian yang berwenang dapat dijadikan sebagai alat bukti dalam proses penyelesaian sengketa litigasi atau non litigasi ; Perlindungan hukum defensif yaitu inventarisasi dan dokumentasi folklor dengan menyusun basis data yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cirebon dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Implementasi Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2012 tentang Perlindungan Kekayaan Intelektual atas Tari Topeng dan Sintren di Cirebon belum efektif. Karena sampai saat ini pemerintah sebagai pembuat peraturan daerah belum memaksimalkan fungsinya, lembaga-lembaga pelaksana peraturan daerah yang bertindak sebagai tanggapan terhadap peraturan daerah kurang tanggap dalam melakukan perlindungan atas folklor serta seniman dan masyarakat setempat yang tidak paham mengenai perlindungan kekayaan intelektual tradisonal. Tari Topeng dan Sintren yang merupakan folklor di Cirebon belum mendapatkan perlindungan sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan dan diinventarisasi oleh dinas-dinas terkait yang berwenang menangani hak cipta atas folklor.
Rekomendasi kepada Pemerintah daerah Kabupaten Cirebon beserta Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cirebon hendaknya segera mendaftarkan Tari Topeng dan Sintren Cirebon sebagai warisan budaya nasional kepada pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai salah satu bentuk upaya inventarisasi terhadap folklor di Cirebon dan menyusun database lengkap dan rapih. Pemerintah Republik Indonesia agar segera membuat Undang-undang khusus tentang folklor dan terpisah dari UUHC guna menghindari pemahaman yang keliru antara hak cipta yang bersifat individual dengan folklor yang bersifat kolektif. Pemerintah juga segera membuat Peraturan Pemerintah sebagai aturan pelaksana dari UUHC sehingga membuat UUHC ini menjadi jelas dan membentuk lembaga khusus yang berwenang memegang hak cipta atas folklor yang ditunjuk oleh Negara, karena folklor merupakan konsep HKI yang dapat dikembangkan yaitu royalti yang didapat agar pembagian keuntungan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat tradisional jelas dan adil.
Pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon perlu membuat format peraturan daerah baru yang jelas mengenai perlindungan hukum hak cipta atas Tari Topeng dan Sintren di Cirebon, misalnya melalui pembentukan peraturan daerah yang secara khusus mengakomodir folklor yang ada di Kabupaten atau Kota Cirebon.
The purpose of research was to determine This thesis’ research focuses on two problems, are How the legal protection of copyright on the Topeng dance and Sintren at Cirebon, How the implementation of West Java Provincial Regulation No.5 of 2012 about The Protection of Intellectual Property on the Topeng dance and Sintren at Cirebon.
The theory used in this research is a theory of natural law from John Locke and utilititarianism theory developed by Jeremy Bentham associated with folklore. In addition, the theory of legal protection preventive, repressive and defensive.
The Research Method on this thesis is a normative-empirical legal research. The approximation method on this research are two kinds, on the first problem using a legislation approach, conceptual approach and analytical approach and purposive sampling for the second problem. The location of this research had conducted at The Ministry of Education and Culture of Indonesia Republic, Department of Tourism Culture Youth and Sports Cirebon, Taman Mini Indonesia Indah (West Java Platform) and Cirebon Regional Library. The Data Source consist of primary Data is a data that directly sourced from informant and secondary data is a legal substance consists of primary law substance, secondary law substance and tertiary law substance. The Collection Data Method on this research using literature study and field research through interview and observation. The result of this research are presented in the narative text form systematically arranged.
The research on the legal protection of Topeng dance and Sintren at Cirebon is Preventive Legal Protection is a regulation made by central and local government related to folklore including copyright laws number 19 of 2002 especially arranged in section 10, local regulation of West Java Province Number 5 of 2012 about Intellectual Property Protection and both central and local government policies that related to folklore ; Represive Legal Protection is a legal protection effort undertaken by the state in case there are claims of the other states upon Indonesia folklore, therefore inventory and documentary effort which has been arranged neatly in database by the competent ministry referable an evidence in settlement process of litigation or non litigation dispute ; Defensive Legal Protection is an inventory and documentary of folklore with a database which has been settled in legislation by The Department of Culture, Tourism, Youth and Sports Cirebon and The Ministry of Education and Culture of Indonesia Republic. The implementation of Local Regulation of West Java Province Number 5 of 2012 about Intellectual Property Protection on Topeng dance and Sintren at Cirebon still not effective yet. Because until this time, Government as local regulator not maximize the function, the implementer institutes of local regulation whom act as a response to local regulation not respond enough in doing protection on folklore and artist and local society who do not understand about traditional intellectual property protection. Topeng dance and Sintren which are a folklore at Cirebon not get the protection yet as a culture heritage that need to be preserved and inventoried by relevant departments that competent to deal with folklore’s copyright.
Recommendations to the Government of Cirebon area along with the Department of Culture, Tourism, Youth and Sports should immediately register the Cirebon Topeng dance and Sintren Cirebon as a national cultural heritage to the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia as one of the efforts in Cirebon inventory of folklore and compiled a database complete and neat. The Government of the Republic of Indonesia to immediately make a special Act of folklore and apart from UUHC to avoid misunderstanding between the individual copyright to the collective folklore. The government also immediately make government regulation as the implementing rules of UUHC so make this clear UUHC and establish special institutions authorized folklore holds the copyright to that assigned by the State, because folklore is a concept that can be developed which IPR royalties earned that profit sharing between the government central, local government and traditional societies is clear and fair. Cirebon regency administration needs to create a new format that is clear local regulations regarding the protection of copyright law on Topeng dance and Sintren in Cirebon, for example through the establishment of local regulations that specifically accommodate the folklore that exist in the District or City of Cirebon
935711960D1E011182INDEKS ERITROSIT DARAH KELINCI SETELAH UJI TANTANG DENGAN Eimeria stiedae.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks eritrosit darah kelinci dengan mengukur Mean Corpuscullar Volume (MCV), Mean Corpuscullar Hemoglobin (MCH) dan Mean Corpuscullar Hemoglobin Concentration (MCHC) pada kelinci New Zealand White. Penelitian menggunakan metode eksperimen. Dua puluh lima kelinci New Zealand White jantan umur 3 bulan dengan bobot badan 2 kg diteliti dan dibagi dalam 5 kelompok perlakuan yaitu D0 : infeksi 0 (kontrol tanpa infeksi dan tanpa uji tantang), D1 : infeksi 101 dengan uji tantang 103, D2 : infeksi 102 dengan uji tantang 103, D3 : infeksi 103 dengan uji tantang 103, dan D4 : infeksi 0 dengan uji tantang 103 (kontrol uji tantang). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi. Indeks Eritrosit MCV, MCH dan MCHC digunakan sebagai variabel pengamatan. Hasil yang diperoleh dari penelitian dari perlakuan D0, D1, D2, D3, dan D4 berturut-turut adalah MCV 67.82-71.66 µ3/ fl, kadar MCH 20.04-22.94µµg/ pg dan kadar MCHC 28.10- 32.62%. Terjadi peningkatan dan penurunan jumlah indeks eritrosit namun masih dalam rentang jumlah normal. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa nilai MCV dan MCH pada kelinci New Zealand White jantan tidak dipengaruhi oleh tingkat infeksi pada saat uji tantang dengan Eimeria stiedae, sedangkan nilai MCHC pada kelinci New Zealand White jantan meningkat setelah uji tantang dengan Eimeria stiedae.This study aims to determine the blood erythrocyte index Mean Corpuscullar rabbit by measuring the volume (MCV), Mean Corpuscullar hemoglobin (MCH) and Mean Corpuscullar Hemoglobin Concentration (MCHC) in New Zealand White rabbits. Research using experimental methods. Twenty-five New Zealand White male rabbits aged 3 months to 2 kg body weight investigated and divided into 5 groups, namely D0: infection 0 (control without infection and without challenge test), D1: 101 infection with a challenge test 103, D2: infection 102 with 103 challenge test, D3: 103 infections with the challenge test 103, and D4: 0 infection with 103 challenge test (control challenge test). The result was analyzed using analysis of variance. Erythrocyte indices MCV, MCH and MCHC used as observation variables. Results obtained from the study of the treatment of D0, D1, D2, D3, and D4 are respectively the MCV 67.82-71.66 μ3 / fl, MCH levels 20.04-22.94μμg / pg and MCHC levels of 28.10- 32.62%. There was an increase and a decrease in the number of red cell indices but still within the range of the normal amount. Results of analysis of variance showed that the value of MCV and MCH in New Zealand White male rabbits was not affected by the level of infection at the time of challenge test with Eimeria stiedae, while the value of MCHC in New Zealand White male rabbits increased after challenge test with Eimeria stiedae.
93589441B1J007179Diversitas Echinodermata di Pantai Solok Ipah Adipala Cilacap: Bintang Laut (Asteroidea) dan Bintang Mengular (Ophiuridea) Informasi mengenai diversitas Echinodermata terutama dari kelompok Asteroidea dan Ophiuroidea dari perairan Selok Ipah Adipala Cilacap sangat dibutuhkan sebagai informasi dasar untuk usaha konservasi ekosistem perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diversitas dan pola sebaran, serta mengetahui komposisi species, kepadatan species, dan kepadatan relatif Echinodermata dari classis Asteroidea (bintang laut) dan Ophiuridea (bintang mengular) di Pantai Selok Ipah Adipala Cilacap. Metode yang digunakan adalah survey dan teknik belt transect digunakan untuk pengambilan sampel. Transek dengan panjang 10 m dan lebar 1 m digunakan untuk pengambilan sampel sebanyak 3 ulangan. Ditemukan 5 spesies yang terdiri atas 4 species dari kelas Asteroidea yaitu Protoreaster nodosus, Nardoa rosea, Culcita novaeguineae, dan Archaster typicus, serta satu spesies dari kelas Ophiuridea yaitu Ophiolepis superba. Tipe sebaran filum Echinodermata pada stasiun A berdasarkan indeks variansi yaitu 0,23 < 0,3 yang bermakna mengelompok sedangkan tipe sebaran filum Echinodermata pada stasiun B berdasarkan indeks variansi yaitu 0,5 = 0,5 yang bermakna seragam. Indek diversitas Shanon-Wiener H' pada stasiun 1 yaitu 1,098 artinya keanekaragaman yang dimilliki pada lokasi A adalah sedang, pada stasiun 2 yaitu 0,95 artinya keanekaragaman yang dimiliki pada lokasi B dinilai rendah dengan tingkat dominansi yang dimiliki yaitu 0,21.

Kata kunci : diversitas, Echinodermata, Asteroidea, Ophiouridea, Selok Ipah
Biodiversity information of the phylum Echinodermata especially classes Asteroidea and Ophiuroidea from Selok Ipah beach Adipala Cilacap is needed as the basic information for the future coastal waters conservation. This study aims to determine the diversity and species distribution patterns, species composition, species density, and species relative density of the classis Echinodermata, Asteroidea (starfish) and Ophiuridea (brittle stars), in Selok Ipah beach. The research method used was a survey and belt transect sampling technique used for sample collection. Three replicates of belt transect with a lenght of 10 m and 1 m width is. Five (5) species were found consisting of; 4 species of the classis Asteroidea Protoreaster nodosus, Nardoa rosea, Culcita novaeguineae, and Archaster typicus, as well as one species of the classis Ophiuridea, Ophiolepis superba. Echinodermata distribution at station A based on the variance index is 0.23 <0.3 or clumped distribution, while station B is 0.5 = 0.5 which means uniform distribution. The Shannon-Wiener diversity index H' at station 1 is 1,098 means moderate diversity in location A, and at station 2 is 0.95, means that diversity in location B is considered low, while the dominance index (Simpson’s) is quite low at 0.21.

Keywords: diversity, Echinodermata, Asteroidea, Ophiouridea, Selok Ipah
93599442B1J009135ANALISIS STRUKTUR KOMUNITAS DAN BIOMASSA
VEGETASI MANGROVE PADA AREA RESTORASI
DI SEGARA ANAKAN CILACAP
Mangrove adalah tumbuhan yang khas berada di air payau pada tanah lumpur di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Segara Anakan merupakan satu kawasan hutan mangrove yang terletak di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah dengan kondisi sebagian besar mengalami kerusakan sehingga perlu segera direstorasi dan dikelola dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas dan biomassa vegetasi mangrove serta mengetahui perubahannya pada area restorasi yang berbeda di Segara Anakan, Cilacap. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode survey dengan teknik pengambilan sampel secara cluster sampling. Titik plot sampling dibuat pada 5 stasiun berdasar tahun restorasi. Mangrove pada area restorasi tersusun atas 17 spesies dari 10 famili. Kategori pohon banyak dijumpai pada area waktu restorasi 10-11 tahun dan 7-8 tahun. Kategori anakan pohon banyak dijumpai pada area waktu restorasi 7-8 tahun. Kategori semak, semai, dan herba banyak dijumpai pada area waktu restorasi 1-2 tahun. Biomassa vegetasi mangrove pada area restorasi mempunyai nilai rata-rata biomassa pada kategori pohon 296,63 kg/100m2 dan biomassa pada kategori anakan pohon 14,93 kg/25m2. Struktur komunitas dan biomassa vegetasi mangrove pada area restorasi memiliki perbedaan berdasarkan kedekatan kesamaan, yaitu untuk struktur komunitas kategori pohon memiliki kesamaan antara 0,7 % – 100 %, biomassa pada kategori pohon memiliki kesamaan antara 4,72 % - 100 %. Struktur komunitas kategori anakan pohon memiliki kesamaan antara 1,49 % - 77,17 %, biomassa pada kategori anakan pohon memiliki kesamaan antara 3,27 % - 77,45 %. Sruktur komunitas kategori semai, semak, dan herba memiliki kesamaan antara 23,11 % - 56,07 %, sedangkan biomassa pada kategori semai, semak, dan herba tidak dapat dihitung karena perhitungan biomassa melalui diameter setinggi dada.Mangroves are plants that are typical of brackish water on the ground in the mud in the coastal areas and estuaries are influenced by the tide. Segara Anakan is a mangrove forest located in Cilacap, Central Java, with the condition that most of the damage needs to be restored and managed properly. The purpose of this study was to determine the community structure and biomass of mangrove vegetation and determine the changes in the different restoration sites in Segara Anakan, Cilacap. The research method is a survey method with cluster sampling technique of sampling. Sampling plot point was made at 5 stations based on years of restoration. Mangrove restoration in an area composed of 17 species from 10 families. Category trees are often found in the area of restoration time 10-11 years and 7-8 years. Category saplings are often found in areas of restoration time of 7-8 years. Category seedlings are often found in the area of restoration time of 1-2 years. Biomass of mangrove vegetation in the restoration area has an average value in the category tree biomass and biomass kg/100m2 296.63-14.93 kg/25m2 category tree saplings. Community structure and biomass of mangrove vegetation at restoration sites based on proximity similarities differences, the category tree structures have a common community between 0.7 % - 100 %, biomass at the tree have in common categories between 4.72 % - 100 %. Community structure have the same category saplings between 1.49 % - 77.17 %, biomass on seedling categories have in common between 3.27 % - 77.45 %. Community structures that category have in common between 23.11 % - 56.07 %, where as the biomass in the category of seedlings can not be calculated because the calculation of biomass by diameter at breast height.
936010764F1A008056Melestarikan Tradisi Melawan Globalisasi
(Studi DeskriptifPelestarian Permainan TradisionalDalam Upaya PengembanganBudaya Lokal di TengahTerpaan Globalisasi diKabupatenBanyumas)
Penelitian berjudul “Melestarikan Tradisi Melawan Globalisasi, Studi Deskriptif Pelestarian Permainan Tradisional dalam Upaya Pengembangan Budaya Lokal di Tengah Terpaan Globalisasi di Kabupaten Banyumas” ini merupakan uraian deskriptif atas redupnya permainan tradisional atau “dolanan bocah”. Penelitian ini untuk mengidentifikasi kembali eksistensi permainan tradisional dan merancang strategi untuk mengembangkan permainan tradisional. Penelitian ini menunjukan Di Kabupaten Banyumas ini terdapat setidaknya ada 425 lebih ragam permainan anak tradisional di Kabupaten Banyumas. Namun, saat ini dikenal secara luas oleh masyarakat tidak lebih dari 18 permainan saja, seperti benthik, gobak sodor, sunda manda, dan lain-lain. Strategi pelestarian dilakukan secara aspek materialnya adalah dengan penyimpanan. Kemudian pelestarian secara dinamis, yakni, dengan mengajarkan bagaimana unsur kebudayaan tersebut digunakan atau dimainkan. Pelestarian secara dinamis ialah dengan mengadakan lomba atau festival penggunaan dan pementasan suatu permainan permainan tradisional tertentu yang dibarengi dengan pemberdayaan masyarakat.

The research entitled “Insure Preserving Tradition against Globalization, A Descriptive Study of Traditional Games Preserve in The Attempt of Local Culture Development in Globalization Era in Banyumas Regency” is a descriptive explanation about diminished traditional games or “dolanan bocah” in local which now have been played rarely by kids in Banyumas regency as the impact of globalization. The purpose of this research is to re-identify the traditional games’ existence and draw up strategies in developing them in Banyumas regency. The result of the research shows hundred kinds of traditional game spread in entire regency. In fact, not less than 425 different kinds of game exist in Banyumas regency. Unfortunately, from all af the hundred games, not more than eighteen games that have well-known by the locals recently such as benthik, gobak sodor, sunda manda, and others. Documentation through for material aspect itself another preserving step that must have done is saving.. The preserving effort also can be done dynamically by teaching how those elements can be used or played. Another dynamic preserving can be done is by holding a certain traditional game’s race or festival while making use of society capacity.