Artikelilmiahs

Menampilkan 9.181-9.200 dari 48.918 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
918110724H1C010031RANCANG BANGUN SISTEM PENDETEKSI PENYAKIT PADA ANAK DENGAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)Kesehatan merupakan hal yang berharga bagi manusia, karena siapa saja dapat mengalami gangguan kesehatan. Anak sangat rentan terhadap kuman penyakit dan kurangnya kepekaan terhadap gejala suatu penyakit merupakan ketakutan tersendiri bagi orang tua. Orang tua merupakan orang awam yang kurang memahami kesehatan. Dengan menggunakan metode AHP (analytic Hierarchy Process) akan membantu dalam mendiagnosa penyakit yang dialami seorang anak. Metode AHP bekerja dengan memberikan pembobotan prioritas baik antar gejala maupun antar penyakit per gejala. Metode AHP dalam bentuk pengisian kuisioner yang diisi oleh user ini memiliki tingkat akurasi 87% dengan perbandingan diagnosa dokter pada praktek nyata di lapangan. Keluaran sistem ini berupa tiga tingkatan prioritas penyakit yang dialami pasien sesuai gejala yang diinputkan.Health is a valuable thing for humans, because anyone can experience health problems. Children are very susceptible to germs and lack of sensitivity to the symptoms of a disease is its own fear for parents. Parents are ordinary people who do not understand the health. By using AHP (Analytic Hierarchy Process) will assist in the diagnosis of disease experienced by a child. AHP method works by giving priority weighting, both among and between disease symptoms per symptom. AHP method in the form of filling the questionnaire filled out by the user has an accuracy rate of 87% with a ratio of the doctor's diagnosis on the actual practice in the field. The output of this system in the form of three priority levels of disease symptoms experienced by the patient as the input.
91829348B1J007049STUDI KARAKTERISTIK ANATOMI DAUN BEBERAPA
KULTIVAR UBI JALAR (Ipomoea batatas L.)
DI PURWOKERTO
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan karakter anatomi daun dan untuk mengetahui perbedaan karakter anatomi daun dari masing-masing kultivar ubi jalar. kultivar yang diamati adalah ‘Cangkuang’, ‘Cilembu’, ‘Kidal’, ‘Sukuh’ dan ‘Ungu Tua’. penelitian ini menggunakan metode embedding dengan pewarna safranin 1% dalam alkohol 70%. variabel yang diamati adalah karakter anatomi daun dengan parameter tebal kutikula, epidermis, mesofil, ukuran stomata, serta jumlah stomata dan trikomata.The aims of this research were to determine the anatomical characteristics and to determine differences of anatomical characteristics of the leaves of some cultivars of sweet potato (Ipomoea batatas L.). Five cultivars used to research are ‘Cangkuang’, ‘Cilembu’, ‘Kidal’, ‘Sukuh’ and ‘Ungu Tua’. The embedding method with 1% safranin staining in 70% alcohol used to making preparations of leaf anatomy. The variables measured were leaf anatomical characters with parameters of thick leaf cuticle, epidermis, mesophyll of leaves, the size and number of stomata and number of trikomata per 1 mm2 leaf area. There were no differences in the anatomical structure of the leaf but there were a difference in the size of epidermis, mesophyll, stomata and the number of stomata and trikomata.
918311106C1A011072Analisis Variabel-Variabel yang Berpengaruh Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Pengangguran Di Provinsi Jawa Tengah (Periode Tahun 2008-2012)Penelitian ini berjudul “Analisis Variabel-Variabel yang Berpengaruh Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Pengangguran di Jawa Tengah (Periode Tahun 2008-2012)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel terhadap produktivitas tenaga kerja dan pengangguran di Jawa Tengah pada tahun 2008-2012. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan data sekunder pada 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah selama tahun 2004-2012. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis model persamaan simultan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel yang berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja dan pengangguran di Jawa Tengah serta untuk melihat pengaruh variabel-variabel yang berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja dan pengangguran kabupaten/kota di Jawa Tengah digunakan regresi data panel.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan (1) hasil regresi data panel dengan Random Effect Model dapat diketahui bahwa variabel pendidikan dan kesehatan berpengaruh secara bersama-sama dan signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja di Jawa Tengah pada tahun 2008-2012. (2) hasil regresi data panel dengan Fixed Effect Model dapat diketahui bahwa variabel produktivitas tenaga kerja, PDRB, investasi, kesempatan kerja berpengaruh secara bersama-sama dan signifikan terhadap pengangguran di Jawa Tengah pada tahun 2008-2012. Sedangkan variabel angka beban tanggungan penduduk, upah dan inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap pengangguran di Jawa Tengah pada tahun 2008-2012. Variabel pendidikan dan kesehatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas dengan koefisien regresi 242.047,3 dan 983.221,9. Variabel produktivitas tenaga kerja, PDRB, dan investasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pengangguran dengan koefisien regresi -0,004066; -0,005065; dan -0,000003. Variabel upah, angka beban tanggungan penduduk, daniflasi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pengangguran dengan koefisien regresi 0,011; 3,1707, dan 132,624. Variabel kesempatan kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pengangguran dengan koefisien regresi -357,9082.
Kebijakan-kebijakan yang dapat disarankan dari hasil penelitian ini antara lain yaitu pemerintah perlu meningkatkan kualitas pendidikan dan anggaran untuk kesehatan masyarakat. Kebijakan-kebijakan lain yang dapat diambil antara lain yaitu meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pembukaan lapangan kerja atau investasi terutama pada sektor riil. Sedangkan, untuk meningkatkan iklim investasi yang kondusif, pemerintah perlu menetapkan regulasi-regulasi tentang cara dan persyaratan investasi yang mudah diterima oleh para investor. Selain itu, untuk meningkatkan kerjasama yang harmonis antara pemerintah, swasta dan masyarakat diperlukan kebijakan yang benar-benar dapat mensinkronkan antara kepentingan pengusaha dan pekerja dalam penetapan upah minimum regional kabupaten/kota.
This study is entitled “The Analysis of Variables that Influence Labor Productivity and Unemployement in Central Java (period of 2008–2012)”. The purpose of this study is to find out the variables that influence the effect to labor productivity and unemployement in Central Java, period of 2008-2012). This study is descriptive qualitative with the secondary data from 35 regions in Central Java, during 2004 – 2012. The analysis tool used in this study is simultaneous equivalent model to observe some the influence of variables that to labor productivity and unemployment variables in Central Java and also to observe variables influence to labor productivity and unemployment in regional area in Central Java by using regression panel data.
Based on the observation showed that (1) the result of regression panel data with random effect model is known that the education and health variables are in accordance significantly to the labor productivity in Central Java in 2008-2012. (2) The result of regression panel data with fixed effect model show that human resource productivity, PDRB, investation, the employment opportunities variables are in accordance significantly to the unemployment in Central Java 2008-2012. Meanwhile, the burden borne of population, salary and inflation variables are not significantly influence to the unemployment in central java in 2008-2012. Education and health variables influence positively and significantly to the labor productivity with the coefficient of 242.047,3 and 983.221,9 the labor productivity, PDRB and investation variables are negatively influence to the unemployment with the coefficient -0,004066; 0,005065 and -0,000003. Wage, the burden borne of population and inflation influence positively and not significant to the unemployment with the coefficient regression 0,011; 3,1707 and 132,624. Employment opportunities variable negatively influence to the unemployment with the coefficient regression -357,9082.
The policies that are proposed for this study is that government should increase education quality and health funding for the citizen. Other policies are increasing citizen income by increasing job demand or investation, mainly at real sector. Furthermore, to increase conductively investation climate, government should implement regulation on infrastructure and investation requirement that easily accepted by investor. Another way, to build a harmony corporation among, government, private and society, there should be a firm policy among those who are involved and the human resource on determining the minimum regional/city income.
918411490C1K011007FACTORS AFFECTING FIRM’S PERFORMANCE
(A CASE STUDY OF MINING FIRMS LISTED ON THE INDONESIA
STOCK EXCHANGE)
Penelitian yang berjudul: “Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Perusahaan Pada Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia” dilakukan di Bursa Efek Indonesia. Adapun tujuan utama penelitian ini
adalah untuk mengetahui dan menganalisis lebih dalam mengenai pengaruh
strategi perusahaan, struktur modal, ukuran perusahaan dan resiko bisnis terhadap
kinerja perusahaan. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: 1)
strategi perusahaan berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. 2) Struktur
modal berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan. 3) Ukuran perusahaan
berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. 4) Resiko bisnis berpengaruh
positif terhadap kinerja perusahaan.
Penelitian ini mengunakan metode purposive sampling dalam
pengambilan sampel sesuai dengan kebutuhan penelitian. Jumlah perusahaan yang
memenuhi syarat adalah 14 perusahaan pertambangan. Regresi linear berganda
digunakan untuk menguji apakah strategi perusahaan, struktur modal, ukuran
perusahaan dan resiko bisnis mempengaruhi kinerja perusahaan.
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa strategi perusahaan dan resiko
bisnis berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan. Sedangkan
struktur modal dan ukuran perusahan tidak berpengaruh secara signifikan.
Perusahaan dengan strategi yang bagus dengan mudah mendapatkan
keuntungan dan dengan resiko bisnis yang tinggi diharapkan perusahaan lebih
matang dan siap untuk menghadapi tantangan selanjutnya dalam persaingan
bisnis. Hal ini menjadi pertimbangan para investor sebelum mereka mengambil
keputusan investasi.
Research entitled: “Factors Influencing Firm’s Performance in Mining
Companies Listed on Indonesia Stock Exchange (IDX)” was conducted at
Indonesia Stock Exchange. The main objective of this study is to determine
factors influence firm performance in mining companies listed on Indonesia Stock
Exchange (IDX). These researches analyze the effect of corporate strategy, capital
structure, firm size and business risk on firm performance. The hypotheses
proposed in this research were: 1) Corporate strategy positively affected on
company’s performance. 2) Capital structure negatively affected on company’s
performance. 3) Firm size positively affected on company’s performance. 4)
Business risk positively affected on company’s performance.
This research used purposive sampling method in selecting samples in line
with research objectives. The total samples consisted of 14 mining firms which
were chosen based on certain criteria. Multiple linear regression analysis was
applied to examine weather corporate strategy, capital structure, firm size and
business risk affecting firm performance.
Based on the results show that corporate strategy and business risk has a
positive effect and significant on firm performance, while capital structure and
firm size are not significant.
Company with good corporate strategy is easier to reach profitability and
with the high business risk, company is expected to more capable and ready to
face the next challenging business competition. This result could be considered to
investors before they take investment decisions.
918511593F1D008046PERAN PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI TAHU TEMPE DI DESA KALISARI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan peran pemerintah dalam pengembangan industri tahu tempe Kalisari, mengetahui dampak ekonomi politik dalam pengembangan industri tahu tempe kalisari, mengetahui faktor-faktor mendukung dan menghambat pengembangan industri tahu tempe Kalisari, mengetahui pihak diuntungkan dan dirugikan dalam pengembangan industri tahu tempe Kalisari.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, obeservasi, dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Keabsahan data menggunakan triangulasi.
Hasil penelitian ini adalah peran pemerintah dalam pengembangan industri tahu tempe Kalisari sudah ada, dilihat dari penerapan program stabilisasi harga kedelai, sayangnya hanya dirasakan satu kali oleh perajin tahu tempe Kalisari. Tentang penyaluran pinjaman dana kredit bergulir, pemerintah masih kurang karena proses birokrasi menyulitkan bagi pengusaha industri. Strategi pengembangan melalui pembinaan, pelatihan, dan monitoring masih kurang. Hal ini dilihat dari tidak semua pengusaha tahu tempe merasakan. Dampak positif ekonomi: stabilisasi harga kedelai, meningkatkan pendapatan asli daerah, mengurangi tingkat pengangguran, dan peningkatkan kualitas produk. Dampak negatifnya: ketergantungan perajin terhadap pemerintah dan pemerintah terus mengalokasikan anggaran APBD untuk pengembangan industri tahu tempe. Faktor penghambat: kesulitan bahan baku, ketersediaan modal, tingkat pendidikan pekerja. Faktor pendukung: pengembangan memberikan informasi, keterampilan, dan inovasi. Pihak diuntungkan: pemerintah, perajin tahu tempe kalisari. Pihak dirugikan: perajin tahu tempe yang tidak tergabung dalam kelompok.

This research aims to understand and described government role in development of industry tahu tempe Kalisari, to know impact economi political in development of industry tahu tempe Kalisari, to know factor cumberer and endorser in development of industry tahu tempe Kalisari, and to know gainers and losers in development of industry tahu tempe Kalisari.
This research used qualitative research methods through case study approach and used purposive sampling and snowball sampling technique as the selection of informants. The technique of collecting data using interviews, observation, documentation. Data were analyzed using data collection, data reduction, data presentation, drawing conclusions. The validity of the data using triangulation.
The conclusions of the research are the government role in development of industry already is done. From the determination of Stabilization Program Soybean Prices, Unfortunately This policy only felt one times by crafters. About channeling loans revolving credit fund, the Government still less because of the bureaucratic process difficult for industry entrepreneur. Strategy of development through coaching, training, and monitoring are still lacking. It is seen from not all entrepreneurs crafters felt. Positive impact: Soybean price stabilization, the original area increase revenues, reduce the level of unemployment, and incresing the quality of products. Negative impacts: dependence of crafters to the Government, and the Government will continue to allocate a budget APBD for the development of industry. Inhibiting factors: difficulty in raw material, availability of capital, the educational level of the workforce. Supporting factors: the development is expected to provide information, skills, and innovation crafters. Those who benefitted are the government and crafters. Aggrieved parties are crafters which are not incorporated in the group crafters.




91869351B1J010224STUDI POPULASI KERANG TOTOK Polymesoda erosa PADA AREA RESTORASI MANGROVE DI SEGARA ANAKAN CILACAPEkosistem mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut. Segara Anakan merupakan suatu ekosistem mangrove dengan sebuah laguna pada bagian tengahnya dengan koordinat 07°34’29.42” – 07°47’32.39” LS dan 108°46’30.12”– 109°03’21.02” BT yang luas wilayahnya mencapai 34.018 ha. Namun, luas mangrove di Segara Anakan Cilacap sekarang ini ± 8.495 ha akibat adanya sedimentasi. Hal ini dapat menyebabkan perubahan populasi P. erosa karena secara tidak langsung kerang ini bergantung pada ekosistem mangrove sebagai habitat dan tempat mencari makanan. Salah satu upaya perbaikan kerusakan ekosistem yang lebih lanjut, beberapa pihak telah melakukan perbaikan ekosistem melalui restorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui populasi kerang totok P. erosa pada area restorasi mangrove segara Anakan Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara acak terkelompok (Clusters Random Sampling) dengan pengelompokan berdasar tahun restorasi mangrove. Pola pertumbuhan dianalisis dengan rumus pertumbuhan dengan perbandingan panjang dan berat. Struktur populasi dan pola distribusi spasial P. erosa dianalisis secara deskripsi dengan indeks variansi Spellerberg. Rasio kelamin dianalisis dengan menentukan perbandingan jumlah individu jantan dan betina. Perubahan populasi P. erosa dianalisis secara deskriptif yang disajikan dalam grafik dengan cara membandingkan data tahun sebelumnya. Korelasi faktor lingungan terhadap populasi P. erosa dianalisis menggunakan analisis BIOENV software Primer 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pertumbuhan P. erosa adalah allometrik negatif, yang berarti pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan pertambahan berat. Dari 5 stasiun pengambilan sampel diperoleh sebanyak 182 individu jantan dan 113 individu betina dengan rasio kelamin yaitu 182:113. Populasi P. erosa memiliki nilai kepadatan mencapai 15,77 ind.m-² dan memiliki pola distribusi mengelompok (aggregate). Korelasi faktor lingkungan yang memiliki pengaruh cukup tinggi terhadap populasi P. erosa adalah pH, kandungan air dalam tanah, dan salinitas. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien tertinggi yaitu 0,721.Mangrove ecosystem is a tropical coastal vegetation communities dominated by several types of mangrove trees that grow in tidal areas. Segara Anakan is a mangrove ecosystem with a lagoon, geographic position at 07°34'29.42"–07°47'32.39" S and 108°46’30.12”– 109°03’21.02” E and has total areas reached of 34,018 ha. However, the present areas of the Segara Anakan mangrove is only ± 8,495 ha due to sedimentation. This can lead to change P. erosa populations since these shell sare indirectly dependent on the mangrove ecosystem as habitat and feeding ground. Some parties hade restored the mangrove forest in Segara Anakan Lagoon in order to repair the ecosystem. The aim of this study were to know the P. erosa population at Cilacap mangrove restoration areas. A survey method was used with Clusters Random Sampling. The areas were grouped based on the time of restoraion (year of restoration). Growth patterns were analyzed by growth formula with the length and weight ratio. Sex ratios were analyzed by determining the ratio of individual males and females. Structure and population distribution patterns were analyzed with the index variance Spellerberg description. Correlation factor of the population P.erosa were analyzed by BIOENV software Primer 5. The result of this study is growth pattern of P. erosa at the entire study sites were negatively allometric, where the length was growth faster than the weight. Five sampling stations was obtaine das 182 males and 113 females with a sex ratio of are 182:113. The population density of P. erosa is 15.77 ind.m-², with distribution pattern are aggregate. The results of the analysis showed environmental correlation factors on the population of P. erosa that have a high enough influence on the population of P. Erosa is pH, water content in the soil, and salinity. It can be seen from the highest coefficient value 0.721.
91879350B1J007009VARIASI MORFOLOGI TANAMAN BUNGA TASBIH (Canna indica L.) DI KOTA PURWOKERTO DAN SEKITARNYATanaman bunga tasbih (Canna indica L.) merupakan tanaman herba, bentuk tanaman bunga tasbih adalah berumpun. Tanaman ini memiliki beberapa karakter morfologi yang bervariasi pada beberapa bagianya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi morfologi tanaman bunga tasbih. Metode yang digunakan adalah survei dengan pengambilan sampel secara acak terpilih di Kota Purwokerto dan sekitarnya. Data dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui perbedaan karakter visual antar tanaman bunga tasbih. Materi yang diteliti meliputi Canna merah, Canna oranye dan Canna kuning. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa;1) Bunga tasbih merah memiliki variasi morfologi pada ukuran daun, staminodia, putik, dan kepala sari; 2) bunga tasbih oranye memiliki variasi morfologi pada ukuran daun, buah, dan staminodia; 3) Bunga tasbih kuning memiliki variasi morfologi pada ukuran daun, buah dan staminodiannya.

The purpose of research was to determine the variation indian shot. The method used was a survey with a randomly selected sampling in Purwokerto and surround areas. Data were analyzed descriptively to determine the visual character differences between plants flower beads. The material studied included Canna indica L. ‘red’, Canna indica L. ‘orange’ and Canna indica L. ‘ yellow’. These results indicate that: 1) Flower Canna indica L. ‘red’ rosary has a morphological variation in leaf size, staminodes, pistil, and anthers; 2) Flower Canna indica L. ‘orange’ have morphological variation in the size of the leaves, fruit, and staminodes; 3) Flower Canna indica L. ‘yellow’ have morphological variation in the size of the leaves, fruit and staminodes.
91889352H1D009021EFEK PERUBAHAN BATHIMETRI TERHADAP SEBARAN SALINITAS DI LAGUNA SEGARA ANAKAN (KABUPATEN CILACAP)Segara Anakan adalah sebuah laguna yang terletak di Kabupaten Cilacap Propinsi Jawa Tengah. Dari perspektif Lingkungan Hidup, Laguna tersebut merupakan suatu ekosistem unik yang terdiri dari badan air (laguna) bersifat payau, hutan mangrove dan lahan rendah yang dipengaruhi pasang surut,yang berfungsi sebagai tempat hidup beraneka ragam hayati (biota).Kehidupan biota laut ini sangat tergantung pada kualitas air laut yang salah satu penentunya adalah salinitas air laut. Salinitas dibawa oleh arus masuk dan keluar laguna oleh peristiwa pasang surut.Pada kenyataannya Laguna Segara Anakan pada saat ini mengalami kerusakan ,pendangkalan dan pengurangan volume akibat sedimentasi, dengan kondisi ini pasti keadaan bathimetri juga akan berubah dan mempengaruhi arus yang masuk dan akan mempengaruhi nilai salinitasnya.Maka perlu adanya analisis mengenai efek perubahan bathimetri Laguna Segara Anakan terhadap sebaran salinitasnya.
Salinitas sangat terpengaruh oleh peristiwa pasang surut ,oleh sebab itu pengukuran salinitas disertai juga dengan pengukuran pasang surut .Pengukuran ini dilakukan selama 15 hari di dermaga Klaces dan dermaga Majingklak. Pengukuran pasang surut menggunakan alat papan berskala dan salinitas menggunakan refraktometer. Analisis Salinitas diasumsikan sama dengan analisis pasang surut karena salinitas dibawa oleh arus yang disebabkan peristiwa pasang surut menggunakan perhitungan passang surut metode Least Square. Hasil analisis kemudian dibandingkan dengan data peneliti terdahulu yaitu data 2006.
Bathimetri Laguna Segara Anakan terbaru tahun 2013 dibandingkan dengan bathimetri terdahulu tahun 2006 mengalami perubahan dengan munculnya pulau baru , sedangkan volume sedimen selama kurun waktu tujuh tahu sebesar 6.961.707,20 m3(Adi Gunawan ,2013).Dengan adanya perubahan bathimetri tersebut dari hasil analisis salinitas juga ikut berubah rata-rata salinitas tahun 2006 sebesar 14,383 ‰ dan tahun 2013 sebesar 12,316 ‰,sedangkan standar deviasi nya tahun 2006 sebesar 9,9709 dan tahun 2013 sebesar 8,366. Dari hasil analisis nilai keragaman salinitas menurun menunjukan perubahan bathimetri sangat berpengaruh pada sebaran salinitas.Penelitian ini menyimpulkan perlu adanya normalisasi laguna Segara Anakan untuk mengembalikan ekosistem biota agar lebih baik.
Segara Anakan is a lagoon which is located in Cilacap, Central Java. By environmental prespective, lagoon is an unique ecosystem that consist of brackish water, mangrove forest, and low land, which is influenced by tide and subside, that has function as place to live many kinds of creatures. Their life very depend on quality of sea water, which is determined by salinity of sea water. Salinity is carried by inflow and outflow of lagoon, while tide and subside phenomenon. In fact, now days, Lagoon of Segara Anakan suffers damage, silting up, and deacreases in volume as a result of sedimentation, because of its condition, exactly bathymetric condition also changes and influences inflow and influences salinity value. So, it is important to analyze the effect of changes in bathimetri of Lagoon of Segara Anakan toward the spread of salinity.
Salinity is very influenced by tide and subside phenomenon, because of it, beside salinity measuring also followed by tide and subside measuring. These measuring have done for 15 days in Klaces and Majingklak pier. Tide and subside measuring used scale board tool and refractor for salinity. Salinity analysis was assumed same as tide and subside analysis because salinity is carried by flow which is caused by tide and subside phenomenon, used tide and subside mesuring with Least Square methode. The result of analysis, then compared to the last resercher data in 2006.
The newest bathymetric of Lagoon of Segara Anakan in 2013 compared to the last bathymetric in 2006 suffers change with new island appears, whereas sediment volume for 7 years is 6,961,707.20 m3(Adi Gunawan ,2013). Because of the change, the result of salinity analysis also change the average salinity in 2006 is 14,383 ‰ and in 2013 is 12,316 ‰meanwhile the standard of devisiation in 2006 is 9,9709 and in 2013 is 8,366. From the analysis result of salinity variety value which is decrease show the bathimetri change very influences in salinity spread. This reaserch conclude that need a normalisation in Lagoon of Segara Anakan to return the better biota ecosystem.
918910725D1E010048KUANTITAS DAN KUALITAS EMBRIO HASIL SINKRONISASI ESTRUS DAN ESTRUS ALAM PADA SAPI ANGUS SECARA INVIVOTujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan jumlah total embrio dan kualitas embrio hasil sinkronisasi estrus dan estrus alam pada sapi Angus secara invivo. Dilaksanakan dari tanggal 20 Desember sampai 27 Desember 2014 bertempat di Balai Embrio Ternak Cipelang, Bogor, Jawa Barat. Materi yang digunakan adalah lima ekor sapi Angus dengan metode sinkronisasi estrus menggunakan Controlled Internal Drug Release (CIDR) dan lima ekor sapi Angus dengan metode estrus alam, serta catatan produksi embrio total sapi Angus tahun 2012 - 2013. Data diperoleh menggunakan metode “convenience sampling” yaitu berdasarkan data yang ada di lokasi. Data dianalisis menggunakan uji T satu arah. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata antara sinkronisasi estrus dan estrus alam dalam produksi total embrio maupun kualitas embrio pada sapi Angus secara Invivo.The purpose of this study was to determine the difference in the total number of embryos and embryo quality as a result of estrous synchronization and natural estrous in Angus cattle by in vivo. The research was held from December 20 until December 27, 2014 took place at the Livestock Embryo Centre, Cipelang, Bogor, West Java. The materials used were five Angus cows with estrous synchronization method using Controlled Internal Drug Release (CIDR) and five Angus cows with natural estrous method, and a recording of Angus cattle embryo production in the years of 2012-2013. The data were obtained by using the method of "convenience sampling", based on data available at the site. The data were analyzed using one-way t test. The results showed, no significant difference was obtained between the synchronization of estrous and natural estrous on the total production of embryos and embryo quality in Angus cattle by Invivo.
919010726F1A009043Re-marriage Pada Karyawati
(Studi Kasus di Pabrik Bulu Mata Palsu Best Lady Purbalingga
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kehidupan re-marriage Karyawati di Pabrik Bulu Mata Palsu di Purbalingga. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Informan utama penelitian ini adalah karyawan Pabrik Best Lady yang melakukan re-marriage dan informan pendukung adalah tetangga dan keluarga besar para karyawati Pabrik Bulu Mata Best Lady. Hasil penelitian menunjukkan tiga poin utama. Pertama, alasan para buruh wanita di pabrik bulu mata Best Lady melakukan cerai gugat adalah karena mereka telah mampu mandiri secara ekonomi sementara suami mengganggur, perselingkuhan yang dilakukan oleh suami, kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan suami, suami yang senang berfoya-foya dan tidak bertanggung jawab, serta isteri yang tidak dapat memberikan keturunan. Kedua, kehidupan buruh wanita setelah bercerai lalu menikah kembali menjadi lebih harmonis dalam hubungan karena minim konflik, lebih sejahtera secara ekonomi, pembagian peran dalam keluarga lebih teratur dan bertanggung jawab, dan memiliki keturunan meskipun melalui proses adopsi. Ketiga, sebagai isteri, buruh wanita memiliki kontribusi ekonomi dalam mengatur keuangan harian seperti makan dan uang saku harian, kemudian mengatur kebutuhan bulanan seperti tagihan air, listrik, biaya sekolah, dan kredit motor, dan juga mengantisipasi kebutuhan tak terduga semisal kondisi kesehatan anggota keluarga dan sumbangan seperti pernikahan melalui tabungan. The research’s purpose is to determine the cause of divorce by women workers in Purbalingga false eyelashes, their life after divorce and remarriage, and the extent of their contribution to the family economy. The research method used in this research is descriptive qualitative. Key informants of this study is an employee of Best False Eyelashes Factory Lady who never divorced and now married and supporting informants in this study is a neighbor of women factory workers Eye Lashes Best Lady. First, the reason the women workers in the factory lashes Best Lady conduct contested divorce is because they have been able to be economically independent while unemployed husband, infidelity by her husband, domestic violence committed husband, a husband who likes to dissipate and can not be held responsibility, as well as the wife can not give offspring. Second, labor life after divorce and married women back into a more harmonious in relationships because of the lack of conflict, more prosperous economy, the division of roles in the family more organized and responsible, and have offspring even though through the adoption process. Third, as a wife, working woman has economic contribution in managing daily finances such as eating and daily allowance, then set monthly needs such as water bills, electricity, school fees, and credit the motor, and also anticipate unforeseen needs such as family members and health conditions donations such as marriage through savings.
919110727C1L010055THE EFFECT OF FINANCIAL LITERACY TOWARD SMALL MEDIUM ENTERPRISES ( SMEs ) CREDITWORTHINESS ( Study on The Owner of SMEs That Registered as PD. BPR BKK Kabupaten Tegal Debtor )
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan pengaruh signifikan dari financial literacy terhadap kelayakan pemberian kredit pada UMKM, dalam penelitian ini financial literacy dijabarkan menjadi 3 variabel yang terdiri dari pengetahuan kuangan, perilaku keuangan, dan sikap keuangan. penelitian ini dilakukan di kabupaten tegal. populasi dari penelitian ini adalah pemilik UMKM yang terdaftar sebagai nasabah PD. BPR BKK Kabupaten Tegal. Teknik sampel yang digunakan yaitu purposive sampling, dengan kriteria nasabah dengan jumlah kredit di atas Rp.15.000.000 up to Rp. 100.000.000. berdasarkan kriteria tersebut terdapat 97 reponden. kemudian teknik analisis data yang digunakan adalah metode regresi berganda.
berdasarkan hasil penelitian, dari T-Test dapat di simpulkan bahwa pengetahuan keuangan tidak memiliki pengaruh pada kelayakan pemberian kredit pada SMEs, perilaku keuangan dan sikap keuangan memiliki pengaruh signifikan pada kelayakan pemberian kredit, dan berdasarkan F-Test dapat di simpulkan bahwa financial literacy (pengetahuan keuangan, perilaku keuangan, dan sikap keuangan) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kelayakan pemberian kredit UMKM.
The aims of this research are to find out the significant effect of financial literacy on creditworthiness of SMEs, in this research financial literacy separately into three variables that consist of financial knowledge, financial behavior, and financial attitude. This research conducted in Tegal Regency. Population of this research is the owner of SMEs that registered as debtor in PD. BPR BKK Kabupaten Tegal. Sampling technique used in this research is purposive sampling, with criteria the debtor with credit amount Rp. 15.000.000 up to Rp. 100.000.000. Based on the criteria, it is obtained 97 respondents. Furthermore the technique of analysis data used in this research is multiple regressions method.
Based on the research result, from T- test it can be concluded that financial knowledge do not have significant influence on creditworthiness of SMEs, financial Behavior and financial attitudes has significant influence on creditworthiness, and from F-test it can be concluded financial literacy (financial knowledge, financial behavior, and financial attitudes) has significant influence on creditworthiness of SMEs.
919210728E1A010079TINDAK PIDANA PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR HASIL PENCURIAN (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor : 155/Pid.B/2013/PN.Pbg)Penyebab semakin maraknya terjadi tindak pidana pencurian kendaraan bermotor diantaranya semakin marak juga tindak pidana penadahan. Tindak pidana penadahan biasa telah diatur didalam Bab XXX dari buku II KUHP yang dirumuskan dalam Pasal 480 KUHP sebagai tindak pidana pemudahan.

Penelitian bertujuan untuk mengetahui unsur-unsur yang terbukti dalam tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian dalam putusan nomor : 155/Pid.B/2013/PN.Pbg serta untuk mengetahui dasar pertimbangan hukum hakim dalam memutus perkara terhadap tindak pidana penadahan kendaraan bermotor.

Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif, dengan spesifikasi penelitian secara legal research sedangkan metode pengumpulan data menggunakan data sekunder dengan cara studi pustaka yang kemudian dianalisis dengan metode normatif kualitatif.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa unsur-unsur yang terbukti dalam tindak pidana penadahan Putusan Nomor : 155/Pid.B/2013/PN.Pbg. : Dwi Astriadi alias Dwi bin Dwi Mungil bersalah telah melakukan perbuatan tindak pidana penadahan, membeli sepeda motor tanpa surat kemudian menjualnya kembali dengan tujuan memperoleh keuntungan, bahwa barang itu diperoleh karena kejahatan. Dasar pertimbangan hukum Hakim dalam memutus perkara terhadap pelaku tindak pidana penadahan dalam perkara Putusan Nomor : 155/Pid.B/2013/PN.Pbg. adalah didasarkan pada fakta-fakta hukum, alat-alat bukti yang sah dalam Pasal 184 (1) KUHAP serta keyakinan hakim, barang bukti dan hal yang meringankan dan memberatkan terdakwa. Oleh karena terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana penadahan dijatuhi pidana penjara selama 10 (sepuluh) bulan.
The cause of the increment of criminal act in the theft of motorcycle it results in the increment of the criminal act of stolen receive motorcycle. The criminal act of the stolen receive motorcycle has been regulated in Chapter XXX from book II KUHP that formulated in the Article 480 KUHP as the easiness of criminal act.

This research aims to find out the proven elements in criminal act of the stolen receive motorcycle results in the decision number: 155/Pid.B/2013/PN.Pbg and to find out the basic law consideration of judge in punishing the case to the criminal act of the stolen receive motorcycle results.

Method of approach in this research uses the normative juridical with the research specification as legal research and the method of data collection uses the secondary data by using the literature study procedures and then analyzed by using method of qualitative normative.

The result that has been obtained from this research is that the proven elements in criminal act of the stolen receive motorcycle Number: 155/Pid.B/2013/PN.Pbg.: Dwi Atriadi as Dwi bin Dwi Mungil is considered guilty he has do the criminal act of the stolen receive motorcycle results, buys the motorcycle without any legal letters and then sold again with the purpose to get benefit, that this goods is obtained from the result of criminal. The basic law consideration of judge in punishing the case to the suspect of the criminal act of the stolen receive motorcycle results in the case Decision Number: 155/Pid.B.2013/PN.pBG. it is based on the fact of law, legal evident tools in the Article 184 (1) KUHAP and the conviction of judge, the evidence tools and the things that reduces and weighs of the suspect. Because of that the suspect is proven legally and conveniently has conducted the criminal act of the stolen receive motorcycle results and punished with the jail punishment for 10 (tent) months.
91939353H1E007038ANALISIS KARAKTERISTIK BATUAN PENYANGGA DAS SERAYU DESA PENGGALANG KECAMATAN ADIPALA KABUPATEN CILACAP BERDASARKAN SURVEI RESISTIVITAS KONFIGURASI SCHLUMBERGER DAN WENNER
Penelitian geolistrik resistivitas telah di lakukan di Desa Penggalang, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap. Jenis Konfigurasi yang digunakan adalah konfigurasi Wenner dan Schlumberger. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pemodelan struktur batuan bawah permukaan tanah Desa Penggalang dan mengidentifikasi keberadaan batuan penyangga yang berpotensi menahan laju abrasi Sungai Serayu Desa Penggalang. Pengukuran dilakukan pada dua lintasan, yaitu lintasan Penggalang 1 dan lintasan Penggalang 2 menggunakan Resistivity meter tipe Naniura NRD 22 S. Pengolahan data menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel 2007, Res2Dinv 3.54.54., dan Progress 3.0. Hasil pengolahan data berupa pemodelan sebaran nilai resistivitas batuan, kurva nilai resistivitas sebenarnya dan citra litologi batuan bawah permukaan tanah. Interpretasi struktur batuan bawah permukaan tanah menunjukkan bahwa di lintasan Penggalang 1 konfigurasi Wenner dan Schlumberger terdiri dari terdiri dari tanah berpasir (31.2 – 46.20) Ωm, pasir lempungan (10.64 – 31.2) Ωm, lempung pasiran (7.15 – 14.9) Ωm, dan lempung (3.42 – 7.15) Ωm. Berdasarkan model konfigurasi Wenner dan konfigurasi Schlumberger lintasan Penggalang 2 terdiri dari tanah berpasir (17.2 – 23.6) Ωm, pasir lempungan (9.09 – 17.2) Ωm, lempung pasiran (4.81 – 9.09) Ωm, lempung (2.48 – 4.81) Ωm. Tanah berpasir, pasir lempungan, lempung pasiran, dan lempung termasuk kedalam formasi alluvium dan teridentifikasi bukan termasuk batuan yang kokoh atau kuat sebagai penyangga DAS Serayu Desa Penggalang sehingga rawan tergerus aliran sungai atau abrasi. Geoelectrical resistivity a research have been done in Penggalang village, District Adipala, Cilacap Regency. The types of configuration used Wenner and Schlumberger configurations. The purpose of this study was to this research are model the sub surface rock structures in Penggalang Village and to identify the presence of a bedrock that could potentially hold the abrasion rate of Serayu River Penggalang village. Measurements were performed on two trajectories, the first Penggalang trajectory and the second Penggalang trajectory using Resistivitymeter Naniura NRD 22S type. the data was processed using Microsoft Excel 2007, Res2Dinv 3:54.54 software, and Progress 3.0. software. The results of data processing are distribution of rock resistivity value, the real value of the resistivity curve and the actual image of the sub surface rock lithology. The interpretation of sub surface rock structures shows that the first Penggalang trajectory consists of a layer of sandy soil with the resistivity value is 31.2 – 46.20 Ωm sand of clay 10.64 – 31.2 Ωm, clay of sand 7.15 – 14.9 Ωm, clay 3.42 – 7.15 Ωm. The second Penggalang trajectory consists of a layer of sandy soil with the resistivity value of 17.2 – 23.6 Ωm, sand of clay 9.09 – 17.2 Ωm, clay of sand 4.81 – 9.09 Ωm, and clay 2.48 – 4.81 Ωm. Sandy soil, sand of clay, clay of sand, clay and sand belong to the alluvium formations and has been identified not to be solid or rigid as bedrock Serayu Watershed Penggalang Village therefore it is easy to be eroded by river stream or abrasion.
91949354H1F007015Geologi Dan Analisis Geomorfologi Untuk Kelayakan Guna Lahan Daerah Ciporos Dan Sekitarnya Kecamatan Karang Pucung Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa TengahKebutuhan akan ruang (lahan) dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup cepat. Untuk itu dibutuhkan informasi geologi dan geomorfologi sebagai acuan dalam peminimalisiran kendala dan resiko dalam pengembangan pembangunan. Stratigrafi regional daerah penelitian termasuk kedalam Formasi Halang, Formasi Kumbang dan Formasi Tapak, dimana Formasi kumbang berada menjemari dengan Formasi Halang dan Formasi Tapak berada menumpang diantara kedua formasi batuan tersebut sehingga menghasilkan kondisi gelogi yang menarik untuk dikaji. Penelitian geologi dengan kajian khusus analisis geomorfologi untuk kelayakan guna lahan didaerah penelitian merupakan langkah yang efektif untuk penataan wilayah dan mengetahui kondisi geologi secara terperinci. Metode analisis yang digunakan berupa pemetaan geologi secara faktual, dimana dilakukan pemetaan secara langsung dan tidak langsung tentang kondisi geologi yang ada di daerah penelitian. Metode analisis kelayakan guna lahan yaitu berupa pemberian bobot, intensitas dan scoring pada masing-masing faktor pendukung kelayakan guna lahan. Hasil akhir dari penelitian ini berupa lembaran peta tematik geolog, geomorfologi dan kelayakan guna lahan.


Every years the need for space has increased rapidly. The geological and geomorphological information as the reference within minimization constraints and risks in the development of the construction. Regional stratigraphic included into Halang Formations, Kumbang Formations and Tapak Formations, so the gelogical conditions resulting are interest to study. The purpose of geological research with special studies of geomorphology analysis for the feasibility study area land use is an effective measure for structuring the area and determine of geological condition. The method of analysis used in the form of factual geological mapping, mapping is done directly and indirectly on the existing geological conditions in the study area. In analysis method was carried out using make a provision of intensity and scoring on each factors supporting the feasibility of land use. The main analysis make used supporting factors analysis as a percent slopes, depth of water tables, rock resources, potential landslides, floods and geological structures. The results analysis obtained of thematic map sheet which would then be overlay to get certain eligibility criteria of area.
91959355G1B010038HUBUNGAN FAKTOR INDIVIDU DENGAN KELELAHAN SUBYEKTIF PADA PEKERJA BAGIAN PRODUKSI PT WANA MAKMUR SEJAHTERA PURBALINGGAKelelahan kerja adalah mekanisme perlindungan tubuh yang dirasakan secara
subyektif yang terjadi akibat kerja fisik atau mental secara berulang yang ditandai
oleh adanya pelemahan kegiatan, pelemahan motivasi dan kelelahan fisik. Survei
pendahuluan kelelahan kerja kepada 10 pekerja di PT Wana Makmur Sejahtera
didapatkan bahwa pekerja mengalami kelelahan ringan (20%), kelelahan sedang
(70%) dan kelelahan berat (10%). Tujuan penelitian adalah menganalisis
hubungan faktor individu dengan kelelahan subyektif. Pengukuran kelelahan
dengan menggunakan KAUPK2. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik
pendekatan crossectional. Sampel yang diambil sebanyak 54 orang dari 122 pekerja Pengambilan sampel menggunakan proportional stratified random sampling. Analisis bivariat yang digunakan adalah uji korelasi pearson untuk menghubungkan variabel umur, massa kerja, beban kerja, energi kerja, dan uji chi square untuk menghubungkan
variabel status perkawinan. Hasil penelitian bahwa responden yang mengalami kelelahan ringan sebanyak 9 orang (16,7%), kelelahan sedang sebanyak 38 orang (70,4%), dan kelelahan berat sebanyak 7 orang (13%). Variabel yang memiliki hubungan dengan kelelahan kerja adalah umur (p-value=0,01), massa kerja (pvalue=0,031), beban kerja (p-value=0,000) dan energi kerja (p-value=0,015). Variabel status perkawinan tidak berhubungan dengan kelelahan kerja (pvalue=0,153).
Work fatigue is the protection mechanism of the body that is felt subjectively that occurs due to physical or mental work repeatedly characterized by the weakening activity, weakening the motivation and physical exhaustion. Survey fatigue to 10 workers at PT Makmur Sejahtera Wana found that workers experience mild fatigue (20%), moderate fatigue (70%) and severe fatigue (10%). The purpose of this research was to analyze the relationship with the individual factors of subjective fatigue. The independent variables is fatigue measured through Indonesia Fatigue Instrument (Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja). This research is an observational analytic cross sectional approach. Samples as much as 54 people from 122 workers with sampling method using proportional stratified random sampling. Bivariate analysis is used korelasi pearson regression variables age, mass work, workload, work energy, and chi square test for linking marital status variables. The results showed that respondents who experience mild fatigue as much as 9 (16.7%), fatigue was as many as 38 people (70.4%), and severe fatigue of 7 people (13%). There is significant connection with work fatigue were age (p-value = 0.01), mass work (p-value = 0.031), workload (p-value = 0.000) and energy work (p-value = 0.015). There was no relations between marital status with fatigue (p-value = 0.153).
91965491P2EA11015POLA PEMIDANAAN DALAM TINDAK
PIDANA KORUPSI
(Studi terhadap Putusan No. 235/Pid.B/2009/PN.Clp dan Putusan No. 236/Pid.B/2009/PN.Clp dalam kasus Korupsi Pembebasan Lahan Pembangunan PLTU Bunton di Pengadilan Negeri Cilacap)
BUDI PRIYANTO, Program Studi Ilmu Hukum-Program Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman, Komisi Pembimbing, ketua : Dr. Angkasa, S.H., M.Hum, Anggota : Dr. Budiyono, S.H., M.Hum.
Tesis ini dengan judul “Pola Pemidanaan Dalam Tindak Pidana Korupsi (Studi terhadap Putusan No. 235/Pid.B/2009/PN.Clp dan Putusan No. 236/Pid.B/2009/PN.Clp dalam kasus Korupsi Pembebasan Lahan Pembangunan PLTU Bunton di Pengadilan Negeri Cilacap)” adapun pokok permasalahan dalam tesis antara lain : Bagaimanakah pola pemidanaan dalam tindak pidana korupsi serta Apakah penjatuhan pidana dalam Putusan No.235/Pid.B/2009/PN.Clp dan Putusan No. 236 /Pid.B/2009/PN.Clp dalam kasus PLTU Bunton di Pengadilan Negeri Cilacap sudah sesuai dengan pola pemidanaan yang diatur dalam UU tentang Tindak pidana Korupsi.
Dari hasil penelitian dan pembahasan bahwa pola pemidanaan dalam tindak pidana korupsi, berdasarkan ketentuan UU Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, bahwa jenis penjatuhan pidana yang dapat dilakukan hakim terhadap terdakwa tindak pidana korupsi adalah : Pidana Mati, Pidana Penjara, Pidana Tambahan, dan Tindak Pidana Yang Dilakukan Oleh atau Atas Nama Suatu Korporasi. Selain jenis sanksi pidana pokok tersebut, pelaku tindak pidana korupsi dapat dikenakan sanksi pidana tambahan berdasarkan Pasal 10 KUHP, juga dapat dijatuhkan sanksi tambahan berdasarkan undang-undang tindak pidana korupsi (UU No.31 Tahun l999 jo UU No. 20 Tahun 2001).
Dilihat dari sudut substansi dalam UU korupsi tersebut (UU Nomor 3l Tahun l999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi), ada beberapa kelemahan yang mengandung masalah yuridis. Salah satu masalah tersebut, adalah kebanyakan perumusan pola jenis sanksi pidana dengan memakai sistem kumulatif. Perumusan sistem kumulatif ini, dapat menimbulkan masalah, karena perumusan sistem kumulatif, selama ini bersifat imperatif dan kaku. Masalah lainnya adalah tidak ada acuan/pedoman/pegangan bagi hakim dalam menerapkan sistem pemidanaan.
Ketentuan pemidanaan yang diatur dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, bahwa pemidanaan secara komulatif bisa dijatuhkan antara sesama jenis pidana pokok, misalnya pidana penjara dijatuhkan bersama-sama dengan pidana denda dan pidana uang pengganti. Dari ketentuan pemidanaan yang diatur dalam KUHP, dimana masing-masing jenis pidana pokok hanya dapat dijatuhkan secara tunggal artinya tidak boleh dijatuhkan lebih dari satu jenis pidana.
Pola pemidanaan dalam tindak pidana korupsi dalam Putusan No.235/Pid.B/2009/PN.Clp dan Putusan No. 236/Pid.B/2009/PN.Clp dalam kasus Korupsi Pembebasan Lahan Pembangunan PLTU Bunton di Pengadilan Negeri Cilacap), bahwa hakim telah menjatuhkan pidana penjara dan pidana denda serta pidana tambahan kepada terdakwa Pudjo Prasetyo, S.sos, MSi dan Sudaryanto, S.sos, sehingga dalam kedua putusan tersebut telah sesuai dengan pola pemidanaan yang diatur dalam UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak pidana Korupsi.
Dalam kedua putusan tersebut, telah memenuhi unsur-unsur meliputi menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan, tujuan dari perbuatan tersebut menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, perbuatan tersebut dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara. Penyalahgunaan kekuasaan atau kewenangan yang telah dilaklukan terdakwa Pudjo Prasetyo, S.sos, MSi dan Sudaryanto, S.sos, khususnya dalam pengelolaan dan peruntukkan keuangan negara oleh aparatur negara, sesungguhnya itu merupakan tindak pidana korupsi oleh karena sifatnya merugikan perekonomian negara dan keuangan negara.
BUDI PRIYANTO, Law Postgraduate Program of University of Jenderal Soedirman, Commission Counsellor, chief : Dr. Angkasa, S.H.,M.Hum, Member : Dr. Budiyono, S.H., M.Hum.
This Thesis with title "Pattern Crime In Doing An Injustice Corruption ( Study to Decision of No. 235/Pid.B/2009/PN.Clp and Decision of No. 236/Pid.B/2009/PN.Clp in Corruption case Iiberation Of Farm Development of PLTU Bunton in District Court Of Cilacap)" as for fundamental of is problem of thesis between other : How crime pattern in corruption doing an injustice and also What is crime fallout in Decision of No.235/Pid.B/2009/Pn.Clp and Decision of No. 236 / Pid.B/2009/Pn.Clp in case of PLTU Bunton in District Court Of Cilacap have as according to crime pattern which arranged in UU concerning Doing an injustice Corruption.
From research result and solution that crime pattern in corruption doing an injustice, pursuant to rule of UU Number 31 Year 1999 Code Number jo 20 Year 2001 concerning Eradication of Doing An Injustice Corruption, that crime fallout type able to be conducted judge to corruption doing an injustice defendant is : Dead Crime, Crime Prison, Additional Crime, and To Doing An Injustice Conducted By or On Behalf of Corporation. Besides fundamental crime sanction type, perpetrator of corruption doing an injustice can be sanctioned additional crime pursuant to Section 10 Code of crmie , also can be dropped additional sanction pursuant to corruption doing an injustice code number 31 Year of l999 jo code number 20 Year 2001).
Is seen from the aspect of substansi in code corruption Number 3l Year of l999 code Number jo 20 Year 2001 concerning Eradication of doing an in justice Corruption), there are some weakness concidering problem of yuridis. One of the problem, to most formulations of crime sanction type pattern weared cumulative system. Formulation of this cumulative system, can generate problem, because formulation of cumulative system, during the time have the character of imperatif and stiff. Other problem is reference for judge in applying crime system.
Rule of crime which arranged in Code Number 31 Year 1999 Code Number jo 20 Year 2001 concerning Eradication of doing An Injustice Corruption, that crime by komulatif can be dropped between fundamental crime type humanity, for example prison crime dropped together with crime fine and substitution money crime. Of rule of crime which arranged in KUHP, where each fundamental crime type can only be dropped singlely mean may not be dropped more than one crime type.
Crime pattern in corruption doing an injustice in Decision of No.235/Pid.B/2009/Pn.Clp and Decision of No. 236/Pid.B/2009/PN.Clp in Corruption case liberation of Farm Development of PLTU Bunton District Court Of Cilacap), that judge have dropped crime serve a sentence and crime fine and also additional crime to defendant of Pudjo Prasetyo, S.Sos, MSi and of Sudaryanto, S.Sos, so that in both the decision have as according to crime pattern which arranged in code number 31 Year 1999 code Number jo 20 Year 2001 concerning Eradication of doing an injustice Corruption.
In both decision, have fulfilled elements cover to misuse power, ex officio existing medium or opportunity to or domicile, intention of the deed profit others or ownself or corporation, the deed can harm state's finance or economics of State. Abuse of or power of kewenangan which have isn't it defendant of Pudjo Prasetyo, S.Sos, MSi and of Sudaryanto, S.Sos, specially in management and destine state's finance by state aparatus, real that is corruption doing an injustices because of in character harm economics of state's finance and state.
91975494P2EA11036EFEKTIVITAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN No. 284/MENKES/PER/III/2007 TENTANG APOTEK RAKYAT (Studi di Pasar Pramuka Jakarta)
FAISAL AMRI, Program Studi Ilmu Hukum Konsentrasi Kesehatan, Program Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman, Efektivitas Peraturan Menteri Kesehatan No. 284/MENKES/PER/ 111/2007 tentang Apotek Rakyat (Studi di Pasar c Pramuka Jakarta), Komisi Pembimbing, Ketua : Dr. Setya Wahyudi, S.H., M.H., Anggota : Dr. Hj. Sulistyandari, S.H., M.Hum.
Apotek Rakyat adalah sarana pelayanan kefarmasian bentukan Peraturan Menteri Kesehatan No. 284 tahun 2007, yang bertujuan mulia, yaitu melindungi kesehatan masyarakat dengan menyediakan obat berkualiatas, murah dan terjangkau, dengan tetap memberi kesempatan usaha pedagang obat. Pemilik Apotek Rakyat, Apoteker serta Dinas Kesehatan & Badan POM harus mematuhi kewajiban yang diatur dalam Peraturan ini, sebagai perlindungan kesehatan masyarakat. Tingkat kepatuhan ini untuk mengetahui derajat efektivitas. Bila tingkat kepatuhan tinggi, maka derajat efektivitasnya tinggi, yang berarti tujuan peraturan tercapai. Bila tingkat kepatuhan sangat rendah, maka derajat efektivitas sangat rendah, yang berarti tujuan peraturan tidak tercapai.
Penelitian ini bertujuan mengetahui sejauh mana subjek hukum dalam Peraturan Menteri Kesehatan ini mematuhi kewajiban-kewajibannya, dan faktor apa yang menghambat implementasi Peraturan Menteri Kesehatan ini. Penelitian menggunakan metode pendekatan yuridis sosiologi, dengan sumber data primer dan informan dan observasi. Lokasi penelitian di Pasar Pramuka, karena tempat ini adalah tempat peresmian Apotek Rakyat oleh Menteri Kesehatan.
Hasil penelitian ini adalah: (1) Pemilik Apotek Rakyat hanya mematuhi kewajiban untuk memasang papan nama Apotek dengan nomor izin dan nama Apoteker Penanggung jawab, sedang kewajiban yang lain tidak dipatuhi; (2) Apoteker penanggung jawab tidak mematuhi kewajiban sesuai peraturan kefarmasian, Apoteker Penanggung jawab tidak selalu di tempat tanggung jawabnya, tidak melakukan skrining dan penyerahan obat ke konsumen; (3) Dinas Kesehatan & Badan POM mematuhi kewajibannya hanya formalitas saja. Dengan tidak dipatuhinya sebagian besar kewajian oleh para subjek hukum dalam Peraturan Menteri Kesehatan ini, maka derajat Efektivitas Peraturan Menteri Kesehatan No. 284 tahun 2007 tentang Apotek Rakyat, sangat rendah. Derajat efektivitas yang sangat rendah ini, menjadikan tujuan Peraturan Menteri Kesehatan No. 284 tahun 2007 tentang Apotek Rakyat tidak tercapai.
Penyebab sangat rendahnya derajat efektivitas Peraturan Menteri Kesehatan No. 284 tahun 2007 tentang Apotek Rakyat, meliputi faktor hukumnya sendiri, yaitu: terdapat ketidakserasian Pasal-pasal dalam Peraturan Menteri Kesehatan ini, Peraturan Menteri Kesehatan ini juga tidak serasi dengan Pasal-pasal Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, dan dalam Pasal 108 Undang-¬undang Kesehatan No. 36 tahun 2009; faktor penegak hukumnya, yaitu: pengawasan dan sanksi dilakukan hanya formalitas saja; faktor sarana, yaitu: pemerintah tidak menyediakan laboratorium pengujian obat di Pasar Pramuka untuk mempemudah uji laboratorium; dan faktor masyarakat & kebudayaan, yaitu: kebiasaan konsumen (masyarakat pembeli obat) yang salah dimanfaatkan untuk mendapatkan untung yang besar tanpa memperhatikan efek yang ditimbulkan karena pelayanan kefarmasian yang melanggar.
Untuk perlindungan kesehatan masyarakat konsumen Apotek Rakyat perlu: (1) Apoteker Penanggung jawab harus menjalankan kewajibannya, (2) di bentuk Satuan Tugas agar pengawasan yang lebih ketat; dan (3) Pasal-pasal yang tidak serasi direvisi.
FAISAL AMRI, Law Science Health Concentration, Postgraduate programmes, The Jenderal Soedirman University, Effectiveness Minister of Health Regulation No. 284/MENKES/PER / 111/2007 about the People's Pharmacy (Studies in Pasar Pramuka Jakarta), the Commission Supervisor, Chairman: Dr. Setya Wahyudi, S.H., M.H., Members: Dr. Hj. Sulistyandari, S.H., Hum.
People's pharmacy is a pharmacy services means the Minister of Health Regulation No. 284/MENKES/PER / 111/2007 about the People's Pharmacy, the noble aims, which is to protect public health by providing berkualiatas drugs, cheap and affordable, while giving businesses a chance drug dealers. People's Pharmacy owner, Pharmacists and the Department of Health & POM must comply with the obligations set forth in this Rule, the protection of public health. The adherence rate to determine the degree of effectiveness. When the level of compliance is high, then a high degree of effectiveness, which means the regulatory objectives achieved. When the compliance rate is very low, then the degree of effectiveness is very low, which means the regulatory objectives are not achieved.
This study aims to determine the extent of legal subjects in the Regulation of the Minister of Health is in compliance with its obligations, and what factors impede the implementation of the Regulation of the Minister of Health. Research using sociological juridical approach, with primary data sources and informants and observations. Market research location scout, because this place is where the inauguration of the People by the Ministry of Health Pharmacy.
The results of this study are: (1) People's Pharmacy owner only to comply with the obligation to install billboard Pharmacy Pharmacist license number and the name of undertaking, being the other obligations are not complied with, (2) The pharmacist in charge does not comply with its obligations under the rules of pharmacy, pharmacists Insurers answer is not always in a place of responsibility, do not do the screening and drug delivery to the consumer, (3) Department of Health & POM comply with its obligations merely a formality. Compliance with most of the subjects kewajian by law in the Regulation of the Minister of Health, the degree of effectiveness of the Minister of Health Regulation No. 284 of 2007 on the People's Pharmacy, is very low. The degree of effectiveness is very low, making the Minister of Health Regulation No. 284/MENKES/PER / 111/2007 about the People's Pharmacy destination is not achieved.
Cause of the very low degree of effectiveness of the Minister of Health Regulation No. 284/MENKES/PER / 111/2007 about the People's Pharmacy, includes its own legal factors, namely: there is disharmony in the Articles of the this Minister of Health Regulation, Minister of Health Regulation is also not compatible with the Articles of Government Regulation No. 51 Year 2009 about Pharmaceutical Works, and in Article 108 of Act No. 36 Year 2009 about Health; law enforcement factors, namely: supervision and sanction was a mere formality; facility factors, namely: the government does not provide drug testing laboratories in the Pasar Pramuka for facilitate laboratory testing, community and cultural factors, namely: consumer habits (the buyer drugs) that one used to get a big profit without regard to the effects due to pharmaceutical services in violation.
For the protection of public health consumers People Pharmacy need: (1) Responsible Pharmacist must carry out its obligations, (2) in the form of the Task Force in order to closer scrutiny, and (3) The articles mismatched revised.
91985495P2EA11008PENEGAKAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARADALAM PENGELOLAAN PEMUNGUTAN PAJAK BERDASARKAN PRINSIP UPAYA PEMAKSA (SANCTIE)DI KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA PURBALINGGA (Studi tentang efektivitas hukum)
FAJAR NURSETIADI, Program Studi Ilmu Hukum-Program Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman, Penegakan Hukum Administrasi Negara dalam Pengelolaan Pemungutan Pajak Berdasarkan Prinsip Upaya Pemaksa (Sanctie) di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Purbalingga, Komisi Pembimbing, Ketua: Dr. H. Muhammad Fauzan, S.H., M. Hum, anggota: Dr. Johannes Suhardjana, S.H.
Persoalan hukum memilih sanksi pajak menimbulkan keresahan bukan saja di pihak Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP), tetapi sudah menjadi keresahan di bidang hukum pajak pada khususnya. Persoalan hukum memilih sanksi pajak dan kenaikan sumber penerimaan pajak yang setiap tahun terus meningkat, tentu tidaklah mudah untuk menyelesaikan/merealisasikan. Proses penegakan hukum di bidang perpajakan juga menjadi perhatian serius yang perlu dikaji, agar tujuan penerimaan pajak tidak terkendala dalam pelaksanaannya. Atas dasar hal tersebut maka dilakukan penelitian di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Purbalingga dengan mempertimbangkan tingkat kepatuhan wajib pajak dalam melaporkan SPT Tahunan.
Penelitian ini difokuskan pada proses penegakan hukum pajak dengan menekankan pada hukum administrasi bukan pada hukum pidana. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pendekatan yuridis empiris yang mendasarkan pada data hukum primer berupa informasi dari Informan kunci Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Purbalingga dan beberapa informan yang terdiri dari Kepala Seksi, AR, Juru Sita Pajak dan fungsional pemeriksa pajak di lingkungan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Purbalingga yang dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus pada setiap tahapan penelitian hingga sampai tuntas dari data reduction, data display dan conclusion drawing/verification, dengan tujuan untuk mendeskripsikan penegakan hukum administrasi pada pengelolaan pemungutan pajak, faktor-faktor yang mempengaruhi dan solusinya, baik pada komponen substansi, struktur maupun kultur hukum.
Prinsip upaya pemaksa dengan menggunakan pendekatan administratif dalam pengelolaan pemungutan pajak, selain dapat mempersempit jarak kesenjangan kepatuhan dan memaksimalkan penerimaan pajak, juga memberikan kepastian hukum pembayar pajak dan petugas pajak setiap kali mereka menghadapi sengketa pajak. Sedangkan penegakan hukum dalam tindak pidana pajak pada akhirnya tetap menjadi tujuan untuk kepentingan penerimaan negara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penegakan hukum pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Purbalingga yang dilaksanakan dalam bentuk fungsi pengawasan dan penegakan sanksi masih belum efektif untuk mempersempit kesenjangan kepatuhan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Purbalingga.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan Hukum Administrasi Negara dalam pengelolaan pemungutan pajak berdasarkan prinsip upaya pemaksa di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Purbalingga adalah:
1. Faktor hukum, dimana peraturan sanksi tidak jelas dan tegas serta multi interpretation, mengesampingkan asas-asas, prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran yang dianutHukum Administrasi Negara dan asas umum perpajakan.
2. Faktor institusi, distribusi beban pekerjaan di lingkungan Ditjen Pajak yang semakin timpang tindih, banyak pekerjaan adhoc yang dilaksanakan
3. Faktor trust kepada pemerintah tentang pajak. Di sisi lain fiskus tidak percaya Wajib Pajak telah dengan jujur menghitung, menyetor, dan melaporkan pajaknya. Jadi, terjadi distrust, yaitu rasa saling tidak percaya antara Fiskus dengan Wajib Pajak sebagai pembayar pajak.

Berdasarkan hal tersebut, Penegakan hukum administrasi dalam pengelolaan pemungutan pajak berdasarkan prinsip upaya pemaksa masih perlu ditingkatkan agar target penerimaan pajak dapat terealisasi.
FAJAR NURSETIADI, Postgraduate Program, Jenderal Soedirman University, State Administration Law Enforcementin Tax Collection Management Principles Based on Efforts forcers (sanctie) in Purbalingga Pratama Tax Office, Supervisor: Dr. H. Muhammad Fauzan, S.H., M. Hum, Co-Supervisor: Dr. Johannes Suhardjana, S.H.
Legal issues choosing tax penalties caused unrest not only in the Chamber of Commerce and Industry (Kadin) and the Directorate General of Taxation (DGT), but has become unrest in the field of tax law in particular. Select legal issues and tax penalties increase tax revenue source continues to increase every year, of course it is not easy to accomplish/realize. The process of law enforcement in the field of taxation is also a serious concern that needs to be studied, for the purpose of tax revenue is not constrained in its implementation. On the basis of these two studies carried out in the Pratama Purbalingga Tax Office (KPP) taking into account the level of taxpayer compliance in reporting SPT.
This study focused on the enforcement of the tax law with emphasis on administrative law rather than criminal law. This study is a qualitative study using juridical approach based on the empirical data is the primary law of information from key informants Head Pratama Purbalingga Tax Officeand some informants consisting of the Head of Section, AR, and functional Tax Bailiffs tax examiner in the Pratama Purbalingga Tax Office performed interactively and continues over time in each stage of research to get to the bottom of the data reduction, the data display and conclusion drawing/verification, in order to describe the administrative law enforcement on tax collection management, the factors that influence and its solutions , both at the component substance, structure and legal culture. .
Principle of coercive efforts by using an administrative approach in the management of tax collection, in addition to narrow thecompliance gap distance and maximize tax revenue, also provide legal certainty between taxpayers and the tax man every time they face a tax dispute. While law enforcement in criminal tax ultimately remains a goal for the sake of acceptance negara.makaIn order to narrow the gap in compliance Purbalingga Pratama Tax Office, administration law enforcementin the management of tax collection is based on the principle of coercive efforts still need to be improved so that the target of tax revenue can be realized.
The results showed that the enforcement of tax law in the Pratama Purbalingga Tax Office implemented in the form of oversight and enforcement of sanctions have not been effective to narrow the gap in compliance Purbalingga Pratama Tax Office.
Factors affecting the enforcement of Administrative Law in the management of tax collection efforts based on the principle of coercion in Purbalingga Pratama Tax Office are:
1. Legal factors, where the rules are not clear and unequivocal sanctions as well as multi-interpretation, ruling principles, the principles and doctrines espoused Administrative Law and the general principles of taxation.
2. Institutional factors, the distribution of workload within the Directorate General Taxation increasingly overlap, a lot of work carried out adhoc
3. Factor of trust to the government on taxes. On the other hand the tax authorities do not believe the taxpayers have an honest count, deposit, and tax reporting. So, there is distrust, the mutual distrust between the tax authorities by the taxpayer as the taxpayer

Accordingly, the administrative law enforcement in the management of tax collection based on the principle of coercive efforts still need to be improved so that the target of tax revenue can be realized.
91999356C1A009015Pengaruh Investasi, Tingkat Upah, Dan Produktivitas Kerja Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Pada Sektor Industri Di Provinsi Jawa Barat
Periode Tahun 1995-2011
The Influence of Investment, Wage Rate, and Labor Productivity On the Employment Absorption In the Industrial Sector in West Java Province for the Period of 1995-2011The study entitled "The Influence of Investment, Wage Rate, and Labor Productivity On the Employment Absorption In the Industrial Sector in West Java Province for the Period of 1995-2011". The purpose of this research is to know/understand the influence of investment, wages rate and labor productivity in having influence on employment absorpting in the industrial sector in West Java Province. In addition, the purpose of this study is also to see the development of employment absorpting in the industrial sector for the Period of 1995-2011 and its trend until 2030.
The research method which is used in this study is the conclusive method. The study was conducted by using the multiple linear regression and the trend analysis tool. Multiple linear regression analysis was intended to see the influence of the investment, wages rate and labor productivity in having influence on employment absorpting in the industrial sector in West Java Province. The Trend analysis tools was using to see the development of employment absorpting in the industrial sector for the period of 1995-2011 and its trend until 2030.
The results of this study concluded that: (1) the Investment, wage rates, and labor productivity simultaneously were being to had influenced on the employment absorption in the industrial sector in West Java Province for the period of 1995-2011. In the partial results: (a) the Investment was being to had a positive and significant influenced on the employment absorption in the industrial sector in West Java Province for the period of 1995-2011. (b) the wage rate was being to had a negative and significant influenced on the employment absorption in the industrial sector in West Java Province for the period of 1995-2011. (c) the Productivity was being to had a negative and insignificant influenced on the employment absorption in the industrial sector in West Java Province for the period of 1995-2011. (2) There was lowering of employment absorpting in the industrial sector in West Java Province for the period of employment absorpting 1995-2011. (3) The trend of employment absorpting in the industrial sector in West Java Province is expected amount to 975 582, 21 persons.
The implications of the study conclusions are: (1) the investment increasing is needed to promote the employment absorpting. Not only from the foreign investment, but also from the domestic investment. (2) The rate of wage which is raising also will demand more higher productivity rate. In the meantime, the increasing of productivity will raise the company profit. In the next turn, the increasing of the company profit will raise the increasing of the rate of wage. (3) The Indonesian people should be more having of love to the domestic products. If there are more interests and purchasing for the domestic products, the domestic production level will be drived to raise. The increasing of domestic product demand will drive the increasing of the new labor absorption, so that will reduce the unemployment level. (4) The development of employment absorption reduction for the priod of 1995-2011 must be solved by the increasing of new investment to increase the labor absorpting. The other solution is efforted by the community capacity building. The community capacity building (as like education and training for their know how and skill, networking and marketing facility, and working capital) is addressed to catch amounts the opportunities which is created by the technology development, market open (like ACFTA dan WTO), and the optimalization of local resources.
Keywords : Investment, Wage Rate, Labor Productivity and the Employment Absorption
92005573P2AA11058KAJIAN KOMPARATIF BEBERAPA RAGI TAPE DI BERBAGAI DAERAH DARI ASPEK TOTAL BAKTERI, TOTAL KAPANG, TOTAL KHAMIR SERTA KINERJANYA PADA PROSES FERMENTASI TAPE UBI KAYU
Elvi Hardiani Molana, Program Studi Agronomi, Program Pascasarjana Universitas Jenderal Soedirman. Kajian Komparatif Beberapa Ragi Tape di Berbagai Daerah dari Aspek Total Bakteri, Total Kapang dan Total Khamir serta Kinerjanya Pada Fermentasi Tape Ubi Kayu. Komisi pembimbing, Ketua: Dr. Hj. Rifda Naufalin, S.P., M. Si, Anggota: Prof. Dr. Ir. Herastuti Sri Rukmini, M. S.

Ubi kayu merupakan pangan alternatif penghasil energi tertinggi dibandingkan tanaman lain. Ubi kayu dapat diolah menjadi berbagai makanan untuk meningkatkan nilai gizinya, diantaranya dengan cara fermentasi menggunakan ragi menjadi tape. Berbeda dengan makanan-makanan fermentasi lain yang hanya melibatkan satu mikroba yang berperan utama seperti tempe atau minuman beralkohol, pembuatan tape melibatkan banyak mikroba diantaranya adalah kapangAmylomyces rouxii, Mucor spdan Rhizopus sp; khamir Saccharomycopsis fibuligera, Saccharomycopsis malanga, Pichiaburtonii, Saccharomyces cerevisiae, dan Candida utilis; serta bakteri Pediococcus sp. dan Bacillus sp. Kelompok mikroba tersebut bekerja samadalam menghasilkan tape.
Penelitian ini bertujuan untuk 1) Melihat perbedaan jumlah mikroba yang terdapat dalam masing-masing ragi tape unggulan daerah 2) Menganalisis kinerja masing-masing ragi tape dalam menghasilkan tape ubi kayu3) Menetapkan waktu fermentasi yang digunakan ragi tape terbaik untuk menghasilkan senyawa-senyawa hasil fermentasi 4) Menganalisis pengaruh antara jenis ragi dan waktu fermentasi untuk menghasilkan tape ubi kayu dengan rasa manis, tekstur lunak, namun dengan rasa asam dan etanol yang rendah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) Faktorial dengan 15 kombinasi perlakuan, 2 kali ulangan dan setiap ulangan adalah blok, sehingga diperoleh 30 unit percobaan. Faktor yang dicoba adalah 3 jenis ragi tape unggulan daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan waktu fermentasi 0 jam, 8 jam,16 jam,24 jam dan 32 jam. Data variabel mikrobiologi dianalisis secara deskriptif kuantitatif, sedangkan data variabel fisikokimia yang diamati meliputi kadar air, kadar gula reduksi, kadar etanol, total asam, pH dan tekstur. Variabel sensori meliputi warna, flavor, tekstur, aroma etanol, aroma asam dan rasa pada tape ubi kayu dianalisis dengan Analysis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah mikroba (bakteri, kapang dan khamir) yang paling banyak terdapat pada ragi asal Jawa Tengah dan yang dominan adalah dari jenis kapang dan bakteri, diikuti ragi asal Jawa Timur, ketiga jenis mikroba (kapang, bakteri dan khamir) sama sedangkan jumlah yang paling sedikit terdapat pada ragi asal Jawa Barat dan yang dominan adalah dari jenis kapang. Jumlah mikroba pada ragi asal Jawa Tengah, total kapang 2,45×108, bakteri 1,94×108 dan khamir 2,21×105; pada ragi asal Jawa Timur untuk total kapang 3,95×107, bakteri 9,65×106, khamir 1,37× 107; sedangkan pada ragi asal Jawa Barat untuk total kapang 2,24×108, bakteri 9,44×106 dan khamir 6,0×104 cfu/g. Kinerja dari ketiga ragi tape pada umumnya sama. Perbedaan kinerja hanya pada kadar air dan tekstur, yaitu ragi tape asal Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur secara berturut-turut adalah: kadar air 55,27% bb dan tekstur 85,0 mm/g/dtk; 61,87% bb dan 135,6 mm/g/dtk; 63,60% bb dan 198,6 mm/g/dtk. Waktu fermentasi 24 jam paling baik dan efisien, yang merupakan kombinasi terbaik dari sifat fisikokimia dan sensori yang dihasilkan yaitu: kombinasi antara ragi tape asal Jawa Barat dengan lama fermentasi 24 jam, menghasilkan kadar air 55,27% bb; kadar gula reduksi 36,99% bk; kadar etanol 3,3% b/v; kadar total asam 0,55% bk; pH 5,1; tekstur 85,05 mm/g/dtk; rasa manis (3,1); warna putih kekuningan (4,3); tekstur suka (4,9); flavor (3,6); bau etanol agak terasa (4,0); bau asam agak terasa (4,3).
ELVI HARDIANI MOLANA, Program Study Agronomy, post-graduate program of Jenderal Soedirman University. Comparative Study of Several Tapai Yeasts in Various Regions from The Aspects of Total Bacteria, Total Mold, Total Yeast and its Performance on Cassava Fermentation. Supervising Commision, Supervisor: Dr. Hj. Rifda Naufalin, S.P., M.Si, Co-Supervisor: Prof. Dr. Ir. Herastuti Sri Rukmini, M. S.

Cassava is an alternative food which produces the highest energy compared to other plants. Cassava can be processed into various foods to improve its nutrition, such as by fermentation using yeast to produce tapai. Different with other fermented foods which only involving one microbe as the main role such as tempe (fermented soybean cake) or alcoholic drink, the process of making tapai including many microbes such as mold Amylomyces rouxii, Mucor sp and Rhizzopus sp; khamir Saccharomycopsis fibuligera, Saccharomycopsis malanga, Pichia burtonii, Saccharomyces cerevisiae, and Candida utilis; as well as Pediococcus sp. bacteria and Bacillus sp. Those microbe group works together in producing tapai.
This research aimed for 1) Seeing the different of total microbe which contained in each regional superior tapai yeast 2) Analyzing performance of each tapai yeast in producing cassava tapai 3) determining the time of fermentation used the best tapai yeast to produce compound of fermentation result 4) Analyzing the between yeast type and the time of fermentation to produce cassava tapai with sweet flavor, soft texture, yet low sour taste and ethanol.The method used in this research was experimental research, the research design used was Randomized Complete Block Design Factorial (RCBD) with 15 treatments combination, 2 times test and each test was block exams, so that the researcher got 30 units experiment. Factors tested were 3 types regional superior tapai yeast from West Java, Central Java, East Java and the fermentation time were 0 hour, 8 hours, 16 hours, 24 hours and 32 hours. Microbiological data variable was analyzed using descriptive quantitative, while physicochemical data variable that was observed including water content, reducting sugar content, ethanol content, total acids, pH and texture. Sensory variables included color, flavor, texture, ethanol odor, sour smell and taste on cassava tapai and it was analyzed using Analysis of variance (ANOVA) and cointinued with Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) test on degree 5%.
The result of research showed that the most total microbe (bacteria, mold, and yeast) contained on yeast originated from Central Java and the dominance was mold and bacteria type, followed by yeast originated from East Java, the three types of microbes (mold, bacteria, and khamir) was equal, while the fewest number found on yeast originated from West Java and the dominance was mold type. The total microbe on yeast originated from Central Java; total mold 2.45 x 108, bacteria 1.94 x 108 and khamir 2.21 x 105; on yeast originated from East Java found the total mold was 3.95 x 107, bacteria was 9.65 x 106, khamir was 1.37 x 107; while on the yeast originated from West Java found the total mold was 2.24 x 108, bacteria was 9.44 x 106 and khamir was 6.0 x 104 cfu/g. The performance of three tapai yeasts generally was similar. The difference performance was only on water content and textur, which was tapai yeast originated from West Java, Central Java and East Java recpectively were: water content 55.27% bb and texture 85.0 mm/g/sec; 61.87% bb and 135.6 mm/g/sec; 63.60% bb and 198.6 mm/g/sec. The fermentation time of 24 hours was the best and eficient, which was the best combination of physicochemical nature and sensory which was produced: combination between tapai yeast originated from West Java with 24 hour fermentation, produced water content 55.27% wb; reducing sugars content 36.99% db; ethanol content 3.3% w/v; total sour content 0.55% wb; pH 5.1; texture 85.05 mm/g/sec; sweet flavor (3,1); yellowiswh white color (4.3); texture was (4.9); flavor was (3.6); rather felt ethanol odor was (4.0); rather felt sour smell was (4.3).