Artikelilmiahs
Menampilkan 8.321-8.340 dari 48.903 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 8321 | 8872 | F1F008122 | THE PARALINGUISTIC ANALYSIS OF THE QUALITY TONE VOICE OF Mr. FREDRICKSEN IN UP MOVIE | Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari tahu macam-macam kualitas bunyi suara dengan menggunakan teori paralinguistik dan tipe-tipe dari kualitas suara terhadap reaksi emosi yang terdapat dalam ujaran Mr. Fredricksen pada film Up. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Peneliti menggunakan teknik purposive sampling untuk mengambil data dengan proses menyeleksi data berdasarkan apa yang dibutuhkan dalam penelitian. Data dari penelitian ini adalah ujaran dari setiap dialog Mr. Fredricksen yang terdapat di film Up. Sementara itu sample penelitan adalah ujaran-ujaran yang mengandung kualitas bunyi dan suara berdasarkan teori dari Trager. Setelah melakukan analisa, peneliti menemukan bahwa semua macam-macam teori kualitas suara yang dikemukakan oleh Trager terdapat di dalam penelitian ini. Macam-macam kualitas bunyi suara itu adalah: Pitch rendah (22), Pitch tinggi (22), Volume (7), Tempo rendah (11), Tempo cepat (42), dan Kekerasan suara (25). Peneliti juga menemukan beberapa tipe dari berbagai tipe kualitas suara dan bunyi tersebut, yaitu: (26) Teori Kontrol Pernafasan yang berfungsi untuk memodifikasi dan mengklasifikasi setiap ujaran yang dikatakan yang didukung oleh reaksi emosi untuk memperjelas arti dari ujaran, (13) Teori Kontrol Pangkal Tenggorokan yang berfungsi untuk memperjelas tekanan ujaran dalam macam-macam ujaran yang sering diujarkan, dan beberapa macam Reaksi Emosi yang berfungsi untuk menyampaikan perasaan atau emosi dari pengguna bahasa yaitu; (22) berteriak, (8) gumaman, (4) Engahan nafas, dan (5) keluh kesah. Tempo cepat dan ujaran yg bersifat teriakan memiliki jumlah temuan terbanyak karena dalam dialog yang diujarkan oleh Mr. Fredricksen dalam film Up banyak terdapat ujaran-ujaran yang tinggi dan berteriak, dan Tempo rendah mempunyai jumlah temuan paling sedikit karna hanya sedikit ujaran-ujaran yang mengandung tempo rendah dalam dialog film tersebut. | The purpose of this study is to find out all kinds of tone quality sound using paralinguistic theory and the types of sound quality to the emotional reactions contained in the speech of Mr. Fredricksen in Up movie. The method used in this research is descriptive qualitative method. The researcher used purposive sampling technique to take the sample that means the process of selecting sample is based on the need of the research. The data of this research are all of the utterances of each dialogue by Mr. Fredricksen in the movie Up, while the samples of research are utterances that contain sound and voice quality based on the theory of Trager. After conducting the analysis, the researchers found that all kinds of tone quality theory proposed by Trager that is contained in this study. The kinds of tone, there were: Low pitch (22), High pitch (22), Volume (7), Low Tempo (11), Fast Tempo (42), and Loudness (25). The researcher also found some types of various types of tone, namely: (26) Breathing Control Theory which is served to modify and classify each utterance in saying that is supported by emotional reactions to clarify the meaning of the utterance, (13) Laryngeal Control Theory that serves to clarify the pressure in various speech utterances are often uttered, and some kinds of reactions that were used to convey the emotion of feeling or emotional reaction of the language users, namely; (22) shouting, (8) mumbling, (4) sighing, and (5) gasping. Fast utterances and Loudness utterances have the highest number of findings because the dialogue which is uttered by Mr. Fredricksen in Up many utterances are high and shouted, and low tempo has the least number of findings because there are only a few utterances which contain a low tempo in the film dialogue. | |
| 8322 | 8873 | A1L010072 | UJI KEMEMPANAN NEMATODA ENTOMOPATOGEN ISOLAT CILONGOK TERHADAP HAMA ULAT GRAYAK (Spodoptera litura F.) PADA TANAMAN KUBIS (Brassica oleracea L.) | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) genus nematoda entomopatogen yang berasal dari Cilongok Kabupaten Banyumas, 2) kemempanan nematoda entomopatogen isolat Cilongok terhadap mortalitas larva S. litura instar 3, dan 3) kemempanan nematoda entomopatogen isolat Cilongok terhadap perkembangan larva S. litura. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 10 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil identifikasi nematoda entomopatogen yang berasal dari Cilongok adalah genus Heterorhabditis. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan nematoda entomopatogen isolat Cilongok mampu meningkatkan mortalitas larva S. litura instar 3 dan menghambat perkembangan larva S. litura terutama pada stadia larva, pupa terbentuk, bobot pupa, dan imago terbentuk. Perlakuan nematoda entomopatogen tidak berpengaruh terhadap stadia pupa. | This research aims to determine : 1) the genus entomopathogenic nematodes taken from Cilongok Sub-District Banyumas Regency, 2) the efficacy of entomopathogenic nematodes Cilongok isolate to mortality 3rd instar S. litura larvae, 3) the efficacy of entomopathogenic nematodes Cilongok isolate to S. litura larvae development. The research was conducted in the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The research used design Randomized Block Design (RBD), consisting of ten treatments with three replications. The nematodes from Cilongok was identifitied as genus Heterorhabditis. The treatments of entomopathogenic nematodes Cilongok isolate increased the mortality of 3rd instar S. litura larvae and inhibited the larval development mainly in the larval stadia, pupae formed, pupal weight, and adult formed. The entomopathogenic nematodes did not influence the duration of pupal stage. | |
| 8323 | 8874 | D1E010095 | PENGARUH LEVEL Saccharomyces cereviceae DAN LAMA FERMENTASI TERHADAP RENDEMEN DAN WAKTU LARUT TEPUNG PUTIH TELUR | Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kombinasi level Saccharomyces cereviceae dan lama fermentasi yang terbaik untuk menghasilkan tepung putih telur berdasarkan rendemen dan waktu larut. Materi yang digunakan adalah putih telur ayam ras dan Saccharomyces cereviceae. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Perlakuan yang diterapkan yaitu level Saccharomyces cereviceae dan lama fermentasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan uji orthogonal polynomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan rendemen dan waktu larut tepung putih telur berkisar antara 13,43 ±0,05% sampai 13,91 ±0,15% dan 2,55 ±0,47 sampai 4,65 ±0,61 menit. Berdasarkan analisis variansi bahwa interaksi antara level Saccharomyces cereviceae dengan lama fermentasi berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap rendemen dan waktu larut tepung putih telur. Perlakuan level Saccharomyces cereviceae berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap rendemen dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap waktu larut tepung putih telur. Perlakuan lama fermentasi berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap rendemen, namun berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap waktu larut tepung putih telur. Kesimpulan penelitian ini adalah level Saccharomyces cereviceae 0,6% menghasilkan rendemen paling tinggi dan waktu larut paling cepat pada tepung putih telur. Lama fermentasi sampai 3 jam menghasilkan rendemen yang sama dan waktu larut paling cepat terhadap tepung putih telur. | The purpose of this study was to asses the best combination level of Saccharomyces cereviceae and time of fermentation on the rendemen and solubility time of albumen powder. The research materials used were albumen of commercial layer and Saccharomyces cereviceae. The research method was experiment using Completely Randomized Design (CRD), factorial pattern. The treatments applied were Saccharomyces cereviceae level and fermentation time. The data were analyzed using analysis of variance and continued with orthogonal polynomial test. The results showed that the averages of rendemen and solubility time of albumen powder were 13.43 ±0.05% until 13.91 ±0.15% and 2.55 ±0.47 until 4.65 ±0.61 minutes. Based on the analysis of variance, the interaction between the level of Saccharomyces cereviceae with time of fermentation was not significant (P>0.05) on the rendemen and solubility time of albumen powder. The level treatment of Saccharomyces cereviceae highly significantly (P<0.01) affected the rendemen and significantly (P<0.05) affected solubility time of albumen powder. The time of fermentation treatments not significantly (P>0.05) affected the rendemen, however significantly (P<0.05) affected solubility time of albumen powder. The conclusion of this study is, the level of Saccharomyces cereviceae as much as 0.6% resulted in the highest rendemen and the fastest solubility time of albumen powder. Fermentation time up to 3 hours resulted in similar rendemen and the shortest solubility time of albumen powder. | |
| 8324 | 10531 | E1A110001 | PUTUSAN PEMIDANAAN DALAM KASUS TINDAK PIDANA KORUPSI ANTARA PT ANTAM DAN UNSOED (Tinjauan Yuridis Putusan No.148/Pid.Sus/2013/PNTIPIKOR.SMG) | ABSTRAK Hukum Pidana merupakan bagian dari hukum publik. Hukum pidana terbagi menjadi dua bagian, hukum pidana materiil dan hukum pidana formil. Hukum pidana materiil diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sedangkan hukum pidana formil diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Menurut KUHAP sebelum hakim menjatuhkan putusan, terlebih dahulu adanya proses pembuktian. Dalam Pembuktian harus didasarkan Kepada Undang-Undang (KUHAP), yaitu alat bukti yang sah yang terdapat pada Pasal 183 KUHAP Seperti dalam perkara ini, yaitu putusan pemidanaan yang dijatuhkan oleh Hakim di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Semarang yakni Putusan Nomor : 148/Pid.Sus/2013/PN.TIPIKOR.SMG) dimana para terdakwa melakukan Tindak Pidana Korupsi Secara bersama-sama dan berlanjut Seperti yang diatur dalam Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana Para Terdakwa yang dinyatakan bersalah dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut maka terdakwa dijatuhi pidana penjara selama 2 Tahun 6 bulan penjara. Kata Kunci: Putusan Pemidanaan, Tindak Pidana Korupsi | ABSTRACT Criminal law is a part of public law, criminal law divided into two part, materially criminal law and formal criminal law. Materially criminal law be regulated in the book of Criminal law regulation (KUHP), while formal criminal law be regulated in the book of criminal procedural law regulation (KUHAP) According to KUHAP there is verification process before the judge make the decision. In verification process must be based on the law (criminal code) which valid evidence that there in KUHAP article 183. As in this case, the sentencing decision that made by the judge in Semarang District Court of Corruption Criminal Act with the number : 148/Pid.Sus/2013/PN.Tipikor.SMG, where the defendants commited the corruption criminal act togetherly and continuously as be regulated in Article 3 Jo.Article 18 regulation number 31 years 1999 about eradication of corruption criminal act such as amended with the Regulation Number 20 year 2001 Jo. Article 55 paragfph (1)-1 KUHP Jo.Article 64 paragraph 1 on KUHP. Defendant that found guilty and must be responsible on what they have done, so defendants sentenced to prison as long as six month two years. Keywords : Decision Punishment, Corruption Criminal Act. | |
| 8325 | 11040 | B1J009103 | KANDUNGAN ALGINAT Sargassum polycystum PADA BERBAGAI VARIASI MORFOLOGI TALUS DAN METODE BUDIDAYA | Sargassum polycystum merupakan salah satu jenis rumput laut penghasil alginat yang banyak dimanfaatkan pada berbagai industri. Kualitas alginat yang ditentukan oleh bobot, kadar air dan warna rendemen. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh metode budidaya dan pemakaian bagian talus yang diekstrak terhadap kandungan alginat, sehingga dapat ditentukan metode budidaya dan bagian talus yang menghasilkan kandungan alginat tertinggi. Variabel bebas adalah bagian talus (daun, batang, dan vesikel) dan metode budidaya (Apung dan Lepas dasar). Hasil analisis Annova menunjukkann variable kombinasi metode budidaya dan bagian talus S. polycystum tidak berpengaruh terhadap produksi alginat. Namun secara mandiri bagian talus berpengaruh terhadap kandungan alginat. Perlakuan metode apung dengan talus bentuk batang memperoleh bobot alginat tertinggi dengan nilai 78,88%. Rata-rata kadar air pada kedua perlakuan berkisar 8,68%-13,91%. Warna alginat yang dihasilkan kategori standart mutu III yaitu berwarna coklat dan coklat kehitaman. | Sargassum polycystum is one many several types of seaweed that producer alginate widely is an important material in various industries. The quality alginate is determined by its weight, water content and colour. The study was aimed to learn the effect of culture method and utilization of thallus part for extraction toward alginate contain. By duing so, it many be conclude which culture method and part of the thallus would be applied in order introduce the highest most of alginate part of the thallus (leaves, stems, and vesicles) were applied and culture methods (Floating and “lepas dasar”) was independent variable, where as the dippentdent one was be alginate contens. The annova analysis of combination variable of culture method and part of the thallus and long this study. The floating method apply rod thallus produced the highest alginat of 78,89%. In average, water contents of both method were 8,68%-13,91%. The alginat colour of both culture method in chategories as standart III level i.e. brown and brown blakies in colour. | |
| 8326 | 4500 | E1A008014 | KAJIAN YURIDIS PEREDARAN MATA UANG ASING DI WILAYAH PERBATASAN INDONESIA DAN MALAYSIA | KAJIAN YURIDIS PEREDARAN MATA UANG ASING DI WILAYAH PERBATASAN INDONESIA DAN MALAYSIA JURIDICIAL STUDY CIRCULATION OF FOREIGN CURRENCY IN THE BORDER REGION INDONESIA AND MALAYSIA SIGAP DHARMA APRIDHIKA, SULITYANDARI, DAN ARYUNI YULIANNTININGSIH PROGRAM STUDI ILMU HUKUM Dapridhika@gmail.com ABSTRAK Negara adalah salah satu subjek hukum internasional. Sejak saat Indonesia menyatakan kemerdekaan maka Indonesia diakui sebagai negara yang berdaulat, yang berwenang menentukan mata uangnya sendiri. Menurut pasal 21 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang Rupiah wajib digunakan dalam : setiap transaksi yang memiliki tujuan pembayaran; penyelesaian kewajiban lainnya yang wajib dipenuhi dengan uang; dan/atau transaksi keuangan lainnya. Dalam faktanya di beberapa daerah masih ada yang menggunakan mata uang ganda terutama di wilayah perbatasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan peredaran mata uang di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia serta mengetahui akibat hukum, jika transaksi di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia tidak menggunakan mata uang Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan spesifikasi penelitian menemukan hukum in abstracto dalam kasus in concerto. Peraturan yang dapat diterapkan untuk peredaran mata uang asing di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia, yaitu Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang, Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, dan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Akibat hukum apabila transaksi dilakukan di willayah perbatasan Indonesia dan Malaysia dilakukan dengan menggunakan mata uang asing, maka transaksinya batal demi hukum. Para pihaknya diancam sanksi sebagai pelanggaran pidana. Kata Kunci : peredaran mata uang, transaksi dan kedaulatan. | JURIDICIAL STUDY CIRCULATION OF FOREIGN CURRENCY IN THE BORDER REGION INDONESIA AND MALAYSIA SIGAP DHARMA APRIDHIKA, SULITYANDARI, DAN ARYUNI YULIANNTININGSIH PROGRAM STUDI ILMU HUKUM Dapridhika@gmail.com ABSTRACT The state is one of the subjects of international law. Ever since Indonesia declared independence, Indonesia is recognized as a sovereign state, which is to set its own currency. According to Article 21 paragraph (1) of Act No. 7 of 2011 About Currency Rupiah must be used in: any transaction that has the purpose of payment; settlement of other obligations that must be met with money and / or other financial transactions. In fact, in some areas there are those who use multiple currencies, especially in border areas. This study aims to determine the currency circulation arrangements in the border region of Indonesia and Malaysia as well as knowing the legal consequences, if the transaction is in the border regions of Indonesia and Malaysia do not use the currency of Indonesia. Using the method of normative juridical approach to legislation and specification studies found in the case law in abstracto in concerto. Regulations applicable to the circulation of foreign currency in the border regions of Indonesia and Malaysia, the Constitution of the Republic of Indonesia Year 1945, Act No. 7 of 2011 About Currency, Law No. 23 Year 1999 concerning Bank Indonesia, the Book Civil Law Act, and Act No. 8 of 1981 on Criminal Proceedings. Legal consequences if the transaction is done in willayah border of Indonesia and Malaysia made using foreign currency, the transaction is canceled by hukum.Peraturan that can be applied to the circulation of foreign currency in the border regions of Indonesia and Malaysia, the Constitution of the Republic of Indonesia Year 1945 , Act No. 7 of 2011 About Currency, Act No. 23 of 1999 concerning Bank Indonesia, the Code of Civil Law, and the Law No. 8 of 1981 on Criminal Proceedings. Legal consequences if the transaction is done in willayah border of Indonesia and Malaysia made using foreign currency, the transaction null and void. The threatened sanction it as a criminal offense. Keywords: circulation of currency,transaction and sovereignty. | |
| 8327 | 8875 | C1C009113 | PENGARUH KAPASITAS SUMBER DAYA MANUSIA, PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI, SISTEM PENGENDALIAN INTERN, DAN KOMITMEN ORGANISASI TERHADAP KETEPATWAKTUAN PELAPORAN KEUANGAN DENGAN VARIABEL INTERVENING KETERANDALAN PELAPORAN KEUANGAN (Penelitian pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Purworejo) | Penelitian ini berjudul Pengaruh Kapasitas Sumber Daya Manusia, Pemanfaaatan Teknologi Informasi, Sistem Pengendalian Internal, dan Komitmen Organisasi terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan dengan Variabel Intervening Keterandalan Pelaporan Keuangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi informasi, sistem pengendalian internal, dan komitmen organisasi terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan dan mengetahui keterandalan pelaporan keuangan dalam memediasi hubungan antara variabel bebas terhadap variabel tergantung. Responden meliputi kepala sub bagian keuangan dan bendahara pada 67 SKPD yang ada di Kabupaten Purworejo. Metode pengumpulan data primer yang dipakai adalah dengan kuesioner. Alat analisis menggunakan analisis regresi berganda, analisis regeresi sederhana, dan uji sobel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi informasi, sistem pengendalian internal, dan komitmen organisasi berpengaruh signifikan terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. Keterandalan pelaporan keuangan mampu memediasi hubungan antara pengaruh kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi informasi, sistem penngendalian internal, dan komitmen organisasi terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. Implikasi dari penelitian ini adalah dengan menerapkan sistem dan standar akuntansi pemerintahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, menerapkan sistem pengawasan terhadap laporan keuangan secara efektif dengan menempatkan pegawai yang kompeten, jujur, memiliki komitmen yang kuat dan menjunjung tinggi etika profesi serta berani melaporkan temuan kesalahan secara obyektif dan profesional. | The Research titled Effects of Human Resource Capacity, utilization of Information Technology, Internal Control Systems, and Organizational Commitment against timeliness of financial reporting by intervening variable of Countability Financial Reporting. The Research aims to determine the effect of human resource capacity, the utilization of information technology, internal control systems, and organizational commitment agains timeliness of financial reporting and determine reliability of financial reporting in mediating relationship between independent variables on dependent variable. The respondents include chief financial subpart and treasurer at 67 SKPD in Purworejo. The Collection method of primary data used was the questionnaire. Analysis tools using multiple regression analysis, analysis of simple regeresi, and Sobel test. The results of Research showed that partially human resource capacity, the utilization of information technology, internal control systems, and organizational commitment have a significant effect against timeliness of financial reporting. The reliability of financial reporting is able to Mediating Relationships between the influence of human resource capacity, the utilization of information technology, internal penngendalian systems, and organizational commitment to the timeliness of financial reporting. The implication of this research is to implement a system of governance and accounting standards according to laws the applicable, implement monitoring systems to the financial statements effectively by placing employees who are competent, honest, have a strong commitment and uphold professional ethics and the courage to report findings of errors objectively and professionally. | |
| 8328 | 8876 | A1G011008 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEUNTUNGAN USAHA JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) (Studi Kasus di UD. Ono Jamur Kelurahan Pasirmuncang Kecamatan Purwokerto Barat) | Usaha jamur tiram memerlukan faktor-faktor produksi yang meliputi harga bibit jamur, harga serbuk kayu, harga bekatul, harga bahan bakar, biaya tenaga kerja, sewa tanah, dan penyusutan kumbung. Pengaruh pemakaian input produksi terhadap pendapatan petani perlu diketahui sehingga petani dapat mengambil sikap untuk mengurangi atau menambah input produksi tersebut. Oleh karena itu diperlukan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan usaha jamur tiram. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya biaya dan keuntungan yang diterima usaha jamur tiram di UD. Ono Jamur Kelurahan Pasirmuncang Kecamatan Purwokerto Barat serta mengetahui pengaruh faktor-faktor harga bibit jamur, harga serbuk kayu, harga bekatul, harga bahan bakar, biaya tenaga kerja, sewa tanah, dan penyusutan kumbung terhadap keuntungan yang diperoleh usaha jamur tiram di UD. Ono Jamur Kelurahan Pasirmuncang Kecamatan Purwokerto Barat. Penelitian dilaksanakan pada UD. Ono Jamur Kelurahan Pasirmuncang Kecamatan Purwokerto Barat. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 25 November sampai tanggal 30 Desember 2013. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode studi kasus pada UD. Ono Jamur. Metode pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan pencatatan. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Metode analisis data yang digunakan untuk mengetahui besarnya keuntungan yang diterima UD. Ono Jamur adalah analisis keuntungan, sedangkan metode analisis yang digunakan untuk mengetahui pengaruh harga bibit jamur, harga serbuk kayu, harga bekatul, harga bahan bakar, biaya tenaga kerja, sewa tanah, dan penyusutan kumbung terhadap keuntungan yang diperoleh UD. Ono Jamur ialah analisis fungsi keuntungan Cobb-Douglas. Hasil penelitian jamur tiram pada UD. Ono Jamur menunjukkan bahwa rata-rata biaya produksi sebesar Rp12.948.595,04 per bulan. Rata-rata penerimaan yang diperoleh sebesar Rp21.019.825,00per bulan sehingga dapat diketahui rata-rata keuntungan sebesar Rp8.071.229,96 per bulan. Berdasarkan hasil analisis fungsi keuntungan diketahui bahwa faktor-faktor produksi yang mempengaruhi keuntungan adalah harga bibit jamur (X1), harga serbuk kayu (X2), harga tenaga kerja (X5), sewa lahan (Z1), dan penyusutan kumbung (Z2), sementara faktor harga bekatul (X3), dan harga bahan bakar (X4) tidak berpengaruh pada keuntungan. | White oyster mushroom business requires production factors that include mushroom seed price, sawdust price, rice bran price, fuel price, labor cost, land rent and depreciation mushroom house. The influence of the use of production input to farmers’ income needs to be known so that farmers can take action to reduce or increase the production inputs. Therefore, it is necessary to analyze the factors that affect the profits of oyster mushroom business. The purpose of this research was to determine the cost and profit received by oyster mushroom business at UD. Ono Jamur Pasirmuncang, West Purwokerto as well as to determine the influence of factors such as mushroom seed price, sawdust price, rice bran price, fuel price, labor cost, land rent and depreciation mushroom house to the profit received by oyster mushroom business at UD. Ono Jamur Pasirmuncang, West Purwokerto. The research was conducted at UD. Ono Jamur Pasirmuncang, West Purwokerto. This research was conducted on November 25 until December 30, 2013. This research was conducted with using case study method at UD. Ono Jamur. Data collection method was conducted by observation, interview and recording. The type of data used to determine the profit that was received by UD. Ono Jamur was profit analysis, while analysis method used to determine the influence of mushroom seeds price, sawdust price, rice bran price, fuel price, labor price, land rent and depreciation mushroom house to profit that was received by UD. Ono Jamur was Cobb-Douglas profit function analysis. The research result of oyster mushroom at UD. Ono Jamur indicated that the average of production cost was Rp12,948,595.04 per month. The average revenue earned was Rp21,019,825.00 per month, so it can be known the average profit of Rp8,071,229.96 per month. Based on the result of profit function analysis was known that variable that had a very significant influence to profit (π) of oyster mushroom at UD. Ono Jamur was sawdust price (X2), biaya labor cost (X5), land rent (Z1), and depreciation mushroom house (Z2), while variable that had significant influence to profit (π) was mushroom seeds price (X1), variable that had not influence to profit (π) was rice bran price (X3), andfuel price (X4). | |
| 8329 | 8877 | D1E010149 | RENDEMEN DAN WARNA TEPUNG PUTIH TELUR AYAM DIBUAT DENGAN METODE PENGERINGAN BUSA (FOAM DRYING) DAN PENGERINGAN BEKU (FREEZE DRYING) | Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji metode pengeringan yang terbaik pada pembuatan tepung putih telur, khususnya terhadap rendemen dan warna. Materi yang digunakan dalam penelitian yaitu putih telur ayam niaga petelur sebanyak 6000 gram dan Saccharomyces cereviceae sebanyak 12 gram. Parameter yang diukur yakni rendemen dan warna tepung putih telur ayam yang dikeringkan dengan metode pengeringan yang berbeda, yaitu metode pengeringan busa dan pengeringan beku. Data yang diperoleh pada penelitian ini diuji menggunakan Uji T untuk mengetahui rendemen dan warna yang dihasilkan dari pengeringan yang berbeda. Hasil penelitian ini menunjukkan pengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap rendemen tepung putih telur dan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap warna tepung putih telur yang dikeringkan menggunakan metode pengeringan yang berbeda. Pengeringan putih telur menggunakan pengeringan busa dan pengeringan beku mampu menghasilkan rendemen sebesar, masing-masing, 13,78 dan 13,82 % dengan tingkat kecerahan masing-masing, 85,33 dan 87,61 dan derajat putih, masing-masing, 69,40 dan 73,60. Kesimpulan dari penelitian ini adalah rendemen tepung telur yang dikeringkan menggunakan pengeringan beku dan pengeringan busa adalah relatif sama, warna tepung putih telur hasil pengeringan beku lebih cerah dan putih dibandingkan tepung telur hasil pengeringan busa. | This research aimed to investigate the best drying method on albumen powder production, especially in its randement and colour. The materials were 6000 gr of commercial chicken egg albumen and 12 gr of Saccharomyces cereviceae. Parameters measured were rendement and colour of albumen powder dried using different drying methods, foam drying and freeze drying. Data obtained were tested using T test to determine the differences between albumen powder made using different drying methods. The results indicated that randement of albumen powder made using different drying methods were not significantly different (P>0.05) while the colour of albumen powder made using freeze dryer were very significantly (P<0.01) higher relatif to that of foam drying. The randements of albumen powder made using foam dryer and freeze dryer were 13.78 and 13.82 %, respectively, the brightness degree were 85.33 and 87.61, respectively and whiteness degree were 69.40 and 73.60, respectively. The conclusion, the randement percentage of albumen powder using freeze drying and foam drying methods are relatively similar, and freeze drying method produces whiter and brighter albumen powder. | |
| 8330 | 4504 | A1G007027 | PERBANDINGAN PENDAPATAN USAHATANI PADI GOGO DAN PADI GOGO AROMATIK DI KECAMATAN KUTASARI KABUPATEN PURBALINGGA | Salah satu strategi dalam upaya pencapaian produktivitas usahatani padi adalah penerapan inovasi teknologi yang sesuai dengan sumberdaya pertanian di suatu tempat. Lahan kering tersedia cukup luas dan pemanfaatannya untuk pertanaman padi gogo belum optimal, sehingga ke depan produksi padi gogo juga dapat dijadikan andalan produksi padi nasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat pendapatan usahatani padi gogo aromatik dan padi gogo, dan mengetahui efisiensi usahatani padi gogo aromatik dan padi gogo. Populasi dalam penelitian ini yaitu petani yang membudidayakan padi gogo aromatik dan padi gogo di Kecamatan Kutasari pada musim tanam tahun 2012. Metode pengambilan sampel dengan metode sensus. Sampel penelitian yang diambil sebanyak 23 petani terdiri dari 7 petani padi gogo aromatik dan 16 petani gogo. Analisis data yang digunakan yaitu analisis biaya, analisis pendapatan dan R/C ratio. Hasil penelitian menunjukkan biaya yang dikeluarkan petani untuk usahatani padi gogo aromatik lebih besar dibandingkan usahatani padi gogo. Selain itu penerimaan petani gogo aromatik lebih besar dibandingkan dengan petani gogo serta pendapatan usahatani padi gogo aromatik lebih besar dari pendapatan usahatani padi gogo, dengan demikian usaha tani padi gogo aromatik menguntungkan. Terdapat perbedaan pendapatan usahatani padi gogo aromatik dan usahatani padi gogo di Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga. Efisiensi usahatani padi gogo aromatik sebesar 2,94, sedangkan efisiensi usahatani padi gogo sebesar 1,38. Hal ini berarti usahatani padi gogo aromatik lebih efisien dibandingkan usahatani padi gogo. | One strategy to support the achievement of rice farming productivity is the application of technological innovation in accordance with the agricultural resources in an area. The dry bed is quite extensively available and its use for planting gogo rice hasn’t optimal, so that the production of gogo rice can be used as a main stay of national rice production. The aim of the research is the analyze the income between aromatic gogo rice farming and gogo rice farming, and to find out their efficiency. The population of the research were the aromatic gogo farmers and gogo farmers. The research was held in Candiwulan and Karang Jengkol village since 1 st to 30 th October 2012. Sampling method of the research with the retrieval of census. The research sampling was taken from 23 farmers, they were 7 gogo aromatic rice farmers and 16 gogo rice farmers. Data analysis used was Cost analysis, income analysis, and R / C Ratio. The result of the research shows that aromatic gogo rice farmers expenses were much more than gogo rice farmers. And So as the income , which mean that aromatic gogo rice farming was more profitable. There were in come significant differences between aromatic gogo rice farmers and gogo rice farmers in District Kutasari Purbalingga Region. The research shows that 2.94 efficiency on aromatic gogo rice farming and 1.38 on gogo rice farming. It means that aromatic gogo rice farming has more efficient than gogo rice farming. | |
| 8331 | 8878 | C1A010124 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 1997-2012 (FACTORS THAT INFLUENCE INCOME INEQUALITY DISTRIBUTION IN CENTRAL JAVA PROVINCE IN 1997-2012) | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pertambahan penduduk, inflasi dan upah minimum provinsi terhadap ketimpangan distribusi pendapatan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 1997-2012. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data sekunder yang bersifat time series dari tahun 1997-2012 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan berbagai jurnal penelitian sebagai pendukung. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear berganda, dimana sebagai variabel dependen adalah indeks gini dan sebagai variabel independen yaitu pertambahan penduduk, inflasi dan upah minimum provinsi dengan melakukan pengujian model asumsi klasik dan pengujian statistik. Berdasarkan hasil regresi linier berganda diperoleh nilai adjusted R² sebesar 59,9 persen, yang menunjukkan bahwa pertambahan penduduk, inflasi dan upah minimum provinsi dapat menerangkan variasi (naik turunnya) indeks gini. Berdasarkan uji F diperoleh hasil seluruh variabel (pertambahan penduduk, inflasi dan upah minimum provinsi) berpengaruh signifikan terhadap indeks gini, sedangkan secara uji t diperoleh hasil variabel pertambahan penduduk tidak berpengaruh, variabel inflasi tidak berpengaruh dan variabel upah minimum provinsi berpengaruh signifikan terhadap indeks gini dengan nilai thitung 4,876 lebih besar daripada ttabel 2,131 dan signifikan 0,000. Implikasi penelitian ini adalah Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah diusahakan tidak menurunkan upah minimum provinsi dengan cara memberikan subsidi kepada industri agar dapat menekan biaya produksi dan mempercepat proses perijinan pembangunan industri padat karya sehingga dapat mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan di Provinsi Jawa Tengah. | The purpose of this research is to find out the effect of population growth, inflation and the provincial minimum wage toward inequality of income distribution in Central Java Province in 1997-2012. The method used in this research is quantitative descriptive analysis method using secondary data that is the time series in 1997-2012 which were obtained from the Central Bureau of Statistics (BPS) and various research journals as supporter data. The analytical tool used in this study is multiple linear regression, as the dependent variable used is the gini index and the independent variables are population growth, inflation and the provincial minimum wage by testing classical assumption and statistical testing. Based on the results of multiple linear regression, it is obtained R² as many as 59.9 percent, indicating that the population growth, inflation and the provincial minimum wage can explain the variations (ups and downs) of gini index. Based on result of F test, it is obtained all variables (population growth, inflation and the provincial minimum wage) significantly influence the gini index, while the result obtained of t test showed population increase variable has not effect, the inflation variable has not affect and provincial minimum wage variable significantly influence the gini index with a value of tcount is 4,876 bigger than ttable 2,131 and 0,000 significance. The implication of this study is the Central Java Provincial Government effort not decrease the provincial minimum wage with provide subsidies to industrial in order to reduce production costs and speed up the permitting process of labor-intensive industrial development so it can reduce the inequality of income distribution in the province of Central Java. | |
| 8332 | 8879 | A1H010055 | Pengaruh Warna Kemasan Dalam Mempertahankan Warna Hijau Pada Buah Pisang Mas (Musa acuminata Colla ) Selama Penyimpanan | Pisang memiliki peranan penting di Indonesia karena dikonsumsi oleh semua tingkat sosial. Produk pertanian terutama buah-buahan merupakan produk yang mudah rusak, sehingga diperlukan cara-cara penanganan pascapanen yang lebih baik untuk dapat memperpanjang umur simpan. Aspek teknologi pascapanen diarahkan untuk mempertahankan mutu buah, memperpanjang daya simpan dan mengurangi kehilangan hasil selama proses prapanen hingga pascapanen. Warna merupakan salah satu parameter mutu buah paling penting bagi konsumen, untuk itu warna pisang mas perlu dipertahankan hijau/segar salah satunya dengan cara pengemasan. Penelitian ini dilakukan untuk mengurangi penurunan mutu pisang mas (khususnya warna buah) dengan cara pembungkusan/pembrongsongan pisang mas menggunakan kemasan kertas berwarna (kertas wajik). Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui pengaruh warna kemasan terhadap beberapa parameter mutu terutama warna pisang mas selama penyimpanan, 2) Mengetahui jenis perlakuan kemasan yang tepat untuk mempertahankan warna buah pisang mas. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Data kemudian dianalisis secara grafis dan uji anova taraf 1% dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf 1% jika berpengaruh nyata. Pisang mas dikemas menggunakan berbagai perlakuan yaitu tanpa kemasan (P0), kemasan merah satu lapis (P1), kemasan merah dua lapis (P2), kemasan hijau satu lapis (P3), dan kemasan hijau dua lapis (P4). Variabel mutu yang diobsevasi yaitu warna (Lab), kadar air, kekerasan, dan kadar brix, yang diamati 2 hari sekali selama 10 hari. Hasil penelitian menunjukkan jenis kemasan berpengaruh sangat nyata terhadap nilai warna (L, a+, a-, b+) dan kadar brix, dan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air dan kekerasan pisang mas. Jenis perlakuan kemasan terbaik secara keseluruhan untuk mempertahankan warna yaitu kemasan merah dua lapis. | Bananas have an important role in Indonesia as it is consumed by all social levels. Agricultural products especially fruits are perishable products, so we need better ways of postharvest handling to be able to extend the shelf life. Aspects of postharvest technology are geared to maintain fruit quality, extend shelf life and reduce yield loss during the pre-harvest to post-harvest processes. Color is one of the most important parameters of fruit quality for consumers, so the color of mas bananas need to be maintained to be green or fresh, such as in the packaging. This research is conducted to reduce the decreasing of the Mas banana quality (especially fruit color) by wrapping or packaging Mas banana using colored paper (greaseproof paper). This research is aimed to 1) Determine the effect of the packaging color on some color quality parameters, especially Mas bananas during storage period, 2) Determine the right treatment to maintain the green color of Mas banana. The research was conducted using a completely randomized design. The data was then analyzed graphically and 1 % level ANOVA test followed by Duncan 's Multiple Range Test (DMRT) level of 1 % if the effect is real. Mas banana packed using a variety of treatment that is without packaging (P0), one red layer packaging (P1), two red layers packaging(P2), one green layer packaging (P3), and a two green layers packaging (P4). Quality variables observed that color (Lab), moisture content, hardness, and brix levels, were observed 2 days for 10 days. The research results show the type of packaging affects very significant on color values (L, a +, a-, b +) and brix levels. It does not affect significantly on the moisture content and hardness of Mas banana. The best overall treatment package to preserve the color is two red layers packaging. | |
| 8333 | 8880 | D1E010018 | KADAR PROTEIN DAN LEMAK KASAR KONSENTRAT PROTEIN BUNGKIL BIJI JARAK (Jatropha curcas) YANG DIFERMENTASI DENGAN SUPLEMENTASI SUMBER N YANG BERBEDA | Bungkil biji jarak (Jatropha curcas) masih mengandung nutrien yang bermanfaat untuk ternak, namun penggunaannya harus hati-hati karena bungkil biji jarak masih mengandung senyawa beracun. Agar dapat dimanfaatkan sebagai pakan yang berkualitas, perlu dilakukan upaya untuk mengurangi kandungan anti nutrisi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan fermentasi menggunakan L.acidhophillus. Pada penelitian ini disuplementasikan sumber N yang berasal dari tepung bungkil kedelai dan tepung ikan. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan terdiri atas F0 (Konsentrat protein bungkil biji jarak), F1 (F0 + 2,5% tepung bungkil kedelai), F2 (F0 + 2,5% tepung ikan), F3 (F1 + 0,45% Dicalsium Phosphat) dan F4 (F2 + 0,45% Dicalsium Phosphat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi sumber N pada fermentasi KP-BBJ menggunakan L.acidhophillus berpengaruh secara nyata (P<0,01) menurunkan kadar protein kasar dan kadar lemak kasar. Hasil uji lanjut orthogonal kontras pada kadar protein menunjukkan bahwa perlakuan F0 tidak berbeda nyata terhadap F1F2F3F4 yang menunjukkan bahwa suplementasi sumber N tidak mempengaruhi kadar protein kasar KP-BBJF, sedangkan pada kadar lemak menunjukkan bahwa suplementasi sumber N mempengaruhi kadar lemak kasar KP-BBJF. Uji orthogonal kontras dengan set kontras F1 vs F2 dan F3 vs F4 , menunjukkan perbedaan, yang artinya jenis sumber N yang disuplementasikan mempengaruhi kadar protein dan lemak KP-BBJF. Uji orthogonal kontras dengan set kontras F1F2 vs F3F4 menunjukkan perbedaan, yang artinya suplementasi DCP dapat mempengaruhi kadar protein dan kadar lemak KP-BBJF. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan sumber N asal bungkil kedelai pada fermentasi konsentrat protein bungkil biji jarak lebih baik dibandingkan dengan tepung ikan dalam meningkatkan kadar protein kasar, sedangkan penambahan sumber N asal tepung ikan mampu menurunkan kadar lemak kasar lebih tinggi. | Jatropha curcas seed meal still contains nutrients that are beneficial to livestock, but in using must be careful because it still contain the toxic compounds.In order can be used as good quality feed, it necessary to reduce the content of anti nutrients. One of the efforts is concerned with fermentation using L.acidhophillus. In this research, supplementation with the source of N derived from soybeans seed meal and fish meal. The reseaserch method was experimental using Completely Randomized Design (CRD), with the treatment consisted of F0 (protein concentrates of J.curcas seed meal ), F1 (F0 + 2.5% soybeans seed meal), F2 (F0 + 2.5% fish meal), F3 (F1 + 0.45% Dicalsium Phosphat) and F4 (F2 + 0.45% Dicalsium Phosphat). The results showed that supplementation with source of N at fermentation of protein concentrate of J.curcas seed meal with L.acidhophillus influenced significantly (P<0,01) on crude protein and fat. Further test using orthogonal contrast on protein levels indicated that the treatment of the F0 was not significant relative to F1F2F3F4 which showed that the supplementation of N source did not affect the levels of crude protein of PC-BBJF, while the fat content showed that supplementation of N source affected crude fat levels of protein concentrate J.curcas seed meal fermentation. The test of orthogonal contrast with set contrast of F1 vs F2 dan F3 vs F4, exhibited differences, which meants that supplementation of different sources of N affected the levels of proteins and fats of protein concentrate of J.curcas seed meal fermentation. The test of orthogonal contrast with the contrast set of F1F2 vs F3F4 showed differences, which meant that the supplementation with DCP affected the levels of protein and fat levels of protein concentrate of J.curcas seed meal fermentation. The conclusion of this research is, the addition of soybean meal N origin on the fermentation of concentrate protein of J.curcas seed meal is better than with fish meal in increase the levels of crude protein, while adding fish meal N origin can lower the levels of crude fat. | |
| 8334 | 8881 | A1H010027 | PENGGUNAAN EDIBLE COATING BERBASIS PATI TALAS (Colocasia esculenta) UNTUK MEMPERTAHANKAN KUALITAS BUAH JAMBU BIJI SELAMA PENYIMPANAN | Edible coating telah lama diketahui dan digunakan untuk melindungi produk yang bersifat perishable dari kerusakan seperti dehidrasi dan tekanan, perubahan kualitas tekstur, serta mencegah penguapan komponen, dan mengurangi pertumbuhan mikroba. Aplikasi edible coating pada buah menjadi metode alternatif untuk menambah umur simpan setelah panen, mengurangi kehilangan perubahan kualitas dan kuantitas, dan juga guna mendapatkan efek yang sama seperti pada penyimpanan modifikasi atmosfer dengan komposisi gas. Pati merupakan salah satu bahan dasar yang dapat digunakan dalam pembuatan edible coating. Talas memiliki kadar pati yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan dasar edible coating. Penambahan plasticizer sorbitol biasanyadilakukan agar bahan lebih elastis dan mengurangi ikatan hidrogen. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh edible coating terhadap kadar air, susut bobot, perubahan warna, kekerasan dan total padatan terlarut, dan menentukan perlakuan terbaik guna menjaga kualitas jambu biji selama penyimpanan. Pada tahap awal penelitian, jambu biji dilapisi edible coating dengan sorbitol 1% (P1), sorbitol 1,5% (P2), Sorbitol 2% (P3), sorbitol 2,5% (P4) dan tanpa edible coating (P0) sebagai kontrol, kemudian disimpan 10 hari. Selanjutnya, beberapa variabel pengamatan seperti kadar air, susut bobot, kekerasan, total padatan terlarut, dan warna (Lab) diukur pada setiap perlakuan. Data hasil pengukuran dianalisis secara statistik dengan uji F 1% (RAL), dilanjutkan uji DMRT 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa edible coating berpengaruh sangat nyata terhadap kekerasan, total padatan terlarut, dan warna (L, a+, a-, b+). Perlakuan terbaik (DMRT 1%) didapat pada nilai kekerasan P0; total padatan terlarut pada P0; L pada P3; nilai a(+) pada P0; nilai a(-) pada P4; nilai b(+) pada P0. | Edible coatings have been well known and utilized to protect perishable products from damages such as dehydration, stress, change in hardness quality, and also to prevent excess evaporation from its component, and to reduce microbial growth. The application of edible coating on fruitsis an alternative method to extend storage period after harvesting, to reduce loss of quality and quantity changes, and also can get the same effect as modified atmosphere storage with gas composition. Starch is one of the basic ingredients that can be used in producing edible coating. Taro has fairly high starch content, so it can be used as a base material of edible coating. Adding sorbitol plasticizer is usually performed to make material more elastic and to reduce its hydrogen bonding. The research was aimed to study the effect of edible coating on moisture content, weight loss, change in color, hardness and total dissolved solids, and to determine the best treatment in maintaining quality of guava during storage. In this research, guava is initially coated by edible coating with sorbitol 1% (P1), sorbitol 1,5% (P2), sorbitol 2% (P3), sorbitol 2,5% (P4), and without edible coating (P0) as a control, andthen is stored for10 days. Furthermore, a number of observed variables, namely moisture content, weight loss, hardness, total solid, and color (Lab) were measuredin each treatment. The measured data were analyzed statistically using F-test 1% (CRD), followed with DMRT 1%. The results showed that the edible coating had very significant affect on hardness, total solid, and color (L, a +, a-, b +). The best treatment (DMRT 1%) is obtained in hardness value with P0; total solidwith P0; L with P3; value of a (+) with P0; value of a (-) with P4; value b (+) with P0. | |
| 8335 | 8882 | A1L010011 | PERFORMANSI PERTUMBUHAN TANAMAN KENTANG VARIETAS ATLANTIK DAN GRANOLA DI DATARAN RENDAH PADA SUHU LARUTAN NUTRISI YANG BERBEDA DALAM SISTEM AEROPONIK | Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendapatkan suhu daerah perakaran yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil benih kentang dengan sistem aeroponik di dataran rendah, 2) mendapatkan suhu larutan nutrisi yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil benih kentang dengan sistem aeroponik di dataran rendah.Penelitian dilaksanakan di screen house di Laboratorium Pemuliaan Bioteknologi Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Karangwangkal, Purwokerto.Penelitian dilaksanakan dari bulan Oktober 2013 sampai Januari 2014. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) pada sistem aeroponik yang terdiri atas 2 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan pertama dicoba meliputi: kontrol, suhu pendinginan nutrisi 15 °C, dan suhu pendinginan nutrisi 20 °C, perlakuan yang kedua dicoba meliputi: varietas atlantik dan granola. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah tangkai, bobot umbi per tanaman, jumlah umbi per tanaman dan diameter umbi. Hasil penelitian bahwa suhu 20 ◦ C dalam sistem aeroponik menghasilkan jumlah umbi per tanaman lebih banyak daripada suhu kontrol dan 15 ◦ C. Perlakuan untuk mendapatkan jumlah umbi terbanyak adalah sistem aeroponik suhu 20 ◦ C dengan rata-rata jumlah umbi sebesar 3 umbi/tanaman. | Research was aimed to 1) get the best root-zone temperature on growth and yield of seed potatoes with aeroponic system in low altitude, 2) get the best nutrient solution temperature on groth and yield of seed potatoes with aeroponics systems in lowlands. The research was carried out in the laboratory breeding screen house plant biotechnology faculty of agriculture, university of general soedirman, karangwangkal, purwokerto. The experiment was conducted from October 2013 to January 2014. Study using Complete Randomized Design (RAKL) on aeroponics system consisting of 2 treatments and 3 replications. The first treatment tried include: 30◦ C, nutrition cooling temperature of 15 ° C, and the temperature of 20 ° C cooling nutrition, treatment of both tested include: Atlantic varieties and granola. The variables measured were plant height, number of leaves, number of stems, tuber weight per plant, number of tubers per plant and tuber diameter. The results of the study that the temperature of 20 ◦ C in an aeroponic system produces more number of tubers per plant than the control temperature and 15 ◦ C. The treatment to get the highest number of tubers is aeroponics system temperature of 20 ◦ C with an average number of 3 tuber tubers / plant. | |
| 8336 | 10533 | C1B010107 | PENGARUH KNOWLEDGE SHARING TERHADAP KEPUASAN KERJA DENGAN KEMAMPUAN ADAPTASI SEBAGAI VARIABEL MEDIASI (Studi pada Tenaga kerja Bagian Produksi PT. Tiga Putra Abadi Perkasa Purbalingga) | Penelitian ini berjudul “Pengaruh Knowledge Sharing Terhadap Kepuasan Kerja Dengan Kemampuan Adaptasi Sebagai Variabel Mediasi (Studi Pada Tenaga Kerja Bagian Produksi PT. Tiga Putrta Abadi Perkasa Purbalingga)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan Pengaruh Knowledge Sharing terhadap Kepuasan kerja dengan Kemampuan Adaptasi Karyawan Sebagai Variabel Mediasi. Populasi dalam penelitian ini adalah tenaga kerja bagian produksi PT. Tiga Putrta Abadi Perkasa Purbalingga. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 100 responden, dengan teknik pengambilan sampel atau responden yaitu menggunakan (Propotional Stratified Random Sampling Design). Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dengan menggunakan regresi sederhana, regresi berganda dan analisis regresi multivariate menunjukan bahwa : (1) Knowledge sharing mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap kemampuan adaptasi karyawan (2) Knowledge sharing mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan, (3) Kemampuan adaptasi berpengaruh positif signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan, (4) Kemampuan adaptasi karyawan memiliki pengaruh mediasi secara parsial atau secara sebagian antara hubungan knowledge sharing dengan kepuasan kerja. Implikasi dari kesimpulan diatas yaitu PT. Tiga Putra Abadi Perkasa Purbalingga hendaknya meningkatkan knowledge sharing dan kemampuan adaptasi dengan jalan menyediakan waktu dan tempat pertemuan secara formal bagi tenaga kerja, untuk mengadakan forum diskusi antar tenaga kerja yang sudah berpengalaman dengan tenaga kerja yang masih minim pengalaman dengan saling mendikusikan masalah-masalah yang terjadi pada kegiatan produksi. Alangkah baiknya juga disertai pelatihan atau pembalajaran secara rutin mengenai ketrampilan-ketrampilan agar tenaga kerja yang minim pengalaman bisa beradaptasi dan semakin mahir dalam mengerjakan pembuatan bulu mata palsu. Perusahaan juga harus memperhatikan kondisi para tenaga kerjanya dengan memberikan fasilitas-fasilitas pendukung yang membantu untuk mengatasi masalah-masalah yang acap kali muncul. | This research, entitled "The Effect of Knowledge Sharing on Job Satisfaction Adaptation Capabilities As Mediation Variables (Studies on the Production Department of Labor PT. Three Putrta Perkasa Abadi Purbalingga)". The purpose of this study was to describe the Effect of Knowledge Sharing on Job satisfaction with Adaptive Capabilities Employees As Variable Mediation. The research population in this study is a labor of production of PT. Tiga Putrta Perkasa Abadi Purbalingga. The number of respondents who were taken in this study were 100 respondents, the sampling technique or respondents are using (proportional stratified random sampling design). Based on the results of research and data analysis using simple regression, multiple regression and multivariate regression analysis showed that: (1) Knowledge sharing has a significant positive effect on the adaptability of employees (2) Knowledge sharing has a significant positive effect on job satisfaction of employees, (3) adaptability significant positive effect on employee job satisfaction, (4) ability to adapt the employee has a mediating effect partially or in part between knowledge sharing relationship with job satisfaction. The implications of the above conclusions, namely PT. Tiga Putra Perkasa Abadi Purbalingga should improve knowledge sharing and adaptation with the ability to provide a time and place of the meeting formally for labor, to create a forum for discussion among workers who have had experience with labor is still minimal experience with each other discussing the problems that occur on production activities. It would be nice also accompanied by training or pembalajaran regularly about the skills that workers who lack experience can adapt and become more proficient in working on the false eyelashes. The company must also pay attention to the condition of the workforce by providing support facilities that help to overcome the problems that often arise. | |
| 8337 | 10985 | B1J010050 | KERAGAMAN DAN KELIMPAHAN KUMBANG TINJA (COLEOPTERA: SCARABAEIDAE) PADA LAHAN BAWAH TEGAKAN HUTAN DAMAR DAN HUTAN PINUS DI DESA SERANG, PURBALINGGA | Gunung Slamet merupakan suatu kawasan hujan tropis Indonesia dan merupakan hutan transisi antar hujan basah dari Jawa barat dan hutan musim di Jawa bagian timur. Sejak tahun 1917 sebagian dari hutan alamnya telah dikonversi menjadi hutan tanaman. Dampak dari konversi hutan adalah terjadinya perubahan iklim mikro dan hal ini dapat menyebabkan perubahan komposisi organism pendukungnya termasuk kelompok kumbang tinja (Coleoptera: Scarabaeidae) yang struktur dan komunitasnya sangat dipengaruhi oleh hilangnya kanopi hutan, modifikasi hutan, dan fragmentasi hutan. Penelitian untuk mengetahui bagaimana tingkat keragaman dan kelimpahan kumbang tinja (Coleoptera: Scarabaeidae) pada hutan damar dan hutan pinus di Desa Serang, Purbalingga pada bulan September sampai bulan November 2014. Penelitian ini menggunakan metode survai dengan teknik pengambilan secara sistematik menggunakan line transect yang terbagi menjadi lima kuadran. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan perangkap pitfall trap. Variabel yang diamati berupa ragam spesies setiap Familia Scarabaidae. Parameter yang diukur pH tanah, kelembaban tanah dan tekstur tanah. Data kelimpahan serangga dianalisis secara deskriptif pada level spesies. Data dianalisis menggunakan Indeks Shannon-Wienner, Indeks simpson, dan deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keragaman seranga Coleoptera (Scarabaeidae) pada hutan damar lebih banyak (Onthophagus trituber, Onthophagus holzi dan Onthophagus collfsi) dibandingkan hutan pinus (Onthophagus trituber, Onthophagus holzi dan Onthophagus liliphanatus). Kelimpahan serangga Coleoptera (Scarabidae) pada hutan damar sebanyak 73 individu sedangkan pada hutan pinus 16 individu. Hasil indeks keragaman Shannon-Wienner menunjukkan bahwa Hutan Damar memperoleh 1,04 dan Hutan Pinus 0,45 yang artinya termasuk kategori keragaman rendah. Kategori rendah dikarenakan perubahan iklim mikro akibat konservasi hutan.Indeks dominansi menunjukkan hasil 0,36 pada Hutan Damar 0,64 pada Hutan Pinus yang artinya tidak ada jenis kumbang tinja yang mendominasi di kedua hutan.Indeks semakin mendekati 0 tidak ada jenis atau spesies yang mendominasi. | The slop of maunt Slamet is one of the unique Indonesian rain forest area. This isthe transition between the wet rainforest of the western part of java and the monsoon forest of the eastern part of java. Since many year ago (1917), some natural forests have been converted to industrial forests. These conversions have changed the microclimate and the composition of organismal groups such as dung beetles (Coleoptera: Scarabaeidae) whosecommunity structure and distribution are influenced by the loss of canopy, habitat changes, and forest fragmentation. This research aimed to determine the diversity and abundance of ground beetlesindifferent forest habitats (damar and pine forests) and also aimed to study the dung beetle dominance in different forests. This research conducted using field survey methodwith purposif sampling techniques using transects. The independent variables in this research were Damar forests and Pine forests, temperature, and soil pH.The dependent variables of this research were the abundance and diversity of dung beetles. Samples were taken from damar and pinus forest with 3 replications. This research was conducted during the period of November-September 2014. Data were analyzed by using Shannon-Wiener’s DiversityIndex, Simpson’sIndex and descriptively discussed. The result indicated that there were 4 species of dung beeltes found in both forests. Four(4) species(Onthophagus trituber, Onthophagus holzi and Onthophagus collfsi)were found in the Damar forest,and three(3) species (Onthophagus trituber, Onthophagus holzi and Onthophagus liliphanatus) were found in the Pine forest. The dung beetle Abudance was 89 individual inDamar forest and 16 individual Pine forest. The Shannon-Wienner’s Diversity indexobtained from Damar orest was (1,02) and and that from the Pine forest was0,45. The Simpson Index found fromDamar forest was(0,252) and that from Pine forest was0,642. There was no dominantspecies in both forests | |
| 8338 | 11355 | A1L011142 | Evaluasi Kemampuan Lahan Kering untuk Mendukung Sistem Pertanian Berkelanjutan di Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes | Kondisi fisik desa-desa di Kecamatan Paguyangan terus berkembang. Hal ini terbukti dengan berlanjutnya konversi lahan pertanian ke non-pertanian dan menyebabkan luas lahan pertanian berangsur-angsur menurun. Meningkatnya kebutuhan lahan yang sesuai untuk bercocok tanam dan berkurangnya lahan yang tersedia, mendorong petani untuk melakukan usaha tani tanpa memperhatikan kemampuan lahannya. Pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya dikhawatirkan akan merusak produktivitas lahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelas kemampuan lahan untuk pertanian berkelanjutan dan sebarannya di Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes, Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari 2015 sampai April 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah survei tanah tingkat tinjau mendalam berdasarkan Satuan Lahan Homogen (SLH) dengan skala 1:50.000. SLH ditentukan atas dasar tumpang susun (overlay) antara peta jenis tanah, dan peta kelerengan dengan skala yang sama. Peta Satuan Lahan Homogen digunakan dalam penentuan titik sampel dan pengamatan di tempat kajian. Variabel pengamatan yang diamati meliputi tekstur tanah (t), kelerengan (l), kedalaman efektif (k), drainase (d), batuan permukaan (b), erosi (e), dan ancaman banjir/genangan (O). Hasil penelitian menunjukan penyebaran kelas kemampuan lahan yang terdapat di Kecamatan Paguyangan adalah Kelas II, III, IV dan Kelas VI secara berurutan memiliki luasan 2300.458 ha (32.24%), 4560.169 ha (63.92%), 133.071 ha (1.87%) dan 140.113 ha (1.96%). Lahan yang sesuai untuk arahan pertanian berkelanjutan di Kecamatan Paguyangan adalah kelas II dengan penggunaan lahan rumput dan tegalan seluas 477.455 ha (6.69%), dan 1823.003 ha (25.55%). Kelas III dengan penggunaan berupa kebun dan semak dengan luas 4015.627 ha (56.29%) serta 539.253 ha (7.56%). Kelas IV dengan penggunaan lahan berupa Rumput 133.071 ha (1.87%). Penggunaan lahan yang tidak sesuai untuk pertanian berkelanjutan di Kecamatan Paguyangan dengan penggunaan lahan tegalan pada kelas III dan VI seluas 5.289 ha (0.07%), dan 140.113 ha (1.96 %). | Physical condition of the villages in the Paguyangan District Brebes Regency was developing. It proved by the land conversion from agricultural to non-agricultural and causing the area of the agricultural land gradually declined. The increasing requirement of arable land and the declining of available land were encouraging farmers to farm regardless the land capability. It is feared that utilization of a land which is beyond land capability could damage the land productivity. The purpose of this research was to determine the classes and distribution of land capability in Paguyangan District Brebes Regency. This research conducted in Paguyangan District Brebes Regency, Soil Science Laboratory of Agriculture Faculty of Jenderal Soedirman University and Yogyakarta agricultural technology assessment centers from January 2015 until April 2015. The method used in this research was in-depth soil survey based on Homogeneous Land Unit (SLH) with 1 : 50.000 map scale ratio. SLH determined on the basis of overlaid soil map and slope map with similar map scale. The homogenous land unit map used to determine sample points and the observation of study area. Observed variables in this research were soil texture (t), slope (l), effective depth (k), drainage (d), stone (b), erosion (e) and inundation (O). This research revealed the distribution of land capability classes in Paguyangan District Brebes County were II, III, IV dan VI sequentially had area 2300.458 ha (32.24%), 4560.169 ha (63.92%), 133.071 ha (1.87%) dan 140.113 ha (1.96%). Land which classified as class II suited for sustainable agriculture were grass covered field and utilized as a plantation had a size of field 477.455 ha (6,69 %) and 1823,003 ha (25,55 %). Class III utilized as mix garden and bush or shrub covered field had a size of field 4015.627 ha (56,29 %) also 539,253 ha (7,56 %). Class IV was a grass covered land field had a size of field 133,071 ha (1,87 %). Lands which did not suit for sustainable agriculture in Paguyangan District Brebes Regency was a plantation classified as Class III and VI had a size of field 5.289 ha (0,07 %) and 140, 113 ha (1,96 %). | |
| 8339 | 8889 | H1K009012 | KARAKTERISTIK GELOMBANG DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERUBAHAN LUAS GARIS PANTAI TIMUR PANGANDARAN | Penelitian ini berjudul “Karakteristik Gelombang dan Pengaruhnya Terhadap Perubahan Luas Garis Pantai Timur Pangandaran”. Tujuan penelitian adalah mengetahui perubahan garis pantai dan perubahan luas abrasi serta pengaruh dari karakteristik gelombang terhadap perubahan garis pantai. Metode yang digunakan adalah membandingkan ketiga citra multi temporal tahun 1994, 2004, dan 2012. Data yang digunakan adalah data angin dan gelombang dari BMKG Cilacap. Data penginderaan jauh menggunakan Landsat 7 ETM+ yang kemudian akan diolah kedalam software Arc View 3.3. Pantai Timur Pangandaran mengalami perubahan garis pantai dari tahun 1994-2004 dan tahun 2004-2012. Perubahan yang terjadi merupakan penambahan dan pengurangan luas pantai atau yang disebut dengan abrasi dan akresi. Hasil tahun 1994 hingga tahun 2001 mengalami abrasi atau pengurangan luas pantai sebesar 86784,19 m2, sedangkan tahun 2001 hingga tahun 2012 menunjukan adanya akresi atau penambahan luas pantai sebesar 83877,20 m2. Abrasi yang terjadi diduga karena adanya energi gelombang yang secara berkelanjutan menghantam daerah pesisir pantai yang menyebabkan menjoroknya garis pantai ke darat sehingga mengakibatkan mundurnya garis pantai. Energi gelombang yang paling besar terjadi pada saat musim timur yaitu pada bulan Juli. Rata-rata ketinggian gelombang pada musim timur adalah 0,7 m dengan amplitudo 0,35 dan mampu menghasilkan energi sebesar 618,26 joule. | This study entitled "Wave Characteristics and Its Influence on the Change of Abrasion Area in East Coast of Pangandaran". The purpose of this study was to determine change of the shoreline and change of abrasion area and also to determine the effect of characteristics of the waves on abrasion area. The method used was comparison of three multi-temporal imagery from three different years i.e. 1994, 2004 and 2012. The data used were the wind and the waves data which collected from BMKG Cilacap. Remote sensing data were using Landsat 7 ETM + which will be analysed using software Arc View 3.3.. East Coast Pangandaran coastline have changed from 1994-2004 and from 2004-2012. The changes include addition and subtraction of beach width or called as abrasion and accretion. Data from 1994 to 2001 revealed the occurance of abration or land reduction (86784.19 m2), whereas data from 2001 to 2012 showed the presence of accretion or land addition ( 83877.20 m2). The abrasion occurred due to the continuous wave energy which hit coastal areas. The highest wave energy occurs during east monsoon occurred in July. The average of wave height in the east season was 0.7 m with amplitudes 12:35 and able to produce energy approximately 618.26 joules. | |
| 8340 | 8884 | F1A010078 | Kepercayaan Masyarakat Tentang Metode Pengobatan Alternatif H. ADI F Di Purwokerto | Pengobatan alternatif di pengobatan alternatif H.Adi F adalah salah satu pengobatan yang masih menggunakan metode obat herbal atau obat-obatan dari bahan yang alami. Rumusan masalah penelitian ini: Bagaimana kepercayaan masyarakat tentang metode pengobatan alternatif H. Adi F di Purwokerto. Penelitian ini bermaksud mendeskripsikan mengenai kepercayaan masyarakat tentang metode pengobatan alternatif H. Adi F dan tipe penelitian ini adalah kualitatif deskripsi. Lokasi penelitian di klinik pengobatan alternatif H. Adi F cabang Purwokerto. Informan yang dipilih berjumlah 5 orang pasien yang telah mengikuti terapi penyembuhan serta 3 orang keluarga pasien yang mengantarkan ke pengobatan alternatif H. Adi F. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive dengan pertimbangan informan memenuhi kriteria yang dijadikan pertimbangan. Teknik analisis data yakni data yang diperoleh, dikelompokan dan dikategorikan menurut tema dan permasalahan penelitian serta dicari hubungan dari tiap-tiap tema tersebut kemudian dihubungkan dengan teori yang ada. Pada akhirnya dapat disimpulkan pasien yang berobat ke pengobatan alternatif H. Adi F mempercayai pengobatan alternatif H. Adi F sebagai pengobatan alternatif yang menggunakan metode herbal dan tanpa unsur ghaib, mampu memberikan pelayanan kesehatan dengan baik untuk masyarakat sehingga masyarakat bisa yakin untuk memilih pengobatan dari penyakit yang dideritanya. | Alternative treatment in “H.Adi F’s alternative treatments” is one of treatment that still use herbal medicine or medicines from nature ingredient. The problems of this studies are how is the people’s belief in Purwokerto towards “H.Adi F’s alternative treatments” method. This research was to describe about people beliefs in “H.Adi F’s Alternative Treatment” with herbal methods as curing methods and the type of this study is qualitative description. The location that chosen in this study is in “H.Adi F’s alternative treatments” clinic in Purwokerto. There are five chosen patient because they already have some therapeutic therapies and three respondent chosen from family member that accompanying them. Sampling technique is using purposive sampling with informan consideration wether it fulfill the criteria that already set up or not. Data analysis were perform by firstly data obtained, data divided and grouped, then categorized by theme and findings the relation of the problems with certain themes and then associated with existing theories. Finally can be conclude about people beliefs in “H.Adi F alternative treatments” methods, they belief that “H.Adi F alternative treatments” is alternative treatments that use herbal medicine only without any supernatural element. Can perform good health care to convince the people to choose “H.Adi F’s alternative treatments” as medication to cure their illness. |