Artikelilmiahs
Menampilkan 8.021-8.040 dari 48.901 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 8021 | 8719 | H1L009067 | RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI JASA PROMOSI DAN TRANSAKSI PEMESANAN PEMONDOKAN MAHASISWA BERBASIS WEB (Studi Kasus Pemondokan Mahasiswa Sekitar Purwokerto) | Kebutuhan tempat tinggal atau pemondokan mahasiswa yang belajar di kota Purwokerto menjadi suatu masalah yang cukup penting. Pencarian pemondokan secara tradisional dirasa sulit dan tidak efisien. Hal serupa juga terjadi kepada para pemilik pemondokan yang merasa sulit mempromosikan pemondokan miliknya. Oleh karena itu, perlu dibangun suatu sistem informasi jasa promosi dan transaksi pemesanan pemondokan mahasiswa berbasis web yang bisa menjadi solusi dari masalah-masalah yang terjadi tersebut. Dalam merancang dan membangun sistem ini diterapkan suatu metode pengembangan sistem yaitu metode waterfall. Teknologi yang digunakan adalah bahasa pemrograman PHP berbasis orientasi objek dalam suatu yii framework yang dilengkapi dengan basis data Mysql. Sistem ini dijalankan oleh tiga user yaitu owner, administrator, dan anggota yang terdiri dari pencari dan pemilik. Halaman yang tersedia dalam sistem terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang melakukan promosi atau front-end dan bagian yang mengelola sistem secara keseluruhan atau back-end. Sedangkan untuk menu yang ada terdiri dari sebelas menu yaitu menu dashboard, menu presentase harga, menu data administrator, menu data anggota, menu data pemondokan, menu data kamar pemondokan, menu penyetujuan pemondokan, menu data transaksi, menu pengesahan transaksi, menu keranjang pemesanan dan menu laporan. Pada akhir pembangunan sistem ini dilakukan pengujian sistem dengan metode use case testing secara localhost dan didapatkan hasil yang menyimpulkan bahwa sistem informasi jasa promosi dan transaksi pemesanan pemondokan mahasiswa dapat berjalan sesuai konsep awal yang ditentukan. | The need of residence or dormitory for student who study in Purwokerto becomes a pretty important problem. Looking for dormitory traditionally become such a difficult and inefficient thing to do. The same thing also happen for the dormitory owners who feel difficult to promote their own dormitory. Therefore, it is necessary to design and build a web –based promotion service and dormitory transaction order information system that can be a solution to overcome those problems. In designing and developing this system, there is an development system method that is called waterfall method. The technology that is used for this system is object-oriented PHP in Yii framework with Mysql database. This system is being run by 3 users, owner, administrator and members which consist of the dormitory seeker and the owner. The pages that are available in the system consist of two parts, the first part is a promotion page or front-end page and the second one is a page that manage the system entirely or back-end page, while there are 11 menus that are available in the system, they are dashboard menu, price percentage menu, administrator data menu, members data menu, dormitory data menu, dormitory room data menu, dormitory approval menu, transaction data menu, transaction validation menu, order basket menu and reporting menu. In the end of system development, there will be a system testing with use case testing method by localhost and it will get a result that conclude that this promotion service and dormitory transaction order information system can run appropriately with the determined initial concept. | |
| 8022 | 8720 | A1H010054 | Penggunaan Metode Mock dan Model Tangki dalam Penentuan Debit Andalan Pada Sub DAS Klawing, Kabupaten Purbalingga | Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menentukan debit yang dihasilkan oleh Sub DAS Klawing, (2) Mengetahui ketersediaan air yang terdapat pada Sub DAS Klawing, (3) Menentukan potensi debit andalan yang terdapat pada Sub DAS Klawing dan (4) Mencari dan menentukan model yang tepat yang dapat digunakan dalam menentukan debit pada Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Klawing. Metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis curah hujan dengan menggunakan rerata aritmatik, analisis evapotranspirasi dengan metode Penman-Monteith, analisis debit sungai dengan metode Mock, analisis debit sungai dengan metode Tangki, analisis debit andalan serta Analisis Neraca air. Dari hasil perhitungan diperoleh debit setengah bulanan menggunakan metode Mock dengan data tahun 2003 sampai dengan 2012 yaitu besarnya debit ada pada kisaran Q = 1,9 m³/det s/d Q = 814,8 m³/det. Sedangkan debit setengah bulanan menggunakan metode Tangki besarnya debit pada kisaran Q = 0,5 m³/det s/d Q = 491,5 m³/det Hasil analisis debit diperoleh bahwa penggunaan model Tank lebih memberikan hasil yang hampir menyerupai kondisi debit yang sebenarnya dibandingkan metode Mock karena memiliki nilai error yang lebih rendah yaitu 61,5 sedangkan model Mock memberikan hasil error sekitar 112,9. Debit andalan observasi dengan probabilitas 80% untuk debit setengah bulanan (Q80%) diperoleh Qmax = 62,3 m³/det dan Qmin = 4 m³/det dan debit andalan dengan menggunakan model Tank diperoleh Qmax = 77,05 m³/det dan Qmin = 1,6 m³/det. Berdasarkan hasil analisa neraca air observasi, defisit tertinggi terjadi pada bulan Juni periode I dan surplus tertinggi terjadi pada Januari periode II Sedangkan neraca air terhadap debit andalan model tank memperlihatkan bahwa defisit tertinggi terjadi pada bulan Oktober periode I dan surplus tertinggi terjadi pada Desember periode II | The aim of this research are (1) Determine discharge produced by Klawing watershed, (2) Find out the availability of water in the Klawing watershed (3) Determine the dependable discharge that are found on klawing watershed and (4) Looking for and Determine the exact model that can be used to determining the discharge of Klawing Watershed. Methods of data analysis conducted in this study is the rainfall analysisl by using the average aritmatik, evapotranspiration analysis by Penman-Monteith method, river discharge analysis with Mock method, river discharge analysis using Tank methods, dependable discharge analysis and water balance analysis. Calculation of the results obtained using the Mock method of half-monthly discharge that data of 2003 s/d in 2012 the amount of discharge in the range Q = 1.9 m3/s until Q= 814.8 m3/s. And half-monthly discharge using Tank model in the range Q = 0.5 m3/s until Q= 491.5 m3/s. The result of discharge analysis obtained that the use of Tank model give result that almost resembled an actual discharge condition than the use of Mock Methods because it has a lower error value i.e 61.5 while Mock methods give an error value about 112.9. Dependable Discharge observation with 80% probability for half monthly discharge was obtained 62.3 and Qmin = 4 m3/s and and dependable dischare using Tank model retrieved Qmax = 77.05 m3/s m3/s and Qmin = 1.6 m3/s .Base on the water balance analysis, the higher deficit happens on June I periods, and the higher surplus happens on January II periods. While the water balance with dependable discharge Tank model shows that the highest deficit occurred in Oktober I periods and the highest surplus occurred in December II periods. | |
| 8023 | 10458 | A1H009030 | UJI PERFORMANSI RAPID QUALITY DETECTOR (PROTOTYPE III) UNTUK PENGUKURAN KUALITAS BUAH PISANG MAS (Musa acuminata Colla) | Di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia, para petani pisang mempunyai kendala dalam memasok komoditas pisang yang mempunyai mutu seragam. Hal tersebut dikarenakan belum adanya alat yang mampu digunakan untuk mengevaluasi mutu komoditas pisang secara baik dan menghasilkan data secara akurat, meskipun ada maka harganya tidak terjangkau oleh para petani pisang di Indonesia. Karena keterbatasan finansial tersebut, perlu diciptakan teknologi pendeteksi mutu buah dengan menggunakan komponen dengan harga yang terjangkau, mudah dalam penggunaannya dan mempunyai hasil yang akurat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik luaran sensor LDR terhadap indikator mutu buah (kekerasan, total padatan terlarut, warna) dan membuat persamaan matematis hubungan luaran sensor LDR terhadap indikator mutu buah. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan juni sampai juli 2013. Penelitian ini menggunakan metode non destruktif dan destruktif dengan tiga perlakuan awal yaitu perlakuan utuh, impact, pressure. Variabel yang dimati dalam penelitian ini meliputi respon sensor, kekerasan, total padatan terlarut, warna dan uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukan bahwa alat Rapid Quality Detector (Prototype III) dapat merespon perubahan kematangan buah pisang terhadap indikator mutu buah. Hubungan respon sensor dengan kekerasan didapatkan persamaan yaitu perlakuan utuh yu = -681.4x2 + 169.6x + 2.066, denganR² = 0.999, perlakuan impact yi = -223.9x2 + 47.84x + 9.258, dengan R2 = 0.999, dan perlakuan pressure yp = 437.7x2 - 252.1x + 43.24, dengan R2 = 0.998. Sehingga respon sensor berpengaruh terhadap kekerasan buah pisang. Hubungan respon sensor dengan total padatan terlarut didapatkan persamaan yaitu perlakuan utuh yu = 0,051x2 – 1,199x + 12,66, dengan R2 = 0.634, perlakuan impact yi = -0,003x2 – 1,350x + 11,96, dengan R2 = 0.833, dan perlakuan pressure yp = -0,094x2 – 1,259x + 11,04, dengan R2 = 0.724. Sehingga respon sensor berpengaruh terhadap total padatan terlarut buah pisang. Hubungan perubahan warna terhadap respon sensor didapatkan persamaan yaitu perlakuan utuh yL = -5547.x2 + 1693.x - 55.01, dengan R2 = 0.875, ya = 688.9x2 - 195.2x + 22.85, dengan R2 = 0.294, dan yb = -4200.x2 + 1226.x - 37.94, dengan R2 = 0.925. Perlakuan Impact yL = -469.9x2 + 78.61x + 65.23, Dengan R2 = 0.852, ya = 9.059x2 + 15.47x + 7.7, dengan R2 = 0.963, dan yb = -250.7x2 + 4.424x + 48.76, dengan R2 = 0.715. Perlakuan Pressure yL = 110.3x2 - 94.31x + 84.41, dengan R2 = 0.944, ya = -201.6x2 + 138.9x - 11.25, dengan R2 = 0.992, dan yb = -218.3x2 + 100.6x + 36.69, dengan R2 = 0.813. Sehingga respon sensor berpengaruh terhadap perubahan parameter warna buah pisang. Ambang batas penerimaan konsumen adalah pada nilai OD sebesar 0,310. | In many developing countries including Indonesia, the banana growers have constraints in the supply of commodities bananas which have uniform quality. This is due to the lack of tools that can be used to evaluate the quality of bananas in both commodities and produce accurate data, although there is then the price is not affordable by the banana growers in Indonesia. Due to financial constraints, the need to create fruit quality detection technology using components with reasonable price, easy to use and have accurate results. The aims of this study are to find out the characteristics of LDR censor outputs toward the changing of fruit quality indicators and to create mathematical equations of LDR censor outputs toward fruit quality indicators. This research was conducted at the Agricultural Technology Laboratory, Agriculture Faculty, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. This study was done on Juni until Juli 2013. This research also use non-destructive and destructive methods with three pre- treatments, they are intact, impact, and pressure. The variables that are observed in this study include of the censor response, hardness, total solid matter soluble, color and organoleptic tests. Result of this research shows that the Rapid Quality Detector (Prototype III) tool can respond the changing of overripe banana gold toward fruit quality indicators. The correlation of censor response with hardness is obtained by the equations, they are intact treatment yu = -681.4x2 + 169.6x + 2.066, with value of R² = 0.999, impact treatment yi = -223.9x2 + 47.84x + 9.258, with value ofR2 = 0.999, and pressure treatment yp = 437.7x2 - 252.1x + 43.24, with value of R2 = 0.998, so the censor response influences banana hardness, besides, correlation of censor response with total solid matter soluble obtained by the equations, they are intact treatment yu = 0,051x2 – 1,199x + 12,66, with value of R2 = 0.634, impact treatment yi = -0,003x2 – 1,350x + 11,96, with value of R2 = 0.833, and pressure treatment yp = -0,094x2 – 1,259x + 11,04, with value of R2 = 0.724, thus the censor response influences toward total solid matter soluble of banana fruit. In addition, the correlation of changing color toward censor response is obtained several equations, such as intact treatment yL = -5547.x2 + 1693.x - 55.01, with value of R2 = 0.875, ya = 688.9x2 - 195.2x + 22.85, with value of R2 = 0.294, dan yb = -4200.x2 + 1226.x - 37.94, with value of R2 = 0.925. Impact Treatment yL = -469.9x2 + 78.61x + 65.23, with value of R2 = 0.852, ya = 9.059x2 + 15.47x + 7.7, with value of R2 = 0.963, dan yb = -250.7x2 + 4.424x + 48.76, with value of R2 = 0.715 Pressure Treatment yL = 110.3x2 - 94.31x + 84.41, with value of R2 = 0.944, ya = -201.6x2 + 138.9x - 11.25, with value of R2 = 0.992, dan yb = -218.3x2 + 100.6x + 36.69, with value of R2 = 0.813. Therefore, the censor response influences toward the changing parameters of banana fruit color, and the threshold of consumer acceptance is at the OD value as big as 0.310. | |
| 8024 | 10460 | A1H009029 | DINAMIKA EMISI GAS RUMAH KACA (CH4, CO2, N2O) SELAMA MASA PERTUMBUHAN PADI MENGGUNAKAN METODE PENANAMAN SRI (System Of Rice Intensification) DAN KONVENSIONAL DENGAN PERLAKUAN PENAMBAHAN ARANG | Pertanian padi sawah,khususnya sawah teririgasi merupakan sebagai salah satu sumber emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang menyebabkan terjadinya pemanasan global (global warming). Tujuan penelitian ini antara lain (1) Mengetahui dinamika Gas Rumah Kaca (CH4, CO2 dan N2O) pada penanaman padi menggunakan metode SRI (System of Rice Intensification) dan Konvensional dengan perlakuan penambahan arang selama 1 masa tanam padi. (2) Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi emisi Gas Rumah Kaca pada penanaman padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification) dan Konvensional. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2013 sampai bulan Juli 2013 di Desa Banjarsari wetan Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas dan sampel gas dianalisis di Laboratorium Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian di Kota Pati, Jawa Tengah. Variabel yang diamati dalam penelitian ini antara lain, emisi gas rumah kaca (CH4, CO2 dan N2O) , dan Evapotranspirasi selama pertumbuhan tanaman. Penelitian yang dilakukan menggunakan 2 metode yaitu metode SRI (System of Rice Intensification) dan Konvensional, masing-masing menggunakan perlakuan penambahan arang, dengan dosis arang 5 ton/ha, dosis arang 10 ton/ha dan dosis arang 20 ton/ha. Hasil penelitian padi selama satu musim tanam atau selama masa penanam dengan menggunakan metode SRI (System of Rice Intensification) dan Konvensional dengan perlakuan penambahan arang menunjukkan bahwa total emisi Gas CH4 tertinggi 415,24 ppm/hari pada metode Konvensional perlakuan penambahan arang 20 ton/ha, untuk emisi gas CO2 tertinggi 2336,48 ppm/hari pada metode SRI perlakuan penambahan arang 20 ton/ha sedangkan untuk emisi gas N2O tertinggi 2056,36 ppm/hari pada metode SRI perlakuan penambahan arang 5 ton/ha. Faktor-faktor yang mempengaruhi emisi Gas Rumah Kaca pada penanaman padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification) dan Konvensional dengan perlakuan penambahan arang dipengaruhi oleh lingkungan, pH, suhu permukaan, kadar air tanah, evapotranspirasi dan penambahan arang. | Rice farming, especially the irrigated, is one of the sources of Greenhouse Gasses Emission causing global warming. This research aimed at (1) examining the greenhouse gas dynamics (CH4, CO2 and N2O) during rice planting processes that applied SRI (System of Rice Intensification) and conventional methods implementing charcoal addition treatment, (2) examining the factors affecting the greenhouse emission during the rice planting processes that applied the SRI (System of Rice Intensification) and conventional methods. This research was conducted from April 2013 to July 2013 at East Banjarsari village, Sumbang sub-district, Banyumas regency. The samples of the gasses were analyzed at the Laboratory of Farm and Environment research office, the part of Indonesian Department of Agriculturet at Pati, Central Java. The variables observed in this research were: the greenhouse gas emission (CH4, CO2 dan N2O), and crop evapotranspirasi during one crop season. The research was carried out by implementing two particular methods: SRI (System of Rice Intensification) and conventional methods. In each of the method implementation, the charcoal addition treatment was conducted, and the doses were 5 ton/ha, 10 ton/ha, and 20 ton/ha. The results of the observation during the cultivating season show that the highest total of CH4 gas emission was 415.24 ppm/day occurred when the Konvensional method was applied and 20 ton/ha of charcoal were added, the highest total of CO2 gas emission was 2336.48 ppm/day occurred when the SRI method was applied and 20 ton/ha of charcoal were added, and the highest total of N2O gas emission was 2056.36 ppm/day occurred when the SRI method was applied and 5 ton/ha of charcoal were added. Moreover, it was found that the factors affecting the greenhouse gas emission during the planting processes when the SRI (System of Rice Intensification) and conventional methods were implemented and the charcoal treatment were conducted were the environment, the pH, the surface temperature, the level of ground water, the evapotranspiration, and the addition of charcoal. | |
| 8025 | 10461 | A1M010081 | KOMPARASI ASPEK TEKNOLOGI DAN FINANSIAL USAHA GULA KELAPA CETAK : STUDI KASUS DI DESA PEKALONGAN, BOJONG DAN TLAGAYASA, KABUPATEN PURBALINGGA | Kabupaten Purbalingga merupakan salah satu sentra pengolahan gula kelapa cetak di Indonesia. Menurut data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Purbalingga (2014), pada tahun 2014 terdapat kurang lebih 18.197 unit usaha gula kelapa dengan volume produksi mencapai 30.000,00 ton/tahun. Besarnya jumlah pengrajin gula kelapa cetak di Kabupaten Purbalingga tidak ada korelasi dengan tingkat kesejahteraan pengrajin, Informasi tentang biaya produksi dan tingkat keuntungan pengrajin gula kelapa cetak sampai saat ini masih belum banyak diketahui. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kondisi teknis, komponen biaya produksi, harga jual dan keuntungan gula kelapa cetak di Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini merupakan studi kasus yang bersifat deskriptif komparatif. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah sampling purposive. Jumlah unit yang dikaji yaitu tiga unit pengrajin gula kelapa cetak. Penentuan daerah penelitian dilakukan tiga tahap yaitu menentukan kecamatan, menentukan desa dan menentukan responden. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi kondisi teknis, komponen biaya produksi, harga jual dan keuntungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi teknis pengolahan gula kelapa cetak pada ketiga desa tidak jauh berbeda, adapun kekurangannya terdapat pada kondisi teknis pengolahan yaitu penggunaan bahan anorganik seperti kapur sebagai bahan dalam pembuatan laru yang masih tergolong cukup banyak. Biaya produksi gula kelapa cetak per hari di Desa Pekalongan, Bojong dan Tlagayasa memiliki perbedaan yaitu berturut-turut sebesar Rp 71.116,76; Rp 63.349,00; dan Rp 73.763,55. Sedangkan untuk biaya produksi per kilogram berturut-turut sebesar Rp 7.901,86; Rp 8.323,44; dan Rp 8.740,23. | Purbalingga is one of the solidified palm sugar processing center in Indonesia. According to the data from the Department of Industry and Trade Purbalingga (2014), in 2014 there were approximately 18.197 palm sugar business units with production volume up to 30.000,00 tons/year. The large number of solidified palm sugar craftsmen in Purbalingga did not have any correlation with their welfare level. It caused by the low income of the craftsmen. Information about cost production and profit levels of the solidified palm sugar craftsmen has not widely known. The purposes of this study were to determine technical condition, production cost, selling price and profit of solidified palm sugar in Purbalingga. This research was a descriptive comparative case study. It used sampling purposive technique to collect the data. There were three tested units of solidified palm sugar craftsmen. The determination of the tested area was determined in three stages, which are determining the districts, determining the villages and determining the respondents. This study used primary and secondary data collection. The observed variables of this study were technical condition, production costs, selling price and profit The result of this study showed that the technical condition of solidified palm sugar processing on the three villages were quite good. Although there was still the deficiency of the processing which was the using of inorganic materials such as lime that used for the ingredient of laru. Production costs for solidified palm sugar a day in Pekalongan, Bojong and Tlagayasa Village had some differences, which were Rp 71.116,76; Rp 63.349,00; and Rp 73.763,55, while for the production costs per kilograms were Rp 7.901,86; Rp 8.323,44; and Rp 8.740,23. | |
| 8026 | 11011 | C1A011012 | NERACA KEBUTUHAN BERAS PADA KELUARGA PETANI PADI DI DESA RANTEWRINGIN KECAMATAN BULUSPESANTREN, KABUPATEN KEBUMEN, 2014 | RINGKASAN Penelitian berjudul “Neraca Kebutuhan Beras Pada Keluarga Petani Padi Di Desa Rantewringin Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, 2014”, meneliti neraca kebutuhan beras, curahan waktu kerja, kegiatan produksi, besarnya pendapatan dan pola konsumsi pada keluarga petani desa Rantewringin pada periode satu tahun yaitu bulan Desember 2013-November 2014. Penelitian ini menggunakan metode tabulasi data, banyaknya sampel yang dipilih yaitu 108 orang dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa:(1) petani yang memiliki luas lahan 10-30 ubin mengalami defisit yaitu sebanyak 38 orang petani dan sisanya 70 orang petani mengalami surplus, hal tersebut dikarenakan petani yang mengalami defisit mempunyai jumlah tanggungan yang cukup banyak; (2) rata-rata para petani telah mencurahkan waktu kerja mereka 59 jam/tahun dan pekerjaan off farm selama 1.285,18 jam/tahun; (3) sebagian besar responden melakukan pekerjaan sampingan sebagai pengrajin serabut kelapa. Pendapatan yang paling banyak dihasilkan yaitu dari kegiatan off farm yaitu rata-rata sebesar Rp 11.559.944/tahun atau 81,02 persen dari pendapatan, sedangkan pola konsumsi petani sebagian besar dikeluarkan untuk konsumsi pangan yaitu mencapai 70,67 persen dari total pengeluaran rumahtangga petani. Kata Kunci: Neraca Kebutuhan, Produksi Padi, Curahan Waktu Kerja, Pendapatan Usahatani dan Off farm, Pola Konsumsi. | SUMMARY The study entitled "Balance Of Rice Needs Of Farmers Rice Plant Family In Rantewringin Village District of Buluspesantren, Kebumen, 2014”, examined the balance sheet of rice needs, working hours, production activities, the amount of income and consumption patterns in rural peasant family in a period of one year Rantewringin the month of December 2013-November 2014. This study uses data tabulation, select the number of samples in which 108 people with purposive sampling method. The results of this study revealed that: (1) farmers who have land area 10-30 deficit tiles as many as 38 farmers and the remaining 70 farmers have a surplus, it is because farmers deficits have considerable number of dependents; (2) on average farmers have devoted their working time 59 hours/year and work off farm for 1285.18 hours/year; (3) most respondents did side jobs as craftsmen coconut fibers. Generated the most revenue is from off farm activities which is an average of Rp 11.559.944/year or 81,02 percent of revenue, whereas consumption patterns largely excluded farmers for food consumption, reaching 70,67 percent of total farm household expenditure. Keywords: Balance Needs, Rice Production, Work Time Outpouring, Farm and Off farm income, consumption patterns. | |
| 8027 | 8724 | E1A009201 | TINJAUAN YURIDIS KEDUDUKAN DAN MASA JABATAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA (ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 49/PUU-VII/2010) | Ketidakpastian hukum dalam Pasal 22 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia yang tidak memberikan kejelasan batas masa jabatan Jaksa Agung berpotensi menjadikan seorang Jaksa Agung akan memangku jabatan seumur hidup. Frasa “berahir masa jabatanya” pada pasal a quo dapat ditafsirkan bahwa jika tidak meninggal dunia, tidak mengajukan permintaan untuk berhenti, tidak sakit jasmani atau rohani terus menerus, tetap memenuhi syarat sebagai Jaksa Agung, maka seorang Jaksa Agung tidak dapat diberhentikan oleh Presiden. Karena itu, rumusan Pasal 22 ayat (1) huruf d Undang-Undang Kejaksaan menimbulkan multitafsir. Dari sebab diatas, Yuhzril Ihza Mahendra mengajukan permohonan judicial review atas pasal a quo terhadap Undang-Undang Dasar 1945 kepada Mahkamah Konstitusi. Penelitian ini menelaah lebih dalam tentang kedudukan dan masa jabatan Jaksa Agung pasca dijatuhkannya PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 49/PUU-VII/2010. Dari penelitian yang sudah dilakukan, penulis menyimpulkan bahwa ketentuan mengenai masa jabatan Jaksa Agung, khususnya dalam Pasal 22 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia adalah sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang di putus secara konstitusional bersyarat (conditionally constitutional) oleh Mahkamah Konstitusi, yaitu konstitusional sepanjang dimaknai “masa jabatan Jaksa Agung itu berakhir dengan berakhirnya masa jabatan Presiden Republik Indonesia dalam satu periode bersama-sama masa jabatan anggota kabinet atau diberhentikan dalam masa jabatannya oleh Presiden dalam periode yang bersangkutan”. Kemudian terkait kedudukan jaksa agung, penelitian ini menyimpulkan bahwa Jaksa Agung adalah pejabat negara setingkat mentri. Setingkat mentri dalam hal ini bukan berarti mentri, karena sebagai pejabat negara dilarang untuk merangkap jabatan lainya. Jaksa agung juga termasuk sebagai anggota kabinet. | a law inderminacy under article 22 paragraph 1 letter d the law number 16 year 2004 about attorney republic of Indonesia which does not provide a clear of the tenure limit a attorney general has the potential to assume position for life. The phrase " the end of tenure" in quo article can be interpreted that if it does not die, does not resign, does not has physical or spiritual pain constantly, has still qualify as Attorney general, then it cannot be dismissed by President. Therefore, the article 22 paragraph 1 letter d the law number about attorney make multiple interpretations. due to the above reason, Yuzril Ihza Mahendra submit a request judical review of article againts the constitution of 1945 to the Constitutional Court. this research examines deeply about the posisition and tenure of Attorney general after a verdict of the CONSTITUTIONAL COURT DECISION NO49/49/PUU-VII/2010. after the research has beed done, the authors concluded that Provisions concern the tenure of attorney general, particularly article 22 paragraph 1 letter d the law number 16 year 2004 about attorney republic of Indonesia is appropriate with the constitution of the Republic of Indonesia year 1945 determined constitutionally conditional by the constitutional court, Constitutional along which is meant " Attorney general's tenure ended when President's tenure ended in one periode together tenure of cabinet members or attorney general is dismissed its tenure by President ". related of the attorney position general, the research concluded that the attorney general is the state officials as level as minister. it in this case does not mean a minister because as state officials are prohibited to take other positions concurrently. The attorney general is also included as a member of the cabinet. Key word : The constitutional law, Attorney General | |
| 8028 | 8723 | D1E010014 | PENGGUNAAN CENTERING DATE METHOD PADA PENAKSIRAN PRODUKSI SUSU DENGAN CATATAN DUA MINGGUAN SEBAGAI DASAR EVALUASI MUTU GENETIK SAPI PERAH | Penelitian dilaksanakan di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak (BBPTU-HPT) Baturraden. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketepatan penggunaan CDM pada penaksiran produksi susu sapi perah dan keeratan peringkat nilai pemuliaan menggunakan catatan dua mingguan dibanding dengan catatan harian. Materi penelitian berupa 111 catatan produksi susu laktasi pertama dan ke dua pada tahun 2006 sampai bulan Agustus 2013. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata produksi susu sapi perah pada laktasi pertama dan ke dua berturut-turut adalah 4206,99±1171,92 kg dan 3939,75±1383,24 kg dan taksiran CDM pada laktasi pertama dan ke dua berturut-turut adalah 4527,16±1297,35 dan 4108,07±1406,52. Penaksiran produksi susu sapi perah menggunakan CDM mendekati produksi susu nyata. Koefisien korelasi nilai pemuliaan (NP) yang ditaksir menggunakan data produksi harian dan produksi taksiran CDM yaitu sebesar 0,961 pada laktasi pertama dan 0,953 pada laktasi ke dua yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat (P<0,01) antara peringkat nilai pemuliaan yang ditaksir menggunakan produksi susu harian dengan taksiran CDM. Kesimpulan penelitian ini adalah (1) taksiran produksi susu menggunakan CDM pada laktasi pertama dan ke dua menunjukkan penyimpangan positif (over estimate) yang masih dalam batas toleransi, (2) terdapat kesamaan peringkat nilai pemuliaan (NP) berdasarkan catatan produksi susu harian dengan produksi susu taksiran CDM, (3) Centering date method (CDM) dapat digunakan sebagai dasar evaluasi mutu genetik sapi perah. | This research was done in the Livestock and Forage Breeding Centre of Baturraden (BBPTU-HPT) Baturraden. The purposes of this research were: (1) to know the accuracy of CDM on estimating milk yield per lactation of dairy cows and (2) to assess the relationship between ranking of individual breeding values estimated based on the estimated bi-weekly records of CDM and actual daily milk yield. The study was a survey based method by taking qualitative and quantitative data from the location. The materials included 111 milk yield records of the first and second lactation of Holstein Frissien dairy cows recorded from 2006 until August 2013. The research showed that the average of milk yield production on the first and second lactation were 4206,99±1171,92 kg and 3939,75±1383,24 kg and the CDM estimate on the first and second lactation were 4527,16±1297,35 and 4108,07±1406,52. The correlation coefficient of the individual breeding value (NP) estimated from the actual milk yield and from CDM were 0,961 and 0,953 for the first and second lactation, rspectively. The relationship of these ranking was close (P<0,01). The conclusions of this research were (1) the estimated milk yield by using CDM on first and second lactation showed positive deviation which was still within the limits of tolerance, (2) the estimated genetic rank based on daily milk yield and estiamted CDM milk yield showed the same ranking, (3) Bi-weekly CDM can be used as an alternative recording method in dairy cattle genetic evaluation. | |
| 8029 | 8722 | D1E010171 | PEMANFAATAN LIMBAH IKAN TONGKOL DIHIDROLISIS ENZIM BROMELIN DAN POLLARD FERMENTASI SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN PUYUH DITINJAU DARI HAUGH UNIT (HU) DAN VISKOSITAS TELUR | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan limbah ikan tongkol dihidrolisis enzim bromelin dan pollard fermentasi terhadap Haugh Unit dan viskositas telur puyuh. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 10 Maret sampai 12 Mei 2014 di Experimental Farm Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Materi yang digunakan adalah 100 ekor puyuh betina umur empat minggu. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental in vivo dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan, setiap perlakuan diulang 5 kali serta setiap ulangan terdiri atas 5 ekor puyuh. Perlakuan yang diujicobakan terdiri atas R0 (limbah ikan tongkol hidrolisis dan pollard fermentasi 0%), R1 (limbah ikan tongkol hidrolisis dan pollard fermentasi 10%), R2 (limbah ikan tongkol hidrolisis dan pollard fermentasi 20%), dan R3 (limbah ikan tongkol hidrolisis dan pollard fermentasi 30%). Data dianalisis dengan analisis variansi. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap Haugh Unit dan viskositas telur puyuh. Rataan Haugh Unit dan viskositas telur puyuh adalah 90,53±1,02 dan 0,029±0,001 dm3/s. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemanfaatan limbah ikan tongkol dihidrolisis enzim bromelin dan pollard fermentasi sampai level 30% dapat digunakan sebagai pengganti konsentrat pabrik dengan menghasilkan Haugh Unit dan viskositas telur puyuh yang relatif sama. | The aim of this research was to know the effect of tuna waste hydrolyzed by bromelain enzyme and fermented pollard on Haugh Unit and viscosity of quail egg. The research was conducted from March 10th to May 12th 2014 at The Experimental Farm and Animal Feeding and Nutrition Laboratory Faculty of Animal Science Jenderal Soedirman University, Purwokerto. Material used were 100 female quails of four weeks old. This research was conducted by in vivo experimental method and used Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments, each treatment was repeated 5 times, each replication consisted of 3 quails. Treatments used were R0 (tuna waste hydrolyzed by bromelain enzyme and fermented pollard 0%), R1 (tuna waste hydrolyzed by bromelain enzyme and fermented pollard 10%), R2 (tuna waste hydrolyzed by bromelain enzyme and fermented pollard 20%), and R3 (tuna waste hydrolizyd by bromelain enzyme and fermented pollard 30%). Data were analyzed by analysis of variance. The analysis of variance showed that there was non significant effect (P>0,05) of the treatments to Haugh Unit and viscosity of quail egg. The average result of Haugh Unit and viscosity of quail egg were 90,53±1,02 and 0,0294±0,0010 dm3/s. These result indicates that utilization of tuna waste hydrolyzed by bromelain enzyme and fermented pollard until the level of 30% can replace factory concentrate produces the relatively similar of Haugh Unit and viscosity of quail egg. | |
| 8030 | 11012 | B1J010015 | HUBUNGAN TOTAL DISSOLVED SOLID, NITRAT, DAN ORTOFOSFAT DENGAN STRUKTUR KOMUNITAS MIKROFITOBENTHOS DI SUNGAI BANJARAN, BANYUMAS | Sungai Banjaran merupakan salah satu sungai yang berada di Kabupaten Banyumas yang kualitasnya dipengaruhi oleh limbah dari pertanian, industri, dan pemukiman dapat. Aliran air permukaan serta pembuangan limbah sampah dari aktifitas manusia akan meningkatkan polutan yang masuk ke sungai. Total Dissolved Solid merupakan senyawa-senyawa terlarut yang dapat mempengaruhi kualitas sungai apabila konsentrasinya melebihi ambang batas sehingga dapat menjadi polutan perairan. Senyawa-senyawa terlarut seperti nitrat dan fosfat dapat mempengaruhi pertumbuhan yaitu mikrofitobenthos Mikrofitobenthos adalah alga mikroskopik tumbuhan yang menempel pada substrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsentrasi TDS, NO3, PO4, struktur komunitas mikrofitobenthos, dan hubungan konsentrasi TDS, NO3, PO4 dengan kelimpahan mikrofitobenthos di Sungai Banjaran. Hasil penelitian yang diperoleh konsentrasi TDS, NO3, PO4 dan faktor fisika kimia lainnya masih dalam kondisi yang baik untuk mendukung pertumbuhan mikrofitobenthos yaitu berkisar antara TDS 111,65-198,83 mg.l-1; NO3 5,50-7,27 mg.l-1; dan PO4 0,52 -0,65 mg.l-1. Struktur komunitas yang diperoleh di Sungai Banjaran terdiri dari 21 jenis Chlorophyta, 17 jenis Chrysophyta, dan 2 jenis Cyanophyta. Tingkat komunitas mikrofitobenthos Sungai Banjaran keanekaragamannya sedang (H=1,42-1,74), dan tidak ada jenis mikrofitobenthos yang mendominasi (C= 0,30-0,39), individu antar jenis tidak tersebar secara merata di setiap stasiun (E= 0,20-0,25) dan dengan tingkat kesamaan berkisar antara 58-81%. Hubungan antara TDS dengan kelimpahan mikrofitobenthos menunjukkan hubungan sedang/cukup berarti (r=0,53) dengan persamaan regresi Y= -2977,79 + 71,13 (TDS). Hubungan antara Nitrat dan Ortofosfat yang terkandung dalam TDS dengan mikrofitobenthos menunjukkan hubungan yang rendah (r=0,342)/tidak terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan mikrofitobenthos di Sungai Banjaran. | Banjaran river is one of rivers which are in Banyumas that affect by human activities such as agriculture, industry, and settlement. The run off and waste disposal from it will increase pollutants. Total Dissolved Solid is dissolved compound that affect river quality if concentration above the threshold level so it can be pollutant water. Nutrient in dissolved compounds are nitrat and phosphat that will influence grow of mikrofitobenthos. Mikrofitobenthos is plant microscopic algae which attached in substrate. The aims are study TDS, NO3, PO4 concentration, mikrofitobenthos community structure, and relation between TDS, NO3, PO4 concentration with mikrofitobenthos abundance in Banjaran river. The results are TDS, NO3, PO4 concentration and the physic and chemical factor still good to waters and the ranged are TDS 111,65-198,83 mg.l-1; NO3 5,50-7,27 mg.l-1; dan PO4 0,52 -0,65 mg.l-1. There are 21 species Chlorophyta, 17 species Chrysophyta, and 2 species Cyanophyta. Community Banjaran river have medium diversity (H=1,42-1,74), and there are not dominant species (C=0,30-0,39), individual is not distributed evenly (E=0,20-0,25) and similarity level is 58-81%. Medium relation between TDS concentration with mikrofitobenthos (r= 0,53) with the regression equation Y= -2977,79 +71,13(TDS), and the concentration of nitrate and ortophosphate with abundance mikrofitobenthos have low relation (r= 0,342). | |
| 8031 | 11200 | G1A011093 | Hubungan Antara Asupan Protein dengan Urea Reduction Rate (URR) pada Penderita Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis Regular di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo | Latar belakang: Penderita penyakit ginjal kronik stadium V memerlukan terapi hemodialisis regular. Untuk menilai adekuasi dari hemodialisis dapat dihitung menggunakan URR. Urea Reduction Rate dihitung berdasarkan klirens dari urea. Urea merupakan hasil sisa metabolisme protein. Peningkatan asupan protein dapat menyebabkan peningkatkan urea. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara asupan protein dengan URR pada penderta penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis regular di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Metode: Studi observasional analitik cross sectional ini dilakukan pada 42 penderita penyakit ginjal kronik di instalasi hemodialisis RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Jumlah asupan protein dinilai menggunakan formulir food recall 3x24 jam. Penghitungan URR dihitung berdasarkan nilai urea sebelum dan sesudah hemodialisis. Uji normalitas data menggunakan Uji Saphiro-Wilk. Analisis univariat menggunakan tabel distribusi frekuensi dan analisis bivariat dengan Uji Pearson. Hasil: Rerata asupan protein pada subjek penelitian adalah 51,83 ± 19,29 g/hari dan rerata URR sebesar 66,57 ± 8,88%. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan protein dengan URR pada penderita penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis regular di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo (p = 0,194). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara asupan protein dengan URR pada penderita penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis regular di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. | Background: Patients with chronic kidney disease stadium V need hemodialysis. To determine the adequacy of hemodialysis can be measured using URR. Urea Reduction Rate based on clearance of urea. Urea is the result of residual protein metabolism. Increased protein intake can lead to improvement of urea. Objective: The aim of this study to determine associate between protein intake and URR in chronic kidney disease patients those undergoing regular hemodialysis in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital. Methods: This was an observational analytic study with cross sectional design, conducted on 42 patients with chronic kidney disease on hemodialysis installation Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospitals. Total protein intake was assessed using a 3x24 hour food recall form. Calculation of URR is calculated based on the values of urea before and after hemodialysis. Normality test data using Saphiro-Wilk test. Univariate analysis using frequency distribution tables and bivariate analysis with Pearson Test. Result: The mean intake of protein in the research subjects were 51,83 ± 19,29 g/day and mean URR 66,57 ± 8,88%. There was no significant association between the intake of protein with URR on chronic kidney disease patient those undergoing regular hemodialysis in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital (p = 0,194). Conclusion: There was no association between the intake of protein with URR on chronic kidney disease patient those undergoing regular hemodialysis in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital. | |
| 8032 | 11403 | C1A010051 | Analisis Margin Pemasaran Dan Kontribusi Pendapatan Keluarga Petani Ikan Gurami Di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas | Penelitian ini berjudul “ANALISIS MARGIN PEMASARAN DAN KONTRIBUSI PENDAPATAN KELUARGAPETANI IKAN GURAMI DI DESA BEJI KECAMATAN KEDUNGBANTENG KABUPATEN BANYUMAS”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya margin pemasaran telur ikan gurami di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas pada masing-masing lembaga pemasarandan untuk mengetahui besarnya kontribusi pendapatan usaha penjualan telur ikan gurami di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas terhadap pendapatan rumah tangga petani.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis margin pemasaran, analisis kontribusi pendapatan dan efisiensi usaha. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan margin pemasaran telur ikan gurami di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas terbesar pada pengepul dibandingkan dengan pedagang sawah dan petani ikan. Kontribusi pendapatan petani ikan gurami di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas terhadap pendapatan rumah tangga sebesar 18,79 pesen. Itu berarti kontribusi pendapatan petani kepada pendapatan rumah tangga kurang dari 50 persen. Sebaiknya pengepul langsung membeli telur ikan kepada petani karena jika membeli dari pedagang sawah harga akan lebih mahal dan harga jual ke konsumen juga tinggi, karena margin pemasaran akan timbul apabila terdapat biaya-biaya tambahan dari pedagang sawah. Kontribusi pendapatan petani ikan gurami terhadap pendapatan rumah tangga kecil sehingga petani harus meningkatkan produksi telur ikan gurami dan mengurangi tingkat resiko kematian pada telur ikan yang diproduksi, sehingga keuntungan yang diperoleh akan bertambah. | This research titled “Margin of marketing and the contribution of household income of farmers carp in the Beji village Kedungbanteng sub-district Banyumas district”. The purpose of this research is to know the size of the margin of marketing eggs carp in the Beji village Kedungbanteng sub-district Banyumas district on the marketing of each institution and to know the contribution income in the sale of eggs carp in the Beji villageKedungbanteng sub-district Banyumas district on household income of farmers. Methods used in this research is a method of survey. Analysis technique used is an analysis of the margin of marketing, an analysis of the contribution of income and efficiency of business. Based on research results can be concluded the margin of marketing eggs carp in the Beji village Kedungbanteng sub-district district Banyumas collectors largest intraders than with rice and fish farmers. The contribution of farmers income carp Beji village Kedungbanteng sub-district Banyumas district to household incomes a mounting to 18,79 pesen. It means the income accrued to farmers households was less than 50 percent. Collectors should directly buy fish eggs to farmers for if the purchase of the farm price will be expensive and selling price toconsumers too high, for marketing margins would a rise if there is the additional costs of a farm. The contribution of farmersincome carp to household incomes and small farmers to increase the production of eggs carp and to reduce the risk of mortality in fish eggs are produced, so that the benefits gained will increase. | |
| 8033 | 8725 | A1G011011 | EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI USAHATANI KUBIS (Brassica oleracea L.) DI DESA KUTABAWA KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN PURBALINGGA | Prioritas pengembangan komoditas hortikultura secara nasional didasarkan pada komoditas-komoditas yang memberikan sumbangan nilai ekonomi tinggi, menghidupi hajat hidup masyarakat banyak dan tersebar luas. Kubis merupakan salah satu komoditas hortikultura tersebut yang berasal dari Desa Kutabawa memiliki kualitas yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Menganalisis biaya, penerimaan dan pendapatan pada usahatani kubis, 2) Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kubis dan 3) Untuk mengetahui faktor-faktor produksi kubis yang efisien. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga pada tanggal 9 Februari sampai 15 Maret 2014. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode Simple Random Sampling. Sampel penelitian ini adalah petani kubis yang menanam kubis selama satu kali musim tanam dalam satu tahun. Metode analisis yang digunakan adalah analisis pendapatan dan analisis fungsi produksi Cobb-Douglas. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata penerimaan petani dalam satu hektar sebesar Rp40.451.428,58 pada tingkat harga Rp1.728 per kg. Pendapatan usahatani kubis merupakan hasil pengurangan antara penerimaan usahatani kubis sebesar Rp40.451.428 dengan rata-rata total biaya usahatani kubis sebesar Rp19.472.390,3 memberikan pendapatan sebesar Rp20.393.612,34. Nilai R/C ratio yang didapat dari rata-rata penerimaan dan rata-rata total biaya sebesar 2,07 dengan demikian usahatani kubis di Desa Kutabawa termasuk layak diusahakan. Berdasarkan hasil analisis fungsi produksi Cobb-Douglas, dari uji-t diketahui bahwa produksi kubis secara statistic nyata dipengaruhi oleh lahan, pupuk urea dan pupuk ZA. Hasil uji F menunjukkan bahwa nilai F-hitung 19,717 lebih besar dari F-tabel pada tingkat kesalahan 5 persen. Hal ini menunjukkan variabel lahan, tenaga kerja, benih, pupuk kandang, urea, ZA, KCL dan pestisida berpengaruh nyata terhadap produksi. Hasil analisis efisiensi dari rasio NPM-BKM faktor produksi penggunaan lahan dan ZA belum efisien. Sementara itu rasio NPM-BKM penggunaan urea tidak efisien pada penggunaan faktor produksi tersebut. | Priority development of national horticultural commodities based on commodities that contributed high economic value, support the livelihood of many people and widespread. Cabbage is one of the horticultural commodities from the village Kutabawa have good quality. This study aims to 1) analyze the cost, revenue and income to the farming cabbage, 2) To determine the factors that influence the production of cabbage and 3) To determine the factors that efficient cabbage production. This research was conducted in the village of the District Kutabawa Karangreja Purbalingga on February 9 until 15 Maret 2014. Sampling method was conducted using Simple Random Sampling. The sample was cabbage farmers who grow cabbage for one growing season in a year. The analytical method used is the analysis of revenue and analysis of Cobb-Douglas production function. The results showed that the average farmer acceptance in 1 hectare of Rp40,451,428.58 at level Rp1,728 price per kg. Cabbage farm income is the result of the reduction in farm receipts amounted Rp40,451,428 cabbage with an average total cost of Rp19,472,390 cabbage farming, giving an income of Rp20,393,612.34. Value R/C ratio obtained from the average receipts and average total cost of 2,07 thus cabbage farm in the village of Kutabawa including viable. Based on the analysis of Cobb-Douglas production function, from the t-test is known that the production of cabbage statistically significantly affected by the soil, urea and ZA. F test results indicate that the F-calculated value 19,717 is greater than the F-table at 5 percent error rate. This shows the variable land, labor, seeds, manure, urea, ZA, KCL and pesticides significantly affect production. The results of the efficiency analysis of the ratio of NPM-BKM production factors of land use and ZA is not efficient. While the ratio of NPM-BKM inefficient use of urea in the use factor of production. | |
| 8034 | 10462 | A1L010080 | HASIL PADI NON VUTW PADA BUDIDAYA KONVENSIONAL DAN SRI (System of Rice Intensification) | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem budidaya dan varietas padi terhadap pertumbuhan dan hasil. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Desa Pangkalan, Ciawigebang, Kuningan, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan dari Januari sampai Mei 2014. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design). Petak utama (main plot) adalah sistem budidaya yang terdiri atas sistem Konvensional (K1) dan SRI (K2), dan Sub petak (Sub-plot) adalah varietas padi, yang terdiri atas Inpari 21 (V1), Inpari 1 (V2) , Inpari 13 (V3) dan Inpari 14 (V4), dengan 8 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang dicoba meliputi K1V1, K1V2, K1V3, K1V4, K2V1, K2V2, K2V3, dan K2V4. Variabel yang diamati adalah jumlah gabah total per malai, persentase gabah isi per malai, bobot 1000 gabah, bobot gabah per rumpun, bobot jerami kering per petak, bobot gabah kering per petak, indeks panen, jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, tinggi tanaman, umur berbunga dan umur panen. Hasil penelitian menunjukan sistem budidaya konvensional maupun SRI tidak berpengaruh pada pertumbuhan dan hasil. Varietas padi mempengaruhi tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, umur berbunga, umur panen, jumlah gabah total per malai, dan persentase gabah isi. Pertumbuhan dan hasil padi tidak dipengaruhi oleh interaksi sistem budidaya dan varietas. | This research aims to know the effect of cropping systems and varieties of rice on growth and yield. The research was carried out in the paddy fields Pangkalan Village, Ciawigebang, Kuningan, West Java. The research was conducted from January to May 2014. This experiment used Split Plot Design. The main plot is the system of cultivation that consists of a conventional system (K1) and SRI (K2), and Sub plot is rice varieties, consisting of Inpari 21 (V1), 1 Inpari (V2), Inpari 13 (V3) and Inpari 14 (V4), with 8 treatment and 3 replications. Treatments tested include K1V1, K1V2, K1V3, K1V4, K2V1, K2V2, K2V3, and K2V4. Variables observed were: the total number of grain per panicle, percentage of filled grains per panicle, 1000 grain weight, grain weight per hill, the weight of dry hay per plot, dry grain weight per plot harvest index, total number of tillers, number of productive tillers, plant height, flowering age and maturity. The results showed that the conventional farming systems and SRI had no effect on the growth and yield. Rice varieties affect plant height, number of productive tillers, flowering age, maturity, the total number of grain per panicle, and percentage of filled grains per panicle. Growth and yield of rice is not affected by the interaction of the system of cultivation and varieties. | |
| 8035 | 11013 | G1G009039 | PERBANDINGAN KADAR GLUTATHIONE SULPHYDRIL (GSH) SALIVA ANTARA PEMAKAI DAN BUKAN PEMAKAI PERANTI ORTODONTI CEKAT SETELAH MENGONSUMSI VITAMIN E | Perawatan ortodonti cekat adalah perawatan ortodonti dengan komponen ortodonti yang menempel pada gigi dan tidak dapat dilepas sendiri oleh pasien. Salah satu efek samping pemakaian peranti ortodonti cekat adalah permukaan gigi menjadi kasar sehingga memudahkan terjadinya penumpukkan plak di sekitar bracket dan sepertiga mahkota gigi pada tepi gingiva. Penumpukkan plak yang terus-menerus memicu produksi ROS (Reactive Oxygen Species) yang berlebihan sehingga menyebabkan stres oksidatif. Glutathione Sulphydril (GSH) merupakan antioksidan yang dapat menetralisir ROS dan terdapat di saliva. Keadaan stres oksidatif membuat kadar GSH menurun sehingga dibutuhkan antioksidan tambahan dari luar berupa vitamin E yang mampu mendonorkan ion hidrogen ke ROS untuk membuatnya menjadi tidak reaktif sehingga kadar GSH bertambah. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan kadar GSH saliva antara pemakai dan bukan pemakai peranti ortodonti cekat setelah mengonsumsi vitamin E. Metode penelitian yang digunakan adalah pre test post test control group design. Sampel penelitian 40 responden yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu pemakai dan bukan pemakai peranti ortodonti cekat. Responden diukur saliva sebelum dan setelah mengonsumsi vitamin E. Kadar GSH saliva diukur menggunakan spektrofotometri. Independent T-test dan Paired T-test digunakan untuk uji beda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna kadar GSH saliva setelah mengonsumsi vitamin E pada kelompok pemakai dan pada kelompok bukan pemakai peranti ortodonti cekat. Namun setelah dibandingkan antara kelompok tersebut setelah mengonsumsi vitamin E, tidak terdapat perbedaan yang bermakna diantara keduanya. Kesimpulan penelitian adalah bahwa pemakaian peranti ortodonti cekat tidak berpengaruh terhadap kadar GSH saliva, sedangkan vitamin E dapat meningkatkan kadar GSH saliva. | Fixed orthodontic treatment is orthodontic treatment with fixed orthodontic components on the teeth and can not be removed by the patient. The side effect of using fixed orthodontic appliances is causes the tooth surface becomes rough that facilitate the accumulation of plaque around the brackets and one-third of the tooth crown on gingival edge. Accumulation of plaque that constantly trigger the production of ROS (Reactive Oxygen Species) excessive causing oxidative stress. Sulphydril glutathione (GSH) is an antioxidant that can neutralize ROS and contained in saliva. Oxidative stress decreased GSH levels and need additional antioxidants such as vitamin E from outside which able to donate hydrogen ions to ROS to make it a non-reactive so that GSH levels increased. The purpose of this study was to compare the GSH levels in saliva between fixed orthodontic and non fixed orthodontic patients after taking vitamin E. The method was pre-test post-test control group design. The research sample of 40 respondents were divided into 2 groups: fixed and non fixed orthodontic patients. Respondents were measured the saliva before and after taking vitamin E. The GSH levels in saliva was measured using spectrophotometry. Independent t-tests and paired T-test were used to test the differences. The results showed there were significant differences of GSH levels in saliva after taking vitamin E in the fixed orthodontic group and the non fixed orthodontic group. However, when compared between the groups after taking vitamin E, there was no significant difference between of them. The conclusion of this study is the use of fixed orthodontic appliance does not affect the GSH levels, whereas vitamin E may increase the GSH levels in saliva. | |
| 8036 | 11014 | P2CB11006 | ANTESEDEN KETERIKATAN MEREK DALAM MEMBANGUN HUBUNGAN MEREK PADA KONSUMEN (KEPERCAYAAN, KEPUASAN DAN KOMITMEN) TERHADAP LOYALITAS | Keterikatan merk merupakan konsep yang penting bagi perusahaan jika mereka ingin tetep kompetitif dan berrkembang. Pelanggan yang memiliki keterikatan yang kuat dengan merk akan menyukai merek tertentu dan mempertahankan hubungan merek dengan cara melakukan pembelian ulang. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keterikatan merk dalam hubungan antara merk dengan konsumen, dan pengaruh kausalitasnya dengan variabel lain seperti kepercayaan, kepuasan, komitmen dan loyalitas. Berdasarkan keterbatasan penelitian terdahulu, maka dalam penelitian ini menambahkan variabel keakraban merek dan kepribadian merk sebagai anteseden kepuasan pelanggan. Penelitian dilakukan pada mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Swadaya Gunung Djati Cirebon. Jumlah responden 255 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling. Caranya yaitu dengan melakukan randomisasi dengan menggunakan program MS. Excel. Alat analisis menggunakan stuctural equation modelling dengan program AMOS.18. Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa kepribadian merk berpengaruh terhadap keterikatan merk, keakraban merk berpengaruh terhadap keterikatan merk, keterikatan merek berpengaruh terhadap kepercayaan merk, keterikatan merk berpengaruh terhadap kepuasan, keterikatan merk tidak berpengaruh terhadap komitmen, keterikatan merek tidak berpengaruh terhadap loyalitas, komitmen berpengaruh terhadap loyalitas, kepuasan tidak berpengaruh terhadap loyalitas, kepercayaan merk berpengaruh terhadap loyalitas, dan kepercayaan merk tidak berpengaruh terhadap kepuasan. | Attachment to the brand is an important concept for the company if they want to remain competitive and grow. Customers who have a strong attachment to the brand would like a particular brand and maintain a relationship with the brand by way of re-purchase. In this study aims to determine the effect of brand attachment in the relationship between brands and consumers and the effect of causality with other variables such as trust, satisfaction, commitment and loyalty. Based on the limitations of previous studies, so in this study added variable brand familiarity and brand personality as antecedents of brand attachment. Research was made at law student from University of Swadaya Gunung Djati Cirebon .Number of respondents 255 people. Sampling was done in simple random sampling. The way is by do a randomized using the programme MS. Excel. Analysis tools applies stuctural equation modeling with program AMOS.18. From the result of analysis, it can be concluded that : brand personality affect brand atachment, brand familiarity has influences on brand attachment, brand attachment affects brand trust, brand attachment affect satisfaction, brand attachment does not affect commitment, brand attachment has no influences on loyality, commitment affects loyalty, satisfaction has no influences on loyalty, brand trust affect loyalty and brand trust does not affect satisfaction | |
| 8037 | 8726 | D1E010162 | SUPLEMENTASI EKSTRAK KULIT BAWANG PUTIH (Allium sativum) DALAM PAKAN KAMBING PERAH YANG TERCUKUPI MINERAL ORGANIK TERHADAP POPULASI PROTOZOA DAN PRODUKSI GAS TOTAL SECARA IN VITRO | Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh dan level terbaik suplementasi ekstrak kulit bawang putih (Allium sativum) dalam pakan kambing perah yang tercukupi selenium, chromium, dan zink-lysinat terhadap populasi protozoa dan produksi gas total secara In vitro. Materi penelitian menggunakan cairan rumen kambing perah yang diperoleh dari RPH Sokaraja. Ransum pakan kambing perah tersusun atas 60% rumput gajah, 35% ampas tahu dan 5% konsentrat (PK 11,9%; SK 28,57%; TDN 60,94%). Metode penelitian adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk populasi protozoa dan Rancangan Acak Kelompok (RAK) untuk produksi gas total. Perlakuan yang diujicobakan yaitu R0 : Pakan kontrol kambing perah; R1 : Pakan Kontrol + mineral organik (0,3 ppm Selenium + 1,5 ppm Chromium + 40 ppm Zink-lysinat) + 0 ppm ekstrak kulit bawang putih; R2 : R1 + 15 ppm ekstrak kulit bawang putih; R3 : R1 + 30 ppm ekstrak kulit bawang putih; R4 : R1 + 45 ppm ekstrak kulit bawang putih; R5 : R1 + 60 ppm ekstrak kulit bawang putih. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dan Orthogonal Polynomial. | The purpose of this study was evaluate the effect and optimum level of supplementation effect of garlic husk extract (Allium sativum) in feed of dairy goat with adequate Selenium, Chromium, and Zn lysinat on protozoa population and total gas production. The materials of the research was rumen fluid of dairy goat obtained from Slaughterhouse at Sokaraja Market. The basic substrat from feed of dairy goat composed of 60% napier grass, 35% tofu waste and 5% concentrate (CP 11.9%; CF 28.57%; TDN 60.94%). The research method was experimental using Completely Randomized Design (CRD) and Block Randomized Design (BRD). The treatments were R0 = feed control; R1 = R0 + organic minerals (0.3 ppm Selenium + Chromium + 1.5 ppm 40 ppm Zinc-lysinat) + 0 ppm of garlic husk extract, R2 = R1 + 15 ppm of garlic husk extract; R3 =R1 + 30 ppm of garlic husk extract; R4 = R1 + 45 ppm of garlic husk extract; R5 = R1 + 60 ppm of garlic husk extract. The data were analyzed using analysis of variance and followed by Honestly Significant Different Test and Orthogonal Polynomial. | |
| 8038 | 8727 | A1H010020 | Pengaruh Warna Kemasan Terhadap Ketahanan Warna Mangga Arumanis (Mangifera Indica L.) Selama Penyimpanan | Buah mangga (Mangifera Indica. L) merupakan buah tropis musiman dan termasuk salah satu komoditas ekspor yang disukai oleh hampir seluruh masyarakat di dunia.Buah mangga merupakan komoditi hortikultura yang mudah sekali mengalami kerusakan setelah dipanen. Pemilihan umur panen, cara pemanenan, pengangkutan, serta pengemasan yang kurang tepat dan baik dapat mengakibatkan kerusakan dalam jumlah besar. Warna merupakan salah satu parameter mutu buah paling penting bagi konsumen, untuk itu warna mangga arumanis perlu dipertahankan hijau/segar salah satunya dengan cara pengemasan. Penelitian ini dilakukan untuk mengurangi penurunan mutu mangga arumanis (khususnya warna buah) dengan cara pembungkusan/pembrongsongan mangga arumanis menggunakan kemasan kertas berwarna (kertas wajik). Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui pengaruh warna kemasan terhadap beberapa parameter mutu terutama warna mangga arumanis selama penyimpanan, 2) Mengetahui jenis perlakuan kemasan yang tepat untuk mempertahankan warna buah mangga arumanis.Hasil penelitian menunjukkan jenis kemasan berpengaruh sangat nyata terhadap nilai warna (L, a+, a-, b+), kadar brix, dan kadar air mangga arumanis. Perlakuan terbaik nilai L yaitu pada kemasan hijau satu lapis; a(+) merah satu lapis; a(-) hijau satu lapis; b(+) hijau satu lapis; kadar air (tanpa kemasan); dan kadar brix (merah dua lapis). Perubahan mutu terkecil untuk nilai L tiap harinya turun 0,0074 pada perlakuan merah dua lapis; a(+) tetap 0,00(merah satu lapis); a(-) turun 0,00264 (merah dua lapis); b(+) turun 0,0072 (merah dua lapis); kadar air naik 0,21 (tanpa kemasan); kekerasan turun 0,002 (merah satu lapis); dan kadar brix naik 0,26 (hijau dua lapis). | Mango (Mangifera Indica L.) is a seasional tropical fruit and including one of export commodities preferred by almost all people in the world . Mango is a horticultural commodity that is easy to be damaged after harvest. The selection of harvest, harvesting, transporting, and packaging are less precise and may well result in a large amount of damage. Color is one of the most important parameters of fruit quality for consumers, for the color green of mango arumanis need to be maintained/fresh one way packaging. This riset was conducted to reduce the decline in the quality of mangoes arumanis (especially fruit color’s) by wrapping/packaging mango arumanis using colored paper (greaseproof paper) . This study aimed to 1) determine the effect of the color of packaging on some quality parameters of mango color arumanis especially during storage, 2) Determine the type of treatment to maintain proper packaging arumanis mango color. The results showed the type of packaging very significant effect on color values (L, a +, a-, b +), brix levels, and moisture content of mango arumanis. The best treatment of L value isgreen of one layer packaging; a(+) green of one layer; a(-) green of one layer; b(+) green of one layer; water content (without packaging); and brix levels (red of two layer). Changes in quality to the smallest value of L every day down 0.0074 at red of two layer treatment; a(+) remains 0.00 (red of one layer); a(-) down 0.00264 (red of two layer), b(+) down 0.0072 (red of two layer); moisture content up 0.21 (without packaging); violence down 0,002 (red of one layer), and brix levels up 0.26 (green of two layer). | |
| 8039 | 8728 | A1H009072 | UJI PERFORMANSI RAPID QUALITY DETECTOR (PROTOTYPE II) UNTUK PENGUKURAN KUALITAS BUAH PISANG | Tingkat kematangan buah merupakan salah satu faktor kesukaan konsumen yang diindikasikan dengan rasa manis daging buah, warna buah dan tekstur dari buah. Prototype II dirancang sebagai alat pendeteksi kualitas buah dengan memanfaatkan senter dan sensor cahaya LDR (Light Dependent Resistor). Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan luaran resistansi sensor cahaya LDR pada indikator kualitas (warna,kekerasan,total padatan terlarut, dan tingkat kesukaan konsumen) dan mengetahui adanya pengaruh perubahan antara luaran sensor LDR pada alat Rapid Quality Detector (Prototype II) dengan indikator mutu buah pisang (kekerasan, total padatan terlarut, dan warna buah) serta uji organoleptik. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu persiapan, pengukuran, pengujian dan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan respon sensor dengan kekerasan memiliki koefisien determinasi R2 = 0,0,643 perlakuan utuh, perlakuan impact R2 = 0,833. dan perlakuan pressure R2 = 0,724. Dari data tiga perlakuan tersebut menunjukan adanya pengaruh kekerasan buah pisang terhadap lama waktu penyimpanan. Setelah dinormalisasikan dengan nilai OD didapatkan koefisien determinasi R2 = 0,188, perlakuan utuh, perlakuan impact R2 = 0,221, perlakuan pressure R2 = 0,276. Sehingga grafik menunjukkan tidak ada pengaruh antara kekerasan dengan nilai OD. Hubungan respon sensor dengan total padatan terlarut memiliki nilai R² = 0,558 perlakuan utuh, perlakuan impact R² = 0,267, perlakuan pressure R² = 0,275. Sehingga hanya grafik perlakuan utuh yang menunjukan pengaruh, pada perlakuan impact dan pressure grafik tidak menunjukkan pengaruh antara total padatan terlarut dengan respon sensor. Setelah dinormalisasikan dengan OD didapatkan nilai R² = 0,665 perlakuan utuh, perlakuan impact R2 = 0,319, perlakuan pressure R2 = 0,422. Sehingga hanya grafik perlakuan utuh yang menunjukan adanya pengaruh,sedangkan pada perlakuan impact dan pressure grafik menunjukkan tidak adanya pengaruh antara total padatan terlarut dengan nilai OD. Pada hubungan respon sensor dengan warna (utuh, impact, pressure) umumnya diperoleh hasil dengan koefisien determinasi yang menunjukan adanya pengaruh antara respon sensor dengan warna, sedangkan hubungan nilai OD dengan warna umumnya menunjukan tidak adanya pengaruh karena nilai determinasi yang rata-rata dibawah angka 0,5. | The level of maturity of a fruit is one of the factors that indicated consumer preference with sweet flesh of the fruit, fruit color and texture of the fruit. The prototype II is designed as a tool of quality detection of fruit utilizing flashlight and photoditector LDR (Light Dependent Resistor). This research was aimed to know the change of external resistance sensor LDR against quality indicator (color, hardness, total dissolved solids, and consumer preference level)and the presence influence of changes the external sensor LDR on tools Rapid Quality Detector (Prototype II) with banana quality indicators (total dissolved solids, hardness, and color of the fruit) and organoleptic test. This research was conducted in four phase i.e preparation, measurement, testing and analysis. The research results showing the relation sensor response with the hardness has a coefficient of determination of R 2 = 0.188 intact treatment, R2= 0.833 impact treatment and R2 = 0.744 pressure treatment. The three treatments of data shows the influence of bananas hardness against the storage time. After normalized to the OD values get the coefficient of determination R2 = 0.188 intact treatment, R2 = 0.221 impact treatment, R2 = 0.276 pressure treatment . So the chart showing no influence of the hardness with OD values. The relation of sensor response with total dissolved solids has a value of R² = 0.558 intact treatment, R² = 0.267 impact treatment , R² = 0.275 pressure treatment. So the chart of intact treatment shows the influence, on the impact treatment and pressure treatment doesn’t shows the influence of total disolved solids with the sensor response. After normalized to the OD values get the coefficient of determination R2 = 0.665 intact treatment, R2 = 0.319 impact treatment, R2 = 0.422 pressure treatment . So the chart of intact treatment shows the influence, on the impact treatment and pressure treatment doesn’t shows the influence of total disolved solids with OD value. The relation of sensor response with color (intact, impact, pressure) are generally obtained results with coefficient of determination shows the influence of the sensor response with color, while the relation of value OD with colors generally indicate the absence of influence because the value of determination that average below 0.5. | |
| 8040 | 8729 | A1M010052 | Pengaruh Penambahan Humektan dan Penggunaan Kemasan Untuk Mengetahui Umur Simpan Pangan Darurat Berbasis Tepung Jagung dan Tepung Kedelai Instan | Pangan darurat adalah pangan yang diproduksi dan dapat dikonsumsi secara langsung untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian manusia yang terjadi pada keadaan darurat. Pangan darurat perlu dilakukan pengemasan untuk mempertahankan mutu, melindungi produk sehingga aman dikonsumsi dan memperpanjang umur simpan. Tepung jagung dan tepung kedelai instan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan pangan darurat. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh penambahan gliserol dan sorbitol sebagai humektan terhadap umur simpan pangan darurat, menentukan jenis kemasan yang tepat serta menghasilkan pangan darurat yang diterima dan memenuhi standar kecukupan gizi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 18 kombinasi perlakuan dan 2 kali ulangan. Faktor perlakuan yang dicoba adalah jenis humektan (H) terdiri atas gliserol (H1) ; sorbitol (H2), jenis kemasan terdiri atas : polipropilen (K1) ; aluminium foil (K2) ; low density polyethylene (K3) dan umur simpan terdiri atas : hari ke 0 (kontrol), hari ke 3 (D1) ; hari ke 6 (D2); hari ke 9 (D3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pangan darurat terbaik adalah dengan penambahan humektan jenis gliserol (H1) yang dikemas polipropilen (K) pada umur simpan hari ke 9 (D3) dengan kandungan gizi makro protein 7,88 gram/bar, lemak 9,96 gram/bar dan karbohidrat (by difference) 23,04 gram/bar dengan energi yang dihasilkan adalah 237,73 kkal/bar, sehingga memenuhi kebutuhan energi harian pangan darurat sebesar 233 kkal/bar. | Emergency food is food that is produced and can be consumed directly to meet the needs of human daily consumption which occurs in an emergency. Emergency food packaging needs to maintain the quality, thus protecting the product is safe to consume and extend the shelf life. The corn flour and soy flour can be used instantly as materials for emergency food. The purpose of this study is to know the effect of adding glycerol and sorbitol as a humectant to the emergency food shelf life, packaging to determine the effect of the type of emergency food shelf life, determining the right type of packaging and produce that received emergency food and meet the standards of nutritional adequacy. This research used Completely Randomized Design (CRD) with 18 treatment combinations and 2 replications. The tested treatment factors are type of humectant (H) consists glycerol (H1) ; sorbitol (H2), type of packaging (K) consists of : polypropylene ( K1 ) ; aluminium foil ( K2 ) ; low density polyethylene ( K3 ) and shelf life consists of : day 0 ( control ), day 3 ( D1) ; day 6 ( D2 ) ; day 9 ( D3 ) . The results of the research showed that the Emergency food of the best is addition of glycerol humectant type ( H1 ) are packed polypropylene ( K ) with a shelf life of 9 days ( D3 ) have protein macronutrient content 7,88 grams/bar, fat 9,96 grams/bar and carbohydrate (by difference) 23,04 grams/bar with the energy 237.73 kcal/bar to meet the daily energy of emergency food 233 kcal/bar. |