Artikelilmiahs
Menampilkan 8.001-8.020 dari 48.899 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 8001 | 8708 | C1A010086 | HUBUNGAN KETERKAITAN ANTARA PENGRAJIN GULA KELAPA DENGAN PEMILIK POHON KELAPA DAN TENGKULAK GULA KELAPA DI KECAMATAN CIPARI KABUPATEN CILACAP | Penelitian ini berjudul “Hubungan Keterkaitan Antara Pengrajin Gula Kelapa dengan Pemilik Pohon Kelapa dan Tengkulak Gula Kelapa di Kecamatan Cipari Kabupaten Cilacap”. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Desember 2013. Tujuan penelitian adalah (1) mengetahui kondisi sosial-ekonomi pengrajin gula kelapa, pemilik pohon kelapa dan tengkulak gula kelapa di Kecamatan Cipari. (2) Menganalisis hubungan keterkaitan antara pengrajin gula kelapa dengan pemilik pohon kelapa dan tengkulak gula kelapa di Kecamatan Cipari. (3) Serta menganalisis tingkat efisiensi pemasaran atau tataniaga gula kelapa di Kecamatan Cipari. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif didukung analisis kuantitatif dengan metode survei. Pengumpulan data diakukan dengan menggunakan metode wawancara dan kuisioner. Penentuan lokasi penelitian dan responden yang dijadikan sampel menggunakan teknik Cluster Sampling dan snowball sampling. Berdasarkan hasil penelitian (1) Sebagian besar responden pengrajin gula kelapa, pemilik pohon kelapa dan tengkulak di Kecamatan Cipari berpendidikan sekolah dasar atau SD, memiliki pekerjaan lain sebagai petani, serta memiliki jumlah tanggungan keluarga sebanyak 4-6 orang. Pada responden pengrajin gula kelapa memiliki rata-rata pendapatan bersih sebesar Rp733.071,46 per bulan dengan rata-rata penggunaan pohon kelapa sebanyak 23 pohon. Responden pemilik pohon kelapa memiliki pendapatan bersih dari penyewaan pohon kelapa rata-rata sebesar Rp102.480,16 per bulan dengan rata-rata pohon kelapa yang disewakan sebanyak 9 pohon. Sedangkan tengkulak gula kelapa rata-rata berpendapatan bersih sebesar Rp3.153.086,80 perbulan dengan rata-rata pengrajin gula kelapa yang menyetorkan gulanya sebanyak 21 orang. (2) Pengrajin gula kelapa dengan pemilik pohon kelapa memiliki hubungan dalam sewa-menyewa pohon kelapa yang disadap oleh pengrajin gula kelapa. Pengrajin gula kelapa dengan tengkulak gula kelapa memiliki hubungan dalam sistem hutang-piutang antar keduanya dan pemasaran gula kelapa. Pemilik pohon kelapa dengan tengkulak gula kelapa memiliki hubungan dalam hal pemasaran gula kelapa. Hubungan antara Pengrajin gula kelapa, pemilik pohon kelapa, tengkulak gula kelapa dengan pasar yaitu dalam sistem pemasaran gula kelapa yang mereka hasilkan. (3) Kecamatan Cipari mempunyai empat saluran pemasaran gula kelapa dan efisiensi operational saluran pemasaran gula kelapa di Kecamatan Cipari sudah efisien. Namun efisiensi harga gula kelapa di Kecamatan Cipari belum efisien. Implikasi dari penelitian ini adalah: (1) Untuk meningkatkan pendapatan responden pengrajin gula kelapa di Kecamatan Cipari hendaknya melakukan diversifikasi produksi yaitu dengan memproduksi gula semut dan perlu adanya bantuan dari pemerintah baik dalam bentuk penyuluhan, dana, maupun alat-alat produksi agar responden dapat mengembangkan usahanya. (2) Sebaiknya produsen gula kelapa menjual hasil produksinya kepada saluran pemasaran satu yang memiliki industry’s share tertinggi dibandingkan dengan saluran pemasaran lainnya. (2) Kelompok-kelompok usaha tani gula kelapa yang telah terbentuk xv perlu dihidupkan dan dikembangkan kembali sehingga memiliki fungsi sebagai lembaga simpan-pinjam dan penampungan hasil produksi. Disamping itu produsen gula kelapa hendaknya dapat mengikuti perkembangan informasi pasar. Kata Kunci: Pengrajin Gula Kelapa, Pemilik Pohon Kelapa, Tengkulak Gula Kelapa, Kecamatan Cipari Kabupaten Cilacap | This research, entitled "THE LINKAGE RELATIONSHIP AMONG THE PALM SUGAR CRAFTMEN, THE PALM TREE OWNERS AND THE PALM SUGAR WHOLESALERS IN CIPARI SUBDISTRICT OF CILACAP REGENCY", was conducted in December 2013. The purposes of this research are (1) to discover the socio-economic condition of the palm sugar craftmen, the palm tree owners and the palm sugar wholesalers in Cipari Subdistrict. (2) to analyze the relationship among the palm sugar craftmen, the palm tree owners and the palm sugar wholesalers in Cipari Subdistrict. (3) and to analyze the marketing or business efficiency of palm sugar in Cipari Subdistrict. This research used a descriptive research method supported by the quantitative analysis of the survey method. The data were obtained by using interview and questionnaire. This research used cluster sampling to determine the location of the study and respondents while snowball sampling. The results of this research show : (1) most of respondents of the Palm Sugar Craftmen, the Palm Tree Owners and the Palm Sugar Wholesalers in Cipari Subdistrict, were elementary school graduate who have another job beside as a farmer, and have a number of family members as many as 4-6 people. The respondents of palm sugar craftmen have an average net income Rp733.071,46 per month with an average use of coconut tress as many as 23 trees. The respondents of palm tree owners have net income from leasing palm tree by an average income Rp102.480,16 per month with an average of coconut trees for rent as many as 9 trees. The Respondents of palm sugar wholesalers’s average net income is Rp3.153.086,80 per month with an average craftman palm sugar who supply the sugar product as many as 21 people. (2) The Craftmen of palm sugar and the palm tree owners have a relationship in leasing of the palm tree utilized by palm sugar craftmen. the palm sugar craftmen and the palm sugar wholesalers have relationships in credit scheme between them and in marketing of palm sugar. The palm tree owners and palm sugar wholesalers have relationships in marketing palm sugar. The relationship among the palm sugar craftmen, the palm tree owners, and the palm sugar wholesalers with market is in the marketing system. (3) The Cipari Subdistrict has four marketing channels palm sugar and the operational efficiency of marketing channels of palm sugar in Cipari Subdistrict have been efficient. However, the price efficiency of palm sugar in the Cipari Subdistrict was not efficient. 2 The implications of this research are: (1) to increase the income of Palm Sugar Craftmen in Cipari Subdistrict should do diversifies production, namely by producing palm powder sugar and need of assistance from government either in the instigation, funds, and equipment to respondents. (2) The palm sugar producers should sell their products to the marketing channel one that has the highest industry share compared to the other marketing channels. (3) Farm business group palm sugar need to be turned and re-developed. As well as the palm sugar producers should be able to keep update of market information. Key Words: the Palm Sugar Craftmen, the Palm Tree Ownerss, the Palm Sugar Wholesalers, Cipari Subdistrict of Cilacap Regency | |
| 8002 | 8707 | G1A008102 | HUBUNGAN TINGAKT PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG HIV AIDS DENGAN PRILAKU BERESIKO PENULARAN HIV MELALUI TRANSMISI SEKSUAL PADA SISWA SMK NEGERI PURWOKERTO | Latar Belakang:. Di Indonesia, data dari Ditjen PP dan PL Kemenkes RI tanggal 15 Agustus 2012, menunjukkan, untuk rentang umur 15 – 19 tahun terdapat 1.134 orang yang menderita AIDS. Hal ini menunjukkan bahwa masa transisi dari remaja menuju usia dewasa adalah masa krisis yang apabila tidak dibimbing bisa mengarah kepada perilaku yang berisiko .Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang HIV/AIDS dengan tindakan pencegahan HIV/AIDS pada siswa SMK Negeri. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian menggunakan kuisioner dan data dianalisis dengan uji X2. Kesimpulan: terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan sikap siswa SMK negeri terhadap prilaku berersiko dalam penularan HIB /AIDS Kata kunci ; HIV, AIDS | Background :. In Indonesia, data from DG and PL MoH RI on August 15, 2012, showed, for the age range of 15-19 years there were 1,134 people suffering from AIDS. This suggests that the transition from adolescence into adulthood is a time of crisis that if not guided can lead to risky behavior The aim: This study was conducted to determine the relationship between knowledge and attitudes about HIV / AIDS preventive measures of HIV / AIDS on vocational students country. Methods: This study uses observational analytic cross-sectional study design. Research using questionnaires and the data were analyzed by X2 test. Conclusion: there is a significant relationship between the level of students' knowledge and attitudes towards public SMK berersiko behavior in the transmission of HIB / AIDS Keywords; HIV, AIDS | |
| 8003 | 10457 | F1G010031 | TUTURAN DAN IMPLIKATUR PEMAKAIAN BAHASA DI DALAM BUS TUJUAN PURWOKERTO - YOGYAKARTA | Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana bentuk tuturan yang mematuhi prinsip kesantunan dan yang melanggar prinsip kesantunan di dalam bus tujuan Purwokerto – Yogyakarta?, (2)Bagaimana implikatur yang muncul berdasarkan pelanggaran prinsip kesantunan di dalam bus tujuan Purwokerto – Yogyakarta? Tujuan Penelitian ini adalah (1)mendeskripsikan bentuk tuturan yang mematuhi prinsip kesantunan dan yang melanggar prinsip kesantunan di dalam bus tujuan Purwokerto – Yogyakarta, (2)mendeskripsikan implikatur yang muncul berdasarkan pelanggaran prinsip kesantunan di dalam bus tujuan Purwokerto – Yogyakarta. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan Pragmatik. Sumber data yang digunakan adalah percakapan yang berada di dalam bus tujuan Purwokerto – Yogyakarta. Data dalam penelitian ini adalah tuturan yang melanggar prinsip kesantunan dan mematuhi prinsip kesantunan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak, sedangkan teknik untuk pengumpulan data menggunakan teknik sadap dan teknik rekam. Metode analisis data dalam penelitian ini adalah metode padan. Penyajian hasil analisis data penelitian ini adalah penyajian secara formal dan informal. Berdasarkan analisis dapat disimpulkan dua hal. Pertama, ditemukan tuturan langsung yang melanggar prinsip kesantunan dan yang mematuhi prinsip kesantunan, tuturan tidak langsung yang melanggar prinsip kesantunan dan yang mematuhi prinsip kesantunan, serta tuturan yang terkait tingkat tutur bahasa Jawa . Kedua , ditemukan empat implikatur percakapan yang berbeda dalam tuturan yang melanggar prinsip kesantunan di dalam bus tujuan Purwokerto-Yogyakarta. Implikatur percakapan tersebut adalah implikatur menghina, implikatur mempengaruhi, implikatur menyarankan dan implikatur perintah. Tuturan yang melanggar prinsip kesantunan implikatur yang terjadi didominasi oleh implikatur menghina dan implikatur perintah. | The problem in this research is (1) how the form of utterances that obey to the principle of politeness and which violates of the principle of politeness in the bus of routes Purwokerto - Yogyakarta?, (2) How implicatures arise based on violation of the principle of politeness in the bus of routes Purwokerto - Yogyakarta?. The purpose of this study is (1) to describe the form of utterances that obey to the principles of politeness and which violates of the principle of politeness in the bus of routes Purwokerto – Yogyakarta,(2) to describe implicatures arise based on violation of the principle of politeness in the bus of routes Purwokerto - Yogyakarta. This research is descriptive qualitative research. The approach in this study is a pragmatic approach. Source of data used is the conversation that was on the bus of routes Purwokerto – Yogyakarta. The data in this study is the utterances that violates the principles of politeness and obey to the principles of politeness. Data collection methods used in this research is the observation method, while techniques for data collection using the tapping technique and recording technique. Methods of data analysis in this study is a identity method. Presentation of the results of the data analysis of this study is the presentation of formal and informal. Based on the analysis we can conclude two things. First, find a direct utterances which violates of the principle of politeness and that obey to the principles of politeness, indirect utterances which violates of the principle of politeness and that obey to the principles of politeness, as well as utterances which relates speech level of Java language. Secondly, there are four different conversational implicatures in the utterances that violates the principle of politeness in the bus of routes Purwokerto – Yogyakarta. The conversational implicatures are implicatures insulting, implicature affect, implicature suggested and implicature command. A utterances that violates of the principle of politeness implicature occurring dominated by implicature insulting and implicature command. | |
| 8004 | 11008 | C1A009052 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN PENGRAJIN ATBM DI DESA PAKUMBULAN KECAMATAN BUARAN KABUPATEN PEKALONGAN | Penelitian ini merupakan penelitian survey pada pengrajin ATBM di Desa Pakumbulan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi pendapatan pengrajin, untuk mengetahui faktor manakah yang paling berpengaruh terhadap pendapatan pengrajin, dan untuk mengetahui KHL pengrajin.Penelitian survey ini menggunakan kuesioner sebagai instrumen. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling. Sampel penelitian ini adalah pengrajin ATBM di Desa Pakumbulan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan yang diambil sebagai responden penelitian dengan jumlah responden sebanyak 70 orang. Dalam penelitian ini, data dianalisis dengan menggunakan tabulasi dan KHL yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten Pekalongan pada bulan Juni 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) semakin tinggi tingkat pendidikan maka produk yang dihasilkan semakin banyak (2) semakin lama jam kerja yang digunakan pengrajin untuk bekerja maka produk yang dihasilkan akan semakin banyak (3) semakin tua umur pengrajin maka produk yang dihasilkan akan semakin banyak (4) pendapatan yang diterima pengrajin perempuan lebih banyak daripada pengrajin laki-laki (5) semakin banyak jumlah produksi, maka pendapatan pengrajin juga semakin besar (6) meskipun jumlah tanggungan keluarga banyak namun tidak dapat menambah jam kerja (7) meskipun jumlah tanggungan keluarga banyak namun tidak dapat menambah jumlah produksi (8) dilihat dari segi pendapatan yang diterima pengrajin, pendapatan yang diterima pengrajin perempuan sudah dapat memenuhi standar KHL (9) pendapatan pengrajin laki-laki belum memenuhi standar KHL (10) secara keseluruhan pendapatan pengrajin sudah memenuhi KHL. | This research is motivated by the production and sale of handloom craft used to meet the daily needs by the craftsmen. Purpose of this study was to determine which factors most influence the craftsmen, the most influential factor for craftsmen, and artisans welfare level. The method used in this research is descriptive questionnaire as a data collection tool, while the analysis tool used is the average tabulation. This research is simple purposive sampling with a sample size of 70 people in the village craftsmen Pakumbulan Buaran District of Pekalongan. The results showed that education, age, hours worked, number of production affects income artisans, whereas gender, family responsibility does not affect income artisans and craftsmen already prosperous income. | |
| 8005 | 11009 | C1A007088 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENERIMAAN RETRIBUSI PASAR DI KABUPATEN CILACAP | Penelitian ini berjudul “faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan retribusi pasar di Kabupaten Cilacap”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah variabel luas bangunan dan jumlah pedagang, serta faktor jenis penerimaan, kelas pasar dan faktor interaksi secara bersama sama dan serta secara individu berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pasar. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis General Lenear Model, Uji levene test, uji statistik, dan dengan memperhatikan pengaruh variabel utama dan variabel interaksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor jenis penerimaan retribusi dan kelas pasar, Variabel luas bangunan pasar dan jumlah pedagang, serta faktor interaksi jenis penerimaan retribusi pasar dan kelas pasar, serta jenis penerimaan retribusi dan jumlah pedagang secara bersama-sama dan secara individu berpengaruh signifikan terhadap penerimaan retribusi pasar Kabupaten Cilacap. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa, pemerintah daerah kabupaten cilacap harus lebih memperhatikan kelas pasar dengan sebenarnya sesuai dengan kelas pasar tersebut sehingga dapat mengoptimalkan penerimaan retribusi di Kabupaten Cilacap. Selain itu pemerintah daerah hendaknya juga memperhatikan jumlah pedagang yang ada di pasar dan jenis penerimaan retribusi dapat diterapkan dengan tegas bagi setiap pedagang sehingga dapat mengoptimalkan penerimaan retribusi di Kabupaten Cilacap. | The title of this research is “Factors that Influence Market Retribution Income in Cilacap Region”. The purpose of this research to know variable building area and merchant numbers, and acceptances factors, market class and also individual and social interaction factor that significantly influence to market acceptance. Analisis method that used in this research is General Lenear Model Analisis, Levence test, statistic test, and with observe main variable influence and interaction variable. The result of this research shows that retribution acceptance factors and market class, market building area variable and merchant amount, market interaction acceptance type of retribution and market class, retribution acceptance type and merchant amount that individualy and along with another merchants are significantly take effect with Cilacap Region market retribution acceptance. This research gives implication that, Cilacap local goverment should more pay attention to market class seriously according to that market class, so government can optimalize retribution acceptance in Cilacap Region. Beside that local government should also pay attention to merchant amount that exist in the market and retribution acceptance type can be firmly applied to each merchant. Keywords: Market Retribution Acceptance, Merchant amount, Building Area, Market Class, Type Of Market Acceptance. | |
| 8006 | 8711 | H1D010074 | EVALUASI STABILITAS GROIN DI PANTAI TIMUR PANGANDARAN JAWA BARAT | Pantai (shore) adalah daerah di tepi perairan yang dipengaruhi oleh air pasang tertinggi dan air surut terendah. Pantai Pangandaran merupakan sebuah objek wisata Kabupaten Pangandaran. Pantai Pangandaran memiliki pantai yang landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama. Namun, karena berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia, Pantai Pangandaran cenderung memiliki gelombang yang besar. Untuk meredam besarnya gelombang yang ditimbulkan dan mengurangi tingkat erosi, maka dibuat bangunan pantai, yaitu groin. Groin pada Pantai Timur Pangandaran dibangun untuk mencegah kemunduran garis pantai akibat erosi. Analisis pada penelitian ini dikhususkan pada stabilitas groin dan runup gelombang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tinggi gelombang, berat butir lapis lindung, dan runup gelombang serta mengetahui apakah groin yang ada mampu menahan gaya gelombang. Data sekunder yang digunakan adalah data angin dan data pasang surut. Data primer yang digunakan adalah data diameter batuan dan data rapat massa batuan, dimana kedua data tersebut digunakan untuk mencari berat butir lapis lindung di lapangan. Pengujian rapat massa dilakukan di laboratorium dengan menggunakan sampel batuan yang berasal dari lapangan. Analisis pada penelitian ini dilakukan dengan perhitungan manual menggunakan rumus Hudson dan rumus Van der Meer. Distribusi angin tahun 2012 menunjukkan bahwa angin dominan bertiup dari arah tenggara. Persentase kejadian angin dari arah tenggara sebesar 38,797% pada tahun 2012 dengan kecepatan maksimum angin sebesar 19 knot atau 9,77 m/d dan kecepatan minimumnya sebesar 3 knot atau 1,54 m/d. Panjang fetch di sekitar Pantai Timur Pangandaran berkisar antara 3,33 km sampai 17,33 km dan sebagian besar bernilai tak hingga yang menunjukkan bahwa Pantai Timur Pangandaran tidak dikelilingi oleh daratan. Untuk itu dilakukan analisis sensitifitas panjang fetch. Peramalan gelombang menggunakan rumus menghasilkan ketinggian gelombang maksimum 2,49 m; signifikan 0,87 m; rata-rata 0,446 m; dan periode 8,43 detik. Dari hasil pengukuran dan pengujian, berat butir lapis lindung di lapangan 0,43 ton, dengan volume batuan rata-rata 0,16 m3 dan rapat massa batuan 2,63 ton/m3. Dari perhitungan, dengan rumus Hudson menghasilkan berat butir lapis lindung 2,11 ton, sedangkan dengan rumus Van der Meer didapat berat butir lapis lindung 1,56 ton. Berdasarkan kedua rumus tersebut berat butir lapis lindung di lapangan terlihat jauh lebih kecil dan kemungkinan kurang stabil menahan gaya gelombang. | The beach (shore) is the area on the waterfront that are affected by the high tide and low tide. Pangandaran Beach is a tourist attraction in Pangandaran district. Pangandaran Beach has a sloping beach with clear water and the distance between the ups and downs are relatively long. However, due directly adjacent to the Indonesian Ocean, Pangandaran Beach tend to have large waves. To dampen the magnitude wave generated and reduce the rate of erosion, then made coastal structures, namely the groin. Groins on the East Coast Pangandaran were built to prevent deterioration due to shoreline erosion. The analysis in this study is devoted to the stability of the groin and wave runup. This study aims to determine the wave height, stone weight protection layer, and wave runup and determine whether existing groins able to withstand the force of the waves. Secondary data used are wind data and tidal data. Primary data used are the diameter of the rock and the rock mass density of data, wherein the second data is used both to seek protection layers of heavy stone in the field. Density testing performed in the laboratory using samples of rocks from the field. The analysis in this study is done by manual calculation using the formula of Hudson and Van der Meer formula. Wind distribution in 2012 showed that the dominant winds blow from the southeast. The percentage occurrence of wind from the southeast of 38.797% in the year 2012 with a maximum wind speed of 19 knots or 9.77 m/s and a minimum speed of 3 knots or 1.54 m/s. The length of the East Coast fetch around Pangandaran ranged from 3.33 km to 17.33 km and most valuable infinity which indicates that the East Coast Pangandaran not surrounded by land. For sensitivity analysis was done long fetch. Wave forecasting using the formula produces a maximum wave height of 2.49 m; Significant 0.87 m; average of 0,446 m; and a period of 8.43 seconds. From the results of measurement and testing, heavy stone in the field of protected ply 0.43 tons, with an average rock volume of 0.16 m3 and 2.63 ton/m3 rock mass meeting. From the calculations, the Hudson formula weight stone yield of 2.11 tons of protected layer, while the Van der Meer formula gained weight 1.56 tons of stone layer protection. Under the second formula weight of the stone in the field of protected layered looks much smaller and likely less stable to withstand wave force. | |
| 8007 | 8710 | A1M010015 | PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP PERBAIKAN KEMASAN STUDI KASUS DI IKM JENANG JAKET ASLI MERSI, PURWOKERTO | Jenang jaket Asli Mersi merupakan salah satu makanan tradisional khas Kabupaten Banyumas yang dikemas dengan kemasan plastik Polypropylene. Kemasan masih sangat sederhana dan kurang menarik. Setiap kemasan berisi 16 buah jenang jaket. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui warna, ukuran dan model kemasan baru jenang jaket yang paling disukai konsumen. Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yang berasal dari wilayah Jawa di luar Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen) dan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Total responden sebanyak 62 orang. Variabel yang diamati meliputi preferensi konsumen terhadap warna, ukuran dan model kemasan. Hasil penelitian menunjukan kemasan jenang jaket yang paling disukai oleh responden adalah kemasan dus warna coklat isi 16 jenang. Secara keseluruhan,kemasan yang menarik dan berkualitas dapat meningkatkan preferensi konsumen terhadap jenang jaket. | Mersi’s jenang jaket Asli is one of traditional food from Banyumas regency which is packed use Polypropylene plastic packaging. Its package is still very simple and unattractive. Each packaging has 16 pieces of jenang jaket. The research was aimed to know the packaging’s color, size, and model of jenang jaket’s packaging which is highly preferred by consumers. Respondents of this research are students of Jenderal Soedirman University from Java outside Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen) and Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Total respondents was 62 persons. Variable of this research are consumer’s preference on color, size and packaging’s model. The result of research showed jenang jaket’s packaging that highly preferred by consumers is brown box package consist of 16 jenang jaket. Overall, good design and qualified packaging can increase the consumer’s preference of jenang jaket. | |
| 8008 | 8712 | A1L009089 | UJI KEMEMPANAN ISOLAT BAKTERI Bacillus sp. SEBAGAI PENGENDALI HAMA Spodoptera litura F. | Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui isolat bakteri Bacillus sp. yang efektif untuk mengendalikan hama S. litura. (2) Mendapatkan instar larva S. litura yang rentan terhadap perlakuan bakteri Bacillus sp. (3) Mengetahui isolat bakteri Bacillus sp. yang efektif untuk mengendalikan larva S.liturapada instar 2, 3, dan 4. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi (split plot design) dengan petak utama yaitu instar larva S. litura instar 2,3, dan 4, sub petak yaitu perlakuan isolat bakteri yang terdiri dari 4 isolat yaitu bakteri Bacillus B8, Bacillus B11, Bacillus thuringiensis, dan bakteri ulat S.exigua asal Serang, Purbalingga, perlakuan insektisida (Profenofos), dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada larva S. litura yang terinfeksi bakteri Bacillus sp. mengalami perubahan warna tubuh larva dan pergerakan larva menjadi lamban, kurang aktif bergerak dan kurang tanggap terhadap sentuhan.Isolat bakteri Bacillus sp yang paling efektif dalam mengendalikan hama S.liturapada variabel umur larva, nafsu makan, dan mortalitas adalah Bacillus B11. Instar larva S. liturayang paling rentan terhadap perlakuan bakteri Bacillus sp. adalah instar 4, dan interaksi yang paling efektif untuk mengendalikan larva S.lituraadalah penggunaanBacillus B.11 pada larva S.liturainstar 4. | This research aims to (1) know the bacterium Bacillus sp. isolates that are effective for controlling pests S. litura. (2) get the instar larvae of S. litura that were vulnerable to bacterial treatment of Bacillus sp. (3) Knowing isolates of bacteria Bacillus sp. is effective to control the larvae of s. litura on 2nd, 3rd, and 4th instars. This research was carried out in the laboratory of plant protection, Faculty of agriculture, Jenderal SoedirmanUniversity. Research using Split plot design (divided compartments) with the main plot of 2nd, 3rd, and 4th instars larvae S. litura, sub plots that treatment of bacterial isolates, consisting of four isolates of the bacterium i.e. Bacillus B8, B11 Bacillus thuringiensis and bacterium Caterpillar S. exigua attack origin, Purbalingga, insecticide treatment (Profenofos), and control.The results showed that the larvae of s. litura which infectedby bacterium Bacillus sp. larval body color changes and movement of the larvae become less active, moving slowly and are less responsive to touch. the most effective of Bacillus sp. isolates for controlled S. litura pest was Bacillus B11. It was measured from age of larvae appetite and larva mortality. The most susceptible instars of larva S. litura that gave Bacillus treatment was 4th instar. The most interaction for S. litura larva control was using Bacillus sp B11 in 4thinstar S. litura larvae. | |
| 8009 | 4162 | G1A009038 | PERBEDAAN WAKTU BERSIHAN MUKOSA SILIAR HIDUNG PADA PEROKOK JENIS FILTER DAN NON-PEROKOK | Sistem transpor mukosilia merupakan sebuah mekanisme pertahanan yang penting dalam sistem pernapasan. Hal ini tergantung pada interaksi silia dan mukus. Pajanan asap rokok yang bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh, kuantitas rokok yang dihisap, usia mulai merokok, serta lama merokok yang menentukan derajat merokok seseorang melalui indeks brinkman, dapat menyebabkan kerusakan sistem transpor mukosilia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan perbedaan kecepatan waktu bersihan mukosiliar hidung pada kelompok perokok jenis filter dibanding kelompok tidak merokok. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian epidemiologi analitik non-eksperimental dengan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling sebanyak 60 orang, yaitu 30 orang adalah para perokok berjenis filter yang berkunjung ke Klinik THT dan Paru RSUD Margono, sedangkan 30 orang tidak memiliki riwayat merokok. Analisis data yang digunakan adalah uji T-tidak berpasangan. Didapatkan hasil p<0,05 (p= 0,027), terdapat perbedaan yang signifikan terhadap rerata waktu bersihan mukosiliar hidung antara para perokok jenis filter (12,54 ± 3,88) dibanding yang tidak merokok (8,79 ± 2,3). Terdapat perbedaan kecepatan waktu bersihan mukosilia hidung antara perokok dibanding yang non perokok. | The mucocilliary transport system is an important defence mechanism of the respiratory tract. It depends on the interaction between cilia and mucus. Exposure to cigarette smoke is complex and influenced by, the quantity of cigarettes smoked, age started smoking, and smoking a long time to determine the degree of a person smoking through Brinkman index, it can cause the damage of the mucociliary transport system. To determine the difference between nasal mucociliary clearance time at the filter smokers and non-smokers. The study is observational, cross sectional study. It uses the consecutive sampling method. sixty respondents, of which 30 visitor at clinic Lung, and ENT at RSUD Margono, were actively exposed to smoke, whereas 30 others were unexposed control respondents. T-independent test was employed to analyze the data. a result p-value < 0,05 (p=0,027), There was significantly difference in average nasal mucociliary clearance time between a filter smokers (12,54 ± 3,88) and non-smokers respondents (8,79 ± 2,3). There was nasal mucocilliary clearance time differenciation between filter smokers and non-smokers. | |
| 8010 | 8713 | A1M010068 | Nilai Gizi Cookies Pollard Gandum Terfermentasi Bersuplementasi Tepung Kacang Hijau dan Tepung Kulit Manggis Sebagai Pangan Fungsional | Pola pangan yang kurang sehat dapat memicu terjadinya penyakit degeneratif seperti kanker. Pangan fungsional merupakan salah satu cara yang paling efisien dan efektif untuk mengatasi kanker. Pollard gandum memiliki asam fitat dan kulit manggis memiliki xanthone yang merupakan senyawa fungsional untuk meningkatkan sifat fungsional suatu produk pangan. Cookies merupakan salah satu makanan yang dapat digunakan sebagai pangan fungsional. Penilitian ini bertujuan untuk: 1) Menentukan interaksi perlakuan terbaik antara pengaruh perlakuan konsentrasi inokulum dan lama fermentasi untuk menghasilkan tepung pollard gandum terfermentasi dengan sifat fisik dan kimia terbaik, 2) Menentukan tiga formulasi tepung komposit terbaik yang terdiri dari tepung pollard gandum terfermentasi dan tepung terigu, 3) Menentukan kombinasi perlakuan terbaik antara perlakuan formulasi tepung komposit dan proporsi tepung kacang hijau dan tepung kulit manggis yang dapat menghasilkan cookies dengan sifat kimia dan sensoris terbaik. Penelitian terdiri dari 3 tahap dengan penelitian tahap pertama dan kedua adalah penepungan pollard gandum terfermentasi dan formulasi tepung komposit dilakukan dengan rancangan penelitian sederhana. Penelitian tahap 3 adalah penelitian utama yaitu pembuatan cookies dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor yaitu formulasi tepung komposit (S1 = 90:10, S2 = 95:5, dan S3 = 80:20) dan proporsi tepung kacang hijau dan kulit manggis (P1 = 10:25, P2 = 15:20, dan P3 20:15). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung pollard gandum terfermentasi terbaik adalah tepung yang difermentasi dengan konsentrasi inokulum 15 % dan lama fermentasi 3 hari. Tiga formulasi tepung komposit terbaik adalah tepung komposit dengan perbandingan tepung pollard gandum terfermentasi dibanding tepung terigu sebesar 90:10, 95:5, dan 80:20. Cookies yang dihasilkan dari formulasi tepung komposit dengan perbandingan tepung pollard gandum terfementasi dibanding tepung terigu sebesar 80:20 dan proporsi tepung kacang hijau dan tepung kulit manggis 10:25 merupakan cookies terbaik yang memiliki kadar air 5,83 %bb, kadar abu 2,20 %bk, kadar protein 12,78 %bk, kadar lemak 19,97 %bk, kadar karbohidrat 65,05 %bk, dan nilai energi 491,05 Kkal, warna coklat kehitaman, aroma pollard khas, rasa agak enak, tekstur agak renyah dan penerimaan keseluruhan sedikit suka. | Unhealthy diet can caused degenerative disease like cancer. Functional food is one of the most efficient way and effective to treat cancer. Wheat pollard has phytic acid and mangosteen skin’s has xanthone which have a functional compounds to improve the functional properties of food product. Green bean is a food with high protein content that can be used to improve the nutritional value of food product. Cookies are one of the foods that can be used as a functional food. The purpose of this research are: 1) to define the best treatment’s combination within the effect of inoculums concentration’s treatment and fermentation’s long-time to produce the best wheat pollard flour, 2) to define the best three of composite’s flour formulation that consists of fermented wheat pollard flour and wheat flour, 3) to define best combination treatment within composite flour’s formulation and proportion of green beans flour and mangosteen skin’s flour which can produce cookies with the best characteristic of chemical and sensory. Research divided into three phase when first and second phase are flouring of fermented wheat pollard and formulation of composite flour that used the simple experimental design. Research phase three is the main research which was making cookies with used Completely Randomized Design with two factor such as formulation of composite flour (S1 = 90:10, S2 = 95:5, and S3 = 80:20) and proportion of green beans flour & mangosteen skin’s flour (P1 = 10:25, P2 = 15:20, and P3 = 20:15). The result of this research showed that the best of the best from fermented wheat pollard is the flour that fermented by concentration of 15% inoculums and the fermentation’s long-time was three days. Three of the best of composite’s flour formulation than wheat flour are 90:10, 95:5, and 80:20. Cookies that made from formulation of composite flour with comparison of fermented wheat pollard flour than wheat flour in the amount of 80:20 and proportion of green beans flour and manggosteen skin’s flour in amount of 10:25 was the best cookies that has 5,83%bb water content, 2,20%bk ash content, 12,78%bk protein content, 19,97%bk fat content, 65,05%bk carbohydrate content, and 491,05 Kkal of energy, the color is brown-black, specific aroma of pollard, rather good taste, rather crisp texture and overall acceptance was rather like. | |
| 8011 | 8714 | A1H009027 | Kajian Dampak Lingkungan Global dari Proses Produksi Tahu Menggunakan Metode Life Cycle Assessment | Life Cycle Assessment (LCA) digunakan untuk menganalisa dampak produksi tahu Kalisari terhadap lingkungan global. Penelitian menggunakan metode LCA yang mencakup penentuan tujuan dan batasan sistem, analisis inventori, penakaran dampak dan analisis perbaikan. Penelitian dibatasi dari proses perendaman kedelai sampai dengan limbah yang dihasilkan. Input energi yang dihitung meliputi energi manusia, listrik dan bahan bakar. Sedangkan emisi dan limbah yang diukur adalah limbah cair dan emisi udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total konsumsi energi produksi tahu sebesar 29.370 MJ. Penggunaan energi pada masing-masing proses adalah 0.253 MJ perendaman, 0.8042 MJ penggilingan, 19.4597 MJ perebusan, 0.0338 MJ penyaringan, 0.0163 MJ pengendapan, 0.0387 MJ pencetakan, 0.0169 MJ pembungkusan, 0.0169 MJ pengepresan dan 8.7296 MJ penguningan. Emisi yang dihasilkan sebesar 9.008381 CO2 eq/tahun. Produksi tahu berdampak terhadap eutrofikasi dan GWP (Global Warming Potential) dalam jumlah kecil, sedangkan dampak terhadap kesehatan manusia yaitu timbul PAN (Peroxy Acetile Nitrates) yang menyebabkan mata pedih dan berair, kebisingan, serta timbul bau busuk limbah tahu. Perebusan merupakan proses yang paling banyak mengkonsumsi energi hal tersebut dikarenakan konsumsi kayu bakar yang sangat banyak serta penggunaan blower untuk membantu menjaga stabilitas pembakaran tungku. Proses perebusan dapat dioptimalkan dengan mendesain ulang tungku perebusan. | Life Cycle Assessment (LCA) was used to analyze the impacts of Kalisari tofu production toward global environment. The research was carried out using LCA method, which include determining goals and scoping, life cycle inventory analysis, impacts assessment and interpretation. Research scope include soaking process to production waste. Energy input quantified were human energy, electrical energy and fuel energy. Meanwhile, emissions and waste measured include liquid waste and air emission. The result showed that tofu production consumed 29.370 MJ total energy. Energy usage for soaking, grinding, boiling, sifting, sedimentation, molding, packing, pressing and yellowing were 0.253 MJ, 0.8042 MJ, 19.4597 MJ, 0.0338 MJ, 0.0163 MJ, 0.0387 MJ, 0.0169 MJ, 0.0169 and 8.7296 MJ respectively. Process resulted 9.008381 CO2 eq per years. The small number of eutrophication and GWP was effected by tofu production. Tofu also effected human health, e.g. PAN that caused poignancy and watery eyes, noisy and stench that caused by tofu waste. Boiling consume the most energy because a lot of biomass consumption and blower usage to keep the combustion stability in furnace. Boiling process can be optimized with redesign it. | |
| 8012 | 9537 | F1G007014 | ANALISIS TEMATIK NOVEL JENDELA-JENDELA KARYA FIRA BASUKI | Penelitian yang berjudul “analisis Tematik Novel Jendela-Jendela karya Fira Basuki”, berlatarbelakang perselisihan yang ujungnya merambat pada perselingkuhan, bertujuan untuk mendeskripsikan tematik berdasarkan penggolongannya novel Jendela-Jendela karya Fira Basuki, dan memberikan manfaat teoritis dan manfaat praktis demi perkembangan kajian ilmu sastra, khususnya tentang tema. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan membaca berulang-ulang secara teliti, kemudian mengumpulkan data-data dari berbagai sumber termasuk media cetak dan media elektronik (internet) yang berhubungan dengan penelitian. Pada tahap analisis data, metode yang digunakan adalah dengan cara mengumpulkan data-data tentang tema dalam novel yang menyangkut tema tradisional dan nontradisional, tingkatan tema menurut Shipley, dan tema utama dan tambahan. Berdasarkan penelitian, dapat disimpulkan sebagai berikut. Tema dalam novel Jendela-Jendela adalah komunikasi yang baik membuat keharmonisan hubungan. Pengkategorian tema dibagi menjadi tiga sudut pandang, yaitu penggolongan dikhotomis yang bersifat tradisional dan nontradisional, penggolongan dilihat dari tingkat pengalaman jiwa menurut Shipley, dan penggolongan dari tingkat keutamaannya. Tema tradisional dalam novel tersebut adalah tindakan kejahatan yang ditutup-tutupi akan terbongkar juga. Sedangkan tema nontradisionalnya adalah penyalah gunaan kekuasaan untuk menindas rakyat kecil. Tema dengan tingkat pengalaman jiwa menurut Shipley dibagi menjadi lima, yaitu tema tingkat fisik, tema tingkat organik, tema tingkat sosial, tema tingkat egoik, dan tema tingkat divine. | The study entitled is “Thematic Analysis of Jendela-Jendela Novel written by FiraBasuki”, this study is aimed to describe the theme of the novel of Jendela-Jendela by FiraBasuki. The collecting data techniques in this study are to read carefully over and over again, then collecting data from a variety of sources including print and electronic media (internet), relating to the research. At the stage of data analysis, the method used is by collecting data about the themes in the novel involving traditional and non-traditional themes, the themes stage according to Shipley, and the main and additional themes. Based on data analysis was concluded as follows, the theme of the novel Jendela-Jendela has a good communication which makes harmounis relationship. The categorizing theme was divided into three perspectives, namely the dichotomous classification of traditional and non-traditional, classification seen from the experience of the soul according to Shipley, and classification of the level of its qualities. Traditional theme in the novel is a crime which will be uncovered as well. Meanwhile, the theme of non-traditional is to abuse the common people. The theme with levels of life experience by Shipley divided into five, namely the theme of the level of physical, organic, social, egoistical and divine. | |
| 8013 | 8715 | P2BA10019 | STUDI PATOLOGI PENYAKIT INFEKSI BAKTERIAL IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy, Lac.) | Arif Mulyanto, Program Studi Magister Biologi, Program Pascasarjana Universitas Jenderal Soedirman, Studi Patologi Penyakit Infeksi Bakterial Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.). Pembimbing: Prof. Agus Irianto, M.Sc. Ph.D dan Gratiana E. Wijayanti, M.Rep.Sc. Ph.D. Kematian ikan gurami secara massal terjadi pada bulan Agustus sampai Desember 2010. Keadaan ini sangat merugikan para petani ikan karena kematian terjadi pada berbagai tahap perkembangan mulai dari ukuran 4 ± 2 cm sampai 35 ± 2 cm. Pemeriksaan karakter morfologi dan gejala klinis menunjukkan bahwa kematian ikan gurami disebabkan oleh infeksi bakteri. Guna mengetahui penyebab pasti kematian ikan gurami tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: 1) mengkonfirmasi bahwa kematian ikan gurami disebabkan oleh infeksi bakteri, 2) mengidentifikasi spesies bakteri penyebab kematian ikan, 3) mengevaluasi patogenitas bakteri yang diisolasi, dan 4) mengevaluasi gambaran histopatologi ikan yang terinfeksi di daerah terjadinya kematian ikan secara massal. Sampel ikan yang terinfeksi diambil secara purposive sampling. Jaringan yang terluka diambil untuk identifikasi bakteri berdasarkan morfologi koloni dan karakteristik biokimiawi. Ikan dibedah, organ ginjal dan hepar diambil dan difiksasi dalam larutan netral buffered formalin untuk pemeriksaan histopatologi menggunakan metode paraffin dan pewarnaan Haematoxyline-eosin. Patogenitas bakteri dievaluasi melalui uji postulat Koch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematian ikan gurami secara massal disebabkan oleh infeksi bakteri. Teridentifikasi empat spesies bakteri yaitu Aeromonas hydrophila, Methylobacterium mesophilicum, Photobacterium damselae, dan Pseudomonas luteola. Tiga isolat bakteri tersebut memiliki patogenitas tinggi. Pada ikan yang terinfeksi parah, organ ginjal dan hati mengalami perubahan morfologi dan tekstur. Pemeriksaan histologi menunjukkan bahwa epitel tubulus renalis ginjal mengalami nekrosis dan terpisah dari membran basal, jaringan haematopoetic dan glomerulus mengalami kerusakan. Pada organ hepar, banyak sel hepatosit yang mengalami nekrosis, di daerah tertentu banyak sel hepatosit mengalami kerusakan dan terdegradasi sehingga menyisakan area kosong. Haemosiderin dalam berbagai ukuran dijumpai pada organ ginjal dan hepar. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi bahwa kematian ikan gurami secara massal disebabkan oleh infeksi bakteri. | Arif Mulyanto, Master of Biology, Postgraduate Program, Jenderal Soedirman University. Histopathological Study in Bacterial Infected Giant Gouramy (Osphronemus gouramy Lac.). Supervisors: Prof. Agus Irianto, M.Sc. Ph.D and Gratiana E. Wijayanti, M.Rep.Sc. Ph.D An outbreak of giant gouramy death was occured in a period of August to December 2010. This contribute a significant lost to the fish farmer since the death occured in a wide range of developmental stages from size of 4 ± 2 cm to 35 ± 2 cm. Examination on morphological characteristic and clinical symptom sugested that the death of the giant gouramy coused by bacterial infection. To reveal the couse of death of the giant gouramy this research was conducted with emphasis on these objectives: 1) to confirm that the death of the fish is coused by bacterial infection, 2) to identify the bacteria cousing the death, 3) to evaluate the pathogenesity of the isolated bacteria, and 4) to examine histophatological features of the infected fish from the outbreak area. The infected fish were collected according to purposive sampling. Wounded tissues were collected for bacterial identification based on collony morphology and biochemical characteristic. The fish were disected, their kidney and liver were removed and fixed in neutral buffered formalin for hiatopathological examination using paraffin embedded section and haematoxyline-eosin staining. Bacterial pathogenesity was evaluated by Koch postulate. There results confirmed that the death of the giant gouramy during the ourbreak was coused by bacterial infection. Four species of bacteria namely Aeromonas hydrophila, Methylobacterium mesophilicum, Photobacterium damselae, and Pseudomonas luteola were identified from the infected fish. Three isolates of these bacteria were highly pathogennic. In severely infected fish, the kidney and liver were altered in their morfological appearance and texture. Histological examination showed that the epithelia of the renal tubules were necrotic and were detached from the basal membran. The haematopoietic tissue and the glomerula were damaged. In the liver, many hepatocytes were necrotic, in particular area the damaged hepatocytes were degraded living an empty area. Haemosiderin in various size were observed in both kidney and liver. These fingding confirm that the outbreak of the giant gouramy death in the study area wes coused by bacterial infection. | |
| 8014 | 8716 | A1M010036 | ANALISIS DESKRIPTIF KUANTITATIF PADA RAISIN CAKE DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG KOMPOSIT KACANG MERAH, KEDELAI DAN PATI JAGUNG | Raisin cake adalah cake yang dibuat dengan adanya tambahan potongan-potongan kismis di dalam adonan cake tersebut.Penelitian ini memanfaatkan tepung kacang merah, kedelai dan pati jagung sebagai tepung komposit pensubstitusi tepung terigu pada pembuatan raisin cake. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu : 1) Menetapkan deskriptif atribut sensori raisin cake dengan variasi proporsi substitusi tepung komposit. 2) Mengkaji pengaruh variasi proporsi substitusi tepung komposit terhadap tiap atribut yang ada pada raisin cake dengan variasi proporsi substitusi tepung komposit, 3) Mengkaji tingkat kesukaan panelis dan kandungan kimia terhadap raisin cake dengan substitusi yang dihasilkan dari proporsi terpilih. Penelitian ini mengkaji satu faktor percobaan yaitu variasi proporsi substitusi tepung terigu dengan tepung komposit. Proporsi substitusi tepung terigu dengan tepung komposit yang diamati yaitu : 100% : 0% (K0 = kontrol), 75% : 25% (K1), 50% :50% (K2), 25% : 75% (K3). Variabel yang diamati dalam penelitian ini yaitu sifat deskriptif, sifat hedonik dan kandungan kimia (kadar air, abu, lemak, protein dan karbohidrat). Atribut sensori pada sampel raisin cake dengan substitusi tepung komposit terdiri atas aroma kedelai, aroma butter, aroma telur, kekerasan, warna crumb, rasa kacang merah, rasa manis, rasa butter, rasa kedelai, kehalusan, seret dan sandy. Perlakuan substitusi tepung komposit yang yaitu perlakuan dengan substitusi tepung komposit 50% (K2). Karakteristik produk ini yaitu kadar air 27,16 (%bb), kadar abu 1,33 (%bk), kadar protein 8,54 (%bk), kadar lemak 5,27 (%bk) dan karbohidrat by difference 57,70 (%bb). | Raisin cake is a cake which inside it there is an addition of raisins This research utilized red bean and soy flour, and corn starch as composite flour to substitute wheat flour in the process of making raisin cake. The purpose of this research are: 1) to define the description of raisin cake’s sensory attributes with variations in the proportion of composite flour substitution, 2) to assess profile of intensity from each raisin cake’s sensory attributes with variations in the proportion of composite flour, 3) to assess the level of favorite from panelist and chemical’s contain of raisin cake from the chosen proportion of composite flour substitution. This research assess one factor of experiment which is substitution proportion of wheat flour with composite flour. Proportion of wheat flour with composite flour in process of making raisin cake were100% : 0% (K0); 75% : 25% (K1); 50% : 50% (K2); and 25% : 75% (K3). Analysis was conducted in this research were descriptive analysis, hedonic and chemical test (water content, ash content, protein and carbohydrate).Sensory’s attributes in raisin cake’s sample that has substituted by flour composite was consist of soybean odor, butter odor, tikclish texture, crumb color, redbean odor, sweet taste, butter taste, soybean taste, smoothness texture, seret and mouthfeel sandy. The optimum treatment of composite flour’s substitution was composite 50% (K2). The product’s characteristic are water content 27,16 (%bb), ash content 1,33 (%bk), protein content 8,54(%bk), fat content 5,27 (%bk), and carbohydrate by difference 57,70 (%bb). | |
| 8015 | 10459 | C1C011037 | Determinan Kepatuhan Wajib Pajak Daerah Dalam Membayar Pajak Restoran (Studi pada Kota Cilacap) | Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengetahuan perpajakan, kesadaran wajib pajak, dan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak daerah dalam membayar pajak restoran di Kota Cilacap. Jenis penelitian ini digolongkan pada penelitian kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Kuesioner disampaikan pada 82 manajer/pemilik usaha jasa boga di Kota Cilacap. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pengetahuan perpajakan dan kesadaran wajib pajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak daerah. Sedangkan, sanksi pajak tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak daerah. Implikasi dari penelitian ini bahwa pengetahuan perpajakan yang luas yang dimiliki wajib pajak dan kesadaran yang tinggi akan meningkatkan kepatuhan wajib pajak daerah dalam membayar pajak restoran. Sedangkan, sanksi pajak tidak meningkatkan kepatuhan wajib pajak daerah dalam membayar pajak restoran. | This study aimed to examine the effect of tax knowledge, awareness of the taxpayer, and tax penalties on tax compliance in paying taxes area restaurants in Cilacap city. This type of research is classified in quantitative research. Data collection techniques used were questionnaires. The questionnaire was delivered to 82 managers / owners culinary efforts in Cilacap city. The data analysis technique used is multiple linear regression analysis. The results showed that the tax knowledge and awareness of taxpayers effect on tax compliance area. Meanwhile, tax sanctions have no effect on tax compliance area. The implications of this study that the vast knowledge possessed taxation taxpayer and heightened awareness will increase taxpayer compliance in paying taxes restaurant area. Meanwhile, tax penalties do not increase tax compliance in paying taxes restaurant area. | |
| 8016 | 8717 | F1C010012 | Komunikasi Antarpribadi Guru dengan Murid dalam Proses Belajar Mengajar Keterampilan di Sekolah Luar Biasa B Yayasan Kesejahteraan Usaha Tama Purwokerto | Penelitian ini dilatarbelakangi betapa pentingnya komunikasi antarpribadi antara guru dengan murid berkebutuhan khusus yaitu tunarungu. Judul penelitian ini adalah Komunikasi Antarpribadi Guru dengan Murid dalam Proses Belajar Mengajar Keterampilan di Sekolah Luar Biasa B Yayasan Kesejahteraan Usaha Tama Purwokerto. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses komunikasi antarpribadi guru dengan murid tunarungu, hambatan selama melakukan komunikasi antara guru dengan murid tunarungu dan strategi komunikasi yang dilakukan guru kepada murid tunarungu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik pemilihan informan purposive sampling atau sampel bertujuan. Informan yang dipilih berjumlah empat orang yang terdiri dari guru keterampilan, guru kelas VIII, dan dua murid SMP yang memiliki komunikasi verbal cukup baik dan memiliki pemahaman cukup baik ketika berinteraksi. Hasil dari penelitian ini adalah proses komunikasi antarpribadi yang terjadi antara guru dan murid berlangsung secara sirkuler di mana ketika murid mengalami kesulitan, murid langsung bertanya kepada guru begitupun sebaliknya guru sewaktu-waktu dapat berkomunikasi ketika pelajaran keterampilan untuk memantau proses pengerjaan keterampilan murid. Hambatan yang dialami oleh guru adalah keterbatasan bahasa yang dimiliki oleh murid yang menyebabkan kalimat yang diucapkan tidak mempunyai struktur bahasa yang baik, ketika berkomunikasi harus berulang-ulang dan pelan dan harus melakukan pemantauan lebih untuk murid tertentu. Selain guru, murid juga memiliki hambatan yaitu ketika guru berbicara terlalu cepat, adapatasi terhadap guru, dan tidak adanya guru dalam kelas. Strategi komunikasi yang dilakukan guru kepada murid ketika proses belajar mengajar adalah dengan menggunakan artikulasi yang jelas, intonasi, mimik wajah dan pengulangan kata atau kalimat. | The research was backed by the interpersonal communication between the importance of teachers with special need students are deaf. The titled of this research is Interpersonal communication Teachers with Students in the learning process of teaching Skills in extraordinary school B Yayasan Kesejahteraan Usaha Tama Purwokerto. The purpose of this research is to know the process of interpersonal communication with teachers of deaf students, barriers during communication between deaf students and teachers with a communication strategy that was done to his teacher deaf. The methods used in this research is descriptive qualitative method with sampling purposive selection technique the informant or the sample aims. Selected informants amounted to four people consisting of teacher skills, master class VIII, and two junior high students who have a reasonably good verbal communication and have good understanding when interacting. The results of this research is the process of interpersonal communication that occurs between teacher and studen is circular in which takes place when the students is experiencing difficulty, direct disciple asked his master as well as otherwise the teacher at any time able to communicate when learning the skills to monitor the machining process skills of students. Barriers experienced by teachers is the limitations of the language that belongs to the studentss which caused the spoken sentence structure does not have a good language, when communicating to be repetitive and slow and have to do more monitoring for specific students. In addition to teachers, studentss also have obstacles when the teacher spoke too fast, comic book adaptations of the teacher, and the lack of teachers in the classroom. Communication strategy carried out to his teacher when teaching and learning process is by using an obvious articulation, intonation, facial and face the repetition of a word or sentence. Teaching strategies undertaken by teachers when learning skills is to provide examples, explain the workings of the tool will be used, all students watching then directly applied it. | |
| 8017 | 4172 | G1A009043 | PERBEDAAN JUMLAH SEL INFLAMASI PADA USAPAN MUKOSA HIDUNG MAHASISWA PEROKOK DAN NON PEROKOK | Hidung merupakan penyaring dan pertahanan lini pertama terhadap zat-zat berbahaya yang masuk bersama udara pernapasan.Asap rokok mempunyai potensi toksik yang lebih tinggi dibandingkan dengan polutan lain, pajanan asap rokok menyebabkan kelainan pada mukosa dan infiltrasi sel-sel inflamasi pada mukosa hidung. Peradangan pada perokok ditunjukkan dengan peningkatan jumlah leukosit seperti neutrofil, monosit dan limfosit. Pengambilan spesimen sel inflamasi diambil dengan usapan mukosa hidung menggunakan kapas lidi.Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui perbedaan rerata jumlah sel inflamasi pada usapan mukosa hidung mahasiswa perokok dan non perokok. Metode Penelitian yang dipakai adalah analitik observasioanal Cross Sectional. Status merokok ditentukan berdasarkan kuesioner dan daftar pertanyaan, dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu perokok dan non perokok.Jumlah sampel 72 orang, 36 orang perokok dan 36 orang non perokok. Pengambilan spesimen dengan usapan mukosa hidung menggunakan lidi kapas, kemudian spesimen dilakukan pewarnaan papanicolaudan dibaca dibawah mikroskop dengan pembesaran 400x pada 10 lapang pandang. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna jumlah sel monosit, limfosit, basofil, dan neutrofil pada usapan mukosa hidung mahasiswa perokok dan non perokok (p>0,05). Jumlah sel monosit dan limfosit pada perokok menunjukan nilai yang lebih tinggi dibandingkan non perokok. | Nose is a filter and first defense againsts harmful substances whichenter with air breathing. Cigarette smoke has a higher toxic potential compared byother pollutants, the exposure of cigarette smoke causes abnormalities in the mucosa and infiltration of inflammatory cells into nasal mucosa. Inflammation in smokers is indicated by increased number of leukocytes such as neutrophils, monocytes and lymphocytes. Inflammatory cell specimens can be taken from nasal mucosa using a cotton swab stick. To determine the mean difference of inflammatory cells in smeared nasal mucosa between smokers and non-smokers students. The research methods is used Cross Sectional. Smoking status was determined by questionnaire and a list of questions, grouped into 2 groups, namely smokers and non-smokers students. Number of sample was 72 students, 36 smokers and 36 non-smokers.Specimens with were gotten from swabbing the nasal mucosa with cotton sticks, staining the specimen carried pappanicolau, thenobserving under a microscope with 400x magnification on 10 fields of view.There was no significant difference in the number of monocytes, lymphocytes, basophils, and neutrophils in smeared nasal mucosa between smokers and non-smokers student (p>0.05).Jumlah sel monosit dan limfosit pada perokok menunjukan nilai yang lebih tinggi dibandingkan non perokok. The number of monocytes and lymphocytes in smokers showed higher values than non-smokers. | |
| 8018 | 11010 | G1G010049 | Pengaruh Pemberian Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis dan Asam Askorbat 10% Terhadap Perlakatan Resin Komposit Pada Gigi Pasca Perawatan In-Office Bleaching | Hidrogen peroksida pada perawatan in-office bleaching meninggalkan residu yang dapat menghambat polimerisasi pada sistem resin bonding. Asam askorbat 10% sebagai antioksidan dapat mengeliminasi residu peroksida sebelum proses penumpatan. Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana) memiliki aktivitas antioksidan yang berpotensi untuk menggantikan peran asam askorbat. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efek gel ekstrak kulit buah manggis dalam memperbaiki perlekatan komposit pada gigi pasca in-office bleaching. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Sebanyak 25 gigi premolar pertama rahang atas dilakukan in-office bleaching. Selanjutnya dibagi menjadi 5 kelompok terdiri dari kontrol negatif (tanpa agen antioksidan), kontrol positif (asam askorbat 10%), dan kelompok perlakuan gel ekstrak kulit buah manggis 10%, 20%, dan 40%. Perlekatan komposit ditentukan dengan uji geser, dilanjutkan pengamatan mikrostruktur permukaan email. Analisis data menggunakan One Way Anova. Hasil penelitian menunjukkan nilai perlekatan komposit pada kelompok kontrol negatif dan kontrol positif berturut-turut sebesar 25,82±2,88 Mpa dan 37,68±1,06 Mpa. Pada kelompok perlakuan gel ekstrak kulit manggis 10%, 20%, dan 40% diperoleh nilai perlekatan berturut-turut sebesar 26,54±2,68; 32,64±2,33; dan 57,34±1,51 Mpa. Nilai perlekatan komposit pada pemberian gel ekstrak kulit manggis 20% dan 40% berbeda signifikan dibandingkan kelompok kontrol negatif dan kontrol positif dengan nilai p=0,00 (p<0,05) Kesimpulan penelitian ini adalah gel ekstrak kulit manggis 20% dan 40% dapat memperbaiki perlekatan komposit sehingga berpotensi sebagai agen antioksidan pada gigi pasca in-office bleaching. | The residual peroxide left on the email after in-office bleaching treatment inhibits polymerization of the resin bonding systems. Ascorbic acid (10%) as anti-oxidant agent, can be used to remove the residual peroxide before restorative procedure. Mangosteen extract has an anti-oxidant potential, that also can be used to remove the residual peroxide. The aim of the study was to determine the effect of mangosteen extract gel on the bond strength of composite resin to bleached enamel. The experimental laboratory design was implemented to this study. The study carried out on total 25 extracted human maxillary first premolars that have been in office bleached. The teeth were divided into five groups as follows: negative-control group (without anti-oxidant agent), positive-control group (ascorbic acid 10%), and group that applied with 10%, 20%, and 40% mangosteen extract gel. Shear bond strength of the specimens was tested and followed by microstructure testing on email. One Way Anova analyses is used in this study. The mean shear bond strength was 25,82±2,88 MPa and 37,68±1,06 (±1.97) MPa for negative-control and positive-control group, respectively, followed by 10% mangosteen extract gel (26,54±2,68 MPa), 20% mangosteen extract gel (32,64±2,33 MPa), and 40% mangosteen extract gel (57,34±1,51 MPa). Significantly higher shear bond strength scores were observed in the 20% and 40% mangosteen extract gel, compared with the negative-control and positive-control group with number of sig is p=0,00 (p<0,05). As conclusion, 20% and 40% mangosteen extract gel, as an antioxidant agent post in-office bleaching, can improve the shear bond strength of composite resin | |
| 8019 | 11354 | D1E011047 | KONSUMSI DAN KONVERSI PAKAN PADA BERBAGAI AYAM SENTUL PERIODE PRODUKSI | Tujuan penelitian ini adalah mengetahui konsumsi dan konversi pakan pada berbagai ayam sentul periode produksi. Materi yang digunakan terdiri atas 125 ekor ayam sentul yang terdiri atas lima jenis ayam Sentul di antaranya ayam Sentul Abu, Sentul Batu, Sentul Debu, Sentul Emas, dan Sentul Geni. Metode penelitian adalah eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan yaitu S_1=Sentul Abu, S_2=Sentul Batu, S_3=Sentul Debu, S_4=Sentul Emas, dan S_5=Sentul Geni. Data dianalisis menggunakan analisis variansi. Hasil analisis variansi berbagai ayam Sentul menunjukan bahwa ayam sentul berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi dan konversi pakan. Rataan konsumsi pakan selama lima minggu sebesar 3481,80 g/ekor. Rataan konversi pakan berdasarkan bobot telur selama lima minggu sebesar 6,19. Rataan konversi pakan berdasarkan pertambahan bobot badan selama dua bulan sebesar 12,71. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa konsumsi pakan, konversi pakan berdasarkan bobot telur dan pertambahan bobot badan berbagai ayam sentul periode produksi memperoleh hasil yang relatif sama. | The purpose of this study was to determine consumption and feed conversion in variety of sentul chicken production period. The materials used were 125 sentul chickens consists of five types of sentul chicken, i. e. Sentul Abu, Sentul Batu, Sentul Debu, Sentul Emas, and Sentul Geni. The research method was experimental using completely randomized design with treatments S_1 = Sentul Abu, S_2 = Sentul Batu, S_3 = Sentul Debu, S_4 = Sentul Emas, and S_5 = Sentul Geni. Data were analyzed using analysis of variance. Results of variance analysis showed that a variety of sentul chicken was not significant (P> 0.05) on consumption and feed conversion. The average feed consumption for five weeks was 3481.80 g/head. The average feed conversion based on the weight of the eggs for five weeks was 6,19. The average feed conversion is based on body weight gain for the two months was 12.71. it can be concluded that there was no difference in consumption and feed conversion of various sentul chicken production period. | |
| 8020 | 8718 | E1A010089 | PEMBUKTIAN TERHADAP TERDAKWA (SIPIR) DALAM TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN TERHADAP NARAPIDANA (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor :99/ Pid.B/2010/ PN.Bms.) | Berkaitan dengan adanya tindak pidana penganiayaan yang dilakukan oleh terdakwa (SIPIR) terhadap narapidana dan dengan fakta-fakta yang ditemukan yang terdapat di Pengadilan dan diancam dengan ancaman pidana Pasal 351 ayat (3) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP serta melanggar Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan. Tujuan penelitian Untuk mengetahui alat bukti apa yang menjadikan sipir menjadi terbukti bersalah pada tindak pidana penganiayaan dalam Putusan Nomor : 99/ Pid.B/2010/ PN. Bms. Dan untuk mengetahui pembuktian terdakwa (sipir) dalam tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan matinya orang (narapidana) tinjauan yuridis Putusan Nomor : 99 / Pid.B / 2010 / PN. Bms. Metode penelitian yang akan digunakan adalah penelitian yuridis normatif dan dalam penelitilian ini menggunakan Pendekatan Undang-Undang (statute approach). Penganiayaan yang dilakukan oleh Sipir terhadap Narapidana yang berakhir di persidangan dan atas fakta-fakta di persidangan Hakim memutus para Terdakwa terbukti bersalah dan menjatuhkan pidana penjara pada masing-masing terdakwa sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku. Di dalam perkara ini terdapat 8 (Delapan) orang saksi dan adanya keterangan ahli dengan adanya visum et repertum dan keterangan terdakwa oleh karena itu ketiga alat bukti tersebut telah sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku yang diatur pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana. Saran dalam penelitian ini bahwa proses pembuktian merupakan rangkaian proses yang sangat penting dan menentukan dalam proses persidangan yang menjadi dasar pertimbangan hukum hakim memutus suatu perkara, sehingga fakta-fakta dan/atau bukti-bukti yuridis yang dihadirkan para pihak harus sesuai dengan ketentuan mengenai alat-alat bukti sebagaimana dimaksud pada Pasal 184 ayat (1) KUHAP, sehingga diharapkan putusan yang dijatuhkan Majelis Hakim memenuhi nilai-nilai yuridis sosiologis dan filosofis. | In connection with the criminal act of abuse committed by the defendant (the warden) of prisoners and the facts found that be found in court and liable to a penalty of Article 351 paragraph (3) of the Criminal Code in conjunction with Article 55 paragraph (1) to 1 of the Criminal Code and violating Law Number 12 Year 1995 regarding Correctional. The purpose of the research to know what makes the evidence became warden convicted on maltreatment in Decision No. 99 / Pid.B/2010 / PN. Bms. And to know the evidence the defendant (guards) in the maltreatment that resulted in the death of people (prisoners) judicial review of Decision Number: 99 / Pid.B / 2010 / PN. Bms. The research method used is normative and juridical research in this research using Act Approach (statute approach). Persecution by the Warden of Prisoners which ended in the trial and the facts in the trial judge decide the defendant guilty and impose imprisonment on each of the defendants in accordance with applicable law. In the case there are 8 (eight) witnesses and the testimony of experts with information visum et repertum and therefore the third defendant that evidence compliance with the applicable legislation set out in Law No. 8 of 1981 on the Law Criminal Procedure. Suggestion in this study that the verification process is a series of very important process and determine the proceedings on which the legal reasoning of judges decide a case, so that the facts and / or evidence presented by the parties juridical shall be in accordance with the provisions of the tool-evidence referred to in Article 184 paragraph (1) Criminal Procedure Code, so expect the judges handed down a decision that meets the juridical values sociological and philosophical. |