Artikelilmiahs
Menampilkan 6.901-6.920 dari 50.151 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 6901 | 8113 | F1B009010 | PENGEMBANGAN ELECTRONIC GOVERMENT PADA PEMERINTAH KABUPATEN BANYUMAS | Pelayanan publik membutuhkan sebuah transformasi dari pelayanan publik manual ke pelayanan publik berbasis digital (e-Government) untuk mewujudkan efektivitas dan efisiensi dalam pelayanan publik . Kabupaten Banyumas telah menyikapi pentingnya kebutuhan pelayanan publik berbasis e-Government melalui Perda No 4 Tahun 2012 Rencana Induk Pengembangan Electronic Government, sebagai dasar hukum pelaksanaan pengembangan e-Government di segenap lingkup Pemerintahan Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, memberikan gambaran dan menjelaskan proses pengembangan layanan e-Government yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui website resmi Pemkab Banyumas www.banyumaskab.go.id. Metode penelitian kualitatif deskriptif dilakukan untuk melihat sejauh mana proses pengembangan e-Government di Kabupaten Banyumas berlangsung. Informan dalam penelitian ini didapat melalui purposive sampling, yaitu Kepala Seksi Telematika Dinhubkominfo, Staff Seksi Telematika Dinhubkominfo, Kabag Humas Setda Banyumas, dan pengguna layanan e-Government di Kabupaten Banyumas. Hasil penelitian mengungkapkan proses pengembangan e-Government memerlukan keterkaitan antara tiga aspek yang mempengaruhi keberhasilan e-Government yaitu, support, capacity, dan value. Aspek support sudah didukung oleh komitmen Pemkab Banyumas untuk mengembangkan e-Government melalui Perda No 4 Tahun 2012 Tentang Kebijakan dan Strategi Pengembangan Electronic Government di Kabupaten Banyumas. Aspek capacity belum sepenuhnya terpenuhi, terutama pada kapasitas SDM pengelola e-Government dan kapasitas struktur organisasi pada instansi pengelola e-Government. Aspek value dalam kemanfaatan website sudah dimanfaatkan sebagai sarana penghubung antar instansi di Kabupaten Banyumas melalui media e-Office dan sebagai media informasi yang dimanfaatkan oleh masyarakat pengguna website tersebut. | Public service requires a transformation of the public service manual to digital -based public services ( e -Government ) to achieve effectiveness and efficiency in the public service . Banyumas has been addressing the importance of needs -based public services through e -Government Regulation No. 4 of 2012 Master Plan for Development of Electronic Government , as the legal basis for the implementation of e-Government development in the entire scope of the Government of Banyumas. This study aims to determine , provide an overview and explains the process of the development of e-Government services are carried out by the Government through the official website Banyumas regency of Banyumas www.banyumaskab.go.id . Descriptive qualitative research methods to look at the extent to which the process of the development of e -Government in Banyumas underway . Informants in this study obtained through purposive sampling , this informan are Head Section Of Dinhubkominfo Telematics Section ,Dinhubkominfo Telematics Section Staff, Head of Public Relations Setda Banyumas , and users of e -Government services in Banyumas . The results of the study revealed the development of e -Government requires a link between the three aspects that affect the success of e -government , namely , support , capacity , and value . Aspects of support has been supported by the Banyumas regency commitment to develop an e -Government by Regulation No. 4 of 2012 on Policy and Strategy Development of Electronic Government in Banyumas . Aspects of capacity not being fully met , especially in the management of human resources capacity and the capacity of e -Government organizational structure in the management of e -Government agencies . Aspects value in usefulness website has been used as a means of liaison between agencies in Banyumas through the medium of e - Office and as a medium of information utilized by the community of users of the website. | |
| 6902 | 8114 | D1E010005 | SUPLEMENTASI EKSTRAK KULIT BAWANG PUTIH (Allium sativum) DALAM PAKAN SAPI POTONG PENGARUHNYA TERHADAP TOTAL BAKTERI DAN AMONIA SECARA IN VITRO | Penelitian berjudul Suplementasi Ekstrak Kulit Bawang Putih (Allium sativum) dalam Pakan Sapi Potong Pengaruhnya Terhadap Total Bakteri dan Amonia Secara In Vitro yang dilaksanakan pada Desember 2013 sampai Januari 2014. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cairan rumen sapi potong dan pakan kontrol (jerami padi amoniasi : konsentrat : 40% : 60%). Metode penelitian adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan yaitu R0 : Pakan kontrol, R1 : R0 + mineral organik (1.5 ppm Chromium + 40 ppm Zink-lysinat) + 0 ppm ekstrak kulit bawang putih, R2 : R0 + mineral organik + 15 ppm ekstrak kulit bawang putih, R3 : R0 + mineral organik + 30 ppm ekstrak kulit bawang putih, R4 : R0 + mineral organik + 45 ppm ekstrak kulit bawang putih, R5 : R¬0 + mineral organik + 60 ppm ekstrak kulit bawang putih. Peubah yang diamati adalah total bakteri dan amonia serta data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan uji Orthogonal Polynomial dan Beda Nyata Jujur. | A research entitled “Supplementation Effect of Extract Garlic Husk (Allium sativum) in Diet of Beef Catlle and its Effect on Total Bacteri and Ammonia Concentration by In Vitro”. Conducted from 2nd of December 2013 to 16th of January 2014. The materials of the research were rumen fluid of beef cattle obtained from Mersi Slaughterhouse, Purwokerto. The beef cattle ration composed of 40% amoniated rice straw, 60% concentrate (PK: 13,41%, SK: 23,82%, TDN: 65.32%). The research method was experimental by using Completely Randomized Design (CRD) with 6 treatments and 4 replications. The treatments were R0: Control feed, R1: R0 + 1.5 ppm Chromium + 40 Zn lysinat, R2: R0 + 1.5 ppm Chromium + 40 + Zn lysinat + Husk (of Allium sativum) extract 15 ppm, R3: R0 + 1.5 ppm Chromium + 40 + Zn lysinat + Husk (of Allium sativum) extract 30 ppm, R5: R0 + 1.5 ppm Chromium + 40 + Zn lysinat + Husk (of Allium sativum) extract 45 ppm, R6: R0 + 1.5 ppm Chromium + 40 Zn lysinat + Husk (of Allium sativum) extract 60 ppm. The variable observed is total bacteri and ammonia and data were analyzed using analysis of variance followed by Orthogonal Polinomyal Test and Honestly Significant Difference Test. | |
| 6903 | 7474 | A1L010059 | PENGARUH MACAM MEDIA DAN KITOSAN TERHADAP INTENSITAS PENYAKIT LAYU FUSARIUM DAN ANTRAKNOSA SERTA PERTUMBUHAN ANGGREK BULAN | Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh macam media dan kitosan terhadap intensitas penyakit layu fusarium dan antraknosa pada Anggrek Bulan, (2) mengetahui pengaruh macam media dan kitosan terhadap pertumbuhan Anggrek Bulan. Penelitian dilaksanakan di Desa Ketenger Baturraden, Banyumas dan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto pada bulan September sampai November 2013. Penelitian ini merupakan penelitian faktorial dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 15 perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah macam media yang terdiri atas: pakis (M1), spaghnum moss (M2), akar kadaka (M3), pakis dicampur spaghnum moss 1:1 (M4), dan pakis dicampur akar kadaka 1:1 (M5). Faktor kedua terdiri atas: penyemprotan air (K0), penyemprotan kitosan (K1) dan penyemprotan fungisida (K2). Variabel yang diamati adalah intensitas penyakit, jumlah daun, panjang dan lebar daun, jumlah akar, panjang akar, dan diameter akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan Anggrek Bulan pada media pakis, spaghnum moss, akar kadaka maupun yang dicampur sama. Aplikasi kitosan 3 ppm setiap minggu meningkatkan panjang akar dan jumlah daun Anggrek Bulan. Intensitas penyakit antraknosa pada tanaman yang tumbuh dalam media spaghnum moss adalah yang tertinggi, yaitu mencapai 3,75 %. Penggunaan kitosan 3 ppm setiap minggu mampu menekan intensitas penyakit layu fusarium dan antraknosa, masing-masing sebesar 40,4 % dan 72,1 %. | This research aimed: (1) to determine the effect of media and chitosan on the intensity of the fusarium wilt and antrachnose disease on moth orchid, 2) to determine the effect of media and chitosan on the growth of the moth orchid. The experiment was conducted in Ketenger Baturraden, Banyumas and the Laboratory of Plant Protection Faculty of Agriculture, the University of Jenderal Soedirman, Purwokerto from September to November 2013. This research was a factorial experiment using a Randomized Block Design (RBD) which consisted of 15 treatments and 3 replications. The first factor is kinds of media, i.e.: fern (M1), sphagnum moss (M2), kadaka root (M3), fern mixed with spaghnum moss 1:1 (M4), and fern mixed with kadaka root 1:1 (M5). The second factor consisted of: spraying water (K0), spraying chitosan (K1) and spraying fungicide (K2). Observed variables were intensity of disease, number of leaves, length and width of leaf, number of roots, root length, and root diameter. Results showed that the growth of the moth orchid on fern, spaghnum moss, kadaka root, nor media that being mixed are same. Application of chitosan 3 ppm once a week increased the length of the root and the number of the moth orchid’s leaf. Antrachnose disease intensity of plant grows on spaghnum moss media is the highest, is reached 3,75 %. Application of chitosan 3 ppm once a week reduced instensity of fusarium wilt and antrachnose disease, up to 40,4 % and 72,1 % respectively. | |
| 6904 | 10201 | F1B006066 | PERSEPSI PELANGGAN TENTANG PERUBAHAN LAYANAN TIKET KERETA API DI PT KAI DAOP V PURWOKERTO | Pengguna jasa layanan kereta api tentunya mengharapkan pelayanan yang mudah, cepat, transparan, ekonomis dan sesuai kebutuhan penumpang. Tapi hal itu terbentur dengan kemampuan penyedia layanan dengan segala sumber daya yang ada. Keberhasilan pelayanan dapat dilihat dari persepsi pelanggan terhadap pelayanan yang diterima. Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan judul: “Persepsi Pelanggan Tentang Perubahan Layanan Tiket Kereta Api di PT KAI Daop V Purwokerto” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi dari pelanggan terhadap perubahan layanan tiket PT KAI Daop V Purwokerto dari sebelumnya manual menjadi pelayanan berbasis digital dilihat dari aspek-aspek pelayanan publik. Selain itu juga untuk mengetahui aspek-aspek apa saja yang mengalami perubahan ke arah yang lebih baik atau menjadi buruk ditilik dari persepsi penumpang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menggunakan survei. Pengambilan sampel dilakukan secara Random Sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Penelitian ini menunjukan bahwa perubahan layanan tiket dari sistem manual ke sistem digital dipersepsikan dengan baik oleh para pengguna jasa kereta api. Sebagian besar responden berpendapat bahwa pemanfaatan teknologi dalam pelayanan menjadi lebih baik dari sebelumnya, aksesbilitas pelayanan juga dianggap mengalami peningkatan. Keberhasilan pelayanan PT KAI juga ditunjang oleh keterampilan petugas dalam pelayanan yang dipersepsikan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Persyaratan pelayanan tiket kereta api menjadi sub aspek yang paling banyak dikeluhkan oleh pengguna jasa kereta api. Saran ditujukan kepada perumus kebijakan dalam hal ini PT KAI, di harapakan dapat menyelenggarakan pelayanan tiket yang baik dan memudahkan bagi pengguna terutama dalam aspek prosedur layanan tiket kereta api. Pengunaan teknologi informasi juga mesti terus dilakukan pembenahan dalam rangka menyukseskan progam e-Goverment pemerintah. | Train service user definitely hopes easy, quick, transparens, economical service and appropriate to passanger's need. But it is hindered with the capability of service provider with existing resources. The service succes can be seen from customer perception to accepted service. There are , research is done with title, " The Perception of Customer About Train Ticket Service Change at PT KAI Operation Area V purwokerto ". This research is supposed to find out how about perception from customer toward the change of ticket service at PT KAI Operation Area V Purwokerto. From manually to digital basic service, observed from public service's aspects. Beside that, this research is also supposed to know how many aspects that change to better level of worse, seen from passenger's perception. Research method which is used is quantitative method be using survey. Sample taking is done trough random sampling. Data collecting technic which is used in this research is questioner This research show that ticket service change from manual to digital system is well accepted by train service users. Majority, respondents state that technology using in service is getting better than before, service accesbility is also uncreasing. The service succes of PT KAI is also supported by competent employess in service, through it's better than before. The requirement of train ticket service becomes sub aspect that's mostly complained by users. The suggestion is airned to policy formulator, in this case is PT KAI it is hoped. PT KAI can commit good ticket service and ease for users especially about train ticket service procedure aspect. The using of information technology must also be tidied up on the way to the succes of e-goverment program. | |
| 6905 | 10938 | G1D011073 | Pengaruh Pemberian Ekstrak Biji Kurma Terhadap Kadar HDL Tikus Putih | Latar Belakang : Kebiasaan mengonsumsi diet aterogenik dapat meingkatkan risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK). Studi epidemiologi membuktikan terdapat hubungan erat antara kadar HDL terhadap risiko PJK. Berbagai pengobatan farmakologis telah tersedia untuk menangani penyakit kardiovaskular. Inti dari terapi yaitu dengan menstabilkan kadar profil lipid. Terapi farmakologis untuk meningkatkan kadar HDL cenderung memberikan efek samping. Oleh sebab itu dibutuhkan terapi non-farmakologis dengan sedikit efek samping. Salah satunya yaitu pemanfaatan biji kurma. Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak biji kurma (Phoenix dactilifera L.) terhadap kadar HDL pada tikus model diet tinggi lemak. Metode : Penelitian ini merupakan eksperimen murni dengan pendekatan pre-test and post test menggunakan kelompok kontrol. Sebanyak 30 ekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Wistar dibagi menjadi 6 kelompok. Kelompok kontrol adalah A, B, dan F. Perlakuan ekstrak biji kurma diberikan pada kelompok C, D, dan E, masing-masing adalah 250 mg/kg/BB, 500 mg/kg/BB, dan 1000 mg/kg/BB. Kelompok F sebagai kontrol pembanding diberikan Simvastatin 0,18 mg/200g/BB. Hasil ukur kadar HDL diuji menggunakan One-Way ANOVA dilanjutkan dengan Post-Hoc Duncan. Hasil : Kadar HDL post test kelompok D, E dan F memiliki perbedaan bermakna terhadap kelompok A dan B (p <0,05). Hasil Post-Hoc Duncan didapatkan kadar HDL kelompok D lebih tinggi dibandingkan kelompok lain. Analisis data selisih menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok D dan F terhadap kelompok A dan B. Kesimpulan: Terdapat pengaruh pemberian ekstrak biji kurma terhadap peningkatan kadar HDL tikus putih model diet tinggi lemak. | Background: Indonesian society in generally were prefer consuming atherogenic food as daily diet. These habits may increase risk of Coronary Heart Disease (CHD). Epidemiological study proves that HDL levels and CHD are correlated. Elevating HDL levels is one of endpoint therapy to overcome CHD risk. Pharmacological therapy which is deal against CHD generally raise side effect. Therefore, non-pharmacologycal therapy is considered to overcome CHD risk with less side effect. Date seed (Phoenix dactilifera L.) is known has protective effect to human health. Objective: The aim of this study was to indentify the effect of administering date seed extract on HDL levels in HFD rats model. Method: This study is true experiment with pre-post test with controlled group design. Total samples are 30 Wistar rats age 2-3 month with range of body weight 200-300 gram. Group were divided into 6 (3 controlled group and 3 treatment group). Date seeds extract given to group C (250mg/kg/BW), group D (500mg/kg/BW), and group E (1000mg/kg/BW). Simvastatin 0,18mg/200gr/BW given to group F. Data were analyzed using One-Way ANOVA, followed by Post-Hoc Duncan. Results: Mean differences of HDL levels in group D shows significant differences against both of controlled group (A and B) (p < 0,05). Group F also has significant difference against both of controlled group. However, significant differences between treatment group is not shown. Conclusion: Administration of date seeds extract gives effect to increasing HDL levels. | |
| 6906 | 11230 | A1C010055 | ANALISIS KELAYAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI PEPAYA CALIFORNIA (Carica papaya L) PADA KWTT “WANITA KARYA” DI DESA KARANGGUDE KULON KECAMATAN KARANGLEWAS KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui kelayakan finansial usahatani pepaya California di KWTT “Wanita Karya” Desa Karanggude Kulon Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas (2) Merencanakan strategi pengembangan usahatani pepaya California di KWTT “Wanita Karya”. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian memperlihatkan usahatani pepaya California di KWTT “Wanita Karya” dari segi finansial dengan nilai R/C rasio 5,5, BEP unit sebesar Rp 9.155,44 kg, dan BEP rupiah sebesar Rp 18.310.896,9. Usahatani pepaya California KWTT “Wanita Karya” dari segi finansial menguntungkan dan layak dikembangkan dengan nilai R/C > 1 dan penerimaan serta volume produksi berada di atas titik impasnya. Matriks IE KWTT “Wanita Karya” berada di kuadran V dengan koordinat (2,377;2,863). Posisi tersebut menunjukkan bahwa kelompok berada dalam kondisi jaga dan pertahankan. Strategi yang dapat diterapkan yaitu penetrasi pasar dan pengembangan produk. | This research aims to (1) Know the financial feasibility California papaya farm in KWTT "Wanita Karya" Karanggude Kulon Village Karanglewas District of Banyumas (2) Plan a California Papaya farm development strategy in KWTT "Wanita Karya”. The method of sampling is done by purposive sampling method. The results showed papaya California farm in KWTT "Wanita Karya" financially with a value of R/C ratio 5,5, BEP unit Rp 9.155,44 kg, and BEP IDR Rp 18.310.896,9. California Papaya farm KWTT "Wanita Karya" financially profitable and feasible to be developed by the R/C > 1 and revenue and production volume is above the break-even point. IE matrix KWTT "Wanita Karya" is in quadrant V with coordinates (2,377;2,863). The position indicates that the group is in a hold and maintain. Strategies that can be applied is the market penetration and product development. | |
| 6907 | 11233 | A1M011005 | PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG KEDELAI PRAGERMINASI DAN PENAMBAHAN SUSU SKIM TERHADAP SIFAT FISIK, KIMIA DAN SENSORI TIWUL INSTAN | Tiwul instan merupakan salah satu makanan tradisional yang berbahan dasar tepung ubi kayu. Pembuatan tiwul instan dengan substitusi tepung kedelai pragerminasi dan penambahan susu skim merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kandungan gizi terutama kandungan protein tiwul instan. menetapkan proporsi tepung ubi kayu, tepung kedelai pragerminasi dan tapioka yang tepat untuk menghasilkan tiwul instan dengan sifat fisik, kimia dan sensori yang baik, menetapkan persentase penambahan susu skim untuk menghasilkan sifat fisik, kimia dan sensori tiwul instan yang baik dan mengkaji kombinasi perlakuan antara proporsi tepung ubi kayu, tepung kedelai pragerminasi dan tapioka serta persentase susu skim agar menghasilkan tiwul instan yang memiliki kualitas terbaik dari aspek fisik, kimia dan sensori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan terbaik adalah P3M2 (proporsi tepung ubi kayu-tepung kedelai pragerminasi-tapioka 65:25:10, penambahan susu skim 4%) yang menghasilkan produk dengan kadar air 3,87%bb, kadar abu 1,37%bb (1,43%bk); kadar protein terlarut 0,037%bb (0,038%bk); kadar protein total 12,96%bb (13,48%bk); kadar lemak 3,38%bb (3,52%bk); kadar karbohidrat by difference 78,29%bb (80,83%bk); koefisien rehidrasi 3,89; warna kuning kecokelatan (skor 2,02); flavor agak enak (skor 2,47); bau khas kedelai agak terasa (skor 2,57); tekstur agak kenyal (skor 2,33) dan agak disukai (skor 2,44). | Instant tiwul is one of traditional foods made from cassava flour. Making the instant tiwul with pregerminated soybean flour substitution and addition of skimmed milk is one way to improve the nutritional value especially protein content. The purpose of this study is 1 ) to determine the optimum proportion of cassava flour-pregerminated soybean flour-tapioca to produce instant tiwul with good physical, chemical and sensory properties; 2 ) to determine the optimum addition of skimmed milk to produce the physical, chemical and sensory properties instant tiwul; 3 ) to study a combination between the proportion of cassava flour-pregerminated soybean flour-tapioca as well as the percentage of skimmed milk for producing the best quality of instan tiwul. The results showed that the best treatment combination was P3M2 (cassava flour- pregerminated soybean flour- tapioca 65:25:10, the addition of 4% skimmed milk) that produced a product with a water content of 3.87%wb; ash content of 1.37%wb (1.43%db); soluble protein content of 0.037%wb (0.038%db); total protein content of 12.96%wb (13.48 db); 3.38%wb fat content (3.52%db); carbohydrate by difference 78.29%wb (80.83%db); rehydration coefficient of 3.89; amber (score 2.02); the flavor was rather good (score 2.47); the typical smell of soy rather was noticeably (score of 2.57); somewhat chewy texture (score 2.33) and slightly favored (score 2.44). | |
| 6908 | 8116 | F1B010055 | Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Implementasi Kebijakan Jalur Sepeda di Purwokerto | Implementasi kebijakan jalur sepeda di Purwokerto sudah berjalan, akan tetapi belum optimal. Belum optimalnya implementasi kebijakan jalur sepeda di Purwokerto terlihat dari banyak masyarakat Purwokerto menggunakan jalur sepeda yang bukan fungsinya dan pesepeda yang belum merasa aman dalam melintasi jalur sepeda. Belum optimalnya implementasi kebijakan jalur sepeda di Purwokerto terbukti dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut, Pertama kondisi lingkungan. Kondisi fisik jalur sepeda yang belum memadai, penggunaan sepeda yang masih jarang dan ketertiban masyarakat dalam berlalulintas masih kurang menyebabkan pelanggaran di jalur sepeda masih sering terjadi. Kedua, faktor hubungan organisasi. Koordinasi yang terjadi melalui forum lalu lintas dan angkutan jalan jarang membahas permasalahan jalur sepeda membuat implementasi kebijakan jalur sepeda tidak berjalan maksimal. Ketiga, faktor sumberdaya organisasi. Sumberdaya manusia untuk pengawasan langsung jalur sepeda, sumberdaya finansial dan sarana prasarana yang terbatas mempengaruhi implementasi kebijakan jalur sepeda tidak berjalan efektif. Keempat, faktor kemampuan pelaksana. Para pelaksana belum memiliki komitmen yang kuat untuk kebijakan jalur sepeda, sehingga masih terjadi pelanggaran di jalur sepeda. | The implementation of bike track in Purwokerto has been running, but still not yet optimal. The bike track policy still not optimal and it can be seen by a lot of society of Purwokerto use the track not by its function and the bikers don not feel completely safe in using the track. After doing the research, not optimal about the implementation of bike track policy in Purwokerto, affected by a several factors, Firstly environmental conditions. The physical condition of bike road which not adequate, bicycle user is still rare and public order in the traffic bad. It cause offense in the bike track is still common. Secondly, the factor about organization relationship. The coordination that happened through the traffic forum and road freight traffic is rarely discussing about bike road problem so that it can affect the implementation of bike track policy is not running optimall. Thirdly, organization resources factor. Human resources for the direct supervision of the bike road, financial and infrastructure resources are limited influence the implementation of bike track policy not effective. Fourthly, the capability of executing. The executor does not yet have a strong commitment to the bike track policy, so that there is still a violation in the bike track. | |
| 6909 | 8117 | F1B010050 | Evaluasi Kinerja Implementasi Perda Kabupaten Banyumas Nomor 19 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum (Studi Pengelolaan Perparkiran Wilayah Purwokerto) | Otonomi daerah memberikan keleluasaan kepada daerah dalam mewujudkan daerah otonom yang luas dan bertanggung jawab, untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan kondisi dan potensi wilayahnya. Salah satu sumber yang potensial di Kabupaten Banyumas adalah retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum. Namun, pada tahun 2011 kontribusi retribusi parkir terhadap retribusi daerah dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) rendah yaitu sebesar 0,97%, sehingga pemerintah Kabupaten Banyumas mengeluarkan kebijakan yang tertuang dalam perda nomor 19 tahun 2011 tentang retribusi jasa umum dengan tujuan untuk meningkatkan PAD. Penelitian di lakukan untuk mendeskripsikan dan mengevaluasi kinerja implementasi perda Kabupaten Banyumas Nomor 19 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan melihat aspek objek dan retribusi pelayanan parkir, prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif, struktur dan besarnya tarif, dan pencapaian tujuan. Fakta di lapangan berdasarkan hasil penelitian di katakan bahwa kinerja implementasi perda tinggi sebesar 57,1%. Hal tersebut dapat di lihat dari empat aspek, yaitu Pertama, aspek obyek retribusi pelayanan parkir dalam kategori tinggi sebesar 49,4% karena sarana dan prasarana parkir yang di sediakan sudah memadai namun belum secara keseluruhan. Petugas parkir dalam menjalankan tugasnya sudah sesuai aturan walaupun masih terdapat petugas parkir yang melanggar aturan, hal tersebut di karenakan kurangnya pengawasan dari pemerintah. Mekanisme pembayaran retribusi parkir dengan sistem pembayaran di bayar di muka; Kedua, prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif dalam kategori tinggi sebesar 59,7%. Karena adanya biaya penyediaan karcis dan penentuan target di sesuaikan dengan banyaknya lokasi dan tingkat keramaian lokasi; Ketiga, struktur dan besarnya tarif dalam kategori sangat tinggi sebesar 66,2% karena tarif parkir yang berlaku sesuai dengan perda; Keempat, pencapaian tujuan kebijakan dalam meningkatkan PAD belum optimal karena rata-rata realisasi pendapatan retribusi parkir dan retribusi daerah tidak mencapai target. | The regional autonomy gives discretion to the district in creating a wide area autonomous and responsible, to organize and manage the interests of the community in accordance with the conditions and potential of the region. One of the potential sources in Banyumas regency is parking service levy on the side of public roads. However, the contribution of the parking levy to the local retribution in increasing the revenue ( PAD ) is low as 0,97%, so Banyumas regency issued a policy which is set in local regulation of Banyumas regency No. 19 of 2011 on the general services levy to increasing the revenue. The research aims to describe and evaluate the performance of the implementation regulations Banyumas No. 19 of 2011 on Public service levies in increasing revenue (PAD) to see the levy object of parking services objects, the principles and objectives in determining the structure and the tariff rate, and tariff structure, and the accomplishment of policy. Facts on the ground based on the results of research it can be said that high-performance implementation of the regulation of 57,1% . It can be seen from four aspects, first aspect is the levy object of parking services is at a high category of 49,4% since the parking facilities and infrastructur is adequate already, but not as a whole. The parking attendants, in carrying out its duties are already obey the rules although there are some of them who are still violating the rules, this rules violation happened because of the lack of government supervision. The payment mechanism of parking levy which is with the prepaid payment system; Second, the principles and objectives in determining the structure and the tariff rate is at a high category of 59,7% because of the cost of providing the ticket provided, targeting is adjusted with the number of locations and levels of location activity; Third, tariff structure and rate is in a very high category of 66,2% because the parking levy tariff is in appropriate with the local regulations; Fourth, the accomplishment of policy objectives in increasing the revenue is not optimal because the average income realization of the parking levy and income realization of the local levy does not reach the target. | |
| 6910 | 11658 | G1F011027 | PEMBUATAN NANOSUSPENSI EKSTRAK PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk) BERBASIS POLIMER ALGINAT SECARA GELASI IONIK | Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk) diketahui dapat meningkatkan derajat spermatogenesis, dalam testis, jumlah maupun motilitas spermatozoa. Penelitian ini bertujuan untuk membuat nanosuspensi ekstrak purwoceng secara gelasi ionik yang diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dari ekstrak purwoceng. Nanosuspensi ekstrak purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk) dibuat menggunakan polimer natrium alginat dan crosslinker kalsium klorida dengan metode gelasi ionik. Dilakukan evaluasi organoleptik, pH, uji sedimentasi yang selanjutnya dikarakterisasi menggunakan particle size analyzer (PSA) dan transmission electron microscope (TEM). Hasil nanosuspensi ekstrak purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk) diperoleh formula yang paling stabil yakni yang terdiri dari 0,001% natrium alginat, 18 mM kalsium klorida, 0,666 % ekstrak purwoceng dengan perbandingan polimer dan crosslinker yakni 1,6 : 0,4 mL (F129). Hasil uji organoleptik menghasilkan nanosuspensi berwarna kuning bening, koloid agak kental, dan bau khas ekstrak akar purwoceng. Evaluasi pH menunjukkan nanosuspensi memiliki pH 4, stabil dalam uji sedimentasi dan tidak menunjukkan adanya aglomerasi. Tetesan nanosuspensi formula F129 setelah diamati dari hasil PSA memiliki ukuran rata-rata 150,8 nm (SD=100,5 nm). Morfologi nanosuspensi berbentuk sferis dengan rentang ukuran antara 150 hingga 630 nm dan nilai zeta potensial sebesar -2,29 mV. Kesimpulannya formula F129 dapat membentuk nanosuspensi ekstrak purwoceng yang optimum dengan perbandingan polimer dan crosslinker yaitu 4:1. | Pimpinella pruatjan Molk (Purwoceng) is known to increase the degree of spermatogenesis in the testes, the number and motility of spermatozoa. This study aimed to make purwoceng nanosuspension with ionic gelation in order to increase the effectiveness of purwoceng roots extract. Pimpinella pruatjan Molk (Purwoceng) nanosuspension was made by using polymer sodium alginate and crosslinker calcium chloride with ionic gelation method. Its stability were evaluated by organoleptic, pH, sedimentation test and characterized by using PSA (particle size analyzer) and TEM (transmission electron microscope). The nanosuspension of purwoceng roots extract result were collected through the most stable formula which contained 0.001% sodium alginate, 18 mM calcium chloride, and 0.666% purwoceng roots extract, or by comparing polymer and crosslinker of 1,6 : 0,4 mL (formula F129). Organoleptic result were clear yellow colloid, slightly viscous, and smell like purwoceng roots extract. Nanosuspension has pH 4, stable on sedimentation stability test and showed no agglomeration. Nanosuspension’s drops of formula F129 were observed by PSA result at average size 150,8 nm (SD=100,5). Nanosuspension morphology was spheris with average size 150 nm until 630 nm and potential zeta value were -2.29 mV. Therefore, it can be concluded that formula F129 can form optimum nanosuspension of purwoceng roots extract. | |
| 6911 | 8118 | C1A010017 | ANALISIS EFEKTIVITAS, KONTRIBUSI DAN PERBANDINGAN PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DI KABUPATEN BANYUMAS | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi perkembangan pajak daerah, retribusi daerah, dan pendapatan asli daerah (PAD); efektivitas pajak daerah dan retribusi daerah; kontribusi pajak daerah dan retribusi daerah terhadap pendapatan asli daerah (PAD); kecenderungan (trend) pajak daerah dan retribusi daerah; dan perbedaan antara penerimaan pendapatan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap pendapatan asli daerah (PAD) di Kabupaten Banyumas Tahun Anggaran 2006-2012. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) perkembangan pajak daerah, retribusi daerah dan pendapatan asli daerah (PAD) di Kabupaten Banyumas Tahun 2006-2012 tergolong positif. (2) Hasil analisis efektivitas pajak daerah dan retribusi daerah Tahun 2006-2012 di Kabupaten Banyumas dikategorikan efektif. (3) Hasil analisis kontribusi pajak daerah di Kabupaten Banyumas tahun 2006-2012 dikategorikan sedang. Untuk kontribusi retribusi daerah pada tahun 2006-2012 dikategorikan baik. (4) Hasil analisis trend untuk pajak daerah memiliki nilai koefisien positif artinya kecenderungan (trend) pajak daerah meningkat, hasil analisis trend untuk retribusi daerah memiliki koefisien negatif artinya kecenderungan (trend) retribusi daerah menurun. (5) Hasil analisis uji dua beda (t-test) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap pendapatan asli daerah (PAD) di Kabupaten Banyumas. Dalam rangka menciptkan kontribusi yang seimbang antara pajak daerah dan retribusi daerah terhadap pendapatan asli daerah (PAD) harus lebih meningkatkan potensi pajak atau retribusi yang ada, melakukan pendataan kembali wajib pajak dan penunggak pajak serta meningkatkan mekasisme prosedur pembayaran pajak atau retribusi. | The aim of this research is to understand the development condition of the regional taxes, regional retribution, regional revenue; the effectiveness of regional taxes and retribution; the contribution of regional taxes and retribution toward regional revenue; trend of regional taxes and retribution; and the differences between regional tax and retribution revenues toward Banyumas District regional budget in 2006-2012. The results of this research show that: (1) the development of regional tax and retribution as well as Banyumas District regional revenue in 2006-2012 was positive. (2) The result of effectiveness analysis of Banyumas District’s regional tax and retribution in 2006-2012 was categorized effective. (3) The result of data analysis on the contribution of Banyumas District regional tax in 2006-2012 was categorized average. While at the same time, the data analysis of regional retribution was categorized good. (4) The result of the trend analysis for regional tax revenues has a positive coefficient. This means that the trend of regional tax revenues is increasing. The result of trend analysis on regional retribution has a negative coefficient. This means that the trend of the regional retribution has been decreasing. (5) The result of t-test on the two variables shows that there are significant differences between regional tax revenues and regional retribution toward Banyumas District’s regional revenues. In order for taxes and retribution regional a contributes to a balanced increase in regional revenues (PAD) more intensify again the potential texes or retribution on existing ones, and do restart logging of taxpayers, increase tax collection procedures and mechanisms/levy area. | |
| 6912 | 10202 | B1J010009 | PROPORSI LARVA Brevipalpus phoenicis PASCA AUGMENTASI INUNDATIF Amblyseius deleoni PADA BERBAGAI TITIK PELEPASAN DI KEBUN TEH PTPN IX SEMUGIH PEMALANG | Kerapatan tungau predator di lapangan yang lebih rendah daripada kerapatan yang sesuai rasio tungau predator dibanding tungau hama berdampak terhadap efektivitas pengendalian hayati. Sehingga perlu dilakukan peningkatan populasi tungau predator dengan cara pelepasan masal (augmentasi) dengan memperhatikan rasio pelepasan Amblyseius deleoni dibanding Brevipalpus phoenicis yaitu 1:3. Tujuan dari penelitian adalah mengetahui pengaruh pelepasan tungau predator A.deleoni terhadap proporsi larva tungau hama B. phoenicis. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tungau predator A. deleoni yang diperoleh dari hasil pemeliharaan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dilakukan 3 ulangan, dengan 3 perlakuan pelepasan A. deleoni yaitu kontrol (P1), rendah (P2), dan tinggi (P3). Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan analisis variansi pada tingkat kesalahan 20%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi larva B. phoenicis tidak dipengaruhi oleh augmentasi A. deleoni. | Lower density of predator mite in the field than the density that fit with pest mite than predator mite ratio have impact towards biological control’s effectiveness. Increase in predator mite’s population is needed through mass release method (augmentation) by noting the releasing ratio of Amblyseius deleoni than Brevipalpus phoenicis which is 1:3. The aim of this research is to know the effect of releasing predator mite A. deleoni on the pest mite B. phoenicis’ larva proportion. The materials used in this research is the predator mite A. deleoni which is acquired from breeding. This research use experimental method with Completely Randomized Design (RAL), 3 repeats, and 3 treatment of releasing A. deleoni which are control (P1), low (P2), and high (P3). The collected data will then be analyzed using variance analysis with error rate of 20%. The results showed that the larva proportion of B. phoenicis is not impact by releasing of A. deleoni. | |
| 6913 | 10203 | B1J010197 | DISTRIBUSI HORIZONTAL BIOMASSA FITOPLANKTON DAN HUBUNGANNYA DENGAN PARAMETER FISIKA-KIMIA DI PERAIRAN WADUK PANGLIMA BESAR JENDERAL SOEDIRMAN, BANJARNEGARA | Biomassa fitoplankton didefinisikan sebagai bobot atau berat dari fitoplankton per unit volume atau luas area. Pengukuran Biomassa fitoplankton dapat dilakukan salah satunya dengan menggunakan metode klorofil-a. Distribusi horizontal fitoplankton merupakan penyebaran fitoplankton secara horizontal, terkait erat dengan parameter fisika kimia. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui distribusi secara horizontal biomassa fitoplankton di Waduk P.B. Soedirman, untuk mengetahui pengelompokan stasiun berdasarkan parameter fisika kimia dan biomassa fitoplankton, serta untuk mengetahui keterkaitan parameter terhadap distribusi biomassa fitoplankton di Waduk P.B Soedirman. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survai, dengan teknik Purposive Sampling pada 7 Stasiun, diulang sebanyak 3 kali dengan interval waktu 4 minggu. Data distribusi horizontal biomassa dianalisis dengan menggunakan bantuan aplikasi Surfer 10, kemudian di deskripsikan setelah diperoleh hasil pemetaan kontur permukaan biomassa fitoplankton. Pengelompokan stasiun berdasarkan parameter fisika kimia dan biomassa fitoplankton dilakukan dengan analisis kelompok kemudian dilanjutkan dengan analisis SIMPER untuk mengetahui kontribusi tiap parameter dalam kelompok. Program yang digunakan untuk analisis yaitu Primer v.6. Selanjutnya untuk mengetahui parameter yang memiliki pengaruh kuat terhadap distribusi biomassa fitoplankton dilakukan analisis komponen utama dengan menggunakan bantuan program XLSTAT 2014. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terjadi pemusatan sebaran horizontal biomassa fitoplankton di Stasiun 2 yang merupakan Daerah inlet dari Sungai Kandangwangi dengan konsentrasi klorofil-a sebesar 6,6017 μg.l-1. Pengelompokan Stasiun yang terbentuk berdasarkan parameter fisika kimia didapatkan dua kelompok, yaitu Kelompok I terdiri dari Stasiun 4, 5, 6, dan 7 yang merupakan daerah outlet, dermaga, dan keramba jaring apung; serta Kelompok II yang terdiri dari Stasiun 1, 2, dan 3 yang merupakan daerah inlet Waduk P.B. Soedirman. Konsentrasi nitrat, diikuti suhu dan orofosfat adalah parameter fisika kimia yang memiliki keterkaitan dengan distribusi biomassa fitoplankton di Waduk P.B. Soedirman. | Phytoplankton biomass is defined as the weight of phytoplankton per unit volume or area of water. Phytoplankton biomassa that can be done by using the method of chlorophyll-a. The horizontal distribution of phytoplankton is the spread horizontally, closely related to the physico-chemical parameters. The purpose of this study was to determine the horizontal distribution of phytoplankton biomass, to clustering stasion in P.B. Soedirman Reservoirs of the physico-chemical parameters in the waters and to analyze the relationship between physico-chemical parameters and the distribution of phytoplankton biomass in P.B. Soedirman Reservoirs. This research used survey method and using purposive random sampling at 7 selected stations to describe the environmental setting. Horizontal distribution of biomass’s data were analyzed using with applications Surfer 10. clustering based on common values stations phytoplankton biomass and water physico-chemical parameters using cluster analysis and similarity percentages using Primer v.6. The relationship between physico-chemical parameters on the distribution of phytoplankton biomass at each station, were analyzed using Principal Component Analysis (PCA) from XLSTAT 2014. Results of this research showed that occur horizontal distribution of phytoplankton biomass concentration in the waters of P.B Soedirman Reservoirs that Station 2 inlet from Kandangwangi’s River with chlorophyll-a concentration of 6.6017 μg.l-1. The clustering of station based on the physico-chemical parameters formed 2 grups. Group I consisted of Station 4, 5, 6, and 7 which is the outlet area, piers, and floating net cages; and group II consisted of Station 1, 2, and 3 which is an area of the inlet in P.B Soedirman Resevoirs. The concentration of nitrate, followed by temperature and ortophospate are physico-chemicals parameters that have relevance to the distribution of phytoplankton biomass in P.B Soedirman Resevoirs. | |
| 6914 | 10204 | B1J009130 | KELIMPAHAN FITOPLANKTON PADA PERAIRAN KERAMBA JARING APUNG DI WADUK PANGLIMA BESAR SOEDIRMAN | Kelimpahan fitoplankton dapat dipengaruhi oleh kualitas fisika dan kimia perairan. Kegiatan budidaya ikan dengan sistem KJA akan menghasilkan limbah orgnik yang berasal dari sisa pakan yang terbuang dan juga feses yang dapat memepengaruhi kualitas fisika, kimia, dan biologi perairan yang akan berdampak terhadap pertumbuhan dan distribusi fitoplankton yang ada disekitar KJA. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui besarnya kelimpahan fitoplankton dan struktur komunitas pada daerah KJA dan di luar KJA di Waduk Panglima Besar Soedirman. Penelitian dilakukan dengan metode survei dan pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling pada 6 stasiun, yaitu tiga stasiun di daerah KJA dan tiga stasiun di luar KJA yaitu daerah inlet, daerah tengah dan outlet waduk. Pengambilan sampel dilakukan dengan ulangan sebanyak 3 kali dengan interval waktu 4 minggu. Parameter utama yang diamati meliputi jumlah jenis dan individu fitoplankton. Perameter pendukung meliputi suhu air, suhu udara, Total Suspended Solid (TSS), Total Disolved Solid (TDS), penetrasi cahaya, O2 terlarut, CO2 bebas, BOD5, pH, orthofosfat, nitrat, dan silika. Kelimpahan fitoplankton dianalisis secara diskriptif. Struktur komunitas dianalisis dengan indeks keanekaragaman (H’) Shannon-Wiener, indeks keseragaman (E) Shannon-Wiener, dan indeks dominansi (D) Simpson pada tiap stasiun. Struktur komunitas antar stasiun dianalisis dengan cluster analisys menggunakan aplikasi Primer v.6 berdasarkan koefisien kesamaan Bray dan Curtis. Hasil analisis menunjukan bahwa kelimpahan fitoplankton di dalam KJA lebih tinggi daripada di luar KJA, berkisar antara 6.098-11.913 ind/l untuk daerah di luar KJA dan 11.649-15.332 ind/l untuk daerah KJA. Struktur komunitas dinyatakan dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener di luar KJA tergolong sedang hingga tinggi (0,77 – 3,63) dan di dalam KJA tergolong sedang (2,5 – 3,09). Keseragaman fitoplankton di luar KJA tergolong tidak merata hingga merata (0,30 - 0,91) dan di dalam KJA cukup merata (0,66 – 0,78). Nilai C di luar KJA berkisar antara 0,03 – 0,71 dan nilai C di dalam KJA berkisar antara 0,12 – 0,23. Hasil perhitungan indeks kesamaan Bray-Curtis di dalam KJA antara 16.71% - 66.75%, berarti tingkat kesamaan tergolong rendah hingga tinggi. | The purpose of this study was to determine the magnitude of phytoplankton abundance and community structure in the region and beyond the cage culture in the Reservoir of Panglima Besar Soedirman. Sample was carried out by repeating 3 times with intervals of 4 weeks. The main parameters that was observed includes the number of observed species and individuals phytoplankton. The appropriated parameters include water temperature, Total Suspended Solid (TSS), Total Disolved Solid (TDS), light penetration, dissolved O2, BOD5, pH, and silica. Phytoplankton abundance was analyzed descriptively. Community structure was analyzed by the diversity index (H') Shannon-Wiener, evenness index (E) Shannon-Wiener, and dominance index (C) Simpson at each stations. Community structure inter stations were analyzed by Bray and Curtis similarity coefficient. The results of the analysis showed that the phytoplankton abundance inside is higher than outside of cage culture, the range is between 11.649-15.332 ind / l for the inside areas of cage culture and 6.098-11.913 ind / l for the outside areas of cage culture. The H’ value inside the cage culture ranged between 2.5 - 3.09, it indicates the phytpplankton diversity is medium and outside the cage culture ranged between 0.77 to 3.63 it indicates the phytpplankton diversity is medium to high. The E value inside cage culture ranged between 0.66 - 0.78 indicates the phytoplankton classified spread evenly, and the E value outside cage culture ranged between 0.30-0.91 indicates the phytoplankton classified spread evenly to unevenly. The C value of inside the cage culture ranged from 0.12 - 0.23, it indicates there are no species dominates and outsite the cage culture between 0.03 - 0.71 indicates there are no species dominate to there are species dominate. The results of the calculation of Bray-Curties similarity index by cluster analisys in Primer V.6 alpication inside the cage culture ranged between 64.40% - 66.75%, it indicates the phytoplankton level of similarity inter stations is high and outside the cage culture ranged between 17.71%-35.54%, it indicates the phytoplankton level of similarity inter stations is low. | |
| 6915 | 10200 | B1J010092 | PROPORSI LARVA Amblyseius deleoni PASCA AUGMENTASI INUNDATIF BERDASARKAN WAKTU PELEPASAN DENGAN PAKAN Brevipalpus phoenicis DI KEBUN TEH PTPN IX SEMUGIH | Populasi tungau predator A. deleoni yang berada di lapangan lebih rendah dari tungau hama B. phoenicis pada waktu pagi, siang dan sore. Sehingga perlu dilakukan augmentasi A. deleoni berdasarkan waktu pelepasan dengan acuan pelepasan tungau predator dibanding tungau hama yaitu 1:3. Dengan demikian tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu pelepasan pasca augmentasi inundatif A. deleoni terhadap proporsi larva A. deleoni. Materi yang digunakan adalah tungau predator A. deleoni, tungau hama B. phoenicis dan tanaman teh. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan dasar Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan P1 (kontrol), P2 (rendah) dan P3 (tinggi) dan 3 kali ulangan berupa waktu pagi, siang dan sore. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan analisis variansi (ANOVA) pada tingkat kesalahan 20%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi larva A. deleoni tidak dipengaruhi oleh waktu pelepasan (pagi, siang dan sore). | Population of predator mite A. deleoni in the field was lower than pest mite B. phoenicis on day, midday, and afternoon periods. Therefore it was necessary to augment A. deleoni based on release timing with release ratio of predator mite to pest mite in 1:3. Because of this, the aim of this study was to find out the effect of release timing after inundative augmentation of A. deleoni towards proportion of A. deleoni larva. Materials used were predator mite A. deleoni, pest mite B. phoenicis and tea plant. This study used experimental method with basic design of Completely Randomized Design (RAL) with three treatments consisted of P1 (control), P2 (low) and P3 (high) and 3 repetition in day, midday, and afternoon period. Data acquired was then analyzed using variance analysis (ANOVA) with 20% error rate. The results of this study showed that proportion of A. deleoni larva was not affected by release timing (day, midday, and afternoon). | |
| 6916 | 8119 | F1B010024 | STRATEGI DINPERINDAGKOP KABUPATEN BANYUMAS DALAM MEWUJUDKAN PASAR TRADISIONAL YANG BERDAYA SAING (STUDI KASUS PERSAINGAN PASAR TRADISIONAL DI PURWOKERTO) | Pasar merupakan salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah, khususnya di Purwokerto. Kondisi pasar tradisional yang semakin memprihatinkan membuat daya saing pasar tradisional semakin menurun, apalagi maraknya pasar modern disekitar pasar tradisional semakin membuat pasar tradisional mengalami keterpurukan. Oleh karena itu, pasar tradisional perlu lebih diberdayakan, yaitu upaya pemerintah daerah dalam melindungi pasar tradisional, agar mampu berkembang dan memiliki daya saing dari aspek manajemen maupun fisik. Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Banyumas sebagai pengelola pasar tradisional memiliki strategi, yaitu strategi pengembangan pasar yang diterapkan untuk mewujudkan pasar tradisional yang berdaya saing. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Fokus yang dikaji yaitu penerapan strategi dengan mengacu pada aspek kesesuaian dengan tujuan bidang pasar, dukungan kebijakan, alokasi sumber daya dan kesesuaian struktur dalam mendukung penerapan strategi. Teknik pengambilan informan menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi yang dilakukan pihak Dinperindagkop Kabupaten Banyumas dalam mewujudkan pasar tradisional yang berdaya saing kurang maksimal. Strategi yang diterapkan sampai saat ini yaitu merevitalisasi pasar tradisional dan belum ada sanksi yang tegas atas pelanggaran perizinan pasar modern yang didirikan. Kendala yang menghambat dalam penerapan strategi yaitu sumber daya keuangan yang belum mencukupi dan mindset para pedagang pasar tradisional yang sulit untuk dirubah. | Market is one of the motor of economic growth in a region, particularly in Purwokerto. Traditional market conditions increasingly alarming makes traditional market competitiveness has declined, especially the rise of the modern market that stand around traditional markets are increasingly making traditional market crash. Therefore, traditional markets need to be more empowered. Empowered here means the local government’s efforts to protect traditional markets, cooperatives to be exist and capable in developing it into have competitiveness quality of management and physical. There must be a strategy to develop the traditional markets in order to compete with modern market. In this case is the strategy to realize the competitiveness traditional market conducted by the Department of Industry and Trade and Cooperative Banyumas as a traditional markets managers. One strategy of Dinperindagkop Banyumas is market development strategy is applied to realize the traditional competitive market. The method used is descriptive qualitative method. The focus which is researched is the implementation strategy which refered to the compliance aspects with the annual purpose, policy support, resources allocation and theconformityof structural with strategy. Informant retrieval technique using purposive sampling. The results showed that the implementation of the strategy undertaken by Dinperindagkop Banyumas in realizing the traditional competitive market is less than the maximum. The strategy which is implemented now are revitalize the traditional markets and there is no strict sanctions for licensing violations of modern market established. The obstacles which become the Barriers to the implementation of this strategies is that the financial resources are not sufficient and the mindset of traditional market traders who are difficult to be changed. | |
| 6917 | 8121 | C1L010009 | Financial Performance Analysis of Indonesia’s Program for Pollution Control, Evaluation and Rating (PROPER) Participants: Empirical Study on Basic Industry, Chemical, and Mining Sector Companies Listed in Indonesia Stock Exchange | Penelitian ini merupakan studi empiris pada perusahaan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) dan peserta Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kinerja keuangan peserta PROPER dan bukan peserta PROPER, mengetahui pengaruh menjadi peserta PROPER pada kinerja keuangan, dan untuk mengetahui pengaruh peringkat PROPER pada kinerja keuangan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan pada sektor industri pertambangan serta industri dasar & kimia yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia periode 2009-2012 dan peserta PROPER periode 2009-2012. Purposive Sampling Method digunakan dalam penentuan sampel. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dengan menggunakan independent sample t-test dan regresi sederhana menunjukkan bahwa: (1) Tidak ada perbedaan signifikan antara kinerja keuangan peserta PROPER dan bukan peserta PROPER, (2) Dengan hanya menjadi peserta PROPER tidak mempengaruhi kinerja keuangan, (3) Peringkat PROPER mempengaruhi kinerja keuangan secara positif signifikan. Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu perusahaan dapat meregristasikan diri sebagai peserta PROPER tanpa takut hal itu akan mempengaruhi kinerja keuangan mereka. Karena kinerja keuangan tidak dipengaruhi oleh pengungkapan publik dan evaluasi terhadap kinerja lingkungan, maka perusahaan tidak perlu takut untuk mendaftarkan diri sebagai peserta PROPER untuk mengungkapkan dan dievaluasi kinerja lingkungannya. Namun, karena peringkat PROPER mempengaruhi kinerja keuangan secara positif signifikan, yang berarti bahwa semakin baik kinerja lingkungannya, semakin baik kinerja keuangannya, maka hal ini akan bermanfaat bagi perusahaan yang ramah lingkungan, karena bukan hanya menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi pemanasan global, namun juga dapat menimbulkan efisiensi energy yang dapat membuat kinerja keuangan menjadi lebih baik. | This research is an empirical study on basic industry, chemical, and mining sector companies listed in Indonesia Stock Exchange (IDX) and Indonesia’s Program for Pollution Control, Evaluation, and Rating (PROPER) participants. The aim of this research is to determine the difference of financial performance of PROPER participants and non-PROPER participants, to determine the influence of being PROPER participants on financial performance, and to determine the effect of rating in PROPER on financial performance. The research population is all companies in sector mining industry, basic industry & chemical listed in Indonesia Stock Exchange (IDX) period 2009-2012 and PROPER participant period 2009-2012. There were 35 companies as sample of this research, chosen using purposive sampling method. Based on result of research and data analysis using independent sample t-test and simple regression can be concluded that: (1) There is no significant difference between financial performance of PROPER participant and non-PROPER participant, (2) Merely being PROPER participant do not affect financial performance, (3) Rating of PROPER affect financial performance in positive relation, means that the higher the rating the higher the financial performance. As implication of the conclusion above, company can register themselves as PROPER participant without worrying it would affect their financial performance. Since the company’s financial performance is not affected by the voluntary disclosure and evaluation of environmental performance. The company do not need to be afraid of having themselves registered as PROPER participant to disclose their environmental performance and been evaluated. But, since the rating of PROPER affects the financial performance in a positive relation. The higher environmental performance, the higher financial performance, means that it is beneficial to be environmentally friendly company, not only can maintain the nature sustainability and help reducing the global warming, it can also create energy efficiency that could lead on better financial performance. | |
| 6918 | 8120 | C1A009086 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENERIMAAN PAJAK REKLAME DI BARLINGMASCAKEB | RINGKASAN Penelitian ini berjudul “Faktor- Faktor Yang Memengaruhi Penerimaan Pajak Reklame Di Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen (Barlingmascakeb)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi penerimaan pajak reklame di Barlingmascakeb. Yaitu meliputi PDRB per kapita, inflasi dan jumlah penduduk. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Pengelolaan Pendapatan Kekayaan dan Aset Daerah (DPPKAD) di wilayah Barlingmascakeb. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linerar berganda data panel menggunakan metode random effect dan uji statistik. Berdasarkan hasil analisis regresi PDRB per kapita, inflasi dan jumlah penduduk secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak reklame. Dan hasil regresi secara parsial PDRB per kapita berpengaruh signifikan dan positif terhadap penerimaan pajak reklame. Hal ini dikarenakan PDRB per kapita berpengaruh terhadap daya beli masyarakat sehingga para pelaku usaha akan memasang reklame guna mempromosikan barang dan jasanya, dan akan meningkatkan penerimaan pajak reklame. Jumlah penduduk juga mempunyai pengaruh yang signifikan dan positif karena dengan jumlah penduduk yang meningkat akan menaikan kegiatan produksi dan konsumsi, sehingga akan memengaruhi penerimaan pajak reklame yang bersumber dari pelaku usaha yang berusaha mempromosikan barang jasanya kepada masyarakat. Sedangkan inflasi mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. Implikasi dari kesimpulan diatas yaitu hendaknya terdapat kerjasama yang baik antara pihak swasta dan pemerintah dalam menyediakan infrastruktur dan fasilitas guna mendukung kegiatan perekonomian. Apabila kegiatan perekonomian masyarakat semakin baik maka akan menimbulkan potensi pasar yang baik pula, dan ini akan meningkatkan penerimaan di sektor pajak reklame. Kata Kunci : data panel,pajak reklame, PDRB per kapita, inflasi, jumlah penduduk. | SUMMARY This study entitled "Factors That Affecting Advertising Tax Receipts In Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen (Barlingmascakeb)". The purpose of this study was to know the factors affecting advertising tax receipts. That includes GDP each capital, inflation and population. This research used secondary data derived from Statistic Central Bureau (BPS) and the Department of Revenue Wealth and Asset Management Areas (DPPKAD) in Barlingmascakeb region. Analysis method that used in this research was linear multiple regression panel data with random effect approach and statistical tests. Based on data analysis GDP each capit, inflation and a population of jointly influence significantly on advertisement tax revenue. And result in partial regression GDP each capita has a significant and positive influnce. Because GDP each capita affect the people purchasing power, so the businessmen will be presenting ads to promote their good and service, this will increase in the revenue tax advertising. Population also has a significant and positive influence because with the population increase will raise production and consumption, so will affect tax revenue advertising sourced from the businessman who promote their good and service. While inflation have insignificant influence. The implications of the conclusions, Should there are on good cooperation between the private sector and the government to providing infrastructure and facilities in order to support the economic activities. If the activities of the community's economy is getting betterIt will cause the market potential good too. And this will increase in the revenue tax advertising Keywords: Panel data, advertisement tax, GDP each capita, inflation, population. | |
| 6919 | 8122 | C1A009087 | ANALISIS SOSIAL EKONOMI PETANI MELATI GAMBIR TAHUN 2013 (Studi Kasus: Desa Situwangi, Pingit, dan Kincang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara) | Penelitian ini berjudul “Analisis Sosial Ekonomi Petani melati Gambir Tahun 2013 (Studi Kasus Desa Situwangi, Pingit, Dan Kincang Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan sosial ekonomi seperti luas lahan, pendidikan dan lama usaha, seberapa besar kontribusi pendapatan usahatani melati gambir terhadap pendapatan rumah tangga dan untuk mengetahui apakah pendapatan perkapita keluarga petani melati gambit sudah bisa mememnuhi kriteria Standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) Kabupaten Banjarnegara Tahun 2013. Jumlah responden pada penelitian ini adalah 84 responden. Metode pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Alat analisis yang digunakan adalah analisis tabulasi. Berdasarkan hasil penelitian, kebanyakan petani memiliki luas lahan 163 hektar, pendidikan rata-rata petani lulusan SD, dan rata-rata petani sudah menjalankan usahatani melati gambir selama 15-20 tahun. Kontribusi pendapatan usahatani melati gambir terhadap pendapatan rumah tangga kecil atau sekitar 13,02 persen. Keluarga petani melati gambir masih belum dikatakan sejahtera karena pendapatan perkapita keluarga kebanyakan masih berada dibawah Standar KHL Kabupaten Banjarnegara Tahun 2013. Implikasi dari kesimpulan di atas adalah diperlukan intensivikasi penggunaan faktor produksi, pendidikan petani pada harus ditingkatkan dengan pendidikan non formal untuk peningkatan sumber daya manusia. Dibutuhkan bantuan dari pemerintah daerah agar menyediakan teknologi dan subsidi input usahatani. Kelompok tani harus dihidupkan kembali untuk meningkatkan pengetahuan petani tentang usahataninya dan pengolahan usahatani melati gambir sesuai Standar Operasional Prosedur. Kebanyakan petani belum sejahtera karena terlalu banyak jumlah tanggungan, disini diperlukan kesadaran dari warga desa bahwa anak yang sudah menikah tidak tinggal di satu rumah untuk me ngurangi jumlah tanggungan keluarga. | This study, entitled “Analysis of Social Economic Spanish Jasmine Farmer in 2013 (Case Study: Situwangi, Pingit and Kincang Village Rakit District Banjarnegara Regency”. The goal of this research was to determine the social economic circumstances such as land, education and long effort, the contribution of Spanish jasmine farming income on household income, and to know per capita income family can accomplish Standard Criteria Living Needs (KHL) Banjarnegara Regency in 2013. Total respondent in this research was 84 respondents. Samples taking in this research utilize simple random sampling method. T he analysis method that used in this research was tabulation. Based on the result of the research, the majority of farmer has land area 0,163 hectares, average education of the farmer is primary school graduates, and average farmers had run spanish jasmine farming for 15-20 years. The contribution of Spanish Jasmine farm income was small to household incomes or approximately 13,02 percent. Family of Spanish Jasmine farm cannot be said prosperous because per capita income family is below the sta ndard of Banjarnegara Regency KHL in 2013. The implications of the above conclusion is required intensification of production factor using, the level of farmer’s education should be improve by non-formal education for human resources improvement . It takes the help of local government to provide technology and farm input subsidy. Group of farmers must be revive to improve farmer’s knowledge and processing of spanish jasmine farming according to Operational Procedure Standard. Most of farmer haven’t prosper because there are too many dependent, Here is needed of awareness from the villagers to deny their son to live together with them for decrease the amount of family dependents. | |
| 6920 | 11644 | F1A010082 | Eksistensi Seni Tato ( Studi Kasus Tentang Pemaknaan dan Motivasi Penggunaan Tato di Kalangan Remaja Purwokerto) | Eksistensi tato selama ini dianggap sebagai bagian dari penyimpangan. Purwokerto sendiri sedang menuju masyarakat industri, sedang mengalami proses perubahan perilaku masyarakat akibat dari adanya pengaruh dari globalisasi dan modernisasi yang berkembang secara cepat. Purwokerto Berdasarkan hal tersebut, topik yang diangkat adalah mengenai pemaknaan dan motivasi dari remaja Purwokerto memakai tato di tubuhnya. Hasil penelitian terhadap pemaknaan tato pada remaja di Purwokerto menunjukkan tiga poin penting. Pertama, di kalangan remaja di Purwokerto, motif yang sering digunakan dan menjadi tren adalah gambar sayap, motif, dan kata-kata yang merepresentasikan si pemakai tentang makna kebebasan, kedamaian, dan sifat pemberontak yang dimiliki oleh remaja secara umum. Kedua, terdapat beberapa macam motivasi remaja Purwokerto menggunakan tato antara lain; ‘Tato Membentuk Ingatan Mengenai Masa Lalu. Tato merupakan salah cara untuk mengabadikan kenangan seseorang, dengan tubuh sebagai medianya. Kedua, tato, sebuah Ekspresi Perasaan, beberapa pengguna tato di mana desain yang dibuatnya mencerminkan ekspresi dari perasaan sayang dan cinta, terhadap anak, istri, maupun ungkapan sayang dan sakit hati karena cinta. Ketiga, tato sebagai Identitas. Identitas meliputi upaya mengungkapkan dan menempatkan individu-individu dengan menggunakan isyarat- isyarat nonverbal seperti pakaian dan penampilan. | Existence tattoos have been considered as part of the deviation. Purwokerto itself as one of the cities that are toward the industrial society, is undergoing the process of behavioral change as a result of the influence of globalization and modernization are growing rapidly. Based on this, the topics raised was regarding the meaning and motivation of adolescents Purwokerto wear tattoos on his body. The study of the meaning of a tattoo on teenagers in Purwokerto shows three important points. First, among adolescents in Purwokerto, motifs that are often used, and the trend is drawing wings, motives, and words that represent the wearer of the meaning of freedom, peace, and the properties owned by the teen rebel general. Secondly, there are some some kind of adolescent motivation Purwokerto using tattoos, among others; 'Shaping Memory Tattoos On The Past. Tattooing is one way to perpetuate the memory of a person, the body as a medium. Secondly, tattoos, an Expression of Feelings, some users where the tattoo design made reflect the expression of affection and love, for children, a wife, as well as expression of affection and hurt by love. Third, the tattoo as Identity. Identity includes efforts to reveal and put individuals using nonverbal cues such as clothing and appearance. |