Artikelilmiahs

Menampilkan 5.341-5.360 dari 48.831 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
534115145D1E012067PENGARUH PENAMBAHAN SARI BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP pH, VISKOSITAS, DAN ORGANOLEPTIK KEFIRPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sari buah naga merah dengan konsentrasi berbeda pada pembuatan kefir terhadap nilai pH, viskositas dan organoleptik, serta mengetahui konsentrasi terbaik terhadap penambahan sari buah naga merah pada pembuatan kefir. Bahan penelitian yang digunakan terdiri dari susu sapi 20 liter, biji kefir 200 gram, dan sari buah naga merah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk pH dan viskositas dan Rancangan Acak Kelompok (RAK) untuk organoleptik. Perlakuan pada penelitian ini terdiri dari penambahan sari buah naga merah P0 (0%), P1 (2,5%), P2 (5%), P3 (7,5%), setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali ulangan. Peubah yang diukur adalah pH, viskositas, organoleptik (warna dan rasa). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji orthogonal polinomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi sari buah naga merah berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pH dengan rataan 4,03 dan persamaan garis Y = 4,134-0,0264 X, berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap viskositas dengan rataan 33,65 cP dan persamaan garis Y = 35,68-0,08 X, berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap warna dan berpengaruh sangat nyata terhadap rasa (P<0,01). Kesimpulan dari penelitian ini penambahan konsentrasi sari buah naga merah yang semakin meningkat dapat menurunkan pH, meningkatkan viskositas, serta warna dan rasa paling disukai berdasarkan uji ranking. Konsentrasi terbaik penambahan sari buah naga merah sebanyak 7,5% dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia kefir.

This research aims to assess the effect of adding different concentrations of red dragon fruit juice in kefir making process on its pH, viscosity, and organoleptic quality and to determine the best concentration of the addition. The research material consisted of cow milk 20 liter, kefir grains 200 gram, and red dragon fruit juice. This experimental research used a completely randomized design (CRD) to measure the pH and viscosity and a randomized block design (RBD) for the organoleptic test. The treatments consisted of the addition of the red dragon fruit juice P0 (0%), P1 (2,5%), P2 (5%), P3 (7,5%), each of which was repeated five times. The variable measured were the pH, viscosity, organoleptic (color and flavor) quality of kefir. Data were analyzed by using analysis of variance and orthogonal polynomial test. The results showed that the addition significantly effected (P<0,05) the pH, with a mean 4,03 and a line equation Y= 4,134-0,0264 X, significantly effected (P <0,05) the viscosity with a mean 33,65 cP and a line equation Y= 35,68-0,08 X, significantly effected (P <0,05) the color, and highly significantly effected the taste (P <0,01). This study concludes that increasing the concentration of red dragon fruit juice addition can lower the pH, increases the viscosity of kefir, and the color and taste preference, based on the ranking test. While the best concentration of red dragon fruit juice addition is that at 7,5%, which can improve the physical and chemical properties of kefir.
534215144D1E010231PENGARUH LAMA PENIRISAN MENGGUNAKAN SPINNER TERHADAP KADAR AIR DAN TEKSTUR ABON AYAMTujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh lama penirisan abon ayam dengan menggunakan spinner terhadap kadar air dan tingkat kesukaan konsumen. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen, untuk kadar air menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan, sedangkan untuk tingkat kesukaan konsumen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan 5 dan 13 panelis agak terlatih. Perlakuan yang digunakan yaitu P1 = Lama Penirisan 3 detik, P2 = Lama Penirisan 6 detik, P3 = Lama Penirisan 9 detik, P4 = Lama Penirisan 12 detik, P5 = Lama Penirisan 15 detik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama penirisan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar air, namun berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap tingkat kesukaan konsumen. Kesimpulan, lama penirisan menggunakan spinner sampai dengan 15 detik semakin turun kadar air abon ayam, sedangkan tingkat kesukaan konsumen relatif sama.The purpose of this research is to assess the influence of draining duration using spinner engine on the water content of shredded chicken and the level of consumers’ preferences. To assess the moisture content, this experimental research used a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 5 replicates, while to assess the level of consumer preferences, it used randomized complete block design (CRBD) with 5 treatments and 13 semi-trained panelists. The treatments in the draining were P1 = 3 seconds draining, P2 = 6 seconds drining, P3 = 9 seconds draining, P4 = 12 seconds draining, and P5 = 15 seconds drainig. The result of this research shows that duration of the draining has a significant effect (P<0,05) on the water content, but not (P>0,05) on the consumers’ preferences. This research, therefore, concludes that the longer the draining takes up to 15 seconds, the lesser water content the chicken shredded will have, while the consumers’ preferences relatively remain the same.
534315143E1A012231PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN OBAT GENERIK YANG DIJUAL DI ATAS HARGA ECERAN TERTINGGI PADA LABEL OBAT BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATANPelaksanaan tanggung jawab Pemerintah Indonesia untuk menjamin keterjangkauan harga obat melalui pemenuhan akuntabilitas dan transparansi diwujudkan dengan diberlakukannya Keputusan Menteri Kesehatan No.HK.02.02/MENKES/525/2015 tentang Harga Eceran Tertinggi (HET) Obat Generik, dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 98 Tahun 2015 tentang Pemberian Informasi HET Obat, namun dalam pelaksanaannya masih terdapat konsumen yang merasa dirugikan akibat harga jual obat generik lebih tinggi dari HET pada label obat. Oleh karena itu, Pemerintah memberi perlindungan hukum untuk menjamin pemenuhan hak konsumen atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai harga obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh tenaga kefarmasian di Apotek yang menjual obat generik lebih tinggi dari HET pada label obat, dan bagaimana perlindungan hukum terhadap konsumen obat generik yang dijual di atas HET pada label obat berdasarkan Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus yang bersifat deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah data sekunder dari bahan kepustakaan, didukung dengan data primer yang diperoleh dari kenyataan di lapangan dan wawancara. Data diuraikan dalam bentuk teks yang sistematis. Metode analisis yang digunakan adalah metode normatif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh tenaga kefarmasian di Apotek yang menjual obat generik lebih tinggi dari HET pada label obat adalah tidak dilaksanakannya kewajiban untuk memberikan informasi HET obat pada saat penyerahan obat kepada konsumen sebagaimana termasuk dalam standar pelayanan kefarmasian di Apotek, sehingga konsumen merasa dirugikan. Perlindungan hukum terhadap konsumen obat generik yang dijual di atas HET pada label obat dilakukan secara preventif melalui pembinaan dan pengawasan, serta represif melalui pemberian ganti rugi.
Implementation of the Indonesian Government’s responsibility to ensure the affordability of drugs through the fulfillment of accountability and transparency is realized with the enactment of Minister Decree of Health No.HK.02.02 / Menkes / 525/2015 on Highest Retail Price of Generic Drugs, and the Minister of Health Regulation No. 98 of 2015 on Provision of Drug’s Highest Retail Price Information, but in practice there are consumers who harmed by the sale price of generic drugs is higher than the highest retail price on the drug’s label. Therefore the Government gave legal protection to ensure the fulfillment of the right to get the correct, clear and honest information about drug prices, The purpose of this research was to determine the shape of offenses committed by the pharmacist in the pharmacy that sells generic drugs higher than the highest retail price on drug’s label, and how the legal protection of the generic drugs consumer who sold over the highest retail price on drug’s label under Act No. 36 of 2009 on Health.
This research uses a normative approach and case approach. The data source of this research is secondary data from the literature, supported by primary data obtained from the reality and interviews. The data described in systematic text. The analytical method used is a qualitative normative method.
The results showed that the shape of violations committed by the pharmacist in the pharmacy that sells generic drugs higher than the highest retail price on the drug’s label is not implementing the obligation to provide information about the highest retail price drug during dispense to consumer that included in the pharmacy service standard in the pharmacy. The legal protection to consumers of generic drugs that sold over the highest retail price on the drug’s label do preventively through guidance and supervision, as well repressive through indemnity.
534415139A1C012041MOTIVASI BERPRESTASI ANGGOTA KELOMPOK TERHADAP FUNGSI KELOMPOK SERTA HUBUNGANNYA DENGAN FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL PETANI
(Studi Kasus pada Gapoktan Ngudi Makmur Desa Kataan Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung)
Kelompok tani merupakan media interaksi bagi anggotanya serta diharapakan mampu mewadahi kegiatan usahatani secara bersama-sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) motivasi berprestasi anggota kelompok terhadap fungsi kelompok, dan 2) hubungan motivasi berprestasi anggota kelompok terhadap fungsi kelompok dengan faktor internal dan eksternal petani. Penelitian ini dilaksanakan di Gapoktan Ngudi Makmur Desa Kataan, Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung pada tanggal 27 Januari sampai dengan 20 Februari 2016. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu Proportional Simple Random Sampling. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dengan bantuan Likert Summated Rating dan korelasi Kendall Tau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) motivasi berprestasi anggota kelompok terhadapat fungsi kelompok secara keseluruhan berada dalam kategori tinggi yang digambarkan oleh aspek kesediaan mengorbankan waktu (tinggi), aspek kesediaan mengorbankan biaya (tinggi), aspek kesediaan menanggung resiko atas adopsi inovasi (tinggi) dan aspek kesediaan mencari informasi (tinggi), dan 2) faktor internal petani yang mempunyai hubungan signifikan dengan motivasi berprestasi anggota kelompok terhadap fungsi kelompok yaitu umur dan pendidikan, sedangkan jumlah tanggungan dalam keluarga, luas lahan dan pengalaman usaha tani mempunyai hubungan yang tidak signifikan. Faktor eksternal petani baik peran pamong desa maupun peran petugas penyuluh lapangan mempunyai hubungan yang tidak signifikan dengan motivasi berprestasi anggota kelompok terhadap fungsi kelompok.Group approach is a medium of interaction for the members and also expected to become medium for conducting together farming activity.This study aims to find out that: 1) correlation of group member’s motivation achievement towards group function, and 2) correlation of group member’s motivation achievement towards group function, also farmer’s internal and external factors. The study conducted at Ngudi Makmur Farmer Group Association, Kataan Village, Ngadirejo sub-district, Temanggung, on January 27th – February 20th 2016. The sampling technic used in this study is proportional simple random sampling. The analysis method that used in this study are motivation achievement analysis with likert summated rating, and kendall tau analysis.The result of this study shows that: 1) correlation of group member’s motivation achievement towards group function overall, are in the high category which described by motivation achievement on willingness of time sacrificing (high), motivation achievement on willingness of cost sacrificing (high), motivation achievement on willingness of taking risk from innovation adoption (high), and motivation achievement on willingness of seeking information (high), and 2) farmer’s internal factor which has significant correlation with motivation achievement are age and education, while total liabilities, land, and farming experiences have insignificant correlation. The role of village officers and also agricultural counselor, have insignificant correlation with member’s motivation achievement towards group function.
534515146H1L009049PENERAPAN FRAMEWORK YII PADA SISTEM INFORMASI KEANGGOTAAN KLUB RENANG DE ZANDERKlub renang merupakan suatu tempat bagi seseorang untuk belajar renang dengan teknik yang tepat sehingga dapat menjadi atlet renang berprestasi. Untuk memudahkan klub renang dalam memantau perkembangan latihan anggota dan melakukan evaluasi latihan, maka penulis merancang dan membangun sistem informasi keanggotaan klub renang berbasis web dengan menerapkan penggunaan Framework Yii. Metode pengembangan sistem yang digunakan adalah metode waterfall dan menggunakan basisdata MySQL. Data yang digunakan adalah data anggota dan data latihan anggota. Sistem informasi keanggotaan klub renang ini memiliki beberapa menu, yaitu menu kelola user, anggota, level, kelas, halaman, gaya, jarak, latihan, perkembangan, dan laporan pendaftaran. Masing-masing menu memiliki fungsi tersendiri mulai dari tambah, ubah, dan hapus. Pengujian sistem ini dilakukan secara localhost untuk menguji setiap fungsi dapat dijalankan dengan benar dan menghasilkan output yang diinginkan. Setelah melalui proses pengujian, didapat hasil dimana sistem informasi keanggotaan klub renang ini dapat digunakan sebagai alat evaluasi perkembangan anggota di dalam klub renang.The swimming club is a place for someone to learn swimming with the right technique so that they can be accomplished swimmer. For monitoring the progress of members and evaluate the exercise, the author design and build a swimming club membership information systems by implementing the web-based Yii Framework. System development method used is the waterfall method and uses a MySQL database. The data used is the data member and member’s workout data. Swimming club membership information system has several menus, which include the user management menu, member management, level management, class management, page management, stroke management, distance management, exercise management, the members progress and a registration reports. Each menu has its own function like add, see, change, and delete. This application’s testing is done by localhost to test every function of this application can run properly and produce the appropriate output. After the application had been testing, the result was that this swimming club membership information system
534615147B1J012102KORELASI KADAR BESI DAN MAGNESIUM TERHADAP KANDUNGAN KLOROFIL DAN ALGINAT RUMPUT LAUT Sargassum polycystum DARI DUA PANTAI
Kadar hara pada kondisi perairan yang berbeda akan mempengaruhi organisme fotosintetik, seperti Sargassum polycystum. Unsur hara berperan dalam pembentukan klorofil. Magnesium merupakan unsur yang mengisi inti atom pada klorofil, sedangkan besi berperan dalam pembentukan protoporfirinogen IX. S. polycystum dimanfaatkan sebagai penghasil alginat Pembentukan alginat dalam tubuh rumput laut tidak dapat dibentuk tanpa adanya klorofil yang berperan dalam proses fotosintesis. Oleh karena itu, rumput laut membutuhkan unsur besi dan magnesium untuk menunjang keberadaan klorofil. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui korelasi kadar besi dan magnesium terhadap kandungan klorofil dan alginat, (2) mengetahui korelasi kandungan klorofil terhadap kandungan alginat S. polycystum.
Penelitian ini menggunakan metode survei, pengambilan sampel secara random di 3 titik yang dipilih acak pada dua tempat yang berbeda, yaitu Pantai Menganti dan Karimunjawa. Sampel air laut dan talus S. polycystum diambil untuk diukur kadar besi, magnesium, kandungan klorofil dan alginat. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis korelasi Pearson. Hasil analisis korelasi menunjukkan ada korelasi positif antara kadar Mg dengan klorofil di Pantai Menganti sebesar 75,1%, sedangkan di Pantai Pulau Karimunjawa sebesar 99,9%. Korelasi antara kandungan klorofil dengan kandungan alginat di Pantai Menganti sebesar 96,9% dan di Pantai Pulau Karimunjawa sebesar 96,2%.
Nutrient levels in different water conditions will affect photosynthetic organisms, including Sargassum polycystum. Nutrients play a role in the formation of chlorophyll. Magnesium is an elements fill the core of an atom in chlorophyll, while iron plays a role in formation of protoporfirinogen IX. S. polycystum utilized as a producer of alginate. The formation of alginate can not be formed without chlorophyll that play a role in process of photosynthesis. Seaweed requires the iron and magnesium to support the presence of chlorophyll. The purpose of this study is (1) determine the correlation of iron and magnesium content with chlorophyll and alginate, (2) determine the correlation of chlorophyll with alginate content. This study used survey methods, sampling is randomly from three locations in two different places, namely Menganti and Karimunjawa Beach. Samples of seawater and thallus of S. polycystum taken to measure the levels of iron, magnesium, chlorophyll and alginates. Data were analyzed using Pearson correlation analysis. The results of the analysis correlation between the levels of Mg with chlorophyll in Menganti Beach is 75,1%, while the correlation in Karimunjawa Beach is 99,9%. The correlation between chlorophyll with alginate content in Menganti Beach is 96,9% and in the Karimunjawa Beach is 96,2%.
534715148A1H012001PENGARUH WARNA KEMASAN TERHADAP KUALITAS JERUK SIAM (Citrus nobilis var. microcarpa) SELAMA PENYIMPANAN DENGAN MENGGUNAKAN KERTAS WAJIKJeruk siam (Citrus nobilis var. microcarpa) merupakan buah yang memiliki rasa manis, buahnya harum, mengandung banyak air dan harganya relatif murah, sehingga menjadikan daya tarik tersendiri bagi konsumen pencinta buah jeruk. Untuk mempertahankan kualitas jeruk siam diperlukan pengemasan yang sesuai agar jeruk siam saat sampai ditangan konsumen tetap memiliki kualitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui pengaruh kemasan terhadap perubahan warna, kekerasan, kadar brix, kadar air, dan kandungan vitamin C pada buah jeruk siam selama penyimpanan, dan 2) Mengetahui kemasan terbaik untuk mempertahankan mutu buah jeruk siam. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Perlakuan yang digunakan yaitu mengemas jeruk siam dengan menggunakan kemasan yang terbuat dari kertas wajik 2 lapis berwarna merah (P1), kuning (P2), hijau (P3), biru (P4), dan tanpa kemasan (P0) masing-masing perlakuan dilakukan 3 kali ulangan. Metode yang digunakan yaitu kinetika perubahan mutu. Variabel yang diuji yaitu warna, kekerasan, kadar brix, kadar air, dan kandungan vitamin C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemasan warna merah dua lapis (P1) dapat mempertahankan kualitas warna jeruk siam, sedangkan kekerasan, kadar brix, kadar air, dan kandungan vitamin C dapat dipertahankan dengan kemasan warna biru dua lapis (P4) selama penyimpanan.CITRUS SIAM (Citrus nobilis var. microcarpa) is a fruit which has a sweet taste, good fragrant, contain a lot of water and the price is relatively cheap. Moreover, all of these make the consumers of citrus fruit attracted. To maintain the quality of citrus, we need appropriate packaging, so that the consumers can get the fruits which have high quality. The aims of this research are: 1) Determine the effect of packaging toward color changing, hardness, brix levels, water content and the content of vitamin C in citrus during storage, and 2) To find out the best packaging to maintain the quality of citrus. This research was conducted at the agriculture Laboratory of Food Processing Techniques and Result Department of Agricultural technology, General Sudirman University Purwokerto. The treatment which is used to pack the citrus fruit is with 2 layers of greas papers as the package namely red (P1), yellow (P2), green (P3), blue (P4), and without packaging (P0), each treatment was repeated for three times. This research used kinetics of quality changes method. The variables tested were color, hardness, brix level, water content and the content of vitamine C. The result showed that the two layers of red color packaging (P1) could maintain the color quality of citrus, while hardness, brix level, water content and the content of vitamin C could be maintained by using two layers of blue color packaging (P4) during storage.
534815149B1J010119KEANEKARAGAMAN DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN SEBAGAI BAHAN KECANTIKAN DI KERATON SURAKARTA HADININGRATPerawatan kecantikan tradisional merupakan salah satu manifestasi kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari budaya Indonesia, kosmetik adalah penyusunan bahan yang digunakan untuk mendukung kecantikan wanita. Berdasarkan pemanfaatannya kosmetik terbagi menjadi dua yaitu pemanfaatan kosmetika tradisional dan kosmetika semi-tradisional. Kosmetika tradisonal adalah kosmetika yang terdiri dari bahan-bahan yang berasal dari alam dan diolah secara tradisional. Kosmetika semi-tradisional adalah kosmetika tradisional yang pengolahannya dilakukan secara modern dengan mencampurkan zat-zat kimia sintetik ke sediaannya.
Keraton Surakarta Hadiningrat merupakan salah satu keraton yang masih kental menggunakan produk kecantikan yang terbuat dari resep ramuan tradisional yang digunakan oleh para kerabat terutama putri-putri Keraton. Resep ramuan telah digunakan sejak dulu secara turun temurun. Bahan herbal yang digunakan sebagai bahan kecantikan memiliki sifat alami dan terbukti selama ratusan tahun mampu menjaga kecantikan para selir dan putri keraton di Jawa Tengah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan kecantikan dan mengetahui bagian tumbuhan apa saja yang dimanfaatkan, cara memanfaatkan, dan cara pengolahan tumbuhan sebagai bahan kecantikan di Keraton Surakarta Hadiningrat. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survei dengan teknik wawancara terstruktur menggunakan kuisioner dan wawancara semi-struktural, kemudian dianalisis secara deskriptif. Adapun penentuan narasumber (informan kunci) ditentukan oleh Pengageng Sasana Wilapa Kanjeng Gusti Winarno K yaitu Kanjeng Gusti Poeger, Juru kunci, Abdi dalem, dan Putri-putri Keraton.
Analisis data berupa data keanekaragaman tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan kecantikan yang diperoleh di Keraton Surakarta Hadiningrat, dicatat nama daerah dan nama ilmiahnya, kemudian dianalisis secara deskriptif seperti bagian tumbuhan yang dimanfaatkan, cara pemanfaatan dan cara pengolahan.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh ada 28 spesies, dari 25 genus, dan 19 familia tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan kecantikan di Keraton Surakarta Hadiningrat dan masyarakat sekitarnya. Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan yaitu bagian buah, bunga, rimpang, biji, daun, kulit kayu dan umbi. Cara pemanfaatan secara umum dilakukan dengan dua cara yaitu perawatan dari luar dan perawatan dari dalam. Pengolahan tumbuhan dilakukan dengan berbagai cara yaitu ditumbuk, direndam, dikeringkan terlebih dahulu, disangrai, dan bisa langsung digunakan.


Kata kunci:
Traditional beauty treatments is one of the manifestations of culture inherited from generation to generation and become a part of Indonesian culture, is a cosmetic preparation of the materials used to support a woman's beauty. Based on the utilization of cosmetics is divided into two, namely the use of traditional cosmetics and cosmetics semi-traditional. Traditional cosmetics are cosmetics that consists of ingredients derived from nature and processed traditionally. Cosmetics semi-traditional is traditional cosmetics that modern processing is done by mixing synthetic chemicals into preparations.
Keraton Surakarta Sultanate is one of the palace is still thick using beauty products made from traditional ingredients recipe used by relatives, especially the daughters of the palace. Recipe herb has been used since the first generations. Herbal ingredients that are used as a material nature and beauty has proven over hundreds of years is able to maintain the beauty of the palace concubines and daughters in Central Java.
This study aims to determine the types of plants used as raw beauty and to know what parts of the plant are used, how to use, and how the processing plant as a beauty ingredient in Surakarta Sultanate. The method used in this research is survey method with a structured interview using a questionnaire and semi-structural interview, then analyzed descriptively as part of the plant used, how to use and way of processing.
Analysis of the data in the form of plant diversity of data that can be used as a beauty ingredient obtained in Surakarta Sultanate, note the name of the region and its scientific name, and then analyzed descriptively as part of the plant used, utilization and processing methods.
Based on the research that has been done in Kraton Surakarta Sultanate and the community around the palace shows there are 28 species, 25 genera and 19 families of plants are used as raw beauty in Surakarta Sultanate and the surrounding community. Plant parts used are part of the fruit, flowers, rhizomes, seeds, leaves, bark and bulbs. Utilization is done in two ways: from outside the treatment and care of the inside. Processing plants done in various ways, namely ground, soaked, dried first, roasted, and can be directly used.
534915153C1B012015ANALISIS PENGARUH CELEBRITY ENDORSEMENTTERHADAP BRAND EQUITYDENGAN BRAND CREDIBILITY DAN BRAND IMAGE SEBAGAI VARIABEL MEDIASIPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan celebrity endorsementterhadap brand equitydengan brand credibility dan brand imagesebagai variabel mediasi pada produk kosmetik Wardah.Populasi dalam penelitian ini adalah semua konsumen wanita yang menggunakan produk Wardah kosmetik di kota Purwokerto. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 150 responden.Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling.Data analisis menggunakan Structural Equational Modelling (SEM).Hasil analisis menunjukan bahwa : (1) Selebriti endorseberpengaruh positif terhadap kredibilitas merek, (2) Selebriti endorse berpengaruh positif terhadap citra merek, (3)Selebriti endorsetidak berpengaruh terhadap ekuitas merek, (4) kredibilitas merek berpengaruh positif terhadap ekuitas merek, (5) Citra merek berpengaruh positif terhadap ekuitas merek, (6) Kredibilitas merek memediasi secara signifikan pengaruh selebriti endorse terhadap ekuitas merek, (7) Citra merek memediasi secara signifikan pengaruh selebriti endorse terhadap ekuitas merek. This study aims to determine the effect of using celebrity endorsementterhadap equitydengan brand brand credibility and brand imagesebagai mediating variables in cosmetic products Wardah.Populasi in this study were all women consumers who use cosmetic products Wardah in Purwokerto. This study used a sample of 150 responden.Teknik sampling is done using purposive sampling.Data analysis using Equational Structural Modeling (SEM) The results of the analysis showed that: (1) Celebrity endorseberpengaruh positively to the credibility of the brand, (2) Celebrities endorse positive effect on brand image, (3) celebrities endorsetidak effect on brand equity, (4) the credibility of the brand positive effect on brand equity, (5) brand image positive effect on brand equity, (6) the credibility of the brand mediate significantly influence of celebrities endorsing the brand equity, (7) brand image significantly mediates the effect of celebrities endorsing the brand equity.
535010425A1H012017PEMANFAATAN GULA AFKIR MENJADI BIOETANOL MENGGUNAKAN VARIASI KONSENTRASI RAGI (Saccharomyces cerevisiae ) DAN LAMA WAKTU FERMENTASI
Gula kelapa afkir merupakan gula kelapa atau gula merah yang gagal dibuat menjadi gula cetak. Bioetanol adalah etanol yang diproduksi dengan cara fermentasi menggunakan bahan baku nabati. Semakin lama fermentasi, mikroba berkembangbiak dan jumlahnya bertambah sehingga kemampuan untuk memecah substrat atau glukosa yang ada menjadi asam laktat dan alkohol semakin besar. Gula afkir difermentasi dengan menggunakan Saccharomyces cerevisiae dengan variasi waktu fermentasi 4,6, dan 8 hari sehingga diperoleh bioetanol. Selanjutnya etanol dipisahkan dari larutan dengan distilasi.Tujuan dari penelitian ini adalah:(1). Mengetahui dan mempelajari teknik produksi bioetanol dari bahan baku gula afkir, (2). Mengetahui pengaruh konsentrasiragi dan lama fermentasi terhadap kadar dan rendemen bioethanol, (3). Mengetahui konsentrasi ragi dan lama fermentasi untuk menghasilkan bioetanol yang maksimum. Variabel yang diamati meliputi kadar glukosa, kadar bioetanol, dan rendemen bioetanol. Hasil yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam, jika berpengaruh maka dilanjutkan dengan uji perbandingan ganda menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% dan ditampilkan dalam bentuk grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi ragi dan waktu fermentasi mempengaruhi hasil bioetanol. Penambahan konsentrasi ragi 10% dengan waktu fermentasi 8 hari merupakan perlakuan optimum yang menghasilkan kadar bioetanol sebesar 10,10 %(v/v) dan rendemen bioetanol murni dari gula afkir sebesar 7,97 %.

Sugar palm rejected are sugar palm or sugar who fails made to sugar. Bioethanol is ethanol produced by fermentation use of raw materials nabati . The longer fermentation, microbes multiplied with the numbers increased so that the ability to break up the substratum or glucose are a priority lactic acid and alcohol higher. Sugar palm rejected fermented using Saccharomyces cerevisiae with variations fermentation time 4, 6, and 8 days. After that bioethanol separated from a solution by distillation. This research aimed is (1) find out and learn the techniques of production bioethanol from sugar palm rejected, (2) know the influence of the concentration of yeast and fermented long levels and yield bioethanol, (3) Knowing the concentration of yeast and long fermentation to produce maximum bioethanol. Variable observed include glucose levels, bioethanol levels, and yield of bioethanol. The results alysedusing analysis of varians, if the effect is significant then followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at the level of 5% and shown in the form charts.The results showed the addition of concentration yeast and longer fermentation time affect of bioethanol produced. the addition of concentration yeast 10% and fermentation time 8 days is the optimum treatments produced bioethanol 10.10 % (v/v) and bioethanol yield from sugar coconut rejected 7.97 %.
535115154H1L009033RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PENJUALAN TOKO NASIONAL ADIJAYA PURWOKERTO BERBASIS DEKSTOPBagian transaksi penjualan pada Toko Nasional Adijaya Purwokerto membutuhkan pengelolaan transaksi penjualan yang baik khususnya dalam pengelolaan transaksi penjualan alat musik. Selama ini transaksi penjualan alat musik di Toko Nasional Adijaya Purwokerto berjalan secara manual, sehingga mengakibatkan proses transaksi penjualan yang lama. Pengelolaan transaksi penjualan yang baik menyebabkan semua data transaksi penjualan alat musik di Toko Nasional Adijaya Purwokerto terorganisir dengan baik. Metode penelitian diantaranya studi pustaka, wawancara, dan obsevasi yang dilakukan langsung di Toko Nasional Adijaya Purwokerto. Metode pengembangan sistem yang digunakan adalah metode waterfall. Perangkat lunak yang digunakan adalah Microsoft Access dan Delphi 7. Pengujian sistem informasi penjualan alat musik berbasis dekstop dilakukan dalam 2 tahap, yaitu pengujian oleh calon user dan programer. Setelah melalui proses pengujian sistem, didapat hasil dimana sistem informasi penjualan alat musik berbasis dekstop berjalan sesuai dengan keinginan pemilik Toko Nasional Adijaya Purwokerto.Nasional Adijaya selling transaction division needs a good selling transaction management, especially in music instrument management transaction. All this time, music instrument management transaction in Nasional Adijaya Shop Purwokerto run with manual system, so that make a long time in selling transaction process. A good management give an effect to all selling transaction data in National Adijaya Shop that can be well organized. There are research methods, including miterature review, interview, and live observation in Nasional Adijaya Shop. The system development method in use is waterfall method. Softwares in use are microsoft Access and Delphi 7. The dekstop based musical instrument selling information system test procced in 2 steps, there are testing by potential users and by programmers. After the system test process be obtained, the instrument selling informationb system run with the owner of Nasional Adijaya as desired.
535215156C1A012065ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEMISKINAN DI KOTA TASIKMALAYAPenelitian ini mengambil judul: “Analisis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Tingkat Kemiskinan di Kota Tasikmalaya”. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui pengaruh secara bersama-sama dan parsial variabel
jumlah penduduk, PDRB per kapita dan tingkat pengangguran terbuka terhadap
tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya. Data yang digunakan dalam penelitian
ini berupa data sekunder. Pada penelitian ini digunakan analisis regresi linear
berganda dengan analisis yang digunakan adalah metode kuadrat terkecil
(Ordinary Least Square, OLS).
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data diperoleh bahwa : (1)
Jumlah Penduduk berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Tingkat
Kemiskinan di Kota Tasikmalaya, (2) PDRB per Kapita berpengaruh negatif dan
tidak signifikan terhadap Tingkat Kemiskinan Di Kota , (3) TasikmalayaTingkat
Pengangguran Terbuka berpengaruh positif dan signifikan terhadap Tingkat
Kemiskinan di Kota Tasikmalaya. (4) Trend Tingkat Kemiskinan di Kota
Tasikmalaya adalah negatif.
Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu Pemerintah Kota Tasikmalaya
perlu menerapkan Program Keluarga Berencana (KB) untuk mengontrol laju
pertumbuhan penduduk di Kota Tasikmalaya yang masih tinggi. Peningkatan
PDRB per kapita sangat diutamakan untuk menurunkan Tingkat kemiskinan di
Kota Tasikmalaya, sehingga Kota Tasikmalaya tidak terus-menerus menjadi
daerah yang kemiskinannya paling tinggi di Provinsi Jawa Barat. Serta,
Pembangunan infrastruktur lapangan pekerjaan bagi angkatan kerja yang belum
mendapatkan pekerjaan dapat mengurangi tingkat pengangguran terbuka di Kota
Tasikmalaya, sehingga tingkat kemiskinan yang disebabkan oleh tingkat
pengangguran terbuka dapat berkurang.
The research is entitled "Analysis of Factors Affecting Poverty Level in the
City of Tasikmalaya". Is aimed at determining the jointly effect and partially
effect of variable the total of population, GDP per capita and the open
unemployment rate to the level of poverty in the City of Tasikmalaya. This study
used a multiple linear regression analysis with the Ordinary Least Square (OLS)
method.
Based on the results of research and analysis of data it was found : (1)
The Total of Population has a negative and significant effect on the level of
poverty in the City of Tasikmalaya, (2) The GDP per capita has a negative and
not significant effect on the level of Poverty in the City of Tasikmalaya, (3) The
Open unemployment rate has a positive and significant effect on the level of
poverty in the City of Tasikmalaya, (4) Trend of Poverty Level in the City of
Tasikmalaya has a negative.
The implications of the research is need to apply in the city of
Tasikmalaya Keluarga Berencana (KB) program for controlling the population
growth is still high in Tasikmalaya. The increase in the GDP per capita is
preferred to lower the poverty rate in the City of Tasikmalaya, so Tasikmalaya not
constantly be the highest poverty areas in West Java Province. As well,
infrastructure construction jobs for the labor force that is unemployed can reduce
the level of open unemployment in the City of Tasikmalaya, so that the level of
poverty caused by the open unemployment rate can be reduced.
535315178A1H011068KEBUTUHAN AIR TANAMAN PADA PRODUKSI BENIH KENTANG (Solanum tuberosum L.)
DI DATARAN RENDAH DENGAN SISTEM AEROPONIK
Budidaya benih kentang yang dilakukan di dataran tinggi berpotensi mengakibatkan permasalahan pencemaran lingkungan, erosi dan benih yang kurang sehat akibat endemik nematoda sista kuning. Budidaya benih kentang di dataran rendah dengan sistem aeroponik saat ini mulai banyak dikembangkan untuk mengurangi permasalahan tersebut. Aeroponik adalah sistem budidaya dengan cara menyemprotkan air dan nutrisi ke zona perakaran tanaman. Akar tanaman pada sistem aeroponik menggantung di udara dan tanaman di topang oleh styrofoam. Penggunaan air dalam budidaya benih kentang dengan sistem aeroponik di dataran rendah penting untuk diketahui. Tujuan Penelitian ini adalah untuk (1) Mengetahui kebutuhan air tanaman benih kentang dengan sistem aeroponik di dataran rendah, dan (2) Mengetahui pertumbuhan tanaman benih kentang di dataran rendah melalui sistem aeroponik. Penelitian ini dilakukan di greenhouse Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman dengan ketinggian 125 meter dpl. Penelitian menggunakan dua perlakuan yaitu pendinginan dan tanpa pendinginan. Data yang diamati meliputi iklim mikro, pertumbuhan, dan kebutuhan air tanaman. Data yang diperoleh ditabulasikan dan di analisis secara grafik. Hasil penelitian ini menunjukan benih kentang aeroponik dengan pendinginan lebih baik pertumbuhannya dibandingkan dengan tanpa pendinginan. Benih tanpa pendinginan tidak dapat tumbuh optimal akibat tingginya suhu udara diatas dan dibawah tanaman. Rata-rata kebutuhan air pendinginan adalah 0.05 mm/hari sedangkan tanpa pendinginan adalah 0.4 mm/hari. Nilai kebutuhan air tanaman tersebut lebih rendah bila dibandingkan budidaya kentang secara konvensional yang mencapai 350–625 mm selama satu musim tanam.Cultivation seed potato in the highlands potents to cause environmental pollution, erosion and unhealthy seeds caused by an endemic of yellow-sista nematode. Cultivation of potato seeds in lowland areas with aeroponic system nowadays is becoming popular to be developed to minimize the problems. Aeroponic is a cultivation system by spraying water and nutrients to plant root zone. The zone in the system aeroponic is hang in air and the plant is supported by styrofoam. The amount of water used for seeds potato cultivation with an aeroponic systems in lowland areas is important to be identified. Quantifying crop water requirement is needed to gain the efficiency during cultivation, however this has not been widely examined. The purpose of this research was to: (1) know the crop water requirements of potato seeds with aeroponic systems in lowland area, and (2) know the crop growth of potato seeds in lowland area through aeroponic system. The research was located in a greenhouse of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman with 125 m above sea level. The experiment used two different cooling treatments, namely cooling and without cooling. The observed data consisted of microclimate, crop growth and water requirements. The obtained data were tabulated and analyzed graphically. The results showed that the aeroponic potato seeds with cooling treatment were better in growth than without-cooling treatment. The seeds without cooling treatment could not optimally grown, due to high air temperatures above and below the crop. The average crop water requirement of the seeds with cooling treatment was about 0.05mm/day, while those without cooling treatment was 0.40 mm/day. These values were lower compared to the conventional which reached 350-625 mm during the growing season.
535415157B1J011175PENGARUH PEMBERIAN DAGING AYAM, ROYAL JELLY
DAN TEPUNG IKAN TERHADAP PERKEMBANGAN
KOLONI SEMUT RANGRANG
(Oecophylla smaragdina)
Oecophylla smaragdina atau semut rangrang merupakan serangga sosial yang mempunyai peran penting dalam ekosistem yaitu sebagai predator bagi berbagai serangga. Semut rangrang mampu untuk mengendalikan lebih dari 50 spesies hama yang berbeda. Jumlah populasi semut rangrang (O. smaragdina) di alam terus mengalami penurunan secara signifikan karena perburuan secara besar-besaran. Hal ini sangat mendorong dilakukan budidaya semut rangrang (O. smaragdina) dengan adanya campur tangan manusia. Sehingga, eksistensinya di alam dapat dipertahankan tanpa perlu mengeksploitasi secara berlebihan di habitat aslinya.
Tujuan penelitian ini 1. mengetahui perkembangan koloni semut rangrang yang dibudidaya dengan pakan berbeda yaitu daging ayam, royal jelly dan tepung ikan 2. Mengetahui jenis pakan yang paling baik terhadap perkembangan koloni semut rangrang. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan dengan pemberian pakan sumber protein berbeda masing-masing yaitu daging ayam, royal jelly, dan tepung ikan. Masing-masing perlakuan diulang 5 kali. Setelah dianalisis ragam menggunakan uji F didapatkan hasil bahwa perlakuan pemberian pakan pada penelitian ini terdapat perbedaan yang sangat nyata terhadap perkembangan koloni semut rangrang. Semut rangrang yang diberi pakan daging ayam paling banyak dengan berat massa yang dihasilkan yaitu 99,7 gram, dan semut rangrang yang dibudidaya menggunakan royal jelly menghasilkan berat massa 52,3 gram, sedangkan semut yang dibudidaya menggunakan tepung ikan menghasilkan berat massa 9,6 gram.
O. smaragdina or weaver ants is social insect that have a important function in ecology. weaver ants is a predator for other insect. weaver ants able to control for 50 species of pest insect. Population weaver ants decrease significantly. so, cultivation weaver ants with human help is needed. therefore, weaver ants excistence can be guarded without exploitation in habitat.
This resource has an aim to 1) knowing weaver ants development that cultivated with different food, there are chicken, royal jelly, and fish flour 2) knowing the best food for weaver ants development. this research use experimental method (complete random program). treatment with feeding weaver ants use chicken, royal jelly and fish flour. each treatment do 5 times. after analyst with f test, get the result that feeding different food give a difference real for Weaver ants development. weaver ants that feed with chicken have the most weight, 99,7 gram and weaver ants that feed with royal jelly have the mass 52,3 gram, weaver ants that feed with fish flour have the lightest mass 9,6 gram.
535515159H1F010058GEOLOGI DAN ANALISIS MEGALANDSLIDE MENGGUNAKAN DATA GEOLISTRIK MULTICHANNEL KONFIGURASI DIPOLE-DIPOLE, DAERAH PASIR MUNJUL DAN SEKITARNYA, KECAMATAN SUKATANI, KABUPATEN PURWAKARTA, PROVINSI JAWA BARATIndonesia sebagai negara yang rawan akan terjadinya bencana alam, menyimpan berbagai macam potensi untuk terjadi longsor pada suatu daerah yang intensitas hujannya tinggi. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya longsor adalah dengan cara mengetahui kondisi bawah permukaan suatu daerah. Potensi longsoran erat kaitannya dengan kondisi geologi daerah tersebut dimana keberadaan batuan penyusun yang didominasi oleh Satuan Batulempung. Lokasi penelitian berada di daerah Pasir Munjul, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Daerah ini dikelilingi oleh batuan sedimen dan batuan piroklastik, sehingga sangat menarik untuk dilakukan pengukuran tahanan jenis batuan. Metode penelitian yang digunakan berupa pemetaan geologi, penentuan lokasi pengamatan longsoran, penentuan tempat pengukuran geolistrik, dan pengambilan sampel batuan untuk dianalisis secara petrografi, dianalisis umur relatif dan lingkungan pengandapannya, maupun untuk diketahui kandungan mineralnya dengan analisis XRD . Dari data pemetaan geologi didapatkan penyebaran litologi batulempung + 42 persen, sedangkan batuan piroklastik + 38 persen. Data ini juga didukung oleh pengukuran geolistrik di sekitar Jalan Toll Cipularang Km 92Indonesia is the country whose vulnerable with the disasters, potentially to occur landslides in area which have high intensity rainfall rate. One method to avoid the landslides is we know subsurface conditions in this area. Landslides potency have a relation with the geological conditions in this area, where the existence of the forming rocks are dominated by Claystone. The locations at Pasir Munjul Area, Sukatani District, Purwakarta Regions, West Java Provinces. This area surrounded by sedimentary rocks and pyroclastic rocks, so this project is very interesting for the resistivity survey. Research method which used are geological mapping, determine the stop site of landslide, determine area to resistivity survey, and outcrop sampling to be analized in petrographic thin sections, to be analized relative age and the depositional environments, or to be known the mineral compositions of clay with XRD analysis. According the geological mapping we can get the litological spreads of claystone + 42 percent, pyroclastics rocks + 38 percent. This data also added with the resistivity survey near Cipularang Toll Road Km 92.
535615160F1D011024Konflik Politik antara Gerakan Masyarakat Panembahan Situmpur dengan Pemilik Lahan di Petilasan Situmpoa Kabupaten BanyumasPetilasan Situmpoa merupakan bangunan budaya yang keberadaannya penting di masyarakat, namun semakin terancam dengan perkembangan kota Purwokerto. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan proses konflik politik, konsensus politik dan faktor-faktor yang menjadi sumber konflik. Metode penelitian menggunakan kualitatif studi kasus, dengan pengambilan sampel secara purposive sampling dan snowball sampling. Hasil penelitian ini yaitu dinamika terjadinya konflik dan konsensus yang ada di Petilasan Situmpoa. Konflik melibatkan antara pengusaha dengan Gempur, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas. Konflik terjadi karena adanya gugatan dari pengusaha untuk membongkar Petilasan Situmpoa. Perlawanan dilakukan oleh masyarakat dalam bentuk Gerakan Masyarakat Panembahan Situmpur (Gempur) dan aksi-aksi penolakan. Pemerintah melalui Komisi D DPRD Kabupaten Banyumas dalam menangani konflik dan konsensus berperan sebagai mediator. Faktor penyebab terjadinya konflik bersumber dari tiga pihak yaitu pengusaha, Gempur dan pemerintah, yang memiliki kepentingan dalam konflik dan konsensus. Pemerintah Kabupaten Banyumas belum memiliki kebijakan peraturan dalam upaya melindungi benda budaya yang dibutuhkan oleh masyarakat sehingga menimbulkan konflik.
Konsensus yang dihasilkan oleh pengusaha dan Gempur merupakan hasil mediasi Komisi D DPRD Kabupaten Banyumas. Hasil konsensus berupa pemindahan petilasan dan kompensasi yang diberikan oleh pengusaha kepada Gempur yaitu biaya pemindahan ke lokasi yang baru. Konsensus disepakati oleh pengusaha dan Gempur berupa surat perjanjian. Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas diharapkan memiliki kebijakan berupa peraturan daerah dalam upaya melindungi benda budaya. Masyarakat Gempur perlu melakukan inventarisir benda budaya. Pengusaha diharapkan menjalin kerjasama dengan masyarakat untuk mengurangi konflik dalam melaksanakan pembangunan.
. Cemetery Situmpoa is the culture site that its existence is important for society, but it is started to be menaced with the development of Purwokerto city. The purpose of research is to describe the process of politic conflict, politic consensus and factors that become the conflict source. Method of research uses case study qualitative, by taking sample is purposive sampling and snowball sampling.Result of research, it is the dynamic of the conflict and consensus events at Cemetery Situmpoa. Conflict involves between the entrepreneur and Gempur, and Regional Government of Banyumas. Conflict happens because there is the accusation from the entrepreneur to demolish the Cemetery Situmpoa. The resistance is conducted by society in the form of Public Movement of Panembahan Situmpur (Gempur) and the resistance actions. The government through the Commission D DPRD Regency of Banyumas in handling the conflict and consensus has the role as mediator. The factor that causes the incident of conflict come from three sides that are entrepreneurs, Gempur and government who have the interest in conflict and consensus. The government of the regency of Banyumas does not possess regulation policy in order to protect of cultural sites that is needed by society so it emerges the conflict.
Consensus that has been produced by entrepreneur and Gempur is the result of mediation from Commission D DPRD Regency of Banyumas. The result of consensus is the relocation of cemetery and compensation that are given by entrepreneur for Gempur that is the cost of relocation to the new location. Consensus is agreed by entrepreneur and Gempur with the implementation of agreement letters. Regional government of the Regency of Banyumas is hopefully has the policy such as regional regulation in order to protect the cultural sites. Society of Gempur needs to do the inventory of the cultural sites. The entrepreneurs hopefully can cooperate with the society to reduce the conflict in doing the development.
535715161B1J009047KEANEKARAGAMAN KULTIVAR Mangifera indica L. (MANGGA) BERDASARKAN KARAKTER MORFOLOGI
DI PURWOKERTO
Mangga (Mangifera indica L.) merupakan salah satu spesies dari genus Mangifera dari familia Anacardiaceae yang keberadaannya cukup melimpah di Indonesia. Wilayah Jawa Barat menjadi salah satu sentra produksi beberapa kultivar unggul mangga. Kebun Percobaan Benih Cukurgondang Pasuruan telah mencatat sebanyak 242 kultivar dan menanam sebanyak 180 kultivar di kebun percobaan tersebut.
Kultivar terbaik di Jawa adalah golek, arumanis dan manalagi yang dapat diamati dari segi penampilan buah, daun, serat buah, aroma buah, waktu berbunga dan berbuahnya yaitu di dalam musim dan diluar musim mangga. Program pemuliaan tanaman sangat membutuhkan informasi tentang keanekaragaman fenetik plasma nutfah, akan tetapi masih sedikit informasi ilmiah mengenai keanekaragaman fenetik kultivar mangga di wilayah Jawa Tengah khususnya di Purwokerto. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman karakter morfologi kultivar mangga yang terdapat di Purwokerto.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak terpilih (Purposive Random Sampling) dengan variabel karakter pohon, morfologi daun, bunga, buah dan biji di 4 Kecamatan Purwokerto dan hasil data fenetik penelitian dianalisis secara deskriptif.
Hasil pengamatan dilakukan di Purwokerto, ditemukan 19 kultivar Mangifera indica L. M.yaitu M. indica L. ‘Arumanis’, M. indica L. ‘Golek’, M. indica L. ‘Gedong’, M. indica L. ‘Cengkir Merah’, M. indica L. ‘Cengkir Indramayu’, M. indica L. ‘Manalagi’, M. indica L. ‘Nam Dok Mai’, M. indica L. ‘Apel Super’, M. indica L. ‘Kelapa’, M. indica L. ‘Keong’, M. indica L. ‘Parkit’, M. indica L. ‘Budiraja’, M. indica L. ‘Pari’, M. indica L. ‘Apel Merah’, M. indica L. ‘Apel Hijau’, M. indica L. ‘Apel Bangkok’, M. indica L. ‘Endog’ dan M. indica L. ‘Santog’, M. indica ‘Sampi’.
M. indica L. yang tersebar di empat kecamatan di Purwokerto adalah Mangifera indica L. ‘Arumanis’ dan Mangifera indica L. ‘Cengkir Indramayu’. Sedangkan wilayah paling banyak dijumpai kultivar Mangifera indica L. terdapat di Kecamatan Purwokerto Timur, yaitu M. indica ‘Arumanis’, M. indica L. ‘Gedong’, M. indica L. ‘Cengkir Merah’, M. indica L. ‘Cengkir Indramayu’, M. indica L. ‘Manalagi’, M. indica L. ‘Apel Super’, M. indica L. ‘Kelapa’, M. indica L. ‘Keong’, M. indica L. ‘Parkit’, M. indica L. ‘Budiraja’, M. indica L. ‘Pari’, M. indica L. ‘Apel Merah’, M. indica L. ‘Apel Hijau’ dan M. indica L. ‘Apel Bangkok’. Kultivar yang jarang dijumpai adalah Mangifera indica L. ‘Keong’ dan Mangifera indica L. ‘Cengkir Merah’.
Mangoes (Mangifera indica L.) is one species of the Genus Mangifera in the Anacardiaceae family its existence relatively abundant such in Indonesia. The West Java area had been one of the production centre of several cultivars superior mango. ‘Kebun Percobaan Benih Cukurgondang Pasuruan’ have noted about 242 cultivars and planted cultivars 180 in their land.
The best Java cultivars are golek, arumanis and manalagi observable of appearance leaves, fruit, fiber fruit, the scent of fruit, time of flowering and fruitful that is the on season and off season mango. Plant breeding program need information about phenetic diversity germ plasm of mango, but there are still few scientific information about phenetic diversity mango’s cultivars in the Central Java especially Purwokerto city. Therefore this research aims to know the diversity of morphology’s character mango’s cultivars who where found in the Purwokerto city.
The research method was survey method. The sample collection is Purposive Random Sampling with a variable trees character, morphological leaves, flowers, fruit and seeds in four districts in Purwokerto city then results of phenetic data analyzed in descriptive method.
The result of the observation in Purwokerto city have been found 19 cultivars of mango (Mangifera indica L.), the cultivars is M. indica ‘Arumanis’, M. indica ‘Golek’, M. indica ‘Gedong’, M. indica ‘Cengkir Merah’, M. indica ‘Cengkir Indramayu’, M. indica ‘Manalagi’, M. indica ‘Nam Dok Mai’, M. indica ‘Apel Super’, M. indica ‘Kelapa’, M. indica ‘Keong’, M. indica ‘Parkit’, M. indica ‘Budiraja’, M. indica ‘Pari’, M. indica ‘Apel Merah’, M. indica ‘Apel Hijau’, M. indica ‘Apel Bangkok’, M. indica ‘Endog’ dan M. indica ‘Santog’, M. indica ‘Sampi’.
The mangoes’s spread that in four district are Mangifera indica L. ‘Arumanis’ and Mangifera indica L. ‘Cengkir Indramayu’. In the East Purwokerto is the area most often found cultivar, there are M. indica ‘Arumanis’, M. indica L. ‘Gedong’, M. indica L. ‘Cengkir Merah’, M. indica L. ‘Cengkir Indramayu’, M. indica L. ‘Manalagi’, M. indica L. ‘Apel Super’, M. indica L. ‘Kelapa’, M. indica L. ‘Keong’, M. indica L. ‘Parkit’, M. indica L. ‘Budiraja’, M. indica L. ‘Pari’, M. indica L. ‘Apel Merah’, M. indica L. ‘Apel Hijau’ dan M. indica L. ‘Apel Bangkok’. The cultivar rare are Mangifera indica L. ‘Keong’ dan Mangifera indica L. ‘Cengkir Merah’.
535815212B1J009152PREVALENSI TUNGAU AKUATIK PADA PUPA NYAMUK
Aedes sp. DI DAERAH ENDEMIS DEMAM BERDARAH
KABUPATEN BANYUMAS
Kabupaten Banyumas merupakan salah satu daerah endemis demam berdarah dengue (DBD) di Jawa Tengah. Banyaknya wilayah endemis demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Banyumas menunjukkan kemampuan nyamuk menyebar. Penyebaran nyamuk Aedes sp. dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk ketersediaan tempat bertelur dan musim. Salah satu cara menekan populasi nyamuk Aedes sp. adalah dengan menggunakan tungau parasit. Pemanfaatan tungau parasit belum banyak diketahui masyarakat.
Masalah yang sering muncul yaitu kita tidak tahu jenis tungau parasit yang menginfeksi pupa nyamuk Aedes sp. dan berapakah prevalensinya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jenis tungau parasit yang memparasiti pupa nyamuk Aedes sp. dan mengetahui prevalensinya. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pengajaran I Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman dengan metode Stratified random sampling. Tempat penelitian ditentukan berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas yaitu dari 27 Kecamatan di Kabupaten Banyumas terdapat 12 Kecamatan endemis DBD, kemudian diambil 10%, sehingga didapatkan satu Kecamatan yang paling banyak kasus demam berdarahnya yaitu Kecamatan Purwokerto Selatan. Variabel yang diamati dalam penelitian ini berupa prevalensi tungau parasit pada pupa Aedes sp. Parameter yang diamati meliputi banyaknya individu tungau parasit setiap pupa, serta parameter pendukungnya seperti pH, suhu, dan kelembaban.
Data yang diperoleh berupa banyaknya tungau parasit yang hidup bersama pupa Aedes sp., kemudian data dianalisis menggunakan rumus prevalensi. Hasil analisis prevalensi tungau parasit pada pupa nyamuk Aedes sp. Di Desa Karang Klesem menunjukan prevalensi yang sangat rendah yaitu 0,01%. Hanya ditemukan 1 individu tungau parasit yaitu familia Hydrachnidae.

District banyumas is one of the areas of dengue fever endemic ( dengue fever ) in central java endemic .many areas of dengue fever ( dengue fever ) in district banyumas demonstrating ability mosquito spread. The spread of aedes influenced by several factors , including availability of which the and season . One way to reduce aedes sp population . Is by using parasitic mites . The utilization of parasitic mites have not yet been widely known by people. Problems that often arose is we do not know varieties of mite parasitic that infects the pupa aedes sp . And how much prevalence. The purpose of this research is knowledge of the parasitic mites which infection pupa aedes sp. And he knows prevalence. This research conducted in the laboratory of biological Jenderal Soedirman University with Stratified random sampling method. The study is based on data from the district health offices banyumas from 27 districts in distric banyumas is endemic 12 district, later taken 10 %, so get one subdistrict most in order dengue fever is districs purwokerto south. Variable observed in research it will be prevalence of mites parasitic on the pupa aedes sp.Parameter observed covering many individual parasitic mites every the pupa, and parameter his supporters as ph, temperature, and moisture. The result of it is obtained prevalence 0.01 % than 100 samples were tested .


535915162D1E012139PENGARUH LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU RUANG TERHADAP KADAR ASAM LAKTAT DAN WAKTU REDUKTASE SUSU KAMBING PERANAKAN ETAWAH (CAPRA AEGAGRUS HIRCUS)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas susu kambing Peranakan Etawah ditinjau dari kadar asam laktat dan waktu reduktase, serta mengetahui hubungan antara kadar asam laktat dan waktu reduktase susu kambing Peranakan Etawah. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah penyimpanan pada suhu ruang (24o – 31o C) selama 0 sampai 12 jam dengan interval 3 jam antar penyimpanan. Peubah yang diukur adalah kadar asam laktat dan waktu reduktase susu kambing Peranakan Etawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan pada suhu ruang berpengaruh sangat nyata terhadap kadar asam laktat dan waktu reduktase susu kambing Peranakan Etawah, serta terdapat hubungan antara peningkatan kadar asam laktat dan lama waktu reduktase. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kadar asam laktat tertinggi dan waktu reduktase tercepat dihasilkan dari penyimpanan selama 12 jam pada suhu ruang, serta peningkatan kadar asam laktat diikuti dengan semakin cepatnya waktu reduktase. Penyimpanan susu kambing Peranakan Etawah yang masih layak konsumsi adalah penyimpanan selama 6 jam pada suhu ruang (24o – 31o C).
The purposes of this study are to measure quality of Peranakan Etawah Goat’s Milk in terms of its lactic acid level and reduction time, and to determine the relationship between the two. This experimental research was designed with a Completely Randomized Design with 5 treatments and 4 replications. The treatments were storing at room temperature (24o – 31o C) for 0 to 12 hours with 3 hours interval between each treatment. The parameters measured in this research were the lactic acid level and reduction time of Peranakan Etawah Goat’s milk. The result showed that storage at room temperature (24o – 31oC) significantly affected (P<0,01) the lactic acid level and reduction time. This research concludes that the highest level of lactic acid and the fastest reductacion time is produced at 12 hours storage at room temperature, and that the more lactic acid level increases the faster reduction time will be. The storage where Peranakan Etawah Goat’s milk is still worth to consume is that at 6 hours storage at room temperature (24o – 31oC).
536015163A1C111010EFISIENSI PEMASARAN USAHA KECIL MENENGAH (UKM) EMPING MELINJO (Studi kasus di Desa Tuk Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon)Desa Tuk merupakan salah satu daerah sentra penghasil emping melinjo di Kabupaten Cirebon. Jumlah perajin di Desa Tuk Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon sebanyak 61. Perajin emping melinjo memproduksi emping melinjo setiap bulannya sebesar 5.552,6 kilogram. Emping melinjo dijual oleh perajin melalui pedagang perantara yang ada di Cirebon, Majalengka dan Bandung. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi saluran pemasaran emping melinjo di Desa Tuk Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon, (2) Menganalisis besar marjin pemasaran dan farmer’s share emping melinjo pada setiap lembaga pemasaran (3) Mengetahui saluran pemasaran yang paling efisien berdasarkan efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis. Penelitian dilakukan di Desa Tuk Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon dengan sasaran perajin emping melinjo dan pedagang perantara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Pengambilan sampel perajin emping melinjo menggunakan metode Simple Random Sampling. Jumlah perajin yang menjadi responden sebanyak 25 orang dan pengambilan sampel pedagang perantara emping melinjo menggunakan metode snowball sampling diperoleh sebanyak 11 orang. Analisis data menggunakan analisis deskriptif, analisis marjin pemasaran, farmer’s share dan analisis efisiensi teknis dan ekonomis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Terdapat 3 saluran pemasaran emping melinjo di Desa Tuk Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon, (2) Marjin pemasaran emping melinjo di Desa Tuk pada setiap saluran pemasaran yaitu: Saluran pemasaran I memiliki marjin pemasaran sebesar Rp 10.991/kg, saluran pemasaran II sebesar Rp 5.183/kg, dan saluran pemasaran III sebesar Rp 7.000/kg, (3) Farmer’s share terbesar terdapat pada saluran II dengan persentase sebesar 87,48 persen. Persentase biaya terkecil terdapat pada saluran III sebesar 69,06 persen. Persentase keuntungan terbesar terdapat pada saluran pemasaran III sebesar 30,93 persen. (4) Berdasarkan nilai indeks efisiensi teknis dan indeks efisiensi ekonomis diketahui saluran pemasaran emping melinjo yang paling efisien terdapat pada saluran III, karena memiliki nilai indeks efisiensi teknis terkecil dan indeks efisiensi ekonomis terbesar.Tuk village is one of the emping melinjo central producer area in Cirebon. The number of crafter in tuk village, Kedawung District of Cirebon Regency are 61 persons. Emping melinjo crafter producer 5.552,6 kilogram of melinjo every month. Emping melinjo is sold by, crafter to the middlemen in Cirebon, Majalengka and Bandung. The purpose of the study are to: (1) Identify the marketing channels of emping melinjo in Tuk village, Kedawung District of Cirebon Regency. (2) Analyze the large marketing margin of emping melinjo farmer’s share in any marketing agencies and (3) Determine the most efficient marketing channels based on technical efficiency and economical efficiency. The study was conducted in Tuk village, Kedawung District of Cirebon Regency of targeted research farmers and middlemen. The method used was a survey design, and sampling of emping melinjo farmers use a Simple Random Sampling. The number of crafter who responded to as many as 25 people and sampling emping melinjo middlemen obtained using Snowball Sampling as many as 11 people. Data were analyzed by descriptive analysis, marketing marjin, farmer’s share, and technical-economic efficiency analysis. The result showed that: (1) there are 3 marketing channel of emping melinjo in Tuk village, Kedawung District of Cirebon Regency, (2) Emping melinjo’s marketing marjin in Tuk village in each channel are: Rp 10.991/kg at channel I, Rp 5.183/kg at channel II, and Rp 7.000/kg at channel III, (3) the 2nd marketing channel has 87,48 percent o armer’s share as the greatest one. The smallest price in channel III is 69,06 percent. The greatest marketing profit was channel III is 30,93 percent, (4) Based on the value of the index of technical efficiency and economic efficiency, the most efficient marketing channels for emping melinjo are on the third line because it has the smallest technical efficiency index and the biggest economical efficiency index.