Artikelilmiahs

Menampilkan 5.361-5.380 dari 48.836 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
536115164H1A012050SINTESIS SELULOSA ASETAT DARI NIRA KELAPA DENGAN PENAMBAHAN MONOSODIUM GLUTAMATE (MSG) UNTUK DESALINASI LARUTAN GARAMDesalinasi adalah pengolahan suatu larutan garam menjadi larutan tawar. Salah satu teknologi yang saat ini sedang marak digunakan untuk proses desalinasi adalah teknologi membran. Penelitian ini menggunakan membran selulosa asetat dari nira kelapa sebagai bahan baku. Untuk meningkatkan kinerja membran, pada proses pembuatannya ditambahkan MSG sebagai aditif. Karakterisasi membran meliputi fluks dan rejeksi. Proses desalinasi menggunakan metode filtrasi pada tekanan sebesar 3 kg/cm2 dengan aliran dead-end. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membran nata de nira tanpa penambahan aditif memiliki nilai fluks air sebesar 18,29 L/m2.jam, fluks larutan garam sebesar 9,99 L/m2.jam dengan nilai rejeksi sebesar 25%. Sedangkan membran nata de nira dengan penambahan MSG memiliki nilai fluks air sebesar 19,75 L/m2.jam, fluks larutan garam sebesar 12,68 L/m2.jam dengan nilai rejeksi 30,36%. Berdasarkan nilai fluks dan rejeksi penambahan aditif mampu meningkatkan kinerja membran.Desalination is the processing of removing salt to become a plain water. One of the technology that is currently used for desalination is membrane technology. This research used a cellulose acetate membrane from coconut flower water as a raw material. The manufacturing process is added MSG as an additive to improve the performance of the membrane. Characterization of the membrane were flux and rejection determining. Desalination process using a dead-end filtration method at a pressure of 3 kg/cm2. The results showed that the cellulose acetate membrane without additive has water flux value of 18.29 L/m2.hour, salt solution flux was 9.99 L/m2.hour with rejection value of 25%. While cellulose acetate membrane with the addition of MSG has a water flux value of 19.75 L/m2.hour, salt solution flux of 12.68 L/m2.hour with rejection value of 30,36%. Based on the value of the flux and rejection, addition of additives could improve the performance of the membrane.
536215176A1L012076Pertumbuhan Buncis (Phaseolus vulgaris L.) pada Beberapa Media Tanam dan Interval Pemberian AB-mix dalam Sistem HidroponikPenelitian ini bertujuan untuk 1) menentukan media tanam yang paling baik untuk pertumbuhan tanaman buncis secara hidroponik 2) menentukan interval pemberian AB-mix paling baik untuk pertumbuhan tanaman buncis secara hidroponik 3) mengetahui kombinasi media tanam dan interval pemberian AB-mix untuk pertumbuhan tanaman buncis hidroponik. Penelitian ini dilaksanakan di dalam screen kebun percobaan fakultas pertanian UNSOED, desa karangwangkal kecamatan purwokerto utara, pada bulan Januari sampai Maret 2016. Penelitian menggunakan RAKL (Rancangan Acak Kelompok Lengkap) dengan 12 perlakuan dan 3 kali ulangan. Faktor yang pertama dicoba adalah jenis media tanam yang terdiri dari: media cocopeat, media arang sekam, dan media campuran (cocopeat+arang sekam). Faktor yang kedua yaitu interval pemberian AB-mix 1 hari, 2 hari, 4 hari dan 6 hari. Data dianalisis dengan uji F, apabila berbeda nyata diuji lanjut dengan DMRT pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) Media tanam cocopeat memberikan nilai tertinggi pada variabel pertumbuhan panjang tanaman (198,89 cm) dan jumlah cabang (10 cabang). Media campuran memberikan nilai tertinggi pada variabel pertumbuhan jumlah bunga (139 bunga), bobot tajuk segar (146,24 g), bobot tajuk kering (24,58 g), panjang akar (58,8 cm), bobot akar segar (49,01 g) dan akar kering (8,95 g). 2) Interval pemberian AB-Mix 1 hari sekali memberikan hasil yang baik pada pertumbuhan bobot tajuk kering (24,63 g) dan jumlah bunga (156 bunga) dan pemberian interval 2 hari memberikan pertumbuhan yang baik terhadap bobot tajuk segar (147,49 g). 3) interaksi perlakuan media tanam dan interval pemberian AB-mix tidak menunjukan perbedaan yang nyata pada semua variabel.This research is aimed to 1) determine the best media to growing bean with hydroponic method 2) to determine the best interval of giving AB-max to growing bean with hydroponic method 3) to determine the best combination of growing media and interval of giving AB-mix to growing bean with hydroponics method. This research is done in screen house of agriculture faculty UNSOED, karangwangkal north purwokerto, on january until march 2016. This research used RAKL (Randomized Complete Block Design) with 12 treatment and 3 replication. The first factor wich is tested in this research is the types of media that consist of: cocopeat media, husk media, and mixed media ( cocopeat + husk). The second factor is the interval of giving AB-mix wich is on 1 day, 2 days, 4 days, and 6 days. The data is analyzed using F test wich is continued use DMRT test with standar error 5 %. The result of this research showed that Cocopeat media growing media provide the highest value the variable long corp (198.89 cm) and the number of brunches (10 branch). Mixed media provides the highest value growth variables the number of flowers (139 flowers), the weight of fresh crown (146.24 g ), the weight of dry crown (24.58 g) , root length (58.8 cm), the weight of fresh (49 , 01 g) and the weight of dry root (8.95 g). The interval of giving AB-mix 1 day provide the highest value the variable weight of fresh crown (24.63 g) and number of flowers (156 flowers) and interval of giving AB-mix 2 days provide the highest value weight of dry crown (147.49 g). 3) the interaction between both treatment ae not showing a real differences in all variable.
536315165B1J012205HUBUNGAN KONSENTRASI NUTRIEN TERLARUT (NITRAT DAN ORTOFOSFAT) DENGAN KELIMPAHAN Chlorophyta DI PERAIRAN WADUK PENJALIN KABUPATEN BREBES
Chlorophyta merupakan salah satu divisi dari fitoplankton yang banyak ditemukan di perairan tawar dan berperan sebagai produsen primer. Nitrat dan ortofosfat merupakan faktor pembatas bagi kehidupan fitoplankton. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui konsentrasi nitrat dan ortofosfat di perirairan waduk Penjalin Kabupaten Brebes, mengetahui kelimpahan, keanekaragaman dan dominansi Chlorophyta di perairan Waduk Penjalin Kabupaten Brebes dan mengetahui hubungan antara konsentrasi nitrat dan ortofosfat dengan kelimpahan Chlorophyta di perairan Waduk Penjalin Kabupaten Brebes. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode survai. Pengambilan sampel pada 6 stasiun berdasarkan rona lingkungan. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali dengan interval waktu 4 minggu. Kelimpahan Chlorophyta dihitung dengan metode volumetri, keanekaragaman plankton dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman Shannor-Wienner, sedangkan dominansi menggunakan indeks dominansi Simpson. Hubungan konsentrasi nitrat dan ortofosfat dengan kelimpahan Chlorophyta dianalisa menggunakan analisis korelasi regresi. Hasil pengukuran konsentrasi nitrat berkisar antara 0,348 mg/l - 0,568 mg/l dan ortofosfat berkisar antara 0,006 mg/l - 0,075 mg/l. Kelimpahan Chlorophyta yang didapatkan berkisar antara 2.418 - 6.955 ind/l dengan spesies yang paling melimpah adalah Tetraedron minimum dengan nilai indeks keanekaragaman (H′) berkisar antara 2,08-2,75 dan nilai indeks dominansi (C) berkisar antara 0,08 - 0,21. Korelasi hubungan konsentasi nitrat dan ortofosfat adalah kuat dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,797 dan koefisien determinasi sebesar 0,635 (63,50%), serta persaman regresi Y= 42,14 + 145 Nitrat + 1.280 Ortofosfat.Chlorophyta is one of phytoplankton division which can see in fresh waters and it serves as a primary producer. Nitrate and orthophosphate is limiting factor in phytoplankton living. The purpose of research is to know how much nitrate concentration and orthophosphate in waters at Penjalin Reservoir, Brebes District, to know how much abundance, diversity, and domination of Chlorophyta in waters at Penjalin Reservoir, Brebes District, to know association between nitrate concentration and orthophosphate with abundance of Chlorophyta in waters at Penjalin Reservoir, Brebes District. The Research had been doing with survey method. The collection of sample had been doing by purposive sampling at 6 station based on hue environment. The collection of sample had been doing about 3 section with time interval about 4 weeks. The Abundance of Chlorophyta was counted with volumetry Method. Diversity of Plankton was analyzed with Shannon-Wienner Diversity Index, then the domination used Simpson Domination Index. Association between Nitrate concentration and orthophosphate with abundance of Chlorophyta had been analyzed with regression and correlation. The result measuring of nitrate concentration is generally between 0,348 mg/l - 0,568 mg/l and Orthophosphate are generally between 0,006 mg/l - 0,075 mg/l. Abundance of Chlorophyta which used generally between 2.418 - 6.955 ind/l with the most diversity of species is Tetraedron minimum when the diversity of indeks value (H′) about 2,08-2,75 and domination of index value (D) about 0,08 - 0,21. Correlation of association between nitrate concentrate and Orthophosphate are strong with coefficient of correlation (r) is 0,797 and coefficient of determination is 0,635 (63,50%), and regression equation Y= 42,14 + 145 Nitrat + 1.280 Ortofosfat.
536415226D1E012107PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) DALAM RANSUM TERHADAP JUMLAH ERITROSIT DAN LEUKOSIT ITIK TEGAL JANTANABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun sirsak (Annona muricata L.) dalam ransum terhadap jumlah eritrosit dan leukosit itik Tegal jantan. Materi penelitian ini menggunakan 60 ekor itik Tegal jantan berumur 50 hari. Ransum Basal yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari campuran jagung kuning giling 38,2%, dedak padi 30,0%, PMM 17,0%, SBM 7,0%, minyak 6,1%, lisin 0,1%, metionin 0,3%, topmix 0,2%, NaCl 0,1%, dan CaCo3 1%. Metode penelitian adalah eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diujicobakan yaitu S0 (Pakan kontrol, tanpa penambahan tepung daun sirsak), S1 (Penambahan 5% tepung daun sirsak per kg pakan, S2 (Penambahan 10% tepung daun sirsak per kg pakan), dan S3 (Penambahan 15% tepung daun sirsak per kg pakan). Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah jumlah eritrosit dan leukosit. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan uji Orthogonal Polinomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rataan jumlah eritrosit itik Tegal jantan berkisar antara 3,20 ± 0,62 106/µl sampai dengan 3,40 ± 0,22 106/µl dan rataan jumlah leukosit antara 8680 ± 1804 sel/µl sampai dengan 10320 ± 1980 sel/µl. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penambahan tepung daun sirsak tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap jumlah leukosit maupun eritrosit itik Tegal jantan. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa jumlah eritrosit dan leukosit itik Tegal jantan yang ransumnya diberi tambahan tepung daun sirsak masih berada dalam kisaran normal. Jumlah eritrosit dan leukosit tertinggi terjadi pada taraf penambahan tepung daun sirsak 10%, sedangkan taraf penambahan 15% tepung daun sirsak justru menurunkan jumlah eritrosit dan leukosit itik Tegal jantan.
The purpose of this study is to observe the effects of soursop (Annona muricata L.) leaf meal suplementation in the diet on the total counts of erytrocyte and leukocyte of male Tegal duck. The research materials were 60 male Tegal ducks at the age of 50 days. The diet consisted of a mixture of 38.2% ground yellow corn, 30.0% rice bran, 17.0% PMM, 7.0% SBM, 6.1% oil, 0.1% lisin, 0.3% metionin, 0.2% topmix, 0.1% NaCl, and 1% CaCo3. This experimental research used Completely Randomized Design (CRD) method with 4 treatments and 5 replications. The treatments tested were S0 (Positif control feed, without soursop leaf meal suplementation), S1 (with 5% suplementation per kg of feed), S2 (10% suplementation per kg of feed), and S3 (15% suplementation per kg of feed). The observed variables were the total counts of erytrocyte and leukocyte of the ducks. The results showed that the average level of blood erythrocytes of the ducks ranged from 3.20 ± 0.62 to 3.40 ± 0.22 106/µl and that of leukocyte were from 8680 ± 1804 to 10320 ± 1980 cell/µl. The results of analysis of variance showed that the suplementation did not significantly affect (P>0.05) the total counts of erytrocyte and leukocyte. Therefore, it can be concluded that the total counts of erytrocytes and leukocytes of male Tegal duck whose diet is supplemented with soursop leaf meal are still in the normal range. The highest level of total erytrocytes and leukocytes counts is at the addition of 10% soursop leaf meal, while at the 15% addition lowers the number of erythrocytes and leukocytes instead.
536515169B1J012131ANALISIS VEGETASI TUMBUHAN BAWAH PADA HUTAN RAKYAT BERBASIS PINUS DI DESA SERANG KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAHBerbagai macam komponen hutan tidak hanya terbatas pada jenis tumbuhan berkayu, namun juga ditumbuhi oleh tumbuhan bawah yang memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi. Setiap tumbuhan bawah mempunyai kemampuan yang berbeda untuk beradaptasi terhadap kondisi lingkungan tempat tumbuhnya. Perbedaan geografis seperti perbedaan ketinggian tempat di atas permukaan laut akan menimbulkan perbedaan cuaca dan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan komposisi jenis tumbuhan bawah serta kesamaan jenis tumbuhan bawah antar ketinggian tempat. Lokasi penelitian bertempat di desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan teknik pengambilan sampel menggunakan petak kuadrat. Data hasil penelitian akan dianalisis menggunakan Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keragaman Shannon-Wienner (H'), Indeks kesamaan Sorensen (IS), Indeks evenness (e), dan analisis varian. Hasil penelitian menunjukan ketinggian tempat berpengaruh sangat nyata terhadap struktur dan komposisi tumbuhan bawah. Kesamaan komunitas pada vegetasi tumbuhan bawah antar ketinggian tempat tergolong rendah atau berbeda.Components of the forests were not just limited to the woody plant species, but also overgrown by understorey which have high species diversity. Every understorey has a different ability to adapt to the environmental conditions in which it grows. Geographic differences such as differences in altitude above sea level will lead to differences in weather and climate. This aims of the research were to study the structure and composition of understorey and similarity of understorey an altitude above sea level. This research was conducted in Serang village Purbalingga district, Central Java. Survey method with quadrate plot technique was used for collecting data. Data were analyzed using the Community Equity Index (e’), Important Value Index, and Sorenson Similarity Index, and varian analysis betwen elevation above sea level. The result showed that the altitude effect was significant on the structure and composition understorey. The similarity of the understorey vegetation communities under an altitude is low or different
536615166B1J012163AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL MISELIUM AKTINOMISETES K-2C DAN K-4B TERHADAP Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus PADA WAKTU INKUBASI YANG BERBEDAAktinomisetes merupakan bakteri Gram positif yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan bakteri lainnya. Bakteri ini memiliki karakteristik morfologi seperti jamur. Sebagian besar aktinomisetesdapat diisolasi dari lingkungan terrestrial dan diketahui memiliki kemampuan dalam memproduksi metabolit sekunder. Aktinomisetes juga banyak ditemui di lingkungan perairan, terutama ekosistem mangrovesehingga perlu dikaji terutama dalam menghasilkan metabolit sekunder. Bakteri patogen selalu mengalami resistensi terutama terhadap senyawa antibakteri. Produksi metabolit sekunder dilakukan dengan menumbuhkan isolate aktinomisetes pada medium padat, kemudian dilakukan fermentasi pada medium cair. Selanjutnya dilakukan ekstraksi senyawa antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan optimum senyawa antibakteri intraseluler dari isolat aktinomisetes K-2C dan K-4B terhadap bakteri patogen E. coli dan S. aureus serta mengetahui hubungan antara lamanya waktu inkubasi dengan senyawa antibakteri yang dihasilkan oleh aktinomisetes isolat K-2C dan K-4B untuk menghambat bakteri patogen E. coli dan S. aureus.
Hasil penelitian pada tahap pertama yaitu uji penghambatan senyawa intraseluler terhadap bakteri E. coli dan S. aureus dari isolat K-2C dan K-4B menghasilkan diameter zona hambat berturut-turut sebesar 7,67 mm dan 8,3 mm pada perlakuan A1I4. Sedangkan Isolat K-4B menghasilkan diameter zona hambat berturut-turut sebesar 7 mm dan 8,2 mm pada perlakuan A2I3. Waktu inkubasi optimum pada isolate K-2C adalah 28 hari, sedangkan K-4B adalah 21 hari.Tahap kedua yaitu uji penghambatan ekstrak etanol K-2C dan K-4B terhadap bakteri E. coli dan S. aureus dengan metode Kirby-Bauer. Pengujian ekstrak etanol K-2C dan K-4B terhadap E. coli didapatkan diameter zona hambat berturut-turut pada perlakuan B1K6 dan B2K6 sebesar 7 mm. Sedangkan untuk pengujian ekstrak etanol K-2C dan K-4B terhadap S. aureus didapatkan diameter zona hambat pada perlakuan B1K6 dan B2K6. Nilai zona hambat tertinggi terdapat pada konsentrasi ekstrak etanol sebesar 10.000 ppm. Pengujian ekstrak etanol juga dapat dilakukan dengan metode minimum inhibitory concentration (MIC). Pemisahan senyawa dilakukan dengan meode Kromatografi lapis tipis (KLT). Nilai Rf ekstrak isolat K-2C fraksi 1 adalah 0,5 sedangkan fraksi 2 adalah 0,725. ekstrak etanol isolat K-4B nilai Rf fraksi pertama adalah 0,475 sedangkan fraksi 2 adalah 0,725.
Actinomycetes are Gram-positive bacteria that is unique compared to other bacteria. These bacteria have the morphological characteristics such as fungi. Most actinomycetes can be isolated from the terrestrial environment and are known to have the ability to produce secondary metabolites. Actinomycetes are also commonly found in the environment, especially the mangrove ecosystem that needs to be studied mainly in producing secondary metabolites. Pathogenic bacteria have always experienced resistance especially against antibacterial compounds. The production of secondary metabolites is done by growing isolate actinomycetes in a solid medium, then fermented in a liquid medium. Further extraction of antibacterial compounds. This study aims to determine the optimum capability intracellular antibacterial compounds from actinomycetes isolates K-2C and K-4B against pathogenic bacteria E. coli and S. aureus as well as determine the relationship between the length of time incubation with antibacterial compounds produced by actinomycetes isolates of K-2C and K -4B to inhibit pathogenic bacteria E. coli and S. aureus.
The results of the research in the first phase that is testing the inhibition of intracellular compounds against E. coli and S. aureus isolate K-2C and K-4B produce inhibition zone width, respectively for 7.67 mm and 8.3 mm in A1I4 treatment. While Isolate K-4B produce inhibition zone width of a row of 7 mm and 8.2 mm in A2I3 treatment. The optimum incubation time in isolate of K-2C is 28 days, while the K-4B is 21 days. The second stage is a test of inhibition of ethanol extract K-2C and K-4B against the bacteria E. coli and S. aureus with Kirby-Bauer method. Testing ethanol extract K-2C and K-4B against E. coli obtained inhibition zone width in a row on the treatment B1K6 and B2K6 by 7 mm. As for testing the ethanol extract K-2C and K-4B against S. aureus obtained inhibition in the treatment zone width and B2K6 and B1K6. Value is highest inhibitory zone at a concentration of 10,000 ppm ethanol extract. Testing of ethanol extract can also be done by the method of minimum inhibitory concentration (MIC). Meode compound separation is done by thin layer chromatography (TLC) Rf value in the ethanol extract of the isolate K-2C fraction of 1 is 0.5, while fractions 2 is 0.725. The ethanol extract isolate K-4B Rf values obtained in fraction 1 is 0.475, while for the second fraction is 0.725.
536715167F1G012019Tindak Tutur dan Pola Informasi dalam Naskah Drama RT Nol RW Nol Karya Iwan Simatupang (Pendekatan Pragmatik)Penelitian yang berjudul “Tindak Tutur dan Pola Informasi dalam Naskah Drama RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang (Pendekatan Pragmatik)” bertujuan untuk menjelaskan tindak tutur pragmatik dan mendeskripsikan pola informasi pragmatik yang muncul dari tindak tutur pada naskah drama RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah data wacana naratif yang berupa naskah drama. Data yang digunakan adalah tuturan-tuturan para tokoh di dalam naskah drama yang mengandung tindak tutur. Pada tahap penyediaan data, digunakan metode simak dengan teknik dasar sadap dan teknik lanjutannya catat. Pada tahap analisis data, digunakan metode padan pragmatis. Teknik dasar yang digunakan untuk menganalisis data adalah teknik pilah unsur penentu (PUP) dengan teknik lanjutan daya pilah reaksi dan keterdengaran. Pada tahap akhir atau tahap penyajian data, digunakan metode informal.

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dalam naskah drama RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang ini terdapat 186 jenis tindak tutur pragmatik. Tindak tutur pragmatik itu meliputi tindak tutur literal langsung, tindak tutur tidak literal langsung, tindak tutur literal tidak langsung, dan tindak tutur tidak literal tidak langsung. Tindak tutur literal langsung pada naskah drama RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang berjumlah 138. Jenis tindak tutur literal tidak langsung berjumlah 29 tindak tutur. Jenis tindak tutur tidak literal langsung berjumlah 15 tindak tutur, sedangkan jenis tindak tutur tidak literal tidak langsung hanya berjumlah 4.

Dalam naskah drama RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang ini terdapat proposisi-proposisi yang digunakan untuk menggambarkan pola informasi. Proposisi yang paling banyak muncul adalah D dan F sebanyak 4 kali. Proposisi A dan C merupakan proposisi yang dimunculkan sebanyak 3 kali dalam keseluruhan adegan. Proposisi B muncul sebanyak 2 kali. Proposisi E, G, dan H masing-masing hanya muncul 1 kali. Berdasarkan kemunculan proposisi itu, pola informasi dalam naskah drama RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang adalah vertikal.
This study entitled “Speech Act and Information Pattern in RT Nol RW Nol’s drama script by Iwan Simatupang (A Pragmatics Analysis)” is to describe pragmatics speech act and information pattern that appear in RT Nol RW Nol by Iwan Simatupang.
The type of this research is a qualitative descriptive. The data sources were taken from narrative discourse in the form of drama script. They included the dialogues betweeen characters that contained speech act. The data were collected by a close observation through recording and note-taking. In analyzing the data, the data were analyzed by pragmatic identity method. The techniques used in this research were basic techniques including dividing key factors technique (PUP) and comprehensive technique with pragmatics competence. In the final step, the informal method is used for the data display.

Based on the analysis in drama script RT Nol RW Nol by Iwan Simatupang, there were 186 pragmatics speech acts. They included direct literal speech act, direct nonliteral speech act, indirect literal speech act, and indirect nonliteral speech act. The amount of data for each speech act was 138 data for the direct literal speech acts, 29 data for the indirect literal speech acts, 15 data for the direct nonliteral speech acts, and 4 data for indirect nonliteral speech act.

In addition, there were propositions in the drama script RT Nol RW Nol that described information pattern. Proposition D and F appeared the most for 4 times in the script while proposition A and C appeared thrice. Proposition B appeared twice and proposition E, G, and H just appeared once in the script. In conclusion based on propositions appeared in the script, the information pattern in RT Nol RW Nol was vertical.
536815168A1H011065Uji Kinerja Sistem Irigasi Sprinkler (Model: Butterfly Rotary, Tipe: Ms318a) Pada Lahan Tumpangsari Kentang Atlantik Dan Teh Dengan Variasi Jenis MulsaSistem Irigasi Sprinkler Model Butterfly Rotary (SMBR) Tipe MS318A merupakan paket teknologi irigasi sederhana dan ekonomis yang dewasa ini banyak dikenal dan digunakan oleh para petani dataran tinggi tropis untuk mengairi tanaman sayuran termasuk kentang pada musim kemarau. Namun, kinerja Sistem Irigasi tersebut terutama terkait dengan keefektifan suplai/debit air dan penjadwalan irigasinya belum secara mendalam diketahui dan dipublikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menguji kinerja Sistem Irigasi SMBR Tipe MS318A melalui identifikasi suplai/debit, sebaran, keseragaman, dan laju aplikasi air curah yang dikeluarkan, serta (2) memperoleh kapasitas dan penjadwalannya yang optimum pada lahan tumpangsari kentang atlantik dan teh dengan variasi jenis mulsa. Penelitian berlokasi di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Propinsi Jawa Tengah, dan pengamatan lapang dilakukan selama 3 bulan terhitung sejak bulan Mei - Agustus 2015. Sebanyak 6 demplot tumpangsari kentang atlantik dan teh (3,5 m x 3,5 m) disiapkan masing-masing untuk perlakuan Mulsa Plastik (MP), Mulsa Jerami (MJ), dan Tanpa Mulsa (TM), dan Sistem Irigasi SMBR-Tipe MS318A dengan tinggi nozel 2 m dipasang pada demplot-demplot tersebut. Sekitar 20 gelas penampung air diletakan di sekeliling Sistem Irigasi tersebut secara simetris mencakup arah utara, selatan, timur, dan barat dengan interval jarak 0,5 m. Sistem Irigasi SMBR Tipe MS318A dioperasikan selama 2-3 jam, kemudian beberapa variable kinerja antara lain: suplai/debit, sebaran, keseragaman, dan laju aplikasi air curah diukur dan dihitung berdasarkan air yang tertampung setiap 30 menit. Kapasitas dan interval penjadwalan ditentukan melalui analisis korelasi antara variable-variabel di atas dengan data kadar air tanah dan kebutuhan air tanaman pada masing-masing demplot, serta hasilnya ditampilkan secara grafis. SMBR-Tipe MS318A menghasilkan kinerja optimum dengan suplai/debit air 0,66 liter/detik, sebaran air curah 5 m, koefisien keseragaman 94,03% dengan laju aplikasi 27,154 mm/jam. Kapasitas irigasi sebesar 274,60 mm dengan interval penjadwalan 4 hari sekali tercapai secara optimum pada demplot tumpangsari dengan perlakuan Mulsa Jerami (MJ).Sprinkler Irrigation System of Butterfly Rotary Model (SMBR) and MS318 Type is a simple and economically-cheap irrigation package, which is currently becoming well-known and applied by farmers in tropical high agricultural areas to irrigate vegetables crops including potato in dry season. However, the performances of the irrigation system especially those related to the affectivity of the water supply/debit and scheduling have been comprehensively unknown and published yet. This research was aimed: (1) to evaluate the performances of [S-MBR-MS318A Type] Irrigation System through identification on supply/debit, distribution, uniformity, and application rate of the outputted sprinkled water; and (2) to obtain the optimum capacity and scheduling for the application on the potato-tea intercropping plots with various mulching. The experiment was located in Pandansari village, Paguyangan district, Brebes regency, Central Java province, and the field monitoring was conducted during 3 months started from May to August 2015. Totally 6 potato-tea intercropping plots (3,5 m x 3,5 m each) were prepared for various treatments of Plastic (MP), Rice-Straw (MJ), and No-Mulch (TM), and the [S-MBR-MS318A Type] Irrigation System was installed in the plots with nozzle height of 2 m. About 30 collecting glasses were symmetrically placed in surrounding the Irrigation System covering fourth (north, south, east, and west) directions with distance interval of 0,5 m. The Irrigation System was then operated for about 2-3 hours, and several performance variables (supply/debit, distribution, uniformity, and application rate) were measured and calculated from the collected sprinkled water of every 30 minutes monitoring. The capacity and scheduling interval were determined by confirming the measured variables to the soil wetness and crop water requirements of each plot, and the results was presented graphically. The [S-MBR-MS318A Type] Irrigation System produced the optimum performances with supply/water debit of 0,66 L/sec., sprinkled water distribution up to 5 m, and uniformity coefficient of 94,03% with application rate of 27,154 mm/hour. The capacity of 274,60 mm with scheduling interval of 4 days was optimally achieved on the intercropping plot with Rice-Straw Mulch (MJ) treatment.
536915170B1J012183STRUKTUR DAN VEGETASI TUMBUHAN BAWAH PADA TEGAKAN JATI DAN TEGAKAN PINUS DI RPH KALIRAJUT, KPH BANYUMAS TIMURPerbedaan tajuk yang terbentuk pada tegakan pohon utama akan menciptakan iklim mikro yang berbeda untuk ekosistemnya. Perbedaan iklim mikro tersebut akan berpengaruh terhadap pembentukan struktur dan komposisi vegetasi tumbuhan bawah. Penelitian ini telah dilakukan di RPH Kalirajut, KPH Banyumas Timur dengan menggunakan dua tegakan yang berbeda, yaitu tegakan jati dan tegakan pinus yang pada umumnya memiliki luas tajuk berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan komposisi jenis tumbuhan bawah pada tegakan jati dan tegakan pinus serta untuk mengetahui kesamaan jenis tumbuhan bawah pada tegakan jati dan tegakan pinus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan pengambilan sampel menggunakan petak kuadrat secara sistematis. Data yang diperoleh dianalisis dengan menghitung indeks nilai penting (INP), indeks keanekaragaman (H’), indeks kesamaan komunitas (IS), dan indeks kemerataan jenis (e). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pada tegakan jati terdapat 26 jenis tumbuhan bawah dengan jenis yang dominan diantaranya adalah Digitaria ciliaris (42,12%), Driopteris filix-mas (22,80%), dan Homalomena occulta (20,23%). Pada tegakan pinus terdapat 39 jenis tumbuhan bawah dengan jenis dominan diantaranya adalah Ottochloa nodusa (34,34%), Driopteris filix-max (13,49%), dan Imperata cylindrica (12,15%). Komunitas tumbuhan bawah pada tegakan jati dan tegakan pinus tergolong berbeda, dengan nilai indeks kesamaan komunitas sebesar 34,17%. Keanekaragaman tumbuhan bawah pada tegakan jati tergolong rendah dengan nilai 0,997 dan pada tegakan pinus tergolong sedang dengan nilai 1,225. Indeks kemerataan pada kedua tegakan tergolong tinggi dengan nilai 0,7045 untuk jati dan 0,7679 untuk pinus.The difference crown that form of the main standing trees will create microclimate which in contrast to its ecosystem. The difference of that ecosystem will give a effect for the formation of the structure and composition undergrowth plant vegetation. This research already attractions in RPH Kalirajut, KPH East Banyumas with two different stands, that is teak stand and pine stand which in general have different crown wide. The purpose of this research is for know structure and composition of undergrowth plant kind of teak stand and pine stand, and to know the silimarity of undergrowth plant of teak stand and pine stand. The method which use in this research is survey method with swath squares sampling in systematic. The data which obtained is analyzed with calculate the important index value (INP), diversity index (H’), similar community index (IS), and kind evenness inex (e). This research result is show of teak stand there is 26 kind of undergrowth plant with dominant kind is Digitaria ciliaris (42,12%), Driopteris filix-mas (22,80%), and Homalomena occulta (20,23%). Pine kind have 39 kind of undergrowth plant with dominant kind is Ottochloa nodusa (34,34%), Driopteris filix-mas (13,49%), and Imperata cylindrica (12,15%). The undergrowth plant community of teak stand and pine stand is classified differently with similarity index value (IS) of 34,17%. The diversity of undergrowth plant of teak stands relatively low with value at 0,997 and on pine stand is moderate clasaified with a value of 1,225. Evenness index on stands is highly classified with 0,7045 value for teak and 0,7679 value for pine.
537015172D1E012146HUBUNGAN ANTARA UKURAN LINIER TUBUH DENGAN BOBOT BADAN DAN BOBOT KARKAS SAPI BRAHMAN CROSS DI RPH KUNINGAN JAWA BARATPenelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui ukuran linier tubuh (lebar pantat, lebar dada dan dalam dada) sapi Brahman Cross serta ukuran bobot badan dan bobot karkasnya dan 2) mempelajari hubungan antara kedua ukuran tersebut. Materi penelitian yang digunakan adalah 50 ekor ternak sapi Brahman Cross jantan umur 2-4 tahun. Variabel yang diukur adalah lebar pantat (x1), lebar dada (x2) dan dalam dada (x3), bobot badan (y1) dan bobot karkas (y2). Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan data menggunakan purposive sampling. Data yang terkumpul disajikan dalam bentuk tabel deskriptif kemudian dianalisa menggunakan analisis korelasi dan regregi berganda. Hasilnya menunjukan bahwa rataan untuk lebar pantat adalah 37,44±3,339cm, lebar dada 34,36±2,870cm, dalam dada 71,72±7,34cm, bobot badan 438,10±20,043kg, dan bobot karkas 218,14±13,930kg. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa lebar dada berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot badan, lebar pantat dan dalam dada tidak berpengaruh nyata (P>0,05), sedangkan dalam dada berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot karkas, lebar pantat dan lebar dada tidak berpengaruh nyata (P>0,05) dengan persamaan regresi dan koefisien determinasi masing-masing secara berturut-turut yaitu Y1= 326,195 + 3,257 X2 dengan koefisien determinasi (r2) 0,217 dan Y2=93,52+ 1,7376 X3 dengan koefisien determinasi (r2) = 0,235. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa lebar dada memiliki korelasi positif dengan bobot badan dan dalam dada memiliki korelasi positif dengan bobot karkas sapi Brahman Cross.
Kata kunci: bobot badan, bobot karkas, sapi Brahman Cross
The purpose of this research are to determine the linear sizes of body, i.e. the rump width, chest width, and chest depth; and the weight of body and carcass of Brahman Cross, and to study the relationship between them. The research material was 50 Brahman Cross bulls at the age of 2 to 4 years old. The variables measured were the width of rump, width of chest, depth of chest, weight of body, and weight of carcass. The research method was a survey with purposive sampling approach to collect the data. The collected data was presented in a descriptive table and analyzed with correlation and multiple regression. The results showed that quantitative characteristics of Brahman Cross bulls were as follow; the width of rump was 37.44 ± 3.339cm, width of chest was 34.36 ± 2.870cm, depth of chest was 71.72 ± 7.34cm, weight of body was 438.10 ± 20.043kg, and the weight of carcass was 218.14 ± 13.930kg. The ANOVA showed that the width of chest significantly affected (P<0.05) the weight of body, whereas the width of rump and the depth of chest did not significantly affect (P>0.05). The depth of chest significantly affected (P<0.05) the weight of carcass, while the width of rump and chest did not significantly affect (P>0.05) the weight of carcass with regression equations and coefficient determinations respectively, Y1= 326,195 + 3,257 X2 with a coefficient determination (r2) 0,217 and Y2= 93,52 + 1,7376 X3 with coefficients determination (r2) 0,235. Based on the analysis it can be concluded that the width of chest has a positive correlation with the weight of body, while the depth of chest has a positive correlation with the weight of carcass of Brahman Cross.

537115171B1J012071PRODUKSI INOKULUM MIKORIZA VESIKULA ARBUSKULA MENGGUNAKAN Pueraria javanica dan Allium cepa PADA MEDIA ZEOLIT DAN PASIR
Mikoriza vesikula arbuskula (MVA) merupakan bentuk simbiosis mutualistik antara cendawan tertentu dengan akar tanaman tingkat tinggi. Pemanfaatan MVA semakin mengalami peningkatan terutama dalam pertumbuhan dan produksi tanaman pertanian sehingga perbanyakan inokulum MVA perlu dilakukan. Produksi inokulum MVA membutuhkan tanaman inang dan media yang sesuai. Pueraria javanica dan Allium cepa merupakan tanaman inang yang sesuai dengan kriteria untuk memproduksi inokulum MVA. Medium tanam merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Media tanam dengan tekstur kasar dan unsur hara yang rendah, serta memiliki kapasitas tukar kation tinggi seperti zeolit dan pasir sangat baik digunakan untuk produksi inokulum MVA.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui interaksi antara jenis tanaman inang dan media tanam zeolit dan pasir dengan komposisi berbeda terhadap produksi inokulum MVA, mengetahui interaksi terbaik antara jenis tanaman inang dengan media tanam zeolit dan pasir untuk produksi inokulum MVA. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Parameter yang diamati meliputi derajat infeksi dan jumlah spora. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis Ragam pada tingkat kesalahan 1% dan 5%, perlakuan yang berpengaruh nyata atau sangat nyata dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) dan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada tingkat kesalahan 5%.
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara jenis tanaman inang dan jenis media tanam dengan komposisi berbeda terhadap produksi inokulum MVA sehingga tidak menghasilkan interaksi terbaik antara keduanya.
Vesicular Arbuscular Mycorrhiza (VAM) is one form of mutualistic symbiosis between fungi and higher plants roots. Utilization of VAM has increased especially in the growth and production of plants so that the multiplication of the inoculum needed. The suitable host plants and plant growth medium are required in production of VAM inoculum. P. javanica and A. Cepa is the suitable criteria for host plant in production of VAM inoculum. Growth medium are external factors that affect plant growth. Growth medium to coarse, low nutrient and has a high cation exchange capacity as zeolite and sand is very well used for the production of VAM inoculum.
A research aimed to find out the interaction effect between plant growth medium i.e. zolite and sand with different composition and plant host i.e. P. javanica and A. cepa to the production of VAM and to find out the best interaction between the plant host and the plant growth medium to the production of VAM. This research used an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) in a factorial pattern with two factors. The first factor was the plant growth medium consisted of 5 levels i.e. 100% zeolite, the composition of 75% zeolit + 25% sand, 50% zeolite + 50% sand, 25% zeolite + 75% sand and 100% sand, while the second factor was the plant growth i.e. P. javanica and A. cepa. Furthermore, each treatment was replicated 3 times. Parameters were the number of spore and the percentage of root infection of VAM. Data were analyzed using analysis of Variance at the error rate of 1% and 5%, if the treatment effect is significant or highly significant continued with Duncan Multiple Range Test and Honestly Significant Difference (HSD) at the taraf of 5%.
Results showed that there were no interaction effect between host plants and medium composition to the inoculum production of VAM and there were no the best interaction of them.
537215173D1E012111PENGUJIAN KECERNAAN PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR DEDAK PADI DARI BERBAGAI VARIETAS PADI SECARA IN VITROPenelitian ini bertujuan untuk mengukur kecernaan protein kasar dan serat kasar dedak dari berbagai varietas padi secara in vitro. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 4 Januari sampai dengan 28 Febuari 2016 di Laboratorium Ilmu Nutrisi Makanan Ternak, dan Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperimen dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dan empat kali ulangan. Peubah yang diukur adalah kecernaan protein kasar dan kecernaan serat kasar. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi. Hasil penelitian menunjukan bahwa rataan kecernaan protein kasar yang tertinggi yaitu dedak padi varietas Pandanwangi (R2) yaitu 48,56 ± 4,08 %, diikuti oleh dedak padi varietas IR 64 (R1) sebesar 45,16 ± 5,86 %, dedak padi ketan putih varietas Lusi (R4) 43,94 ± 3,70 %, dedak padi merah varietas Aek Sibundong (R3) 37,80 ± 0,62 %, dan yang terendah yaitu dedak padi ketan hitam varietas Setail (R5) 28,33 ± 3,19 %. Uji Beda Nyata Jujur menunjukkan kecernaan protein dedak padi ketan hitam varietas Setail (R5) berbeda nyata (P<0,05) dengan dedak padi varietas lainnya (R1, R2, R3, dan R4). Kecernaan protein dedak padi varietas Pandanwangi (R2) berbeda nyata (P<0,05) dengan dedak padi merah dan dedak padi ketan hitam (R3 dan R5) tetapi tidak berbeda nyata dengan dedak padi varietas IR 64 dan dedak padi ketan putih (R1 dan R4). Rataan kecernaan serat kasar tertinggi yaitu pada dedak padi merah varietas Aek Sibundong (R3) sebesar 34,09 ± 3,68 %, diikuti oleh dedak padi ketan hitam varietas Setail (R5) 33,91 ± 1,73 %, dedak padi varietas Pandanwangi (R2) 23,64 ± 2,34 %, dedak padi varietas IR 64 (R1) 22,85 ± 1,04 %, dan terendah yaitu dedak padi ketan putih varietas Lusi (R4) 12,53 ± 1,90 %. Uji lanjut Beda Nyata Jujur menunjukkan kecernaan serat kasar yaitu dedak padi ketan putih varietas Lusi (R4) berbeda nyata (P<0,05) dengan varietas lainnya (R1, R2, R3, dan R5). Dedak padi merah varietas Aek Sibundong (R3) tidak berbeda (P>0,05) dengan dedak padi ketan hitam varietas Setail (R5). Kesimpulan dari penelitian menyatakan bahwa deda dari varietas berbeda menunjukkan kecernaan protein kasar dan serat kasar yang berbeda. Dedak dari varietas padi Pandanwangi memiliki kecernaan protein kasar tertinggi, dan dedak dari varietas padi beras merah memiliki kecernaan serat kasar tertinggi. Dedak padi varietas Pandanwangi mempunyai kecernaan protein tertinggi yaitu 48,53 ± 4,08%, dan kecernaan serat kasar tertinggi adalah dedak padi merah varietas Aek Sibundong sebesar 34,09 ± 3,68%.The purpose of this study was to assess the digestibility of crude protein and crude fiber of rice bran from different rice varieties. Conducted from 4th of January until 28th February 2016 at the Laboratory of Animal Nutrition and Feed Science, and Laboratory of Animal Feed Stuffs Science, Faculty of Animal Science, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto, this experimental research was arranged in a Completely Randomized Design with 5 treatments and 4 replicates. If the difference of the varieties was significant then it was tested using Honestly Significant Difference test (HSD). The parameters were digestibility of crude protein and crude fiber. The results showed that the varieties of rice had significant effects on the digestibility of crude protein and crude fiber. The highest mean of crude protein digestibility belonged to the rice bran of Pandanwangi (R2) 48.56 ± 4.08, followed by that of IR 64 (R1) 45.16 ± 5.86, glutinous rice of Lusi (R4) 43.94 ± 3.70, and red rice of Aek Sibundong (R3) 37.80 ± 0.62. While the lowest one belonged to glutinous rice of Setail (R5) 28.33 ± 3.19. The Honesty Significant Difference test showed that rice bran of glutinous rice of Setail (R5) was significantly (P<0.05) different from the other rice bran (R1, R2, R3, and R4). The digestibility of crude protein of rice bran Pandanwangi (R2) significantly (P<0.05) differed to those of Aek Sibundong and Setail (R3 dan R5) but not significantly differed to those of IR 64 and Lusi (R1 dan R4). The highest mean digestibility of crude fiber belonged to rice bran of red rice of Aek Sibundong (R3) 34.09 ± 3.68%, followed by that of glutinous rice of Setail (R5) 33.91 ± 1.73%, Pandanwangi (R2) 23.64 ± 2.34%, and IR 64 (R1) 22.85 ± 1.04%. While the lowest one belonged to that of Lusi (R4) 12.53 ± 1.90%. The Honesty Significant Difference test showed that rice bran of glutinous rice variety of Lusi (R4) was significantly (P<0.05) different from the other varieties (R1, R2, R3, dan R5). Rice bran of red rice variety of Aek Sibundong (R3) was not significantly different from that of glutinous rice of Setail (R5). This study concludes that the varieties of rice have different crude protein and crude fiber digestibilities. The highest digestibility of crude protein belongs to rice bran of Pandanwangi, which is 48.53 ± 4.08%, and the highest digestibility of crude fiber belongs to that of Aek Sibundong, which is 34.09 ± 3.68%.
537315179B1J012177Akurasi Uji Diagnostik Wuchereria bancrofti pada Terduga Penderita Filariasis di Daerah Endemis Desa Karang Inda, Kabupaten Sumba Barat DayaFilariasis limfatik atau kaki gajah merupakan suatu penyakit infektif yang menyerang sistem limfa dan disebabkan oleh cacing filaria. Cacing filaria penyebab filariasis limfatik yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan B. timori. Hampir seluruh Indonesia merupakan daerah endemis filariasis limfatik. Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan salah satu daerah endemis filariasis limfatik dengan prevalensi 1,16%. Desa Karang Inda adalah desa yang diketahui memiliki kasus kronis filariasis limfatik, namun belum dilaksanakan program pengobatan massal. Prevalensi di desa ini juga belum diketahui nilainya sehingga diperlukan adanya survei untuk mengetahui nilai mikrofilaria (mf rate).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infeksi filariasis limfatik dengan metode mikroskopik, mengetahui prevalensi infeksi filariasis limfatik dengan metode deteksi antigen ICT, serta mengetahui sensitivitas dan spesifisitas ICT dalam uji diagnostik filariasis limfatik secara mikroskopik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah observasi analitik dengan studi seran lintang (cross-sectional).
Hasil pemeriksaan menunjukkan prevalensi infeksi filariasis limfatik secara mikroskopik dan ICT yaitu 3,36% dan 3,47%. Sensitifitas dan spesifisitas ICT terhitung tinggi yaitu 90% dan 94,96%.
Lymphatic filariasis (LF), known as elephantiasis, is a mosquito-borne parasitic disease caused by the nematode parasites such as Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, and Brugia timori. One among the endemic areas in Indonesia is Southwest Sumba district which its prevalence of 1,16%. Of this district, the Karang Inda village has a characteristic of chronic filariasis, but unfortunately it has never been being chosen for implementation of mass drug administration (MDA) yet. This might probably due to the rate of filariasis in this area is still unknown. Determination of microfilaria rate in this area then became prerequisite to be done.
This research was aimed to determine lymphatic filariasis infection prevalence by applying microscopic method, determine lymphatic filariasis infection prevalence applying antigen detection of Immunochromatographic Test (ICT), and determine sensitivity and specificity of ICT in microscopic examination of lymphatic filariasis diagnostic test. This research was applying analytical observation and cross sectional study as its design.
The data showed the infection lymphatic filariasis prevalence by microscopic and ICT was 3,36% and 3.47%, respectively. The difference of these prevalence is caused by mix infection between W. bancrofti and B. timori in this village. Sensitivity and specificity of ICT comparatively high, they are 90% and 94,96%.
537415193B1J011145KERAGAMAN MORFOLOGI DUKU LOKAL {Lansium parasiticum (Osbeck) K.C. Sahni & Bannet}
DI KABUPATEN PURBALINGGA
Duku {Lansium parasiticum (Osbeck) K. C. Sahni & Bannet} salah satu tanaman buah tropis. Masa hidup tanaman duku dapat mencapai puluhan bahkan ratusan tahun. Salah satu kota yang menjadi sentra duku terkenal di Pulau Jawa adalah Purbalingga. Penelitian ini bertujuan untuk: 1). Mengetahui keragaman morfologi tanaman duku diPurbalingga.2).Mengetahui hubungan kemiripan kultivar tanaman duku di Purbalingga. Metode pengambilan sample yang digunakan adalah secara acak terpilih (Purposive random sampling) dengan pengambilan sampel pada desa-desa yang merupakan sentra duku di Purbalingga. Variabel yang diamati adalah karakter morfologi tumbuhan dengan parameter meliputi: tinggi pohon, morfologi batang, daun, bunga, buah dan biji. Hasil identifikasi morfologi yang diperoleh selanjutnya akan dianalisis dengan Ntsys (Numerical Taxonomy and Multivariate Analysis System). Hasil penelitian menunjukan bahwa tanaman duku di Kabupaten Purbalingga memiliki keragaman karakter morfologi yang berbeda di tiap desanya. Tanaman duku di Kabupaten Purbalingga memiliki hubungan kemiripan yang pada tiap klade dipersatukan beberapa karakter morfologi yang sama.Duku {Lansium parasiticum (Osbeck) k. c. Sahni & Bannet} is one of tropical fruit trees which can grow for hundred of years. One of area became the center of the famous Java duku is Purbalingga. This research is aimed at: 1) Knowing the diversity of morphological characteristies in Purbalingga. 2) Cultivars Similarity relationship of duku in Purbalingga. The sampling method is purposive random samplingincluding the villages in Purbalingga. The observed variables are morphological characters with parameters include: tree height, stem, leaves, flowers, fruits, and seeds. The results of morphological observation obtained will then be analyzed withNTSys (Numerical Taxonomy and Multivariate Analysis System).The results showed that duku of Purbalingga have morphological diversity which are different in each village. The plant in Purbalingga duku had the lie keness of each klade are united by the same few characters.
537515174H1L011004RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PENGELOLAAN ADMINISTRASI USAHA CUCI MOBIL DAN KAFE (STUDI KASUS KAR GLOSS PURWOKERTO)

Kar Gloss Purwokerto merupakan perusahaan yang bergerak pada usaha cuci mobil yang mempunyai fasilitas cuci mobil dan kafe. Pengelolaan administrasi pada fasilitas cuci mobil dan kafe di Kar Gloss Purwokerto menggunakan aplikasi berbasis dekstop maupun pengelolaan secara manual menggunakan buku. Selain itu penggunaan aplikasi ini memiliki beberapa kekurangan yaitu pengelolaan pada fasilitas cuci mobil yang belum terhubung dengan kafe. Untuk mengatasi masalah tersebut dibangun pengembangan sistem informasi pengelolaan administrasi usaha cuci mobil dan kafe berbasis web. Sistem ini dibangun menggunakan metode waterfall, menggunakan play framework yang menerapkan pemrograman berbasis objek dengan bahasa pemrograman Java. Pengguna pada sistem ini terdiri dari pramuniaga, pramusaji, koki, kasir, manajer, dan pemilik. Dengan adanya sistem ini, pengelolaan administrasi cuci mobil terhubung dengan kafe, dapat diakses dimana saja dan digunakan pada perangkat komunikasi manapun dengan memanfaatkan jaringan internet sebagai server sehingga memudahkan pengguna sistem ini dalam mengelola data cuci mobil dan kafe Kar Gloss Purwokerto.Kar Gloss Purwokerto is carwash business which has cafe and car wash facilities. Administration of cafe and car wash facilities in Kar Gloss Purwokerto has been using desktop application and manually by book. Moreover the use of the application has some deficiencies which is the car wash facility has not connected with cafe yet. To overcome the problems, it is built web based administrative information system of car wash and cafe. The system built by waterfall method that use play framework which applies object oriented programming with java programming language. The users of system are clerk, waitress, chef, cashier, manager and owner. By having the system, administration car wash could be connected with cafe and accessible anywhere and can be used by any communication device through internet network as server to ease the users in managing car wash data and cafe of Kar Gloss Purwokerto.
537615177A1H011079ANALISIS KESETIMBANGAN AIR PADA LAHAN PADI METODE SRI (System Rice of Intensification) DI DESA PIASA KULON KECAMATAN SOMAGEDE KABUPATEN BANYUMAS Neraca air merupakan komponen penting untuk mengetahui ketersediaan dan kebutuhan air selama masa tanam. Namun, neraca air pada setiap tempat berbeda dilihat dari kondisi iklim dan juga keadaan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) menghitung analisis kesetimbangan air pada lahan padi metode SRI di Desa Piasa Kulon, serta (2) mengetahui konsumsi dan produktifitas air tanaman selama satu musim di lahan sawah Desa Piasa Kulon. Penelitian ini berlokasi di Desa Piasa Kulon, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Propinsi Jawa Tengah, dan pengamatan yang dilakukan selama 4 bulan terhitung sejak Mei – September 2015. Sebanyak 3 petak lahan yang diteliti dengan luas lahan petak 1 seluas 471,512 m2, petak 2 seluas 708,71 m2 dan petak 3 seluas 69,114 m2. Kondisi iklim daerah penelitian diukur dengan menggunakkan stasiun cuaca mini Decagon Device, besarnya irigasi dan drainase diukur menggunakan V-Notch. Perhitungan ETo dihitung menggunakan software CROPWAT dan dikalikan dengan kc tanaman untuk menghasilkan ETc, nilai perkolasi dan rembesan merupakan nilai residual dari persamaan neraca air lahan, serta perubahan simpanan air (∆S) dihitung menggunakkan sensor kadar air yang ditanam pada lahan. Besarnya nilai input dan output pada neraca air ditentukan melalui analisis korelasi antara variabel-variabel tersebut dan hasilnya ditampilkan secara grafis. Irigasi tertinggi yang diberikan mencapai 97,9 mm/hari, 44,58 mm/hari dan 21,37 mm/hari pada petak 1, 2 dan 3. Drainae tertinggi sebesar 30,09 mm/hari pada petak 1, 102,46 mm/hari pada petak 2 dan 3,02 mm/hari pada petak 3. Rata-rata evapotranspirasi atau konsumsi air didapatkan antara 5-7,5 mm/hari, serta nilai perkolasi dan rembesan tertinggi mencapai 61,93 mm/hari dengan batas nilai perkolasi sebesar 4,8 mm/hari. Produktivitas air tanaman pada petak 1 sebesar 0,20 kg/m3 air, petak 2 sebesar 2,52 kg/m3 air dan petak 3 sebesar 0,85 kg/m3 air.Water balance is an important component to determine the supply and demand of water during the growing season. However, the water balance in each place is different seen from climatic conditions and also land condition. This study aims to: (1) calculate the water balance analysis on SRI method of paddy fields in the village of Piasa Kulon, and (2) determine water consumption and productivity of plants during one season in paddy fields Desa Piasa Kulon. This research is located in the village of Piasa Kulon, District Somagede, Banyumas, Central Java Province, and observations made during the four months, starting from May to September, 2015. A total of 3 plots studied with land plot measuring 471,512 m2, covering an area of 708,71 m2 plots 2 and 3 plot area of 69,11 m2. The climatic conditions of the study area was measured by using a mini weather station decagon device, the amount of irrigation and drainage were measured using a measuring V-Notch. Calculation of ETo calculated using software CROPWAT and multiplied by crop coefficient (kc) to produce ETc, the value of percolation and seepage is a residual value of soil water balance equation, as well as changes in water storage (ΔS) was calculated using the sensor water levels are planted on land. The value of the inputs and outputs on the water balance is determined through an analysis of the correlation between these variables and the results are displayed graphically. Irrigation given the highest reaches 97,9 mm/day, 44,58 mm/day and 21,37 mm/day on plots 1, 2 and 3. The average evapotranspiration or water consumption obtained between 5-7,5 mm/day, as well as the highest value of percolation and seepage reaching 61,93 mm/day with a limit value of the percolation rate of 4,8 mm/day. Crop water productivity at plot 1 of 0,20 kg / m3 of water, 2 plots of 2,52 kg/m3 of water and 3 plots of 0,85 kg/m3 of water.
537715180A1L012185APLIKASI METABOLIT SEKUNDER DUA ISOLAT Pseudomonas fluorescens SECARA TUNGGAL DAN GABUNGAN UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA PISANG MAS LEPAS PANENPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metabolit sekunder dua isolat P. fluorescens dalam menghambat pertumbuhan Colletotrichum musae in vitro, dalam mengendalikan penyakit antraknosa in vivo, dan mengetahui pengaruhnya terhadap mutu buah pisang lepas panen. Pada uji in vitro digunakan Rancangan Acak Lengkap, sedangkan pada uji in vivo menggunakan Rancangan Acak Kelompok, masing-masing diulang sebanyak enam kali. Perlakuan terdiri atas kontrol, metabolit sekunder P. fluorescens P60, metabolit sekunder P. fluorescens P32, serta gabungan P. fluorescens P60+P. fluorescens P32. Variabel yang diamati yaitu daya hambat, masa inkubasi, intensitas penyakit, luas serangan, tingkat kekerasan, kadar gula, serta uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan metabolit sekunder P. fluorescens P60 mampu menghambat pertumbuhan C. musae sebesar 54%, dan perlakuan gabungan metabolit sekunder P. fluorescens P60+ P. fluorescens P32 sebesar 56%. Pada uji in-vivo perlakuan gabungan metabolit sekunder P. fluorescens P60+ P. fluorescens P32 mampu menekan intensitas penyakit antraknosa sebesar 33,44%, dan metabolit sekunder P. fluorescens P60 secara tunggal sebesar 33,39%. Semua perlakuan metabolit sekunder P. fluorescens mampu menekan luas serangan (metabolit sekunder P. fluorescens P60 sebesar dan 26,15%, metabolit sekunder P. fluorescens P32 sebesar 14,20%, dan gabungan metabolit sekunder P. fluorescens P60+ P. fluorescens P32 sebesar 28,32%). Perlakuan metabolit sekunder P. fluorescens P60 dan gabungan metabolit sekunder P. fluorescens P60+P. fluorescens P32 memengaruhi mutu pada kadar gula dan warna buah pisang, namun semua perlakuan tidak memengaruhi kekerasan dan faktor organoleptis.This research aimed to know secondary metabolites effect of two Pseudomonas fluorescens isolates in inhibiting Colletotrichum musae growth in vitro, in controlling anthracnose in vivo, and on quality of postharvest banana. Completely randomized Design was used in in vitro test, while Randomized Block Design was used in in vivo test, each repeated six times. The treatments were control, secondary metabolite of P. fluorescens P60, secondary metabolite of P. fluorescens P32, and the secondary metabolite combination of P. fluorescens P60+P. fluorescens P32. Variables observed were inhibition zone, incubation periode, inhibition level, disease intensity, attack area, soften level, sugar content, and organoleptic test. The research result indicated that secondary metabolite of P. fluorescens P60 and the combination were able to inhibit the pathogen growth in vitro as 54 and 56%, respectively. In in vivo test, the secondary metabolite of P. fluorescens P60 and the combination could inhibit disease intensity as 34.44 and 46.06%, respectively. All secondary metabolites of P. fluorescens could inhibit attact area as 28.3, 26.15, and 14,20%, respectively and increase fruit quality in sugar content and colour of banana fruit, but all treatments did not influence harderness and organoleptic factor.
537815181B1J011043KEEFEKTIFAN BAKTERI ENDOFIT DAN PENAMBAHAN INDOLE ACETIC ACID (IAA) DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN PADI (ORYZA SATIVA L.)Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi tanaman padi (Oryza sativa L.) adalah dengan cara intensifikasi. Ketersediaan unsur hara esensial maupun non esensial sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan padi. Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dapat mengganggu kehidupan mikroba tanah yang sebenarnya berpengaruh positif terhadap ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Banyak usaha yang dilakukan untuk mencari alternatif pupuk yang ramah lingkungan, yakni dengan memanfaatkan penggunaan mikroorganisme, salah satunya dengan memanfaatkan bakteri endofit. Bakteri endofit merupakan mikroorganisme yang berasosiasi dengan jaringan atau sel tanaman tingkat tinggi dan tidak memberikan kerugian bagi tanaman tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inokulasi bakteri endofit, konsentrasi IAA, dan kombinasi bakteri endofit dengan konsentrasi IAA terhadap peningkatan pertumbuhan padi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Tanah, Balai Penelitian Tanah Cimanggu, Bogor pada bulan Desember 2015 hingga Februari 2016. Rancangan yang digunakan dalam uji in-planta adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor, yaitu inokulan bakteri endofit (KT 2.2, KR 6, dan I CM) dan konsentrasi IAA (0, 0.01, 0.1, 0.5, dan 1 ppm). Inokulan bakteri dikombinasi dengan dosis IAA berbeda, masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Tanaman padi yang diuji adalah varietas Inpari 13 dan IR 64. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, panjang akar, berat tanaman total, dan berat akar.
Hasil uji potensial menunjukkan bakteri dengan potensial terbanyak dan terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman padi adalah KT 2.2, KR 6, dan I CM. Hasil penelitian in-planta menunjukkan perlakuan inokulasi bakteri endofit tidak berpengaruh meningkatkan pertumbuhan tanaman padi varietas IR 64 maupun Inpari 13. Perlakuan penambahan IAA konsentrasi 0,1 ppm mampu meningkatkan tinggi tanaman dan panjang akar padi varietas IR 64 maupun Inpari 13. Kombinasi perlakuan bakteri KR 6 + IAA 1 ppm efektif meningkatkan pertumbuhan tanaman padi varietas IR 64 maupun Inpari 13.
One attempt to increasing rice plant production (Oryza sativa L.) is through intensification. The availability of essential nutrients and non essential is needed for growing rice. However, chemical fertilizers may affect to soil microbes which should positively affects the availability of nutrients both plants and microbes that can control several types of diseases. Many efforts were made to find alternative environmentally friendly fertilizer, namely by exploiting the use of microorganisms, one of them by utilizing endophytic bacteria. Endophytic bacteria are microorganisms associated with tissue or high level plant cell and does not provide for that crop losses. Aims of this research were to know the effect of endophytic bacteria, concentration of IAA, and combination of endophytic bacteria with a concentration of IAA on the rice plant growth. Research conducted at the Laboratory of Soil Biology, Soil Research Institute Cimanggu, Bogor in December 2015 to February 2016. The design used in the in-planta test is completely randomized design (CRD) with two factors, they are endophytic bacteria inoculant (2.2 KT, KR 6 and I CM) and the IAA concentration (0, 0:01, 0.1, 0.5, and 1 ppm). Inoculant bacteria combined with different doses of IAA, each treatment was repeated three times. Rice plants tested were Inpari 13 and IR 64. Parameters observed were plant height, root length, total plant weight and root weight. Results of the potential test show the highest and the best potential bacteria to improve growth of the rice plant was 2.2 KT, KR 6, and I CM. The results showed endophytic bacteria inoculation treatment had no effect to increase growth both IR 64 and Inpari 13 rice plant. IAA 0,1 ppm concentration addition treatment was able to increase plant height and root length both IR 64 rice plant and Inpari 13. Combination treatment of bacterial KR 6 + 1 ppm IAA effectively promote plant growth both IR 64 rice plant and Inpari 13.
537915155B1J012006Perancangan Primer dan Amplifikasi Gen Penyandi Enzim 3-ketoacyl-CoA synthase yang Terlibat dalam Biosintesis Asam Eruka pada Tanaman KecipirKecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) (DC.) memiliki kandungan lemak rata-rata yang cukup tinggi pada bijinya. Komponen tertinggi pada lemak kecipir adalah asam lemak tak jenuh rantai tunggal seperti asam eruka (C22:1). Asam eruka telah diketahui memiliki berbagai potensi aplikasi dalam berbagai industri oleochemical. Salah satu enzim yang terlibat dalam biosintesis asam eruka adalah enzim 3-ketoacyl-CoA synthase (KCS). Enzim ini berfungsi sebagai enzim pengkondensasi acyl-CoA menjadi 3-ketoacyl-CoA pada tahap awal biosintesis. Informasi mengenai gen penyandi enzim KCS yang terlibat dalam biosintesis asam eruka pada kecipir sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk: merancang primer degenerate gen penyandi enzim KCS yang terlibat dalam biosintesis asam eruka pada kecipir dan untuk melakukan amplifikasi fragmen DNA gen penyandi enzim tersebut dengan teknik PCR. Hasil penelitian menghasilkan sepasang primer degenerate dengan primer forward yaitu 5'-ATNTTCAACCCGACDCCDTC-3' dan primer reverse yaitu 5'-GAGCTTCACCTCCAACATYS-3'. Amplifikasi PCR menghasilkan amplikon dengan ukuran 404 bp dan 301 bp yang diduga merupakan fragmen gen penyandi enzim KCS yang terlibat dalam biosintesisasam eruka pada kecipirWinged bean (Psophocarpus tetragonolobus (L.) (DC.) contains a moderate to high fat content in its seeds. The highest fat content in this crop is monounsaturated fatty acid called as erucic acid (C22:1). Erucic acid has already been known to have many potentials in various oleochemical industries. One among those enzyme involve in erucic acid biosynthesis pathway is 3-ketoacyl-CoA synthase (KCS) enzyme. This enzyme is functions to condense acyl-CoA to 3-ketoacyl-CoA at the beginning of biosynthesis pathway. Information about encoding genes of the KCS enzyme involve in erucic acid biosynthesis pathway becomes a prerequisite. This research was aimed to: designing degenerate primers for KCS enzyme gene encoding in erucic acid biosynthesis in winged bean, and to amplify DNA fragment of particular gene encoding KCS enzyme following the PCR technique. The results showed that the paired degenerated primer with forward primer 5’-ATNTTCAACCCGACDCCDTC-3’ and reverse primer 5’-GAGCTTCACCTCCAACATYS-3’. PCR amplification resulted in amplicons of 404 bp and 301 bp which are predicted as putative fragments of the KCS enzyme encoding genes involves in the erucic acid biosynthesis in winged bean
538015182A1L010212EVALUASI TOLERANSI GALUR-GALUR F7 TERHADAP KEKERINGAN DALAM RANGKA PERAKITAN PADI GOGO GENJAH BERDAYA HASIL TINGGIPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cekaman kekeringan terhadap variabel pertumbuhan dan hasil galur-galur F7, mengetahui tingkat ketahanan galur-galur F7 yang ditanam pada kondisi cekaman kekeringan, mendapatkan galur-galur harapan yang tahan cekaman kekeringan untuk pembentukan varietas unggul padi gogo berumur genjah dan berdaya hasil tinggi. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto pada tanggal 7 Desember 2013 sampai 17 Juni 2014. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) berpola faktorial yang terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama terdiri atas tujuh galur hasil persilangan padi varietas silugonggo dan G39 yaitu G50-3-1-2, G50-4-3-2, G69-2-4-4, G50-1-2-3, G50-5-3-2, G50-3-3-2, G50-2-4-4 dan dua varietas pembanding Inpago Unsoed 1 dan IR64. Faktor kedua adalah cekaman kekeringan yang terdiri atas penyiraman dua hari sekali, penyiraman empat hari sekali, dan penyiraman enam hari sekali. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, panjang akar, volume akar, bobot kering akar, jumlah anakan per rumpun, jumlah anakan produktif per rumpun, umur berbunga, bobot gabah per rumpun, jumlah total gabah per rumpun, jumlah gabah isi per rumpun, dan persentase gabah isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cekaman kekeringan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil padi gogo. Berdasarkan nilai relatif, galur yang tahan pada cekaman kekeringan adalah G50-4-3-2, G69-2-4-4 dan galur G50-1-2-3. Berdasarkan ketahanan terhadap cekaman kekeringan, pertumbuhan dan hasil, galur harapan yang didapat untuk seleksi berikutnya adalah G50-4-3-2, G69-2-4-4, dan G50-1-2-3.This study was aimed at determining the effect of drought stress on growth and yield variables of upland rice lines F7., to determine the tolerance levels of F7 lines grown under drought stress conditions., to obtain promising rice lines which are tolerance to drought stress in order to obtain the development of early-maturing and high-yielding upland rice varieties. The research was conducted in the greenhouse of the Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman Purwokerto from December, 2013 to June, 2014. The research metode was employed the Randomized Complete Block Design (RCBD) in a factorial pattern consisting of two factors. The first factor was composed of seven rice lines obtained from the crosses of rice varieties of Silugonggo and G39 consisting of G50-3-1-2, G50-4-3-2, G69-2-4-4, G50-1-2-3, G50-5- 3-2, G50-3-3-2, G50-2-4-4 and two rice varieties of Inpago Unsoed 1 and IR64. The second factor was the drought stress consists of watering two, four, and six per day respectively. Variables observed included plant height, root length, root volume, root dry weight, number of tillers, number of productive tillers, days to flowering, grain weight per panicle, number of total grains per panicle, number of filled grains per panicle, percentage of filled grains. The results showed that drought stress treatment had a significant effect on all observed variables. Based on relative values, drought-tolerant rice lines where G50-4-3-2, G69-2-4-4, and G50-1-2-3. Based on the resilience of drought stress, flowering, growth, and yield, the potential lines for further selection included G50-4-3-2, G69-2-4-4, and G50-1-2-3.