Artikelilmiahs

Menampilkan 5.281-5.300 dari 48.829 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
528115075F1J012004TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM BAHASA IKLAN PRODUK MAKANAN DI JEPANG Penelitian ini adalah penelitian lingustik yang mendeskripsikan tentang jenis dan fungsi tindak tutur ilokusi. Sumber data yang digunakan adalah iklan televisi di Jepang. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini meliputi: 1) jenis-jenis ilokusi yang muncul dalam bahasa iklan produk makanan di Jepang, 2) fungsi ilokusi yang terdapat dalam bahasa iklan produk makanan di Jepang. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak dan catat. Penelitian ini menggunakan teori tindak tutur Austin dan Searle. Hasil penelitian, ditemukan 32 data tindak tutur ilokusi. Searle mengklasifikasikan tindak tutur ilokusi menjadi 5 jenis. Dari 32 data terdapat 12 data jenis tindak tutur ilokusi asertif dengan fungsi menyatakan, mengeluh dan mengemukakan pendapat, 7 data jenis tindak tutur ilokusi direktif dengan fungsi memerintah, meminta dan mengajak, 6 data jenis tindak tutur ilokusi komisif dengan fungsi menjanjikan dan menawarkan, 6 data jenis tindak tutur ilokusi ekspresif dengan fungsi mengucapkan terima kasih dan memuji, serta 1 data jenis tindak tutur ilokusi deklarasi dengan fungsi menamakan. Kesimpulannya adalah di dalam iklan tindak tutur ilokusi yang paling banyak ditemukan adalah tindak tutur ilokusi asertif, dikarenakan iklan bertujuan untuk menginformasikan suatu produk. Terdapat 21 data tindak tutur ilokusi yang berisi pengenalan produk, terdiri atas 9 asertif, 6 direktif, 3 komisif, 2 ekspresif, 1 deklarasi.This research is a linguistic research with describe about the types and functions of illocutionary acts. The data use the television commercial in Japan. The issues of this research are: 1) The types of illocutionary acts of food products television commercial in Japan. 2) Illocutionary functions of food products commercial in Japan. This research is a qualitative research. The data collection technique use gather and record technique. This research use the speech act theory of Austin and Searle. The results showed that there were 32 data of illocutionary acts. Searle classified illocutionary act into 5 types. From 32 data, author found 12 assertive data with statating, assert, complain and express opinion functions, 7 directives data with commanding, requesting and inviting function, 6 commissive data with promising and offers functions, 6 expressive data with a function to thank and praise and 1 declaration data with naming function. The conclusion is the most commonly found of illocutionary acts is assertive illocutionary, because the purpose of television commercials is to inform a product. There are 21 data of illocutionary acts that contain product, consist of 9 assertive, 6 directive, 3 commisive, 2 expressive, and 1 declaration.
528215076F1J012008Analisis Implikatur Pada Original Soundtrack (Ost) Anime Vampire KnightPenelitian ini menjelaskan mengenai makna kontekstual dan implikatur. Data yang digunakan berupa lirik lagu yang terdapat dalam original soundtrack (ost) Anime Vampire Knight. Lirik pada lagu menyimpan makna yang hendak disampaikan oleh pencipta lagu tersebut kepada pendengar. Lirik tersebut banyak menggunakan kata kiasan dan simbol untuk menggambarkan perasaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan makna kontekstual dan implikatur konvensional yang terdapat pada lirik lagu Ost Anime Vampire Knight. Penelitian ini menggunakan teori makna kontekstual dan pragmatik yang lebih fokus pada implikatur. Penelitian kualitatif ini menggunakan teknik simak dan teknik catat. Lagu pada data merupakan lagu dengan tema cinta dengan perasaan yang berbeda, yaitu kesedihan, pencarian, keraguan, dan penantian yang disampaikan melalui kata kiasan. Untuk mengetahui implikatur konvensional dibutuhkan penanda, salah satunya kata sambung, setsuzokuzhi dalam bahasa Jepang. Dalam penelitian ini penulis menemukan kata lain yang dapat digunakan sebagai penanda implikatur konvensional yaitu partikel mo. Dalam lirik lagu Ost Anime Vampire Knight memiliki lima penanda implikatur konvensional yaitu demo (1), keredo(1), soredemo (1), soshite (1), dan partikel mo (6). Kesimpulannya adalah dalam lirik lagu tersebut penanda implikatur konvensional yang paling banyak ditemukan adalah partikel mo. Keenam partikel mo tersebut memiliki cara penggunaan yang berbeda. Lagu Mavie (2) menggunakannya pada akhir kalimat, lagu Mioko (4) menggunakannya di tengah kalimatThis research describe the contextual meaning and implicatures. The data use song lyrics of original soundtrack (ost) Anime Vampire Knight. Song lyrics has many meaning that the song writer want to tell the listener. The lyrics use so many symbol and speech figure for expressing feelings. The purposes of this research are to describe the contextual meaning and conventional implicature in original soundtrack (ost) Anime Vampire Knight. This research use contextual meaning theory and pragmatics theory that focusing on implicatures. This qualitative research is using the gather and record technique. The songs in the data is love songs with different feeling of love, that are sad, finding, doubt, and waiting that express with figure speech. For knowing the conventional implicature the markers is neded, one if these is Conjunction or setsuzokushi in Japanese. In this research author found another word of conventional implicatures mark, that is particle mo. There are five marks of conventional implicature in original soundtrack (ost) Anime Vampire Knight, those are demo (1), keredo (1), soredemo (1), soshite(1), and particle mo (6). The conclusion is the most commonly found of conventional implicature mark is particle mo. Those particle mo have different usage. Mavie’s song (2) use it inte end of sentence, Mioko’s song (4) use it in the end of sentence.
528328542F1D014003Relasi Aktor dalam Pengelolaan Objek Wisata di Desa Pandak Kecamatan Baturraden Kabupaten BanyumasStudi ini membahas tentang relasi aktor dalam pengelolaan objek wisata. Lebih khususnya, studi ini melihat relasi aktor dalam pengelolaan desa wisata di Desa Pandak yang bekerja sama dengan pihak ketiga (investor). Studi ini menjadi menarik sebab selama ini belum ada payung hukum berupa Peraturan Daerah (Perda) atau peraturan Bupati yang mengatur tentang kerja sama desa dengan pihak ketiga dalam bentuk apapun. Namun demikian, Pemerintah Desa Pandak memberanikan diri menyelenggarakan kerja sama dengan pihak ketiga untuk mengadakan tempat wisata dengan beberapa investor. Hal ini yang kemudian menjadi permasalahan oleh Pemerintah Daerah Banyumas sendiri, karena masih dianggap tidak sesuai dengan aturan yang ada di Perda Banyumas.
Interaksi yang terjadi antaraktor atau dapat disebut pula sebagai relasi aktor dapat berlangsung dengan baik ataupun sebaliknya. Relasi yang terjalin pun dapat berupa kerjasama yang saling menguntungkan ataupun sebaliknya justru merugikan salah satu pihak. Dalam konteks politik pariwisata, relasi antaraktor tersebut pun sering kali terjadi. Penelitian tentang relasi aktor dalam pengelolaan objek wisata di Desa Pandak Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas ini bertujuan untuk: Pertama, mengetahui dan mendeskripsikan upaya aktor dalam pengelolaan Desa Wisata Pandak; Kedua, mengetahui dan mendeskripsikan aktor-aktor yang terlibat; dan Ketiga, mengetahui dan menjelaskan faktor pendukung dan penghambat dalam pengelolaannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, perspektif strukturalis, paradigma konstruktivisme, dan pendekatan studi kasus.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa praktik politik pariwisata telah berlangsung dalam upaya pengelolaan objek wisata di Desa Pandak Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas. Aktor-aktor yang terlibat dalam upaya pengelolaan objek wisata di Desa Pandak terdiri dari tiga aktor utama, yaitu: Pemerintah Desa Pandak, investor, dan organisasi masyarakat Desa Pandak. Pihak yang terlibat sebagai Pemerintah Desa Pandak adalah Kepala Desa Pandak beserta jajarannya. Peran Pemerintah Desa Pandak adalah menjalankan pembangunan desa wisata, melakukan pengembangan dan pengelolaan melalui jalin kerjasama dengan investor, mengadakan sarana dan prasarana bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam pengelolaan desa wisata, serta melakukan pengawasan. Dari investor, pihak-pihak yang terlibat adalah PT Bintang Nusa Perkasa yang kemudian membangun wahana wisata The Village; Dream Land yang kemudian membangun wahana wisata The Forest; dan PT Kokoria Mannayo yang masih dalam tahap pembangunan Mannayo Resort. Ketiga objek wisata tersebut murni dikelola oleh pemiliknya sendiri dan tidak ada campur tangan dengan pihak desa selain adanya penyewaan tanah per tahun dan penyerapan tenaga kerja. Sedangkan dari organisasi masyarakat desa yang turut terlibat adalah Lembaga Pelestari Budaya Desa Pandak, warga Desa Pandak pemilik homestay, Pokdarwis Desa Pandak, Karang Taruna Desa Pandak, dan Lembaga Pembina dan Pengalaman Agama (LP2A) Desa Pandak dengan memberikan dukungan, usulan, serta turut serta dalam berbagai kegiatan yang diadakan di desa wisata
This study discusses the relation of actors in the management of attractions. More specifically, this study looks at the relation of actors in the management of tourism villages in Pandak Village in collaboration with third parties (investors). This study is interesting because so far there has not been a legal umbrella in the form of Regional Regulations (Perda) or Bupati regulations that regulate village cooperation with third parties in any form. However, the Pandak Village Government dared to organize cooperation with third parties to hold tourist attractions with several investors. This then becomes a problem by the Banyumas Regional Government itself, because it is still considered not in accordance with the rules in the Banyumas Regional Regulation.
The interaction that happened between the actors or the actor relation can occur in a good way or the opposite. That relation can also form as profitable cooperation or as the opposite that can damage the other one. In the context of tourism politics, that actor relation is always happening. This research about actor relation on the tourism object management at Pandak’s village, subdistrict of Baturraden, Banyumas Regency, has some purposes to: First, knowing and describing the actors who are participating on Pandak’s village tourism management; Second, knowing and describing the actors who are participating; and Third, knowing and explaining the proponent factors and the barriers. This research is using qualitative method, structuralist perspective, constructivism paradigm, and case study approach.
The result of this research reveals that tourism politics is happening on the tourism object management at Pandak’s village. The actors who are participating in that management are: Pandak’s Government, investors, and Pandak’s community organization. As Pandak’s Government, there are the head of the village and their staffs. The functions of Pandak’s Government are ruling the village tourism program, developing and managing by cooperating with some investors, supplying all the facilities for their community that participating the program, and also oversee all the activities. The investors who are participating, they are come from PT Bintang Nusa Perkasa who is building The Village; Dream Land who is building The Forest Island; and PT Kokoria Mannayo who is still building The Mannayo Resort. All of them are managing the tourism object by their owner there is no cooperation with Pandak except the rent lands and the employee outsourcing. Then, there are Pandak’s community organization such as Lembaga Pelestari Budaya Desa Pandak, people who are owning the homestay, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Karang Taruna, and Lembaga Pembina dan Pengalaman Agama (LP2A) that giving their support, opinion, and also participating on every activities in the relation of village tourism.
528415077D1E012054KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK DEDAK DARI BERBAGAI VARIETAS PADI SECARA IN VITROPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh varietas terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik dedak padi secara in vitro. Materi yang digunakan adalah ransum pakan sapi potong yang terdiri atas rumput gajah, bungkil kelapa, dedak padi dari berbagai varietas, serta cairan rumen sapi potong sebanyak 3 ekor yang diperoleh dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Tambaksari, Banyumas. Metode penelitian adalah eksperimen secara in vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 kali ulangan, yaitu D1 = Rumput Gajah 30 % + Bungkil Kelapa 10 % + Dedak Padi Varietas IR-64 60%, D2 = Rumput Gajah 30 % + Bungkil Kelapa 10 % + Dedak Padi Varietas Pandanwangi 60%, D3 = Rumput Gajah 30 % + Bungkil Kelapa 10 % + Dedak Padi Varietas Ketan Putih 60%, D4 = Rumput Gajah 30 % + Bungkil Kelapa 10 % + Dedak Padi Varietas Ketan Hitam 60%, dan D5 = Rumput Gajah 30 % + Bungkil Kelapa 10 % + Dedak Padi Varietas Beras Merah 60%. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjut dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan varietas berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik dedak padi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kecernaan bahan kering dan bahan organik dedak dipengaruhi oleh varietas padi yang berbeda. Kecernaan bahan kering dan bahan organik paling baik adalah dedak padi varietas IR-64 yaitu 51,24 ± 2,94 % dan 53,61 ± 2,77 %.The aim of the research was to assess the effect of various varieties of rice bran on the digestibility of dry matter and organic matter of rice by in vitro method. The materials used in the research were rations of beef cattle consisting of bulrush, coconut meal, and various rice bran varieties and cow’s rumen fluid that was obtained from Slaughter House (SH) in Tambak Sari, Banyumas. The research has been conducted by using an experimental method by in vitro with Completely Randomized Design (CRD) with five treatments and four replications. The treatments were D1= Bulrush 30 % + Coconut meal 10 % + Rice Bran IR64 Variety 60 %, D2= Bulrush 30 % + Coconut meal 10 % + Rice Bran Pandanwangi Variety 60 %, D3= Bulrush 30 % + Coconut meal 10 % + Rice Bran White Glutinous Rice Variety 60 %, D4= Bulrush 30 % + Coconut meal 10 % + Rice Bran Black Glutinous Rice Variety 60 %, dan D5= Bulrush 30 % + Coconut meal 10 % + Rice Bran Red Rice Variety 60 %. Data was analyzed by using an analysis of variance and followed by Honest Significant Difference (HSD) test. The result showed that the variety of rice significantly affected (P<0.05) the dry matter and organic matter digestibilities. The research concludes that the dry matter and organic matter digestibilities of rice bran are affected by variety of rice. Bassed on the digestibility values, variety of IR-64 results the best dry matter and organic matter digestibility, as expressed by the values of 51.24 ± 2.94 % and 53.61 ± 2.77 %, respectively.
528515078D1E012205PENGARUH BAHAN PEMBAWA EKSTRAK BUNGA WARU DALAM RANSUM SAPI POTONG TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING DAN KECERNAAN BAHAN ORGANIK SECARA IN-VITROPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi interaksi antara bahan pembawa dengan level ekstrak bunga waru terhadap kecernaan bahan kering (KBK) dan bahan organik (KBO). Materi penelitian menggunakan pakan basal berupa jerami padi amoniasi dan konsentrat dengan imbangan bahan kering adalah 55:45. Faktor pertama adalah jenis bahan pembawa ekstrak yaitu jerami padi amoniasi (J), pollard (P) dan bungkil kedelai (B). Faktor kedua adalah dosis ekstrak etanol bunga waru yaitu 0 ppm (E1), 50 ppm (E2) dan 100 ppm (E3), sehingga menghasilkan kombinasi 3 x 3 (JE1, JE2, JE3, PE1, PE2, PE3, BE1, BE2 dan BE3) sebagai perlakuan. Rancangan Acak Kelompok digunakan pada penelitian ini. Sebagai kelompok perlakuan adalah periode pengambilan cairan rumen dari 3 ekor sapi dari Rumah Potong Hewan (RPH) Mersi sesaat setelah sapi dipotong. Variabel yang diukur adalah KBK dan KBO. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap KBK, akan tetapi interaksi antara level ekstrak dan bahan pembawa berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap KBO. JE1 memiliki KBO yang lebih rendah (P<0.05) dibandingkan dengan JE2 dan BE3, akan tetapi tidak berbeda (P>0.05) dengan JE3, PE1, PE2, PE3, BE1 dan BE2. Kesimpulan adalah pollard dan bungkil kedelai dapat menggantikan jerami padi amoniasi sebagai bahan pembawa ekstrak bunga waru dengan dosis berturut-turut 50 ppm dan 100 ppmThe research aimed to evaluate the interaction between the carrier and the dose of Hibiscus tiliaceus extract levels on the dry matter digestibility (DMD) and the organic matter digestibility (OMD). The materials used in this study were basal diet consisting of ammoniated rice straw and concentrate with dry matter ratio of 55%:45%. The first factor was the type of carrier of ammoniated rice straw (J), pollard (P) and soybean meal (B). The second factor was the dose of hibiscus tiliaceus extract of 0 ppm (E1), 50 ppm (E2) and 100 ppm (E3), forming 3 x 3 factorial of JE1, JE2, JE3, PE1, PE2, PE3, BE1, BE2 and BE3 as the treatments. Randomize Block Design was used in this research. The block was the period of fluid rumen collection from three different cattle from Slaughter House, Mersi. The variables measured were DMD and OMD. Data were analysed by an analysis of variance and followed by Honestly Significant Difference Test. The result showed that treatments didn’t significantly affect (P>0.05) the dry matter digestibility but the interaction between the extract level and the carrier affected significantly (P<0.05) the OMD. JE1 had the OMD which was lower than JE2 and BE3, but it was not different (P>0.05) from JE3, PE1, PE2, PE3, BE1 and BE2. The conclusion of this study is that pollard and soybean meal can substitute ammoniated rice straw as extract carrier with each dose 50 ppm and 100 ppm respectively
528615079F1J011024Penggunaan Verba Keigo dalam Al-Qur’an Terjemahan BahasaKeigo adalah tingkat tutur dalam bahasa Jepang yang menyatakan penghormatan kepada mitra tutur. Seorang penutur harus memperhatikan posisinya terhadap mitra tutur ketika hendak bertutur. Sebagai umat beragama, manusia memiliki dua arah komunikasi, yaitu kepada sesama manusia dan kepada Sang Pencipta. Tujuan skripsi ini secara umum adalah untuk mendeskripsikan penggunaan keigo dalam terjemahan Al-Qur’an Bahasa Jepang. Permasalahan yang akan dikaji dalam skripsi ini adalah jenis tingkat tutur yang terdapat dalam terjemahan Al-Qur’an bahasa Jepang dan penggunaan keigo di dalamnya. Kajian ini bersifat deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan adalah simak dan catat. Surat yang penulis ambil adalah surat Al-‘Ankabut ayat 2 sampai 30. Dari 36 data yang penulis temukan, penulis meneliti 23 data. Data 1 sampai 7 penulis muat dalam pendahuluan, sehingga tidak penulis analisis dalam bab pembahasan. Selain itu, terdapat 6 data yang tidak penulis analisis karena tidak mengandung penanda tingkat tutur bahasa Jepang. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan adanya penggunaan tingkat tutur futsuugo, teineigo, dan sonkeigo pada surat Al-‘Ankabut ayat 2 sampai 30. Tingkat tutur futsuugo digunakan dalam konteks berikut: 1) Pernyataan Allah mengenai diri-Nya, 2) firman Allah kepada manusia, 3) firman Allah mengenai suatu kaum, 4) firman Allah mengenai nabi, dan 5) Sabda nabi kepada kaum durhaka. Tingkat tutur Teineigo digunakan dalam konteks berikut: 1) tuturan manusia kepada Allah, 2) tuturan antar sesama manusia. Tingkat tutur Sonkeigo digunakan dalam konteks berikut: 1) tuturan mengenai perbuatan Allah, 2) tuturan mengenai sifat Allah, 3) doa manusia kepada Allah. Dari hasil penelitian tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat tutur sonkeigo digunakan untuk menghormati Allah, tingkat tutur teineigo digunakan dalam komunikasi antar sesama manusia dan untuk menghormati Allah, sedangkan tingkat tutur futsuugo digunakan dalam firman Allah kepada manusia dan sabda nabi kepada kaum durhaka.Keigo is a Japanese speech level to give respect to the listener or topic of interest. The speaker which communicating must consider the relationship between the target listener or topic. As a person who has a religion, human beings have 2 way of communication, communication between humans and communication to their God.The purpose of this thesis is to analyze Japanese speech level and the usage of keigo in Japanese translation of Al¬Qur'an. This study is a qualitative research. The data is collected from Al¬'Ankabut chapter 2 to 30. From 36 data found, author analyze 23 data. Data 1 to 7 have been analyzed in preface, so they are not analyzed in chapter analysis. The other 6 data are not contain Japanese Speech Level. Speech level found in this research is sonkeigo, teineigo, and futsuugo. Futsuugo used in a context of 1) Allah’s decree about Himself, 2) Allah’s decree about a community, 3) Allah’s decree to human beings, 4) Allah’s decree about prophets, 5) Prophet’s utterance to unbelievers. Teineigo used in 1) Allah's decree, 2) between human beings. Sonkeigo used during 1) Allah's action, 2) Allah’s divinities, 3) in worshiping Allah. The conclusion found from the analysis of Al¬'Ankabut chapter 2 to 30 was that sonkeigo used to respect Allah, teineigo used to communicate between human beings and also to respect Allah, futsuugo used in Allah’s decree to human beings, and prophet’s utterance to unbelievers.
528715094G1D012055HUBUNGAN TINGKAT SPIRITUALITAS DENGAN KECEMASAN
TERHADAP KEMATIAN PADA PASIEN LANSIA
DI RSUD GUNUNG JATI CIREBON
Latar Belakang : Lansia mengalami penurunan fisik ataupun psikologis yang dapat menimbulkan kecemasan. Salah satu kecemasan yang dialami lansia adalah kecemasan terhadap kematian. Lansia memiliki persepsi yang berbeda terhadap kematian. Persepsi tersebut salah satunya dapat dipengaruhi oleh spiritualitas.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan spiritualitas dengan kecemasan terhadap kematian pada pasien lansia di RSUD Gunung Jati Cirebon.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Spiritual Involvement and Belief Scale Revised Version (SIBS-R) dan Death Anxiety Scale Templer (1970). Besar sampel adalah 53 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data menggunakan uji Fisher.
Hasil : Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (64,2%), berpendidikan rendah (81,1%), tidak bekerja (60,4%), dan berstatus kawin (79,2%) dengan usia minimum 56 dan maksimum 81. Mayoritas spiritualitas yang dimiliki responden adalah tinggi (84,9%), sedangkan mayoritas kecemasan terhadap kematian yang dimiliki responden adalah rendah (81,1%). Uji fisher pada spiritualitas menunjukkan p value 0,004.
Kesimpulan : Ada hubungan antara tingkat spiritualitas dengan kecemasan terhadap kematian pada pasien lansia di RSUD Gunung Jati Cirebon. Semakin tinggi spiritualitas lansia maka kecemasan terhadap kematian semakin rendah.



Background: Elderly decreased physically or psychologically that can cause anxiety. One of the anxiety experienced by the elderly is death anxiety. Elderly has different perception about the death. The perception can be influenced by the spirituality.
Objective: The aim of this research is to know the correlation between spirituality level and death anxiety on elderly patients in RSUD Gunung Jati Cirebon.
Methods: This research was a quantitative with cross sectional approach. Sampling used purposive sampling technique. The sample size was 53 respondents who fill the inclusion criteria. An instrument used in this research was a Spiritual Involvement and Belief Scale Revised Version (SIBS-R) and Death Anxiety Scale Templer (1970). The data analysis was using Fisher test.
Results: The majority of respondents are male (64,2%), low educated (81,1%), unemployed (60,4%), and married (79,2%) with 56 on minimum and 81 maximum age. The majority of spirituality of the respondents was high (84,9%), then the majority of death anxiety which’s owned was low (81,1%). Fisher test to the spirituality shows p value 0,004.
Conclusion: There was a correlation between spirituality level and death anxiety on elderly patients in RSUD Gunung Jati Cirebon. The higher elderly spiritual level was the lower death anxiety.

Keywords: death anxiety, elderly, spirituality.
528815081D1E012043PENGARUH KONSENTRASI ASAM ASETAT SEBAGAI BAHAN PELARUT DAN LAMA WAKTU DEGREASING TERHADAP RENDEMEN DAN KADAR LEMAK GELATIN TULANG AYAM BROILERPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh konsentrasi asam asetat dan lama waktu degreasing terhadap rendemen dan kadar lemak gelatin tulang ayam broiler. Materi yang digunakan adalah tulang paha atas ayam broiler sebanyak 13,5 kg, aquades dan asam asetat. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial. Perlakuan yang diterapkan terdiri dari dua faktor, yaitu faktor A adalah konsentrasi asam asetat terdiri dari C1: 2%, C2: 4%, dan C3: 6%, sedangkan faktor B adalah lama waktu degreasing terdiri dari L1: 4 jam, L2: 6 jam dan L3: 8 jam. Perlakuan yang diuji sembilan kombinasi perlakuan dan tiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali ulangan. Variabel yang diukur yaitu rendemen dan kadar lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi asam asetat dan interaksi konsentrasi asam asetat dengan lama waktu degreasing tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap rendemen dan kadar lemak. Lama waktu degreasing berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai rendemen, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar lemak. Hasil uji lanjut Orthogonal Polinomial menunjukkan bahwa makin lama waktu degreasing, rendemen gelatin tulang ayam broiler makin menurun mengikuti persamaan Y= 1.5222222 - 0.02611111 X. Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan konsentrasi asam asetat terbaik untuk menghasilkan rendemen dan kadar lemak adalah 2%. Lama waktu degreasing terbaik untuk menghasilkan rendemen dan kadar lemak adalah 4 jam.The objective of this research was to investigate the effect of acetic acid concentration and degreasing duration on the yield and fat content of gelatin of broiler chicken bone. The research materials were 13,5 kg of upper thigh of broiler chicken bone, aquades and acetic acid. This experimental research used a completely randomized factorial design with two factors; i.e. factor A which was acetic acid concentration consisting of C1: 2%, C2: 4%, and C3: 6%, and factor B which was degreasing duration consisting of L1: 4 hours, L2: 6 hours and L3: 8 hours. Based on the two factors there were nine combined treatments each of which was replicated three times. The variables being measured were the yield and fat content. The results showed that acetic acid concentration and interaction acetic acid concentration with degreasing duration do not significantly affect (P>0,05) the yield and fat content. Degreasing duration significantly affects (P<0,05) the yield, but does not significantly affect (P>0,05) the fat content. The Polynomial Orthogonal Test showed that the longer degreasing time will decrease the yield of gelatin of broiler chicken bone following the equation Y= 1.5222222 - 0.02611111 X. The conclusion of this research is that, in order to produce the yield and fat content, the best acetic acid concentration is 2% and the best degreasing duration is 4 hours.
528915083H1L011067INSPEKSI PAKET DATA BERBASISKAN DEEP PACKET INSPECTION UNTUK
PENINGKATAN KEAMANAN SISTEM DALAM MEWUJUDKAN INFORMATION
TECHNOLOGY RISK MANAGEMENT
Dalam sebuah jaringan, keamanan jaringan merupakan sebuah hal penting yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Semakin berkembangnya teknologi informasi baik dari sisi perangkat keras maupun lunak ternyata telah mengakibatkan berkembangnya ancaman terhadap keamanan jaringan terutama pada paket data yang masuk ataupun keluar server. Dengan melakukan Inspeksi paket data berbasis deep packet inspection sangatlah penting untuk mengindentifikasi paket dangan menganalisis sebagian paket data dari keseluruhan paket data dalam sebuah trafik, memantau aliran data secara real-time dan untuk membuat sebuah keputusan terhadap aliran data yang dapat merugikan terhadap sistem IT. Informasi yang dihasilkan deep packet inspection dapat mendukung untuk mewujudkan IT risk management untuk menyeimbangkan kegiatan operasional dan pengeluaran cost di sebuah organisasi.In a network, network security is an important matter that can not be negotiable. The development of information technology both in terms of hardware and software appeared to have resulted in the development of threats to network security especially on incoming data packets or out of the server. By performing a data packet inspection based on deep packet inspection is important to identify the invitation package analyzes a portion of the overall data packets in a data packet traffic, monitor the flow of data in real-time and to make a decision on the stream of data that can be detrimental to the IT system. The information generated can support deep packet inspection to realize IT risk management to balance operational activities and expenditures cost in an organization.
529015082H1L011015RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BAPPEDA BERBASIS WEB (STUDI KASUS KABUPATEN BANYUMAS)
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), adalah lembaga teknis daerah dibidang penelitian dan perencanaan pembangunan daerah yang dipimpin oleh seorang kepala badan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur/Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah. Saat ini BAPPEDA Kabupaten Banyumas belum menggunakan sistem informasi dalam mengelola data penelitian dan pengembangan sehingga kerap mengalami kesulitan dalam proses pengelolaan data dan sering kali mengalami kesulitan dengan melakukan cetak surat penelitian dikarenakan banyaknya calon peserta yang mengajukan penelitian, solusinya adalah sistem informasi penelitian dan pengembangan yang dapat diakses oleh peserta penelitian dan pengembangan oleh pengawasan BAPPEDA. Metode yang digunakan pada perancangan dan pengembangan sistem informasi penelitian dan pengembangan (SIPP) menggunakan metode waterfall sesuai dengan kondisi BAPPEDA Kabupaten Banyumas. Dari hasil penelitian yang dilakukan SIPP dikembangkan menjadi aplikasi berbasis web, yang berfungsi untuk membantu bagian administrasi dalam melakukan pengelolaan diantaranya tambah, ubah, hapus dan pencarian terhadap data penelitian dan pengembangan serta memantau aktifitas dari kegiatan penelitian dan pengembangan, baik untuk pengecekan data diri peneliti dan pengembang, masa berlaku, berkas yang harus dilengkapi dan hasil penelitian dan memberikan keluaran berupa surat keterangan penelitian yang dilakukan dibawah pengawasan BAPPEDA Kabupaten Banyumas.The regional development planning board (BAPPEDA), was a regional technical agencies in the field of research and planning of regional development led by a head of agency under and is responsible to the Governor/Regent/Mayor through the Secretary. BAPPEDA Regency of Banyumas currently not using information systems in managing research and development data so often experience difficulties in the process of managing data and often have difficulty with doing research because the letter print too many potential participants who proposed the research, the solution is research and development of information systems that can be accessed by participants of the research and development of surveillance by BAPPEDA. The methods used in the design and development of information systems research and development (SIPP) using the waterfall in accordance with condition of the BAPPEDA Kabupaten Banyumas. From the results of research conducted that SIPP was developed into a web-based application, which works to help the Administration section in performing management include add, edit, delete and search the data of research and development as well as monitoring the activities of research and development activities, both for the checking of the data themselves researchers and developers, validity period, the files must be completed and the results of research and provides output in the form of affidavits research conducted under the supervision of the BAPPEDA Regency of Banyumas.
529115085F1D011003Konflik Orang Kuat Lokal Dan Negara Dalam Pembangunan Bendungan Matenggeng Di Kecamatan Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendiskripsikan mengenai konflik politik yang terjadi antara pihak pemerintah BBWS Citanduy dan local strongman karena adanya proses pembebasan lahan pembangunan bendungan Matenggeng yaitu bagaimana keterlibatan orang kuat lokalnya, serta menjelaskan proses negosiasi yang terjadi didalam pembangunan bendungan Matenggeng. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian ini mendeskripsikan adanya konflik politik yang terjadi di ranah pemerintah pusat dan local strongman. Pada awalnya, pemicu konflik yang timbul adalah adanya upaya pemerintah pusat untuk melakukan pembangunan bendungan Matenggeng di Kecamatan Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap tetapi nominal ganti rugi yang ditawarkan BBWS Citanduy tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. Isu inilah yang memicu tindakan dari local strongman yang tergabung dalam Paguyuban Peduli Masyarakat untuk menolak rencana tersebut. Dalam hal ini, proses konflik politik yang terjadi antara BBWS Citanduy dan local strongman mengalami beberapa tahapan. Tahap pertama yaitu sosialisasi pembangunan bendungan Matenggeng dimana local strongman tidak menyetujui pembangunan tersebut berdasarkan nominal ganti rugi yang disampaikkan BBWS Citanduy. Tahapan selanjutnya konflik terlihat jelas dimana pertentangan mulai tampak ke permukaan dan diketahui orang lain. Setelah itu, adanya pernyataan membentuk kelompok yang di dalamnya terdapat orang-orang dengan kesamaan tujuan. Faktor pendorong upaya konsensus terdiri dari adanya sosialisasi dan dihadirkannya konsultan. Sedangkan faktor penghambat upaya konsensus yaitu kurang siapnya BBWS Citanduy dan hadirnya local strongman. This study aims to understand and describe the political conflict between the government and local strongman BBWS Citanduy for their land acquisition process Matenggeng dam construction that is how strong involvement of local people, as well as explaining the negotiation process that occurs within the dam construction Matenggeng. The method used is descriptive qualitative method with case study approach. The results of this study describes the political conflict that occurred in the realm of central government and local strongman. At first, triggering the conflict that arises is the central government's efforts to carry out the construction of dams in the district Matenggeng Dayeuhluhur Cilacap but nominal compensation offered BBWS Citanduy not in accordance with the wishes of the people. The issue is what triggers the action of a local strongman who are members of the Association of Community Care to reject the plan. In this case, the process of political conflicts between BBWS Citanduy and local strongman undergo several stages. The first phase is the construction of dams Matenggeng socialization where local strongman does not agree that development is based on nominal compensation by BBWS Citanduy. The next stage of conflict is clearly visible where the opposition is starting to look to the surface and known to others. After that, the statement form the group in which there are people with the same goals. The driving factor consensus effort consists of socialization and presented consultant. While the factors inhibiting efforts consensus is lacking readiness BBWS Citanduy and the presence of local strongman.
529215086D1E012185ANALIS SALURAN PEMASARAN, PENDAPATAN DAN PROFIT MARGIN
BISNIS HIJAUAN PAKAN TERNAK DI KABUPATEN KEBUMEN
Penelitian ini dilaksanakan sejak tanggal 11 Januari sampai dengan 11 Februari 2016 di Kecamatan Kebumen, Kutowinangun, Ambal, Gombong dan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui saluran pemasaran, pendapatan yang diperoleh di tingkat penjual, serta besar profit margin yang diperoleh di tingkat pedagang pengumpul dari hasil bisnis hijauan pakan ternak di Kabupaten Kebumen. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survey. Sasaran penelitian adalah penjual dan pedagang pengumpul hijauan pakan ternak di Kabupaten Kebumen. Penetapan sampel wilayah dilakukan secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam bisnis hijauan pakan ternak di Kabupaten Kebumen terdapat dua pola saluran pemasaran, yaitu pola pemasaran dari penjual ke konsumen, dan pola pemasaran dari penjual melalui pedagang pengumpul kemudian ke konsumen. Hasil analisis menunjukan bahwa nilai t hitung (-8.810) > t tabel (2.46714), dengan nilai signifikansi (0.00) ≤ (0.01) yang menunjukan bahwa, terdapat perbedaan pendapatan antara penjual dengan pedagang pengumpul dengan rataan pendapatan sebesar Rp 1.006.080,00 per bulan bagi penjual dan Rp 2.283.250,00 per bulan bagi pedagang pengumpul. Nilai rataan profit margin yang diperoleh pedagang pengumpul lebih besar (19,35%) dibandingakan dengan nilai suku bunga bank (6%). Tingkat efesiensi ekonomi pedagang pengumpul pada bisnis hijauan pakan ternak di Kabupaten Kebumen sudah efisien, karena nilai rataan R/C ratio (1,25) > 1.

This research had been conducted from January 11 to February 11, 2016 in Kebumen, Kutowinangun, Ambal, Gombong and Petanahan subdistricts, Kebumen district, Central Java. It aimed to determine the marketing channels, the sellers’ income, as well as the collectors’ profit margin earned from foraging business in Kebumen. The study was conducted by using a survey method. The research targetted the forage sellers and traders in the district. The sample of areas was determined by a purposive sampling. The results showed that, in the foraging business in Kebumen, there are two patterns of marketing channels, namely marketing pattern from the sellers to the consumers, and that from the sellers through the collectors and then to the consumers. The results of analysis showed that the value of the t (-8810)> t table (2.46714), with signification value (0.00) ≤ (0:01) which shows that there is a difference in income between the sellers and the traders with the average income of Rp 1,006,080.00 per month for the former and USD 2,283,250.00 per month for the latter. The average profit margin obtained by the traders is greater (19.35%) when it is compared to the value of the bank rate (6%) The level of economic efficiency of the traders is efficient, because the average value of R / C ratio (1.25)> 1.
529315080D1E012279Pengaruh Lama Thawing Semen Beku Sapi Simmental Terhadap Motilitas dan Integritas Membran SpermatozoaPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh lama thawing semen beku sapi Simmental terhadap motilitas dan intergritas membran spermatozoa. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diujicobakan yaitu T1= Thawing pada menit ke-15, T2= Thawing pada menit ke - 30, T3= Thawing pada menit ke-45, dan T4= Thawing pada menit ke-60 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa thawing pada menit ke-15, 30, 45 dan 60 menit semen beku sapi Simmental berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap motilitas dan integritas membran spermatozoa. Rataan nilai motilitas spermatozoa berkisar 31,00% - 42,80%, sedangkan rataan nilai integritas membran berkisar 45,94% - 60,64%. Hasil uji LSD motilitas spermatozoa setelah thawing T1 tidak berbeda nyata dengan T2, T2 berbeda nyata denga T3, T3 berbeda nyata dengan T4. Hasil uji LSD integritas membran setelah thawing T1 berbeda nyata dengan T2, T1 berbeda nyata denga T3, T2 berbeda nyata dengan T3. Berdasarkan uji ortogonal polinomial menunjukkan bahwa pengaruh lama thawing semen beku terhadap persentase motilitas spermatozoa berpola linier dengan persamaan Y= 47,30 – 0,26 (15) = 43,40% dan pengaruh lama thawing semen beku terhadap persentase integritas membran spermatozoa berpola linier dengan persamaan Y= 66,22 – 0,32 (15) = 61,42%.

Kata kunci: Lama thawing, Semen beku, Sapi Simmental, Motilitas dan Integritas membran
The aim of this study is to determine the effect of thawing duration of Simmental bulls’ frozen semen on the sperm motility and membrane integrity. The study applies an experimental laboratory with a Randomized Complete Design (RCD). The treatments were T1= Thawing at the 15th minute, T2= Thawing at the 30th minute, T3= Thawing at the 45th minute, and T4= Thawing at the 60th minute. The measured variables are the sperm motility and membrane integrity. The results of this study show that the thawing at the 15th, 30th, 45th and 60th minutes highly significantly affect (P <0.01) the sperm motility and membrane integrity. The mean values of sperm motility ranges from 31.00% to 42.80%, while that of the sperm membrane integrity ranges from 45.94 % to 60.64 %. The LSD test shows that, on the sperm motility, T1 thawing is not different (P<0.05) from T2, T2 is significantly different (P>0.05) from T3, and T3 is significantly different (P>0.05) from T4. While on the sperm membrane integrity, the test also shows that there is a significant difference (P>0.05) between T1 and T2 thawing. T2 is significantly different (P>0.05) from T3, and T3 is significant different (P>0.05) from T4. The orthogonal polynomial test shows that the effect of thawing duration on the percentage of sperm motility of the Simmental bulls’ frozen semen figures a linear equation Y= 47.30 - 0.26 ( 15 ) = 43.40 % and the effect of thawing duration on the percentage of the sperm membrane integrity figures a linear equation Y= 66.22 – 0.32 (15) = 61.42%.

Keywords: Thawing, Frozen Semen, Simmental Bull, Motility, and Membrane Integrity
529415087D1E012115PENGARUH KONSENTRASI RENNET PASTA DARI ABOMASUM KAMBING MUDA TERHADAP pH DAN INDEKS SINERESIS KEJU SEGAR Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi rennet pasta dari abomasum kambing muda terhadap pH dan indeks sineresis keju segar. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 10 sampai dengan 20 Februari 2016 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Terdapat lima perlakuan yaitu P0 : susu sapi segar + rennet komersial, P1 : susu sapi segar + rennet pasta 15 %, P2 : susu sapi segar + rennet pasta 30 %, P3 : susu sapi segar + rennet pasta 45 %, P4 : susu sapi segar + rennet pasta 60 % dan diulang lima kali. Peubah yang diukur yaitu pH dan indeks sineresis. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi dan uji contras orthogonal. Kesimpulan dari penelitian keju segar yang dihasilkan dari rennet pasta abomasum kambing muda memiliki indeks sineresis yang lebih rendah dan pH yang sama dengan keju segar yang digumpalkan menggunakan rennet komersial. Perbedaan konsentrasi rennet pasta dari abomasum kambing muda tidak mempengaruhi pH dan indeks sineresis keju segar yang dihasilkan, sehingga penggunaan rennet pasta konsentrasi 15 % sudah cukup untuk digunakan sebagai bahan penggumpal.The purpose of this research is to study the influence of rennet paste concentration from kid abomasa on pH and syneresis index of fresh cheese. Conducted from February 10th to 20th 2016 in the Laboratory of Animal Product Technology, Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, this experimental research used a Completely Randomized Design (CRD). The treatments were P0 : fresh milk + commercial rennet, P1 : fresh milk + 15 % rennet paste, P2 : fresh milk + 30 % rennet paste, P3 : fresh milk + 45 % rennet paste, and P4 : fresh milk + 60 % rennet paste, each of which was replicated five times. The variables being measured were pH and syneresis index. Data was analyzed by a variance analysis and orthogonal contrast. This research concludes that the fresh cheese from rennet paste has a lower syneresis index, but a similar pH, than that produced from commercial rennet. Differences in rennet paste concentration from kid abomasa have no effect on fresh cheese pH and syneresis index, therefore 15% concentration of rennet paste is sufficient to be used as a coagulant.
529515067C1A012057ANALISIS PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA INTERNASIONAL, NILAI TUKAR, NILAI KONSTRUKSI DAN UPAH TENAGA KERJA TERHADAP PENANAMAN MODAL ASING (PMA) PADA INDUSTRI BAJA INDONESIAPenelitian ini merupakan penelitian mengenai investasi asing langsung terhadap industri baja di Indonesia. Penelitian ini mengambil judul: “Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga Internasional, Tingkat Inflasi, Nilai Tukar, Nilai Konstruksi Dan Upah Tenaga Kerja Terhadap Penanaman Modal Asing (PMA) Pada Industri Baja Indonesia”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh secara bersama-sama dan parsial variabel tingkat suku bunga internasional, tingkat inflasi, nilai tukar, nilai konstruksi dan upah tenaga kerja terhadap penanaman modal asing (PMA) pada industri baja Indonesia. Pada penelitian ini digunakan analisis regresi linear berganda dengan analisis yang digunakan adalah metode kuadrat terkecil (Ordinary Least Square, OLS) dengan menggunakan model lag.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data diperoleh bahwa : (1) Tingkat suku bunga internasional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PMA di industri baja Indonesia, (2) Nilai tukar berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PMA di industri baja Indonesia, (3) Nilai konstruksi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PMA di industri baja Indonesia, (4) Upah tenaga kerja berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap PMA di industri baja Indonesia, (5) Tingkat suku bunga internasionalt-3 berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PMA di industri baja Indonesia, (6) Nilai tukart-3 berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PMA di industri baja Indonesia, (7) Nilai konstruksit-3 berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PMA di industri baja Indonesia, (8) Upah tenaga kerja t-3 berpengaruh positif dan signifikan terhadap PMA di industri baja Indonesia.
This research is purposed to analyze the influence of International Interest Rate, Exchange Rate, Construction Value and Wage for Foreign Direct Investment (FDI) in Indonesian Steel Industry. This study used a multiple linear regression analysis with Ordinary Least Square (OLS) method and Lag model. Based on the results of research and analysis of data show that: (1) The International Interest Rate has a negative and significant effect on FDI in Indonesian Steel Industry, (2) Exchange Rate has a negative and significant effect on FDI in Indonesian Steel Industry, (3) Construction value has a negative and significant effect on FDI in Indonesian Steel Industry, (4) Wage has a positive and not significant effect on FDI in Indonesian Steel Industry, (5) The International Interest Ratet-3 has a negative and significant effect on FDI in Indonesian Steel Industry, (6) Exchange Rate t-3 has a negative and significant effect on FDI in Indonesian Steel Industry, (7) Construction value t-3 has a negative and significant effect on FDI in Indonesian Steel Industry, (8) Waget-3 has a positive and significant effect on FDI in Indonesian Steel Industry.
529614754H1F010056Geologi dan Analisa Kestabilan Lereng Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kaliori Banyumas Jawa TengahDerah penelitian berada di salah satu lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan luas 16 km2 di kabupaten Banyumas. Secara geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi dua satuan, yaitu Satuan Perbukitan Denudasional Berlereng Landai (D1) dan Satuan Dataran Aluvial Fluvial (F4). Secara litostratigrafi dari tua ke muda tersusun atas Satuan Batupasir, Satuan Batulempung-Batupasir, Satuan Breksi Andesit, dan Satuan Endapan Aluvial. Proses eksogenik berupa pelapukan dan erosi dapat ditemukan pada daerah penelitian terutama di lokasi TPA yang berada di desa kaliori dengan morfografi berupa perbukitan. Maka analisa kestabilan lereng diperlukan untuk menanggulangi dampak buruk dari suatu lereng yang mana kita ketahui bahwa semua lereng berpotensi untuk longsor apabila dia telah mengalami gangguan. Kestabilan lereng dapat dievaluasi dengan menghitung Faktor Kemanan (FK), menurut Bowles (1989) lereng relatif stabil apabila nilai FK > 1,25. Metode yang digunakan dalam perhitungan yaitu metode sayatan/irisan menurut Fellenius. Berdasarkan hasil analisa terhadap faktor kemanan pada daerah penelitian, lereng di TPA Kaliori mempunyai kondisi tidak stabil. Pada sampel KLR-01 dan KLR-03 memiliki nilai FK sebesar 1.12 dan 1.14 termasuk ke dalam kondisi lereng kritis. Sedang untuk sampel KLR-04 dan KLR-05 yang di ambil masih di tempat yang sama yaitu TPA Kaliori namun pada bagian lereng yang sudah terkena longsor memiliki nilai FK sebesar 1,02 dan 0,89 termasuk dalam kondisi lereng labil. Dengan ditemukannya lereng yang berpotensi dan telah terjadi longsor, maka perlu dilakukan upaya penanggulangan untuk mempertahankan kestabilan lereng yaitu perbaikan geometri lereng, pengaturan drainase, stabilisasi dengan menggunakan vegetasi dan melakukan pemantauan pada lereng TPA.The research area was located at one of Landfill (TPA) sites in Banyumas District with
the total area is about 16 km2. In geomorphology side, the study area is divided into
two units, namely ramps sloping hills denudational unit (D1) and fluvial alluvial plane
Unit (F4). From the oldest to the youngest, the lithostratigrafy is consist of Sandstone
Unit, Sandstone-mudstone Unit, Andesite Breccia Unit, and Alluvial Deposition Unit.
Exogenic process such as weathering and erosion can be found in the research area,
especially in Kaliori landfill where its morphology is covered by hills. Therefore the
slope stability analysis is needed to overcome the bad effects of a slope where we know
that all the slopes have lanslide potency when it has been disturbed. Slope stability can
be evaluated by calculating Security Factor (FK), according to Bowles (1989), slope is
relatively stable when FK value is > 1.25. The method used in the calculation is the
method of incision / sliced based on Fellenius. Based on the analysis of safety factors in
the study area, it can be seen that the slope at Kaliori Lanfill has unstable condition. In
the sample of KLR-01 and KLR-03, it has a FK value of 1.12 and 1.14 respectvely,
belong to the critical slope conditions. Meanwhile, for KLR-04 and KLR-05 which the
samples are taken at the same site, the slope where the landslide occured, it has FK
value of 1.02 and 0.89, which belong to unstable slope conditions. As the discovery of
slope which has landslide potential, it is needed to make an effort to maintain the slope
stability such as repairing, drainage management, stabilization using vegetation and
monitoring Landfill slope.
529715088A1L010117PENGARUH KONSENTRASI ASAM SITRAT DAN GULA PASIR TERHADAP KESEGARAN BUNGA POTONG SEDAP MALAM (Polianthes tuberosa)Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengkaji pengaruh asam sitrat dan gula pasir terhadap kesegaran bunga potong sedap malam (Polianthes tuberosa), 2) mengetahui konsentrasi asam sitrat dan gula pasir yang sesuai untuk memberikan kesegaran terhadap bunga potong sedap malam, 3) mengetahui pengaruh kombinasi asam sitrat dengan gula pasir untuk masa kesegaran bunga potong sedap malam. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 11-22 Desember 2014 di Laboratorium Agronomi dan Hortikuluta, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 16 kombinasi perlakuan. Faktor yang pertama adalah konsentrasi asam sitrat dengan 4 (empat) taraf dan faktor yang kedua adalah konsentrasi Gula pasir dengan 4 (empat) taraf. Perlakuan tersebut diulang tiga kali. Variabel yang diamati adalah lama kesegaran bunga, persentase bunga mekar, persantase bunga layu, diameter tangkai bunga, diameter kuncup bunga, diameter bunga mekar, jumlah kuntum/tangkai, dan total larutan terserap. Hasil penelitian menunjukan bahwa masa kesegaran bunga terlama pada konsentrasi asam sitrat 300 ppm yaitu 10,42 hari, konsentrasi gula pasir 6% yaitu 10,50 hari, dan untuk kombinasi konsentasi asam sitrat 300 ppm dan konsentrasi gula pasir 6% yaitu 11 hari.This This study aims to: 1) assess the effect of citric and sugar to the freshness of tuberose (Polianthes Tuberrosa) cut flowers. 2) determine the appropriate concentration of citric acid and sugar to keep the freshness of tuberose cuted flower, 3) To know the combination of citric acid with sugar for the freshness of tuberose cut flowers. The research was held on December 11th to 22nd 2014 at The Laboratory of Agronomy and Horticulture, Agriculture Faculty, University of General Sudirman, Purwokerto. This study used Randomized Complete Block Design (RCBD) with 16 treatment combinations. The first factor was the concentrations of citric acid with 4 levels, the second one was the concentrations of sugar with 4 levels. The treatments were repeated three times. The observated variable were flower freshness resistance, blooming precentage, wilt precentage, flower stalk diameter, flower buds diameter, flower bloom diameter, number of flowers buds per stem, and total absorbed liquid. The results showed that the longest flower freshness period was at the concentration of citric acid 300 ppm namely 10.42 days, sugar concentration of 6% 10.50 days, and combination of the citric acid concentration of 300 ppm and the sugar concentration of 6% namely 11 days.
529820930H1A013047MODIFIKASI FOTOKATALIS LAPIS TIPIS TiO2 DOPAN Ag UNTUK FOTOREDUKSI LOGAM KROM (VI) PADA LIMBAH ELEKTROPLATING INDUSTRI KNALPOT DENGAN BANTUAN LAMPU TUNGSTENLimbah elektroplating merupakan salah satu limbah yang menyebabkan pencemaran jika tidak diolah terlebih dahulu karena mengandung senyawa berbahaya, salah satunya adalah logam Cr (VI). Kadar logam Cr (VI) dalam limbah elektroplating mencapai 92 ppm, sedangkan kadar maksimum Cr (VI) pada baku mutu limbah air limbah adalah sebesar 0,5 ppm. Fotokatalis TiO2 yang dimodifikasi dengan dopan Ag merupakan salah satu cara untuk mengurangi kadar Cr (VI) dalam limbah yang diaktivasi di bawah sinar tampak. Sintesis TiO2/Ag dilakukan dengan perbandingan molar 100:0; 99:1; 98:2; 97:3; dan 96:4 yang diiradiasi di bawah sinar UV dan dikalsinasi pada suhu 400°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan logam Ag pada perbandingan TiO2/Ag 99:1 mampu menurunkan energi celah pita dari 3,235 menjadi 2,995 eV yang menunjukkan bahwa logam Ag terdispersi pada permukaan TiO2. Struktur fasa TiO2/Ag 99:1 merupakan fasa anatase. Aktivitas fotoreduksi Cr (VI) dengan menggunakan fotokatalis TiO2/Ag 99:1 mampu mencapai hingga 70,87% pada kondisi pH optimum 3 dan waktu optimum selama 5 jam.Electroplating waste is one of the waste causing pollution if not processed first because it contains harmful compounds, which is Cr (VI). Electroplating waste contains approximately 92 ppm of Cr (VI), while the maximum Cr (VI) concentration of wastewater quality standard is 0.5 ppm. Modified photocatalysts of TiO2 with dopant Ag is a way to reduce Cr (VI) levels in waste that are activated under visible light. The synthesis of TiO2/Ag was carried out with a molar ratio of 100:0; 99:1; 98:2; 97:3; and 96:4 irradiated under UV light and calcinated at 400°C. The results showed that the addition of metal Ag in the ratio of TiO2/Ag 99:1 was able to decrease band gap energy from 3,235 to 2,995 eV indicating that Ag metal is dispersed on TiO2 surface. The phase structure of TiO2/Ag 99:1 was anatase phase. The photoreduction activity of Cr (VI) by using TiO2/Ag 99:1 photocatalyst was able reduce Cr (VI) up to 70,87% at optimum pH of 3 and optimum time for 5 hours.
529915089D1E012068PENGARUH PENAMBAHAN SARI BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP KADAR AIR, ASAM LAKTAT, DAN TOTAL PADATAN KEFIRPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan sari buah naga merah dengan konsentrasi berbeda terhadap kadar air, asam laktat, dan total padatan kefir, serta mengetahui konsentrasi terbaiknya. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Terdapat empat perlakuan: penambahan sari buah naga merah 0% (P0), 2,5% (P1), 5% (P2), dan 7,5% (P3) dan lima kali ulangan. Peubah yang diukur yaitu kadar air (%), asam laktat (%), dan total padatan (%). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi dan uji lanjut orthogonal polynomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan sari buah naga merah dengan konsentrasi berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar air dengan rataan kadar air secara berurutan 87,86%, 88,42%, 88,83%, 89,75%, berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap total padatan dengan rataan total padatan secara berurutan 12,14%, 11,58%, 11,17%, 10,23%, dan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar asam laktat dengan rataan kadar asam laktat secara berurutan 0,77%, 0,87%, 0,90%, 0,98%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan sari buah naga merah pada kefir dapat meningkatkan kadar air dan asam laktat kefir, namun menurunkan total padatan kefir, serta konsentrasi terbaik penambahan sari buah naga merah adalah 7,5%.

This research aims to assess the effect of addition of the red dragon fruit juice with different concentrations on the moisture, lactic acid, and total solids of kefir, and to measure its best concentration. The method used is an experimental method by using a completely randomized design (CRD). There are four treatments, the addition of red dragon fruit juice 0% (P0), 2,5% (P1), 5% (P2), 7,5% (P3), each of which is repeated five times. The variables measured are moisture content (%), lactic acid (%), and total solids (%). Data are analyzed by using an analysis of variance and orthogonal polynomial test. The results showed that the addition of red dragon fruit juice with different concentrations significantly affects (P<0,05) the moisture content with the average of moisture are 87,86%, 88,42%, 88,83%, 89,75%, respectively, significantly affects (P<0,05) the total solids with the average of total solids are 12,14%, 11,58%, 11,17%, 10,23%, respectively, and highly significantly affects (P<0,01) the lactic acid kefir with the average of lactic acid are 0,77%, 0,87%, 0,90%, 0,98%, respectively. The conclusion of this research is that the addition of red dragon fruit juice increases the levels of water content and lactic acid of kefir, but decreases the total solids of kefir, and the best concentration of red dragon fruit juice is 7,5%.

530015090A1M012021Kajian Mutu Sensori Produk Bakso dan Sosis Berbasis Jamur Kuping Bakso dan sosis merupakan produk emulsi yang biasa dibuat dengan bahan dasar daging. Namun, pada penelitian ini pembuatan bakso dan sosis memanfaatkan jamur kuping sebagai bahan bakunya. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan atribut sensori, mengkaji profil intensitas atribut sensori menggunakan metode QDA, serta mengkaji tingkat kesukaan konsumen pada bakso dan sosis berbasis jamur kuping. Penelitian ini mengkaji satu faktor percobaan yaitu variasi proporsi jamur dan daging ayam , 100% : 0% dan 75% : 25% (jamur:daging ayam). Uji yang dilakukan yakni uji deskriptif dan uji hedonik yang dianalis dengan uji mann-whitney pada taraf kepercayaan 95%. Bakso jamur 100% menghasilkan warna gelap, aroma dan rasa jamur yang nyata, tekstur kenyal dan lengket, sedangkan bakso jamur 75%:25% daging ayam menghasilkan warna keabu-abuan, aroma dan rasa daging ayam yang nyata, serta tekstur cukup keras. Sosis jamur 100% menghasilkan warna abu-abu kehitaman, berpori, serta aroma dan rasa jamur yang kuat, sedangkan sosis jamur 75%:25% daging ayam menghasilkan warna keabu-abuan, aroma dan rasa daging ayam yang nyata, dan bertekstur kenyal. Tingkat kesukaan pada bakso dan sosis berbasis jamur yakni agak suka hingga netral. Meatballs and sausages are emulsion products that usually made by fresh meat. Nevertheless, in this research the writer would like to make meatballs and sausages by using ear mushroom as the main ingredients. The objective of this research are to describe the sensory attribute, to recite the intensity profile sensory attribute based on QDA method, and to recite the consumer interest level in mushroom meatballs and sausages. This research recites one trial factor which is variation of mushroom and chicken meat, 100% : 0% and 75% : 25% (mushroom:chicken meat). The analysis that the writer used are descriptive analysis and hedonic test which processed by using mann-whitney. The mushroom meatball 100% has dark color, the real aroma and the real taste of mushroom, chewy texture and sticky, whereas meatball 75%:25% chicken meat has greyish color, the aroma and the taste of the chicken are quite strong, and the texture quite hard. Sensory attributes on mushroom sausage 100% are greyish black color, the taste and the aroma of the mushroom, and the porous appearance, whereas mushroom sausage 75% : 25% chicken has greyish color, the aroma and the taste of the chicken and has a rubbery texture. The interest level of mushroom meatball and sausage is approximate up to neutral interests.