Artikel Ilmiah : F1A022069 a.n. MUHAMAD WAHYU ROMADHAN

Kembali Update Delete

NIMF1A022069
NamamhsMUHAMAD WAHYU ROMADHAN
Judul ArtikelEksistensi Tradisi Penghitungan Weton sebagai Penentu Hari Pernikahan di Era Modernitas (Studi di Desa Kebadongan Kecamatan Klirong Kabupaten Kebumen)
Abstrak (Bhs. Indonesia)Era modernitas ditandai dengan perkembangan teknologi, informasi, serta perubahan pola pikir masyarakat yang rasional menimbulkan tantangan tersendiri bagi kelestarian tradisi lokal, seperti tradisi penghitungan weton sebagai penentu hari pernikahan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi dan mekanisme adaptasi tradisi weton dalam mempertahankan eksistensinya di era modernitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang berlokasi di Desa Kebadongan, Klirong, Kebumen. Data diperoleh melalui wawancara mendalam bersama tokoh masyarakat, sesepuh, orang tua, pasangan pengantin, serta diperkuat observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles & Huberman (2014), serta validitas dengan triangulasi sumber. Hasil menunjukkan eksistensi tradisi weton sebagai penentu hari pernikahan bertahan melalui empat strategi adaptasi, yaitu: (1) Internalisasi kepercayaan dan kebiasaan sosial, yaitu memelihara keyakinan terhadap weton sebagai ikhtiar memberi keharmonisan rumah tangga nantinya. (2) Pewarisan nilai dalam keluarga dan masyarakat, di mana orang tua membimbing anak, serta dukungan tokoh masyarakat sebagai orang yang memahami secara mendalam. (3) Penyederhanaan dan fleksibilitas proses penghitungan, berupa penyesuaian hitungan tanpa bersikap kaku serta mempertimbangkan kesepakatan calon pengantin. (4) Pemanfaatan teknologi digital, yakni digunakannya aplikasi kalender weton digital oleh tokoh masyarakat guna mempermudah penghitungan tanpa menghilangkan makna filosofisnya. Meskipun modernitas menjadi tantangan, masyarakat optimis tradisi weton terus bertahan melalui reproduksi budaya yang adaptif dan dinamis.
Abtrak (Bhs. Inggris)The Modernity era marked by technological advancement, information growth, increasingly rational thinking in society, poses challenges to the preservation of local traditions, such as weton calculation as a determinant of wedding dates. This study describes the strategies and mechanisms through which the weton tradition adapts to maintain existence amid modernity. Using a descriptive qualitative method, the research was conducted in Kebadongan Village, Klirong, Kebumen. Data gathered through in-depth interviews with community leaders, elders, parents, and married couples, supported by observation and documentation. Data were analyzed using the interactive model of Miles and Huberman (2014), with validity ensured through source triangulation. Results reveal that the weton tradition persists through four adaptation strategies: (1) internalization of beliefs and social habits, maintaining faith in weton as an effort toward future household harmony. (2) transmission of values within the family and community, where parents guide their children with support from knowledgeable community leaders. (3) simplification and flexibility in the calculation process, adjusting practices without rigidity while considering the couple's agreement. (4) use of digital technology, particularly digital weton calendar applications, to ease calculation without losing its philosophical meaning. Despite modernity's challenges, the community remains optimistic the tradition will endure through adaptive cultural reproduction.
Kata kuncihitungan weton, pernikahan Jawa, tradisi lokal, adaptasi tradisi, modernitas.
Pembimbing 1Niken Paramarti Dasuki, S.Sos., M.Si.
Pembimbing 2Dr. Mintarti, M.Si.
Pembimbing 3-
Tahun2026
Jumlah Halaman19
Tgl. Entri2026-08-12 11:24:48.85434
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.