Home
Login.
Artikelilmiahs
54512
Update
SARAH WAHYU RESTIANA
NIM
Judul Artikel
PENGALAMAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA PEREMPUAN PASCA KEJADIAN PERNIKAHAN DINI DI DESA GANDATAP
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Latar Belakang: Pernikahan dini menjadi masalah kesehatan masyarakat serius, dengan Indonesia menempati peringkat ke-8 dunia dan ke-2 di ASEAN untuk prevalensi pernikahan anak. Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas mencatat kasus pernikahan dini tertinggi (10 kasus periode 2024-September 2025). Data yang tersedia bersifat kuantitatif dan administratif, sehingga belum menggambarkan literasi kesehatan reproduksi maupun pengalaman psikologis dan sosial remaja pasca menikah dini. Metode: Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan fenomenologis. Informan dipilih melalui purposive sampling teknik criterion sampling, terdiri dari 5 informan utama (remaja perempuan menikah di bawah usia 19 tahun) dan 3 informan pendukung (2 orang tua dan 1 bidan desa). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis secara tematik dengan triangulasi sumber untuk keabsahan data. Hasil: Informan utama mampu mengakses, memahami, mengevaluasi, dan menerapkan informasi kesehatan reproduksi dari tenaga kesehatan, pendidikan formal, media digital, dan keluarga, meski pemahamannya masih terbatas pada aspek dasar seperti kebersihan organ reproduksi, menstruasi, dan kontrasepsi. Secara psikologis, informan merasa bahagia saat menikah, tetapi memiliki kesiapan berbeda menjalani peran istri dan ibu, serta menunjukkan respons emosional beragam selama kehamilan, persalinan, dan nifas. Secara sosial, informan memiliki hubungan harmonis dengan pasangan, namun menghadapi dinamika kompleks dengan keluarga (mertua) dan stigma masyarakat, yang sebagian besar diabaikan. Dukungan suami dan keluarga menjadi faktor penting dalam adaptasi informan. Kesimpulan: Remaja perempuan di Desa Gandatapa memiliki literasi kesehatan reproduksi dasar namun belum komprehensif, serta dinamika psikologis-sosial yang bervariasi tergantung konteks pernikahan (terencana atau married by accident) dan ketersediaan dukungan sosial.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Background: Early marriage remains a serious public health issue, with Indonesia ranking 8th globally and 2nd in ASEAN for child marriage prevalence. Gandatapa Village, Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency recorded the highest number of early marriage cases (10 cases, 2024-September 2025). Existing data are largely quantitative and administrative, offering limited insight into reproductive health literacy and the psychological and social experiences of adolescent girls after early marriage. Methods: This qualitative study used a phenomenological approach. Informants were selected through purposive criterion sampling, comprising 5 main informants (women married before age 19) and 3 supporting informants (two parents and one village midwife). Data were collected through in- depth interviews and analyzed thematically, with source triangulation for trustworthiness. Results: Main informants were able to access, understand, evaluate, and apply reproductive health information from health workers, formal education, digital media, and family, though limited to basics such as reproductive hygiene, menstruation, and contraception. Psychologically, informants felt happy at marriage but showed varying readiness for the roles of wife and mother, with diverse emotional responses during pregnancy, childbirth, and postpartum. Socially, informants maintained harmonious relationships with husbands but faced complex dynamics with extended (in-laws) and community stigma, which most disregarded. Support from husbands and family was an important factor in their adaptation. Conclusion: Adolescent girls in Gandatapa Village possess basic but not yet comprehensive reproductive health literacy, with varied psychological and social dynamics depending on marriage context (planned or married-by-accident) and availability of social support.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save