Artikel Ilmiah : B1A022004 a.n. SOFI LUTFIAH
| NIM | B1A022004 |
|---|---|
| Namamhs | SOFI LUTFIAH |
| Judul Artikel | PENGARUH INTERAKSI ANTARA SUKROSA DAN BAP PADA PEMBENTUKAN UMBI MIKRO KENTANG (Solanum tuberosum L.) SECARA IN VITRO |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan komoditas hortikultura yang memiliki potensi tinggi sebagai sumber karbohidrat dan merupakan sumber pangan penting setelah gandum, jagung, dan beras. Umbi kentang mengandung kadar lemak dan kolesterol yang rendah, tetapi memiliki kandungan karbohidrat, natrium, serat pangan, protein, vitamin C, kalsium, zat besi, serta vitamin B6 yang cukup tinggi. Produksi kentang di Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah introduksi kultivar baru kentang melalui teknik kultur in vitro. Faktor-faktor yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan eksplan dan pembentukan umbi mikro kentang adalah sumber karbon dan zat pengatur tumbuh yang digunakan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan 1) menganalisis pengaruh interaksi antara sukrosa dan BAP pada pembentukan umbi mikro kentang calon kultivar M2 secara in vitro; 2) menentukan konsentrasi sukrosa dan BAP terbaik untuk pembentukan umbi mikro kentang calon kultivar M2 secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola perlakuan faktorial dua faktor. Faktor yang dicobakan adalah sukrosa dengan 4 taraf konsentrasi (30, 60, 90, dan 120 g/L) dan BAP dengan 4 taraf konsentrasi (0, 2, 4, dan 6 mg/L). Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga diperoleh 48 unit percobaan. Variabel bebas yang dicobakan adalah konsentrasi sukrosa dan BAP. Variabel terikat yang diamati adalah pembentukan umbi mikro kentang. Parameter yang diukur meliputi waktu pembentukan umbi, jumlah umbi, diameter umbi, panjang umbi dan bobot umbi. Data yang diperoleh dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) pada tingkat signifikansi 5% dan 1%, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan dan uji regresi pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara sukrosa dan BAP berpengaruh nyata terhadap jumlah, diameter, dan panjang umbi mikro kentang calon kultivar M2 secara in vitro, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap bobot basah dan bobot kering umbi. Faktor tunggal sukrosa berpengaruh nyata terhadap jumlah dan diameter umbi, sedangkan faktor tunggal BAP tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter yang diamati. Kombinasi sukrosa 60 g/L dan BAP 4 mg/L merupakan perlakuan yang paling efektif dalam mendukung pembentukan umbi mikro kentang calon kultivar M2 secara in vitro, karena menghasilkan perkembangan umbi yang paling baik berdasarkan jumlah, diameter, dan panjang umbi mikro. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Potato (Solanum tuberosum L.) is an important horticultural crop with considerable potential as a carbohydrate source and ranks among the world's major food crops after wheat, maize, and rice. Potato tubers are low in fat and cholesterol but are rich in carbohydrates, dietary fibre, protein, vitamin C, calcium, iron, vitamin B6, and contain relatively low levels of sodium. Despite its importance, potato production in Indonesia remains insufficient to meet national demand. One approach to addressing this challenge is the development and propagation of new potato cultivars through in vitro culture techniques. The success of explant growth and in vitro microtuber formation is strongly influenced by the composition of the culture medium, particularly the carbon source and plant growth regulators. Therefore, this study was conducted to: (1) evaluate the interaction between sucrose and 6-benzylaminopurine (BAP) on in vitro microtuber formation of the prospective M2 potato cultivar; and (2) determine the optimum concentrations of sucrose and BAP for promoting microtuber formation. The experiment was conducted using a completely randomised design (CRD) with a two-factor factorial arrangement. The experimental factors consisted of four sucrose concentrations (30, 60, 90, and 120 g L⁻¹) and four BAP concentrations (0, 2, 4, and 6 mg L⁻¹). Each treatment combination was replicated three times, resulting in a total of 48 experimental units. The experimental factors were sucrose and BAP concentrations, while the response variable was in vitro microtuber formation. The parameters evaluated included time to microtuber formation, microtuber number, microtuber diameter, microtuber length, and fresh and dry microtuber weights. The data were subjected to analysis of variance (ANOVA) at the 5% and 1% significance levels, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) and regression analysis at the 5% significance level. The results demonstrated that the interaction between sucrose and BAP significantly affected the number, diameter, and length of microtubers produced by the prospective M2 potato cultivar under in vitro culture conditions, but had no significant effect on microtuber fresh or dry weight. The independent effect of sucrose significantly influenced microtuber number and diameter, whereas BAP had no significant effect on any of the parameters evaluated. The combination of 60 g L⁻¹ sucrose and 4 mg L⁻¹ BAP was identified as the optimum treatment for in vitro microtuber formation of the prospective M2 potato cultivar, producing superior microtuber development in terms of microtuber number, diameter, and length. |
| Kata kunci | 6-Benzylaminopurine (BAP), Kentang, Kultur In vitro, Sukrosa, Umbi mikro |
| Pembimbing 1 | Sugiyono, Ph.D. |
| Pembimbing 2 | Riska Desi Aryani, S.Si., M.Sc. |
| Pembimbing 3 | - |
| Tahun | 2026 |
| Jumlah Halaman | 49 |
| Tgl. Entri | 2026-08-11 17:08:51.043038 |