Home
Login.
Artikelilmiahs
54329
Update
LAILI NUR AGUSTIN
NIM
Judul Artikel
Upaya Memacu Pembentukan Umbi Mikro Dua Kultivar Kentang dengan Konsentrasi Sukrosa Berbeda dalam Kultur In Vitro
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Kentang merupakan salah satu komoditas hortikultura penting yang berperan dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian. Produktivitas kentang di Indonesia yang masih relatif rendah memerlukan upaya peningkatan produksi, antara lain melalui penggunaan kultivar unggul dan penyediaan benih berkualitas secara efisien. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mendukung penyediaan benih kentang adalah pembentukan umbi mikro secara in vitro. Keberhasilan pembentukan umbi mikro dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama genotipe atau kultivar dan komposisi media kultur. Sukrosa merupakan salah satu komponen penting media yang berperan sebagai sumber karbon sekaligus memengaruhi kondisi osmotik media sehingga dapat menentukan keberhasilan pembentukan dan pertumbuhan umbi mikro. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: (1) menganalisis respons dua kultivar kentang terhadap berbagai konsentrasi sukrosa dalam pembentukan umbi mikro secara in vitro; dan (2) menentukan konsentrasi sukrosa yang paling efektif untuk pembentukan umbi mikro pada kedua kultivar kentang tersebut. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Petak Terpisah (Split-Plot Design), dengan kultivar kentang sebagai petak utama dan konsentrasi sukrosa sebagai anak petak. Petak utama terdiri atas dua kultivar kentang, yaitu M2 dan M3, sedangkan anak petak terdiri atas lima konsentrasi sukrosa, yaitu 3, 6, 9, 12, dan 15%. Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 30 unit percobaan. Parameter yang diamati meliputi waktu terbentuknya umbi mikro, jumlah umbi mikro, diameter umbi mikro, dan panjang umbi mikro. Data dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) dengan taraf signifikansi 5% dan 1%, dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) dan uji regresi pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Konsentrasi sukrosa memengaruhi pembentukan umbi mikro kentang secara in vitro dengan respons yang berbeda antara calon kultivar M2 dan M3. Calon kultivar M2 menunjukkan kapasitas pembentukan dan akumulasi biomassa umbi mikro yang lebih tinggi dibandingkan M3. Konsentrasi sukrosa yang efektif bersifat spesifik kultivar. Calon kultivar M2 memberikan respons pembentukan umbi mikro yang baik pada sukrosa 6–12%, dengan jumlah umbi tertinggi secara numerik pada 6%, sedangkan M3 cenderung memberikan respons lebih baik pada sukrosa 9% dan 15%.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Potato (Solanum tuberosum L.) is an important horticultural crop that contributes to food security and the economy. The relatively low productivity of potato in Indonesia highlights the need for strategies to increase production, including the use of superior cultivars and the efficient production of high-quality planting material. One approach to supporting the production of potato planting material is in vitro microtuber formation. The success of microtuber formation is influenced by several factors, particularly genotype or cultivar and the composition of the culture medium. Sucrose is an essential component of the culture medium, serving as a carbon source while also influencing the osmotic conditions of the medium, thereby affecting microtuber formation and growth. This study aimed to: (1) evaluate the responses of two prospective potato cultivars to different sucrose concentrations during in vitro microtuber formation; and (2) determine the most effective sucrose concentration for microtuber formation in both prospective cultivars. The experiment was conducted using a split-plot design, with potato cultivar as the main-plot factor and sucrose concentration as the sub-plot factor. The main-plot factor consisted of two prospective potato cultivars, M2 and M3, while the sub-plot factor comprised five sucrose concentrations (3, 6, 9, 12, and 15%). Each treatment combination was replicated three times, resulting in a total of 30 experimental units. The parameters evaluated included time to microtuber formation, number of microtubers, microtuber diameter, and microtuber length. The data were subjected to analysis of variance (ANOVA) at the 5% and 1% significance levels, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) and regression analysis at the 5% significance level. The results demonstrated that sucrose concentration affected in vitro potato microtuber formation, with different responses observed between the prospective M2 and M3 cultivars. The prospective M2 cultivar exhibited a greater capacity for microtuber formation and biomass accumulation than M3. The effective sucrose concentration was cultivar-specific. M2 exhibited favourable microtuber formation responses at sucrose concentrations of 6–12%, with the numerically highest number of microtubers recorded at 6% sucrose. In contrast, M3 tended to exhibit better responses at sucrose concentrations of 9% and 15%. These findings indicate that the optimum sucrose concentration for in vitro microtuber production should be determined according to the specific response of each potato cultivar.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save