Artikelilmiahs
Menampilkan 5.061-5.080 dari 48.822 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 5061 | 14875 | A1L112051 | Efektivitas Penggunaan Pupuk Hayati Cair Penambat N2 dan Tricho-Kompos terhadap Serapan Hara N pada Padi Varietas Ciherang serta Korelasinya dengan Karakter Agronomik | Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan pupuk hayati cair penambat N2 dan tricho – kompos terhadap: 1) pertumbuhan dan produksi padi varietas Ciherang, 2) perolehan dosis dari perlakuan efektif untuk produksi padi varietas Ciherang, dan 3) korelasi serapan N dengan karakter agronomik padi varietas Ciherang. Penelitian ini telah dilaksanakan di Screen House Agronomi Fak. Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dan Balitsa, Lembang, Bandung. Berlangsung selama 4 bulan, dimulai September 2015 sampai Januari 2016. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor, yaitu pupuk hayati cair penambat N2 (D) terdiri dari D0 (0 ml/ha), D1 (800 ml/ha), D2 (1600 ml/ha), D3 (2400 ml/ha) dan Tricho-kompos (T) terdiri dari T0 (0 t/ha), T1 (2 t/ha), T2 (4 t/ha) dengan 3 kali ulangan. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah anakan, luas daun, panjang akar total, bobot kering brangkasan, serapan N, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi, bobot gabah total, bobot 1000 biji dan hasil gabah. Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji F dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk hayati cair penambat N2 dan tricho – kompos mampu meningkatkan tinggi tanaman, panjang akar total, serapan N, persentase gabah isi dan hasil gabah. Kombinasi perlakuan pupuk hayati cair penambat N2 dosis 1.600 ml/ha dan tricho – kompos dosis 6 t/ha merupakan dosis efektif karena mampu meningkatkan produksi hasil gabah hingga 9,32 t/ha. Korelasi antara serapan N dengan persentase gabah isi dan hasil gabah tergolong tinggi. | This study aims to study the effect of using biological fertilizer liquid N2- fixing and tricho - compost on: 1) the growth and production of rice Ciherang, 2) the acquisition an effective dose treatment for producting rice Ciherang and 3) the correlation with agronomic characters. The research has been conducted by 4 months, starting from September 2015 to January 2016 on Screen House of Agronomy; Laboratory of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman and Balitsa Lembang, Bandung. The experimental design was used factorial randomized block design (RBD) which first factor were biological fertilizer liquid N2- fixing consisting D0 (0 ml/ha), D1 (800 ml/ha), D2 (1.600 ml/ha), D3 (2.400 ml/ha) and second factor were tricho - compost consisting of T0 (0 t/ha), T1 (2 t/ha), T2 (4 t/ha), T3 (6 t/ha) with three repeats. The characters observed in this research were: plant height, number of tiller, leaf area, length of root total, dry weight of plant, N uptake, number of grains per panicle, filled grain percentage, weight grain total, 1000 grain weight, and grain yield. The data were analyzed using F test followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at level of 5% error. The result showed that the using biological fertilizer liquid N2- fixing and tricho – compost were increased on plant height, length of root, N uptake, filled grain percentage and grain yield. The combination biological fertilizer liquid N2- fixing dose 1.600 ml/ha and tricho – compost dose 6 t/ha was an effective dose cause increased grain yield until 9,32 t/ha. Correlation between N uptake with filled grain percentage and grain yield are height. | |
| 5062 | 14876 | A1L012159 | Pengaruh Aplikasi Selenium Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Lima Varietas Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Menggunakan Media Arang Sekam | Bawang merah mempunyai arti penting bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh aplikasi selenium terhadap pertumbuhan dan hasil lima varietas bawang merah, 2) mengetahui perbedaan antar varietas pada karakter pertumbuhan dan hasil bawang merah dan 3) mengetahui varietas bawang merah yang memberikan respon paling baik terhadap aplikasi selenium pada media arang sekam. Penelitian dilaksanakan di screen house dan Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto pada bulan Nopember 2015 sampai dengan Januari 2016. Rancangan percobaan yang digunakan berpola faktorial dengan bentuk Rancangan Acak Kelompok. Faktor percobaan pertama berupa konsentrasi selenium yang terdiri dari Se 0 ppm dan Se 20 ppm. Faktor percobaan kedua adalah lima varietas bawang merah yang terdiri dari Kramat 1, Pikatan, Bima Curut, Mentes dan Pancasona. Total kombisasi perlakuan 10 kombinasi dan diulang 3 kali. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah daun, diameter daun, panjang akar, volume akar, bobot tanaman basah, bobot tajuk basah, bobot akar basah, bobot tanaman kering, bobot tajuk kering, bobot akar kering, jumlah umbi, diameter umbi, bobot umbi basah, dan bobot umbi kering. Data dianalisis menggunakan uji F, jika berbeda nyata maka dilanjutkan dengan menggunakan Uji Jarak Ganda Duncan dan Uji Beda Nyata Terkecil pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) Peningkatan konsentrasi selenium berakibat pada penurunan pertumbuhan dan hasil bawang merah pada variabel tinggi tanaman, diameter daun, bobot tanaman basah, bobot tajuk basah, bobot tanaman kering, bobot tajuk kering, bobot akar kering, bobot umbi basah dan bobot umbi kering. 2) Kelima varietas yang diuji memiliki perbedaan pada karakter tinggi tanaman dan tinggi tanaman Bima Curut berbeda dengan varietas lain. 3) Varietas Bima Curut mengalami penurunan pertumbuhan dan hasil pada peningkatan konsentrasi selenium, sedangkan varietas Kramat 1, Pikatan, Mentes dan Pancasona tidak dipengaruhi oleh penambahan selenium 20 ppm di media arang sekam. | Shallots have significance for society. The purpose of this study is to 1) determine the effect of selenium application on growth and yield five varieties of shallot, 2) to know the difference between varieties on character growth and yield of shallot and 3) to know shallot varieties that respond best to the application of selenium in charcoal husk. This study conducted in screen house and the Laboratory of Plant Breeding and Biotechnology, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto in November 2015 to January 2016. The experimental design used factorial pattern with randomized block design. The first factor is the concentration of selenium (Se), which consists of Se 0 ppm and Se 20 ppm. The second factor is varieties of shallot consisting of Kramat 1, Pikatan, Bima Curut, Mentes and Pancasona. Total combined treatment of 10 combinations and repeated 3 times. Variables of this study include the observations of plant height, number of tillers, number of leaf, diameter of leaf, root length, root volume, plant wet weight, canopy wet weight, root wet weight, plant dry weight, canopy dry weight, root dry weight, number of bulb, diameter of bulb, bulb wet weight and bulb dry weight. Data were analyzed using F test, if the test was significantly different then continued using Duncan's multiple range test and Least Significant Different at the level of 5% error. The results showed that 1) Increased in concentration of selenium result in shallot growth and yield decrease on variables plant height, diameter of leaf, plant wet weight, canopy wet weight, plant dry weight, canopy dry weight, root dry weight, bulb wet weight, bulb dry weight, 2) Five tested varieties show differences in plant height and Bima Curut have different plant heigh among other variety, 3) Bima Curut growth and yield have decreased at selenium concentration enhancement, while Kramat 1, Pikatan, Mentes and Pancasona didn’t effected at 20 ppm in charcoal husk. | |
| 5063 | 14877 | A1L012149 | HUBUNGAN KEKERABATAN JERUK LOKAL DENGAN ANALISIS CAPS MENGGUNAKAN KOMBINASI PRIMER trnL-trnF DAN MatK2 DENGAN ENZIM RESTRIKSI TaqI DAN HinfI | Indonesia memiliki banyak keragaman jeruk dilihat dari jumlah unit taksonomi yang ada. Keragaman jeruk di Indonesia belum diketahui pasti apakah merupakan keragaman genetik. Studi tentang keragaman perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat keragaman dan kekerabatan antar jeruk lokal. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengkaji kombinasi primer trnL-trnF dan MatK2 dengan enzim restriksi TaqI dan HinfI dalam menganalisis kekerabatan antar genotip jeruk lokal, 2) mengkaji keragaman genetik jeruk lokal menggunakan kombinasi primer trnL-trnF dan MatK2 dengan enzim restriksi TaqI dan HinfI, dan 3) mengkaji hubungan kekerabatan antar jeruk lokal dengan penanda CAPS menggunakan kombinasi primer trnL-trnF dan MatK2 dengan enzim restriksi TaqI dan HinfI. Penelitian dilakukan mulai Oktober 2015 sampai Februari 2016 di Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi Fakultas Pertanian dan Laboratorium Genetika Molekuler Fakultas Biologi Unsoed. Penelitian ini menggunakan tiga kombinasi primer dan enzim restriksi. Kombinasi yang digunakan yaitu trnL-trnF dengan HinfI, MatK2 dengan TaqI, dan MatK2 dengan HinfI. Nilai Polymorphic Information Content (PIC) rata-rata dari tiga kombinasi yang digunakan sebesar 0,48 dan termasuk dalam kategori cukup informatif. Penelitian ini menghasilkan empat klaster utama yaitu citron, mandarin, pamelo, dan kumquat. Klaster citron memiliki dua subklaster, subklaster pertama meliputi C. microcarpa 1, dan C. aurantifolia 1 dan subklaster kedua C. limonia 1, C. hystrix 1, C. limonia 2, C. aurantifolia 2, C. microcarpa 2, dan C. hystrix 2. Klaster mandarin memiliki dua subklaster, subklaster pertama C. nobilis 1, C. reticulata 1, C. sinensis, C. nobilis 2, C. nobilis 3, C. nobilis 4, C. reticulata 3, dan C. reticulata 4. Subkelas kedua hanya C. sinensis 3. Klaster pamelo terdapat C. maxima 1, C. maxima 2, C. reticulata 2, C. maxima 3, dan C. maxima 4. Klaster kumquat hanya terdapat spesies F. japonica. | Indonesia possesed a high citrus diversity based on the total taxonomy unit. It is still unsure whether the Citrus diversity in Indonesia categorized into genetic diversity. The study of diversity is needed to know the diversity level and phylogenetic among the local Citrus. This study was aimed to assess the primer combinations of trnL-trnF and MatK2 with restriction enzymes consisted of TaqI and HinfI for analyzing the phylogenetic among the local Citrus genotype, to study genetic diversity of Citrus local genotype, and assess the phylogenetic relationship between a local orange using CAPS markers. The study was conducted from October 2015 to February 2016 in Laboratory of Plant Breeding and Biotechnology and Laboratory of Genetics and Molecular, Faculty of Biology, University of Jenderal Soedirman (Unsoed). Three combination of primer and restriction enzyme were used in this research. The combinations were consisted of trnL-trnF with HinfI, MatK2 with TaqI, and MatK2 with HinfI. Polymorphic Information Content (PIC) value of three combination is 0,48 and included in category reasonably informative. The combinations generated four main clusters, namely citron, mandarin, pummelo, and kumquat. Citron had two subclasters, the first subcluster was C. microcarpa 1, and C. aurantifolia and second subcluster included limonia C. 1, C. hystrix 1, C. Limonia 2, C. aurantifolia 2, C. microcarpa 2, and C . hystrix 2. Mandarin cluster had two subclusters, there first subcluster was 2 C. sinensis, C. nobilis 2, C. nobilis 4, C. reticulata 3, and 4 are reticulata C. 4 C. maxima and C. sinensis 3 and second subclusters were C. maxima and C. sinensis 4. Pummelo cluster had two subclasters, there first subclaster was C. nobilis 1 and C. reticulata and second subclasters were C. maxima 1, C. maxima 2, C. reticulata 2, and C. maxima 3. kumquat Cluster only consisted of Fortunella japonica species. | |
| 5064 | 14878 | A1L012019 | Pengaruh Bentuk Pupuk Hayati Mikoriza dan Saat Aplikasi Terhadap Kebutuhan Air dan Produksi Tanaman Bawang Merah (Allium cepa L.) | Pengembangan tanaman bawang merah pada tanah ultisol mengalami hambatan ketersediaan air yang rendah. Pemberian pupuk hayati mikoriza diharapkan mampu memperbaiki struktur tanah sehingga kebutuhan air tanaman bawang merah tercukupi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh beberapa bentuk pupuk hayati mikoriza dan saat aplikasi terbaik terhadap :1) kebutuhan air tanaman, 2) kadar air titik layu permanen, 3) produksi bawang merah ( Allium cepa L.). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 3x3 dengan 3 kali ulangan. Faktor yang dicoba terdiri atas 1) bentuk pupuk hayati mikoriza yaitu: bentuk curah, bentuk kapsul instan, bentuk kapsul ultisol dan 2) saat aplikasi yaitu: 0 hari setelah tanam, 5 hari setelah tanam, dan 10 hari setelah tanam. Variabel yang diamati yaitu titik layu permanen, kebutuhan air, persedian air maksimum, bobot jenis isi, bobot jenis partikel, batas cair, batas berubah warna, porositas tanah, pertumbuhan dan produksi bawang merah. Hasil penelitian menunjukan bentuk pupuk hayati mikoriza dan saat aplikasi pupuk hayati mikoriza berpengaruh nyata terhadap titik layu permanen, persedian air maksimum, bobot jenis isi, batas cair dan batas berubah warna, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kebutuhan air, bobot jenis partikel, pertumbuhan dan produksi bawang merah. | Development of Shallot crop in the ultisol soil usually obstacles some drought, the lack of water availability is one of them. Giving of mycorrhizal biofertilizer is expected to improve the soil structure so that the shallot crop’s water requirement is fulfilled. This study aims to determine the effect of mycorrhizal biofertilizer and application time of on the shallot crop: 1) plant’s water needs 2) water content point of permanent wilting, 3) production of Shallot crop (Allium cepa L.). The experimental design that used was a randomized block design (RBD) factorial 3x3 with 3 replications. Factors that tested consists of 1) the form of a biological fertilizer mycorrhizal: bulk, instant capsules, capsules ultisol and 2) the time of application: 0 days after planting, 5 days after planting, and 10 days after planting. Variables that observed were the permanent wilting point, water demand, water supply maximum, weight content types, density of particles, liquid limit, boundary changes color, soil porosity, growth and production of shallot crop. The results showed that the form of a mycorrhizal biofertilizer and the application time of mycorrhizal biofertilizer significantly affect the point of permanent wilting, water supply maximum, heavy types of content, liquid limit, and boundary changes color, but did not significantly affect water demand, density of particles , the growth and production of shallot crop. | |
| 5065 | 14879 | F1B010106 | KUALITAS PELAYANAN DI PUSKESMAS II SUMPIUH KABUPATEN BANYUMAS DALAM PROGRAM EXPANDING MATERNAL AND NEONATAL SURVIVAL | Program Expanding Maternal and Neonatal Survival merupakan bagian Kemitraan Komprehensif antara Amerika Serikat dengan Indonesia yang bertujuan menurunkan AKI dan AKB di Indonesia kurun waktu 5 tahun mulai tahun 2011. Puskesmas II Sumpiuh Kabupaten Banyumas merupakan puskesmas penerima Program EMAS di tahun pertama pelaksanaannya, yaitu tahun 2012. Visi dan misi Puskesmas II Sumpiuh Kabupaten Banyumas berkesinambungan dengan pelaksanaan Program EMAS yaitu berniat memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi di puskesmas. Akan tetapi, tahun 2014, AKB di Puskesmas II Sumpiuh Kabupaten Banyumas cenderung meningkat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Simple Random Sampling. berdasarkan teknik tersebut didapatkan sasaran penelitian sebanyak 84 responden. Selain menggunakan kuisioner, teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan distribusi frekuensi, rata-rata hitung (arithmetic mean) dan standar deviasi atau simpangan baku. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah Kualitas Pelayanan Publik di Puskesmas II Sumpiuh Kabupaten Banyumas dalam Program EMAS terselenggara dengan baik. Dimensi-dimensi kualitas pelayanan publik dalam penelitian ini hampir semua dalam kategori baik. Adapun yang perlu diperhatikan ada keberadaan fasilitas pendukung seperti ruang tunggu dan kantin. Berdasarkan hasil penelitian agar kualitas pelayanan publik di Puskesmas II Sumpiuh Kabupaten Banyumas dalam Program EMAS, petugas pelayanan khususnya pada bagian Kesehatan Ibu dan Anak harus mempertahankan dan terus meningkatkan segala dimensi agar tercapai sempurna dalam penyelenggaraannya. | Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) program is part of the Comprehensive Partnership between the US and Indonesia, which aims to reduce Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) in Indonesia period of 5 years starting in 2011. Public Health Service II Sumpiuh Banyumas is a recipient health centers EMAS program in the first year of implementation, namely in 2012. Vision and mission health centers II Sumpiuh Banyumas continuous with the implementation of the EMAS program is intended to improve the quality of health services in health centers Mothers and Babies. However, in 2014, the IMR in the Puskesmas II Sumpiuh Banyumas tends to increase. This research uses descriptive quantitative research methods. The sampling technique in this study using simple random sampling method, based on the technique targeted research obtained by 84 respondents. In addition to using questionnaires , data collection techniques in this study using observation and documentation. Data were analyzed using frequency distribution, the arithmetic mean ( arithmatic mean) and standard deviation. The results obtained in this study is the Quality of Public Service in public health center II Sumpiuh Banyumas in the EMAS program is well established. The dimensions of quality of public services in this study almost all in both categories. As for the note there is the existence of facilities such as the lounge and cafeteriaBased on the research that the quality of public services at the health center II Sumpiuh Banyumas in EMAS Program, care workers, especially in the Maternal and Child Health must maintain and continuously improve all dimensions in order to achieve perfect in its implementation. | |
| 5066 | 14881 | A1L011121 | PENGARUH PEMBERIAN PUPUK NZEO-SR TERHADAP SERAPAN N DAN HASIL CABAI MERAH PADA ULTISOL | RINGKASAN Tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) adalah tumbuhan perdu dan berkayu, buahnya memiliki rasa pedas yang disebabkan oleh kandungan kapsaisin. Cabai merah dapat dikembangkan pada tanah Ultisol dengan memperbaiki produktivitas tanah, baik melalui pemupukan ataupun penambahan bahan-bahan kimia diantaranya N, P, K dan zeolit. Pupuk NZEO-SR merupakan pupuk yang dapat melepaskan unsur hara N secara perlahan-lahan serta dapat memperbaiki sifat kimia dan fisika tanah Ultisol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh takaran pupuk NZEO-SR dari jenis varietas cabai merah pada serapan unsur hara N dan hasil tanaman pada Ultisol dan (2) takaran pupuk yang optimal untuk meningkatkan hasil tanaman cabai pada Ultisol. Penelitian dilakukan di lahan kering jenis tanah Ultisol di Desa Karangrau, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas dan Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, pada bulan Maret-Desember 2015. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan 3 ulangan. Petak utama adalah varietas tanaman cabai dengan 2 jenis yakni, cabai merah besar varietas Astina (V1) dan cabai merah keriting varietas Trophy (V2). Anak petak adalah takaran pupuk NZEO-SR, yaitu 0 kg N/ha (NO), 30 kg N/ha (N1), 60 kg N/ha ( N2), 90 kg N/ha (N3), 120 kg N/ha (N4) dan 150 kg N/ha (N5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk NZEO-SR berpengaruh nyata terhadap bobot basah akar, bobot basah tanaman, bobot kering akar, bobot kering tanaman dan berpengaruh sangat nyata pada variabel bobot basah batang; dan bobot kering batang dan tidak berbeda nyata pada bobot basah dan kering daun. Pada variabel bobot basah dan kering buah memberikan hasil yang nyata, akan tetai pada varibel serapan unsur hara N hasilnya tidak nyata. Takaran pupuk NZEO-SR yang optimal untuk tanaman cabai merah berdasarkan bobot basah buah adalah setara dengan 88,77 kg N/ha. | SUMMARY Red pepper (Capsicum annuum L.) are herbaceous and woody plants, the fruits has spicy taste caused by capsaicin. Red pepper can be developed at Ultisol by improving the land productivity, through chemical addition, including N, P, K and zeolite. NZEO-SR are kind of fertilizer that can release N nutrient slowly and improve soil’s chemical and physical. The research aims to determine: (1) the effect of NZEO-SR dose of aplication and red pepper varieties to the N absorbtion and yield on Ultisol, and (2) the optimum dose of NZEO-SR application to icrease the yeald. This study was conducted on Ultisol type of dry land in Karangrau Village, Banyumas and Laboratory of Soil Science, Faculty of Agriculture University of Jenderal Soedirman, Purwokerto, from March to December 2015. The research used Split plot design with 3 replications. The main plot were plant varieties, include Astina red pepper (V1) and Trophy curly pepper (V2). The sub plot were NZEO-SR dose of application included 0 kg N/ha (N0), 30 kg N/ha (N1), 60 kg N/ha(N2), 90 kg N/ha (N3), 120 kg N/ha (N4) and 150 kg N/ha (N5). The results showed that the dose of NZEO-SR application are able to increase the fresh root weight, fresh plant weight, dry root weight, dry plant weight and highly effected to to the fresh leaves weight and dry leaves weight. The dose of NZEO-SR application are able to increase fresh fruit weight and dry fruit weight, but it didn’t effect the N absobtion significantly. The optimum dose of NZEO-SR application for red pepper based on fresh fruit weight equivalent to 88.77 kg N / ha. | |
| 5067 | 14887 | B1J011146 | Isolasi dan Deteksi Keragaman Genetik Bakteriofag Spesifik Penginfeksi Bacillus cereus dari Air Limbah Rumah Sakit dan Pemukiman di Kabupaten Banyumas | Bacillus cereus merupakan bakteri patogen yang sering mengkontaminasi makanan, karena memproduksi enterotoksin dan toksin emetik yang menyebabkan keracunan tipe diare dan emetik. B. cereus juga dapat menyebabkan bakteremia, meningitis, infeksi pada bekas luka, dan saluran pernapasan. Beberapa B. cereus telah menunjukkan resistensi terhadap berbagai antibiotika. Bakteriofag dapat digunakan untuk mengatasi infeksi dan kontaminasi makanan oleh B. cereus. Penggunaan bakteriofag relatif lebih efisien, spesifik, dan murah. Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi bakteriofag spesifik penginfeksi B. cereus dari air limbah rumah sakit dan pemukiman di Kabupaten Banyumas, serta mendeteksi keragaman genetik bakteriofag dengan multiplex PCR. Penelitian menggunakan metode deskriptif. Terdapat 3-12 plaque per cawan pada tahap isolasi. Pemurnian dilakukan tiga kali. Terdapat 49 isolat faga pada tahap pemurnan terakhir. Sebanyak 20 isolat faga bersifat spesifik terhadap B. cereus ATCC 11778. Sebanyak 14 isolat menunjukkan efektivitas infeksi terhadap B. cereus ATCC 11778 di antara genus Bacillus. Sebanyak 7 isolat faga memiliki laju penglisisan inang yang cepat pada jam ke-2 setelah inkubasi. Isolat MKTP-1-B memiliki tingkat similaritas tertinggi, yaitu 1,00 terhadap RSBMT-2-A. Isolat RSJE-1-C memiliki tingkat similaritas terkecil yaitu 0,190. Seluruh isolat faga memiliki keragaman genetik yang rendah. | Bacillus cereus is pathogenic bacteria that frequently contaminate food by producing entero and emetic toxin. B. cereus also cause bacteremia, meningitis, infection in the scar, and respiratory tract. Some B. cereus had shown resistance to various antibiotics. Bacteriophage can be used to overcome B. cereus infection or food contamination. The use of bacteriophage is more efficient, specific, and inexpensive. The research was aimed to isolate specific B. cereus- infecting bacteriophage from wastewater of hospital and house complex in Banyumas Regency, and also detect the genetic diversity of bacteriophages by multiplex PCR. The research was carried out descriptively. Total of 3-12 plaques were isolated from initial isolation. Purification was carried out for three times. There were 49 isolated phages by the end of purification. Total of 20 phages showed specifity infection to B. cereus ATCC 11778. Total of 14 phages showed effectivity against B. cereus ATCC 11778 among genus Bacillus. Total of 7 phages have a fast host-lysing rate by the 2nd hour of incubation. Isolate MKTP-1-B has the highest degree of similarity, i.e. 1.000 with RSBMT-2-A. Isolate RSJE-1-C has the smallest degree of similarity, i.e. 0.190. All phages has a low genetic diversity. | |
| 5068 | 14882 | A1L011080 | APLIKASI PUPUK N, P, K DAN ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA TERHADAP KARAKTER FISIOLOGI DAN HASIL PADI GOGO | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi asap cair dan dosis pupuk N, P, K terhadap karakter fisiologi dan hasil padi gogo. Penelitian dilakukan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Unsoed. Rancangan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi dengan dua faktor percobaan yaitu dosis asap cair sebagai petak utama dan dosis pupuk N, P, K sebagai anak petak. Faktor asap cair terdiri atas tanpa asap cair, asap cair 1:200, dan 1:400. Faktor pupuk N, P, K terdiri atas pupuk N, P, K dosis 25%, 50%, 75%, dan 100% rekomendasi. Variabel yang diamati antara lain laju pertumbuhan tanaman, laju pertumbuhan relatif, laju asimilasi bersih, klorofil, biomassa tanaman, panjang malai, jumlah malai, jumlah dan bobot bulir isi per rumpun, jumlah dan bobot bulir hampa per rumpun, jumlah bulir isi per malai, jumlah bulir hampa per malai, bobot 1000 biji, bobot bulir per petak efektif, dan indeks panen. Hasil penelitian menunjukkan asap cair tempurung kelapa belum mampu meningkatkan karakter fisiologi dan hasil padi gogo, sedangkan dosis pupuk N, P, K meningkatkan biomassa tanaman, jumlah malai, jumlah bulir isi per rumpun, jumlah bulir isi dan hampa per malai, bobot bulir per petak efektif, kecuali indeks panen. | The objective of this study was to know application of coconut shell wood vinegar and N, P, K fertilizer on physiological characters and yield of upland rice. The research was conducted in experimental farm of Faculty of Agriculture Unsoed. This study used a split plot design with factors of wood vinegar as the main plot and dose of N, P, K fertilizer as sub plots. Factors of wood vinegar consist of without application, 1:200, and 1:400. Factors of N, P, K fertilizer consist of 25%, 50%, 75%, and 100% recommendation dose. Observed variables were crop growth rately (CGR), relative growth rately (RGR), net assimilation rate (NAR), chlorophyll, biomass plant, panicle length, number of panicle per hill, number and weight of filled grain per hill, number and weight of unfilled grain per hill, number of filled grain per panicle, number of unfilled grain per panicle, weight of 1000 grains, weight grains per effective plot, and harvest index (HI). The results showed that application of coconut shellwood vinegar was not improved physiological cahracters and yield of upland rice yet, while increasing of N, P, K dose improved biomass plant, number of panicle per hill, number of filled grain per hill, number of filled and unfilled grain per panicle, weight of grain per effective plot, except harvest index. | |
| 5069 | 14883 | A1L008045 | APLIKASI MIKORIZA DAN PENGURANGAN DOSIS ANJURAN PUPUK UREA, SP-36 DAN KCl TERHADAP BEBERAPA SIFAT FISIK ULTISOL DAN PRODUKSI TANAMAN TOMAT | Kebutuhan tomat di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan. Perkembangan produksi tomat terkendala oleh semakin sempitnya lahan pertanian. Tanah ultisol mempunyai sebaran yang sangat luas, meliputi hampir 25% dari total daratan Indonesia namun sifat-sifat tanah ultisol dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus dan dengan dosis yang tinggi berdampak negatif baik terhadap tanah, tanaman dan lingkungan. Menunjang kebutuhan itu, salah satu alternatifnya adalah pemanfaatan lahan marginal berupa ordo ultisol dengan aplikasi mikoriza dapat diterapkan untuk perluasan lahan pertanian. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh mikoriza serta pengurangan dosis anjuran pupuk urea, SP-36, KCl terhadap beberapa sifat fisik Ultisol dan produksi tanaman tomat. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) diulang tiga kali. Perlakuan terdiri atas dua faktor yaitu genus mikoriza (Glomus, Gigaspora dan campuran Glomus dan Gigaspora) dan pengurangan dosis pupuk N-P-K (0%, 25% dan 50%). Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan penggunaan mikoriza dan pengurangan dosis pupuk urea SP-36 dan KCl berpengaruh nyata terhadap nilai berat jenis isi (BJI), berat jenis partikel (BJP), porositas, batas lekat (BL), indeks plastisitas (IP) dan jangka olah (JO). Pupuk hayati yang mengandung campuran mikoriza genus Glomus+Gigaspora dengan pengurangan 50% dari dosis anjuran mampu lebih baik meningkatkan produksi buah tomat sebesar 837,33 gram/tanaman. | Tomato necessity in Indonesia has increased each year. Development of tomato production is constrained by limited agricurtural land. Ultisols occupied almost 25% of total Indonesian land surface but were also specific properties of Ultisols that restrict plant growth. The use of inorganic fertilzer continuously and with high doses of negative impacts on soil, plants and the environment. Utilization of marginal land ultisol type added with mycorrhiza can be applied to broaden agricultural land. Purposes of this research are to observe influence mycorrhiza, and to reduce urea, SP-36, and KCl dosages toward ultisol type and it’s effects to tomato production. Research using Randomized Block Design (RBD) is repeated three times. Treatment consists of two factors: the genus mycorrhiza (Glomus, Gigaspora and mixture of Glomus and Gigaspora) and a reduction in the dose of N-P-K (0%, 25 % and 50%). Results showed the combined treatment and use of mycorrhiza and urea dose reduction SP-36 and KCl significantly affects value of dry bulk density (BJI), particle density (BJP), porosity, adhesion limit, plasticity index and JO. Biological fertilizer containing a mixture of mycorrhizal genus Glomus +Gigaspora with reduction of 50% is recommended to increase the production of tomatoe 837,33 gram /plant. | |
| 5070 | 14884 | A1H012051 | ANALISIS PEMANFAATAN PHOTOVOLTAIC SEBAGAI SUMBER ENERGI POMPA PADA SISTEM AEROPONIK BENIH KENTANG (Solanum tuberosum L.) DI DATARAN RENDAH | Aeroponik adalah metode budidaya tanaman dimana akar tanaman menggantung di udara serta memperoleh unsur hara dan air dari larutan nutrisi yang disemprotkan ke akar. Salah satu komponen yang berperan penting pada sistem aeroponik yaitu pompa. Pompa pada sistem aeroponik berfungsi sebagai perantara penyaluran nutrisi ke perakaran tanaman. Pengoperasian pompa pada sistem aeroponik membutuhkan energi listrik. Energi listrik yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pompa dapat dihasilkan dengan memanfaatkan sistem photovoltaic.Tujuan penelitian ini diantaranya, melakukan analisis efisiensi konversi energi photovoltaic, melakukan pengukuran kemampuan sistem photovoltaic untuk mengoperasikan pompa pada aeroponik dan melakukan analisis finansial sistem photovoltaic. Pelaksanaan penelitian dilakukan dua kali percobaan yaitu percobaan lama waktu pemanfaatan sistem photovoltaic untuk mengoperasikan pompa 125 Watt yang menggunakan konduktor timer (interval timer 5 menit off dan 2 menit on) dan pengukuran daya photovoltaic tanpa dihubungkan pada pompa. Variabel yang diamati adalah tegangan (volt), arus (ampere), charge energy (kWh), intensitas cahaya (W/m2) dan suhu (oC). Data yang dianalisis akan menghasilkan nilai efisiensi dan nilai finansial dari sistem photovoltaic. Hasil penelitian menunjukan bahwa efisiensi konversi energi rata-rata photovoltaic polikristal sebesar 12,08%. Pengukuran kemampuan sistem photovolotaic untuk mengoperasikan pompa pada aeroponik yang digunakan setiap hari diperoleh waktu terlama 5 jam 45 menit dari pukul 11:30 – 17:05 WIB dengan menggunakan konduktor timer (interval timer 5 menit off, 2 menit on). Tarif sistem photovoltaic masih terlalu mahal dibandingkan dengan tarif yang ditetapkan PLN. Besar nilai tarif sistem photovoltaic, yaitu Rp. 13.447/kWh. | Aeroponic is a cultivation methode of plants where the root of plant hang in the air and having hara elements and water from nutrition liquid that sprayed in to the root. One of some components thats very important in the system of aeroponic is pump. Pump in aeroponic system have a function as an intermediary for disribution of nutrients to roots plants. Operation of the pump in the aeroponic system requires electrical energy. The electrical energy required to operate the pumps can be generated by utilizing this photovoltaic system. The purpose of this research is, do analysis efficiency of photovoltaic energy conversion, measuring the ability of photovoltaic system to operate the pump at aeroponics and financial analysis photovoltaic system. The research was conducted twice experiment. And the first experiment is experiment a long time utilization photovoltaic system to operates pump 125 watts using conductor timer (interval timer 5 minutes off and 2 minutes on) and measure of photovoltaic without connected at the pumps. Observed variabel are is voltage (Volt), the current (Ampere), charge energy (kWh), the intensity of light (W/m2) and temperature (oC). Data analyzed will produce efficiency value and financial value of a photovoltaic system. Research results show that the energy conversion efficiency polycrystalline photovoltaic average of 12.08%. Ability photovolotaic system's measuremetn to operate the pump at aeroponics is used every day obtained the longest time 5 hours and 45 minutes from 11:30 am to 17:05 pm by using conductor timer (interval timer off 5 minutes, 2 minutes on). Rates photovoltaic systems are still too expensive compared to the rates stipulated PLN. Value rates photovoltaic systems, namely Rp. 13 447 /kWh. | |
| 5071 | 14885 | B1J011083 | Kemampuan Bakteriosin Lactococcus sp. Udang Windu Sebagai Bahan Pengawet dan Aktivitasnya Terhadap Pertumbuhan Vibrio sp. dan Staphylococcus aureus | Penurunan produksi udang di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya bakteri patogen dan virus yang menyebabkan infeksi penyakit sehingga udang menjadi tidak layak dikonsumsi. Pengendalian bakteri patogen dapat dilakukan secara biologis dengan penambahan zat antimikrobia. Zat antimikrobia tersebut dinamakan bakteriosin yang bersifat sebagai biopreservatif. Bakteriosin dihasilkan langsung dari bakteri asam laktat (BAL) dapat digunakan sebagai bahan untuk pengawetan pada makanan karena dapat menghambat pertumbuhan dari beberapa jenis bakteri patogen. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh Lactococcus sp. sebagai bakteri penghasil bakteriosin yang diisolasi dari udang windu dan mengetahui pengaruh suhu penyimpanan serta aktivitas hambat bakteriosin dari Lactococcus sp. terhadap Vibrio sp. dan Staphylococcus aureus. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan bakteriosin yang telah disimpan pada suhu berbeda dengan tiga ulangan. Analisis data dilakukan dengan metode Analysis of Variance (ANOVA) atau uji F pada tingkat kesalahan 5% dan 1% serta untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh perlakuan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) untuk mengetahui pengaruh terhadap perlakuan yang dibedakan. Hasil penelitian menunjukkan Lactococcus sp. dapat diisolasi dari usus udang windu dan menghasilkan senyawa antibakteri berupa bakteriosin yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen Vibrio sp. dan Staphylococcus aureus. Penghambatan diperlihatkan dengan terbentuknya zona hambat. Perlakuan suhu penyimpanan bakteriosin 40C (N2) memiliki zona hambat yang paling besar rataannya 9,5 mm pada S. aureus dan 12,5 mm pada Vibrio sp. merupakan perlakuan yang paling berpengaruh nyata. TPC yang juga dilakukan untuk memastikan penghambatan bakteri patogen terhadap bakteriosin membuktikan jumlah bakteri lebih sedikit setelah pemberian bakteriosin terlebih bakteriosin yang telah disimpan di suhu 40C dari media NA, MSA, dan TCBSA berturut-turut 6,02×106; 1,06×105; dan 2,42×105. Bakteriosin dapat digunakan untuk mengurangi jumlah pertumbuhan bakteri patogen pada produk perikanan dan perlakuan suhu penyimpanan bakteriosin dapat meningkatkan kualitas bakteriosin sebagai bahan pengawet alami. | The decline in shrimp production in Indonesia are caused by several factors such as pathogenic bacteria and viruses that cause infectious diseases so the shrimp become unfit for consumption. Control of pathogenic bacteria can be done biologically with the addition of the antimicrobial agent. The antimicrobial substances called bacteriocins which act as biopreservative. Bacteriocins produced directly from lactic acid bacteria (LAB) can be used as material for preservation in foods because it can inhibit the growth of some types of pathogenic bacteria. This research aims to acquaire Lactococcus sp. as bacteria which produced bactriocins isolated from tiger shirmp and find out storage temperature effect and inhibit activity bacteriocin from Lactococcus sp. about Vibrio sp. and Staphylococcus aureus as biopreservation. Methode of reasearch used randomized completely design with four treatments of bacteriocins which have been stored at different temperatures with three replicates per treatment. Analysis of data was used Analysis of Variance (ANOVA) or F test at an error rate of 5% and 1%, and to determine the effect of treatment used Honestly Sigificant Difference to determine the effect of the differentiated treatment. The results showed Lactococcus sp. can be isolated from tiger shrimp’s gut and produce antibacterial compounds such as bacteriocins that can inhibit growth of pathogenic bacteria such Vibrio sp. and S. aureus. Inhibition was show by the formation of inhibition zone. Treatment bacteriocins storage temperature of 40C (N2) has the greatest inhibition zone with mean 9,5 mm in S. aureus and 12,5 mm in Vibrio sp. is the most significant treatment. TPC is also carried out to ensure the inhibition of pathogenic bacteria to prove the less amount of bacteria after bacteriocins treatments especially bacteriocins that have been stored at a temperature of 40C from media NA, MSA, and TCBSA respectively 6,02×106; 1,06×105; and 2,42×105. Bacterocins can be used to reduce the growth of pathogenic bacteris in fishery products and bacteriocins storage temperature treatment can improve the quality of bacteriocins as a natural preservation. | |
| 5072 | 14886 | A1H011050 | LIFE CYCLE ASSESSMENT (LCA) SISTEM PRODUKSI BERAS DI KABUPATEN MERAUKE, PAPUA | Produksi padi di Kabupaten Merauke, Papua selama lima tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada tahun 2013, produksi padi di Kabupaten Merauke adalah sebesar 177.581 ton. Dengan fakta tersebut, pemerintah berencana untuk menjadikan Kabupaten Merauke sebagai lumbung padi nasional. Untuk menunjang rencana tersebut, Life Cycle Assessment (LCA) dapat diterapkan dalam pengembangan strategis bagi sistem produksi beras di Merauke. Penelitian ini merupakan studi kasus dari sistem produksi beras di Merauke, yang bertujuan untuk mengidentifikasikan tingkat konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari proses pembudidayaan sampai pengolahan pascapanen, serta membandingkan kedua hasil tersebut dengan sistem produksi beras di daerah lain. Berdasarkan telaah pustaka, daerah lain yang digunakan sebagai pembanding tingkat konsumsi energi adalah Guilan, Iran; Chhattisgarh, India; dan Nasarawa State, Nigeria. Sedangkan untuk daerah lain yang digunakan sebagai pembanding dari nilai GWP adalah California, Amerika Serikat; Filipina; dan Mesir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa total konsumsi energi produksi beras di Merauke adalah sebesar 11.957,86 MJ/ha. Total nilai GWP dari produksi beras di Merauke sebesar 45.119,45 tonCO2-eq/tahun, dimana setelah dikonversi (CO2-eq) nilai emisi dari gas CH4, CO2, dan N2O berturut-turut sebesar 34.700 tonCO2-eq/tahun, 5.910,71 tonCO2-eq/tahun, dan 4.508,74 tonCO2-eq/tahun. Dari satu kilogram beras yang diproduksi di Merauke dihasilkan tingkat konsumsi energi sebesar 2,49 MJ dan nilai GWP sebesar 0,25 kgCO2-eq. Dua hasil nilai tersebut menunjukkan bahwa tingkat konsumsi energi dan nilai GWP per kilogram beras di Merauke lebih rendah dibandingkan dengan daerah-daerah pembanding. | Rice production in Merauke Regency, Papua in the past five years has been increased. In year 2013, Merauke Regency produced 177.581 tons of rice. Based on this fact, the Indonesian Government plans to develop Merauke as one the national granaries. Life Cycle Assessment (LCA) should be carried out to support strategic development of rice production system in Merauke. This research is a case study of rice production systems in Merauke, which aims to identify the energy consumption and greenhouse gas emissions resulted by the system - from the cultivation process until postharvest processes. The results were then compared to the figures obtained by rice production systems in other areas. Based on the literature review, other areas used as a comparison level of energy consumption are Guilan, Iran; Chhattisgarh, India; and Nasarawa State, Nigeria. Whereas for other areas used as a comparison of the GWP value are California, United States; Philippines; and Egypt. The results of this study indicate that the total energy consumption of rice production in Merauke is 11.957,86 MJ/ha. The total value of GWP of rice production in Merauke is 45.119,45 tonCO2-eq/year; while the emission values of CH4, CO2, and N2O after being converted to CO2-eq are 34.700 tonCO2-eq/year, 5.910,71 tonCO2-eq/year, and 4.508,74 tonCO2-eq/year, respectively. In summary, one kilogram of rice produced in Merauke generates energy consumption level of 2,49 MJ and a GWP value of 0,25 kgCO2-eq. Two result values indicate that the level of energy consumption and the GWP value per kilogram of rice in Merauke is lower than the comparison areas. | |
| 5073 | 14842 | G1A012145 | PENGARUH UMUR KEHAMILAN TERHADAP UMUR AWITAN TERJADINYA KEJANG DEMAM DI RUMAH SAKIT MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | PENGARUH UMUR KEHAMILAN TERHADAP UMUR AWITAN TERJADINYA KEJANG DEMAM PADA ANAK DI RUMAH SAKIT MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO Uliya Arifaturrokhmah1, Supriyanto2, Thianti Sylviningrum1 1Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. 2Bagian Kesehatan Anak RSUD. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto E-mail: uliya.arifa@yahoo.com ABSTRAK Latar Belakang : Kejang demam merupakan salah satu kelainan saraf tersering pada anak. Di Indonesia tahun 2012-2013 menunjukan prevalensi kejang demam mencapai 3-4%. Dampak negatif dari kejang demam adalah dapat menyebabkan gangguan tingkah laku, menurunya tingkat kecerdasan, menyebabkan kecacatan saraf, memungkinkan terjadinya epilepsi dan trauma pada otak. Salah satu faktor risiko yang menyebabkan kejang demam adalah umur kehamilan ibu saat melahirkan. Diduga umur kehamilan preterm dan posterm mempengaruhi terjadinya kejang demam karena berhubungan dengan perkembangan alat-alat tubuh bayi preterm kurang sempurna yang memudahkan terjadinya apneu, asfiksia hingga hipoksia sehingga memudahkan terjadi kejang. Pada bayi posterm akan terjadi proses penuaan plasenta sehingga asupan makanan dan oksigen menurun menimbulkan hipoksia dan terjadi kejang. Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh umur kehamilan terhadap umur awitan terjadinya kejang demam pada anak di RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain penelitian cross sectional. Sampel penelitian adalah anak dengan umur 3 bulan-5 tahun yang memiliki riwayat kejang demam di RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo dari bulan Januari-September 2015. Teknik sampling yang digunakan adalah Consecutive sampling dengan besar sampel minimal 46 responden. Jumlah seluruh sampel yang bisa mengikuti penelitian adalah 50 orang. Analisis bivariat digunakan uji komparatif One-way anova. Hasil : Uji one way anova menunjukan hasil p=0,000 (p<0,05). Uji post hoc Tamhane menunjukan terdapat perbedaan umur awitan kejang demam pada umur kehamilan preterm dan aterm dengan nilai p=0,000 (p<0,05, IK95%) sedangkan umur kehamilan pretem dengan posterm menunjukan tidak terdapat perbedaan rerata dengan p=0,214 (p>0,05, IK95%) dan umur kehamilan aterm dan posterm menghasilkan p=0,02 (p<0,05, IK95%) yang menunjukan terdapat perbedaan rerata umur awitan kejang demam. Kesimpulan : Terdapat pengaruh umur kehamilan terhadap umur awitan terjadinya kejang demam pada anak di RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo. Perebedaan rerata umur kehamilan dengan umur awitan terjadinya kejang demam terdapat pada umur kehamilan preterm dengan aterm dan juga aterm dengan posterm. __________________________________________________________________ Kata kunci : Kejang demam, umur kehamilan, anak | THE INFLUENCES OF GESTATIONAL AGE TOWARD FIRST FEBRILE SEIZURES IN CHILDREN AT MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO HOSPITAL Uliya Arifaturrokhmah1, Supriyanto2, Thianti Sylviningrum1 1Medical Faculty of Jenderal Soedirman University. 2Department of Pediatric, Dr. Margono Soekarjo Hospital Purwokerto E-mail: uliya.arifa@yahoo.com ABSTRACT Introduction : Febrile seizures is the most common nerve disorders in children. The statistic shows that the prevalance of febrile seizures in Indonesia reached 3-4% in 2012-2013. There is negative impact of these seizures on behavior, brain and nerve, which cause behavior disorder, decreased intelligence level, nerve disorder, epilepsy and traumatic brain injury. One of the risk factors for febrile seizures is gestational age. Preterm and postterm gestational age was claimed causing the febrile seizures, since preterm pregnancy will have immature of many organ systems which might cause apneu, asphyxia, hypoxia that leads to the seizures. Postterm pregnancy related to the aging of placenta which cause placental insufficiency that leads to hypoxia and seizures. Objective : This reseach aim to explain the influence of the gestational age toward the first febrile seizure in children at Margono Soekarjo Purwokerto Hospital. Method : This reseach is analytical cross sectional study. The reseach sample are the children between the age 3 months to 5 years which have febrile seizures on his/her case history at Margono Soekarjo Hospital from January-September 2015. The sampling technique is Consecutive sampling with minimum 46 respondents. The total sample which can belong to these reach is 50 children. This reseach use one-way anova comparative test. Result : One-way anova test shows the value of p=0,000 (p<0,05). Post hoc Tamhane test shows that there are difference of first febrile seizures between preterm and aterm gestational age with the value of p=0,000 (p<0,05, IK95%) whereas there are no difference of average value of p=0,214 (p>0,05, IK95%) between preterm and postterm gestational age and the value of p=0,02 (p<0,05, IK95%) is between aterm and postterm which shows that there are difference between first febrile seizures. Conclusion : There are influences of gestational age toward first febrile seizure in children at Margono Soekarjo Purwokerto Hospital. There are average difference between gestational age and first febrile seizure, that are for preterm and aterm gestational age, and also between aterm and postterm gestational age. __________________________________________________________________ Keyword : Febrile Seizure, Gestational Age, Child | |
| 5074 | 14888 | A1C008037 | OPTIMALISASI PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI CABAI MERAH DI DESA PEKAJA KECAMATAN KALIBAGOR KABUPATEN BANYUMAS | Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas sayuran yang sangat merakyat, karakteristik pengembangannya memungkinkan komoditas tersebut dikonsumsi dalam bentuk segar maupun olahan. Desa Pekaja Kecamatan Kalibagor merupakan salah satu daerah penghasil cabai merah di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui besarnya biaya dan pendapatan yang diperoleh petani dari usahatani cabai merah (2) mengetahui pengaruh penggunaan faktor produksi (luas lahan, benih, pupuk organik, pupuk anorganik, pestisida, dan tenaga kerja) terhadap produk usahatani cabai merah (3) mengetahui kombinasi optimal penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani cabai merah. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pekaja Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas dari bulan Desember 2014 sampai bulan Januari 2015. Pengambilan data dilakukan dengan metode sensus. Metode analisis yang digunakan adalah analisis biaya dan pendapatan; analisis fungsi produksi Cobb Douglas; uji t; uji F dan optimalisasi penggunaan faktor-faktor produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: biaya usahatani cabai merah per hektar Rp12.691.446,97 dengan penerimaan usahatani cabai merah per hektar Rp13.113.670,52 sehingga diperoleh pendapatan usahatani cabai merah per hektar Rp422.223,54. Hasil uji F menunjukkan bahwa penggunaan faktor-faktor produksi (luas lahan, benih, pupuk organik, pupuk anorganik, pestisida, dan tenaga kerja) secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap produk. Hasil uji t menunjukkan bahwa hanya penggunaan faktor produksi pupuk organik dan tenaga kerja yang berpengaruh secara nyata terhadap produk usahatani cabai merah. Penggunaan faktor produksi pupuk organik dalam realisasi (1.039,28 kg) lebih besar dari hasil optimalisasi (947,37 kg), sedangkan penggunaan faktor produksi tenaga kerja dalam realisasi (55,57 HKSP) lebih kecil dari hasil optimalisasi (68,69 HKSP). Hasil produksi yang diperoleh petani (573,57 kilogram ) juga lebih kecil dari hasil optimalisasi (745,79 kilogram). Berdasarkan hasil optimalisasi dapat diketahui bahwa penggunaan faktor-faktor produksi dalam usahatani cabai merah belum optimal. | Red chili (Capsicum annuum L.) is a very populist vegetable commudity, development characteristics allow the commodity is consumed in the form of fresh or processed. Pekaja village Kalibagor district is one of the producing areas of red chili. This study aims to: (1) determine the amount of costs and revenues in the red chili farming (2) determine the influence of usage production factors (land area, seed, organic fertilizer, inorganic fertilizers, pesticide, and labor) to the red chili farming products (3) determine the optimal combination of the use of production factors in the red chili farming. This research was conducted in Pekaja village, Kalibagor district, Banyumas regency. This research was conducted on December 2014 till January 2015. Data collection was conducted by census method. The analytical method used: cost and revenue analysis; Cobb Douglas production factors analysis, t test; F test; and optimize the use of production factors. The results showed that: the cost per hectare of red chilli farming Rp12.691.446,97 with the revenue per hectare of red chili farming Rp13.113.670,52 so that the income per hectare of red chili farming Rp442.223,54. F test results showed that (land area, seed, organic fertilizer, inorganic fertilizers, pesticide, and labor) production factors together are significantly affected products. t test results showed that only the organic fertilizer and labor production factors are significantly affected of red chili farming. The use of organic fertilizer production factors in the realization (1.039,28 kg) is bigger than the optimization results (947,37 kg),while the use of labor production factors in the realization (55,57 HKSP) is smaller than the optimization results (68,69 HKSP). Production yields obtained by farmers (573,57 kilogram) is also smaller than the optimization result (745,79 kilogram). Based on the optimization results can be seen the use of production factors in red chili farming is not optimal. | |
| 5075 | 14889 | F1I011009 | Peran USAID‘s Democracy Assistance dalam Deepening Democracy di Indonesia Melalui Program Democratic and Decentralized Governance (DDG) Tahun 2005-2009 | Penelitian dengan judul “Peran USAID‘s Democracy Assistance dalam Deepening Democracy di Indonesia Melalui Program Democratic and Decentralized Governance (DDG) Tahun 2005-2009” membahas mengenai bagaimana peran USAID melalui program DDG dalam rangka deepening democracy di Indonesia. Penelitian ini juga membahas mengenai pencapaina program DDG yang dijalankan pada tahun 2005-2009 yang ditandangani oleh USAID dengan BAPPENAS dan berada dalam kerangka rencana jangka panjang pembangunan politik Indonesia yang diinginkan yakni mendukung terwujudnya demokrasi yang terkonsolidasi. Democracy assistance USAID melalui program DDG memberikan peran positif terhadap kemajuan demokrasi di Indonesia. Dukungan USAID dalam deepening democracy melalui program DDG berhasil membawa negara Indonesia mencapai demokrasi yang terkonsolidasi. Walaupun secara keseluruhan dinilai efektif, namun dalam pelaksanaan dan pencapaian program masih ada hambatan yang ditemui. | This research, titled “The Role of USAID’s Democracy Assistance on Deepening Democracy in Indonesia through Democratic and Decentralized Governance (DDG) Programme 2005-2009” discuss about the role of USAID through DDG programme in order to deepening democracy in Indonesia. This research also discuss about achievement of DDD programme within 2005-2009 which signed by USAID and BAPPENAS in framework of long term planning of Indonesia’s political development which support to embody consolidated democracy. Democracy assiscante USAID through DDG programme give a positive role on outgrowth of democracy in Indonesia. USAID’s support on deepening democracy through DDG succeed in bringing Indonesia to achieve consolidated democracy, despite in its entirety can be assessed effective, but still in practice and accomplish the programme facing the constraint. | |
| 5076 | 14890 | F1I011011 | Pengaruh Tindakan Asertif Republik Rakyat China (RRC) dalam Konflik Laut China Selatan terhadap Kebijakan Pertahanan Filipina pada Tahun 2010-2014 | Konflik wilayah di Laut China Selatan kembali mengalami peningkatan ketegangan beberapa tahun terakhir ini. Tindakan asertif Republik Rakyat China (RRC) yang muncul pada tahun 2011-an membuat ketegangan di Laut China Selatan semakin memanas. Dari lima negara (RRC, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam) yang bersengketa di Laut China Selatan, ada tiga negara yang sering terlibat konflik, yaitu RRC, Filipina, dan Vietnam. Sebagai salah satu negara yang aktif menegaskan sikap dalam konflik Laut China Selatan, Filipina telah melakukan protes dan melawan tindakan asertif RRC tersebut. Selain itu, sebagai upaya mempertahankan kepentingannya di Laut China Selatan, Filipina telah melakukan perubahan dalam kebijakan pertahanan negaranya. Fokus dalam penelitian ini adalah menganalisa pengaruh tindakan asertif RRC dalam konflik Laut China Selatan terhadap kebijakan pertahanan Filipina pada tahun 2010-2014. Peneliti mencoba untuk menjelaskan pengaruh tindakan asertif RRC di konflik Laut China Selatan dan respon Filipina terkait kebijakan pertahanan negaranya selama periode tahun tersebut menggunakan konsep dilema keamanan dan teori balance of threat. | Tensions among rival claimant-states to the waters and land features of the South China Sea have escalated significantly in the last several years. In the third quarter of 2011 incidents which potentially lead to armed conflict worsen the situation in South China Sea. There are five countries involved in the South China Sea dispute: Brunei, Philippines, Vietnam, Malaysia, and China. As one of the claimants, Philippines response China’s actions with direct protests. Beside that Philippine also develops capabilities through rearrange its defense policy which aim to defend its interest in South China Sea. The focus of this study is analyzing the impact of China’s assertiveness in the South China Sea dispute towards Philippine’s defense policy at the period of 2010 - 2014. Researcher will try to summarize that the China’s assertiveness in South China Sea dispute give impact to the defense policy of Philippine at that period using security dilemma concept and balance of threat theory approach. | |
| 5077 | 14891 | B1J011063 | POTENSI BAKTERIOSIN Leuconostoc sp CUMI-CUMI KERING ASIN SEBAGAI BIOPRESERVASI DAN AKTIVITASNYA TERHADAP PERTUMBUHAN Vibrio sp DAN Salmonella sp. | Sebagai produk pangan yang memiliki kandungan protein yang tinggi namun rentan rusak dan terkontaminasi oleh bakteri patogen, produk perikanan memerlukan suatu bahan tambahan alami non toksik bagi kesehatan manusia untuk menghambat pertumbuhan bakteri patogen yang dapat menurunkan kualitas gizi dari produk tersebut. Bakteri Asam Laktat diketahui mampu menghasilkan metabolit sekunder yang bersifat antimikroba yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen, salah satunya yaitu bakteriosin. Bakteri Asam Laktat yang berpotensi menghasilkan bakteriosin adalah Leuconostoc sp. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bakteri Leuconostoc sp. yang berpotensi memproduksi bakeriosin dari cumi-cumi kering asin dan mengetahui pengaruh suhu penyimpanan terhadap bakteriosin yang dihasilkan oleh Leuconostoc sp. dan aktivitasnya dalam meghambat pertumbuhan Vibrio sp. dan Salmonella sp. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan penyimpanan suhu berbeda pada bakteriosin yaitu penyimpanan bakteriosin pada suhu beku (0oC), suhu refrigerator (4 oC), suhu ruang dan suhu didih (100 oC). Analisis data dilakukan dengan metode Analysis of Variance (ANOVA) pada tingkat kesalahan 5% dan 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Leuconostoc sp. yang berpotensi menghasilkan bakteriosin dapat diisolasi dari Cumi-cumi kering asin dan mampu menghambat bakteri patogen Vibrio sp. dan Salmonella sp., dengan menghasilkan ukuran diameter hambat yang mirip antar tiap perlakuan suhu. Hasil dari TPC yang digunakan untuk memastikan kemampuan bakteriosin terhadap bakteri patogen juga menunjukkan terjadinya penurunan jumlah bakteri patogen pada udang yang telah diberikan bakteriosin berbagai suhu dibandingkan dengan udang tanpa pemberian bakteriosin. Namun perlakuan suhu penyimpanan bakteriosin tidak menunjukkan pengaruh terhadap kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri patogen Vibrio sp. dan Salmonella sp., sebab bakteriosin Leuconostoc sp. asal cumi-cumi kering menunjukkan kemampuan penghambatan terhadap bakteri patogen yang stabil pada berbagai suhu. | As a food product which contain high protein nutrient but perishable and vulnerable to contamination of patogenic bacteria, fishery products need an addition of natural ingredient for human to inhibit the growth of patogenic bacteria which can decrease nutritional quality in this fishery product. Lactic Acid Bacteria are known to produce antimicrobial secondary metabolites that are capable to inhibiting the growth of pathogenic bacteria, one of which is bacteriocins. Lactic acid bacteria that could potentially produce bacteriocins is Leuconostoc sp. This study aimed to obtain the bacteria Leuconostoc sp. potentially producing bakeriosin of salty dried squid and determine the effect of storage temperature on bacteriocins produced by Leuconostoc sp. and activities in meghambat growth of Vibrio sp. and Salmonella sp. Research used experimental method to completely randomized design (CRD) with 4 treatments of different storage temperatures on bacteriocins that bacteriocins storage at freezing temperatures (0°C), the temperature of the refrigerator (4°C), at room temperature and the boiling temperature (100°C). Data analysis was performed using Analysis of Variance (ANOVA) at an error rate of 5% and 1%. The results showed that Leuconostoc sp. potentially produce bacteriocins can be isolated from salted dried squid and able to inhibit pathogenic bacteria Vibrio sp. and Salmonella sp., to produce a similar inhibitory diameter between each treatment temperature. The results of the TPC is used to ensure the ability of bacteriocins against pathogens also showed a decline in the number of pathogenic bacteria in the shrimp that has been given bacteriocins various temperatures compared with shrimp without giving bacteriocins. However bacteriocins storage temperature treatment showed no effect on the ability to inhibit the growth of pathogenic bacteria Vibrio sp. and Salmonella sp., for bacteriocins Leuconostoc sp. origin of dried squid showed inhibitory ability against pathogens that are stable at various temperatures | |
| 5078 | 14892 | A1C009063 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEUNTUNGAN PERAJIN GULA NIPAH DI DESA NUSADADI KECAMATAN SUMPIUH KABUPATEN BANYUMAS | Tanaman Nipah ( Nypa fruticans) adalah salah satu tanaman perkebunan yang sangat potensial dalam hal meningkatkan ekonomi rumah tangga. Tanaman nipah sebagian besar tumbuh secara liar dan belum diusahakan secara intensif, karena baru dimanfaatkan oleh sebagian perajin untuk membuat gula. Desa Nusadadi Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas merupakan salah satu daerah penghasil gula nipah yang ada di Kabupaten Banyumas. Salah satu mata pencaharian dari masyarakat desa nusadadi adalah sebagai perajin gula kelapa dan gula nipah (qiwel). Menjadi perajin gula nipah merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan keluarga setiap hari untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui profil perajin dan usaha gula nipah, menghitung besar pendapatan perajin gula nipah, serta mengetahui pengaruh harga faktor produksi yaitu harga nira, harga obat nira, harga kayu bakar, upah tenaga kerja terhadap keuntungan perajin gula nipah di Desa Nusadadi Data yang digunakan adalah data penggunaan faktor produksi pada usaha gula nipah periode april sampai mei 2014 di Desa Nusadadi Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan metode sensus. Sasaran penelitian adalah seluruh perajin gula nipah Desa Nusadadi Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas yang berjumlah 12 orang perajin. Data penelitian berupa primer dan sekunder diambil dengan cara wawancara dan studi pustaka. Alat analisis yang digunakan adalah analisis usahatani dan fungsi keuntungan Cobb-Douglas. Peubah bebas yang diamati adalah harga nira yang dinormalkan, harga obat nira yang dinormalkan, harga kayu bakar yang dinormalkan dan upah tenaga kerja yang dinormalkan. Berdasarkan perhitungan penerimaan rata-rata per perajin nipah di Desa Nusadadi adalah Rp670.958,33 dan biaya produksi rata-rata per perajin adalah Rp393.835,64 , sehingga keuntungan yang diterima adalah Rp277.122,68. Secara simultan faktor harga nira, harga obat nira, harga kayu bakar dan upah tenaga kerja berpengaruh terhadap keuntungan perajin gula nipah. Secara parsial faktor upah tenaga kerja berpengaruh terhadap keuntungan perajin gula nipah. | Plants Nipah (Nypa fruticans) is one of the plantation crop with huge potential in terms of improving the household economy. Nypa plants mostly grows wild and is not cultivated intensively, because only used by some craftsmen to make sugar. Nusadadi village, Sumpiuh District of Banyumas Regency is one of the nipa palm sugar producing areas in Banyumas. One of the livelihood of rural communities nusadadi is as coconut sugar craftsmen and sugar palm (qiwel). Being a craftsman sugar nypa is one activity that families make every day to make ends meet them. The purpose of this study was to determine the profile of craftsmen and businesses sugar palm, calculate the income craftsmen sugar palm, as well as determine the effect of the price production factor prices sap, sap drug prices, the price of firewood, fee for employment to benefit craftsmen of nypa sugar in the Nusadadi village. The data used was the data on the use of production factors nipa palm sugar business period April to May 2014 in the village Nusadadi Sumpiuh District of Banyumas. The method used was a case study. The sampling method used wasthe method of census. Objective research was all sugar crafters village nypa Nusadadi Sumpiuh District of Banyumas totaling 12 people craftsman.Data in the form of primary and secondary research was taken by interview and literature study. The analysis tool used is the analysis of farming and advantages Cobb-Douglas function. Free variables measured were normalized prices sap, sap normalized drug prices, the price of firewood is normalized and normalized labor costs. Based on the calculation of the average receipt per craftsmen in the village of Nusadadi nypa is Rp670.958,33 and average production costs per crafters are Rp393.835,64, so that the benefits received are Rp277.122,68. Simultaneously the price factor sap, sap drug prices, the price of fuel wood and labor costs affect the profits of sugar crafters nypa. Partially labor factors affect the profits of sugar crafters nypa. | |
| 5079 | 14873 | G1A011048 | FAKTOR RISIKO KEJADIAN ANEMIA PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI DESA DAN KOTA KABUPATEN BANYUMAS | Latar Belakang: Anemia pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan di negara berkembang. Anemia pada anak disebabkan oleh multifaktor yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap tingginya morbiditas. Tujuan: Mengetahui faktor risiko anemia pada anak usia sekolah dasar di desa dan kota Kabupaten Banyumas. Desain Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional. Subjek penelitian adalah siswa sekolah dasar di Kabupaten Banyumas yang berusia 8-12 tahun secara multistage cluster random sampling. Didapatkan 510 subjek penelitian yang memenuhi kriteria insklusi yang terbagi menjadi kelompok kota (n=230) dan desa (n=280). Data jenis kelamin, status sosial ekonomi, dan tempat tinggal diperoleh melalui kuesioner. Data status gizi dan anemia didapatkan melalui pengukuran langsung. Analisis univariabel disajikan dalam bentuk tabel. Perbedaan angka kejadian anemia berdasarkan jenis kelamin, status sosial ekonomi, dan tempat tinggal dianalisis menggunakan uji Chi-Square, berdasarkan status gizi dan status pendidikan orang tua dianalisis menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Hasil: Uji Chi-Square: tidak terdapat perbedaan angka kejadian anemia berdasarkan jenis kelamin (p= 0.794, 95%CI), angka kejadian anemia pada status ekonomi rendah lebih tinggi daripada status ekonomi tinggi (p= 0.001, 95%CI), angka kejadian anemia di desa lebih tinggi daripada di kota (p= 0.001, 95%CI). Uji Kolmogorov-Smirnov: terdapat perbedaan angka kejadian anemia berdasarkan status gizi (p= 0.001, 95%CI), terdapat perbedaan angka kejadian anemia berdasarkan status pendidikan orang tua (p= 0.001, 95%CI). Kesimpulan: Terdapat perbedaan angka kejadian anemia berdasarkan status gizi, sosial ekonomi, pendidikan, dan tempat tinggal pada anak usia sekolah dasar di desa dan kota Kabupaten Banyumas. | Background: Anemia in children is one of the health problems in developing countries. Anemia in children is caused by multiple factors that directly or indirectly affect the high morbidity. Objective: To determine risk factors for anemia in children of primary school children in rural and urban of District Banyumas. Study design: cross-sectional study design was used in this study. The subjects were students from elementary school in District Banyumas age of 8-12 years with multistage cluster random sampling. Obtained 510 research subjects who met the inclusion criteria were divided into groups: urbal (n = 230) and rural (n = 280). Data gender, socioeconomic status and residence was obtained through a questionnaire. Anemia, nutritional status and data obtained through direct measurement. Univariate presented in tabular form. The differences of prevalence of anemia based on gender, socioeconomic status and residence were analyzed by Chi-square test, based on nutritional status and parent’s education status were analyzed by Kolmogorov-Smirnov test. Results: Chi-Square test: there was no difference in the prevalence of anemia based on gender (p = 0.794, 95% CI), the prevalence of anemia in low economic status was higher than economic status (p = 0.001, 95% CI), the prevalence of anemia in villages was higher than in urban areas (p = 0.001, 95% CI). Kolmogorov-Smirnov test: there was difference in the prevalence of anemia based on nutritional status (p = 0.001, 95% CI), there was difference in the prevalence of anemia based on the educational status of parents (p = 0.001, 95% CI). Conclusion: There are differences in the prevalence of anemia in terms of nutritional status, socio- economic, parent’s educational status,and residence in primary school-age children in rural and urban of District Banyumas. | |
| 5080 | 14893 | G1F012041 | Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Tunggal Temulawak dan Kunyit Terhadap Kadar Nitrit Oksida Pada Sel RAW 264,7 yang Diinduksi Lipopolisakarida | Temulawak dan kunyit mengandung kurkuminoid dan telah diteliti sebagai agen antikanker secara in vitro dan in vivo. Salah satu karakteristik dari kanker yaitu inflamasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi ekstrak tunggal temulawak dan kunyit berdasarkan kadar Nitrit Oksida (NO). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Penelitian dilakukan menggunakan sel RAW 264,7 yang diinduksi LPS dan diinkubasi selama 18 jam. Sel RAW 264,7 dibagi menjadi empat kelompok dengan replikasi 3 kali. Kelompok I sebagai kontrol sel dan kelompok II sebagai kontrol LPS. Kelompok III dan kelompok IV merupakan kelompok perlakuan ekstrak tunggal temulawak dan kunyit dengan konsentrasi 125, 250, 500 µg/mL. Penetapan kadar NO dilakukan dengan uji Griess dan dihitung dengan metode spektrofotometri menggunakan Elisa reader. Penurunan kadar NO dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA satu jalan dan dilanjutkan dengan uji HSD dengan taraf kepercayaan 95%. Ekstrak tunggal temulawak dan kunyit mempunyai aktivitas antiinflamasi dengan menurunkan kadar NO. Kadar rata-rata NO pada kontrol sel sebesar 6,92 µM. Terjadi peningkatan yang signifikan pada kontrol LPS yaitu menjadi 21,21 µM. Pemberian ekstrak tunggal temulawak dan kunyit secara signifikan dapat menurunkan kadar NO. Presentase penurunan kadar NO setelah perlakuan ekstrak tunggal temulawak dan kunyit konsentrasi 125 µg/mL, 250 µg/mL, 500 µg/mL secara berturut-turut adalah 95,8%, 96,2%, 97,6% dan 94,3%, 95,8%, 97,2%. Peningkatan konsentrasi ekstrak tunggal temulawak dan kunyit dapat meningkatkan aktivitas antiinflamasi walaupun tidak signifikan secara statistik. | Ginger and turmeric contains curcuminoids and has been investigated as anticancer agents by in vitro and in vivo. One of characteristic of cancer is inflammatory. The purpose of this study is to find the anti-inflammatory activity of the single extracts of ginger and turmeric based on the levels of nitric oxide (NO). This was a laboratory experimental research. This study was conducted by using RAW 264.7 cell which induced by lipopolysaccharide and incubated for 18 h. The RAW 264.7 cell was divided into four groups. The first group as a control and the second group as LPS control. The third group was the treatment group by ginger extract at concentrations of 125, 250, 500 g/mL, the fourth group was treated by turmeric extract at concentration of 125, 250, 500 g/mL. Each group was replicated for 3 times. NO levels is determined by Griess reaction and calculated by spectrophotometric method by using Elisa reader. Decreased levels of NO were statistically analyzed by using one way ANOVA and followed by HSD test with 95% confidence level. The results of NO levels with incubation for 18 h is 6,92 µM. Significantly increased after induced by LPS 21,21 µM. The treatment with single extract of ginger and turmeric can reduce levels of NO. The percentage of decreasing NO levels after treatment with single extract of ginger and turmeric with concentrations of 125 g/mL, 250 g/mL, 500 g/mL are 95,8%, 96,2%, 97,6% and 94,3%, 95,8%, 97,2% m, respectively. Increasing concentrations of single extract of ginger and turmeric can increase antiinflammatory activity but not significantly by statistic. |