Home
Login.
Artikelilmiahs
14885
Update
KUNTUM KHAIRU UMMAH
NIM
Judul Artikel
Kemampuan Bakteriosin Lactococcus sp. Udang Windu Sebagai Bahan Pengawet dan Aktivitasnya Terhadap Pertumbuhan Vibrio sp. dan Staphylococcus aureus
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penurunan produksi udang di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya bakteri patogen dan virus yang menyebabkan infeksi penyakit sehingga udang menjadi tidak layak dikonsumsi. Pengendalian bakteri patogen dapat dilakukan secara biologis dengan penambahan zat antimikrobia. Zat antimikrobia tersebut dinamakan bakteriosin yang bersifat sebagai biopreservatif. Bakteriosin dihasilkan langsung dari bakteri asam laktat (BAL) dapat digunakan sebagai bahan untuk pengawetan pada makanan karena dapat menghambat pertumbuhan dari beberapa jenis bakteri patogen. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh Lactococcus sp. sebagai bakteri penghasil bakteriosin yang diisolasi dari udang windu dan mengetahui pengaruh suhu penyimpanan serta aktivitas hambat bakteriosin dari Lactococcus sp. terhadap Vibrio sp. dan Staphylococcus aureus. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan bakteriosin yang telah disimpan pada suhu berbeda dengan tiga ulangan. Analisis data dilakukan dengan metode Analysis of Variance (ANOVA) atau uji F pada tingkat kesalahan 5% dan 1% serta untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh perlakuan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) untuk mengetahui pengaruh terhadap perlakuan yang dibedakan. Hasil penelitian menunjukkan Lactococcus sp. dapat diisolasi dari usus udang windu dan menghasilkan senyawa antibakteri berupa bakteriosin yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen Vibrio sp. dan Staphylococcus aureus. Penghambatan diperlihatkan dengan terbentuknya zona hambat. Perlakuan suhu penyimpanan bakteriosin 40C (N2) memiliki zona hambat yang paling besar rataannya 9,5 mm pada S. aureus dan 12,5 mm pada Vibrio sp. merupakan perlakuan yang paling berpengaruh nyata. TPC yang juga dilakukan untuk memastikan penghambatan bakteri patogen terhadap bakteriosin membuktikan jumlah bakteri lebih sedikit setelah pemberian bakteriosin terlebih bakteriosin yang telah disimpan di suhu 40C dari media NA, MSA, dan TCBSA berturut-turut 6,02×106; 1,06×105; dan 2,42×105. Bakteriosin dapat digunakan untuk mengurangi jumlah pertumbuhan bakteri patogen pada produk perikanan dan perlakuan suhu penyimpanan bakteriosin dapat meningkatkan kualitas bakteriosin sebagai bahan pengawet alami.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The decline in shrimp production in Indonesia are caused by several factors such as pathogenic bacteria and viruses that cause infectious diseases so the shrimp become unfit for consumption. Control of pathogenic bacteria can be done biologically with the addition of the antimicrobial agent. The antimicrobial substances called bacteriocins which act as biopreservative. Bacteriocins produced directly from lactic acid bacteria (LAB) can be used as material for preservation in foods because it can inhibit the growth of some types of pathogenic bacteria. This research aims to acquaire Lactococcus sp. as bacteria which produced bactriocins isolated from tiger shirmp and find out storage temperature effect and inhibit activity bacteriocin from Lactococcus sp. about Vibrio sp. and Staphylococcus aureus as biopreservation. Methode of reasearch used randomized completely design with four treatments of bacteriocins which have been stored at different temperatures with three replicates per treatment. Analysis of data was used Analysis of Variance (ANOVA) or F test at an error rate of 5% and 1%, and to determine the effect of treatment used Honestly Sigificant Difference to determine the effect of the differentiated treatment. The results showed Lactococcus sp. can be isolated from tiger shrimp’s gut and produce antibacterial compounds such as bacteriocins that can inhibit growth of pathogenic bacteria such Vibrio sp. and S. aureus. Inhibition was show by the formation of inhibition zone. Treatment bacteriocins storage temperature of 40C (N2) has the greatest inhibition zone with mean 9,5 mm in S. aureus and 12,5 mm in Vibrio sp. is the most significant treatment. TPC is also carried out to ensure the inhibition of pathogenic bacteria to prove the less amount of bacteria after bacteriocins treatments especially bacteriocins that have been stored at a temperature of 40C from media NA, MSA, and TCBSA respectively 6,02×106; 1,06×105; and 2,42×105. Bacterocins can be used to reduce the growth of pathogenic bacteris in fishery products and bacteriocins storage temperature treatment can improve the quality of bacteriocins as a natural preservation.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save