Artikelilmiahs

Menampilkan 48.361-48.380 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4836151763C1B022054PENGARUH TINGKAT UTANG YANG DIMEDIASI KEBIJAKAN DIVIDEN DAN PENGARUH ESG DISCLOSURE TERHADAP VOLATILITAS HARGA SAHAM (STUDI PADA PERUSAHAAN LQ45 PERIODE 2020-2025)Penelitian ini menganalisis peran mediasi kebijakan dividen dalam pengaruh tingkat utang dan ESG Disclosure terhadap volatilitas harga saham pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di indeks LQ45 periode 2020-2025. Berdasarkan teori sinyal dan teori keagenan, penelitian ini bertujuan menyelidiki peran kebijakan dividen dalam menurunkan volatilitas harga saham berlebih. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan sampel berjumlah 52 perusahaan dan total observasi berjumlah 180. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian adalah SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat utang secara signifikan berpengaruh positif terhadap volatilitas harga saham, tingkat utang berpengaruh negatif signifikan terhadap kebijakan dividen, kebijakan dividen berpengaruh negatif signifikan terhadap volatilitas harga saham, dan ESG disclosure berpengaruh positif signifikan terhadap volatilitas harga saham. Selain itu, kebijakan dividen secara signifikan memediasi pengaruh positif tingkat utang terhadap volatilitas harga saham. Hasil penelitian. Penelitian ini berkontribusi kepada literatur tentang peran mediasi kebijakan dividen dalam menstabilkan volatilitas harga saham berlebih mendukung teori sinyal dan teori keagenan. Penelitian ini dapat menjadi pedoman bagi investor dalam membuat keputusan investasi, serta bagi perusahaan untuk memperhatikan risiko utang dan kebijakan dividen.This study analyzes the mediating role of dividend policy in the effect of debt levels and ESG disclosure on stock price volatility in companies listed on the LQ45 index for the period 2020-2025. Based on signaling theory and agency theory, this study aims to investigate the role of dividend policy in reducing excessive stock price volatility. This study uses a quantitative method with a sample of 52 companies and a total of 180 observations. The analysis method used in this study is SEM-PLS. The results show that debt levels have a significant positive effect on stock price volatility, debt levels have a significant negative effect on dividend policy, dividend policy has a significant negative effect on stock price volatility, and ESG disclosure has a significant positive effect on stock price volatility. In addition, dividend policy significantly mediates the positive effect of debt levels on stock price volatility. Research results. This study contributes to the literature on the mediating role of dividend policy in stabilizing excessive stock price volatility, supporting signaling theory and agency theory. This study can serve as a guideline for investors in making investment decisions, as well as for companies to pay attention to debt risk and dividend policy.

4836251764G1A022083Aktivitas Ekstrak Daun Ketapang (Terminalia catappa) Sebagai Antibakteri Terhadap Streptococcus pneumoniae Secara In VitroLatar belakang: Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri Gram positif flora normal saluran pernapasan yang dapat berubah menjadi patogen penyebab infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia dan meningitis. Meskipun amoksisilin umum digunakan sebagai terapi utama, efektivitasnya kian menurun akibat meningkatnya kasus resistensi antibiotik. Sebagai solusi alternatif, eksplorasi potensi antibakteri dari bahan alam seperti daun ketapang (Terminalia catappa) kini krusial untuk dikembangkan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun ketapang (T. catappa) terhadap isolat S. pneumoniae secara in vitro. Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan metode post-test group only dengan ekstrak daun ketapang yang diperoleh melalui maserasi. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram (Kirby-Bauer) pada media Mueller-Hinton agar terhadap bakteri S. pneumoniae koleksi Laboratorium Mikrobiologi FK Unsoed. Uji ini terdiri dari 7 kelompok, yaitu kelompok perlakuan (ekstrak daun ketapang) konsentrasi 10%, 20%, 40%, dan 80%; kelompok kontrol positif (amoksisilin); negatif (aquadest); dan pelarut (DMSO 10%) dengan empat kali pengulangan. Diameter zona hambat diukur dan dianalisis menggunakan uji Saphiro-wilk, Kruskal wallis, dan post hoc bonferroni untuk mengetahui aktivitas antibakterinya. Hasil: Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak daun ketapang dengan konsentrasi 10%, 20%, 40%, dan 80% tidak mampu membentuk zona hambat terhadap pertumbuhan S. pneumoniae. Temuan ini berbanding terbalik dengan kontrol positif amoksisilin (25 µg/disk) yang menghasilkan zona hambat dengan rata-rata diameter 12,5 mm. Perbedaan ini diduga berkaitan dengan faktor fisik seperti ukuran molekul dan viskositas ekstrak yang menghambat difusi atau pertumbuhan bakteri yang kurang optimal. Kesimpulan: Ekstrak daun ketapang tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap S. pneumoniae secara in vitro.Background: Streptococcus pneumoniae is a Gram-positive bacterium typically residing as normal flora in the respiratory tract, which can transform into a pathogen causing severe infections such as pneumonia and meningitis. Although amoxicillin is widely utilized as the primary therapy, its effectiveness has progressively declined due to the rising incidence of antibiotic resistance. Consequently, exploring the antibacterial potential of natural resources, such as ketapang leaves (Terminalia catappa), has become crucial as a viable alternative solution. Objective: This study aimed to determine the antibacterial activity of ketapang leaf extract (T. catappa) against S. pneumoniae isolates in vitro. Method: This experimental study used a post-test group only method with ketapang leaf extract obtained through maceration. The antibacterial activity test was conducted using the disc diffusion method (Kirby-Bauer) on Mueller-Hinton agar media against S. pneumoniae bacteria collected from the Microbiology Laboratory of the Faculty of Medicine, Unsoed. This experimental consisted of seven groups, namely the treatment group (T. catappa leaf extract) at concentrations of 10%, 20%, 40%, and 80%; the positive control group (amoxicillin); the negative control group (distilled water); and the solvent group (10% DMSO) with four replicates. The inhibition zone diameter was measured and analyzed using Shapiro-Wilk, Kruskal-Wallis, and post hoc Bonferroni test to determine its antibacterial activity. Results: The results showed that ketapang leaf extract at concentrations of 10%, 20%, 40%, and 80% was unable to form an inhibition zone against the growth of S. pneumoniae. This finding contrasted with the positive control, amoxicillin (25 µg/disk), which produced an inhibition zone with an average diameter of 12.5 mm. The absence of inhibitory activity by the extract is suspected to be related to physical factors, such as molecular size and extract viscosity that hinder diffusion, or suboptimal bacterial growth. Conclusion: Ketapang leaf extract shows no antibacterial activity against S. pneumoniae in vitro.
4836351765G1A022042UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANTIBIOFILM NANOPARTIKEL PERAK (AgNP) DARI EKSTRAK ETIL ASETAT TERONG UNGU (Solanum melongena L.) TERHADAP Staphylococcus epidermidis ATCC 35984 Latar Belakang: Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri oportunistik penyebab Healthcare Associated Infections (HAIs) yang memiliki kemampuan membentuk biofilm, sehingga meningkatkan resistensi terhadap terapi antibiotik konvensional. Peningkatan kejadian resistensi antibiotik mendorong pengembangan agen alternatif berbasis bahan alam, salah satunya terong ungu (Solanum melongena L.) yang mengandung senyawa bioaktif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antibakteri dan antibiofilm nanopartikel perak yang disintesis dari ekstrak etil asetat terong ungu (Solanum melongena L.) terhadap Staphylococcus epidermidis ATCC 35984. Metodologi: Penelitian dilakukan secara true experimental laboratory research dengan rancangan post-test only control group design. Penelitian ini menggunakan ekstrak etil asetat terong ungu yang diperoleh melalui metode maserasi, kemudian disintesis menjadi nanopartikel perak menggunakan metode green synthesis dengan ekstrak terong ungu sebagai agen pereduksi dan penstabil. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai MIC dan MBC diperoleh pada konsentrasi 2 mg/ml yang mampu membunuh ≥ 99,9% sel planktonik. Uji antibiofilm menunjukkan nilai MBIC50 pada konsentrasi 2 mg/ml, meskipun tidak berbeda bermakna secara statistik. Nilai MBRC50 tidak dapat ditetapkan karena tidak terdapat konsentrasi yang mampu mereduksi biofilm sebesar 50%. Kesimpulan: Nanopartikel perak ekstrak etil asetat terong ungu menunjukkan aktivitas antibakteri dan potensi antibiofilm terhadap S. epidermidis ATCC 35984, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai agen antibakteri alternatif berbasis bahan alam.Background: Staphylococcus epidermidis is an opportunistic bacteria that causes healthcare-associated infections (HAIs) which has the ability to form biofilms, thus increasing resistance to conventional antibiotic therapy. The increasing incidence of antibiotic resistance encourages the development of alternative agents based on natural ingredients, one of which is purple eggplant (Solanum melongena L.) which contains bioactive compounds. Objective: This study aimed to evaluate the antibacterial and antibiofilm activity of silver nanoparticles synthesized from ethyl acetate extract of purple eggplant (Solanum melongena L.) against Staphylococcus epidermidis ATCC 35984. Methodology: The study was conducted as a true experimental laboratory research with a post-test only control group design. This study used ethyl acetate extract of purple eggplant obtained through the maceration method, then synthesized into silver nanoparticles using the green synthesis method with purple eggplant extract as a reducing and stabilizing agent. Results: The results showed that the MIC and MBC values were obtained at a concentration of 2 mg/ml which were able to kill ≥ 99.9% of planktonic cells. The antibiofilm test showed an MBIC50 value at a concentration of 2 mg/ml, although the difference was not statistically significant. The MBRC50 value could not be determined because no concentration was able to reduce the biofilm by 50%. Conclusion: Silver nanoparticles from ethyl acetate extract of purple eggplant showed antibacterial activity and antibiofilm potential against S. epidermidis ATCC 35984, thus having the potential to be developed as an alternative antibacterial agent based on natural ingredients.
4836451766C2C023073ANALISIS DAMPAK DIGITALISASI TERHADAP EFISIENSI OPERASIONAL DENGAN PENDEKATAN AUTOREGRESSIVE DISTRIBUTED LAG (ARDL) (STUDI KASUS BANK UMUM TAHUN 2015 – 2024)
Penelitian ini merupakan studi kuantitatif yang bertujuan untuk menganalisis dampak digitalisasi terhadap efisiensi operasional dengan pendekatan Autoregressive Distributed Lag (ARDL) studi kasus bank umum tahun 2015 – 2024. Data diperoleh dari laporan keuangan tahunan dengan populasi berjumlah 105 Bank Umum terdaftar di OJK dengan Non Probability Sampling dengan teknik Purposive Sampling maka diambil 12 Bank Umum. Analisis dilakukan menggunakan panel ARDL metode Pooled Mean Group.
Fokus penelitian ini adalah menganalisis pengaruh digitalisasi perbankan terhadap efisiensi operasional bank umum dalam jangka pendek dan jangka panjang, serta menguji peran ukuran bank, CAR, FDR, NPF, fluktuasi kurs, inflasi, dan suku bunga acuan Bank Indonesia sebagai variabel moderasi dalam hubungan tersebut.
Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa digitalisasi diyakini meningkatkan efisiensi operasional perbankan melalui otomatisasi dan pengurangan biaya, namun dalam praktik bank umum di Indonesia penurunan jumlah kantor fisik belum diikuti oleh perbaikan rasio BOPO yang konsisten sehingga manfaat efisiensi digitalisasi belum sepenuhnya terealisasi.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menunjukkan bahwa; (1) digitalisasi perbankan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap BOPO baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang dengan bank BRI, Mandiri, BNI, BTN, BCA, dan OCBC NISP mampu memanfaatkan digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi sementara Danamon, CIMB Niaga, Muamalat, Permata, Mega, dan Sinarmas belum optimal; (2) ukuran bank memoderasi pengaruh digitalisasi dengan kecenderungan melemahkan efisiensi dalam jangka pendek dan memperkuat efisiensi dalam jangka panjang; (3) rasio kecukupan modal (CAR) memoderasi pengaruh digitalisasi terhadap efisiensi operasional dengan efek campuran antarbank dan adanya lag, namun secara umum bank bermodal kuat lebih mampu menekan BOPO dalam jangka panjang; (4) rasio pembiayaan terhadap simpanan (FDR) memoderasi digitalisasi dengan memperkuat efisiensi dalam jangka pendek tetapi melemahkannya dalam jangka panjang; (5) rasio pembiayaan bermasalah (NPF) secara umum melemahkan efektivitas digitalisasi terhadap efisiensi operasional baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang; (6) fluktuasi nilai tukar memoderasi digitalisasi dengan menguatkan efisiensi dalam jangka pendek namun melemahkannya dalam jangka panjang; (7) tingkat inflasi memoderasi digitalisasi dengan kecenderungan melemahkan efisiensi dalam jangka pendek dan menguatkannya dalam jangka panjang; dan (8) suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) memoderasi digitalisasi dengan menguatkan efisiensi operasional dalam jangka pendek tetapi melemahkannya dalam jangka panjang.
Implikasi dari kesimpulan diatas yaitu bagi manajemen bank temuan positif menunjukkan bahwa digitalisasi mampu menekan BOPO dan meningkatkan efisiensi operasional sehingga perlu diperkuat melalui integrasi teknologi ke proses inti, otomatisasi layanan dan pemanfaatan data untuk pengendalian biaya, sementara dari sisi perbaikan manajemen perlu lebih selektif dalam investasi digital, memperketat evaluasi cost benefit, serta meningkatkan kualitas SDM dan manajemen risiko agar digitalisasi tidak justru menambah beban biaya. Bagi regulator, implikasi positifnya adalah digitalisasi dapat mendukung efisiensi dan daya saing perbankan sehingga perlu terus didorong melalui kebijakan yang kondusif, sedangkan dari sisi perbaikan regulator perlu memperkuat pengawasan permodalan, risiko kredit, stabilitas makroekonomi, serta regulasi keamanan siber dan perlindungan data agar transformasi digital berjalan stabil dan berkelanjutan.

This research is a quantitative study that aims to analyze the impact of digitalization on operational efficiency using the Autoregressive Distributed Lag (ARDL) approach in a case study of commercial banks from 2015 to 2024. The data was obtained from annual financial reports with a population of 105 commercial banks registered with the OJK using non-probability sampling with the purposive sampling technique, resulting in 12 commercial banks being selected. The analysis was conducted using the Pooled Mean Group ARDL panel method.
This study focuses on analyzing the effect of banking digitalization on the operational efficiency of commercial banks in the short and long term, as well as testing the role of bank size, CAR, FDR, NPF, exchange rate fluctuations, inflation, and Bank Indonesia's benchmark interest rate as moderating variables in this relationship.
This research is motivated by the belief that digitalization improves banking operational efficiency through automation and cost reduction. However, in the practice of commercial banks in Indonesia, the decline in the number of physical offices has not been followed by a consistent improvement in the BOPO ratio, so that the efficiency benefits of digitization have not been fully realized.
Based on the results of research and data analysis, it shows that: (1) banking digitalization has a negative and significant effect on BOPO in both the short and long term, with BRI, Mandiri, BNI, BTN, BCA, and OCBC NISP banks being able to utilize digitalization to improve efficiency, while Danamon, CIMB Niaga, Muamalat, Permata, Mega, and Sinarmas have not yet optimized it; (2) Bank size moderates the impact of digitalization, with a tendency to weaken efficiency in the short term and strengthen efficiency in the long term; (3) The capital adequacy ratio (CAR) moderates the impact of digitalization on operational efficiency with mixed effects between banks and a lag, but in general, banks with strong capital are better able to reduce BOPO in the long term; (4) The financing to deposit ratio (FDR) moderates digitalization by strengthening efficiency in the short term but weakening it in the long term; (5) The non-performing financing ratio (NPF) generally weakens the effectiveness of digitalization on operational efficiency in both the short and long term; (6) Exchange rate fluctuations moderate digitalization by strengthening efficiency in the short term but weakening it in the long term; (7) the inflation rate moderates digitalization with a tendency to weaken efficiency in the short term and strengthen it in the long term; and (8) Bank Indonesia's benchmark interest rate (BI Rate) moderates digitalization by strengthening operational efficiency in the short term but weakening it in the long term.
The implications of the above conclusions for bank management are that the positive findings show that digitalization can reduce BOPO and improve operational efficiency, so it needs to be strengthened through the integration of technology into core processes, service automation, and the use of data for cost control. while from a management improvement perspective, it is necessary to be more selective in digital investments, tighten cost benefit evaluations, and improve the quality of human resources and risk management so that digitalization n does not actually increase costs. For regulators, the positive implication is that digitalization can support banking efficiency and competitiveness, so it needs to be continuously encouraged through conducive policies. Meanwhile, in terms of regulatory improvement, regulators need to strengthen supervision of capital, credit risk, macroeconomic stability, as well as cybersecurity and data protection regulations so that digital transformation runs stably and sustainably.
4836551769K1C019049Sesar Kendeng salah satu sesar yang aktif di Indonesia yang merupakan lanjutan dari pegunungan serayu utara yang terbentuk di Jawa Tengah membentang hingga Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan pada Sesar Kendeng di segmen Purwodadi dengan menggunakan metode gravitasi. Pada penelitian bertujuan mengidentifikasi keberadaan serta jenis Sesar Kendeng dengan memanfaatkan metode analisis First Horizontal Derivative dan Second Vertical Derivative dan untuk mengetahui litologi permukaan menggunakan pemodelan 2D. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang diambil dari citra satelit TOPEX. Hasil dari analisis derivative menunjukan pada Sesar Kendeng segmen Purwodadi adanya sesar turun(normal) yang memiliki arah barat daya-timur laut. Hasil dari pemodelan 2D menunjukkan bahwa daerah Sesar Kendeng segmen Purwodadi tersusun atas beberapa formasi batuan yaitu, endapan alluvium, anggota klitik, formasi kalibeng, formasi pelang dan formasi kerek.The Kendeng Fault is one of the active faults in Indonesia, representing the continuation of the northern Serayu Mountains formed in Central Java and extending eastward into East Java. This study focuses on the Kendeng Fault in the Purwodadi segment using the gravity method. The objective of this research is to identify the presence and type of the Kendeng Fault through First Horizontal Derivative and Second Vertical Derivative analyses, as well as to determine the surface lithology using 2D modeling. The data utilized in this study are secondary data derived from TOPEX satellite imagery. The derivative analysis indicates the existence of a normal fault in the Purwodadi segment of the Kendeng Fault, trending southwest–northeast. Furthermore, the 2D modeling results reveal that the Purwodadi segment of the Kendeng Fault is composed of several rock formations, namely alluvial deposits, Klitik Member, Kalibeng Formation, Pelang Formation, and Kerek Formation.
4836651770E1A021049UPAYA ORGANISASI WARTAWAN DALAM MENGHADAPI KEKERASAN TERHADAP WARTAWAN
(Studi Penerapan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers di Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Banyumas)

Kekerasan terhadap wartawan baik secara fisik maupun digital masih kerap terjadi dan menjadi ancaman terhadap kemerdekaan pers khususnya di tingkat lokal. Sebagai upaya menjamin pelaksanaan kemerdekaan pers, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers melalui Pasal 4 memberi jaminan perlindungan terhadap wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Banyumas (PWI Banyumas) sebagai organisasi wartawan di tingkat lokal dalam menghadapi ancaman dan tindak kekerasan terhadap wartawan, sekaligus mengkaji kendala serta strategi yang diterapkan oleh PWI Banyumas dalam memberikan perlindungan profesi wartawan. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis empiris dengan pendekatan yuridis sosiologis, berlokasi di PWI Banyumas, menggunakan data primer dari wawancara dan dokumentasi serta data sekunder dari studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PWI Banyumas melakukan upaya perlindungan yang meliputi langkah preventif melalui penguatan kompetensi dan profesionalisme wartawan, upaya kuratif melalui advokasi dan pendampingan hukum ketika terjadi kasus kekerasan, serta upaya rehabilitatif melalui pemulihan kondisi fisik, psikologis, dan reputasi wartawan pasca insiden. Upaya perlindungan tersebut pada dasarnya telah sejalan dengan prinsip kemerdekaan pers dan hak asasi manusia, meskipun masih ditemui kendala seperti maraknya wartawan abal-abal, keterbatasan pemahaman aparat terhadap kemerdekaan pers, serta hambatan akses informasi. Strategi perlindungan melalui advokasi, pendampingan, dan sinergi kelembagaan dengan pemerintah daerah dan Dewan Pers memiliki peran penting dalam menjaga kemerdekaan pers di tingkat lokal dan memperkuat peran wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik di Kabupaten Banyumas.Violence against journalists, both physical and digital, still frequently occurs and poses a threat to press freedom, especially at the local level. In an effort to guarantee the implementation of press freedom, Law No. 40 of 1999 on the Press, through Article 4, provides protection for journalists in carrying out their journalistic duties. This study aims to determine the role of the Banyumas Regency Indonesian Journalists Association (PWI Banyumas) as a local journalists' organisation in dealing with threats and acts of violence against journalists, as well as to examine the obstacles and strategies implemented by PWI Banyumas in providing professional protection for journalists. This research is an empirical juridical study with a sociological juridical approach, located at PWI Banyumas, using primary data from interviews and documentation as well as secondary data from literature studies. The results of the study show that PWI Banyumas has made efforts to protect journalists, including preventive measures by strengthening their competence and professionalism, curative measures through advocacy and legal assistance when cases of violence occur, and rehabilitative measures through the restoration of journalists' physical and psychological condition and reputation after incidents. These protection efforts are essentially in line with the principles of press freedom and human rights, although there are still obstacles such as the prevalence of fake journalists, limited understanding of press freedom among officials, and barriers to access to information. Protection strategies through advocacy, assistance, and institutional synergy with local governments and the Press Council play an important role in maintaining press freedom at the local level and strengthening the role of journalists in carrying out their journalistic duties in Banyumas Regency.
4836751852G1A020017PROFIL PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ISPA DI KLINIK PRATAMA SOEDIRMAN TAHUN 2024
Latar belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan atas maupun bawah yang umumnya ditularkan melalui udara terutama melalui proses inhalasi. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada kasus ISPA yang mayoritas disebabkan oleh virus dapat meningkatkan risiko resistensi antimikroba. Klinik Pratama Soedirman sebagai penyedia layanan kesehatan tingkat pertama perlu memantau pola peresepan antibiotik untuk menjamin mutu pelayanan kefarmasian. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik pada pasien ISPA di Klinik Pratama Soedirman selama periode tahun 2024 meliputi karakteristik pasien serta jenis, golongan dan ketepatan pemilihan antibiotik. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif melalui rekam medis pasien ISPA di Klinik Pratama Soedirman periode Januari-Desember 2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total 2.546 sampel, pasien ISPA didominasi oleh kelompok usia 12-25 tahun (72%) dan jenis kelamin perempuan (66.7%). Jenis ISPA yang paling banyak didiagnosis adalah Acute Upper Respiratory Infections of Multiple and Unspecified Sites. Golongan antibiotik yang paling banyak diresepkan adalah golongan fluoroquinolon dengan jenis antibiotik ciprofloxacin sebesar (36.4%). Kesimpulan: Penggunaan antibiotik pada pasien ISPA di Klinik Pratama Soedirman tahun 2024 didominasi oleh golongan Fluoroquinolon.Background: Acute Respiratory Tract Infection (ARTI) is one of the diseases with the highest prevalence in Indonesia, frequently leading to widespread antibiotic use. Irrational antibiotic prescribing for ARTI, which is predominantly caused by viruses, can increase the risk of antimicrobial resistance. As a primary healthcare provider, Soedirman Pratama Clinic needs to monitor antibiotic prescribing patterns to ensure the quality of pharmaceutical care. Objective: This study aims to determine the profile of antibiotic use in ARTI patients at Soedirman Pratama Clinic during the 2024 period, including patient characteristics as well as the types, classes and appropriateness of antibiotic selection. Methode: This study is a descriptive study with retrospective data collection through the medical records of ARTI patients at Soedirman Pratama Clinic from January to December 2024. The sampling technique used was total sampling meeting the inclusion criteria. Result: The result showed that out of a total of 2.546 sampels, ARTI patients were dominated by the 12-25 age group (72%) and female gender (66.7%). The most frequently diagnosed type of ARTI was Acute Upper Respiratory Infections of Multiple and Unspecified Sites. The most commonly prescribed antibiotic class was fluoroquinolone with ciprofloxacin being the most used antibiotic at (36.4%). Conclusion: Antibiotic use in ARTI patients at Soedirman Pratama Clinic in 2024 was dominated by fluoroquinolone.
4836851787H1A021053Analisis Pengaruh Seleksi Fitur Hasil Penggabungan Fitur pada Deteksi Pra-kanker Citra Kolposkopi dengan Model SVM dan XGBoostKanker serviks menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita di seluruh dunia. Deteksi dini menjadi kunci utama dalam penanganan dan pencegahan kanker serviks. Kolposkopi merupakan metode inspeksi visual dalam deteksi dini kanker serviks. Seiring kemajuan teknologi, pengolahan citra dan machine learning menjadi solusi potensial untuk mengotomasi dan mempercepat diagnosis. Meksi demikian, tantangan terbesar terletak pada pemilihan fitur yang relevan agar model machine learning dapat bekerja secara optimal.
Seleksi fitur menjadi salah satu kunci dalam pemilihan subset fitur yang optimal. Metode fiilter mengevaluasi fitur berdasarkan karakteristik statistik tanpa bergantung pada model tertentu, sehingga mengurangi risiko overfitting. Sebaliknya, metode wrapper memilih fitur berdasarkan performa model, memastikan bahwa fitur yang dipilih benar-benar mengoptimalkan akurasi prediksi. Kombinasi kedua metode ini bertujuan untuk mendapatkan subset fitur terbaik untuk menghasilkan model dengan performa optimal.
Support Vector Machine (SVM) dan Extreme Gradient Boosting (XGBoost) merupakan algoritma yang dikenal memiliki performa tinggi dalam tugas klasifikasi. SVM unggul dalam memisahkan data dengan pola overfitting melalui regulasi yang baik. Kombinasi kedua model ini memungkinkan evaluasi yang komprehensif terhadap pengaruh seleksi fitur pada berbagai karakteristik model machine learning.
Cervical cancer is one of the leading causes of cancer deaths in women worldwide. One of the keys in the treatment and prevention of cervical cancer is through early detection. Colposcopy is one method of early detection of cervical cancer through visual inspection. As technology develops, image processing and machine learning are a potential solution to automate and speed up diagnosis. However, the biggest challenge lies in ensuring the reliability of machine learning models in identifying lession optimally.
Feature selection is one of the keys in selecting the optimal feature subset. Filter methods evaluate features based on statistical characteristics without relying on a particular machine learning model, thus reducing the risk of overfitting. In contrast, wrapper methods evaluate features based on model performance, ensuring that the selected features actually contribute to optimize prediction accuracy. The combination of these two methods aims to obtain the best subset of features to produce a model with optimal performance.
Support Vector Machine (SVM) and Extreme Gradient Boosting (XGBoost) are algorithms known for their high performance in classification tasks. SVM excels at separating data with complex patterns using kernel tricks. XGBoost on the other hand, effectively handles large datasets and prevent overfitting through fine regulation. The combination of these two models enables a comprehensive evaluation of the effect of feature selection on various characteristics of machine learning models.
4836951853E1A021134Tinjauan Yuridis Terhadap Wanprestasi Dalam Perjanjian Kerjasama Operasi Non Administratif (Studi Putusan Nomor 457/Pdt.G/2022/PN.Jkt Tim)Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya tindakan wanprestasi terhadap Perjanjian
Kerja Sama Operasi Non Administratif antara PT. Survai Udara Penas (Persero) selaku
Tergugat dan PT. Prabu Wahana International selaku Penggugat. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam
menentukan unsur-unsur wanprestasi dan unsur-unsur ganti rugi yang dijatuhkan oleh
Majelis Hakim. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan
pendekatan statute approach, case approach, dan conseptual approach dengan
spesifikasi deskriptif normatif serta analisis secara kualitatif. Hasil penelitian
menyimpulkan bahwa Tergugat telah memenuhi unsur-unsur wanprestasi yaitu adanya
perikatan yang lahir dari perjanjian kerja sama operasi non administratif. Unsur kedua,
debitur tidak berprestasi di mana Tergugat tidak melaksanakan kewajibannya yaitu
memperpanjang Surat Izin Usaha Angkutan Udara dan Sertifikat Angkutan Udara yang
termasuk ke dalam wujud wanprestasi tidak berprestasi sama sekali. Unsur ketiga yaitu
adanya kesalahan dibuktikan dari Tergugat yang tidak melaksanakan kewajibannya
walaupun telah diberikan surat somasi oleh Penggugat. Tergugat juga memenuhi unsur
ganti rugi, yaitu biaya di mana terdapat biaya yang telah dikeluarkan oleh Penggugat
dan bunga yaitu besaran yang diharapkan Penggugat, sedangkan unsur rugi tidak
terpenuhi.
This research is motivated by the act of default in a Non-Administrative Joint
Operation Agreement between PT. Survai Udara Penas (Persero) as the Defendant
and PT. Prabu Wahana International as the Plaintiff. The study aims to analyze the
judge’s legal considerations in determining the elements of defaults and
compensations. This study uses normative judicial research method with a statute,
case, and conseptual approach, using a descriptive normative research specification
and qualitative analysis. The results of the research concluded that the Defendant had
fulfilled the elements of default, namely the existence of an obligation arising from a
non-administrative joint operation agreement. The second element, the debtor did not
perform where there was no intention from the Defendant to carry out his obligations,
namely extending the Air Transportation Business License and Air Transportation
Certificate, constituting forms of breach: complete non-performance. The third
element, namely the existence of an error proven by the Defendant who did not carry
out his obligations even though a warning letter had been given by the Plaintiff. The
Defendant also fulfilled the elements of compensation, namely costs incurred by the
Plaintiff and interest that was expected, while the element of loss was not fulfilled.
4837051768A1A022096Analisis Kebutuhan dan Kecukupan Beras di Provinsi Jawa Timur Periode 1995-2024Beras merupakan komoditas pangan utama yang berperan penting dalam ketahanan pangan masyarakat Indonesia. Ketersediaan beras dipengaruhi oleh produksi, pertumbuhan penduduk, dan pola konsumsi yang terus berkembang. Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu sentra produksi padi perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan beras. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui jumlah kebutuhan beras di Provinsi Jawa Timur; 2) Menganalisis tingkat kecukupan beras di Provinsi Jawa Timur; 3) Menganalisis proyeksi kebutuhan dan ketersediaan beras di Provinsi Jawa Timur pada lima tahun ke depan.
Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu berupa data time series atau deret waktu dengan periode tahun 1995 hingga 2024. Data sekunder diperoleh melalui lembaga resmi seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, Dinas Pertanian, dan berbagai media yang terkait dengan kebutuhan dan kecukupan beras di Provinsi Jawa Timur. Analisis data yang digunakan yaitu analisis kebutuhan beras, analisis kecukupan beras, dan analisis proyeksi (forecasting) menggunakan metode ARIMA (Autoregressive Integrated Moving Average). Data dalam penelitian ini diolah menggunakan IBM SPSS Statistic 24.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan beras di Provinsi Jawa Timur selama periode 1995–2024 bersifat fluktuatif dengan rata-rata sebesar 3.071.108,47 ton, dengan kebutuhan tertinggi mencapai 3.300.254,78 ton pada tahun 2004. Ketersediaan beras pada periode yang sama relatif lebih tinggi dengan rata-rata sebesar 6.009.124,19 ton, sehingga Jawa Timur secara konsisten berada pada kondisi surplus beras. Hasil peramalan kebutuhan dan ketersediaan beras dalam penelitian ini menggunakan model ARIMA (1,1,1) yang dinilai mampu menggambarkan pola tren dan fluktuasi data deret waktu secara akurat. Berdasarkan hasil peramalan, kebutuhan beras diproyeksikan menurun dari 3.085.144,76 ton pada tahun 2025 menjadi 3.043.778,46 ton pada tahun 2030, sedangkan ketersediaan beras diperkirakan meningkat dari 5.588.957,63 ton menjadi 5.652.730,63 ton pada periode yang sama. Kondisi tersebut menghasilkan proyeksi kecukupan beras yang tetap surplus, meningkat dari 2.503.812,87 ton pada tahun 2025 menjadi 2.608.952,17 ton pada tahun 2030. Hal tersebut menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki kemampuan menjaga stabilitas ketahanan pangan beras di masa mendatang.
Rice is a major food commodity that plays an important role in the food security of the Indonesian people. Rice availability is influenced by production, population growth, and evolving consumption patterns. East Java Province, as one of the centers of rice production, needs to maintain a balance between rice demand and availability. This study aims to: 1) Determine the amount of rice demand in East Java Province; 2) Analyze the level of rice sufficiency in East Java Province; 3) Analyze the projection of rice demand and availability in East Java Province over the next five years.
This research is quantitative in nature. The data used in this study is secondary data in the form of time series data covering the period from 1995 to 2024. The secondary data was obtained from official institutions such as the Central Statistics Agency (BPS), the Ministry of Agriculture, the National Food Agency, the Agriculture Office, and various media related to rice demand and sufficiency in East Java Province. The data analysis used was rice demand analysis, rice sufficiency analysis, and forecasting analysis using the ARIMA (Autoregressive Integrated Moving Average) method. The data in this study was processed using IBM SPSS Statistics 24.
The results of the study show that rice demand in East Java Province during the period 1995–2024 fluctuated, with an average of 3,071,108.47 tons, and the highest demand reaching 3,300,254.78 tons in 2004. Rice availability during the same period was relatively higher, with an average of 6,009,124.19 tons, so that East Java consistently had a rice surplus. The results of forecasting rice demand and availability in this study used the ARIMA (1,1,1) model, which was considered capable of accurately describing the trend and fluctuation patterns of time series data. Based on the forecast results, rice demand is projected to decline from 3,085,144.76 tons in 2025 to 3,043,778.46 tons in 2030, while rice availability is estimated to increase from 5,588,957.63 tons to 5,652,730.63 tons in the same period. These conditions result in a projected rice surplus that remains stable, increasing from 2,503,812.87 tons in 2025 to 2,608,952.17 tons in 2030. This shows that East Java has the ability to maintain the stability of rice food security in the future.
4837151772A1D021113Eksplorasi, Identifikasi Jamur dan Bakteri Patogen pada Tanaman Kapulaga Lokal BanyumasKapulaga merupakan tanaman rempah bernilai ekonomi tinggi yang berpotensi sebagai biofarmaka, namun produktivitasnya sering terkendala oleh penyakit yang belum banyak dilaporkan dan dikelola secara optimal sehingga menjadi kendala utama dalam hal budidaya dan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jamur dan bakteri patogen kapulaga serta menentukan kejadian penyakit karena jamur dan bakteri patogen pada kapulaga. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksploratif deskriptif dengan pendekatan survei lapangan dan analisis laboratorium. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling pada tanaman kapulaga bergejala sakit di Kecamatan Cilongok dan Kedungbanteng, kemudian diisolasi dan diidentifikasi hingga tingkat genus. Variabel yang diamati meliputi gejala penyakit, kejadian penyakit, serta identifikasi dan uji patogenisitas berdasarkan postulat Koch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala dominan di Kecamatan Cilongok adalah bercak daun 61,9% dan layu kuning 43,3%, sedangkan di Kecamatan Kedungbanteng bercak daun 55,7% dan bercak merah 48,6%. Jamur patogen yang teridentifikasi diduga genus Fusarium dan Colletotrichum, sedangkan bakteri patogen yang ditemukan diduga genus Erwinia dan Xylophilus. Cardamom is a spice plant of high economic value with potential as a bio-pharmaceutical, but its productivity is often constrained by diseases that have not been widely reported or optimally managed, thus becoming a major obstacle in cultivation and production. This study aimed to identify fungal and bacterial pathogens of cardamom and to determine the incidence of diseases caused by these pathogens. This study employed an exploratory descriptive method using survey and laboratory analyses. Sampling was conducted using purposive sampling on symptomatic cardamom plants in Cilongok and Kedungbanteng Districts, which were subsequently isolated and identified up to the genus level. The observed variables included symptom description, disease incidence, as well as pathogen identification and pathogenicity testing based on Koch’s postulates. The results showed that the dominant symptoms in Cilongok District were leaf spots 61.9% and yellow wilt 43.3%, while in Kedungbanteng District leaf spots 55.7% and red spots 48.6% were prevalent. The fungal pathogens identified were suspected to belong to the genera Fusarium and Colletotrichum, while the bacterial pathogens found were suspected to belong to the genera Erwinia and Xylophilus.
4837251774H1E021022PERANCANGAN MODEL PROSES BISNIS MANAJEMEN LABORATORIUM TEKNIK INDUSTRI BERDASARKAN ISO 17025:2017 KLAUSUL 7 MENGGUNAKAN PENDEKATAN BUSSINES PROCESS MANAGEMENTLaboratorium Teknik Industri Universitas Jendral Soedirman memiliki peran dalam mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, dan juga dalam pengujian. Namun pengelolaan yang belum terstandarisasi dapat menimbulkan ketidakefisienan proses serta ketidaksesuaian dengan peryaratan mutu. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model proses bisnis manajemen Laboratorium Teknik Industri berdasarkan klausul 7 ISO/IEC 17025:2017 dengan menggunakan pendekatan Business Process Management (BPM). Metode penelitian dilakukan melalui identifikasi proses bisnis eksisting, pemetaan proses menggunakan BPMN, serta analisis kesesuaian terhadap klausul 7 ISO/IEC 17025:2017. Selain itu, dilakukan analisis value added untuk mengidentifikasi aktivitas yang bernilai tambah dan tidak bernilai tambah. Hasil penelitian menunjukan Sebagian besar aktivitas dikategorikan dalam Bussines Vaue Added karena tujuan perancangannya adalah kepatuhan tehadap klausul 7. Model proses bisnis usulan diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan persyaratan pemenuhan standar ISO/IEC 17025:2017 Klausul 7.The Industrial Engineering Laboratory of Jendral Soedirman University has a role in supporting educational, research, and also testing activities. However, management that has not been standardized can cause process inefficiencies and incompatibility with quality standards. This research aims to design a business process model for the management of the Industrial Engineering Laboratory based on clause 7 of ISO/IEC 17025:2017 using the Business Process Management (BPM) approach. The research method was carried out through the identification of existing business processes, process mapping using BPMN, and analysis of conformity to clause 7 of ISO/IEC 17025:2017. In addition, value-added analysis was carried out to identify value-added and non-value-added activities. The results of the study show that most of the activities are categorized in Bussines Vaue Added because the purpose of the design is compliance with clause 7. The proposed business process model is expected to improve compliance with the requirements of compliance with the ISO/IEC 17025:2017 Clause 7 standard.
4837351794A1A021087Dampak Eksternalitas PT XYZ Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi dan Lingkungan Masyarakat Desa Dagen Kecamatan Jaten Kabupaten KaranganyarEksternalitas merupakan dampak yang terjadi karena adanya kegiatan yang dilakukan oleh pihak tertentu terhadap pihak lain, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Salah satu kegiatan ekonomi yang menimbulkan dampak positif dan negatif ialah industrialisasi. PT XYZ yang terletak di Desa Dagen, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar dapat menimbulkan dampak eksternalitas positif maupun negatif terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat yang tinggal di sekitar industri. Eksternalitas tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap pembangunan berkelanjutan yang ada di Desa Dagen. Pembangunan berkelanjutan membutuhkan penanganan eksternalitas untuk mencapai keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan perlindungan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini untuk 1) Mengidentifikasi eksternalitas positif maupun negatif yang timbul dari adanya aktivitas PT XYZ terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat Desa Dagen, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar dan 2) Mengetahui upaya PT XYZ dalam memenuhi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap masyarakat Desa Dagen, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jumlah informan sebanyak 17 orang. Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Dagen, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar. Data yang digunakan ialah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik uji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak eksternalitas positif dari aspek sosial keberadaan PT XYZ berupa meningkatnya kemampuan masyarakat dalam membiayai pendidikan anak yang juga berdampak pada meningkatnya kualitas pendidikan masyarakat, meningkatnya derajat kesehatan karena bantuan BPJS dari PT XYZ, hubungan sosial yang semakin erat baik secara vertikal maupun horizontal, serta kegiatan sosial yang mendapat dukungan dari PT XYZ. Dampak positif dari aspek ekonomi berupa adanya penyerapan tenaga kerja, terbukanya peluang usaha bagi masyarakat, dan adanya peningkatan pendapatan bagi pemilik usaha dan masyarakat sekitar yang bekerja di PT XYZ. Dampak postif dari aspek lingkungan berupa adanya perbaikan dan penyediaan fasilitas umum untuk masyarakat. Dampak eksternalitas negatif dari keberadaan PT XYZ di Desa Dagen berupa pencemaran lingkungan seperti, timbul bau tak sedap akibat limbah, adanya kebisingan, serta lalu lintas karyawan yang kebut-kebutan. Program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan PT XYZ terhadap masyarakat sekitar meliputi berbagai bidang, yaitu kesehatan, keagamaan, bantuan sosial serta lingkungan dan infrastruktur.
Externalities referred to the effects arising from the activities of one party that affected others, either beneficially or adversely. Industrialization was one of the economic activities that frequently generated both positive and negative external impacts. PT XYZ, located in Dagen Village, Jaten District, Karanganyar Regency, contributed to various externalities that influenced the social, economic, and environmental conditions of the surrounding community. These externalities played a significant role in shaping the trajectory of sustainable development in Dagen Village. In the context of sustainable development, managing externalities was essential to achieving a balance between economic growth, social welfare, and environmental preservation. This study aimed to: (1) identify the positive and negative externalities resulting from the operational activities of PT XYZ on the social, economic, and environmental conditions of the community in Dagen Village; and (2) analyze the company’s efforts in implementing Corporate Social Responsibility (CSR) initiatives for the local community.
A descriptive qualitative approach was employed, involving 17 informants selected from the community and relevant stakeholders. The research was conducted in Dagen Village, Jaten District, Karanganyar Regency. Both primary and secondary data were utilized. Data collection methods included direct observation, in-depth interviews, and documentation review. The data were analyzed through stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. To ensure the credibility of the findings, source triangulation was applied.
The results indicated that the presence of PT XYZ generated several positive social externalities, including the community’s increased capacity to finance children’s education, which contributed to improvements in educational attainment, enhanced access to healthcare through BPJS assistance provided by the company, strengthened social cohesion both vertically and horizontally, and support for community-based social activities. From an economic perspective, the company’s operations created employment opportunities, opened new business prospects for local residents, and increased income levels among workers and local entrepreneurs. In terms of environmental contributions, the company supported the improvement and provision of public facilities.Nevertheless, negative externalities were also identified, particularly environmental disturbances such as unpleasant odors resulting from waste management, noise pollution, and traffic issues caused by employees’ driving behavior. PT XYZ addressed its social responsibilities through CSR programs covering health services, religious activities, social assistance, as well as environmental and infrastructure development initiatives.
4837451773F1D022040Subordinasi Kapasitas Kepemimpinan Perempuan Dalam Kampanye Pilkada Di Purbalingga Tahun 2024Penelitian ini mengkaji subordinasi kapasitas kepemimpinan perempuan dalam kampanye Pilkada di Purbalingga tahun 2024. Isu terkait gender yang diangkat dalam kampanye menjadi hal yang penting untuk kita maknai sebagai manifestasi budaya patriarki dalam masyarakat modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, paradigma kritis, serta menggunakan pendekatan Fenomenologi oleh Heideggerian. Penelitian ini berupaya untuk memahami subordinasi kapasitas kepemimpinan perempuan yang diinternalisasikan melalui jingle politik dan subordinasi yang melekat dengan kepemimpinan perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitus masyarakat patriarki yang diinternalisasikan melalui jingle politik telah berhasil menormalisasi subordinasi dari pelanggaran aturan-aturan kampanye. Hibriditas Feminisme yang menjadi ciri khas politikus perempuan di Indonesia, justru menegaskan subordinasi yang melekat pada kepemimpinan perempuan sejak kehadirannya dalam politik.This study examines the subordination of women’s leadership capacity in the 2024 local election (Pilkada) campaign in Purbalingga Regency. Gender issues mobilized during the political campaign are interpreted as manifestations of enduring patriarchal culture within modern society. This research employs a qualitative method within a critical paradigm and applies a Heideggerian phenomenological approach to understand how such subordination is experienced, interpreted, and reproduced in campaign practices. The study focuses on the internalization of the subordination of women’s leadership capacity through political jingles and on how these constructions become embedded and legitimized in public perception. The findings indicate that the patriarchal habitus of society, reproduced through political jingles, has normalized forms of subordination, including those intersecting with violations of campaign regulations. Furthermore, the hybridity of feminism, which characterizes women politicians in Indonesia, paradoxically reinforces the symbolic subordination that has been attached to women’s leadership since their initial entry into the political arena.
4837551775F1C022019Strategi Komunikasi Pemasaran Banyumas TV dalam Mempromosikan Program "Langkah Pemuda dan Mahasiswa"Perkembangan media digital membawa perubahan besar dalam industri penyiaran, terutama bagi televisi lokal yang harus mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku audiens dan meningkatnya persaingan media. PT Banyumas Citra Televisi sebagai stasiun televisi lokal menghadapi berbagai tantangan, seperti ketidakstabilan pemasukan iklan, penurunan jumlah penonton, serta kebutuhan inovasi konten yang sesuai dengan minat generasi muda. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Banyumas TV meluncurkan Program Langkah Pemuda dan Mahasiswa sebagai strategi komunikasi pemasaran yang berfokus pada keterlibatan pemuda dan mahasiswa di wilayah Banyumas dan sekitarnya dalam mempromosikan stasiun televisi tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi komunikasi pemasaran yang diterapkan melalui program tersebut dalam upaya meningkatkan promosi dan menarik minat audiens muda. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan menitikberatkan pada penerapan konsep Integrated Marketing Communication (IMC), khususnya melalui kegiatan hubungan masyarakat, strategi pemasaran, serta pemanfaatan media digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi pemasaran yang dilakukan mampu meningkatkan visibilitas Banyumas TV, memperkuat keterlibatan audiens, serta membuka peluang peningkatan pendapatan iklan. Selain itu, penelitian ini memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan ilmu komunikasi, khususnya dalam bidang komunikasi pemasaran media lokal dan implementasi strategi promosi berbasis program siaran, serta menjadi bahan pertimbangan praktis dalam pengembangan strategi pemasaran yang berkelanjutan di era digital.The development of digital media has significantly transformed the broadcasting industry, particularly for local television stations that must adapt to changing audience behavior and increasing media competition. PT Banyumas Citra Televisi, as a local television station, faces several challenges, including unstable advertising revenue, declining viewership, and the need for content innovation that aligns with the interests of younger generations. To address these challenges, Banyumas TV launched the Youth and Student Initiative Program as a marketing communication strategy focused on engaging young people and university students in the Banyumas region and surrounding areas to promote the station. This study aims to analyze the marketing communication strategies implemented through the program in promoting Banyumas TV and attracting young audiences. The research employs a qualitative approach, focusing on the implementation of Integrated Marketing Communication (IMC), particularly through public relations activities, marketing strategies, and the utilization of digital media. The results indicate that the marketing communication strategies effectively enhance Banyumas TV’s visibility, strengthen audience engagement, and create opportunities for increased advertising revenue. Furthermore, the study contributes theoretically to the development of communication studies, especially in the field of local media marketing communication and program-based promotional strategies. Practically, the findings serve as strategic considerations for developing sustainable marketing communication strategies in the digital era.
4837651619A1A021008ANALISIS PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN BAHAN BAKU INDUSTRI GULA KELAPA DENGAN METODE MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) DI PT BERKAT PETANI INDONESIAPohon kelapa dikenal sebagai “pohon kehidupan” dan digunakan untuk makanan serta produk industri. Salah satu produk yang dihasilkan dari pohon kelapa adalah gula kelapa. PT BPI adalah perusahaan yang mengekspor gula kelapa organik ke pasar Eropa, khususnya Polandia. Perusahaan memiliki tantangan dalam mengelola pasokan bahan baku akibat fluktuasi permintaan. Fluktuasi permintaan dapat menyebabkan kelebihan atau kekurangan persediaan sehingga berdampak pada produksi dan meningkatkan biaya penyimpanan. PT BPI belum mengoptimalkan sistem pengendalian bahan baku hal tersebut mengakibatkan keterlambatan pengiriman produk. Perencanaan dan pengendalian bahan baku yang efektif sangat penting untuk mengatasi permasalahan tersebut. MRP membantu dalam merencanakan jadwal produksi dan menentukan jumlah serta waktu pembelian bahan baku.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasi perencanaan dan pengendalian bahan baku di PT BPI (2) Menganalisis penerapan MRP menggunakan pendekatan Lot For Lot (LFL), Economic Order Quantity (EOQ), dan Periodic Order Quantity (POQ) di PT BPI (3) Menentukan alternatif metode yang dapat diterapkan di PT BPI dalam perencanaan dan pengendalian bahan baku. Penelitian dilaksanakan di PT Berkat Petani Indonesia pada bulan Mei-September 2025. Rancangan pengambilan sample menggunakan purposive sampling yaitu menggunakan informan kunci. Informan kunci dalam penelitian ini meliputi Direktur Operasional, Kepala Internal Control System (ICS), Kepala produksi & gudang, Kepala sales marketing, dan Petani pengepul. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis dilakukan dengan membuat jadwal induk produksi, daftar bahan baku, data persediaan hingga perhitungan MRP metode Lot For Lot (LFL), Economic Order Quantity (EOQ), dan Periodic Order Quantity (POQ).
Hasil penelitian menunjukan bahwa PT BPI menerapkan metode FIFO (First In First Out) dalam penerapan manajemen persediaan. FIFO bertujuan untuk memastikan bahwa produk yang pertama diterima adalah yang pertama dijual, sehingga meminimalkan kerusakan. PT BPI melakukan penyesuaian metode FIFO dengan berdasarkan ketersediaan kapal pengiriman dan pesanan pelanggan. Perbandingan MRP dengan teknik lotting LFL, EOQ, dan POQ menunjukan bahwa metode LFL menghasilkan total biaya terendah dibandingkan dengan metode EOQ dan POQ. Alternatif metode yang dapat diterapkan di PT dalam perencanaan dan pengendalian bahan baku metode MRP dengan teknik LFL. Penerapan metode LFL selama periode Mei-November 2025 mampu menghemat biaya sebesar Rp84.554,287 atau sekitar 46,84% dibandingkan dengan perhitungan yang diterapkan oleh perusahaan.
The coconut tree was known as the “tree of life” and used for food and industrial products. One of the produced from coconut trees is coconut sugar. PT BPI was a company that exported organic coconut sugar to the European market, particularly Poland. The company faced challenges in managing its raw material supply due to fluctuations in demand. Fluctuations in demand could lead to excess or shortage of supply, which affected production and increased storage costs. PT BPI had not optimized its raw material control system, resulting in product delivery delays. Effective raw material planning and control were essential to overcome these problems. MRP helped in planning production schedules and determining the quantity and timing of raw material purchases.
This study aimed to (1) identify raw material planning and control at PT BPI, (2) analyze the application of MRP using the lot-for-lot (LFL), economic order quantity (EOQ), and periodic order quantity (POQ) approaches at PT BPI, and
(3) Determine alternative methods that could be applied at PT BPI in raw material planning and control. The researched conducted at PT Berkat Petani Indonesia in May-September 2025. The sample collection design used purposive sampling, namely used key informants. Key informants in this study included the Director of Operations, Headed of Internal Control System (ICS), Headed of production & warehouse, Headed of Sales Marketing, and Farmer collectors. Data collection methods used interviews, observation, and documentation techniques. Analysis carried out by created a master production schedule, a listed of raw materials, inventory data, and MRP calculations used the Lot For Lot (LFL), Economic Ordered Quantity (EOQ), and Periodic Order Quantity (POQ) methods.
The results of the study showed that PT BPI applied the FIFO (First In First Out) method in inventory management. FIFO aimed to ensure that the first products received were the first to be sold, thereby minimizing damage. PT BPI adjusted the FIFO method based on the availability of shipping vessels and customer orders. A comparison of MRP with the LFL, EOQ, and POQ lot techniques showed that the LFL method produced the lowest total cost compared to the EOQ and POQ methods. Alternative methods that could have applied in PT in planning and controlling raw materials was the MRP method with the LFL technique. The application of the LFL method during the period of May-November 2025 was able to saved costed of Rp84,554,287 or around 46.84% compared to the calculations applied by the company.
4837751777P2D022002STRATEGI PENGEMBANGAN AGROWISATA TEH
(Studi Kasus pada Agrowisata Kaligua di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)
Pengembangan pariwisata berbasis pertanian atau sektor agrowisata di Indonesia merupakan pengembangan suatu sektor yang menjanjikan. Dewasa ini banyak sekali usaha tani yang dipadukan dengan konsep wisata atau banyak dikenal dengan agrowisata. Agrowisata tidak hanya memberikan manfaat ekonomi dari sektor jasa wisata, tetapi juga dari penjualan komoditas pertanian, penciptaan lapangan kerja, pengurangan urbanisasi, serta pelestarian sumber daya alam dan kearifan lokal. Tingkat persaingan bisnis agrowisata teh yang terjadi di Jawa Tengah saat ini cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya agrowisata teh yang berusaha mengembangkan objek wisatanya dengan sebaik mungkin untuk menarik minat pengunjung sebanyak -banyaknya seperti Agrowisata Teh Tambi Kab, Wonosobo, Agrowisata Teh Kemuning Kab. Karanganyar,Agrowisata Teh Pagilaran Kab. Batang hingga Agrowisata Teh Kaligua Kab. Brebes. Dalam konteks persaingan agrowisata teh di Jawa Tengah, Agrowisata Kaligua di Kabupaten Brebes menjadi salah satu destinasi yang memiliki potensi besar karena mengintegrasikan wisata alam perkebunan teh, edukasi pengolahan teh, wisata sejarah, rekreasi keluarga, outbound, olahraga, penginapan, serta layanan pendukung dalam satu kawasan dengan harga tiket yang terjangkau. Data jumlah kunjungan dan pendapatan periode 2014–2021 menunjukkan pola fluktuatif, dengan puncak kunjungan pada tahun 2016, sementara hasil survei pendahuluan menunjukkan bahwa wisatawan masih didominasi pengunjung lokal berusia kurang dari 35 tahun. Meskipun memiliki keunggulan dari sisi kelengkapan atraksi dan keterjangkauan biaya, Agrowisata Kaligua masih menghadapi berbagai kendala, antara lain akses jalan yang cukup terjal, keterbatasan lahan parkir khususnya saat musim liburan tiba, rendahnya kualitas jaringan internet, variasi wahana yang masih belum optimal, serta belum maksimalnya pengembangan agrowisata berbasis masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui desain strategi prioritas yang tepat untuk pengembangan agrowisata kaligua.
Penelitian ini menggunakan Medel peneltiain studi kasus dengan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengkaji secara mendalam strategi pengembangan Agrowisata Teh Kaligua di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. dan pemilihan lokasi tersebut dilakukan secara sengaja (purposive). Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling, melibatkan 28 wisatawan yang pernah berkunjung dalam satu tahun terakhir serta para stakeholder kunci yang terdiri dari unsur pemerintah desa, masyarakat (petani dan pedagang), dan pihak pengelola agrowisata. Data yang digunakan meliputi data primer yang diperoleh melalui observasi langsung, kuesioner, wawancara mendalam semi-terstruktur, dan dokumentasi, serta data sekunder yang bersumber dari instansi terkait, literatur, dan dokumen pendukung. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Analisis SWOT, Matriks IFE (Internal Factor Evaluation), Matriks EFE (External Factor Evaluation), Matriks IE (Internal External), serta Matriks SWOT. Data kualitatif dianalisis menggunakan analisis deskriptif, selanjutnya data kualitatif dianalisis menggunakan sotfware Nvivo 12 dengan menggunakan fitur word cloud, hierarchy chart, dan world frequency results
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik wisatawan agrowisata teh kaligua adalah wisatawan yang didominasi oleh laki-laki berusia muda (17–25 tahun), berpendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), berasal dari luar kota, serta memiliki tingkat loyalitas yang tinggi. Analisis SWOT menghasilkan 20 alternatif strategi yang mencakup strategi SO, WO, ST, dan WT, dengan fokus pada pemanfaatan potensi alam dan budaya, penguatan promosi digital, pengembangan UMKM, diversifikasi paket wisata, perbaikan infrastruktur dan aksesibilitas, serta pembinaan masyarakat. Penelitian ini menghasilkan 5 (lima) strategi prioritas untuk pengembangan agrowisata kaligua berdasarkan kolaborasi antara analisis SWOT dengan word cloud NVivo yang diintegrasikan melalui Model Ikat Sapu Lidi (ISL Model), yaitu : (1) Mengadakan Calendar of Event (CoE), (2) Melakukan Promosi pariwisata yang masif, (3) Menambah fasilitas penunjang, (4) Memperbaiki serta merawat infrastruktur amenitas agrowisata kaligua, dan (5) Meningkatkan sosialisasi atau pembinaan masyarakat.
The development of agriculture-based tourism, or agrotourism, in Indonesia represents a promising sector with significant economic and social potential. Currently, many farming activities are integrated with tourism concepts, widely known as agrotourism. Agrotourism not only generates economic benefits from tourism services but also from agricultural commodity sales, job creation, reduction of urbanization, and the preservation of natural resources and local wisdom. The level of competition among tea agrotourism destinations in Central Java is relatively high, as evidenced by the continuous efforts of various tea agrotourism sites to improve their attractions in order to increase visitor numbers, such as Tambi Tea Agrotourism (Wonosobo Regency), Kemuning Tea Agrotourism (Karanganyar Regency), Pagilaran Tea Agrotourism (Batang Regency), and Kaligua Tea Agrotourism (Brebes Regency). In this competitive context, Kaligua Tea Agrotourism in Brebes Regency has considerable potential because it integrates tea plantation landscapes, tea processing education, historical tourism, family recreation, outbound activities, sports facilities, accommodation, and supporting services within a single area at an affordable ticket price. Visitor and revenue data from 2014–2021 show a fluctuating trend, with the highest number of visits occurring in 2016, while preliminary surveys indicate that visitors are still dominated by local tourists under the age of 35. Despite its strengths in attraction diversity and affordability, Kaligua Tea Agrotourism faces several challenges, including steep access roads, limited parking capacity during peak holiday seasons, inadequate internet connectivity, limited variation of tourism facilities, and the underdevelopment of community-based agrotourism. Therefore, this study aims to identify appropriate priority strategy designs for the development of Kaligua Tea Agrotourism.
This study employs a case study research design using a descriptive qualitative approach to examine in depth the development strategies of Kaligua Tea Agrotourism located in Pandansari Village, Paguyangan District, Brebes Regency. The research location was selected purposively. Research subjects were determined using purposive sampling, involving 28 tourists who had visited the destination within the past year, as well as key stakeholders consisting of village government representatives, local community members (farmers and traders), and agrotourism management. The data used include primary data obtained through direct observation, questionnaires, semi-structured in-depth interviews, and documentation, as well as secondary data derived from relevant institutions, literature, and supporting documents. Data analysis methods applied in this study include SWOT Analysis, the Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix, External Factor Evaluation (EFE) Matrix, Internal–External (IE) Matrix, and the SWOT Matrix. Qualitative data were analyzed descriptively and further processed using NVivo 12 software, employing features such as word cloud, hierarchy chart, and word frequency results.
The results of the study indicate that visitors to Kaligua Tea Agrotourism are predominantly male, young adults aged 17–25 years, educated at the senior high school level, originating from outside the local area, and exhibiting a high level of visitor loyalty. The SWOT analysis produced 20 alternative strategies classified into SO, WO, ST, and WT strategies, focusing on the utilization of natural and cultural potential, strengthening digital promotion, developing micro, small, and medium enterprises (MSMEs), diversifying tourism packages, improving infrastructure and accessibility, and enhancing community empowerment. Furthermore, the integration of SWOT analysis with NVivo word cloud results through the Ikat Sapu Lidi Model (ISL Model) identified five priority development strategies: (1) organizing a Calendar of Events (CoE), (2) implementing intensive tourism promotion, (3) adding supporting tourism facilities, (4) improving and maintaining agrotourism amenity infrastructure, and (5) strengthening community socialization and capacity-building programs.
4837851778A1D022004STUDI GENETIK KARAKTER AROMATIK DAN KEGENJAHAN SERTA HUBUNGAN KOMPONEN HASIL DAN HASIL PADA POPULASI F2 PADI PERSILANGAN PANDANWANGI X CAKRABUANAPadi merupakan komoditas pangan utama penghasil beras, dengan lonjakan produksi yang signifikan. Kondisi ini menuntut upaya mempertahankan stabilitas produksi sekaligus penguatan nilai tambah komoditas, salah satunya melalui pengembangan padi aromatik. Kendala utama padi aromatik adalah umur panen yang relatif panjang, sehingga diperlukan perakitan varietas padi aromatik berumur genjah melalui pemuliaan tanaman. Tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) mengetahui pola segregasi karakter aromatik dan kegenjahan pada F2 hasil persilangan Pandanwangi × Cakrabuana, (2) mengetahui keragaman genetik dan heritabilitas karakter aromatik dan kegenjahan pada F2 hasil persilangan Pandanwangi × Cakrabuana, serta (3) mengetahui korelasi antara kompoen hasil dengan hasil pada F2 hasil persilangan Pandanwangi × Cakrabuana.
Eksperimen dilaksanakan pada Januari hingga September 2025, di lahan sawah irigasi Kelurahan Karangwangkal dan Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Percobaan menggunakan 272 genotipe F2 dan varietas Pandanwangi serta Cakrabuana sebagai kontrol. Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) ter-Augmentasi. Analisis data meliputi uji normalitas, uji chi-square, estimasi keragaman genetik, heritabilitas, analisis korelasi, serta path analysis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter aromatik maupun kegenjahan dikendalikan oleh dua gen epistasis resesif duplikat dengan nisbah segregasi 9:7. Karakter aromatik memiliki nilai koefisien keragaman fenotipik, koefisien keragaman genotipik, dan heritabilitas yang tinggi. Sebaliknya, karakter kegenjahan memiliki koefisien keragaman fenotipik, dan koefisien keragaman genotipik yang rendah, dengan heritabilitas yang tinggi. Seleksi yang direkomendasikan adalah seleksi pedigree. Hasil analisis korelasi dan path analysis menunjukkan bahwa persentase gabah isi dan jumlah gabah per malai memiliki pengaruh langsung terhadap hasil dan dapat dijadikan sebagai parameter seleksi genotipe berdaya hasil tinggi, sementara karakter lainnya tidak menunjukkan hubungan langsung yang kuat dengan hasil.
Rice is a primary food commodity for staple grain production, with signifivant increase in production. This condition necessitates efforts to maintain production stability while simultaneously enhancing the added value of the commodity, one of which is through the development of aromatic rice. The main constraint of aromatic rice is its relatively long maturity duration, thus developing early maturing aromatic rice varieties through plant breeding is required. The objectives of this research were to: (1) determine the segregation patterns of aromatic and early maturity characters in the F2 population derived from the Pandanwangi x Cakrabuana cros, (2) determine the genetic variability and heritability of aromatic and early maturity characters in the F2 population, and (3) determine the correlation between yield components and yield in the F2 population.
The experiment was conducted from January to September 2025 at the irrigated rice field of Karangwangkal Village and the Plant Breeding and Biotechnology Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The experiment utilized 272 F2 genotypes with Pandanwangi and Cakrabuana varieties serving as controls, arranged in an Augmented Randomized Complete Block Design (Augmented RCBD). Data analysis included normality tests, Chi-square test, estimation of genetic variability and heritability, correlation analysis, and path analysis.
The results showed that both aromatic and early maturity characters were controlled by two genes with duplicate recessive epistasis action, exhibiting a 9:7 segregation ratio. The aromatic character exhibited high phenotypic coefficient of variation, genotypic coefficient of variation and heritability. Conversely, the early maturity character showed low phenotypic coefficient of variation and genotypic coefficient of variation, but high heritability. The recommended selection method is pedigree selection. Correlation and path analysis results indicated that the percentage of filled grains and the number of grains per panicle had direct effects on yield and could serve as selection criteria for high-yielding genotypes, while other characters did not show strong direct relationships with yield.
4837951779L1B021076SUBSTITUSI TEPUNG DAUN UBI JALAR TERFERMENTASI PADA PAKAN TERHADAP INDEKS MORFOANATOMI IKAN NILEM (Osteochillus sp.)
Pakan merupakan salah satu penunjang keberhasilan budidaya ikan. Harga pakan yang relatif tinggi menjadi tantangan pembudidaya sehingga memerlukan alternatif pengganti pakan. Substitusi dengan bahan nabati lokal seperti tepung daun ubi jalar fermentasi berpotensi menurunkan biaya produksi dan berpotensi meningkatkan pertumbuhan ikan nilem (Osteoshillus sp.) dari segi indeks morfoanatomi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen berdasarkan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi dengan komposisi yang berbeda yaitu 0% (P1), 25% (P2), 50% (P3), dan 75% (P4). Pemeliharaan ikan dilakukan selama 50 hari dengan pemberian pakan dua kali sehari. Data yang diamati yaitu data indeks viscerasomatik, indeks hepatosomatik, dan indeks gonadosomatik dan dianalisis menggunakan uji ANOVA. Hasil pengamatan persentase indeks viscerasomatik berkisar antara 19,76±1,97%-21,95±3,54%; indeks hepatosomatik berkisar antara 0,69±0,28%-1,16±0,72%; dan indeks gonadosomatik berkisar antara 10,94±2,32%-12,17±5,92%. Hasil analisis uji ANOVA menunjukkan bahwa substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi tidak berpengaruh nyata terhadap indeks morfoanatomi ikan nilem (P>0,05). Hasil pengukuran kualitas air antara lain pH berkisar antara 6,4-7,6; ammonia berkisar 0-0,25 mg/L; nitrit berkisar antara 0-0,25 mg/L; dan nitrat 5-40 mg/L.Feed is one of the supports for the success of fish farming. The relatively high price of feed is a challenge for cultivators, so it requires an alternative to feed substitutes. Substitution with local vegetable ingredients such as fermented sweet potato leaf flour has the potential to reduce production costs and potentially increase the growth of tilapia (Osteoshillus sp.) in terms of morphoanatomical index. This study was conducted using an experimental method based on a complete random design (RAL) with 4 treatments and 4 replicates. The treatment given was the substitution of fermented sweet potato leaf flour with different compositions, namely 0% (P1), 25% (P2), 50% (P3), and 75% (P4). Fish maintenance is carried out for 50 days by feeding twice a day. The observed data were viscerasomatic index data, hepatosomatic index, and gonadoomatic index and analyzed using ANOVA test. The results of observation
of the percentage of viscerasomatic index ranged from 19.76±1.97%-21.95±3.54%; the hepatosomatic index ranges from 0.69±0.28%-1.16±0.72%; and the gonadosomatic
index ranged from 10.94±2.32%-12.17±5.92%. The results of the ANOVA test analysis showed that the substitution of fermented sweet potato leaf flour had no significant effect on the morphoanatomical index of nilem fish (P>0.05). The results of water quality measurements include pH ranging from 6.4-7.6; ammonia ranges from 0-0.25 mg/L; nitrites range from 0-0.25 mg/L; and nitrates 5-40 mg/L.
4838051591F1C020079Penggunaan Instagram Sebagai Media Edukasi dan Promosi Pada Akun @serulingmaszoo Banjarnegara Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Serulingmas Zoo dalam memanfaatkan sosial media instagram sebagai sarana edukasi dan promosi serta untuk mengetahui kendala yang dihadapinya. Metode penelitian yang digunakan dengan pendekatan kualitatif deskriptif, yaitu berupa kata deskriptif yang tertulis atau dari lisan orang dan perilaku yang bisa diamati. Metode pengumpulan data didapat dari observasi, wawancara dan dokumentasi, yang dalam menentukan informan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu ditetapkan secara sengaja atas dasar kriteria atau pertimbangan tertentu. Data yang dihasilkan dari informasi wawancara, observasi, analisis dokumen dan foto kegiatan atau postingan instagram kemudian di kumpulkan, dikelompokan, diringkas dan lalu disajikan secara sistematis berupa deskriptif analitis dan logis untuk dijadikan kesimpulan. Hasil penelitian ini berdasarkan observasi dan hasil wawancara dengan beberapa pihak terkait, serta melihat perkembangan akun @serulingmaszoo yang menunjukkan angka kunjungan wisata yang signifikan. Ada 268 jumlah konten yang memuat unsur edukasi dan telah di postingan selama tahun 2024, juga telah memposting kurang lebih 271 kontens yang bersifat promosi.


The purpose of this study is to analyze Serulingmas Zoo's use of Instagram as a social media platform for education and promotion and to identify the challenges it faces. The research method used is a descriptive qualitative approach, consisting of written or spoken descriptive words and observable behavior. Data collection methods were obtained through observation, interviews, and documentation. Informants were selected using a purposive sampling technique, which is determined intentionally based on specific criteria or considerations. Data generated from interviews, observations, document analysis, and photos of activities or Instagram posts were then collected, grouped, summarized, and presented systematically in descriptive, analytical, and logical form to draw conclusions. The results of this study are based on observations and interviews with several relevant parties, as well as the development of the @serulingmaszoo account, which indicates a significant increase in tourist visits. There were 268 educational content posts posted during 2024, along with approximately 271 promotional posts.