Artikelilmiahs
Menampilkan 48.341-48.360 dari 48.725 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 48341 | 51744 | I1B022026 | Gambaran Penyulit Proses Persalinan Pervaginam pada Remaja | Latar Belakang : Kehamilan pada usia remaja masih menjadi permasalahan kesehatan reproduksi yang berisiko tinggi terhadap terjadinya penyulit persalinan. Ketidaksiapan biologis dan psikologis remaja dapat meningkatkan risiko komplikasi selama proses persalinan pervaginam, yang berdampak pada keselamatan ibu dan bayi. Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif deskriptif. besar sampel sebanyak 57 ibu usia remaja dengan menggunakan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Analisis data menggunakan Kolmogorov-smirnov. Kuesioner menggunakan lembar checklist/observasi berdasarkan rekam medis. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa median usia responden adalah 20 tahun dengan rentang usia 14–22 tahun. Mayoritas responden merupakan primipara sebanyak (87,7%) dan sebagian besar berstatus menikah sebanyak (68,4%). Median usia gestasi adalah 37 minggu dengan rentang 25–42 minggu. Penyulit persalinan pervaginam yang paling banyak ditemukan adalah ketuban pecah dini (KPD) sebanyak (75,4%) kasus, diikuti oleh lama kala (5,3%) kasus, partus lama (3,5%) kasus, disproporsi cephalon pelvic (CPD) (14,0%) kasus, dan intrauterine fetal death (IUFD) (1,8%) kasus. Tidak ditemukan kasus inersia uteri dan distosia bahu (0%). Kesimpulan : Penyulit persalinan pervaginam pada ibu usia remaja di Banyumas paling banyak berupa ketuban pecah dini. Temuan ini menunjukkan bahwa ibu usia remaja masih memiliki risiko tinggi mengalami penyulit persalinan, sehingga diperlukan peningkatan upaya pencegahan, pemantauan kehamilan, serta edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja. | Background: Adolescent pregnancy remains a reproductive health problem that carries a high risk of delivery complications. The biological and psychological immaturity of adolescents can increase the risk of complications during vaginal delivery, which may affect the safety of both mother and baby. Methods: This study used a descriptive quantitative research design. The sample consisted of 57 adolescent mothers selected using a total sampling technique. Data were collected using a checklist/observation sheet based on medical records. Data analysis was performed using the Kolmogorov–Smirnov test. Result: The results showed that the median age of respondents was 20 years, with an age range of 14–22 years. The majority of respondents were primiparous (76.9%) and married (60.0%). The median gestational age was 37 weeks, ranging from 25 to 42 weeks. The most common complication in vaginal delivery was premature rupture of membranes (PROM) (75.4%), followed by prolonged stage of labor (5.3%), prolonged labor (3.5%), cephalopelvic disproportion (CPD) (14.0%), and intrauterine fetal death (IUFD) (1.8%). No cases of uterine inertia or shoulder dystocia were found (0%). Conclusion: The most common complication of vaginal delivery among adolescent mothers in Banyumas was premature rupture of membranes. These findings indicate that adolescent mothers remain at high risk of experiencing delivery complications. Therefore, improved prevention efforts, pregnancy monitoring, and reproductive health education for adolescents are needed. | |
| 48342 | 51745 | H1E021012 | PENJADWALAN FLOWSHOP DENGAN SISTEM MAKE TO ORDER MENGGUNAKAN METODE CAMPBELL DUDEK SMITH (CDS) UNTUK MENGURANGI KETERLAMBATAN PADA INDUSTRI GARMENT | Penjadwalan produksi pada sistem flowshop berbasis Make To Order memiliki peran penting dalam menjaga ketepatan waktu pengiriman pesanan. PT Dan Liris menghadapi permasalahan keterlambatan akibat penggunaan aturan First Come First Serve yang belum mempertimbangkan due date secara optimal. Penelitian ini bertujuan menyusun urutan penjadwalan produksi menggunakan metode Campbell Dudek Smith untuk meminimalkan jumlah pekerjaan terlambat. Proses produksi terdiri atas delapan stasiun kerja yaitu cutting, numbering, sewing 1, sewing 2, sewing 3, quality control, steam, dan finishing. Data waktu proses diperoleh melalui studi waktu dengan 25 kali pengamatan pada setiap elemen kerja, kemudian dilakukan uji kecukupan dan keseragaman data serta penyesuaian allowance sebesar 15 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi awal menghasilkan makespan sebesar 21.450 menit dengan 8 pekerjaan terlambat dari total 18 pekerjaan. Penerapan metode Campbell Dudek Smith menghasilkan perubahan urutan pekerjaan yang menurunkan jumlah pekerjaan terlambat menjadi 4 pekerjaan. Hasil ini menunjukkan bahwa metode Campbell Dudek Smith mampu meningkatkan kinerja ketepatan waktu produksi pada sistem flowshop berbasis Make To Order. | Production scheduling in a Make To Order flow shop system plays a crucial role in maintaining on time delivery performance. PT Dan Liris experienced tardiness due to the implementation of the First Come First Serve rule which did not optimally consider due dates. This study aims to develop a production schedule using the Campbell Dudek Smith method to minimize the number of tardy jobs. The production process consists of eight workstations: cutting, numbering, sewing 1, sewing 2, sewing 3, quality control, steam, and finishing. Processing time data were collected through a time study with 25 observations for each work element, followed by data adequacy and uniformity tests and a 15 percent allowance adjustment. The results indicate that the existing condition produced a makespan of 21,450 minutes with 8 tardy jobs out of 18 jobs. The implementation of the Campbell Dudek Smith method changed the job sequence and reduced the number of tardy jobs to 4 jobs. These findings demonstrate that the Campbell Dudek Smith method improves on time performance in a Make To Order flow shop production system. | |
| 48343 | 51746 | K1C019060 | ANALISIS POTENSI TSUNAMI GEMPA MEGATHRUST BERDASARKAN SEJARAH GEMPABUMI SELATAN JAWA MENGGUNAKAN DATA MINING DAN PEMODELAN TSUNAMI PADA SKENARIO GEMPABUMI KEBUMEN | Indonesia rentan terhadap gempa bumi dan tsunami akibat lokasinya yang berada di zona subduksi tektonik aktif. Salah satu wilayah yang berpotensi terdampak adalah Kabupaten Kebumen di Jawa Tengah, yang terletak di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa. Studi ini bertujuan untuk menganalisis potensi tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi megathrust berdasarkan sejarah seismik Jawa Selatan menggunakan data mining dan pemodelan tsunami untuk skenario gempa bumi hipotetis di Kebumen. Metode Naïve Bayes Classifier (NBC) diterapkan pada data gempa bumi dari tahun 1922 hingga 2022 untuk mengidentifikasi parameter yang terkait dengan gempa bumi pemicu tsunami. Analisis menunjukkan bahwa gempa bumi dengan kedalaman ≤13,1 km dan magnitudo ≥8,1 SR diklasifikasikan secara akurat (100%) sebagai pemicu tsunami. Pemodelan tsunami kemudian dilakukan menggunakan persamaan air dangkal, mensimulasikan gempa megathrust dengan magnitudo 8,1. Hasil menunjukkan deformasi dasar laut sebesar 10–13,5 meter di selatan Kebumen, dengan perkiraan waktu kedatangan tsunami 17-24 menit setelah gempa bumi. Studi ini memberikan rekomendasi kritis untuk mitigasi bencana, termasuk peningkatan sistem peringatan dini, pemetaan zona risiko, dan perencanaan rute evakuasi. Temuan ini menjadi acuan bagi pembuat kebijakan dan masyarakat untuk mengurangi dampak tsunami di wilayah pesisir Jawa Selatan. | Indonesia is prone to earthquakes and tsunamis due to its location on active tectonic subduction zones. One of the potentially affected areas is Kebumen Regency in Central Java, situated along the southern coast of Java Island. This study aims to analyze the tsunami potential caused by megathrust earthquakes based on the seismic history of Southern Java using data mining and tsunami modeling for a hypothetical earthquake scenario in Kebumen. The Naïve Bayes Classifier (NBC) method was applied to earthquake data from 1922–2022 to identify parameters associated with tsunami-triggering earthquakes. The analysis revealed that earthquakes with depths ≤13.1 km and magnitudes ≥8.1 SR were accurately classified (100%) as tsunami triggers. Tsunami modeling was then conducted using the shallow water equation, simulating an Mw 8.5 megathrust earthquake. The results indicated seafloor deformation of 10–13.5 meters south of Kebumen, with estimated tsunami arrival times of 17-24 minutes post-earthquake. This study provides critical recommendations for disaster mitigation, including enhancing early warning systems, risk zone mapping, and evacuation route planning. The findings serve as a reference for policymakers and communities to reduce tsunami impacts in Southern Java’s coastal regions. | |
| 48344 | 34169 | A1C015017 | ANALISIS KONSENTRASI MIKROBA Saccharomyces cereviceae DAN LAMA FERMENTASI TERHADAP PRODUKSI BIOETANOL PADA DAGING BUAH SIRSAK AFKIR | Bioetanol adalah salah satu bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan yang dibuat melalui proses fermentasi dan destilasi dari tanaman berkadar karbohidrat tinggi. Penelitian ini menggunakan daging buah sirsak afkir sebagai bahan bakunya, karena buah sirsak afkir belum banyak dimanfaatkan. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui konsentrasi mikroba dan lama fermentasi untuk menghasilkan bioetanol terbaik serta mengetahui pengaruh dari mikroba Saccharomyces cereviceae dan waktu fermentasi terhadap kadar bioetanol dan rendemen bioetanol dari daging buah sirsak afkir. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknik Sistem Termal dan Energi Terbarukan serta Laboratorium Pangan dan Gizi, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga faktor yaitu konsentrasi mikroba Saccharomyces cereviceae 10%, 15%, dan 20% dengan lama fermentasi 3 hari, 5 hari, dan 7 hari. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 27 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu kadar gula reduksi, kadar bioetanol, dan rendemen bioetanol. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan konsentrasi mikroba 15 % dengan waktu fermentasi 7 hari menghasilkan kadar bioetanol dan rendemen bioetanol terbaik. Konsentrasi mikroba berpengaruh nyata terhadap kadar bioetanol. Sedangkan lama fermentasi, konsentrasi mikroba dan interaksi konsentrasi mikroba dengan lama fermentasi tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen bioetanol. Serta konsentrasi mikroba dan lama fermentasi berpengaruh nyata terhadap kadar gula reduksi dari daging buah sirsak afkir | Bioethanol is one of the alternative fuels that is environmentally friendly which is made through the process of fermentation and distillation from plants with high carbohydrate content. This study uses flesh of fruit rotten soursop as feedstocks, because the rotten soursop has not been widely used. This study aims to find out the microbial concentration and fermentation time to produce best bioethanol and determine the effect of Saccharomyces cereviceae microbial and fermentation time levels of bioethanol and bioethanol yield from the flesh of rotten soursop fruit. This research was conducted at the Thermal System and Renewable Energy Engineering Laboratory and Food and Nutrition Laboratory, Jenderal Soedirman University. This study used a Completely Randomized Design (CRD) with three fermentation factors, namely microbial concentration of Saccharomyces cereviceae 10%, 15%, and 20% with fermentation time 3 days, 5 days, and 9 days. Each treatment was repeated 3 times, so there were 27 units of fermentation experiments. The observed variables were reducing sugar content, bioethanol content, and bioethanol yield. The results showed that the treatment in the concentration of micobes 15 % with time fermentation 7 days produced the best bioethanol levels and bioethanol yield. The concentration of microbes had real impact on the bioethanol levels. While time fermentation, concentration of microbe and interaction of the concentration of microbes with time fermentation not had real impact on bioethanol yield. Microbial concentration and fermentation time had a significant effect on the reducing sugar content of rotten soursop fruit flesh | |
| 48345 | 51751 | L1C021005 | Potensi Degradasi Polietilen oleh Bakteri Asal Sedimen Laut Dalam dari Perairan Indonesia | Polietilen (PE) merupakan plastik yang sulit terurai secara alami dan berkontribusi besar terhadap pencemaran lingkungan laut. Biodegradasi oleh mikroorganisme menjadi alternatif ramah lingkungan yang berkelanjutan. Bakteri sedimen laut dalam berpotensi memiliki kemampuan mendegradasi polimer sintetis, namun masih jarang dieksplorasi di perairan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan isolat bakteri sedimen laut dalam untuk mendegradasi PE serta mengidentifikasi bakteri potensial berdasarkan gen 16S rRNA. Isolat bakteri tunggal dan konsorsium bakteri diuji kemampuannya dalam mendegradasi PE menggunakan media Mineral Salt Medium (MSM) pada suhu 28 °C dengan kecepatan 130 rpm selama 90 hari. Hasil penelitian menunjukkan seluruh isolat mampu mendegradasi PE dengan tingkat efektivitas yang berbeda. Isolat SS521 asal Laut Sawu menunjukkan persentase degradasi tertinggi sebesar 4,110 ± 0,694 % dan berbeda signifikan dibandingkan kontrol. Analisis gen 16S rRNA mengidentifikasi isolat SS521 memiliki kedekatan tertinggi dengan Fictibacillus nanhaiensis (99,16 %). Hasil ini menunjukkan bakteri sedimen laut dalam berpotensi sebagai agen biodegradasi PE. | Polyethylene (PE) is a plastic material that is resistant to natural degradation and contributes significantly to marine environmental pollution. Microbial biodegradation represents a sustainable and environmentally friendly alternative. Deep-sea sediment bacteria potentially possess the ability to degrade synthetic polymers; however, their potential in Indonesian waters remains poorly explored. This study aimed to evaluate the ability of deep-sea sediment bacterial isolates to degrade PE and to identify potential PE-degrading bacteria based on 16S rRNA gene analysis. Single bacterial isolates and a bacterial consortium were tested for their ability to degrade polyethylene (PE) using Mineral Salt Medium (MSM) at 28 °C with agitation at 130 rpm for 90 days. The results showed that all isolates were able to degrade PE with varying levels of effectiveness. Isolate SS521 from the Sawu Sea exhibited the highest degradation percentage of 4.110 ± 0.694 % and was significantly different from the control. Based on 16S rRNA gene analysis, isolate SS521 showed the highest similarity to Fictibacillus nanhaiensis (99.16 %). These findings indicate that deep-sea sediment bacteria have potential as agents for environmentally friendly PE biodegradation. | |
| 48346 | 51750 | J1D022075 | Kajian Keterbacaan Wacana Soal PSAJ Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Purwokerto Menggunakan Grafik Fry | Keterbacaan wacana berperan penting dalam membantu siswa memahami teks sesuai jenjang pendidikannya. Penelitian ini menganalisis tingkat keterbacaan wacana dalam soal Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ) Bahasa Indonesia kelas XII di SMA Negeri 1 Purwokerto tahun ajaran 2024/2025 menggunakan Formula Grafik Fry. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat. Sebanyak 22 wacana dianalisis melalui perhitungan kata, kalimat, suku kata, dan pemetaan pada Grafik Fry. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 18 wacana (81,82%) berada di bawah tingkat keterbacaan kelas XII, satu wacana sesuai, satu lebih tinggi, dan dua tidak valid. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar wacana terlalu sederhana sehingga dapat memengaruhi pemahaman siswa dan validitas instrumen evaluasi. Oleh karena itu, pemilihan wacana perlu ditinjau ulang agar sesuai dengan kemampuan kognitif siswa dan mendukung tujuan pembelajaran. | Text readability is crucial in ensuring that students can understand a passage according to their educational level. This study analyzes the readability level of texts used in the Indonesian language PSAJ (Final Summative Assessment) for 12th-grade students at SMA Negeri 1 Purwokerto in the 2024/2025 academic year using the Fry Graph Formula. This descriptive qualitative research employed observation and note-taking techniques. A total of 22 texts were examined by calculating words, sentences, syllables, and mapping the results onto the Fry Graph. The findings show that 18 texts (81.82%) fall below the readability level of grade 12, one text matches the level, one exceeds it, and two are invalid. These results indicate that most texts are too simple, which may affect students’ comprehension and the validity of the assessment instruments. Therefore, text selection needs to be reviewed to ensure alignment with students’ cognitive development and the intended learning objectives | |
| 48347 | 51749 | C1A022026 | PENGARUH KETIMPANGAN GENDER, TPAK, TPT, KEMISKINAN, DAN ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2020-2024 | Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menghadapi tantangan serius dalam pembangunan manusia yang tercermin dari capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang relatif rendah dibandingkan rata-rata nasional serta adanya ketimpangan antar kabupaten/kota. IPM sebagai indikator komposit yang mencerminkan dimensi kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak menjadi tolok ukur utama dalam menilai keberhasilan pembangunan daerah. Berbagai faktor struktural seperti kemiskinan, pengangguran, ketimpangan gender, dan rendahnya partisipasi pendidikan diduga menjadi determinan utama yang memengaruhi capaian IPM di wilayah ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ketimpangan gender, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), kemiskinan, dan Angka Partisipasi Sekolah (APS) terhadap IPM kabupaten/kota di Provinsi NTT periode 2020–2024. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi data panel serta model estimasi Fixed Effect Model (FEM) yang dipilih melalui serangkaian uji spesifikasi model. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan seluruh variabel independen berpengaruh signifikan terhadap IPM. Secara parsial, kemiskinan dan TPT berpengaruh negatif signifikan terhadap IPM, APS berpengaruh positif signifikan, sedangkan ketimpangan gender dan TPAK tidak berpengaruh signifikan dalam periode penelitian. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor ekonomi struktural dan akses pendidikan memiliki peran dominan dalam menentukan kualitas pembangunan manusia di NTT. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan perlu difokuskan pada pengurangan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja produktif, dan peningkatan akses pendidikan guna mendorong peningkatan IPM secara berkelanjutan. | The Province of East Nusa Tenggara (NTT) continues to face significant challenges in human development, as reflected in its relatively low Human Development Index (HDI) compared to the national average and persistent disparities among districts/municipalities. The HDI, as a composite indicator measuring health, education, and living standards, serves as a fundamental benchmark for evaluating regional development performance. Structural issues such as poverty, unemployment, gender inequality, and low educational participation are presumed to be key determinants influencing HDI achievement in the region. This study aims to examine the effects of gender inequality, Labor Force Participation Rate (LFPR), Open Unemployment Rate (OUR), poverty, and School Participation Rate (SPR) on the HDI of districts/municipalities in East Nusa Tenggara Province during the 2020–2024 period. This research employs a quantitative approach using panel data regression analysis with the Fixed Effect Model (FEM), selected through a series of model specification tests. The data used are secondary data obtained from Statistics Indonesia (BPS). The results indicate that all independent variables simultaneously have a significant effect on HDI. Partially, poverty and the open unemployment rate have a significant negative effect on HDI, while the school participation rate has a significant positive effect. Meanwhile, gender inequality and labor force participation rate are not statistically significant during the study period. These findings suggest that structural economic factors and access to education play a dominant role in determining human development performance in NTT. Therefore, policy efforts should prioritize poverty alleviation, the creation of productive employment opportunities, and the expansion of equitable access to education to sustainably improve human development outcomes. | |
| 48348 | 51752 | G1A022098 | FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN RUTINITAS KUNJUNGAN PADA PASIEN DM DI PROVINSI JAWA TENGAH : ANALISIS DATA SURVEI KESEHATAN INDONESIA 2023 | Latar Belakang: DM (DM) adalah penyakit kronis yang membutuhkan pemantauan rutin untuk mencegah komplikasi. Rutinitas kunjungan ke fasilitas kesehatan merupakan salah satu pilar penting dalam pengelolaan DM. Data terkait faktor penentu rutinitas kunjungan pasien DM di tingkat provinsi, khususnya Jawa Tengah, masih terbatas. Tujuan: Menganalisis hubungan antara karakteristik sosiodemografi (usia, pendidikan, pekerjaan) dan akses fasilitas kesehatan (keberadaan puskesmas, rumah sakit, laboratorium klinik) dengan rutinitas kunjungan pada pasien DM di Jawa Tengah. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Data sekunder dianalisis dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dengan sampel 1.605 pasien DM di Jawa Tengah. Analisis data menggunakan uji regresi logistik. Hasil: Mayoritas responden rutin berkunjung (62,2%) ke fasilitas kesehatan. Responden yang tinggal di daerah dengan akses puskesmas (97,3%) dan rumah sakit (92,6%) yang memadai. Namun, akses laboratorium klinik masih terbatas (tersedia hanya 32,6%). Analisis multivariat menunjukkan bahwa hanya keberadaan laboratorium klinik di dalam kabupaten/kota yang berhubungan signifikan dengan peningkatan rutinitas kunjungan (OR=1,686; p<0,001). Variabel usia, pendidikan, pekerjaan, keberadaan puskesmas, dan rumah sakit tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Kesimpulan: Ketersediaan fasilitas diagnostik berupa laboratorium klinik merupakan faktor kunci yang mendorong rutinitas kunjungan pasien DM di Jawa Tengah. Temuan ini menekankan pentingnya pemerataan layanan diagnostik di tingkat pelayanan kesehatan dasar untuk meningkatkan kepatuhan kontrol. Kata Kunci: DM, Rutinitas Kunjungan, Akses Fasilitas Kesehatan, Laboratorium klinik , Jawa Tengah | Background:Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease requiring regular monitoring to prevent complications. Routine visits to healthcare facilities are a crucial pillar in DM management. Data on the determinants of visit regularity among DM patients at the provincial level, particularly in Central Java, remains limited. Objective: To analyze the association between sociodemographic characteristics (age, education, occupation) and access to healthcare facilities (availability of community health centers, hospitals, clinical laboratories) with the routine of visits among DM patients in Central Java. Methods: This study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. Secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) were analyzed, involving a sample of 1,605 DM patients in Central Java. Data analysis used logistic regression. Results: The majority of respondents had regular visits (62.2%) and resided in areas with adequate access to community health centers (97.3%) and hospitals (92.6%). However, access to clinical laboratories remained limited (available for only 32.6%). Multivariate analysis revealed that only the availability of a clinical laboratory within the regency/city was significantly associated with increased visit regularity (OR=1.686; p<0.001). Variables such as age, education, occupation, and the availability of community health centers and hospitals showed no significant association. Conclusion: The availability of diagnostic facilities, specifically clinical laboratories, is a key factor driving the routine of visits among DM patients in Central Java. This finding underscores the importance of equitable distribution of diagnostic services at the primary healthcare level to improve adherence to control visits. Keywords: Diabetes Mellitus, Routine of Visits, Healthcare Facility Access, Clinical Laboratory, Central Java | |
| 48349 | 51753 | A1G023004 | Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kesediaan Petani Dalam Melakukan Usahatani Mina Padi di Desa Panembangan Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas | Desa Panembangan merupakan desa percontohan program Smart Fisheries Village (SFV), yaitu pengembangan budidaya mina padi di Jawa Tengah pada tahun 2021 yang dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Penerapan sistem terpadu mina padi merupakan merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesejahterahan petani karena akan mendapatkan dua komoditas sekaligus, yaitu padi dan ikan. Meskipun usahatani mina padi memberikan keuntungan bagi petani pada kenyataannya pelaksanaannya berhenti setelah program tersebut selesa. Seiring berjalannya waktu, mina padi diperkenalkan kembali melalui program baru dengan dukungan pemerintah. Kondisi ini, menimbulkan dinamika terkait kesediaan petani untuk kembali melakukan usahatani mina padi. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui gambaran usahatani mina padi dan karakteristik petani yang pernah menerapkan mina padi di Desa Panembangan; 2) mengetahui tingkat kesediaan petani dalam melakukan usahatani mina padi kembali; 3) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesediaan petani untuk melakukan usahatani mina padi kembali. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas menggunakan metode pengambilan sampel berupa sensus. Objek penelitian ini, yaitu kesediaan petani terhadap budidaya mina padi dengan sasaran petani yang pernah menerapkan mina padi. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh secara langsung melalui wawancara petani dan data sekunder yang diperoleh melalui sumber literatur. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu pendapatan, modal, pengalaman usahatani, luas lahan, manfaat adopsi, kemudahan adopsi, peran pemerintah, dan status kepemilikan lahan. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi logistik. Karakteristik petani di Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, yaitu rata-rata petani berumur 61 tahun, pendidikan yang banyak ditempuh petani adalah Sekolah Dasar, sebagian petani memiliki pengalaman budidaya mina padi pada rentang 0,5 – 1,5 tahun, sebagian besar petani memiliki jumlah tanggungan keluarga 1 – 3 orang, luas lahan yang dimiliki petani paling banyak pada rentang 0,3 – 0,5 Ha, rata-rata pendapatan sebesar Rp7.000.000 dan modal sebesar Rp3.500.000, sebagian besar petani memiliki lahan dengan status non-milik berupa sewa dan sakap. Hasil analisis faktor yang memengaruhi kesediaan petani dalam melakukan usahatani mina padi kembali, yaitu variabel kemudahan adopsi (X6), peran pemerintah (X7), dan status kepemilikan lahan (D1). Sedangkan, variabel pendapatan (X1), pengalaman usahatani (X2), modal (X3), luas lahan (X4), dan manfaat adopsi (X5) tidak berpengaruh terhadap kesediaan petani melakukam usahatani mina padi. | Panembangan Village is a pilot village for the Smart Fisheries Village (SFV) program, which is the development of rice-fish farming in Central Java in 2021, developed by the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries. The implementation of an integrated rice-fish farming system is one of the efforts that can be made to improve the welfare of farmers because they will get two commodities at once, namely rice and fish. Although rice-fish farming provides benefits for farmers, in reality its implementation stopped after the program was completed. Over time, rice-fish farming was reintroduced through a new program with government support. This situation has created dynamics related to farmers' willingness to return to rice-fish farming. This study aims to 1) describe rice-fish farming and the characteristics of farmers who have practiced rice-fish farming in Panembangan Village; 2) determine the level of farmers' willingness to return to rice-fish farming; 3) analyze the factors that influence farmers' willingness to return to rice-fish farming. This study was conducted in Panembangan Village, Cilongok Subdistrict, Banyumas Regency, using a census sampling method. The object of this study was farmers' willingness to practice rice-fish farming, targeting farmers who had previously implemented rice-fish farming. The data used were primary data obtained directly through interviews with farmers and secondary data obtained from literature sources. The variables used in this study were income, capital, farming experience, land area, benefits of adoption, ease of adoption, the role of the government, and land ownership status. The research data were analyzed using descriptive analysis and logistic regression analysis. The characteristics of farmers in Panembangan Village, Cilongok District, Banyumas Regency, are that the average farmer is 61 years old, most farmers have only completed elementary school, some farmers have 0,5-1,5 years of experience in rice-fish farming, most farmers have 1-3 dependents, the largest area of land owned by farmers is in the range of 0,3-0,5 hectares, the average income is Rp7.000.000 and capital is Rp3.500.000, and most farmers have land with non ownership status in the form of leases and sakap. The results of the analysis of factors affecting farmers' willingness to return to rice-fish farming are the variables (perceived ease of use (X6), the role of the government (X7), and land ownership status (D1). Meanwhile, the variables of income (X1), farming experience (X2), capital (X3), land area (X4), and perceived usefulness (X5) did not affect farmers' willingness to engage in rice-fish farming. | |
| 48350 | 51761 | C1I022009 | THE EFFECT OF INCOME SMOOTHING, TAX RISK, AND DIGITALIZATION ON FIRM VALUE IN THE BANKING SECTOR BASED ON IDX (2022-2024) | Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan data sekunder dengan metode penelitian kuantitatif. Penelitian ini menggunakan variabel independen berupa perataan laba, risiko pajak, dan digitalisasi; variabel kontrol berupa ukuran perusahaan; serta variabel dependen berupa nilai perusahaan. Penelitian ini mengambil judul: “The Effect of Income Smoothing, Tax Risk, and Digitalization on Firm Value in The Banking Sector Based on IDX (2022-2024)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perataan laba, risiko pajak, dan digitalisasi terhadap nilai perusahaan pada Bank di Indonesia. Populasi dalam penelitian ini adalah Bank di Indonesia yang terdaftar di IDX. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 45 sampel yang berasal dari 15 bank di Indonesia pada 3 tahun periode. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis pooled least square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perataan laba berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan, risiko pajak berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perushaan, dan digitalisasi berpengaruh positif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan Temuan ini memperkuat peran signaling theory dalam menjelaskan bagaimana informasi keuangan dan non keuangan direspons oleh investor, serta memperkaya literatur terkait nilai perusahaan dalam konteks industri perbankan dan era pascapandemi. | This study is quantitative research using secondary data. This study uses income smoothing, tax risk, and digitalization as independent variables; firm size as a control variable; and firm value as the dependent variable. The title of this study is “The Effect of Income Smoothing, Tax Risk, and Digitalization on Firm Value in the Banking Sector Based on IDX (2022-2024).” This study aims to determine the effect of income smoothing, tax risk, and digitalization on firm value in banks in Indonesia. The population in this study is banks in Indonesia listed on the IDX. The sample in this study consists of 45 samples from 15 banks in Indonesia over a 3-year period. The sampling technique used is purposive sampling. This study employs a pooled least squares data analysis method. The results of this study indicate that income smoothing has a significant positive effect on firm value, tax risk has a significant negative effect on firm value, and digitalization has a positive but insignificant effect on firm value. These findings reinforce the role of signaling theory in explaining how financial and non-financial information is responded to by investors and enrich the literature on firm value in the context of the banking industry and the post-pandemic era. | |
| 48351 | 51786 | F1D022045 | FENOMENA KOTAK KOSONG DAN PENURUNAN PARTISIPASI PEMILIH DALAM PILKADA BANYUMAS 2024 | Penelitian ini membahas fenomena Kotak kosong dan penurunan partisipasi pemilih dalam Pilkada Banyumas 2024. Kehadiran calon tunggal yang berhadapan dengan kotak kosong serta rendahnya tingkat partisipasi pemilih menunjukkan adanya persoalan substantif dalam kualitas kontestasi politik lokal. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna kotak kosong bagi masyarakat serta faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya partisipasi pemilih. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis serta berbentuk studi lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan model analisis interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kotak kosong dipahami sebagai ekspresi kritik politik terhadap minimnya alternatif calon dan dominasi elite partai, sekaligus menjadi bentuk partisipasi politik non-konvensional. Penurunan partisipasi pemilih dipengaruhi oleh keterbatasan kontestasi politik, ketimpangan sosial-ekonomi dan pemahaman politik, apatisme serta kejenuhan demokrasi, dan krisis kepercayaan publik terhadap partai politik. | This study examines the phenomenon of none of the above (NOTA) and the decline in voter participation in The 2024 Banyumas local election. The presence of a single candidate competing against none of the above, along with low voter turnout, indicates substantive challenges to the quality of local political contestation. This research aims to understand the meaning of none of the above for the community and to identify the factors contributing to low voter participation. Employing a qualitative method with a phenomenological approach and designed as field research, data were collected through observation, interviews, and documentation, with informants selected using purposive and snowball sampling techniques. The data were analyzed using the interactive analysis model developed by Matthew B. Miles and A. Michael Huberman. The findings reveal that none of the above is perceived as an expression of political criticism toward the limited availability of alternative candidates and the dominance of party elites, while also representing a form of nonconventional political participation. The decline in voter participation is influenced by limited political contestation, socioeconomic disparities and unequal levels of political understanding, political apathy and democratic fatigue, as well as a crisis of public trust in political parties. | |
| 48352 | 51754 | G1A022097 | DETERMINAN PERILAKU PENGENDALIAN DIABETES MELITUS PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PROVINSI JAWA TENGAH: ANALISIS SURVEI KESEHATAN INDONESIA 2023 | Latar Belakang: Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan berisiko menimbulkan komplikasi apabila pengendalian glikemik tidak optimal, sehingga diperlukan pemahaman ilmiah mengenai faktor determinan perilaku pengendalian pada pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pengendalian Diabetes Melitus di Provinsi Jawa Tengah berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis data sekunder dan desain cross-sectional, melalui tahapan seleksi responden DMT2, analisis bivariat uji Chi-Square, serta analisis multivariat. Hasil: Subjek penelitian adalah 1.606 responden DMT2 yang memenuhi kriteria inklusi dari total 73.361 responden SKI 2023 Jawa Tengah. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki perilaku pengendalian DM yang baik (89,4%), serta terdapat hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dan perilaku pengendalian DM (p<0,05), dengan peluang pengendalian lebih besar pada responden berpendidikan tinggi (Exp(B)=3,219). Sebaliknya, usia dan jenis kelamin tidak berhubungan signifikan, dan pekerjaan kehilangan signifikansi pada analisis multivariat. Kesimpulan: Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan berperan penting dalam mendukung perilaku pengendalian DMT2, sehingga intervensi kesehatan perlu memprioritaskan peningkatan literasi kesehatan pasien. | Background: Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disease with a continuously increasing prevalence and a high risk of complications when glycemic control is suboptimal; therefore, a scientific understanding of factors determining patients’ control behaviors is urgently required. Objective: This study aimed to analyze factors associated with diabetes control behavior in Central Java Province using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI 2023). Methods: This study used a quantitative approach with secondary data analysis and a cross-sectional design, comprising the main stages of T2DM respondent selection, bivariate analysis using the Chi-Square test, and multivariate analysis; the study subjects were 1,606 respondents with T2DM who met the inclusion criteria from a total of 73,361 respondents in the Central Java SKI 2023 dataset. Results: Most respondents demonstrate good diabetes control behavior (89.4%), and a significant association is observed between educational level and diabetes control behavior (p<0.05), with higher odds of control among respondents with higher education (Exp(B)=3.219). In contrast, age and sex show no significant association, and employment loses its significance in multivariate analysis. Conclusion: These findings indicate that education plays a key role in supporting T2DM control behavior; therefore, health interventions should prioritize strengthening patients’ health literacy. | |
| 48353 | 51755 | A1H023001 | PENGARUH JENIS & KONSENTRASI PUPUK HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI PROTANGGUH SECARA ORGANIK | Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dapat menyebabkan degradasi tanah dan pencemaran lingkungan yang berdampak pada penurunan kesuburan tanah serta produktivitas padi Protangguh. Alternatif yang lebih ramah lingkungan adalah penggunaan pupuk hayati yang mengandung mikroorganisme fungsional seperti bakteri pelarut fosfat, penghasil IAA, dan penambat nitrogen yang mampu meningkatkan ketersediaan unsur hara serta memperbaiki kondisi fisik dan kimia tanah. Penelitian ini bertujuan memperoleh jenis pupuk hayati yang paling sesuai untuk budidaya padi Inpago Unsoed Protangguh (P20). Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni hingga Desember 2024 di screenhouse Kelurahan Karangwangkal, Kabupaten Banyumas menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial dengan dua faktor, yaitu jenis pupuk hayati (tiga jenis) dan konsentrasi pupuk hayati (lima taraf), sehingga diperoleh 15 kombinasi perlakuan dengan tiga ulangan dan total 45 unit percobaan. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% apabila terdapat perbedaan nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, dan jumlah malai, sedangkan konsentrasi pupuk hayati serta interaksi antara jenis dan konsentrasi pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap umur bunga dan pH tanah. Konsentrasi pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap jumlah gabah isi dan gabah hampa, sedangkan interaksi jenis dan konsentrasi pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap bobot gabah isi dan bobot gabah hampa. Perlakuan pupuk hayati penambat nitrogen (D3) pada konsentrasi 16 mL (H4) memberikan hasil terbaik dengan jumlah gabah isi 1080 butir, bobot gabah isi 33,70 gram, bobot 1000 butir 24,73 gram, serta jumlah dan bobot gabah hampa terendah. | The excessive use of chemical fertilizers can cause soil degradation and environmental pollution, leading to declining soil fertility and reduced productivity of Protangguh rice. An environmentally friendly alternative is the application of biofertilizers containing beneficial microorganisms such as phosphate solubilizing bacteria, indole acetic acid producing bacteria, and nitrogen fixing bacteria that improve nutrient availability and soil properties. This study aimed to determine the most suitable type of biofertilizer for the cultivation of Inpago Unsoed Protangguh (P20) rice. The experiment was conducted from June to December 2024 in a screenhouse located in Karangwangkal Village, Banyumas Regency. A factorial Randomized Block Design was used with two factors, namely biofertilizer type with three levels and biofertilizer concentration with five levels, resulting in fifteen treatment combinations with three replications and forty-five experimental units. Data were analyzed using analysis of variance at the five percent significance level and followed by Duncan’s Multiple Range Test at the same level when significant differences occurred. The results showed that biofertilizer type significantly affected plant height, number of tillers, and number of panicles, whereas concentration and interaction did not significantly affect flowering time and soil pH. Biofertilizer concentration significantly influenced the number of filled and unfilled grains, while the interaction between biofertilizer type and concentration significantly affected the weight of filled and unfilled grains. Nitrogen fixing biofertilizer at 16 mL produced the best yield performance overall. | |
| 48354 | 51756 | F1D022024 | Penerapan Hybrid Governance Dalam Proses Institusionalisasi Kekuasaan Masyarakat Desa Cikakak | Hybrid Governance merupakan paradigma tata kelola yang menekankan integrasi peran antara negara dan aktor non-negara dalam proses pengambilan keputusan serta pengelolaan kepentingan publik. Dalam konteks lokal, dinamika tersebut berkelindan dengan proses institusionalisasi, yaitu bagaimana aturan, praktik, dan relasi sosial dilembagakan melalui interaksi antaraktor. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika relasional antaraktor dalam praktik Hybrid Governance serta implikasinya terhadap proses institusionalisasi kekuasaan di Desa Cikakak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemerintah desa, tokoh adat, dan masyarakat untuk menelusuri pola interaksi, distribusi peran, serta mekanisme pengambilan keputusan. Kerangka analisis berpijak pada Teori Hybrid Governance Meagher dan Bierschenk serta perspektif kebijakan publik Harold Lasswell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa institusionalisasi kekuasaan terutama dibentuk oleh tiga hasil utama, yaitu keberadaan aturan formal dan adat, peran elit desa sebagai mediator dan penghubung antaraktor, serta praktik penentuan upacara adat dan musim tanam sebagai arena pengambilan keputusan strategis. Di luar temuan utama tersebut, penelitian ini juga menemukan dinamika lain berupa proses adaptasi warga pendatang terhadap norma adat yang tidak tertulis, perbedaan tingkat keterlibatan dalam aktivitas ritual, serta munculnya ketegangan sosial dalam praktik keseharian yang umumnya dapat dikelola melalui komunikasi, pembelajaran sosial, dan kepemimpinan lokal. Temuan tambahan tersebut mengindikasikan adanya keterbatasan Teori Hybrid Governance yang cenderung menekankan aspek kolaborasi dan integrasi kelembagaan,namun belum sepenuhnya mampu menangkap kompleksitas proses kultural, norma informal, dan variasi partisipasi sosial di tingkat lokal. Meskipun demikian, penelitian ini menegaskan bahwa tata kelola desa berkembang secara kolaboratif dan adaptif melalui integrasi otoritas formal dan legitimasi kultural, sekaligus membuka ruang pengayaan teoritik yang lebih sensitif terhadap konteks sosial dan budaya. | Hybrid Governance is a governance paradigm that emphasizes the integration of roles between the state and non-state actors in decision-making processes and the management of public interests. In the local context, these dynamics are intertwined with processes of institutionalization, namely how rules, practices, and social relations become institutionalized through interactions among actors. This study aims to analyze the relational dynamics among actors in the practice of Hybrid Governance and their implications for the institutionalization of power in Cikakak Village. The research employs a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews with village government officials, traditional leaders, and community members to trace patterns of interaction, the distribution of roles, and decision-making mechanisms. The analytical framework is grounded in Meagher and Bierschenk’s Hybrid Governance Theory and Harold Lasswell’s public policy perspective. The findings indicate that the institutionalization of power is primarily shaped by three main outcomes: the existence of formal and customary rules, the role of village elites as mediators and connectors among actors, and the practices of determining customary rituals and planting seasons as arenas for strategic decision-making. Beyond these main findings, the study also identifies other dynamics, including the adaptation process of migrant residents to unwritten customary norms, variations in levels of involvement in ritual activities, and the emergence of social tensions in everyday practices. These tensions are generally managed through communication, social learning, and local leadership. These additional findings suggest certain limitations of Hybrid Governance Theory, which tends to emphasize collaboration and institutional integration but has not fully captured the complexity of cultural processes, informal norms, and variations in social participation at the local level. Nevertheless, this study affirms that village governance develops in a collaborative and adaptive manner through the integration of formal authority and cultural legitimacy, while also opening space for theoretical enrichment that is more sensitive to social and cultural contexts. | |
| 48355 | 51757 | L1C021058 | Analisis Senyawa Antimikroba Nocardiopsis sp. BUN.29 Menggunakan Pendekatan Metabolomik | Resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR) merupakan salah satu ancaman kesehatan global yang paling mendesak di abad ke-21 hal ini diperburuk dengan penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Oleh karena itu, kita memerlukan solusi alternatif untuk mengatasi AMR. Bakteri Nocardiopsis sp. BUN.29 merupakan bakteri yang berasal dari kelas actinomycetes, yang telah dikenal sebagai penghasil senyawa bioaktif yang diproduksi dari metabolisme sekundernya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi metabolit sekunder bakteri Nocardiopsis sp. BUN.29 yang dikultur pada medium dan pelarut ekstraksi yang berbeda, serta potensinya sebagai antimikroba. Pendekatan OSMAC dilakukan dengan kultur pada medium LB, R2A, NB, MB dan MM dengan tujuan mengaktifkan Biosynthetic Gene Clusters silent (BGCs). Selain itu, terdapat dua jenis pelarut digunakan saat ekstraksi yaitu etil asetat dan metanol. Penelitian ini juga menggunakan analisis metabolomik dengan instrumen LC-HRMS untuk mengetahui profil metabolit sekunder dari bakteri Nocardiopsis sp. BUN.29. Pendekatan OSMAC terbukti efektif dengan dihasilkannya 4 senyawa yang berpotensi sebagai antimikroba yaitu 23 demethyl 8,13-deoxydemethoxynargenicin, nocardiopsistin E, macranthoside A dan sodium format. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pendekatan OSMAC dan metabolomik merupakan metode yang tepat dalam menghasilkan dan mengidentifikasi senyawa antimikroba serta berpeluang di masa depan untuk dikembangkan sebagai antibiotik baru. | Antimicrobial resistance (AMR) is one of the most pressing global health threats of the 21st century, which has been worsened by the misused of antibiotics. Therefore, we need alternative solutions to solve AMR. Nocardiopsis sp. BUN.29 is a bacterium belonging to the actinomycetes class, which is known to produce bioactive compounds from its secondary metabolism. The purpose of this study was to identify the secondary metabolites of Nocardiopsis sp. BUN.29 bacterium cultured in different media and extraction solvents also their potential as antimicrobials. The OSMAC approach was applied by culturing the bacterium in LB, R2A, NB, MB, and MM media in order to activate silent Biosynthetic Gene Clusters (BGCs). Two kind of solvents, ethyl acetate and methanol, were used for extraction. This research also applied a metabolomic analysis with LC-HRMS instruments to determine the secondary metabolite profile of the bacterium Nocardiopsis sp. BUN.29. The OSMAC approach proved to be effective, resulting in the production of 4 compounds with antimicrobial potential, namely 23-demethyl 8,13-deoxydemethoxynargenicin, nocardiopsistin E, macranthoside, and sodium formate. Based on the research, it can be concluded that the OSMAC and metabolomics approaches are appropriate methods for producing and identifying antimicrobial compounds and have the potential to be developed as new antibiotics in the future. | |
| 48356 | 51640 | L1C021006 | Pemodelan Tsunami dan Upaya Mitigasi Bencana di Widarapayung, Cilacap | Pesisir Selatan Pulau Jawa, khususnya wilayah Widarapayung di Kabupaten Cilacap, memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap tsunami akibat aktivitas zona subduksi Lempeng Indo Australia dan Eurasia. Penelitian ini bertujuan untuk:(1) memvalidasi model tsunami Cornell Multi-grid Coupled Tsunami Model (COMCOT) dengan data observasi tsunami Pangandaran 2006, (2) mengkalkulasi hasil simulasi tsunami di Widarapayung, Cilacap berdasarkan skenario terburuk, (3) mengoptimalisasi mitigasi bencana tsunami di Widarapayung, Cilacap berdasarkan hasil pemodelan. Hasil validasi menunjukkan RMSD 1,87 m dan NRMSD 0,29, yang termasuk kategori kesalahan kecil-sedang, menandakan COMCOT mampu merepresentasikan perambatan dan ketinggian tsunami dengan cukup baik. Pada skenario terburuk, gelombang tsunami pertama tiba di garis pantai Widarapayung sekitar 42 menit setelah gempa bumi dengan tinggi maksimum 12,5 m. Integrasi model COMCOT–MATSim menunjukkan bahwa penambahan TES di kawasan permukiman padat meningkatkan keberhasilan evakuasi dari 30% menjadi 43,7%, sekaligus mengurangi kepadatan jalur evakuasi. Hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah bagi perencanaan mitigasi dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat pesisir Cilacap. | The southern coast of Java Island, particularly Widarapayung in Cilacap Regency, is highly vulnerable to tsunamis due to active subduction between the Indo-Australian and Eurasian tectonic plates. The research aims to (1) simulate tsunami propagation using the Cornell Multi grid Coupled Tsunami Model (COMCOT) and validate the model based on the Pangandaran 2006 tsunami data; (2) calculate the tsunami simulation result of Widarapayung, Cilacap, based on the worst-case tsunami scenario; and (3) optimize tsunami mitigation of Widarapayung, Cilacap, based on the modeling result. The validation results indicate an RMSD of the average of the model-observation-tsunami’s high was 1.87 m and an NRMSD of 0.29. That result included a small-to-moderate error level, suggesting that COMCOT adequately represents tsunami propagation and wave height characteristics. The worst-case scenario simulated the first tsunami wave reaching Widarapayung’s coastline 42 minutes after the earthquake, with a maximum run-up of 12.5 m. The COMCOT–MATSim integration showed that adding TES in densely populated areas increased evacuation success from 30% to 43.7% and reduced route congestion. These results provide a scientific foundation for tsunami mitigation planning and improving community preparedness along the Cilacap coast. | |
| 48357 | 51758 | E1A022182 | PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM SEKTOR KEUANGAN MIKRO : STUDI PUTUSAN NOMOR 64/Pdt.P/2025/PN Pwt | Perlindungan konsumen dalam sektor keuangan mikro merupakan bagian penting dari sistem hukum perlindungan konsumen karena berkaitan langsung dengan pengelolaan dana masyarakat. Kegiatan lembaga keuangan mikro wajib dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan berada di bawah pengawasan otoritas yang berwenang guna menjamin kepastian hukum dan keamanan konsumen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perlindungan konsumen dan akibat hukum dari Putusan Pengadilan Negeri Purwokerto Nomor 64/Pdt.P/2025/PN Pwt terhadap PT LKM Kedungmas berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan spesifikasi deskriptif analitis. Data yang digunakan berupa data sekunder melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, dan pendapat ahli, yang dianalisis secara kualitatif dalam bentuk uraian naratif. Berdasarkan hasil penelitian, Putusan Pengadilan Negeri Purwokerto Nomor 64/Pdt.P/2025/PN Pwt memberikan perlindungan hukum secara preventif dengan menegaskan bahwa PT LKM Kedungmas menjalankan usaha tanpa izin operasional sehingga bertentangan dengan hukum, serta menetapkan pembubaran sebagai upaya mencegah kerugian yang lebih luas. Secara represif, putusan ini memberikan dasar hukum bagi konsumen untuk menuntut pertanggungjawaban dan membuka penyelesaian hak dan kewajiban melalui mekanisme pemberesan atau likuidasi, meskipun belum mengatur secara rinci pengembalian dana atau ganti rugi sehingga perlindungan represif belum optimal. | Consumer protection in the microfinance sector is an important part of the consumer protection legal system because it is directly related to the management of public funds. Microfinance institutions must operate in accordance with the provisions of laws and regulations and be under the supervision of the competent authorities in order to ensure legal certainty and consumer safety. The purpose of this study is to determine consumer protection and the legal consequences of Purwokerto District Court Decision Number 64/Pdt.P/2025/PN Pwt against PT LKM Kedungmas based on Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection and Law Number 1 of 2013 concerning Microfinance Institutions. This study uses a normative juridical method with descriptive analytical specifications. The data used is secondary data through a literature study of laws and regulations, court decisions, and expert opinions, which are analyzed qualitatively in the form of narrative descriptions. Based on the results of the research, Purwokerto District Court Decision Number 64/Pdt.P/2025/PN Pwt provides preventive legal protection by confirming that PT LKM Kedungmas is operating without an operating license, which is against the law, and ordering its dissolution as a measure to prevent further losses. Repressively, this decision provides a legal basis for consumers to demand accountability and open the settlement of rights and obligations through a settlement or liquidation mechanism, although it does not yet regulate in detail the return of funds or compensation, so that repressive protection is not yet optimal. | |
| 48358 | 51759 | J1E020045 | Teacher's Perception on The Use of Code-Switching in Online Course for Young Learners (Descriptive Qualitative Research on English for Everyone Online Course Teacher) | Andina, Najwa Farah, 2026. Teacher’s Perception on The Use of Code-Switching in Online Course for Young Learners. Skripsi. Pembimbing I: Erna Wardani, S.Pd., M.Hum. Pembimbing II: Mustasyfa Thabib Kariadi, S.Pd., M.Pd. Ketua Penguji Eksternal: Muhamad Ahsanu, S.Pd., M.Sc., M.Hum., Ph.D. Penguji Eksternal: Drs. Ashari, M.Pd. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Pendidikan Bahasa, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Purwokerto. Penelitian ini mendeskripsikan persepsi guru terhadap penggunaan alih kode dalam kursus daring untuk pembelajar muda serta mengeksplorasi bagaimana alih kode berfungsi dalam proses pengajaran. Penelitian ini mengadopsi definisi umum alih kode yang dikemukakan oleh Wardhaugh (2015). Untuk menganalisis jenis alih kode, penelitian ini menggunakan teori dari Poplack (1980), serta teori dari Ferguson (2003) untuk mengategorikan fungsi alih kode di kelas. Kerangka teori tersebut digunakan untuk mengkaji bagaimana alih kode dipersepsikan sebagai alat pedagogis di kelas daring. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara dengan guru bilingual, serta dokumentasi. Data dianalisis menggunakan kerangka deskriptif kualitatif yang dimodelkan oleh Creswell (2017). Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru memandang alih kode diterapkan secara efektif dan memiliki tiga fungsi utama di kelas, sejalan dengan kerangka Ferguson (2003), yaitu akses kurikulum, manajemen kelas, dan hubungan interpersonal. Berdasarkan frekuensi jenis alih kode, jenis yang paling sering digunakan adalah alih kode intra-sentensial, yang terutama digunakan guru untuk memperkenalkan kosakata baru dan menjelaskan konsep. Selain itu, penggunaannya mencerminkan sensitivitas guru terhadap kebutuhan linguistik siswa, khususnya dalam mendukung pemahaman dan mengurangi kecemasan belajar. Dengan demikian, alih kode tampak sebagai strategi pengajaran yang bertujuan jelas untuk memfasilitasi penyampaian materi yang efektif sekaligus membangun interaksi kelas yang suportif. | Andina, Najwa Farah, 2026. Teacher’s Perception on The Use of Code-Switching in Online Course for Young Learners. Thesis. Supervisor I: Erna Wardani, S.Pd., M.Hum. Supervisor II: Mustasyfa Thabib Kariadi, S.Pd., M.Pd. Chief External Examiner: Muhamad Ahsanu, S.Pd., M.Sc., M.Hum., Ph.D. External Examiner: Drs. Ashari, M.Pd. Ministry of Higher Education, Science, and Technology, Jenderal Soedirman University, Faculty of Humanities, Department of Language Education, English Language Education Study Program, Purwokerto. This research describes teachers' perceptions of code-switching in an online course for young learners and explores how it functions in the teaching process. This research adopted the general definition of code-switching proposed by Wardhaugh (2015). To analyse the type of code-switching, this study used theory from Poplack (1980) and Ferguson (2003) to categorize the function of code-switching in the class. These frameworks were used to examine how code-switching is perceived as a pedagogical tool in the online classroom. The methodology of this research is a qualitative descriptive approach. Data were collected through classroom observations, interview with the bilingual teacher, and documentation. The data were analyzed using a descriptive qualitative framework modeled by Creswell (2017). The findings indicate that the teacher viewed code-switching was effectively applied and served three main functions in the classroom, in line with Ferguson’s (2003) framework: curriculum access, classroom management, and interpersonal relations. Based on the frequency of code-switching types, the most frequently used was intra-sentential code-switching, which the teacher mostly used to introduce new vocabulary and explain concepts. In addition, its use reflected the teacher’s sensitivity to students’ linguistic needs, particularly in supporting comprehension and reducing learning anxiety. Thus, code-switching appeared to be a purposeful teaching strategy that facilitates both effective teaching delivery and supportive classroom interaction. | |
| 48359 | 51760 | C1B022045 | Pengaruh Pengungkapan Environmental, Social, and Governance, dan Pilar-Pilarnya terhadap Biaya Utang Perusahaan Non-Keuangan di ASEAN-6 | Isu keberlanjutan yang semakin mendapat perhatian dari investor dan kreditur mendorong perusahaan untuk meningkatkan pengungkapan Environmental, Social, dan Governance (ESG). Bukti empiris mengenai pengaruh pengungkapan ESG terhadap biaya utang di pasar berkembang masih menunjukkan hasil yang belum konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengungkapan ESG dan pilar-pilarnya terhadap biaya utang (cost of debt) pada perusahaan di ASEAN-6 selama periode 2020–2024. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 275 perusahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data ESG yang diperoleh dari Bloomberg Terminal dan dianalisis menggunakan regresi data panel dengan Fixed Effect Model (FEM), dengan ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengungkapan ESG dan masing-masing pilar berpengaruh negatif dan signifikan terhadap biaya utang. Temuan ini mengindikasikan bahwa perusahaan dengan tingkat pengungkapan ESG yang lebih tinggi dipersepsikan memiliki risiko yang lebih rendah oleh kreditur, sehingga memperoleh biaya pendanaan utang yang lebih rendah. Penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa transparansi ESG berperan penting dalam penilaian risiko kredit di pasar berkembang serta berkontribusi pada pengembangan literatur sustainable finance di kawasan Asia Tenggara. | Sustainability issues that have increasingly attracted the attention of investors and creditors encourage companies to enhance their disclosure of Environmental, Social, and Governance (ESG) information. Empirical evidence on the effect of ESG disclosure on the cost of debt in emerging markets remains inconclusive. This study aims to examine the effect of ESG disclosure and its individual pillars on the cost of debt of companies in the ASEAN-6 region during the 2020–2024 period. The sample consists of 275 companies. This study adopts a quantitative approach, using ESG data obtained from the Bloomberg Terminal and analyzed through panel data regression with a Fixed Effect Model (FEM), with firm size included as a control variable. The results indicate that ESG disclosure and each of its pillars have a negative and significant effect on the cost of debt. These findings suggest that companies with higher levels of ESG disclosure are perceived by creditors as having lower risk, enabling them to obtain lower debt financing costs. This study provides empirical evidence that ESG transparency plays an important role in credit risk assessment in emerging markets and contributes to the development of sustainable finance literature in Southeast Asia. | |
| 48360 | 51762 | B1A021059 | Efektivitas Penggunaan Konsorsium Mikroba Nitrifikasi dalam Proses Degradasi dan Netralisasi Bau dari Sampah Pada Pembuatan Kompos | Limbah organik merupakan penyumbang terbesar limbah domestik di Indonesia, dan pengelolaan yang kurang memadai sering menghasilkan emisi amonia yang menimbulkan pencemaran bau. Pengomposan dengan bantuan bioaktivator mikroba menjadi salah satu solusi berkelanjutan untuk mempercepat degradasi dan menetralisasi bau. Penelitian ini menguji kemampuan konsorsium bakteri nitrifikasi yaitu Nts 4.2 dan bakteri hidrolitik yang terdiri atas LG 101, LG 127, LG 73, LG 113 dan SA 126 dalam degradasi dan menghilangkan bau sampah. Penelitian menggunakan RAL faktorial dengan variasi dosis bioaktivator (0%, 5%, 10%, 15%) dan waktu inkubasi (15, 30, 45 hari). Parameter utama yang diamati adalah rasio C/N dan kadar amonium. Hasil menunjukkan bahwa faktor waktu inkubasi berpengaruh nyata terhadap penurunan nilai rasio C/N, sedangkan dosis konsorsium berpengaruh nyata terhadap penurunan kadar amonium sehingga dapat menetralisasi bau sampah pada kompos. Tidak terdapat interaksi nyata pada kedua faktor. Kompos dinyatakan matang setelah 45 hari inkubasi, ditunjang oleh suhu stabil (±31°C), pH netral, kelembapan ±50%, serta warna, tekstur, dan aroma seperti tanah. | Organic waste is the largest contributor to domestic waste in Indonesia, and poor management often results in ammonia emissions that cause odor pollution. Composting with microbial bioactivators offers a sustainable solution to accelerate degradation and neutralize odor. This study examined the effectiveness of a nitrifying bacterium (Nts 4.2) combined with hydrolytic bacteria (LG 101, LG 127, LG 73, LG 113, SA 126) in organic waste composting. A factorial randomized complete design was applied with bioactivator dosages of 0%, 5%, 10%, and 15%, and incubation times of 15, 30, and 45 days. The C/N ratio and ammonium concentration were measured as primary parameters. Results showed that incubation time significantly reduced the C/N ratio, while bioactivator dosage significantly decreased ammonium levels, thereby neutralizing odor. No significant interaction was observed between the two factors. Compost maturity was achieved after 45 days, indicated by stable temperature (±31°C), neutral pH, ~50% moisture, and soil-like physical characteristics. The bacterial consortium effectively enhanced organic waste degradation and reduced odor emissions, demonstrating its potential as a bioactivator for sustainable waste management. |