Artikelilmiahs

Menampilkan 48.401-48.420 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4840151802A1F021062Karakteristik Edible Film Maizena dan Protein Whey dengan Bahan Pengisi Selulosa Tongkol Jagung sebagai Pengemas Minuman Cokelat InstanProduk bubuk seperti minuman cokelat instan umumnya dikemas menggunakan plastik yang bersifat non-biodegradable dan berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, edible film dikembangkan sebagai alternatif kemasan biodegradable yang lebih ramah lingkungan. Pada penelitian ini edible fim dibuat dengan menggunakan bahan maizena dan protein whey dengan bahan pengisi selulosa tongkol jagung. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh maizena dan protein whey dengan bahan pengisi selulosa tongkol jagung terhadap karakteristik edible film, serta mengkaji pengaruh maizena dan protein whey dengan bahan pengisi selulosa tongkol jagung terhadap karakteristik kimia dan organoleptik minuman cokelat instan. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 9 perlakuan, 3 ulangan, dan sebanyak 27 unit percobaan. Pengukuran terhadap karakteristik edible film dilakukan terhadap ketebalan, laju transmisi uap air (WVTR), dan kelarutan. Tiga perlakuan paling ideal dilakukan penelitian lanjut untuk diaplikasikan pada bubuk minuman cokelat instan dan disimpan selama 10 hari. Edible film diaplikasikan dan dilakukan pengujian pada bubuk minuman cokelat meliputi pengukuran berat, kadar air, kadar asam lemak bebas (FFA), warna bubuk minuman cokelat instan serta uji hedonik (warna, rasa, aroma, homogenitas, dan penerimaan keseluruhan) minuman cokelat instan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan maizena dan protein whey, persentase selulosa tongkol jagung, dan interaksi keduanya tidak memberikan pengaruh nyata terhadap ketebalan, WVTR, dan kelarutan. Ketebalan edible film yang dihasilkan yaitu 0,13–0,145 mm, nilai WVTR berkisar 3,52–4,94 g/m2/jam, dan nilai kelarutan berkisar 39–47,63%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa edible film menghambat peningkatan kadar FFA, mengurangi perubahan berat dan warna secara nyata, namun berpengaruh tidak nyata terhadap kadar air, serta meningkatkan mutu sensori bubuk minuman cokelat instan.Powdered products such as instant chocolate drinks are generally packaged using non-biodegradable plastics that have the potential to cause environmental pollution. Therefore, edible films have been developed as a more environmentally friendly biodegradable packaging alternative. In this study, edible film was made using cornstarch and whey protein with corn cob cellulose as a filler. This study aims to examine the effect of cornstarch and whey protein with corn cob cellulose filler on the characteristics of edible film, and to examine the effect of cornstarch and whey protein with corn cob cellulose filler on the chemical and organoleptic characteristics of instant chocolate drinks. The experimental design used a completely randomized design (CRD) with 9 treatments, 3 replicates, and a total of 27 experimental units. Measurements of edible film characteristics were made for thickness, water vapor transmission rate (WVTR), and solubility. The three most ideal treatments were further studied for application to instant chocolate beverage powder and stored for 10 days. The edible film was applied and tested on the chocolate beverage powder, including measurements of weight, moisture content, free fatty acid (FFA) content, color of the instant chocolate beverage powder, as well as hedonic test (color, taste, aroma, homogeneity, and overall acceptance) of instant chocolate drinks. The results showed that the ratio of cornstarch and whey protein, the percentage of corn cob cellulose, and the interaction between the two had no significant effect on thickness, WVTR, and solubility. The thickness of the edible film produced was 0.13–0.145 mm, the WVTR value ranged from 3.52–4.94 g/m2/hour, and the solubility value ranged from 39–47.63%. The results also showed that edible films inhibited the increase in FFA levels, significantly reduced changes in weight and color, had no significant effect on moisture content, and improved the sensory quality of instant chocolate powder.
4840251803A1F021065Pendugaan Umur Simpan Madu Temulawak dengan Metode Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) Model ArrheniusMadu temulawak adalah inovasi dalam pengolahan temulawak (Curcuma xanthorrhiza R.) yang menghasilkan produk makanan fungsional dengan rasa yang disukai oleh masyarakat. Produk dibungkus dengan kemasan polipropilen yang dapat melindungi dari cahaya, kelembapan, dan kontaminasi mikroba. Informasi tentang masa simpan madu temulawak dalam kemasan polipropilen hingga saat ini belum ada, meskipun data ini krusial untuk memastikan mutu, keamanan, dan penerimaan konsumen. Studi ini dilaksanakan untuk mengukur umur simpan madu temulawak dalam kemasan polipropilen, yang dilakukan dengan metode Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) model Arrhenius. Studi ini bertujuan untuk 1) Mengetahui perubahan sifat fisikokimia dan sensori madu temulawak dalam kemasan polipropilen selama masa penyimpanan, dan 2) Mengetahui masa simpannya pada berbagai suhu penyimpanan.
Faktor yang dianalisis dalam penelitian ini mencakup variasi suhu penyimpanan, yaitu suhu 30°C (T1), 40°C (T2), dan 50°C (T3), serta durasi penyimpanan dengan lima kali pengamatan (L1, L2, L3, L4, L5). Produk disimpan selama 28 hari dan diamati setiap 7 hari. Parameter yang diperiksa mencakup kadar air, kadar kurkumin, kadar gula reduksi, total fenol, kapasitas antioksidan, serta viskositas dan ciri-ciri sensori. Data hasil analisis diuji secara statistik dengan metode Two Way ANOVA, Tukey, dan Friedman pada taraf signifikansi 5%.
Diperoleh hasil pengujian selama penyimpanan bahwa kandungan air, kadar kurkumin, total fenol, kapasitas antioksidan, serta viskositas, juga tingkat ketertarikan panelis terhadap madu temulawak menurun, sedangkan kadar gula reduksi mengalami peningkatan. Masa simpan madu temulawak dalam kemasan polipropilen adalah 30 hari pada 30°C, 27 hari pada 40°C, dan 24 hari pada 50°C.
Temulawak honey is an innovative processing method for temulawak (Curcuma xanthorrhiza R.), producing a functional food product with a flavor widely appreciated. This product is packaged in polypropylene, which protects it from light, moisture, and microbial contamination. However, there is currently no information on the shelf life of temulawak honey in polypropylene packaging, although this data is crucial for ensuring quality, safety, and consumer acceptance. This study was conducted to measure the shelf life of temulawak honey in polypropylene packaging using the Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) Arrhenius model. This study aims to: 1) Determine changes in the physicochemical and sensory properties of temulawak honey in polypropylene packaging during storage, and 2) Determine its shelf life at various storage temperatures.
The factors analyzed in this study included variations in storage temperature: 30°C (T1), 40°C (T2), and 50°C (T3), as well as storage duration with five observations (L1, L2, L3, L4, L5). The product was stored for 28 days, with checks every seven days. Examined parameters were water content, curcumin content, reducing sugar, total phenols, antioxidant capacity, viscosity, and sensory characteristics. Data were statistically tested using two-way ANOVA, Tukey's test, and Friedman's test at 5% significance.
Test results during storage showed that the water content, curcumin content, total phenols, antioxidant capacity, viscosity, and panelists' preference for temulawak honey decreased, while the reducing sugar content increased. The shelf life of temulawak honey in polypropylene packaging was 30 days at 30°C, 27 days at 40°C, and 24 days at 50°C.
4840351780I1E022099Pengaruh Perbedaan Latihan Dribbling Dengan Metode X Pattern dan Figure Eights Terhadap Kemampuan Dribbling Siswa Ekstrakulikuler Futsal MAN 1 Banyumas.Hasil observasi awal pada kegiatan ekstrakurikuler futsal MAN 1 Banyumas, diketahui bahwa kemampuan dribbling siswa masih tergolong rendah, ditandai dengan kurang optimalnya kontrol bola, kecepatan menggiring, serta kemampuan mengubah arah. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengkaji pengaruh metode latihan dribbling X Pattern dan Figure Eights terhadap kemampuan dribbling siswa ekstrakurikuler futsal MAN 1 Banyumas. Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan eksperimen desain two group pretest-posttest. Sampel penelitian ini berjumlah 26 orang yang diambil menggunakan teknik total sampling. Analisis data penelitian ini menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji paired sampel t-Test dan uji Independent t-Test. Terdapat pengaruh yang signifikan antara latihan dribbling X pattern dan figure eights terhadap kemampuan dribbling. Hasil pengujian hipotesis menggunakan paired sample t-test pada kelompok latihan X pattern dan figure eights menunjukkan nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0,000<0,05. Perbedaan pengaruh menggunakan uji independent sample t-test, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,777> 0,05. Perbedaan nilai efektivitas menggunakan uji perbedaan hasil, diperoleh persentase sebesar 10,85% dan 9,88%. Perbedaan interaksi dari kedua latihan, diperoleh dari perbedaan karakteristik latihan. Latihan dribbling X Pattern dan Figure Eights sama-sama efektif dalam meningkatkan kemampuan dribbling siswa ekstrakurikuler futsal MAN 1 Banyumas, meskipun tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kedua metode latihan.Initial observations of futsal extracurricular activities at MAN 1 Banyumas revealed that students' dribbling skills were still relatively poor, as indicated by suboptimal ball control, dribbling speed, and ability to change direction. Therefore, this study is important to examine the effect of the X Pattern and Figure Eights dribbling training methods on the dribbling skills of students in the futsal extracurricular activity at MAN 1 Banyumas. This quantitative study used a two-group experimental design with pretest-posttest. The sample consisted of 26 students selected using total sampling. Data analysis involved normality, homogeneity, and hypothesis testing. The hypothesis tests used were paired sample t-tests and independent t-tests. There was a significant effect between X-pattern and figure-eight dribbling training on dribbling skills. The results of the hypothesis test using the paired sample t-test on the X-pattern and figure-eight training groups showed a significance value (two tails) of 0.000 < 0.05. The difference in effect using the independent t-test resulted in a significance value of 0.777 > 0.05. The difference in effectiveness using the difference test resulted in percentages of 10.85% and 9.88%. The difference in interaction between the two exercises was obtained from the difference in exercise characteristics. Both the X Pattern and Figure Eights dribbling drills are equally effective in improving the dribbling skills of futsal extracurricular students at MAN 1 Banyumas, although there is no significant difference in the effect between the two training methods
4840451806I2A024015ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN INTEGRASI LAYANAN
PRIMER (ILP) DI KABUPATEN PURBALINGGA
Latar Belakang: Integrasi pelayanan kesehatan primer adalah pelayanan kesehatan terpadu, komprehensif, mudah diakses, dan terjangkau bagi masyarakat. Pelayanan ini bertujuan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kebijakan integrasi pelayanan kesehatan primer diimplementasikan di seluruh Indonesia dan data dari tahun 2024 menunjukkan bahwa Kabupaten Purbalingga belum mengimplementasikannya secara menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan studi lebih lanjut mengenai implementasi kebijakan integrasi pelayanan kesehatan primer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana implementasi kebijakan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer di Kabupaten Purbalingga telah dilakukan.
Metode: Subjek penelitian adalah 22 Puskesmas di Kabupaten Purbalingga. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Prosedur pengambilan sampel: Survei lapangan untuk mengidentifikasi terkait ILP. Melakukan survei terhadap Puskesmas di Kabupaten Purbalingga mengenai implementasi ILP. Pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan staf Puskesmas dan observasi langsung terhadap implementasi ILP di Puskesmas Kabupaten Purbalingga. Analisis data menggunakan statistik deskriptif. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif.

Hasil: Komponen masukan terdiri dari ketersediaan struktur organisasi, ketersediaan infrastruktur dan peralatan kesehatan, ketersediaan sumber daya manusia, perencanaan pendekatan klaster, ketersediaan ruang klaster. Komponen proses terdiri dari layanan siklus hidup, pemberdayaan masyarakat, pengembangan jaringan di wilayah kerja, pemantauan wilayah setempat, skrining kesehatan untuk setiap klaster, pendidikan kesehatan untuk setiap klaster. Komponen keluaran terdiri dari pelaporan jaringan di wilayah kerja dan pelaporan Puskesmas yang menerapkan Rekam Medis Elektronik (EMDR).
Kesimpulan: Dari penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan integrasi pelayanan kesehatan primer di Kabupaten Purbalingga sedang berlangsung, meskipun masih terdapat keterbatasan, seperti sumber daya manusia, infrastruktur, kegiatan pemantauan wilayah setempat (PWS), dan pelaporan jaringan di wilayah kerja. Diharapkan dapat ditemukan solusi untuk semua keterbatasan tersebut di masa mendatang, sehingga implementasi kebijakan pelayanan kesehatan primer berjalan lancar dan memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat.
Kata kunci: Analisis, Implementasi, Kebijakan, Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer
Background: Primary service integration is an integrated, comprehensive, accessible, and accessible health service for the community. This service serves to achieve the Sustainable Development Goals (SDGs) and improve degree public health. The primary service integration policy is implemented throughout Indonesia and data from 2024 shows that Purbalingga Regency has not implemented all of it. Therefore, further studies are needed in the implementation of primary service integration policies. The purpose of this study was to find out how far the implementation of the Primary Service Integration policy in Purbalingga Regency has been.
Methods: The research subjects were all 22 community health centers (Puskesmas) in Purbalingga Regency. The sampling technique used was cluster random sampling. Sampling procedure: Field survey to identify related ILP. Conducting a survey of Community Health Centers in Purbalingga Regency regarding the implementation of ILP. Data collection through interviews and observations. Data collection was conducted through interviews with community health center staff and direct observation of the implementation of the ILP at the Purbalingga Regency community health center. Data analysis using descriptive statistics.The collected data were then analyzed using descriptive statistics.
Results: The input component consists of the availability of organizational structure, availability of infrastructure and health equipment, availability of human resources, cluster approach planning, availability of cluster rooms. The process component consists of life cycle services, community empowerment, network development in the work area, local area monitoring, health screening for each cluster, health education for each cluster. The output component consists of network reporting in the work area and reporting of Community Health Centers implementing Electronic Medical Records (EMDR).
Conclusion: From the above study, it can be concluded that the implementation of the primary care integration policy in Purbalingga Regency is ongoing, although limitations remain, such as human resources, infrastructure, local area monitoring (PWS) activities, and network reporting in the work area. It is hoped that solutions can be found for all of these limitations in the future, so that the implementation of the primary care policy runs smoothly and provides significant benefits to the community.
Keywords: Analysis, Implementation, Policy, Primary Care Integration
4840551809E1A021216KAJIAN PERBANDINGAN FORMULASI TINDAK PIDANA JUDI ONLINE ANTARA INDONESIA DAN SINGAPURAPeralihan praktik perjudian ke ranah daring menimbulkan tantangan substantif dan operasional bagi sistem pidana nasional. Penelitian ini melakukan kajian komparatif formulasi tindak pidana judi online di Indonesia dan Singapura untuk mengukur kecukupan rumusan pelaku, struktur sanksi, dan implikasi penegakan hukum. Dengan metode yuridis-normatif (statute approach dan comparative approach) dan analisis kualitatif terhadap peraturan, putusan, dan literatur relevan, ditemukan perbedaan mendasar: regulasi Indonesia bersifat fragmentaris mengandalkan ketentuan KUHP (termasuk KUHP Baru) dan UU ITE sehingga pengaturan pelaku sering terbatas pada penyelenggara/pemain tanpa pengklasifikasian yang rinci terhadap fasilitator, agen, atau penyedia layanan teknis; sementara Singapura menerapkan kerangka yang lebih komprehensif (misalnya pengaturan dalam CGHA/CCA dan ketentuan presumptive liability) yang memperluas cakupan subjek hukum dan memudahkan pembuktian. Dari sisi sanksi, Singapura menerapkan diferensiasi ancaman pidana dan denda yang progresif untuk operator, fasilitator, dan penyelenggara terorganisir, sehingga efek deterrence dan kemampuan penindakan lebih kuat dibanding Indonesia yang masih mengalami inkonsistensi antara ancaman normatif dan kemampuan forensik digital. Penelitian menyimpulkan bahwa tanpa pembaruan normatif yang mengatur kategori pelaku, pembuktian elektronik, dan skema pemberatan sanksi bagi operator lintas yuridiksi, upaya penanggulangan judi online di Indonesia akan terus terhambat. Rekomendasi utama adalah: (1) merumuskan undang-undang khusus judi online yang mengklasifikasikan pelaku (operator, fasilitator, agen, pemain), (2) menetapkan diferensiasi sanksi serta instrumen pembuktian elektronik yang adaptif, dan (3) memperkuat kerja sama internasional dan kapasitas forensik digital sebagai pendukung penegakan.The migration of gambling activities to online platforms poses both substantive and operational challenges for national criminal law. This comparative study examines the criminalization of online gambling in Indonesia and Singapore, assessing the adequacy of offender definitions, sanction structures, and enforcement implications. Employing a doctrinal (statute) and comparative approach, the research analyzes legislation, case law, and relevant doctrinal literature through qualitative legal analysis. Findings indicate a marked divergence: Indonesian regulation remains fragmented and largely shaped by provisions aimed at conventional gambling and electronic information offenses, resulting in limited and inconsistent classification of actors (e.g., operators, facilitators, agents) and recurring evidentiary difficulties in proving online offenses. In contrast, Singapore’s legal framework adopts a more comprehensive stancebroadening the scope of liable actors and incorporating presumptions or liability mechanisms that facilitate proof and prosecution while also differentiating penalties according to the role and seriousness of the offence. The study concludes that without targeted legislative reform in Indonesia one that expressly defines categories of actors, calibrates sanctions to actor roles and organizational scale, modernizes rules on electronic evidence, and strengthens international cooperation and digital forensic capacity efforts to curb online gambling will remain substantially hindered. Policy recommendations prioritize a dedicated statutory regime for online gambling, graduated sanctions, clearer evidentiary rules for digital proof, and enhanced cross-border enforcement mechanisms.
4840651801E1A022176PERLIDUNGAN HUKUM BAGI PEMEGANG HAK MEREK TERKENAL “GLOUP” BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS (Studi Putusan Nomor 39/Pdt.Sus-Merek/2025/PN.Niaga.Jkt.Pst.)Merek dapat dikategorikan sebagai merek terkenal apabila telah melampaui batas negara, terdaftar, dan memperoleh pengakuan secara internasional. Perlindungan hukum terhadap merek terkenal bertujuan untuk menjaga hak eksklusif pemilik merek serta memberikan jaminan kepastian dan rasa aman kepada konsumen dalam memperoleh produk yang asli. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk perlindungan hukum bagi pemegang hak merek terkenal “GLOUP” serta akibat hukum yang timbul berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Nomor 39/Pdt.Sus-Merek/2025/PN.Niaga.Jkt.Ps terkait sengketa merek tersebut.
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif-analitis. Sumber data yang digunakan berupa data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, doktrin, serta putusan pengadilan yang relevan. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan metode normatif kualitatif dan preskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dikabulkannya gugatan pembatalan merek “GLOUP” milik Tergugat merupakan bentuk perlindungan hukum terhadap merek terkenal milik Penggugat yang sejalan dengan ketentuan Pasal 21 ayat (1) huruf b dan Pasal 21 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Akibat hukum dari putusan tersebut adalah pembatalan pendaftaran merek “GLOUP” Daftar No. IDM001276232 Kelas 5 atas nama Tergugat serta pencoretan merek “GLOUP” milik Tergugat yang telah didaftarkan di Indonesia dari Daftar Umum Merek yang telah dilakukan pengumuman dalam Berita Resmi oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.
A trademark is classified as a well-known mark when it transcends national boundaries, is registered, and gains international recognition. Legal protection of well-known trademarks aims to safeguard the exclusive rights of trademark owners while ensuring legal certainty and security for consumers in obtaining genuine products. This study analyzes the forms of legal protection afforded to the holder of the well-known trademark “GLOUP” and the legal consequences arising from the Decision of the Commercial Court of Central Jakarta Number 39/Pdt.Sus-Merek/2025/PN.Niaga.Jkt.Ps concerning the related trademark dispute.
This research employs a normative juridical approach with a descriptive-analytical research specification. The data used consist of secondary data obtained through library research on statutory regulations, legal doctrines, and relevant court decisions. The collected data are subsequently analyzed using qualitative and prescriptive normative methods.
The findings indicate that the granting of the claim for the cancellation of the Defendant’s “GLOUP” trademark constitutes a form of legal protection for the Plaintiff’s well-known trademark in accordance with Article 21 paragraph (1) letter b and Article 21 paragraph (3) of Law Number 20 of 2016 on Trademarks and Geographical Indications. The legal consequence of the decision is the cancellation of the registration of the “GLOUP” trademark Registration No. IDM001276232 Class 5 in the name of the Defendant and the removal of the Defendant’s “GLOUP” trademark from the General Register of Trademarks, as officially announced by the Directorate General of Intellectual Property.
4840751810C1B022102THE EFFECT OF CUSTOMER INCIVILITY AND EMOTIONAL LABOR ON TURNOVER INTENTION WITH PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT AS A MODERATING VARIABLE ON COFFEE SHOP EMPLOYEES IN PURWOKERTOPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Customer Incivility dan Emotional Labor terhadap Turnover Intention dengan Perceived Organizational Support (POS) sebagai variabel moderasi pada karyawan coffee shop di Purwokerto. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada karyawan yang berinteraksi langsung dengan pelanggan dan dianalisis menggunakan uji validitas dan reliabilitas, uji asumsi klasik, serta Moderated Regression Analysis (MRA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Customer Incivility dan Emotional Labor berpengaruh positif dan signifikan terhadap Turnover Intention, yang berarti karyawan yang sering mengalami perilaku tidak sopan dari pelanggan serta tuntutan regulasi emosi yang tinggi cenderung memiliki niat lebih besar untuk meninggalkan pekerjaannya. Selain itu, Perceived Organizational Support (POS) tidak memoderasi hubungan antara Customer Incivility dan Turnover Intention, namun secara signifikan memoderasi hubungan antara Emotional Labor dan Turnover Intention dengan cara meredam tekanan emosional serta menurunkan niat karyawan untuk keluar dari organisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi secara teoretis dan praktis bagi manajemen sumber daya manusia di industri jasa dengan menekankan pentingnya peran dukungan organisasi dalam mengelola tuntutan emosional dan meminimalkan turnover intention.This study aims to analyze the effect of Customer Incivility and Emotional Labor on Turnover Intention with Perceived Organizational Support (POS) as a moderating variable among coffee shop employees in Purwokerto. Using a quantitative approach with a survey method, data were collected through questionnaires distributed to employees who directly interact with customers and analyzed using validity and reliability tests, classical assumption tests, and Moderated Regression Analysis (MRA). The results indicate that Customer Incivility and Emotional Labor have positive and significant effects on Turnover Intention, meaning that employees who frequently experience rude customer behavior and high emotional regulation demands are more likely to intend to leave their jobs. Furthermore, Perceived Organizational Support (POS) does not moderate the relationship between Customer Incivility and Turnover Intention, but it significantly moderates the relationship between Emotional Labor and Turnover Intention by buffering emotional pressures and reducing employees’ intention to leave the organization. This study contributes theoretically and practically to human resource management in the service industry by emphasizing the role of organizational support in managing emotional demands and minimizing turnover intention.
4840851811A1D021008Perbanyakan Mikoriza Arbuskular dari Rizosfer Tanaman Kapulaga pada Berbagai Media Tanam dan Pengaruhnya Terhadap Tanaman Inang Sorgum (Sorghum bicolor L.)Pupuk merupakan salah satu komponen penting dalam peningkatan produksi
pangan, berperan krusial dalam mendukung ketahanan pangan di Indonesia. Penggunaan
pupuk sintetis yang diterapkan di Indonesia terbukti mampu meningkatkan hasil
pertanian. Namun tanpa disadari pemakaian pupuk sintetis dalam jangka panjang dapat
merusak sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Oleh karena itu, penting beralih ke praktik
pertanian yang lebih keberlanjutan, seperti penggunaan pupuk hayati mikoriza. Penelitian
ini bertujuan mengetahui pengaruh jenis media tanam terhadap perbanyakan mikoriza
arbuskular dan pertumbuhan tanaman inang sorgum, respon pertumbuhan tanaman
sorgum terhadap mikoriza arbuskular, dan membandingkan respon mikoriza arbukular
dari sumber inokulum yang berbeda dalam proses perbanyakan dalam media tanam inang
yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di Screen House Experimental Farm Fakultas
Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak
Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor, yaitu sumber inokulam mikoriza dan media tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, luas daun,
volume akar, bobot segar dan kering tanaman, serta serapan fosfor. Kemudian, aplikasi
mikoriza arbuskular berpengaruh nyata terhadap peningkatan jumlah spora dan tingkat
kolonisasi akar.
Fertilizer is an important component in increasing food production, playing a
crucial role in supporting food security in Indonesia. The use of synthetic fertilizers
applied in Indonesia has been proven to increase agricultural yields. However, the use of synthetic fertilizers in the long term can damage the physical, chemical, and biological
properties of the soil. Therefore, it is important to switch to more sustainable agricultural
practices, such as the use of mycorrhizal biofertilizers. This study aims to determine the
effect of planting media types on arbuscular mycorrhizal propagation and growth of
sorghum host plants, the growth response of sorghum plants to arbuscular mycorrhizae,
and compare the responses of arbuscular mycorrhizae from different inoculum sources
in the propagation process in different host planting media The study was conducted at
the Screen House Experimental Farm, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman
University. This study used a factorial Randomized Complete Block Design (RAKL)
consisting of two factors: the source of mycorrhizal inoculom and the planting media.
The results showed that the planting media had a significant effect on the growth of plant
height, leaf area, root volume, fresh and dry weight of plants, and phosphorus uptake.
Then, the application of arbuscular mycorrhiza had a significant effect on increasing the
number of spores and the level of root colonization.
4840951815C1B022079THE EFFECT OF TRANSACTIONAL LEADERSHIP, COMPENSATION AND WORKLOAD ON TURNOVER INTENTION WITH CLAN TYPE ORGANIZATIONAL CULTURE AS A MODERATING VARIABLE ON GENERATION Z EMPLOYEES IN THE CREATIVE INDUSTRYPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepemimpinan transaksional, kompensasi, dan beban kerja terhadap niat berhenti kerja, serta peran budaya organisasi tipe klan sebagai variabel moderasi di antara karyawan Generasi Z di industri media kreatif di Purwokerto. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui kuesioner online yang didistribusikan kepada 120 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Analisis regresi menunjukkan bahwa kepemimpinan transaksional dan kompensasi memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap niat berhenti kerja, sedangkan beban kerja tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Hasil moderasi menunjukkan bahwa budaya organisasi tipe klan melemahkan pengaruh kepemimpinan transaksional dan memperkuat pengaruh kompensasi terhadap niat berhenti kerja, tetapi tidak memoderasi hubungan antara beban kerja dan niat berhenti kerja. Temuan ini menyoroti bahwa strategi kepemimpinan yang jelas, sistem kompensasi yang adil, dan budaya organisasi yang suportif merupakan faktor kunci dalam mengurangi niat karyawan Generasi Z untuk meninggalkan organisasi mereka.This study aims to analyze the effects of transactional leadership, compensation, and workload on turnover intention, as well as the role of clan-type organizational culture as a moderating variable among Generation Z employees in the creative media industry in Purwokerto. The research employed a quantitative approach using a survey method through online questionnaires distributed to 120 respondents selected via purposive sampling. Regression analysis indicates that transactional leadership and compensation have a significant negative effect on turnover intention, while workload has no significant effect. Moderation results reveal that clan organizational culture weakens the influence of transactional leadership and strengthens the effect of compensation on turnover intention, but does not moderate the relationship between workload and turnover intention. These findings highlight that clear leadership strategies, fair compensation systems, and supportive organizational culture are key factors in reducing Generation Z employees’ intention to leave their organizations.
4841051812G1A022027Faktor Risiko Musculoskeletal Disorders pada Buruh Pabrik Bulu Mata Palsu di PT Hyup Sung Indonesia
Latar Belakang: Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan gangguan atau cedera pada sistem muskuloskeletal yang dipengaruhi oleh faktor individu, pekerjaan, dan lingkungan. Pekerjaan sebagai buruh pembuatan bulu mata palsu berisiko mengalami MSDs karena proses pembuatan produksi dilakukan secara manual. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berisiko menyebabkan MSDs pada buruh pabrik bulu mata palsu di PT Hyup Sung Indonesia. Metodologi: Penelitian bersifat observasional analitik dengan desain cross sectional study pada 84 buruh pabrik bulu mata palsu bagian produksi PT Hyup Sung Indonesia, yang dipilih secara consecutive sampling. Variabel terikat adalah MSDs dan variabel bebas meliputi faktor individu (usia, jenis kelamin, kebiasaan olahraga, merokok, IMT, gangguan mental) dan faktor pekerjaan (postur kerja, masa kerja, durasi kerja). Pengumpulan data menggunakan kuesioner karakteristik responden, Nordic Body Map, REBA, PSS-10, microtoise, dan timbangan. Pengolahan data menggunakan uji statistik Univariat dan Uji Bivariat Spearman. Hasil: Hasil uji univariat dari 84 responden diperoleh 35,7% mengalami MSDs risiko rendah dan 64,3% MSDs risiko sedang-tinggi. Hasil uji bivariat Spearman menunjukkan postur kerja (p=0.001) dan masa kerja (p=0.018) memiliki hubungan signifikan dengan MSDs. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara postur kerja dan masa kerja dengan MSDs. Oleh karena itu, pekerja disarankan untuk mengatur waktu istirahat dan melakukan peregangan otot, sementara perusahaan perlu memperbaiki desain stasiun kerja.
Kata Kunci: Musculoskeletal Disorders (MSDs), Buruh Pabrik Bulu Mata Palsu, Faktor Risiko, Postur Kerja, Masa Kerja.
Background: Musculoskeletal Disorders (MSDs) are injuries affecting the musculoskeletal system. MSDs are influenced by individual factors, occupational factors, and environmental factors. In Indonesian, a study involving 9,482 workers found that 16% experienced MSDs. Artificial eyelash workers are risk of MSDs due to manual handling processes and repetitive movements in the production process. Objective: This study aimed to identify risk factors associated with MSDs in artificial eyelash workers at PT Hyup Sung Indonesian. Methods: This study was an analytical observational study with a cross sectional design involving 84 production workers at the artificial eyelash of PT Hyup Sung Indonesian selected through consecutive sampling. The dependent variable was MSDs and the independent variables included individual factors (age, gender, exercise, smoking, BMI, mental disorders) and occupational factors (work posture, length of employment, work duration). Data were collected using questionnaires, Nordic Body Map, REBA, PSS-10, and anthropometric measurements. Data were analyzed using univariate analysis and Spearman bivariate analysis. Results: Of the 84 respondents, 35,7% workers low risk and 64,3% workers moderate to high risk MSDs. Work posture (p=0.001) and length of employment (p=0.018) are significant association with MSDs. Conclusion: It was a significant association between work posture and length of employment with MSDs. Therefore, workers are advise to manage rest periods and muscle stretching during work, while the company should improve the design of workstations.
Keywords: Musculoskeletal Disorders, Artificial Eyelash Workers, Risk Factors, Work Posture, Length of Employment.
4841151816G1A022032PENGARUH DURASI PEMBERIAN DIET TINGGI LEMAK TERHADAP KADAR SGOT DAN SGPT PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus)
Latar belakang: Pola konsumsi masyarakat mengalami pergeseran menuju konsumsi olahan tinggi lemak. Konsumsi makanan tinggi lemak berkepanjangan dapat berujung pada kondisi penumpukan lemak di hepar. SGOT dan SGPT merupakan pemeriksaan penunjang yang digunakan dalam menilai kerusakan hepar. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh durasi pemberian diet tinggi lemak terhadap kadar SGOT dan SGPT pada tikus putih (Rattus norvegicus). Metode: Penelitian observasional analitik menggunakan data sekunder dengan desain ex post facto. Tiga puluh dua ekor tikus dibagi dalam dua kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol dan kelompok induksi diet tinggi lemak. Kadar SGOT dan SGPT kelompok induksi diet tinggi lemak diukur secara serial minggu ke 4, 6, dan 8. Pemeriksaan menggunakan metode enzimatik kinetik. Analisis data menggunakan uji Friedman sebab data tidak terdistribusi normal. Hasil: Rerata SGOT kelompok kontrol 112,07 ± 19,85 U/L; minggu ke-4 155,88 ± 16,54 U/L; minggu ke-6 166,91 ± 32,51 U/L; dan minggu ke-8 178,04 ± 46,25 U/L. Rerata kadar SGPT kelompok kontrol 41,21 ± 6,24 U/L; minggu ke-4 53,84 ± 17,80 U/L; minggu ke-6 69,90 ± 18,13 U/L; dan minggu ke-8 72,11 ± 50,92 U/L. Hasil analisis bivariat dengan uji Friedman menunjukkan terdapat pengaruh bermakna durasi pemberian diet tinggi lemak terhadap kadar SGOT (p=0,000) dan SGPT (p=0,001). Peningkatan bermakna kadar SGOT dimulai pada minggu ke-4 (p=0,000), sedangkan peningkatan bermakna kadar SGPT dimulai pada minggu ke-6 (p=0,037). Kesimpulan: Terdapat pengaruh durasi pemberian diet tinggi lemak terhadap kadar SGOT dan SGPT tikus putih (Rattus norvegicus) yang ditandai peningkatan gradual rerata kedua enzim tersebut. Background: Dietary patterns had shifted toward increased consumption of high-fat processed foods. Prolonged consumption of high-fat foods could lead to obesity, which resulted in fat accumulation in the liver. SGOT and SGPT were supportive examinations used to assess liver damage. This study aimed to analyze the effect of the duration of a high-fat diet on SGOT and SGPT levels in white rats (Rattus norvegicus). Methods: This was an observational analytic study using secondary data with an ex post facto design. Thirty-two rats were divided into two treatment groups: a control group and a high-fat diet–induced group. SGOT and SGPT levels in the high-fat diet induced group were measured serially at weeks 4, 6, and 8. The examinations were performed using the enzymatic kinetic method. Data analysis was conducted using the Friedman test because the data were not normally distributed. Results: The mean SGOT levels of the control group are 112,07 ± 19,85 U/L; at week 4 are 155,88 ± 16,54 U/L; at week 6 are 166,91 ± 32,51 U/L; and at week 8 are 178,04 ± 46,25 U/L. The mean SGPT levels of the control group are 41,21 ± 6,24 U/L; at week 4 are 53,84 ± 17,80 U/L; at week 6 are 69,90 ± 18.13 U/L; and at week 8 are 72,11 ± 50,92 U/L. Bivariate analysis using the Friedman test shows a significant effect of the duration of high-fat diet on SGOT levels (p=0,000) and SGPT levels (p=0,001). A significant increase in SGOT levels begins at week 4 (p=0,000), whereas a significant increase in SGPT levels begins at week 6 (p=0,037). Conclusions: There is an effect of the duration of high-fat diet administration on SGOT and SGPT levels in white rats (Rattus norvegicus), as indicated by an increase in the mean levels of both enzymes.
4841251813F1A022146Representasi Ketidakadilan Gender pada Perempuan dalam Novel Racun Puan karya Ni Nyoman Ayu Suciartini (2023)Ketidakadilan gender pada perempuan hingga saat ini masih sering terjadi, baik di ranah privat maupun ranah publik. Perempuan mengalami berbagai bentuk ketidakadilan gender, seperti marginalisasi, subordinasi, stereotipe, beban kerja, dan kekerasan. Kondisi ini tak jarang diangkat dalam karya sastra seperti novel, salah satunya adalah novel Racun Puan karya Ni Nyoman Ayu Suciartini yang terbit pada tahun 2023. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan representasi perempuan dan berbagai bentuk ketidakadilan gender pada perempuan dalam novel Racun Puan yang berlatar kultur Bali. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif-interpretatif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian menggambarkan posisi perempuan dalam masyarakat Bali yang masih terikat budaya patriarki, sistem kekerabatan patrilineal, dan sistem kasta yang menuntut perempuan untuk tunduk pada laki-laki. Dalam novel tersebut digambarkan bahwa perempuan mengalami marginalisasi karena tidak boleh menempuh pendidikan tinggi; mengalami subordinasi karena kedudukan perempuan dianggap tidak penting, selalu di bawah kekuasaan laki-laki, dituntut untuk selalu menerima dan patuh pada laki-laki, sehingga tidak memiliki kebebasan atas dirinya sendiri; perempuan mengalami stereotipe karena dianggap membawa kesialan apabila menodai nama serta kehormatan keluarga; perempuan yang bekerja mengalami beban ganda karena dituntut harus melakukan semua pekerjaan domestik, melayani suami, mengurus anak; perempuan menjadi korban kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan kekerasan simbolik melalui nilai dan budaya masyarakat Bali yang membatasi ruang gerak perempuan. Kondisi tersebut menyebabkan perempuan mengalami ketidakadilan gender berlapis dalam keluarga. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya untuk dapat mengkaji novel ini melalui perspektif yang baru dengan pendekatan teori maupun metode analisis yang berbeda.Gender inequality against women continues to occur in both the private and public spheres. Women experience various forms of gender inequality, including marginalization, subordination, stereotyping, double burden, and violence. These conditions are frequently portrayed in literary works such as the novel Racun Puan by Ni Nyoman Ayu Suciartini (2023). This study aims to explain the representation of women and the various forms of gender inequality they experience in the novel Racun Puan, which is set within the cultural context of Bali. The research employs a qualitative-interpretative method using Roland Barthes’ semiotic approach. The findings illustrate the position of women in Balinese society as being strongly bound by patriarchal culture, a patrilineal kinship system, and a caste system that requires women to submit to men. In the novel, women are portrayed as experiencing marginalization due to restrictions on pursuing higher education; subordination, as women’s positions are considered insignificant and always placed under male authority, requiring them to be obedient and compliant, thus depriving them of autonomy; stereotyping, as women are perceived as bringing misfortune when they tarnish the family’s name and honor; and a double burden for working women, who are expected to complete all domestic tasks, serve their husbands, and care for their children. Women also become victims of physical, psychological, and symbolic violence through social values and cultural norms that restrict their mobility. These conditions result in layered gender inequality experienced by women within the family sphere. This research is expected to serve as a reference for future scholars to examine the novel from new perspectives using different theoretical approaches or analytical methods.
4841351814E1A022002Penerapan Restorative Justice Dalam Penanganan Perkara Penggelapan (Studi Kasus di Polresta Banyumas dan Kejaksaan Negeri Purwokerto)Restorative justice merupakan pendekatan penyelesaian perkara pidana yang menekankan pemulihan kerugian korban, tanggung jawab pelaku, serta penyelesaian konflik secara dialogis di luar proses peradilan formal. Dalam praktik penegakan hukum di Indonesia, penerapan restorative justice telah diakomodasi melalui berbagai regulasi internal lembaga penegak hukum, khususnya Kepolisian dan Kejaksaan. Namun demikian, perbedaan pengaturan dan kewenangan antar lembaga berpotensi menimbulkan ketidaksinkronan dalam penerapannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan restorative justice dalam penanganan perkara penggelapan di Polresta Banyumas dan Kejaksaan Negeri Purwokerto serta mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dihadapi dalam praktik. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris dengan pendekatan deskriptif analitis, melalui studi kepustakaan dan wawancara dengan aparat penegak hukum terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan restorative justice di tingkat Kepolisian dilakukan melalui mekanisme mediasi penal pada tahap penyidikan berdasarkan Peraturan Kepolisian Nomor 8 Tahun 2021, sedangkan di tingkat Kejaksaan melalaui penghentian penuntutan berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020. Hambatan penerapan restorative justice dipengaruhi oleh faktor substansi hukum berupa perbedaan pengaturan, struktur hukum berupa koordinasi aparat penegak hukum, serta budaya hukum yang masih berorientasi pada pemidanaan. Dengan demikian, hambatan penerapan restorative justice dalam perkara penggelapan tidak hanya bersumber dari aspek normatif dan praktik penegakan hukum.Restorative justice is an approach to resolving criminal cases that emphasizes restoring the victim's losses, the perpetrator's responsibility, and resolving conflicts through dialogue outside of the formal judicial process. In the practice of law enforcement in Indonesia, the application of restorative justice has been accommodated through various internal regulations of law enforcement agencies, particularly the police and the prosecutor's office. However, differences in regulations and authority between agencies have the potential to cause inconsistencies in its application. This study aims to analyze the application of restorative justice in handling embezzlement cases at the Banyumas Police Headquarters and the Purwokerto District Attorney's Office and to identify the obstacles encountered in practice. The research method used is empirical juridical with a descriptive analytical approach, through literature study and interviews with relevant law enforcement officials The results of the study show that the application of restorative justice at the police level is carried out through a penal mediation mechanism at the investigation stage based on Police Regulation Number 8 of 2021, while at the prosecutor's office level it is carried out through the termination of prosecution based on Attorney General Regulation Number 15 of 2020. Barriers to the implementation of restorative justice are influenced by substantive legal factors such as differences in regulations, legal structures such as coordination between law enforcement agencies, and a legal culture that is still oriented towards punishment. Thus, barriers to the implementation of restorative justice in embezzlement cases do not only stem from normative aspects and law enforcement practices.
4841451817C1H022016THE INFLUENCE OF SOCIAL ATTRACTIVENESS, TRUSTWORTHINESS, AND PERCEIVED SIMILARITY ON PURCHASE INTENTION WITH THE MEDIATING VARIABLE OF PARASOCIAL INTERACTION IN THE STUDY OF FADIL JAIDI'S FOLLOWERSPenelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menganalisis pengaruh Daya Tarik Sosial, Persepsi Kesamaan, dan Kepercayaan terhadap Niat Beli dengan Interaksi Parasosial sebagai variabel mediasi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan inkonsistensi temuan penelitian sebelumnya mengenai karakteristik pengaruh terhadap niat beli dan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang mekanisme psikologis yang mendorong niat beli konsumen dalam pemasaran digital. Secara spesifik, penelitian ini menguji bagaimana persepsi pengikut terhadap daya tarik, kesamaan, dan kredibilitas reviewer memengaruhi niat beli mereka melalui pembentukan interaksi parasosial. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan studi kasus pada pengikut aktif Instagram dari seorang reviewer Indonesia terkenal, Fadil Jadi. Data dikumpulkan dari 203 responden menggunakan teknik purposive sampling dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan AMOS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi kesamaan dan kepercayaan memiliki pengaruh positif terhadap interaksi parasosial. Lebih lanjut, interaksi parasosial memiliki pengaruh positif terhadap niat beli. Temuan ini juga menunjukkan bahwa interaksi parasosial memediasi hubungan antara persepsi kesamaan dan kepercayaan terhadap niat pembelian. Interaksi parasosial tidak memediasi pengaruh daya tarik sosial terhadap niat pembelian, dan daya tarik sosial tidak memengaruhi niat pembelian. Temuan ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana koneksi psikologis antara pemberi ulasan dan pengikut memainkan peran penting dalam membentuk niat pembelian konsumen di platform media sosial.This study is quantitative research that analyzes the influence of Social Attractiveness, Perceived Similarity, and Trustworthiness on Purchase Intention with Parasocial Interaction as a mediating variable. This study aims to explain the inconsistency of previous research findings regarding the influence characteristics on purchase intention and to provide a deeper understanding of the psychological mechanisms that drive consumer purchase intention in the marketing digital. pecifically, this study exammes how followers’ perceptions of reviewer sock tractiveness, similarity, and credibility influence their purchase intention throug the formation of parasocial interaction. The study was conducted using a case study approach on active Instagram followers of a well-known Indonesiar reviewer, Fadil Jadi. Data were collected from 203 respondents using a purposive sampling technique and analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) with AMOS. The results show that perceived similarity and trustworthiness have a positive effect on parasocial interaction. Furthermore, parasocial interaction has a positive effect on purchase intention. The findings also indicate that parasocial interaction mediates the relationship between perceived similarity, and trustworthiness on purchase intention, Parasocial Interaction does not mediate the effect of Social Attractiveness on Purchase Intention and Social Attractiveness does not affect on purchase intention. These findings provide important insights into how psychological connections between reviewer and followers play a crucial role in shaping consumer purchase intention on social media platforms.
4841551818I1C022084Aktivitas Antiartritis Ekstrak Etanol Rimpang Bangle Hantu Berdasarkan Parameter Volume Udem dan Diferensiasi Leukosit pada Tikus yang Diinduksi Complete Freund's AdjuvantArtritis merupakan penyakit inflamasi kronis pada sendi yang menurunkan fungsi dan kualitas hidup. Perkembangan fitoterapi mendukung pemanfaatan tanaman obat sebagai terapi komplementer antiartritis. Bangle hantu (Zingiber ottensii) diketahui mengandung flavonoid dan terpenoid dengan aktivitas antiinflamasi. Namun kajian in vivo sebagai agen antiartritis masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antiartritis ekstrak etanol Z. ottensii pada tikus yang diinduksi Complete Freund’s Adjuvant (CFA) melalui pengukuran volume udem dan diferensiasi leukosit. Tikus putih jantan galur wistar dibagi menjadi 6 kelompok perlakuan yaitu, normal, kontrol negatif, kontrol positif, serta ZOE 125, 250, dan 500 mg/kgBB secara PO dan diinduksi CFA 1 mg/mL sebanyak 0,1 mL secara subplantar. Pengamatan untuk volume udem menggunakan pletismometer yang dilakukan pada hari ke-3, 6, 9,12, 15, 18, 21, dan 24 kemudian dihitung nilai Area Under Curve (AUC) yang merepresentasikan hubungan antara persentase kenaikan udem (%KVU) dan waktu. Analisis diferensiasi leukosit meliputi persentase limfosit, neutrofil, eosinofil, basofil dan monosit dilakukan dengan metode ulas darah yang diperoleh melalui vena orbitalis mata pada hari ke-24. ZOE dosis 500 mg/kgBB menghasilkan nilai AUC terendah (1179,04±209,24) dibandingkan kontrol negatif serta menunjukkan kecenderungan profil diferensiasi leukosit pada batas normal, meskipun perbedaan antar kelompok tidak signifikan secara statistik (p > 0,05). Arthritis is a chronic inflammatory disease of the joints that reduces function and quality of life. The development of phytotherapy has encouraged the use of medicinal plants as complementary anti-arthritic therapy. Zingiber ottensii (bangle hantu) is known to contain flavonoids and terpenoids with anti-inflammatory activity. However, in vivo studies evaluating its anti-arthritic potential remain limited. Therefore, this study aimed to evaluate the anti-arthritic activity of the ethanolic extract of Z. ottensii in rats induced with Complete Freund’s Adjuvant (CFA) by assessing paw edema volume and leukocyte differentiation. Male Wistar rats were divided into six groups: normal, negative control, positive control, and ZOE 125, 250, and 500 mg/kg body weight administered orally, followed by subplantar induction of CFA (1 mg/mL, 0.1 mL). Paw edema was measured using a plethysmometer on days 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, and 24, and the Area Under the Curve (AUC) was calculated to represent the relationship between the percentage increase in paw edema (%PEI) and time. Leukocyte differentiation, including lymphocytes, neutrophils, eosinophils, basophils, and monocytes, was analyzed using peripheral blood smears obtained from the orbital vein on day 24. The ZOE dose of 500 mg/kg body weight produced the lowest AUC value (1179.04 ± 209.24) compared to the negative control and showed a trend toward a normal leukocyte differentiation profile, although the differences among groups were not statistically significant (p > 0.05).
4841651819A1D021043Kesesuaian Pertumbuhan Akanthomyces sp. pada Medium Sintetis Serta Aplikasinya Terhadap Penyakit Karat Daun Kopi Menggunakan Formula Cair OrganikBudidaya tanaman kopi mengalami berbagai kendala sehingga menurunnya produksi kopi, salah satunya serangan patogen yang mengakibatkan penyakit karat daun kopi yang disebabkan oleh Hemileia vastarix. Pengendalian yang dilakukan petani menggunakan pengendalian secara kimia akan berdampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya untuk mengatasi masalah tersebut yang lebih ramah lingkungan dengan pengendalian secara hayati menggunakan Akanthomyces sp. dan penggunaan medium perbanyakan organik menjadi alternatif untuk menekan resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan medium terbaik bagi pertumbuhan koloni, mengetahui efektivitas formula cair organik sebagai formulasi perbanyakan, serta menguji aplikasinya dalam pengendalian penyakit karat daun kopi pada fase pembibitan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian dan experimental farm Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Agustus 2024 sampai Juni 2025. Penelitian dilakukan dengan beberapa tahapan, yakni tahap pengujian medium sintetis, tahap pengujian medium formula cair yang digunakan, dan tahap aplikasi formula cair ke tanaman. Data pengamatan diameter Akanthomyces sp. pada medium sintetis dianalisis menggunakan uji T. Data pengujian Akanthomyces sp. terhadap penyakit karat daun kopi dianalisis secara statistik menggunakan sidik ragam (ANOVA) pada taraf 5% dan apabila hasil analisis sidik ragam berbeda nyata, maka dilanjutkan dengan uji Duncans’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf α 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa medium SDA lebih mendukung pertumbuhan Akanthomyces sp. dibandingkan medium PDA. Formula cair organik berupa air kelapa, air cucian beras, dan air limbah tahu dapat digunakan sebagai medium alternatif perbanyakan Akanthomyces sp. dengan air kelapa menghasilkan kerapatan spora tertinggi. Aplikasi Akanthomyces sp. dalam formula cair organik pada konsentrasi 40 mL/L paling efektif dengan efektivitas pengendalian 53,19% dan dapat menekan perkembangan penyakit karat daun dibandingkan dengan perlakuan lainnya.



The cultivation of coffee plants faces numerous constraints leading to a decline in productivity, most notably the prevalence of coffee leaf rust caused by the pathogen Hemileia vastatrix. Conventional chemical control methods employed by farmers often result in detrimental environmental impacts. Consequently, there is a critical need for eco-friendly alternatives, such as biological control utilizing Akanthomyces sp., paired with organic multiplication media to mitigate resistance. This study aims to identify the optimal medium for colony growth, evaluate the efficacy of organic liquid formulas as propagation media, and assess their application in controlling coffee leaf rust during the nursery phase.The research was conducted at the Plant Protection Laboratory, Faculty of Agriculture, and the experimental farm of Universitas Jenderal Soedirman from August 2024 to June 2025. The methodology progressed through several stages: testing synthetic media, evaluating the liquid formula media, and applying the liquid formula to the plants. Observation data regarding the diameter of Akanthomyces sp. on synthetic media were analyzed using a T-test. Data concerning the efficacy of Akanthomyces sp. against coffee leaf rust were statistically analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at α 5% significance level; significant results were further scrutinized using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at α 5%.The results indicate that Sabouraud Dextrose Agar (SDA) supports the growth of Akanthomyces sp. more effectively than Potato Dextrose Agar (PDA). Organic liquid formulas—specifically coconut water, rice-washed water, and tofu wastewater—serve as viable alternative media for propagation, with coconut water yielding the highest spore density. The application of Akanthomyces sp. in an organic liquid formula at a concentration of 40 mL/L proved most effective, achieving a control efficacy of 53.19% and significantly suppressing the progression of leaf rust compared to other treatments.
4841751748F1A021051Analisis Isi Anak sebagai Pelaku Kekerasan Seksual pada Portal Berita Kompas.com Tahun 2021-2024Kekerasan seksual adalah tindakan yang bertujuan untuk melakukan aktivitas seksual secara paksa terhadap orang lain. Pelaku kekerasan seksual dapat dilakukan oleh berbagai kalangan, termasuk oleh anak-anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karakteristik anak sebagai pelaku kekerasan seksual, karakteristik korban, serta karakteristik peristiwa kasus kekerasan seksual oleh pelaku anak dalam pemberitaan Kompas.com tahun 2021-2024. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan model analisis isi. Secara total sampling, populasi yang telah terkumpul sebanyak 75 berita. Unit analisis dan objek penelitian ini adalah isi berita kekerasan seksual oleh pelaku anak dalam media Kompas.com tahun 2021-2024. Metode analisis data yang digunakan ialah analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan, pelaku didominasi oleh laki-laki yang berusia 13-17 tahun, berstatus pendidikan SMA/sederajat, kebanyakan memiliki latar belakang sosial kecanduan pornografi, serta kebanyakan dilakukan secara individu. Korban tertinggi dialami oleh perempuan yang berusia 6-12 tahun, kebanyakan menempuh pendidikan SD/sederajat, latar belakang sosial korban sebagian besar tidak disebutkan dalam pemberitaan, hanya diketahui 3 korban sebagai anak yatim dan atau piatu, serta 2 korban pernah menjadi korban kekerasan seksual. Bentuk kekerasan seksual terbanyak adalah pemerkosaan, kebanyakan pelaku merupakan teman korban, lokasi terbanyak di tempat umum dan tempat lainnya, serta modus digunakan pelaku kebanyakan ialah dengan mengajak jalan-jalan/bermain.Sexual violence is an act that aims to force sexual activity on another person. Perpetrators of sexual violence can come from various backgrounds, including children. The purpose of this study is to describe the characteristics of children as perpetrators of sexual violence, the characteristics of victims, and the characteristics of cases of sexual violence by child perpetrators in Kompas.com news reports from 2021 to 2024. The research method used was quantitative descriptive with a content analysis model. Using total sampling, a total of 75 news articles were collected. The unit of analysis and object of this study was the content of news articles on sexual violence by child perpetrators in Kompas.com from 2021 to 2024. The data analysis method used was descriptive statistical analysis. The results of the study show that the perpetrators were predominantly male, aged 13-17 years old, with a high school education or equivalent, mostly with a social background of pornography addiction, and mostly committed individually. The highest number of victims were girls aged 6-12 years old, mostly with an elementary school education or equivalent. The social background of the victims was mostly not mentioned in the news reports, with only 3 victims known to be orphans and/or abandoned children, and 2 victims who had previously been victims of sexual violence. The most common form of sexual violence was rape, with most perpetrators being friends of the victims, and the most common locations being public places and other places.
4841851771A1C021091ANALISIS ZONASI AGROKLIMAT METODE OLDEMAN PADA POLA TANAM PADI DI PULAU JAWA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFISPerubahan iklim menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian karena meningkatkan ketidakpastian pola musim dan curah hujan, yang berdampak langsung pada ketersediaan air, stabilitas musim tanam, serangan organisme pengganggu tanaman, serta penurunan produktivitas padi, khususnya di Pulau Jawa. Kondisi agroklimat yang semakin fluktuatif menuntut penyesuaian pola tanam yang berbasis informasi iklim yang akurat, karena ketidaktepatan penentuan awal musim tanam dapat meningkatkan risiko gagal panen dan kerugian ekonomi petani. Zonasi agroklimat menjadi pendekatan adaptif yang penting, karena mampu memetakan karakteristik bulan basah dan kering sebagai dasar perencanaan tanam, meskipun ketersediaan informasi zonasi agroklimat yang detail di Pulau Jawa masih terbatas dan umumnya bergantung pada data stasiun iklim. Penelitian ini bertujuan menyusun zonasi agroklimat Metode Oldeman di Pulau Jawa berbasis data curah hujan CHIRPS periode 1995-2024 dengan dukungan Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian ini merupakan deskriptif-spasial dan kuantitatif, dengan pendekatan pemetaan zonasi agroklimat menggunakan metode klasifikasi Oldeman berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) di Pulau Jawa. Variabel yang diukur meliputi curah hujan bulanan, klasifikasi zona agroklimat Oldeman, pola tanam padi, kebutuhan air terhadap pola tanam padi. Hasil klasifikasi zona Oldeman ditampilkan secara visual dengan shapefile, grafik, tabel, dan pengukuran Metode Hargreaves untuk menganalisis evapotranspirasi.
Hasil menunjukkan bahwa zonasi agroklimat Pulau Jawa berhasil diklasifikasikan menggunakan Metode Oldeman berbasis data curah hujan CHIRPS periode 1995-2024 terbagi menjadi A1, B1, B2, B3, C1, C2, C3, D2, D3, E3. Hasil pemetaan menunjukkan gradasi iklim yang jelas dari zona basah (A-B) di wilayah barat dan selatan Pulau Jawa, zona sedang (C) di bagian tengah, hingga zona kering (D-E) di wilayah timur. Pola zonasi ini berimplikasi langsung terhadap potensi pola tanam padi, di mana zona basah mendukung intensifikasi tanam hingga dua-tiga kali per tahun, sementara zona sedang hingga kering menghadapi keterbatasan pasokan air sehingga lebih sesuai untuk rotasi tanaman dan memerlukan penyesuaian kalender tanam. Integrasi analisis curah hujan dan evapotranspirasi referensi (ET₀) menunjukkan bahwa periode layak tanam padi secara klimatologis di Pulau Jawa terutama berlangsung pada bulan dengan kondisi curah hujan melebihi ET₀, yaitu November hingga Maret, sedangkan pada periode kering diperlukan pengelolaan air dan strategi adaptasi yang lebih intensif untuk menjaga keberlanjutan produksi padi.
Climate change has become a serious threat to the agricultural sector as it increases uncertainty in seasonal patterns and rainfall variability, which directly affects water availability, cropping season stability, pest and disease outbreaks, and rice productivity, particularly on Java Island. Increasingly fluctuating agroclimatic conditions require adjustments in cropping patterns based on accurate climate information, as inaccurate determination of planting onset can increase the risk of crop failure and economic losses for farmers. Agroclimatic zoning represents an important adaptive approach because it maps the characteristics of wet and dry months as a basis for planting planning. However, detailed agroclimatic zoning information for Java Island remains limited and is generally dependent on climate station data. Therefore, this study aims to develop agroclimatic zoning using the Oldeman method on Java Island based on CHIRPS rainfall data for the period 1995-2024, supported by Geographic Information Systems (GIS). This study adopts a descriptive-spatial and quantitative approach by applying the Oldeman agroclimatic classification method using GIS on Java Island. The results of the Oldeman classification are presented visually through shapefiles, graphs, and tables, while evapotranspiration is estimated using the Hargreaves method.
The results indicate that the agroclimatic zoning of Java Island based on the Oldeman method using CHIRPS rainfall data (1995-2024) is classified into A1, B1, B2, B3, C1, C2, C3, D2, D3, and E3 zones. The spatial analysis reveals a clear climatic gradient from wet zones (A-B) in the western and southern parts of Java Island, to moderate zones (C) in the central region, and dry zones (D-E) in the eastern region. This zonation has direct implications for the potential rice cropping pattern, where wet zones support planting intensification of up to two to three rice crops per year, while moderate to dry zones face water supply limitations and are therefore more suitable for crop rotation and require adjustments to planting calendars. Furthermore, the integration of rainfall and reference evapotranspiration (ET₀) analysis shows that climatologically suitable rice planting periods on Java Island primarily occur during months when rainfall exceeds ET₀, namely from November to March. During the dry period, improved water management and more intensive adaptation strategies are required to maintain sustainable rice production.
4841951820I1C022048Penetapan Kadar Flavonoid Total dan Uji Antiinflamasi Fraksi Etil Asetat Rimpang Zingiber ottensii terhadap Sel RAW 264.7Inflamasi merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi atau kerusakan jaringan, tetapi respon yang tidak terkendali dapat memicu penyakit kronis seperti artritis dan autoimun. Rimpang bangle hantu (Zingiber ottensii) mengandung flavonoid seperti kaempferol yang berpotensi sebagai antiinflamasi, tetapi kajian mengenai efektivitas fraksi etil asetatnya pada tingkat seluler masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menentukan kandungan total flavonoid serta mengevaluasi aktivitas antiinflamasi fraksi etil asetat rimpang Z. ottensii terhadap sel RAW 264.7 yang diinduksi LPS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ZOF-EA memiliki kandungan total flavonoid sebesar 39,204 ± 1,83 mgQE/g. Seluruh konsentrasi uji ZOF-EA menunjukkan persentase viabilitas sel di atas 80%, sehingga tidak bersifat toksik terhadap sel RAW 264.7. ZOF-EA menunjukkan aktivitas antiinflamasi paling efektif pada konsentrasi 62,5 µg/mL dengan kemampuan menurunkan produksi NO pada sel yang diinduksi LPS. Hasil ini mengindikasikan bahwa fraksi etil asetat rimpang Z. ottensii berpotensi dikembangkan sebagai terapi komplementer antiinflamasi berbasis bahan alam.Inflammation is biological response of the immune system against infection or tissue damage; however, uncontrolled responses can trigger chronic diseases such as arthritis and autoimmunity. Bangle hantu rhizome (Zingiber ottensii) contains flavonoids, such as kaempferol, which have anti-inflammatory potential, yet studies regarding the cellular-level effectiveness of its ethyl acetate fraction remain limited. This study aims to determine the total flavonoid content of the Z. ottensii rhizome ethyl acetate fraction and evaluate its anti-inflammatory activity against LPS-induced RAW 264.7 cells. The results demonstrated that ZOF-EA contained a total flavonoid level of 39.204 ± 1.83 mgQE/g. All tested concentrations exhibited cell viabilities above 80%, indicating no cytotoxic effects on RAW 264.7 cells. ZOF-EA exhibited the most effective anti-inflammatory activity at a concentration of 62.5 µg/mL, as evidenced by a significant reduction in NO production in LPS-stimulated cells. These findings suggest that the ethyl acetate fraction of Z. ottensii rhizome has potential as a for natural complementary anti-inflammatory therapy.
4842051821E1A022153ANALISIS PENERAPAN PRINSIP FIRST TO FILE DAN IKTIKAD TIDAK BAIK DALAM SENGKETA PEMBATALAN MEREK BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS (Studi Putusan Nomor 8/Pdt.Sus-HKI/Merek/2025/Pn Niaga Jkt Pst)Merek adalah bagian dari Hak Kekayaan Intelektual yang berfungsi sebagai tanda pembeda yang menunjukkan asal-usul dan jaminan kualitas suatu produk serta sebagai sarana promosi. Hak atas merek diperoleh ketika merek telah didaftarkan (prinsip first to file). Pembatalan merek penting untuk menjaga kepastian hukum prinsip first to file yang memastikan bahwa hak hanya diberikan pada pendaftaran yang sah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis dalam Putusan Nomor 8/Pdt.Sus-HKI/Merek/2025/PN Niaga Jkt Pst.
Penelitian menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Sumber data yang digunakan berupa data sekunder. Metode pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan yang disajikan dalam bentuk teks naratif serta menggunakan metode analisis data kualitatif.
Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa penerapan prinsip first to file terlihat melalui penerimaan pendaftaran merek Penggugat maupun Tergugat yang secara administratif tidak bertentangan dengan sistem pendaftaran karena perlindungan merek diperbolehkan untuk kelas barang berbeda. Merek “SENSATIA dan SENSATIA BOTANICALS” milik Penggugat dikategorikan sebagai merek terkenal sehingga reputasi merek Penggugat perlu dilindungi. Pendaftaran merek milik Tergugat pada awalnya secara administratif diterima kemudian dinilai tidak memenuhi syarat untuk memperoleh hak atas dasar adanya persamaan pada pokoknya dengan merek terkenal milik Penggugat dan pendaftaran dengan iktikad tidak baik. Unsur iktikad tidak baik mengakibatkan pembatalan merek yang menghapus hak atas merek milikTergugat dan pencoretan merek dari Daftar Umum Merek.
Trademark is part of Intellectual Property Rights that function as a distinguishing mark indicating the origin and quality assurance of a product, as well as a means of promotions. Trademark rights are obtained when the trademark has been registered (first to file principle). Trademark cancellation is important to mantain the legal certainty of the first to file principle, which ensures that rights are only granted to valid registrations in accordance based on Law Number 20 of 2016 concerning Trademarks and Geographical Indications in Decisions Number 8/Pdt.Sus-HKI/Merek/2025/PN Niaga Jkt Pst.
The research uses a normative juridical approach with descriptive analytical research spesifications. The data sources used are secondary data. The data collection method was conducted through a literature study, which was presented in narrative form and using qualitative data analysis methods.
The results of the research and discussion show that the application of the first to file principle is evident through the acceptance of the plaintiff’s and Deffendant’s trademark registration, which are not administratively contrary to the registration system because trademark protection is permitted for different classes of goods. “SENSATIA and SENSATIA BOTANICALS” owned by the plaintiff is categorized as a well know trademark. Therefore, the reputation of the Plaintiff’s trademark needs to be protected. The Defendant’s trademark registration was initially accepted administratively but was later deemed ineligible for rights due to its similarity to the plaintiff’s well-known trademark and registration in bad faith. The element of bad faith resulted in the cancellation of the trademark, which revoked the Defendant’s rights to the trademark and removed the trademark from the General Trademark Register.