Artikel Ilmiah : P2D022002 a.n. DHIKA SULISTIYO
| NIM | P2D022002 |
|---|---|
| Namamhs | DHIKA SULISTIYO |
| Judul Artikel | STRATEGI PENGEMBANGAN AGROWISATA TEH (Studi Kasus pada Agrowisata Kaligua di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Pengembangan pariwisata berbasis pertanian atau sektor agrowisata di Indonesia merupakan pengembangan suatu sektor yang menjanjikan. Dewasa ini banyak sekali usaha tani yang dipadukan dengan konsep wisata atau banyak dikenal dengan agrowisata. Agrowisata tidak hanya memberikan manfaat ekonomi dari sektor jasa wisata, tetapi juga dari penjualan komoditas pertanian, penciptaan lapangan kerja, pengurangan urbanisasi, serta pelestarian sumber daya alam dan kearifan lokal. Tingkat persaingan bisnis agrowisata teh yang terjadi di Jawa Tengah saat ini cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya agrowisata teh yang berusaha mengembangkan objek wisatanya dengan sebaik mungkin untuk menarik minat pengunjung sebanyak -banyaknya seperti Agrowisata Teh Tambi Kab, Wonosobo, Agrowisata Teh Kemuning Kab. Karanganyar,Agrowisata Teh Pagilaran Kab. Batang hingga Agrowisata Teh Kaligua Kab. Brebes. Dalam konteks persaingan agrowisata teh di Jawa Tengah, Agrowisata Kaligua di Kabupaten Brebes menjadi salah satu destinasi yang memiliki potensi besar karena mengintegrasikan wisata alam perkebunan teh, edukasi pengolahan teh, wisata sejarah, rekreasi keluarga, outbound, olahraga, penginapan, serta layanan pendukung dalam satu kawasan dengan harga tiket yang terjangkau. Data jumlah kunjungan dan pendapatan periode 2014–2021 menunjukkan pola fluktuatif, dengan puncak kunjungan pada tahun 2016, sementara hasil survei pendahuluan menunjukkan bahwa wisatawan masih didominasi pengunjung lokal berusia kurang dari 35 tahun. Meskipun memiliki keunggulan dari sisi kelengkapan atraksi dan keterjangkauan biaya, Agrowisata Kaligua masih menghadapi berbagai kendala, antara lain akses jalan yang cukup terjal, keterbatasan lahan parkir khususnya saat musim liburan tiba, rendahnya kualitas jaringan internet, variasi wahana yang masih belum optimal, serta belum maksimalnya pengembangan agrowisata berbasis masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui desain strategi prioritas yang tepat untuk pengembangan agrowisata kaligua. Penelitian ini menggunakan Medel peneltiain studi kasus dengan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengkaji secara mendalam strategi pengembangan Agrowisata Teh Kaligua di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. dan pemilihan lokasi tersebut dilakukan secara sengaja (purposive). Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling, melibatkan 28 wisatawan yang pernah berkunjung dalam satu tahun terakhir serta para stakeholder kunci yang terdiri dari unsur pemerintah desa, masyarakat (petani dan pedagang), dan pihak pengelola agrowisata. Data yang digunakan meliputi data primer yang diperoleh melalui observasi langsung, kuesioner, wawancara mendalam semi-terstruktur, dan dokumentasi, serta data sekunder yang bersumber dari instansi terkait, literatur, dan dokumen pendukung. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Analisis SWOT, Matriks IFE (Internal Factor Evaluation), Matriks EFE (External Factor Evaluation), Matriks IE (Internal External), serta Matriks SWOT. Data kualitatif dianalisis menggunakan analisis deskriptif, selanjutnya data kualitatif dianalisis menggunakan sotfware Nvivo 12 dengan menggunakan fitur word cloud, hierarchy chart, dan world frequency results Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik wisatawan agrowisata teh kaligua adalah wisatawan yang didominasi oleh laki-laki berusia muda (17–25 tahun), berpendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), berasal dari luar kota, serta memiliki tingkat loyalitas yang tinggi. Analisis SWOT menghasilkan 20 alternatif strategi yang mencakup strategi SO, WO, ST, dan WT, dengan fokus pada pemanfaatan potensi alam dan budaya, penguatan promosi digital, pengembangan UMKM, diversifikasi paket wisata, perbaikan infrastruktur dan aksesibilitas, serta pembinaan masyarakat. Penelitian ini menghasilkan 5 (lima) strategi prioritas untuk pengembangan agrowisata kaligua berdasarkan kolaborasi antara analisis SWOT dengan word cloud NVivo yang diintegrasikan melalui Model Ikat Sapu Lidi (ISL Model), yaitu : (1) Mengadakan Calendar of Event (CoE), (2) Melakukan Promosi pariwisata yang masif, (3) Menambah fasilitas penunjang, (4) Memperbaiki serta merawat infrastruktur amenitas agrowisata kaligua, dan (5) Meningkatkan sosialisasi atau pembinaan masyarakat. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The development of agriculture-based tourism, or agrotourism, in Indonesia represents a promising sector with significant economic and social potential. Currently, many farming activities are integrated with tourism concepts, widely known as agrotourism. Agrotourism not only generates economic benefits from tourism services but also from agricultural commodity sales, job creation, reduction of urbanization, and the preservation of natural resources and local wisdom. The level of competition among tea agrotourism destinations in Central Java is relatively high, as evidenced by the continuous efforts of various tea agrotourism sites to improve their attractions in order to increase visitor numbers, such as Tambi Tea Agrotourism (Wonosobo Regency), Kemuning Tea Agrotourism (Karanganyar Regency), Pagilaran Tea Agrotourism (Batang Regency), and Kaligua Tea Agrotourism (Brebes Regency). In this competitive context, Kaligua Tea Agrotourism in Brebes Regency has considerable potential because it integrates tea plantation landscapes, tea processing education, historical tourism, family recreation, outbound activities, sports facilities, accommodation, and supporting services within a single area at an affordable ticket price. Visitor and revenue data from 2014–2021 show a fluctuating trend, with the highest number of visits occurring in 2016, while preliminary surveys indicate that visitors are still dominated by local tourists under the age of 35. Despite its strengths in attraction diversity and affordability, Kaligua Tea Agrotourism faces several challenges, including steep access roads, limited parking capacity during peak holiday seasons, inadequate internet connectivity, limited variation of tourism facilities, and the underdevelopment of community-based agrotourism. Therefore, this study aims to identify appropriate priority strategy designs for the development of Kaligua Tea Agrotourism. This study employs a case study research design using a descriptive qualitative approach to examine in depth the development strategies of Kaligua Tea Agrotourism located in Pandansari Village, Paguyangan District, Brebes Regency. The research location was selected purposively. Research subjects were determined using purposive sampling, involving 28 tourists who had visited the destination within the past year, as well as key stakeholders consisting of village government representatives, local community members (farmers and traders), and agrotourism management. The data used include primary data obtained through direct observation, questionnaires, semi-structured in-depth interviews, and documentation, as well as secondary data derived from relevant institutions, literature, and supporting documents. Data analysis methods applied in this study include SWOT Analysis, the Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix, External Factor Evaluation (EFE) Matrix, Internal–External (IE) Matrix, and the SWOT Matrix. Qualitative data were analyzed descriptively and further processed using NVivo 12 software, employing features such as word cloud, hierarchy chart, and word frequency results. The results of the study indicate that visitors to Kaligua Tea Agrotourism are predominantly male, young adults aged 17–25 years, educated at the senior high school level, originating from outside the local area, and exhibiting a high level of visitor loyalty. The SWOT analysis produced 20 alternative strategies classified into SO, WO, ST, and WT strategies, focusing on the utilization of natural and cultural potential, strengthening digital promotion, developing micro, small, and medium enterprises (MSMEs), diversifying tourism packages, improving infrastructure and accessibility, and enhancing community empowerment. Furthermore, the integration of SWOT analysis with NVivo word cloud results through the Ikat Sapu Lidi Model (ISL Model) identified five priority development strategies: (1) organizing a Calendar of Events (CoE), (2) implementing intensive tourism promotion, (3) adding supporting tourism facilities, (4) improving and maintaining agrotourism amenity infrastructure, and (5) strengthening community socialization and capacity-building programs. |
| Kata kunci | Agrowisata, Analisis SWOT, NVivo, Pengembangan, Strategi Prioritas |
| Pembimbing 1 | Budi Dharmawan, S.P., M.Si., Ph.D. |
| Pembimbing 2 | Dr. Ir. Djeimy Kusnaman M.Sc. |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2025 |
| Jumlah Halaman | 96 |
| Tgl. Entri | 2026-02-18 11:53:45.721803 |