Artikel Ilmiah : I1B022026 a.n. PUPUT PRIYANTI

Kembali Update Delete

NIMI1B022026
NamamhsPUPUT PRIYANTI
Judul ArtikelGambaran Penyulit Proses Persalinan Pervaginam pada Remaja
Abstrak (Bhs. Indonesia)Latar Belakang : Kehamilan pada usia remaja masih menjadi permasalahan kesehatan reproduksi
yang berisiko tinggi terhadap terjadinya penyulit persalinan. Ketidaksiapan biologis dan psikologis
remaja dapat meningkatkan risiko komplikasi selama proses persalinan pervaginam, yang
berdampak pada keselamatan ibu dan bayi.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif deskriptif. besar sampel
sebanyak 57 ibu usia remaja dengan menggunakan teknik pengambilan sampel menggunakan total
sampling. Analisis data menggunakan Kolmogorov-smirnov. Kuesioner menggunakan lembar
checklist/observasi berdasarkan rekam medis.
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa median usia responden adalah 20 tahun
dengan rentang usia 14–22 tahun. Mayoritas responden merupakan primipara sebanyak (87,7%)
dan sebagian besar berstatus menikah sebanyak (68,4%). Median usia gestasi adalah 37 minggu
dengan rentang 25–42 minggu. Penyulit persalinan pervaginam yang paling banyak ditemukan
adalah ketuban pecah dini (KPD) sebanyak (75,4%) kasus, diikuti oleh lama kala (5,3%) kasus,
partus lama (3,5%) kasus, disproporsi cephalon pelvic (CPD) (14,0%) kasus, dan intrauterine fetal
death (IUFD) (1,8%) kasus. Tidak ditemukan kasus inersia uteri dan distosia bahu (0%).
Kesimpulan : Penyulit persalinan pervaginam pada ibu usia remaja di Banyumas paling banyak
berupa ketuban pecah dini. Temuan ini menunjukkan bahwa ibu usia remaja masih memiliki risiko
tinggi mengalami penyulit persalinan, sehingga diperlukan peningkatan upaya pencegahan,
pemantauan kehamilan, serta edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja.
Abtrak (Bhs. Inggris)Background: Adolescent pregnancy remains a reproductive health problem that
carries a high risk of delivery complications. The biological and psychological
immaturity of adolescents can increase the risk of complications during vaginal
delivery, which may affect the safety of both mother and baby.
Methods: This study used a descriptive quantitative research design. The sample
consisted of 57 adolescent mothers selected using a total sampling technique.
Data were collected using a checklist/observation sheet based on medical
records. Data analysis was performed using the Kolmogorov–Smirnov test.
Result: The results showed that the median age of respondents was 20 years, with
an age range of 14–22 years. The majority of respondents were primiparous
(76.9%) and married (60.0%). The median gestational age was 37 weeks, ranging
from 25 to 42 weeks. The most common complication in vaginal delivery was
premature rupture of membranes (PROM) (75.4%), followed by prolonged stage
of labor (5.3%), prolonged labor (3.5%), cephalopelvic disproportion (CPD)
(14.0%), and intrauterine fetal death (IUFD) (1.8%). No cases of uterine inertia
or shoulder dystocia were found (0%).
Conclusion: The most common complication of vaginal delivery among
adolescent mothers in Banyumas was premature rupture of membranes. These
findings indicate that adolescent mothers remain at high risk of experiencing
delivery complications. Therefore, improved prevention efforts, pregnancy
monitoring, and reproductive health education for adolescents are needed.
Kata kunciKata Kunci : Ketuban pecah dini; penyulit persalinan; persalinan pervaginam; remaja.
Pembimbing 1Nina Setiawati, S.Kep, Ners, M.Kep, Sp.M
Pembimbing 2Aprilia Kartikasari, S.Kep, Ners, M.Kep
Pembimbing 3Agustina Desy Putri Budi Utami, M.Kep
Tahun2026
Jumlah Halaman10
Tgl. Entri2026-02-16 23:39:07.606392
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.