| NIM | B1A021061 |
| Namamhs | LUTFI SHOLIKHATI |
| Judul Artikel | Kajian Etnobotani Tumbuhan Obat untuk Pemulihan Pasca Melahirkan di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Pemanfaatan tumbuhan obat sebagai kearifan lokal telah diwariskan turun-temurun, termasuk untuk perawatan dan pemulihan ibu pasca melahirkan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keanekaragaman dan pemanfaatan tumbuhan obat pasca melahirkan di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik snowball sampling dan wawancara semi-terstruktur, dilengkapi analisis Species Use Value (SUV), Plant Part Value (PPV), dan Fidelity Level (FL). Ditemukan 39 spesies dari 21 famili, dengan daun sebagai bagian yang paling sering digunakan (39,5%) dan mayoritas diperoleh dari budidaya (60,4%). Perebusan menjadi metode pengolahan dominan (33,3%), sedangkan pemanfaatan utama adalah diminum (46,9%). Jenis ramuan yang digunakan meliputi jamu uyup-uyup, jamu beras kencur, jamu kunir asem, sambetan, pilis, pupuk, lulur, pupuh, banyu suruh, dan makanan pelancar ASI. Nilai SUV tertinggi terdapat pada kunyit (Curcuma longa L.) (3,63), FL tertinggi 100%, dan Index Cultural Significance (ICS) tertinggi pada padi (Oryza sativa L.) (62) |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The use of medicinal plants as a form of local wisdom has been passed down through generations, including for postpartum maternal care and recovery. This study aimed to identify the diversity and utilization of medicinal plants for postpartum care in Melung Village, Kedungbanteng Subdistrict, Banyumas Regency. The research employed a survey method with a snowball sampling technique and semi-structured interviews, complemented by analyses of Species Use Value (SUV), Plant Part Value (PPV), and Fidelity Level (FL). The results showed that 39 species from 21 families were recorded, with leaves being the most frequently used plant part (39.5%) and the majority sourced from cultivation (60.4%). Boiling was the dominant processing method (33.3%), while oral consumption was the primary mode of use (46.9%). The types of preparations used included jamu uyup-uyup, jamu beras kencur, jamu kunir asem, sambetan, pilis, pupuk, lulur, pupuh, banyu suruh, and lactation-enhancing foods. The highest SUV was recorded for turmeric (Curcuma longa L.) (3.63), the highest FL was 100%, and the highest Index of Cultural Significance (ICS) was recorded for rice (Oryza sativa L.) (62) |
| Kata kunci | Desa Melung, etnobotani, keanekaragaman, tumbuhan obat |
| Pembimbing 1 | Drs. Sukarsa, M.Si. |
| Pembimbing 2 | Dian Palupi, S.Si., M.Sc. |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2025 |
| Jumlah Halaman | 12 |
| Tgl. Entri | 2025-08-14 10:20:05.297107 |
|---|