Artikelilmiahs

Menampilkan 46.321-46.340 dari 48.733 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4632149706K1B018041IMPLEMENTASI ALGORITMA DYNAMIC PROGRAMMING
PADA PERMASALAHAN INTEGER KNAPSACK (0/1)
(Studi Kasus : Agen J&T Cargo Purwokerto)
Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelesaikan permasalahan integer knapsack 0/1, yaitu suatu permasalahan pemilihan barang dari banyaknya barang yang tersedia dimana masing-masing barang memiliki berat dan keuntungan yang berbeda-beda. Pengiriman barang di jasa pengiriman J&T Cargo Purwokerto merupakan salah satu dari banyaknya permasalahan pemilihan barang. Pengiriman barang di J&T Cargo Purwokerto dilakukan secara bertahap dengan nilai keuntungan yang lebih besar terlebih dahulu, dikarenakan kapasitas muatan pengiriman hanya dapat menampung 700 kg. Agar agen J&T Cargo Purwokerto memperoleh keuntungan yang maksimum maka harus dilakukan pemilihan barang yang akan dikirimkan terlebih dahulu. Pemilihan barang di agen J&T Cargo Purwokerto dapat diselesaikan dengan metode integer knapsack problem 0/1 menggunakan algoritma dynamic programming rekursif maju dengan bantuan software Matlab R2021A. Hasil penelitian menunjukkan pada tanggal 1 Juli 2025 diperoleh keuntungan maksimum Rp3.038.850 dengan berat 700 kg. Tanggal 2 Juli diperoleh keuntungan maksimum Rp4.884.985 dengan berat 700 kg. Tanggal 3 Juli diperoleh keuntungan maksimum Rp7.732.155 dengan berat 699 kg.The purpose of this research is to solve the 0/1 integer knapsack problem, which is a problem of selecting items from a number of available items where each item has different weights and profits. The delivery of items at J&T Cargo Purwokerto is one of many item selection problems. The delivery of items at J&T Cargo Purwokerto is carried out progressively with higher profit values first, due to the delivery capacity being able to accommodate only 700 kg. In order for J&T Cargo Purwokerto to obtain maximum profit, item selection for delivery must be carried out first. The item selection at J&T Cargo Purwokerto can be solved using the 0/1 integer knapsack problem method with a forward recursive dynamic programming algorithm with the help of Matlab R2021A software. The results of the research indicate that on July 1, 2025, a maximum profit of Rp3,038,850 was achieved with a weight of 700 kg. On 2nd July 2025, a maximum profit of Rp4,884,985 was achieved with a weight of 700 kg. On 3rd July 2025, a maximum profit of Rp7,732,155 was achieved with a weight of 699 kg.
4632249707C1A019038Analisis Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto, Pengeluaran Pemerintah Bidang Pendidikan dan Kesehatan Terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Papua Tahun 2018-2022Penelitian ini di latar belakangi oleh pentingnya peran manusia dalam proses pembangunan. Peningkatan kualitas hidup manusia tercermin dari indeks pembangunan manusia. Provinsi Papua merupakan provinsi dengan nilai indeks pembangunan manusia yang paling rendah dibandingkan dengan provinsi lainnya di indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variabel independen yaitu produk domestik regional bruto, pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan dan kesehatan terhadap variabel dependen yaitu indeks pembangunan manusia. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis regresi data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial produk domestik regional bruto berpengaruh positif dan signifikan terhadap indeks pembangunan manusia, pengeluaran pemerintah bidang pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap indeks pembangunan manusia, pengeluaran pemerintah bidang kesehatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap indeks pembangunan manusia. Secara simultan produk domestik regional bruto, pengeluaran pemerintah bidang pendidikan dan kesehatan berpengaruh signifikan terhadap indeks pembangunan manusia.
Kata Kunci: IPM, Pengeluaran Pemerintah, PDRB, Papua
This research is motivated by the importance of the role of humans in the development process. Improvement in the quality of human life is reflected in the human development index. Papua Province is a province with the lowest human development index value compared to other provinces in Indonesia. This study aims to analyze the influence of independent variables, namely gross regional domestic product, government expenditure in education and health on the dependent variable, namely the human development index. The analytical tool used in this study is Panel Data Regression Analysis. The results show that partially gross regional domestic product has a positive and significant effect on the human development index, government expenditure in education has a positive and significant effect on the human development index, government expenditure in health has a positive and significant effect on the human development index. Simultaneously, gross regional domestic product, government expenditure in education and health have a significant effect on the human development index.
Keywords: HDI, Government Expenditure, GRDP, Papua
4632349703J1C021038Nilai Ganbaru: Pendisiplinan Mahasiswa Magang sebagai Caddie di Golf Club (Kajian Autoetnografi)Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan konsep ganbaru dalam konteks magang sebagai caddie di Jepang, serta interaksinya dengan mekanisme disipliner berdasarkan teori docile bodies dari Foucault. Metode yang digunakan adalah autoetnografi, dengan data utama berasal dari pengalaman pribadi penulis selama magang, didukung oleh pengalaman rekan-rekan magang di tempat dan waktu yang sama. Hasil temuan menunjukkan bahwa ganbaru berperan sebagai prinsip motivasi yang mendorong para peserta magang untuk terus berusaha meskipun menghadapi kesulitan. Magang sebagai caddie di Jepang melibatkan pengawasan ketat, evaluasi rutin, dan teguran dari klien, yang semuanya merupakan bagian dari mekanisme disipliner. Konsep ganbaru dan disiplin saling melengkapi dalam membentuk karakter kerja para siswa. Ganbaru memberikan dorongan untuk bertahan dan terus berkembang, sementara disiplin memastikan standar kerja tetap tinggi dan sesuai dengan harapan klien. Sebagai kesimpulan, ganbaru dan disiplin memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas kerja serta membentuk karakter yang disiplin dan profesional. Studi ini juga menyarankan agar perusahaan tempat magang memperkuat sistem pembinaan mereka, dan agar para siswa dipersiapkan secara mental dan fisik untuk menghadapi tantangan magang di luar negeri.This study aims to explore the application of the concept of ganbaru in the context of an internship as a caddie in Japan, as well as its interaction with disciplinary mechanisms based on Foucault’s theory of docile bodies. The method used is autoethnography, with primary data derived from the author’s personal experience during the internship, supported by the experiences of fellow interns at the same place and time. The findings show that ganbaru serves as a motivational principle that encourages interns to keep striving despite difficulties. Interning as a caddie in Japan involves strict supervision, regular evaluations, and reprimands from clients, all of which are part of the disciplinary mechanism. The concepts of ganbaru and discipline complement each other in shaping students’ work character. While ganbaru provides the drive to endure and improve, discipline ensures that work standards remain high and meet client expectations. In conclusion, ganbaru and discipline play a significant role in enhancing work quality and developing a disciplined and professional character. The study also suggests that internship companies strengthen their coaching systems and that students be better prepared mentally and physically to face the challenges of interning abroad.
4632449708J1D021051Ekspresi Bahasa pada Buku Catatan Mata Pelajaran Sosiologi Peserta Didik SMA: Kajian SosiolinguistikPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk variasi ekspresi bahasa dan menganalisis tujuan penggunaannya dalam buku catatan mata pelajaran Sosiologi peserta didik SMAN 2 Tambun Selatan. Bentuk penelitian berfokus pada analisis pola penggunaan variasi bahasa pada buku catatan peserta didik, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kajian teoretis konteks SPEAKING Hymes dan fungsi bahasa Jakobson. Data yang digunakan berupa penggalan kata, penggalan kalimat, dan coretan yang terkandung dalam buku catatan peserta didik. Hasil penelitian ini menganalisis 55 data dari 52 peserta didik yang memanfaatkan buku catatan sebagai ruang pengekspresian diri secara emosional dan personal. Variasi ekspresi bahasa yang ditemukan yaitu catatan pengingat, informasi yang berkaitan dengan materi, pengetahuan umum, ekspresi spontan, kutipan lagu, simbol emotikon, pernyataan perasaan, dan sebagainya. Ekspresi dominan dalam hasil penelitian adalah pengungkapan ekspresi afektif yang muncul sebanyak 22 data. Tujuan dari penggunaan variasi tersebut meliputi menyampaikan pesan secara implisit, mengekspresikan kekaguman, serta merefleksikan pengalaman emosional.This study aims to describe the forms of variation language expression and analyze the purpose used in the Sociology subject notebook of SMAN 2 Tambun Selatan students. The form of research focuses on analyzing the pattern language variations in students' notebooks, so this study uses a descriptive qualitative approach with a theoretical study of the context SPEAKING Hymes. The data used is in the form of word fragments, sentence fragments, and scribbles contained in students' notebooks. The results of this study analyzed 55 data from 52 students who used notebooks as a space for emotional and personal self-expression. The variations of language expressions found are reminder notes, information related to the material, general knowledge, spontaneous expressions, song quotes, emoticon symbols, statements of feelings, etc. The dominant expression in the study results is the disclosure of affective expressions that appeared in 22 data. The purpose of using these variations includes conveying messages implicitly, expressing admiration, and reflecting on emotional experiences.
4632549710F1D021013PENGARUH FREKUENSI IKLAN POLITIK MEDIA SOSIAL TERHADAP PERILAKU MEMILIH PADA PEMILU PRESIDEN 2024 DI KABUPATEN PURBALINGGAArtikel ini membahas pengaruh frekuensi iklan politik media sosial dalam membentuk persepsi politik selama pemilihan umum presiden 2024. Di dalam pemilu, iklan politik merupakan media komunikasi untuk meningkatkan popularitas dan kepercayaan masyarakat terhadap kandidat tanpa kendala jarak dan waktu. Penggunaan media di era digital penting digunakan dalam komunikasi, sosialisasi, dan pendidikan politik yang mempengaruhi perilaku memilih. Pendekatan teori yang digunakan adalah model persuasi “dosis-resistensi” oleh Krosnick dan Brannon. Penelitian ini menggunakan metode survei kuantitatif, dilaksanakan di Kabupaten Purbalingga dalam Piplres tahun 2024, dan 100 pemilih ditetapkan sebagai sampel penelitian dengan menggunakan metode multistage random sampling dan systematic random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis dengan uji koefisien determinasi, uji t, dan analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian memperlihatkan frekuensi iklan politik media sosial mempengaruhi perilaku memilih (p<0,05) sebesar 25,7% dan sisanya sebesar 74,3% dipengaruhi oleh farktor lain. Implikasi penelitian merekomendasikan agar pesan yang disampaikan harus dirancang dan dikemas dengan baik serta memberikan isu-isu yang tengah berkembang di masyarakat. Temuan ini memberikan kontribusi pemahaman tentang perilaku memilih di era digital, termasuk bagaimana media sosial membentuk opini dan preferensi politik, yang penting untuk analisis perilaku memilih di masa depan.This article examines the effect of social media political advertising frequency on shaping
political perceptions during the 2024 Presidential Election. In the context of elections, political advertising serves as a communication medium to enhance a candidate's popularity and public trust, without constraints of distance or time. The use of media in the digital era is important for communication, socialization, and political education, all of which influence voting behavior. The theoretical approach used is Krosnick and Brannon’s "dose–resistance" persuasion model. This study employs a quantitative survey method, conducted in Purbalingga Regency during the 2024 presidential election. A sample of 100 voters was selected using multistage random sampling and systematic random sampling. Data were collected via questionnaires and analyzed using the coefficient of determination, t-test, and simple linear regression analysis. The study’s findings show that the frequency of social media political advertising influenced voting behavior significantly (p < 0.05), accounting for 25.7% of the variance, while the remaining 74.3% was influenced by other factors. The implications of the study recommend that messages should be well-designed and packaged, and address issues currently developing in society. These findings contribute to understanding voting behavior in the digital era, including how social media shapes political opinion and preferences, which is important for future analyses of voting behavior.
4632649711D1A021068ANALISIS PENGARUH FAKTOR NON-GENETIK DAN PENENTUAN ANGKA KOREKSI PADA BOBOT LAHIR DAN BOBOT SAPIH DOMBA GARUT DI UPTD BPPTDK MARGAWATI GARUTPenelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh faktor non-genetik terhadap bobot lahir dan bobot sapih domba Garut serta menentukan angka koreksi untuk meningkatkan akurasi evaluasi performa. Data sekunder berasal dari 1.063 ekor domba Garut di UPTD BPPTDK Margawati Garut periode 2021–2023. Variabel non-genetik yang dianalisis meliputi musim kelahiran, jenis kelamin, tipe kelahiran, dan umur induk saat beranak. Analisis menggunakan metode deskriptif dan uji F parsial pada model linier, serta Estimated Marginal Means (EMMeans) untuk penentuan angka koreksi. Rataan bobot lahir populasi adalah 2,81 ± 0,65 kg dan bobot sapih 12,48 ± 3,38 kg. Hasil menunjukkan bahwa jenis kelamin, tipe kelahiran, dan umur induk berpengaruh nyata terhadap bobot lahir (P<0,05), sedangkan musim tidak berpengaruh signifikan (P>0,05). Pada bobot sapih, musim, jenis kelamin, dan tipe kelahiran berpengaruh nyata (P<0,05), tetapi umur induk tidak berpengaruh signifikan (P>0,05). Angka koreksi bobot lahir ditetapkan berdasarkan jenis kelamin, tipe kelahiran, dan umur induk, sedangkan angka koreksi bobot sapih berdasarkan musim, jenis kelamin, dan tipe kelahiran. Penerapan angka koreksi menurunkan koefisien keragaman bobot lahir dari 23% menjadi 17% dan bobot sapih dari 28% menjadi 19%. Disimpulkan bahwa penggunaan angka koreksi efektif mengendalikan pengaruh lingkungan dan direkomendasikan untuk program seleksi dan pemuliaan domba Garut. This study aimed to analyze the influence of non-genetic factors on birth weight and weaning weight of Garut sheep and determine correction factors to improve performance evaluation accuracy. Secondary data were obtained from 1,063 Garut sheep at UPTD BPPTDK Margawati Garut from 2021 to 2023. The non-genetic variables analyzed included season of birth, sex, type of birth, and dam age at lambing. Analysis was conducted using descriptive methods and partial F-tests within a linear model, with Estimated Marginal Means (EMMeans) used for correction factor determination. The average birth weight was 2.81 ± 0.65 kg and average weaning weight was 12.48 ± 3.38 kg. Results indicated that sex, type of birth, and dam age significantly affected birth weight (P<0.05), while season had no significant effect (P>0.05). For weaning weight, season, sex, and type of birth had significant effects (P<0.05), but dam age did not (P>0.05). Correction factors for birth weight were based on sex, type of birth, and dam age, while those for weaning weight were based on season, sex, and type of birth. Applying correction factors reduced the coefficient of variation for birth weight from 23% to 17% and for weaning weight from 28% to 19%. The use of correction factors was concluded to be effective in controlling environmental influences and is recommended for selection and breeding programs for Garut sheep.
4632749709E1A021184TINJAUAN YURIDIS TINDAK PIDANA TURUT SERTA MELAKUKAN PENGANIAYAAN YANG MENYEBABKAN MATI OLEH PENYIDIK KEPOLISIAN (Studi Putusan Nomor 205/Pid.B/2023/PN.PWT)Praktik penyidikan kadang tidak mencerminkan profesionalisme, seperti dalam Putusan Pengadilan Negeri Purwokerto No. 205/Pid.B/2023/PN.PWT, tiga anggota polisi dipenjara karena turut serta menganiaya tersangka hingga meninggal dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konstruksi hukum atas akibat kematian dan turut serta dalam kasus tersebut. Metode yang digunakan adalah Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan menelaah ketentuan peraturan perundang-undangan, doktrin hukum, serta putusan pengadilan. Berdasarkan hasil kajian, diperoleh temuan bahwa konstruksi akibat baik berupa pidana maupun akibat lain yang melekat pada profesi, timbul karena terpenuhinya unsur dalam Pasal 351 ayat (3) KUHP dan ketentuan lain dalam peraturan kepolisian, sedangkan konstruksi turut serta terbentuk karena adanya kerja sama sadar dan pelaksanaan fisik bersama. Tindakan Para Terdakwa telah memenuhi unsur penganiayaan yang menyebabkan kematian serta dilakukan secara bersama-sama, sehingga masing-masing dapat dimintai pertanggungjawaban pidana atas kematian korban. Namun, Jaksa Penuntut Umum perlu mencantumkan ketentuan mengenai pemberatan pidana dalam dakwaan dan tuntutan, serta perlu adanya pertimbangan pengadilan yang lebih rinci dalam membedakan bentuk turut serta secara proporsional, sehingga hal tersebut dapat menjadi perhatian dalam penyusunan perkara serupa.Investigative practices sometimes do not reflect professionalism, as in Purwokerto District Court Decision No. 205/Pid.B/2023/PN.PWT, in which three police officers were imprisoned for participating in the torture of a suspect who died as a result. This study aims to examine the legal construction of the consequences of death and complicity in the case. The method used is a normative legal approach, involving an examination of legislation, legal doctrine, and court rulings. The results of the study indicate that the construction of consequences, both criminal and other consequences inherent to the profession, arises from the fulfillment of the elements in Article 351 paragraph (3) of the Criminal Code and other provisions in police regulations, while the construction of participation is formed due to conscious cooperation and joint physical action. The defendants' actions fulfilled the elements of assault causing death and were committed jointly, so each defendant can be held criminally liable for the victim's death. However, the Public Prosecutor should include provisions regarding aggravating circumstances in the indictment and charges, and the court should provide more detailed consideration in distinguishing the form of complicity proportionally, in order for this to be considered during the handling of comparable cases.
4632849712H1C021033Geoarkeologi dan Analisis Vulkanostratigrafi Hubungannya Dengan Paleodisaster Pada Masa Kerajaan Majapahit di Situs Kumitir, MojokertiKerajaan Majapahit yang berjaya pada abad ke-13 hingga ke-15 diperkirakan mengalami kemunduran akibat tekanan lingkungan, salah satunya berupa bencana geologi. Studi ini mengidentifikasi tipe bencana dan sejarah penimbunan Situs Kumitir melalui analisis lapangan, stratigrafi, petrografi, XRD, dan Carbon Dating. Geomorfologi daerah termasuk Satuan Dataran Fluvial Gunung Api dengan litologi utama berupa batupasir berfragmen dari Formasi Gunung Api Kuarter Atas. Struktur geologi menunjukkan kelurusan berarah utara–selatan dan timur laut–barat daya. Analisis mineral menunjukkan pengaruh kuat aktivitas vulkanik, dan secara vulkanostratigrafi termasuk zona fasies distal. Lapisan batupasir berfragmen yang terbentuk antara 1455–1833 M mengindikasikan bencana berulang berupa banjir bandang, mencerminkan tekanan lingkungan yang tercatat dalam sejarah, seperti peristiwa “Banyu Pindah” di Kitab Pararaton. Endapan ini merekam paleodisaster yang mungkin mempercepat keruntuhan Majapahit.The Majapahit Kingdom, which flourished from the 13th to 15th centuries, is thought to have declined partly due to environmental pressures, including geological disasters. This study identifies the type of disaster and burial history of the Kumitir Site through field observations, stratigraphy, petrographic and XRD analyses, and Carbon Dating. The study area’s geomorphology falls within the Volcanic Fluvial Plain Unit, with dominant lithology consisting of fragmental sandstone from the Upper Quaternary Volcanic Formation. Geological structures show lineaments trending north–south and northeast–southwest. Mineral composition indicates strong volcanic influence, placing the area in a distal facies zone. The fragmental sandstone layer, deposited between 1455–1833 M, suggests recurring flash floods, reflecting environmental stress recorded in historical texts such as the “Banyu Pindah” event in Pararaton. These deposits record paleodisaster events that may have contributed to Majapahit’s collapse.
4632949713H1C019042GEOLOGI DAERAH KARANGKEMOJING DAN SEKITARNYA,
KECAMATAN GUMELAR , KABUPATEN BANYUMAS,
JAWA TENGAH.
Penelitian ini mengkaji karakteristik geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, dan sejarah geologi daerah
Karangkemojing, Jawa Tengah. Bentuk muka bumi terbentuk dari interaksi proses endogen (pelipatan, pengangkatan) dan eksogen (pelapukan, erosi), membentuk lima satuan geomorfologi: Punggungan Homoklin
Darmakradenan, Lembah Antiklin Karangkemojing, Punggungan Sinklin Karangkemojing, Punggungan Homoklin
Karangkemojing, dan Lembah Homoklin Karanggayam. Stratigrafi daerah terdiri dari tiga satuan batuan (dari tua ke
muda): Satuan Perselingan Batupasir-Batulempung (N16- N19, Miosen Akhir–Pliosen Awal), Satuan Breksi, dan
Satuan Batugamping (N20, Pliosen Awal), yang merefleksikan evolusi lingkungan pengendapan dari batial atas
hingga neritik luar. Analisis pola kelurusan SRTM menunjukkan orientasi struktur dominan N150°E (NW–SE) dan
N175°E (Utara–Selatan), dengan struktur utama berupa Antiklin Karangkemojing, Sinklin Karangkemojing, serta
sesar mendatar kanan dan kiri. Sejarah geologi dimulai pada Pliosen Awal dengan sedimentasi batupasir dan breksi, diikuti pengendapan batugamping pada Pliosen Akhir, dan deformasi tektonik pada Plistosen yang membentuk
topografi perbukitan dan dataran. Hasil penelitian menunjukkan dinamika tektonik dan sedimentasi yang kompleks
dalam membentuk lanskap daerah ini.
This study examines the geomorphological, stratigraphic, structural, and geological history of the
Karangkemojing area, Central Java. The topography results from interactions between endogenic (folding, uplift) and
exogenic (weathering, erosion) processes, forming five geomorphic units: Darmakradenan Homocline Ridge, Karangkemojing Anticline Valley, Karangkemojing Syncline Ridge, Karangkemojing Homocline Ridge, and
Karanggayam Homocline Valley. The stratigraphy comprises three rock units (oldest to youngest): Interbedded
Sandstone-Claystone Unit (N16-N19, Late Miocene–Early Pliocene), Breccia Unit, and Limestone Unit (N20, Early
Pliocene), reflecting depositional environments from upper bathyal to outer neritic. SRTM lineament analysis reveals
dominant structural orientations of N150°E (NW–SE) and N175°E (North–South), with key structures including the
Karangkemojing Anticline, Syncline, and right- and left-lateral strike-slip faults. Geological history began in the
Early Pliocene with sandstone and breccia sedimentation, followed by limestone deposition in the Late Pliocene, and
Pleistocene tectonic deformation that shaped the present-day hills and plains. The findings highlight the region’s
complex tectonic and sedimentary evolution in forming its distinctive landscape.
4633049726D1A021016PERBEDAAN ANGKA MORTALITAS AYAM BROILER FASE STARTER
PADA LANTAI ATAS DAN LANTAI BAWAH, SERTA PENYAKIT YANG
MENYERANG DI KANDANG TEGUH PRIYANTO
ABSTRAK
Latar Belakang. Penelitian berjudul “Perbedaan Angka Mortalitas Ayam Broiler Fase
Starter Pada Lantai Atas Dan Lantai Bawah Serta Penyakit yang Menyerang Di
Kandang Teguh Priyanto” Penelitian bertujuan mengetahui perbandingan angka
mortalitas ayam broiler fase starter yang di pelihara pada lantai atas dan lantai
bawah, serta penyebaran penyakit di kandang Teguh Priyanto. Penelitian
dilaksanakan semala 39 hari pada tanggal 10 Oktober – 17 November 2023 di Dusun
2, Cipawon. Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Materi dan
Metode. Ayam broiler umur 1-15 hari dengan populasi 19.000 ekor per lantai,
dengan tipe kandang closed housed, dan pakan komersial staeter di Peternakan milik
Teguh Priyanto. Metode yang digunakan adalah observasi, sumber data data yang
dikumpulkam dalah angka mortalitas setiap lantai kandang dan catatan penyakit
yang menyerang pada ayam broiler. Perhitungan menggunakan uji T. Hasil. Hasil
rataan mortalitas lantai atas adalah 1.19% dan lantai bawah 1.49%. Hasil penelitian
menunjukan bahwa perbedaan mortalitas lantai atas dengan lantai bawah
menunjukan berbeda tidak signifikan (P<0,05). Simpulan. Kesimpulan penelitian ini
adalah mortalitas ayam broiler fase starter yang di pelihara relatif sama antara
kandang lantai atas dengan lantai bawah, dengan temuan kasus CRD dan E. coli lebih
dominan pada lantai bawah
Kata kunci: broiler, mortalitas, starter, Uji T, penyakit
ABSTRACT
Background. The research titled "Comparison of Mortality Rate And Disease Incident
Of Broiler Chickend Raised On The First And Second Floor At Teguh Priyanto’s Poultry
Farm" aims to compare the mortality rates of starter-phase broiler chickens raised
on the upper and lower floors in Teguh Priyanto’s poultry house. The study was
conducted over a period of 39 days, from October 10 to Nopember 17, 2023, in
Dusun 2, Cipawon, Bukateja District, Purbalingga Regency, Central Java. Materrials
and Methods. Broiler chickens aged 1-15 days, with a population of 19,000 birds per
floor, were housed in a closed-house type facility and fed commercial starter feed.
were raised at Teguh Priyanto farm. The method used was observation, with the data
collected consisting of mortality rates on each floor of the poultry farm, and records
of diseases affecting broiler chickens. The data analysis was performed using a T-test
to obtain the final conclusion. Results. The average mortality rate on the lower floor
was 1.19%, while on the upper floor it was 1.49%. The results of the study showed
that the difference in mortality rates between the upper and lower floors was not
significant (P>0.05). Conclusion. The mortality rates on the upper and lower floors were relatively similar and a low level of disease spread, with cases of
CRD and E. coli being more dominant on the lower floor.
4633149714F1D021012Pragmatisme Politik dalam Fenomena Calon Tunggal: Studi Kasus Pilkada 2024 di Kabupaten BanyumasArtikel ini menganalisis fenomena calon tunggal dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Banyumas 2024 melalui pragmatisme politik. Studi kasus kualitatif mengungkap bagaimana koalisi partai politik mengabaikan prinsip ideologis dan mekanisme rekrutmen internal untuk mendukung kandidat tunggal demi kepentingan praktis, seperti meminimalkan risiko kekalahan dan memaksimalkan keuntungan jangka pendek. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan elite partai, penyelenggara pemilu, pemilih, serta analisis dokumen kebijakan dan berita media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pragmatisme politik, kalkulasi rasional berbasis sumber daya finansial, elektabilitas, dan stabilitas koalisi menjadi faktor dominan dalam pembentukan calon tunggal, yang berdampak pada menurunnya partisipasi masyarakat dan melemahnya fungsi checks and balance demokrasi lokal. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan fokus pada fenomena sosial-politik, maka sampel tidak diambil secara acak, melainkan menggunakan teknik purposive sampling. Kerangka teori perspektif William James menyoroti nilai demokrasi substantif menjadi sekadar alat kekuasaan melalui pragmatisme politik. Studi ini juga mengungkap meski masyarakat apatis terhadap proses pilkada, namun sebagian dari mereka memiliki kesadaran kritis akan pemilihan yang tidak kompetitif. Implikasi penelitian merekomendasikan revisi UU Pilkada terkait ambang batas pencalonan, memperketat mekanisme rekrutmen internal parpol, dan menerapkan pendidikan politik bagi masyarakat. Temuan ini memberikan kontribusi teoritis dalam memahami dinamika politik lokal di Indonesia, sekaligus menjadi peringatan tentang sistematis pragmatisme berlebihan terhadap kualitas demokrasi. This article analyzes the single-candidate phenomenon in the 2024 Banyumas Regional Head Election (Pilkada) through the lens of political pragmatism. This qualitative study reveals how political party coalitions tend to disregard ideological principles and internal recruitment mechanisms in favor of practical interests, such as minimizing the risk of defeat and maximizing short-term gains. Data were collected through in-depth interviews with party elites, election officials, and voters, as well as document analysis of policy papers and local media reports. The findings show that political pragmatism—marked by rational calculations based on electability, financial resources, and coalition stability—was the dominant factor in the emergence of a single candidate. As a consequence, public participation declined and the function of checks and balances in local democracy weakened. The research employed non-probability sampling through a purposive approach, considering its qualitative nature and focus on understanding socio-political phenomena in depth. William James’ theory of pragmatism is used to explain how substantive democratic values have been reduced to mere instruments of power by pragmatic political actors. While most citizens displayed apathy toward the election process, the study also found a degree of critical awareness among some voters regarding the lack of healthy political competition. The study recommends revising the Regional Election Law, particularly the nomination threshold, strengthening democratic internal recruitment within political parties, and intensifying public political education. These findings contribute theoretically to the understanding of local political dynamics in Indonesia and serve as a warning about the systemic consequences of excessive political pragmatism on the quality of democracy.
4633249715H1E021077REDESIGN ALAT PENGUPAS NANAS DENGAN INTERGRASI METODE ERGONOMIC FUNCTION DEPLOYMENT (EFD) DAN TEORIYA RESHENIYA IZOBREATATELSKIKH ZADATCH (TRIZ)Permasalahan ergonomi utama pada UMKM Kelompok Wanita Tani Berkah Sekar Abadi terletak pada efektivitas alat pengupas nanas yang digunakan. Keluhan fisik juga dialami oleh pekerja akibat dimensi alat yang tidak sesuai dengan postur tubuh pengguna. Terdapat dua jenis alat pengupas, alat pertama dengan pisau berdimensi tetap, dan alat kedua dengan pisau yang dapat disesuaikan diameternya namun kurang efektif menghilangkan mata nanas. Penelitian ini bertujuan merancang ulang alat pengupas nanas agar lebih ergonomis, mudah digunakan, dan mampu menyesuaikan diameter pisau dengan ukuran buah. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner Ergonomic Function Deployment (EFD) tahap 1 dan 2 disertai diskusi terbuka. Analisis dilakukan menggunakan metode EFD untuk mengidentifikasi kebutuhan pengguna, serta metode TRIZ untuk menyelesaikan kontradiksi desain. Dari hasil pengolahan menggunakan metode EFD didapatkan 15 customer needs dengan nilai tingkat kepentingan 5 untuk 11 atribut dan 4,5 untuk 4 atribut. Selain itu untuk menjawab 15 customer needs dirancang 14 technical response yang dapat menjawab seluruh customer needs. Pada matriks house of ergonomic terdapat 9 korelasi negatif yang terjadi. Kemudian 9 korelasi negatif tersebut diidentifikasi an diselesaikan dengan metode TRIZ menjadi 5 kontradiksi. Dengan metode TRIZ didapatkan usulan desain dengan menggunakan material aluminium alloy anodized untuk bagian rangka dan stainless steel food grade untuk bagian pisau pengupas dan penjepit buah nanas, penambahan cover pelindung, dan membagi dua fungsi antara anti slip pada kaki penyangga dengan roda yang digunakan untuk memindahkan alat pengupas nanas. The main ergonomic problem in the UMKM Berkah Sekar Abadi Women Farmers Group lies in the effectiveness of the pineapple peeler used. Physical complaints are also experienced by workers due to tool dimensions that are not in accordance with the user's posture. There are two types of peeler tools, the first tool with a fixed dimension knife, and the second tool with a knife that can be adjusted in diameter but is less effective in removing pineapple eyes. This study aims to redesign the pineapple peeler to be more ergonomic, easy to use, and able to adjust the knife diameter to the size of the fruit. Data collection was conducted through the distribution of Ergonomic Function Deployment (EFD) stage 1 and 2 questionnaires accompanied by open discussions. Analysis was conducted using the EFD method to identify user needs, as well as the TRIZ method to resolve design contradictions. From the processing results using the EFD method, 15 customer needs were obtained with an importance level value of 5 for 11 attributes and 4.5 for 4 attributes. In addition, to answer 15 customer needs, 14 technical responses were designed that can answer all customer needs. In the house of ergonomic matrix there are 9 negative correlations that occur. Then the 9 negative correlations were identified and resolved with the TRIZ method into 5 contradictions. With the TRIZ method, a design proposal was obtained by using anodized aluminum alloy material for the frame and food grade stainless steel for the peeler knife and pineapple fruit clamp, adding a protective cover, and dividing the two functions between anti-slip on the support leg and the wheels used to move the pineapple peeler.
4633349716P2D022018Peran Kelembagaan Komoditas Padi dalam Mengatasi Volatilitas Harga Beras di KebumenStabilitas harga beras merupakan isu strategis dalam ketahanan pangan, terutama di Kabupaten Kebumen sebagai salah satu sentra produksi padi di Jawa Tengah. Meskipun produksi beras di daerah ini cenderung surplus, fluktuasi harga tetap terjadi dan berdampak pada kesejahteraan petani serta efektivitas distribusi. Oleh karena itu, pemahaman terhadap dinamika harga dan peran kelembagaan dalam tata kelola beras sangat penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di tingkat lokal. Penelitian ini menganalisis volatilitas harga beras di Kebumen selama periode 2017-2024 dengan menggunakan model ARCH-GARCH, serta mengevaluasi peran kelembagaan dari lima instansi terkait melalui Importance Performance Analysis (IPA) terhadap 14 indikator utama. Kelembagaan yang dianalisis mencakup Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM, Bulog, Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda), serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR). Hasil estimasi model GARCH(1,1) menunjukkan nilai >1 yang mengindikasikan bahwa volatilitas harga beras dipengaruhi oleh kejutan harga (residual) dan varians masa lalu, serta memiliki kecenderungan untuk meningkat dan tidak cepat mereda. Periode 2022–2023 menjadi fase kritis yang menegaskan perlunya penguatan peran kelembagaan dalam stabilisasi harga agar lonjakan serupa dapat dicegah di masa depan. Faktor penyebab volatilitas harga beras sepanjang 2017–2024 meliputi tekanan inflasi pangan secara nasional dan keterlambatan awal musim tanam, peningkatan distribusi beras melalui program bantuan sosial pangan menjelang Pemilu, gangguan distribusi, La Niña, serta kenaikan harga pupuk dan bahan bakar. Evaluasi IPA mengidentifikasi indikator dengan tingkat kepentingan tinggi namun kinerja rendah, seperti pengendalian inflasi harga kebutuhan pokok dan peningkatan produktivitas padi, yang membutuhkan perhatian serius. Indikator seperti stabilitas harga di tingkat gapoktan, diversifikasi ketahanan pangan, jaringan irigasi yang baik, dan kualitas jalan kabupaten memiliki kepentingan dan kinerja tinggi sehingga perlu dipertahankan. Beberapa indikator menunjukkan kinerja tinggi namun kepentingannya dinilai rendah, seperti penanganan kerawanan pangan, pengelolaan sumber daya ekonomi, serta pengadaan dan penyaluran beras oleh Bulog, yang sebaiknya dievaluasi efisiensi pelaksanaannya. Kegiatan pemantauan harga dan stok barang, meskipun berada pada tingkat kepentingan dan kinerja yang rendah, tetap penting sebagai fungsi monitoring jangka panjang. Secara keseluruhan, meskipun produksi padi meningkat, stabilitas harga beras belum sepenuhnya tercapai karena lemahnya sinergi antarinstansi serta distribusi yang belum efektif. Temuan ini menegaskan perlunya pengendalian harga melalui perbaikan sistem distribusi, penguatan kelembagaan, serta mitigasi risiko gagal panen akibat gangguan iklim dan kerusakan infrastruktur. Oleh karena itu, Disperindagkop UKM dianjurkan untuk mengoptimalkan pengendalian harga kebutuhan pokok secara adaptif; Distapang perlu meningkatkan produktivitas padi melalui teknologi dan penguatan kapasitas petani; Bappeda disarankan untuk lebih mengkoordinasikan penyusunan strategi terpadu lintas OPD dengan melibatkan OPD terkait dan Bulog yang kemudian dapat dituangkan dalam RKPD tahun 2026 yang berfokus pada peningkatan produksi beras, efisiensi distribusi, penguatan cadangan pangan, dan penyelenggaraan pasar murah; DPUPR memperbaiki jaringan irigasi dan akses jalan tani; serta Bulog perlu mengevaluasi program pengadaan dan penyaluran beras agar lebih sesuai dengan kebutuhan daerah. Kebaruan dalam penelitian ini terletak pada pemanfaatan data harga beras selama delapan tahun terakhir (2017-2024), fokus lokasi penelitian di Kabupaten Kebumen yang belum banyak dikaji dalam konteks volatilitas harga, serta pendekatan evaluatif terhadap peran lima lembaga utama secara simultan. Kombinasi ini memberikan sudut pandang yang lebih komprehensif dan aktual dalam memahami dinamika pengendalian harga beras di tingkat daerah.Rice price stability is a strategic issue in food security, particularly in Kebumen Regency, one of the main rice-producing regions in Central Java. Although rice production in this area tends to be surplus, price fluctuations continue to occur, affecting both farmers' welfare and the effectiveness of distribution. Therefore, understanding price dynamics and the institutional roles in rice governance is crucial for maintaining local-level price and supply stability. This study analyzes rice price volatility in Kebumen from 2017 to 2024 using the ARCH-GARCH model, and evaluates the institutional performance of five relevant agencies through Importance Performance Analysis (IPA) across 14 key indicators. The institutions examined include the Department of Agriculture and Food, the Department of Industry, Trade, Cooperatives, and MSMEs, Bulog, the Regional Planning, Research, and Development Agency (Bappeda), and the Department of Public Works and Spatial Planning (DPUPR). The estimation results of the GARCH(1,1) model show a value greater than 1, indicating that rice price volatility is influenced by price shocks (residuals) and past variance, with a tendency to persist and escalate rather than dissipate quickly. The 2022– 2023 period was a critical phase that underscored the need to strengthen institutional roles in price stabilization to prevent similar spikes in the future. The main factors driving rice price volatility during 2017–2024 include national food inflation pressures, delays in the start of the planting season, increased rice distribution through food aid programs ahead of elections, distribution disruptions, La Niña, and rising prices of fertilizers and fuel. The IPA evaluation identified indicators with high importance but low performance, such as control over staple food price inflation and the enhancement of rice productivity, both of which require urgent attention. Indicators with both high importance and performance such as price stability at the farmer group level, food security diversification, reliable irrigation networks, and the quality of district roads, should be maintained. Some indicators were found to have high performance but low perceived importance, including food insecurity handling, economic resource management, and rice procurement and distribution by Bulog, which should be reviewed for efficiency. Although price and stock monitoring activities were rated low in both importance and performance, they remain essential as part of long-term monitoring functions. Overall, although rice production has increased, rice price stability has not been fully achieved due to weak inter-agency synergy and ineffective distribution. Therefore, price control is needed through improvements in the distribution system, strengthening of institutions, and mitigation of crop failure risks due to climate disturbances and infrastructure damage. Disperindagkop UKM optimize adaptive control over staple food prices; Distapang increase rice productivity through technology and farmer capacity-building; Bappeda is advised to strengthen coordination in formulating an integrated strategy with relevant OPDs and Bulog, to be included in the 2026 RKPD, focusing on rice production, distribution efficiency, food reserve strengthening, and affordable market organization. DPUPR improve irrigation networks and farm road access; and Bulog reevaluate its rice procurement and distribution programs to better align with regional needs. The novelty of this study lies in its use of eight years of recent data (2017–2024), focus on the under-researched Kebumen Regency, and simultaneous institutional analysis across five agencies. This provides a comprehensive and current perspective on rice price stabilization efforts at the regional level.
4633449717K1A021063Aktivitas Antioksidan dan Antiinflamasi Peptida Bioaktif Hasil Hidrolisis Protein Ikan Patin (Pangasius sp.) Oleh Protease Bakteri Bacillus subtilis B209Radikal bebas dapat memicu terjadinya penyakit degeneratif dan dapat dicegah dengan menggunakan senyawa yang mengandung antioksidan dan antiinflamasi. Senyawa sintesis dapat menimbulkan efek samping bagi tubuh, sehingga perlu alternatif alami seperti peptida bioaktif dari proses hidrolisis protein, salah satunya protein ikan patin (Pangasius sp.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan antiinflamasi dari hidrolisat protein ikan patin yang dihidrolisis secara enzimatik menggunakan enzim protease dari bakteri Bacillus subtilis B209. Tahapan penelitian ini meliputi isolasi ikan patin, produksi enzim protease, karakterisasi suhu dan pH terhadap aktivitas enzim, hidrolisis protein dengan variasi waktu (0-60 menit), uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH, pengujian antiinflamasi secara in vitro dengan penambahan BSA, dan uji hemolisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa enzim protease dari Bacillus subtilis B209 memiliki suhu dan pH optimum pada 45 °C dan pH 7 dengan aktivitas 0,050 U/mL. Derajat hidrolisis tertinggi diperoleh pada waktu 60 menit dengan nilai sebesar 36,82%. Persentase penghambatan radikal bebas DPPH tertinggi terjadi pada waktu hidrolisis 50 menit dengan nilai sebesar 43,47%. Nilai AAI dari hidrolisat protein ikan patin sebesar 0,0146 sehingga masuk kategori antioksidan lemah. Hidrolisat protein ikan patin menunjukkan aktivitas antiinflamasinya pada konsentrasi 0,1 mg/mL dengan persentase penghambatan sebesar 36,93%. Uji hemolisis menunjukkan bahwa hidrolisat protein ikan patin menyebabkan sedikit lisis pada sel darah sapi dengan persentase sebesar 2,17%.Free radicals can trigger degenerative diseases, which can be prevented using compounds with antioxidant and anti-inflammatory properties. Synthetic compounds may cause side effects, it is necessary to develop natural alternatives, such as bioactive peptides derived from protein hydrolysis, including Pangasius sp. fish protein. This study aims to evaluate the antioxidant and anti-inflammatory activities of Pangasius sp. fish protein hydrolysate, enzymatically hydrolyzed using protease enzymes from Bacillus subtilis B209. The research stages included fish isolation, protease enzyme production, characterization of the enzyme's optimal temperature and pH, protein hydrolysis at various time intervals (0, 10, 20, 30, 40, 50, and 60 minutes), antioxidant activity assessment using the DPPH method, in vitro anti-inflammatory testing with BSA, and hemolysis testing. The results showed that the protease enzyme from Bacillus subtilis B209 had an optimal temperature of 45 °C and a pH of 7, with an activity of 0.050 U/mL. The highest degree of hydrolysis was obtained at 60 minutes, reaching 36.82%. The highest DPPH free radical inhibition occurred at 50 minutes, with a value of 43.47%. The antioxidant activity index (AAI) of Pangasius sp. fish protein hydrolysate was 0.0146, categorizing it as a weak antioxidant. The hydrolysate exhibited anti-inflammatory activity at a concentration of 0.1 mg/mL, with an inhibition percentage of 36.93%. Hemolysis testing showed that the hydrolysate caused slight lysis in bovine blood cells, with a percentage of 2.17%.
4633549718K1A021055Aktivitas Antioksidan dan Antiinflamasi Peptida Bioaktif Hasil Hidrolisis Protein Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) Oleh Protease Bakteri Bacillus Subtilis B209Pemanfaatan senyawa alami sebagai senyawa antioksidan dan antiinflamasi
menjadi alternatif dalam mengatasi dampak negatif radikal bebas yang berperan
dalam perkembangan penyakit degeneratif. Upaya untuk memperoleh senyawa
bioaktif alami tersebut dapat dilakukan melalui pemecahan protein secara
enzimatik. Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) merupakan sumber protein
hewani yang dapat dimanfaatkan sebagai pangan fungsional. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan antiinflamasi peptida bioaktif
hasil hidrolisis protein ikan gurami oleh protease bakteri Bacillus subtilis B209.
Tahapan penelitian meliputi produksi isolat protein dari ikan gurami, dan produksi
estrak kasar enzim protease. Enzim yang diperoleh dikarakterisasi untuk
menentukan suhu dan pH optimum aktivitasnya. Hidrolisis protein dilakukan
dengan menggunakan enzim tersebut pada waktu inkubasi 0, 10, 20, 30, 40, 50, dan
60 menit. Hidrolisat protein kemudian diuji aktivitas antioksidannya dengan
metode DPPH, diuji potensinya sebagai senyawa antiinflamasi melalui
penghambatan denaturasi BSA secara in vitro, serta uji hemolisis. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa aktivitas enzim protease Bacillus subtilis B209 sebesar 0,064
U/mL, dengan suhu optimum 45 °C dan pH optimum 7. Derajat hidrolisis tertinggi
deperoleh pada waktu hidrolisis 60 menit, yaitu sebesar 42%. Persentase inhibisi
tertinggi terhadap radikal DPPH terjadi pada waktu hidrolisis 20 menit sebesar
37,03%. Nilai IC50 hidrolisat protein ikan gurami sebesar 694 ppm dan AAI sebesar
0,028 yang diklasifikasikan sebagai antioksidan lemah. Aktivitas antiinflamasi
ditunjukkan oleh persentase inhibisi sebesar 30,67% pada konsentrasi 0,1 mg/mL,
mengindikasikan potensi sebagai senyawa antiinflamasi. Persentase hemolisis
sebesar 2,5% menunjukkan bahwa hidrolisat menyebabkan sedikit lisis pada sel
darah sapi.
The use of natural compounds as antioxidants and anti-inflammatory agents offers
an alternative approach to addressing the negative effects of free radicals, which
play a role in the development of degenerative diseases. Efforts to obtain these
natural bioactive compounds can be achieved through enzymatic protein
hydrolysis. The Gurami fish (Osphronemus gouramy) is a source of animal protein
that can be utilized as functional food. This study aims to determine the antioxidant
and anti-inflammatory activities of bioactive peptides resulting from the hydrolysis
of Gurami fish protein by the bacterial protease Bacillus subtilis B209. The research
stages include the production of protein isolates from Gurami fish and the
production of crude enzyme protease extracts. The enzymes obtained were
characterized to determine their optimal temperature and pH for activity. Protein
hydrolysis was performed using the enzyme at incubation times of 0, 10, 20, 30, 40,
50, and 60 minutes. The protein hydrolysate was then tested for antioxidant activity
using the DPPH method, assessed for its potential as an anti-inflammatory
compound through the inhibition of BSA denaturation in vitro, and subjected to
hemolysis testing. The results showed that the protease activity of Bacillus subtilis
B209 was 0.064 U/mL, with an optimal temperature of 45 °C and an optimal pH of
7. The highest degree of hydrolysis was obtained at 60 minutes, amounting to 42%.
The highest percentage of inhibition against DPPH radicals occurred at 20
minutes, amounting to 37.03%. The IC50 value of the gurami fish protein
hydrolysate was 694 ppm, and the AAI was 0.028, classified as a weak antioxidant.
Anti-inflammatory activity was demonstrated by an inhibition percentage of
30.67% at a concentration of 0.1 mg/mL, indicating potential as an antiinflammatory compound. A hemolysis percentage of 2.5% indicates that the
hydrolysate causes minimal lysis of bovine blood cells.
4633649732J0A022039Detention as Immigration Administrative Actions: an Informational Video at Cilacap Class I Immigration OfficeLaporan praktik kerja ini berjudul “Detention as Immigration Administrative
Actions: an Informational Video at Cilacap Class I Immigration Office”. Praktik kerja
dilakukan pada tanggal 26 Agustus 2024 hingga 06 Desember 2024. Tujuan dari
kegiatan ini adalah untuk membuat video informasi dalam bahasa Inggris di lingkungan kantor imigrasi yang merupakan instansi pemerintah, serta untuk memahami berbagai hambatan yang dihadapi selama proses pembuatannya dan solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi hambatan tersebut. Dalam pelaksanaan kegiatan praktik kerja, telah berhasil diproduksi sebuah video informasi berbahasa Inggris. Atas persetujuan dari pihak Kantor Imigrasi, video tersebut kemudian dipublikasikan melalui media sosial resmi milik instansi. Video tersebut berisi informasi terkait kegiatan yang dilakukan oleh seksi Inteldakim. Video informasi dibuat melalui tahap awal berupa pengumpulan data dengan berbagai metode, kemudian tahap penyusunan skrip, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, pengambilan video, proses editing video, mengisi voice over.Dalam proses pengambilan video informasi, beberapa hambatan yang dihadapi berupa penyesuaian terhadap informasi yang diperbolehkan untuk dipublikasikan oleh pihak kantor imigrasi. Untuk mengatasi kendala yang dihadapi, dilakukan konsultasi dengan para pegawai dan pihak kantor imigrasi. Hal ini membantu kelancaran proses praktik kerja dan manfaat dari praktik kerja.
This job training report is entitled “Detention as Immigration Administrative
Actions: an Informational Video at Cilacap Class I Immigration Office”. The job
training was carried out from August 26, 2024 to December 06, 2024. The purpose of this activity was to produce an informational video in English within the immigration office, which is a government agency, as well as to identify the various obstacles encountered during the production process and the solutions that could be applied to overcome them.During the implementation of the job training activities, an English-language informational video was successfully produced. With the approval of the Immigration Office, the video was subsequently published through the agency’s official social media platforms. The video contains informations related to activities carried out by the Intelligence and Immigration Enforcement Section (Inteldakim). The information video was made through the initial stage of data collection using various methods, then the script preparation stage, then translated into English, video shooting, video editing process, filling the voice over. In the process of taking video information, several obstacles were encountered in the form of adjustments to the information allowed to be published by the immigration office. To overcome the obstacles faced, consultations were carried out with employees and the immigration office. This helped smooth the process of job training and the benefits of job training
4633749719L1A021007Kondisi Kualitas Air Akibat Manajemen Pakan Pada Budidaya
Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di Mitra Binaan CP Prima
Subang
PT Central Proteina Prima (CP Prima) merupakan perusahaan akuakultur besar di Indonesia
yang membudidayakan udang vaname (Litopenaeus vannamei) menggunakan sistem semi-
intensif dengan produktivitas tinggi. Namun, intensitas pemberian pakan yang tinggi memicu
akumulasi limbah organik dan nitrogen anorganik seperti Total Organic Matter (TOM),
amonium (NH₄⁺), dan nitrit (NO₂⁻), yang dapat menurunkan kualitas air tambak. Penelitian ini
bertujuan mengevaluasi kesesuaian kualitas air terhadap SOP CP Prima serta menganalisis
hubungan jumlah pakan dengan konsentrasi TOM, NH₄⁺, dan NO₂⁻. Metode yang digunakan
adalah deskriptif kuantitatif dengan analisis grafik dan PCA (Principal Component Analysis)
menggunakan software PAST 4.12. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Maret hingga
Juni DOC 7-DOC 91 di petak kolam udang mitra binaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
selama DOC 7 hingga DOC 91, terjadi peningkatan signifikan kadar TOM (65–184 mg/L), NH₄⁺
(0.107–1.423 mg/L), dan NO₂⁻ (0.017–2.301 mg/L), terutama setelah DOC 30. Analisis PCA
menunjukkan bahwa dua komponen utama menjelaskan 92,096% variansi data, dengan
hubungan positif antara pakan, TOM, dan NO₂⁻, serta negatif dengan NH₄⁺. Korelasi Pearson
menunjukkan hubungan sangat kuat dan signifikan antara pakan dan TOM (r = 0.924), kuat
dengan NO₂⁻ (r = 0.733), namun sedang dan tidak signifikan dengan NH₄⁺ (r = 0.532).
PT Central Proteina Prima (CP Prima) is a major aquaculture company in Indonesia that
cultivates whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei) using a semi-intensive system with high
productivity. However, the high intensity of feed application triggers the accumulation of
organic waste and inorganic nitrogen compounds such as Total Organic Matter (TOM),
ammonium (NH₄⁺ ), and nitrite (NO₂⁻ ), which can degrade pond water quality. This study aims
to evaluate water quality compliance with CP Prima’s Standard Operating Procedures (SOP)
and to analyze the relationship between feed quantity and the concentrations of TOM, NH₄⁺,
and NO₂⁻ . The method used is a descriptive quantitative approach, with graphical analysis and
Principal Component Analysis (PCA) conducted using PAST version 4.12 software. Sample
collection was carried out from March to June, spanning DOC 7 to DOC 91, in shrimp pond
units managed by partner farmers. The results showed that during the cultivation period from
DOC 7 to DOC 91, there was a significant increase in TOM (65–184 mg/L), NH₄⁺ (0.107–1.423
mg/L), and NO₂⁻ (0.017–2.301 mg/L), especially after DOC 30. PCA results indicated that two
1
principal components explained 92.096% of the total data variance, with a positive correlation
between feed, TOM, and NO₂⁻ , and a negative correlation with NH₄⁺ . Pearson correlation
analysis showed a very strong and significant relationship between feed and TOM (r = 0.924),
a strong correlation with NO₂⁻ (r = 0.733), and a moderate but non-significant relationship with
NH₄⁺ (r = 0.532).
4633849720G1B021002PERBANDINGAN ESTIMASI USIA ANTARA METODE AL-QAHTANI DENGAN BLENKIN-TAYLOR (Penelitian di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Universitas Jenderal Soedirman pada Tahun 2024)Latar belakang. Penentuan usia biologis memiliki peranan penting dalam bidang kedokteran gigi forensik, terutama pada kasus identifikasi individu. Seiring bertambahnya usia maka akan terjadi pertumbuhan dan perkembangan struktur gigi, rahang dan wajah seseorang. Metode Al-Qahtani dan Blenkin-Taylor merupakan dua teknik estimasi usia yang banyak digunakan berdasarkan perkembangan gigi. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estimasi usia seseorang menurut metode Al-Qahtani dan Blenkin-Taylor serta membandingkan estimasi usia menurut metode Al-Qahtani dan Blenkin-Taylor dengan usia sebenarnya. Metode. Penelitian ini dilakukan secara observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel pada penelitian ini sebanyak 100 sampel pasien RSGMP Unsoed tahun 2024 yang dipilih melalui metode purposive sampling dengan kriteria usia maksimal 23 tahun, individu normal, dan hasil radiografi panoramik yang jelas. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Kappa dilanjutkan dengan independent t-test. Hasil. Estimasi usia menurut metode Al-Qahtani dan Blenkin-Taylor memiliki kesepakatan kuat jika dibandingkan dengan gold standard. Hasil uji independent t-test estimasi usia antara metode Al-Qahtani dan Blenkin-Taylor terhadap usia sebenarnya menunjukkan tidak berbeda signifikan (p>0,05). Simpulan. Tidak terdapat perbedaan antara usia sebenarnya dengan usia yang diestimasikan menurut metode Al-Qahtani dan Blenkin-Taylor pada pasien RSGMP Unsoed.Background. The determination of biological age plays a crucial role in forensic dentistry, particularly in cases involving individual identification. As a person ages, growth and development occur in the structures of the teeth, jaws, and facial features. The Al-Qahtani and Blenkin-Taylor methods are two widely used techniques for age estimation based on dental development. Purpose. To determine an individual’s age estimation using the Al-Qahtani and Blenkin-Taylor methods, as well as to compare the age estimates obtained from these methods with the individual’s actual chronological age. Methods. This study was an observasional analytic with a cross-sectional design. The sample consisted of 100 patients from the Dental and Oral Hospital of the Faculty of Dentistry, Universitas Jenderal Soedirman in 2024, selected through purposive sampling with the following criteria a maximum age of 23 years, normal individuals, and clear panoramic radiographic results. Data analysis was performed using the Kappa test, followed by an independent t-test. Results. Age estimation using the Al-Qahtani and Blenkin-Taylor methods demonstrated a strong level of agreement when compared with the gold standard. The results of the independent t-test comparing age estimates from the Al-Qahtani and Blenkin-Taylor methods with actual chronological age showed no statistically significant difference (p>0,05). Conclusion. No difference was observed between the actual chronological age and the age estimated using the Al-Qahtani and Blenkin-Taylor methods in patients at RSGMP Unsoed.
4633949721L1A021033Dinamika Kelimpahan Plankton pada Tambak Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) mitra Binaan PT Central Proteina Prima Subang : Analisis Pengaruh Manajemen Pemberian Pakan Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas di bidang perikanan
budidaya. Sistem budidaya semi intensif, pakan buatan menjadi faktor utama penunjang
pertumbuhan udang, namun juga dapat mempengaruhi kualitas air dan kelimpahan plankton
melalui peningkatan nutrien di kolam. Plankton sendiri berperan sebagai indikator ekosistem
perairan dan sumber pakan alami. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kelimpahan
plankton serta hubungan antara pakan udang terhadap kelimpahan plankton pada tambak
udang vaname mitra binaan PT CP Prima di Subang. Penelitian menggunakan metode survei
dengan teknik purposive sampling, dan data dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif.
Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Maret hingga Juni di petak kolam udang mitra
binaan. Hasil penelitian menunjukkan, kelimpahan plankton terendah 560.000 ± 166.433,2
ind/mL (DOC 7) dan tertinggi 5.756.667 ± 1.977.936,6 ind/mL (DOC 49). Berdasarkan uji
regresi linier sederhana menggunakan aplikasi SPSS, diperoleh persamaan regresi
Y=178.056,789+5.640,182X, dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,1767. Ini
menunjukkan bahwa sekitar 17,67% variasi kelimpahan plankton dapat dijelaskan oleh jumlah
pakan. Hasil ini mengindikasikan adanya hubungan positif antara pemberian pakan dan
kelimpahan plankton, meskipun faktor lain di luar pakan juga memengaruhi dinamika plankton.
Pengelolaan pakan yang tepat dan pemantauan dinamika plankton secara berkala sangat
diperlukan.
Vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) is one of main commodities in aquaculture. In semi-
intensive aquaculture systems, feed is a key factor supporting shrimp growth, but can also
affect water quality and plankton abundance through increased nutrients in the pond. Plankton
itself acts as an indicator aquatic ecosystem and a source of natural feed. The research
purpose to analyze plankton abundance and the relationship between shrimp feed and
plankton abundance in vaname shrimp ponds managed by PT CP Prima in Subang. The
survey method with purposive sampling techniques, and data were analyzed descriptively and
quantitatively. Sampling was conducted from March to June. The results the lowest plankton
abundance was 560,000 ± 166,433.2 ind/mL (DOC 7) and the highest was 5,756,667 ±
1,977,936.6 ind/mL (DOC 49). Based on simple linear regression test using SPSS software,
the regression equation Y = 178,056.789 + 5,640.182X was obtained, with a coefficient of
determination (R²) of 0.1767. This indicates that approximately 17.67% of the variation in
plankton abundance can be explained by feed quantity. These results indicate a positive relationship between feed supply and plankton abundance, although other factors beyond feed
also influence plankton dynamics. Proper feed management and regular monitoring of
plankton dynamics are essential.
4634049722L1B021018Efisiensi Pakan Ikan Lele (Clarias Sp.) Yang Dibudidayakan Pada
Sistem Budikdamber Dengan Padat Tebar Berbeda
Ikan lele (Clarias sp.) banyak dipilih petani karena mampu beradaptasi dengan baik
terhadap berbagai kondisi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
efisiensi pemanfaatan pakan ikan lele dalam sistem budikdamber dengan padat tebar
berbeda, yaitu P1 (2,34 L/ekor), P2 (1,75 L/ekor), dan P3 (1,4 L/ekor). Parameter
utama yang diamati adalah efisiensi pemanfaatan pakan, serta parameter pendukung
adalah kelulushidupan dan kualitas air (pH, suhu, DO). Hasil penelitian menunjukkan
efisiensi pemanfaatan pakan berkisar antara 94%–136% dan kelulushidupan antara
90%–100%. Berdasarkan analisis ANOVA, padat tebar tidak berbeda nyata terhadap
efisiensi pemanfaatan pakan maupun kelulushidupan (P > 0,05). Selama penelitian,
kualitas air tercatat dalam kisaran pH 6,43–7,86, suhu 22,9–28,5°C, dan DO 0–3,2
mg/L, yang masih mendukung kehidupan ikan lele meskipun DO tergolong rendah.
Catfish (Clarias sp.) is widely chosen by farmers due to its high adaptability to various
environmental conditions. This study aimed to determine the feed utilization efficiency of
catfish in a budikdamber (aquaponics bucket) system with different stocking densities: P1 (2.34
L/fish), P2 (1.75 L/fish), and P3 (1.4 L/fish). The main parameter observed was feed utilization
efficiency, with supporting parameters including survival rate and water quality (pH,
temperature, DO). The results showed that feed utilization efficiency ranged from 94% to
136%, and survival rates ranged from 90% to 100%. Based on ANOVA analysis, stocking
density had no significant effect on feed utilization efficiency or survival rate (P > 0.05).
Throughout the study, water quality parameters were recorded within the ranges of pH 6.43
7.86, temperature 22.9–28.5°C, and DO 0–3.2 mg/L, which still supported catfish survival,
although DO levels were considered low.