Artikelilmiahs

Menampilkan 46.341-46.360 dari 48.733 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4634149723H1E021079MITIGASI RISIKO RANTAI PASOK PADA UMKM MEBEL KAYU JATI MENGGUNAKAN METODE HOUSE OF RISK DAN SIMPLE MULTI-ATTRIBUTE RATING TECHNIQUE Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai risiko yang terdapat dalam aktivitas rantai pasok produksi mebel kayu jati di Jati Bahagya Gallery serta menyusun prioritas tindakan mitigasi terhadap risiko-risiko tersebut. Pendekatan yang digunakan mencakup model Supply Chain Operation Reference (SCOR) untuk memetakan alur rantai pasok, metode House of Risk (HOR) untuk mengevaluasi kejadian risiko beserta faktor penyebabnya (risk event dan risk agent), serta metode Simple Multi-Attribute Rating Technique (SMART) untuk menetapkan prioritas mitigasi risiko. Hasil pemetaan mengungkapkan terdapat 24 kejadian risiko dan 26 penyebab risiko yang tersebar dalam lima proses utama, yaitu plan, source, make, deliver, dan return. Melalui analisis Aggregate Risk Potential (ARP) dan diagram pareto, tiga penyebab risiko utama berhasil diidentifikasi, yakni meningkatnya biaya operasional, mutu kayu yang rendah, serta lokasi produksi yang tersebar di berbagai kota. Diperoleh 8 usulan mitigasi risiko yang kemudian disusun dan diprioritaskan berdasarkan kombinasi nilai Effectiveness to Difficulty (ETD) dan hasil perhitungan metode SMART. Hasil akhir penelitian ini menghasilkan urutan prioritas tindakan mitigasi yang dapat diterapkan oleh perusahaan, yang diharapkan menjadi landasan dalam upaya perbaikan sistem rantai pasok dan peningkatan efisiensi operasional.This research aims to identify various risks present in the supply chain activities of teak wood furniture production at Jati Bahagya Gallery and to establish priorities for mitigation actions against these risks. The approach used includes the Supply Chain Operation Reference (SCOR) model to map the supply chain flow, the House of Risk (HOR) method to evaluate risk events and their causes (risk event and risk agent), and the Simple Multi-Attribute Rating Technique (SMART) method to establish risk mitigation priorities. The mapping results revealed 24 risk events and 26 risk causes spread across five main processes: plan, source, make, deliver, and return. Through Aggregate Risk Potential (ARP) analysis and a Pareto diagram, three main risk causes were identified: increased operational costs, low wood quality, and production locations scattered across various cities. Eight risk mitigation proposals were obtained and then organized and prioritized based on a combination of Effectiveness to Difficulty (ETD) values and the results of the SMART method calculation. The final result of this research produces a prioritized sequence of mitigation actions that can be implemented by the company, which is expected to serve as a foundation for improving the supply chain system and enhancing operational efficiency.
4634249724L1B021092PERTUMBUHAN DAN KADAR GLUKOSA DARAH IKAN NILEM (Osteochilus vittatus) YANG DIPUASAKAN SECARA PERIODIK DENGAN SISTEM POLIKULTURPengembangan budidaya ikan nilem dapat dilakukan dengan menerapkan sistem polikultur dan sistem pemuasaan secara periodik agar dapat meningkatkan produktivitas budidaya ikan nilem secara berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan ikan nilem yang dipuasakan secara periodik pada sistem polikultur dan pengaruh pemuasaan pada sistem polikultur terhadap kadar glukosa darah ikan nilem. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan, yaitu P1 = Puasa hari Senin, P2 = Puasa hari Senin dan Kamis, P3 = Puasa hari Senin, Rabu dan Jumat. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan bobot mutlak, pertumbuhan bobot spesifik, kelangsungan hidup, kadar glukosa darah dan kualitas air sebagai parameter pendukung. Hasilnya semakin lama waktu pemuasaan yang diberikan akan menghasilkan pertumbuhan yang lebih rendah. Nilai survival rate pada perlakuan 2 dan 3 mendapatkan nilai sebesar 100% dan pada perlakuan 1 sebesar 95%. Hasil uji ANOVA kadar glukosa darah ikan nilem setelah dipuasakan mendapatkan nilai signifikansi 0,622 (P>0,05) yang artinya pemuasaan tidak berpengaruh terhadap kadar glukosa darah ikan nilem pada penelitian ini. Parameter kualitas air pada semua perlakuan berada pada rentang optimal sesuai standar yang berlaku.Bonylip barp cultivation can be developed by implementing a polyculture system and a periodic fasting system to increase the productivity of bonylip barp cultivation sustainably. The purpose of this study was to determine the growth of bonylip barp fish that are periodically fasted in a polyculture system and the effect of fasting in a polyculture system on the blood glucose levels of bonylip barp. This study was conducted experimentally using a Completely Randomized Design (CRD) with 3 treatments, namely P1 = Fasting on Monday, P2 = Fasting on Monday and Thursday, P3 = Fasting on Monday, Wednesday and Friday. The parameters observed were absolute weight growth, specific weight growth, survival, blood glucose levels and water quality as supporting parameters. The results showed that the longer the fasting time given, the lower the growth rate. The survival rate value in treatments 2 and 3 was 100% and in treatment 1 was 95%. The ANOVA analysis of blood glucose levels of bonylip barp after fasting yielded a significance value of 0.622 (P>0.05), indicating that fasting had no effect on blood glucose levels in this study. Water quality parameters in all treatments were within the optimal range according to applicable standards.
4634349725D1A021170PENGARUH PENAMBAHAN KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) DENGAN PERSENTASE YANG BERBEDA TERHADAP KARAKTERISTIK SENSORIS DAN WARNA YOGHURT SUSU SAPICatur Aprilia Anggraeni. Latar Belakang. Tujuan penelitian untuk mengetahui Pengaruh Penambahan Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) dengan Persentase yang Berbeda terhadap Karakteristik Sensoris dan Warna Yoghurt Susu Sapi. Materi dan metode. Bahan yang digunakan yaitu 10.000 g susu sapi, 50 g kayu secang, 25 g stater. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah penambahan kayu secang 0,1% (P1), 0,3% (P2), 0,5% (P3), 0,7% (P4), 0,9% (P5). Data dianalisis menggunakan analisis variansi (ANAVA) dengan uji lanjut beda nyata terkecil (BNT) dan beda nyata jujur (BNJ). Hasil. Penelitian menunjukkan bahwa penambahan kayu secang berpengaruh sangat nyata (P<0,01) dan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap karakteristik sensoris dan whiteness index (WI). Rataan karakteristik sensoris adalah warna 5,27±0,91 (P1) - 3,63±1,40 (P5), aroma 5,30±1,34 (P1) - 4,00±1,15 (P5), tekstur 4,77±1,04 (P1) - 3,88±1,29 (P5), rasa 4,17±1,12 (P1) - 3,03±1,38 (P5), kesukaan (overall) 4,57±0,97 (P1) - 3,60±1,07 (P5) dan whiteness index (WI) 73,53±3,52 (P1) - 45,11±22,67 (P5), L*(lightness) 73,98±3,54 (P1) - 46,06±22,92 (P5), a*(redness) -1,96±2,68 (P1)- -4,70±3,07 (P5), b*(yellowness) -0,67±4,33 (P1)- -3,21±8,57 (P5). Kesimpulan. Penambahan bubuk kayu secang dengan persentase berbeda menghasilkan karakteristik sensoris yang disukai hingga agak disukai dan nilai whiteness index (WI) dan L*(lightness) yang sama lalu menurun sementara nilai a*(redness) dan b*(yellowness) relatif sama.

Catur Aprilia Anggraeni. Background. The purpose of the study was to determine the Effect of Adding Secang Wood (Caesalpinia sappan L.) with Different Percentages on the Sensory Characteristics and Color of Cow's Milk Yogurt. Materials and methods. The ingredients used are 10,000 g of cow's milk, 50 g of secang wood, and 25 g of stater. The study was conducted experimentally with a Complete Random Design (RAL) with 5 treatments and 4 replicates. The treatment given was the addition of sappang wood 0.1% (P1), 0.3% (P2), 0.5% (P3), 0.7% (P4), 0.9% (P5). Data were analyzed using variance analysis (ANAVA) with the follow-up test of the smallest real difference (BNT) and the honest real difference (BNJ). Result. Research shows that the addition of sappang wood has a very real effect (P<0.01) and an intangible effect (P>0.05) on sensory characteristics and whiteness index (WI). The average sensory characteristics were 5.27±0.91 (P1) - 3.63±1.40 (P5), aroma 5.30±1.34 (P1) - 4.00±1.15 (P5), texture 4.77±1.04 (P1) - 3.88±1.29 (P5), taste4.17±1.12 (P1) - 3.03±1.38 (P5), preference (overall) 4.57±0.97 (P1) - 3.60±1.07 (P5) and whiteness index (WI) 73.53±3.52 (P1) - 45.11±22.67 (P5), L*(lightness) 73.98±3.54 (P1) - 46.06±22.92 (P5), a*(redness) -1.96±2.68 (P1)- -4.70±3.07 (P5), b*(yellowness) -0.67±4.33 (P1)- -3.21±8.57 (P5). Conclusion. The addition of sappan wood powder with different percentages resulted in sensory characteristics that were preferred to somewhat preferred and the whiteness index (WI) and L*(lightness) values were the same, then decreased while the values a* (redness) and b*(yellowness) were relatively the same.



4634449727L1A021014Analisis Total Petroleum Hidrokarbon pada Mangrove Jenis Sonneratia alba dan Sonneratia caseolaris di Segara Anakan, CilacapEkosistem mangrove di kawasan pesisir Segara Anakan Timur menghadapi tekanan
pencemaran dari aktivitas industri, transportasi laut, dan tumpahan minyak, yang
menyebabkan akumulasi senyawa hidrokarbon di lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis konsentrasi Total Petroleum Hidrokarbon (TPH) pada mangrove jenis
Sonneratia alba dan Sonneratia caseolaris di kawasan Segara Anakan Timur, Kabupaten
Cilacap. Konsentrasi TPH diukur pada akar, batang, daun, serta media lingkungan (air dan
sedimen), dengan pendekatan evaluasi nilai Translocation Factor (TF) dan Bioaccumulation
Factor (BAF). Sampel diambil dari tiga stasiun berdasarkan tingkat paparan pencemaran
menggunakan metode purposive sampling. Analisis laboratorium dilakukan secara gravimetri
berdasarkan US EPA-821-R-98-002 menggunakan alat InfraCal TPH Analyzer. Hasil
menunjukkan bahwa Stasiun III (Kalipanas) memiliki kadar TPH tertinggi pada air dan
sedimen. Akumulasi TPH tertinggi pada jaringan tanaman ditemukan pada Sonneratia
caseolaris. Nilai TF ≤ 1 pada kedua spesies menunjukkan peran sebagai fitostabilisator, yang
menghambat translokasi polutan ke bagian atas tanaman. Sedangkan nilai BAF ≤ 1 pada
kedua spesies menunjukkan kedua spesies memiliki kemampuan bioakumulasi yang rendah
terhadap polutan TPH.
The mangrove ecosystem in the eastern coastal area of Segara Anakan is under pollution
pressure from industrial activities, marine transportation, and oil spills, leading to the
accumulation of hydrocarbon compounds in the aquatic environment. This study aims to
analyze the concentration of Total Petroleum Hydrocarbons (TPH) in two mangrove species,
Sonneratia alba and Sonneratia caseolaris, in Segara Anakan Timur, Cilacap Regency. TPH
concentrations were measured in roots, stems, leaves, and environmental media (water and
sediment), using an evaluation approach through the calculation of Translocation Factor (TF)
and Bioaccumulation Factor (BAF). Samples were collected from three stations with varying
levels of pollution exposure using purposive sampling. Laboratory analysis was conducted
gravimetrically following the US EPA-821-R-98-002 method using the InfraCal TPH Analyzer.
The results showed that Station III (Kalipanas) had the highest TPH concentrations in water
and sediment. The highest TPH accumulation in plant tissues was found in Sonneratia
caseolaris. TF values ≤ 1 for both species indicate their role as phytostabilizers, inhibiting the
translocation of pollutants to the upper parts of the plant. Meanwhile, BAF values ≤ 1 indicate
that both species have a low bioaccumulation capacity for TPH pollutants.
4634549728E1A021056TANGGUNG JAWAB HUKUM BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN (BPOM) DALAM PENGAWASAN OBAT YANG AMAN DAN BERMUTUObat memiliki peranan yang sangat penting dalam menyelamatkan hajat hidup orang banyak, terutama dilihat dari aspek kesehatan. Hal tersebut dikarenakan obat dibutuhkan dalam sebagian besar upaya kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sinkronisasi pengaturan tanggung jawab hukum dan bentuk tanggung jawab hukum Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam pengawasan obat yang aman dan bermutu. Jenis penelitian yang dipakai adalah yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan, analitis, dan konseptual, dengan spesifikasi penelitian inventarisasi perundang-undangan (hukum positif), penelitian taraf sinkronisasi hukum, dan penemuan hukum in concreto. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder, dengan metode pengumpulan data melalui studi kepustakaan. Pengolahan data dilakukan melalui reduksi data, display data, dan klasifikasi data, dengan penyajian data menggunakan teks naratif. Metode analisis data yang diterapkan meliputi normatif kualitatif, interpretasi gramatikal, interpretasi sistematis dan interpretasi teleologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan tanggung jawab hukum BPOM dalam pengawasan obat yang aman dan bermutu telah menunjukkan sinkronisasi vertikal dan horizontal berdasarkan teori Hans Kelsen dan Hans Nawiasky. Artinya bahwa peraturan yang lebih rendah telah mengacu dengan peraturan yang lebih tinggi, dan peraturan yang lebih tinggi menjadi landasan untuk pembentukan peraturan yang lebih rendah. Bentuk tanggung jawab hukum BPOM masih belum diatur secara tegas di dalam peraturan. Ketiadaan sanksi hukum dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur BPOM dalam hal kelalaian pengawasan berpotensi melemahkan akuntabilitas lembaga, sehingga diperlukan Undang-Undang khusus BPOM untuk memberikan dasar hukum yang komprehensif terkait tugas, wewenang, kewajiban dan sanksi sebagai bentuk tanggung jawab hukum BPOM. Medicines play a crucial role in safeguarding the lives and well-being of society, particularly from a health perspective. This is due to the significant reliance on medicines in the majority of healthcare efforts. This research aims to analyze the synchronization of Legal Responsibility of the Drug and Food Supervisory Agency (BPOM) in Supervising Safe and High-Quality Medicines. The type of research used is normative juridical with statutory, analytical, and conceptual methods, with research specifications of inventory of legislation (positive law), research on the level of legal synchronization, and legal discovery in concreto. The data source used is secondary data, with data collection methods through literature study. Data processing is conducted via data reduction, data display, and data classification, with data presented in narrative text. The data analysis methods applied include qualitative normative analysis, grammatical interpretation, systematic interpretation, and teleological interpretation. The results indicate that the regulation of legal responsibility and the forms of legal responsibility of BPOM in monitoring the safety and quality of medicines have demonstrated both vertical and horizontal synchronization based on the theories of Hans Kelsen and Hans Nawiasky. This means that lower-level regulations refer to higher-level regulations, and higher-level regulations serve as the foundation for the formation of lower-level regulations. However, the form of BPOM’s legal responsibility is still not explicitly regulated in the existing legislation. The absence of legal sanctions in the legislation governing BPOM with regard to negligence in supervision has the potential to undermine the agency’s accountability. Therefore, a specific law concerning BPOM is needed to provide a comprehensive legal basis related to its duties, authorities, responsibilities, and sanctions as a form of BPOM’s legal accountability.
4634649729C1B018077PENGARUH FAKTOR EKONOMI MAKRO TERHADAP RETURN INDEKS SAHAM SEKTOR INDUSTRI PERIODE 2021-2024Dinamika perekonomian global dan domestik menjadikannya sebagai kegiatan kompleks bagi para pelaku pasar modal. Dari berbagai instrumen investasi, saham menjadi salah satu pilihan utama para investor yang mengharapkan imbal hasil tinggi, meskipun dibayangi oleh risiko sepadan. Return saham tidak sekedar dipengaruhi oleh kinerja internal, tetapi juga rentan terhadap gejolak eksternal yang bersifat makroekonomi. Indeks saham sektor industri dipilih menjadi variabel sebagai salah satu saham yang terlihat sensitif terhadap fluktuasi ekonomi domestik maupun global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variabel ekonomi makro yakni, suku bunga, inflasi, dan nilai tukar Rupiah terhadap return indeks saham sektor industri (IDXINDUST) pada periode 2021-2024. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder yang menghasilkan 47 sampel. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi time series dengan software SPSS 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suku bunga, inflasi, dan nilai tukar Rupiah tidak berpengaruh terhadap return saham IDXINDUST. Hal ini mengindikasikan bahwa seluruh informasi yang dipublikasikan secara resmi secara langsung tercermin pada return saham. Temuan ini dapat menjadi bahan investor untuk tidak hanya mengandalkan faktor makroekonomi konvensional sebelum membuat keputusan berinvestasi.The dynamics of the global and domestic economy make it a complex activity for capital market participants. Among various investment instruments, stocks are a primary choice for investors seeking high returns, despite being followed by commensurate risks. Stock returns are not merely influenced by internal performance but also susceptible to external macroeconomic fluctuations. The industrial sector stock index was chosen as a variable, as it is one of the stocks observed to be sensitive to both domestic and global economic volatility. This study aims to analyze the influence of macroeconomic variables, including interest rates, inflation, and exchange rate, on the return of the industrial sector stock index (IDXINDUST) during the 2021-2024 period. The study employs a quantitative approach with secondary data, resulting in 47 samples. The analysis used is time series regression analysis with SPSS 27 software. The results indicate that interest rates, inflation, and exchange rates do not affect IDXINDUST stock returns. This suggests that all officially published information is directly reflected in stock returns. These findings can be valuable for investors, encouraging them not to merely rely on conventional macroeconomic factors before making investment decisions.
4634749730C1B018082PENGARUH PERCEIVED SCARCITY TERHADAP IMPULSE BUYING DENGAN FEAR OF MISSING OUT SEBAGAI VARIABEL MEDIASI (Studi Pada Anggota Grup Telegram Discountfess Official Chat) Perkembangan komunitas digital telah mengubah cara konsumen merespons informasi promosi, salah satunya melalui fenomena Perceived Scarcity yang dapat memicu Impulse Buying, terutama ketika dimediasi oleh Fear Of Missing Out. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Perceived Scarcity terhadap Impulse Buying dengan Fear Of Missing Out (FOMO) sebagai
variabel mediasi pada grup Telegram Discountfess Official Chat. Menggunakan pendekatan kuantitatif dan teknik simple random sampling, data dikumpulkan dari 100 responden yang merupakan anggota aktif grup Telegram tersebut. Data dianalisis menggunakan analisis regresi mediasi metode causal step.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data kuantitatif dengan menggunakan program SPSS 31 menunjukkan bahwa: 1) 27,8% variasi Impulse Buying dapat dijelaskan oleh Perceived Scarcity dan FOMO; 2) Perceived Scarcity dan Impulse Buying berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse Buying; 3) FOMO memediasi pengaruh Perceived Scarcity terhadap Impulse Buying.
Implikasi praktis dari penelitian ini adalah: 1) Pengelola grup diharapkan dapat meingkatkan narasi kelangkaaan secara etis, dengan mencantumkan batas waktu dan stok secara transparan guna meningkatkan engagement dan keputusan membeli anggota grup: 2) Pengelola grup dapat mengelola konten dan interaksi dalam grup dan memperketat peraturan arus informasi agar bermanfaat dan tidak hanya mengeksploitasi sisi impulsive anggota: 3) Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan literasi digital anggota grup, dengan menyadari bahwa rasa takut tertinggal segaja dipicu oleh pesan kelangkaan, sehingga lebih bijak dan reflektif sebelum melakukan pembelian impulsif.
The rise of digital communities has changed the way consumers respond to
promotional information. This is evident through the phenomenon of Perceived Scarcity, which can trigger Impulse Buying, especially when mediated by the Fear of Missing Out (FOMO). This study aims to analyze the effect of Perceived Scarcity on Impulse Buying, with FOMO as mediating variable, specifically within the Discountfess Official Chat Telegram Group. Using a quantitative approach and simple random sampling, data was collected from 100 active members of the group. The data was analyzed using causal step mediation analysis.
Based on the analysis using SPSS 31, the result show that; 1) 27,8% of the variation in Impulse Buying can be explained by Perceived Scarcity and FOMO; 2) Perceived Scarcity and FOMO have a positive and significant effect on Impulse Buying; and 3) FOMO mediates the effect of perceived Scarcity on Impulse Buying.
The practical implications of this research are: 1) Group moderators should ethically enhance scarcity narratives by transparently including time limits and stock availability to increase engagement and purchasing decisions among group members; 2) Group moderators can manage content and interactions and tighten information flow regulations to be beneficial and not just exploit the impulsive side of the members; and 3) This reseach is expected to improve the digital literacy of the group members, helping them realize that the fear of missin gout is intentionally triggered by scarcity messages, so they can be wiser and reflective before making an impulsive purchase.
4634849731I1C020035Formulasi Lip Cream Dengan Kombinasi Pewarna Alami Ekstrak Umbi Bit (Beta vulgaris L.) Dan Ekstrak Kunyit (Curcuma domestica)Latar Belakang: Lip cream merupakan produk kosmetik bibir yang banyak digemari untuk memperbaiki atau meningkatkan penampilan. Peneliti memformulasikan lip cream kombinasi umbi bit (Beta vulgaris L.) yang mengandung senyawa betasianin berwarna merah keunguan dan kunyit (Curcuma domestica) yang mengandung zat kurkumin berarna kuning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi ekstrak umbi bit dan kunyit sebagai pewarna alami terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik lip cream.
Metodologi: Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental. Lip cream dibuat dengan variasi tiga kombinasi konsentrasi ekstrak umbi bit:kunyit sebesar F1 (5%:0,1%), F2 (10%:0,1%) dan F3 (15%:0,1%). Pengujian sifat fisik meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, uji hedonik, uji iritasi, dan pengujian stabilitas fisik dengan metode freeze thaw.
Hasil Penelitian: Ketiga formula lip cream memenuhi persyaratan sifat fisik kecuali pH Formula 3. Hasil uji stabilitas menunjukkan bahwa semua formula lip cream mengalami perubahan warna selama penyimpanan.
Kesimpulan:. Variasi kombinasi konsentrasi ekstrak umbi bit dan kunyit berpengaruh terhadap sifat dan stabilitas fisik lip cream. Lip cream yang paling disukai responden adalah formula 3 (15%; 0,1%).
Background: Lip cream is a popular cosmetic product for improving or enhancing appearance. Researchers formulated a lip cream using a combination of beetroot (Beta vulgaris L.), which contains purplish-red betacyanin compounds, and turmeric (Curcuma domestica), which contains yellow curcumin. This study aimed to determine the effect of varying the concentration of beetroot and turmeric extracts as natural dyes on the physical properties and stability of the lip cream.
Methodology: The study was conducted using an experimental method. Lip creams were prepared with three combinations of beetroot and turmeric extract concentrations: F1 (5%:0.1%), F2 (10%:0.1%), and F3 (15%:0.1%). Physical properties were tested including organoleptic properties, homogeneity, pH, viscosity, spreadability, adhesion, hedonic testing, irritation testing, and physical stability testing using the freeze-thaw method.
Research Results: The three lip cream formulas met the physical properties requirements except for the pH of Formula 3. Stability test results showed that all lip cream formulas experienced color changes during storage.
Conclusion: Variations in the concentration combinations of beetroot and turmeric extracts affected the properties and physical stability of the lip cream. The most preferred lip cream by respondents was formula 3 (15%; 0.1%).
4634949733D1A021125PENGARUH PENAMBAHAN BUBUK KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.)
DENGAN PERSENTASE YANG BERBEDA TERHADAP VISKOSITAS DAN
SINERESIS PADA YOGHURT SUSU SAPI
Latar Belakang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bubuk kayu secang yang berbeda terhadap viskositas dan sineresis yoghurt susu sapi, serta persentase penambahan kayu secang terbaik. Materi dan metode. Materi yang digunakan dalam penelitian yaitu susu sapi sebanyak 10.000 g, starter sebanyak 25 g, dan bubuk kayu secang sebanyak 50 g. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakukan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu yoghurt susu sapi dengan penambahan bubuk kayu secang sebanyak 0,1% (P1), 0,3% (P2), 0,5% (P3), 0,7% (P4), dan 0,9% (P5). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi (ANAVA). Hasil. Penelitian menunjukkan bahwa penambahan bubuk kayu secang berpengaruh tidak nyata terhadap viskositas dan sineresis (P>0,05). Rata-rata nilai viskositas sebesar 1007,97±115,78 cP dan sineresis sebesar 65,18±3,84%. Kesimpulan.
Penambahan bubuk kayu secang dengan persentase yang berbeda menunjukkan nilai yang relatif sama terhadap viskositas dan sineresis yoghurt susu sapi.
Background. This study aims to determine the effect of adding different amounts of secang
wood powder on the viscosity and syneresis of cow's milk yogurt, as well as the optimal
percentage of secang wood powder to add. Materials and methods. The materials used in this
study were 10,000 g of cow's milk, 25 g of starter, and 50 g of secang wood powder. The study was conducted experimentally using a completely randomized design (CRD) with 5 treatments
and 4 replicates. The treatments applied were cow's milk yogurt with the addition of secang
wood powder at 0.1% (P1), 0.3% (P2), 0.5% (P3), 0.7 (P4), and 0.9% (P5). The data obtained
were analyzed using analysis of variance (ANOVA). Results. The study showed that the
addition of secang wood powder had no significant effect on viscosity and syneresis (P>0.05).
The average viscosity value was 1007.97±115.78 cP and syneresis was 65.18±3.84%.
Conclusion. The addition of secang wood powder at different percentages showed relative
similar values for the viscosity and syneresis of cow's milk yogurt.
4635049734K1B021030PENENTUAN HARGA PREMI DAN GANTI RUGI ASURANSI PERTANIAN BERBASIS INDEKS SUHU PADA KOMODITAS TEMBAKAU KABUPATEN TEMANGGUNGUsaha tani seperti kelapa sawit, karet, kopi, dan tembakau adalah salah satu penyumbang pendapatan nasional terbesar di indonesia. Namun, usaha pertanian memiliki risiko yang besar, termasuk ketika terjadi kegagalan panen. Asuransi pertanian merupakan salah satu upaya perlindungan terhadap petani agar dapat terus menjalankan usaha taninya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan harga premi dan harga ganti rugi asuransi pertanian berbasis indeks suhu pada asuransi komoditas tembakau untuk jenis lahan sawah di Kabupaten Temanggung. Harga premi asuransi pertanian dihitung menggunakan persamaan Black-Scholes, sedangkan harga ganti rugi dihitung menggunakan metode historical burn analysis. Dalam penelitian ini, harga premi yang diperoleh ketika indeks suhu berada pada presentil ke-1 sebesar Rp681.449,97. Harga ganti rugi pada saat suhu terukur 22,35℃ sebesar Rp Rp29.602.857. Agricultural enterprises such as oil palm, rubber, coffee, and tobacco are among the largest contributors to Indonesia’s national income. However, agricultural activities carry substantial risks, including crop failure. Agricultural insurance is one of the protection measures for farmers to ensure the continuity of their farming activities. This study aims to determine the premium and indemnity prices for temperature index-based agricultural insurance on tobacco commodities for paddy fields in Temanggung Regency. The agricultural insurance premium is calculated using the Black-Scholes equation, while the indemnity is determined using the historical burn analysis method. In this study, the premium obtained when the temperature index is at the 1st percentile is IDR 681,449.97. The indemnity, when the measured temperature is 22.35℃, amounts to IDR 29,602,857.
4635149735L1B021007Pengaruh Pemuasaan Terhadap Indeks Morfoanatomi Ikan yang Dibudidayakan Secara Polikultur di Pokdakan Mina Mandiri Serayu Larangan PurbalinggaMorfoanatomi adalah informasi terkait kondisi organ serta gonad pada ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemuasaan terhadap indeks viscerasomatik, indeks hepatosomatik dan indeks gonadosomatik pada ikan yang dibudidayakan secara polikultur di Pokdakan Mina Mandiri. Objek penelitian ini ikan tawes, nilem dan nila dengan jumlah 3 ekor masing-masing jenis ikan. Waktu peneliharaan ikan dilakukan selama 40 hari. Metode penelitian ini menerapkan metode eksperimental menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 3 perlakuan pemuasaan menggunakan 3 kali ulangan dengan teknik pengambilan sampel random sampling. Perlakuan yang diterapkan yaitu pemuasaan Senin (P1), Senin dan Kamis (P2) dan Senin, Rabu dan Jum’at (P3). Hasil penelitian yang didapat bahwa perlakuan pemuasaan tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap indeks viscerasomatik, indeks hepatosomatik dan indeks gonadosomatik pada ikan tawes, nilem dan nila. Morphoanatomy is information about the condition of visceral organs and gonads in fish. The purpose of this study is to determine the effect of fasting on the viscerosomatic indeks, hepatosomatic indeks and gonadosomatic indeks in fish cultivated at polyculture at the Pokdakan Mina Mandiri Fish Farm. The research object were tawes, nilem and tilapia with three fish of each species. The fish were cultivatedfor 40 days. The Reseach method employed an experimental design using completely randomized design (CRD) with three fasting treatments, with three replicates with random sampling techniques. The fasting treatments were Monday (P1) Monday and Thursday (P2), and Monday, Wednesday and Friday (P3). The result of this research indicate that fasting treatment did not have a significant effect (p>0,05) on the viscerosomatik indeks, hepatosomatic indeks and gonadosomatic indeks in tawes, nilem, and tilapia.
4635249736L1B021065Identifikasi Molekuler Bakteri Pada Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Yang Dibudidayakan Secara Intensif di Desa Klatakan, Situbondo, Jawa TimurBudidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) terus mengalami peningkatan seiring tingginya permintaan pasar, namun juga diikuti oleh risiko infeksi bakteri yang dapat menurunkan produktivitas. Identifikasi secara molekuler bakteri yang terdapat pada udang vaname yang terinfeksi penyakit bakterial menjadi langkah penting dalam strategi pengendalian yang lebih tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis bakteri yang terdapat pada udang vaname yang menunjukkan gejala penyakit dan dibudidayakan di Desa Klatakan, Situbondo. Isolasi bakteri dilakukan dari organ hepatopankreas menggunakan media TCBS, kemudian dilanjutkan ekstraksi DNA, amplifikasi gen 16s rRNA, dan analisis sekuens menggunakan BLAST serta pohon filogenetik. Tiga isolate dari total tujuh dipilih secara acak berdasarkan morfologi koloni untuk dianalisis lebih lanjut. Dua dari tiga isolat
berhasil diidentifikasi dan menunjukkan bahwa isolat memiliki kemiripan dengan Bacillus toyonensis (PV639052.1) dan Pseudomonas fulva (KJ958214.1)
The cultivation of whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei) continues to increase in response to growing
market demand; however, it is also accompanied by the risk of bacterial infections that can reduce
productivity. Molecular identification of bacteria present in shrimp affected by bacterial diseases is an
important step toward more effective disease control strategies. This study aimed to identify bacterial
species found in L. vannamei showing disease symptoms and cultivated in Klatakan Village, Situbondo.
Bacterial isolation was performed from the hepatopancreas organ using TCBS medium, followed by
DNA extraction, 16s rRNA gene amplification, and sequence analysis using BLAST and phylogenetic
tree construction. Three out of seven isolates were randomly selected based on colony morphology for
further analysis. Two of the three isolates were successfully identified and showed high similarity to
Bacillus toyonensis (PV639052.1) and Pseudomonas fulva (KJ958214.1).
4635349737D1A021013HUBUNGAN ANTARA GAYA KEPEMIMPINAN DENGAN DINAMIKA KELOMPOK PETERNAK SAPI POTONG PERANAKAN ONGOLE DI KABUPATEN KEBUMEN JAWA TENGAHUsaha peternakan Sapi Peranakan Ongole (PO) Kebumen banyak dilakukan oleh masyarakat Kebumen tepatnya daerah Urut Sewu dan peternak sapi PO Kebumen telah banyak yang berkelompok. Keberhasilan suatu kelompok dapat ditentukan oleh pemimpinnya dan gaya kepemimpinan yang diterapkan ketua kelompok yang dapat mempengaruhi keberlangsungan kelompok dan dinamika kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh ketua kelompok peternak sapi PO Kebumen, mengetahui dinamika kelompok peternak sapi PO Kebumen dan mengetahui hubungan antara gaya kepemimpinan ketua kelompok dengan dinamika kelompok peternak sapi potong PO Kebumen. Metode penelitian yang digunakan adalah survey. Penentuan wilayah kecamatan dilakukan secara purposive sampling atau sengaja dimana wilayah Urut Sewu yang merupakan pusat pengembangan ternak sapi PO Kebumen. Pemilihan desa dilakukan secara purposive sampling atau sengaja dengan memilih desa yang memiliki kelompok peternak sapi PO Kebumen. Desa yang terpilih yaitu Desa Tukinggedong, Tegalretno, Brecong, Gondanglegi, Pandanlor, dan Lembupurwo. Setiap desa yang terpilih diambil satu kelompok secara acak. Responden penelitian diambil sebanyak 50% dari jumlah anggota kelompok yang terpilih dan peternak dipilih secara acak (simple random sampling). Hasil penelitian adalah ketua kelompok peternak Sapi PO di Kabupaten Kebumen cenderung menerapkan gaya kepemimpinan demokratis. Dinamika kelompok peternak sapi PO Kebumen dalam keadaan dinamis. Gaya kepemimpinan dengan dinamika kelompok peternak sapi PO Kebumen memiliki hubungan yang cukup kuat.The Ongole Peranakan (PO) cattle farming business in Kebumen is widely practiced by the people of Kebumen, particularly in the Urut Sewu area, and many PO cattle farmers in Kebumen have formed groups. The success of a group can be determined by its leader and the leadership style applied by the group leader, which can influence the group's sustainability and dynamics. This study aims to identify the leadership style applied by the chairperson of the PO cattle farming group in Kebumen, understand the dynamics of the PO cattle farming group in Kebumen, and determine the relationship between the chairperson's leadership style and the dynamics of the PO cattle farming group in Kebumen. The research method used is a survey. The selection of the sub-district was conducted using purposive sampling, specifically targeting the Urut Sewu area, which serves as the center for PO cattle farming development in Kebumen. The selection of villages was conducted using purposive sampling, specifically choosing villages that have PO Kebumen cattle farmer groups. The selected villages were Tukinggedong, Tegalretno, Brecong, Gondanglegi, Pandanlor, and Lembupurwo. One group was randomly selected from each of the selected villages. Research respondents were selected as 50% of the total members of the selected groups, and farmers were chosen randomly (simple random sampling). The research findings indicate that the leaders of PO cattle farming groups in Kebumen Regency tend to adopt a democratic leadership style. The dynamics of PO cattle farming groups in Kebumen are in a dynamic state. There is a strong relationship between leadership style and the dynamics of PO cattle farming groups in Kebumen.
4635449738F1D021023POLITIK KLIENTELISME DALAM PELAYANAN PUBLIK DI TINGKAT DESA
Studi Kasus di Desa Bangbayang, Kecamatan Bantarkawung, Brebes
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya praktik politik klientelisme dalam pelayanan publik di tingkat desa tepatnya di Desa Bangbayang yang disebabkan oleh keterbatasan akses terhadap pelayanan publik yang berada di pusat Kabupaten Brebes. Keterbatasan ini muncul akibat permasalahan geografis yang memicu kesenjangan pelayanan antara warga yang berada di pusat dan yang berada jauh dari pusat Kabupaten Brebes dalam mengurus administrasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana terjadinya praktik politik klientelisme dalam pelayanan publik di tingkat desa serta memahami bagaimana warga desa yang tinggal jauh dari pusat Kabupaten Brebes menitipkan urusan administrasi mereka kepada perangkat desa dengan memberi uang saku sebagai bentuk imbalan atas jasa yang telah mereka terima. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik politik klientelisme telah menjadi kebiasaan yang sudah dianggap wajar antara perangkat desa yang bertindak sebagai patron dengan warga desa di mana hal ini ditandai dengan adanya pertukaran jasa sebagai bentuk hubungan timbal balik dalam proses penyelesaian urusan administrasi hal ini dikarenakan akses pelayanan yang jauh untuk dapat diakses dengan mudah oleh warga desa. Penelitian kali ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus lalu teknik pengumpulan data melalui observasi serta wawancara kepada beberapa pihak terkait yakni Kepala Desa, Ketua BPD (Badan Permusyawaratan Desa), warga desa dan perangkat desa Desa Bangbayang. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teori klientelisme milik James Scott yang mana pada umumnya teori tersebut digunakan untuk menganalisis studi pemilihan elektoral, namun dalam penelitian kali ini diterapkan untuk menganalisis praktik klientelisme dalam pelayanan publik di tingkat desa. Hasil penelitian kali ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan serta merancang sistem pelayanan publik yang lebih baik dan mudah diakses oleh seluruh warga Brebes guna menghindari ketimpangan.This research is motivated by the practice of clientelistic politics in public services at the village level, specifically in Bangbayang Village, which arises due to limited access to public services centered in the Brebes Regency. This limitation stems from geographical issues that trigger service disparities between residents living in the central area and those living far from the administrative center of Brebes, particularly in handling administrative matters. The aim of this research is to analyze how clientelistic political practices occur in public services at the village level and to understand how villagers living far from the regency center entrust their administrative affairs to village officials by giving them an allowance as a form of compensation for the services they received. The results show that clientelistic practices have become normalized between village officials, who act as patrons, and the villagers, as indicated by the exchange of services as a form of reciprocal relationship in administrative processes. This is mainly due to the difficulty villagers face in accessing public services. This research uses a qualitative method with a case study approach, and data were collected through observations and interviews with several relevant parties, including the Village Head, the Head of the Village Consultative Body (BPD), villagers, and village officials in Bangbayang Village. The study is analyzed using James Scott’s theory of clientelism, which is generally used to examine electoral politics but is applied here to analyze clientelistic practices in public services at the village level. The findings of this research are expected to serve as input for the government to better consider and design more accessible and equitable public service systems for all residents of Brebes, in order to prevent disparities.
4635549739F1D021003Perilaku Pemilih dalam Pemilihan Dewan Perwakilan Daerah Jawa Barat Tahun 2024: Studi Heuristik terhadap Kemenangan Alfiansyah KomengArtikel ini meneliti tentang perilaku pemilih dalam Pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jawa Barat tahun 2024 dengan menggunakan pendekatan teori psikologi politik, khususnya dalam konsep heuristik. Secara umum, penelitian ini berfokus pada bagaimana pemilih membuat keputusan politik di tengah kebingungan karena terbatasnya informasi dan waktu, serta secara spesifik mengeksplorasi penerapan konsep Fast and Frugal Heuristics (F&F) yang dipelopori oleh Gigerenzer. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana perilaku pemilih pada Pemilihan DPD Jawa Barat tahun 2024 dengan menggunakan konsep heuristik tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research), serta menggunakan data sekunder dari berbagai sumber literatur yang relevan. Temuan pertama dalam penelitian ini menunjukkan bahwa preferensi pemilih di Jawa Barat cenderung memilih figur publik yang sudah dikenal luas oleh masyarakat, dibandingkan dengan calon DPD lain yang latar belakangnya kurang dikenali. Terlihat dari sebagian besar pemilih yang mengalami kebingungan dalam memilih 54 calon anggota DPD Jawa Barat. Kedua, pemilih dalam Pemilihan DPD cenderung bersikap lebih pragmatis dalam menentukan pilihannya, karena tidak adanya ikatan emosional maupun kepentingan politik yang kuat terhadap para calon dan pemilih. Akibatnya, situasi ini mendorong pemilih untuk menggunakan pendekatan heuristik atau mengambil keputusan secara spontan dan cepat tanpa analisis mendalam pada saat pemilihan. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana perilaku pemilih dalam kajian heuristik, khususnya pada Pemilihan DPD Jawa Barat tahun 2024 dalam memproses informasi dan menentukan pilihan politik secara efektif.This article examines voter behavior in the 2024 Regional Representative Council (DPD) election in West Java using a political psychology approach, specifically through the concept of heuristics. Broadly, this study focuses on how voters make political decisions amid confusion due to limited information and time. More specifically, it explores the application of the Fast and Frugal Heuristics (F&F) concept pioneered by Gigerenzer. Therefore, the aim of this article is to understand and analyze voter behavior in the 2024 West Java DPD election using this heuristic framework. This study employs a qualitative research method with a library research approach and relies on secondary data from various relevant literature sources. The first finding indicates that voters in West Java tend to prefer public figures who are widely recognized by the public over other DPD candidates with less familiar backgrounds. This is evident from the confusion experienced by many voters when faced with the choice of 54 DPD candidates. Second, voters in the DPD election tend to adopt a more pragmatic stance in making their choices, due to the absence of strong emotional ties or political interests with the candidates. As a result, this situation encourages voters to rely on heuristic approaches, making spontaneous and quick decisions without in-depth analysis during the voting process. This research offers new insights into voter behavior from a heuristic perspective, particularly in the context of the 2024 West Java DPD election, highlighting how voters process information and make political choices efficiently.
4635649661H1C021012Identifikasi Potensi Gas Berdasarkan Analisis Petrofisika, Gas Kromatografi, Atribut Sweetness dan AVO Di Lapangan X Pada Formasi Haloq, Cekungan Kutai, Kalimantan TImur
Kebutuhan energi nasional yang terus meningkat mendorong perlunya eksplorasi lanjutan
terhadap sumber daya energi fosil, khususnya minyak dan gas bumi. Cekungan Kutai di
Kalimantan Timur merupakan salah satu cekungan hidrokarbon terbesar di Indonesia yang
dengan potensi yang masih signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
potensi keberadaan gas pada Formasi Haloq, Lapangan X menggunakan pendekatan analisis
petrofisika, gas kromatografi, sweetness, dan AVO (Amplitude Versus Offset). Data yang
digunakan berasal dari satu sumur, yaitu sumur MH-1 dan data seismik 2D. Hasil analisis
petrofisika menunjukkan nilai rata-rata VSH sebesar 41–49%, PHIE sebesar 3,6–5,9%, dan
SW sebesar 47–59%, dengan total ketebalan zona hidrokarbon mencapai 422 kaki. Analisis
DST menunjukkan adanya zona gas yang ditandai dengan separasi log NPHI dan RHOB, di
mana DST-2, DST-3, dan DST-4 dikategorikan sebagai zona produktif berdasarkan metode
Pixler. Analisis sweetness mengindikasikan zona potensial dengan nilai sweetness tinggi
yang menunjukkan amplitudo tinggi dan frekuensi rendah, khas untuk gas. Selain itu,
interpretasi AVO mengidentifikasi keberadaan brightspot yang merupakan anomali
amplitudo signifikan, menunjukkan potensi gas pada zona target. Karakteristik reservoir
menunjukkan keberadaan low impedance gas sand dengan klasifikasi AVO kelas 3 pada
kedalaman 480 ms. Proses tersebut mengonfirmasi keterdapatan zona prospek gas pada
Formasi Haloq yang dapat menjadi target eksplorasi lanjutan serta integrasi dari beberapa
metode untuk indentifikasi potensi hidrokarbon.
The increasing national energy demand necessitates further exploration of fossil energy
resources, particularly oil and natural gas. The Kutai Basin in East Kalimantan is one of
Indonesia’s largest hydrocarbon basins with significant remaining potential. This study aims
to identify gas potential within the Haloq Formation, Field X, using an integrated approach
involving petrophysical analysis, gas chromatography, sweetness attribute, and Amplitude
Versus Offset (AVO) interpretation. The dataset comprises a single well (MH-1) and 2D
seismic data. Petrophysical analysis results indicate average VSH values of 41– 49%, PHIE
of 3.6–5.9%, and SW of 47–59%, with a total hydrocarbon-bearing thickness of 422 feet.
DST analysis reveals gas-bearing zones characterized by separation between NPHI and
RHOB logs, with DST-2, DST-3, and DST-4 classified as productive zones based on the
Pixler method. Sweetness analysis highlights potential gas zones with high sweetness values,
representing high amplitude and low frequency anomalies typical of gas. Furthermore, AVO
interpretation identifies the presence of brightspots significant amplitude anomalies
indicating gas potential within the target zone. Reservoir characterization confirms the
presence of low-impedance gas sand with an AVO Class 3 anomaly at a depth of 480 ms.
These findings confirm prospective gas zones within the Haloq Formation as viable targets
for further exploration and demonstrate the effectiveness of integrating multiple methods for
hydrocarbon potential identification.
4635749741D1A021015UJI IN VITRO AKTIVITAS ANTIMIKROBA MINYAK ESSENTIAL DAUN CENGKEH (SYZYGIUM AROMATICUM) SEBAGAI ALTERNATIF LARUTAN TEAT DIPPING TERHADAP KHAMIR PENYEBAB MASTITIS Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi aktivitas antimikroba minyak
essential daun cengkeh sebagai larutan teat dipping serta menentukan konsentrasi terbaik berdasarkan uji zona hambat dan uji MIC terhadap khamir Candida albicans dan Saccharomyces cerevisiae sebagai penyebab mastitis mikotik. Uji zona hambat dilakukan menggunakan metode difusi cakram (paper disc), sedangkan uji MIC menggunakan metode mikrodilusi (broth microdilution). Rancangan percobaan zona hambat menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan tiga ulangan, terdiri atas kontrol positif (povidone iodine 10%), kontrol negatif (Tween 80 v/v 5%), serta minyak
essential daun cengkeh dengan konsentrasi 2,5%, 5%, 7,5%, dan 10%. Uji MIC menggunakan Uji Mann-Whitney berdasarkan konsentrasi terbaik minyak essential dan povidone iodine 10%, masing-masing tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak essential daun cengkeh memiliki aktivitas antimikroba terhadap kedua khamir penyebab mastitis. Analisis variansi menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh sangat nyata (p < 0,01).
Zona hambat Candida albicans pada konsentrasi 0–10% berturut-turut adalah 0 mm, 5,55 mm, 8,23 mm, 10,23 mm, dan 12,85 mm, sedangkan povidone iodine 10% sebesar 28,85 mm. Zona hambat Saccharomyces cerevisiae pada povidone iodine 10% sebesar 22,73 mm, dan pada minyak essential 10–0% berturut-turut sebesar 20,46 mm, 17,23 mm, 14,27 mm, 7,23 mm, dan 0 mm. MIC terhadap kedua khamir masing-masing sebesar 0,156 mg/ml, dan povidone iodine 10% sebesar 1,25 mg/ml. Uji Mann-Whitney menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara perlakuan minyak cengkeh 10% dan povidone iodine 10% pada kedua khamir, sehingga minyak essential daun cengkeh dapat menggantikan povidone iodine 10% sebagai larutan teat dipping alami.
This study aimed to evaluate the antimicrobial potential of clove leaf essential oil as a teat dipping solution and to determine the optimal concentration through inhibition zone and MIC tests against Candida albicans and Saccharomyces cerevisiae, which are fungal pathogens causing mycotic mastitis. The disc diffusion method was used for the inhibition zone test with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of six treatments and three replications, namely positive control (10% povidone iodine), negative control (5% Tween 80 v/v), and clove leaf essential oil at concentrations of 2.5%, 5%, 7.5%, and 10%. The MIC test was conducted using the broth microdilution method with the best concentration. The results showed that clove leaf essential oil exhibited significant antimicrobial activity (p<0.01). The inhibition zones for Candida albicans at concentrations of 0–10% were 0 mm, 5.55 mm, 8.23 mm, 10.23 mm, and 12.85 mm, while 10% povidone iodine reached 28.85 mm. The inhibition zones for Saccharomyces cerevisiae at 10% povidone iodine were 22.73 mm, and for clove oil from 10–0% were 20.46 mm, 17.23 mm, 14.27 mm, 7.23 mm, and 0 mm, respectively. The MIC of clove leaf essential oil against both yeasts was 0.156 mg/ml, lower than 10% povidone iodine (1.25 mg/ml). The MannWhitney test showed a significant difference (p<0.05) between 10% clove oil and 10% povidone iodine treatments, indicating that clove leaf essential oil has the potential to replace povidone iodine as a natural teat dipping solution.
4635849742B1B021017ASSESSMENT OF MICROALGAE DIVERSITY AND ABUNDANCE IN MANGROVE WATERS OF ULUJAMI PEMALANG AND RANDUSANGA BREBESPerairan mangrove merupakan ekosistem pesisir yang sangat produktif dan berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan perairan. Mikroalga memainkan peran penting sebagai produsen primer dalam rantai makanan, siklus karbon, dan sebagai indikator kualitas air. Keanekaragaman dan kelimpahan mikroalga mencerminkan kondisi lingkungan suatu perairan dan dipengaruhi oleh faktor fisik-kimia seperti pH, salinitas, dan suhu. Ulujami Pemalang dan Randusanga Brebes dipilih sebagai lokasi penelitian karena keduanya mengalami tekanan ekologi namun memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda. Perbedaan ini diduga mempengaruhi struktur komunitas mikroalga, penelitian ini bertujuan untuk menentukan keragaman, kelimpahan, dan perbedaan komunitas mikroalga terkait kondisi lingkungan di Ulujami Pemalang dan Randusanga Brebes.

Penelitian ini menggunakan metode survei dengan sampling purposif yang dilakukan di empat stasiun di masing-masing lokasi penelitian: Ulujami Pemalang dan Randusanga Brebes. Sampel mikroalga dikumpulkan menggunakan jaring plankton No. 25, dan parameter lingkungan seperti pH, salinitas, dan suhu diukur di tempat. Air yang dikumpulkan disaring dan diawetkan dengan formalin dan larutan Lugol, kemudian dianalisis secara mikroskopis di Laboratorium Biologi Perairan, Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman. Mikroalga diidentifikasi hingga tingkat spesies, dan kelimpahan dihitung menggunakan metode bidang pandang, sementara keragaman dianalisis menggunakan indeks Shannon-Wiener (H’). Perbedaan komunitas antar lokasi dievaluasi menggunakan analisis kesamaan Bray-Curtis dan analisis SIMPER dengan perangkat lunak PAST versi 4.03 untuk menentukan kontribusi spesies terhadap kesamaan dan perbedaan komunitas.

Sebanyak 18 spesies diidentifikasi di Ulujami Pemalang dan Randusanaga Brebes, dengan indeks keragaman Shannon-Wiener sebesar 2,777 di Ulujami dan 2,803 di Randusanga, menunjukkan keragaman ekologi sedang. Meskipun Randusanga memiliki total kelimpahan yang lebih tinggi (1.601.000 Ind) dibandingkan Ulujami (1.463.000 Ind), kelimpahan rata-rata per liter sedikit lebih tinggi di Randusanga mencapai 55 Ind/L dibandingkan di Ulujami Pemalang dengan 52 Ind/L. Spesies yang paling melimpah di Ulujami terdiri dari Ceratium furca, Euglena viridis, dan Tetmemorus granulatus, sedangkan spesies yang paling melimpah di Randusanga terdiri dari Thalassionema nitzschioides, Nitzschia sp., dan Noctiluca scintillans. Perbedaan disimilaritas sebesar 47,06% antara kedua lokasi, menunjukkan bahwa perbedaan parameter lingkungan seperti pH, salinitas, dan suhu secara signifikan mempengaruhi komposisi dan struktur komunitas mikroalga.
Mangrove waters are highly productive coastal ecosystems that support the balance of the aquatic environment. Microalgae play an important role as primary producers in the food chain, carbon cycle, and as indicators of water quality. The diversity and abundance of microalgae reflect the environmental conditions of a water body and are influenced by physical-chemical factors such as, pH, salinity, temperature. Ulujami Pemalang and Randusanga Brebes were selected as research sites because both experience ecological pressure but have different environmental characteristics. These differences are suspected to influence the structure of microalgae communities, this study aims to determine the diversity, abundance, and differences in microalgae communities related to environmental conditions in Ulujami Pemalang and Randusanga Brebes.

This research used a survey method with purposive sampling conducted at four stations in each research locations: Ulujami Pemalang and Randusanga Brebes. Microalgae samples were collected using a plankton net No. 25, and environmental parameters such as pH, salinity, and temperature were measured in situ. The collected water was filtered and preserved with formalin and Lugol solution, then analyzed microscopically at the Aquatic Biology Laboratory, Faculty of Biology, Universitas Jenderal Soedirman. Microalgae were identified to species, and abundance was calculated using the field of view method, while diversity was analyzed using the Shannon-Wiener index (H’). Community differences between sites were assessed using Bray-Curtis similarity analysis and SIMPER analysis with PAST version 4.03 software to determine species contribution to community similarity and dissimilarity.

A total of 18 species were identified in Ulujami Pemalang and Randusanaga Brebes, with Shannon-Wiener diversity index of 2.777 in Ulujami and 2.803 in Randusanga, indicating moderate ecological diversity. Although Randusanga had a higher total abundance (1,601.000 Ind) than Ulujami (1,463.000 Ind), the average abundance per liter was slightly higher at Randusanga reaching 55 Ind/L compared to at Ulujami Pemalang with 52 Ind/L. Ulujami most abundant species consisted of Ceratium furca, Euglena viridis, and Tetmemorus granulatus, while Randusanga most abundant species consisted of Thalassionema nitzschioides, Nitzschia sp., and Noctiluca scintillans. Dissimilarity of 47.06% between sites, suggesting that differences in environmental parameters such as pH, salinity, and temperature significantly affect the composition and structure of microalgal communities.
4635949744D1A021103PENGARUH PENAMBAHAN KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) DENGAN
PERSENTASE BERBEDA TERHADAP KADAR AIR DAN WATER HOLDING
CAPACITY YOGHURT SUSU SAPI
Latar Belakang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan
bubuk kayu secang dengan persentase yang berbeda terhadap kadar air dan WHC
(Water holding capacity) yoghurt yang dihasilkan. Materi dan Metode. Materi yang
digunakan yaitu susu sapi segar sebanyak 10.000 g, starter sebanyak 25 g, dan bubuk
kayu secang sebanyak 50 g. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan
yang diberikan adalah penambahan bubuk kayu secang 0,1% (P1), 0,3% (P2), 0,5% (P3),
0,7% (P4), 0,9% (P5). Data ditabulasi dan dianalisis menggunakan analisis variansi.
Hasil. Penelitian menunjukkan bahwa penambahan bubuk kayu secang berpengaruh
tidak nyata terhadap kadar air dan water holding capacity (P>0,05). Yoghurt pada
penelitian ini memiliki rataan kadar air sebesar 86,91% dan water holding capacity
sebesar 30,21%. Kesimpulan. Penambahan bubuk kayu secang dengan persentase
yang berbeda menghasilkan nilai yang relatif sama terhadap kadar air dan water holding
capacity pada yoghurt susu sapi.
Background. This study aims to determine the effect of adding sappanwood powder with
different percentages on the water content and WHC (Water holding capacity) of the
resulting yogurt. Materials and Methods. The materials used were 10,000 g of fresh cow's
milk, 25 g of starter, and 50 g of sappanwood powder. The study was conducted
experimentally with a Completely Randomized Design (CRD) using 5 treatments and 4
replications. The treatments given were the addition of sappanwood powder of 0.1% (P1),
0.3% (P2), 0.5% (P3), 0.7% (P4), 0.9% (P5). Data were tabulated and analyzed using
analysis of variance. Results. The study showed that the addition of sappanwood powder
had no significant effect on the water content and water holding capacity (P>0.05). The
yogurt in this study had an average water content of 86.91% and a water holding capacity
of 30.21%. Conclusion. The addition of sappanwood powder with different percentages
produces relatively the same values for water content and water holding capacity in cow's
milk yogurt.
4636049747A1C021050Analisis Model Capacitive Soil Moisture Sensor dengan Variasi Resistansi Kabel untuk Pengukuran Kelembapan Tanah Kelembapan tanah adalah parameter penting pertanian. Pengukuran kelembapan tanah melalui kadar air dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pengukuran langsung dengan metode gravimetri, namun memerlukan waktu dan tenaga banyak. Kebutuhan pengukuran kelembapan tanah secara tidak langsung menjadi terdesak. Capacitive Soil Moisture Sensor dapat digunakan untuk pengukuran kelembapan tanah secara tidak langsung. Kabel diperlukan untuk mendistribusikan luaran tegangan sensor. Penelitian mengenai Capacitive Soil Moisture Sensor banyak dilakukan, namun belum ada yang secara khusus meneliti pengaruh kabel, dalam hal ini kaitannya dengan resistansi terhadap luaran tegangan sensor. Penelitian mengenai pengaruh resistansi kabel terhadap luaran tegangan Capacitive Soil Moisture Sensor diperlukan untuk mendapatkan hasil prediksi kelembapan tanah yang baik. Penelitian ini bertujuan mengetahui respon luaran tegangan Capacitive Soil Moisture Sensor dengan variasi resistansi kabel terhadap pengukuran kelembapan tanah serta mengetahui persamaan modelnya. Metode yang digunakan adalah metode Rancangan Acak Lengkap dengan faktor nilai resistansi kabel dengan taraf 0,233 Ω; 0,600 Ω; 1,233 Ω; dan 2,467 Ω. Sampel tanah yang digunakan adalah tanah liat dan pasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai resistansi kabel berpengaruh signifikan terhadap luaran tegangan Capacitive Soil Moisture Sensor pada resistansi 1,233 Ω sedangkan 0,233 Ω; 0,600 Ω; dan 2,467 Ω tidak signifikan. Model polinomial menunjukkan hasil optimal pada semua tanah. Persamaan untuk resistansi 1,233 Ω adalah y = 15,312x2 – 83,899x + 144,21 (tanah liat) dan y = 52,737x2 – 220,26x + 235,88 (tanah pasir). Untuk resistansi 0,233; 0,600; dan 2,467 Ω adalah y = 35,34x2 – 128,24x + 145,19 (tanah liat) dan y = 135,39x2 – 366,96x + 256,07 (tanah pasir). Dengan y adalah kadar air (%) dan x adalah luaran tegangan Capacitive Soil Moisture Sensor (V). Soil moisture is an important parameter in agriculture. Soil moisture measurement through water content can be performed directly or indirectly. Direct measurement using the gravimetric method is time-consuming and labor-intensive. Therefore, the need for indirect soil moisture measurement becomes urgent. Capacitive Soil Moisture Sensors can be used for indirect measurement. Cables are required to distribute the sensor’s voltage output. Although many studies have been conducted on Capacitive Soil Moisture Sensors, none have specifically examined the effect of cables, particularly their resistance on the sensor’s voltage output. Research on the effect of cable resistance on the output voltage of Capacitive Soil Moisture Sensors is needed to obtain better predictions of soil moisture. This study aims to determine the response of the output voltage of Capacitive Soil Moisture Sensors to variations in cable resistance during soil moisture measurement, as well as to identify the appropriate model equation. The method used is a Completely Randomized Design (CRD) with cable resistance levels of 0.233 Ω, 0.600 Ω, 1.233 Ω, and 2.467 Ω. The soil samples used were clay and sand. The results show that cable resistance significantly affects the output voltage of the Capacitive Soil Moisture Sensor at a resistance of 1.233 Ω, while the effects at 0.233 Ω, 0.600 Ω, and 2.467 Ω are not significant.. Polynomial models yielded the best results across all soil samples. The regression equation for 1.233 Ω resistance is y = 15,312x2 – 83,899x + 144,21 (clay soil) and y =52,737x2 - 220.26x + 235,88 (sand soil). For resistances of 0.233 Ω, 0.600 Ω, and 2.467 Ω, the model equations are y = y = 35,34x2 – 128,24x + 145,19 (clay soil) and y = 135,39x2 – 366,96x + 256,07 (sand soil). Where y represents the soil moisture content (%) and x represents the output voltage from the Capacitive Soil Moisture Sensor (V).