Home
Login.
Artikelilmiahs
49742
Update
PATUAN LINEKER SINURAT
NIM
Judul Artikel
ASSESSMENT OF MICROALGAE DIVERSITY AND ABUNDANCE IN MANGROVE WATERS OF ULUJAMI PEMALANG AND RANDUSANGA BREBES
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Perairan mangrove merupakan ekosistem pesisir yang sangat produktif dan berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan perairan. Mikroalga memainkan peran penting sebagai produsen primer dalam rantai makanan, siklus karbon, dan sebagai indikator kualitas air. Keanekaragaman dan kelimpahan mikroalga mencerminkan kondisi lingkungan suatu perairan dan dipengaruhi oleh faktor fisik-kimia seperti pH, salinitas, dan suhu. Ulujami Pemalang dan Randusanga Brebes dipilih sebagai lokasi penelitian karena keduanya mengalami tekanan ekologi namun memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda. Perbedaan ini diduga mempengaruhi struktur komunitas mikroalga, penelitian ini bertujuan untuk menentukan keragaman, kelimpahan, dan perbedaan komunitas mikroalga terkait kondisi lingkungan di Ulujami Pemalang dan Randusanga Brebes. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan sampling purposif yang dilakukan di empat stasiun di masing-masing lokasi penelitian: Ulujami Pemalang dan Randusanga Brebes. Sampel mikroalga dikumpulkan menggunakan jaring plankton No. 25, dan parameter lingkungan seperti pH, salinitas, dan suhu diukur di tempat. Air yang dikumpulkan disaring dan diawetkan dengan formalin dan larutan Lugol, kemudian dianalisis secara mikroskopis di Laboratorium Biologi Perairan, Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman. Mikroalga diidentifikasi hingga tingkat spesies, dan kelimpahan dihitung menggunakan metode bidang pandang, sementara keragaman dianalisis menggunakan indeks Shannon-Wiener (H’). Perbedaan komunitas antar lokasi dievaluasi menggunakan analisis kesamaan Bray-Curtis dan analisis SIMPER dengan perangkat lunak PAST versi 4.03 untuk menentukan kontribusi spesies terhadap kesamaan dan perbedaan komunitas. Sebanyak 18 spesies diidentifikasi di Ulujami Pemalang dan Randusanaga Brebes, dengan indeks keragaman Shannon-Wiener sebesar 2,777 di Ulujami dan 2,803 di Randusanga, menunjukkan keragaman ekologi sedang. Meskipun Randusanga memiliki total kelimpahan yang lebih tinggi (1.601.000 Ind) dibandingkan Ulujami (1.463.000 Ind), kelimpahan rata-rata per liter sedikit lebih tinggi di Randusanga mencapai 55 Ind/L dibandingkan di Ulujami Pemalang dengan 52 Ind/L. Spesies yang paling melimpah di Ulujami terdiri dari Ceratium furca, Euglena viridis, dan Tetmemorus granulatus, sedangkan spesies yang paling melimpah di Randusanga terdiri dari Thalassionema nitzschioides, Nitzschia sp., dan Noctiluca scintillans. Perbedaan disimilaritas sebesar 47,06% antara kedua lokasi, menunjukkan bahwa perbedaan parameter lingkungan seperti pH, salinitas, dan suhu secara signifikan mempengaruhi komposisi dan struktur komunitas mikroalga.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Mangrove waters are highly productive coastal ecosystems that support the balance of the aquatic environment. Microalgae play an important role as primary producers in the food chain, carbon cycle, and as indicators of water quality. The diversity and abundance of microalgae reflect the environmental conditions of a water body and are influenced by physical-chemical factors such as, pH, salinity, temperature. Ulujami Pemalang and Randusanga Brebes were selected as research sites because both experience ecological pressure but have different environmental characteristics. These differences are suspected to influence the structure of microalgae communities, this study aims to determine the diversity, abundance, and differences in microalgae communities related to environmental conditions in Ulujami Pemalang and Randusanga Brebes. This research used a survey method with purposive sampling conducted at four stations in each research locations: Ulujami Pemalang and Randusanga Brebes. Microalgae samples were collected using a plankton net No. 25, and environmental parameters such as pH, salinity, and temperature were measured in situ. The collected water was filtered and preserved with formalin and Lugol solution, then analyzed microscopically at the Aquatic Biology Laboratory, Faculty of Biology, Universitas Jenderal Soedirman. Microalgae were identified to species, and abundance was calculated using the field of view method, while diversity was analyzed using the Shannon-Wiener index (H’). Community differences between sites were assessed using Bray-Curtis similarity analysis and SIMPER analysis with PAST version 4.03 software to determine species contribution to community similarity and dissimilarity. A total of 18 species were identified in Ulujami Pemalang and Randusanaga Brebes, with Shannon-Wiener diversity index of 2.777 in Ulujami and 2.803 in Randusanga, indicating moderate ecological diversity. Although Randusanga had a higher total abundance (1,601.000 Ind) than Ulujami (1,463.000 Ind), the average abundance per liter was slightly higher at Randusanga reaching 55 Ind/L compared to at Ulujami Pemalang with 52 Ind/L. Ulujami most abundant species consisted of Ceratium furca, Euglena viridis, and Tetmemorus granulatus, while Randusanga most abundant species consisted of Thalassionema nitzschioides, Nitzschia sp., and Noctiluca scintillans. Dissimilarity of 47.06% between sites, suggesting that differences in environmental parameters such as pH, salinity, and temperature significantly affect the composition and structure of microalgal communities.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save