Artikelilmiahs

Menampilkan 46.241-46.260 dari 48.741 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4624149620L1C021013Hubungan Kerapatan Mangrove dengan Struktur Komunitas Makrozoobentos di Wisata Hutan Payau Tritih KulonWisata Hutan Payau Tritih Kulon merupakan ekosistem mangrove yang berperan penting dalam mendukung kehidupan berbagai biota, salah satunya makrozoobentos. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan mangrove, struktur komunitas makrozoobentos, serta hubungan antara kerapatan mangrove dengan struktur komunitas makrozoobentos. Pengambilan data mangrove dilakukan menggunakan transek berukuran 10x10 m dengan jumlah plot sebanyak 9 plot. Pengambilan data makrozoobentos dilakukan dengan menggunakan transek berukuran 1x1 m sebanyak 5 sub transek pada setiap transek mangrove berukuran 10x10 m. Parameter lingkungan yang diambil adalah suhu, pH, salinitas, dan DO. Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat 2 jenis mangrove yaitu Rhizophora mucronata dan Bruguiera sp. dengan nilai kerapatan sebesar 1.155,5-2.777,8 ind/ha yang tergolong kategori sedang hingga padat. Nilai indeks ekologi meliputi kelimpahan sebesar 12,9 hingga 2,4 ind/m2, keanekaragaman sebesar 1,27 hingga 2,07, kesergaman 0,67 hingga 0,83, dan dominansi sebesar 0,18 hingga 0,41. Hasil analisis korelasi pearson menunjukkan adanya hubungan positif kuat antara kerapatan mangrove dengan kelimpahan dan dominansi makrozoobentos yaitu dengan nilai 0,84 dan 0,73. Sedangkan hubungan kerapatan vegetasi mangrove dengan keanekaragaman dan keseragaman makrozoobentos termasuk kategori negatif kuat hingga sangat kuat dengan nilai sebesar -0,57 dan -0,85.Tritih Kulon Brackish Forest Tourism is a mangrove ecosystem that plays an important role in supporting the lives of various biota, one of which is macrozoobenthos. This study aims to determine the density of mangroves, macrozoobenthos community structure, and the relationship between mangrove density with macrozoobenthos community structure. Mangrove data were collected using a 10x10 m transect with a total of 9 plots. Macrozoobenthos data were collected using 1x1 m transect with 5 sub-transects in each 10x10 m mangrove transect. Environmental parameters taken are temperature, pH, salinity, and DO. Based on the results of observations, there are 2 types of mangroves, namely Rhizophora mucronata and Bruguiera sp. with a density value of 1,155.5-2,777.8 ind/ha which is classified as a medium to dense category. Ecological index values include abundance of 12.9 to 2.4 ind/m2, diversity of 1.27 to 2.07, persistence of 0.67 to 0.83, and dominance of 0.18 to 0.41. Pearson correlation analysis results showed a strong positive relationship between mangrove density with abundance and dominance of macrozoobenthos with a value of 0.84 and 0.73. While the relationship between mangrove vegetation density with diversity and uniformity of macrozoobenthos included a strong negative category to very strong with values of -0.57 and -0.85.
4624249621D1A021058EVALUASI PENGOBATAN ALBENDAZOLE PADA KASUS TREMATODIASIS
TERNAK KAMBING DI EXPERIMENTAL FARM FAKULTAS PETERNAKAN,
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN, PURWOKERTO
Latar Belakang. Penelitian dilakukan untuk mengetahui tingkat pravalensi trematodiasis,
mengetahui jenis cacing trematoda, dan menganalisis penggunaan albendazole pada kasus
trematodiasis ternak kambing di Experimental Farm Universitas Jenderal Soedirman.
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 14 Juni 2025 – 3 Juli 2025 di Experimental Farm,
Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Teknik pengambilan
sampel yang digunakan yaitu convenience sampling dan dilanjutkan dengan uji laboratorium
menggunakan uji sedimentasi dan perhitungan Whitlock.
Jumlah sampel yang diambil sebanyak 20 sampel dari kambing Peranakan Ettawah. Sampel
fases kambing kemudian diperiksa di Laboratorium Kesehatan Hewan Tipe B, Kabupaten
Banyumas secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan uji sedimentasi dan perhitungan
Whitlock. Variabel penelitian yang diamati yaitu persentase prevalensi trematodiasis dan
jenis trematoda pada kambing Peranakan Ettawah. Data penelitian dianalisis menggunakan
analisis deskriptif dan uji t. Hasil identifikasi trematoda menunjukan bahwa terdapat 1 jenis
trematoda yang menginfeksi kambing Peranakan Ettawah di Experimental Farm, yaitu
Fasciola Sp. Prevalensi trematodiasis pada kambing Peranakan Ettawah di Experimental Farm
sebelum pengobatan sebesar 55% dan hari ke-15 setelah pengobatan sebesar 0%. Hasil uji t
untuk mengetahui pengaruh pemberian albendazole pada kejadian trematodiasis
menunjukan hasil (P<0,05) dengan t hitung (2,45) > t tabel (2,02) yang artinya terdapat
perbedaan signifikan antara kelompok sebelum diberi albendzolel (R0) dan kelompok
sesudah diberikan albendazole (R15) di Experimental Farm, Fakultas Peternakan, Universitas
Jenderal Soedirman.
ABSTRACT
This research was conducted to determine the prevalence of trematodiasis, identify the type
of trematode worm, and analyze the use of albendazole in cases of trematodiasis in goats at
the Experimental Farm of Jenderal Soedirman University.This study was carried out from June
14, 2025, to July 3, 2025, at the Experimental Farm, Faculty of Animal Science, Jenderal
Soedirman University, Purwokerto.The sampling technique used was convenience sampling,
followed by laboratory tests using the sedimentation test and Whitlock's counting method. A
total of 20 samples were collected from Ettawah crossbreed goats. The goat fecal samples
were then examined at the Type B Animal Health Laboratory, Banyumas Regency, both qualitatively and quantitatively using the sedimentation test and Whitlock's counting method.
The research variables observed were the prevalence percentage of trematodiasis and the
type of trematode in the Ettawah crossbreed goats. The research data were analyzed using
descriptive analysis and a T-test. The results of the trematode identification showed that there
was one type of trematode infecting the Ettawah crossbreed goats at the Experimental Farm,
namely Fasciola Sp. The prevalence of trematodiasis in the Ettawah crossbreed goats at the
Experimental Farm was 55% before treatment and 0% on day 15 after treatment. The results
of the T-test to determine the effect of albendazole administration on the incidence of
trematodiasis showed a result of (P<0.05) with a calculated t-value (2.45) > a t-table value
(2.02), which means there was a significant difference between the group before being given
albendazole (R0) and the group after being given albendazole (R15) at the Experimental Farm,
Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University.
4624349622F1A021072ANALISIS SEMIOTIKA: REPRESENTASI POLA ASUH OVERPROTEKTIF DALAM MANGA BLOOD ON THE TRACKSTumbuh kembang anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya yaitu pola asuh overprotektif. Fenomena ini divisualisasikan secara unik dalam manga Blood on the Tracks karya Shuzo Oshimi, yang mengisahkan hubungan kompleks antara Seiichi dan ibunya, Seiko. Penelitian ini bertujuan menemukan representasi penerapan pola asuh overprotektif orang tua dan dampaknya terhadap tumbuh kembang anak. Pendekatan Semiotika Charles Sanders Peirce digunakan untuk menganalisis scene yang dipilih disertai dengan teori representasi milik Stuart Hall dan teori Interaksi Simbolik. Hasil penelitian menunjukan bahwa pola asuh overprotektif Seiko direpresentasikan melalui tindakan-tindakan minor dengan makna tersirat, membatasi hubungan sosial dan emosional Seiichi, bahkan melakukan hal ekstrem untuk menciptakan kepatuhan dari Seiichi. Dampaknya, Seiichi mengalami gangguan kognitif yang membuatnya kesulitan bicara. Kondisinya dapat pulih ketika berada pada lingkungan yang mendukungnya sehingga resiliensinya dapat meningkat. Diketahui pula, pola asuh tersebut berakar dari trauma masa lalu Seiko, menjelaskan motivasi emosional di balik tindakannya.Child development is influenced by various factors, one of which is overprotective parenting. This phenomenon is uniquely visualized in Shuzo Oshimi's manga Blood on the Tracks, which tells the story of the complex relationship between Seiichi and his mother, Seiko. This study aims to find representations of the application of overprotective parenting and its impact on child development. Charles Sanders Peirce's semiotic approach is used to analyze selected scenes, accompanied by Stuart Hall's theory of representation and the theory of symbolic interaction. The results of the study show that Seiko's overprotective parenting style is represented through minor actions with implied meanings, limiting Seiichi's social and emotional relationships, and even resorting to extreme measures to enforce compliance from Seiichi. As a result, Seiichi experiences cognitive impairments that make it difficult for him to speak. His condition improves when he is in a supportive environment, thereby enhancing his resilience. It is also revealed that this parenting style stems from Seiko's past trauma, explaining the emotional motivations behind her actions.
4624449623L1A021074Analisis Struktur Vegetasi Riparian Dan Hubungannya
Terhadap Kualitas Air Di Sungai Logawa
Vegetasi riparian berperan penting dalam menjaga kualitas air sungai. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkategorikan komposisi dan struktur vegetasi riparian, mengidentifikasi
kualitas air Sungai Logawa, serta menjelaskan hubungan antara vegetasi riparian dan
kualitas air. Metode yang digunakan adalah purposive sampling dan nested sampling pada
12 stasiun (4 hulu, 4 tengah, 4 hilir) dengan plot berukuran 10×10 m (pohon), 5×5 m (tiang),
dan 1×1 m (semai). Sebanyak 32 spesies dari 21 famili ditemukan dengan total 1.005
individu. Spesies dominan pada masing-masing strata adalah Tectona grandis, Falcataria
moluccana, dan Aspilia mossambicensis. Nilai indeks Menhinick tinggi dan indeks Jaccard
rendah, menunjukkan kekayaan spesies yang tinggi dan kesamaan antar stasiun yang
rendah. Distribusi vegetasi cenderung mengelompok. Analisis Canonical Correspondence
Analysis (CCA) menunjukkan hubungan erat antara keberadaan vegetasi dengan parameter
kualitas air (suhu, pH, DO).
Riparian vegetation plays an important role in maintaining river water quality. This study aims to categorize the composition and structure of riparian vegetation, identify the water quality of the Logawa River, and explain the correlation between riparian vegetation and water quality. The methods used were purposive sampling and nested sampling at 12 stations (4 upstream, 4 midstream, and 4 downstream) with plots measuring 10×10 m (trees), 5×5 m (poles), and 1×1 m (seedlings). A total of 32 species from 21 families were found, with a total of 1,005 individuals. The dominant species in each stratum were Tectona grandis, Falcataria moluccana, and Aspilia mossambicensis. The Menhinick index value was high and the Jaccard index was low, indicating high species richness and low similarity between stations. Vegetation distribution tended to be clustered. Canonical Correspondence Analysis (CCA) showed a close correlation between vegetation presence and water quality parameters (temperature, pH, DO).
4624549624L1A021036Tingkat Pencemaran Perairan Waduk Sempor Berdasarkan Saprobitas PlanktonIndeks saprobik merupakan metode pembuktian dugaan terjadinya pencemaran perairan oleh polutan
organik yang dapat diketahui berdasarkan keberadaan plankton. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui tingkat pencemaran perairan Waduk Sempor ditinjau berdasarkan indeks saprobik
plankton. Penelitian ini dilakukan pada bulan September dan Desember 2024 di 8 stasiun dengan
metode random sampling. Sampel plankton kemudian dianalisis menggunakan indeks
keanekaragaman, indeks kemerataan, indeks dominansi, dan indeks saprobik. Sebanyak 15 spesies
plankton diperoleh di Waduk Sempor tersusun atas, 4 spesies dari kelas Bacillariophyceae, 3 spesies
dari kelas Chlorophyceae, 3 spesies dari kelas Cyanophyceae, 1 spesies dari kelas Dinophyceae, 1
spesies dari kelas Euglenophyceae, 1 spesies dari kelas Trebouxiophyceae, dan 2 spesies dari kelas
Zygnematophyceae. Nilai kelimpahan total pada bulan September sebesar 9.578 ind/L dan pada
bulan Desember sebesar 18.991 ind/L. Nilai indeks keanekaragaman berkisar antara 1,03-2,12,
indeks kemerataan berkisar antara 0,38-0,78, indeks dominansi berkisar antara 0,16-0,46. Nilai indeks
saprobik berkisar antara -0,25-1,5. Tingkat pencemaran Waduk Sempor berdasarkan indeks saprobik
termasuk ke dalam pencemaran ringan hingga sedang.
Saprobic index is a method of proving the alleged occurrence of water pollution by organic pollutants that can be known based on the presence of plankton. This study aims to determine the level of pollution of Sempor Reservoir waters based on the saprobic index of plankton. This research was conducted in September and December 2024 at 8 stations using random sampling method. Plankton samples were then analyzed using diversity index, evenness index, dominance index, and saprobic index. A total of 15 species of plankton were obtained in Sempor Reservoir, consisting of 4 species from the Bacillariophyceae class, 3 species from the Chlorophyceae class, 3 species from the Cyanophyceae class, 1 species from the Dinophyceae class, 1 species from the Euglenophyceae class, 1 species from the Trebouxiophyceae class, and 2 species from the Zygnematophyceae class. The total abundance value in September was 9,578 ind/L and in December was 18,991 ind/L. Diversity index values ranged from 1,03-2,12, evenness index ranged from 0.38-0.78, dominance index ranged from 0.16-0.46. Saprobic index values ranged from -0.25-1.5. The pollution level of Sempor Reservoir based on saprobic index is included in light to moderate pollution
4624649625K1B021005ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI JENIS PERCERAIAN DI JAWA TENGAH TAHUN 2023 MENGGUNAKAN ANALISIS REGRESI LOGISTIK BINERTingginya angka perceraian di Jawa Tengah menjadi isu sosial yang patut mendapat perhatian. Pada tahun 2023 Jawa Tengah menyumbang sekitar 16,5% dari total kasus perceraian di Indonesia. Dari 76.367 kasus yang tercatat, sebagian besar merupakan cerai gugat yakni sebesar 76%. Fenomena ini menunjukkan perlunya kajian mendalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhi jenis perceraian. Metode regresi logistik biner digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jenis perceraian (cerai gugat dan cerai talak). Jenis perceraian yang terjadi diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia saat menikah, tingkat pendidikan, durasi pernikahan, serta penyebab spesifik seperti kekerasan dalam rumah tangga, masalah ekonomi, adanya pihak ketiga, dan meninggalkan tanggung jawab. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat empat variabel yang terbukti signifikan terhadap jenis perceraian yaitu, usia pemohon/penggugat saat menikah, usia termohon/tergugat saat menikah, kekerasan dalam rumah tangga dan meninggalkan tanggung jawab.The high divorce rate in Central Jawa has become a social issue that deserves serious attention. In 2023, Central Jawa contributed approximately 16,5% of the total divorce cases in Indonesia. Of the 76,367 recorded cases, the majority 76% were divorces filed by women. This phenomenon highlights the need for an in depth study of the factors influencing the type of divorce. Binary logistic regression was used to identify the variables that significantly affect the type of divorce (divorces filed by women and divorces filed by men). The type of divorce is presumed to be influenced by various factors, such a age at marriage, level of education, duration of marriage, and spesific causes such as domestik violence, economic problems, the presence of a third party, and abandonment of responsibilities. The analysis results revealed that four variables significantly affect the type of divorce: the age of the petitioner at the time of marriage, the age of the respondent at the time of marriage, domestik violence, and abandonment of reponsibilities.
4624749627H1D021009IMPLEMENTASI RANDOM FOREST REGRESSION UNTUK
PREDIKSI TINGKAT KRIMINALITAS BERDASARKAN FAKTOR
SOSIAL DI WILAYAH BANYUMAS BERBASIS WEBSITE
Penelitian ini mengeksplorasi pemanfaatan algoritma Random Forest
Regression (RFR) dalam memprediksi tingkat kriminalitas berdasarkan faktor-
faktor sosial di wilayah Kabupaten Banyumas. Data yang digunakan terbatas pada
12 entri tahunan, sehingga diterapkan teknik augmentasi data untuk memperkaya
variasi dan mengatasi kendala deret waktu. Hasil model menunjukkan performa
prediktif yang cukup andal, dengan nilai Mean Absolute Percentage Error (MAPE)
stabil di kisaran 11–15%. Meskipun nilai R-squared (R²) menunjukkan fluktuasi,
model tetap relevan sebagai alat bantu analisis awal. Analisis feature importance
mengidentifikasi bahwa kemiskinan dan pengangguran memiliki kontribusi paling
signifikan terhadap prediksi kriminalitas. Temuan ini mendukung teori bahwa
kondisi sosial ekonomi berperan penting dalam dinamika kriminalitas. Penelitian
ini menegaskan potensi pendekatan machine learning, khususnya RFR, dalam
memahami fenomena sosial kompleks, namun tetap menekankan pentingnya
interpretasi hasil secara kritis serta perlunya penelitian lanjutan dengan data yang
lebih representatif.
This study explores the use of the Random Forest Regression (RFR)
algorithm to predict crime rates based on socio factors in a data-constrained
region, such as Banyumas Regency. The data used is limited to 12 entries per year,
so data augmentation techniques are applied to enrich variations and overcome
time constraints. The model results show fairly reliable predictive performance,
with Mean Absolute Percentage Error (MAPE) values stable in the range of 11–
15%. Although the R-squared (R²) value shows fluctuations, the model remains
relevant as an initial analysis tool. Feature importance analysis identified that
poverty and deprivation have the most significant contribution to crime prediction.
This finding supports the theory that socioeconomic conditions play a significant
role in crime dynamics. This study confirms the potential of machine learning
approaches, particularly RFR, in understanding complex social phenomena, but
emphasizes the importance of critically interpreting the results and the need for
further research with more representative data.
4624849628F1B018056Implementasi Program Pelayanan Tanah Akhir Pekan (PELATARAN) Di Kantor Pertanahan ATR/BPN Kabupaten BanyumasPenelitian ini berjudul Implementasi Program Pelayanan Tanah Akhir Pekan Di Kantor Pertanahan ATR/BPN Kabupaten Banyumas. Program ini merupakan inovasi ATR/BPN untuk memudahkan masyarakat yang tidak dapat mengurus tanah di jam kerja agar dapat mengurus dokumen pertanahannya secara mandiri. Namun, jumlah pemohon Pelataran pada implementasinya masih lebih rendah dari layanan di hari kerja dan cenderung menurun per tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi program Pelataran di Kantor Pertanahan ATR/BPN Kabupaten Banyumas dalam upaya peningkatan pelayanan publik, dikaji dengan teori implementasi menurut Ripley menggunakan pendekatan what’s happening. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Pemilihan informan menggunakan purposive sampling dan incidental sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh pegawai dilibatkan dalam mengimplementasikan program Pelataran melalui mekanisme rotasi. Tujuan dari program juga telah jelas dipahami oleh semua pihak. Tetapi dalam implementasi program ini terdapat tantangan dari segi kesiapan dan penguasaan informasi oleh pegawai, partisipasi masyarakat yang masih rendah, keterbatasan anggaran yang mengakibatkan ketiadaan uang kompensasi, dan adanya “layanan loket prioritas” di hari kerja dengan sasaran yang sama. Selain itu, keberlanjutan program tidak ditentukan oleh hasil kinerja layanan di tingkat Kantor Pertanahan namun dari hasil evaluasi di tingkat pusat. Meskipun demikian, kebermanfaatan program Pelataran telah dirasakan bagi para pengguna didukung dengan sarana prasarana yang memadai.This research entitled “The Implementation of Weekend Land Service (Pelataran) Program at the ATR/BPN Land Office of Banyumas Regency”. This program is an innovation to facilitate independent land administration for citizens unable to access services during working hours. However, the number of applicants for the Pelataran program remains lower than for regular weekday services and has shown a declining trend annually. This study aims to analyze the implementation of the Pelataran program as an effort to enhance public service, examined through Ripley's implementation theory, utilizing the what’s happening approach. A descriptive qualitative method was employed, with informants selected through purposive and incidental sampling, and data collected via interviews, observation, and documentation. The results show that all employees are involved in implementing the Pelataran program through a rotation mechanism, and its objectives are clearly understood. However, the implementation faces significant challenges: the readiness of rotating staff, low public participation, budget limitations causing a lack of overtime compensation, and a competing “priority counter service” on weekdays targeting the same audience. Furthermore, the program's sustainability is not determined by local performance but by central-level evaluation. Nevertheless, the program's benefits have been tangibly felt by its users, supported by adequate infrastructure.
4624949629J1B021037Pola Penyesuaian Serapan Asing Yang Belum Terstandardisasi Dalam Eyd V Pada Tempo Edisi “Jungkir Balik Raja Jawa” (Kajian Leksikologi)Peningkatan penggunaan bahasa asing oleh masyarakat Indonesia dapat berdampak negatif terhadap keaslian dan keunikan bahasa Indonesia. Pembakuan pedoman bahasa Indonesia resmi diperlukan untuk mengakomodasi masuknya istilah-istilah asing dengan tetap mempertahankan kaidah kebahasaannya. Penelitian ini penting dilakukan untuk menganalisis pola adaptasi yang belum tercakup dalam edisi kelima Sistem Ejaan Bahasa Indonesia (EYD V). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan identifikasi kosakata penyerapan bahasa asing dalam bahasa Indonesia pada majalah Tempo, terbitan tanggal 26 Agustus hingga 1 September 2024, berjudul “Jungkir Balik Raja Jawa,” berdasarkan bentuk, makna, dan asal usulnya, yang pola penyesuaiannya belum masuk ke dalam EYD V. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif, dengan analisis data menggunakan metode analisis intralingual dan ekstralingual. Data yang dianalisis berupa kosakata serapan bahasa asing dalam rubrik Laporan Utama Tempo. Berdasarkan hasil dan analisis, terdapat 3 pola yang belum distandardisasi dalam EYD V dengan 11 data ditemukan.The increasingly frequent use of foreign languages by Indonesian society may negatively affect the authenticity and uniqueness of the Indonesian language. Updates to the official Indonesian language guidelines are necessary to accommodate the influx of foreign terms while still preserving its linguistic norms. This research is essential to analyze adaptation patterns that are not yet covered in the fifth edition of the Indonesian Language Spelling System (EYD V). The purpose of this study is to describe the identification of foreign language absorption vocabulary in Indonesian in the Tempo magazine, dated from August 26 to September 1, 2024, entitled "Jungkir Balik Raja Jawa." based form, meaning, and origin that adjustment patterns are not yet included in EYD V. The research method is descriptive qualitative research, with data analysis using intralingual and extralingual analysis method. The data that was analyzed is in the form of foreign language absorption vocabulary in the Tempo Main Report rubric. Based on the results and analysis reveals there are three patterns that have not been standardized in EYD V with 11 data.
4625049630B1A021114PENGARUH ISOLAT BAKTERI ASAL RIZOSFER TANAMAN PASIR BESI TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT CABAI (Capsicum annuum L.) DENGAN METODE AXENIC SAND CULTURE ASSAYTanah pasir besi memiliki kandungan bahan organik rendah dengan kandungan besi (Fe) berkisar 38-59%. Tanaman cabai (Capsicum annuum L.). memiliki toleransi tinggi terhadap lingkungan. Pemberian isolat Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dapat membantu pertumbuhan tanaman cabai pada lahan marginal karena membantu dalam penyerapan hara dan nutrien yang dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi isolat bakteri PT4C5, KT6A5, dan CT4A7 sebagai PGPR, mengetahui kemampuan isolat bakteri PT4C5, KT6A5, dan CT4A7 dalam meningkatkan perkecambahan tanaman cabai dan pertumbuhan tanaman cabai dengan metode axenic sand culture assay serta mengetahui identitas isolat bakteri PT4C5, KT6A5, dan CT4A7 berdasarkan karakter fenotipik. Penelitian dilakukan secara survei dan eksperimental. Penelitian secara survei dilakukan untuk mengetahui karakteristik fenetik isolat bakteri, sedangkan penelitian secara eksperimental dilakukan untuk mengetahui potensi isolat bakteri dalam meningkatkan perkecambahan dan pertumbuhan vegetatif tanaman cabai. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 macam perlakuan yaitu kontrol menggunakan akuades steril, dan empat perlakuan inokulasi isolat PT4C5, KT6A5, CT4A7, konsorsium, dan EM4. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat PT4C5, KT6A5, dan CT4A7 memiliki karakter sebagai PGPR karena mampu menambat nitrogen, melarutkan fosfat dan kalium, memproduksi hormon tumbuh IAA, dan memproduksi siderofor, Isolat PT4C5, KT6A5, dan CT4A7 berpengaruh terhadap persentase perkecambahan biji cabai terutama konsorsium. Inokulasi isolat PT4C5, KT6A5, dan CT4A7 berpengaruh terhadap tinggi tanaman, bobot basah tanaman, panjang akar, jumlah daun, dan kandungan klorofil daun. Berdasarkan karakterisasi fenotipik, isolat PT4C5, KT6A5, dan CT4A7 diduga kelompok genus Planococcus.

Iron sand soil has low organic matter content with iron (Fe) content ranging from 38-59%. Chili plants (Capsicum annuum L.). have a high tolerance to the environment. Giving Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) isolates can help the growth of chili plants on marginal land because it helps in the absorption of nutrients and nutrients needed. This study aims to test the potential of bacterial isolates PT4C5, KT6A5, and CT4A7 as PGPR, determine the ability of bacterial isolates PT4C5, KT6A5, and CT4A7 in increasing chili plant germination and chili plant growth with axenic sand culture assay method, and determine the identity of bacterial isolates PT4C5, KT6A5, and CT4A7 based on phenotypic characters. The research was conducted by survey and experiment. Survey research was conducted to determine the phenetic characteristics of bacterial isolates, while experimental research was conducted to determine the potential of bacterial isolates in increasing germination and vegetative growth of chili plants. The research was conducted using a completely randomized design (CRD) with 5 treatments, namely control using sterile distilled water, and four inoculation treatments of PT4C5, KT6A5, CT4A7, consortium, and EM4 isolates. Each treatment was repeated 3 times. The results showed that isolates PT4C5, KT6A5, and CT4A7 have the character as PGPR because they are able to fix nitrogen, dissolve phosphate and potassium, produce growth hormone IAA, and produce siderophores. Isolates PT4C5, KT6A5, and CT4A7 affect the percentage of chili seed germination, especially the consortium. Inoculation of PT4C5, KT6A5, and CT4A7 isolates affects plant height, plant wet weight, root length, number of leaves, and leaf chlorophyll content. Based on phenotypic characterization, isolates PT4C5, KT6A5, and CT4A7 were identified belongs to genus Planococcus.

4625149631I1D021002Pengembangan Siomay Berbasis Tepung Komposit dan Jamur Tiram dengan Suplementasi Tepung Tulang Ikan Lele sebagai Makanan Selingan Anak Usia Sekolah DasarLatar Belakang: Siomay merupakan jajanan yang populer pada usia anak sekolah yang berpotensi dijadikan pangan fungsional. Pemanfaatan tepung komposit (tapioka-mocaf), jamur tiram, dan suplementasi tepung tulang ikan lele diharapkan dapat meningkatkan nilai gizi, khususnya protein dan kalsium dengan mutu hedonik yang disukai.

Metode: Penelitian eksperimental dengan desain Rancangan Acak Kelompok faktorial, menggunakan dua faktor, yaitu tepung komposit:jamur tiram (80:20, 70:30, 60:40) dan suplementasi tepung tulang ikan lele (5%, 10%, 15%). Kadar protein dianalisis dengan Two Way Anova, sedangkan mutu hedonik diuji menggunakan Friedman dan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test. Formula terbaik ditentukan menggunakan uji indeks efektifitas.

Hasil: Proporsi tepung komposit:jamur tiram tidak berpengaruh terhadap kadar protein (p= 0,134). Suplementasi tepung tulang ikan lele berpengaruh terhadap kadar protein siomay (p= 0,004). Proporsi tepung komposit:jamur tiram dan tingkat suplementasi tepung tulang ikan lele berpengaruh terhadap mutu hedonik warna (p= 0,000), mutu hedonik tekstur (p= 0,005), dan kesukaan keseluruhan (p= 0,002). Namun, tidak berpengaruh terhadap mutu hedonik aroma (p= 0,129) dan mutu hedonik flavour (p= 0,275).

Kesimpulan: Formula terbaik siomay diperoleh dari perbandingan 70:30 antara tepung komposit:jamur tiram, dengan suplementasi 10% tepung tulang ikan lele, mengandung protein 5,7% dan kalsium 1,77%. Siomay tersebut memiliki warna agak coklat, aroma amis agak tercium, tekstur kenyal, flavour tepung tulang lele tidak terasa, dan tingkat kesukaan panelis termasuk kategori “suka”.
Background: Siomay is a popular snack among school-age children and has the potential to be developed as a functional food. The use of composite flour (tapioca–mocaf), oyster mushrooms, and supplementation with catfish bone flour is expected to enhance nutritional value, especially protein and calcium, as well as sensory quality.

Methods: This experimental study applied a Randomized Block Design with a factorial design, consisting of two factors: the proportion of composite flour:oyster mushroom (80:20, 70:30, 60:40) and the supplementation level of catfish bone flour (5%, 10%, 15%). Protein content was analyzed using Two Way ANOVA, while sensory quality was assessed using the Friedman test followed by Duncan’s Multiple Range Test. The best formula was determined using the effectiveness index.

Result: The proportion of composite flour:oyster mushroom had no significant effect on protein content (p=0.134). Catfish bone flour supplementation significantly affected protein content (p=0.004). Both factors significantly affected the sensory attributes of color (p=0.000), texture (p=0.005), and overall acceptance (p=0.002), but had no significant effect on aroma (p=0.129) and catfish bone flour flavour (p=0.275).

Conclusion: The best formula was obtained from a 70:30 proportion of composite flour:oyster mushroom with 10% catfish bone flour supplementation, yielding 5.7% protein and 1.77% calcium. This siomay was characterized by a brownish color, low fishy aroma, chewy texture, unnoticeable catfish bone flour flavour, and an overall acceptance rating categorized as “liked” by panelists.
4625249633B1A021088POTENSI EKSTRAK ETANOL SERBUK JAMUR TIRAM COKLAT (Pleurotus cystidiosus) DALAM MENURUNKAN KADAR TNF-α PADA TIKUS HIPERGLIKEMIK YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOCINJamur tiram coklat (Pleurotus cystidiosus) diketahui memiliki kandungan senyawa bioaktif yang diduga berpotensi dalam menekan aktivitas imun yang berlebihan pada kondisi hiperglikemia. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 6 perlakuan yaitu KS (Kontrol Sehat), KN (Kontrol Negatif), KP (Kontrol Positif/Metformin 45 mg/kg BB), serta tiga kelompok perlakuan yang diberikan ekstrak dengan dosis yang berbeda yaitu P1 (250 mg/kg BB), P2 (500 mg/kg BB), dan P3 (750 mg/kg BB). Parameter utama berupa kadar TNF-α dan parameter pendukung meliputi berat badan tikus, kadar glukosa darah tikus, serta kandungan senyawa bioaktif ekstrak etanol serbuk jamur tiram coklat (P. cystidiosus). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian etanol serbuk P. cystidiosus selama 14 hari dapat menurunkan kadar TNF-α dan glukosa darah puasa tikus, serta meningkatkan berat badan tikus. Analisis ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (p<0,05) terhadap kadar TNF-α pada tikus yang diberikan ekstrak etanol serbuk P. cystidiosus dibandingkan tikus kelompok KN, dengan kadar TNF-α paling rendah yaitu pada kelompok P2 (500 mg/kg BB).Brown oyster mushroom (Pleurotus cystidiosus) is known to contain bioactive compounds that are believed to suppress excessive immune activity under hyperglycemic conditions. This study aimed to investigate the effect of the ethanolic extract of brown oyster mushroom (Pleurotus cystidiosus) fruit body powder on tumor necrosis factor-alpha (TNF-α) levels in hyperglycemic rats, as well as to determine the effective dosage of the extract in reducing TNF-α levels in rats induced with Streptozotocin (STZ). An experimental study was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with six treatment groups: healthy control (KS), negative control (KN), positive control (KP, administered Metformin 45 mg/kg BW), and three treatment groups receiving different doses of the extract, namely P1 (250 mg/kg BW), P2 (500 mg/kg BW), and P3 (750 mg/kg BW). The primary parameter measured was serum TNF-α concentration, while supporting parameters included body weight, fasting blood glucose levels, and the phytochemical profile of the ethanolic extract. The results demonstrated that administration of P. cystidiosus ethanolic extract for 14 days significantly reduced serum TNF-α and fasting blood glucose levels, and improved body weight in hyperglycemic rats. ANOVA analysis indicated a statistically significant difference (p<0.05) in TNF-α levels in rats treated with the ethanol extract of P. cystidiosus powder compared to the NC group, with the lowest TNF-α level observed in the T2 group (500 mg/kg BW).
4625349638L1A021016POPULASI UDANG REGANG (Macrobrachium sintangense De Man, 1898) DI WADUK PANGLIMA BESAR SOEDIRMAN PROVINSI JAWA TENGAHPenelitian ini berjudul “Populasi Udang Regang (Macrobrachium sintangense De Man, 1898) di waduk PB Soedirman, Provinsi Jawa Tengah. Udang Regang merupakan udang air tawar asli Indonesia Famili Palaemonidae yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Kajian khusus mengenai struktur populasi Udang Regang di Waduk PB Soedirman belum banyak dilakukan. Padahal secara ekologis, udang air tawar berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem dalam suatu perairan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelimpahan, hubungan panjang berat, faktor kondisi, dan laju eksploitasi Udang Regang di Waduk PB Soedirman. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan alat bantu ANOVA dan FISAT II. Hasil penelitian menunjukan kelimpahan relatif (KR) Udang Regang pada bulan Januari 3.728 individu (0,027%), Februari 1.328 individu (0,075%), dan Mei 1.009 individu (0,099%). Nilai panjang dan berat allomatrik negatif, dimana b = 2,8168 b < 3. Faktor kondisi (K) rata-rata 0,1154 ± 0,1539. Laju eksploitasi (E) sebesar 0,50 menunjukkan pemanfaatan optimal.This study is entitled “Population of Macrobrachium sintangense (De Man, 1898) in the PB Soedirman Reservoir, Central Java Province.” focuses on a native Indonesian freshwater shrimp from the family Palaemonidae, which is widely distributed across the country. However, specific research on its population structure in PB Soedirman Reservoir remains scarce, despite its ecological role in maintaining aquatic ecosystem balance. This research aimed to assess the abundance, length-weight relationship, condition factor, and exploitation rate of M. sintangense. Data analysis was conducted using ANOVA and FISAT
II. The results showed that the relative abundance of M. sintangense was 3.728 individuals 2 (0,027%) in January, 1.328 individuals (0,075%) in February, and 1.009 individuals (0,099%) in May. The length-weight relationship followed a negative allometric growth pattern, indicated by the value of b = 2,8168 (where b < 3). The average condition factor (K) was 0,1154 ± 0,1539. The exploitation rate (E) was calculated at 0,50, indicating that the current level of utilization is within the optimum range for sustainable harvest
4625449634D1A021144Karakteristik Fisikokimia Keju Mozzarella dengan Penambahan Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.)Kualitas fisikokimia pada keju mozzarella merupakan salah satu karakteristik penting untuk kualitas keju mozzarella. Penambahan ekstrak kayu secang yang ditambahkan pada keju mozzarella merupakan hal yang menarik. Penelitian ini menggunakan susu sapi, ekstrak kayu secang, rennet hewani, asam sitrat, garam dan seperangkat alat pembuatan keju mozzarella. Penelitian dilakukan dengan lima perlakuan penambahan ekstrak kayu secang, yaitu (kontrol) (P0) 0%, P1 1%, P2 2%, P3 3%, dan P4 4% dari susu. Variabel yang diukur yaitu tingkat kekerasan, kelenturan, persentase produk, warna, kadar air, pH, dan total padatan. Hasil pengukuran rata-rata penambahan ekstrak kayu secang terhadap tingkat kekerasan sebesar 379,07 g/mm2, Kelenturan 95,86 mm, persentase produk 6,70%, warna (WI) 75,41, kadar air 54,73%, pH 5,45 dan total padatan 45,26%. Hasil analisis regresi menunjukkan ekstrak kayu secang berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap warna dan kelenturan, berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap tingkat kekerasan, pH dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar air, total padatan,
dan persentase produk.
The physicochemical quality of mozzarella cheese is one of the important characteristics for the quality of mozzarella cheese. The addition of sappanwood extract added to mozzarella cheese is interesting. This study used cow's milk, sappanwood extract, animal rennet, citric acid, salt and a set of mozzarella cheese making tools. The research was conducted with five treatments of adding sappan wood extract, namely (control) (P0) 0%, P1 1%, P2 2%, P3 3%, and P4 4% of milk. The variables measured were the level of hardness, flexibility, percentage of product, color, water content, pH, and total solids. The average measurement results of the addition of sappanwood extract to the hardness level were
379.07 g/mm2, flexibility 95.86 mm, product percentage 6.70%, color (WI) 75.41, water content 54.73%, pH 5.45 and total solids 45.26%. The results of the regression analysis showed that sappanwood extract had a very significant effect (P<0.01) on color and flexibility, a significant effect (P<0.05)
on hardness level, pH and no significant effect (P>0.05) on
water content, total solids, and product percentage.
4625549635D1A021161Karakteristik Fisikokimia Keju Mozzarella dengan Penambahan Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.) Kualitas fisikokimia pada keju mozzarella adalah salah satu karakteristik penting untuk kualitas keju mozzarella. Penambahan ekstrak kayu secang yang ditambahkan pada keju mozzarella dianggap menarik. Penelitian ini menggunakan susu sapi, ekstrak kayu secang, rennet hewani, asam sitrat, garam dan seperangkat alat pembuatan keju mozzarella. Penelitian dilakukan dengan lima perlakuan penambahan ekstrak kayu secang, yaitu (kontrol) (P0) 0%, P1 1%, P2 2%, P3 3%, dan P4 4% dari susu. Variabel yang diukur meliputi tingkat kekerasan, kelenturan, persentase produk, warna, kadar air, pH, dan total padatan. Hasil pengukuran rata-rata penambahan ekstrak kayu secang terhadap tingkat kekerasan adalah 379,07 g/mm2, Kelenturan 95,86 mm, persentase produk 6,70%, warna (WI) 75,41, kadar air 54,73%, pH 5,45 dan total padatan 45,26%. Hasil analisis regresi menunjukkan ekstrak kayu secang berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap warna dan kelenturan, berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap tingkat kekerasan, pH dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar air, total padatan, dan persentase produk. The physicochemical quality of mozzarella cheese is one of the important characteristics for the quality of mozzarella cheese. The addition of sappanwood extract added to mozzarella cheese is interesting. This study used cow's milk, sappanwood extract, animal rennet, citric acid, salt and a set of mozzarella cheese making tools. The research was conducted with five treatments of adding sappan wood extract, namely (control) (P0) 0%, P1 1%, P2 2%, P3 3%, and P4 4% of milk. The variables measured were the level of hardness, flexibility, percentage of product, color, water content, pH, and total solids. The average measurement results of the addition of sappanwood extract to the hardness level were 379.07 g/mm2, flexibility 95.86 mm, product percentage 6.70%, color (WI) 75.41, water content 54.73%, pH 5.45 and total solids 45.26%. The results of the regression analysis showed that sappanwood extract had a very significant effect (P<0.01) on color and flexibility, a significant effect (P<0.05) on hardness level, pH and no significant effect (P>0.05) on water content, total solids, and product percentage.
4625649636L1A021093Populasi Udang Regang (Macrobrachium sintangense, De Man, 1898) di Waduk Sempor, Kabupaten Kebumen, Jawa TengahWaduk Sempor di Kebumen, Jawa Tengah, merupakan habitat penting bagi udang regang (Macrobrachium sintangense), yang memiliki peran ekologis dan ekonomi lokal. Penelitian ini menganalisis kelimpahan, hubungan panjang-berat, faktor kondisi, dan laju eksploitasi udang regang selama tiga bulan pengamatan (Juni, September, Desember 2024). Hasil menunjukkan kelimpahan tertinggi pada Juni dan September (>48%), sedangkan Desember hanya 2,89%, mencerminkan pengaruh musim yang signifikan. Hubungan panjang-berat menunjukkan pertumbuhan alometrik negatif (b = 1,775), artinya panjang bertambah lebih cepat dari berat. Faktor kondisi rata-rata (K = 6,41 ± 1,77) menunjukkan kondisi fisiologis yang baik. Namun, laju eksploitasi (E = 0,65) melampaui batas optimal (0,5), mengindikasikan tekanan penangkapan berlebih. Parameter kualitas air seperti suhu (28–32°C), pH (6–8,3), dan kecerahan (1–18,5 m) juga memengaruhi dinamika populasi. Meskipun kondisi biologis udang tergolong baik, tekanan eksploitasi berlebih dapat mengancam keberlanjutan populasi. Diperlukan pengelolaan berkelanjutan, seperti pembatasan penangkapan dan pemantauan berkala terhadap kualitas lingkunganSempor Reservoir in Kebumen, Central Java, is a crucial habitat for the freshwater prawn (Macrobrachium sintangense), which plays key ecological and economic roles. This study analyzes the species' abundance, length-weight relationship, condition factor, and exploitation rate over three sampling periods (June, September, December 2024). Results show peak abundance in June and September (>48%), while December recorded only 2.89%, indicating significant seasonal influence. The length-weight relationship follows a negative allometric pattern (b = 1.775), suggesting faster length growth than weight. The average condition factor (K = 6.41 ± 1.77) indicates a healthy physiological state. However, the exploitation rate (E = 0.65) exceeds the optimal threshold (0.5), signaling overfishing pressure. Water quality parameters, temperature (28–32°C), pH (6–8.3), and transparency (1–18.5 m), also affect population dynamics. Although the prawns are in good biological condition, the high exploitation rate poses a risk to their sustainability. Sustainable management strategies are recommended, including limiting harvest intensity and conducting regular environmental monitoring
4625749637I1D021058HUBUNGAN ANTARA POLA KONSUMSI FAST FOOD DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN TEKANAN DARAH PADA MAHASISWA UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANLatar Belakang: Tekanan darah tinggi tidak hanya terjadi pada lansia, tetapi juga pada usia yang lebih muda, termasuk mahasiswa, dan sering dikaitkan dengan gaya hidup tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola konsumsi fast food dan aktivitas fisik dengan tekanan darah pada mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman.

Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional yang dilakukan pada 92 mahasiswa S1 (usia 19-24 tahun) di Universitas Jenderal Soedirman. Tekanan darah diukur secara langsung, pola konsumsi fast food dinilai menggunakan FFQ, dan aktivitas fisik diukur dengan IPAQ-SF. Data dianalisis menggunakan uji Likelihood Ratio.

Hasil: Ditemukan hubungan signifikan antara pola konsumsi fast food dengan tekanan darah (p=0,045). Namun, tidak ditemukan hubungan signifikan antara aktivitas fisik dengan tekanan darah (p=0,886).

Kesimpulan: Pola konsumsi fast food berhubungan dengan tekanan darah pada mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman, sedangkan aktivitas fisik tidak.
Background: The prevalence of high blood pressure is not only exclusive to the elderly but is also a concern for young adults, inculding college students, due to its association with unhealthy lifestyles. This study aimed to determine the relationship between fast food consumption patterns and physical activity with blood pressure among students at Jenderal Soedirman University.

Methodology: A cross-sectional study was conducted on 92 undergraduate students (19-24 years old) at Jenderal Soedirman University. Blood pressure was measured directly, fast food consumption patterns were assessed using FFQ and physical activity was measured with the IPAQ-SF. Data were analyzed using the Likelihood Ratio test.

Results: A significant relationship was found between fast food consumption patterns and blood pressure (p=0.045). However, no significant relationship was observed between physical activity and blood pressure (p=0.886).

Conclusion: Fast food consumption patterns were related to blood pressure in students at Jenderal Soedirman University, but physical activity was not.
4625849666K1B021057MODEL ECONOMIC ORDER QUANTITY PROBABILISTIK UNTUK BARANG PERISHABLE DENGAN UMUR SIMPAN ACAKModel Economic Order Quantity (EOQ) merupakan salah satu jenis model
persediaan yang memiliki tujuan utama untuk menentukan jumlah pemesanan yang
ekonomis dan dapat meminimumkan total biaya persediaan. Model EOQ biasa seringkali
tidak memadai untuk mengelola barang perishable karena gagal memperhitungkan
ketidakpastian permintaan dan umur simpan produk yang bersifat acak. Penelitian ini
bertujuan mengembangkan model EOQ probabilistik yang dirancang khusus untuk
barang perishable dengan umur simpan acak yang dimodelkan menggunakan distribusi
Weibull. Model total biaya yang diharapkan per unit waktu dibentuk dengan
menjumlahkan biaya pemesanan, penyimpanan, kedaluwarsa, dan kekurangan
persediaan. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa fungsi total biaya bersifat konveks,
yang menjamin adanya solusi yang optimal. Melalui simulasi numerik, diperoleh
kuantitas pemesanan optimal sebanyak 1240,71 unit, dengan waktu siklus 46,98 unit
waktu, dan total biaya minimum sebesar $8,7295. Analisis sensitivitas menunjukkan
bahwa model sensitif terhadap perubahan paramater permintaan rata-rata, biaya
kekurangan, skala umur simpan. Peningkatan parameter eksternal, yaitu permintaan ratarata dan simpangan baku permintaan secara umum menyebabkan jumlah pemesanan
optimal dan total biaya yang diharapkan per unit waktu menjadi lebih besar.
The Economic Order Quantity (EOQ) model is a fundamental inventory
model aimed at determining the most economical order quantity to minimize total
inventory costs. However, the conventional EOQ model is often inadequate for managing
perishable goods as it fails to account for demand uncertainly and the random nature of
product shelf life. This research develops a probabilistic EOQ model specifically
designed for perishable goods with a random shelf life, modeled using the Weibull
distribution. The expected total cost per unit time is formulated by summing the ordering,
holding, outdating, and shortage costs. The results prove that the total cost function is
convex, which guarantees the existence of an optimal solution. Through numerical
simulation, the optimal order quantity was determined to be 1240,71 units, with a cycle
time of 46,98 time units, and a minimum expected total cost of $8,7295. Sensitivity
analysis reveals that the model is sensitive to changes in the mean demand, shortage cost,
and the shelf life scale parameter. Furthermore, an increase in external parameters,
namely mean demand and standard deviation, generally leads to a larger optimal order
quantity and a higher 𝐸𝑇𝐶𝑢.
4625949639D1A019030Korelasi Antara Bobot Day Old Chick (DOC) dengan Pertambahan Bobot Badan (PBB) dan Feed Convertion Ratio (FCR) pada Ayam Niaga PedagingPenelitian bertujuan mengkaji hubungan antara bobot Day Old Chick (DOC) dengan pertambahan bobot badan (PBB) dan Feed Conversion Ratio (FCR) pada ayam niaga pedaging. Materi penelitian adalah enam flok ayam niaga pedaging di kandang closed house CV Serayu Farm 2 Desa Losari, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, dengan total populasi 130.500 ekor ayam niaga pedaging strain Cobb yang dipelihara selama 34 hari. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan uji korelasi bivariat metode Pearson Product Moment untuk mengevaluasi hubungan antar variabel. Angka rata-rata bobot DOC adalah 42,33 g, rata-rata PBB adalah 1,881 kg, dan rata-rata FCR adalah 1,850. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan antara bobot DOC dengan FCR, dengan koefisien signifikansi 0,048 (P < 0,05) dan nilai korelasi Pearson sebesar -0,756. Selain itu, terdapat korelasi positif yang sangat kuat antara bobot DOC dengan PBB, dengan koefisien signifikansi 0,048 dan nilai korelasi Pearson sebesar 0,856. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ayam niaga pedaging dengan bobot DOC yang lebih tinggi menunjukkan PBB lebih baik dan FCR lebih efisien.
This study aims to examine the relationship between Day Old Chick (DOC) weight and both Body Weight Gain (BWG) and Feed Conversion Ratio (FCR) in broiler chickens. The research materials was six flocks of broiler chickens in a closed house at CV Serayu Farm 2, located in Desa Losari, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, with a total population of 130,500 Cobb strain broiler chickens raised for 34 days. The collected data were analyzed using the bivariate correlation test with the Pearson Product Moment method to evaluate the relationships between variables. The average DOC weight was 42.33 g, the average BWG was 1.881 kg, and the average FCR was 1.850. The results showed a significant negative correlation between DOC weight and FCR, with a significance coefficient P < 0.05 and a Pearson correlation value of -0.756. Additionally, there was a very strong positive correlation between DOC weight and BWG, with a significance coefficient P < 0.05 and a Pearson correlation value of 0.856. The conclusion of this study was that broiler chickens with higher DOC weights tended to exhibit better BWG and more efficient FCR.
4626049640D1A021152Karakteristik Fisikokimia Keju Mozzarella dengan Penambahan
Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.)
Kualitas fisikokimia pada keju mozzarella adalah salah satu
karakteristik penting untuk kualitas keju mozzarella.
Penambahan ekstrak kayu secang yang ditambahkan pada keju
mozzarella dianggap menarik. Penelitian ini menggunakan
susu sapi, ekstrak kayu secang, rennet hewani, asam sitrat,
garam dan seperangkat alat pembuatan keju mozzarella.
Penelitian dilakukan dengan lima perlakuan penambahan
ekstrak kayu secang, yaitu (kontrol) (P0) 0%, P1 1%, P2 2%, P3
3%, dan P4 4% dari susu. Variabel yang diukur meliputi
tingkat kekerasan, kelenturan, persentase produk, warna,
kadar air, pH, dan total padatan. Hasil pengukuran rata-rata
penambahan ekstrak kayu secang terhadap tingkat kekerasan
adalah 379,07 g/mm2
, Kelenturan 95,86 mm, persentase
produk 6,70%, warna (WI) 75,41, kadar air 54,73%, pH 5,45
dan total padatan 45,26%. Hasil analisis regresi menunjukkan
ekstrak kayu secang berpengaruh sangat nyata (P<0,01)
terhadap warna dan kelenturan, berpengaruh nyata (P<0,05)
terhadap tingkat kekerasan, pH dan tidak berpengaruh nyata
(P>0,05) terhadap kadar air, total padatan, dan persentase
produk.
The physicochemical quality of mozzarella cheese is one of the
important characteristics for the quality of mozzarella cheese.
The addition of sappanwood extract added to mozzarella
cheese is interesting. This study used cow's milk, sappanwood
extract, animal rennet, citric acid, salt and a set of mozzarella
cheese making tools. The research was conducted with five
treatments of adding sappan wood extract, namely (control)
(P0) 0%, P1 1%, P2 2%, P3 3%, and P4 4% of milk. The
variables measured were the level of hardness, flexibility,
percentage of product, color, water content, pH, and total
solids. The average measurement results of the addition of
sappanwood extract to the hardness level were 379.07 g/mm2, flexibility 95.86 mm, product percentage 6.70%, color (WI)
75.41, water content 54.73%, pH 5.45 and total solids 45.26%.
The results of the regression analysis showed that
sappanwood extract had a very significant effect (P<0.01) on
color and flexibility, a significant effect (P<0.05) on hardness
level, pH and no significant effect (P>0.05) on water content,
total solids, and product percentage.