Artikelilmiahs

Menampilkan 46.221-46.240 dari 48.741 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4622149593E1A018236DAKWAAN TUNGGAL DALAM TINDAK PIDANA SUMPAH DAN KETERANGAN PALSU (StudI Putusan Nomor 119/Pid.B/2024/PN Cbi) Penelitian ini dilatarbelakangi oleh salah satu kasus atas nama Terdakwa Said Bin Misin yang melakukan tindak pidana memberikan keterangan palsu diatas sumpah pada perkara perdata nomor 106 / Pdt.G / 2013 / PN.Cbi terungkap fakta bahwa Terdakwa mengetahui perihal jual beli tanah dan menandatangani akta jual beli Nomor : 2010 / 380 / PARUNG /1998 pada tanggal 21 September 1998 di Kantor PPAT Miranto Tresnaning Timur, SH. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif analistis. Sumber data yang digunakan merupakan data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dikumpulkan melalui studi kepustakaan. Data tersebut kemudian diolah serta dianalisis menggunakan metode normatif kualitatif dan disajikan dalam bentuk teks naratif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan pertimbangan jaksa penuntut umum dalam menentukan dakwaan tunggal Terhadap perkara Said Bin Misin dalam Putusan Nomor 119/Pid.B/2024/PN Cbi telah tepat karena tindak pidana pemberian keterangan palsu dimuka persidangan sebagaimana diatur dalam Pasal 242 ayat (1) KUHPidana merupakan tindak pidana yang jelas serta tidak mengandung faktor mededaderschap atau tidak mengandung faktor concursus. Majelis hakim dalam pertimbangannya telah mempertimbangkan aspek yuridis dan non-yuridis dalam mengambil keputusan didasarkan pada fakta-fakta yuridis serta latar belakang terdakwa, akibat yang ditimbulkan dari tindak pidana, kondisi diri terdakwa, keadaan sosial.This research is motivated by one of the cases on behalf of the Defendant Said Bin Misin who committed the crime of giving false testimony under oath in civil case number 106 / Pdt.G / 2013 / PN.Cbi revealed the fact that the Defendant knew about the sale and purchase of land and signed the deed of sale and purchase Number: 2010 / 380 / PARUNG / 1998 on September 21, 1998 at the PPAT Office Miranto Tresnaning Timur, SH. This study uses a normative legal method with analytical descriptive research specifications. The data sources used are secondary data consisting of primary, secondary, and tertiary legal materials collected through literature studies. The data is then processed and analyzed using qualitative normative methods and presented in the form of narrative text. Based on the results of the research and discussion, it can be concluded that the consideration of the public prosecutor in determining a single charge against the Said Bin Misin case in Decision Number 119/Pid.B/2024/PN Cbi was appropriate because the crime of providing false information before the trial as regulated in Article 242 paragraph (1) of the Criminal Code is a clear criminal offense and does not contain an accompanying factor (mededaderschap) or does not contain a concursus factor. The panel of judges in their considerations has considered the legal and non-legal aspects in making decisions based on the legal facts and background of the defendant, the consequences of the crime, the defendant's condition, and social circumstances.
4622249595I1E021073Pengaruh latihan mistar shoot terhadap ketepatan tembakan 2 angka dalam permainan bola basket siswa SMA Negeri 1 WanadadiLatar Belakang: Bola basket merupakan olahraga tim yang memiliki teknik dasar yang sangat penting, salah satunya adalah shooting, yang berfungsi untuk mengoptimalkan variasi serangan dalam permainan. Namun berdasarkan observasi pada SMA tersebut, bahwa siswa baik selama latihan dan permainan tingkat keberhasilan mencetak angka melalui teknik dasar shooting kurang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode latihan mistar shoot yang diharapkan dapat digunakan untuk latihan shooting pada siswa ekstrakulikuler SMA N 1 Wanadadi.

Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini adalah 12 siswa putra (total sampling). Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan post test, pree test dan Johnson Basket Ball Test (1986). Analisis data menggunakan uji-t untuk mengetahui perbedaanhasil antara pretest dan posttest. Program latihan yang digunakan adalah latihan menggunakan mistar shoot selama 3 kali perminggu dengan total sebanyak 16 kali pertemuan dengan proses pengembangan latihan terdiri dari repetisi dan konsistensi.

Hasil Penelitian: Hasil analisis data menunjukanan adanya hasil peningkatan signifikan kemempuan shooting setelah diberikan latihan mistar shoot, Hal ini dibuktikan dengan hasil uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis paired sample t-test untuk data pree test dan post test mistar shoot menunjukkan bahwa nilai sig. (2-tailed), yaitu 0,000 < 0,05 diterima.

Kesimpulan: Dari hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan terdapat perubahan dari metode latihan menggunakan mistar shoot terhadap peningkatan kemampuan tembakan dua angka siswa ekstrakurikuler bola basket SMA Negeri 1 Wanadadi berpengaruh . Metode ini dapat
menjadi alternatif dalam memperkaya variasi latihan shooting.

Kata Kunci: Olahraga Bola Basket, Shooting, Mistar, Metode Latihan, Penelitian dan Pengaruh
Background: Basketball is a team sport that requires mastery of fundamental techniques, one of the most crucial being shooting, which serves to optimize offensive variations during gameplay. However, based on observations at SMA N 1 Wanadadi, students demonstrated suboptimal shooting effectiveness during both practice and games. This study aims to develop a training method using a shooting ruler, which is expected to enhance the shooting skills of students participating in extracurricular basketball activities at SMA N 1 Wanadadi.

Methodology: This study employed a quantitative approach. The sample consisted of 12 male students selected through total sampling. The research instruments included a pre-test, post-test, and the Johnson Basketball Test (1986). Data analysis was conducted using a t-test to determine the difference in outcomes between the pre-test and post-test. The training program implemented in this study involved the use of the Mistar Shoot method, conducted three times per week for a total of 16 sessions. The training development process emphasized repetition and consistency.

Research Findings: The results of data analysis indicate a significant improvement in shooting performance following the implementation of the Mistar Shoot training. This finding is supported by the results of the normality test, homogeneity test, and paired sample t-test. The hypothesis testing for the pre-test and post-test data yielded a significance value (2-tailed) of 0.000, which is less than the threshold of 0.05, indicating that the improvement is statistically significant.

Conclusion: The data analysis produced a description indicating that the findings, along with the stages of data analysis and interpretation carried out, lead to the conclusion that the Mistar Shoot training method has a positive effect on improving the two-point shooting ability of basketball extracurricular students at SMA Negeri 1 Wanadadi. This method may serve as a valuable alternative for enhancing the variety of shooting drills in training programs.

Keywords : Basketball, Shooting, Ruler, Training Method, Research, Impact
4622349596I1D021018Hubungan Variasi Menu dan Penampilan Makanan dengan Sisa Makanan Pasien Diet Rendah Garam di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata PurbalinggaLatar Belakang : Pelayanan gizi rumah sakit mencakup penyelenggaraan makanan dengan sisa makanan sebagai salah satu indikator keberhasilannya. Sisa makanan mencerminkan kepuasan pasien terhadap makanan yang dipengaruhi oleh persepsi terhadap variasi menu dan penampilan makanan. Penelitian di beberapa rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa terdapat sisa makanan yang tergolong tinggi terutama pada pasien diet rendah garam. Sisa makanan rumah sakit di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga menjadi masalah penting dalam manajemen penyelenggaraan makanan rumah sakit terutama bagi pasien diet rendah garam. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan variasi menu dan penampilan makanan dengan sisa makanan pada pasien diet rendah garam.

Metodologi : Penelitian menggunakan desain cross sectional di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga pada April-Mei 2025. Sampel penelitian sebanyak 68 responden yang diambil dengan metode purposive sampling. Data diperoleh dari wawancara kuesioner variasi menu dan penampilan makanan serta pengamatan sisa makanan menggunakan metode Visual Comstock. Analisis statistik menggunakan uji Pearson Chi Square.

Hasil Penelitian : Sebagian besar responden menilai variasi menu diet rendah garam di RSUD dr. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga bervariasi dan penampilan makanan menarik. Mayoritas sisa makanan pokok, lauk hewani, dan lauk nabati sebanyak <20% (sisa sedikit) dan sisa sayur sebanyak >20% (sisa banyak). Tidak terdapat hubungan antara variasi menu olahan makanan pokok (p=0,338), lauk hewani (p=0,784), lauk nabati (p=0,746), sayur (p=0,435) dengan sisa makanan. Tidak terdapat hubungan antara variasi menu bahan makanan pokok (p=0,125), lauk hewani (p=0,345), lauk nabati (p=0,540), sayur (p=0,590) dengan sisa makanan. Tidak terdapat hubungan penampilan makanan terhadap bentuk makanan pokok (p=0,469), lauk hewani (p=0,333), lauk nabati (p=0,126), sayur (p=0,619) dengan sisa makanan.

Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan variasi menu dan penampilan makanan dengan sisa makanan.
Background : Hospital nutrition services include food provision, with plate waste serving as one of the indicators of service effectiveness. Plate waste reflects patient satisfaction with the meals, which is influenced by their perception of menu variety and food appearance. Studies conducted in several hospitals in Indonesia have shown a relatively high level of food waste, particularly among patients on a low-sodium diet. At Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Regional General Hospital in Purbalingga, food waste especially from patients on low-sodium diets has become a significant issue in hospital food service management. This study aims to examine the relationship between menu variety and food appearance with food waste among patients on a low-sodium diet.

Methodology : This study employed a cross-sectional design and was conducted at RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga in April-May 2025. A total of 68 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected through a questionnaire on menu variety and food presentation, and food waste was observed using the Visual Comstock method. Statistical analysis was performed using the Pearson Chi-Square test.

Result : The majority of respondents rated the menu variety on low-salt diet at RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga as varied and the food presentation as attractive. Most of the leftovers for staple foods, animal protein dishes, and plant-based dishes were less than 20% (bellow the standard), while vegetable leftovers exceeded 20% (above the standard). No significant relationship was found between the menu variety of staple food preparations (p=0,338), animal-based dishes (p=0,784). plant-based dishes (p=0,746), and vegetables (p=0,435) with food waste. Similarly, there was no relationship between menu variety in ingredients of staple foods (p=0,125), animal-based dishes (p=0,345), plant-based dishes (p=0,540), and vegetables (p=0,590) with food waste. There was also no significant relationship between food presentation in terms of appearance of staple foods (p=0,469), animal-based dishes (p=0,333), plant-based dishes (p=0,126), and vegetables (p=0,619) with food waste.

Conclusion : There is no significant relationship between menu variety and food presentation with food waste.
4622449597J1B021005Makna Kontekstual dalam Ungkapan Makian pada Komunitas Marah-Marah Platform XUngkapan makian merupakan sebuah kosakata tertentu yang kerap digunakan saat terjadi benturan-benturan sosial dalam masyarakat. Penelitian ini berfokus pada makna kontekstual ungkapan makian dalam Komunitas Marah-Marah di Platform X. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Data merupakan ungkapan makian yang diambil dari unggahan dalam Komunitas Marah-Marah di Platform X. Sumber data dari penelitian ini adalah Komunitas Marah-Marah di Platform X. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan metode cakap berupa cakap tansemuka. Selain itu, teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik pilah unsur penentu. Dalam penelitian ini, ditemukan 22 unggahan yang mengandung ungkapan makian. Sementara itu, ditemukan 40 ungkapan makian dari unggahan yang ada. Melalui hasil penelitian, diketahui makna kontekstual yang ditemukan berhubungan dengan kebodohan, kriminalitas, perilaku buruk, dan sesuatu yang tidak disukai dari seseorang atau suatu keadaan. Selain itu, ditemukan juga makian yang tidak digunakan sesuai dengan makna aslinya, seperti ungkapan “anjing”, “babi”, “cuk”, dan lain sebagainya. Namun, ada juga makian yang digunakan sesuai dengan makna sebenarnya seperti “tolol”, “biadab”, “konyol”, dan lain sebagainya. Melalui penelitian ini, disimpulkan bahwa ungkapan makian masih digunakan sampai saat ini, bahkan ditemukan ungkapan makian baru yang dapat dengan mudah menyebar karena adanya media sosial.Insults are specific words that are often used when social conflicts arise in society. This study focuses on the contextual meaning of insults in the Komunitas Marah-Marah on Platform X. The method used in this study is descriptive qualitative. The data consists of swear words taken from posts in the Komunitas Marah-Marah on Platform X. The data source for this study is the Komunitas Marah-Marah on Platform X. The data in this study was collected using the interview without face-to-face method. In addition, the advanced technique used was the element selection technique. In this study, 22 posts containing swear words were found. Meanwhile, 40 swear words were found in the existing posts. Through the results of the study, it was found that the contextual meaning was related to stupidity, criminality, bad behavior, and something that was disliked about a person or a situation. In addition, swear words were also found that were not used according to their original meaning, such as the expressions “anjing,” “babi,” “cuk,” and so on. However, there were also insults used in accordance with their original meanings, such as “tolol,” “biadab,” “konyol,” and so on. Through this study, it was concluded that insulting expressions are still used today, and even new insulting expressions have emerged that can easily spread due to the presence of social media.
4622549598J1B021002Tubuh, Luka, dan Ingatan: Analisis Trauma Tokoh Lasi dalam Novel
Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari
Penelitian ini berupaya menggali bagaimana trauma tergambar pada diri tokoh Lasi dalam novel Bekisar
Merah karya Ahmad Tohari, khususnya dalam menyoroti hubungan antara tubuh, bekas luka, dan ingatan
sebagai pembentuk alur cerita. Fokus utama penelitian adalah menjelaskan bagaimana trauma bukan
sekadar menjadi inti cerita, melainkan juga memengaruhi cara cerita yang disampaikan melalui lambang
tubuh, alur waktu yang terputus, pengulangan kejadian, dan keheningan yang bermakna. Metode yang
digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan analisis mendalam (close reading) terhadap teks, serta
pendekatan psikologi sastra berdasarkan teori trauma yang digagas oleh Cathy Caruth. Dalam kerangka ini,
trauma dipahami sebagai pengalaman yang sulit untuk disadari secara langsung, tetapi muncul kembali
dalam bentuk ingatan yang terfragmentasi dan alur cerita yang terpecah. Hasil penelitian menampilkan
bahwa trauma yang dialami tokoh Lasi muncul dalam wujud hilangnya kemampuan bersuara, pergeseran
identitas, dan bayangan dari lingkungan sosial. Gambaran luka pada tubuh tokoh dan ketegangan dalam
cerita membentuk struktur estetika yang rumit. Trauma tidak hanya diartikan sebagai derita pribadi, tetapi
juga sebagai bentuk perlawanan terhadap kekuasaan sosial yang menindas. Oleh karena itu, Bekisar Merah
menyajikan trauma sebagai sebuah bangunan naratif yang merekam penderitaan kaum perempuan secara
simbolis, reflektif, dan mendalam.
This study explores how trauma is portrayed by the character Lasi in Ahmad Tohari's novel Bekisar Merah,
specifically highlighting the relationship between the body, scars, and memory that shape the plot. The
primary focus of this research is to explain how trauma is not merely the story's core but also influences
the narrative through bodily symbolism, disjointed timelines, recurring events, and meaningful silences.
The method used is qualitative descriptive with in-depth analysis (deep reading) of the text, as well as a
literary psychology approach based on Cathy Caruth's trauma theory. Within this framework, trauma is
understood as an experience that is difficult to acknowledge directly, but resurfaces in the form of
fragmented memories and a fragmented storyline. The results show that Lasi's trauma manifests itself in
the loss of voice, shifting identities, and the shadows of her social environment. The depiction of the
character's wounds and the tensions within the story form a complex aesthetic structure. Trauma is
interpreted not only as personal suffering but also as a form of resistance against oppressive social forces.
Therefore, Bekisar Merah presents trauma as a narrative construction that captures women's suffering
symbolically, reflectively, and profoundly.
4622649599I2A023012FAKTOR DETERMINAN CALON PENGANTIN WANITA
BERISIKO MELAHIRKAN ANAK STUNTING DI
KABUPATEN BANYUMAS
Latar Belakang: Kabupaten Banyumas merupakan salah satu wilayah di Jawa Tengah dengan prevalensi stunting yang masih tinggi, yakni sebesar 19,6% pada tahun 2024. Angka ini hanya mengalami penurunan sebesar 1,3% dari tahun sebelumnya dan belum mencapai target nasional sebesar 14%. Pencegahan stunting perlu dilakukan sejak masa prakonsepsi, terutama melalui penyiapan calon pengantin wanita yang sehat dan siap memasuki masa kehamilan.

Metode: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan yang berhubungan dengan status calon pengantin wanita berisiko melahirkan anak stunting di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sebanyak 425 calon pengantin wanita yang mendaftarkan pernikahan pada Desember 2024–Januari 2025 dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Variabel terikat adalah status risiko calon pengantin wanita melahirkan anak stunting. Variabel bebas meliputi tingkat pendidikan, status bekerja, pendidikan orang tua, pendapatan keluarga, kategori wilayah, peran keluarga, peran teman sebaya, tingkat pengetahuan, paparan informasi, dan kesiapan menikah. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan aplikasi Elsimil BKKBN. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 84,9% responden termasuk dalam kategori berisiko melahirkan anak stunting. Faktor yang berhubungan secara signifikan adalah tingkat pendidikan calon pengantin wanita dan orang tuanya, tingkat pendapatan keluarga, peran keluarga dan teman sebaya, tingkat pengetahuan, paparan informasi, serta kesiapan menikah. Pengetahuan tentang stunting dan paparan informasi menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi status risiko tersebut.
Kesimpulan: Diperlukan peningkatan edukasi dan akses informasi bagi calon pengantin wanita, serta keterlibatan keluarga dan teman sebaya, untuk mendukung kesiapan menyeluruh sebagai upaya pencegahan stunting sejak dini.
Background: Banyumas Regency is one of the regions in Central Java with a high stunting prevalence, recorded at 19.6% in 2024. This figure shows only a 1.3% decrease from the previous year and has not yet reached the national target of 14%. Stunting prevention needs to begin in the preconception period, particularly by ensuring prospective brides are healthy and prepared for pregnancy.

Methods: This study aimed to analyze the determinants associated with the risk status of prospective brides giving birth to stunted children in Banyumas Regency. A quantitative approach with a cross-sectional design was used. A total of 425 prospective brides who registered their marriage between December 2024 and January 2025 were selected using accidental sampling. The dependent variable was the risk status of giving birth to a stunted child. Independent variables included education level, employment status, parental education, family income, residential area category, family and peer support, knowledge level, information exposure, and marriage readiness. Data were collected through questionnaires and the Elsimil BKKBN application. Data analysis was performed using univariate, bivariate (Chi-square test), and multivariate (logistic regression) methods.

Results: The results showed that 84.9% of respondents were at risk of giving birth to stunted children. Significant factors included the bride's and parents' education levels, family income, family and peer support, knowledge, information exposure, and marriage readiness. Knowledge about stunting and information exposure were the most dominant influencing factors.

Conclusion: Improving education and access to information for prospective brides, along with strengthening family and peer support, is essential to ensure comprehensive preparedness and early stunting prevention.
4622749600L1C021009Ditribusi dan Tingkat Pencemaran Logam Berat Merkuri (Hg) di Perairan Segara Anakan Bagian Timur, Kabupaten CilacapIndustri di sepanjang Segara Anakan bagian timur seperti pengilangan minyak, industri semen dan pelabuhan diduga berdampak terhadap pencemaran di perairan. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi dan tingkat pencemaran logam berat Hg di Segara Anakan bagian timur, Cilacap. Variabel penelitian meliputi konsentrasi Hg terlarut, tersuspensi dan Hg sedimen menggunakan alat Mercury Analyzer. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi Hg terlarut 0,02 – 0,57 µg.kg⁻¹, Hg tersuspensi 0,11 – 0,33 µg.kg⁻¹, dan Hg sedimen 7,04 – 134,51 µg.kg⁻¹. Sebagian besar nilai tersebut berada di bawah baku mutu nasional dan global. Nilai Pollution Index (PI) pada seluruh stasiun menunjukkan bahwa pada kolom perairan tergolong tidak tercemar (PI ≤ 1). Kualitas sedimen terhadap kontaminasi Hg dapat dilihat berdasarkan nilai Enrichment Factor (EF) yang menunjukkan kategori pengkayaan minimal (EF < 2), sedangkan nilai Contamination Factor (CF) dan Indeks Geoakumulasi mengindikasikan adanya kontaminasi rendah hingga sedang pada daerah dekat industri dan alur pelayaran (0 ≤ CF < 3; 0 < I-Geo ≤ 1). Variabel kualitas perairan berpengaruh terhadap konsentrasi dan spesiasi Hg. Konsentrasi Hg tersuspensi dipengaruhi oleh variabel salinitas, Hg terlarut dipengaruhi oleh variabel Dissolved Oxygen (DO), dan Hg sedimen dipengaruhi oleh variabel Total Organic Matter (TOM).Industrial activities along the eastern region of Segara Anakan, including oil refineries, cement manufacturing, and port operations, are suspected to contribute to environmental pollution in aquatic ecosystem. This study aimed to analyze the distribution and pollution levels of the heavy metal mercury (Hg) in the eastern region of Segara Anakan, Cilacap. The research variables include the concentrations of dissolved Hg, suspended Hg, and sedimentary Hg, using a Mercury Analyzer. The results showed that dissolved Hg concentrations ranged 0.02-0.57 µg·kg⁻¹, suspended Hg 0.11-0.33 µg·kg⁻¹, and sedimentary Hg 7.04-134.51 µg·kg⁻¹. Most of these values were below the national and international quality guideline. The Pollution Index (PI) indicated that all water column stations were classified as unpolluted (PI ≤ 1). Sediment quality in relation to Hg contamination was assessed using the Enrichment Factor (EF), which indicated a minimal enrichment category (EF < 2). Meanwhile, the Contamination Factor (CF) and Geoaccumulation Index (I-Geo) suggested low to moderate near industrial sites and shipping lanes (0 ≤ CF < 3; 0 < I-Geo ≤ 1). Water quality variables were found to influence Hg concentration and speciation: suspended Hg was affected by salinity, dissolved Hg by Dissolved Oxygen (DO), and sedimentary Hg by Total Organic Matter (TOM).
4622849601B1B021021Daily Sunbathing Behavior of Sunda Velvet Dragonfly (Euphaea variegata) in the Baturraden Waterfall EcosystemsCapung Beludru Sunda (Euphaea variegata) adalah anggota dari family Euphaeidae, umumnya berada di dekat air terjun di ekosistem aliran air yang jernih yang dicirikan oleh vegetasi yang lebat maupun agak terbuka. Perilaku berjemur capung berkontribusi pada termoregulasi, terutama di lingkungan dengan perubahan iklim mikro. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ciri-ciri habitat berjemur, populasi individu yang berjemur, pola perilaku berjemur harian, dan durasi berjemur E. variegata di ekosistem Curug Telu, Curug Orak Arik, dan Curug Ceheng. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan metode pengamatan perilaku dengan pendekatan focal sampling. Pengukuran parameter lingkungan meliputi suhu udara, kelembaban udara, dan intensitas cahaya. Analisis MANOVA digunakan untuk menguji pengaruh kondisi lingkungan terhadap durasi berjemur, serta jumlah capung yang berjemur dengan signifikansi (p<0,05). Dilanjutkan dengan pengujian korelasi berganda untuk melihat seberapa kuat hubungan antara beberapa variabel. Principal Component Analysis (PCA) digunakan untuk menganalisis komponen utama yang terbesar dalam data faktor lingkungan. Variabel lingkungan, termasuk suhu udara, kelembaban udara, dan intensitas cahaya, secara signifikan mempengaruhi durasi berjemur dan jumlah individu E. variegata. Berdasarkan hasil korelasi berganda pada varibel tersebut bahwa variabel lingkungan memiliki hubungan yang sangat kuat dengan durasi berjemur dan jumlah individu E. variegata. Durasi berjemur maksimum terjadi ketika rentang suhu berkisar (25.0–28.0°C), dan intensitas cahaya (3699–41811 lx), dengan rata-rata durasi berjemur tertinggi selama 10 menit 7 detik, dan durasi tersingkat selama 2 menit 11 detik, namun pada sore hari baik jumlah capung maupun durasi berjemur berkurang karena kelembaban yang tinggi dan curah hujan yang berulang selama pengamatan. Perilaku E. variegata saat berjemur terdiri dari membersihkan diri, meregangkan sayap, bertengger obelisk, pertahanan wilayah, memangsa serangga, dan kopulasi. Perilaku yang paling banyak dilakukan E. variegata ketika berjemur adalah perilaku membersihkan diri, meregangkan sayap dan bertengger obelisk pada ketiga lokasi penelitian. Sedangkan perilaku paling sedikit adalah perilaku kopulasi. Ratarata kelimpahan E. variegata tertinggi ditemukan di curug Orak Arik, yaitu sebanyak 14 individu, dan kelimpahan terendah ditemukan di curug Telu dengan jumlah individu sebanyak 11 individu. Penelitian ini menjelaskan kemampuan adaptasi termoregulasi E. variegata terhadap variabel lingkungan. Penelitian tambahan selama musim kemarau diperlukan untuk memahami variasi perilaku berjemur di beberapa situasi iklim.
Kata Kunci: Capung Beludru Sunda, Curug Ceheng, Curug Telu, Curug Orak Arik,
Indikator Ekologi, Perilaku Berjemur.
The Sunda Velvet Dragonfly (Euphaea variegata) is a member of the Euphaeidae family, commonly found near waterfalls in clear water ecosystems characterized by dense or somewhat open vegetation. Sunbathing behavior contributes to hermoregulation, especially in environments with microclimate changes. This study aims to identify the characteristics of sunbathing habitats, sunbathing populations, daily sunbathing behavior patterns, and sunbathing duration of E. variegata at the Telu waterfall, Orak Arik waterfall, and Ceheng waterfall ecosystems. This study used purposive sampling method and behavioral observation with a focal sampling method. Environmental parameters measured included air temperature, humidity, and light intensity. MANOVA analysis was used to test the effect of environmental conditions on sunbathing duration and the number of dragonflies sunbathing with significance (p<0.05). This was followed by multiple correlation testing to determine the strength of the relationship between several variables. Principal Component Analysis (PCA) was used to analyze the main components in the
environmental factor data. Environmental variables, including air temperature, air humidity, and light intensity, significantly affect the duration of sunbathing and the number of E. variegata individuals. Based on the results of multiple correlations on these variables, environmental variables have a very strong relationship with the duration of sunbathing and the number of E. variegata individuals. Maximum sunbathing duration occurred when the temperature range was between 25.0–28.0°C and light intensity was between 3699–41811 lx, with the highest average sunbathing duration of 10 minutes 7 seconds and the shortest duration of 2 minutes 11 seconds. However, in the evening, both the number of dragonflies and sunbathing duration decreased due to high air humidity and repeated rainfall during the observation period. The behavior of E. variegata during sunbathing includes self-cleaning (grooming), wing stretching, perching obelisks, territorial defense, predation, and mating. The most common behaviors exhibited by E. variegata during sunbathing were self-cleaning (grooming), wing stretching, and perching on obelisks at all three sites. The least common behavior was mating. The highest average abundance of E. variegata was found at Orak Arik waterfall, with 14 individuals, and the lowest abundance was found at Telu waterfall, with 11 individuals. This study explains the thermoregulatory adaptation ability of E. variegata to environmental variables. Additional research during the dry season is needed to understand variations in sunbathing behavior under different climatic conditions.
Keywords: Ceheng waterfall, Ecological indicators, Orak Arik waterfall, Sunbathing
behavior, Sunda velvet dragonfly, Telu waterfall.
4622949602I1E021011Diversifikasi Konsumsi Makan Terhadap Peningkatan Keterampilan Psikomotor Anak (Studi Kasus Pada Siswa Kelas 5 di SDN Tanggeran 01)Standar keterampilan anak dibutuhkan beberapa komponen yang dapat menunjang keberhasilan, salah satunya adalah pemberian asupan makan secara bervariasi. Ketercapaian psikomotor didukung karena pola makan, serta gizi yang seimbang dan optimal. Makanan mempunyai standar yang diperlukan untuk dikonsumsi oleh anak. Standar tersebut terdiri atas sumber karbohidrat dengan 2/3 dari setengah piring, lalu dilengkapi lauk pauk 1/3 dari setengah piring. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan bentuk case study dan grounded theory, menggunakan metode purposive sampling. Yakni sebanyak 3 siswa kelas 5 SDN Tanggeran 01 sebagai responden atau partisipan penelitian. Penelitian dilakukan dengan recall, pre dan post test seperti tes Push Up, Lari 600 Meter, Illinois Agility, Standing Stork, V Sit and Reach, serta Hand Wall Toss. Pemberian asupan konsumsi secara bervariasi, dengan memperhatikan pola kebiasaan responden terbukti mempunyai pengaruh terhadap peningkatan keterampilan psikomotor. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya perubahan dan perbedaan yang cukup signifikan pada hasil pretest dan post-test sebelum responden diberikan treatment. Diversifikasi makan selama 7 hari dengan frekuensi makan sebanyak 21 kali makan dapat mempengaruhi peningkatan keterampilan psikomotor yang dimiliki oleh anak. Diversifikasi, Konsumsi Makan, Karbohidrat, Keterampilan Psikomotor, Aktivitas Fisik.The standard for children's psychomotor skills requires several components that can
support success, one of which is the provision of a varied diet. Psychomotor development is supported by eating patterns, balanced and optimal nutrition. Food must meet certain standards to be suitable for children's consumption. These standards include a source of carbohydrates making up two-thirds of half the plate, complemented by side dishes making up one-third of half the plate. The research design used in this study is quantitative, in the form of a case study and grounded theory, employing a purposive sampling method. A total of 3 fifth-grade students from SDN Tanggeran 01 were selected as respondents or research participants. The study was conducted using recall, pre and post test methods, including tests Push-Up, 600-Meter Run, Illinois Agility, Standing Stork, V Sit and Reach, and Hand Wall Toss. Provision of varied consumption intake, by paying attention to the nutritional content and
habits of the respondents, all of this has proven to an impact on the improvement and post-test result before the respondents were given treatment. Food diversification over 7 days with a frequency of 21 meals can influence the improvement of psychomotor skills in children.
4623049603I1C021084ANALISIS ANGKA KEJADIAN KONVERSI TERAPI ANTIBIOTIK INTRAVENA KE PERORAL PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTOLatar Belakang: Demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan di negara berkembang seperti Indonesia, yang disebabkan oleh infeksi Salmonella enterica serotype Typhi. Penggunaan antibiotik intravena secara berlebihan berisiko meningkatkan biaya perawatan dan komplikasi seperti tromboflebitis. Konversi terapi antibiotik dari intravena ke oral telah terbukti memberikan efisiensi klinis dan ekonomi, namun implementasinya masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan konversi terapi antibiotik, potensi konversi yang tidak dilakukan, serta hubungannya dengan karakteristik pasien demam tifoid.
Metode : Penelitian ini bersifat retrospektif menggunakan data rekam medis pasien dewasa dengan demam tifoid yang dirawat di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto selama Januari–Desember 2023. Sampel diambil secara total sampling pada pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis hubungan karakteristik pasien dengan pelaksanaan konversi dilakukan menggunakan uji Chi-Square, dan potensi penghematan biaya dianalisis secara deskriptif.
Hasil : Dari 42 pasien yang diteliti, hanya 3 pasien (7,14%) yang menerima konversi terapi antibiotik dari intravena ke oral. Sebanyak 31 pasien (79,5%) secara klinis memenuhi kriteria kelayakan konversi, namun tidak dilakukan perubahan rute pemberian. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik pasien (usia, jenis kelamin, dan diagnosis penyerta) dengan pelaksanaan konversi (p > 0,05). Penerapan konversi terapi berpotensi menghasilkan efisiensi biaya rata-rata sebesar Rp78.354 per pasien.
Kesimpulan : Pelaksanaan konversi terapi antibiotik pada pasien demam tifoid masih rendah meskipun banyak pasien memenuhi syarat klinis. Diperlukan implementasi panduan klinis, edukasi tenaga medis, serta dukungan kebijakan untuk meningkatkan rasionalitas penggunaan antibiotik.
Background: Typhoid fever remains a public health issue in developing countries such as Indonesia and is caused by Salmonella enterica serotype Typhi. Excessive use of intravenous (IV) antibiotics may increase healthcare costs and the risk of complications such as thrombophlebitis. Switching antibiotic therapy from IV to oral route has been shown to improve both clinical and economic outcomes; however, its implementation remains suboptimal. This study aimed to evaluate the implementation of IV to oral antibiotic conversion therapy, identify potentially eligible but unconverted cases, and analyze its association with patient characteristics.
Methods: This retrospective study used medical records of adult patients with typhoid fever hospitalized at Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional Hospital, Purwokerto, from January to December 2023. Total sampling was applied to patients who met the inclusion criteria. The association between patient characteristics and the implementation of conversion therapy was analyzed using the Chi-Square test. Potential cost savings were assessed descriptively by comparing the cost of IV and oral antibiotics, excluding additional components such as medical devices.
Results: Of the 42 patients included, only 3 patients (7.14%) underwent IV-to-oral antibiotic conversion. A total of 31 patients (79.5%) were clinically eligible for conversion but did not receive it. Statistical analysis showed no significant association between patient characteristics (age, sex, and comorbid diagnosis) and the implementation of conversion therapy (p > 0.05). The implementation of conversion therapy had the potential to generate average cost savings of IDR 78,354 per patient.
Conclusion: The implementation of IV-to-oral antibiotic conversion therapy in typhoid fever patients remains low despite many being clinically eligible. Clinical guideline implementation, healthcare provider education, and supportive institutional policies are needed to promote rational antibiotic use.
4623149609F1C021016PERAN VIDEO EDITOR DALAM PENCIPTAAN KARYA FILM “COWONGSEWU, HARMONI DI BALIK TRANSFORMASI RITUS BANYUMASAN”Tugas akhir penciptaan karya ini membahas peran video editor dalam proses penciptaan film dokumenter "Cowongsewu, Harmoni di Balik Transformasi Ritus Banyumasan", yang mengangkat perubahan ritual budaya Cowongan di Banyumas menjadi seni pertunjukan. Transformasi ini dilakukan sebagai respons atas modernisasi, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai spiritual dan budaya lokal. Salah satu transformasi terserbut adalah aturan dalam ritual cowongan yang tidak berlaku dalam seni pertunjukan, seperti harus diperagakan oleh wanita yang suci atau sedang tidak haid. Selain itu, ritual cowongan dalam bentuk seni pertunjukan telah beralih fungsi dari ritual pemanggil hujan menjadi sebuah hiburan bagi masyarakat setempat. Film dokumenter ini bertujuan menjelaskan apa saja transformasi budaya ritual cowongan menjadi seni pertunjukan. Dalam proses produksinya, peran video editor sangat penting dalam merangkai alur cerita, memilih footage yang tepat, serta menyampaikan makna simbolik secara audio dan visual. Penciptaan karya ini menggunakan pendekatan teori kritis Habermas untuk menganalisis dimensi sosial, subjektif, dan objektif dalam perubahan budaya tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa penyuntingan visual yang tepat mampu memperkuat narasi dokumenter dan menjaga kesinambungan makna antara tradisi dan bentuk pertunjukan modern. Karya ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal. Selain itu, dokumenter ini juga dapat menjadi referensi akademik bagi penciptaan karya serupa di masa mendatang.This work discusses the role of a video editor in the creation of the documentary film "Cowongsewu, Harmony Behind the Transformation of Banyumas Rituals", which explores the transformation of the traditional Cowongan ritual in Banyumas into a performing art. This transformation serves as a cultural response to modernization while maintaining the spiritual and local cultural values. One such transformation is the shift in ritual rules, such as the requirement that the Cowongan ritual must be performed by a pure woman or one who is not menstruating, which no longer applies in the performing arts version. In addition, the Cowongan ritual, when presented as a form of performing art, has changed its function from a rain-invoking ritual to a form of entertainment for the local community. The documentary aims not only to entertain but also to educate and preserve cultural heritage. During the production process, the video editor plays a crucial role in constructing the narrative flow, selecting relevant footage, and conveying symbolic meanings through visual and auditory elements. This work applies Jürgen Habermas critical theory to analyze the social, subjective, and objective dimensions of cultural transformation. The findings show that proper visual editing strengthens the documentary’s narrative and maintains the continuity of meaning between traditional rituals and modern performances.
4623249610D1A021119PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK MONO DAN MULTI STRAIN TERHADAP KONSUMSI PAKAN DAN PBB AYAM BROILER YANG DIPELIHARA DI KANDANG TERBUKAArtikel berjudul “Pengaruh Pemberian Probiotik Mono Dan Multi Strain Terhadap Konsumsi Pakan Dan PBB Ayam Broiler Yang Dipelihara Di Kandang Terbuka” Artikel ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik sebagai feed additive dalam pakan ayam broiler yang dipelihara di kandang terbuka terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan (PBB) ayam broiler. Materi yang digunakan adalah ayam broiler jantan dengan strain Cobb sebanyak 100 ekor yang dipelihara mulai saat DOC hingga diafkir pada umur 35 hari. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 kali ulangan, sehingga terdapat 20 unit percobaan. Setiap unit percobaan terdiri atas 5 ekor ayam broiler. Perlakuan yang diberikan adalah penambahan probiotik yang terdiri atas P0 : Pakan komersial (kontrol), P1 : Pakan komersial + Probiotik Bacillus coagulans 0,2%, P2 : Pakan komersial + Probiotik Saccharomyces cerevisiae 0,2%, P3 : Pakan komersial + Probiotik multi strain yang terdiri dari campuran bacillus coagulans dan saccharomyces cerevisiae masing-masing 0,1%. Peubah yang diukur meliputi konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan (PBB). Hasil kisaran nilai konsumsi pakan yaitu 640,37 ± 136,89 hingga 661,92 ± 142,68 gram/ekor/minggu dengan rata-rata 654,32 ± 142,99 gram/ekor/minggu. Hasil kisaran nilai PBB yaitu 491,03 ± 234,46 hingga 518,8 ± 236,41 gram/ekor/minggu dengan rata-rata 502,35 ± 247,72 gram/ekor/minggu. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penambahan probiotik sebagai feed additive berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap nilai konsumsi pakan dan PBB. Kesimpulan. Pemberian probiotik Bacillus coagulans, Saccharomyces cerevisiae sebanyak 0,2% serta multi strain sebagai feed additive dalam pakan belum mampu mengefisiensikan nilai konsumsi pakan, meningkatkan pertambahan bobot badan ayam broiler yang dipelihara di kendang terbuka. Article entitled "The Effect of Mono- and Multi-Strain Probiotic Administration on Feed Consumption and PBB of Broiler Chickens Reared in Open Cages" This article aims to determine the effect of probiotic administration as feed additive in broiler chicken feed raised in open cages on feed consumption and body weight gain (PBB) of broiler chickens. The material used was male broiler chickens with Cobb strains as many as 100 heads which were raised from the time of DOC until they were reared at the age of 35 days. The research design used was a complete random design (RAL) consisting of 4 treatments and 5 replicates, so there were 20 experimental units. Each experimental unit consists of 5 broiler chickens. The treatment given was the addition of probiotics consisting of P0: Commercial feed (control), P1: Commercial feed + Probiotic Bacillus coagulans 0.2%, P2: Commercial feed + Probiotic Saccharomyces cerevisiae 0.2%, P3: Commercial feed + Probiotic multi strain consisting of a mixture of bacillus coagulans and Saccharomyces cerevisiae 0.1% each. The variables measured included feed consumption and body weight gain (PBB). The results ranged from 640.37 ± 136.89 to 661.92 ± 142.68 grams/head/week with an average of 654.32 ± 142.99 grams/head/week. The results ranged from 491.03 ± 234.46 to 518.8 ± 236.41 grams/head/week with an average of 502.35 ± 247.72 grams/head/week. The results of the variance analysis showed that the addition of probiotics as a feed additive had an unreal effect (P>0.05) on the value of feed consumption and PBB. Conclusion. The administration of probiotics Bacillus coagulans, Saccharomyces cerevisiae as much as 0.2% and mixed strain as feed additives in feed have not been able to efficiently the value of feed consumption, increasing the body weight of broiler chickens raised in open cages.
4623349611H1B021058Pemodelan Dampak Perubahan Iklim terhadap Debit Aliran Rendah di Daerah Aliran Sungai Tajum Menggunakan Model HEC-HMS berdasarkan Skenario IPCC AR-6Perubahan iklim memberikan tekanan terhadap keberlanjutan sistem hidrologi, terutama dalam menjaga ketersediaan debit aliran rendah yang penting bagi kontinuitas irigasi. Daerah Aliran Sungai (DAS) Tajum merupakan wilayah strategis yang mendukung sektor pertanian di Kabupaten Banyumas, sehingga keberlangsungan debit air menjadi hal yang krusial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan iklim terhadap debit aliran rendah di DAS Tajum menggunakan pendekatan pemodelan hidrologi berbasis HEC-HMS. Model dibangun melalui tahapan kalibrasi dan validasi menggunakan data historis, kemudian digunakan untuk melakukan simulasi debit masa depan berdasarkan skenario iklim IPCC AR-6. Data proyeksi yang digunakan telah dikoreksi bias untuk meningkatkan kesesuaian pola dan distribusi curah hujan terhadap kondisi lokal. Simulasi dilakukan untuk periode tahun 2025 hingga 2100, dengan mempertimbangkan skenario SSP1-2.6, SSP2-4.5, SSP3-7.0, dan SSP5-8.5. Hasil kalibrasi model menunjukkan nilai percent bias (PBIAS) sebesar -5% dan koefisien korelasi sebesar 0,670. Hasil validasi menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,607 dan 0,516 untuk dua periode data yang berbeda. Setelah model dinyatakan andal, dilakukan simulasi debit masa depan. Hasil menunjukkan debit puncak tertinggi sebesar 158,152 m³/s terjadi pada scenario SSP3-7.0, sedangkan debit puncak terendah sebesar 95,008 m³/s terjadi pada skenario SSP2-4.5. Waktu kejadian debit puncak bervariasi pada setiap skenario, yang mengindikasikan pergeseran dinamika aliran permukaan akibat perubahan iklim. Hasil analisis debit aliran rendah menunjukkan tren penurunan pada skenario dengan tingkat emisi lebih tinggi. Nilai Q95 pada skenario SSP1-2.6 tercatat sebesar 1,175 m³/s, menurun menjadi 0,938 m³/s pada SSP2-4.5, kemudian 0,928 m³/s pada SSP3-7.0, dan terendah sebesar 0,902 m³/s pada SSP5-8.5. Penurunan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim berkontribusi terhadap penurunan ketersediaan debit aliran rendah di masa depan, terutama pada jalur pembangunan dengan emisi tinggi. Sebaliknya, scenario beremisi rendah seperti SSP1-2.6 mampu menjaga debit aliran rendah tetap lebih stabil dan tinggi. Hal ini menegaskan pentingnya mitigasi perubahan iklim untuk menjamin keberlanjutan sumber daya air di DAS Tajum.Climate change exerts pressure on hydrological system sustainability, particularly in maintaining low flow discharge that is crucial for irrigation continuity. The Tajum Watershed serves as a strategic region supporting agricultural activities in Banyumas Regency, making sustainable water discharge maintenance critically important. This study aims to analyze climate change impacts on low flow discharge in the Tajum Watershed using HEC-HMS based hydrological modeling. The model was developed through calibration and validation processes using historical data, then employed to simulate future discharge based on IPCC AR-6 climate scenarios. Projected data were bias corrected to enhance rainfall pattern compatibility with local conditions. Simulations were conducted for the 2025-2100 period, considering SSP1-2.6, SSP2-4.5, SSP3-7.0, and SSP5-8.5 scenarios. Model calibration yielded a percent bias (PBIAS) of -5% and a correlation coefficient of 0.670. Validation results showed correlation coefficients of 0.607 and 0.516 for two distinct data periods. Future discharge simulations revealed maximum peak discharge of 158.152 m³/s (SSP3-7.0 scenario) and minimum peak discharge of 95.008 m³/s (SSP2-4.5 scenario), with temporal variations indicating climate induced surface flow alterations. Low flow analysis demonstrated decreasing trends under higher emission scenarios, with Q95 values declining from 1.175 m³/s (SSP1-2.6) to 0.902 m³/s (SSP5-8.5), confirming climate change's impact on future low flow availability. Conversely, low emission scenarios (SSP1-2.6) maintained more stable discharge, underscoring the importance of climate mitigation for water resource sustainability in the Tajum Watershed.
4623449612F1A021047STRATEGI KELUARGA PASIEN ODGJ DALAM MENGHADAPI STIGMA MASYARAKAT DI KABUPATEN BANYUMASStigma masyarakat terhadap Keluarga Pasien ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) berdampak pada diskriminasi sosial yang memperburuk kondisi pasien dan membebani keluarga. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi strategi keluarga dalam menghadapi stigma tersebut di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen. Informan terdiri dari empat anggota keluarga pasien dan enam informan pendukung, dipilih melalui purposive sampling. Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis interaktif dari Miles dan Huberman, serta uji validitas menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bentuk-bentuk stigma yang dihadapi oleh Keluarga Pasien ODGJ, yang kemudian menggunakan dua strategi utama dalam menghadapinya, yaitu menutupi dan terbuka. Strategi menutupi menjadi strategi yang paling banyak dipilih oleh Keluarga Pasien ODGJ di Kabupaten Banyumas, strategi ini dilakukan dengan menyembunyikan kondisi pasien dan membatasi interaksi sosial, namun hal ini memperkuat stigma masyarakat. Strategi terbuka melibatkan komunikasi aktif dan penerimaan dukungan lingkungan, meski masih mendapat anggapan negatif seperti menelantarkan pasien. Keterbatasan layanan kesehatan jiwa dan minimnya dukungan sosial juga menjadi tantangan tambahan. Diperlukan peningkatan akses layanan dan pendampingan bagi keluarga untuk mengurangi stigma secara berkelanjutan.Community stigma toward families of people with mental disorders (ODGJ) results in social discrimination that worsens the patients' condition and places a burden on their families. This study aims to identify the strategies used by families to cope with such stigma in Banyumas Regency. The research employed a qualitative descriptive approach, utilizing in-depth interviews, observation, and document analysis. Informants included four family members of patients and six supporting informants, selected through purposive sampling. Data were analyzed using Miles and Huberman’s interactive model, with validity tested through source triangulation. The findings reveal various forms of stigma experienced by families of ODGJ, who respond using two main strategies: concealment and openness. Concealment emerged as the most commonly chosen strategy among families in Banyumas Regency. This involves hiding the patient’s condition and limiting social interactions, which paradoxically tends to reinforce community stigma. The openness strategy includes active communication and acceptance of environmental support, although families may still face negative perceptions such as being accused of neglecting the patient. Limited access to mental health services and a lack of social support also pose additional challenges. Therefore, improving access to services and providing support for families are essential steps to sustainably reduce stigma.
4623549613H1B021050Perilaku Seismik Balok T Beton Bertulang dengan Perkuatan UHPC dan Pelat CFRP Akibat Beban Near Fault Ground MotionStruktur balok T beton bertulang merupakan elemen penting dalam bangunan, namun rentan mengalami kerusakan signifikan akibat gempa bumi, khususnya yang bersumber dari dekat patahan (near-fault ground motion) yang bersifat pulse-like, yaitu memiliki lonjakan percepatan dan kecepatan tinggi dalam durasi pendek. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perilaku seismik balok T beton bertulang yang diperkuat dengan kombinasi Ultra-High Performance Concrete (UHPC) dan pelat Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP) melalui pengujian eksperimental dan validasi numerik. Perkuatan menggunakan beton konvensional memiliki kelemahan seperti durabilitas rendah dan waktu konstruksi yang lama. UHPC sebagai material berperforma tinggi menawarkan kekuatan tekan tinggi, ketahanan terhadap retak, dan durabilitas unggul, sedangkan pelat CFRP memiliki kekuatan tarik sangat tinggi dengan bobot ringan. Kombinasi keduanya bertujuan untuk meningkatkan daktilitas, kapasitas beban, kekakuan, serta kemampuan disipasi energi balok secara signifikan. Penelitian dilakukan pada dua benda uji: SC (balok tanpa perkuatan) dan SP (balok dengan perkuatan UHPC dan CFRP). Pengujian menggunakan beban pulse-like near-fault yang dilanjutkan dengan pembebanan siklik konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balok SP mengalami peningkatan kapasitas beban maksimum sebesar 41% pada momen negatif dan 65,98% pada momen positif dibandingkan balok SC. Kekakuan awal balok SP lebih tinggi dan degradasinya lebih lambat. Daktilitas balok SP meningkat sebesar 37,92%, dan kapasitas disipasi energinya jauh lebih besar dibandingkan balok kontrol. Validasi numerik dengan Response-2000 menghasilkan deviasi nilai beban maksimum sebesar 2–14% terhadap hasil eksperimen, menunjukkan bahwa model numerik dapat merepresentasikan respons lentur struktur dengan akurasi yang dapat diterima.Reinforced concrete T-beams are critical structural elements in buildings but are vulnerable to significant damage during earthquakes, especially those caused by near-fault ground motions characterized by pulse-like behavior, which involves high acceleration and velocity peaks over a short duration. This study aims to evaluate the seismic behavior of reinforced concrete T-beams strengthened with a combination of Ultra-High Performance Concrete (UHPC) and Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP) plates through experimental testing and numerical validation. Conventional concrete strengthening methods often suffer from drawbacks such as low durability and extended construction time. UHPC, as a high-performance material, offers superior compressive strength, crack resistance, and durability, while CFRP plates provide exceptionally high tensile strength with lightweight properties. The combination of these materials is intended to significantly enhance the ductility, load-bearing capacity, stiffness, and energy dissipation capability of the beam. Two specimens were tested: SC (unstrengthened beam) and SP (beam strengthened with UHPC and CFRP). The specimens were subjected to a pulse-like near-fault loading followed by conventional cyclic loading. The results showed that the SP beam exhibited a 41% increase in negative moment capacity and a 65.98% increase in positive moment capacity compared to the SC beam. The initial stiffness of the SP beam was higher, with slower degradation. The ductility of the SP beam improved by 37.92%, and its energy dissipation capacity was significantly greater than that of the control beam. Numerical validation using Response-2000 showed a deviation in peak load values ranging from 2% to 14% compared to the experimental results, indicating that the numerical model can adequately represent the flexural response of the structure with acceptable accuracy.
4623649614C2C023003PERAN NILAI PERSEPSI SEBAGAI
PEMEDIASI PENGARUH KESADARAN
HALAL, E-WOM DAN RELIGIUSITAS
TERHADAP NILAT BELI PRODUK
FROZEN FOOD
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran nilai persepsi (perceived value) sebagai variabel mediasi dalam hubungan antarakesadaran halal (halal awareness), electronic word of mouth (e-WOM), dan religiusitas (religiosity) terhadap niat beli (purchase intention) produk frozen food halal berbahan dasar daging ayam (nugget). Menggunakan pendekatan teori Stimulus-Organism-Response (SOR), ketiga variabel eksternal (kesadaran halal, e-WOM, religiusitas) diposisikan sebagai stimulus yang memengaruhi nilai persepsi (organism) dan selanjutnya berdampak pada niat beli konsumen
(response). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling terhadap 220 responden Muslim dari kalangan Generasi Z dan Milenial yang pernah membeli produk frozen food nugget dalam tiga bulan terakhir. Pengolahan data dilakukan dengan metode Structural Equation Modeling (SEM) dengan bantuan software AMOS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran halal dan eWOM berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai persepsi
konsumen, sementara religiusitas tidak berpengaruh signifikan dan justru menunjukkan arah hubungan negatif terhadap nilai persepsi. Selain itu, nilai persepsi terbukti berpengaruh positif terhadap niat beli serta memediasi pengaruh halal awareness dan e-WOM terhadap niat
beli. Dengan demikian, nilai persepsi menjadi elemen kunci yang menjelaskan bagaimana persepsi konsumen terhadap manfaat dan kualitas produk halal dapat mendorong intensi pembelian. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis terhadap pengembangan literatur pemasaran halal serta implikasi praktis bagi pelaku industri makanan beku dalam merancang strategi pemasaran berbasis nilai, digitalisasi ulasan konsumen, dan pendekatan yang tidak semata-mata mengandalkan aspek religiusitas dalam membangun persepsi nilai produk halal.
Kata kunci: Kesadaran Halal, e-WOM, Religiusitas, Nilai Persepsi
Niat Beli.

This study aims to analyze the role of perceived value as amediating variable in the relationship between halal awareness,electronic word of mouth (e-WOM), and religiosity on the purchase
intention of halal frozen food products made from chicken meat(nuggets). Utilizing the Stimulus-Organism-Response (SOR) theory, the three external variables (halal awareness, e-WOM, and religiosity) are positioned as stimuli that influence perceived value (organism),
which in turn affects consumer purchase intention (response). This research adopts a quantitative approach using purposive sampling, involving 220 Muslim respondents from Generation Z and Millennials who have purchased halal frozen food nuggets in the last three months.
Data analysis was conducted using Structural Equation Modeling (SEM) with the assistance of AMOS software.
The results show that halal awareness and e-WOM have a positive and significant effect on perceived value, while religiosity does not have a significant effect and even shows a negative relationship with
perceived value. Furthermore, perceived value is proven to have a positive effect on purchase intention and mediates the influence of halal awareness and e-WOM on purchase intention. Thus, perceived value becomes a key element in explaining how consumers’ perceptions of the benefits and quality of halal products can drive purchasing intentions. These findings contribute theoretically to the development of halal marketing literature and provide practical implications for frozen food industry players in designing value-based marketing strategies, digital consumer review initiatives, and approaches that do not solely rely on religiosity in shaping the perceived value of halal
products.
Keywords: Halal Awareness, e-WOM, Religiosity, Perceived Value,
Purchase Intention.
4623749615I1E021067Hubungan Antara Daya Ledak Otot Lengan, Kekuatan Otot Perut, dan Koordinasi Mata Tangan dengan Keterampilan Passing Bola TanganLatar Belakang: Bola Tangan merupakan olahraga yang menuntut berbagai komponen teknik, salah satunya akurasi Passing. Akurasi Passing dipengaruhi oleh power otot lengan, kekuatan otot perut, dan koordinasi mata-tangan. Berdasarkan observasi peneliti pada tim bola tangan SMAN 4 Purwokerto, ditemukan bahwa pemain masih banyak melakukan kesalahan dalam passing, seperti bola tidak mengarah tepat dan tidak sampai ke target. Hal ini mengindikasikan kurangnya penguasaan teknik dasar. Sehingga peneliti membatasi penelitian apakah terdapat hubungan antara power otot lengan, kekuatan otot lengan dan koordinasi mata-tangan dengan keterampilan passing.

Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian terdiri dari 30 atlet bola tangan SMAN 4 Purwokerto diantaranya 15 atlet laki-laki dan 15 atlet perempuan, berusia 16-17 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diukur meliputi Power otot lengan (two-hand medicine ball push test), kekuatan otot perut (sit up test), koordinasi mata-tangan (tes lempar tangkap bola), dan keterampilan passing (tes passing dengan sasaran dinding). Analisis data penelitian ini menggunakan uji prasyarat dan uji hipotesis. Uji hipotesis yang digunakan adalah pearson corellation dan uji korelasi ganda.

Hasil Penelitian: Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara Power otot lengan dengan keterampilan passing (r = 13,7%; p < 0,05), kekuatan otot perut dengan keterampilan passing (r = 33,9%; p < 0,05), serta koordinasi mata-tangan dengan keterampilan passing (r = 52,4%; p < 0,05). Analisis regresi menunjukkan bahwa koordinasi mata-tangan memiliki kontribusi terbesar terhadap keterampilan passing dibandingkan daya ledak otot lengan dan kekuatan otot lengan.

Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara power otot lengan, kekuatan otot perut, dan koordinasi mata-tangan dengan keterampilan passing pada atlet bola tangan SMAN 4 Purwokerto.

Kata Kunci: Power otot lengan, kekuatan otot perut, koordinasi mata-tangan, keterampilan passing.
Background: Handball is a sport that requires various technical components, one of which is passing accuracy. Passing accuracy is influenced by arm muscle power, abdominal muscle strength, and hand-eye coordination. Based on the researcher’s observations of the handball team at SMAN 4 Purwokerto, it was found that many players still make errors in passing, such as the ball not being accurately directed or not reaching the target. This indicates a lack of mastery of basic techniques. Therefore, the researcher limits the study to examine whether there is a relationship between arm muscle power, abdominal muscle strength, and hand-eye coordination with passing skills.

Methodology: This study uses a correlational method with a quantitative approach. The research sample consisted of 30 handball athletes from SMAN 4 Purwokerto, including 15 male and 15 female athletes aged 16–17 years, selected using purposive sampling. The variables measured include arm muscle power (two-hand medicine ball push test), abdominal muscle strength (sit-up test), hand-eye coordination (ball throw-and-catch test), and passing skills (wall target passing test). Data analysis in this study involved prerequisite tests and hypothesis testing. The hypothesis tests used were Pearson correlation and multiple correlation tests.

Research Results: The analysis results show a significant relationship between arm muscle power and passing skills (r = 13.7%; p < 0.05), abdominal muscle strength and passing skills (r = 33.9%; p < 0.05), as well as hand-eye coordination and passing skills (r = 52.4%; p < 0.05). Regression analysis indicates that hand-eye coordination has the greatest contribution to passing skills compared to arm muscle explosive power and abdominal muscle strength.

Conclusion: There is a significant relationship between arm muscle power, abdominal muscle strength, and hand-eye coordination with passing skills among handball athletes at SMAN 4 Purwokerto.

Keywords: Arm muscle power, abdominal muscle strength, hand-eye coordination, passing skills..


4623849643A1D021048DNA BARCODING TANAMAN SILVER VELVET BORNEO (Alocasia reginae L. Linden ex N.E.Br.) MENGGUNAKAN SEKUEN trnL-F DAN ITSAlocasia reginae L. Linden ex N.E.Br. (Silver Velvet Borneo) adalah salah satu spesies tanaman hias yang popular dari Araceae karena mempunyai nilai estetika tinggi sehingga cukup prospektif di bidang ekonomi. Seperti yang diketahui bahwa genetic database dari A. reginae di dalam NCBI masih terbatas. Oleh karena itu, diperlukan adanya teknik DNA barcoding untuk mengetahui karakteristik basa nukleotida suatu sekuen yang terkandung di dalam genom A. reginae. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: (1) mengetahui karakteristik profil sekuen DNA region trnL-F dari A. reginae; dan (2) mengetahui posisi A. reginae dalam pohon filogenetik berdasarkan region trnL-F yang dibandingkan dengan database NCBI. Manfaat dari penelitian ini meliputi: (1) mampu berperan sebagai dasar rujukan dalam upaya pemuliaan tanaman A. reginae berdasarkan karakteristik sekuen trnL-F; (2) mampu berkontribusi secara langsung terhadap perkembangan sistem klasifikasi A. reginae melalui penggunaan sekuen trnL-F; dan (3) mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan penulis terkait pengaplikasian bioinformatika khususnya DNA barcoding guna mendukung upaya konservasi genetik tumbuhan di Indonesia. Penelitian DNA barcoding terhadap Alocasia reginae melibatkan berbagai tahapan meliputi ekstraksi DNA, amplifikasi DNA, elektroforesis dan visualisasi fragmen DNA, sekuensing, dan analisis data. Proses analisis data didukung oleh penggunaan laman GenBank NCBI, software MEGA 12, dan laman MultAlin. Output yang dihasilkan dari analisis data meliputi komposisi basa nukleotida, jarak genetik, dan pohon filogenetik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil sekuen trnL-F pada genom A. reginae mempunyai panjang sekuen contig 402 bp dan 406 bp dengan komposisi basa nukleotidanya meliputi T(U) (35,01%), C (17,88%), A (30,98%), dan G (16,12%). Sampel A. reginae dengan A. nebula dan A. melo memiliki nilai jarak genetik 0 mengindikasikan tidak terdapat adanya variasi nukleotida yang terdeteksi pada lokus trnL-F di antara ketiga spesies tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa sekuen trnL-F memiliki keterbatasan resolusi dalam mendiskriminasi tumbuhan pada tingkatan taksa spesies.
Kata kunci: A. reginae, DNA barcoding, filogenetik.
Alocasia reginae L. Linden ex N.E.Br. (Silver Velvet Borneo) is a popular ornamental plant species from the Araceae family, renowned for its high aesthetic value, making it economically promising. However, the genetic database of A. reginae in NCBI remains limited. Therefore, DNA barcoding techniques are required to identify the nucleotide base characteristics of sequences within the A. reginae genome. This study aims to: (1) characterize the DNA sequence profile of the trnL-F region in A. reginae; and (2) determine the phylogenetic position of A. reginae based on the trnL-F region compared with the NCBI database. The significance of this research includes: (1) serving as a foundational reference for A. reginae breeding efforts based on trnL-F sequence characteristics; (2) directly contributing to the advancement of A. reginae classification systems through the use of the trnL-F sequence; and (3) Enhancing the author's knowledge and skills in bioinformatics applications, particularly DNA barcoding, to support plant genetic conservation in Indonesia. The DNA barcoding study of Alocasia reginae involves several stages, including DNA extraction, DNA amplification, electrophoresis and DNA fragment visualization, sequencing, and data analysis. The data analysis process is supported by the NCBI GenBank database, MEGA 12, and the MultAlin website. The outputs of the data analysis include nucleotide base composition, genetic distance, and phylogenetic trees. The results indicate that the trnL-F sequence profile in the A. reginae genome has a contig length of 402 bp and 406 bp, with a nucleotide composition of T(U) (35.01%), C (17.88%), A (30.98%), and G (16.12%). The genetic distance between A. reginae, A. nebula, and A. melo samples was 0, indicating no detectable nucleotide variation in the trnL-F locus among these three species. This suggests that the trnL-F sequence has limited resolution in discriminating plants at the species-level taxa.
Keywords: A. reginae, DNA barcoding, phylogenetic.
4623949645H1E021021Analisis Klaster Jalur Pendakian Gunung di Indonesia Berdasarkan Karakteristik Fisik Alam dan Sarana Pendukung dengan Metode K-PrototypeIndonesia memiliki kekayaan jalur pendakian gunung yang indah namun berisiko, baik dari bahaya subjektif maupun objektif. Meningkatnya kecelakaan pendakian belum diimbangi dengan sistem grading jalur resmi dari APGI atau instansi terkait. Penelitian ini bertujuan mengelompokkan jalur pendakian berdasarkan karakteristik fisik alam dan sarana pendukung menggunakan metode K-Prototype, dengan lima klaster optimal yang ditentukan melalui Silhouette score, elbow method, dan Davies-Bouldin Index. Hasilnya terbentuk lima kategori: klaster 0 (Basic, 20 jalur), klaster 1 (Advance, 26 jalur), klaster 2 (pemula, 18 jalur), klaster 3 (ahli, 6 jalur), dan klaster 4 (menengah, 35 jalur). Pengelompokan ini memberikan gambaran karakteristik fisik alam dan kesiapan fasilitas pada setiap jalur. Implikasinya dapat dimanfaatkan oleh penyelenggara trip, pendaki independen, pengelola basecamp, serta menjadi rekomendasi awal bagi pihak berwenang dalam merumuskan sistem klasifikasi jalur pendakian untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan.Indonesia has a wealth of beautiful but risky mountain hiking trails, both from subjective and objective hazards. The increase in climbing accidents has not been matched by an official trail grading system from APGI or related agencies. This study aims to Classify hiking trails based on natural physical characteristics and supporting facilities using the K-Prototype method, with five optimal clusters determined through Silhouette score, elbow method, and Davies-Bouldin Index. As a result, five categories were formed: cluster 0 (Basic, 20 trails), cluster 1 (Advanced, 26 trails), cluster 2 (beginner, 18 trails), cluster 3 (expert, 6 trails), and cluster 4 (intermediate, 35 trails). This grouping provides an overview of the physical characteristics of nature and the readiness of facilities on each trail. The implications can be used by trip organizers, independent hikers, basecamp managers, as well as being an initial recommendation for authorities in formulating a hiking trail Classification system to improve safety and comfort.
4624049616C2C023061Pengaruh Kepuasan Kerja, Beban Kerja Berlebih, dan Keseimbangan Kehidupan Kerja Terhadap Niat Keluar Melalui Komitmen Organisasi
(Studi Pada Karyawan Alfamart Kecamatan Pemalang)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepuasan kerja, beban kerja berlebih, dan keseimbangan kehidupan kerja terhadap niat keluar (turnover intention) karyawan Alfamart di Kecamatan Pemalang, dengan komitmen organisasi sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 184 orang dan dianalisis menggunakan metode Partial Least Square Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Teori utama yang digunakan adalah Job Demands-Resources Model (JD-R) yang dikembangkan oleh Demerouti et al. (2001), serta teori pendukung seperti Two-Factor Theory dari Herzberg, Work-Family Conflict Theory dari Greenhaus & Beutell, dan Three-Component Model of Organizational Commitment dari Meyer & Allen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan kerja dan keseimbangan kehidupan kerja memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap niat keluar, sementara beban kerja berlebih tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara langsung. Komitmen organisasi juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap niat keluar. Lebih lanjut, komitmen organisasi berperan sebagai mediator yang signifikan dalam hubungan antara kepuasan kerja dan keseimbangan kehidupan kerja terhadap niat keluar. Namun, mediasi komitmen organisasi terhadap hubungan antara beban kerja berlebih dan niat keluar tidak signifikan.
Secara implisit, hal ini menunjukkan bahwa kepuasan kerja dan keseimbangan kehidupan kerja merupakan dua faktor kunci yang perlu diperhatikan oleh manajemen Alfamart untuk menekan tingkat turnover. Sebaliknya, beban kerja berlebih mungkin tidak dipersepsikan sebagai faktor utama karena telah menjadi kondisi kerja yang umum di industri ritel, sehingga tidak serta-merta menyebabkan keinginan keluar, kecuali jika didampingi oleh faktor lain seperti ketidakpuasan atau ketidakseimbangan hidup. Implikasi praktis dari temuan ini adalah bahwa perusahaan perlu merancang strategi manajemen SDM yang lebih adaptif, seperti meningkatkan kepuasan kerja melalui penghargaan dan peluang karier, menjaga keseimbangan kerja-hidup karyawan, mengatur ulang beban kerja agar tidak berlebihan, dan membangun komitmen organisasi melalui pelatihan dan budaya kerja yang positif. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan teori perilaku organisasi, serta menjadi acuan kebijakan praktis dalam mengelola sumber daya manusia di sektor ritel.
This research aims to analyze the influence of job satisfaction, excessive workload, and work-life balance on employees’ turnover intention at Alfamart in Pemalang District, with organizational commitment as a mediating variable. The study applied a quantitative approach using data from 184 respondents and was analyzed using Partial Least Square Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The main theoretical framework adopted was the Job Demands-Resources Model (JD-R) by Demerouti et al. (2001), supported by Herzberg’s Two-Factor Theory, the Work-Family Conflict Theory by Greenhaus & Beutell, and Meyer & Allen’s Three-Component Model of Organizational Commitment.
The results indicate that job satisfaction and work-life balance have a significant direct effect on turnover intention. However, excessive workload does not show a significant direct effect. Organizational commitment also has a significant influence on turnover intention and serves as a significant mediating factor between job satisfaction and work-life balance with turnover intention. Conversely, the mediating role of organizational commitment in the relationship between excessive workload and turnover intention is not significant.
Implicitly, this suggests that job satisfaction and work-life balance are two critical factors that need to be prioritized by management to reduce employee turnover. Excessive workload may not be perceived as a critical factor since it is considered a normal condition in the retail sector, and its influence may depend on other elements such as dissatisfaction or imbalance in personal life.
The practical implications of these findings include the need for Alfamart to enhance job satisfaction through recognition and career development, ensure better work-life balance, manage workload levels, and foster organizational commitment through training and a supportive organizational culture. This study is expected to provide theoretical contributions to organizational behavior research and serve as a practical reference for improving human resource strategies in the retail sector.