| NIM | F1C021016 |
| Namamhs | KEANE AZIZ MILENOUVA |
| Judul Artikel | PERAN VIDEO EDITOR DALAM PENCIPTAAN KARYA FILM “COWONGSEWU, HARMONI DI BALIK TRANSFORMASI RITUS BANYUMASAN” |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Tugas akhir penciptaan karya ini membahas peran video editor dalam proses penciptaan film dokumenter "Cowongsewu, Harmoni di Balik Transformasi Ritus Banyumasan", yang mengangkat perubahan ritual budaya Cowongan di Banyumas menjadi seni pertunjukan. Transformasi ini dilakukan sebagai respons atas modernisasi, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai spiritual dan budaya lokal. Salah satu transformasi terserbut adalah aturan dalam ritual cowongan yang tidak berlaku dalam seni pertunjukan, seperti harus diperagakan oleh wanita yang suci atau sedang tidak haid. Selain itu, ritual cowongan dalam bentuk seni pertunjukan telah beralih fungsi dari ritual pemanggil hujan menjadi sebuah hiburan bagi masyarakat setempat. Film dokumenter ini bertujuan menjelaskan apa saja transformasi budaya ritual cowongan menjadi seni pertunjukan. Dalam proses produksinya, peran video editor sangat penting dalam merangkai alur cerita, memilih footage yang tepat, serta menyampaikan makna simbolik secara audio dan visual. Penciptaan karya ini menggunakan pendekatan teori kritis Habermas untuk menganalisis dimensi sosial, subjektif, dan objektif dalam perubahan budaya tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa penyuntingan visual yang tepat mampu memperkuat narasi dokumenter dan menjaga kesinambungan makna antara tradisi dan bentuk pertunjukan modern. Karya ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal. Selain itu, dokumenter ini juga dapat menjadi referensi akademik bagi penciptaan karya serupa di masa mendatang. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | This work discusses the role of a video editor in the creation of the documentary film "Cowongsewu, Harmony Behind the Transformation of Banyumas Rituals", which explores the transformation of the traditional Cowongan ritual in Banyumas into a performing art. This transformation serves as a cultural response to modernization while maintaining the spiritual and local cultural values. One such transformation is the shift in ritual rules, such as the requirement that the Cowongan ritual must be performed by a pure woman or one who is not menstruating, which no longer applies in the performing arts version. In addition, the Cowongan ritual, when presented as a form of performing art, has changed its function from a rain-invoking ritual to a form of entertainment for the local community. The documentary aims not only to entertain but also to educate and preserve cultural heritage. During the production process, the video editor plays a crucial role in constructing the narrative flow, selecting relevant footage, and conveying symbolic meanings through visual and auditory elements. This work applies Jürgen Habermas critical theory to analyze the social, subjective, and objective dimensions of cultural transformation. The findings show that proper visual editing strengthens the documentary’s narrative and maintains the continuity of meaning between traditional rituals and modern performances. |
| Kata kunci | Video Editor, Film Dokumenter, Cowongsewu |
| Pembimbing 1 | Tri Nugroho Adi, S.Sos, M.Si. |
| Pembimbing 2 | Dr. Wiwik Novianti, S.SOs., M.I.Kom. |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2025 |
| Jumlah Halaman | 8 |
| Tgl. Entri | 2025-08-08 13:47:47.423864 |
|---|