Artikelilmiahs
Menampilkan 42.581-42.600 dari 48.839 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 42581 | 45961 | I1C020059 | Preparasi dan Uji Pelepasan Nanopartikel Poly Lactic-co-Glycolic Acid (PLGA) Ekstrak Etanol Sambiloto (Andrographis paniculata Burm.F.Nees) Secara In Vitro | Inflamasi merupakan respon fisiologis yang ditangani untuk mencegah kondisi inflamasi kronis. Terapi antiinflamasi yang banyak digunakan yaitu agen antiinflamasi sintetis dengan risiko efek samping dan ketidakcocokan terapi jangka panjang. Dengan demikian, dikembangkan pendekatan alternatif menggunakan tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Burm.F.Nees) dalam bentuk nanopartikel PLGA untuk meningkatkan bioavailabilitas senyawa utama sambiloto yaitu andrografolid. Enkapsulasi dengan polimer PLGA juga memfasilitasi pelepasan andrografolid secara termodifikasi. Nanopartikel PLGA ekstrak etanol sambiloto dibuat dengan metode solvent evaporation menggunakan etil asetat sebagai pelarut dan polivinil alkohol sebagai fase cair. Nanopartikel PLGA ekstrak etanol sambiloto dikarakterisasi mencakup ukuran dan distribusi ukuran partikel, zeta potensial, sifat termal, dan morfologi kemudian diujikan pelepasannya secara in vitro menggunakan metode membran dialisis. Uji pelepasan dilakukan menggunakan kompartemen penerima berupa larutan PBS pH 7,4 suhu 37°C dan kecepatan pengadukan 100 rpm. Nanopartikel PLGA ekstrak etanol sambiloto berhasil dipreparasi dengan ukuran partikel 300,3 ± 110,6; indeks polidispersitas 0,636 ± 0,170; zeta potensial -3,736 ± 2,492; berbentuk bulat dengan permukaan kasar; dan titik leleh yang lebih rendah dibanding andrografolid. Profil pelepasan ekstrak etanol sambiloto dari nanopartikel PLGA terjadi secara sustained release melalui orde kinetika nol trifasik dengan pelepasan pertama terjadi secara cepat pada 0-6 jam dengan konsentrasi ~20%, fase kedua terjadi secara lambat pada 6-30 jam dengan konsentrasi 20-30%, dan fase ketiga terjadi secara cepat pada 30-48 jam dengan konsentrasi 30-50%. | Inflammation is physiological response that’s important to prevent chronic inflammatory. Anti-inflammatory widely using synthetic anti-inflammatory agent that has side effects and long-term therapy incompatibility. An alternative was developed using sambiloto (Andrographis paniculata Burm.F.Nees) PLGA nanoparticles to increase bioavailability of sambiloto’s main compound, andrographolide. Encapsulation with PLGA polymer will facilitate the modified release of andrographolide. PLGA nanoparticles extract ethanol sambiloto were made by solvent evaporation method using ethyl acetate as solvent and polyvinyl alcohol as liquid phase. PLGA nanoparticles extract ethanol sambiloto were characterized including particle size, particle size distribution, zeta potential, thermal properties, and morphology then be tested for in vitro release using dialysis membrane method. In vitro release test was carried out using a receiving compartment with PBS solution pH 7,4 at temperature of 37°C and stirring speed of 100 rpm. The prepared PLGA nanoparticles extract ethanol sambiloto were successfully prepared with particle size of 300,3 ± 110,6; polydispersity index of 0,636 ± 0,170; zeta potential of -3,736 ± 2,492; spherical morphology with a rough surface; and a lower melting point than andrographolide. Release profile of sambiloto ethanol extract from PLGA nanoparticles occurs in sustained release through zero-order kinetics in a triphasic with first rapidly release at 0-6 hours with a concentration of ~20%, the second slowly release at 6-30 hours with a concentration of 20-30%, and the third rapidly release at 30-48 hours with a concentration of 30-50% | |
| 42582 | 45953 | A1D020077 | Pengaruh Pemberian Bakteri Pelarut Fosfat terhadap Hasil Tanaman Stevia (Stevia rebaudiana) dan Kerapatan Bakteri pada Tanah Ultisol | Stevia (Stevia rebaudiana) merupakan salah satu alternatif pemanis alami pengganti gula yang rendah kalori dan bersifat non karsinogenik. Budidaya stevia terkendala oleh terbatasnya lahan yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman stevia. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2024 sampai Juni 2024 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), terdiri dari 8 perlakuan, yaitu P0 (Tanpa isolat/kontrol), P2 (Isolat N15), P3 (Isolat N19), P4 (Konsorsium isolat S3 dan N15), P5 (Konsorsium isolat S3 dan N19), P6 (Konsorsium isolat N15 dan N19), dan P7 (Konsorsium isolat S3 dan N15 dan N19). Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali, sehingga terdapat 32 unit percobaan dan setiap unit percobaan terdapat 4 tanaman, sehingga diperoleh 128 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bakteri pelarut fosfat berpengaruh terhadap variabel bobot daun segar, bobot daun kering, bobot akar segar, bobot akar kering, bobot brangkasan segar, dan bobot brangkasan kering serta mampu meningkatkan kerapatan bakteri pada tanah Ultisol, dengan perlakuan terbaik P7 (4,8 x 108 cfu/mL). | Stevia (Stevia rebaudiana) is an alternative natural sweetener to replace sugar that is low in calories and non-carcinogenic. Stevia cultivation is hampered by limited land that can support the growth of stevia plants. This research was carried out from February 2024 to June 2024 using a Randomized Block Design (RAK), consisting of 8 treatments, namely P0 (No isolate/control), P2 (Isolate N15), P3 (Isolate N19), P4 (Consortium of isolates S3 and N15), P5 (Consortium of isolates S3 and N19), P6 (Consortium of isolates N15 and N19), and P7 (Consortium of isolates S3 and N15 and N19). Each treatment was repeated 4 times, so there were 32 experimental units and each experimental unit contained 4 plants, so 128 plants were obtained. The results of the research showed that the application of phosphate solubilizing bacteria had an effect on the variables fresh leaf weight, dry leaf weight, fresh root weight, dry root weight, fresh biomass weight and dry biomass weight and was able to increase the density of bacteria in Ultisol soil, with the best treatment P7 (4,8 x 108 cfu/mL). | |
| 42583 | 45954 | B1A020035 | Optimasi Produksi Enzim Rekombinan MMLV (Moloney Murine Leukimia Virus) Reverse Transcriptase Pada Sistem Ekspresi Escherichia coli Skala Bioreaktor | Moloney Murine Leukimia Virus Reverse Transcriptase (MMLV-RT) merupakan enzim rekombinan yang digunakan untuk sintesis complementary DNA (cDNA) dari RNA. Enzim RT digunakan pada proses Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) untuk analisis ekspresi gen, mendeteksi virus dengan materi genetik RNA, dan penelitian biologi molekuler lainnya. Namun, produksi enzim RT pada skala bioreaktor masih relatif jarang, terhitung dari jurnal yang dipublikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi enzim rekombinan MMLV-Reverse Ttranscriptase yang diinsersikan ke dalam plasmid pD451-SR_MMLV-RT dengan Esherichia coli BL21 star (DE3) sebagai inang dan metode auto-induksi tanpa menggunakan IPTG pada skala bioreaktor. Oleh karena itu, diperlukan optimasi parameter yang berpengaruh penting terhadap hasil produksi enzim dalam skala bioreaktor, yaitu kecepatan agitasi, laju aerasi, dan konsentrasi inokulum. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Genomik, Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental untuk mendapatkan kondisi optimum berupa kecepatan agitasi, laju aerasi, dan konsentrasi inokulum dari beberapa variasi yang diuji. Variabel bebas yang diamati adalah kecepatan agitasi, laju aerasi, dan konsentrasi inoculum, sedangkan variabel terikat adalah kuantitas atau jumlah enzim yang dihasilkan dan aktivitas enzim. Parameter yang diamati meliputi Optical Density (OD600) dan konsentrasi protein berdasarkan hasil perlakuan optimasi kecepatan agitasi, laju aerasi, dan konsentrasi inokulum. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kecepatan agitasi, laju aerasi dan konsentrasi inokulum yang optimum untuk memproduksi enzim MMLV-Reverse Ttranscriptase skala bioreaktor. Penelitian ini berhasil mendapatkan kondisi optimum untuk produksi enzim rekombinan MMLV-Reverse Ttranscriptase pada agitasi 300 rpm, aerasi 3 vvm, dan konsentrasi inokulan 5%. Sebanyak 35,6 mg/L enzim rekombinan MMLV-Reverse Ttranscriptase berhasil dimurnikan pada kondisi optimum tersebut, sehingga menghasilkan peningkatan hasil protein sebesar 3,78 kali lipat dari crude extract. Selain itu, enzim rekombinan MMLV-Reverse Ttranscriptase juga menunjukkan aktivitas spesifik sebesar 11394,4 U/mg. Penelitian ini masih perlu dikembangkan pada buffer storage enzim tersebut dengan tujuan mencegah denaturasi dan penurunan aktivitas. | Moloney Murine Leukemia Virus Reverse Transcriptase (MMLV-RT) is a recombinant enzyme used for the synthesis of complementary DNA (cDNA) from RNA. The RT enzyme is used in the Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) process to detect viruses with RNA genetic material, for example the SARS-Cov-2 virus during the COVID-19 pandemic. However, production of RT enzymes on a bioreactor scale is still rare, according to published journals. This research aims to produce the MMLV-Reverse Ttranscriptase recombinant enzyme which is inserted into the pD451-SR_MMLV-RT plasmid using Esherichia coli BL21 star (DE3) as the host and an auto-induction method without using IPTG on a bioreactor scale. Therefore, it is necessary to optimize parameters that have an important influence on enzyme production results on a bioreactor scale, namely agitation speed, aeration rate and inoculum concentration. This research was conducted at the Genomics Laboratory, Applied Microbiology Research Center, National Research and Innovation Agency. This research method uses an experimental approach to obtain optimum conditions in the form of agitation speed, aeration rate, and inoculum concentration from several variations tested. The independent variables observed were agitation speed, aeration rate, and inoculum concentration. Meanwhile, the dependent variables of this research are the quantity or amount of enzyme produced and enzyme activity. The parameters observed included Optical Density (OD600) and protein concentration based on the results of optimization treatment for agitation speed, aeration rate and inoculum concentration. This research is expected to provide information regarding the agitation speed, aeration rate and optimum inoculum concentration for producing the MMLV-Reverse Ttranscriptase enzyme on a bioreactor scale. This research succeeded in obtaining optimum conditions for the production of MMLV-Reverse Ttranscriptase recombinant enzymes at 300 rpm agitation, 3 vvm aeration, and 5% inoculant concentration. A total of 35.6 mg/L of MMLV-Reverse Ttranscriptase recombinant enzyme was successfully purified under these optimum conditions, resulting in an increase in protein yield of 3.78 fold from the crude extract. In addition, the MMLV-Reverse Ttranscriptase recombinant enzyme also showed a specific activity of 11394.4 U/mg. This research still needs to be developed in terms of buffer storage for the MMLV-Reverse Ttranscriptase enzyme with the aim of preventing denaturation and decreasing activity of the enzyme. | |
| 42584 | 45955 | B1A017108 | KEMAMPUAN BAKTERI ASAM LAKTAT LG-50 DAN LG-90 SEBAGAI INOKULUM PADA FERMENTASI RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii | Pola konsumsi makanan berbahan dasar protein hewani di Indonesia yang masih cukup tinggi mendorong perlunya pengembangan alternatif protein nabati salah satunya melalui produk olahan fermentasi. Penelitian ini mengeksplorasi potensi fermentasi rumput laut Eucheuma cottonii menggunakan Bakteri Asam Laktat (BAL) yang diisolasi dari sedimen mangrove Pantai Logending, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Fokus utama penelitian adalah mengetahui kemampuan isolat BAL LG-50 dan LG-90 dalam memfermentasi rumput laut serta menentukan waktu fermentasi yang efektif untuk menghasilkan produk pangan fungsional. Metode eksperimen yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 (dua) faktorial yaitu jenis isolat dan waktu fermentasi. Parameter utama yang diamati adalah kadar asam laktat dan jumlah sel BAL, sedangkan parameter pendukungnya yaitu pengukuran pH dan uji organoleptik. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan nilai yang beda signifikan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu fermentasi 48 jam menghasilkan kadar asam laktat tertinggi sebesar 0,073% pada isolat BAL LG-50 dan LG-90, dan 0,0866% pada isolat kontrol Lactobacillus plantarum. Waktu fermentasi 24 jam menunjukkan kadar asam laktat terendah untuk semua isolat, sementara waktu fermentasi 72 jam tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kadar asam laktat. Jumlah sel BAL tertinggi dihasilkan oleh isolat kontrol Lactobacillus plantarum, yaitu 2,1 x 106 CFU/mL. Hasil penelitian ini menyatakan potensi isolat BAL dari sedimen mangrove dalam menghasilkan produk pangan fungsional dan menunjukkan bahwa waktu fermentasi 48 jam adalah waktu yang optimal untuk proses fermentasi rumput laut. | The high consumption of animal-based protein in Indonesia highlights the need for the development of alternative plant-based proteins, including through fermented products. This study explores the potential of fermenting Eucheuma cottonii seaweed using Lactic Acid Bacteria (LAB) isolated from mangrove sediment at Logending Beach, Ayah District, Kebumen Regency. The main focus of the research is to evaluate the ability of LAB isolates LG-50 and LG-90 to ferment seaweed and determine the effective fermentation time for producing functional food products. The experimental method used is a 2 (two) factorial Completely Randomized Design (CRD), which includes isolate type and fermentation time. The primary parameters observed are lactic acid content and LAB cell count, with secondary parameters including pH measurement and organoleptic tests. Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA), and significant differences were followed by Honest Significant Difference (HSD) test. The results indicate that a fermentation time of 48 hours yields the highest lactic acid content of 0.073% for LAB isolates LG-50 and LG-90, and 0.0866% for the control isolate Lactobacillus plantarum. A 24-hour fermentation period showed the lowest lactic acid content for all isolates, while a 72-hour fermentation did not show a significant increase in lactic acid content. The highest LAB cell count was produced by the control isolate Lactobacillus plantarum, at 2,1 x 106 CFU/mL. This study demonstrates the potential of LAB isolates from mangrove sediment in producing functional food products and indicates that 48 hours is the optimal fermentation time for seaweed fermentation. | |
| 42585 | 45956 | H1C017054 | Geologi Daerah Ciporos dan Sekitarnya, Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah | Pemetaan geologi merupakan suatu kegiatan untuk mengetahui kondisi geologi suatu lapangan yang dapat dilakukan dengan metode pemetaan langsung ke lapangan maupun melalui pemetaan geologi melalui citra satelit atau foto udara. Dapat dilakukan pemetaan kondisi geologi suatu daerah sebagai acuan pemetaan lanjutan. Desa Ciporos dan sekitarnya memiliki sejarah geologi yang menarik untuk diamati dan diteliti lebih lanjut. Lokasi ini berada di daerah Ciporos, Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah dengan morfologi perbukitan yang terdiri atas singkapan batuan sedimen yang cukup merekam sejarah masa lampau yang berguna sebagai media pembelajaran bagi bidang keilmuan geologi. Metodologi penelitian yang peneliti gunakan berupa pemetaan geologi permukaan serta melakukan analisis petrografi. Kondisi Geomorfologi daerah penelitian terbagi menjadi lima, yaitu: Satuan Dataran aluvial Bantar Panjang, Satuan Lembah Sinklin Ciporos, Satuan Punggungan amtiklin Pengaweran,, Satuan Lembah Antiklin Pengaweran dan Satuan Punggungan homoklin Cidadap. Urutan stratigrafi daerah penelitian terbagi menjadi tiga satuan dari tua ke muda yaitu: Satuan Batulempung, Satuan Batupasir dan Endapan Aluvial. | Geological mapping is an activity to find out the geological conditions of a field which can be done by direct mapping to the field or through geological mapping through satellite imagery or aerial photography. Mapping of the geological conditions of an area can be carried out as a reference for further mapping. Ciporos Village and its surroundings have an interesting geological history to be observed and studied further. This location is in Ciporos area, Karangpucung District. Cilacap Regency, Central Java Province with hilly morphology consisting of outcrops of sedimentary rocks which sufficiently record past history which is useful as a learning medium for the scientific field of geology. The research methodology used by researchers is in the form of surface geological mapping and petrographic analysis. The geomorphological conditions of the study area are divided into five, namely: the Bantar Panjang Alluvial deposits unit, the Ciporos Syncline Ridge Unit, the Pengaweran Anticlin Ridge Unit, the Pengaweran Anticlin Valley Unit and the Cidadap Homoclin Valley Unit. The stratigraphic order of the study area is divided into three units from old to young,namely: Claystone Unit, , Sandstone Unit and Alluvial Deposits. | |
| 42586 | 45962 | A1G022018 | Analisis Kebutuhan Konsumen dan Penentuan Harga Jual terhadap Usaha “BESt Balls” (Sustainable Packing Foam sebagai Alternatif Styrofoam) | Meningkatnya aktivitas belanja online, penggunaan bubble wrap dan styrofoam memicu dampak negatif mencemari lingkungan. “BESt Balls” hadir sebagai inovasi alternatif penggunaan styrofoam dan bubblewrap yang ramah lingkungan (bersifat biodegradable dan compostable). Produsen “BESt Balls” dalam memenuhi permintaan pasar memerlukan analisis tentang apa kebutuhan konsumen untuk produk packing foam. Preferensi konsumen memiliki koherensi dengan atribut suatu produk menjadi kunci bagi pengusaha untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Oleh sebab itu, penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis atribut produk yang dibutuhkan konsumen dan menentukan harga jual yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengetahui kriteria kebutuhan konsumen ditinjau dari atribut produk terhadap “BESt Balls”; 2) Mengetahui atribut produk sebagai pertimbangan utama konsumen dalam membeli “BESt Balls”; 3) mengidentifikasi penentuan harga jual “BESt Balls”. Penelitian dilaksanakan di Purwokerto Utara, Banyumas. Penelitian menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan alat analisis skala likert dan rating scale serta analisis perhitungan Harga Pokok Produksi metode full costing dan penentuan harga jual menggunakan markup pricing method. Total responden sebanyak 30 yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan rumus linear time function dengan kriteria responden adalah pengguna produk packing. Hasil penelitian menunjukkan terdapat beberapa kriteria yang menjadi kebutuhan konsumen ditinjau dari atribut bentuk, ukuran (variasi), tekstur, harga, kemasan, dan aksesibilitas terhadap “BESt Balls” sebagai packaging ramah lingkungan alternatif styrofoam. Atribut produk yang menjadi pertimbangan utama bagi konsumen adalah aksesibilitas, kemasan, serta ukuran (variasi) dengan persentase >75% (sangat baik), masing-masing nilainya 78,3%, 77,7%, dan 75,5%. Harga jual produk “BESt Balls” dihitung menggunakan HPP full costing dan mark up pricing method adalah Rp8.745 (200g) dan Rp21.874 (500g) dengan keuntungan bersih sebesar 30%. | With the increase in online shopping activities, the use of bubble wrap and styrofoam has triggered negative impacts on the environment. “BESt Balls” comes as an alternative innovation to the use of styrofoam and bubblewrap that is environmentally friendly (biodegradable and compostable). “BESt Balls” producers in meeting market demand require an analysis of what consumer needs are for packing foam products. Consumer preferences have coherence with the attributes of a product to be the key for entrepreneurs to meet consumer needs. Therefore, this research is intended to analyze the product attributes needed by consumers and determine the right selling price. The objectives of this study are 1) to determine the criteria for consumer needs in terms of product attributes for “BESt Balls”; 2) Knowing product attributes as the main consideration for consumers in buying “BESt Balls”; 3) identify the determination of the selling price of “BESt Balls”. The research was conducted in North Purwokerto, Banyumas. The research used qualitative descriptive analysis with Likert scale and rating scale analysis tools and analysis of the calculation of the cost of goods produced using the full costing method and determining the selling price using the markup pricing method. A total of 30 respondents were selected using purposive sampling technique with linear time function formula with the criteria that respondents are users of packing products. The results showed that there are several criteria that become consumer needs in terms of the attributes of shape, size (variety), texture, price, packaging, and accessibility of “BESt Balls” as an alternative Styrofoam environmentally friendly packaging. The product attributes that are the main considerations for consumers are accessibility, packaging, and size (variation) with a percentage of >75% (very good), each value is 78.3%, 77.7%, and 75.5%. The selling price of “BESt Balls” products calculated using full costing and mark up pricing method is IDR 8,745 (200g) and IDR 21,874 (500g) with a net profit of 30%. | |
| 42587 | 45957 | F1A020002 | Marlina Si Pemenggal Kepala (Balas Dendam dalam Film “Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak” [2017]) | Film “Marlina” bukan hanya sekedar bentuk perlawanan dan pertahanan diri. Film “Marlina” merupakan bentuk balas dendam perempuan akibat pemerkosaan dan ketertindasan. Penelitian ini akan memberikan informasi terkait representasi balas dendam yang dilakukan perempuan dalam film “Marlina”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan teori aliran feminisme multikultural untuk menganalisis hasil temuan. Penelitian ini memiliki temuan utama yakni bentuk balas dendam perempuan atas pemerkosaan dan penindasan yang dialami. Perempuan dalam film ini meracuni para perampok dan memenggal kepala dua orang dari perampok tersebut. Melalui makna feminisme multikultural, perempuan diperbolehkan menggunakan kekerasan sebab pengalaman dalam mengatasi setiap penindasan dipengaruhi dari faktor budaya, ras, dan kelas sosial. Budaya Sumba dalam film “Marlina” menormalisasikan kekerasan, khususnya pemenggalan kepala musuh. Meskipun perempuan memiliki hak untuk membalas ketertindasan, balas dendam bukan solusi yang tepat. Lingkaran balas dendam akan terus berputar jika tidak ada intervensi yang komprehensif. Kata Kunci: Film Marlina, Balas Dendam, Feminisme Multikultural, Roland Barthes | The film "Marlina" is not just a form of resistance and self-defense. The film "Marlina" film is a form of women's revenge due to rape and oppression. This research will provide information on the representation of revenge carried out by women in the "Marlina" film. This research uses qualitative methods with Roland Barthes semiotic techniques. This research uses multicultural feminism theory to analyze the findings. This research has a main finding, namely the form of women's revenge for the rape and oppression they experienced. The woman in this film poisoned the robbers and beheaded two of the robbers. Through the meaning of multicultural feminism, women are allowed to use violence because their experience in overcoming any oppression is influenced by cultural factors, race and social class. Sumbanese culture in the film "Marlina" normalizes violence, especially beheading enemies. Although women have the right to avenge crimes, violent revenge is not the right solution. The cycle of revenge will continue to spin if there is no comprehensive intervention. Keywords: Marlina Film, Revenge, Multicultural Feminism, Roland Barthes | |
| 42588 | 45958 | A1D020043 | Parameter Genetik Tanaman Padi Populasi F5 Hasil Persilangan Varietas Inpago Unsoed 1 × Basmati Delta 9 | Beras Basmati merupakan beras berindikasi geografis dengan karakteristik beras panjang dan ramping. Pembangunan evolusi pangan dapat dilakukan melalui persilangan tanaman guna menghasilkan kultivar Basmati yang dapat tumbuh dan cocok serta berdaya hasil tinggi bila ditanam di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui variabilitas genetik dan fenotipe, 2) mengetahui nilai duga heritabilitas, 3) mengetahui nilai kemajuan genetik, dan 4) mendapatkan komponen pertumbuhan atau hasil yang memiliki efektivitas seleksi tinggi. Percobaan dilakukan di sawah di Desa Karangambas, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga pada November 2023 hingga Maret 2024 menggunakan Perancangan Acak Blok (RAK). Faktor tunggal pada penelitian ini berupa 12 genotipe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabilitas genetik kriteria luas terdapat pada tinggi tanaman, jumlah anakan, umur berbunga, umur panen, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi per malai, bobot gabah per rumpun, panjang beras, dan lebar beras. Variabilitas fenotip kriteria luas pada semua karakter. Nilai heritabilitas arti luas kriteria tinggi pada tinggi tanaman, jumlah anakan, umur berbunga, umur panen, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi per malai, bobot gabah isi per rumpun, panjang beras dan lebar beras. Nilai kemajuan genetik kriteria tinggi terdapat pada tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi per malai, bobot gabah per rumpun, dan panjang beras. Efektivitas seleksi akan efektif pada jumlah anakan, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi per malai, dan bobot gabah per rumpun | Basmati rice is a rice with geographic indications with a long and slender rice character. The development of food evolution can be carried out through plant crossing to produce Basmati cultivars that can grow and are suitable and have high yields when planted in Indonesia This study aims to 1) determine the genetic and phenotypic variability, 2) determine the value of expected herritability, 3) determine the value of genetic progress, and 4) obtain growth components or yield that have high selection effectiveness. The experiment was conducted at a rice fields in Karangambas Village, Padamara District, Purbalingga Regency on from November 2023 to March 2024 using a Randomized Block Design (RBD). The single factor in this study was complete 12 rice genotypes. The results of the study showed that genetic variability broad criteria was obtained in most of the characters, meanwhile in the narrow criteria was obtained in number of productive tillers. The phenotypic variability of narrow criteria was obtained in all characters. The heritability value of the broad criteria was obtained in most of the characters, meanwhile in the medium criteria was obtained in number of productive tillers. The genetic advances high criteria was obtained in 6 characters, medium criteria in 3 characters, and low criteria in 2 characters. Selection will be effective on the plant height, number of tillers, number of grains per panicle, percentage of filled grain per panicle, weight of grain per clump | |
| 42589 | 45959 | H1C020044 | GEOLOGI DAN ESTIMASI KUALITAS SUMBERDAYA BATUGAMPING PADA QUARRY SIJEBI DAERAH KLAPANUNGGAL, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT | Daerah Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat termasuk kedalam Formasi Klapanunggal berupa Satuan Batugamping. Formasi Klapanunggal ini memiliki litologi berupa batugamping koral, sisipan batugamping pasiran, napal, batupasir kuarsa glokonitan hijau. Batugamping dianggap memiliki nilai ekonomis tinggi karena digunakan dalam berbagai sektor, seperti industri konstruksi, pertanian, industri kimia, hingga energi. Pada sektor industri konstruksi, batugamping digunakan sebagai bahan bangunan seperti semen. Kajian mengenai mengenai kondisi geologi daerah penelitian, karakteristik batuan, dan model estimasi daerah penelitian sangat diperlukan dalam menggali informasi potensi sumberdaya. Topik utama yang dilakukan dalam penelitian adalah pemodelan dan perhitungan kualitas batugamping menggunakan metode Inverse Distance Weight (IDW) yang didukung dengan kondisi geologi dan karakteristik fisik batuan. Kajian geologi yang dilakukan berupa analisis geomorfologi, stratigrafi, dan struktur yang berkembang di daerah penelitian. Kemudian dilakukan kajian untuk mengetahui karakteristik batugamping yang dilakukan berupa analisis petrografi untuk mengetahui litofasies batugamping dan analisis X-Ray Fluoronscence untuk mengetahui kandungan unsur batugamping dalam menentukan kualitasnya. Diperlukan data-data yang digunakan dalam perhitungan kualitas sumberdaya batugamping antara lain Data Collar, Data Assay, dan Data Survey. Metode pengolahan dan analisa data menggunakan grid 25 meter x 25 meter dengan tebal blok 1 meter dengan perhitungan dilakukan terhadap kualitas berdasarkan kandungan unsur SO3. Hasil estimasi kualitas sumberdaya batugamping terhadap kadar SO3 menunjukan total tonase sebesar 694.437.500 ton dengan rata-rata kadar SO3 sebesar 0.23%, dengan nilai 435.081.250 ton pada kualitas high grade, 106.518.750 ton pada kualitas medium grade, dan 152.837.500 ton pada kualitas low grade. | Klapanunggal area, Bogor Regency, West Java is included in the Klapanunggal Formation in the form of a limestone unit. This formation consists of coral limestone lithology, passive limestone inserts, marl, and green gloconite quartz sandstone. Various sectors, including the construction industry, agriculture, chemical industry, and energy, recognize the economic value of limestone. In the construction industry sector, limestone is used as a building material source, such as cement. Geological studies of the area of research, rock characteristics, and estimation models are needed in exploring information on potential resources. The main topic of the research is modeling and calculating the quality of limestone using the Inverse Distance Weight (IDW) method supported by geological conditions and physical characteristics of rocks. The geological study is carried out in the form of geomorphological analysis, stratigraphy, and structures that develop in the research area. Then a study to determine the characteristics of limestone is carried out in the form of petrographic analysis to determine the lithofacies of limestone and analysis of X-ray fluorescence to determine the elemental content of limestone in determining its quality. All data used in calculating the quality of limestone resources consist of collar data, assay data, and survey data. The method of data processing and analysis uses a 25 m x 25 m grid with a block thickness of 1 m, with calculations made on quality according to the contents of the element SO3. The results of estimating the quality of limestone resources based on SO3 content show a total of 694,437,500 tons with an average SO3 content of 0.23%, with a value of 435,081,250 tons at high grade quality, 106,518,750 tons at medium grade quality, and 152,837,500 tons at low grade quality. | |
| 42590 | 45960 | E1A020054 | Pertimbangan Hukum Hakim Dalam Membatalkan Putusan Bebas Terhadap Terdakwa Tindak Pidana Korupsi (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 2686 K/Pid.Sus/2021) | Terhadap putusan hakim yang oleh para pihak merasa putusan hakim kurang memenuhi rasa keadilan dapat diajukan upaya hukum baik banding maupun kasasi. Khusus putusan bebas tidak dapat dilakukan upaya hukum, tetapi berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 114/PUU-X/2012 yang menyatakan frasa putusan bebas dalam Pasal 244 KUHAP tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sehingga Mahkamah Agung berwenang memeriksa permohonan kasasi terhadap putusan bebas. Terhadap putusan bebas Mahkamah Agung memeriksa apabila terjadi kesalahan penerapan hukum sebagaimana pada putusan Pengadilan Negeri Banda Aceh Nomor 9/Pid.Sus-TPK/2020/PN Bna yang memutus bebas terdakwa tindak pidana korupsi. Penelitian ini akan berfokus kepada pertimbangan hakim di tingkat kasasi dalam membatalkan putusan pengadilan tingkat pertama serta akibat hukum yang ditimbulkan. Metode penelitian yang digunakan yaitu yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian preskriptif menggunakan data penelitian sekunder berupa berupa bahan hukum primer yaitu Putusan Mahkamah Agung Nomor 2686 K/Pid.Sus/2021 dengan pengumpulan data studi kepustakaan yang kemudian disajikan melalui teks naratif yang dianalisis dengan metode normatif kualitatif. Hasil penelitian ini Mahkamah Agung sebagai judex juris menilai alasan kasasi yang diajukan dapat dibenarkan karena dibebaskannya terdakwa dari dakwaan penuntut umum adalah salah penerapan hukum dengan tidak mempertimbangkan fakta hukum baik keterangan saksi, surat maupun keterangan terdakwa sehingga membatalkan putusan bebas. Dengan batalnya putusan bebas tersebut maka menimbulkan akibat hukum yaitu membatalkan Putusan Pengadilan Negeri Aceh Nomor 9/Pid.Sus-TPK/2020/PN Bna sehingga status terdakwa dari bebas menjadi dijatuhi hukuman pidana. Kata Kunci : Kasasi, Putusan Bebas, Tindak Pidana Korupsi | Against a judge's decision that the parties feel the judge's decision does not fulfil a sense of justice, legal remedies can be filed either appeal or cassation. Specifically for acquittal verdicts, no legal remedy can be taken, but based on the Constitutional Court Decision Number 114/PUU-X/2012 which states that the phrase acquittal in Article 244 of the Criminal Procedure Code does not have binding legal force so that the Supreme Court has the authority to examine cassation applications against acquittal verdicts. The Supreme Court examines acquittals when there is an error in the application of the law as in the decision of the Banda Aceh District Court Number 9/Pid.Sus-TPK/2020/PN Bna which acquitted the defendant of a corruption crime. This research will focus on the considerations of judges at the cassation level in cancelling first instance court decisions and the resulting legal consequences. The research method used is normative juridical with prescriptive research specifications using secondary research data in the form of primary legal material, namely Supreme Court Decision Number 2686 K/Pid.Sus/2021 with literature study data collection which is then presented through narrative text which is analysed using qualitative normative methods. The result of this research is that the Supreme Court as judex juris considers that the reasons for the cassation submitted can be justified because the acquittal of the defendant from the public prosecutor's charges was a misapplication of the law by not considering the legal facts, both witness testimony, letters and the defendant's testimony. Keywords: Cassation, Acquittal, Corruption Crimes | |
| 42591 | 45963 | B1A017094 | Imobilisasi Jamur Aspergillus spp. dan Trichoderma sp. Pada Sorgum Untuk Degradasi Limbah Pabrik Sabun Dengan Sistem Filter | Limbah pabrik sabun di Indonesia merupakan salah satu penyebab pencemaran air. Upaya alternatif untuk mengolah limbah pabrik sabun salah satunya dengan biodegradasi. Biodegradasi pada penelitian ini memanfaatkan jamur Aspergillus spp. dan Trichoderma sp. Inokulum jamur diimobilisasi pada sorgum sebagai substrat yang digunakan sebagai filter. Sistem filter dijalankan selama 1x24 jam. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 2 faktor dan 7 perlakuan. Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah komposisi filter sorgum. Variabel terikat yang diamati dalam penelitian ini adalah potensi jamur Aspergillus spp. dan Trichoderma sp. yang diimobilisasi pada sorgum untuk degradasi limbah sabun. Parameter utama yang diamati adalah nilai absorbansi. Parameter pendukung yang diamati adalah nilai pH, Total Dissolve Solids (TDS) dan Dissolved Oxygen (DO). Data hasil imobilisasi jamur Aspergillus spp. dan Trichoderma sp. pada sorgum dianalisa dengan uji analisis varian (ANOVA) pada tingkat kesalahan 5% dan dilakukan uji lanjut Duncan dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai absorbansi 0,01-0,5. Hasil uji ANOVA menunjukkan adanya pengaruh nyata antarperlakuan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa imobilisasi jamur Aspergillus spp. dan Trichoderma sp. pada sorgum dapat mendegradasi limbah pabrik sabun dan memiliki pengaruh nyata terhadap nilai absorbansi. Hasil uji lanjut Duncan diperoleh perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan A2B1 yang menggunakan bobot sorgum 300 g dan jamur Trichoderma sp. 3 g (0,01 + 0,0029). | Soap factory waste in Indonesia is one of the causes of water pollution. One alternative way to process soap factory waste is biodegradation. Biodegradation in this study utilized the fungus Aspergillus spp. and Trichoderma sp. The fungal inoculum was immobilized on sorghum as a substrate used as a filter. The filter system is run for 1x24 hours. This research was carried out experimentally with a Completely Randomized Factorial Design (CRD) with 2 factors and 7 treatments. Each treatment was repeated 4 times. The independent variable in this research is the composition of the sorghum filter. The dependent variable observed in this study was the potential of the fungus Aspergillus spp. and Trichoderma sp. which was immobilized on sorghum for the degradation of soap waste. The main parameter observed was the absorbance value. The supporting parameters observed were the pH value, Total Dissolve Solids (TDS) and Dissolved Oxygen (DO). Data on the results of immobilization of the fungus Aspergillus spp. and Trichoderma sp. on sorghum was analyzed using the analysis of variance (ANOVA) test at an error level of 5% and Duncan's follow-up test was carried out with a confidence level of 95%. The results showed that the average absorbance value was 0.01-0.5. The results of the ANOVA test showed that there was a real influence between treatments. Therefore it can be concluded that the immobilization of the fungus Aspergillus spp. and Trichoderma sp. in sorghum can degrade soap factory waste and have a real influence on the absorbance value. Duncan's further test results showed that the best treatment was the A2B1 treatment which used a weight of 300 g of sorghum and the fungus Trichoderma sp. 3 g (0.01 + 0.0029). | |
| 42592 | 45964 | A1F017059 | Penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) Pada produksi Mini Nopia (Mino) di Rumah Produksi Estu Kabupaten Banyumas | Mino adalah makanan yang terbuat dari bahan dasar tepung terigu, gula jawa, dan beberapa rempah-rempah. Mino biasanya diproduksi dengan cara yang masih tradisional mulai dari proses pembuatan adonannya hingga proses pemanggangannya. Bahan dasar pembuatan mino adalah tepung terigu, gula jawa/gula merah, dan gula pasir. Adonan ada dua macam, adonan tepung terigu dan gula jawa sebagai isi, adonan tepung terigu dan gula pasir sebagai kulit. Dan kemudian adonan dicetak bulat-bulat untuk selanjutnya akan dipanggang. Proses pemanggangan menggunakan oven tradisional yang disebut gentong dengan bantuan panas dari kayu bakar. Serangkaian proses produksi yang masih tradisional tersebut memungkinkan adanya penurunan keamanan dan mutu produk sehingga penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) menjadi sangat penting. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk 1) mengetahui kondisi awal penerapan GMP di Rumah Produksi Estu. 2) mengetahui perubahan tingkat penerapan GMP di Rumah Produksi Estu setelah pendampingan. Penelitian dilaksanakan di Rumah Produksi Estu, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan peneltian akan dilaksanakan selama 3 bulan dari Februari - April 2024. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu sampel jenuh atau sensus. Menurut Sugiyono (2017), teknik sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel dimana semua anggota populasi digunakan menjadi sampel. Objek dalam penelitian ini adalah 14 aspek penerapan GMP berdasarkan BPOM (2012) yang meliputi lokasi dan lingkungan produksi, bangunan dan fasilitas, peralatan produksi, suplai air, fasilitas dan kegiatan higiene serta sanitasi, kesehatan dan higiene karyawan, pemeliharaan dan program sanitasi dan higiene, penyimpanan, pegendalian proses, pelabelan pangan, pengawasan oleh penanggung jawab, penarikan produk, pencatatan dan dokumenstasi , pelatihan karyawan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan terdapat 17 variabel dengan skor 1 dan 2 yang tidak sesuai dengan standar BPOM (2012). Dari setiap variabel per parameter yang mendapatkan skor 1 dan 2 akan dianalisis lebih lanjut menggunakan Root Cause Analysis (RCA) dan diberi usulan perbaikan melalui FGD secara langsung dengan pihak UMKM. Perbaikan penerapan GMP kemudian dilakukan dan didapatkan hasil bahwa tingkat penerapan GMP pada rumah produksi Estu telah meningkat sebanyak 6 % dari yang awalnya 56,2 % menjadi 62,2%. | Mino is a food made from the basic ingredients of wheat flour, palm sugar and several spices. Mino is usually produced in a traditional way, from the dough making process to the baking process. The basic ingredients for making mino are wheat flour, Javanese/brown sugar, and granulated sugar. There are two kinds of dough, wheat flour dough and palm sugar/brown sugar as the filling, wheat flour dough and granulated sugar as the skin. And then the dough is molded into rounds and then baked. The roasting process uses a traditional oven called a gentong with the help of heat from firewood. This series of traditional production processes allows for a decrease in product safety and quality, so the implementation of Good Manufacturing Practices (GMP) becomes very important. Therefore, this research was carried out with the aim of 1) knowing the initial conditions for implementing GMP at the Estu Production House. 2) find out changes in the level of GMP implementation at the Estu Production House after mentoring. The research was carried out at the Estu Production House, Banyumas Regency, Central Java Province. Research activities will be carried out for 3 months from February - April 2024. The sampling technique used is a saturated sample or census. According to Sugiyono (2017), the saturated sampling technique is a sampling technique where all members of the population are used as samples. The objects of this research are 14 aspects of GMP implementation based on BPOM (2012) which include production locations and environments, buildings and facilities, production equipment, water supply, hygiene and sanitation facilities and activities, employee health and hygiene, maintenance and sanitation and hygiene programs, storage, process control, food labeling, supervision by the person in charge, product withdrawal, recording and documentation, employee training. The research results show that in the implementation there are 17 variables with scores 1 and 2 that do not comply with BPOM standards (2012). Each variable per parameter that gets a score of 1 and 2 will be analyzed further using Root Cause Analysis (RCA) and suggestions for improvement will be given through FGD directly with the MSMEs. Improvements to the implementation of GMP were then carried out and the result was that the level of GMP implementation in estu production houses had increased by 6% from the initial 56.2% to 62.2%. | |
| 42593 | 45965 | A1D020115 | Pengaruh Pupuk Organik Cair Asal Bahan Jeroan Ikan dan Buah Maja Terhadap Pertumbuhan Tanaman Caisim | Pupuk organik cair adalah pupuk hasil fermentasi dari beragam bahan organik yang mengandung berbagai unsur hara, fitohormon, dan vitamin. Bahan organik dapat berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, kotoran manusia, limbah agroindustri, dan limbah pasar. Limbah pasar yang dapat dijadikan sebagai pupuk organik adalah limbah jeroan ikan dan bahan organik lainnya berupa buah maja. Kedua bahan organik tersebut mengandung unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. Penelitian ini merupakan percobaan pot dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari satu faktor yaitu variasi konsentrasi pupuk organik cair. Perlakuan terdiri dari P1 (0 mL/L), P2 (10 mL/L), P3 (35 mL/L), P4 (60 mL/L), P5 (85 mL/L, dan P6 (110 mL/L). Data hasil analisis pupuk organik cair jeroan ikan dan buah maja dibandingkan dengan Standar mutu Keputusan Menteri Pertanian Nomor 261/KPTS/SR.310/M/4/2019 tentang Persyaratan Teknis Minimal Pupuk Organik, Pupuk Hayati, dan Pembenah Tanah minimal 2-6%. Hasil analisis pH dan kandungan hara NPK pupuk organik jeroan ikan dan buah maja belum memenuhi standar mutu dari Kepmentan, akan tetapi hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi mampu memberikan perbedaan pertumbuhan pada tanaman caisim, meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, kandungan klorofil, bobot basah, dan bobot kering. Perlakuan P4 (60 mL/L) menunjukkan respon terbaik terhadap tinggi tanaman, luas daun, kandungan klorofil, bobot basah, dan bobot kering tanaman pada minggu ke 5 setelah tanam. | Liquid organic fertilizer is a fermented fertilizer from various organic materials that contain various nutrients, phytohormones, and vitamins. Organic materials can come from crop residues, animal waste, human waste, agro-industrial waste, and market waste. Market waste that can be used as organic fertilizer is fish offal waste and other organic materials in the form of maja fruit. Both organic materials contain nutrients needed by plants. This research is a pot experiment using a Randomized Group Design (RAK) consisting of one factor, namely variations in the concentration of liquid organic fertilizer. The treatment consisted of P1 (0 mL/L), P2 (10 mL/L), P3 (35 mL/L), P4 (60 mL/L), P5 (85 mL/L, and P6 (110 mL/L). Data from the analysis of liquid organic fertilizer of fish offal and maja fruit were compared with the quality standard of the Decree of the Minister of Agriculture Number 261/KPTS/SR.310/M/4/2019 concerning Minimum Technical Requirements for Organic Fertilizers, Biological Fertilizers, and Soil Improvers of at least 2-6%. The results of pH analysis and NPK nutrient content of organic fertilizer of fish offal and maja fruit have not met the quality standards of the Ministry of Agriculture, but the results showed that variations in concentration were able to provide differences in growth in caisim plants, including plant height, number of leaves, leaf area, chlorophyll content, wet weight, and dry weight. Treatment P4 (60 mL/L) showed the best response to plant height, leaf area, chlorophyll content, wet weight, and dry weight of plants at week 5 after planting. | |
| 42594 | 45966 | I1D020028 | PERBEDAAN IMT, TINGKAT STRES, NIGHT EATING SYNDROME, DAN ASUPAN ENERGI SARAPAN PADA MAHASISWA AKTIF DAN NON AKTIF ORGANISASI | Latar Belakang: Masalah gizi pada mahasiswa dapat memengaruhi perkembangan kognitif, produktivitas, dan kinerja. Aktivitas organisasi dapat berdampak pada kebiasaan makan dan stres sebagai faktor yang berkaitan dengan status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan Indeks Massa Tubuh, tingkat stres, night eating syndrome, dan asupan energi sarapan antara mahasiswa aktif dan non-aktif organisasi di Universitas Jenderal Soedirman. Metodeologi: Penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional melibatkan 138 mahasiswa yang terbagi menjadi dua kelompok aktif dan non aktif organisasi. Sampel dipilih dengan purposive sampling. Data berupa IMT, kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10) untuk mengukur tingkat stres, Night Eating Quesionnare (NEQ) untuk night eating syndrome, dan recall 2x24 untuk asupan energi sarapan. Uji normalitas menggunakan Kolmogorov smirnov dan uji komparasi dengan Wilcoxon. Hasil Penelitian: IMT dari kedua kelompok termasuk dalam kategori normal dengan nilai median 20,5 kg/m2 dan 21 kg/m2. Tingkat stres dari kedua kelompok termasuk kategori stres sedang dengan nilai median skor PSS-10 adalah 22. Nilai median skor NEQ pada mahasiswa aktif organisasi adalah 27 (NES) sedangkan pada mahasiswa non aktif adalah 25 (normal). Tidak terdapat perbedaan IMT (p=0,277), tingkat stress (p=0,939), dan NES (p=0,546)antara mahasiswa aktif dan non aktif organisasi (0>0,05). Terdapat perbedaan asupan energi sarapan antara mahasiswa aktif dan non aktif organisasi (0<0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan asupan energi sarapan antara mahasiswa aktif dan non aktif organisasi. Tidak ada perbedaan IMT, tingkat stres, dan NES antara mahasiswa aktif dan non aktif organisasi. Kata Kunci: Asupan Energi Sarapan, IMT, Mahasiswa, Night Eating Syndrome, Organisasi, Tingkat Stres | Background: Students can develop their knowledge in both academic and non-academic fields by participating in organizational activities. Nutritional issues among students can affect cognitive development, productivity, and performance. Organizational activities can impact eating habits and stress, which are factors related to nutritional status. This study aims to examine the differences in BMI, stress levels, night eating syndrome, and breakfast energy intake between active and non-active organization students at Jenderal Soedirman University. Methodology: This observational study used a cross-sectional approach and involved 138 students divided into active and non-active organization groups. Samples were selected using purposive sampling. Data collected included BMI, the Perceived Stress Scale (PSS-10) questionnaire for measuring stress levels, the Night Eating Questionnaire (NEQ) for night eating syndrome, and a 2x24-hour recall for breakfast energy intake. Normality tests were conducted using Kolmogorov-Smirnov, and comparative tests were conducted using the Wilcoxon test. Results: Both groups had normal BMI (median 20.5 kg/m² and 21 kg/m²) and moderate stress levels (median PSS-10 score 22). Active organization students had a median NEQ score of 27 (NES), while non-active students scored 25 (normal). No significant differences were found in BMI, stress, or NES between the groups (p>0.05). However, breakfast energy intake differed significantly (p<0.05). Conclusion: There is a difference in breakfast energy intake between active and non-active organization students. There are no differences in BMI, stress levels, or NES between active and non-active organization students. Keywords: BMI, Breakfast Energy Intake, College Students, Night Eating Syndrome, Organization, Stress Levels | |
| 42595 | 45967 | A1D017137 | PENGARUH NAUNGAN DAN MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) VARIETAS SALAKAN | Permintaan cabai rawit (Capsicum frutescens L.) pada pasar saat ini meningkat. Oleh karena itu diperlukan perlakuan khusus untuk meningkatkan produktivitas dari tanaman cabai rawit tersebut, yaitu pemberian naungan dan penggunaan media tanam yang dapat mendukung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh naungan, media, dan interaksi antara kedua faktor terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari 2024 sampai Juni 2024 di lahan exfarm Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Kec. Purwokerto Utara, Kab. Banyumas. Variabel yang diamati antara lain tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, intensitas cahaya, diameter batang, jumlah bunga per batang, jumlah buah per tanaman, bobot buah, dan persentase buah panen. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split-Plot) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah perbedaan naungan, yaitu N0= tanpa naungan; N1= naungan dengan kerapatan 40%; N2= naungan dengan kerapatan 80%. Faktor kedua adalah macam media tanam, yaitu M1= tanah ultisol; M2= pencampuran tanah ultisol dan pupuk kandang sapi dengan perbandingan 1:1 skala volume; M3= pencampuran serbuk gergaji dan pupuk kandang sapi dengan perbandingan 1:1 skala volume. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah perlakuan yang dapat berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan adalah N1, N2, M1, M2, dan kombinasi perlakuan N1M1. | The demand for bird's eye chili (Capsicum frutescens L.) in the market is currently increasing. Therefore, special treatment is needed to improve the productivity of bird's eye chili plants, such as providing shading and using supportive growing media. This research aims to determine the effect of shading, media, and the interaction between these two factors on the growth and yield of bird's eye chili plants. The study was conducted from January 2024 to June 2024 at the ex-farm land of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto North District, Banyumas Regency. The observed variables include plant height, number of leaves, leaf area, light intensity, stem diameter, number of flowers per stem, number of fruits per plant, fruit weight, and percentage of harvested fruits. This research used a Split-Plot Design with two treatment factors. The first factor is shading difference: N0 = no shading; N1 = shading with 40% density; N2 = shading with 80% density. The second factor is the type of growing media: M1 = ultisol soil; M2 = a mixture of ultisol soil and cow manure in a 1:1 volume ratio; M3 = a mixture of sawdust and cow manure in a 1:1 volume ratio. The results show that the treatments with a significant effect on the observed variables are N1, N2, M1, M2, and the combination treatment N1M1. | |
| 42596 | 45968 | A1A017070 | ANALISIS KOMODITAS UNGGULAN SUB SEKTOR TANAMAN PANGAN DI KABUPATEN BANYUMAS | Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Banyumas yang bersifat fluktuatif dari tahun ke tahun harus memerlukan adanya perencanaan pembangunan dan pengembangan di setiap sub-sektor pertanian. Salah satu upaya untuk menciptakan pembangunan ekonomi di Kabupaten Banyumas yaitu dengan mengetahui potensi komoditas unggulan pertanian khususnya dalam penelitian ini yaitu komoditas tanaman pangan. Sub sektor tanaman pangan sebagai bagian dari sektor pertanian memiliki kontribusi penting dalam pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk (1). Mengetahui kecamatankecamatan yang menjadi wilayah basis dan jenis komoditas tanaman pangan basis di Kabupaten Banyumas. (2).Mengetahui karakteristik laju pertumbuhan komoditas tanaman pangan setiap Kecamatan di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan pendekatan Analisis Data Sekunder (ADS), dengan metode pengambilan data menggunakan metode dokumentasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam kurun waktu 2014-2023. Data sekunder diolah menggunakan Software Excel 2013. Komoditas dalam penelitian ini yaitu komoditas tanaman pangan. Metode analisis data digunakan adalah Analisis Location Quotient (LQ) dan analisis shift-share menggunakan tiga informasi dasar yang berhubungan satu sama lain yaitu: Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW), Pertumbuhan Proporsional (PP), dan Pertumbuhan Bersih (PB). Hasil penelitian menunjukan bahwa (1). Kecamatan yang mempunyai komoditas tanaman pangan basis paling banyak adalah Kecamatan Kebasen, Kecamatan Kalibagor, dan Kecamatan Purwojati dengan jumlah komoditas basis sebanyak lima komoditas. Jenis komoditas tanaman pangan basis paling banyak di Kabupaten Banyumas adalah padi sawah yang terdapat di delapan belas Kecamatan, yaitu Kecamatan Wangon, Jatilawang, Rawalo, Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Banyumas, Patikraja, Ajibarang, Pekuncen, Karanglewas, Kedungbanteng, Baturraden, Sokaraja, Purwokerto Selatan, Purwokerto Barat, Purwokerto Timur dan Purwokerto Utara (2). Karakteristik laju pertumbuhan komoditas tanaman pangan yang mempunyai daya saing tinggi di Kabupaten Banyumas adalah padi sawah yang terdapat di tiga belas Kecamatan, yaitu di Kecamatan Jatilawang, Kebasen, Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Somagede, Kalibagor, Gumelar, Cilongok, Karanglewas, Kedungbanteng dan Sokaraja. Komoditas tanaman pangan yang mempunyai pertumbuhan cepat di Kabupaten Banyumas adalah padi sawah yang terdapat di semua kecamatan di Kabupaten 2 Banyumas sebanyak dua puluh tujuh Kecamatan. Komoditas tanaman pangan yang termasuk dalam kelompok progresif atau mengalami kemajuan di Kabupaten Banyumas adalah padi sawah yang terdapat di delapan belas Kecamatan, yaitu Kecamatan Lumbir, Wangon, Jatilawang, Rawalo, Kebasen, Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Somagede, Kalibagor, Banyumas, Purwojati, Gumelar, Cilongok, Karanglewas, Kedungbanteng, Sumbang dan Sokaraja. | The contribution of the agricultural sector to the Gross Regional Domestic Product (GRDP) of Banyumas Regency, which is fluctuating from year to year, requires planning for development and growth in each agricultural sub-sector. One of the efforts to create economic development in Banyumas Regency is by identifying the potential of superior agricultural commodities, particularly in this research, the commodity of food crops. The food crop sub-sector, as part of the agricultural sector, plays an important role in economic growth in Banyumas Regency. This research aims to (1) identify the sub-districts that serve as the base areas and the types of staple food commodities in Banyumas Regency. (2) Determine the characteristics of the growth rate of staple food commodities in each sub-district of Banyumas Regency. This research is a descriptive quantitative study using a Secondary Data Analysis (SDA) approach, with data collection methods utilizing documentation from the Central Statistics Agency (BPS) over the period of 2014-2023. The secondary data is processed using Excel 2013 software. The commodity in this research is food crop commodities. The data analysis methods used are Location Quotient (LQ) analysis and shift-share analysis, utilizing three interrelated basic pieces of information: Regional Share Growth (PPW), Proportional Growth (PP), and Net Growth. (PB). The research results indicate that (1). The sub-districts with the most staple food crop commodities are Kebasen, Kalibagor, and Purwojati, each with a total of five staple commodities. The most prevalent staple food crop in Banyumas Regency is rice, which can be found in eighteen sub-districts: Wangon, Jatilawang, Rawalo, Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Banyumas, Patikraja, Ajibarang, Pekuncen, Karanglewas, Kedungbanteng, Baturraden, Sokaraja, Purwokerto South, Purwokerto West, Purwokerto East, and Purwokerto North. (2). The characteristics of the growth rate of competitive food crop commodities in Banyumas Regency are represented by rice fields found in thirteen districts, namely Jatilawang, Kebasen, Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Somagede, Kalibagor, Gumelar, Cilongok, Karanglewas, Kedungbanteng, and Sokaraja. The fast-growing food crop in Banyumas Regency is rice, which is found in all twentyseven districts of Banyumas Regency. The food crop that falls into the progressive category or is experiencing advancement in Banyumas Regency is rice, which is present in eighteen districts, namely Lumbir, Wangon, Jatilawang, Rawalo, Kebasen, Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Somagede, Kalibagor, Banyumas, Purwojati, Gumelar, Cilongok, Karanglewas, Kedungbanteng, Sumbang, and Sokaraja. | |
| 42597 | 45969 | A1A019021 | Motivasi petani terhadap usahatani tembakau di Desa Cindaga Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas | Kecamatan Kebasen memiliki Desa yang memproduksi tembakau sejak tahun 1980an yaitu Desa Cindaga. Usahatani tembakau yang telah berjalan cukup lama tersebut saat ini, mengalami penurunan penggunaan luas lahan untuk budidaya tembakau dalam limat tahun tarakhir. Selain itu terdapat persoalan lainnya seperti perkembangan teknologi pertanian yang belum dapat diserap pada usahatani tembakau di desa tersebut. Berbagai masalah tersebut diduga menjadi indikasi adanya penurunan motivasi petani dalam berusahatani tembakau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat motivasi petani dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi petani di Desa Cindaga. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Mei 2024. Pengambilan data dilakukan di Desa Cindaga Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas. Pemilihan lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive). Penelitian ini menggunakan uji proporsi, uji validitas, uji reliabilitas dan analisis regresi linear berganda. Responden penelitian ini yaitu sebanyak 34 responden yang dipilih dengan menggunakan metode sensus. Adapun indikatornya yaitu sedang atau pernah melakukan usahatani tembakau. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani (lebih dari 50%) memiliki tingkat motivasi yang tinggi terhadap usahatani tembakau di Desa Cindaga Kecamatan Kebasen. Tingkat motivasi tersebut diukur berdasarkan teori hierarki ERG dari Clayton Alderfer. Faktor – faktor yang berpengaruh terhadap motivasi petani terhadap usahatani tembakau di Desa Cindaga Kecamatan Kebasen yaitu, jumlah tanggungan dan kelembagaan. Hal tersebut dikarenakan petani tembakau di Desa Cindaga memiliki usia produktif sehingga rata-rata masih memiliki tanggungan 2 hingga 3 orang. Selain itu, kelembagaan melaksanakan perannya sebagai kelas belajar, wadah kerjasama dan unit produksi sehingga menjadi alasan berpengaruhnya faktor tersebut terhadap motivasi petani tembakau di Desa Cindaga Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas. | Kebasen Subdistrict has a village that has been producing tobacco since the 1980s, namely Cindaga Village. The tobacco farming, which has been ongoing for quite some time, has recently experienced a decrease in land usage for tobacco cultivation over the past five years. Additionally, there are other issues, such as the inability to absorb agricultural technology advancements in the tobacco farming practices in the village. These various problems are suspected to be indicative of a decline in farmers' motivation to continue tobacco farming. This research aims to determine the level of farmers' motivation and identify the factors that influence farmers' motivation in Cindaga Village. The research method used is a survey. The research will be carried out in May 2024. Data collection was conducted in Cindaga Village, Kebasen Sub-District, Banyumas Regency. The selection of the research location was deliberate (purposive method). This research utilizes proportion test, validity test, reliability test and multiple linear regression analysis. The respondents of this study consist of 34 individuals selected through a census method. The indicators include those who are currently or have previously engaged in tobacco farming. The results of this study indicate that the majority of farmers (more than 50%) have a high level of motivation towards tobacco farming in Cindaga Village, Kebasen District. This level of motivation is measured based on Clayton Alderfer's ERG hierarchy theory. The factors influencing the farmers' motivation towards tobacco farming in Cindaga Village, Kebasen District, are the number of dependents and institutional factors. This is because the tobacco farmers in Cindaga Village are of productive age, so on average, they still have 2 to 3 dependents. Additionally, the institutions perform their roles as learning classes, cooperation platforms, and production units, which explains the significant influence of these factors on the motivation of tobacco farmers in Cindaga Village, Kebasen District, Banyumas Regency | |
| 42598 | 45973 | I1C020064 | Formulasi dan Karakterisasi Nanostructured Lipid Carrier (NLC) Ekstrak Etanol Sambiloto (Andrographis paniculata) Sebagai Hepatoprotektor | Latar belakang: Ekstrak etanol sambiloto (Andrographis paniculata) terbukti memiliki efek hepatoprotektor. Namun bioavailabilitasnya yang rendah menjadi keterbatasan utama sebagai terapi alternatif. Salah satu solusi untuk meningkatkan bioavailabilitas yaitu dengan nanostructured lipid carrier (NLC), yang juga dapat memperbaiki profil sistem penghantaran obat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan NLC ekstrak etanol sambiloto. Metode: NLC diformulasikan menggunakan metode high shear homogenization. Fase minyak terdiri dari propilen glikol yang ditambahkan komposisi yang bervariasi berupa asam stearat, minyak zaitun, dan larutan ekstrak etanol sambiloto. Fase air terdiri dari tween 80, polietilen glikol 400, dan aqua deionisasi. Variasi kecepatan homogenisasi yang digunakan adalah 400, 1000, dan 10.000 rpm. Karakterisasi NLC meliputi pengamatan organoleptik, morfologi, ukuran partikel, distribusi ukuran nanopartikel, zeta potensial, dan stabilitas real time. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula terbaik terdiri dari asam stearat 0,25%, minyak zaitun 0,25%, ekstrak etanol sambiloto 0,25%, propilen glikol 20%, polietilen glikol 400 20%, tween 80 20%, dan aqua deionisasi hingga 100%, dengan kecepatan homogenisasi 1000 rpm. NLC yang dihasilkan berbentuk cairan kental berwarna kuning transparan, dengan karakterisasi morfologi partikel bulat pejal beraturan, ukuran partikel 18,096 ± 4,442 nm, polydispersity index 0,231 ± 0,025, dan zeta potensial -24,4 ± 4,107 mV. NLC ekstrak etanol sambiloto stabil pada penyimpanan suhu 4°C selama 25 pekan. Kesimpulan: NLC ekstrak etanol sambiloto memiliki karakteristik nanopartikel yang baik. | Background: The ethanol extract of Andrographis paniculata, commonly known as sambiloto, has been proven to have hepatoprotective effects. However, its low bioavailability is a significant limitation as an alternative therapy. One solution to enhance bioavailability is the use of nanostructured lipid carrier (NLC), which can also improve the drug delivery profile. Aim: This study aims to formulate NLs from the ethanol extract of sambiloto. Method: The NLC were formulated using the high shear homogenization method. The oil phase consisted of propylene glycol with varying compositions of stearic acid, olive oil, and the sambiloto ethanol extract solution. The aqueous phase included Tween 80, polyethylene glycol 400, and deionized water. The homogenization speeds used were 400, 1000, and 10,000 rpm. The NLC were characterized by organoleptic observation, morphology, particle size, nanoparticle size distribution, zeta potential, and real-time stability. Result: The study results indicated that the optimal formulation comprised 0.25% stearic acid, 0.25% olive oil, 0.25% sambiloto ethanolic extract, 20% propylene glycol, 20% polyethylene glycol 400, 20% Tween 80, and deionized water up to 100%, with a homogenization speed of 1000 rpm. The resulting NLC were oily, viscous yellowish-transparent liquids, with spherical, well-structured particle morphology, a particle size of 18.096 ± 4.442 nm, a polydispersity index of 0.231 ± 0.025, and a zeta potential of -24.4 ± 4.107 mV. The sambiloto ethanolic extract NLCs remained stable at a storage temperature of 4°C for 25 weeks. Conclusion: These NLC exhibited good nanoparticle characteristics. | |
| 42599 | 45974 | A1A020018 | Analisis Tingkat Kepuasan Petani Buncis Lokal terhadap Pola Kemitraan dengan Koperasi Max Yasa di Kabupaten Purbalingga | Buncis merupakan salah satu komoditas tanaman hortikultura yang memiliki potensi untuk dibudidayakan. Meskipun memiliki potensi, petani buncis di Indonesia kerap mengalami kendala pemasaran termasuk petani buncis di Kabupaten Purbalingga. Salah satu untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dilakukannya kerjasama kemitraan dengan Koperasi Max Yasa. Koperasi Max Yasa di Kabupaten Purbalingga salah satunya Koperasi Max Yasa yang berfokus pada pemasaran buncis varietas lokal dan kenya. Namun dalam pelaksanannya masih terdapat kekurangan, seperti tidak adanya perjanjian tertulis, harga yang ditawarkan selalu berubah, ketidaksesuaian waktu pembayaran hasil, ketidaksesuaian waktu pengiriman benih, kualitas benih yang tidak selalu baik, respon dari Koperasi Max Yasa yang tidak merata pada setiap wilayah kemitraan, dan lain-lain. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik petani buncis lokal yang bermitra, tingkat kepuasan petani buncis lokal yang bermitra, serta atribut yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan kepuasan petani buncis lokal terhadap pola kemitraan dengan Koperasi Max Yasa di Kabupaten Purbalingga. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan rancangan pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Responden penelitian sebanyak 40 orang petani buncis lokal yang tergabung dalam kemitraan dengan Koperasi Max Yasa di Kabupaten Purbalingga dengan mengambil tiga desa kemitraan yaitu Desa Serang, Bumisari, dan Karangjengkol. Analisis data menggunakan deskriptif, Customer Satisfaction Index (CSI), dan Importance Performance Analysis (IPA) dengan variabel-variabel yang akan diukur adalah Kepedulian (Empathy), Jaminan (Assurance), Keandalan (Reliability), Ketanggapan (Responsive), dan Bukti fisik (Tangibles). Hasil analisis deskriptif menunjukkan karakteristik petani buncis lokal yang bermitra berdasarkan usia yaitu pada usia produktif 15 – 64 tahun sebanyak 38 orang, jenis kelamin laki-laki sebanyak 39 orang, tingkat pendidikan SD sebanyak 26 orang, dan asal Desa Serang sebanyak 23 orang. Kemudian hasil analisis Customer Satisfaction Index (CSI) menunjukkan bahwa tingkat kepuasan petani buncis lokal terhadap pola kemitraan dengan Koperasi Max Yasa mendapat skor sebesar 56,868 persen artinya petani mitra merasa “cukup puas” terhadap pola kemitraan yang sudah terjalin. Hasil analisis IPA diperoleh atribut yang perlu diprioritaskan untuk dipertahankan kinerjanya oleh Koperasi Max Yasa yaitu ketepatan waktu pengiriman benih, ketepatan waktu pembayaran hasil, respon terhadap segala keluhan, dan kualitas benih yang diberikan. | Beans are one of the horticultural commodities that have the potential to be cultivated. Despite their potential, bean farmers in Indonesia often experience marketing constraints, including bean farmers in Purbalingga Regency. One way to overcome this problem is to carry out partnership cooperation with partner companies. One of the partner companies in Purbalingga Regency is the Max Yasa Cooperative which focuses on marketing local and Kenyan varieties of beans. However, in its implementation there are still shortcomings, such as the absence of a written agreement, the price offered is always changing, the timing of payment of results is not appropriate, the timing of seed delivery is not appropriate, the quality of seeds is not always good, the response from partner companies is not evenly distributed in each partnership area, and others. Therefore, this study aims to determine the characteristics of local bean farmers who are partners, the level of satisfaction of local bean farmers who are partners, and the attributes that need to be improved to increase the satisfaction of local bean farmers towards the partnership pattern with the Max Yasa Cooperative in Purbalingga Regency. The research method used is a case study with a sampling design, namely purposive sampling. The respondents of the study were 40 local bean farmers who were members of a partnership with the Max Yasa Cooperative in Purbalingga Regency by taking three partnership villages, namely Serang, Bumisari, and Karangjengkol Villages. Data analysis used descriptive, Customer Satisfaction Index (CSI), and Importance Performance Analysis (IPA) with the variables to be measured being Empathy, Assurance, Reliability, Responsiveness, and Tangibles. The results of the descriptive analysis showed the characteristics of local chickpea farmers who partnered based on age, namely at the productive age of 15 – 64 years old as many as 38 people, male sex as many as 39 people, elementary education level as many as 26 people, and from Serang Village as many as 23 people. Then the results of the Customer Satisfaction Index (CSI) analysis showed that the level of satisfaction of local chickpea farmers with the partnership pattern with the Max Yasa Cooperative scored 56.868 percent, meaning that partner farmers felt "quite satisfied" with the partnership pattern that had been established. The results of the science analysis obtained attributes that need to be prioritized to maintain their performance by the Max Yasa Cooperative, namely the timeliness of seed delivery, the timeliness of payment of results, response to all complaints, and the quality of the seeds provided. | |
| 42600 | 45970 | A1A017044 | Analisis Kelayakan Usahatani Padi Sawah dalam Program Sekolah Lapang IPDMIP di Desa Karangduren Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas | Salah satu penghasil padi sawah di Kabupaten Banyumas adalah Desa Karangduren, Kecamatan Sokaraja. Desa Karangduren menjadi salah satu desa yang menerima program Sekolah Lapang Integrated Participatory Development and Management Irrigation Program (IPDMIP). Jumlah produksi padi sawah di Desa Karangduren pada tahun 2021 sebanyak 1.420,65 ton dengan peningkatan produksi dari tahun 2020 sebanyak 191,05 ton. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengetahui biaya produksi, penerimaan, dan pendapatan usahatani padi sawah dalam program Sekolah Lapang IPDMIP di Desa Karangduren Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas, 2) Mengetahui kelayakan usahatani padi sawah dalam program Sekolah Lapang IPDMIP di Desa Karangduren Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan di Desa Karangduren Kecamatan Sokaraja. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan April 2024. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu sampel jenuh atau sensus, sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu petani di Desa Karangduren yang mengikuti program Sekolah Lapang IPDMIP yang berjumlah 25 petani. Analisis yang digunakan yaitu analisis biaya usahatani, penerimaan usahatani, pendapatan usahatani, R/C ratio, dan break even point (BEP). Hasil penelitian ini yaitu rata-rata pendapatan petani padi sawah sebesar Rp15.327.402,51 per hektar. Hasil produksi padi sawah selama satu musim tanam per hektar sebesar 5.758,73 Kilogram lebih besar dari BEP Produksi 1.572,93 kilogram, penerimaan produksi sebesar Rp29.945.396,83 lebih besar dari nilai BEP penerimaan Rp8.179.232,08, dan harga sebesar Rp5.200,00 per kilogram lebih besar dari nilai BEP harga Rp2.538,41 per kilogram. Berdasarkan analisis R/C ratio, nilai R/C ratio menunjukkan hasil 2,05 lebih dari 1 artinya setiap Rp1 yang dikeluarkan oleh petani padi sawah menghasilkan penerimaan sebesar Rp2,05 sehingga usahatani padi sawah dalam program Sekolah Lapang IPDMIP di Desa Karangduren efisien atau layak untuk diusahakan. | One of the producers of lowland rice in Banyumas Regency is Karangduren Village, Sokaraja District. Karangduren Village is one of the villages that received the Integrated Participatory Development and Management Irrigation Program (IPDMIP) Field School Program. The amount of rice production in Karangduren Village in 2021 was 1,420.65 tons with an increase in production from 2020 of 191.05 tons. The objectives of this research are: 1) Knowing the cost of production, revenue, and income of rice farming in the IPDMIP Field School Program in Karangduren Village, Sokaraja District, Banyumas Regency, 2) Knowing the Feasibility of lowland rice Farming in the IPDMIP Field School Program in Karangduren Village, Sokaraja District Banyumas. The research was conducted in Karangduren Village, Sokaraja District. The research method used in this study was the survey method. The research was conducted in April 2024. The sampling technique used was saturated samples or census, the sample used in this study was farmers in Karangduren village who participated in the IPDMIP Field School program totaling 25 farmers. The analysis used are farming cost analysis, farming revenues, farming income, R/C ratio, and break even point (BEP). The results of this research are that the average income of lowland rice farmers is IDR 15.327.402,51 per hectare. The production of rice fields during one planting season per hectare is 5.758,73 kilograms which is greater than the BEP production of 1.572,93 kilograms, production revenue is IDR 29,945,396.83 which is greater than the BEP revenue of IDR 8.179.232,08, and the price of IDR 5.200,00 per kilogram is greater than the BEP price of IDR 2.538,41 per kilogram. Based on the R/C Ratio analysis, the R/C Ratio value shows the results of 2.05 which is more than 1 meaning that every IDR 1 issued by lowland rice farmers produces revenue of IDR 2.05 so that the lowland rice Farming in the IPDMIP Field School Program in Karangduren Village is efficient or feasible to work on. |