Home
Login.
Artikelilmiahs
45957
Update
ADINDA FARAH NUR AZIZAH
NIM
Judul Artikel
Marlina Si Pemenggal Kepala (Balas Dendam dalam Film “Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak” [2017])
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Film “Marlina” bukan hanya sekedar bentuk perlawanan dan pertahanan diri. Film “Marlina” merupakan bentuk balas dendam perempuan akibat pemerkosaan dan ketertindasan. Penelitian ini akan memberikan informasi terkait representasi balas dendam yang dilakukan perempuan dalam film “Marlina”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan teori aliran feminisme multikultural untuk menganalisis hasil temuan. Penelitian ini memiliki temuan utama yakni bentuk balas dendam perempuan atas pemerkosaan dan penindasan yang dialami. Perempuan dalam film ini meracuni para perampok dan memenggal kepala dua orang dari perampok tersebut. Melalui makna feminisme multikultural, perempuan diperbolehkan menggunakan kekerasan sebab pengalaman dalam mengatasi setiap penindasan dipengaruhi dari faktor budaya, ras, dan kelas sosial. Budaya Sumba dalam film “Marlina” menormalisasikan kekerasan, khususnya pemenggalan kepala musuh. Meskipun perempuan memiliki hak untuk membalas ketertindasan, balas dendam bukan solusi yang tepat. Lingkaran balas dendam akan terus berputar jika tidak ada intervensi yang komprehensif. Kata Kunci: Film Marlina, Balas Dendam, Feminisme Multikultural, Roland Barthes
Abtrak (Bhs. Inggris)
The film "Marlina" is not just a form of resistance and self-defense. The film "Marlina" film is a form of women's revenge due to rape and oppression. This research will provide information on the representation of revenge carried out by women in the "Marlina" film. This research uses qualitative methods with Roland Barthes semiotic techniques. This research uses multicultural feminism theory to analyze the findings. This research has a main finding, namely the form of women's revenge for the rape and oppression they experienced. The woman in this film poisoned the robbers and beheaded two of the robbers. Through the meaning of multicultural feminism, women are allowed to use violence because their experience in overcoming any oppression is influenced by cultural factors, race and social class. Sumbanese culture in the film "Marlina" normalizes violence, especially beheading enemies. Although women have the right to avenge crimes, violent revenge is not the right solution. The cycle of revenge will continue to spin if there is no comprehensive intervention. Keywords: Marlina Film, Revenge, Multicultural Feminism, Roland Barthes
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save