Artikel Ilmiah : K1C019047 a.n. AMELIA SABRINA

Kembali Update Delete

NIMK1C019047
NamamhsAMELIA SABRINA
Judul ArtikelSTUDI KOMPARASI REDUKSI KE KUTUB DAN REDUKSI KE EKUATOR DATA ANOMALI MAGNETIK PADA DAERAH LINTANG RENDAH
(Studi Kasus : Desa Pekuncen dan Karanglewas Kecamatan Jatilawang)
Abstrak (Bhs. Indonesia)Komparasi pemodelan reduksi ke kutub dan reduksi ke ekuator dilakukan untuk mengetahui filter mana yang lebih cocok digunakan untuk mengetahui pola sebaran anomali dan struktur bawah permukaan pada daerah lintang rendah Desa Karanglewas dan Pekuncen Kecamatan Jatilawang, terutama intrusi batuan basaltik. Pemodelan penelitian ini dilakukan secara 3D berdasarkan data anomali magnetik reduksi ke kutub dan reduksi ke ekuator. Data yang digunakan merupakan data sekunder dengan batas koordinat 7°33’40.94” LS - 109°6’27.35” BT sampai 7°34’33.59” LS - 109°8’3.99” BT. Data tersebut, selanjutnya dikoreksi dan direduksi sehingga diperoleh data anomali magnetik lokal dengan nilai berkisar -2.800 – 1.600 nT. Peta anomali magnetik lokal masih menunjukkan closure yang rumit, sehingga mempersulit interpretasi. Untuk mengurangi kerumitan, data anomali magnetik lokal ini direduksi ke kutub dan reduksi ke ekuator. Berdasarkan interpretasi terhadap peta kontur anomali reduksi ke kutub dan reduksi ke ekuator, intrusi batuan beku basaltik diperkirakan terpusat pada kontur anomali berwarna biru yang mempunyai nilai medan magnet 3.500 nT – 4.500 nT untuk reduksi ke kutub dan 400 nT – 1000 nT untuk reduksi ke ekuator. Pemodelan inversi 3D terhadap data anomali reduksi ke kutub dan reduksi ke ekuator dilakukan, hingga diperoleh model anomali bawah permukaan dengan nilai suseptibilitas batuan berkisar -0,001 – 0,028 cgs. Hasil interpretasi menunjukan bahwa reduksi ke ekuator lebih cocok dibandingkan dengan reduksi ke kutub dikarenakan pola sebaran intrusi batuan basaltik terlihat lebih jelas.
Abtrak (Bhs. Inggris)A comparison of pole reduction and equator reduction modeling was carried out to find out which filter is more suitable to use to determine the anomaly distribution pattern and subsurface structure in the low latitude areas of Karanglewas and Pekuncen Villages, Jatilawang District, especially basaltic rock intrusions. This research modeling was carried out in 3D based on magnetic anomaly data reduced to the poles and reduced to the equator. The data used is secondary data with coordinate boundaries 7°33'40.94" South Latitude - 109°6'27.35" East Longitude to 7°34'33.59" South Latitude - 109°8'3.99" East Longitude. This data was then corrected and reduced to obtain local magnetik anomali data with values ranging from -2,800 – 1,600 nT. The local magnetik anomali map still shows complicated closures, making interpretation difficult. To reduce complexity, this local magnetik anomali data is reduced to the poles and reduced to the equator. Based on the interpretation of the contour maps of reduction to the poles and reduction to the equator, the intrusion of basaltic igneous rock is estimated to be centered on the blue anomali contour which has a magnetic field value of 3,500 nT – 4,500 nT for reduction to the poles and 400 nT – 1000 nT for reduction to the equator. 3D inversion modeling of anomaly data reduced to the poles and reduced to the equator was carried out, to obtain a subsurface anomaly model with rock susceptibility values ranging from -0.001 – 0.028 cgs. The interpretation results show that reduction to the equator is more suitable than reduction to the poles because the distribution pattern of basaltic rock intrusions is seen more clearly.
Kata kunciKomparasi, reduksi ke kutub, reduksi ke ekuator, Karanglewas dan Pekuncen, intrusi batuan basaltik, pemodelan inversi.
Pembimbing 1Sehah, S.Si., M.Si
Pembimbing 2Drs. Sunardi, M.Si
Pembimbing 3
Tahun2024
Jumlah Halaman72
Tgl. Entri2024-02-06 06:45:58.301965
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.