Artikelilmiahs
Menampilkan 40.321-40.340 dari 48.903 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 40321 | 42606 | F1D020029 | Populisme Sebagai Strategi Politik Anies Baswedan dalam Kebijakan Publik Selama Menjadi Gubernur DKI Jakarta tahun 2017-2022 | populisme Anies Baswedan sebagai bentuk strategi politik selama menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta Periode 2017-2022 melalui kebijakan publik. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka. Data-data yang dibutuhkan dalam penelitian diperoleh dari sumber pustaka atau dokumen. Penulis mengidentifikasi kebijakan-kebijakan publik yang dibuat Anies Baswedan yang bertujuan untuk mendapatkan rasa simpati dan emosi masyarakat DKI Jakarta sebagai tujuan dari strategi politik yang dia lakukan selama menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Anies konsisten menggunakan populisme yang telah dia lakukan sedari masa kampanye sebagai bagian dari strategi politik melalui kebijakan-kebijakan yang mempolarisasi kelompok kelas atas dan kelompok kelas bawah dan menargetkan kelompok kelas bawah dalam pembentukan emosi yang berpihak pada Anies Baswedan. Dengan ini kebijakan-kebijakan yang dibuat menjadi jembatan Anies dalam menjaring sumber daya politik yang dibutuhkan nya untuk menjadi salah satu calon dalam pemilihan presiden tahun 2024 | Anies Baswedan's populism as a form of political strategy during his tenure as Governor of DKI Jakarta for the 2017-2022 period through public policy. This research uses the literature study method. The data needed in the research was obtained from library or document sources. The author identifies public policies made by Anies Baswedan which aim to gain sympathy and emotions from the people of DKI Jakarta as the aim of the political strategy he implemented while serving as Governor of DKI Jakarta. Anies consistently uses populism which he has carried out since the campaign period as part of a political strategy through policies that polarize upper class groups and lower class groups and target lower class groups in forming emotions in favor of Anies Baswedan. With this, the policies created will act as a bridge for Anies to attract the political resources he needs to become one of the candidates in the 2024 presidential election. | |
| 40322 | 42607 | H1A019019 | Perancangan Sistem Monitoring Tempat Sampah Pintar menggunakan Modul LoRa Berbasis Internet of Things (IoT) | Di Indonesia, produksi sampah tidak sebanding dengan sistem pengangkutan dan pengelolaan sampah, sehingga masih banyak sampah yang menumpuk karena tidak segera diangkut. Hal ini dapat diatasi dengan membuat sistem monitoring untuk memantau secara real-time jika kapasitas tempat sampah sudah penuh. Hal ini dapat menerapkan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) dan LoRa sebagai komunikasi nirkabel jarak jauh. Penelitian ini dilakukan untuk merancang sistem monitoring kapasitas tempat sampah menggunakan LoRa dan juga untuk menguji kinerja LoRa dalam mengirimkan data dan mengukur coverage area gateway LoRa. Pengujian dilakukan berdasarkan parameter RSSI dan Delay yang diperoleh dari perangkat pada jarak tertentu dengan mengacu pada standar TIPHON. Nilai pengukuran kapasitas tempat sampah oleh sensor akan dikirimkan ke Node-RED melalui gateway dan server jaringan untuk dipantau. Dari hasil pengujian, sensor LiDAR cukup baik dalam mendeteksi kapasitas tempat sampah dengan persentase akurasi sebesar 90,73%. Node-RED dapat memberikan notifikasi jika tempat sampah penuh atau kapasitas >85% melalui email. Hasil pengujian performa LoRa berdasarkan variabel jarak menunjukkan bahwa pada jarak 50 m mendapatkan nilai parameter RSSI dan delay yang lebih baik dibandingkan pada jarak 6.000 m. Selain itu, luas gerbang LoRa Gerbang Unsoed mencakup 3.440 m ke arah utara, 6.000 m ke arah timur, 2.360 m ke arah selatan, dan 3.030 m ke arah barat. | In Indonesia, waste production is not proportional to the waste transportation and management system, so there is still a lot of waste piling up because it is not transported immediately. This can be overcome by creating a monitoring system to monitor in real-time if the trash can is at full capacity. This can apply technology based on the Internet of Things (IoT) and LoRa as long-distance wireless communication. This research was carried out to design a trash bin capacity monitoring system using LoRa and also to test LoRa's performance in sending data and measuring the coverage area of the LoRa gateway. Testing is carried out based on RSSI and Delay parameters obtained from the device at a certain distance with reference to the TIPHON standard. The trash bin capacity measurement value by the sensor will be sent to Node-RED via the gateway and network server for monitoring. From the test results, the LiDAR sensor is quite good at detecting trash bin capacity with an accuracy percentage of 90.73%. Node-RED can provide notifications if the trash bin is full or if capacity is >85% via email. The results of LoRa performance testing based on the distance variable show that at a distance of 50 m you get better RSSI and delay parameter values than at a distance of 6,000 m. In addition, the Unsoed gateway LoRa gateway area covers 3,440 m to the north, 6,000 m to the east, 2,360 m to the south and 3,030 m to the west. | |
| 40323 | 42605 | A1A019107 | ANALISIS KELAYAKAN DAN KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHA TANI CABAI MERAH KERITING DI KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS | Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan tanaman yang masuk dalam famili terung-terungan (Solonaceae) yang mempunyai sekitar 20 spesies. Cabai memiliki peran yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan domestik sebagai komoditas ekspor serta industri pangan dan juga menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia.Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Mengetahui besar pendapatan dan keuntungan usaha tani cabai merah keriting di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, 2) Menganalisis kelayakan usaha tani cabai merah keriting terhadap perubahan harga produk di Kecamatan Sumbang Kabupten Banyumas, dan 3) Menghitung besarnya kontribusi pendapatan usaha tani cabai merah keriting terhadap pendapatan keluarga di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Objek penelitian yaitu petani cabai merah keriting di Desa Limpakuwus, Gandatapa, dan Sikapat, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Metode pengambilan sampel yang dilakukan menggunakan metode Simple Random Sampling dengan 50 responden. Analisis yang digunakan adalah analisis biaya dan pendapatan, analisis kelayakan usahatani, analisis kontribusi pendapatan. Pendapatan usatani sebesar Rp43.805.208/ha/MT. Sensitivitas apabila harga jual produk turun pada tiga kondisi yaitu pada saat turun 15% diperoleh nilai R/C ratio sebesar 1,7 sehingga dapat dikatakan layak, tetapi harga jual produk turun 50% dan 70% nilai R/C ratio yang diperoleh kurang dari 1 sehingga dikatakan bahwa usaha tani tidak layak. Usaha tani cabai merah keriting merupakan sumber pendapatan yang termasuk dalam kontribusi sedang terhadap pendapatan keluarga. | Red chilli (Capsicum annuum L.) is a plant that is included in the eggplant family (Solonaceae) which has about 20 species. Chilli has a considerable role to meet domestic needs as an export commodity as well as the food industry and is also a basic need of the Indonesian people.The objectives of this study are 1) Knowing the amount of income and profit of curly red chilli farming in Sumbang District, Banyumas Regency, 2) Analyse the feasibility of curly red chilli farming against changes in product prices in Sumbang District, Banyumas Regency, and 3) Calculate the contribution of curly red chilli farming income to family income in Sumbang District, Banyumas Regency. The research method used is the survey method. The research object was curly red chilli farmers in Limpakuwus, Gandatapa, and Sikapat villages, Sumbang sub-district, Banyumas regency. The sampling method used was Simple Random Sampling method with 50 respondents. The analyses used were cost and income analysis, farm feasibility analysis, income contribution analysis. when it falls 15%, the R / C ratio value obtained is 1.7 so that it can be said to be feasible, but the selling price of the product falls 50% and 70% of the R / C ratio value obtained is less than 1 so it is said that the farming business is not feasible. Curly red chilli farming is a source of income that is included in a moderate contribution to family income. | |
| 40324 | 42610 | I1A017104 | FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMAKAIAN KONTRASEPSI PADA PEKERJA WANITA DI PT. ROYAL KORINDAH PURBALINGGA | Latar Belakang: Saat ini wanita dibebankan oleh stigma masyarakat yang mengharuskan mereka untuk bisa mengurus sebagian besar kehidupan berumah tangga, baik sebagai ibu dan istri termasuk terkait penggunaan kontrasepsi yang sering dibebankan kepada wanita daripada pria. Terlebih lagi bagi wanita yang berstatus bekerja, mereka memikul peran sebagai ibu, istri dan tenaga kerja sekaligus. Meski demikian, para pekerja wanita tersebut tetap menjalankan tanggung jawabnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemakaian kontrasepsi pada pekerja wanita Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja wanita yang telah menikah di PT. Royal Korindah Purbalingga sebanyak 1.115 orang. Sampel yang diambil sebanyak 162 orang menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Variabel dalam penelitian ini adalah umur, pendidikan, pendapatan, jumlah anak, pengetahuan, sikap, keterpaparan informasi, dukungan suami dan pemakaian kontrasepsi. Analisis data yang digunakan ialah analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji Chi-square Hasil Penelitian: Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat variabel yang berhubungan yaitu variabel jumlah anak (P= 0.000), pengetahun (P= 0.034), keterpaparan informasi (P= 0.029) dan dukungan suami (P= 0.007) dengan pemakaian kontrasepsi pada wanita kerja di PT. Royal Korindah Purbalingga Kesimpulan: Terdapat hubungan antara jumlah anak, pengetahuan, keterpaparan informasi dan dukungan suami dengan pemakaian kontrasepsi pada pekerja wanita Kata Kunci: Pekerja wanita, Kontrasepsi, Keluarga Berencana | Background: Women are now burdened by societal stigma that requires them to be able to take care of most of married life, both as mothers and wives, including the use of contraception which is often charged to women rather than men. Moreover, for women who have working status, they assume the roles of mother, wife and labor at the same time. However, the female workers still carry out their responsibilities. This study aims to determine the factors associated with contraceptive use in female workers Methodology: This study used a cross sectional approach. The population in this study is all married female workers at PT. Royal Korindah Purbalingga as many as 1.115 people. Samples were taken as many as 162 people using purposive sampling techniques with inclusion and exclusion criteria. The variable in this study were age, education, income, parity, knowledge, attitudes, exposure to information, husband support and contraceptive use. The data analysis used was univariate analysis and bivariate analysis with Chi-square test Research Result: The result of bivariate analysis showed that there were related variables, namely parity (P= 0.000), knowledge (P= 0.034), Information exposure (P= 0.029) and husband support (P= 0.007) with the use of contraception in working women at PT. Royal Korindah Purbalingga Conclusions: There is a relationship between parity, knowledge, exposure to information and husband support with contraceptive use among female workers Keywords: female workers, Contraception, Family Planning | |
| 40325 | 42611 | F1B017079 | MANAJEMEN LAYANAN VAKSINASI COVID-19 (Penelitian di Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas) | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan bagaimana manajemen layanan vaksinasi COVID-19 oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas dalam rangka upaya penanggulangan wabah atau pandemi COVID-19 di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini berfokus pada aspek-aspek manajemen seperti aspek perencanaan dalam menentukan tujuan jangka pendek dan jangka panjang serta prosedur pencapaiannya. Lalu aspek pengorganisasian dalam membagi kerja dan membuat struktur organisasinya. Kemudian aspek kepegawaian tentang bagaimana mengidentifikasi kemampuan dan penempatan SDMnya. Selanjutnya aspek pengarahan dan pengawasannya. Kemudian aspek koordinasi mengenai intensitas pertemuan. Lalu aspek intensitas dan kejelasan pelaporan. Serta aspek penganggaran tentang prioritaskan penggunaan dana yang diterima. Aspek-aspek tersebut dilaksanakan dengan baik sehingga kegiatan layanan vaksinasi COVID-19 dilaksanakan dengan optimal. | This research aims to find out and explain how the COVID-19 vaccination service is managed by the Banyumas District Health Service in the context of efforts to overcome the COVID-19 pandemic in Indonesia. This research uses descriptive research methods with a qualitative approach, with data collection techniques using interview, observation and documentation methods. This research focuses on management aspects such as planning aspects in determining short-term and long-term goals and procedures for achieving them. Then there is the organizational aspect in dividing work and creating an organizational structure. Then the personnel aspect is about how to identify the capabilities and placement of human resources. Next are the aspects of direction and supervision. Then the coordination aspect concerns the intensity of meetings. Then there are aspects of intensity and clarity of reporting. As well as the budgeting aspect regarding prioritizing the use of funds received. These aspects are implemented well so that COVID-19 vaccination service activities are carried out optimally. | |
| 40326 | 42612 | F1C019034 | KONSTRUKSI MAKNA RIASAN PAES AGENG PADA ANGGOTA ORGANISASI HARPI MELATI BANYUMAS | Dalam organisasi HARPI Melati Banyumas, terdapat keterikatan yang dilandasi oleh profesi mereka sebagai rias pengantin. HARPI Melati Banyumas merupakan organisasi yang mana anggotanya terikat karena memiliki kesamaan dalam profesi yang mereka tekuni. Anggota organisasi ini adalah para perias pengantin nusantara yang menekuni riasan pengantin di daerah daerah di Indonesia, karena HARPI Melati Banyumas merupakan cabang yang berdomisili di Jawa Tengah, maka jenis riasan yang melekat pada perias pengantin anggota HARPI Melati Banyumas adalah riasan Paes Ageng. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk engetahui motif anggota Organisasi HARPI Melati Bayumas menjadi rias pengantin, mengetahui proses serta konsep belajar para anggota organisasi rias pengantin Purwokerto dalam menguasai teknik riasan Paes Ageng, dan mengetahui pandangan dan makna anggota organisasi rias pengantin Purwokerto tentang riasan Paes Ageng sebagai riasan pengantin nusantara yang sangat melekat pada identitas mereka sebagai perias pengantin yang berdomisili di Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teori fenomenolgi, interaksi simbolik, dan konstruksi sosial atas realitas. Adapun teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling dan validitas data menggunakan metode triangulasi. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Terdapat because of motive dan “in order to”, pada tiap motif perias pengantin. 2) Masing masing perias melalui proses yang berbeda, namun dari semua perbedaan itu, terdapat kesamaan pendapat bahwa riasan paes ageng merupakan riasan yang indah, sulit, dan terdapat filosofi di dalamnya. 3) Dalam kehidupan berorganisasi, pemaknaan serta tujuan para anggota yang tadinya berbeda beda dan tersimpan sendiri-sendiri berubah menjadi pemaknaan yang ter-konstruksi, karena terkonstruksi oleh interaksi, lingkungan, pengalaman, serta organisasi. | Dalam organisasi HARPI Melati Banyumas, terdapat keterikatan yang dilandasi oleh profesi mereka sebagai rias pengantin. HARPI Melati Banyumas merupakan organisasi yang mana anggotanya terikat karena memiliki kesamaan dalam profesi yang mereka tekuni. Anggota organisasi ini adalah para perias pengantin nusantara yang menekuni riasan pengantin di daerah daerah di Indonesia, karena HARPI Melati Banyumas merupakan cabang yang berdomisili di Jawa Tengah, maka jenis riasan yang melekat pada perias pengantin anggota HARPI Melati Banyumas adalah riasan Paes Ageng. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk engetahui motif anggota Organisasi HARPI Melati Bayumas menjadi rias pengantin, mengetahui proses serta konsep belajar para anggota organisasi rias pengantin Purwokerto dalam menguasai teknik riasan Paes Ageng, dan mengetahui pandangan dan makna anggota organisasi rias pengantin Purwokerto tentang riasan Paes Ageng sebagai riasan pengantin nusantara yang sangat melekat pada identitas mereka sebagai perias pengantin yang berdomisili di Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teori fenomenolgi, interaksi simbolik, dan konstruksi sosial atas realitas. Adapun teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling dan validitas data menggunakan metode triangulasi. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Terdapat because of motive dan “in order to”, pada tiap motif perias pengantin. 2) Masing masing perias melalui proses yang berbeda, namun dari semua perbedaan itu, terdapat kesamaan pendapat bahwa riasan paes ageng merupakan riasan yang indah, sulit, dan terdapat filosofi di dalamnya. 3) Dalam kehidupan berorganisasi, pemaknaan serta tujuan para anggota yang tadinya berbeda beda dan tersimpan sendiri-sendiri berubah menjadi pemaknaan yang ter-konstruksi, karena terkonstruksi oleh interaksi, lingkungan, pengalaman, serta organisasi. Abstract In the HARPI Melati Banyumas organization, there is an attachment based on their profession as a bridal make-up artist. HARPI Melati Banyumas is an organization whose members are bonded because they have similarities in the professions they pursue. The members of this organization are Indonesian bridal make-up artists who specialize in bridal make-up in regional areas in Indonesia. Because HARPI Melati Banyumas is a branch domiciled in Central Java, the type of make-up that is attached to the bridal make-up members of HARPI Melati Banyumas is Paes Ageng make-up. The purpose of this research is to find out the motives of the members of the HARPI Melati Bayumas Organization to become bridal make-up artists, to know the learning process and concept of members of the Purwokerto bridal make-up organization in mastering the Paes Ageng make-up technique, and to find out the point of views and meanings of members of the Purwokerto bridal make-up organization regarding Paes Ageng make-up as an Indonesian bridal makeup that’s very attached to their identity as bridal make-up artists who live in Banyumas, Central Java. This research is a qualitative descriptive study with data collection techniques in the form of observation, interviews and documentation, then analyzed using phenomenological theory, symbolic interaction and social construction of reality. The informant selection technique uses purposive sampling and data validity uses the triangulation method. The results of this research show that 1) There is a because of motive and in order to motive, in each bridal make-up artist's motive. 2) Each make-up artist goes through a different process, but despite all these differences, there is a common opinion that paes ageng make-up is beautiful, difficult, and has a philosophy in it. 3) In organization life, the meanings and goals of the members which were previously different and stored separately change to constructed meanings, because they are constructed by interaction, environment, experience and organization. | |
| 40327 | 42613 | E1A017369 | PERBUATAN MELAWAN HUKUM ATAS KELALAIAN BANK MANDIRI DALAM PENETAPAN STATUS KREDIT MACET TERHADAP NON DEBITUR (Studi Terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor 400 K/PDT/2021) | Pada permulaan suatu usaha biasanya membutuhkan modal yang didapatkan melalui pengambilan kredit di perbankan. Dalam beberapa kasus debitur sebagai yang mengajukan kredit pada akhirnya tidak dapat membayar dan bank dapat melakukan pelaporan atas perilaku gagal bayar tersebut ke OJK dan BI dengan status kredit macet. Dalam pelaporan tersebut ada kalanya bank melakukan kesalahan sebagaimana pada salah satu kasus Bank Mandiri yang melakukan kesalahan dalam pelaporan status kredit macet terhadap non debitur. Penelitian ini mengkaji mengenai pertimbangan hukum hakim dalam mengkualifisir kriteria perbuatan melawan hukum atas kelalaian Bank Mandiri dalam penetapan status kredit macet terhadap non debitur, serta pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan tuntutan ganti kerugian perbuatan melawan hukum pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 400 K/Pdt/2021. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan undang-undang dan pendekatan konsep, spesifikasi penelitian deskriptif analitis, sumber data sekunder dengan metode penyajian dalam bentuk sistematis, logis, dan rasional, metode analisis data yang digunakan normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Majelis Hakim dalam pertimbangan hukumnya menyatakan para tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum tanpa mengkualifisir kriteria mana yang dilanggar. Perbuatan Tergugat telah melanggar hak subyektif berupa hak-hak atas harta kekayaan Penggugat, yaitu hak untuk mendapatkan kredit usaha dari Bank BNI dan bertentangan dengan kewajiban hukumnya sendiri, yaitu Pasal 4 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 64/POJK.03/2020 tentang Perubahan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 18/POJK.03/2017 tentang Pelaporan dan Permintaan Informasi Debitur Melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan. Majelis Hakim mengabulkan tuntutan ganti kerugian materiil para penggugat sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah), bentuk ganti kerugian akibat dari perbuatan melawan hukum yang dibebankan kepada Tergugat termasuk kedalam ganti rugi bunga (Intersten). Ganti kerugian tersebut telah memenuhi semua syarat menuntut ganti kerugian dalam Pasal 1365 KUHPerdata. | At the commencement of a business, it typically requires capital obtained through bank loans. In some cases, borrowers who apply for credit may ultimately fail to make payments, leading the bank to report such default behavior to the Financial Services Authority (OJK) and Bank Indonesia (BI) with a non- performing loan status. However, in these reports, there are instances where banks make errors, as illustrated in a case involving Bank Mandiri, which inaccurately reported the non-performing loan status of a non-borrower. This research examines the legal considerations of judges in qualifying the criteria for unlawful conduct regarding Bank Mandiri's negligence in determining the non- performing loan status of a non-borrower, and how judges legally consider granting compensation claims for unlawful conduct in Supreme Court Decision Number 400 K/Pdt/2021. This research employs a normative juridical method with a statutory approach and conceptual approach, utilizing a descriptive analytical research specification, secondary data sources presented systematically, logically, and rationally, and a qualitative normative data analysis method. The research findings reveal that the Panel of Judges, in their legal considerations, stated that the defendants had committed unlawful acts without specifying which elements were violated. The actions of the defendants were deemed to infringe upon the subjective rights related to the wealth of the plaintiffs, specifically the right to obtain business credit from Bank BNI, and were in violation of their own legal obligations, breaching the written legal obligations stipulated in Article 4 of the Financial Services Authority Regulation Number 64/POJK.03/2020 concerning Amendments to Financial Services Authority Regulation Number 18/POJK.03/2017 regarding Reporting and Request for Information of Debtors Through the Financial Information Services System. The Panel of Judges granted the material damage compensation claims of the plaintiffs amounting to Rp100,000,000.00 (one hundred million Indonesian rupiah), as a form of compensation for the damages resulting from the unlawful act imposed on the defendants, including compensation for interest (Intersten). The compensation has fulfilled all the requirements for claiming damages under Article 1365 of the Civil Code. | |
| 40328 | 42614 | I1A019021 | EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN MELALUI STORYTELLING TERHADAP PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN CTPS (CUCI TANGAN PAKAI SABUN) DI SDN 4 KARANGPUCUNG | Latar Belakang: Salah satu penyakit yang sampai saat ini masih menjadi masalah utama pada anak yaitu diare. Sebagian besar penyakit diare disebabkan oleh rendahnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Salah satu indikator dari PHBS yang dapat menjadi faktor risiko penyebab diare yaitu perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan persentase sebesar 23,2%. Upaya dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anak usia sekolah tentang CTPS yang benar dapat dilakukan pemberian pendidikan kesehatan dengan metode storytelling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pendidikan kesehatan dengan metode storytelling menggunakan media boneka tangan terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan pada anak Sekolah Dasar Metode: Desain penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi quasi experimental design. Rancangan penelitian non-equivalent control group desain. Populasi kelompok perlakuan pada penelitian ini yaitu seluruh anak kelas 1 di SDN 4 Karangpucung dan populasi kelompok pembanding yaitu seluruh anak kelas 1 di SDN 5 Karangpucung. Sampel yang diambil sebanyak 19 siswa pada kelompok perlakuan dan 19 siswa pada kelompok kontrol menggunakan teknik purposive sampling. Data diuji menggunakan Uji Wilcoxon dan Mann Whitney. Hasil Penelitian: Hasil uji menunjukkan pada kelompok perlakuan terdapat perbedaan pengetahuan dengan skor prestest 5,53 menjadi 9,37 pada saat posttest dan keterampilan dengan skor prestest 2,42 menjadi 4,74 pada saat posttest dengan nilai p value 0.000 dan 0.000 (<0.005). Terdapat perbedaan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol pada pengetahuan dan keterampilan dengan nilai p value 0.000 dan 0.000 (<0.005). Kesimpulan: Pendidikan kesehatan dengan metode storytelling menggunakan media boneka tangan efektif meningkatkan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan pada anak kelas 1 Sekolah Dasar. Kata Kunci: CTPS, Keterampilan, Pengetahuan, Storytelling | Background: One disease that is still a major problem in children is diarrhea. Most diarrheal diseases are caused by a lack of Clean and Healthy Life Behavior (PHBS). One indicator of PHBS which can be a risk factor for causing diarrhea is the behavior of washing hands with soap (CTPS) with a percentage of 23.2%. Efforts to increase the knowledge and skills of school-aged children regarding correct CTPS can be done by providing health education using the storytelling method. This research aims to determine the effectiveness of health education using the storytelling method with the help of hand puppets in increasing knowledge and skills in elementary school children. Methods: This research design uses quantitative methods with a quasi experimental study design. non-equivalent control group desain. The population of the treatment group in this research is grade 1 children at SDN 4 Karangpucung and the comparison group population is grade 1 children at SDN 5 Karangpucung. The samples are 19 students in the treatment group and 19 students in the control group using purposive sampling techniques. Data analysis using the Wilcoxon and Mann Whitney tests. Results: The results showed that in the treatment group there were differences in knowledge with a pretest score of 5,53 to 9,37 at the posttest and skills with a pretest score of 2,42 to 4,74 at the posttest with a p-value of 0,000 and 0,000 (<0.005). There is a difference between the treatment group and the control group in knowledge and skills with a p-value of 0,000 and 0,000 (<0.005). Conclusion: Health education using the storytelling method with the help of hand puppets is effective in increasing knowledge and improves for grade 1 elementary school children. Keywords: CTPS, Education, Skills, Storytelling, | |
| 40329 | 42615 | H1E017032 | DESAIN PERANCANGAN ALAT BANTU GUNA MENGURANGI KELUHAN OTOT DAN POSTUR PADA PEKERJA MEBEL DI UD. PERINTIS | UD. Perintis merupakan salah satu industri mebel di kota Cilacap yang melakukan beberapa rangkaian proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi yang terdiri dari pengukuran, pemotongan, penyerutan, profil, pembobokan dan perakitan. Pada beberapa proses pekerja menggunakan alat yang dapat menghasilkan getaran dan seluruh pekerja tidak ada yang memakai sarung tangan saat bekerja. Hampir seluruh aktivitas yang dilakukan, pekerja menggunakan bangku kecuali pada aktivitas perakitan. Saat melakukan aktivitas menggunakan bangku, postur tubuh pekerja membungkuk dan leher menunduk. Keadaan seperti ini dilakukan pekerja hampir selama 7 jam per hari. Selain itu terdapat gerakan berulang pada beberapa bagian tubuh. Sehingga dilakukan penilaian tingkat risiko postur pekerja mebel menggunakan metode Nordic Body Map dan Workplace Ergonomic Risk Assessment (WERA) serta merancang desain alat bantu sebagai usulan perbaikan menggunakan metode Ergonomic Function Deployment (EFD). Hasil dari Nordic Body Map menunjukan bagian tubuh yang paling dikeluhkan ketika bekerja yaitu leher bawah, leher atas, lengan atas kanan, pergelangan tangan kanan, siku kanan dan punggung. Hasil dari WERA diketahui permasalahan tertinggi terdapat pada aktivitas penyerutan dengan skor akhir Bagas 42, Aris 40, Saeful 43, Yudi 46, Arom 40 dan Soleh 39. Dari hasil tersebut dapat diketahui 5 pekerja pada tingkat risiko sedang dan 1 pekerja pada tingkat risiko tinggi. Guna mengurangi keluhan yang dirasakan pekerja pada aktivitas penyerutan dirancang sebuah bangku baru yang dapat diatur ketinggiannya. Setelah itu, dilakukan pengukuran ulang menggunakan desain baru didapatkan skor akhir WERA pada aktivitas penyerutan yaitu 31. Hal ini menunjukkan terdapat pengurangan tingkat risiko yang dialami pekerja setelah menggunakan desain bangku baru. | UD. Perintis is one of the furniture industries in the city of Cilacap which carries out several series of processes for processing raw materials into finished products consisting of measuring, cutting, planing, profiling, breaking and assembling. In some processes, workers use tools that can produce vibrations and none of the workers wear gloves when working. In almost all activities carried out, workers use benches except for assembly activities. When carrying out activities using a bench, the worker's body posture is bent and the neck is lowered. Workers do this for almost 7 hours per day. Apart from that, there are repetitive movements in several parts of the body. So, an assessment of the risk level of furniture workers' posture was carried out using the Nordic Body Map and Workplace Ergonomic Risk Assessment (WERA) methods as well as designing tools as a proposed improvement using the Ergonomic Function Deployment (EFD) method. The results of the Nordic Body Map show that the parts of the body that people complain about most when working are the lower neck, upper neck, right upper arm, right wrist, right elbow and back. The results from WERA showed that the highest problems were in the shredding activity with a final score of Bagas 42, Aris 40, Saeful 43, Yudi 46, Arom 40 and Soleh 39. From these results it can be seen that 5 workers were at a medium risk level and 1 worker was at a high risk level. In order to reduce complaints felt by workers during shredding activities, a new bench was designed which can be adjusted in height. After that, repeated measurements were carried out using the new design and the final WERA score for the planing activity was 31. This shows that there was a reduction in the level of risk experienced by workers after using the new bench design. | |
| 40330 | 42616 | H1E019011 | PENJADWALAN FLOWSHOP UNTUK MEMINIMASI TOTAL TARDINESS COST DAN TOTAL OVERTIME COST PADA PRODUKSI REINFORCEMENT BAR DAN FOOTPLATE MENGGUNAKAN METODE MIXED INTEGER PROGRAMING (STUDI KASUS: UD BAGUS NANANG JAYA) | UD Bagus Nanang Jaya (BNJ) merupakan perusahaan manufaktur dalam bidang bahan konstruksi yang memproduksi reinforcement bar dan footplate. Terdapat 4 produk yang dikerjakan pada 3 stage dalam model produksi flowshop. Saat ini BNJ menjadwalkan produksinya bedasarkan prinsip first come first served dan belum memiliki penjadwalan pasti. Model penjadwalan saat ini mengakibatkan adanya keterlambatan produksi serta menghasilkan tardiness cost dan overtime cost yang harus dikeluarkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan melakukan penjadwalan dengan kriteria performansi berupa minimasi total tardiness cost dan total overtime cost. Pada penelitian ini, permasalahan penjadwalan diselesaikan menggunakan mixed integer programming (MIP) dengan fungsi tujuan berupa minimasi total tardiness cost dan total overtime cost. Berdasarkan penjadwalan yang telah dibangun menggunakan MIP, hasil menunjukkan bahwa terdapat penurunan tardiness cost dari Rp. 432.588,00 menjadi Rp. 0,00 atau sebesar 100% dari penjadwalan awal. Penurunan juga terjadi pada overtime cost dimana berkurang dari Rp. 488.666,00 menjadi Rp. 436.267,00 atau 10.72% dari penjadwalan awal. Pengujian model dilakukan untuk mengetahui perubahan hasil penjadwalan berdasarkan perubahan parameter. Hasil simulasi menunjukkan adanya persamaaan nilai tardiness cost yang dihasilkan sedangkan overtime cost berubah. Hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan jumlah job dan jumlah unit yang diproduksi tidak mempengaruhi nilai tardiness cost namun berpengaruh pada nilai overtime cost. Kemudian berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa model yang dibangun mampu menyelesaikan permasalahan keterlambatan yang dialami perusahaan dan menghasilkan penjadwalan yang lebih baik dari penjadwalan awal. | UD Bagus Nanang Jaya (BNJ) is a manufacturing company in the field of construction materials that produces reinforcement bars and footplates. There are 4 products that are worked on at 3 stages in the flowshop production model. Currently, BNJ schedules its production based on the principle of first come first served and does not yet have a definite schedule. The current scheduling model results in tardy jobs and results in tardiness costs and overtime costs that must be incurred. Therefore, this research aims to carry out scheduling with performance criteria in the form of minimizing total tardiness costs and total overtime costs. In this research, the scheduling problem is solved using mixed integer programming (MIP) with the objective function of minimizing total tardiness costs and total overtime costs. Based on the scheduling that has been built using MIP, the results show that there is a reduction in tardiness costs from IDR 432,588.00 to IDR 0.00 or 100% of the initial scheduling. A decrease also occurred in overtime costs which were reduced from IDR 488,666.00 to IDR 436,267.00 or 10.72% from the initial scheduling. Model testing is carried out to determine changes in scheduling results based on parameter changes. The simulation results show that there is a similarity in the resulting tardiness cost value while the overtime cost changes. This shows that changes in the number of jobs and the number of units produced do not affect the tardiness cost value but do affect the overtime cost value. Then, based on this explanation, it can be concluded that the model built is able to solve the delay problems experienced by the company and produce better scheduling than the initial scheduling. | |
| 40331 | 44824 | B1A020034 | Keanekaragaman Tumbuhan Paku Epifit di Kawasan Curug Cipendok Lereng Selatan Gunung Slamet Jawa Tengah | Tumbuhan paku epifit biasanya hidup menempel pada pohon. Curug Cipendok merupakan air terjun yang berada di kawasan hutan yang lembab dan basah. Kondisi lingkungan tersebut sesuai untuk habitat tumbuhan paku epifit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan paku epifit dan pohon inangnya dan juga mengetahui hubungan kemiripan tumbuhan paku epifit berdasarkan karakter morfologi di kawasan Curug Cipendok. Penelitian ini dilakukan sepanjang jalur pendakian kawasan Curug Cipendok pada tiga ketinggian yaitu ketinggian 700-800 mdpl, 800-900 mdpl, dan 900-1.000 mdpl. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode jelajah dengan teknik purposive sampling. Untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan paku dianalisis menggunakan indeks Shannon Wiener dan untuk hubungan kemiripannya dilakukan analisis fenetik dengan metode Neighbor Joining Tree dan Bootstrap method menggunakan software MEGA versi 11. Hasil dari penelitian ini didapatkan 12 spesies tumbuhan paku epifit yang berasal dari 6 famili yaitu Asplenium nidus, Asplenium serratum, Asplenium cuneatum, Nephrolepis biserrata, Nephrolepis exaltata, Nephrolepis cordifolia, Aglaomorpha heraclea, Aglaomorpha fortunei, Bolbitis auriculata, Dryopteris sparsa, Davallia solida, dan Lindsaea odorata. Pohon inang ditemukan sebanyak 11 spesies yang berasal dari 10 famili. Penelitian ini dilakukan pada tiga ketinggian dengan menghasilkan indeks keanekaragaman jenis (H’) tumbuhan paku epifit tertinggi terdapat pada ketinggian II (800-900 mdpl) dengan nilai H’=1,41. Fenogram hubungan kemiripan antar spesies tumbuhan paku epifit yang ditemukan di kawasan Curug Cipendok terbagi menjadi dua klaster dengan karakter morfologi yang membedakan yaitu tipe daun. Hubungan kemiripan tumbuhan paku epifit yang terdekat yaitu antara Asplenium nidus dan Asplenium serratum karena memiliki nilai bootstrap yang paling tinggi yaitu sebesar 99%. | Epiphytic ferns usually live attached to trees. Curug Cipendok is a waterfall located in a humid and wet forest area. These environmental conditions are suitable for the habitat of epiphytic ferns. This study aims to determine the diversity of epiphytic ferns and their host trees and also to determine the similarity of epiphytic ferns based on morphological characters in the Cipendok waterfall area. This research was conducted along the Curug Cipendok hiking trail at three altitudes, namely 700-800 meters above sea level, 800-900 meters above sea level, and 900-1,000 meters above sea level. The research method used is the cruising method with purposive sampling technique. To determine the diversity of ferns analyzed using the Shannon Wiener index and for the relationship of similarity is done phenetic analysis with Neighbor Joining Tree method and Bootstrap method using MEGA software version 11. The results of this study obtained 12 species of epiphytic ferns derived from 6 families namely Asplenium nidus, Asplenium serratum, Asplenium cuneatum, Nephrolepis biserrata, Nephrolepis exaltata, Nephrolepis cordifolia, Aglaomorpha heraclea, Aglaomorpha fortunei, Bolbitis auriculata, Dryopteris sparsa, Davallia solida, and Lindsaea odorata. Host trees were found to be 11 species belonging to 10 families. This study was conducted at three altitudes with the highest species diversity index (H') of epiphytic ferns found at altitude II (800-900 masl) with a value of H'=1.41. Phenogram of similarity relationships between species of epiphytic ferns found in the Curug Cipendok area is divided into two clusters with distinguishing morphological characters, namely leaf type. The closest epiphytic fern similarity relationship is between Asplenium nidus and Asplenium serratum because it has the highest bootstrap value of 99%. | |
| 40332 | 44580 | E1A019042 | PENGGUNAAN BOM FOSFOR PUTIH DALAM KONFLIK BERSENJATA MENURUT HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL (Studi Tentang Kasus Pertempuran Fallujah di Irak pada 2004) | Bom fosfor putih kerap digunakan sebagai senjata pada saat konflik bersenjata. Salah satu penggunaan fosfor putih yaitu pada saat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dengan pemberontak di Irak yang dinamakan Pertempuran Fallujah pada 2004. Efek yang dihasilkan oleh fosfor putih sangat menyiksa dan merugikan, baik bagi kombatan ataupun sipil, namun belum ada konvensi atau aturan khusus terkait pelarangan penggunaan fosfor putih sebagai senjata pada saat konflik bersenjata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan penggunaan bom fosfor putih menurut Hukum Humaniter Internasional, serta untuk menganalisis akibat hukum penggunaan bom fosfor putih dalam Pertempuran Fallujah di Irak pada 2004. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan metode pendekatan undang-undang dan pendekatan kasus. Data yang digunakan adalah data sekunder dengan metode pengumpulan data berdasarkan studi kepustakaan yang kemudian disajikan dalam bentuk uraian yang sistematis dan logis serta menggunakan metode analisis kualitatif. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa ketentuan terkait penggunaan senjata kimia secara umum terdapat dalam Pasal 70 Kode Lieber, Bagian Pertimbangan Deklarasi St. Petersburg 1868, Pasal 13 (a) dan (c) Deklarasi Brusless 1874, Pasal 23 huruf (a) dan (e) Konvensi Den Haag IV 1907. Ketentuan terkait penggunaan fosfor putih secara khusus terdapat dalam Pasal 1 dan 2 Protokol III Senjata Konvensional Tertentu 1980 yang melarang penggunaan senjata pembakar dan Pasal 2 Konvensi Senjata Kimia 1993 yang melarang penggunaan senjata kimia. Penggunaan fosfor putih oleh Amerika Serikat pada saat pertempuran Fallujah berlangsung bertentangan dengan Pasal 27 Konvensi Jenewa IV 1949. Amerika Serikat dapat dikenai tanggung jawab negara secara kolektif. | White phosphorus bomb is often used as a weapon during armed conflict. One of the uses of white phosphorus was during the armed conflict between the United States of America and insurgents in Iraq called the Battle of Fallujah in 2004. The effects produced by white phosphorus are very torturous and detrimental, both for combatants and civilians, but there is no convention or special rules regarding the prohibition of the use of white phosphorus as a weapon during armed conflict. This study aims to determine the regulation of the use of white phosphorus bombs according to International Humanitarian Law, as well as to analyze the legal consequences of the use of White Phosphorus Bombs in the Battle of Fallujah in Iraq in 2004. This research is normative legal research with a statute approach and conceptual approach. The data used is secondary data with data collection methods based on literature studies and then presented in the form of systematic and logical descriptions and using qualitative analysis methods. The results of research and discussion show that provisions related to the use of chemical weapons in general are contained in Article 70 of the Lieber Code, Part Considerations of the 1868 St. Petersburg Declaration, Article 13 (a) and (c) of the 1874 Brusless Declaration, Article 23 letters (a) and (e) of the 1907 Hague Convention IV. Provisions related to the use of white phosphorus are specifically contained in Articles 1 and 2 of Protocol III to Certain Conventional Weapons 1980 which prohibits the use of incendiary weapons and Article 2 of the 1993 Chemical Weapons Convention which prohibits the use of chemical weapons. The use of white phosphorus by the United States during the battle of Fallujah was contrary to Article 27 of the 1949 Geneva Convention IV. The United States may be subject to collective state responsibility. | |
| 40333 | 44825 | I1C020083 | Pengaruh Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis Terhadap Kualitas Hidup Pasien Tuberkulosis Paru di Klinik Utama Kesehatan Paru Masyarakat (KKPM) Purwokerto | Latar Belakang : Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi bakteri yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Pengobatan TB membutuhkan waktu yang lama sehingga dapat menyebabkan penurunan kepatuhan minum obat. Kepatuhan minum obat penting untuk mencapai keberhasilan terapi pengobatan, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepatuhan minum obat terhadap kualitas hidup pasien tuberkulosis paru. Metodologi : Penelitian ini menggunakan studi non-eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling pada 148 responden. Instrumen penelitian ini yaitu kuesioner ProMAS berisi 18 pernyataan namun dalam penelitian ini hanya menggunakan 15 pernyataan dan kuesioner WHOQOL-BREF, kemudian dianalisis untuk mengetahui pengaruh kepatuhan minum obat anti tuberkulosis terhadap kualitas hidup pasien tuberkulosis menggunakan uji korelasi spearman rank. Hasil Penelitian : Pasien tuberkulosis paru memiliki tingkat kepatuhan minum obat anti tuberkulosis dengan hasil rata-rata persentase sebesar 75,18%. Kualitas hidup pasien diperoleh hasil 82,4% dengan kategori cukup. Hasil uji korelasi spearman rank antara kepatuhan minum obat dan kualitas hidup didapatkan p-value < 0,001 dengan koefisien korelasi sedang. Kesimpulan : Terdapat pengaruh antara kepatuhan minum obat anti tuberkulosis terhadap kualitas hidup pasien tuberkulosis paru dan arah korelasi positif yang berarti semakin patuh minum obat anti tuberkulosis maka akan semakin baik kualitas hidup pasien. | Background : Pulmonary tuberculosis is a bacterial infection caused by Mycobacterium Tuberculosis. TB treatment takes a long time, which can lead to a decrease in medication adherence. Adherence to taking medication is important to achieve successful treatment therapy, so as to improve quality of life. This study aims to determine the effect of drug compliance on the quality of life of pulmonary tuberculosis patients. Methods : This research uses a non-experimental study with a cross sectional approach. The sampling technique used total sampling on 148 respondents. This research instrument is the ProMAS questionnaire containing 18 statements but in this study only used 15 statements and the WHOQOL-BREF questionnaire, then analyzed to determine the effect of adherence to taking anti-tuberculosis drugs on the quality of life of tuberculosis patients using the Spearman rank correlation test. Results : Pulmonary tuberculosis patients have compliance with taking anti-tuberculosis drugs with an average percentage of 75.18%. The patient's quality of life was 82.4% in the moderate category. The results of the Spearman rank correlation test between drug compliance and quality of life obtained a p-value <0.001 with a moderate correlation coefficient. Conclusion : There is an influence between adherence to taking anti-tuberculosis drugs on the quality of life of pulmonary tuberculosis patients and the direction of the correlation is positive, which means that the more adherent taking anti-tuberculosis drugs, the better the patient's quality of life. | |
| 40334 | 42617 | I1E019050 | Analisis SWOT Kevin Sanjaya Sukamuljo Dan Marcus Fernaldi Gideon Melawan Hiroyuki Endo dan Yuta Watanabe Pada Final All England 2020 | Abstrak ANALISIS SWOT KEVIN SANJAYA SUKAMULJO DAN MARCUS FERNALDI GIDEON MELAWAN HIROYUKI ENDO DAN YUTA WATANABE PADA FINAL ALL ENGLAND 2020 Data Putra Dewantara1, Indra Jati Kusuma2, Rifqi Festiawan2 Latar Belakang: Riwayat pertandingan dari tujuh kali pertandingan Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon melawan Hiroyuki Endo dan Yuta Watanabe, Kevin/Marcus hanya mampu menang dua kali dan lima kali kalah, dari hal itu diperlukan analisis SWOT untuk mengetahui kekuatan (strengths), kelemahan (weakness), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon melawan Hiroyuki Endo dan Yuta Watanabe pada Final All England 2020. Metodologi: Penelitian ini termasuk deskriptif kuantitatif dengan pendekatan ex-post facto. Pendekatan ini digunakan untuk mengevaluasi pertandingan Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon melawan Hiroyuki Endo dan Yuta Watanabe pada laga All England 2020 dengan pendekatan SWOT. Hasil Penelitian: Kevin/Marcus memiliki kekuatan pukulan backhand netting yang keras bagi Endo/Yuta. Kevin/Marcus memiliki kelemahan sering melakukan kesalahan pada saat pukulan short service, forehand drive, forehand netting, forehand dropshot, backhand dropshot, smash, forehand underlob, backhand underlob, dan defense. Kevin/Marcus memiliki peluang pukulan flick service , backhand drive, backhand dropshot, forehand lob, dan backhand lob yang dapat menyulitkan Endo/Yuta. Kevin/Marcus sering melakukan kesalahan yaitu melakukan pukulan short service, forehand drive, forehand netting, forehand dropshot, backhand dropshot, smash, forehand underlob, backhand underlob, dan defense. Kesimpulan: (a) Kevin/Markus memiliki strengths pada pukulan backhand netting dan Endo/Yuta memiliki strength teknik pukulan short service, forehand drive, forehand netting, forehand dropshot, smash, forehand underlob, backhand underlob, dan defense. (b) Kevin/Markus memiliki weakness pukulan short service, forehand drive, forehand netting, forehand dropshot, backhand dropshot, smash, forehand underlob, backhand underlob, defense dan Endo/Yuta memiliki weakness pukulan backhand drive. (c) Kevin/Markus memiliki opportunities yang sama dengan Endo/Yuta yaitu dalam penerapan pukulan flick service, backhand drive, backhand dropshot, forehand lob dan backhand lob. (d) Kevin/Markus memiliki threats dalam pukulan short service, forehand drive, forehand netting, forehand dropshot, backhand dropshot, smash, forehand underlob, backhand underlob, defense dan Endo/Yuta memiliki threats dalam pukulan backhand drive. Kata Kunci: Analisis SWOT, Bulutangkis, Kejuaraan All England 1Mahasiswa Pendidikan Jasmani Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman 2Dosen Pendidikan Jasmani Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman | Abstract SWOT ANALYSIS OF KEVIN SANJAYA SUKAMULJO AND MARCUS FERNALDI GIDEON VERSUS HIROYUKI ENDO AND YUTA WATANABE IN THE FINAL ALL ENGLAND 2020 Data Putra Dewantara1, Indra Jati Kusuma2, Rifqi Festiawan2 Background: Match history from seven matches between Kevin Sanjaya Sukamuljo and Marcus Fernaldi Gideon against Hiroyuki Endo and Yuta Watanabe, Kevin/Marcus were only able to win twice and lose five times, for this a SWOT analysis is needed to determine strengths and weaknesses. , opportunities and threats Kevin Sanjaya Sukamuljo and Marcus Fernaldi Gideon against Hiroyuki Endo and Yuta Watanabe in the 2020 All England Final. Methodology: This research is quantitative descriptive with an ex-post facto approach. This approach was used to evaluate the match between Kevin Sanjaya Sukamuljo and Marcus Fernaldi Gideon against Hiroyuki Endo and Yuta Watanabe in the All England 2020 match with the SWOT approach. Results: Kevin/Marcus have a strong backhand netting power compared to Endo/Yuta. Kevin/Marcus has the weakness of often making mistakes when hitting short serve, forehand drive, forehand netting, forehand dropshot, backhand dropshot, smash, forehand underlob, backhand underlob, and defense. Kevin/Marcus have opportunities for flick serves, backhand drives, backhand dropshots, forehand lobs, and backhand lobs which can make things difficult for Endo/Yuta. Kevin/Marcus often make mistakes, namely short serve, forehand drive, forehand netting, forehand dropshot, backhand dropshot, smash, forehand underlob, backhand underlob, and defense. Conclusion: (a) Kevin/Markus have strengths in backhand netting and Endo/Yuta have strengths in short serve, forehand drive, forehand netting, forehand dropshot, smash, forehand underlob, backhand underlob and defense. (b)Kevin/Markus has a weakness for short serve, forehand drive, forehand netting, forehand dropshot, backhand dropshot, smash, forehand underlob, backhand underlob, defense and Endo/Yuta has a weakness for backhand drive. (c) Kevin/Markus pair has the same opportunities as Endo/Yuta, namely in applying flick serve shots, backhand drives, backhand dropshots, forehand lobs and backhand lobs. (d) Kevin/Markus have threats in short serve, forehand drive, forehand netting, forehand dropshot, backhand dropshot, smash, forehand underlob, backhand underlob, defense and Endo/Yuta have threats in backhand drive. Keywords: SWOT Analysis, Badminton, All England Championship 1Student in Physical Education, Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University 2Lecturer in Physical Education, Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University | |
| 40335 | 42618 | J1C019019 | Dampak Perlokusi pada Mitra Tutur dalam Tindak Tutur Direktif Bahasa Jepang | Penelitian ini berjudul “Dampak perlokusi pada mitra tutur dalam tindak tutur direktif bahasa Jepang” yang bertujuan untuk mendeskripsikan dampak perlokusi dari tuturan direktif pada interaksi bahasa Jepang dalam film Linda Linda Linda (2005); menggunakan teori tindak tutur direktif dari Searle (1979), efek perlokusi dari Haryadi (2003), dan dampak perlokusi dari Oktaviyani (2021). Metode yang digunakan adalah jenis deskriptif kualitatif dengan teknik simak catat sebagai teknik pengumpulan data. Sumber data berupa film berjudul Linda Linda Linda. Data berupa tuturan direktif semua tokoh yang mengandung perlokusi: berjumlah 37 data yang diklasifikasikan atas 3 bentuk yaitu; a) perintah (22 data), b) permohonan (6 data), c) saran (9 data). Bentuk perintah terdiri atas: fungsi permohonan (1 data), fungsi permintaan (11 data), fungsi perintah (5 data), fungsi bertanya (2 data) dan fungsi larangan (3 data). Bentuk permohonan terdiri atas: fungsi permohonan (4 data) dan fungsi permintaan (2 data). Bentuk saran terdiri atas satu fungsi yakni anjuran (9 data). Hasil penelitian menemukan 18 data perlokusi positif dan 19 data perlokusi negatif, berdasarkan dampaknya ditemukan 8 data mengubah suasana hati mitra tutur, 24 data mitra tutur melakukan suatu tindakan, dan 5 data mitra tutur menghindari suatu tindakan. Kesimpulan yang didapat dari penelitian adalah 1) perlokusi positif dihasilkan dari tuturan saran berupa anjuran dengan dampak melakukan sesuatu, 2) perlokusi negatif dihasilkan dari tuturan perintah berupa permintaan dengan dampak mengubah suasana hati menjadi kesal, melakukan suatu tindakan tidak sukarela, dan menghindari perintah. | This research entitled “Perlocution of Directive Speech Acts in Japanese Interaction” with purpose to describe the perlocution impact of directive speech on Japanese interaction in movie Linda Linda Linda (2005): using the theory of directive speech acts by Searle (1979), perlocution effect by Haryadi (2003) and perlocution impact by Oktaviyani (2021). The method used is descriptive qualitative with listening and recording as a technique to collect research data. A movie titled Linda Linda Linda used as data source. The data is in form of directive speech act that contain perlocution of all character from the movie: a total of 37 data classified into 3 form namely; a) command (22 data), b) request (6 data), c) suggestion (9 data). A command form with function including: pleading (1 data), request (11 data), command (5 data), ask (2 data) and prohibition (3 data). A request form with function including: pleading (4 data) and request (2 data). Suggestion form with function to suggest (9 data). The research found 18 data of positive perlocution and 19 data of negative perlocution. Based on the impact, are found 8 data of changing speech partner’s mood, 24 data of speech partner perform an action, and 5 data of speech partner avoiding something. The conclusion of this research is 1) positive perlocution is produced from suggestion sentences in the form of suggest with the impact of perform an action, 2) negative perlocution is produced from command sentences in the form of request with the impact of changing the mood to irritated, perform an action unwillingly, and avoiding the command. | |
| 40336 | 42619 | E1A019092 | PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONTEN KREATOR DI MEDIA SOSIAL | Frasa konten meresahkan masyarakat dan mengganggu ketertiban umum mengakibatkan subjektivitas yang menjadikannya konten abu-abu. Dampak frasa tersebut telah menghambat proses moderasi konten yang dilakukan oleh Penyelenggara Sistem Elektronik lingkup privat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaturan moderasi konten di Indonesia memiliki kelemahan dalam hal klasifikasi konten yang dilarang pada konten yang meresahkan masyarakat dan mengganggu ketertiban umum yang cenderung bias membuatnya rentan disalahgunakan. Frasa ini tidak hanya merugikan Penyelenggara Sistem Elektronik lingkup privat namun juga masyarakat, khususnya konten kreator. Pemerintah turut membenahi perlindungan hukum moderasi konten dengan melakukan multi-stakeholder dengan para Penyedia Sistem Elektronik lingkup privat dan masyarakat sipil dalam menentukan cakupan konten yang dapat meresahkan masyarakat dan mengganggu ketertiban umum. | The phrase content that disturbs public and disturbs public order results in subjectivity that makes it gray area content. Impact of this phrase has hampered the content moderation process carried out by the private scope Electronic System Operator. The results of this study show that the regulation of content moderation in Indonesia has weaknesses in terms of the classification of prohibited content on content that disturbs the public and disturbs public order which tends to be biased making it vulnerable to abuse. This phrase not only harms private Electronic System Operators but also the public, especially content creators. The government should also improve the legal protection of content moderation by conducting multi-stakeholder meetings with private Electronic System Providers and civil society in determining the scope of content that can disturb the public and disturb public order. | |
| 40337 | 42620 | F1B019050 | Efektivitas Penyelenggaraan Program Kartu Prakerja Kabupaten Purbalingga | Pandemi Covid-19 telah berdampak pada meningkatnya angka pengangguran di Indonesia, termasuk di Kabupaten Purbalingga. Untuk merespon masalah tingginya korban PHK dan rendahnya angka penyerapan tenaga kerja akibat pandemi Covid-19 serta mengakomodir para pencari kerja di Kabupaten Purbalingga yang belum terfasilitasi dalam Program Kartu Prakerja Nasional, maka Pemerintah Kabupaten Purbalingga meluncurkan Program Kartu Prakerja Kabupaten Purbalingga dengan prinsip ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) terhadap Kartu Prakerja Nasional. Penelitian yang akan dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui efektivitas penyelenggaraan Program Kartu Prakerja Kabupaten Purbalingga. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Teknik penentuan informan yang digunakan yaitu teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang dilakukan menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Fokus penelitian ini adalah ingin mengetahui efektivitas penyelenggaraan Program Kartu Prakerja Purbalingga dengan konsep value for money yang terdiri dari ekonomi, efisiensi, dan efektivitas. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penyelenggaraan Program Kartu Prakerja Purbalingga sudah memenuhi aspek ekonomi, efisiensi, dan efektivitas dalam mencapai tujuan program. | The Covid-19 pandemic has had an impact on the increasing unemployment rate in Indonesia, including in Purbalingga Regency. To respond to the problem of high layoff victims and low employment rates due to the Covid-19 pandemic and to accommodate job seekers in Purbalingga Regency who have not been facilitated in the National Pre-Employment Card Program, the Purbalingga Regency Government launched the Purbalingga Regency Pre-Employment Card Program with the ATM (Observe, Imitate, Modify) principle of the National Pre-Employment Card. The research to be carried out aims to determine the effectiveness of the implementation of the Purbalingga Pre-Employment Card Program. The research method used in this research is descriptive qualitative research method. The informant determination technique used was purposive sampling technique. The data collection techniques used were observation, interviews, and documentation. The focus of this research is to determine the effectiveness of the implementation of the Purbalingga Pre-Employment Card Program with the concept of value for money which consists of economy, efficiency, and effectiveness. The results of this study indicate that the implementation of the Purbalingga Pre-Employment Card Program has fulfilled economic, efficiency, and effectiveness aspects in achieving program objectives. | |
| 40338 | 42624 | F1B019080 | Kinerja Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Kabupaten Purbalingga Dalam Penanganan Pengemis, Gelandangan Dan Orang Terlantar | Peningkatan Pengemis, Gelandangan dan Orang Terlantar (PGOT) di Kabupaten Purbalingga disebabkan permasalahan yang kompleks seperti kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya keterampilan kerja dan kultur masyarakat yang memberikan uang atau barang kepada PGOT. Keberadaan PGOT juga sering mengganggu keamanan masyarakat dan ketertiban umum karena ulahnya yang sering memaksa dan meminta uang atau barang serta menimbulkan ketidaknyamanan masyarakat dan melakukan berbagai cara untuk menarik belas kasihan orang dengan menggunakan perantara anak balita mereka. Oleh karena itu, dibutuhkannya peran DINSOSDALDUK KB PPPA Kabupaten Purbalingga sebagai instansi yang bertanggungjawab atas permasalah sosial. Dalam penanganan PGOT DINSOSDALDUK KB PPPA dan bekerjasama dengan Rumah Singgah Dharma Perwira Kabupaten Purbalinga. Namun dengan seiringnya baru berdiri dan beroperasi rumah singgah terdapatnya Pandemi COVID-19 yang menyebabkan terjadinya pembatasan penaganan PGOT. Tetapi setelah meredanya pandemi PGOT pelayanan yang diberikan masih sama seperti pandemi. Pada saat observasi awal terdapat permasalahan yang dihadapi seperti banyaknya masyarakat yang memberikan uang atau barang kepada PGOT, tidak terdapatnya program di Rumah Singgah Dharma Perwira, kurang tegasnya Satpol PP dan kurangnya koordinasi serta bimbingan lanjut setelah di rehabilitasi. Berdasarkan hal tersebut peneliti terdorong untuk mendeskripsikan Kinerja DINSOSDALDUK KB PPPA Kabupaten Purbalingga da faktor dalam Penanganan PGOT menggunakan teori dari Dwiyanto. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian berada di DINSOSDLADUK KB PPPA Kabupaten Purbalingga. Sasaran dalam penelitian ini yaitu kabid dan staf rehabsos, pengelola rumah singgah, Satpol PP dan PGOT. Metode analisis data menggunakan analisis interaktif dari Miles, Hurberman dan Saldana. Hasil penelitian menunjukan kinerja DINSOSDALDUK KB PPPA Kabupaten Purbalingga dalam penanganan PGOT sudah berjalan dengan baik. Hal tersebut dilihat dari kualitas layanan, responsivitas, responsibilitas dan akuntabilitas. Namun untuk produktivitas belum tercapinta tujuan dan output yang dikeluarkan masih sedikit. Selain itu, penelitian ini menemukan beberapa penghambat seperti kurangnya dan kemampuan SDM, kerusakan Fasilitas dan keterbatasan anggaran. Serta faktor pendukung telah terdapat bebrapa pihak untuk kerjasam dalam penangana PGOT. | The increase in Beggars, Vagrants and Displaced Persons (PGOT) in Kbupaten Purbalingga is due to complex problems such as poverty, low level of education, low work skills and the culture of people who give money or goods to PGOT. The existence of PGOT also often disturbs public security and public order because of its actions that often force and ask for money or goods and cause public discomfort and do various ways to attract people's mercy by using intermediaries for their toddlers. Therefore, the role of DINSOSDALDUK KB PPPA Purbalingga Regency is needed as an agency responsible for social problems. In handling PGOT DINSOSDALDUK KB PPPA and in collaboration with Dharma Officers' Shelter House of Purbalinga Regency. However, along with the establishment and operation of the halfway house, there was the COVID-19 Pandemic which caused restrictions on PGOT treatment. But after the PGOT pandemic subsided, the services provided were still the same as the pandemic. At the time of initial observation, there were problems faced such as the number of people who gave money or goods to PGOT, the absence of programs at the Dharma Officer Shelter, the lack of firm Satpol PP and the lack of coordination and further guidance after rehabilitation. Based on this, researchers are encouraged to describe the performance of DINSOSDALDUK KB PPPA Purbalingga Regency and factors in PGOT handling using Dwiyanto's theory. The method used is a descriptive qualitative method. The research location is in DINSOSDLADUK KB PPPA Purbalingga Regency. The targets in this study are kabid and staff of rehabsos, halfway house managers, Satpol PP and PGOT. The data analysis method uses interactive analysis from Miles, Hurberman and Saldana. The results showed that the performance of DINSOSDALDUK KB PPPA Purbalingga Regency in handling PGOT has been running well. This is seen from the quality of service, responsiveness, responsibility and accountability. However, productivity has not been achieved and the output issued is still small. In addition, this study found several obstacles such as lack and ability of human resources, damage to facilities and budget constraints. As well as supporting factors, there have been several parties to work together in handling PGOT. | |
| 40339 | 42625 | H1A019063 | ANALISIS SISTEM PROTEKSI DIFFERENTIAL RELAY DAN OVER CURRENT RELAY PADA TRANSFORMATOR DAYA AKIBAT GANGGUAN HUBUNG SINGKAT | Transformator merupakan peralatan listrik di gardu induk yang berperan vital dalam penyaluran energi listrik. Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada trafo daya di gardu induk ialah gangguan hubung singkat. Untuk mengamankan trafo dari gangguan dipasang peralatan proteksi utama berupa Relay Diferensial dan proteksi cadangan Over Current Relay. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perhitungan setting over current relay dan differential relay transfomator 1 Gardu Induk Kalibakal, menganalisis sistem kerja over current relay dan differential relay transfomator 1 Gardu Induk Kalibakal saat terdapat gangguan hubung singkat. Metode penelitian menggunakan metode simulasi dengan Software Simulink Matlab. Hasil dari penelitian ini menunjukan arus diferensial trafo 1 sebesar 0,02A sama dengan arus setting trafo 1 sebesar 0,02A sehingga sesuai dengan standar PLN. TMS OCR pada trafo 1 30MVA Gardu Induk Kalibakal 150kV memiliki ∆TMS sebesar 0,3s sudah sesuai dengan standar PLN (∆TMS = 0,3s – 0,5s). Relay diferensial dan over current relay akan mengirim sinyal trip ke Circuit Breaker terdekat jika terdapat gangguan hubung singkat 3 fasa ataupun gangguan hubung singkat 2 fasa. Koordinasi antara relay diferensial dan OCR dapat bekerja dengan baik karena dapat trip sesuai setting waktu yang ditentukan. | Transformers are electrical equipment in substations that play a vital role in distributing electrical energy. One of the problems that often occurs in power transformers in substations is short circuit disturbances. To protect the transformer from interference, main protection equipment is installed in the form of a Differential Relay and Over Current Relay backup protection. This research was conducted to analyze the calculation of the settings for the over current relay and differential relay transformer 1 Kalibakal Main Substation, to analyze the working system of the over current relay and differential relay transformer 1 Kalibakal Main Substation when there is a short circuit. The research method uses a simulation method with Simulink Matlab Software. The results of this research show that the differential current of transformer 1 is 0.02A, the same as the setting current of transformer 1 of 0.02A, so it is in accordance with PLN standards. TMS OCR on transformer 1 30MVA Kalibakal 150kV Substation has a ∆TMS of 0.3s which is in accordance with PLN standards (∆TMS = 0.3s – 0.5s). The differential relay and over current relay will send a trip signal to the nearest Circuit Breaker if there is a 3-phase short circuit or 2 phase short circuit. Coordination between the differential relay and OCR can work well because it can trip according to the specified time setting. | |
| 40340 | 42626 | I1A019110 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRES KERJA PADA PERAWAT DI PUSKESMAS NON RAWAT INAP KABUPATEN CILACAP | Latar Belakang: Berdasarkan data World Health Organization 2021, 8% dari 440.000 kasus stres kerja di Inggris melibatkan pekerja. Menurut Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), 50,1% perawat mengalami stres kerja. Faktor risiko yang mempengaruhi stres kerja yaitu usia, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, masa kerja, faktor organisasi dan lingkungan kerja. Studi Pendahuluan mencatat 28,57% perawat mengalami stres berat, 53,57% stres sedang, dan 17,87% stres ringan. Tujuan: Mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap stres kerja pada perawat di Puskesmas non Rawat Inap Kabupaten Cilacap Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik desain cross-sectional. Populasi adalah perawat di Puskesmas non Rawat Inap Kabupaten Cilacap, pada AgustusSeptember 2023 berjumlah 165. Sampel penelitian sebanyak 117 responden dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Analisis data dengan uji chi square dan uji regresi logistik berganda. Hasil: Variabel yang mempengaruhi stres kerja adalah hubungan interpersonal (p:0,009), pencahayaan (p:0,011), tingkat pendidikan (p:0,013), beban kerja (p:0,017), dan masa kerja (p:0,008). Variabel yang tidak mempengaruhi stres kerja adalah umur (p:0,481), jenis kelamin (p:0,723), status perkawinan (p:0,322), dan suhu (p:0,091). Kesimpulan: Faktor yang paling mempengaruhi stres kerja pada perawat di Puskesmas non Rawat Inap Kabupaten Cilacap adalah hubungan interpersonal. Saran: Menciptakan suasana kerja yang kondusif antar sesama perawat, pasien, dan tenaga kerja lain. | Background: Based on the 2021 World Health Organization data, 8% of 440,000 cases of work stress in the UK involve workers. According to the Indonesian National Nurses Association (PPNI), 50.1% of nurses experience work stress. Risk factors influencing work stress include age, gender, education, marital status, tenure, organizational, and environmental factors. A preliminary study notes 28.57% of nurses experiencing severe stress, 53.57% moderate stress, and 17.87% mild stress. Methods: Identifying factors influencing work stress among nurses in non-inpatient Community Health Centers of Cilacap Regency. Research Methods: This study used a quantitative analytical method with a crosssectional design. The population consists of nurses in non-inpatient community health centers in Cilacap Regency, totaling 165 in August-September 2023. A sample of 117 respondents is selected using cluster random sampling. Data analysis involves chi-square and multiple logistic regression tests. Results: The variables influencing work stress are interpersonal relationships (p: 0.009), lighting (p: 0.011), education level (p: 0.013), workload (p: 0.017), and tenure (p: 0.008). Variables that do not affect work stress include age (p: 0.481), gender (p: 0.723), marital status (p: 0.322), and temperature (p: 0.091). Conclusion: The most influential factor on work stress among nurses in non-inpatient community health centers in Cilacap Regency is interpersonal relationships. Recommendation: Creating a conducive work environment among nurses, patients, and other healthcare workers |