Artikelilmiahs

Menampilkan 3.901-3.920 dari 48.755 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
390113683H1G011017LOGAM BERAT MERKURI (Hg) YANG TERAKUMULASI
PADA MANGROVE JENIS Rhizopora apiculata dan Avicennia marina
DI SUNGAI DONAN SEGARA ANAKAN CILACAP
Sungai Donan merupakan daerah yang berada di kawasan pesisir Cilacap, Jawa Tengah yang terdapat beberapa industri besar antara lain PT Pertamina RU IV Cilacap dan PT Holcim Indonesia Tbk. Beberapa limbah yang dihasilkan oleh industri tersebut mengandung logam berat Hg (Merkuri). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan logam berat Hg di sedimen, akar, batang dan daun pada mangrove R.apiculata dan A.marina serta model hubungannya. Metode yang digunakan adalah survey, dengan teknik pengambilan Purposive Random Sampling pada 5 stasiun dengan 3 ulangan. Data dianalisis dengan Uji F dan regresi korelasi. Kandungan logam Hg di sedimen berkisar 0,0400-0,1350 mg/kg, Hg di akar A.marina berkisar 0,0010-0,0050 mg/kg, Hg di batang A.marina berkisar 0,0010-0,0030 mg/kg, Hg di daun A.marina berkisar 0,0010-0,0020 mg/kg. Hg di akar R.apiculata berkisar 0,0010-0,0067 mg/kg, Hg di batang R.apiculata berkisar 0,0010-0,0040 mg/kg, Hg di daun R.apiculata berkisar 0,0010-0,0022 mg/kg. Hubungan kandungan Logam Hg di sedimen dengan di akar, batang dan daun A.marina dan R.apiculata adalah memiliki hubungan keeratan yang lemah sampai cenderung kuat.Donan river is located in the coastal area of Cilacap, Central Java, there are several major industries in the area of the river, such as PT Pertamina RU IV Cilacap and PT Holcim Indonesia Tbk. Some of the waste generated by the industry contain heavy metals Hg (Mercury). This study is to used determine the Hg content of heavy metals in sediment, roots, stems and leaves of R.apiculata and A.marina as well as its model relation. The method used is a survey, with a purposive random sampling technique at 5 stations with 3 replications. Data is analyzed by F test and regression correlation. The content of Hg in sediments ranged from 0.0400 to 0.1350 mg/kg, Hg in the A.marina root ranged from 0.0010 to 0.0050 mg/kg, Hg in A.marina stem ranged from 0.0010 to 0.0030 mg/kg, Hg in leaf A.marina ranged 0.0010 to 0.0020 mg/kg. Hg in R.apiculata roots ranged from 0.0010 to 0.0067 mg/kg, Hg in R.apiculata stem ranged from 0.0010 to 0.0040 mg/kg, Hg in R.apiculata leaf ranged from 0.0010 to 0.0022 mg/kg. Correlation between Hg metal content in the sediment with the roots, stems and leaves A.marina and R.apiculata has a weak-strong correlation.
390213726G1A012107EFEK ANTI-INFLAMASI EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza) TERHADAP EKSPRESI CYCLOOXYGENASE-2 (COX-2) PADA SEL RAW 264,7 YANG DIINDUKSI LIPOPOLISAKARIDACyclooxygenase-2 (COX-2) merupakan salah satu dari isoenzim cyclooxygenase yang ekspresinya meningkat secara signifikan pada proses inflamasi. Salah satu dari kandungan temulawak yang memiliki efek anti-inflamasi yaitu kurkumin dapat menghambat ekspresi COX-2. Tujuan pada penelitian ini adalah mengetahui efek anti-inflamasi ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza) terhadap ekpresi COX-2 pada sel RAW 264,7 yang diinduksi lipopolisakarida dengan dosis 100μg/mL, 200μg/mL, dan 400μg/mL dibandingkan dengan kelompok kontrol. Penelitian ini merupakan penelitian ekperimental post-test only with control group design. Sel RAW 264,7 dibiakkan di dalam media kultur Dublecco’s Modified Eagle Medium (DMEM) yang mengandung 1% penisilin-streptomisin dan 10% fetal bovine serum (FBS). Biakan sel dibagi menjadi 6: kelompok kontrol sel yang tidak diberi perlakuan; kelompok kontrol sel yang diinduksi LPS; kelompok kontrol sel dengan antibodi sekunder; dan kelompok sel yang terinduksi LPS dan diberi ekstrak temulawak konsentrasi 100μg/mL, 200μg/mL, 400μg/mL. Setelah 18 jam perlakuan semua sel difiksasi menggunakan etanol bertingkat kemudian dilakukan uji imunositokimia untuk mengetahui ekspresi COX-2 dari sel. Hasil uji Kruskall-Wallis menunjukan perbeaan yang signifikan (p<0,05), uji Post Hoc Mann-Whitney menunjukan perbedaan signifikan (p<0,05). Kelompok perlakuan ekstrak temulawak 400μg/mL menunjukkan beda paling signifikan dibanding kelompok lain (p=0,000). Dapat disimpulkan bahwa terdapat efek anti-inflamasi ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza) terhadap ekspresi COX-2 pada sel RAW 264,7 yang diinduksi lipopolisakarida dengan dosis optimal ekstrak temulawak pada 400μg/mL.Cyclooxygenase-2 (COX-2) is one of the cyclooxygenase isomers whose expression was significantly increased in the inflammatory process. Curcumin is one of the content of temulawak which have anti-inflammatory effect that can inhibit the COX-2 expression. The Objective from this study was conducted to know anti-inflammatory effect of temulawak (Curcuma xanthorrhiza) extract againts COX-2 expression in RAW 264.7 cell-induced lipopolysaccharide using 100μg/mL, 200μg/mL, dan 400μg/mL temulawak extract compared with control group. This study was an experimental post-test only with control group study design. RAW 264.7 cell is cultured in Dublecco’s Modified Eagle Medium (DMEM) culture medium. This culture medium contain 1% penicilin-streptomycin and 10% fetal bovine serum (FBS). Cultured cell was distributed into six group; A control group without treatment; A control group with secondary antibody only; A group with LPS and 100μg/mL; A group with LPS and 200μg/mL; and A group with LPS and 400μg/mL. After 18 hours administration each group were being fixated by graded series of ethanol and prepared for immunocytochemistry. Statistical analysis with Kruskall-Wallis reveal significant difference (p<0.05), Post Hoc Mann-Whitney shown significant difference (p<0.05), A group with 400μg/mL temulawak extract has the most significant mean difference compared with another group (p=0.000). It can be concluded There was anti-inflammatory effect of temulawak (Curcuma xathorrhiza) extract againt COX-2 expression in RAW 264.7 cell-induced lipopolysaccharide. Temulawak extract has the lowest COX-2 expression at 400μg/mL.
390313728G1A012060Perbandingan Kadar Kalsium Serum pada Pasien Penyakit Ginjal Tahap Akhir dengan Diabetes Melitus dan Non Diabetes Melitus di RSUD Prof. Dr. Margono SoekarjoABSTRAK
Latar belakang: Prevalensi Penyakit Ginjal Tahap Akhir di dunia meningkat saat ini dengan Diabetes Melitus (DM) sebagai salah satu penyebabnya. Hipokalsemia merupakan faktor risiko DM. Abnormalitas kadar kalsium serum sering terjadi pada pasien penyakit ginjal tahap akhir. DM pada penyakit ginjal tahap akhir memperburuk kalsium serum dan meningkatkan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular.
Tujuan Penelitian. Mengetahui perbandingan kadar kalsium serum pada pasien penyakit ginjal tahap akhir dengan DM dan non DM.
Metode Penelitian. Rancangan penelitian menggunakan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien penyakit ginjal tahap akhir dengan DM dan non DM, masing-masing 22 subjek, berusia 18-65 tahun, dan menjalani hemodialisis < 2 tahun. Analisis statistik menggunakan uji t tidak berpasangan.
Hasil Penelitian. Subjek penelitian menunjukkan rerata usia 49 tahun dan jenis kelamin perempuan lebih banyak (59,1%). Rerata nilai kalsium serum total (8,8:8,5) dan nilai koreksi kalsium (9,3:9,05) adalah normal. Analisis bivariat nilai kalsium serum total dan nilai koreksi kalsium pada kedua kelompok tidak menunjukan perbedaan yang signifikan (p>0,05).
Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan kadar kalsium serum pada pasien penyakit ginjal tahap akhir dengan DM dan non DM.
ABSTRACT
Background: Prevalence of End-Stage Renal Disease (ESRD) in the world increased at last century. Diabetes Melitus (DM) is major cause of the ESRD. Hypocalcemia is a risk factor of Diabetes Melitus. Abnormalities of calcium serum level is a common complication of ESRD. Abnormalities of calcium serum level in ESRD patient with DM tends to be worse and increased mortality by cardiovascular disease.
Objective: To study the comparison of calcium serum level in ESRD patient with DM and non DM.
This research was an analitic observational with cross sectional study. Subjects enrolled were 22 patients each ESRD with DM and non DM, aged 18-65 years old, and had hemodalysis <2 years. Independent t test was used for statistical analysis.
Result. The average age of subjects is 49 year old with female more than male subjects (51,9%). Mean of the total calcium serum (8,8:8,5) and corrected-calcium (9,3:9,05) was normal. The result of bivariate analysis between two groups was not significant (p>0,05).
Conclusions. There was no difference in calcium serum level in patient ESRD with DM and non DM.
390413730A1M011084PENGGUNAAN BAHAN PENGENYAL FOOD GRADE DAN TEPUNG KORO PEDANG SEBAGAI BAHAN SUBTITUSI TEPUNG UBI KAYU HASIL MODIFIKASI PADA PEMBUATAN TIWUL INSTANTiwul merupakan makanan tradisional yang berbahan baku ubi kayu. Proses pembuatannya membutuhkan waktu lama dan kandungan gizinya yang rendah membuat tiwul semakin sulit dijumpai. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya modifikasi pembuatan tiwul menjadi tiwul instan dengan nilai gizi lebih baik. Peningkatan zat gizi dilakukan dengan subtitusi tepung tinggi protein diantaranya tepung koro pedang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan : 1) jenis tepung ubi kayu modifikasi (kimiawi ataukah mikrobiawi) yang sesuai; 2) proporsi berat tepung ubi kayu modifikasi-tepung koro pedang-tapioka yang sesuai; 3) penambahan bahan pengenyal food grade yang sesuai; 4) kombinasi perlakuan terbaik antara jenis dan proporsi tepung ubi kayu modifikasi-tepung koro pedang-tapioka serta penambahan bahan pengenyal food grade yang menghasilkan tiwul instan dengan sifat kimia dan sensori terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah tiwul instan J2P2K3 (jenis tepung ubi kayu modifikasi mikrobiawi; proporsi berat tepung ubi kayu-tepung koro pedang-tapioka 70:20:10; dan penambahan bahan pengenyal 1,0%) mempunyai koefisien rehidrasi 4,04; kadar air 4,17 %bb; kadar abu 1,16 %bk (1,11 %bb); nilai Formol 0,0243 ml NaOH 0,1 N/g bk (0,0233 ml NaOH 0,1 N/g bb); kadar protein total 6,57 %bk (6,30 %bb); kadar lemak 1,50 %bk (1,44 %bb); kadar karbohidrat by difference 90,75 %bk (86,96 %bb), tekstur kenyal (2,75), flavor enak (2,70), tingkat kesukaan disukai (2,60), rasa khas kacang agak terasa (2,85), dan warna kuning kecokelatan (2,85).Tiwul is a traditional food made from cassava. A process takes a long time and low nutrients that makes tiwul difficult to find. Therefore, it is necessary to modify of tiwul to become instant tiwul which is more easily served. The increasing of nutrients carried by the substitution of cassava flour with jack bean flour. This research aimed to determine:1) The suitable type of modified cassava flour (chemical, microbiological); 2) The suitable weight proportion of cassava flour-jack bean flour-tapioca; 3) The suitable addition of food grade texturizer; 4) The best combination unit between the type of modified cassava flour and proportion of modified cassava flour-jack bean flour-tapioca with an addition of food grade texturizer that produced instant tiwul with the best chemical and good properties. The results showed that the best treatment was an instant tiwul of J2P2K3 (microbiologically modified cassava flour; the proportion of modified cassava flour-jack bean flour-tapioca 70:20:10; and the texturizer addition of 1.0%) had a coefficient of rehydration of 4.04%; water content of 4.17% wb; ash content of 1.16% db (1.11% wb); Formol value of 0.0243 ml of NaOH 0.1 N/g db (0.0233 ml NaOH 0.1 N/g wb); 6.57%db (6.30% wb) of total protein content; fat content of 1.50% db (1.44%wb); carbohydrate by difference 90.75% db (86.96 %wb), texture (2.75), tasty flavor (2.70), the level of preference (2.60), beans flavour was just little bit tasted (2.85) and tanned yellow color (2.85).
390513731G1A012134PROFIL EKSPRESI APC (Adenomatous Polyposis Coli) DAN KLINIKOPATOLOGIK KARSINOMA KOLOREKTAL DI WILAYAH BANYUMASLatar Belakang: Karsinoma kolorektal termasuk tiga karsinoma yang paling umum ditemui diseluruh dunia dan benua Asia. Salah satu faktor etiologinya adalah akumulasi mutasi genetik. Beberapa penelitian menyebutkan mutasi APC (Adenomatous Polyposis Coli) seringkali ditemukan pada sel neoplasma karsinoma kolorektal. Tujuan: Mengetahui profil ekspresi APC dan klinikopatologik pada penderita karsinoma kolorektal di wilayah Banyumas berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin, topografi karsinoma, stadium Dukes, dan derajat diferensiasi. Metode: Deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Total sampel berjumlah 57 berasal dari penderita karsinoma kolorektal post hemikolektomi di RSMS Purwokerto dan RSUD Banyumas tahun 2014 untuk diteliti karakteristik klinikopatologik dan 45 blok parafin dilakukan pewarnaan imunohistokimia untuk diteliti ekspresi APC. Analisis statistik menggunakan statistik deskriptif. Hasil: Presentase ekspresi APC positif (35,6%) lebih rendah dibanding ekspresi APC negatif (64,4%). Kelompok usia ≤40 tahun (19,3%) lebih rendah dari kelompok usia >40 tahun (80,7%). Laki-laki (56,1%) lebih tinggi dari perempuan (43,9%). Kolon proksimal (40,4%) lebih sedikit dibanding kolon distal (59,6%). Stadium B (70,2%) paling banyak ditemui diikuti dengan stadium C (17,5%), stadium D (12,3%), dan stadium A (0%). Derajat diferensiasi baik paling banyak didapatkan (84,2%), dilanjutkan diferensiasi moderat (14,0%), dan diferensiasi jelek (1,8%). Kesimpulan: Presentase ekspresi APC negatif, kelompok usia>40 tahun, topografi kolon distal menunjukkan mayoritas karsinoma kolorektal di Banyumas adalah karsinoma kolorektal sporadik, yang berkembang melewati jalur karsinogenesis Chromosomal Instability (CIN).
Background: Colorectal carcinoma is the third most common carcinoma in the world and Asian continent. Accumulation of genetic mutations is one of its etiologies, several studies shown mutations APC (Adenomatous Polyposis Coli) most frequently found in neoplasm cell of colorectal carcinoma. Objective: To determine the expression of APC and clinicopathological profile of colorectal carcinoma patients such as age group, sex, carcinoma topography, Dukes Stage and differentiation degree in Banyumas region. Method: Descriptive observational with cross sectional approach. 57 total samples taken from colorectal carcinoma patients post hemikolektomi from RSMS Purwokerto and Banyumas Hospital from 2014 for clinicopathological examination and 45 paraffin block for immunohistochemistry staining to observe APC expression. Descriptive statistics was used for statistical analysis. Result: The percentage of positive APC expression (35.6%) lower than the negative APC expression (64.4%). Clinicopathological profiles were ≤. 40 years age group (19.3%) lower than > 40 years age group. Male (56.1%) higher than female (43.9%). Proximal colon (40.4%) lower than distal colon (59.6%). Stadium B (70.2%) was most common, followed by stadium C (17.5%), stadium D (12.3%), and Stadium A (0%). Based on differentiation degree, well differentiation (84.2%) was most be found, followed by moderate differentiation (14.0%), and poor differentiation (1.8%). Conclusion: The percentage result of negative APC expression, on > 40 years age group, with distal colon topography shown majority of colorectal carcinoma patients in Banyumas is sporadic, which grew from Chromosomal Instability (CIN) carcinogenesis pathway.
390613725G1A012022PERBANDINGAN PROFIL LIPID PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL TAHAP AKHIR DENGAN DIABETES MELITUS DAN NON DIABETES MELITUS DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJOLatar Belakang. Prevalensi penyakit ginjal tahap akhir (PGTA) di dunia meningkat saat ini, dengan diabetes melitus (DM) sebagai salah satu penyebabnya. Penyakit ginjal tahap akhir berhubungan dengan perubahan profil lipid meliputi peningkatan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida, dan penurunan kolesterol HDL. Kondisi DM pada PGTA akan memperburuk perubahan profil lipid dan meningkatkan risiko dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular.
Tujuan Penelitian. Mengkaji perbandingan profil lipid pada pasien PGTA dengan DM dan non DM.
Metode Penelitian. Rancangan penelitian menggunakan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah pasien PGTA dengan DM dan non DM, masing-masing 18 subjek, berusia 18 - 70 tahun dan hemodialisis < 2 tahun. Sampel darah serum diambil pada prehemodialisis. Analisis bivariat menggunakan independent t test.
Hasil Penelitian. Subjek penelitian menunjukkan rerata usia 52,36 tahun dan jenis kelamin perempuan lebih banyak (61,1%). Rerata kolesterol total (147,44 mg/dL : 137,88 mg/dL), kolesterol HDL (28,71 mg/dL : 29,72 mg/dL), dan trigliserida (124,16 mg/dL : 136,22 mg/dL) hampir sama pada kedua kelompok. Rerata kolesterol LDL (101,66 mg/dL : 88,77 mg/dL) lebih tinggi pada kelompok dengan DM dibandingkan non DM. Analisis bivariat perbandingan profil lipid pada kedua kelompok menggunakan independent t test menunjukkan hasil tidak signifikan (p > 0,05).
Kesimpulan. Terdapat perbandingan profil lipid (kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan trigliserida) tidak bermakna pada pasien PGTA dengan DM dan non DM.
COMPARISON OF LIPID PROFILE BETWEEN END STAGE RENAL DISEASE PATIENTS WITH DIABETES MELLITUS AND NON DIABETES MELLITUS IN PROF. DR. MARGONO SOEKARJO HOSPITAL
Agustin Nurul Fahmawati
Medical Faculty of Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Indonesia
Email: teajustagutsin@gmail.com

ABSTRACT

Backgrounds. The prevalence of end stage renal disease (ESRD) in the world is increasing today, with diabetes mellitus (DM) as one cause. End stage renal disease associated with changes in lipid profile includes total cholesterol (TC), LDL cholesterol (LDL-C), triglycerides (TG), and a decrease in HDL cholesterol (HDL-C) levels. Diabetic conditions on ESRD will worsen alteration in lipid profile and increased risk and mortality of cardiovascular disease.
Objectives. Find out the comparison of lipid profile in end stage renal disease patients with diabetes mellitus and non diabetes mellitus.
Methods. This research uses cross-sectional study. Subjects enrolled were 18 ESRD patients with DM and 18 patients non DM, aged 18-70 years old and hemodialysis < 2 years. Blood serum samples taken at prehemodialysis. Bivariate analysis used independent t test.
Results. The mean age of the study subjects was 52,36 years old and dominated by female (61.1%). The mean of TC (147,44 mg/dL : 137,88 mg/dL), HDL-C (28,71 mg/dL: 29,72 mg/dL), and triglycerides (124,16 : 136,22) were similar in both groups of subjects. The mean of LDL-C (101,66 mg/dL : 88,77 mg/dL) were higher in ESRD patients with DM compared to non-DM. Bivariate analysis comparing lipid profile in both groups using independent t test showed no significant results (p > 0,05).
Conclusions. There is no significant comparisons of lipid profile (total cholesterol, LDL cholesterol, HDL cholesterol, and triglycerides) in ESRD patients with DM and non DM.

Key words: End stage renal disease (ESRD), diabetes mellitus (DM), lipid profile
390713729G1A012122HUBUNGAN STATUS FISIK PRAANESTESI PASIEN SECTIO CAESAREA DENGAN ANESTESI SPINAL TERHADAP KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM DI RUMAH SAKIT
PROF DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang mengalami kegagalan bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Faktor yang paling banyak memberikan sebagian besar kontribusi terhadap kejadian asfiksia neonatorum adalah faktor keadaan ibu yang akan berhubungan dengan status fisik praanestesi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status fisik praanestesi pasien sectio caesarea dengan anestesi spinal terhadap kejadian asfiksia neonatorum di Rumah Sakit Prof. DR. Margono Soekarjo Purwokerto.
Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan rancangan cross sectional dengan menggunakan 41 data rekam medik pasien. Dengan syarat pasien yang menjalani sectio caesarea proses persalinan darurat dengan anestesi spinal di Rumah Sakit Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dan memiliki salah satu atau lebih dari penyakit morbiditas, seperti hipertensi, asma bronkial, Diabetes Mellitus (DM), anemia, gagal jantung, dan gagal ginjal. Data diolah dengan menggunakan program komputer. Uji statistik dilakukan untuk membuktikan hipotesis dengan uji Chi square. Nilai p<0,05 dinyatakan signifikan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status fisik praanestesi pasien sectio caesarea dengan anestesi spinal terhadap kejadian asfiksia neonatorum pada menit ke-1, ini dibuktikan dengan uji statistik didapatkan hasil x2 hitung lebih besar dari x2 tabel (x2 3.841) yang artinya signifikan (CI 95%, p<0,05). Terdapat hubungan status fisik praanestesi pasien sectio caesarea dengan anestesi spinal terhadap kejadian asfiksia neonatorum pada menit ke-1 di Rumah Sakit Prof. DR. Margono Soekarjo Purwokerto.
Asphyxia neonatorum is a newly-baby born condition having failure of breathing spontaneously and regularly once the baby was born. The factor which contributes the most towards asphyxia neonatorum incidence is a factor of mother’s condition that will connect to praanesthesia physical status. This research aims to find out a correlation of praanesthesia physical status of sectio caesarea patient with spinal anesthesia towards asphyxia neonatorum at Prof. DR. Margono Soekarjo Hospital Purwokerto.
This research is an observational analytic study with cross sectional design using 41 patients’ medical record data. With the requirement that patient running sectio caesarea of emergency giving birth process with spinal anesthesia at Prof. DR. Margono Soekarjo Hospital Purwokerto and having one or more morbidity diseases, such as hypertension, bronchial asthma, Diabetes Mellitus (DM), anemia, heart failure, and kidney failure. The data is processed using computer program. Statistic test is performed to show hypothesis with Chi square test. Value p<0,05 is declared significant.
The result of this research shows that there is a significant correlation between praanesthesia physical status of sectio caesarea patient with regional anesthesia towards asphyxia neonatorum incidence in the first time, this is proven with statistic test that the result obtained is x2 calculate is bigger than x2 table (x2 3.841) which means significant (CI 95%, p<0,05). There is a correlation of praanesthesia physical status of sectio caesarea patient with spinal anesthesia towards asphyxia neonatorum incidence in the first time at Prof. DR. Margono Soekarjo Hospital Purwokerto.
390813745G1F011052AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETIL ASETAT ALGA MERAH (Gracilaria verrucosa) TERHADAP Salmonella typhi DAN Bacillus cereus Alga merah berkhasiat sebagai antibakteri. Kandungan senyawa kimia yang terdapat dalam rumput laut merah seperti flavonoid, saponin dan steroid sebagai antibakteri Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antibakteri ekstrak etil asetat alga merah G. verrucosa terhadap bakteri S. typhi dan B. cereus.
Penelitian dilakukan dengan cara ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etil asetat. Selanjutnya uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi Kirby-bauer dengan menggunakan 8 variasi konsentrasi 30, 25, 20, 15, 10 dan 5 ppm yaitu kontrol positif dengan Ciprofloxacin 500mg, kontrol negatif dengan etil asetat pada medium Salmonella Shigella Agar (SSA) untuk bakteri S.typhi sedangkan B.cereus dengan media Nutrient Agar (NA) dan diinkubasi selama 1 x 24 jam. Data yang diperoleh berupa nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) dan ditarik kesimpulan. Kemudian untuk identifikasi senyawa aktif menggunakan fitokimia dan dianalisis dengan deskriptif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etil asetat memiliki aktifitas antibakteri dengan nilai KHM terhadap pertumbuhan bakteri S.typhi sebesar 10ppm dengan diameter zona hambat 1.1 mm sedangkan bakteri B.cereus mampu menghambat pertumbuhan bakteri sebesar 1.2 mm. Ekstrak etil aasetat G.verrucosa memiliki aktivitas antibakteri yang lebih besar terhadap B.cereus.

Kata kunci : G. verrucosa, aktivitas antibakteri S. typhi dan B. cereus.
Red algae efficacious as an antibacterial. Chemical compounds found in red seaweed such as flavonoids, saponins and steroids as antibacterial This study aims to determine the antibacterial effect of ethyl acetate extract of red algae G. verrucosa against S. typhi bacteria and B. cereus.
The study was conducted by extraction with maceration using ethyl acetate solvent. Furthermore antibacterial activity test was conducted using diffusion Kirby-bauer using 8 variations in concentration of 30, 25, 20, 15, 10 and 5 ppm ie positive control with Ciprofloxacin 500mg, negative controls with ethyl acetate in the medium Salmonella Shigella Agar (SSA) for bacteria S.typhi while B.cereus with media Nutrient Agar (NA) and incubated for 1 x 24 hours. Data obtained in the form of the value of the minimum inhibitory concentration (MIC) and the conclusions drawn. Then for the identification of active compounds using phytochemical and analyzed by qualitative descriptive.
Based on the results of the study showed that the ethyl acetate extract has antibacterial activity with MIC values against bacteria growth S.typhi of 10ppm with a diameter of 1.1 mm zone of inhibition while the bacteria B.cereus able to inhibit bacterial growth by 1.2 mm. Extract ethyl aasetat G.verrucosa have greater antibacterial activity against B.cereus.

Keywords: G. verrucosa, the antibacterial activity of S. typhi and B. cereus.
390913632H1E011013PEMBUATAN PENGUKUR KECEPATAN MENGGUNAKAN SENSOR INFRAMERAH DAN ARAH ANGIN MENGGUNAKAN PEMBAGI TEGANGANAlat pengukur kecepatan angin yang banyak dikenal sampai saat ini adalah anemometer. Namun, alat tersebut hanya bisa mengukur kecepatan angin saja. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membuat alat pengukur kecepatan menggunakan sensor inframerah dan arah angin menggunakan pembagi tegangan. Kecepatan angin didapatkan dari jumlah kelipan cahaya yang dipancarkan dari sensor inframerah, sedangkan penentuan arah angin diperoleh dari prinsip pembagi tegangan. Nilai kecepatan angin ditentukan dengan persamaan kalibrasi y = 0,366x + 0,874. Sistem pengukur kecepatan dan arah angin pada penelitian ini menggunakan mikrokontroler ATMega8535 yang berfungsi untuk mengolah data. Hasil dari sistem pengukur akan ditampilkan pada LCD. Penelitian ini menghasilkan alat pengukur kecepatan dan arah angin yang sudah terkarakterisasi. Akurasi terbaik dari kecepatan angin adalah 90,26% dan error terbaik 9,74%. Alat pengukur yang telah dibuat mampu mengukur kecepatan angin sebesar 2,38- 3,51 m/s. Alat juga dapat mengidentifikasi delapan arah mata angin. Penunjuk arah mempunyai akurasi sebesar 100%.The most well-known speed measuring device is anemometer. However, the device that currently available can only measure the wind speed. This research aims to design and create wind speed and direction measurement device using infrared sensor and voltage divider principle. The wind speed is obtained from the numbers of the flicker of light emitted from the infrared sensor, while the determination of the wind direction is obtained from a voltage divider principle. Wind speed value is determined by the equation of calibration y = 0,366x + 0,874. The device use microcontroller ATMega8535 to process the data. The results will be displayed on the LCD. This research results characterized wind speed and direction measurement device. Best accuracy value of wind speed is 90,26% and best error value is 9,74%. Wind speed measurement range of the device is 2,38- 3,51 m/s. The device can also identify eight wind direction. Wind direction pointer has 100% accuracy.
391013732G1A012117PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL AKAR PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk) SECARA AKUT TERHADAP KADAR SGOT DAN SGPT TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTANPENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL AKAR PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk.) SECARA AKUT TERHADAP KADAR SGOT DAN SGPT PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN

Uji Toksisitas Akut

Emiliza Salman1, Dhadhang Wahyu Kurniawan2, Fitranto Arjadi1
1Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Indonesia
2Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Indonesia
E-mail: emilizasalman@gmail.com

ABSTRAK

Latar belakang: Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) merupakan tanaman obat tradisional yang digunakan secara turun temurun sebagai afrodisiak. Purwoceng mengandung zat-zat lipofilik yang berpotensi toksik pada hepatosit, dan mengakibatkan peningkatan kadar SGOT DAN SGPT.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian ekstrak etanol akar purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) secara akut terhadap kadar SGOT dan SGPT pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan post-test only with control group design. Lima belas tikus putih jantan dibagi dalam lima kelompok perlakuan secara acak. Kelompok A (kontrol diberi akuades), kelompok B (5 mg/kgBB), kelompok C (50 mg/kgBB), kelompok D (300 mg/kgBB), dan kelompok E (2000 mg/kgBB) diberikan ekstrak etanol akar purwoceng dosis tunggal. Setelah 24 jam pemberian dosis, darah tikus diambil dari sinus orbitalis. Kadar SGOT dan SGPT dianalisis dengan metode UV test.
Hasil: Rerata kadar SGOT pada kelompok A 99,06±8,1 U/l, kelompok B 108,46±12,41 U/l, kelompok C 109,23±7,95 U/l, kelompok D 102,36±7,46 U/l, dan kelompok E 112,53±16,31 U/l. Rerata kadar SGPT kelompok A 56,5±4,18 U/l, kelompok B 59,87±10,64 U/l, kelompok C 64,1±4,76 U/l, kelompok D 76,27±3,27 U/l, dan rerata terendah pada kelompok E 54,13±9,95 U/l. Uji One Way ANOVA kadar SGOT menunjukkan nilai p >0,05, sedangkan SGPT menunjukkan nilai p < 0,05.
Kesimpulan: Pemberian ekstrak etanol akar purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) secara akut tidak dapat mempengaruhi kadar SGOT, tetapi dapat mempengaruhi kadar SGPT pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan.



Kata kunci: purwoceng, uji toksisitas akut, SGOT, SGPT
THE EFFECT OF ACUTE ADMINISTRATION OF PURWOCENG ROOTS ETHANOL EXTRACT (Pimpinella pruatjan Molk.) TO SGOT AND SGPT LEVEL IN MALE ALBINO RAT (Rattus norvegicus)

Acute Toxicity Test

Emiliza Salman1, Dhadhang Wahyu Kurniawan2, Fitranto Arjadi1
1Medical Faculty Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Indonesia
2Health Science Faculty Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Indonesia
E-mail: emilizasalman@gmail.com

ABSTRACT

Background: Purwoceng is herbal medicine that has been used traditionally as an aphrodisiac. Purwoceng contains lipophilic substances that potentially toxic to the hepatocytes, resulting to increased level of SGOT and SGPT.
Objective: The aim of the study was to analyze the effect of acute administration purwoceng roots ethanol extract to SGOT and SGPT levels in male albino rats.
Methods: Method of this study was an experimental study using post test only with control group design. Fifteen male albino rats were divided randomly into five groups. Group A as a control group received aquadest, group B, C, D, and E were given single dose of purwoceng roots ethanol extract of 5 mg/kgBW, 50 mg/kgBW, 300 mg/kgBW, and 2000 mg/kgBW respectively. After 24 hours of extract administration, rats’ blood were obtained from orbital sinus. SGOT and SGPT levels were analyzed using UV test method.
Results: Mean of the SGOT level in Group A was 99,06±8,1 U/l, group B was 108,46±12,41 U/l, group C was 109,23±7,95 U/l, group D was 102,36±7,46 U/l, and the highest was group E 112,53±16,31 U/l. Mean of SGPT level in group A was 56,5±4,18 U/l, group B was 59,87±10,64 U/l, group C was 64,1±4,76 U/l, group D was 76,27±3,27 U/l, and the lowest mean of SGPT level was group E (54,13±9,95). One Way ANOVA test of SGOT level showed the value of p > 0.05, meanwhile SGPT level showed p< 0,05.
Conclusions: Acute administration of Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) roots ethanol extract cannot increase the level of SGOT, meanwhile can increase level of SGPT in male albino rats (Rattus norvegicus).



Keywords: Purwoceng, acute toxicity test, SGOT, SGPT
391113734G1A012072PERBANDINGAN KADAR ALBUMIN SERUM PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL TAHAP AKHIR DENGAN DIABETES MELITUS DAN NON DIABETES MELITUS DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJOLatar Belakang. Prevalensi penyakit ginjal tahap akhir di dunia meningkat saat ini, dengan diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyebabnya. Penyakit ginjal tahap akhir berhubungan dengan penurunan kadar albumin serum, dimana keadaan hipoalbuminemia dapat meningkatkan mortalitas dari pasien tersebut.
Tujuan Penelitian. Mengetahui perbandingan kadar albumin serum pada pasien penyakit ginjal tahap akhir dengan DM dan non DM.
Metode Penelitian. Rancangan penelitian menggunakan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien penyakit ginjal tahap akhir dengan DM dan non DM masing-masing 21 orang, berusia 18-70 tahun dan menjalani hemodialisis <2 tahun. Analisis bivariat menggunakan independent t test.
Hasil Penelitian. Subjek penelitian menunjukkan rerata usia 51 tahun dan jenis kelamin perempuan lebih banyak (52,4%). Rerata kadar albumin serum pada pasien penyakit ginjal tahap akhir dengan DM 3.27 g/dL, lebih rendah jika dibandingkan penyakit ginjal tahap akhir dengan non DM 3.54 g/dL. Analisis bivariat pada kedua kelompok menggunakan independent t test menunjukkan hasil yang signifikan (p<0.05).
Kesimpulan. Terdapat perbedaan bermakna kadar albumin serum pada pasien penyakit ginjal tahap akhir dengan DM dan non DM.
Background. The prevalence of end stage renal disease (ESRD) in the world is increasing today, with diabetes mellitus (DM) is one of the causes. End stage renal disease associated with decreased levels of albumin, where the state of hypoalbuminemia may increase mortality of these patients.
Objectives. This study was conducted to compare the ratio of albumin level in ESRD patients with DM and without DM.
Methods. This study was cross sectional observational design. Subjects were ESRD patients with DM and without DM respectively 21 people, aged 18-70 years and undergoing hemodialysis <2 years. Bivariate analysis using independent t test.
Result. The study showed the mean of subject age is 51 years old and more female than man (52.4%). The mean levels of albumin in ESRD with DM 3.27 g/dL, wich is lower than patient non DM 3.53 g/dL. Bivariate analyzes in both groups using independent t test showed significant results (p <0.05).
Conclusion. There is a significant difference of level albumin in patients ESRD with DM and without DM.
391213720G1A012032Perbedaan Kualitas Hidup antara Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Peserta dan Non-peserta Prolanis di Puskesmas SumbangLatar belakang: Diabetes melitus merupakan suatu penyakit metabolik yang ditandai dengan kondisi hiperglikemia dan dapat menimbulkan komplikasi yang sangat memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Penatalaksanaan DM bertujuan untuk menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa untuk mencegah terjadinya komplikasi. Program pengelolaan penyakit kronis adalah salah satu program pemerintah di era Jaminan Kesehatan Nasional yang dikembangkan untuk para penderita penyakit kronis. Tujuan utama dari Prolanis adalah mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien. Tujuan: Penelitian ini menganalisis perbedaan kualitas hidup antara penderita DM tipe 2 peserta dan non-peserta Prolanis di Puskesmas Sumbang. Metode/Desain: Desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Besar sampel penelitian adalah 34 orang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Kualitas hidup pasien diukur dengan kuesioner Diabetes Quality of Life (DQOL). Hasil: Uji statistik yang digunakan adalah uji t tidak berpasangan. Rerata skor kelompok peserta adalah 3,11 ± 0,20 dan kelompok non-peserta adalah 2,41 ± 0,19. Uji beda rerata menunjukkan adanya perbedaan antara skor kedua kelompok (p<0,05). Keikutsertaan Prolanis dan kualitas hidup memiliki korelasi bermakna dan kuat (p<0,001, r=0,938). Kesimpulan: Terdapat perbedaan kualitas hidup antara penderita DM tipe 2 peserta dan non-peserta Prolanis. Background: Diabetes mellitus is metabolic disease characterized by hyperglicemic condition which can cause complications that will affect the quality of the patient’s life. The treatment of DM is to normalize insulin activity and blood glucose level to prevent complications. Chronic disease management program is a government program in National Health Assurance era which is developed for chronic disease patients. The main goal of the program is to reach the optimal quality of life with effective and efficient cost. Objective: This research analyzed the differences in quality of life between type II DM patient as member and non member of chronic disease management program at public health center Sumbang. Methode/Design: This research was an observational analytic with cross sectional approach. Sample size of this research was 34 people that meet with inclusion and exclusion criteria. Patient’s quality of life was measured by Diabetes Quality of Life (DQOL) questionnaire. Result: Data was statistically tested with independent t test. Mean of member group score was 56.12 ± 6.909 and non member group was 2,41 ± 0,19. Mean difference test showed there was a difference between score of both group (p<0,05). There was a meaningful and strong correlation between participation in chronic disease management and quality of live (p<0,001, r=0,938) Conclusion: There was a difference in quality of life between type II DM patient as member and non member of chronic disease management program at public health center Sumbang.
391313735C1A011014Produksi dan Konsumsi Beras Pada Keluarga Petani Padi
(Studi Kasus di Desa Sirnajaya Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut)
Penelitian ini berjudul “Produksi dan Konsumsi Beras Pada Keluarga Petani Padi (Studi Kasus di Desa Sirnajaya Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut)”, bertujuan untuk mengetahui produksi dan konsumsi beras dan curahan waktu kerja dalam mengolah lahan pertanian pada keluarga petani padi tahun 2014. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dari hasil wawancara dengan petani dengan menggunakan kuesioner (daftar pertanyaan).Penelitian ini menggunakan metode tabulasi data, banyaknya sampel yang dipilih yaitu 110 orang dengan metode purposive sampling.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) produksi beras tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sebanyak 67 rumah tangga meskipun terdapat 43 rumah tangga dapat terpenuhi,hal tersebut dikarenakan petani mempunyai jumlah tanggungan yang cukup banyak; (2) rata-rata para petani mencurahkan waktu kerja mereka sebanyak 46,66 jam pada musim tanam ke dua (MT 2). Mereka memanfaatkan kelebihan waktunya untuk berdagang dan buruh tani.

Kata Kunci: Produksi dan Konsumsi Beras, Curahan Waktu Kerja, Jumlah Tanggungan.
The research entitled "Production and Consumption of Rice to Rice Farmer’s Family (A Case Study in the village Sirnajaya Cisurupan District of Garut)". This research aims to determine the production and consumption of rice and working hours when working on the rice field to farmer’s family in 2014. The data collected in this study are primary data from interviews with farmers using a questionnaire. This research uses data tabulation, the numbers of selected samples are 110 people with purposive sampling method.
The results of this research showed that: (1) production of rice is not enough to fulfill the need of food for 67 households even though there are 43 household who feel enough, it is because farmers have a considerable number of dependents; (2) most of farmers devote their working time for 46.66 hours during the second planting season (MT 2). They use the excess time for selling and as farm workers.

Keywords: Production and Consumption of Rice, Working Time Confession, Number of dependents.
391413736A1M011012KAJIAN SIFAT FISIKOKIMIA EKSTRAK PANDAN (PANDANUS AMARYLLIFOLIUS) MENGGUNKAN BERBAGAI PELARUT DAN METODE EKSTRAKSIPandan (Pandanus amaryllifolius) merupakan sumber daya alam yang mudah dijumpai di lingkungan masyarakat dan banyak dimanfaatkan untuk bahan tambahan makanan ataupun obat. Komponen bioaktif pada pandan seperti flavonoid, alkaloid, tanin dan saponin dapat dimanfaatkan sebagai senyawa antimikrobia, antifungi, dan antioksidan. Komponen bioaktif tersebut dapat diekstraksi menggunakan pelarut. Penelitian ini bertujuan untuk: Mengetahui pengaruh jenis pelarut, metode ekstraksi, dan interaksi perlakuan antara jenis pelarut dan metode ekstraksi terhadap sifat fisikokimia ekstrak pandan. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu rancangan acak kelompok (RAK). Faktor yang dikaji yaitu; 1) jenis pelarut (P) yang terdiri dari: heksana (P1), etil asetat (P2), dan etanol (P3) dan 2) metode ekstraksi (M) yang terdiri dari: ekstraksi satu tahap (M1) dan ekstraksi bertingkat (M2). Penelitian ini dilakukan dengan 4 kali ulangan sehingga diperoleh 24 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan jenis pelarut etanol dengan metode ekstraksi satu tahap (P3M1) menghasilkam ekstrak dengan sifat fisikokimia terbaik, yaitu rendemen ekstrak (13,2494% bb), kelarutan dalam akuades (25,734% bb), kelarutan dalam etanol (72,966% bb), dan total fenol (1,3271 mg EAT/g bahan), mengandung pigmen klorofil a serta terdeteksi adanya senyawa flavonoid, alkaloid, dan tanin.Pandanus amaryllifolius is a natural resource that easily found and widely used for food additives or medicines. Bioactive contents of Pandanus amaryllifolius such as flavonoid, alkaloid, tannin, and saponin can be used as antimicrobial, antifungal, and antioxidant compounds. Those bioactive components can be obtained by solvent extraction. This research aimed to determine the effect of solvent types, extraction methods, and the combination of solvent types on physicochemical properties of Pandanus amaryllifolius. This research was in experimental using Randomized Block Design (RBD). Factor examined were; 1) Solvent types (P) consisting of; hexane (P1), ethyl acetate (P2), and ethanol (P3); 2) extraction methods (M) which consists of the single stage extraction (M1) and stratified extraction (M2); conducted in 4 repetations, therefore obtained 24 experimental units. Result showed that combination treatments of ethanol solvent and asingle stage extraction produces the best phsicochemical properties with extract characteristics of yield of 13.2494% wb, solubility in water of 25.734% wb, solubility in ethanol of 72.966% wb, and total phenol value of 1.3271 mg EAT/g material. Qualitatif analysis showed the extract exhibit the present of chlorophyll pigment, fllavonoid, alkaloid, and tannin.
391513737C1A011026ANALISIS PENDAPATAN BURUH PENGRAJIN ROTAN DI DESA TEGALWANGI KECAMATAN WERU KABUPATEN CIREBON
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pendapatan pengrajin rotan dan pendapatan rumah tangga pengrajin rotan per bulan sudah memenuhi standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) atau belum di Kabupaten Cirebon. Kedua, mengukur kontribusi pendapatan sebagai pengrajin rotan terhadap pendapatan rumah tangga. Ketiga, menguji perbedaan tingkat pendapatan tenaga kerja borongan dan tenaga kerja harian dalan industri kerajinan rotan di Desa Tegalwangi Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon dan keempat, mengidentifikasi perbedaan karakteristik demografi diantara tenaga kerja borongan dan tenaga kerja harian (umur, pendidikan, pengalaman bekerja dan keterampilan). Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode tabulasi, kontribusi pendapatan dan uji beda (Uji Z). Populasi dalam penelitian ini yaitu sebanyak 62.520 tenaga kerja pengrajin rotan. Untuk memperoleh ukuran sampelnya menggunakan rumus slovin, maka sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 100 responden pengrajin rotan. Metode yang dipakai dalam penelitain ini adalah metode survei.
Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 88 responden belum memenuhi Standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dan 12 responden sudah memenuhi Standar KHL, sedangkan dari pendapatan rumahtangga pengrajin terdapat 87 responden yang belum mencapai KHL dan 13 responden sudah mencapai KHL. Kontribusi pendapatan pengrajin rotan di Desa Tegalwangi Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon terhadap pendapatan rumahtangganya mempunyai peran yang besar yaitu 93,79 persen. Hasil penelitian dengan menggunakan Uji Z menunjukkan ada perbedaan pendapatan, pengalaman bekerja dan usia tenagakerja borongan dan harian, sedangkan pendidikan dan keterampilan di antara tenagakerja borongan dan harian tidak berbeda.
Penelitian ini menemukan bahwa kontribusi pendapatan pengrajin rotan terhadap pendapatan rumahtangga (93,79%), akan tetapi sebagian besar pengrajin rotan di Desa Tegalwangi masih belum dapat dikatakan hidup layak sesuai dengan KHL. Padahal 93 persen istri pengrajin adalah ibu rumahtangga yang masih memiliki waktu luang, oleh karena itu maka ibu rumah tangga di Desa Tegalwangi dapat diberikan pelatihan pembuatan kerajinan berbasis rotan atau limbah rotan untuk meningkatkan pendapatan rumahtangga. Pemerintah dan pihak swasta dapat berpartisipasi dalam pembangunan sumber daya manusia tersebut

KataKunci:buruh pengrajin rotan, pendapatan, umur, pendidikan, pengalaman bekerja, keterampilan, kebutuhan hidup layak (KHL).

Purpose of this research is to determine whether rattan craftsmen’s income and rattan craftsmen‘s income of household per month already fulfill the standard of Living Needs (KHL) or not in Cirebon Regency. Second, measure the contribution of income as rattan craftsmen on household income. Third, examine differences between income levels of labor contract and daily labor role in the industry of rattan in the village of Tegal fragrant District of Weru Cirebon and fourth, to identify differences in demographic characteristics between the labor contract and daily labor (age, education, work experience and skills) ,The method used is the tabulation method, revenue and different test (Z test). The population in this research are 62.520 workers rattan craftsmen. To obtain the sample size using formula slovin, the samples taken in this research are 100 respondents rattan craftsmen. The method used in this research is a survey method.
The results showed that there were 88 respondents have not fulfilled the standard of Living Needs (KHL) and 12 respondents already fulfilled the standards KHL. while household income of craftsmen are 87 respondents who have not yet reached the KHL and 13 respondents already reached KHL. The revenue contribution rattan craftsmen in the Tegalwangi Village, Weru Subdistrict Cirebon Regency on household income has a major role, namely 93.79 percent. The results using the Z test show there is known there are differences in income, work experience and age wholesale and daily labor. While there the education and skills in wholesale and daily labor is no different.
This research are rattan craftsmen’s income contributing to household income (93.79%), but most of the craftsmen in the Tegalwangi village still can not be said to live worthy of the KHL. In fact, 93 percent of wives of craftsmen is a housewife who still have spare time, therefore, the housewife in the village can be trained Tegalwangi-based craft-making wicker or rattan waste to increase household income. Government and the private sector can participate in development the human resources.

Keywords: Labor rattan craftsmen, income, age, education, work experience, skills, Living Needs (KHL).
391613738D1E011070ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA TERNAK SAPI PERAH
(Studi Kasus Di Satker Pembibitan dan Budidaya Sapi Perah Pagerkukuh Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah)
Penelitian dengan judul “Analisis Kelayakan Finansial Usaha Ternak Sapi Perah di Satker Pembibitan dan Budidaya Sapi Perah Kabupaten Wonosobo” ini dilaksanakan pada tanggal 01 Januari sampai 30 Juni 2015 di Satuan Kerja Pembibitan dan Budidaya Sapi Perah Kabupaten Wonosobo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kelayakan usaha sapi perah dan mengetahui berbagai kendala yang berhubungan dengan kelayakan usaha secara finansial di Satker pembibitan dan budidaya sapi perah. Metode penelitian menggunakan studi kasus yang secara intensif mempelajari suatu objek terhadap objek lain. Studi kasus menggunakan cara kerja pengumpulan data dengan mengambil beberapa elemen kemudian elemen tersebut diselidiki lebih lanjut dan dapat diambil kesimpulan atas hasil elemen yang telah diselidiki. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder yang diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling. Metode analisis meliputi Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C), Net Present Value (NPV). Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis kelayakan usaha sapi perah menunjukkan NPV sebesar Rp. -2,532,129,612.74 dan Gross B/C sebesar 0.5318. Dapat disimpulkan bahwa usaha sapi perah yang dilaksanakan di Satker Pembibitan dan Budidaya Ternak Pagerkukuh tidak layak secara finansial.This study, entitled "Financial Feasibility Analysis Of Dairy Cattle Business", had been conducted from 01 January to 30 June 30, 2015 in the work unit of Dairy Cattle Breeding and Cultivation of Wonosobo. The aims of this research werer to analyze the feasibility of the dairy cattle business at the work unit and to comprehend the obstacles related to its financial feasibility. As a case study, this research focused intensively on a particular object to other objects. This case study collected data by taking some elements from the case to be investigated profoundly one by one, and the drawn conclusions can only be applied to the investigated elements. This study used primary and secondary data which were collected by using purposive sampling method. Analytical methods included the Gross Benefit Cost Ratio (Gross B / C) and the Net Present Value (NPV). Result of this study shows that, based on feasibility analysis of dairy cattle, the value of NPV is Rp.-2,755,906,300.84, and that of the Gross B / C is 0.5318. It can be concluded, therefore, that the dairy cattle business carried out in Pagerkukuh Livestock Breeding and Cultivation work unit is not financially feasible.
391713739H1G011006Pengaruh Logam Berat Merkuri Terhadap Kinerja Reproduksi Ikan Nilem Jantan
(Osteochilus hasselti)
Merkuri atau disebut juga sebagai Hydragyrum (Hg) merupakan salah satu logam berat yang banyak digunakan dalam kegiatan petanian, rumah tangga, dan industri. Penggunaan logam berat merkuri dapat menyebabkan pencemaran perairan. Merkuri dapat berbentuk senyawa anorganik seperti merkuri klorida (HgCl2). Logam berat merkuri dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon sehingga menurunkan kemampuan reproduksi ikan, terutama ikan spesies asli seperti ikan nilem. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh logam berat merkuri terhadap fluktuasi proporsi sel spermatogenesis dan fluktuasi indeks gonadosomatik pada ikan nilem (Osteochilus hasselti) jantan. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental dengan 4 perlakuan konsentrasi logam berat yaitu 0 ppm (kontrol), 0,025 ppm (rendah), 0,05 ppm (sedang) dan 0,1 ppm (tinggi). Setiap perlakuan terdapat 40 ekor ikan nilem. Perlakuan logam berat diberikan selama 60 hari. Perhitungan proporsi sel spermatogenesis yaitu dengan melihat histologi masing-masing tahapan sel dengan preparat yang menggunakan pewarnaan haematoxylin-eosin (HE) diamati dibawah mikroskop 3 kali ulangan menggunakan perbesaran 400 kali. Analisis statistik yaitu menggunakan One Way ANOVA. Hasil yang diperoleh menunjukan fluktuasi proporsi sel spermatogenesis dan Indeks Gonadosomatik dengan semakin meningkatnya konsentrasi logam berat dan lama waktu pemaparan.Mercury also called as Hydragyrum (Hg) is a heavy metal that is widely used in agricultural activities, household, and industrial. The use of the heavy metals mercury can cause waters pollution. The form of mercury is inorganic compounds such as mercury chloride (HgCl2). Mercury can cause hormonal imbalance, it lower reproductive capacity of fish, especially native species fish such as nilem (Osteochilus hasselti). The research purpose is to determine the influence of mercury towards the fluctuations of spermatogenesis cell proportion and gonadosomatic index fluctuations in nilem male (Osteochilus hasselti). The research method using experimental methods with 4 treatment of heavy metal concentrations were 0 ppm (control), 0.025 ppm (low), 0.05 ppm (medium) and 0.1 ppm (high). Each treatment contained 40 fishs. The treatment of heavy metals is given for 60 days. Calculation of the proportion of spermatogenesis by looking at histology each cells phase with preparations using Haematoxylin-eosin (HE) staining were observed under a microscope with 3 repetitions using a 400 times zooms. Statistical analysis using One Way ANOVA. The results obtained showed fluctuations in the proportion of spermatogenesis cells and gonadosomatic index with increasing of heavy metals concentrations and long exposure time.
391813740G1A012094Korelasi Pengetahuan Lesi Prakanker Serviks dengan Rencana Tes IVA oleh Dokter Umum di Puskesmas Kabupaten BanyumasLatar Belakang : Kanker serviks merupakan kanker organ reproduksi pada wanita. Diperkirakan bahwa lebih dari jutaan perempuan di seluruh dunia saat ini terdiagnosis kanker serviks. Deteksi dini perlu dilakukan untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas kanker serviks pada wanita. Dokter umum di Indonesia memiliki peran sebagai dokter layanan primer dan menjalankan fungsi sebagai gate keeper. Salah satu kompetensinya yaitu pemeriksaan tes IVA di layanan primer sebagai upaya deteksi dini pada kanker serviks. Keterlambatan diagnosis dini kanker serviks pada tingkat layanan primer dipengaruhi berbagai macam pengetahuan dan keterampilan layanan primer dalam deteksi dini kanker serviks
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara pengetahuan lesi prakanker serviks dengan rencana tes IVA oleh dokter umum di Puskesmas Kabupaten Banyumas.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel dengan metode total sampling. Jumlah sampel 69 dokter di Puskesmas seluruh Kabupaten Banyumas tahun 2015 dan berusia 24 – 60 tahun. Data diperoleh dari hasil kuesioner. Analisis statistik yang digunakan adalah uji Spearman
Hasil: Penelitian telah dilaksanakan pada 48 responden yang teridir dari 24 dokter umum dan 24 bidan yang bekerja di puskesmas kota Yogyakarta. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik mengenai pemeriksaan deteksi dini kanker serviks yaitu 66,70%, sikap yang negatif yaitu 54,20%, dan perilaku yang baik 50,50%. Hasil penelitian menunjukan pada analisis bivariat didapatkan responden yang memiliki pengetahuan baik dan perilaku baik 65,6%, sedangkan yang memiliki pengetahuan kurang baik dan perilaku kurang baik 87,5% (r= 0,048, P<0,05). Pada variabel sikap, responden yang memiliki sikap positif dan perilaku baik 68,2%, sedangkan yang memiliki sikap negatif dan perilaku kurang baik 69,2% (r= 0,350, P<0,05).
Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan terdapat korelasi yang baik antara pengetahuan lesi prekanker serviks dengan rencana tes IVA oleh dokter umum di puskesmas Kabupaten Banyumas.
Backgroud: Cervical cancer is a cancer in a women reproductive organs. Nowadays it is estimated more than a million women in a worldwide are diagnosed with cervical cancer. It is important to get an early detection to reduce the morbidity and mortality of cervical cancer in women. Primary doctor in Indonesia has a role and function as a primary care physician and a gate keeper. One of their competences is early detection on cervical cancer with IVA test examination. The late diagnose of cervical cancer can be influenced by the many knowldge of cervical cancer in the early detection with IVA test examination from the primary care level.
Objective: This study was to determine the correlation between knowledge of precancerous lesions of the cervix with IVA test plan by a primary doctor at puskesmas kabupaten Banyumas
Method: The study method used analytical observational with a cross-sectional approach. This study used total sampling technique. Number of samples was 69 doctors in all of the primary health centers kabupaten Banyumas 2015 and aged from 20 unti l60 years old. The source of data obtained from the questionnaire.
Result: The statistical analysis used as Spearman's test. The analysis showed a strong correlation between knowledge of precancerous lesions of the cervix with IVA test plan by a primary doctor at the primary health center kabupaten Banyumas with p <0.05 (p = 0.000) and had a strong relation of the relationship (correlation coefficient 0.658).

Conclusion: Based on these result, we can conclude there is a good correlation between knowledge of precancerous lesions of the cervix with IVA test plan by a primary doctor at the primary health center kabupaten Banyumas.
Key words: knowledge, primary doctor, cervical cancer, IVA test
391913733F1D011035RELASI NAHDLATUL ULAMA DENGAN PEMERINTAH DALAM DINAMIKA PERATURAN DAERAH TENTANG TATA NILAI KEHIDUPAN BERMASYARAKAT YANG RELIGIUS DI KOTA TASIKMALAYAPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan relasi masyarakat sipil dan negara pada kancah politik lokal. Masyarakat sipil merupakan bagian dari suatu negara yang mempunyai konsepsi dan fungsi mengorientasi pada kemajuan dan kesejahteraan masyarakat yang hakekatnya berupaya untuk mempengaruhi kebijakan bukan untuk ikut terlibat merebut kekuasaan politik formal. Penelitian berfokus pada Relasi NU dengan Pemerintah dalam Dinamika Peraturan Daerah tentang tata nilai kehidupan bermasyarakat yang religius di Kota Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang menggunakan pengalaman hidup dari sebagai alat untuk memahami secara lebih baik tentang sosial budaya, politik atau konteks sejarah pengalaman itu terjadi.
Relasi NU dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam dinamika perda tentang tata nilai kehidupan bermasyarakat yang religius dijelaskan dengan tiga (3) aspek yaitu pertama, posisi dan peran pemerintah dalam membuat regulasi dari perda tata nilai berlandaskan ajaran Agama Islam kemudian direvisi menjadi tata nilai kehidupan yang religius. Kedua Upaya dan Hasil NU dalam mengkritisi perda tata nilai yang terjadi penyimpangan dari prinsip demokrasi, HAM, dan kaidah pembuatan perundang-undangan serta terlalu bias dan ambigu yang akan menjadikan multitafsir dalam implementasinya. Ketiga, orientasi NU dalam mengkritisi perda yang didasarkan pada pluralitas masyarakat, ideologi NU serta kepentingan politik antara NU dan Pemerintah. Faktor-faktor yang mendukung adalah kedekatan NU dengan Pemerintah baik secara struktral, kultural maupun politis, keterbukaan pemerintah, jumlah masa NU. Sedangkan yang menjadi penghambat adalah Materi perda yang terlalu tekstual, pro kontra dikalangan NU, kurang loyalitas kader NU, kurang wawasan warga nahdliyin dan pengaruh partai terhadap Pemerintah.
This study aims to describe the relationship of civil society and the state on the local political scene. Civil society is part of a country that has the conception and function orient the progress and prosperity of society which essentially seeks to influence policy not to get involved formal political power. NU research focuses on relations with the Government in the Dynamics of Regional Regulation on the values of religious community life in the city of Tasikmalaya. The method used is qualitative with phenomenological approach that uses life experiences of as a tool for better understanding of the social, cultural, political or historical context that experience happen.
Relation NU with the City of Tasikmalaya in the dynamic regulation of the values of social life that is religious is described by three (3) aspects: first, the position and role of the government in making the regulation of regulation values based on the teachings of Islam then revised to the values of religious life. Both efforts and results of NU in criticizing the regulation values that any deviation from the principles of democracy, human rights, and rule-making legislation and too biased and ambiguous that will make multiple interpretations in its implementation. Third, NU orientation in criticizing the regulations that are based on the plurality of society, NU ideology and political interests between the NU and the Government. Factors that support is the closeness NU with either strukturally Government, culturally and politically, the openness of the government, the amount of time NU. While the obstacle is too textual material regulations, the pros and cons among NU, NU cadres lack of loyalty, lack insights Nahdliyin and party influence on the Government.
392013741G1A012015Identifikasi Faktor Risiko Kematian Ibu Preeklamsia/Eklamsia di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Tahun 2012-2014Latar Belakang: Maternal Mortality Rate di Indonesia masih cukuptinggi, sekitar 190/100,000 kelahiran hidup di tahun 2013. Salah satu penyebab kematian maternal adalah preeklamsia/eklamsia. Prevalensi preeklamsia di margono sekitar 10,23% dari seluruh persalinan. Hal ini menjadi masalah utama karena preeklamsia mempunyai banyak faktor risiko yang dapat menyebabkan kematian ibu. Kami berasumsi bahwa faktor risiko tersebut berpengaruh terhadap insidens kematian ibu.
Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh faktor risiko maternal terhadap kejadian kematian ibu preeklamsia/eklamsia di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.
Metode: Penelitian ini menggunakan studi observasional analisis dengan pendekatan case control, melibatkan ibu preeklamsia/eklamsia yang datang dan dirawat di rumah sakit margono dari 1 januari 2012-31 desember 2014. Total wanita preeklamsia/eklamsia sebesar 108 kasus, dengan 36 kematian ibu sebagai kelompok kasus dan 72 ibu selamat sebagai kelompok kontrol. Variabel penelitian berupa usia, paritas, indeks massa tubuh, kehamilan ganda, riwayat hipertensi, riwayat DM dan riwayat ANC. Variabel terikat berupa kematian ibu.
Hasil: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara usia ibu <20 tahun (OR 1,296, p=0,507), usia ibu 35-40 tahun (OR 1,2, p=0,493), usia ibu >40 tahun (OR 1,62, p=0,411), primiparitas (OR 1, p= 0,589), gemeli(OR 3,234, p=0,055), overweight/obesitas (OR 2,918, p=0,282), riwayat hipertensi (OR 1,311, p=0,608), riwayat DM (OR 0,277, p=0,189) dan riwayat ANC teratur (OR 1,399, p=0,345).
Kesimpulan: Tidak ada variabel faktor risiko yang signifikan terhadap kematian ibu preeklamsia/eklamsia di RSUD Margono Soekarjo tahun 2012-2014
INTRODUCTION: Maternal Mortality Rate in Indonesia is still fairly high, around 190/100,000 live birth in 2013. One of the cause of maternal death is preeclampsia/eclampsia. The prevalence of preeclamsia In Margono Hospital is about 10.23% of all existing labors. This has became a main problem because preclampsia have multiple risk factors which can cause maternal death. We’re assuming that these risk factors are affecting the incidence of maternal death.
OBJECTIVES: To determine the influence of maternal risk factors on the incidence of maternal death due to preeclampsia/eclampsia in Prof. Dr. Margono Soekarjo hospital.
METHODS: This research used the observational analytic design with case control, which implicated women with preeclampsia/eclamptic who came and was admitted to Margono hospital from January 1st 2012 until December 31st 2014. Total of preeclampsia/eclamsia women was amounted to 108 cases, with 36 maternal deaths on the case group and 72 maternal survivals on control group. The independent variables included maternal age, parity, body mass index, multiple pregnancy, history of hipertensy, history of diabetes, and history of ANC. Dependent variable was maternal death.
RESULTS: There weren’t any significant association between maternal age <20 (RO 1,296, p=0,507), maternal age 35-40 years old (OR 1,2, p=0,493), maternal age >40 (OR 1,62, p=0,411), primiparity (OR 1, p= 0,589), multiple pregnancy (OR 3,234, p=0,055), overweight/obese (OR 2,918, p=0,282), history of hypertension (OR 1,311, p=0,608), History of diabetes (OR 0,277, p=0,189) dan history of ANC (OR 1,399, p=0,345).
CONCLUSION: There weren’t any significant independent variables to maternal death of preeclaptic/eclamptic women in Margono Soekarjo Hospital in 2012-2014