Artikelilmiahs

Menampilkan 3.881-3.900 dari 48.756 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
388113704G1A012141Pengaruh Ekstrak Methanol Daging Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl dan Metformin terhadap Gambaran Histologi Tubulus Proksimal Ginjal
Studi pada Tikus Model Diabetes Melitus Tipe-2
Prevalensi diabetes melitus (DM) tipe-2 di Indonesia semakin meningkat. Hiperglikemia pada DM menginduksi peningkatan ROS dan menyebabkan glukotoksisitas pada sel tubulus ginjal. Kondisi tersebut mengakibatkan atrofi sel tubulus proksimal ginjal. Mahkota dewa diketahui memiliki efek antihiperglikemia dan antioksidan yang dapat memperbaiki gambaran atrofi tubulus proksimal ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak methanol daging mahkota dewa dan metformin terhadap gambaran tubulus proksimal ginjal pada tikus model DM tipe-2. Tiga puluh ekor tikus putih galur Sprague Dawley dibagi ke dalam enam kelompok yaitu: kelompok A (kontrol sehat), kelompok B (kontrol sakit), kelompok C, D, E (tikus diabetik+ekstrak methanol mahkota dewa 200 mg/kgBB, 250 mg/kgBB, 300 mg/kgBB), dan kelompok F (tikus diabetik+metformin 150 mg/kgBB). Perlakuan dilakukan selama 21 hari. Hari ke-22 tikus diterminasi dan diambil ginjalnya kemudian dibuat sediaan dengan pewarnaan Periodic Acid Schiff. Pengamatan atrofi tubulus proksimal ginjal dilakukan dengan memilih 10 tubulus secara acak dan dihitung dalam 5 lapang pandang. Atrofi tubulus diklasifikasikan berdasarkan kriteria skoring 0-4 dimana 0 = 0%, 1= <10%, 2 = 10%-25%, 3 = 26%-50%, 4 = >50%. Uji Kruskall-Wallis menunjukkan terdapat perbedaan bermakna skor atrofi tubulus proksimal ginjal pada minimal 2 kelompok perlakuan dengan nilai (p=0,001). Dilanjutkan uji Mann-Whitnney yang menunjukkan hasil signifikan pada kelompok A dengan B (p=0,016), B dengan C (p=0,029), B dengan E (p=0,016), B dengan F (p=0,029) dan tidak signifikan pada kelompok C dengan D (0,686), D dengan E (p=0,190), E dengan F (p=0,556). Hasil penelitian menunjukkan dosis mahkota dewa 250 mg/kgBB dan metformin 150 mg/kgBB memiliki skor rerata atrofi tubulus proksimal yang sama sebesar (1,75±0,5).
The prevalence of type 2 Diabetes mellitus (DM) in Indonesia continues to increase. Hyperglycemia in DM induces the increase of reactive oxygen species (ROS) causing glucotoxicity to renal proximal tubular cells atrophy. Mahkota Dewa known for having antihyperglycemia and antioxidant effect which decrease renal proximal tubular cells atrophy. The purpose of this study is to investigate the effect of methanol extract of mahkota dewa and metformin on renal proximal tubules histogical changes in type 2 DM rat models. Thirty albino rats were divided into 6 groups. Group A (healthy control), group B (diabetic control), group C (MD 200 mg/kgBW/day), group D (MD 250 mg/kgBW/day), group E (MD 300 mg/kgBW/day), and group F (metformin 150 mg/kgBW/day). All of the rats were treated using aquades, metformin, and mahkota dewa methanol extract for 21 days. Termination was done at the 22nd day to take the kidney for renal histological staining using Periodic Acid Schiff. Renal proximal tubular atrophy observation was done by choosing 10 tubules randomly in 5 fields of view. Tubular atrophy was classified by score 0-4: 0 = 0%, 1= <10%, 2 = 10%-25%, 3 = 26%-50%, 4 = >50%. Kruskall-Wallis test result was significant (p=0,001) which means there were differences in mean of tubular atrophy scores in 2 groups minimum. Post hoc test Mann-Whitney result was significant: group A and B (p=0,016), B and C (p=0,029), B and E (p=0,016), B and F (p=0,029) and not significant in group C and D (0,686), D and E (p=0,190), E and F (p=0,556). The result of this study showed methanol extract of mahkota dewa 250mg/kgBW/day and metformin 150mg/kgBW/day had the same mean of tubular atrophy score (1,75±0,5).

388213705G1G010021Ekspresi p27 pada Ameloblastoma tipe Folikular dan tipe PleksiformAmeloblastoma adalah tumor odontogenik yang sering ditemukan secara klinis. Tumor ini memiliki ciri khusus sebagai tumor jinak namun bersifat invasif lokal, dan memiliki kemampuan untuk bermetastasis. Protein p27 adalah gen yang bekerja mengontrol siklus sel pada fase transisi G1-S. Pada suatu tumor, penurunan ekspresi p27 ini terbukti berhubungan dengan progresifitas dari suatu tumor. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan ekspresi p27 pada ameloblastoma tipe folikular dan pleksiform. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan subjek penelitian sebanyak 11 sampel ameloblastoma tipe folikular, 11 sampel ameloblastoma tipe pleksiform, dan 3 sampel untuk kelompok kontrol. Dilakukan pengecatan imunohistokimia pada kelompok ameloblastoma tipe folikular, pleksiform, dan kontrol dengan lyophilized mouse monoclonal antibody p27 protein. Hasil ini diinterpretasikan dengan menggunakan allread score. Analisis statistik yang digunakan adalah uji normalitas mengunakan uji saphiro-wilk dan uji beda data ekspresi p27 menggunakan uji krusskal wallis dan untuk mengetahui perbedaan ekspresi p27 antara kelompok menggunakan uji mann-whitney. Hasil uji statistik didapat rerata nilai ekspresi p27 pada kelompok kontrol normal 6,33 ± 0,57, pada ameloblastoma tipe folikular 3,18 ± 2,31, tipe pleksiform 4,45 ± 1,91. Hasil uji kruskal wallis didapat perbedaan antara ekspresi p27 pada kelompok kontrol normal, ameloblastoma tipe folikular, dan tipe pleksiform (sig=0,02, p<0,05). Uji mann-whitney menunjukkan ada perbedaan ekspresi p27 antara kelompok kontrol dengan kelompok ameloblastoma tipe folikular (sig=0,014, p<0,05), terdapat perbedaan ekspresi p27 antara kelompok kontrol dengan kelompok ameloblastoma tipe pleksiform (sig=0,042, p<0,05), serta tidak ada perbedaan bermakna ekspresi p27 antara kelompok ameloblastoma tipe folikular dengan ameloblastoma tipe pleksiform (sig=0,147, p<0,05). Ameloblastoma is clinically considered to be the most common odontogenic tumor. It has a characteristic as a benign tumor, but it is locally-invasive, with reported metastases cases. Protein p27 is a gene that works as a cell cycle controller in a transtition phase of G1-S. Reduced p27 expression was reported to be associated with the progression of the tumor. The aim of the study was to describe the p27 expression in follicular and plexiform type ameloblastoma. The analytical-description method was implemented to 11 cases of follicular ameloblastoma, 11 cases of plexiform ameloblastoma and 3 cases as control group. Immunohistochemical staining was implemented to all groups using lyophilized mouse monoclonal antibody p27 protein. The results were interpreted using Alrread Score. Statistical tests including saphiro-wilk (normality test), and kruskal wallis (difference significance test) followed by mann-whitney test were used to analyze the data. The mean p27 expression in control group 6,33 ± 0,57, follicular type ameloblastoma was 3,18 ± 2,31, in plexiform type ameloblastoma was 4,45 ± 1,91. kruskal wallis revealed that there was a significant difference between the control group, follicular and plexiform (sig=0,02, p<0,05). mann-whitney revealed that there were significant differences between the p27 expression in control group and follicular group (sig=0,014, p<0,05) and between the control and plexiform group (sig=0,042, p<0,05). There wasn’t a significant difference between follicular and plexiform group (sig=0,147, p<0,05).
388313708C1C011108Pengaruh Penerapan Good Governance, Sistem Pengendalian Intern, Pemanfaatan Teknologi Informasi, dan Standar Akuntansi Pemerintahan Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten BanyumasPenelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode survei dengan tujuan untuk menguji pengaruh penerapan good governance, sistem pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi, dan standar akuntansi pemerintahan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah Kabupaten Banyumas.
Populasi penelitian adalah seluruh Pejabat Penatausahaan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (PPK-SKPD) dan Auditor Inspektorat Kabupaten Banyumas. Responden penelitian ini adalah 24 PPK-SKPD dan 29 Auditor Inspektorat. Data diolah dengan analisis regresi berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa good governance, sistem pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi, dan standar akuntansi pemerintahan (secara simultan) berpengaruh (signifikan) terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Good governance, sistem pengendalian intern dan pemanfaatan teknologi informasi secara parsial berpengaruh (signifikan) terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah sedangkan standar akuntansi pemerintahan berpengaruh (tidak signifikan) terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Pemanfaatan teknologi informasi merupakan variabel yang berpengaruh paling dominan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Kualitas informasi laporan keuangan pemerintah daerah dapat ditingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan teknis tentang standar akuntansi pemerintahan serta peningkatan pembinaan sumber daya manusia melalui pemberian pemahaman tentang tugas dan fungsi Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP).
This research is a descriptive quantitative research by survey methods aims to test the influence of the implementation of good governance, internal control systems, information technology utilization, and standar akuntansi pemerintahan towards the quality of Banyumas Regency’s local government financial statement.
The research population is all the working units of local financial administration (PPK – SKPD) and Auditor of Inspektorat Kabupaten Banyumas. 24 PPK – SKPD and 29 Auditors are the respondents of this research. Data processing uses multiple regression analysis.
Result of the research shows that good governance, internal control systems, information technology utilization, and standar akuntansi pemerintahan (simultanously) affect (significantly) to the local government financial statement quality. Partially, good governance, internal control systems, information technology utilization affects (significantly) to the local government financial statement quality. Meanwhile, standar akuntansi pemerintah affect (not significant) to the quality of local government financial statement. Information techonology utilization as a variable gives a dominant influence to the local government financial statement quality. Its quality can be increased through education and technical training about standar akuntansi pemerintahan, and also through the improvement of human resource department in understanding provision on duties and functions of Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP).
388413709H1L010051RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PENGELOLAAN KEBUTUHAN BAHAN MAKANAN BERBASIS WEB (STUDI KASUS PADA INSTALASI GIZI RSUD BANYUMAS)Sistem informasi pengelolaan kebutuhan bahan makanan merupakan sebuah sistem yang dibangun dengan tujuan untuk mempermudah Unit Perencanaan Instalasi Gizi RSUD Banyumas dalam proses pengelolaan kegiatan perencanaan kebutuhan makanan. Sistem ini dirancang dan dibangun sebagai sarana untuk menampung data, informasi serta proses yang berhubungan dengan kegiatan perencanaan kebutuhan makanan. Sistem informasi ini dibangun dengan menggunakan metode pengembangan RAD (Rapid Application Development) dan codeigniter framework. Adapun proses-proses yang terdapat dalam sistem ini meliputi pengelolaan data bahan makanan dan data menu makanan, pengelolaan data siklus menu makanan, pengelolaan data permintaan makanan, dan pengelolaan rekap perencanaan kebutuhan makanan.
Food-stuff requirement web based management information system is a system that aimed to help Banyumas Public Hospital Planning Nutritionist in food-stuff requirement management process. This system was designed and implemented as application in data and information management which relate with food-stuff requirement process. This information system was developed with RAD (Rapid Application Development) method and codeigniter framework. Some processes which have in this system are food-stuff management, food-diet management, food-cycle management, food-request management, and food-stuff requirement planning recapitulation.
388513711C1C011052AUDIT JUDGEMENT DALAM PELAKSANAAN AUDIT OLEH INSPEKTORAT KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan menganalisis dan mendeskripsikan hubungan antara perilaku etis, efikasi diri, tekanan ketaatan, kompleksitas tugas dan audit judgement yang dibuat auditor. Sampel dipilih menggunakan metode sensus dimana seluruh populasi dijadikan sampel. Data dikumpulkan dengan kuesioner yang dibagikan kepada 33 auditor yang bekerja di Inspektorat Kabupaten Banyumas. Analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda dan hasilnya menunjukkan bahwa (1) perilaku etis, efikasi diri, tekanan ketaatan, dan kompleksitas tugas berpengaruh secara simultan terhadap audit judgement; (2) perilaku etis, efikasi diri, dan kompleksitas tugas berpengaruh parsial terhadap audit judgement, namun tekanan ketaatan tidak berpengaruh signifikan terhadap audit judgement dan efikasi diri memiliki pengaruh dominan terhadap audit judgement.This study aimes to analyze and to describe the relationship between ethical behavior, self efficacy, obedience pressure, task complexity, and audit judgement was taken by auditor. Sample was selected using sensus sampling method that all sample were being population. Data were obtained by distributing questionaires to 33 auditors who took duty on Inspektorat Kabupaten Banyumas. Multiple regression analysis was used in this study and the result shows that (1) ethical behavior, self efficacy, obedience pressure, and task complexity influence simultaneously to audit judgement; (2) ethical behavior, self efficacy, and task complexity partially have significant influence to audit judgement, but obedience pressure didn’t influence significantly to audit judgement and self efficacy has the most dominant influence to audit judgement.
388613712H1F011032Studi Endapan Paleotsunami Pada Perairan Teluk Lampung Berdasarkan Pendekatan PalinologiLokasi daerah penelitian secara geografis terletak pada 5°30′23′′ S dan 105°19′28′′ T dan secara administratif berada di daerah Tarahan Lampung. Teluk Lampung merupakan tempat mengendapnya sedimen dari daratan di sekitarnya, juga sebagai terendapnya hasil erupsi dari letusan Krakatau 1883. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pada daerah ini pernah terjadi tsunami besar atau tidak, serta bagaimana proses yang terjadi dengan berdasarkan analisis palinologi dan data pendukung lain. Berdasarkan stratigrafi regional (Mangga, et al., 1993), daerah penelitian termasuk ke dalam satuan Aluvial (Qa). Metode yang digunakan dalam pengambilan conto sedimen yaitu gravity core. Daerah penelitian tersusun oleh 4 unit sedimen, antara lain Lempung A, Pasir, Lempung B dan Lempung C dilihat pada stratigrafi pada inti pemboran dengan nomor conto SSL49. Sedimen pada inti bor mengandung beragam polen dan spora yang terdiri dari 59 spesies, dimana masing-masing conto berasal dari kedalaman 0,5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, 40 dan 45 cm. Dari seluruh individu yang didapat dari sepuluh conto tersebut dibagi menjadi tiga zona polen yaitu zona polen 1, zona polen 2 dan zona polen 3. Zona polen dibagi berdasarkan kelimpahan polen pada masing-masing ekologi. Dari analisis yang ada diinterpretasikan bahwa sedimen pada kedalaman 10-27 cm (endapan lempung B) merupakan endapan yang terjadi karena proses tsunami. Hal ini dapat dilihat dari karakteristik endapan yang terdiri dari campuran berbagai material sedimen dan material organik serta perubahan persentase polen secara signifikan.The location of the study area is geographically located at 5° 30'23" S and 105° 19'28"E and administratively was in the Tarahan Lampung area. Lampung bay is the spot of sediment deposit from land around lampung bay, and also product of Krakatoa 1883 eruption . The purpose of this research was to determine whether in lampung bay ever happen tsunami or not, and how the process that occurs based on palynology analysis and sedimentology analysis. Based on regional stratigraphy (Mangga, et al, 1993), the research are belongs to alluvial unit (Qa). Method used for sediment sampling is gravity cores. Research area is consist of 4 sediment units, that is Clay A, Sand, Clay B and Clay C refer to the stratigraphy from gravity core sample SSL49. Sediment containing variety of pollen consists of 59 species, each of them comes from depth 0, 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, 40 and 45 cm. All of the individuals were found is divided into three polen zones : pollen zones 1, pollen zones 2 and pollen zones 3. Pollen zones were divided based on the abundance of pollen from different ecology. From the analysis, we can interpretated that sediment unit from depth 10-27 cm (Clay B deposit) is tsunami deposit, It can be seen from the characteristics of sediment that consists of a mixture of sediment and organic material, as well as decreasing the frequency of pollen which then rises significantly.
388713713C1C011094IMPLEMENTASI TATA PAMONG, KEPEMIMPINAN, SISTEM PENGELOLAAN, DAN PENJAMINAN MUTU TERHADAP KUALITAS PENDIDIKAN AKUNTANSI
(Studi Kasus pada Jurusan Akuntansi Universitas Jenderal Soedirman)
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu terhadap kualitas pendidikan akuntansi. Penelitian ini adalah studi kasus pada Jurusan Akuntansi Universitas Jenderal Soedirman. Jenis penelitian ini digolongkan pada penelitian kualitatif. Hasil analisis data berdasarkan analisis SWOT dan force field menunjukkan bahwa tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu mempengaruhi kualitas pendidikan akuntansi serta sesuai dengan standar BAN-PT. Oleh karena itu, kualitas pendidikan dapat ditingkatkan dengan meningkatkan pemahaman civitas akademika mengenai tugas dan wewenang masing-masing, mengutamakan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi, meningkatkan kerja sama dengan pihak internal maupun eksternal dan melakukan evaluasi secara berkala. Dengan terus memperhatikan dan meningkatkan kualitas dari salah satu standar yang ditetapkan oleh BAN-PT dapat menjadikan kualitas Prodi Akuntansi Universitas Jenderal Soedirman menjadi semakin baik dan mumpuni. Sehingga akreditasi yang diterima Prodi Akuntansi sebelumnya dapat dipertahankan hingga masa depan.The aim of this research is to determine the impact of governance, leadership, management systems, and quality assurance of the accounting education quality.This research is a case study in Jenderal Soedirman University accounting majors. This type of research is qualitative research. Using SWOT and force field analysis, the result shows that the governance, leadership, management systems and quality assurance affect the quality of accounting education and it is consistent with the standards of BAN-PT. Therefore, the quality of education can be improved by increasing the understanding the responsibility of each academic community, putting the interests of the community above personal interests, increasing the cooperation and relation with both internal and external parties, and conduct evaluation regularly. Continuing to pay attention to and improve the quality of the standards set by BAN-PT can improve the quality of Accounting Department Jenderal Soedirman University. So that the accreditation received in previous Accounting Department will be maintained into the future.
388813714A1H011071UJI PERFORMANSI PROTOTIPE MESIN PENYOSOH KACANG KORO (Canavalia Ensiformis) TIPE TEP-17 DENGAN SINGLE SCREW UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PENYOSOHANKacang koro (Canavalia ensiformis) memiliki kandungan gizi hampir sama dengan kedelai. Namun, pada proses pengolahan kacang koro khususnya proses penyosohan membutuhkan waktu yang lama. Prototipe mesin penyosoh kacang koro tipe TEP-17 dengan single screw merupakan mesin yang digunakan untuk efisiensi waktu penyosohan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui hasil sosohan dari prototipe mesin penyosoh kacang koro, 2) mengetahui kinerja prototipe mesin penyosoh kacang koro. Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahap pengujian yaitu: uji fungsional, uji keandalan, uji kinerja tanpa beban dan uji kinerja menggunakan beban. Hasil penelitian menunjukan bahwa uji fungsional dan uji keandalan dari prototipe mesin penyosoh kacang koro bekerja sesuai dengan fungsinya ketika dioperasikan selama periode waktu tertentu. Uji kinerja tanpa beban dengan menggunakan pully 6 inch menghasilkan putaran poros penyosoh 1008,97 rpm, pully 12 inch menghasilkan putaran poros penyosoh 506 rpm. Uji kinerja selama 1 menit menggunakan beban dengan pully 6 inch (putaran poros penyosoh 990,87 rpm) menghasilkan rata-rata biji tersosoh sempurna 0, 345 kg, biji tersosoh rusak 1,356 kg dan biji tidak tersosoh 0,198 kg. Sedangkan, pully 12 inch (putaran poros penyosoh 497,37 rpm) menghasilkan rata-rata biji tersosoh sempurna 1,211 kg, biji tersosoh rusak 1,025 kg dan biji tidak tersosoh 0,713 kg. Rata-rata rendemen kacang koro setelah penyosohan adalah 60,28% menggunakan pully 6 inch dan 53,76% menggunakan pully 12 inch. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa sosohan terbaik menggunakan pully 12 inch 55,12% kacang tersosoh sempurna.The nutrient content of Koro bean (Canavalia ensiformis) is almost same as the nutrision of soybean. However, the processing of Koro bean especially hulling process requires a lot of time. The prototype machine of hulling Koro bean Type-17 with a single screw is a machine used for milling time efficiency. This research is aimed to 1). know the results of the Koro bean prototype machine, and 2). determine the performance of the machine prototype machine of hulling koro bean. The research was conducted of several testing stages. Thus, there were functional testing, reliability testing, performance testing without a load and performance testing using weights. The result of this resaerch showed that the functional testing and the reliability of the prototype machine of hulling Koro bean testing worked appropriate to the function when its operated during a specific period. Thus, the performance testing without a load has performance test using a 6-inch pulley shaft rotation hulling produce 1008.97 rpm, pully 12 inch generate hulling 506 rpm shaft rotation. Furthermore, test performance for 1 minute using a load with a pulley 6 inch (990.87 hulling shaft rotation rpm) produced an average grain perfect hulling 0, 345 kg, 1,356 kg broken hulling bean and bean did not hulling 0.198 kg. Meanwhile, pully 12 inch (497.37 hulling shaft rotation rpm) produced an average of 1,211 kg of seeds perfect hulling, broken bean iterhulling 1,025kg and seeds not hulling 0.713 kg. The average yield of koro bean after hulling proces was 60.28% using a pully 6 inch and 53.76% using a pully 12 inch. Indeed, based on data, the researcher concluded that the best hulling using a pully 12 inch perfect hulling 55.12% beans.
388913715A1H011083KARAKTERISTIK OPTIK BIJI JAGUNG (Zea mays) TUNGGAL
PADA BERBAGAI KADAR AIR .
Jagung (Zea mays) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Tujuan dari penelitian ini, yaitu: Mengetahui karakteristik optik (reflektansi) biji jagung utuh, rusak dan terkontaminasi pada berbagai kadar air dan menentukan persamaan matematis hubungan antara karakteristik optik (reflektansi) dengan kadar air biji jagung utuh, rusak dan terkontaminasi. Pengukuran karakteristik optik (reflektansi) dilakukan menggunakan 40 sensor LDR yang diintegrasikan dalam integrating sphere. Karakteristik optik adalah perilaku biji jagung dalam memantulkan cahaya 650 nm, 532 nm dan cahaya bright white yang dijatuhkan pada permukaannya. Cahaya yang dipantulkan oleh biji jagung ditangkap oleh sensor LDR dan intensitas cahaya pantulan dinyatakan dengan tahanan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa sensor memiliki hubungan erat antara resistansi LDR dengan kadar air jagung. Hubungan erat terlihat sangat jelas pada jagung dengan perlakuan terkontaminasi menggunakan sumber cahaya 650 nm dan 532 nm. Untuk perlakuan utuh, hubungan yang erat terjadi pada sumber cahaya 532 nm dan cahaya bright white, sedangkan untuk perlakuan rusak yang paling baik adalah menggunakan cahaya 650 nm dan cahaya bright white.Corn (Zea mays) is one food crops the world most importantly, wheat and rice besides. As the main carbohydrate source in Central and South America, corn has also become an alternative source of food in the United States. Residents of some regions in Indonesia ( eg in Madura and Nusa Tenggara ) using maize as a staple food. The purpose of this study, namely: to know the characteristics of the optical (reflectance) seeds corn intact, damaged and contaminated on different levels of watercontent and determine the mathematical equation of relationship between the optical characteristics (reflectance) with a moisture content of corn intact, damaged and contaminated. The measurement of characteristic optical (reflectance) carried out using 40 sensors LDR which integrated into the integrating sphere. Optical characteristics is the behavior of seed corn in the reflected light of 650 nm, 532 nm and a bright white light that was dropped on the surface. Reflected by seed corn captured by the sensor LDR and intensity of reflected light expressed with prisoners. The result of this research shows that some sensors has strong relationships between resistance LDR in the mouisture content corn. The close relationship is clearly evident in corn with contaminated treatment using the source of light 650 nm and 532 nm. To treatment whole, a close relation happened to the source of light 532 nm and light bright white, while for treatment damaged the best kind is uses light 650 nm and light bright white.
389013717D1E011109PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L) PADA PEMBUATAN TELUR ASIN TERHADAP KADAR GARAM, ASAM LEMAK BEBAS (FFA) DAN KESUKAANPenelitian yang dilakukan secara eksperimental ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kosentrasi ekstrak kulit manggis pada pembuatan telur asin terhadap kadar garam, asam lemak bebas dan kesukaan. Peubah yang diukur adalah kadar garam, asam lemak bebas, dan kesukaan. Rancangan percobaan yang digunakan dalam pengujian kadar garam dan asam lemak bebas adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, dan telur itik yang dipakai sebanyak 150 butir, serta pengujian kesukaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 25 orang panelis. Perlakuan yang diuji adalah sebagai berikut: R0 ( Larutan dengan 0% ekstrak kulit manggis), R1 (Larutan dengan 10% ekstrak kulit manggis), R2 (Larutan dengan 20% ekstrak kulit manggis) dan R3 (Larutan dengan 30% ekstrak kulit manggis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kosentrasi ekstrak kulit manggis yang berbeda pada pembuatan telur asin berpengaruh sangat nyata (P<0,1) terhadap kadar garam. Kosentrasi ekstrak kulit manggis yang berbeda pada pembuatan telur asin berpengaruh tidak nyata (P>0,5) terhadap asam lemak bebas (FFA) dan kesukaan. Kesimpulan dari penelitian adalah Penggunaan ekstrak kulit manggis dalam pembuatan telur asin dapat menurunkan kadar garam telur asin tetapi kadar asam lemak bebas dan kesukaan relatif sama.This experimental research aims to evaluate the effects of the concentration of mangosteen peel extract in making salted eggs on the eggs’ salinity, free fatty acids (FFA), and consumers’ preferences. The parameters measured are the egg’s salinity and free fatty acids (FFA) contents, as well as consumers’ preferences. The experimental design used in examining the levels of salt and the free fatty acids was the Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 5 replications, in which 150 duck eggs were being tested, while that used in measuring consumers’ preferences was the Randomized Block Design (RBD) with 25 panelists. The treatments were: R0 (solution with 0% of mangosteen peel extract, R1 (solution with 10% of mangosteen peel extract), R2 (solution with 20% of mangosteen peel extract), and R3 (solution with 30% of mangosteen peel extract). The results showed that the effect of using different concentration of the extract was highly significant (P<0.1) on the salinity, but not significant (P>0.5) on the free fatty acids (FFA) and consumers’ preferences. Therefore, this research concludes that the use of mangosteen peel extract in making salted eggs can reduce the salt content of salted eggs. However, the levels of the free fatty acids and consumers’ preference are relatively similar.
389113693F1B011040Kinerja Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Banyumas dalam Tindakan Preventif Pencegahan HIV/AIDS (Studi Kasus Pada Program “Aku Bangga Aku Tahu”)Tingginya kasus HIV/AIDS di Kabupaten Banyumas menempatkan Kabupaten Banyumas sebagai peringkat ketiga dengan kasus kumulatif terbanyak di Jawa Tengah. Di Kabupaten Banyumas sekitar 47,8 persen penderitanya berusia 25-34 tahun. Upaya dini untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS sangat diperlukan melalui tindakan preventif yakni salah satunya dengan program “Aku Bangga Aku Tahu” (ABAT). Program ABAT bertujuan meratakan pengetahuan yang benar dan komprehensif tentang HIV/AIDS. Target utamanya yaitu siswa-siswi SLTP dan SLTA. KPA Kabupaten Banyumas merupakan lembaga yang berperan dalam melaksanakan kepemimpinan, pengelolaan, dan koordinasi keterpaduan program penanggulangan HIV/AIDS.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja KPA Kabupaten Banyumas dalam melakukan tindakan preventif pencegahan HIV/AIDS melalui program ABAT. Pengukuran kinerja dilihat dari lima indikator yaitu; produktivitas, kualitas layanan, responsivitas, responsibilitas, dan akuntabilitas. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif deskriptif. Informan dalam penelitian ini dipilih melalui teknik purposive sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja KPA Kabupaten Banyumas dalam program ABAT masih kurang optimal. Kendala utamanya yaitu keterbatasan anggaran yang hanya berasal dari Kementerian Kesehatan dan APBD serta terbatasnya jumlah sumber daya manusia yang terlibat dalam program ABAT karena tidak sebanding dengan jumlah SLTP dan SLTA di Kabupaten Banyumas. Hal tersebut berpengaruh pada aspek produktivitas, kualitas layanan, dan responsivitas. Adapun untuk aspek responsibilitas dan akuntabilitas masih kurang baik karena koordinasi antara anggota KPA Kabupaten Banyumas yang terlibat dalam program ABAT, terutama Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan, belum berjalan dengan lancar. Masing-masing lembaga masih belum sepenuhnya bertanggung jawab sebagai bagian dari keanggotaan KPA Kabupaten Banyumas.

Kata kunci: Kinerja, Komisi Penanggulangan AIDS, HIV/AIDS, program ABAT, Kabupaten Banyumas
The high cases of HIV/AIDS in Banyumas Regency placed Banyumas Regency as the third-ranked regency with the most cumulative cases of HIV/AIDS in Central Java. Approximately, 47,8 percent of people with HIV/AIDS in Banyumas Regency aged 25-34 years old. An early effort to eradicate the spread of HIV/AIDS is indespansable through preventive actions, one of them is by “Aku Bangga Aku Tahu” program (ABAT). This program aimed to distribute a true and comprehensive knowledge about HIV/AIDS. The main target of ABAT program is junior and senior high school students. KPA Banyumas Regency is an organization which plays a role in implementing leadership, management, and integrated coordination of HIV/AIDS eradication programs.
This research aims to analyze the performance of KPA Banyumas Regency in preventive action to deter HIV/AIDS in Banyumas Regency through ABAT program. The performance measurement is viewed by five indicators; productivity, service quality, responsiveness, responsibility, and accountability. This research used descriptive qualitative method. To choose the informants, this research was using purposive sampling technique.
The result showed that the performance from KPA Banyumas Regency in ABAT program is still not good enough. The main obstacles in implementing ABAT program are the limited budget from Ministry of Health and local government’s budget, and the limited number of human resources who involved in ABAT program because it’s not comparable to the number of junior and senior high school in Banyumas Regency. Those obstcales affected the productivity, service quality, and responsiveness. Meanwhile, the responsibility and accountability are not good enough because the coordination between the member of KPA Banyumas Regency who involved in ABAT program, especially Health Office and Education Office hasn’t worked smoothly. Each institution hasn’t been fully responsible as a member of KPA Banyumas Regency.

Keywords: Performance, AIDS Eradication Comission, HIV/AIDS, ABAT Program, Banyumas Regency
389213718B1J009126HUBUNGAN IKAN INTRODUKSI IKAN SAPU-SAPU DENGAN IKAN-IKANASLI BERSIFAT DEMERSAL DI SUNGAI BANJARAN DAN PELUSKABUPATEN BANYUMASDi Indonesia terdapat 20 spesies ikan introduksi salah satunya ikan sapu-sapu Pterygoplichthys pardalis (Loricariidae) sebagai ikan hias dengan habitat dibagian demersal sungai. Di bagian sungai ini dihuni pula oleh ikan asli dari famili Sisoridae, Mastacembelidae, Bagridae dan Clariidae. Dugaan penggunaan ruang hidup yang sama antara ikan introduksi dengan ikan asli akan menjadi persaingan dalam pemanfaatan ruang. Hal ini dapat pula terjadi di Sungai Banjaran dan Pelus yang melintasi pemukiman di kota Purwokerto. Biasanya ikan sapu-sapu masuk ke sungai karena lepas dari pemeliharaan ikan hias atau sengaja dibuang. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kelimpahan dan distribusi longitudinal ikan sapu-sapu, kekayaan dan kelimpahan komunitas ikan asli bersifat demersal, hubungan kelimpahan ikan sapu-sapu dengan komunitas ikan asli bersifat demersal, dan hubungan faktor fisik dan kimiawi perairan dengan populasi ikan sapu-sapu dan komunitas ikan-ikan demersal di Sungai Banjaran dan Pelus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik pengambilan sampel purposive random sampling. Sungai Banjaran dan Pelus masing-masing dibagi menjadi 5 stasiun berdasarkan perbedaan substrat sebagai habitat ikan demersal. Pengambilan sampel dilakukan dengan ulangan sebanyak 4 kali. Data dianalisa dengan uji t dan f, hubungan kelimpahan ikan sapu-sapu dengan ikan demersal dianalisis dengan uji korelasi dan hubungan parameter fisik serta kimiawi perairan terhadap ikan sapu-sapu dengan ikan asli demersal dianalisis menggunakan PCA. Pada penelitian ini ditemukan ikan sapu-sapu sebanyak 11 individu di Sungai Banjaran dan 7 individu di Sungai Pelus, kelimpahan ikan sapu-sapu dikedua sungai yang relatif sama (t 0,54). Hal ini didukung pula hasil analisis kelimpahan ikan sapu-sapu di Sungai Banjaran (F: 1,24) dan di Sungai Pelus (F: 0,63), ikan asli demersal yang ditemukan sebanyak ditemukan 4 spesies dari 4 famili di kedua Sungai yaitu Glyptothorax platypogon (Sisoridae), Macrognathus maculatus (Mastacembelidae), Mystus gulio (Bagridae) dan Clarias batrachus (Claridae). Kelimpahan ikan demersal dikedua sungai relatif sama (t 0,98), kelimpahan ikan demersal pada kelima stasiun di Sungai Banjaran relatif sama (F: 1,05) demikian pula di Sungai Pelus (F: 0,53). Koofiesien korelasi antara kelimpahan ikan sapu-sapu dengan dengan kelimpahan Mystus gulio (r: 0,410), dan dengan Clarias batrachus (r: -0,076), Glyptothorax platypogon (r: -0,141) dan Macrognathus maculatus (r: -0,149), hasil analisis PCA menunjukkan kelimpahan ikan sapu-sapu dikedua sungai lebih dipengaruhi oleh faktor kimiawi yaitu BOD sementara ikan asli yang bersifat demersal lebih dipengaruhi oleh faktor fisik yaitu TSS dan faktor kimiawi pH.In Indonesia there are 20 species of introduced fish such as Pterygoplichthys pardalis (Loricariidae) as an ornamental fish that have habitat in demersal part of river. This part is oocupied by indigenus fish such as Sisoridae family, Mastacembelidae, Bagridae and Clariidae. Both introduced and indigenus fish use the same space for living. It will lead to competition. This phenomena could be occure in Banjaran and Pelus Rivers. Ussualy introduced species accidentally or deliberately loose to the rivers. The purposes of this research were to determine the abundance and distribution of longitudinal P. pardalis, the richness and the abundance of indigenous demersal fish, to calculate the coofisient corelation between the abundances of P. pardalis and demersal fish, and determine affected environmental factors to the abundances of P. pardalis and demersal fish. Survey and purposive random sampling were used in this research. Banjaran and Pelus Rivers were devided in to 5 sites based on differences of substrates. The samplings were conducted with 4 replications. Data were analysis by t and f tests, relationships between the abundances of P. pardalis and demersal fish by calculated the coefisient corelation, and determine the affected environmental factors to the abundances P. pardalis and demersal fish with PCA. Eleven and seven individuals of P. pardalis were collected from Banjaran and Pelus Rivers. The abundances of this fish were relatively simillar in two rivers (t: 0,54), supporting by f test results of Banjaran River (F : 1.24) and Pelus River (F: 0.63). There are four species Glyptothorax platypogon (Sisoridae), Macrognathus maculatus (Mastacembelidae), Mystus gulio (Bagridae) and Clarias batrachus (Claridae) were recorded. The abundances of indigenous demersal fish in both rivers were relatively similar (t: 0.98) as well as the result of F test of Banjaran (F: 1.05) and Pelus Rivers (F: 0.53). The coofisient corelation between the abundances of P. pardalis and Mystus gulio (r: 0,141), Clarias batrachus (r: -0,076), Glyptothorax platypogon (r: -0,141) and with Macrognathus maculatus (r: -0,0149). The PCA determined that the abundances of P. pardalis in both rivers are more influented by BOD while indigenous demersal fish was affected more by environmental factors TSS and pH.
389313744A1M011058PEMBUATAN TIWUL INSTAN MENGGUNAKAN TEPUNG KORO PEDANG PRAGERMINASI SEBAGAI BAHAN SUBTITUSI TEPUNG UBI KAYU HASIL MODIFIKASI DAN BAHAN PENGENYAL KOMERSIAL FOOD GRADETiwul merupakan salah satu makanan tradisional yang berbahan baku ubi kayu. Penambahan tepung koro pedang pragerminasi ditujukan untuk meningkatkan kandungan protein tiwul. Masalah lain pada tiwul pada umumnya adalah teksturnya yang kurang kenyal. Tekstur tersebut dapat diperbaiki dengan penambahan bahan pengenyal komersial food grade. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan: 1) jenis tepung ubi kayu modifikasi yang lebih sesuai antara kimiawi dan mikrobiawi, 2) proporsi tepung ubi kayu modifikasi-tepung koro pedang pragerminasi-tapioka yang tepat, 3) penambahan bahan pengenyal komersial food grade yang tepat dan 4) menentukan kombinasi perlakuan terbaik yang menghasilkan tiwul instan yang memiliki sifat kimia dan sensori terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah tiwul instan perlakuan J2P3K3 (ubi kayu modifikasi mikrobiawi, proporsi berat tepung ubi kayu modifikasi-tepung koro pedang pragerminasi-tapioka 65:25:10 dan bahan pengenyal komersial food grade 1,0%). Produk memiliki koefisien rehidrasi 3,67%; kadar air 4,39% bb; kadar abu 0,97% bk (0,93% bb); nilai Formol 0,038 ml NaOH 0,1 N/g bk (0,036 ml NaOH 0,1 N/g bb); kadar lemak 0,72% bk (0,69% bb); kadar protein total 7,05% bk (6,73% bb); kadar karbohidrat by difference 91,25% bk (87,25% bb); warna kuning kecokelatan (3,35); rasa khas kacang agak terasa (3,03); flavor enak (2,73); tekstur kenyal (2,83) dan produk disukai (2,68).Tiwul is one of traditional foods made of cassava. The addition of pregerminated jack bean flour was conducted to improve the protein content of tiwul. The other problem in tiwul is generally of its texture less chewy. The texture can be improved by addition of food grade chewy agent. This research aimed to determine: 1) the suitable type of modified cassava flour (chemical, microbiological), 2) the best proportion of modified cassava flour-pregerminated jack bean flour-tapioca, and 3) the best addition of food grade chewy agent, also to 4) determine the treatment combination unit of instant tiwul produced which had the best chemical and sensory properties. The results showed that the best treatment was an instant tiwul of J2P3K3 (microbiologically modified cassava flour, the proportion of modified cassava flour-pregerminated jack bean flour-tapioca 65:25:10 and food grade chewy agent 1.0%). The product had rehydration coefficient of 3.67%; the water content of 4.39% db; ash content of 0.97% wb (0.93% db); Formol value of 0.038 ml NaOH 0.1 N/g wb (0.036 ml NaOH 0.1 N/g db); fat content of 0.72% wb (0.69% db); total protein content of 7.05% bk (6.73% db), carbohydrate by difference content of 91.25% wb (87.25% wb), tanned yellow color (3.35); slightly specific taste of beans (3.03); tasty flavor (2.73); chewy texture (2.83) and products favored (2.68).
389413719B1J009088PERKEMBANGAN SEL SPERMATOGENIK PADA INDUK IKAN NILEM (Osteochilus hasselti, C.V.) YANG DIBERI PAKAN BERBAHAN UTAMA KECAMBAH KEDELAIProduksi spermatozoa yang berkualitas dalam jumlah banyak merupakan salah satu faktor utama penentu keberhasilan reproduksi pada ikan. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan produksi spermatozoa melalui peningkatan aktivitas spermatogenesis terus dilakukan. Salah satu upaya ke arah tersebut adalah melalui pemberian nutrisi yang baik kepada induk yang akan dipijahkan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perkembangan spermatogenik pada induk ikan nilem yang diberi pakan berbahan utama kecambah kedelai dan mengetahui prosentase kadar protein pakan yang mampu meningkatkan perkembangan spermatogenik pada induk nilem (Osteochillus hasselti C.V.) pasca mijah Metode penelitian berupa ekperimental dengan rancangan percobaan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 4 perlakuan yaitu pemberian pakan dengan kadar protein nabati 37,5% (P1), 32,5% (P2), 27,5% (P3), dan 22,5% (P4). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Ikan uji dipelihara selama 8 minggu. Volume, motilitas dan jumlah sel spermatozoa per ml milt diamati pada minggu ke 2, 4, 6, dan 8 pasca mijah dan ikan dibedah pada minggu ke 8 pasca mijah guna mengamati gonado somatic index (GSI). Proporsi sel spermatogenik diamati dengan pembuatan preparat irisan histologi testis.
Hasil menunjukkan bahwa volume milt dan GSI pada induk ikan nilem pasca mijah menurun dengan pemberian pakan berprotein nabati (p<0,05). Pakan dengan kadar protein 22,5% mampu memberikan nilai rataan tertinggi pada motilitas milt dan GSI. Volume milt berasosiasi dengan konsentrasi spermatozoa (r=0,362; p=0,038). Pemberian pakan berprotein nabati meningkatkan perkembangan spermatogenik (p<0,05). Perkembangan spermatogenik pada induk ikan nilem pasca mijah meningkat dengan pemberian pakan berprotein nabati berbahan utama kecambah kedelai, namun hidrasinya terhambat. Kadar protein dalam pakan yang mampu meningkatkan perkembangan spermatogenik pada induk ikan nilem adalah 37,5% (P1). Namun yang menghasilkan outcome terbaik adalah pakan berprotein nabati 22,5% (P4).
Production of good quality sperm in large number is one of the main key factor for a successful reproduction in fish. Therefore many efforts are continuously conducted to increase sperm production by promoting spermatogenesis. One of such efforts is giving good quality of nutrition to the broodstok.
This study was aimed to evaluate the spermatogenic development in the hard-lipped barb broodstok fed with pellete containing soy sprouts meal as the main protein source and to determine the percentage protein capable of improving the spermatogenic development in post-spawning hard-lipped barb. This study was conducted experimentally using completely randomized design with 4 treatments: pellete with protein content of 37,5% (P1), 32,5% (P2), 27,5% (P3), and 22,5% (P4). Each treatment was repeated 6 times. The fish were reared for 8 weeks. The data consisted of milt volume, sperm motility and sperm number per ml milt were evaluated at 2, 4, 6, and 8 weeks post-spawning. The fish were sacrificed and dissected at 8th week to calculate the GSI and the proportion of spermatogenic cells of any developmental stages. The spermatogenic cell proportion was determined based on histological section.
The results showed that the treatments significantly decreased milt volume and GSI (p<0,05). Feed with protein content of 22,5% produced the highest motility and GSI. Milt volume was closely associated with sperm concentration (r= 0,362; p= 0,038). The tested feed significantly increased the development of spermatogenic cells (p<0,05). Testicular lobules containing sperm was higher in post-spawning broodstook fed by a higher proportion of soy sprouts protein, but hydration was inhibited. The protein content in the diet capable of improving the development of spermatogenic activities in broodstook was 37,5% (P1). But, the highest outcome was produced by the fish fed containing 22,5% protein (P4).
389513697F1F010021THE ANALYSIS OF GENDER DOMINANCE SPEECH AS REFLECTED BY MAIN CHARACTERS IN "THE PROPOSAL" MOVIEMajid, Ika Cholifah. 2015. The Analysis of Gender Dominance Speech as Reflected by Main Characters in “The Proposal” Movie. Pembimbing: Tuti Purwati, S.S., M.Pd., dan Asrofin Nur Kholifah, S.S., M.Hum. Penguji Eksternal: Erna Wardani, S.Pd., M.Hum. Program Studi Sastra Inggris. Jurusan Sastra Inggris. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Jenderal Soedirman. Tahun Akademik 2015/2016.
Penelitian yang berjudul “The Analysis of Gender Dominance Speech as Reflected by Main Characters in “The Proposal” Movie” bertujuan untuk menemukan fenomena strategi dominasi tuturan gender. Penelitian dilakukan dengan mendeskripsikan strategi-strategi dominasi tuturan gender yang digunakan oleh Margaret dan Andrew sebagai pemeran utama di film The Proposal. Penelitian ini juga dilakukan untuk menemukan tujuan-tujuan dari setiap strategi yang digunakan.
Teori dari Tannen tentang dominasi tuturan gender dipilih oleh peneliti untuk menjelaskan fenomena ini. Menurut Tannen, terdapat 5 strategi dan 2 tujuan dalam dominasi tuturan gender. Strategi-strategi tersebut adalah indirectness, interupption, silence, topic-rising, and adversativeness, serta tujuannya adalah untuk menunjukkan power atau solidarity. Adapun data dalam penelitian ini diambil dari tuturan para pemeran utama di film The Proposal. Kemudian, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mendiskusikan hasil penelitian. Hal ini disebabkan datanya dideskripsikan dalam bentuk tulisan dan dianalisis dengan turut melihat beragam konteks tuturannya.
Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 159 data mengenai strategi dominasi tuturan gender yang digunakan oleh para pemeran utama di film The Proposal. Strategi-strategi yang ditemukan adalah indirectness sebanyak 48 data, interruption sebanyak 18 data, silence sebanyak 11 data, topic- raising sebanyak 56 data, dan adversativeness sebanyak 26 data. Ditemukan pula tujuan-tujuan dari penggunaan strategi tersebut adalah untuk menyatakan power sebanyak 83 data dan untuk menyatakan solidarity sebanyak 76 data. Hal ini ditunjang dengan penemuan bahwa Margaret memiliki kesempatan sebanyak 45 kali dan Andrew 38 kali untuk yang menyatakan power. Sementara itu, untuk menyatakan solidarity, Margaret memiliki 45 kesempatan dan Andrew hanya memiliki 31 kesempatan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa para pemeran utama film The Proposal menggunakan semua strategi dominasi tuturan gender. Mereka memiliki tujuan-tujuan tertentu yakni menyatakan power atau solidarity. Power dan solidarity itu sendiri digunakan oleh mereka berdasarkan ragam konteks, situasi, dan kondisi pembicaraan saat itu.
Kata kunci: Dominasi Tuturan Gender, Strategi, Tujuan, Film The Proposal.

Majid, Ika Cholifah. 2015. The Analysis of Gender Dominance Speech as Reflected by Main Characters in “The Proposal” Movie. Supervisors: Tuti Purwati, S.S., M.Pd., and Asrofin Nur Kholifah, S.S., M.Hum. External Examiner: Erna Wardani, S.Pd., M.Hum. English Literature Study Program. English Literature Department. Faculty of Humanities. Jenderal Soedirman University. Academic Year 2015/2016.
The research entitled “The Analysis of Gender Dominance Speech as Reflected by the Main Characters in The Proposal Movie” is aimed to find out gender dominance speech phenomena. It is done by describing the dominance speech strategies that are used by Margaret and Andrew as the main characters in The Proposal movie. It also conducted to find out the purposes of those strategies.
Tannen’s theory about gender dominance speech was chosen by the researcher to analyze these phenomena. Based on Tannen, there are five strategies and two purposes of gender dominance speech. The strategies are indirectness, interupption, silence, topic-rising, and adversativeness, and the purposes are asserting power or solidarity. In line with this, the researcher took the data of this research from the utterances of the main characters in The Proposal movie. This research applied descriptive qualitative method to discuss the findings of the research because the data were described by providing written words and by determining certain different contexts of the conversation.
The result shows that there are 159 data of gender dominance speech strategies as reflected by the main characters in The Proposal movie. There are 48 data of indirectness, 18 interruption, 11 silence, 56 topic-raising, and 26 adversativeness that are used by them. The purposes of those strategies are 83 data for asserting power and 76 data for asserting solidarity. It obtaines that Margaret has 45 chances and Andrew has 38 chances purposing power. Meanwhile, Margaret has 45 chances and Andrew has 31 chances of purposing solidarity. In conclusion, gender dominance speech strategies are all used by the main characters in The Proposal movie. They have certain purposes which are asserting power or solidarity in using gender dominance speech strategy. Power and solidarity are used by them with regard to several context, situation, and condition of the conversation.
Key words: Gender Dominance Speech, Strategies, Purposes, The Proposal movie.
389613721A1L011135KAJIAN PEMBERIAN JAMUR ENTOMOPATOGEN INDEGENOUS DAN PUPUK ORGANIK CAIR DIPERKAYA KHAMIR-BAMBU UNTUK BIOKONTROL HAMA WERENG COKLAT (Nilaparvata lugens)Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menguji efektifitas jamur entomopatogen indegenous sebagai bioinsektisida berbahan aktif jamur Fusarium cf. solani terhadap hama wereng batang coklat (Nilaparvata lugens Stal), 2) Menguji efektifitas Pupuk Organik Cair diperkaya khamir-bambu terhadap pertumbuhan tanaman padi dan penekanan serangan hama wereng coklat, 3) Menguji sinergisme bioinsektisida berbahan aktif jamur F. cf. solani dengan POC diperkaya Khamir-bambu terhadap pertumbuhan. Penelitian dilaksanakan di Desa Senon Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga. Waktu penelitian dimulai dari bulan Maret 2015 sampai dengan bulan Agustus 2015. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL), dengan pola faktorial (2 faktor). Faktor 1 adalah imbangan penggunaan pupuk kimia pabrik dan POC yang tediri dari 50% NPK + 0% POC (P1), 50% NPK + 50% POC (P2), dan 50% NPK + 100% POC (P3). Faktor 2 adalah frekuensi penyemprotan bioinsektisida berbahan aktif jamur entomopatogen F. cf. solani yang terdiri atas tanpa penyemprotan (F0), disemprot satu, kali umur 1 bulan setelah pindah semai (F1), disemprot dua kali (F2), dan disemprot tiga kali (F3). Gabungan kedua faktor diperoleh 12 satuan percobaan dan diulang sebanyak 3 kali. Variabel yang diamati yaitu intensitas serangan hama wereng batang coklat, tinggi tanaman padi (cm), intensitas serangan hama utama lain dan musuh alaminya, dan jumlah anakan produktif. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji F, apabila hasilnya menunjukkan pengaruh yang nyata, maka dilakukan uji lanjut dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bioinsektisida berbahan aktif jamur F. cf. solani dengan konsentrasi 2,106 x 106 dan frekuensi penyemprotan tiga kali (F3) mampu menekan populasi N. lugens sebesar 8, 86% dan menekan hama lain seperti belalang, walang sangit dan kupu putih palsu. POC diperkaya khamir-bambu belum mampu menekan pertumbuhan hama lain, tingkat serangan hama wereng batang coklat, populasi hama wereng batang coklat dan belum mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman. Tidak ada interaksi POC diperkaya khamir bambu dengan F. cf. solani. This research aimed to determine; 1) tested the efectiveness of indegenous entomopathogen fungi as bioinsecticide for bron plant-hopper with Fusarium cf. Solani as the active substance, 2) tested the effectiveness of yeast-bamboo enriched Liquid Organic Fertilizer (LOF) to rice growth and supressing brown plant-hopper attack, 3) tested the synergism of F. cf. solani fungi bioinsecticide with yeast-bamboo enriched Liquid Organic Fertilizer to the growth. The research was conducted in Senon Village, Kemangkon District, Purbalingga Regency. The research started from March to August 2015. Factorial complete randomized block design (2 factors) was used as the experimental design. First factor was chemical fertilizer and LOF, consisted of 50% NPK NPK + 0% LOF (P1), 50% NPK + 50% LOF (P2), and 50% NPK + 100% LOF (P3). Second factor was frequency of bioinsecticide spraying with F. cf. solani fungi, which consisted of no spraying (F0), one time spraying after 1 month old seedling transplanted (F1), two times spraying (F2), and three times spraying (F3). Twelve experimental units were obtained from the combination of two factors and replicated three times. Observed variables were brown plant-hopper attack intensity, rice plant height (cm), other major pests attack intensity and their natural enemies, and number of productive tillers. Data were analyzed with F test with Duncan’s Multiple Range Test with 5% error margin for any significant results. The results of this research showed that F. cf. solani fungi bioinsecticide on 2,106 x 106 concentration and three times spraying (F3) was able to supressed N. lugens population for 8,86% and was not able to supressed other pest, such as grasshopper, brown leafhopper, and white fly. Yeast-bamboo enriched LOF was not able to supressed other pests, brown plant-hopper atttack intensity, population, and was not able to promoted plant growth. No interaction between yeast-bamboo enriched LOF with F. cf. solani.
389713722F1B011023MANAJEMEN TAMAN REKREASI ANDHANG PANGRENAN SEBAGAI DESTINASI WISATA KOTA DI PURWOKERTOPariwisata adalah sebuah bisnis besar bagi suatu negara karena tidak dapat dipungkiri bahwa pariwisata merupakan salah satu penyumbang pendapatan terbesar bagi suatu negara. Indonesia adalah salah satu negara dengan pariwisata yang sangat beragam, mulai dari Wisata Budaya, Wisata Pendidikan, Wisata Alam, Wisata Religi, Wisata Kesehatan, Wisata Olahraga, dan Wisata Rekreasi. Manajemen pariwisata adalah proses perencanaan, pegorganisasian, penggerakan, dan pengawasan sumber daya pariwisata dalam mencapai tujuan wisata yang ada.
Penelitian tentang Manajemen Pariwisata bermaksud untuk mengetahui proses manajemen pariwisata di Taman Rekreasi Andhang Pangrenan ditinjau dari aspek perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Sasaran pada penelitian ini adalah Bidang Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Banyumas dan pengelola Taman Rekreasi Andhang Pangrenan.
Taman Rekreasi Andhang Pangrenan memiliki model perencanaan yang berada di bawah Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Banyumas. Pengelola Taman Rekreasi Andhang Pangrenan hanya berhak mengatur secara teknis di lapangan, namun tidak berwenang penuh dalam mengatur rumah tangga sendiri. Koordinasi antara pengelola dengan dinas cukup tinggi. Penggerakan yang dilakukan berfokus pada pemeliharaan dan pengembangan destinasi wisata, serta pengelolaan retribusi tiket dan parkir. Pengawasan yang dilakukan bersifat langsung, baik oleh dinas maupun oleh pengelola.
Tourism is a big business for the country because it can not be denied that tourism is one of the biggest foreign exchange earner for the country. Indonesia is one country with a very diverse tourism, such as cultural tourism, educational tourism, nature tourism, religious tourism, health tourism, sports tourism, and recreation tourism. Tourism management is the process of planning, organizing, actuating, and monitoring of tourism resources in achieving the goals of tourism.
Research of tourism management intends to determine the management process in the Andhang Pangrenan Recreation Park review of aspects planning, organizing, actuating, and monitoring. The research method used is descriptive qualitative. The goal of this is the tourism field on Departement of Youth, Sport, Cultural, and Tourism Banyumas Regency and the manager of Andhang Pangrenan Recreation Park.
Andhang Pangrenan Recreation Park have a planning model under Departement of Youth, Sport, Cultural, and Tourism Banyumas Regency. The manager only technically entitled to regulate in the field, but not the full authority to set their own households. Coordination between the manager and the Departement of Youth, Sport, Cultural, and Tourism Banyumas Regency is high enough. Actuating conducted focusing on the maintenance and development of tourist destination, as well as the management of tickets and parking retribution. Monitoring direct supervision carried out, both by the Departement of Youth, Sport, Cultural, and Tourism Banyumas Regency and by manager.
389813723A1H011076KARAKTERISTIK OPTIK KACANG MERAH (Phaseolus Vulgaris L) CURAH
DENGAN BERBAGAI KADAR AIR
Kacang merah (Phaseolus vulgaris L.) merupakan salah satu komoditas tanaman kacang-kacangan yang banyak ditanam di Indonesia dan digemari oleh masyarakat karena rasanya yang enak dan gurih. Kadar air adalah salah satu parameter kualitas kacang merah yang perlu diperhatikan. Tujuan dari penelitian ini, adalah untuk mengetahui karakteristik optik (reflektansi) kacang merah utuh, rusak dan terkontaminasi pada berbagai kadar air dan menentukan persamaan matematis hubungan antara karakteristik optik (reflektansi) dengan kadar air kacang merah utuh, rusak dan terkontaminasi. Pengukuran karakteristik optik dilakukan menggunakan 13 sensor LDR yang diintegrasikan dalam integrating sphere. Karakteristik optik yang dikaji adalah perilaku kacang merah dalam memantulkan cahaya bright white, laser 532 nm, dan laser 650 nm yang dijatuhkan pada permukaannya. Cahaya yang dipantulkan oleh kacang merah ditangkap dengan sensor LDR dan intensitas cahaya pantulan dinyatakan dengan tahanan yang dihasilkan oleh sensor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya beberapa sensor yang responnya memiliki hubungan erat dengan kadar air kacang merah utuh, rusak, dan terkontaminasi. Cahaya bright white merupakan cahaya yang paling baik untuk mengetahui hubungan korelasi nilai total respon sensor terhadap penurunan kadar air kacang merah pada berbagai kondisi fisik (utuh, rusak dan terkontaminasi) dibandingkan cahaya 532 nm dan 650 nm.Red bean is one of crops nuts widely grown in Indonesia and popular by people, because it taste good and tasteful. The water content is one of the red bean quality parameters that need to be considered. Objectives of this research are to know optical characteristics (reflectance) of red beans intact, damaged and contaminated to various water content and determine the equation of the relationship between the optical characteristics (reflectance) with red bean moisture content intact, damaged and contaminated. Measurement of optical characteristics was performed using 13 sensors are integrated in the LDR integrating sphere. Optical characteristics studied is the behavior of red beans in a bright white to reflect light, laser 532 nm, and 650 nm laser that was dropped on the surface. Light reflected by red beans LDR captured by the sensor and the intensity of reflected light is expressed by the prisoners generated by the sensor. The results showed that only a few sensors that response has a close relationship with the water content of whole red beans, damaged and contaminated. Light bright white a light the most good to know relations correlation a total value of sensor response to a decrease to the water content red bean in various the physical condition (intact, damaged and contaminated) of than light 532nm and 650 nm.
389913724F1B011001PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS MASYARAKAT
(Studi Kasus Pada Badan Usaha Milik Desa dalam Pengelolaan Sampah di Desa Palimanan Barat Kabupaten Cirebon)
Penelitian ini mendeskripsikan mengenai proses pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan studi kasus pada organisasi lokal Desa yaitu Badan Usaha Milik Desa yang ada di Kabupaten cirebon Kecamatan Gempol Kabupaten Cirebon. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang di selenggarakan oleh Badan Usaha Milik Desa di Desa Palimanan Barat Kecamatan Gempol Kabupaten Cirebon. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan teknik pemilihan informan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah model analisis interaktif menurut Milles dan Huberman dan keabsahan data diuji dengan triangulasi sumber.Penelitian ini hanya membatasi pada aspek-aspek terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Desa PD Maju Makmur di Desa Palimanan Barat belum terwujud dengan baik yaitu dalam kegiatan pengelolaan sampahnya belum berbasis masyarakat dikarenakan semua proses pengelolaan sampah lebih dominan dikelola oleh pihak PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.This study describes the process of community-based waste management with a case study on local organizations , the village of village-owned enterprises in the District Gempol Cirebon regency of Cirebon. The purpose of this study was to describe the process of community-based waste management organized by the village-owned enterprises in the District Rural West Palimanan Gempol. The research method use is qualitative method, with the technic election of the informant purposive sampling. Data collected through in-depth interviews, observation, and documentation. The analytical method used is interactive analysis model according to Milles and Huberman and triangulation data validity was tested with this source. The Research only limit on selected aspects. The results show that community-based waste management process carried out by BUMDes PD Maju Makmur Palimanan West not to achieved with well which in waste management activities are not community based because all waste management process managed more dominant by PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Activities waste management stand alone environment friendly (PSMRL) need a program from Corporate Sosial Responsibility PT Tunggal Prakarsa Tbk.
390014661F1A010032Memudarnya Minat Anak-anak Terhadap Permainan Tradisional Di Desa Rejasari Kecamatan Langensari Kota Banjar. Artikel ini mendeskripsikan tentang memudarnya minat anak-anak terhadap permainan tradisional. Anak-anak saat ini lebih familier dengan permainan modern seperti playstation, game online dan permainan lain berbasis teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab memudarnya minat anak-anak terhadap permainan tradisional meliputi: perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, keberadaan warnet dan rental PS, berkurangnya lahan kosong untuk bermain, lingkungan sosial banyak diwarnai dengan permainan modern, persepsi tentang permainan tradisional, faktor keluarga (orangtua) yang mendukung anak lebih dekat dengan permainan modern, persyaratan tertentu pada permainan tradisional, dan kurangnya kepedulian masyarakat dan pemerintah. Dampak yang dapat ditimbulkan dari memudarnya minat anak-anak di Desa Rejasari terhadap permainan tradisional adalah dampak terhadap fisik seperti daya tahan fisik yang lemah karena tubuh jarang digerakkan, sakit mata, sakit pinggang, maag, dampak terhadap psikis seperti berkembangnya individualisme, kurangnya interaksi sosial, kurangnya rasa persatuan dan kesatuan, kurang peduli pada lingkungan, menurunkan minat dan konsentrasi belajar, perilaku konsumtif, serta pudarnya salah satu bagian integral dari budaya dan identitas masyarakat.This aricle describes the waning interest of children towards the traditional game. Children present at this time more familiar with modern games such as playstation, online games and other games based technology. The results showed that the factors that cause the waning interest of children against traditional games include: the development of science and technology, the existence of internet rental and playstation rental, the reduced of empty land for playing, social environment are colored with the modern games, the perception of the traditional games, family factors (parents) who supports the child closer to the modern games, certain requirements on traditional games, and the lack of public concern and government. The impact that may result from the waning interest of children in the Rejasari Village toward the traditional game are: 1) the impact on the physical as physical endurance is weak because the body is rarely driven, eye pain, back pain, gastric pains; 2) the impact on the psyche as the development of individualism, lack of social interaction, the lack of a sense of unity and oneness, less concerned with the environment, lack of interest and concentration studied, consumer behavior; 3) the fading one integral part of the community culture and identity.