Artikelilmiahs

Menampilkan 3.341-3.360 dari 48.741 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
334113142H1K010002Analisis Kesesuaian Habitat Kerang Totok (Polymesoda erosa) Di Segara Anakan Kabupaten CilacapSegara Anakan merupakan suatu laguna yang dikelilingi hutan mangrove dan dataran yang berlumpur. Laguna tersebut terdiri dari banyak pulau dan sungai-sungai kecil di hutan magrove. Kondisi tersebut menjadi daerah yang baik bagi habitat Kerang Totok (Polymesoada erosa). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan kesesuaian habitat Kerang Totok (Polymesoda erosa) di perairan Segera Anakan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan maret 2015 menggunakan metode studi kasus dan menggunakan analisis citra satelit. Analisis kesesuaian habitat dihitung dengan nilai skoring yang telah ditetapkan. Hasil penelitian penelitian kodisi perairan Segara Anakan berdasarkan pH, DO, salinitas, suhu, substrat dan klorofil-a adalah sesuai untuk habitat Kerang Totok (Polymesoda erosa). Tingkat kesesuaian perairan Segara Anakan untuk habitat Kerang Totok (Polymesoda erosa) pada pengamatan dengan skoring adalah sesuai bersyarat.Segara Anakan was surrounded by mangrove forests and silty sediment. That lagoon consist of many trio islands and mangrove forests surrounding dike.That condition make a good area for Totok Shellfish (Polymesoada erosa). This research aims to determine the condition and suitability of Totok Shellfish (Polymesoda erosa) in Segara Anakan waters. The research was conducted in March 2015 using the case study method and using satellite imagery analysis. Habitat suitability analysis was calculated by scoring with a predetermined value. The results showed that segara Anakan waters condition base on pH, DO, salinity, temperature, substrat, and chlorophyll-a was suite for Totok Shellfish (Polymesoda erosa). Segara Anakan waters suitability level for Totok Shellfish (Polymesoda erosa) on observations with scoring was conditional suitability.
334213149H1D011064KOMPARASI PENGGUNAAN DOWEL KAYU BANGKIRAI DAN BAMBU TERHADAP KEKUATAN TAHANAN LATERAL KAYU KELAPA (GLUGU) LAMINASISambungan dalam suatu struktur merupakan bagian lemah yang berpengaruh pada kekuatan suatu struktur. Pada umumnya, penggunaan alat sambung kontruksi sekarang ini lebih banyak menggunakan alat sambung berbahan logam seperti besi dan baja. Tetapi alat sambung tersebut dihasilkan dari sumber alam yang non-renewable sehingga sebagai alternatif dapat digunakan bahan lain yaitu dengan berbahan dasar kayu. Berdasarkan kriteria kegagalan sambungan, persamaan untuk menghitung tahanan lateral sambungan dapat diperoleh dengan teori EYM (European Yield Model). Pemodelan ini sangat perlu untuk diteliti mengingat penelitian mengenai analisis kegagalan sambungan kayu glulam glugu dengan pasak kayu (dowel) belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bahan glugu laminasi sebagai bahan struktur dan perilaku sambungan struktur menggunakan bahan glulam dan alat sambung dengan pasak kayu (dowel). Pengujian kayu glugu laminasi yang dilakuakan ialah pengujian sifat fisika dan mekanika kayu glugu laminasi, pengujian lentur dowel bambu dan dowel bangkirai, pengujian kuat tumpu dengan dowel bambu dan dowel bangkirai lalu pengujian tahanan lateral kayu glugu laminasi dengan menggunakan dowel bambu dan dowel bangkirai. Kayu glugu laminasi memiliki nilai rata-rata kerapatan sebesar 0,791 gr/cm2 dan rata-rata pengujian kadar air yaitu 18.594 % dengan berat jenis sebasar 0.722, sehingga kayu glugu laminasi masuk ke dalam kategori kayu kelas kuat II (0,6 – 0,9) dan kategori kelas kayu agak berat (berkisar 0,6 – 0,75). Dilihat dari sifat mekanika, kayu glugu laminasi masuk dalam kode mutu E26, dengan nilai kuat tekan tegak lurus serat, kuat tekan sejajar serat, kuat tarik tegak lurus serat, kuat tarik sejajar serat, kuat geser dan kuat lentur glugu laminasi berturut turut ialah 11,64 MPa; 73,16 MPa; 61,67 MPa; 73,16 MPa, 10 MPa dan 89,74 MPa. Nilai tahanan lateral glugu laminasi dengan dowel bambu diameter 8, dowel bambu diameter 10, dowel bambu diamater 12, dowel bangkirai diameter 8, dowel bangkirai diameter 10, dowel bangkirai diameter 12 yaitu berturut-turut 5,067 MPa; 4,900 MPa; 7,633 MPa; 3,500 MPa; 3,600 MPa; 3,967 MPa. Antara penggunaan dowel bambo dengan dowel bangkirai terhadap sambungan, dowel bambu lebih baik karena memiliki nilai lentur dan tahanan lateral yang lebih tinggi dibandingkan dengan dowel bangkirai, Mode kelelehan yang terjadi pada semua hasil eksperimen yaitu mode kelelehan IVA connection in a structure is a weak part which affect on the strength of a structure. Generally, using of construction connection tools more made of metal such as iron and steel. But it was produced from non-renewable materials so that, using a wooden based is a solution. Based on the criteria of connection failure, the equation for calculating the lateral resistence can be obtained by the theory EYM (European Yield Model). This model of laminated glugu with a wooden dowel connection failure must be study, considering the research of laminated glugu with a wooden dowel connection failure analysis has not been done. This research aim for to know a characteristics of laminated glugu which a structure material, and a behavior the connection structure which using of laminated glugu material and wooden based dowel. The examination of laminated glugu is a physic and mechanic properties testing, bending of dowel testing, bearing strength test with bangkirai and bamboo dowel, and lateral resistence of laminated glugu with bangkirai and bamboo dowel testing. A laminated glugu has the avarage of density 0,791 gr/cm2, the average of water content 18,594%, and a spesific grafity 0,722, so that the laminated glugu into wood category of strong class II (from 0,6 - 0,9) and wood category of haevy class rather heavy (0,6 – 0,75). From mechanic properties, the laminated glugu into quality code E26, which value of compressive perpendicular to grain, compressive parallel to grain, tensile perpendicular to grain, tensile parallel to grain, shear strength and bending testing glugu laminate row is 11, 64 MPa; 73.16 MPa; 61.67 MPa; 73.16 MPa, 10 MPa and 89.74 MPa. The lateral resistence of laminated glugu with a diameter of 8, 10, 12 bamboo dowel and diameter of 8, 10 12 bangkirai dowel value is successively equal to 5,067 MPa; 4,900 MPa; 7,633 MPa; 3,500 MPa; 3,600 MPa; 3,967 MPa. Between bamboo dowel and bangkirai dowel, bamboo dowel has a higher value of bending and lateral resistence testing then bangkirai dowel. The yield mode that occurs in all the experimental results that yield mode IV.
334313143H1F011005GEOLOGI DAN STUDI KARAKTERISTIK PANAS BUMI BERDASARKAN ANALISIS GEOKIMIA AIR DAN TANAH DAERAH WAE SANO, KECAMATAN SANO NGGOANG, KABUPATEN MANGGARAI BARAT, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMURDaerah penelitian berada di Wae Sano – Flores, berada pada tatanan tektonik busur gunungapi aktif, yaitu busur Banda bagian dalam, Gunung Sano Nggoang termasuk dalam gunungapi tipe C dan terbentuk Danau kawah Sano Nggoang. Aktifitas magmatisme daerah tersebut menghasilkan manifestasi panasbumi berupa air panas, alterasi batuan dan endapan belerang yang cukup menyengat, pengukuran airpanas menunjukan suhu terpanas 81C, pH netral, sementara kondisi air danau Sano Nggoang mempunyai pH asam 2,54. Hal tersebut menjadi menarik untuk diteliti bagaimana karakteristik sistem panas bumi daerah tersebut.

Penelitian dilakukan dengan dua metode, yaitu geologi dan geokimia. Pemetaan geologi dilakukan dengan prinsip volkanostratigrafi, hingga rekonstruksi geologi. Sementara geokimia dilakukan pengambilan contoh air manifestasi, air dingin, udara tanah dan pengambilan contoh tanah, semua hasil sampling tersebut dianalisis laboratorium untuk mengetahui kadar masing-masing unsur dan senyawa.

Secara morfologi daerah penelitian terbagi atas tiga kerucut gunungapi. Secara geologi satuan batuan yang tersingkap Produk gunungapi Poco Dedeng, Produk Gunungapi Sano Nggoang 1 dan Produk Gunungapi Sano Nggoang 2. Rekonstruksi sejarah geologi menunjukan gunungapi Sano Nggoang menumpang di atas lereng barat laut gunungapi Poco Dedeng, sehingga tumpahan produk gunungapi Sano Nggoang 1 mengarah NW-W, sementara tumpahan produk gunungapi Sano Nggoang 2 mengarah N-NE. Analisis geokimia menunjukan semua manifestasi berasal dari satu reservoir, tipe air klorida, air dingin bertipe NaCl dengan sedikit pengaruh SO4, diduga suplai air panas ada pengaruh dari air laut, geothermometer ±230C, batuan samping diduga batuan dasitik, reservoir diduga dari batuan sedimen kaya organik pada kedalaman ±1456m dari manifestasi, batuan penudung diduga batuan teralterasi argilik, penampang isotermal menunjukan laju kenaikan suhu per kedalaman pada 97,07m/10C.

Pemodelan didasarkan pada data geologi dan hasil analisis geokimia. Semua manifestasi yang ditemukan, terhitung heat loss 148.9kW dan sumber daya hipotetik panas bumi terhitung 1.488,6kWe.
Area of research is in Wae Sano - Flores, area is in tectonic arrangement of active volcanoes, that is Banda inner arc, Mount Sano Nggoang is type C mountain and formed lake of Sano Nggoang Crater. Magmatism activity the region formed geothermal manifestations, there is hot springs, altered rock, and sulphur deposits which sting enough, manifestations of the hottest shown measurement 81C with neutral pH, while the lake Sano Nggoang with acid pH 2.54. It is so interesting to study how the characteristics of the geothermal system of the area.

Research carried out by two method, that is geology and geochemistry. Geological mapping by volcanostatigraphy principle until the reconstruction of the geology. While geochemical sampling manifestation water, cold water, air and soil, all sample will be analyzed in laboratory, the results were analyzed used to determine levels of each elements and compounds.

Morphological study area is divided into three volcanic cones. In geological lithologies exposed volcanic products Poco Dedeng, Volcano Product Sano Nggoang 1 and Volcano Product Sano Nggoang 2. Reconstruction of the geological history of volcanoes Sano Nggoang ride up the slope northwest volcanoes Poco Dedeng, so that spillage of product volcano Sano Nggoang 1 leads NW-W while spills of volcanic products Sano Nggoang 2 leads N-NE. Geochemical analysis showed all the manifestations come from same reservoir, water type chloride, cold water type NaCl with little influence SO4, supposedly hot water supply there is the influence of sea water, geothermometer ± 230C, rock side allegedly rock dacitic, reservoir suspected of sedimentary rock rich in organic at a depth of ± 1456m of manifestation, the covering rock allegedly argillic rocks altered, while the distribution area there are 5 areas with the characteristics of each, isothermal cross section showing the rate of temperature increase per depth at 97,07m / 10C.

Modeling is based on geological and geochemical data analysis results. All manifestations are found, accounting for heat loss 148.9kW and hypothetical geothermal resources 1.488,6kWe counted.
334413144H1K010009HUBUNGAN TINGKAT KERAPATAN MANGROVE TERHADAP TINGKAT KEPADATAN KEONG BAKAU (Telescopium telescopium) DI PESISIR PANTAI KARANG SONG, KABUPATEN INDRAMAYUMangrove dapat didefinisikan secara luas sebagai tipe vegetasi yang terdapat di lingkungan laut dan perairan payau. Secara umum dibatasi zona pasang-surut, mulai dari batas air surut terendah hingga pasang tertinggi. Hutan mangrove memiliki nilai ekologi paling utama sebagai daerah mencari makan (feeding ground), daerah pemijahan (spawning ground) dan daerah asuhan (nursery ground) bagi ikan, udang, dan kekerangan. Telescopium telescopium adalah deposit feeder, menggunakan extensible snout untuk menelan lumpur dan detritus dari permukaan endapan lumpur pada saat surut, karena Telescopium telescopium makan pada saat surut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat kerapatan mangrove di pesisir Pantai Karang Song Indramayu, mengetahui kepadatan Telescopium telescopium di pesisir Pantai Karang Song Indramayu dan mengetahui hubungan tingkat kerapatan mangrove dengan tingkat kepadatan Telescopium telescopium. Hasil penelitian yang di dapat yaitu nilai korelasi sebesar 0,49 , nilai R2 yaitu 0,095 , dan nilai regresi Y = 0.2092X + 0.057.Mangroves can be broadly defined as a type of vegetation found in the marine environment and brackish waters. Generally restricted tidal zones, ranging from the low tide limit to the highest tides. mangrove has important ecological value that is spawning (spawning ground) And the area is care (nursery ground) For fish, shrimp, and oyster. Telescopium Telescopium Is a deposit feeders, using extensible spout to review ingest mud and detritus from the surface of the sludge on at low tide, Telescopium telescopium of eat when tides. Objective is was to determine the level of density in the coastal mangrove Karangsong Beach Indramayu, knowing the density Telescopium Telescopium in karangSong Indramayu And knowing Relations Levels Density with Telescopium Telescopium mangrove density level. The research results in can That correlation value of 0.49, R2 Value 0,095, and Value regression Y = 0.2092X + 0.057.
334513145C1L011024THE INFLUENCE OF CORPORATE GOVERNANCE, PROFITABILITY, LIQUIDITY AND SOLVENCY TOWARD CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DISCLOSURE
(Empirical Study at Listed Company on Indonesia Stock Exchange in 2013-2014)
The purpose of this research is to analyze the influence of corporate governance, profitability, liquidity and solvency on corporate social responsibility disclosure in companies listed on the Indonesia Stock Exchange. The research method used is quantitative research with purposive sampling method. The number of data are 32 and take from 16 sample companies in 2013 to 2014. The corporate governance was measured by Corporate Governance Perception Index, profitability was measured by return on equity, liquidity was measured by current ratio, solvency was measured by debt equity ratio while corporate social responsibility disclosure was measured by Global Report Initiative index version 3.1. This research used SPSS version 20 as a tool to analyze the data and to test the influence of corporate governance, profitability, liquidity and solvency on corporate social responsibility disclosure.
The conclusions of this research are as follows: (1) Corporate Governance has no effect on corporate social responsibility disclosure, (2) Profitability has no effect on corporate social responsibility disclosure, (3) Liquidity has a significant and positive effect on the corporate social responsibility disclosure, (4) Solvency has a significant negative effect on the corporate social responsibility disclosure, (5) Simultaneously corporate governance, profitability, liquidity and solvency have a positive and significant effect on the corporate social responsibility disclosure. The implication of this research are as follows: (1) In theoretical aspects, academics get additional information science in accounting field and this research can be used as a reference in subsequent research, (2) In practical aspects, the company to keeps improve the liquidity and solvency because of the results of the research found that the liquidity and solvency of an effect on corporate social responsibility disclosure. In addition, companies are expected to implement corporate governance practices more seriously in accordance with the principles of corporate governance and company with high profitability do not regard corporate social responsibility as being harmful, not beneficial but rather as a way to increase the positive value of the company.
The purpose of this research is to analyze the influence of corporate governance, profitability, liquidity and solvency on corporate social responsibility disclosure in companies listed on the Indonesia Stock Exchange. The research method used is quantitative research with purposive sampling method. The number of data are 32 and take from 16 sample companies in 2013 to 2014. The corporate governance was measured by Corporate Governance Perception Index, profitability was measured by return on equity, liquidity was measured by current ratio, solvency was measured by debt equity ratio while corporate social responsibility disclosure was measured by Global Report Initiative index version 3.1. This research used SPSS version 20 as a tool to analyze the data and to test the influence of corporate governance, profitability, liquidity and solvency on corporate social responsibility disclosure.
The conclusions of this research are as follows: (1) Corporate Governance has no effect on corporate social responsibility disclosure, (2) Profitability has no effect on corporate social responsibility disclosure, (3) Liquidity has a significant and positive effect on the corporate social responsibility disclosure, (4) Solvency has a significant negative effect on the corporate social responsibility disclosure, (5) Simultaneously corporate governance, profitability, liquidity and solvency have a positive and significant effect on the corporate social responsibility disclosure. The implication of this research are as follows: (1) In theoretical aspects, academics get additional information science in accounting field and this research can be used as a reference in subsequent research, (2) In practical aspects, the company to keeps improve the liquidity and solvency because of the results of the research found that the liquidity and solvency of an effect on corporate social responsibility disclosure. In addition, companies are expected to implement corporate governance practices more seriously in accordance with the principles of corporate governance and company with high profitability do not regard corporate social responsibility as being harmful, not beneficial but rather as a way to increase the positive value of the company.
334613138D1E008133KUANTITAS DAN KUALITAS EMBRIO SERTA OVUM NON FERTIL SAPI ANGUS DAN SAPI LIMOUSIN PADA PROGRAM TRANSFER EMBRIOPenelitian kuantitas dan kualitas embrio serta ovum non fertil sapi Angus dan sapi Limousin pada program transfer embrio telah dilakukan di Balai Embrio Ternak Cipelang, Bogor dari 22 Desember 2014 sampai 4 Januari 2015. Dengan tujuan mengetahui perbedaan kualitas dan kuantitas embrio sapi Angus dan sapi Limousin yang disuperovulasi. Metode penelitian yang digunakan adalah survei menggunakan data sekunder berupa catatan produksi embrio sapi Angus dan Limousin secara in vivo tahun 2013. Sampel data diperoleh menggunakan teknik “convenience sampling “. Kemudian parameter yang diukur terdiri atas jumlah embrio total, kualitas embrio (kelas A, B, dan C),dan jumlah ovum non fertil (unfertilized ovum). Data dianalisis dengan menggunakan t - test. Berdasarkan analisis diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata (p > 0,05) pada kuantitas dan kualitas diantara kedua bangsa sapi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sapi Angus dan sapi Limousin mempunyai kemampuan sama baiknya dengan dalam menghasilkan embrio fertil secara in vivo baik secara kuantitas maupun kualitas.This research was conducted at Central Animal Embrio Cipelang, Bogor from 22 December 2014 until 4 January 2014. The purpose of this research was to determine the quantity and quality of embryos and non-fertile ovum of Angus and Limousine cows of embryo transfer program. The research method used was a survey using secondary data from Angus and Limousine cow in vivo embryo product records in 2013. The measured parameters consist of the total number of embryos, embryo quality (grade A, B, and C), and a total number of non-fertile ovum (unfertilized ovum). The data that there’s no significant different (p > 0.05) bethween two breads of cattle. The result showed that Angus and Limousine cattle have the same ability to produce in vivo embryos in quantity and quality.
334713150H1F011017STUDI GEOLOGI, ALTERASI, DAN GEOKIMIA SEDIMEN SUNGAI UNTUK MENENTUKAN TIPE DAN DAERAH PROSPEK MINERALISASI EMAS HIDROTERMAL DI DAERAH SEKOTONG DAN SEKITARNYA, KECAMATAN SEKOTONG TENGAH, KABUPATEN LOMBOK BARAT, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT. Alterasi hidrotermal merupakan proses perubahan mineralogi, tekstur dan komposisi kimia yang terjadi akibat interaksi larutan hidrotermal dengan batuan samping. Proses alterasi hidrotermal ini terjadi akibat adanya proses intrusi dan rekahan pada batuan. Proses alterasi ini terjadi dalam beberapa jenis endapan mineral yang menghasilkan mineralisasi tertentu. Asosiasi mineral ubahan dan mineral bijih yang terdapat dalam batuan dapat membantu untuk mengenali tipe endapan mineral dan menjelaskan proses pembentukannya.
Penelitian ini dilakukan di daerah Sekotong dan sekitarnya, Kecamatan Sekotong Tengah, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis lokasi penelitian berada pada kordinat 9.024.500 mN – 9.028.500 mN dan 393.150 mE – 398.350 mE.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi daerah penelitian, mengkarakterisasi alterasi dan mineralisasi, menentukan daerah anomali berdasarkan analisis geokimia sedimen sungai, dan menginterpretasi tipe dan daerah prospek mineralisasi emas hidrotermal berdasarkan data geologi, alterasi dan mineralisasi serta data geokimia sedimen sungai.
Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode pemetaan lapangan yang bertujuan untuk mengumpulkan data primer yang dapat memberikan keterangan secara faktual mengenai kondisi geologi daerah penelitian, serta ditunjang dengan analisis laboratorium berupa analisis petrografi, analisis mikroskopi bijih, analisis PIMA, dan analisis geokimia sedimen sungai.
Geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi 3 (tiga) satuan geomorfologi, yaitu satuan perbukitan denudasional, satuan bukit intrusi dan dataran alluvial. Secara stratigrafi, satuan batuan di daerah penelitian dari tua ke muda adalah satuan breksi volkanik (Formasi Pengulung) berumur Oligosen Akhir sampai Miosen Awal yang terendapkan di lingkungan laut, satuan intrusi diorit berumur Miosen Tengah dan endapan alluvial yang berumur resen. Hasil studi khusus di daerah penelitian didapatkan tipe endapan epitermal sulfida rendah berdasarkan hasil analisis PIMA, mikroskopis bijih dan geokimia sedimen sungai. Didapatkan asosiasi unsur Au, Ag, As, Sb, Pb, dan Zn berdasarkan analisis statistik terhadap data geokimia sedimen sungai di daerah penelitian, dengan daerah prospek berada di daerah Bukit Tanabea, bagian selatan dari daerah penelitian.
Hydrothermal alteration is the change process mineralogy, texture and chemical composition caused by the interaction of hydrothermal solution with the rock side. The process of hydrothermal alteration is due to a process of intrusion and fissures in the rocks. This alteration process occurs in several types of mineral deposits which produce certain mineralization. Association of alteration minerals and mineral ores contained in rocks can help to identify the types of mineral deposits and explains the process of formation.
This research was conducted in Sekotong and the surrounding area, Central Sekotong Sub-District, West Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province. Geographical location coordinates research is at 9.024.500 mN - 9.028.500 mN and 393.150 mE - 398.350 mE.
This study aims to determine the geological conditions of the study area, characterize the alteration and mineralization, determine the anomalous areas based on stream sediments geochemical analysis, and interpretation types and hydrothermal gold mineralization prospect area based on geological data, alteration and mineralization as well as stream sediment geochemical data.
The method used in this research is field mapping method that aims to collect primary data that can provide factual information about the geological conditions of the research area, and supported by laboratory analysis in the form of petrographic analysis, ore microscopy analysis, PIMA analysis and geochemical analysis of stream sediment.
Geomorphology in the study area was divided into three (3) units of geomorphology, the hills denudasional unit, the unit of intrusion hills and alluvial plains. In stratigraphy, lithologies in the study area from old to young is volcanic breccia unit (Pengulung Formation), Late Oligocene to Early Miocene deposited in the marine environment, diorite intrusive unit in Middle Miocene and resen alluvial deposits. Results of this studies in the research area are to find a low sulphidation epithermal type deposit based on the results of the PIMA analysis, ore microscopic and stream sediment geochemistry. Obtained association elements Au, Ag, As, Sb, Pb, and Zn based on statistical analysis of the stream sediment geochemistry data in the study area, with the prospect area is located in the Tanabea hill, the southern part of the study area.
334813151B1J011101ANALISIS VEGETASI TUMBUHAN BAWAH PADA BERBAGAI UMUR TEGAKAN HUTAN PRODUKSI DAMAR
(Agathis dammara (Lamb.) Rich.)
Perkembangan sturuktur dan komposisi tumbuhan bawah dipengaruhi oleh jenis tegakan di atasnya. Umur tegakan damar akan berbanding lurus dengan luas tajuk tegakannya, sehingga vegetasi tumbuhan bawah pada tegakan damar merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan mikro yang terbentuk oleh tejuk tegakan damar tersebut. Penelitian telah dilakukandi RPH Baturaden dan RPH Karang Gandul. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara umur tegakan dengan luas tajuk pohon damar, mengetahui struktur dan komposisi vegetasi tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan hutan produksi damar, mengetahui hubungan antara umur dan luas pentupan tajuk tegakan damar terhadap struktur vegetasi tumbuhan bawah. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel menggunakan petak kuadrat. Pengambilan sampel tegakan damar dilakukan dengan petak kuadrat ukuran 10 m x 10 m sebanyak 6 ulangan, petak kuadrat ukuran 2 m x 2 m sebanyak 5 buah diletkkan secara sistematis di dalam setiap petak 10 m x 10 muntuk sampel tumbuhan bawahpada umur tegakan 10, 15, 25, dan 35 tahun. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji regresi untuk menguji hubungan antara umur tegakan dengan luas tajuk tegakan damar, hubungan antara struktur vegetasi tumbuhan bawah dengan umur tegakan dan presentase penutupan tajuk hutan produksi damar. Hasil penelitian menunjukkan ada 49 jenis tumbuhan bawah dari 25 familia. Hubungan antara umur tegakan dengan luas tajuk tegakan damar memiliki pola hubungan yang searah atau semakin bertambahnya umur tegakan maka presentase penutupan tajuk pohon damar akan semakin meningkat. Struktur dan komposisi vegetasi tumbuhan bawah mengalami perubahan secara gradual dari umur tegakan 10 sampai 35 tahun. hubungan antara umur dan luas penutupan tajuk tegakan damar dengan struktur vegetasi tumbuhan bawah memiliki pola hubungan searah atau semakin bertambahnya umur dan presentase penutupan tajuk, indeks keanekaragaman dan jumlah individu vegetasi tumbuhan bawah semakin meningkatThe development of understorey vegetation’s structure and composition is affected by the forest stand. Age of dammar is proportionate with its crown cover, so understorey vegetation of dammar is a result of adaptation with the micro environment that formed by dammar’s crown cover. This research was conducted in RPH Baturraden and RPH Karang Gandul. The aims of this research were to study the relationship between the age of the forest stand with the crown cover, to study the structure of understorey vegetation in different age of dammar, and to study the relationship between age and crown cover of dammar with structure of understorey vegetation. Survey method with quadrate plot technique was used for collecting data. The collected data were analyzed by regression test to test the relationship between the age of forest stand with the crown cover, and between age and crown cover of dammar with structure of understorey vegetation. This research identified 49 understorey species from 25 family. The relationship between the age of the forest stand with the crown cover as older as the age of dammar the percentage of crown cover will increase. The relationship between age and crown cover of dammar with structure of understorey vegetation as increasing of age and percentage of crown cover, the biodiversity index and total spesies of understorey vegetation will increase too.
334913152H1C011053RANCANG BANGUN DAN ANALISIS SENSOR SERAT OPTIK JENIS MULTIMODE UNTUK PENDETEKSI DINI RETAKAN PADA STRUKTUR BETONTelah dirancang sebuah sistem deteksi keretakan dini pada beton menggunakan sensor fiber optik. Dalam penelitian ini digunakan fiber oprik jenis multimode simplex YOFC yang ditanam didalam beton berbentuk silinder dengan 3 konfigurasi yang berbeda.yaitu konfigurasi spiral, gelombang renggang dan gelombang rapat. Sumber cahaya yang digunakan berupa sinar cahaya laser dengan panjang gelombang 850 nm dan digunakan OPM ( Optical Power Meter ) sebagai alat untuk mengukur daya output. Beton berbentuk silinder yang sudah tertanam kabel fiber optik kemudian di uji tekan menggunakan UTM ( Universal Testing Machine ) dengan pengukuran daya output setiap 2 ton hingga nilai beban maksimal yang dapat diterima beton. Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa beban yang diberikan terhadap beton berpengaruh pada rugi daya fiber optik dan nilai rugi daya yang dihasilkan berbanding lurus dengan nilai beban yang diberikan. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Retakan pada beton dapat di deteksi melalui perubahan daya output yang terbaca pada OPM yang kemudian di hitung menggunakan perhitungan manual untuk mendapatkan nilai rugi daya. Nilai rugi daya yang ditimbulkan dan nilai regangan yang dihasilkan sebanding dengan perubahan nilai rugi daya. Menggunakan metode kemiringan dan linearitas. Didapatkan nilai 0,592 dB/ton untuk konfigurasi gel rapat, 1,115 dB/ton untuk konfigurasi gel renggang, dan 8,71 dB/ton untuk konfigurasi spiral dan nilai linearisasi masing-masing sebesar 0,077, -1,071, dan -4,31. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa konfigurasi gelombang renggang merupakan konfigurasi yang paling baik untuk digunakan karena memiliki sensitifitas yang tinggi.Have designed an early cracked detection system for concrete substance using fiber optic sensor. In this research, multimode simplex YOFC are used which planted in a cylinder concrete substance with three different configuration : piral configuration, loose wave, and close configuration. A light source which used in this research is laser light source which have a wave length 850 nm and OPM (Optical Power Meter) which used for measure tools an output power. A cylinder concrete substance which have planted in fiber optic cable is tested for being force. The test is used UTM ( Universal Testing Machine) with output power measured in every 2 ton until the limit of concrete load reached. From the experiment which have done, it is got that a concrete substance are gived a force. That force is made a value of losses in fiber optic. The value of losses in fiber optic have a linier equal with a value of load is given. A data which have got in this experiment are describe in table and graphic. A crack in concrete substance can be detected using a different output power which have read in OPM tools. The result is computed using a manual compute for getting a losses value. Losses value and crack value which appeared is having an equal value with different losses value. Using slope and linier method, is received 0,592 dB/ton for close wave configuration, 1,115 dB/ton for loose wave configuration, and 8,71 dB/ton for piral configuration and a linier value of every configurations is 0,077, -1,071, and -4,31. Based on that result can be infer that a loose wave configuration is the best configuration because of high sensitivity.
335013153A1G012001KELAYAKAN USAHATANI BENIH KEDELAI
(Studi Kasus: Kebun Benih Palawija Kalicacing Kabupaten Banjarnegara)
RINGKASAN
Ketersediaan kedelai nasional pada tahun 2014 mengalami kenaikan produksi sebesar 22,3 %, yaitu pada tahun 2013 produksi kedelai sebesar 777.990 ton dan pada tahun 2014 mengalami kenaikan menjadi 953.950 ton. Kebutuhan kedelai nasional pada tahun 2014 sekitar 2,5 juta ton, artinya produksi kedelai nasional hanya mencukupi 1/3 dari kebutuhan nasional, dan sisanya masih mengandalkan impor dari negara-negara penghasil kedelai. Faktor yang menentukan pengembangan tanaman kedelai diantaranya adalah tersedianya benih bermutu dengan daya kecambah lebih dari 85%.
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Tempat penelitian ditentukan secara purposive yaitu penentuan tempat atau lokasi penelitian berdasarkan pertimbangan yang sesuai dengan tujuan penelitian (Mulyana. P (2002). Kebun Benih Palawija Kalicacing merupakan salah satu produsen benih milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang memiliki tugas memproduksi dan menyalurkan benih palawija khususnya kedelai dan kacang-kacangan untuk wilayah Karisidenan Banyumas dan Karisidenan Pekalongan (Dinpertan TPH Provinsi Jawa Tengah, 2012).
Produksi benih kedelai per musim tanam per hektar di daerah penelitian adalah 482,03 kg, dengan rata-rata harga benih kedelai Rp11.333,34. Penerimaan rata-rata Rp5.463.009,89 per hektar per musim tanam. Kesimpulan diketahui R/C sebesar 1,0057, Break Event Point (BEP) produksi sebesar 437,25 kg per hektar per musim tanam, Break Event Point (BEP) penerimaan sebesar Rp4.986.338,85, dan Break Event Point (BEP) harga sebesar Rp11.052,88. Artinya di lokasi penelitian rata-rata produksi benih kedelai selama 4 tahun sejumlah 482,03 kg, harga penjualan secara rata-rata sebesar Rp11.333,34, dan rata-rata penerimaan sebesar Rp5.463.009,89. Berdasarkan analisis kelayakan berarti proses produksi benih kedelai yang selama ini dilaksanakan belum mendapatkan keuntungan atau pada posisi impas.
Kata kunci: Kelayakan, Usahatani, Benih Kedelai.
SUMMARY Availability of soy national production in 2014 increased by 22.3%, which in 2013 amounted to 777 990 tons of soybean production in 2014 and increased to 953 950 tonnes. National soybean demand in 2014 of about 2.5 million tons, meaning that national soybean production covers only 1/3 of the national needs, and the rest still rely on imports of soybean-producing countries. Factors that determine the development of soybean plants include the availability of quality seed with a germination rate of more than 85%. This research uses the case study method. Where the research is determined by purposive namely the determination of the place or location of the research is based on the consideration that in accordance with the purpose of research (Mulyana. P (2002). Gardens Seed Crops Kalicacing one seed producers belonging to the Government of Central Java province has a duty to produce and distribute seed crops, especially soybeans and nuts for Karisidenan region Banyumas and Karisidenan Pekalongan (TPH Dinpertan Central Java Province, 2012). Production of soybean seeds per hectare per cropping season in the study area is 482.03 kg, with an average price of soybean seed Rp11.333,34. Reception is average Rp5.463.009,89 per hectare per cropping season. Conclusion known R / C of 1.0057, Break Event Point (BEP) of production amounted to 437.25 kg per hectare per cropping season, Break Event Point (BEP) acceptance of Rp4.986.338,85, and Break Event Point (BEP) price by Rp11.052,88. That is at the study site average soybean seed production for 4 years a number of 482.03 kg, the sales price is the average of Rp11.333,34, and the average revenue of Rp5.463.009,89. Based on feasibility analysis means the production process of soybean seeds that have been implemented have not benefited or at break-even position. Keywords: Feasibility, Farming, Soybean Seed.
335113157A1H008029ANALISA KEBUTUHAN ENERGI PADA PENGALENGAN GUDEG DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PRODUKSI KAPASITAS 1250 KALENG DAN 10000 KALENG DI UPT BPPTK LIPI GUNUNG KIDUL YOGYAKARTAGudeg adalah makanan yang terdiri dari sayur nangka muda atau gori yang direbus dengan berbagai macam bumbu dan disajikan bersamaan dengan tambahan pelengkap rasa seperti sambal goreng, tahu, telur dan daging ayam. Proses pengalengan gudeg membutuhkan energi. Proses pengalengan gudeg saat ini penggunaan energinya pada alat produksi 1250 kaleng terlalu besar sehingga dibutuhkan audit energi. Tujuan penelitian ini antara lain:
(1) Mengetahui jumlah kebutuhan energi yang digunakan dengan alat berkapasitas 1.250 kaleng/hari. (2) Mengetahui jumlah penggunaan energi pada alat berkapasitas 10.000 kaleng/hari. (3) Mengetahui nilai perbandingan kebutuhan energi pada proses pengalengan gudeg dengn menggunakan alat produksi berkapasitas 1250 kaleng dan 10000 kaleng.
Pengambilan data dilaksanakan di UPT BPPTK LIPI Yogyakarta pada bulan September – Oktober 2012. Analisis data yang digunakan meliputi perhitungan energi meliputi energi manusia, energi bahan bakar, energi listrik dan efisiensi energi proses pengalengan gudeg.
Berdasarkan perhitungan, kebutuhan energi pada alat pengalengan kapasitas 1.250 kaleng per hari sebesar 436,39 MJ terdiri dari kebutuhan energi manusia sebesar 218,24 MJ, energi bahan bakar sebesar 31,14 MJ, dan energi listrik sebesar 187,01 MJ. Kebutuhan energi pada alat pengalengan kapasitas 10.000 kaleng per hari sebesar 2.848,82 MJ terdiri dari kebutuhan energi manusia sebesar 497,55 MJ, energi bahan bakar sebesar 2.005,60 MJ, dan energi listrik sebesar 345,67 MJ. Berdasrkan hasil penelitian diperoleh nilai perbandingan kebutuhan energi proses pengalengan gudeg dengan alat produksi berkapasitas 10000 kaleng/hari sebesar 81,60 persen lebih hemat dibandingkan menggunakan alat produksi berkapasitas 1250 kaleng/hari. Kebutuhan energi untuk memproduksi satu gudeg kaleng menggunakan alat produksi berkapasitas 1250 kaleng per hari yaitu 0,349117 MJ/kaleng sedangkan menggunakan alat produksi berkapasitas 10000 kaleng per hari yaitu 0,284882 MJ/kaleng.
Gudeg is a diet consisting of vegetables young jackfruit or categories to which boiled with various seasonings and served concurrently with the addition of complementary flavors like chili fries, tofu, eggs and chicken meat. Gudeg canning process requires energy. Canning process gudeg current energy usage in production tools in 1250 cans so large that it takes an energy audit. The purpose of this study include: (1) Determine the required amount of energy used by the appliance with a capacity of 1,250 cans / day. (2) Determine the amount of energy use on the appliance with a capacity of 10,000 cans / day. (3) Knowing the value of the ratio of energy needs in the canning process gudeg with less use of production equipment with a capacity of 1250 and 10000 cans.
Retrieval of data held in UPT BPPTK LIPI Yogyakarta in September-October 2012. The data analysis includes the calculation of energy include human energy, fuel energy, electric energy and energy efficiency gudeg canning process.
Based on the calculations, the energy needs of the tool canning capacity of 1,250 cans per day at 436.39 MJ composed of human energy needs for 218.24 MJ, energy fuel by 31.14 MJ, and electric energy amounting to 187.01 MJ. Energy requirements on the tool canning capacity of 10,000 cans per day at 2848.82 MJ composed of human energy needs for 497.55 MJ, energy fuel by 2005.60 MJ, and electric energy amounting to 345.67 MJ. Pursuant to the results obtained by comparing the value of the energy needs of warm canning process by means of the production capacity of 10000 cans / day amounted to 81.60 per cent more efficient than using a production capacity of 1250 cans / day. Energy needs to produce a warm cans using a production capacity of 1250 cans per day is 0.349117 MJ / cans while using a production capacity of 10 000 cans per day is 0.284882 MJ / cans.
335213164E1A011151PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI KONSUMEN DARI MAINAN TIDAK BERLABEL STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DI KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini berjudul “Perlindungan Hukum Terhadap Anak Sebagai Konsumen Dari Mainan Tidak Berlabel Standar Nasional Indonesia (SNI) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen di Kabupaten Banyumas”. Latar belakang penelitian ini adalah disebabkan tindakan pelaku usaha yang masih memproduksi dan menjual mainan tidak berlabel Standar Nasional Indonesia (SNI). Beredaranya mainan anak tidak berlabel Standar Nasional Indonesia (SNI) yang setelah dites laboratorium ternyata mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat membahayakan kesehatan anak. Bahan kimia berbahaya tersebut masuk ke dalam tubuh anak karena anak memegang mainan dan terkadang menggigit mainan itu.
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan yuridis normatif, yaitu suatu pendekatan yang menggunakan pendekatan legis positivis, sedangkan metode analisis yang digunakan adalah normatif kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Dinas Kesehatan dan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Banyumas.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Perlindungan Hukum Terhadap Anak Sebagai Konsumen Dari Mainan Tidak Berlabel Standar Nasional Indonesia (SNI) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen di Kabupaten Banyumas secara normatif telah terpenuhi dengan dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 24/M-IND/PER/4/2013 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Mainan Secara Wajib, walaupun pada prakteknya masih ada pelaku usaha yang tidak memperhatikan aturan pemerintah tersebut sehingga mengabaikan hak anak sebagai konsumen untuk mendapatkan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi mainan.
Berdasarkan penelitian tersebut, maka pemerintah hendaknya mengambil tindakan tegas ketika ditemukan pelanggaran-pelanggaran, pelaku usaha yang masih memproduksi dan menjual mainan tidak berlabel SNI harus diberi sanksi yang tegas berupa dilakukannya sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
This study titled "Law Protection Against Child For Consumers From Toys Labeled Indonesian National Standard (SNI) Based on Law No. 8 of 1999 on Consumer Protection in Banyumas". The background of this research is due to the actions of business actors are still producing and selling toys are not labeled Indonesian National Standard (SNI). Distribution of toys are not labeled Indonesian National Standard (SNI), which after testing laboratory turned out to contain harmful chemicals that can harm the health of children. The harmful chemicals into the body of the child because the child holds the toy and sometimes bite the toy.
The method used in this research is normative juridical approach, ie an approach that uses legis positivist approach, whereas the method of analysis used is qualitative normative. This research was conducted at the Department of Health and the Department of Industry, Trade and Cooperative Banyumas.
Based on the survey results revealed that the Legal Protection Against Child For Consumers From Toys Labeled Indonesian National Standard (SNI) is based on Law No. 8 of 1999 on Consumer Protection in Banyumas normatively been met with issued Regulation of the Minister of Industry No. 24 / M-IND / PER / 4/2013 regarding Compulsory Enforcement of Indonesian National Standard (SNI) Toys compulsory, although in practice there are still businesses that do not pay attention to the government rules that ignore the rights of the child as a consumer to obtain comfort, security, and safety in consuming toys.
Based on these studies, the government should take decisive action when violations are found, businesses are still producing and selling toys are not labeled SNI strict sanctions should be given administrative sanctions be done in accordance with the legislation.
335313155D1F013004KADAR PROTEIN BAKSO DAN DAYA IKAT AIR DAGING DARI KEADAAN FISIK DAGING SAPI YANG BERBEDA
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan waktu pelayuan daging pada suhu ruang sebagai bahan pembuatan bakso terhadap kadar protein bakso dan daya ikat air daging sapi. Materi penelitian yang digunakan adalah 6.000 gram daging sapi, 960 gram tepung tapioka, 240 gram bawang putih, 96 gram garam, 24 gram merica bubuk, 24 gram sodium tripolyphospat (sttp), 6 butir telur, dan 480 gram es batu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari 4 perlakuan pada daging sapi dengan perbedaan waktu pelayuan pada suhu ruang (25-28°C) yaitu: daging segar tanpa dilayukan (R1), waktu pelayuan daging sapi selama 6 jam (R2), waktu pelayuan daging sapi selama 12 jam (R3), dan waktu pelayuan daging sapi selama 18 jam (R4), masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variansi kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan waktu pelayuan daging berpengaruh sangat nyata (P <0,01) terhadap kadar protein bakso dan daya ikat air daging sapi. Penelitian dapat disimpulkan bahwa kadar protein bakso dan daya ikat air dari daging yang dilayukan pada suhu ruang (25-28°C) sampai dengan 18 jam lebih rendah dibandingkan dengan kadar protein bakso dan daya ikat air dari daging segar tanpa dilayukan.The study was aimed to investigate the effect of time differences of meat withering for meatballs in room temperature on its protein content and water holding capacity of beef. The research materials were 6.000 grams of beef, 960 grams of tapioca flour, 240 grams of garlic, 96 grams of salt, 24 grams of pepper, 24 grams of sodium tripolyphospat (sttp), 6 eggs, and 480 grams of ice water. The experiments were conducted by using a Block Randomized Design with 4 treatments of time differences of meat withering in room temperature (25°­28°C): fresh beef (R1), beef withered for 6 hours (R2), beef withered for 12 hours (R3), and beef withered for 18 hours (R4). Each treatment was repeated 6 times. The data were analyzed by analysis of variance followed by Honesty Significant Difference (HSD) Test. The results showed that time differences in the withering have significant effect (P <0.01) on the protein content of the meatballs and water holding capacity of the meat. This research concludes that the protein content in the meatballs and water holding capacity of the beef that are withered at room temperature (25°­­­28°C) for 18 hours is lower than those of fresh and non withered beef.
335413148C1C011033Persepsi Kegunaan, Kemudahan, Keamanan dan Kerahasiaan, serta Kepuasan Wajib Pajak Pengguna E-Filing dan Non E-Filing untuk Pajak Tahunan Orang PribadiPenelitian ini bertujuan untuk membandingkan persepsi kegunaan, persepsi kemudahaan, persepsi keamanan dan persepsi kepuasan wajib pajak antara pengguna e-filing dan non e-filing. Lokasi penelitian dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Purwokerto, dengan menggunakan data primer dan data sekunder yang dikumpulkan dengan metode survei. Wajib pajak yang terdaftar menggunakan e-filing berjumlah 17.831 dan pengguna non e-filing berjumlah 44.332. Uji paired t-test digunakan untuk membandingkan masing-masing variabel antara pengguna e-filing dan non e-filing. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka diketahui bahwa: (1) dari segi kegunaan tidak terdapat perbedaan, yaitu pengguna e-filing dan non e-filing memiliki persepsi bahwa pelaporan SPT secara online dan manual sama-sama berguna; (2) dari segi kemudahan terdapat perbedaan, yaitu pengguna memiliki persepsi bahwa penggunaan e-filing lebih mudah daripada dengan cara manual; (3) dari segi kemanan terdapat perbedaan, yaitu pengguna memiliki persepsi bahwa menggunakan e-filing lebih aman dan terjamin kerahasiaannya; (4) dari segi kepuasan tidak terdapat perbedaan, yaitu baik pengguna e-filing mapun non e-filing sama-sama puas; dan (5) secara keseluruhan, terdapat perbedaan persepsi antara pengguna e-filing dan non e-filing, sehingga disimpulkan bahwa manfaat kegunaan e-filing dipengaruhi oleh variabel kegunaan, kemudahan, keamanan, kerahasiaan dan kepuasan wajib pajak terhadap e-filing.

This study aimed to compare the perceived usefulness, perceived convenience, perceived security and perceived satisfaction of tax payers between users of e-filing and non e-filing. The research located in Tax Office (KPP) Pratama Purwokerto, using primary data and secondary data collected by survey method. The registered taxpayers to use e-filing are 17.831 and the non e-filing are 44.332. Paired t-test was used to compare each variable between users of e-filing and non e-filing. Based on the analysis, it is can be concluded that: (1) there is no difference in perceived usefulness, users of e-filing and non e-filing has the perception that reporting tax return online and manual are equally useful; (2) there is a difference in perceived convenience, the user has a perception that the use of e-filing is more convenience than the manual; (3) there is a difference in perceived security, the user has a perception that the use of e-filing is more secure and confidential than the manual; (4) there is no difference in perceived satisfaction, either the e-filing and non e-filing are equally satisfied; and (5) as a whole, there are differences of perception between users of e-filing and non e-filing, so it can be concluded that the benefits of the usefulness of e-filing is influenced by variables of usability, convenience, security, confidentiality and satisfaction of taxpayers on e-filing.
335513159F1A011032Lesbianisme di Kalangan Buruh Migran Perempuan Indonesia di Hong Kong (Studi Hermeneutik Buku Tentang Sedih di Victoria Park)Buruh Migran Perempuan merupakah istilah yang sering dipakai untuk menyebut perempuan-perempuan Indonesia yang bekerja di luar negeri untuk memperjuangkan kehidupan keluarga. Pilihan menyandang status ini bukanlah suatu yang mudah. Mereka harus rela meninggalkan suami, anak, dan keluarga bahkan negara tempat kelahiran dalam waktu yang relatif lama. Risiko yang ditanggung cukup besar. Hal semacam ini dapat dibuktikan dengan banyaknya berita yang dimuat media cetak maupun online tentang kekerasan yang menimpa mereka. Disamping berita kekerasan tersebut, kisah perempuan-perempuan tersebut tidak hanya selalu tentang kekerasan, ada juga kisah humanis yang terjadi di kehidupan mereka yang mungkin saja tidak banyak orang tahu akan hal tersebut. Salah satu kisah tersebut adalah perilaku lesbian di kalangan Buruh Migran Perempuan Indonesia di Hong Kong yang dimuat dalam Buku Tentang Sedih di Victoria Park karya Fransisca Ria Susanti.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana lesbianisme yang terjadi di kalangan Buruh Migran Perempuan Indonesia di Hong Kong. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan Hermeneutika untuk menafsirkan, menganalisis dan menerjemahkan penggalan teks Fransisca Ria Susanti yang menjelaskan perilaku lesbian di kalangan Buruh Migran Perempuan Indonesia di Hong Kong. Sumber data dalam penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh dari Buku Tentang Sedih di Victoria Park. Data sekunder yaitu datayang diperoleh dari literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian dan juga diskusi dengan para mantan Buruh Migran Perempuan di Hong Kong. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik studi dokumenter. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data hermeneutik yang dikembangkan oleh Gadamer, yaitu: Analisis Semantik, Refleksi dan Eksistensial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku lesbian di kalangan Buruh Migran Perempuan Indonesia di Hong Kong memiliki keunikan tersendiri. Pertama, dari segi karakter fisik, yang mana, Buruh Migran Perempuan yang lesbian biasanya berpenampilan tomboy (penampilan dan berperilaku kelaki-lakian). Penampilan ini akan jelas terlihat saat mereka berkumpul di komunitas lesbian pada hari Minggu di Taman Victoria Park. Penampilan pihak “laki-laki” selalu berpenampilan tomboy dan pihak “perampuan” bisa terlihat berpenampilan tomboy atau tidak. Akan tetapi, penampilan tomboy ini tidak bisa menjadi ukuran yang paten untuk membedakan mana pihak “laki-laki” dan pihak “perempuan”. Kedua, pasangan lesbian ini terdiri dari Butch (pihak “laki-laki”) dan Femme (pihak “perempuan”) yang saling tergantung pada pasangan. Bahkan mereka nyaris memuja pasangannya. Hal tersebut dikarenakan pasangan mereka adalah orang terdekat yang dipercaya dapat melindungi ketika mendapatkan masalah buruh migran. Ketiga, merekajuga melangsungkan “pernikahan”di Hong Kong. Pernikahan ini dilangsungkan bertujuan untuk mengikat cinta kasih mereka, meskipun hanya disahkan oleh komunitasnya saja. Hal yang menarik adalah meskipun mereka melangsungkan pernikahan, tetapi ada beberapa dari mereka masih memiliki suami dan anak kandung di Indonesia. Faktor penyebab perilaku lesbian ini diantaranya adalah pengaruh keadaan dan kondisi hubungan orang tua, pengalaman kekerasan fisik dan seksual buruk pada masa kanak-kanak, dan lingkungan yang dalam hal ini adalah peran komunitas lesbian Buruh Migran Perempuan Indonesia di Hong Kong. Menjadi lesbian adalah cara mereka untuk bertahan hidup, untuk itu diharapkan dengan adanya penelitian ini pemerintah tetap melindungi para Buruh Migran Perempuan tersebut meskipun mereka memiliki orientasi seksual yang berbeda.
Women Migrant Workers is a term which often used to refer to Indonesian women who works overseas to pursue their sustain-household. The option to grant this status is not an easy one. They must be willing to leave her husband, children, and families or even birthplace country in long time and they also cover great risks. It can be proven by some news about violence that happened to Women Migrant Workers published by mass and online media. In addition, their stories are not merely about violence but also humanist story which probably not all people know it. One of these stories is about lesbianism among Indonesian Women Migrant Workers in Hong Kong which loads in “Tentang Sedih di Victoria Park” book wrote by Fransisca Ria Susanti.
This research aims to know how lesbianism among Indonesian Women Migrant Workers in Hong Kong. The research’s method used descriptive-qualitative which took Hermeneutic approach to interpret, analyze and transcribe the scripts of Fransisca Ria Susanti that explain lesbian behavior among Women Migrant Workers in Hong Kong. Data sources in this research consist of primary and secondary source. Primary data is data obtained from “Tentang Sedih di Victoria Park” book. Secondary data is obtained from other sources (e.g. journal) relating with this research and also discussion with former of Women Migrant Workers in Hong Kong. Technique data analysis used Gadamer hermeneutics’ data analysis, they are: Semantic Analysis, Reflection Analysis and Existential Analysis.
The result of this research shows that lesbian behavior among Indonesian Women Migrant Workers in Hong Kong has their own uniqueness. First is physics’ character point of view. They usually look “tomboy” (boyish). It can be seen when they gather in lesbian community on every Monday in Victoria Park. The appearance of “a male” is always looks boyish and “a female” can be seen boyish or not. However, that boyish appearance isn’t latent standard to differentiate which “male” or “female” in a couple. Second, a lesbian couple consists of Butch (“a male”) and Femme (“a female”) which always depends on their couple. Moreover, they adore their couple. It is because they are the closest and trusted one who can protect themselves. Third, they prefer to set aside their salaries for got married in Hong Kong. It’s for tightening their love even only acknowledged by their community. The most interesting is even if they got married, but some of them still have husband and children in Indonesia. The causalities factors are parent’s circumstance and relation, bad experience child abuse physically and sexually, and social environment which is role of lesbian Indonesian Woman Immigrant Labor community in Hong Kong. Becoming lesbian is the way how they can survive, so that, this research has suggest to Indonesian Government to give protection to all migrant workers without seeing who they are.
335613156A1L008175KERUSAKAN BIJI KACANG HIJAU DARI BEBERAPA PASAR DI KOTA PURWOKERTO AKIBAT INFESTASI
HAMA KUMBANG Callosobuchus chinensis L.
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk a). mengetahui tingkat kerusakan biji kacang hijau yang disimpan di kios di beberapa pasar di Kota Purwokerto, b). Mengetahui populasi kumbang yang muncul dari biji kacang hijau yang dijajakan/disimpan disimpan di berbagai kios di beberapa pasar di Kota Purwokerto. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Mei 2015. Penelitian menggunakan metode survei dengan pola acak sederhana (simple random sampling) pada tiga kios di beberapa pasar wilayah di Kota Purwokerto (Pasar Wage, Pasar Cerme, Pasar Pon, Pasar Manis, dan Pasar Karanglewas). Sampel biji kacang hijau diambil secara acak pada lima pasar, tiap pasar diambil tiga kios (penjual) secara acak yang menjual biji kekacangan termasuk kacang hijau. Tiap kios diambil secara acak tiga sampel biji kacang hijau, tiap sampel ditimbang sebanyak 500 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerusakan biji kacang hijau dari 5 sampel pasar yaitu kisaran 0,22-21,22%. Untuk pengamatan di Pasar Wage dan Karanglewas lebih banyak diserang oleh hama tersebut dibandingkan dengan pasar sampel lainnya. Biji kacang hijau di Pasar Pon paling sedikit terserang oleh hama C. chinensis. Hasil menunjukkan intensitas serangan hama yang berbeda nyata di Pasar Wage. Kemunculan kumbang menunjukkan bahwa kumbang hidup pada biji kacang hijau dan makanan tersebut cocok untuk perkembangan kumbang. Populasi imago hama yang muncul berkisar 0-21 kumbang. Susut bobot biji yang tertinggi dijumpai pada biji kacang hijau di Pasar Cerme. Parasitoid yang ditemukan pada biji kacang hijau yang terserang kumbang adalah Dinarmus basalis dengan populasi beragam dari 0-17 dengan rerata 0,14-0,67 pada berbagai pasar.
ABSTRACT


This study aims to a) know the extent of damage mung bean seeds stored at stall in several markets in Purwokerto, b). know the population of beetles that emerge from the mung beans are sold / stored in various stall in several markets in Purwokerto. Research conducted at the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, University Jenderal Soedirman Purwokerto. The research was conducted in April-May 2015. The study used a survey method research using survey method with (simple random sampling) on three stall in several market areas in Purwokerto at Purwokerto Markets (Wage, Cerme, Pon, Manis, and Karanglewas). Bean seed samples were taken randomly in five markets, each market taken three stalls (sellers) randomly which sells seeds of mung beans. Each stall was taken randomly three samples of mung beans, each sample was weighed 500 g. The results showed that the level of damage to mung beans from 5 samples at a range of 0.22 to 21.22%. For observations in the market Wage and Karanglewas more attacked by these pests compared with other market samples. Mung beans in market Pon least C.chinensis attacked by pests. Results showed that the intensity of pest attacks significantly different. 2). The emergence of the beetle showsed that the beetle lives on mung beans and the food was suitable for the development of the beetles. Adult pest populations ranging from 0-21 beetles emerge. 3). The highest seed weight loss found in mung beans in Pasar Cerme and significantly different from the other stall. 4). Parasitoids found in mung beans were attacked by beetles C.chinensis vary from 0-17 with a mean of 0.14 to 0.67.
335713162C1C011005PENGARUH PENGETAHUAN PAJAK, PERSEPSI TENTANG FISKUS, SANKSI PAJAK, DAN SISTEM ADMINISTRASI PAJAK TERHADAP TINGKAT KEPATUHAN MEMBAYAR PAJAK
(Studi Empiris di KPP Pratama Indramayu dan DPPKAD Indramayu)
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengetahuan pajak, persepsi tentang fiskus, sanksi pajak, dan sistem administrasi pajak terhadap tingkat kepatuhan membayar pajak di Kabupaten Indramayu. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Total kuesioner yang disebarkan 100 namun yang dapat diolah berjumlah 83 kuesioner. Responden dalam penelitian ini merupakan wajib pajak yang terdaftar di KPP Pratama Indramayu dan DPPKAD Indramayu. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pengetahuan pajak, persepsi tentang fiskus, sanksi pajak, dan sistem administrasi pajak berpengaruh positif terhadap tingkat kepatuhan membayar pajak.This study aimed to determine the effect of tax knowledge, perception of tax authorities, tax penalties, and tax administration system on the level of tax compliance in Indramayu. This research is a quantitative research and data were collected by questionnaires. 100 questionnaires were distributed, but only 83 questionnaires can be processed. Respondents are the registered taxpayer in KPP Pratama Indramayu and DPPKAD Indramayu. The analysis technique used is multiple regression analysis. The result shows that the tax knowledge, perception of tax authorities, tax penalties and tax administration system have positive effects on the level of tax compliance.
335813163A1H011045PENGUKURAN KARAKTERISTIK OPTIK KEDELAI KUNING (Glycine max L. Merril) CURAH
PADA BERBAGAI KADAR AIR
Kedelai (Glycine max L. Merril) merupakan sejenis kacang-kacangan yang merupakan sumber protein
nabati dan lemak yang cukup tinggi, kedelai memiliki kandungan gizi yang baik, sehingga hasil olahan dari
kedelai banyak dikonsumsi masyarakat. Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui karakteristik optik (reflektansi
cahaya) kacang kedelai kuning (Glycine Max L. Merril) utuh, rusak, dan terkontaminasi pada berbagai kadar air,
mengetahui penyebaran cahaya yang diterima oleh sensor, dan menentukan persamaan matematis atau
hubungan antara karakteristik optik (reflektansi cahaya) dengan kadar air kacang kedelai kuning utuh, rusak,
dan terkontaminasi. Variabel yang diamati meliputi nilai resistansi sensor LDR dan kadar air. Pengukuran kadar
air ini dilakukan untuk melihat perubahan kadar air yang terjadi selama proses pengovenan dengan waktu per 60
menit sebanyak enam kali pengulangan hingga kadar air konstan. Penelitian ini menunjukkan sebagian adanya
hubungan korelasi dan determinasi antara resistansi LDR dengan kadar air kedelai kuning. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dengan menggunakan tiga sumber cahaya (cahaya merah (650 nm), cahaya hijau (532 nm)
dan cahaya bright white) hanya beberapa sensor yang mempunyai hubungan erat antara resistansi dengan kadar
air, cahaya merah (650 nm) tepat untuk mengukur kadar air pada kondisi utuh, rusak, dan terkontaminasi,
sedangkan cahaya hijau (532 nm dan bright white tepat untuk mengukur kadar air pada kondisi rusak. Cahaya
merah lebih baik untuk mengidentifikasih kadar air dengan tiga kondisi bahan (utuh, rusak, dan terkontaminasi).
Persamaan matematis laser hijau (532 nm) kondisi terkontaminasi y = 1,512x -2,412= 0,836, laser merah (650
nm) kondisi rusak y = 1,759x + 16,01= 0,773, dan bright white kondisi terkontaminasi y = 0,260x + 1,908=
0,829.
Soybean (Glycine max L. Merrill) is a kind of nuts that is a source of vegetable protein and is high in fat.
Soybean has a good nutrient content, so that the processed soy is consumed by a lot of people. The purpose of
this research are to know the optical characteristics (light reflectance) of yellow soybeans (Glycine Max L.
Merrill) intact, damaged and contaminated in various levels of water, to know the spread of the light received
by the sensor, and to know the mathematical equation or the relationship between the optical characteristics
(reflectance of light) and the moisture content of yellow soybeans intact, damaged and contaminated. Variables
observed are LDR censor resistance value and moisture content. The measurements of water content are done
to see the changes in water levels that occurred during oven in 60 minutes six times repetition until the moisture
content is constant. This research shows some relationships between the correlation and the determination LDR
resistance with the moisture content of yellow soybean. The results shows that by using three sources of light
(red light (650 nm), green light (532 nm) light and bright white), just a few sensors that have a close
relationship between resistance and moisture, light red (650 nm) right to measure water content in intact
condition, damaged and contaminated, whereas green light (532 nm and bright white are appropriate to
measure water content in a damaged condition. The red light is better to identify the water content with the
three conditions of material (intact, damaged and contaminated). The mathematical equation are green laser
(532 nm) contaminated condition y = 1,512x -2.412 = 0.836, red laser (650 nm) damaged condition y = 1,759x
+ 16.01 = 0.773, and the bright white contaminated condition y = 0,260x + 1,908 = 0,829.
335913167A1L011104REPELENSI BEBERAPA JENIS TANAMAN PENGHASIL SENYAWA VOLATIL TERHADAP KUMBANG TEPUNG Tribolium castaneum (Herbst.)Tribolium castaneum merupakan hama yang menyerang produk tepung seperti terigu, beras, jagung, dan lain-lain. Pengendalian hama ini masih menggunakan pestisida dan fumigasi yang bersifat membunuh. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah penggunaan pestisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui potensi dari beberapa jenis tanaman penghasil senyawa volatil sebagai repelen terhadap kumbang tepung T. castaneum, dan 2) mengetahui tingkat konsentrasi yang menunjukkan hasil repelensi terbaik.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto pada bulan Pebruari 2015 – Juli 2015. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design), menggunakan dua faktor. Faktor yang pertama yaitu jenis tanaman penghasil senyawa volatil: P1=daun pandan wangi, P2=daun salam, P3= daun serai wangi, P4=daun selasih, P5=daun nilam. Faktor kedua yaitu tingkat konsentrasi: K1=5%, K2=10%, K3=15%. Total kombinasi perlakuan 15 kombinasi dan 5 kali ulangan. Variabel yang diamati adalah tingkat repelensi ekstrak tanaman terhadap serangga dan jumlah serangga yang datang ke arena karung. Data dianalisis dengan cara uji F, apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan BNT (Beda Nyata Terkecil) pada taraf kesalahan 5%.
Hasil dari penelitian ini adalah 1) ekstrak tanaman pandan wangi, salam, serai wangi, selasih dan nilam memiliki potensi sebagai repelen terhadap serangga T. castaneum dengan tingkat repelensi sangat tinggi yaitu kelas V (lima), 2) ekstrak tanaman salam merupakan jenis tanaman penghasil senyawa volatil terbaik dengan nilai persen repelensi sebesar 93,70%, dan 3) berdasarkan hasil statistik, konsentrasi ekstrak tanaman yang diuji tidak berpengaruh terhadap repelensi. Namun berdasarkan pengamatan, konsentrasi ekstrak tanaman terbaik adalah 5%.
Tribolium castaneum is a pest that attack flour products such as wheat flour, rice flour, corn flour, and others. This pest control still uses pesticides and fumigation that tend to killing. One of the alternative that can be done is the usage of botanical pesticides. This research aims to 1) determine the potential of some species of plants producing volatile compounds as repellent against flour beetle T. castaneum, and 2) determine the concentration of extracts that giving the best result of repellency.
The research was conducted at the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture Jenderal Soedirman University Purwokerto in February 2015 - July 2015. This research used an experimental method, with Split Plot Design, by using two factors. The first factor (main plot) was the species of plants that producing volatile compounds: P1= Pandanus amaryllifolius, P2= Syzygium polyanthum, P3= Cymbopogon nardus, P4= Ocimum basillicum, P5= Pogostemon cablin. The second factor (sub plot) was the the level of concentrations: K1 = 5%, K2 = 10%, K3 = 15%. Total combined treatment was 15 combinations and each combination treatment was repeated 5 times. The measured variables were level repellency of plant extracts to insects and the number of insects that come to the sack arena. Data were analyzed by F test, if significantly different continued by LSD (Least Significant Difference) at the error rate is 5%.
The results from this research were 1) extract Pandanus amaryllifolius, Syzygium polyanthum, Cymbopogon nardus, Ocimum basillicum, and Pogostemon cablin have potential as an insect repellents against T. castaneum with the high level of repellency as grade V (five), 2) plant extract of Syzygium polyanthum was the best species of plant that producing the volatile compounds with the value of percent repellency that was equal to 93.70%, and 3) based on statistical result, the concentration of the plant extracts had no effect on repellency. However, based on observation, the best concentration was 5%.
336013180C1C008121ANALISIS KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH DALAM MENDUKUNG PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH
(Studi Kasus pada Kabupaten Eks Karesidenan Banyumas)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kinerja PAD pemerintah daerah kabupaten di eks Karesidenan Banyumas, untuk mengetahui tingkat Indeks Kemampuan Keuangan (IKK), untuk mengetahui tingkat kemampuan keuangan pemerintah daerah, untuk mengetahui pola hubungan antara pemerintah pusat dan daerah dan untuk mengetahui perbedaan tingkat kemampuan keuangan pemerintah daerah dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah di antara kabupaten di eks Karesidenan Banyumas. Metode penelitian ini adalah studi kasus dengan teknik analisis data menggunakan tabulasi, metode kuadran dan uji ANOVA. Berdasarkan hasil analisis tabulasi dapat diketahui bahwa pertumbuhan (growth) dan elastisitas PAD termasuk dalam kategori tinggi, sedangkan sumbangan PAD (share) terhadap total belanja termasuk dalam kategori sedang. Hasil analisis tabulasi juga menunjukkan bahwa rata-rata tingkat IKK pemerintah daerah termasuk dalam kategori sedang. Hasil pemetaan kinerja PAD menunjukkan bahwa kabupaten Banyumas dan Cilacap berada pada kuadran I, kabupaten Purbalingga berada pada kuadran III, sedangkan kabupaten Banjarnegara berada di kuadran IV. Mengacu pada hasil analisis tabulasi dapat diketahui bahwa rata-rata rasio kemandirian pemerintah daerah eks Karesidenan Banyumas adalah 13,20% kurang dari 25%. Selanjutnya, dari hasil uji ANOVA diperoleh nilai Fhitung yang lebih besar dari nilai Ftabel atau nilai signifikansi yang lebih kecil dari α (0,05). Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pertumbuhan (growth) dan elastisitas PAD termasuk dalam kategori tinggi, sedangkan sumbangan PAD (share) terhadap total belanja termasuk dalam kategori sedang; rata-rata tingkat IKK termasuk dalam kategori sedang; kemampuan keuangan pemerintah daerah Kabupaten Banyumas dan Cilacap sudah ideal, namun kemampuan keuangan pemerintah daerah Kabupaten Purbalingga belum ideal, bahkan untuk Kabupaten Banjarnegara termasuk dalam kategori buruk; pola hubungan antara pemerintah pusat dengan kabupaten di eks Karesidenan Banyumas adalah instruktif; dan terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kemampuan keuangan pemerintah daerah dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah di antara Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Cilacap dan Banjarnegara. Mengacu pada kesimpulan tersebut, maka dapat diimplikasikan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten eks Karesidenan Banyumas perlu meningkatkan sumber daya dan potensi-potensi daerah, meningkatkan penerimaan pajak dan retribusi daerah serta meningkatkan efektivitas fungsi pengawasan terhadap keuangan pemerintah daerah agar tingkat ketergantungan terhadap dana eksternal dapat diminimalisir sehingga pemerintah daerah dapat lebih mandiri demi mendukung pelaksanaan otonomi daerah.The purpose of this study was to determine the level of performance of AT government district in the former residency of Banyumas, to determine the level of index Financial Capabilities (CCI), to determine the level of financial capability of local government, to determine the pattern of the relationship between central and local governments and to determine differences in the level of ability local government finance in supporting the implementation of regional autonomy among districts in the former residency of Banyumas. This research method is a case study with data analysis techniques using tabulation, the quadrant method and ANOVA. Based on the results tabulation analysis can be known that the growth (growth) and elasticity of PAD in the high category, while the revenue contribution (share) of the total expenditure included in the medium category. Tabulation analysis results also showed that the average level of local government CCI included in the medium category. PAD performance mapping results indicate that the district of Banyumas and Cilacap are in quadrant I, Purbalingga district is in quadrant III, while the Banjarnegara district is in quadrant IV. Referring to the results tabulation analysis showed that the average ratio of local government independence former residency of Banyumas is 13.20% less than 25%. Furthermore, from the ANOVA test results obtained Fhitung value greater than Ftabel value or significance value smaller than α (0.05). Based on the results of the analysis, it can be concluded that the growth (growth) and elasticity of PAD in the high category, while the revenue contribution (share) of the total expenditure included in the medium category; the average level of CCI is included in the medium category; financial capacity of local governments Banyumas and Cilacap have been ideal, but the financial capacity of local governments Purbalingga not ideal, even for Banjarnegara categorized as poor; the pattern of the relationship between the central government in the former residency of Banyumas district is instructive; and there are significant differences between the level of financial capability of local government in supporting the implementation of regional autonomy in Banyumas, Purbalingga, Cilacap and Banjarnegara. Referring to that conclusion, it can be implied that the district government of former residency of Banyumas need to increase the resources and potentials of the region, increase tax revenues and levies as well as improve the effectiveness of oversight of local government finance that level of dependence on external funds can be minimized so that the government areas can be more self-sufficient in order to support the implementation of regional autonomy