Artikel Ilmiah : F1A011032 a.n. Dendi Liya

Kembali Update Delete

NIMF1A011032
NamamhsDendi Liya
Judul ArtikelLesbianisme di Kalangan Buruh Migran Perempuan Indonesia di Hong Kong (Studi Hermeneutik Buku Tentang Sedih di Victoria Park)
Abstrak (Bhs. Indonesia)Buruh Migran Perempuan merupakah istilah yang sering dipakai untuk menyebut perempuan-perempuan Indonesia yang bekerja di luar negeri untuk memperjuangkan kehidupan keluarga. Pilihan menyandang status ini bukanlah suatu yang mudah. Mereka harus rela meninggalkan suami, anak, dan keluarga bahkan negara tempat kelahiran dalam waktu yang relatif lama. Risiko yang ditanggung cukup besar. Hal semacam ini dapat dibuktikan dengan banyaknya berita yang dimuat media cetak maupun online tentang kekerasan yang menimpa mereka. Disamping berita kekerasan tersebut, kisah perempuan-perempuan tersebut tidak hanya selalu tentang kekerasan, ada juga kisah humanis yang terjadi di kehidupan mereka yang mungkin saja tidak banyak orang tahu akan hal tersebut. Salah satu kisah tersebut adalah perilaku lesbian di kalangan Buruh Migran Perempuan Indonesia di Hong Kong yang dimuat dalam Buku Tentang Sedih di Victoria Park karya Fransisca Ria Susanti.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana lesbianisme yang terjadi di kalangan Buruh Migran Perempuan Indonesia di Hong Kong. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan Hermeneutika untuk menafsirkan, menganalisis dan menerjemahkan penggalan teks Fransisca Ria Susanti yang menjelaskan perilaku lesbian di kalangan Buruh Migran Perempuan Indonesia di Hong Kong. Sumber data dalam penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh dari Buku Tentang Sedih di Victoria Park. Data sekunder yaitu datayang diperoleh dari literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian dan juga diskusi dengan para mantan Buruh Migran Perempuan di Hong Kong. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik studi dokumenter. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data hermeneutik yang dikembangkan oleh Gadamer, yaitu: Analisis Semantik, Refleksi dan Eksistensial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku lesbian di kalangan Buruh Migran Perempuan Indonesia di Hong Kong memiliki keunikan tersendiri. Pertama, dari segi karakter fisik, yang mana, Buruh Migran Perempuan yang lesbian biasanya berpenampilan tomboy (penampilan dan berperilaku kelaki-lakian). Penampilan ini akan jelas terlihat saat mereka berkumpul di komunitas lesbian pada hari Minggu di Taman Victoria Park. Penampilan pihak “laki-laki” selalu berpenampilan tomboy dan pihak “perampuan” bisa terlihat berpenampilan tomboy atau tidak. Akan tetapi, penampilan tomboy ini tidak bisa menjadi ukuran yang paten untuk membedakan mana pihak “laki-laki” dan pihak “perempuan”. Kedua, pasangan lesbian ini terdiri dari Butch (pihak “laki-laki”) dan Femme (pihak “perempuan”) yang saling tergantung pada pasangan. Bahkan mereka nyaris memuja pasangannya. Hal tersebut dikarenakan pasangan mereka adalah orang terdekat yang dipercaya dapat melindungi ketika mendapatkan masalah buruh migran. Ketiga, merekajuga melangsungkan “pernikahan”di Hong Kong. Pernikahan ini dilangsungkan bertujuan untuk mengikat cinta kasih mereka, meskipun hanya disahkan oleh komunitasnya saja. Hal yang menarik adalah meskipun mereka melangsungkan pernikahan, tetapi ada beberapa dari mereka masih memiliki suami dan anak kandung di Indonesia. Faktor penyebab perilaku lesbian ini diantaranya adalah pengaruh keadaan dan kondisi hubungan orang tua, pengalaman kekerasan fisik dan seksual buruk pada masa kanak-kanak, dan lingkungan yang dalam hal ini adalah peran komunitas lesbian Buruh Migran Perempuan Indonesia di Hong Kong. Menjadi lesbian adalah cara mereka untuk bertahan hidup, untuk itu diharapkan dengan adanya penelitian ini pemerintah tetap melindungi para Buruh Migran Perempuan tersebut meskipun mereka memiliki orientasi seksual yang berbeda.
Abtrak (Bhs. Inggris)Women Migrant Workers is a term which often used to refer to Indonesian women who works overseas to pursue their sustain-household. The option to grant this status is not an easy one. They must be willing to leave her husband, children, and families or even birthplace country in long time and they also cover great risks. It can be proven by some news about violence that happened to Women Migrant Workers published by mass and online media. In addition, their stories are not merely about violence but also humanist story which probably not all people know it. One of these stories is about lesbianism among Indonesian Women Migrant Workers in Hong Kong which loads in “Tentang Sedih di Victoria Park” book wrote by Fransisca Ria Susanti.
This research aims to know how lesbianism among Indonesian Women Migrant Workers in Hong Kong. The research’s method used descriptive-qualitative which took Hermeneutic approach to interpret, analyze and transcribe the scripts of Fransisca Ria Susanti that explain lesbian behavior among Women Migrant Workers in Hong Kong. Data sources in this research consist of primary and secondary source. Primary data is data obtained from “Tentang Sedih di Victoria Park” book. Secondary data is obtained from other sources (e.g. journal) relating with this research and also discussion with former of Women Migrant Workers in Hong Kong. Technique data analysis used Gadamer hermeneutics’ data analysis, they are: Semantic Analysis, Reflection Analysis and Existential Analysis.
The result of this research shows that lesbian behavior among Indonesian Women Migrant Workers in Hong Kong has their own uniqueness. First is physics’ character point of view. They usually look “tomboy” (boyish). It can be seen when they gather in lesbian community on every Monday in Victoria Park. The appearance of “a male” is always looks boyish and “a female” can be seen boyish or not. However, that boyish appearance isn’t latent standard to differentiate which “male” or “female” in a couple. Second, a lesbian couple consists of Butch (“a male”) and Femme (“a female”) which always depends on their couple. Moreover, they adore their couple. It is because they are the closest and trusted one who can protect themselves. Third, they prefer to set aside their salaries for got married in Hong Kong. It’s for tightening their love even only acknowledged by their community. The most interesting is even if they got married, but some of them still have husband and children in Indonesia. The causalities factors are parent’s circumstance and relation, bad experience child abuse physically and sexually, and social environment which is role of lesbian Indonesian Woman Immigrant Labor community in Hong Kong. Becoming lesbian is the way how they can survive, so that, this research has suggest to Indonesian Government to give protection to all migrant workers without seeing who they are.
Kata kunciLesbianisme, Buruh Migran Perempuan, Fransisca Ria Susanti, Hermeneutik
Pembimbing 1Dra. Rin Rostikawati, M.Si.
Pembimbing 2Drs. Hendri Restuadhi, M.Si. M.A. (Soc)
Pembimbing 3Dr. Tyas Retno Wulan, M.Si.
Tahun2015
Jumlah Halaman15
Tgl. Entri2015-11-12 16:39:45.448229
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.