Artikelilmiahs

Menampilkan 3.281-3.300 dari 48.740 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
328113072G1G011020PERBANDINGAN KARAKTERISTIK ANTARA NANOKOMPOSIT METAKAOLIN-ZIRKONIA-KARBONAT APATIT BERPENGUAT SERAT SELULOSA RANDOM DENGAN DIPILIN UNTUK MATERIAL PASAK GIGI
Pasak gigi merupakan bagian restorasi yang dimasukkan ke dalam saluran akar gigi nonvital. Salah satu jenis pasak gigi adalah pasak gigi fiber reinforced composite (FRC). Pasak gigi FRC tersusun atas matriks nanokomposit, bonding agent sebagai bahan pengikat, dan serat sebagai bahan penguat. Pengembangan penelitian di bidang biomaterial mendorong penggunaan bahan-bahan kedokteran gigi berbasis alam. Metakaolin, zirkonia, dan karbonat apatit merupakan bahan alam yang dapat digunakan sebagai matriks nanokomposit. Penambahan kitosan sebagai bonding agent dan serat selulosa sebagai penguat, diharapkan dapat meningkatkan sifat mekanik material pasak gigi FRC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik nanokomposit berpenguat serat selulosa, meliputi karakteristik morfologi mikrostuktur, kelenturan, dan kekerasan. Jenis penelitian merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan membagi sampel menjadi enam kelompok, yaitu kelompok A1B1 (serat random 0,1%), A1B2 (serat random 0,3%), A1B3 (serat random 0,5%), A2B1 (serat dipilin 0,1%), A2B2 (serat dipilin 0,3%), dan A2B3 (serat dipilin 0,5%). Hasil karakterisasi morfologi mikrostruktur dengan SEM menunjukkan kelompok A2B3 memiliki ukuran celah paling kecil diantara kelompok yang lain, yaitu sebesar 80μm. Hasil uji flexural dan kekerasan dianalisis menggunakan uji ANOVA, kruskal wallis, LSD, dan mann whitney u test. Hasilnya menunjukkan terdapat perbedaan bermakna untuk nilai flexural strength pada kelompok serat random, nilai flexural strength, dan flexural modulus pada kelompok serat dipilin dengan persentase massa 0,1%; 0,3%; dan 0,5%. Simpulan penelitian ini adalah penambahan serat selulosa sebagai penguat matriks nanokomposit dapat memperkecil ukuran celah dan meningkatkan nilai kelenturan, tetapi tidak mempengaruhi nilai kekerasan.Dental post is a part of restoration which is inserted into a non vital root canal of the tooth. One of the types of dental post is commonly known as fiber reinforced composite (FRC) post. FRC post is composed by nanocomposite matrix, bonding agent as a binding material, and fibers as a reinforcing material. The development of research in the biomaterials’ field, encouraging the use of nature based dental materials. Metakaolin, zirconia, and carbonate apatite are some of natural substances which can be used as a nanocomposite matrix. The addition of chitosan as a bonding agent and the cellulose fibers as a reinforcement, is expected to improve the mechanical properties of the FRC post’s material. This study aims to determine the characteristics of cellulose fibers reinforced nanocomposite, covering the microstructure morphological characteristics, the flexibility, and the hardness. This study is an experimental laboratory research, by dividing the sample into six groups: group A1B1 (random fibers 0.1%), A1B2 (random fibers 0.3%), A1B3 (random fibers 0.5%), A2B1 (twisted fibers 0.1%), A2B2 (twisted fibers 0.3%), and A2B3 (twisted fibers 0.5%). The result of microstructure morphological characterization by SEM shows that group A2B3 has the smallest gap compared to other groups, which is equal to 80μm. The result of flexural test and hardness test was analyzed with ANOVA, kruskal wallis, LSD, and mann whitney u test. The result shows that there were a significant differences in flexural strength’s value of random group, flexural strength’s value of twisted group, and flexural modulus’ value of twisted group with 0.1%, 0.3%, and 0.5% of mass percentage. The conclusions of this study can be stated that the addition of cellulose fiber as a reinforcement of the nanocomposite matrix can reduce the size of the gap and increase the value of flexibility, but has no correlation with the hardness values.
328213073H1G011013Pengaruh Logam Berat Merkuri Terhadap Fluktuasi Serum Testosteron Pada Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) JantanMerkuri atau disebut juga sebagai Hydrargyrum (Hg) merupakan logam berat yang dapat menyebabkan pencemaran perairan. Pengaruh logam berat merkuri terhadap organisme akuatik seperti ikan nilem, dapat menurunkan kemampuan reproduksi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh dan tingkat konsentrasi logam berat merkuri terhadap kadar testosteron, serta melihat hubungan logam berat merkuri dan kadar testosteron dengan Indek Gonad Somatik (IGS) ikan nilem (Osteochilus hasselti) jantan. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental dengan 4 perlakuan konsentrasi logam berat yaitu 0 ppm (kontrol), 0,025 ppm (rendah), 0,05 ppm (sedang) dan 0,1 ppm (tinggi). Setiap perlakuan terdapat 40 ekor ikan nilem. Perlakuan logam berat diberikan selama 60 hari. Pengukuran kadar testosteron menggunakan kit DRG testosteron ELISA dengan nomer katalog Ref. EIA-1559. Analisis data hasil pengukuran kadar testosteron pada setiap perlakuan yaitu menggunakan One Way ANOVA. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa merkuri signifikan menurunkan kadar testosteron pada konsentrasi 0,1ppm. Logam berat merkuri dengan kadar testosteron dan IGS menunjukan kolerasi negatif, sedangkan hubungan kadar testosteron dengan IGS menunjukan kolerasi positif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa merkuri menyebabkan penurunan kadar testosteron dan nilai IGS ikan nilem jantan.Mercury or Hydrargyrum (Hg) is a kind of heavy metal which can cause water pollution. Heavy metal effect toward aquatic organism such as Osteochilus hasselti is decreasing it’s reproductive ability. The aim of this research is to know the mercury consentration level and the effect toward testosterone amount as well as to observe the relation between mercury and the amount of testosterone by Gonado-somatic Index (GSI) of male Osteochilus hasselti. The research method used is experimental method with 4 treatments of heavy metal concentration: 0 ppm (control), 0,025 ppm (low), 0,05 ppm (mid), 0,1 ppm (high). There are 40 Osteochilus hasselti in each treatment. Heavy metal treatment given in 60 days. Testosterone level measuring uses DRG testosterone ELISA Kit (EIA-1559). Data analysis of testosterone level measuring result on each treatment is using One Way ANOVA. The result shows that mercury significantly decreasing testosteron amount in consentration 0,1 ppm. Mercury, testoterone level and GSI shows negative corelation, whereas the relation between testosterone amount with GSI shows positive corelation. Accroding to the result of the reserch, it can be concluded that mercury can cause the reducing of testosterone level and GSI value of male Osteochilus hasselti.
328313074H1F011028Kontrol Litologi dan Struktur Geologi Terhadap Gerakan Tanah di Daerah Jemblung dan Sekitarnya, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa TengahDaerah penelitian terletak di daerah Jemblung dan sekitarnya, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Secara geografis daerah penelitian terletak pada koordinat 7o16’31,98” S – 7o18’41,47” S dan 109o41’52,80” E – 109o44’02,40” E. Geomorfologi daerah penelitian terbagi ke dalam tiga satuan geomorfologi yaitu, Satuan Lembah Struktural (S2), Satuan Bukit Intrusi (S11), dan Satuan Perbukitan Vulkanik (V9). Stratigrafi daerah penelitian terbagi ke dalam tiga satuan batuan dimulai dari yang tertua hingga termuda yaitu, Satuan Batulempung-Batupasir, Satuan Diorit, dan Satuan Breksi. Pada daerah penelitian terdapat struktur geologi berupa Sesar Mendatar Menganan Naik Kaliurang Bawah yang berarah baratlaut-tenggara, Sesar Mendatar Mengiri Turun Kaliurang Atas yang berarah timurlaut-baratdaya, dan Sesar Turun Sampang. Struktur geologi berupa sesar diperkirakan ikut berpengaruh terhadap terjadinya gerakan tanah di daerah penelitian. Interpretasi dari citra DEM menunjukkan kelurusan-kelurusan yang mengindikasikan terdapatnya struktur geologi. Dari kelurusan-kelurusan tersebut dapat dianalisis lebih lanjut, salah satunya dengan menggunakan metode Fault and Fracture Density (FFD) untuk dapat mengetahui kerapatannya. Hasil dari analisis FFD menunjukkan bahwa di Desa Jemblung mempunyai kerapatan yang tinggi. Selain itu, pada daerah penelitian tersusun dari endapan hasil aktivitas vulkanisme dengan karakteristik batuannya masih labil, adanya alterasi dan pelapukan. Ditambah dengan kemiringan lereng yang curam-terjal (68,33-68,54%) dan curah hujan yang sangat lebat (>100 mm/hari), daerah penelitian semakin rawan terjadi gerakan tanah.Research area is located at Jemblung and surroundings area, Karangkobar District, Banjarnegara Regency, Central Java. Geographycally coordinate of researh area is located at 7o16’31,98” S – 7o18’41,47” S and 109o41’52,80” E -109o44’02,40” E. Geomorphology of research area is divided into three units namely, Structural Valley Unit (S2), Intrusion Hill Unit (S11), and Volcanic Hill Unit (V9). Stratigraphy of research area is divided into three units lithologies starting with the oldest until youngest namely, Mudstone-Sandstone Unit, Diorite Unit, and Breccia Unit. In the area of research there are geological structures, such as Kaliurang Bawah Thrust Right Slip Fault trending northwest-southeast, Kaliurang Atas Lag Left Slip Fault trending northeast-southwest, and Sampang Normal Fault. Geologic structural such as faults expected to take effect on the occurrence of lanslide in the area of research. Interpretation of citra DEM shows that there are a lot of straightness which indicate the presence of geologic structural. From straightnesses can be analyzed further, one of them using the Fault and Fracture Density (FFD) method in order to determine its density. Results of the FFD analysis showed that in the Jemblung Village have high densities. In addition, the research area is composed of sediment results of volcanism which characterized of the rock is still unstable, the alteration and weathering. Coupled with steep-very step slope (68.33 to 68.54%) and very heavy rainfall (> 100 mm/day), reesearch area more prone to landslide.
328413076H1F011046GEOLOGI DAN ANALISIS PENGARUH TINGKAT PELAPUKAN PADA GERAKAN TANAH DI DAERAH JEMBLUNG DAN SEKITARNYA, KECAMATAN KARANGKOBAR, KABUPATEN BANJARNEGARA, JAWA TENGAH
Kawasan Karangkobar memiliki tingkat pelapukan yang sangat tinggi, sehingga memiliki profil tanah yang tebal dan karena pengaruh dari lereng yang terjal serta alih fungsi lahan, menyebabkan daerah ini juga memiliki tingkat gerakan tanah yang cukup tinggi. Penelitian pada daerah penelitian bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi dan kondisi tingkat pelapukan, serta pengaruhnya terhadap gerakan tanah yang terjadi di daerah penelitian. Penelitian dilakukan melalui pengamatan lapangan dan pengamatan profil pelapukan di sekitar Dusun Jemblung, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa daerah penelitian terbagi atas tiga satuan geomorfologi ( Satuan Perbukitan Tinggi Vulkanik V9, Satuan Dataran Lembah D6, dan Satuan Punggungan Bukit D11), empat satuan geologi (Satuan Batulempung-batupasir, Satuan Diorit, Satuan Batulempung, dan Satuan Breksi), dan terdapat dua struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian (Sesar Mendatar Kanan Naik Kali Merawu dan Sesar Mendatar Kiri Kali Bodas). Hasil pengamatan profil pelapukan pada daerah penelitian menunjukkan empat derajat pelapukan yang tersingkap pada gerakan tanah, yaitu tanah residu (VI), lapuk sempurna (V), lapuk kuat (IV), dan lapuk sedang (III). Hasil dari pengamatan juga didapatkan bahwa pembentukan bidang gelincir yang ada pada gerakan tanah, dikontrol oleh tingkat pelapukan yang ada pada daerah penelitian.Karangkobar region has a very high degree of weathering, so that has a thick soil profile, and because of the influence of the steep slopes and land use, causing these areas have high levels of mass movement. Research in the area aims to determine the geological conditions and the degree of weathering conditions, and the effect on ground motion that occurred in the study area. The study was conducted through field observations and the observations of the weathering profile around Jemblung, Karangkobar district, Banjarnegara, Central Java. The results showed that the study area is divided into three units of geomorphology (Hills High Volcanic V9, Plateau Valley D6, and Ridge Hill D11), four units of geology (Mudstone-sandstone, Diorite, Claystone, and Breccia), and there are two geological structures developed in the study area (Merawu Reverse Right Slip Fault and Bodas Left Slip Fault). The observation of weathering profile in the research area shows four degrees of weathering exposed to soil movement, There are Residual Soil (VI), Completely Weathered (V), Highly Weathered (IV), and Moderately Weathered (III). The results of observations also showed that the formation of the sliding plane is on mass movement is controlled by the degree of weathering that exist in the study area.
328513078B1J011085UJI KEMAMPUAN Aspergillus niger YANG TERAMOBIL PADA SUBSTRAT DALAM MENURUNKAN KADAR WARNA
LIMBAH CAIR BATIK
Industri batik di Indonesia menimbulkan masalah baru yaitu pencemaran yang disebabkan oleh limbah cair dari proses pewarnaan batik. Aspergillus niger yang teramobil pada substrat memiliki kemampuan dalam mendekolorisasi pewarna pada limbah cair batik. Medium amobilisasi yang digunakan pada penelitian ini yaitu serat sabut kelapa dan serat ijuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan A. niger yang teramobil pada substrat dalam menurunkan kadar warna limbah cair batik dan mengetahui kombinasi substrat dan volume limbah cair batik yang paling efektif dalam menurunkan kadar warna limbah cair batik. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Faktorial. Variabel bebasnya adalah jenis substrat (serat ijuk dan serat sabut kelapa) dan volume limbah cair batik (50 ml, 75 ml, 100 ml) sedangkan variabel tergantungnya adalah penurunan kadar warna limbah cair batik. Parameter utama berupa persentase penurunan kadar warna limbah cair batik, sedangkan parameter pendukungnya kandungan logam berat dan penggunaan biomassa kembali (reuse) pada perlakuan yang efektif dalam menurunkan kadar warna serta nilai pH awal dan akhir perlakuan. Analisis data dilakukan dengan metode Analysis of Variance (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% dan 99% untuk mengetahui adanya pengaruh perlakuan, kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan persentase penurunan kadar warna limbah cair batik tertinggi diperoleh pada perlakuan A. niger yang teramobil pada serat ijuk dengan pemberian volume limbah cair batik sebanyak 75 ml (SIV2) yaitu sebesar 99,145% dengan kadar warna 0,975 mg.L-1 dan persentase penurunan kadar warna terendah diperoleh pada perlakuan A. niger yang teramobil pada serat sabut kelapa dengan pemberian volume limbah cair batik sebanyak 100 ml (SKV3) yaitu sebesar 97,145% dengan kadar warna 4,178 mg.L-1. Batik industry in Indonesia leads new problem that is water pollution caused by effluent from batik dyeing process. Aspergillus niger which immobilized on a substrate have ability to decolorization dyes in batik wastewater. Immobilization medium used in this research was coconut coir and palm fiber. These study aims to determine the ability of A. niger which immobilized on substrate toward decreasing colour concentration in batik wastewater and determine the combination of substrate and batik wastewater volume which most effective toward decreasing colour concentration in batik wastewater.These research used experimental method with Factorial Completely Randomized Design (CRD). The independent variables were substrate (coconut fiber and palm fiber) and volume of batik wastewater (50 ml, 75 ml, 100 ml), while dependent variables was decreasing colour concentration in batik waste water. The main parameter was percentage of decreasing colour concentration in batik wastewater, while supporting parameters were heavy metal contents, reuse of effective biomass and pH. The data analysis was conducted using Analysis of Variance (ANOVA) in 95% and 99% level to determine the existance of treatments effect, followed by a Honestly Significant Difference (HSD) test to determine differentiation among treatments. The highest percentage of wastewater decolorization was obtained in treatment of immobilized A. niger on palm fiber with 75 ml batik wastewater (SIV2) showed 99.145% decolorization with 0.975 mg.L-1 colour concentration. The lowest percentage of wastewater decolorization was obtained in treatment of immobilized A. niger on coconut fiber with 100 ml batik wastewater (SKV3) showed 97.145% decolorization with 4.178 mg.L-1 colour concentration.
328613079G1G011012PENGARUH EKSTRAK ETANOL TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza Roxb.) TERHADAP EKSPRESI BCL-2 PADA KULTUR SEL KARSINOMA SKUAMOSA MULUT SP-C1Karsinoma sel skuamosa mulut adalah istilah untuk neoplasma ganas dari epitel yang mengalami peningkatan jumlah secara abnormal, invasif, dan metastasis. Salah satu penyebab karsinoma adalah hambatan proses apoptosis oleh Bcl-2 sebagai protoonkogen anggota Bcl-2 family. Beragam upaya penatalaksanaan penyakit kanker masih menemui kendala,sehingga peneliti tertarik menggunakan tanaman obat yaitu temulawak untuk mengurangi efek samping dan harganya relatif murah. Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) mengandung kurkumin yang memiliki efek sitotoksik terhadap kanker payudara T47D, limfoma HUT-78, dan karsinoma paru A-549. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik dari ekstrak etanol temulawak terhadap karsinoma sel skuamosa Sp-C1 dan pengaruhnya terhadap ekspresi protein Bcl-2. Ekstrak etanol temulawak diperoleh dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 95%. Evaluasi sitotoksik dengan metode MTT Assay dilakukan pada kultur sel Sp-C1 yang dibagi menjadi 20 kelompok, 10 kelompok kontrol (M: media, K: tidak diberi perlakuan, C: diberi cisplatin konsentrasi 250, 125, 62,5, 31,25, 15,6, 7,8, 3,9, dan 1,95 µg/ml) 10 kelompok perlakuan (KP: diberi ekstrak konsentrasi 1000, 500, 250, 125, 62,5, 31,25, 15,6, 7,8, 3,9, dan 1,95 µg/ml). Aktivitas sitotoksik diukur berdasarkan nilai IC50. Pengamatan ekspresi Bcl-2 dengan metode imunositokimia dilakukan pada 5 kelompok, yaitu 2 kelompok kontrol (K: kontrol sel, C: cisplatin 3,9 µg/ml), dan 3 kelompok perlakuan (KP: diberi ekstrak konsentrasi 6,25, 12,5, 25 µg/ml). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) memiliki aktivitas sitotoksik pada sel karsinoma skuamosa Sp-C1 <1000 µg/ml yaitu dengan nilai IC50 28,06 µg/ml. Ekstrak etanol temulawak dengan konsentrasi 25 µg/mlberpengaruh terhadap penurunan ekspresi Bcl-2 dari 52,94% menjadi 3,8%. Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian ekstrak etanol temulawak bersifat sitotoksik terhadap sel karsinoma skuamosa mulut dan berpengaruh penurunan ekspresi Bcl-2.Oral squamous cell carcinoma is a malignant neoplasm derived from epithelia that havechanged abnormally, invasive, and metastatic. Carcinoma can be caused by resistance of malignant cell to apoptosis due to Bcl-2 as a protooncogene of Bcl-2 family. The management of cancer dieases, however, still have many obstacles. Thus, the researcher was triggered to explore a herbal plants, namely Temulawak, to reduce side effects and more economical. Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) contains curcumin which have cytotoxic effect on T47D breast cancer, HUT-78 lymphoma, and A-549 lung carcinoma. The aim of this study was to determine the cytotoxic activity of the temulawak ethanolic extract against squamous cell carcinoma Sp-C1 and its effect on the expression of Bcl-2. Temulawak ethanolic extract was obtained by maceration using ethanol 95%. Cytotoxic examination on Sp-C1 cell line was performed with MTT Assay method. They were randomly divided into 20 groups, 10 control groups (M: media, K: which is not treated with extract and also untreated with cisplatin, C: which is treated with cisplatin at 250, 125, 62,5, 31,25, 15,6, 7,8, 3,9, and 1,95 µg/ml), 10 treatment groups (KP: which is treated with extract at 1000, 500, 250, 125, 62,5, 31,25, 15,6, 7,8, 3,9, and 1,95 µg/ml). The cytotoxic activity was determined with IC50 values. Bcl-2 gene examination was conducted by using immunocytochemistryon 5 groups, 2 control groups (K: which is not treated with extract and also untreated with cisplatin, C: which is treated with cisplatin 3.9 µg/ml), 3 treatment groups (KP: which is treated with extract 6,25, 12,5 and 25 µg/ml). Cytotoxic test of temulawak ethanolic extract showed that extracts have cytotoxic activity in squamous cell carcinoma Sp-C1 <1000 µg/ml with the IC50 value of 28,06 µg/ml. 25 µg/ml of temulawak ethanolic extract decreased the expression of Bcl-2 from 52,94%to 3,8%. It may be concluded that temulawak ethanolic extract has cytotoxic activity on squamous cell carcinoma by decreases the expression of Bcl-2.
328713077G1G011005PENGARUH VARIASI DOSIS ALL-TRANS RETINOIC ACID (ATRA) TERHADAP EKSPRESI MATRIX METALLOPROTEINASE-2 (MMP-2) PADA MODEL TIKUS (Rattus norvegicus) PERIODONTITISPeriodontitis adalah kondisi peradangan pada jaringan penyangga gigi yang umumnya disebabkan oleh bakteri Phorphyromonas gingivalis (P.g) dan biasanya ditandai dengan terjadinya resorbsi tulang alveolar. Matrix metalloproteinase-2 (MMP-2) adalah enzim yang berperan penting dalam kondisi inflamasi. All-trans retinoic acid (ATRA) merupakan metabolit vitamin A yang berperan dalam penyembuhan jaringan yang meradang dan menjaga sistem imun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi dosis ATRA terhadap ekspresi MMP-2 pada model tikus Rattus norvegicus periodontitis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan desain post test only with control group. Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok 1 (K1) adalah kelompok tikus sehat, kelompok 2 (K2) adalah kelompok tikus sakit karena diinduksi periodontitis tanpa diberikan pengobatan, kelompok 3 (K3) adalah kelompok tikus periodontitis yang diberikan ATRA dosis 5 mg/kgBB, kelompok 4 (K4) adalah kelompok tikus periodontitis yang diberikan ATRA dosis 10 mg/kgBB, kelompok 5 (K5) adalah kelompok tikus periodontitis yang diberikan ATRA dosis 20 mg/kgBB. Induksi periodontitis dilakukan dengan cara tikus diinduksi bakteri P.g setiap 3 hari selama 28 hari dan dilanjutkan dengan pemberian ATRA selama 7 hari. Ekspresi MMP-2 dari jaringan gingiva dan ligamen periodontal diperoleh dengan metode imunohistokimia. Hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna area positif MMP-2 dan intensitas warna MMP-2 (p<0,05) antar kelompok. Simpulan penelitian ini adalah ATRA dosis 20 mg/kgBB merupakan dosis ATRA yang paling efektif dalam menghambat ekspresi MMP-2 pada model tikus periodontitis apabila dibandingkan dengan dosis kelompok lainnya.Periodontitis is a condition of inflammation of the teeth supporting tissues generally caused by bacteria Phorphyromonas gingivalis (P.g) and is usually characterized by the occurrence of the alveolar bone resorption. Matrix metalloproteinase-2 (MMP-2) is an enzyme that plays an important role in inflammatory conditions. All-trans retinoic acid is a metabolite of vitamin A which plays a role in healing the inflamed tissue and maintain the immune system. The purpose of this study was to determine the effect of ATRA dose variation on the expression of MMP-2 in rat models Rattus norvegicus of periodontitis. This is a laboratory experimental study using post test only with control group design. This study used 25 male Wistar rats that divided into 5 groups. Group 1 (K1) is a group of healthy rats, group 2 (K2) is a group of sick rats as induced periodontitis without treatment, group 3 (K3) is a group of periodontitis rats treated with 5 mg/kgBB dose of ATRA, group 4 (K4) is a group of periodontitis rats treated with 10 mg/kgBB dose of ATRA, group 5 (K5) is a group of periodontitis rats treated with 20 mg/kgBB dose of ATRA. Periodontitis induction was induced by P.g bacteria every 3 days for 28 days and followed by administration of ATRA for 7 days. Expression of MMP-2 from gingival tissues and periodontal ligament was obtained by immunohistochemical methods. Results were analyzed using the Shapiro-Wilk Test and Mann-Whitney Test. The results showed there were significant differences in the positive area of MMP-2 and MMP-2 color intensity (p<0,05) between groups. The conclusions of this study is the ATRA dose of 20 mg/kgBB is the most effective dose in inhibiting the expression of MMP-2 in rats models of periodontitis when compared with the dose on other groups.
328813081G1G011046KARAKTERISTIK DAN SIFAT ANTIBAKTERI Staphylococcus aureus PADA SCAFFOLD BERBASIS MEMBRAN TELUR BEBEK DENGAN KARBONAT APATIT DAN SENYAWA AKTIF MANGOSTIN
UNTUK APLIKASI BONE REPLACEMENT
Kasus kerusakan jaringan dapat disebabkan oleh penyakit periodontitis, pencabutan yang menyebabkan fraktur, serta tumor pada rahang. Pemulihan dapat dilakukan dengan transplantasi, tetapi pasca transplantasi sering kali melibatkan berbagai bakteri. Saat ini, berbagai material dikembangkan untuk memperoleh karakteristik optimal pada penggunaan transplantasi, salah satunya adalah scaffold. Scaffold menjadi alternatif yang baik karena dapat dimodifikasi untuk memperoleh sifat biokompatibel, biodegradasi, kekuatan mekanik yang cukup, serta struktur pori yang adekuat. Scaffold disintesis dengan basis membran telur bebek, bahan bioaktif karbonat apatit, bahan antibakteri mangostin dan kitosan serta alginat sebagai pengikat bahan bioaktif, kemudian dipaparkan dalam larutan SBF sebagai lingkungan untuk menguji biokompatibilitas dan biodegradasi. Penelitian dilakukan berdasarkan eksperimental laboratoris murni dengan jumlah spesimen sebanyak 4 kelompok, yaitu membran telur bebek yang direndam dalam larutan alginat, kitosan, karbonat apatit, dan mangostin (A), membran A yang kemudian direndam dalam SBF selama 7 hari (B), 14 hari (C), dan 21 hari (D). Ukuran pori membran berkisar 20 µm hingga 50 µm dan tidak dipengaruhi senyawa perendam. Pengujian FTIR menunjukkan serapan oleh gugus fungsi amina, amida, karboksilat, dan fosfat, sesuai dengan gugus fungsi pada senyawa yang digunakan. Pengujian antibakteri menunjukkan adanya penurunan jumlah koloni Staphylococcus aureus dari 17,5x1014 CFU/mL pada kontrol menjadi 4x1014 CFU/mL pada sampel A, 54x108 CFU/mL pada sampel B, 34x108 CFU/mL pada sampel C, dan 9x108 CFU/mL pada sampel D. Sampel D menunjukkan daya hambat bakteri yang paling besar, yaitu perendaman membran di dalam larutan SBF selama 21 hari.The case of tissue damage can be caused by the periodontal disease, extraction causing facture, as well as tumor in jaw. The recovery can be done by transplantation, but post transplantation often involves various bacteria. Nowadays, various bacteria are developed to get optimum characteristics in the transplantation use, one of which is scaffold. Scaffold is the good alternative because it can be modified to obtain the natures of biocompatible, biodegradation, enough mechanic strength, as well as adequate porous structure. Scaffold is synthesized by duck egg membrane based, bioactive material of carbonate appetite, mangostin anti bacterial material and cytosine as well as alginate as the bioactive material binder, then it is exposed to the SBF solution as the environment to test the biocompatibility and biodegradation. The study is conducted based on pure laboratory experiment with the number of specimen is 4 groups, namely the duck egg membrane is soaked in the solutions of alginate, cytosine, carbonate apatite, and mangostin (A), membrane A then is soaked in SBF for 7 days (B), 14 days (C), and 21 days (D). The size of membrane porous is ranging of 20 µm until 50 µm and is not affected by marinade compounds. The FTIR testing shows the absorption by function groups of amine, amide, carboxylate and phosphate, based on the function groups in the used compound. The anti bacterial testing shows that there is a number of colony decrease of Staphylococcus aureus from 17,5x1014 CFU/mL in control into 4x1014 CFU/mL at the A sample, 54x108 CFU/mL at the B sample, 34x108 CFU/mL at the C sample, and 9x108 CFU/mL at the D sample. The D sample shows the biggest bacteria inhibition, namely the membrane marinade in SBF solution for 21 days.
328913083H1F011029ANALISIS FASIES, PETROFISIKA, DAN PERHITUNGAN SUMBERDAYA HIDROKARBON “LAPANGAN AND” FORMASI TALANGAKAR CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA PROVINSI JAWA BARATCekungan Jawa Barat Utara Merupakan Cekungan belakang busur dengan luas 23.340 km 2 dan terdiri dari 6 (enam) sub cekungan yaitu sub cekungan Arjuna, sub cekungan Ciputat, sub cekungan Pasir Putih, sub cekungan Billiton, sub cekungan Vera dan sub cekungan Jatibarang.
Cekungan Jawa Barat Utara dianggap telah matang sehingga sangat menarik untuk diteliti. Penelitian yang dilakukan meliputi analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif meliputi data log maupun data sekunder sedangkan analisis kuantitatif menggunakan perhitungan petrofisika.
Berdasarkan analisis litologi, korelasi fasies dan lingkungan pengendapan pada sumur ADN-1, ADN-2, ADN-3, ADN-4 diperoleh dua fasies pengendapan dengan litologi penyusun secara umum berupa perselingan serpih – batupasir, perselingan serpih – batubara – batupasir dengan sisipan lanau dan batugamping serta perselingan batugamping - batulempung yang terendapkan pada lingkungan fluvial hingga shallow marine. Dari hasil analisis petrofisika, sumur ADN-4 merupakan sumur yang paling ideal sebagai tempat terakumulasi hidrokarbon dengan sumberdaya sebesar 13.945.742.11 STB.
North West Java Basin is back arc basin with an area 23.340 km 2 and consists of 6 (six) sub basin that Arjuna sub basin, Ciputat sub basin, Pasir Putih sub basin, Billiton sub basin, Vera sub basin and Jatibarang sub basins.
North West Java Basins is considered to have matured so interesting to study. The study consisted of qualitative analysis and quantitative analysis. Qualitative analysis based on log analysis and secondary data while Quantitative analysis using petrophysical analysis.
Based on the result of analysis lithology, facies correlation and depositional environtment on well ADN-1, ADN-2, ADN-3, ADN-4 was devide two depositional facies compiled by lithology between alternation of shale - sandstone, shale - coal – sandstone and alternation of limestone and claystone was deposited in fluvial – shallow marine environtment. From the result of petrophysical analysis, well ADN-4 is ideal as a zone accumulation of hydrocarboons with reserve of 13.945.742.11 STB.
329013087D1E011001PENGARUH SUPLEMENTASI TEPUNG KULIT BAWANG PUTIH PADA PAKAN KAMBING YANG TERCUKUPI MINERAL Se,Cr, Zn TERHADAP BODY CONDITION SCORE (BCS) DAN JUMLAH SEL SOMATIK SUSU

(THE INFLUENCE OF GARLIC HUSK FLOUR SUPPLEMENTATION IN GOAT FEED ADEQUATED Se, Cr, Zn MINERALS ON BODY CONDITION SCORE (BCS) AND SOMATIC CELL COUNT OF MILK)
Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pengaruh suplementasi tepung kulit bawang putih (Allium sativum) pada pakan kambing yang tercukupi Se, Cr, Zn terhadap Body Condition Score (BCS) dan jumlah sel somatik susu. Materi yang digunakan berupa ternak kambing perah Bangsa Jawa Randu laktasi kedua sejumlah 15 ekor, pakan komplit kambing perah hijauan (PK: 9,05%) dan konsentrat (PK: 19,07%) dengan perbandingan 70:30. Metode yang digunakan adalah ekperimantal secara in-vivo. Perlakuan yang diujicobakan yaitu R0 terdiri atas Pakan Kontrol (Hijauan dan Konsentrat perbandinngan 70:30). R1 terdiri atas pakan R0 + Tepung kulit bawang putih (Allium sativum) 30ppm. R2 terdiri dari pakan R1 + Mineral Organik (Se 0,3ppm, Cr 1,5ppm, Zn 40ppm) data dianalisa menggunakan analisis variansi dilanjutkan dengan uji Tukey (HSD). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap nilai Body Condition Score (BCS) (P>0,05), tetapi nilai BCS yang didapat masih dalam taraf normal dengan rataan berturut-turut 2,40 (R0), 2,00 (R1), dan 2,60 (R2). Perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap jumlah sel somatik susu, dengan jumlah sel somatik susu masih dalam taraf normal susu kambing dengan rataan berturut-turut 420 x 103 sel/ml (R0), 420,4 x 103 (R1) sel/ml, dan 417,6 x 103 (R2) sel/ml. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa suplementasi tepung kulit bawang putih (Allium sativum) pada pakan kambing perah secara in-vivo (hijuan 70% dan konsentrat 30%) dan penambahan mineral mikro (0,3 ppm Selenium + 1,5 ppm Chromium + 40 ppm Zink-lysinat) pada pakan kambing perah tidak memberikan pengaruh terhadap nilai Body Condition Score (BCS) dan jumlah sel somatik susu. The purpose of this research was to determine the influence of Garlic (Allium Sativum) Husk Flour in the goat feed which was adequate by Se, Cr, Zn minerals on the Body Condition Score (BCS) and the amount of Milk Somatic Cell. The research materials were 15 Javanese Dairy Goats from the second lactation, with a complete feed dairy goats forage (PK: 9,05%) and Concentrate (19,07%) with the ratio 70:30. This research used in-vivo experimental method. The tested treatments were R0 consisting of control feed (grass and concentrate with the ratio 70:30), R1 consisting of feed R0 + garlic powder (Allium sativum) 30ppm, and R2 consisting of feed R1 + Organic Minerals (Se 0,3 ppm, Cr 1,5 ppm, Zn 40 ppm). Data analysis used the variance analysis and Tukey Test (HSD). The result of the research showed that the treatments did not significantly affect the value of Body Condition Score (BCS) (P>0,05), which was still in the normal level with the average in a row, 2,40 (R0), 2,00 (R1), dan 2,60 (R2). The treatments did not significantly affect the amount of milk somatic cells, which was still in the normal level of goat milk with the average in a row, 420 x 103 sel/ml (R0), 420,4 x 103 (R1) sel/ml, dan 417,6 x 103 (R2) sel/ml. In conclusion, the supplementation of garlic peel powder (Allium sativum) in goat feed in-vivo (grass 70% and concentrate 30%) and the addition of micro minerals (0,3 ppm Selenium + 1,5 ppm Chromium + 40 ppm Zink-lysinat) togoat feed did not influence the value of Body Condition Score (BCS) and the amount of milk somatic cells.
329113090A1M009074PENGARUH PENAMBAHAN Sodium Tripolyphosphate DAN GULA KELAPA ALAMI TERHADAP SIFAT KIMIA DAN SENSORIS
JENANG JAKET WIJEN
Jenang jaket wijen adalah salah satu makanan tradisional khas Banyumas. Jawa Tengah. Salah satu kekuranggan yang paling menonjol pada produk jenang jaket wijen adalah tekstur yang cepat mengeras. Untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan dengan penambahan Sodium Tripolyphosphate (STTP). Penambahan gula kelapa alami pada jenang jaket wijen mempengaruhi warna coklat dan cita rasa. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui: : 1) pengaruh penambahan STTP terhadap sifat kimia dan sensoris jenag jaket wijen. 2) pengaruh penambahan proposi gula kelapa alami : tepung beras ketan terhadap sifat kimia dan sensoris jenang jaket wijen. 3) kombinasi perlakuan penambahan STTP dan gula kelapa alami : tepung beras ketan yang menghasilkan jenag jaket wijen dengan sifat kimia dan sensoris terbaik. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 9 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali.
Faktor yang diuji terdiri atas dua faktor yaitu persentase penambahan STTP(S) adalah 0,15% (S1), 0,25% (S2), 0,35% (S3), dan proposi gula kelapa alami : tepung beras ketan (G) (b/b) 1,3:1 (G1), 1,45:1 (G2), 1,6:1 (G3). Variabel yang diamati meliputi variabel kimia (kadar air, kadar abu, kadar gula reduksi dan kadar lemak) serta variabel sensoris (warna, tekstur, aroma, rasa manis dan kesukaan). Data hasil pengamatan variabel kimia dianalisis dengan analisis ragam (uji F). Jika berpengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan Uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5 %. Variabel sensori dianalisis dengan menggunakan uji non parametrik (Friedman).
Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan S1G2 (penambahan STPP 0,15% dan proporsi gula kelapa alami : tepung beras ketan 1,45: 1) merupakan kombinasi perlakuan terbaik dengan karakteristik jenang jaket wijen warna coklat (2,67), aroma agak kuat (2,55), tekstur kenyal (2,89), rasa manis manis (2,58) dan kesukaan suka (2,38), kadar air 15,61% bk, kadar abu 0,51% bk, kadar gula reduksi 0,07% bk dan kadar lemak 2,79 %bk.
“Jenang jaket wijen” is one of the traditional foods of Banyumas, Central Java. The most prominent limitation of “jenang jaket wijen” is the texture. To overcome these problems can be done by the addition of Sodium tripolyphosphate (STTP). The addition of natural coconut sugar to the “Jenang jaket wijen” may its taste affect taste. This researches aimed to determine: 1) effect of STTP addison chemical and sensory properties of “jenang jaket wijen”. 2) effect adding on natural coconut sugar proportion : glutinous rice flour to the chemical properties and sensory jenang jaket wijen. 3) treatment combine of STTP natural coconut sugar: glutinous rice flour produces “Jenang jaket wijen” with chemical and sensory properties of the best. This study uses a randomized block design (RAK) with 9 combination treatment of conducted in triplicates.
Factors tested consists of concentration added (S) STTP 0.15% (S1), 0.25% (S2), 0.35% (S3), and the proportion of natural coconut sugar: glutinous rice flour (G ) (w / w); of 1.3: 1 (G1), 1.45: 1 (G2), 1.6: 1 (G3). Chemical variables observed were moisture content, ash content, reduction sugar and fat content and sensorie variable (color, texture, aroma, sweetness and joy). Data chemical variables analyzed by analysis of variance (F test). If significant, then continued with Duncan Multiple Range Test Test (DMRT) at 5%. Sensorie variables analyzed using non-parametric tests (Friedman).
Results of the research showed that treatment of S1G2 (STPP addition of 0.15% and the proportion of natural coconut sugar: glutinous rice flour 1.45: 1) is the best treatment combination with the characteristics brown color score of (2.67), a rather strong scent score of (2 , 55), a chewy texture score of (2.89), sweet is taste score of (2.58) and A like in preperence score of (2.38), the water content of 15.61% (db), (db) 0.51% ash content, reducing sugar levels 0, 07% (db) and (db) fat content of 2.79%.
329213092G1A011028PERBANDINGAN KADAR UREUM DARAH ANTARA PASIEN
SIROSIS HATI DAN KARSINOMA HEPATOSELULER
DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO
Latar belakang : Hati merupakan organ tubuh yang berfungsi mengontrol kadar amonia di dalam darah dengan cara mengubahnya menjadi ureum. Amonia di katabolisme menjadi ureum di dalam mitokondria dan sitosol sel hepatosit. Penyakit hati kronis seperti hepatitis kronis, sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler dapat menyebabkan kerusakan pada sel hepatosit secara progresif sehingga katabolisme ammonia terganggu dan kadar ureum darah menjadi menurun.
Tujuan : mengetahui perbandingan kadar ureum darah antara pasien sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto tahun 2014.
Metode : penelitian ini menggunakan studi analitik observational dengan pendekatan cross sectional. Kriteria inklusi yaitu pasien yang terdiagnosis sirosis hati atau karsinoma hepatoseluler di dalam rekam medik berdasarkan pemeriksaan USG, dan/atau AFP, dan/atau MRI, dan/atau biopsi serta kadar ureum darah. Kriteria eksklusi yaitu pasien mengalami malnutrisi, gangguan ginjal, ibu hamil yang tercatat di dalam rekam medik serta data rekam medik tidak lengkap. Analisis bivariabel menggunakan uji T tidak berpasangan.
Hasil : Total yang mengikuti penelitian ini adalah 60 orang. Terdapat 30 pasien dengan diagnosis sirosis hati dan 30 pasien dengan diagnosis karsinoma hepatoseluler. Rerata kadar ureum darah kelompok sirosis hati 41,03 ± 28,85 mg/dL dan kelompok karsinoma hepatoleluler yaitu 44,24 ± 27,67 mg/dL. Hasil tidak berbeda signifikan antara rerata kadar ureum darah pasien sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler (p=0,510).
Kesimpulan : Tidak terdapat perbedaan kadar ureum darah antara pasien sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
Background : One of liver function is to control ammonia level in blood by converting it become urea. It happen in mitochondria and cytosol of hepatocyte. Chronic liver disease such as chronic hepatitis, cirrhosis hepatis, and hepatocellular carcinoma caused damage progressively to hepatocyte. It will impact to ammonia catabolism so that blood urea level will be decreased.
Purpose : The aim is to compare blood urea level between cirrhosis hepatis and hepatocellular carcinoma patients in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital, Purwokerto in 2014.
Methods : This research used analytic observational with cross sectional study. Inclusion criteria in this study were diagnosed cirrhosis hepatis or hepatocellular carcinoma in medical records based on Abdominal USG, and/or AFP, and/or MRI, and/or biopsy, and blood urea level. Exclusion criteria in this study were malnutrition, kidney disorders, pregnant in medical records and incomplete data in medical records. Bivariabel analysis in this study used independent T-test.
Results : Total participants in this study was 60, consist of 30 patients of cirrhosis hepatis and 30 patients of hepatocelullar carcinoma. Mean of blood urea level in cirrhosis hepatis group and hepatocellular carcinoma group was 41,03 ± 28,85 mg/dL and 44,24 ± 27,67 mg/dL. There was no significant results between blood urea level in cirrhosis hepatis and hepatocellular carcinoma patients (p=0,510).
Summary : There was no different in blood urea level between cirrhosis hepatis and hepatocellular carcinoma patients in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital, Purwokerto.
329313088G1G011034HUBUNGAN STATUS KEBERSIHAN GIGI MULUT, KESEHATAN JARINGAN PERIODONTAL DAN STATUS GIZI DENGAN POLA KEHILANGAN GIGI PADA PENYANDANG RETARDASI MENTAL

(Studi pada Masyarakat Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo)
HUBUNGAN STATUS KEBERSIHAN GIGI MULUT, KESEHATAN JARINGAN PERIODONTAL DAN STATUS GIZI DENGAN POLA KEHILANGAN GIGI PADA PENYANDANG RETARDASI MENTAL
(Studi pada Masyarakat Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo)

Aisya E Maharani1, Haris Budi Widodo2, Anna K Puji Prasetyojati3

1Kedokteran Gigi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah
2Bagian Kesehatan Gigi Masyarakat, Universitas Jenderal Soedirman
3Bagian Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Alamat koresponden: Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia, 53122. Email: aisya.erryza@gmail.com

ABSTRAK

Pola kehilangan gigi merupakan gambaran yang digunakan untuk melihat kehilangan gigi individu. Pola kehilangan gigi dapat dicatat dengan menggunakan Klasifikasi Applegate-Kennedy. Klasifikasi ini memiliki enam tingkatan kelas yang nantinya menggambarkan kehilangan gigi berdasarkan area gigi yang hilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status kebersihan gigi dan mulut, kesehatan jaringan periodontal, dan status gizi dengan pola kehilangan gigi pada penyandang retardasi mental. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 51 orang. Sampel yang didapat dilakukan empat pemeriksaan yaitu screening rongga mulut, pemeriksaan status kebersihan gigi dan mulut, pemeriksaan status kesehatan jaringan periodontal, dan pemeriksaan status gizi. Data hasil penelitian diuji dengan menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa status kebersihan gigi dan mulut memiliki hubungan dengan pola kehilangan gigi, status kesehatan jaringan periodontal memiliki hubungan dengan pola kehilangan gigi, dan status gizi tidak memiliki hubungan dengan pola kehilangan gigi karena memiliki nilai p>0,05 yaitu 0,235 untuk rahang atas dan 0,737 untuk rahang bawah. Simpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara status kebersihan gigi dan mulut, serta status kesehatan jaringan periodontal dengan pola kehilangan gigi penyandang retardasi mental dan tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan pola kehilangan gigi pada penyandang retardasi mental. Masyarakat dan keluarga retardasi mental disarankan selalu menjaga kesehatan rongga mulut untuk meminimalisasi kehilangan gigi khususnya pada penyandang retardasi mental.

Kata kunci : Pola kehilangan gigi, retardasi mental, Klasifikasi Applegate-Kennedy
Kepustakaan : 31 (2000-2014)
RELATION OF ORAL HYGIENE STATUS, PERIODONTAL TISSUE HEALTH, AND NUTRITION STATUS WITH PATTERN OF TOOTH LOSS ON PEOPLE WITH MENTAL RETARDATION
(Studied of Karangpatihan Rural Villager, Balong Sub-district, Ponorogo District)

Aisya E Maharani1, Haris Budi Widodo2, Anna K Puji Prasetyojati3

1Dental Medicine of Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Central Java
2Department of Public Dental Health, Jenderal Soedirman University
3Department Psicology, Faculty of Medicine Jenderal Soedirman University

Address of correspondence: Dental Medicine of Jenderal Soedirman University, Central Java, Indonesia, 53122. Email: aisya.erryza@gmail.com

ABSTRACT

Tooth lost pattern was an image of that are used to determine lost a tooth individual. Pattern lost a tooth can recorded using Applegate-Kennedy classifications. Applegate-Kennedy classifications have six levels class which will describe lost a tooth based on area missing teeth. Research aims to understand the relationship between oral hygiene status, health periodontal tissue, and nutritional status of with a pattern lost a tooth on people with mental retardation. The study is done with the methods quantitative with the approach cross sectional. The sample of the used in research are always 51 people. Sample obtained done four examination that is about how to the cavity of the mouth, OHIs, examination of health periodontal tissue status, and nutritional status. Data research tasted by used Spearman Rank test. Result of this research showed that oral hygiene status have corelation with a tooth lost pattern, health periodontal tissue status have corelation with a tooth lost pattern, and nutritional status have not relationship with a tooth lost pattern because it has p > 0.05 , 0,235 for maxilary and 0,737 for mandibulary. Conclusion of this research is there are the relationship between oral hygiene status and health periodontal tissue status with a tooth lost pattern on people with mental retardation and there was no correlation between nutritional status of with a tooth lost pattern on people mental retardation. Community and family of mental retardation were advised to maintain oral health to minimize the tooth loss especially in mental retardation.

Keyword :Pattern tooth lost, mental retardation, Applegate-Kennedy classification
Bibliography : 31 (2000-2014)
329413089F1B011072KAPASITAS KELEMBAGAAN PEMERINTAHAN DESA DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DESA DI DESA LIMPAKUWUS KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMASDesa merupakan wilayah hukum di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dapat merepresentasikan keadaan negara kita saat ini. Potensi dan kekayaan alam yang di miliki oleh Negara Indoensia sebagian besar berada di wilayah pedesaan. Namun, kondisi tersebut tidak sebanding dengan tingkat kesejahteraan masyarakat di desa dimana tingkat kemiskinan yang tinggi justru berada di wilayah pedesaan. Adanya otonomi desa diharapkan mampu mendorong peningkatan kesejateraan masyarakat di desa karena desa memiliki kewenangan lebih dalam mengelola potensi yang ada di wilayahnya. Pentingnya peran pemerintahan desa dalam pelaksanaan ortonomi desa menuntut pemerintahan desa harus memiliki kapasitas dalam pelaksananaa tugas dan tanggungjawabnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kapasitas kelembagaan pemerintahan desa dalam pelaksanaan otonomi desa di Desa Limpakuwus Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif, dengan teknik pemilihan informan purposive sampling dan snowball sampling, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam,observasi dan dokumentasi, dan metode analisis yang digunakan yaitu analisis interaktif menurut Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan otonomi desa di Desa Limpakuwus masih terhalang oleh kendala pertama yaitu kurangnya kapasitas kelembagaan desa dalam aspek sumber daya manusia dimana masih adanya aparatur pemerintah desa yang belum memenuhi kriteria, kedua masih kurangnya sumber daya keuangan yang diperlukan dalam pelaksanaan pembangunan di desa, dan ketiga tidak adanya jaringan kerja (network) yang dimiliki pemerintah desa yang disebabkan minimnya potensi yang dimiliki oleh desa. Village is the law area in the Unitary State of Republic of Indonesia that can represent the condition of our nation recently. Natural potentiality and wealth that are owned by nation of Indonesia most of them are in the village area. But, this condition is not equivalence with the level of the prosperity of society where the high level of poverty is located in the village area. With the economy of village it is hopefully can encourage the rise of the prosperity of society in the village because village has more authority in managing the potentiality in their area. The important of the government role of village in implementing the village autonomy forces the government’s village to have the capacity in implementing their duty and responsibility. The purpose of this research was to find out how was he institution capacity of the village government in implementing the autonomy of village in the Village of Limpakuwus Sub district of Sumbang in the Regency of Banyumas by using the technique of the informant selection of purposive sampling and snowball sampling, data collection was conducted by depth interview, observation and documentation, and method of analysis used the interactive analysis according to Miles and Huberman. The result of research showed that the implementation of the village‘s autonomy in the Village of Limpakuwus still being impeded with the first obstacle that is lack of the capacity of the village institution in the human resource aspect that there was apparatus of village government which had not fulfilled the criteria, second, that lack of financial resource that was needed in implementing the development of village, and third that was not the network that was owned by village that was caused by the low of the potentiality that was owned by the village.
329513068A1L111057KARAKTER FISIOLOGI DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS DENGAN APLIKASI ASAP CAIR DAN VARIASI DOSIS PUPUK N, P, KPenelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui pengaruh pemberian jenis asap cair dengan dosis pupuk anorganik N, P, K terhadap fisiologi pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis, 2) mengetahui kombinasi terbaik jenis asap cair dan pupuk anorganik N,P,K yang dapat memberikan hasil tinggi tanaman jagung manis. Penelitian dilaksanakan di lahan kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, dari bulan Februari sampai April 2015. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 7 perlakuan dan diulang 4 kali. Perlakuan terdiri atas: P0= Pemberian 100% dosis rekomendasi pupuk anorganik N, P, K, P1= Pemberian 50% dosis rekomendasi pupuk anorganik N, P, K dan asap cair tempurung kelapa, P2= Pemberian 50% dosis rekomendasi pupuk anorganik N, P, K dan asap cair kayu sobsis, P3= Pemberian 50% dosis rekomendasi pupuk anorganik N, P, K dan asap cair campuran, P4= Pemberian 100% dosis rekomendasi asap cair tempurung kelapa, P5= Pemberian 100% dosis rekomendasi asap cair kayu sobsis, P6= Pemberian 100% dosis rekomendasi asap cair campuran. Variabel yang diamati: laju pertumbuhan tanaman, laju pertumbuhan relatif, laju asimilasi bersih kadar klorofil, panjang tongkol, jumlah biji, bobot tongkol berkelobot, bobot tongkol tanpa kelobot, jumlah baris per tongkol, diameter tongkol, hasil, dan indeks panen. Hasil penelitian menunjukkan ketiga jenis asap cair dan pupuk N, P, K mampu meningkatkan fisiologi pertumbuhan dan hasil tanaman. Kombinasi yang terbaik ditunjukkan pada perlakuan 50% dosis rekomendasi pupuk N, P, K dan asap cair.Objective of this study was: 1) to know the effect of wood vinegar with a dose of N, P, K fertilizer to physiology and yield of sweet corn, 2) to know the best combination wood vinegar and N,P,K fertilizer that can provide high yield of sweet corn. The study was carried out at the experimental land Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, from February to April 2015. Randomized Block Design with repeated 4 times of P0= 100% inorganic N, P, K recommended fertilizer dosage, P1=50% inorganic N, P, K recommended fertilizer dosage and wood vinegar of coconut shell, P2= 50% inorganic N, P, K recommended fertilizer dosage and wood vinegar of wood sobsis, P3= 50% inorganic N, P, K recommended fertilizer dosage and wood vinegar of mixture from wood sobsis and coconut shell), P4= 100% wood winegar of coconut shell recommended dosage, P5= wood winegar of wood sobsis recommended dosage, P6= wood vinegar mix from coconut shell and wood sobsis recommended dosage. The variable observed were: crop growth rate, relative growth rate, net assimilation rate, clorophyl rate, cob lenght, cob weight, number of seed, number of line, the cons diameter, yield cob and harvest index. The results showed all three types of wood winegar and N, P, K fertilizer either have to increase physiology and yiled of sweet corn. 50% inorganic N, P, K recommended fertilizer dosage and wood vinegar were the best combination.
329613084H1F011027Geologi dan Analisis Plastisitas Tanah Dalam Hubungannya Dengan Tanah Di Daerah Gintung Dan Sekitarnya, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa TengahDaerah penelitian secara geografis daerah penelitian terletak pada kordinat 7,26655 S – 7,30253 S dan 109,722 E – 109,767 E. Daerah ini merupakan kawasan rawan terjadinya gerakan tanah menengah sampai tinggi berdasarkan data Badan Geologi. Geomorfologi daerah penelitian terbagi ke dalam tiga satuan, yaitu Satuan Perbukitan Vulkanik (V9), Satuan Perbukitan Struktural Denudasional (S8), dan Satuan Perbukitan Intrusi (S11). Stratigrafi daerah ini terbagi menjadi lima formasi dari tua ke muda, yaitu Formasi Rambatan, Formasi Batuan Terobosan, Anggota Lempung Formasi Ligung, dan Formasi Batuan Gunungapi Jembangan. Pada daerah penelitian terdapat dua sesar mendatar, yaitu sesar mendatar mengiri turun dan sesar mendatar menganan anjak. Studi plastisitas tanah dilakukan pada Formasi Rambatatan. Metode yang digunakan, yaitu observasi lapangan dan pengambilan sampel tanah pada daerah longsoran atau gerakan tanah. Setelah itu, data plastisitas dihubungkan dengan gerakan tanah untuk mengetahui perbedaan antara material tidak bergerak (TB) dengan material bergerak (MB). Pada MB memiliki nilai batas cair 37,75%, batas plastis 17,94%, dan indeks plastisitas 21,64% lebih besar dibandingkan dengan TB dengan nilai batas cair 27,75%, batas plastis 16,77%, dan indeks plastisitas 11,98%, sehingga pada MB mempunyai keadaan yang lebih lunak dibandingkan dengan TB. Hal ini didukung dengan nilai indeks kecairan dan indeks konsistensi MB 0,91 dan 0,12 yang mendukung bahwa material yang bergerak mempunyai sifat lunak dan plastis dibandingkan dengan material tidak bergerak.Geographical area is located at 7,266550 S – 7,302530 S dan 109,7220 E – 109,7670 E. This area is a region prone to landslide of medium to high based on data Geological Agency. The research area is divided into three geomorphologic units, which are Volcanic unit (V9), Structural Denudational unit (S8) and the Intrusion unit. The stratigraphy in this area is devided into five from the old to the younger, are Rambatan Formation, Intrusive Rocks, Clay Member Ligung Formation and Jembangan Volcanic. This area have two slip faults, which are Reverse Right Slip Fault and Lag Left Slip Fault. Plastisity of soil study done on Rambatan Formation. Plasticity of soil study is perfomed by field observation method and soil sampling in areas lanslide, then the data associated with the movement of soil plasticity to know the difference between material not move (NM) and move material (MM). In the MM has a value of liquid limit 37,75%, plastic limit 17,94%, and plastic index 21,64% bigger than NM with liquid limit 27,75%, plastic limit 16,77%, and plastic index 11,98%, so MM have malleability situation than NM. This is supported with MM fluidity index and consistency index 0,91 and 0,21 where material movement have malleability and plastic than not move.
329713075G1G011025PENGARUH TEMPLATE TAPIOKA TERHADAP MIKROKAPSUL SILIKA-CHLORHEXIDINE 2% MELALUI METODE SOL-GEL
UNTUK APLIKASI DRUG DELIVERY
ROOT CANAL TREATMENT
Perawatan saluran akar gigi, saat ini masih banyak mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan bakteri Enterococcus faecalis yang berada di saluran akar gigi. Chlorhexidine digluconate 2% merupakan salah satu bahan antibakteri yang bersifat bekterisida. Silika mikrokapsul dapat digunakan sebagai pembawa chlorhexidine digluconate untuk mengoptimalkan penggunaannya. Silika mikrokapsul disintesis dari bahan sodium silikat melalui metode sol-gel dengan penggunaan tapioka sebagai template untuk memodifikasi morfologi silika. Penelitian berupa ekperimental laboratoris murni dengan 4 kelompok sampel, yaitu mikrokapsul silika dengan template tapioka 1% (sampel A), mikrokapsul silika dengan template tapioka 2% (sampel B), mikrokapsul silika dengan template tapioka 3% (sampel C), mikrokapsul silika tanpa template tapioka (sampel D). Silika direndam dalam larutan chlorhexidine digluconate 2% agar zat tersebut masuk ke dalam pori, kemudian disalut dengan sodium alginat untuk menutup pori. Gambar SEM menunjukkan sampel B sebagai sampel terbaik karena mikrokapsul silika memiliki ukuran pori partikel 200nm hingga 500nm dengan pori yang homogen. Spektrometri FTIR menunjukkan serapan gugus fungsi yang terkandung dalam silika, kitosan, dan sodium alginat. Spektrometri UV-visible menunjukkan bahwa konsentrasi chlorhexidine digluconate 2% release dari mikrokapsul silika yang disalut dengan sodium alginat dan kitosan sebesar 13,43 ppm setelah 5 menit pertama, 15,40 ppm setelah 5 menit kedua, 17,39 ppm setelah 5 menit ketiga, 18,46 ppm setelah 5 menit keempat, 18,91 ppm setelah 5 menit kelima, dan 19,62 ppm setelah 5 menit keenam. Setelah menit ketiga puluh hingga 1 jam, release chlorhexidine digluconate 2% stabil pada 19,62 ppm.There are still many failures in dental root canal treatment. This is caused by the bacterium Enterococcus faecalis in the root canal. Chlorhexidine digluconate 2% is one of the antibacterial with bactericidal property. Silica microcapsules can be used as a carrier to optimize the use of chlorhexidine digluconate. Silica microcapsules were synthesized from sodium silicate through sol-gel method with starch as template to modify the morphology of silica. The research was done as experimental laboratory with four groups of specimens, silica microcapsules synthesized with 1% starch (specimen A), silica microcapsules synthesized with 2% starch (specimen B), silica microcapsules synthesized with 3% starch (specimen C), and silica microcapsules synthesized without starch template (specimen D). Silica microcapsules were soaked in chlorhexidine digluconate 2% solution so that substances get trapped in the pores, and then coated with sodium alginate as pore’s gate. SEM image indicated that specimen B was the best specimen with varying particle pore’s size from 200nm to 500nm with homogeneous pores. FTIR spectrometry resulted the absorptions of functional groups contained in silica, chitosan and sodium alginate. UV-visible spectrometry showed that released concentration of chlorhexidine digluconate 2% from silica microcapsules coated with sodium alginate and chitosan were 13.43 ppm after the first 5 minutes, 15.40 ppm after second 5 minutes, 17.39 ppm after third 5 minutes, 18.46 ppm after fourth 5 minutes, 18.91 ppm after fifth 5 minutes, and 19.62 ppm after sixth 5 minutes. After thirty minutes to 1 hour, released concentration chlorhexidine digluconate 2% was stable at 19.62 ppm.
329813093H1G011011Perbandingan Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Media Air, Sedimen, dan Biota (Scylla sp.) Di Sungai Donan Segara Anakan, Cilacap pada tahun 2005 dan 2015Logam berat merupakan bahan pencemar yang bersifat racun, sulit terurai dan bersifat menetap. Logam berat dapat terdistribusi pada air, sedimen serta terakumulasi dalam tubuh organisme. Penelitian mengenai kandungan logam berat Pb pada media air, sedimen dan biota sudah dilakukan oleh Jumham pada tahun 2005. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan Pb pada media air, sedimen dan Scylla sp., hubungan antar media, perbandingan kandungan Pb dengan tahun 2005 dan tingkat pencemaran. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara purposive random sampling di empat stasiun dengan empat kali ulangan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2015. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F, Uji T, Regresi, Enrichment Factor, Index Geoaccumulation dan membandingkan dengan data Jumham (2005) Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan logam berat Pb pada media air rata rata 0,0154 mg/L, pada media sedimen 5,2175 mg/kg dan pada media Scylla sp. 1,1175 mg/kg. Kesimpulan penelitian ini adalah kandungan logam berat Pb diketiga media cenderung meningkat dibanding dengan tahun 2005. Hubungan yang rendah terjadi antara kandungan Pb di Scylla sp. dengan media sedimen dan air. Status tingkat pencemaran Sungai Donan berdasarkan nilai EF dan Igeo adalah tercemar ringan.Heavy metals are pollution which is toxic, non-biodegradable and persistent pollutants. Heavy metals can spread in water and sediment then accumulated in organisms. Research about heavy metals in water, sediment and organisms have been done in 2005 by Jumham. Aimed of this research to know concentration of heavy metals specially Pb in water, sediment and Scylla sp., correlation between media, comparing the concentration Pb with Jumham (2005) and status of heavy metal pollution. Method of this research was a survey method by purposive random sampling technique in four stations and four replications. This research has been done in June 2015. The result were analyzed by F-test, correlation, T-test, Enrichment Factor, Index Geoaccumulation and compare with Jumham (2005). The result shows that concentration Pb in water average in 0,0154 mg/L, in sediment 5,2175 mg/kg and in Scylla sp. 1,1175 mg/kg. The conclucion of this study is concentration of Pb in all medias are increase from the old research in 2005. There is a rare correlation of Pb ini Scylla sp. between water and sediment. Status of heavy metal pollution in Donan River based in grade by EF and Igeo are lightly polluted.
329913091A1C111008Kajian Kelayakan Usaha Keripik Tahu Pada Industri Rumah Tangga “Sari Nabati” Pekalongan“Sari Nabati” merupakan industri skala rumah tangga yang bergerak di bidang industri makanan dengan produk yang dihasilkan berupa keripik tahu. Perusahaan ini sebagai penghasil produk berkelanjutan maka perlu memperhitungkan secara terperinci aspek-aspek finansial dalam usaha, seperti biaya produksi, penerimaan dan keuntungan dalam usahanya. Analisis kelayakan usaha sangat diperlukan sebagai bahan pertimbangan untuk perencanaan dan pengembangan usaha. Tujuan penelitian adalah: untuk mengetahui profil usaha, menghitung besarnya biaya, penerimaan dan keuntungan (laba), mengkaji kelayakan usaha, serta mengetahui harga pokok produksi dan harga pokok penjualan keripik tahu pada industri rumah tangga “Sari Nabati” Kabupaten Pekalongan. Penelitian dilaksanakan tanggal 10 April sampai 10 Mei 2015 pada industri rumah tangga “Sari Nabati” selaku produsen keripik tahu. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Metode analisis yang digunakan adalah analisis biaya, penerimaan, dan keuntungan, rentabilitas ekonomi, Break Even Point, Return on Invesment, Payback Periode, dan penentuan harga pokok produksi serta harga pokok penjualan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama bulan April 2015 produksi keripik tahu sebanyak 3.900 kemasan, jumlah keripik yang terjual sebanyak 3.356 kemasan dan rata-rata harga jual yaitu Rp11.927,29. Biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp29.587.398,33, penerimaan sebesar Rp40.028.000,00 dan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp10.440.601,67.
Hasil analisis rentabilitas ekonomi sebesar 35,53 persen lebih besar dibandingkan dengan tingkat bunga pinjaman Bank BRI sebesar 1,60% per bulan. BEP (unit) yaitu 85,78 kemasan dan BEP penerimaan sebesar Rp1.023.076,08 lebih kecil dari produk yang dihasilkan dan penerimaan yang diperoleh. Nilai Return on Invesment (ROI) sebesar 35,29 persen dan nilai Payback Periode pada bulan April 2015 sebesar 2,83 bulan. Dengan demikian, usaha keripik tahu menguntungkan dan sudah efisien sehingga layak untuk dikembangkan. Harga pokok produksi bulan April 2015 menggunakan metode variable costing sebesar Rp29.206.690,00 dan harga pokok produksi untuk satu kemasan yaitu Rp7.488,89. Harga pokok penjualan sebesar Rp23.434.690,00 dan harga pokok penjualan per kemasan adalah Rp6.780,87. Harga jual keripik tahu yaitu Rp11.000,00 per kemasan untuk toko dan Rp13.000,00 per kemasan untuk konsumen, artinya harga jual tersebut lebih besar dari harga pokok penjualan.
"Sari Nabati" is a household scale industries which active in the food industry with the tofu chips as the product. This company as a producer of sustainable product accordingly needs to calculate details of the financial aspects of business, such as production costs, revenue and profits of the business. Feasibility analysis is indispensable as a consideration to business plan and business development. The purpose of this research are to know the profile of the business, calculating the cost, revenue and profit (profit), reviewing the business feasibility, and to know the cost of goods manufactured and the cost of goods sold of tofu chips in domestic industry "Sari Nabati" Kabupaten Pekalongan.
The research was held on April 10 to May 10, 2015 in the domestic industry "Sari Nabati" as the producer of tofu chips. The research method that used was a case study. The analytical method that used is the analysis of cost, revenue, and profits, profitability, Break Even Point , Return on Investment, payback periode, and determining the cost of goods manufactured (the cost of goods manufactured and the cost of goods sold).
The results showed that during April 2015 the production od tofu chips was 3,900 packs, total of tofu chips sold was 3,356 packs and the average selling price was Rp 11,927.29. The production cost that incurred was Rp29,587,398.33, the revenue in the amount of Rp40,028,000.00, and the advantage was Rp10,440,601.67. The results of the analysis of economic profitability in April 2015 was 35.53 percent greater than the interest rate of bank BRI loan amounting to 1.60% per month. BEP (unit) was 85.78 packs and BEP revenue was Rp1,023,076.08 smaller than the resulting products and gained acceptance. Return on Investment value (ROI) was in the amount of 35.29 percent and the value of Payback Period in April 2015 amounted to 2.83 months. Therefore, the tofu chips business is profitable and efficient so that feasible to be developmented. The cost of good manufactured in April 2015 with variable costing method was Rp29,206,690.00 and the cost of goods manufactured for the one packs was Rp7,488.89. The cost of goods sold was to Rp23,434,690.00 and the cost of goods sold per pack was Rp6,780.87. The selling price of tofu chips was Rp 11,000.00 per pack for store and Rp 13,000.00 per pack for consumers. it means that the selling price is greater than the cost of goods sold.
330013094H1L010017RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI LEMBAGA KURSUS DAN PELATIHAN FIKRI KOMPUTER CIAMISRancang bangun system informasi lembaga kursus dan pelatihan berbasis web dilakukan secara studi kasus di LKP Fikri Comp Ciamis merupakan suatu sistem yang bertujuan untuk membantu pemilik dan instruktur dalam melakukan pengelolaan kursus. Kegiatan yang ditunjang oleh sistem ini antara lain mengelola data kursus, data pemilik, data instruktur, data peserta, data jadwal, dan data ruang. Sistem informasi ini dibuat dengan berbasis web yang dibangun menggunakan salah satu framework yang mengguakan bahasa pemrograman php yaitu Yii Framework. Sistem informasi ini dibuat menggunakan metode air terjun dengan beberapa penyesuaian terhadap masalah yang ada.

This paper discus web-based information center which conducted through case study in lpk fikri comp Ciamis. The aim of this system is to help the owners and instructors in managing the course. The activities supported by this system include course data management, the owner data, the instructor data, participant data , schedule data , and the data space . This information system created using Yii Framework . The information system is developed using waterfall method with some adjustments to existing problems.