Artikelilmiahs

Menampilkan 3.381-3.400 dari 48.746 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
338113169D1E010049KARAKTERISTIK UKURAN MORFOLOGI TUBUH SAPI PERANAKAN ONGOLE (PO) DI KABUPATEN KEBUMENPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ukuran morfologi tubuh (panjang, badan, lingkar dada, tinggi pundak, dan tinggi pinggul) sapi PO muda dan dewasa, mengetahui perbedaan karakteristik ukuran morfologi tubuh sapi PO jantan dan betina, sertamengetahui hubungan antara umur terhadap karakteristik ukuran tubuh sapi PO di Kabupaten Kebumen. Sapi yang digunakan sebagai materi penelitian berjumlah 846 ekor, terdiri dari 267 jantan dan 579 sapi betina. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat karakteristik ukuran morfologi tubuh sapi PO berdasarkan hasil pengukuran didapat rataan panjang badan jantan muda 127,92 ± 18,58 cm, betina muda 123,83 ± 13,11 cm, jantan dewasa 143,08 ± 18,35 cm, betina dewasa 136,07 ± 12,94 cm, lingkar dada jantan muda 155,45 ± 18,57 cm, betina muda 127,52 ± 17,49 cm, jantan dewasa 173,50 ± 19,23 cm, betina dewasa 168,61 ± 14,82 cm, tinggi pundak jantan muda 129,34 ± 9,45 cm, betina muda 124,02 ± 7,94 cm, jantan dewasa139,22 ± 9,90 cm, betina dewasa 131,51 ± 6,71 cm, dan tinggi pinggul jantan muda 135,98 ± 9,91 cm, betina muda129,88 ± 10,37 cm, jantan dewasa 146,27 ± 8,76 cm, betina dewasa 137,26 ± 6,32 cm. Umur sapi PO memiliki pengaruh terhadap karakteristik kuantitatif artinya setiap pertambahan umur diikuti pertambahan sifat kuantitatif (panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak, dan tinggi pinggul).This study aims to determine the morphological characteristics of the body size (body length, chest girth, and shoulders, and hip height) of young and adult PO cattle, the differences of morphological characteristics of the body size between the PO males and females, as well as the relationship between their age and the characteristics of the cattle’s body size in Kebumen. The research material are 846 cattle, consisting of 267 males and 579 female. The results of the study showed that the morphological characteristics of the cattle’s body size by the average of young male body length are 127.92 ± 18.58 cm, the young females 123.83 ± 13.11 cm, adult males 143.08 ± 18.35 cm, adult females 136.07 ± 12.94 cm, chest girth of young males 155.45 ± 18.57 cm, young females 127.52 ± 17.49 cm, adult males 173.50 ± 19.23 cm, adult females 168.61 ± 14.82 cm, shoulders height of young males 129.34 ± 9.45 cm, young females 124.02 ± 7.94 cm, adult males 139.22 ± 9.90 cm, adult females 131.51 ± 6.71 cm, and young males hip height 135.98 ± 9.91 cm, the young females 129.88 ± 10.37 cm, adult males 146.27 ± 8.76 cm, adult females 137.26 ± 6.32 cm. The cattle age has an influence on the quantitative characteristics meaning that each increment will be followed by quantitative traits (body length, chest girth, and shoulder, and hip height).
338213192F1B011003IMPLEMENTASI PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) UNTUK MENGURANGI ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMASProgram Keluarga Harapan merupakan salah satu program yang dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi masalah kemiskinan. Salah satu tujuan dari program ini adalah meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan, dan meningkatkan taraf pendidikan. Kabupaten Banyumas merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang memliki persentase jumlah anak yang menempuh jenjang SD dan SMP cukup sedikit. Pada tahun 2013 Kabupaten Banyumas mulai melaksanakan Program Keluarga Harapan, salah satunya adalah Kecamatan Cilongok. Kecamatan Cilongok merupakan salah satu kecamatan yang memiliki jumlah peserta terbanyak. Selain itu, Kecamatan Cilongok juga memiliki jumlah angka putus sekolah yang meningkat pada tahun 2014. Sehingga, dalam penelitian ini akan mengkaji implementasi Program Keluarga Harapan untuk mengurangi angka putus sekolah di Kecamatan Cilongok. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan aspek pengurangan angka putus sekolah, Program Keluarga Harapan masih mengalami kendala, yaitu pertama, keterbatasan data angka putus sekolah yang dimiliki oleh pelaksana Program Keluarga Harapan khususnya pendamping. Kedua, kurangnya pemberian motivasi dari pihak pelaksana yaitu pendamping terhadap peserta penerima program, khususnya kepada anaknya. Ketiga, data yang digunakan dalam penentuan sasaran Program Keluarga Harapan kurang sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan.Family Hope Program is one program that is issued by the government to solve the problem of poverty. One of the goals from this program is to improve access and quality of education, and improve the standard of education. Banyumas Regency is one of regencies in Central Java Province who possess the percentage of children who go through elementary and junior high school quite a bit. In 2013 Banyumas started to implement the Family Hope Program, one of which is the District Cilongok. Cilongok sub-district is one of the districts that have the highest number of participants. In addition, District Cilongok also has a number of dropout rate increased in 2014. Thus, in this study will examine the implementation of the Family Hope Program to reduce the dropout rate in District Cilongok. The method used is descriptive qualitative. The results showed that based on aspects of school dropout rate reduction, the Family Hope Program is still experiencing problems, firstly, the limitations of the data dropout rate which is owned by implementing the Family Hope Program in particular the companion. Secondly, the lack of motivation of the implementers that is a companion to the participants in the program, especially to children. Third, the data used in the targeting of the Family Hope Program not in accordance with the conditions that exist in the field.
338313179D1E011136EFEKTIFITAS PUPUK PADAT ORGANIK GRANUL SUPLEMENTASI PUPUK CAIR URIN SAPI BUNTING DAN HERBAL TERHADAP LUAS DAN JUMLAH DAUN RUMPUT GAJAHPenelitian ini bertujuan mengkaji efektifitas pupuk padat organik granul suplementasi pupuk cair urin sapi bunting dan herbal terhadap luas dan jumlah daun rumput gajah. Materi yang digunakan terdiri atas rumput gajah, sluri dari feses sapi perah, sekam, molasses dan EM4 serta perangkat peralatan mencangkul dan pengukuran. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Nested (grouped). Ada 4 jenis pupuk yang diteliti yaitu: P1 = Pupuk organik granul dan suplementasi pupuk cair urin sapi bunting, P2 = Pupuk organik granul dan suplementasi pupuk cair urin sapi bunting + nanas, P3 = Pupuk organik granul dan suplementasi pupuk cair urin sapi bunting + nanas + temulawak, P4 = Pupuk organik granul dan suplementasi pupuk cair urin sapi bunting + nanas + temulawak + mengkudu. Masing – masing jenis pupuk diberikan dalam 3 macam taraf (dosis), yaitu : d1 = dosis pupuk cair 0,5 ml/1 kg granul/rumpun/defoliasi (15 L/ha/defoliasi), d2 = dosis pupuk cair 1,5 ml/1 kg granul/rumpun/defoliasi (45 L/ha/defoliasi), d3 = dosis pupuk cair 4,5 ml/1 kg granul/rumpun/defoliasi (135 L/ha/defoliasi), sehingga seluruhnya ada 12 macam perlakuan. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penggunaan pupuk padat organik granul suplementasi pupuk cair urin sapi bunting dan herbal berpengaruh sangat nyata terhadap luas daun rumput gajah sedangkan dosis pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap luas daun rumput gajah. Selain itu, hasil analisis variansi pada jumlah daun rumput gajah jenis pupuk dan dosis pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan jumlah daun rumput gajah.The research aims to study the effectiveness of organic granular fertilizer supplemented with liquid fertilizer made of herbs and pregnant cows’ urine on the width and amount of bulrush leaves. The research materials consisted of bulrush grass, slurry of dairy cattle’s feces, chaff, molasses and EM4 and hoeing equipment and measuring devices. The study was designed by using a Nested Design (grouped). There were 4 types of fertilizers being studied, namely: P1 = Organic granular fertilizer and supplementation of liquid fertilizer made of pregnant cow urine, P2 = Organic granular fertilizer and supplementation of liquid fertilizer made of pregnant cows’ urine + pineapple, P3= Organic granular fertilizer and supplementation of liquid fertilizer made of pregnant co’s' urine + pineapple + ginger, P4= Organic granular fertilizer and supplementation of liquid fertilizer made of pregnant cows’ urine + pineapple + ginger + Noni (Morinda Citrifolia). Each fertilizer was given in three kinds of levels (dose), i.e.: d1= liquid fertilizer dose of 0.5 ml / 1 kg granule / clump / defoliation (15 L / ha / defoliation), d2= liquid fertilizer dose 1.5 ml / 1 kg granule / clump / defoliation (45 L / ha / defoliation), d3= liquid fertilizer dose 4.5 ml / 1 kg granule / clump / defoliation (135 L / ha / defoliation), then in total there were 12 treatments. The results of variance analysis showed that the use of organic granular fertilizer supplemented with liquid fertilizers made of herbs and pregnant cows’ urine had a very significant effect on the width of the leaves, while fertilizer dose did not significantly affect leaf area of elephant grass. The results of analysis of variance showed shraved the types of fertilizers had no significant affect on the number of leaves of elephant grass.
338413158D1E009086PENGARUH PENGGUNAAN PREBIOTIK DALAM RANSUM TERHADAP BOBOT DAN PERSENTASE NON KARKAS EDIBLE ITIK TEGAL JANTANPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh prebiotik dalam ransum terhadap bobot dan persentase non karkas edible itik Tegal jantan. Penelitian dilaksanakan dari 02 Juni sampai 14 Juli 2015 di Seloarum farm Kecamatan Sokaraja dan Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Materi penelitian yang digunakan adalah 80 ekor itik Tegal jantan umur 2 bulan. Bahan pakan yang digunakan yaitu jagung giling, dedak padi, tepung ikan, bungkil kedelai, minyak kelapa, premix, metionin, lysine dan prebiotik. Peralatan yang digunakan antara lain timbangan serta peralatan kandang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan, R0 = ransum kontrol; R1 = R0 + prebiotik FOS 0,2%; R2 = R0 + prebiotik GOS 0,2%; R3 = R0 + prebiotik Inulin 0,2%;. Setiap perlakuan diulang 5 kali serta setiap ulangan terdiri dari 4 ekor itik. Peubah yang diamati adalah bobot dan persentase non karkas edible (kepala, leher shank/ceker, dan usus/viscera). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penggunaan prebiotik dalam ransum itik Tegal tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot dan persentase kepala, leher, ceker dan usus. Namun berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap persentase leher. Rataan bobot kepala, leher, ceker dan usus secara keseluruhan yaitu 76,4 g, 126,63 g, 39,27 g, 31.86 g. Rataan persentase kepala, leher, ceker dan usus secara keseluruhan yaitu 5,68 %, 9,39 %, 2.87 %, 2,35 %. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penggunaan prebiotik dalam ransum itik Tegal tidak dapat meningkatkan bobot dan persentase non karkas edible, sedangkan inulin dapat meningkatkan persentase leher sebesar 15 %.The research aims to determine the effects of prebiotics usage in male Tegal duck diet on the weight and percentage of their edible non carcass components. The research was conducted from 2 june, 14 july 2015 in the Seloarum farm Sokaraja and the Laboratory of Nutrition and Food Science at the Faculty of Animal Husbandry, University of Jenderal Soedirman Purwokerto. The materials used in this research were 80 2-months-old-male ducks and various kinds of diet ingredients such as corn flour, rice bran , fish meal, soybean meal, palm oil, premix, methionine, lysine and prebiotics. The equipments used were analog scales, digital scales and equipment enclosure. The research used is experiment method within a completely randomized design (CRD) with 4 treatments, namely R0 = feed control; R1 = R0 + FOS 0.2 %; R2 = R0 + prebiotic GOS 0.2 %; R3 = R0 + prebiotic Inulin 0.2 % Each treatment was repeated 5 times and each replication consisted of 4 ducks. Variables measured are the percentage and weights of edible non carcass (head, neck, shank, and intestines/viscera ). Data were analyzed by analyse of variance and if there is was effect of the treatment, it was ifollowed by difference test honestly (DTH). The analysis of variance showed that the prebiotics in the diet did not significantly affect (P > 0.05) the weight and the percentage of the head, neck, claw intestine. The average weight of the head, neck, foot and overall gut is respectively 76.4 g, 126.63 g, 39.27 g, and 31.86 g. The average percentage of the head, neck, shank and intestinal is namely 5.68%, 9.39 %, 2.87 %, and 2.35%. it can be concluded that the prebiotics usage in the diet Tegal ducks can not increase the percentage and weight edible non carcass, but can only increase the percentage on the neck wich is 15%.
338513181D1E009177ANALISIS FUNGSI PRODUKSI SAPI POTONG DI KABUPATEN PURBALINGGATujuan penelitian ini untuk mengetahui penggunaan faktor produksi (jumlah ternak sapi yang dipelihara, pakan hijauan, pakan konsentrat, kepadatan kandang, umur peternak) dan PBBH ternak sapi potong serta untuk mengetahui pengaruh faktor produksi (jumlah ternak sapi yang dipelihara, pakan hijauan, pakan konsentrat, kepadatan kandang dan umur peternak) terhadap PBBH pada sapi potong di Kabupaten Purbalingga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei (survey method). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, pencatatan, dan wawancara. Jumlah populasi sapi potong di tiga kecamatan sebanyak 166 ST (38,7 %) dari jumlah populasi sapi potong yang ada di Kabupaten Purbalingga. Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) sapi potong di Kabupaten Purbalingga dipengaruhi oleh jumlah kepemilikan ternak dan pemberian pakan hijauan. Variabel jumlah kepemilikan ternak (X1) merupakan variabel yang paling berperan dalam penelitian ini dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,732. PBBH sapi potong 62,83% dipengaruhi oleh jumlah kepemilikan ternak, jumlah pakan hijauan, jumlah pakan konsentrat, kepadatan kandang dan umur peternak.The purpose of research was to find out the usage of production factor (total of the cattle ownership, green food, concentrate food, cage density, famer age) and PBBH of beef cattle and to find out the effect of the production f actor (total of the cattle ownership, green food, concentrate food, density cage and famer age) to the PBBH of beef cattle in the Regency of Purbalingga. Method in this research used survey method. Technique of data collection was conducted by using observation, recording, and interview. Total population of beef cattle in three Sub districts were 166 ST (38.7%) from the total population of beef cattle that were in the Regency of Purbalingga. The rise of daily body weight (PBBH) of beef cattle in Regency of Purbalingga was affected by the total of beef cattle ownership and giving of green food. Total variable of beef cattle ownership (X1) was the variable that had the most role in this research with regression coefficient value 0.732. PBBH production of beef cattle 62.83% was affected by the total beef cattle ownership, total green food, total concentrate food, cage density and famer age.
338613182H1F011062STUDI KARAKTERISTIK BATUBARA SEBAGAI BATUAN INDUK HIDROKARBON FORMASI BALIKPAPAN DAN KAMPUNGBARU DI CEKUNGAN KUTAI,
KALIMANTAN TIMUR
Daerah penelitian secara administrasi mencakup wilayah Kabupaten Kutai Kertanegara Kecamatan Loajanan dan Kabupaten Penajam Paser Kecamatan Penajam Paser Utara, Propinsi Kalimantan Timur. Secara geografis berada pada koordinat 0°32'48'' LU - 1°6'32'' LS dan 116°51'32'' BB - 117°8'17'' BT. Daerah penelitian termasuk ke dalam Cekungan Kutai. Secara litologi hampir semua pengisi cekungan ini mengandung kuarsa, batulempung, batulanau dengan sisipan batubara yang diendapkan dalam lingkungan delta dan dipengaruhi oleh tektonik. Secara geologi pengisi Cekungan Kutai terdiri atas Formasi Pamaluan, Pulubalang, Balikpapan dan Kampungbaru dan Aluvial, berumur Oligosen – Holosen. Formasi pembawa batubara daerah telitian adalah, Balikpapan dan Kampungbaru. Pengambilan contoh pada Formasi Balikpapan terdapat 4 sampel contoh outcrop dan Formasi Kampungbaru terdapat 5 sampel outcrop. Parameter kualitas yang digunakan adalah kadar abu, kandungan sulfur dan nilai kalori serta nilai reflektansi vitrinit. Dari hasil analisis proksimat menunjukkan nilai masing-masing Formasi Balikpapan dan Formasi Kampungbaru untuk kandungan abu 29,19%-11,68%, sulfur 5,21%-0,706%, dan nilai kalori 4531 kal/gr-5108,6 kal/gr, serta nilai reflektansi vitrinit 0,425%-0,376.%, yang termasuk kelas sub-bituminous. Lingkungan pengendapan pada masing masing Formasi Balikpapan dan Formasi Kampungbaru adalah lower delta plain dan transitional delta plain. Batubara pada daerah penelitian termasuk dalam kategori batuan induk belum matang. Berdasarkan nilai HI yang berkisar 184-695 yang berpotensi menghasilkan minyak dan minyak & gas. Namun nilai Tmax di daerah penelitian untuk semua contoh batuan hanya 385-4160C yang masih immature. Tipe kerogen dominan yang dihasilkan pada daerah penelitian yaitu tipe II yang berasal dari membran tumbuhan seperti spora, pollen dan kutikula daun.The study area is located in Kutai Kertanegara District of Loajanan and Penajam Paser District of North Penajam Paser, East Kalimantan Province at coordinates 0° 32' 48'' LU - 1° 6' 32'' LS and 116° 51' 32'' BB - 117° 8' 17'' BT. The study area included in the Kutai Basin which almost filled by quartz, claystone, siltstone with inset coal deposited in the delta environment that are influenced by tectonic. The geology consists of Kutai Basin are Pamaluan, Pulubalang, Balikpapan and Kampungbaru Formations and Alluvial, which aged Oligocene - Holocene. Coal bearing formation in the study area are Balikpapan and Kampungbaru Formations. There are 9 outcrop samples in study area which is 4 samples from Balikpapan Formation and 5 samples from Kampungbaru Formation. Quality parameters are using ash content, sulfur content and calorific value and the value of vitrinite reflectance. From the proximate analysis results show the value of each Balikpapan and Kampungbaru Formations which are contained 29.19% -11.68% of ash content, 5.21% -0.706% of sulfur, 4531 cal/g-5108.6 cal/g of calorific value, and 0.425% -0.376.% of vitrinite reflectance which belongs to the class of sub-bituminous. Depositional environment at each Balikpapan and Kampungbaru Formations is lower delta plain and transitional delta plain. Coal in the study area included as immature source rock. Based on the value in the range 184-695 HI, samples are potentially produce oil and oil & gas. However, the value of Tmax in the study area for all samples only 385°-416°C are still immature. The dominant type of kerogen in the study area is type II which membrane derived from plants such as spores, pollen and leaf cuticle.
338713189H1F011004PEMETAAN BAWAH PERMUKAAN DAN PERHITUNGAN SUMBERDAYA HIDROKARBON DENGAN METODE VOLUMETRIK PADA BLOK SITUBONDO, CEKUNGAN JAWA TIMUR UTARA PROVINSI JAWA TIMUR
Blok Situbondo termasuk kedalam Cekungan Jawa Timur Utara dan merupakan salah satu area yang mengandung cebakan hidrokarbon, diantaranya pada Formasi Ngimbang dan Formasi Kujung. Pemetaan bawah permukaan Blok Situbondo penulis menggunakan 3 sumur (Sumur Fitria-1, Sumur Fitria-2, dan Sumur Fitria-3), serta 22 lintasan seismik 2 dimensi. Litologi yang menyusun daerah penelitian pada Sumur Fitria-1 adalah batugamping dan batulempung pada Formasi Kujung, litologi yang menyusun Sumur Fitria-2 adalah batugamping dan sedikit batulempung pada Formasi Kujung dan batugamping, batupasir, dan batulempung pada Formasi Ngimbang. Sedangkan litologi yang menyusun Sumur Fitria-3 adalah batulempung dan batugamping pada Formasi Kujung, dan batugamping serta batulempung pada Formasi Ngimbang.
Proses yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisa litologi berdasarkan kurva log, review lingkungan pengendapan dari laporan sumuran biostratigrafi, picking horison, picking sesar, serta mengidentifikasi serta menghitung sumberdaya yang berupa lead pada daerah penelitian.
Hasil interpretasi penulis pada Blok Situbondo terdapat 9 peta struktur waktu dan 9 peta struktur kedalaman diantaranya peta basement, peta Kala Eosen Akhir, peta Kala Oligosen Akhir, peta Kala Miosen Awal, peta Kala Miosen Tengah, peta Kala Miosen Akhir, peta Kala Pliosen Awal, peta Kala Pliosen Akhir, dan peta Kala Pleistosen. Pada Blok Situbondo dari hasil interpretasi seismik lintasan 2 dimensi terdapat 5 sesar turun di daerah penelitian. 1 sesar turun berarah baratdaya-timurlaut, 1 sesar turun berarah cenderung barat-timur, dan 3 sesar turun berarah baratlaut-tenggara. Sumberdaya pada daerah penelitian terdapat 2 lead pada Kala Eosen Akhir dan pada Kala Oligosen Akhir yaitu pada Formasi Ngimbang dan Formasi Kujung. Lead Kala Eosen Akhir diperkirakan untuk P10 adalah 8.508,77 BSCF, untuk P50 adalah 8.778,89 BSCF, dan untuk P90 adalah 8.913,95 BSCF. Lead Kala Oligosen Akhir diperkirakan untuk P10 adalah 7.524,54 BSCF, untuk P50 adalah 6.772,09 BSCF, dan untuk P90 adalah 5.267,09 BSCF.
Situbondo blocks belonging to the North East Java Basin and is one of the areas hydrocarbon deposits, including the Ngimbang Formation and Kujung Formation. Subsurface mapping Situbondo Block author using 3 wells (Wells Fitria-1 Well Fitria-2, and the Well Fitria-3), 22 two-dimensional seismic. Lithology at the Well Fitria-1 is limestone and mudstone at Kujung Formation. Lithology at the Well Fitria-2 is limestones and clay on Kujung Formation, and limestone, sandstone and claystone at Ngimbang Formation. Lithology at the Well Fitria-3 is claystone and limestone on Kujung Formation. Then limestone and claystone at Ngimbang Formation.
Process in this research is the analysis of lithology based on log curve, review depositional environment from report biostratigraphy, picking of horizon, picking of fault, identify and calculate resources of leads in the area.
The interpretation of the author of the Block Situbondo are 9 time structure maps and 9 depth structure maps of which basement map, Late Eocene map, Late Oligocene map, Early Miocene map, Middle Miocene map, Late Miocene map, Early Pliocene map, Late Pliocene map, and Pleistocene map. On Situbondo block from the 2-dimensional seismic interpretation there are 5 normal fault in the area of research. 1 normal fault have trend southwest-northeast, 1 normal fault have trend east-west, and 3 normal faults have trend northwest-southeast. Resources on the area of research there are two leads in Late Eocene and Late Oligocene is on Ngimbang Formation and Kujung Formation. Probably lead of Late Eocene for P10 is 8508.77 BSCF, for P50 is 8778.89 BSCF, and for the P90 is 8913.95 BSCF. Probably lead of Late Oligocene for P10 is 7524.54 BSCF, for P50 is 6772.09 BSCF, and for P90 is 5267.09 BSCF.
338813183D1E010158BOBOT DAN PERSENTASE ORGAN PENCERNAAN BERBAGAI AYAM SENTUL JANTAN UMUR 18 MINGGUTujuan penelitian ini untuk mengetahui bobot dan persentase organ pencernaan berbagai ayam sentul jantan umur 18 Minggu. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi, apabila perlakuan berpengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Perlakuan yang digunakan yaitu Sa = ayam sentul abu, Sb = ayam sentul batu, Sd = ayam sentul debu, Se = ayam sentul emas, Sg = ayam sentul geni. Hasil penelitian menunjukan bahwa rataan bobot pencernaan, yaitu 79,08 g ± 16,3 sedangkan persentase bagian-bagian pencernaan, yaitu 7,80 % ± 2,01. Hasil analisis variansi menunjukan berbagai ayam sentul abu, batu, debu, emas dan geni menunjukan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot dan persentase bagian-bagian organ pencernaan, kecuali bobot dan persentase gizzard nyata (P<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaaan bobot gizzard pada berbagai jenis ayam sentul. Bobot gizzard tertinggi yaitu pada ayam sentul abu dan bobot gizzard terendah yaitu pada ayam sentul batu. Bobot dan persentase bagian organ pencernaan lainnya dan organ asesoris memiliki bobot yang realtif sama.The purpose of this research was to determine the weight and percentage of organs in digestive organ in various sentul cockerel in the age 18 weeks. This research was conducted by using the experimental method with the complete random design (CDR). Data that have been obtained then were analyzed by using the variance analysis, if the treatment gave a real effect, it was continued with the test of Honest Real Difference (HRD). The treatment that had been used was Sa = grey sentul cockerel Sb = stone sentul cockerel, Sd = dust sentul cockerel, Se = gold sentul cockerel, Sg = fire sentul cockerel. The result of research showed that the average of digestion weight esophagus, craw, proventriculus, gizzard, jejenum, ileum, duodenum, colon and accessory organs liver, spleen, pancreas was 79.08 g ± 16.3, while , the percentage of digestive parts was 7.80 % ± 2.01. The result of variance analysis showed an insignificant effect (P > 0.05) on the weight and percentage of the digestive organs, exceptionally on the weight and percentage of the real gizzard (P<0.05). This research concludes that there is a difference in weight for the gizzard to the various sentul cockerd. The highest weight of gizzard is that of the grey sentul cockerel and the lowest one is that of stone sentul cockerel The weight and percentage of the other digestive organs and accessory has a relatively similar weight.
338912901C1A011057Strategi Pengembangan Desa Wisata Limbasari Kecamatan Bobotsari Kabupaten PurbalinggaPenelitian ini berjudul “Strategi Pengembangan Desa Wisata Limbasari Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran kondisi lingkungan internal dan eksternal Desa Wisata Limbasari Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga. Kegunaan penelitian ini adalah untuk mendapatkan alternatif-alternatif strategi yang dapat diberikan bagi pengembangan Desa Wisata Limbasari Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder yang diperoleh dari hasil wawancara, kuesioner dan hasil publikasi. Alat analisis yang digunakan adalah Analisis SWOT untuk merumuskan suatu strategi. Analisis SWOT merupakan metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam proyek atau suatu spekulasi bisnis.
Dari hasil analisis menggunakan matriks IFE dan matriks EFE dihasilkan nilai total matriks IFE sebesar 3,64 dan nilai total matriks EFE sebesar 3,71. Kemudian kedua nilai total matriks tersebut dianalisis dengan menggunaan matriks IE dan matriks SWOT. Matriks IE digunakan untuk menganalisis keseluruhan nilai total dan hasilnya menunjukan bahwa Desa Wisata Limbasari berada pada sel I, yang berarti bahwa Desa Wisata Limbasari dapat menggunakan strategi tumbuh dan kembang yang berupa strategi intensif atau strategi integrative. Berdasarkan hasil analisis matriks SWOT terdapat lima strategi SO, delapan strategi WO, empat strategi ST, dan empat strategi WT.
Implikasi dari penelitian ini adalah Desa Wisata Limbasari diharapkan dapat meningkatkan sumber daya manusia agar pengelolaan bisa lebih baik dan profesional dengan cara mengikuti pelatihan desa wisata, studi banding ke desa wisata yang sudah maju dan juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi wisata yang ada dengan cara sosialisai tentang desa wisata. Serta pengelola harus meningkatkan sarana dan prasarana penunjang bagi pengunjung antara lain seperti tempat sampah dan rambu-rambu tentang kebersihan, Toilet umum, Transportasi, warung makan, tempat belanja souvenir atau oleh-oleh dan plang informasi wisata sehingga dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Pemanfaatan teknologi informasi perlu ditingkatkan untuk mengenalkan dan mempromosikan potensi-potensi wisata kepada masyarakat luas.
This research was entitled “Strategy of Developing Rural Tourism in Limbasari Bobotsari District Purbalingga Regency”. The purpose of this research to receive the description about situation surrounding rural tourism in Limbasari both internal and external and also to have alternative for the strategy that could be apply to develop the rural tourism in Limbasari. The type of this research was descriptive qualitative and quantitative.
Based data for this research are primary data and secondary data obtainable from interview the subject, questioner, and publication. The analysis method are used is SWOT analysis to formulate the strategy. SWOT analysis was strategic scheming method used for evaluate the strength, weaknesses, opportunity, and also threat under business project or speculation business.
The results of this research used IFE matrix and EFE matrix showed IFE matrix total value is 3,64 and EFE matrix total value is 3,71. Both total value are used for IE and SWOT matrix analysis. IE matrix used for analyze whole total value and the result showed rural tourism in Limbasari located in cells I (one) means Limbasari could use growth and development strategy such as intensive or integrative strategy. Based on SWOT analysis there are five strategy of SO, eight strategy of WO, four strategy of ST, and four strategy of WT.
The implication from this research is rural tourism in Limbasari be expected to upgrade human resources in order to develop the rural tourism more better and professional by join the training rural tourism, study comparative to another rural tourism that more developed, and also increase awareness villagers against tourism are potential by doing socialization about the village itself. The developers should increase facilities and infrastructures for the visitors such as trash can, hygiene sign, toilet, transportation, food and beverages hall, gifts and souvenir shop, and information sign about the location in tourism place to increase the visitors interest. The utilization of information technology should increase too as tools to introduce and promote the potentials from the tourism place to the public.
339013185H1F011002PEMETAAN GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DAN PERHITUNGAN SUMBERDAYA PASIR BESI DI PESISIR KULON PROGO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DENGAN METODE GROUND PENETRATING RADAR (GPR)Daerah pantai selatan wilayah Kulonprogo merupakan daerah dengan potensi endapan pasir besi. Pasir besi banyak dibutuhkan sebagai salah satu bahan baku utama dalam industri baja dan telah banyak dimanfaatkan pada industri semen. Dilakukan penelitian pemetaan bawah permukaan (subsurface) dengan menggunakan salah satu metode survey geofisika yaitu metode Ground Penetrating Radar (GPR) yang relative mudah dan sering di gunakan dalam pengambilan data bawah permukaan dangkal dan bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi bawah permukaan dangkal (20 meter),Proses pembentukan endapan pasir besi yang ada di daerah penelitian dengan keadaan daerah di sekitarnya yang mempengaruhi pembentukan endapan pasir besi, Jumlah sumberdaya pasir besi yang berada di daerah penelitian dengan menginterpretasi data Ground Penetratng Radar (GPR) menggunakan metode penampang (cross section). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan data GPR mempunyai lima unit, berdasarkan interpretasi batas-batas unit tersebut, unit A2 merupakan indikasi lapisan Pasir besi dengan kandungan Magnetit tinggi pada kedalaman 3-8,5 dengan ketebalan relative sama rata-rata ± 5 meter. Perhitungan cadangan Sumberdaya Pasir besi dengan menggunakan metode penampang (cross section) pada daerah penelitian di dapat Volume endapan Pasir besi sekitar 50706,44 m3 dengan Massa Jenis Pasir besi sebesar 4,311 ton/ m3 di perkirakan memiliki sumberdaya sebesar 218595,47 ton. Volume overburden sebesar 20615,38 m3 dan di dapat Stripping Ratio (SR) sebesar 0,407. Nilai SR<1 merupakan nilai yang disarankan untuk dilakukan penambangan terbuka.The south coast of Kulonprogo region is an area with potential for iron sand deposition. Iron sand are needed as one of the main raw material in the steel industry and has been widely used in the cement industry. Research mapping of the subsurface by using Ground Penetrating Radar (GPR) one of the methods geophysical surveys is relatively easy and is often used in data collection under the surface of the shallow and aims to determine the geological conditions below the surface of the shallow (20 meters), the process of formation of iron sand deposits in the area of research with the situation in the surrounding area that affects the formation of iron sand deposits, amount of iron sand resources in the area of research to interpret data Ground Penetrating Radar (GPR) is used the cross sections. The results showed that based on data from the GPR has five units, based on the interpretation of the limits of the unit, unit A2 is an indication of sand layer Magnetite iron with a high content at a depth of 3 to 8.5 with the same relative thickness average of ± 5 meters. Sand Resources iron reserves calculation using the cross section in the area of research in volume can precipitate the iron sand around 50706.44 m3 with density iron sand of 4,311 tons / m3 in the resource estimate has amounted to 218,595.47 tons. Volume amounted to 20615.38 m3 of overburden and may Stripping Ratio (SR) of 0,407. SR <1 is the value recommended to be done open pit mining.
339113186F1C010019KOMUNIKASI PEMBANGUNAN ANTARA PEMERINTAH DESA DENGAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN DESA KETENGER SEBAGAI DESA WISATA DI KABUPATEN BANYUMASUnsur terpenting dalam pembangunan desa wisata adalah keterlibatan masyarakat desa dalam setiap aspek kegiatan kepariwisataan di desa tersebut. Dua indikator penting dari sekian banyak indikator mengenai tingkat keberhasilan suatu desa wisata adalah : pertama, adanya kemandirian institusi-institusi lokal (local institutions) serta, kedua, tersedianya sumber daya manusia (man power) yang memadai dalam melaksanakan pembangunan pariwisata. Kemandirian institusi lokal sangat penting karena sebagai basis aktifitas masyarakat dalam pariwisata, yang berfungsi menjadi sumber ekonomi (economy resources), akumulasi pengetahuan dan keterampilan (knowledge skill accumulation) serta cagar budaya (culture heritage) masyarakat setempat.
Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui komunikasi pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah desa dengan masyarakat dalam mengembangkan Desa Ketenger sebagai Desa Wisata serta mengetahui potensi wisata alam yang menunjang pengembangan Desa Ketenger sebagai Desa Wisata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan metode pengambilan data menggunakan teknik wawancara mendalam kepada informan yang sudah berkarakteristik (purposive sampling).
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Pemerintah Desa Ketenger dalam mengembangkan Desa Ketenger sebagai desa wisata telah melakukan komunikasi pembangunan kepada masyarakat desanya melalui berbagai bentuk, yaitu melaui Musrembangdes (Musyawarah rembug pembangunan desa) yang diadakan setiap satu tahun sekali, kumpulan wulanan dan tri wulan yang dihadiri oleh perangkat desa, Kadus, ketua RW, ketua RT dan tokoh masyarakat, pembuatan pintu gerbang selamat datang, studi banding ke desa wisata lainnya, dan melakukan pelatihan serta penyuluhan yang melibatkan seluruh masyarakat desa. Potensi wisata yang dapat menujang perkembangan Desa Wisata Ketenger pun tidak hanya dari wisata alam saja, tetapi jenis potensi wisata lainnya seperti wisata budaya/peninggalan sejarah, wisata kuliner serta wisata argo pun dapat menunjang pembangunan Desa Wisata Ketenger menuju Desa Wisata yang lebih baik.
The most important element in tourist village is involvement of rural communities in every aspect of tourism in their village. Two important indicators of the many indicators of the level of success of a tourist village is first, availability of local institutions, second, availability of man power adequate in implementing tourism development. Independence of local institutions is very important because as the basis of community activities in the tourism function into economy resources, knowledge and culture heritage.
This research intends to determine communication development undertaken by the government in developing the village community as a Ketenger Tourism Village and to find out the potential of nature tourism that support the development of the Village. This research used qualitative descriptive method and for data collection method using purposive sampling techniques
The research results indicate Ketenger village government in developing Ketenger village as a tourist village has been communicated to village communities through various forms is, through assembly of Musrembangdes, wulanan and tri wulanan, build a welcome gate, comparative study to another tourism village and perform some counselling training which involves the whole village. Tourism potential that can support the development of Ketenger tourism village was not only from nature only, they are cultural/historical tourism, culinary tourism, and Argo tourism can support the development of Ketenger tourism village.
339213188H1L011022RANCANG BANGUN APLIKASI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH BERBASIS WEB
(STUDI KASUS DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA UNIT KECAMATAN SEMPOR)
Aplikasi Pengelolaan Keuangan Daerah merupakan sebuah sistem yang dibangun dengan tujuan untuk mengelola dan menyimpan informasi mengenai keuangan daerah pada suatu lingkup daerah. Pengelolaan keuangan daerah yang dilakukan pada aplikasi ini lebih dikhususkan pada proses perencanaan anggaran pada lingkup hirarki Satuan Kerja Perangkat Daerah atau SKPD khususnya Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Unit Kecamatan Sempor Kabupaten Kebumen. Perencanaan anggaran yang dilakukan akan menghasilkan suatu pokok informasi yaitu Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah atau RKA-SKPD dengan meliputi proses penentuan program tahun anggaran, penentuan kegiatan tahun anggaran, penetapan pagu anggaran tiap kegiatan, penentuan capaian program, penentuan indikator kegiatan, penentuan belanja tahun anggaran, penentuan rinci belanja tahun anggaran, penentuan sub rinci belanja tahun anggaran, penetapan BOS Pendamping, dan verifikasi RKA-SKPD. Pengelolaan keuangan daerah merupakan salah satu bisnis proses yang memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi sehingga memerlukan penanganan cepat, efektif, efisien, akurat, transparansi, dan real time, termasuk proses salah satu di dalamnya adalah proses perencanaan anggaran. Sebagai bentuk langkah untuk menangani hal tersebut maka dikembangkanlah suatu Aplikasi Pengelolaan Keuangan Daerah yaitu Sistem Perencanaan Anggaran yang berperan membantu pengelolaan rencana anggaran SKPD secara mudah berbasis web database sehingga setiap pengguna dapat mengelola rencana anggaran dan mengakses informasi tanpa batasan lokasi. Sistem tersebut dikembangkan dengan menggunakan bahasa pemrograman Hypertext Preprocessor (PHP), basis data MySQL, dan dengan metode pengembangan waterfall. Pengembangan ini diharapkan akan lebih mempermudah dalam perencanaan anggaran pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Unit Kecamatan Sempor Kabupaten Kebumen.Regional Financial Management application is a system built with the aim to manage and store information about regional finances on a regional scope. Financial management is done on this application is more devoted to the budget process in the scope of the hierarchy of the regional work units or SKPD, especially the Ministry of Youth and Sports Unit Sempor District of Kebumen. Budget planning is done will result in a fundamental information that Budget Plan SKPD or RKA-SKPD to include the process of determining the course of the fiscal year, the determination of the activities of the fiscal year, the establishment of a budget ceiling for each activity, the determination of program achievement, the determination of indicators of activity, determination shopping fiscal year, a detailed determination of the expenditure in the budget, determining the detailed sub expenditure budget year, BOS Companion determination and verification RKA-SKPD. Financial management is one of the business processes that have a high level of complexity that require quick handling, effective, efficient, accurate, transparent, and real time, including the one in which is the budget planning process. As part of measures to deal with it is with developed a Financial Management application that budget planning system which acts to help the management of the budget plan SKPD easy web-based database so that any User can manage the budget plan and access information without restriction location. The system was developed using a programming language Hypertext Preprocessor (PHP), MySQL database, and the waterfall development method. The development is expected to further facilitate the budget planning at the regional work units Ministry of Youth and Sports Unit Sempor District of Kebumen.
339313193A1C010007MODEL JARINGAN KOMUNIKASI KELOMPOK WANITA TANI MEKAR SARI PADA PROGRAM KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI
(Studi Kasus Kelompok Wanita Tani Mekar Sari Kelurahan Bobosan Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas)
Salah satu tujuan dari pembangunan pertanian adalah meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat desa. Penelitian terhadap jaringan komunikasi merupakan hal yang penting karena dalam pembangunan dibutuhkan komunikasi yang baik di dalam kelompok tani. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui model jaringan komunikasi dalam Kelompok Wanita Tani Mekar Sari pada program Kawasan Rumah Pangan Lestari; (2) mengetahui tokoh utama dalam jaringan komunikasi pada Kelompok Wanita Tani Mekar Sari. Penelitian dilaksanakan di Kelompok Wanita Tani Mekar Sari di Kelurahan Bobosan Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Februari - Maret 2015 dengan objek penelitian anggota Kelompok Wanita Tani Mekar Sari di Kelurahan Bobosan Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas. Analisis data yang digunakan yaitu analisis sosiometri dan analisis struktur jaringan komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) model jaringan komunikasi yang terbentuk di Kelompok Wanita Tani Mekar sari yaitu model semua saluran, (2) tokoh utama dalam sistem jaringan komunikasi di Kelompok Wanita Tani Mekar Sari yaitu ketua, bendahara dan dua anggota biasa. Ketua dan bendahara juga berperan sebagai jembatan karena keduanya melakukan hubungan dengan kelompok atau sub kelompok lainnya.One of the objectives of agricultural development is to improve the welfare and living standards of rural communities. The research on the communication network is important because it is needed in the development of good communication within the farmer groups. This research aims to (1) knowing the model of the communication network in the women farmer group in the house area of sustainable food program; (2) knowing the main character in the communication network in the women farmer group Mekar Sari. Research conducted in women farmer group Mekar Sari in Bobosan Village North Purwokerto District Banyumas Regency. The method used is case study. The collection of data carried out in February – March 2015 with the object of research is member of women farmer group Mekar Sari in Bobosan Village North Purwokerto District Banyumas Regency. Data analysis used are sociometry analysis and structural analysis of communication networks. The results showed (1 )model of communication networks formed in the women farmer group Mekar Sari is the model of all channels, (2) The main character in the communication network system in a women farmer group Mekar sari that is chairman, treasurer and ordinary members. Chairman and treasure also serves as a bridge for both relation with other groups or sub-groups.
339413194D1E010137IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AGRIBISNIS DOMBA
DI KABUPATEN BANJARNEGARA
Penelitian berjudul Identifikasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Agribisnis Domba di Kabupaten Banjarnegara dilaksanakan tanggal 7-30 Mei 2015. Tujuan penelitian untuk mengetahui efisiensi usaha secara ekonomi dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi usaha pada agribisnis domba. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei. Sampel wilayah diambil menggunakan metode Stratified Random Sampling dengan zona agroekologi menjadi dasar penyusunan strata. Masing masing strata dipilih 20 % wilayah kecamatan secara random. Sampel responden merupakan peternak pada usaha agribisnis domba yang diambil menggunakan Quota Sampling dengan jumlah 20 orang peternak per kecamatan terpilih. Hasil analisis menunjukkan usaha agribisnis domba di Kabupaten Banjarnegara sudah efisien (R/C=1,90). Efisiensi usaha secara signifikan dipengaruhi oleh Jumlah ternak, pendidikan peternak, jumlah pakan hijauan dan curahan kerja.The research entitled Identification of Influential Factors of Economic Efficiency on Sheep agribusiness in Banjarnegara District was conducted from May 7th to 30th, 2015. The aims of research were to determine the Economic efficiency on sheep agribusiness and identify factors that influence the Economic efficiency on sheep agribusiness. The research was conducted using survey method. The sample areas were selected using Stratified Random Sampling based on agroecology zone. Sub districts were chosen in each stratum as much of 20 % randomly. Respondents of sheep farmers were taken using Quota Sampling, 20 farmers in each selected sub district. Result of study showed that sheep agribusiness in Banjarnegara District was efficient (R/C=1.90). The economic efficiency was influenced significantly by number of sheep, quantity of grass, level of education farmers, and work duration.
339513195H1F011006PEMETAAN BAWAH PERMUKAAN DAN SEISMKI STRATIGRAFI DAERAH PULAU SUBI DAN SEKITARNYA, KABUPATEN NATUNA, KEPULAUAN RIAU MENGGUNAKAN METODE SEISMIK REFLEKSIIndonesia merupakan negara kepulauan yang sangat kaya akan sumber daya alam. Untuk mengetahui sumber daya alam tersebut maka perlu diadakan pemetaan geologi baik permukaan maupun bawah permukaan. Pemetaan bawah permukaan biasanya menggunakan metode geofisika, salah satunya menggunakan metode seismik refleksi. Daerah penelitian terletak di Pulau Subi yang merupakan bagian utara dari paparan sunda dan termasuk kedalam Cekungan Natuna Timur. Daerah penelitian dipengaruhi oleh fase tektonik kompresi pada umur Miosen sehingga membentuk struktur geologi berupa lipatan dan graben, serta struktur ekstensional berupa sesar turun yang membentuk pola domino. Metode penelitian menggunakan metode survei analisis deskriptif. Terdapat 5 lintasan seismik yang terletak di sebelah timur Pulau Subi dengan arah lintasan tenggara – baratlaut. Interpretasi penampang seismik yang diperoleh dilakukan berdasarkan analisis perbedaan kenampakkan pola reflektor. Daerah penelitian dibagi menjadi 5 jenis batuan yakni batuan beku, batupasir A, batupasir B, endapan pantai dan terumbu karang yang merupakan bagian dari sebuah system tract dalam sebuah sekuen. Proses pengendapan daerah penelitian terjadi secara regresi yang termasuk pada Lowstand System Tract dengan ciri pada bagian bawah biasanya dibatasi dengan erosional truncation dan adanya onlapping dibagian atas.Abstract
Indonesia is an archipelago which is very rich in natural resources. To know the natural resources we need to hold geological mapping both surface and subsurface. Mapping the subsurface typically using geophysical methods, one using seismic reflection method.The study area is located on the island of Subi which is the northern part of the Sunda Shelf and included into the East Natuna Basin. The study area is affected by tectonic compression phase in the Miocene age to form geological structures such as folds and graben and form extensional normal fault structures that form a pattern domino. The research method uses descriptive analysis of survey methods. There are 5 tracks seismic located east of Pulau Subi with a trajectory toward the southeast - northwest. Acquired seismic interpretation is based on the analysis of the differences of reflector pattern.The study area was divided into 5 types namely igneous rock, sandstone A, sandstone B, coastal deposits and coral reefs that are part of a system tract in a sequence. The deposition process occurs regression research areas included in Lowstand System Tract characterized at the bottom is usually restricted to the erosional truncation and the onlapping on top.
339613196H1C011023Analisis Aliran Daya untuk Perbaikan Rugi Tegangan dan Rugi Daya Sistem Distribusi 20 kV Gardu Induk Purbalingga dengan Perbandingan Metode Newton Raphson dan Fast DecoupledSistem distribusi listrik merupakan bagian sistem tenaga listrik yang dinamis dimana parameter serta keadaannya berubah secara terus menerus terhadap waktu operasionalnya. Akibat perubahan keadaan yang terus menerus tersebut, analisis aliran daya dibutuhkan untuk menentukan kondisi operasi sistem tenaga dalam keadaan handal serta untuk mendapatkan nilai rugi tegangan dan rugi daya. Salah satu metode yang digunakan untuk analisis aliran daya adalah Newton Raphson dan Fast-Decoupled. Untuk menganalisis hal tersebut maka digunakan sistem distribusi 20 KV Gardu Induk Purbalingga Trafo 1 dimana terdapat feeder PBG 1, PBG 2, PBG 3, PBG 4, dan PBG 5 yang melayani sistem. Berdasarkan hasil simulasi pada ETAP 12.6.0 didapatkan tegangan jatuh sebesar 8,3% untuk PBG 01, 13,83% untuk PBG 02, 5,97% untuk PBG 03, 3,89% untuk PBG 04 dan 8,17% untuk PBG 05. PBG 01, 02, dan 05 masih memiliki drop voltage melebihi batas yang diizinkan di SPLN No.72 tahun 1987 yaitu sebesar 5%. Dengan pembagian pembebanan maka dihasilkan drop voltage sebesar 5,7% untuk PBG 01, 11,1% untuk PBG 02, 1,6% untuk PBG 03, 0,42% untuk PBG 04 dan 3,73% untuk PBG 05 dimana PBG 01 dan PBG 02 masih memiliki drop voltage melebihi 5%. Untuk mengatasinya dapat melakukan penempatan bank kapasitor, penggantian saluran dengan impedansi kecil dan menggunakan tapping trafoElectricity distribution system are a part of dynamic electric power system which have a different condition and parameter constantly. Load flow analysis is needed for determining power system operation to be relied and receiving losses and drop voltage value, as a result of different constant. Newton Raphson and Fast Decoupled are one of method which used in load flow analysis. 20 kV Purbalingga Substation Distribution System are used for analyzing this case which have PBG 01, PBG 02, PBG 03, PBG 04 and PBG 05 as a feeder in Transformator 1. 8,3% for PBG 01, 13,83% for PBG 02, 5,97% for PBG 03, 3,89% for PBG 04, and 8,17% for PBG 05 are received as a drop voltage value, based on ETAP 12.6.0 simulation result. PBG 01, PBG 02 and PBG 05 are still have an overlimit drop voltage value which have 5% overlimit value based on SPLN No. 72:1987 permission. Using load distribution, 5,7% for PBG 01, 11,1% for PBG 02, 1,6% for PBG 03, 0,42% for PBG 04 and 3,73% for PBG 05 are received as a drop voltage value using load distribution which PBG 01 and PBG 02 are still have an overlimit drop voltage. Using bank capacitor, subtituting line with few impedance and using transformator tap are a way for resolving drop voltage problem.
339713197A1C011029Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha di UKM Karya Mina Kecamatan Bawang Kabupaten BanjarnegaraABSTRAK

Sebagian UKM di Indonesia berkembang dengan memanfaatkan potensi lokal menjadi kekuatan bagi usaha yang dijalankan.UKM Karya Mina bergerak dibidang olahan hasil potensi lokal berupa perikanan air tawar. UKM dalam perkembangannya menghadapi permasalahan internal berupa penentuan harga jual yang belum memperhitungkan faktor-faktor biaya tetap, dan tidak adanya perencanaan pengembangan usaha. Tujuan penelitian ini untuk : 1) menghitung harga pokok produksi dari produk Abon Ikan, Stik Tulang Ikan, dan Keripik Kulit Ikan yang diproduksi oleh UKM Karya Mina, 2) membandingkan harga pokok produksi dengan harga jual yang ditetapkan oleh UKM Karya Mina, 3) mengetahui kelayakan usaha dari sisi finansial di UKM Karya Mina, 4) menyusun strategi pengembangan usaha yang tepat untuk diterapkan di UKM Karya Mina.
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus, metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Analisis data menggunakan penentuan harga pokok dengan metode full costing, analisis break even point, R/C ratio, matriks IFE (Internal Factor Evaluation), EFE (External Factor Evaluation), Internal-Eksternal (IE), SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats), dan QSPM (Quantitative Strategies Planning Matrix). Hasil penelitian menunjukkan perhitungan HPP per kemasan 100 gram produk Abon Ikan Lele, Stik Tulang Ikan, dan Keripik Kulit Ikan secara berturut-turut Rp8.374/kemasan, Rp10.832/kemasan, Rp9.702/kemasan, lebih rendah dari harga jual. BEP penerimaan Abon, Stik Tulang, dan Keripik kulit secara berturut-turut Rp1.283.219,43 , Rp1.313.276,91 dan Rp190.405,85 dan nilai R/C 1,189. Perusahaan berada pada posisi hold and maintain dengan strategi yang tepat adalah strategi penetrasi pasar dan inovasi produk.Berdasarkan matriks SWOT menghasilkan enam alternatif strategi. Hasil analisis QSPM menunjukkan bahwa strategi terbaik yang dapat dilakukan perusahaan yaitu promosi nasional dan membuka jalur ekspor hasil olahan perikanan air tawar baik oleh pelaku usaha maupun dari pemerintah daerah dengan nilai TAS tertinggi yaitu 5,935.

ABSTRACT

Most SMEs in Indonesia is growing by utilizing local potential become a force for business have do.UKM Mina's work in the field of processed results of the local potential in the form of freshwater fisheries. Development of SMEs in the face of internal problems such as determining the selling price which is not taking into account certain factors, and lack of planning of business development, as well as external issues such as the least interest in the community to develop a fish processing business. The purpose of this study was to: 1) calculate the cost of production of the product Shredded Fish, Steaks Bone Fish and Chips Fish Leather produced by SMEs Karya Mina, 2) to compare the cost of production and selling price set by the SME Work Mina, 3) knowing the feasibility of the financial side in SMEs Karya Mina, 4) develop appropriate business development strategy to be implemented in SMEs Karya Mina.
This research uses the case study method, the method of sampling is done by purposive sampling method. Analysis of data using determining the cost of the full costing method, analysis of break-even point, R / C ratio, matrix IFE (Internal Factor Evaluation), EFE (External Factor Evaluation), Internal-External (IE), SWOT (Strength, Weakness, Opportunities , Threats), and QSPM (Quantitative Strategies Planning Matrix). The results showed calculating COGS per 100 grams of product packaging Shredded Catfish, Stick Bone Fish and Chips Fish Skin consecutive Rp8.374 / packaging, Rp10.832 / packaging, Rp9.702 / packaging, lower than the selling price. BEP acceptance Shredded, Sticks Bones and skin chips respectively Rp1.283.219,43, Rp1.313.276,91 and Rp190.405,85 and R / C 1,189. The Company is in a position to hold and maintain the right strategy is the strategy of market penetration and product innovation. Based on the SWOT matrix produced six alternative strategies. QSPM analysis results indicate that the best strategy to do company that is a national promotion and open lines of export processed freshwater fisheries either by businesses or local governments with the highest value of TAS 5.935.


339813198A1C011040STRATEGI PENGEMBANGAN AGROWISATA
BERBASIS KOMODITAS CARICA DI DESA DIENG KULON KECAMATAN BATUR KABUPATEN BANJARNEGARA
Agrowisata carica merupakan salah satu destinasi wisata unggulan Desa Dieng Kulon apabila dapat dikelola dengan baik. Pengelolaan dan peningkatan potensi agrowisata carica memerlukan strategi-strategi pengembangan agrowisata berbasis komoditas carica di Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara. Tujuan penelitian ini untuk : 1) mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi pengembangan agrowisata berbasis komoditas carica di desa tersebut, 2) merumuskan beberapa alternatif strategi pengembangan yang dapat ditentukan dan diterapkan pada sektor agrowisata berbasis komoditas carica di desa tersebut, 3) menentukan prioritas strategi terbaik yang dapat diterapkan pada sektor agrowisata berbasis komoditas carica di desa tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dan metode survei, metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Analisis data menggunakan matriks IFE (Internal Factor Evaluation), EFE (External Factor Evaluation), Internal-Eksternal (IE), SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats), dan QSPM (Quantitative Strategies Planning Matrix). Hasil penelitian menunjukkan perhitungan dengan menggunakan matriks IFE diperoleh total skor sebesar 2,71 dan berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan matriks EFE diperoleh total skor sebesar 3,10. Gabungan antara matriks IFE dan EFE menempatkan perusahaan dalam sel II pada matriks IE. Alternatif strategi matriks SWOT menghasilkan enam strategi dan prioritas strategi terbaik dari analisis QSPM adalah meningkatkan kinerja pemasaran dan efektivitas promosi untuk menjaring pengunjung yang lebih banyak dengan memanfaatkan perkembangan teknologi internet dan membuat event-event serta pameran untuk menarik kunjungan dengan Total Attractive Score (TAS) 5,6623.Carica agrotourism is one of the leading tourist destinations in Dieng Kulon village if they can be managed properly. Management and improve the potential of agrotourism of carica require development strategies based on carica commodities in the village of Dieng Kulon District Batur Banjarnegara. The purpose of this study was to: 1) identify the internal and external factors which are the strengths, weaknesses, opportunities, and threats for the development of agrotourism based on commodities of carica in that village, 2) formulate some development strategies alternative that can be determined and applied to the sectors of agrotourism based on carica commodities in that village, 3) determine the priority of the best strategies that can be applied in the sectors of agrotourism based on carica commodities in that village. This research uses descriptive analysis method and survey methods, methods of sampling done by purposive sampling method. Data analysis using matrix IFE (Internal Factor Evaluation), EFE (External Factor Evaluation), Internal-External (IE), SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats), and QSPM (Quantitative Strategies Planning Matrix). The results showed calculations using IFE matrix obtained a total score of 2,71 and based on calculations using matrix EFE obtained a total score of 3,10. Combined between IFE and EFE matrix puts the company in the second cell in the matrix IE. Alternative strategies SWOT matrix produced six strategies and priorities best strategy of analysis QSPM is to improve marketing performance and effectiveness of promotions to attract more guests to take advantage of the development of Internet technology and create events and exhibitions to attract visits by Total Attractive Score (TAS) 5,6623.
339913202A1G011009’’Analisis Komparatif Finansial antara Sistem SLPHT Dengan Konvensional Pada Usahatani Kentang ( Studi Kasus Di Dusun Bambangan Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga)Kentang (Solanum ruberosum L) merupakan tanaman pangan yang bernilai ekonomi tinggi yang dapat mendatangkan keuntungan bagi pengusaha industri makanan olahan, pedagang, dan petani yang membudidayakan. Salah satu wilayah yang cocok untuk pengembangan usahatani sayuran di Kabupaten Purbalingga adalah Dusun Bambangan Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja. Produktivitas kentang di wilayah tersebut rata-rata sebesar 187,68 kuintal per hektar. Luas panen sebesar 202 hektar dan total produksi kentang sebanyak 3791,10 ton selama 1 musim tanam. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan besarnya biaya usahatani, penerimaan usahatani, dan keuntungan usahatani kentang antara sistem SLPHT dengan konvensional.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2013 di Dusun Bambangan Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja, dengan menggunakan rancangan Stratified Random Sampling,di dapat 32 (16 petani sistem SLPHT yaitu strata I 4, strata II 4, strata III 8 sedangkan 16 petani sistem konvensional yaitu strata I 6, strata II 5, strata III 5 ) dari 160 petani. Metode analisis yang digunakan adalah analisis biaya dan pendapatan, analisis kelayakan usahatani, dan analisis varians dengan uji beda t.
Hasil penelitian menunjukan bahwa : Besarnya biaya rata-rata pada usahatani kentang sistem SLPHT sebesar Rp54.898.653,00, sedangkan pada usahatani sistem konvensional sebesar Rp48.414.814,00. Biaya usahatani kentang pada system SLPHT lebih besar 1,1 kali dari pada sistem konvensional. Besarnya Penerimaan rata-rata pada usahatani kentang sistem SLPHT sebesar Rp86.016.139,00, sedangkan pada usahatani sistem konvensional Rp94.906.581,00. Penerimaan usahatani kentang pada sistem SLPHT lebih kecil 1,2 kali dari pada sistem konvensional. Besarnya keuntungan rata-rata pada usahatani kentang sistem SLPHT sebesar Rp31.117.486,00, sedangkan pada usahatani sistem konvensional Rp46.491.767,00. Keuntungan usahatani kentang pada sistem konvensional lebih besar 1,2 kali dari pada sistem SLPHT. Dilihat dari segi ekonomi usahatani kentang sistem konvensional lebih menguntungkan akan tetapi sistem SLPHT sangat memberikan dampak yang positif pada usahatani ketang karena sistem SLPHT program dimana mengurangi dapak dari penggunaan pestisida yang berlebih.
Potato (Solanum tuberosum L) is crops of high economic value that can be profitable for the processed food industry entrepreneurs, merchants, and farmers cultivate. One of the areas suitable for the development of vegetable farming in Purbalingga is Hamlet Village Bambangan Kutabawa District of Karangreja. The products of potato in this region by the average are 187.68 quintals per hectare. The area of Harvested are 202 hectares and the total production of potatoes as much as 3791.10 tons during the first growing season. The purpose of this study was to compare the cost of farming, farm receipts, and farm profits potatoes between SLPHT with the conventional system.
This research was conducted in September - October 2013 in the hamlet Bambangan Village Kutabawa District of Karangreja, using design Stratified Random Sampling, on may 32 (16 farmers system SLPHT that strata I 4, strata II 4, stratum III 8 and 16 farmers conventional system that is I 6 strata, strata II 5, stratum III 5) of 160 farmers. The analytical method used is the analysis of costs and revenues, farming feasibility analysis, and analysis of variance to test different.
The results showed that: The cost of the average potato farm SLPHT system for Rp 54.898.653, 00, whereas in conventional farming systems for Rp 48.414.814, 00. Cost of potato farming in the SLPHT system 1.1 times greater than in conventional systems. Reception is average magnitude in potato farming SLPHT system for Rp86.016.139, 00, whereas in conventional systems Rp 94.906.581, 00 farming. Potato farm receipts in the SLPHT system 1.2 times smaller than conventional systems. The amount of the average profit on a potato farm SLPHT system are Rp 31.117.486, 00, whereas in conventional systems are Rp 46.491.767, 00 farming. Advantages of potato farming in the conventional system are 1.2 times greater than the SLPHT system. Seen from an economic point of potato farming more profitable conventional system but the system SLPHT very positive impact on farm tight because the system SLPHT program which reduces the impact of excessive pesticide use.
340013203E1A011108TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PENGHITUNGAN CEPAT PEMILU PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN DALAM RANGKA MEWUJUDKAN NEGARA DEMOKRATIS BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PEMILU PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDENPenelitian dalam skripsi ini berjudul Tinjauan Yuridis Terhadap Penghitungan Cepat Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dalam Rangka Mewujudkan Negara Demokratis Berdasarkan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Penelitian ini bertujuan menganalisis legalitas hukum penhitungan cepat Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dalam rangka mewujudkan negara demokratis berdasarkan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014.
Adapun permasalahan yang di bahas dalam penilitian ini adalah Bagaimana Legalitas Hukum Penghitungan Cepat Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Dalam Rangka Mewujudkan Negara Demokratis Berdasarkan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014.
Penilitian yang digunakan dalam tugas akhir ini bersifat pendekatan yuridis normatif, dengan melihat permasalahan-permasalahan serta perdebatan pro kontra yang terjadi seputar adanya penghitungan cepat dari literatur-literatur kepustakaan, informasi-informasi dari media elektronik dan Undang-undang,yang berhubungan dengan penggunaan penghitungan cepat ini dalam pemilu.
Hasil dalam penilitian ini menjawab bahwa penggunaan quick count sejatinya telah memiliki legalitas sejak adanya peraturan perundang-undangan yangmengaturnya yaitu Undang-undang Nomor 42 Tahun 2008 yang kemudian diatur secara terperinci lagi dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 23 Tahun 2013
The research title is “Juridical overview of President and Vice President Election Quick Count in establishing Democratic Nation Based on Law Number 42 Year 2008 about President and Vice President Election”. The research purpose is to analyze law legality of President and Vice President Election quick count in establishing democratic nation based on Law Number 42 Year 2008 about President and Vice President Election in 2014 President and Vice President Election.
The problem observed in the research is how the Law Legality of President and Vice President Election Quick Count in establishing Democratic Nation based on Law Number 42 Year 2008 about President and Vice President Election in 2014 President and Vice President Election.
The research method is juridical normative approach, by observing the problems and arguments happened about the quick count from literature study, electronic media information, and laws which related to the using of quick counts in election.
The research result showed that the using of quick counts has originally had the legality since there was legislation which ruled it, Law Number 42 Year 2008 then ruled more detail by Election Commission Regulation Number 23 Year 2013.