Artikelilmiahs
Menampilkan 23.501-23.520 dari 51.904 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 23501 | 26610 | F1D012048 | Peran Elit Informal Dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa Karangsalam Sebagai Desa Wisata Di Kecamatan Baturraden | Penelitian skripsi ini berjudul “Peran Elit Informal Dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa Karangsalam Sebagai Desa Wisata Di Kecamatan Baturraden”. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami dan mengetahui peran elit informal dalam pemberdayaan masyarakat Desa Karangsalam sebagai desa wisata di Kecamatan Baturraden dan mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat peran elit informal dalam pemberdayaan masyarakat Desa Karangsalam sebagai desa wisata. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik penetapan informan menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada awalnya potensi wisata alam di Karangsalam masih belum dikembangkan secara optimal. Elit informal pemberdayaan yang dimotori oleh Bapak Sisworo sebagai warga desa Karangsalam pada awalnya prihatin dengan kondisi potensi alam Karangsalam yang belum dioptimalkan oleh desa, oleh karena itu dirinya dan beberapa warga desa membentuk Kelompok Sadar Wisata Tirta Kamulyan. Dalam perannya elit informal berusaha menanamkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan wisata lokal yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga. Kemudian, proses berlanjut dengan dibangunnya infrasturktur pendukung baik itu infrastuktur fisik (jalan menuju akses wisata, pembangunan toilet) dan infrastuktur sosial (pendirian homestay untuk kegiatan live in atau hidup bersama dengan masyarakat desa). Pengembangan wisata alam di Desa Karangsalam dapat menjadi lahan pendapatan warga dan desa khususnya dalam Pendapatan Asli Desa melalui sharing profit yang telah ditetapkan. Hal tersebut dapat digambarkan dalam Teori Pemberdayaan Masyarakat serta Konsep Elit Informal. Pengembangan wisata alam di Karangsalam tidak terlepas dari faktor pendukung dan penghambat yang ada. Faktor pendukung dalam pemberdayaan masyarakat ialah adanya partisipasi aktif dari masyarakat dalam pembangunan sarana prasarana, serta komunikasi yang nirkonflik antara Pokdarwis Tirta Kamulyan dengan pemerintahan desa. Faktor penghambat dalam pemberdayaan masyarakat ialah masih terbatasnya sumber daya manusia yang masih berusia muda yang banyak ide dan kreativitas | This thesis research entitled "The Role of Informal Elit Karangsalam In Rural Community Empowerment For Rural Tourism In Sub Baturraden". The purpose of this research is to understand and acknowledge the role of the informal elite in community empowerment Karangsalam village as a tourist village in the district Baturraden and determine the factors that support and hinder the informal elite role in empowering communities Karangsalam village as a tourist village. This study uses qualitative research methods with determination technique informants using purposive sampling and snowball sampling. The results showed that at first the potential of nature tourism in Karangsalam still not developed. Empowering informal elite led by Mr. Sisworo as Hamlet Head II Karangsalam initially concerned with the condition of the natural potential Karangsalam that has not been optimized by the village, therefore he and several villagers formed Kamulyan Water Tourism Awareness Group. In his role of informal elites are seeking to develop an understanding and awareness of the importance of local travel management to improve the welfare of citizens. Then, the process continues with the construction of supporting infrastructure be it physical infrastructure (access road to travel, construction of toilets) and social infrastructure (homestay establishments for activities live in or live together with the villagers). Nature tourism development in the village can become a land Karangsalam income and rural residents, especially in the village revenue through profit sharing has been set. It can be described in the Theory of Community Empowerment and Informal Elite Concepts. Nature tourism development in Karangsalam not independent of the supporting factors and obstacles that exist. Factors supporting community empowerment is the active participation of the community in the development of infrastructure, as well as the communication between Pokdarwis Tirta non-conflict Kamulyan village administration. Inhibiting factor in community development is still limited human resources are still young that a lot of ideas and creativity. | |
| 23502 | 26691 | I1A015064 | FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELELAHAN KERJA PADA PETUGAS KASIR DI MORO GROSIR DAN RITEL PURWOKERTO TAHUN 2019 | ABSTRAK FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELELAHAN KERJA PADA PETUGAS KASIR DI MORO GROSIR DAN RITEL PURWOKERTO TAHUN 2019 Retno Yollanda Puspitasari1, Suryanto2, Nur Ulfah2 1Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman 2Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman Jl. Dr. Soeparno Karangwangkal Purwokerto 53123 Gedung B Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Telp. 085730689409 Email: retno.yollanda@gmail.com Latar Belakang: Kelelahan kerja dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya usia, kebiasaan sarapan, status gizi serta beban kerja. MORO Grosir dan Ritel merupakan sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan Purwokerto. Hasil survey pendahuluan yang dilakukan menunjukkan adanya kelelahan yang dialami oleh petugas kasir di MORO Grosir dan Ritel Purwokerto. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada petugas kasir di MORO Grosir dan Ritel Purwokerto Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan metode observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dengan jumlah 36 orang. Hasil: Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan olahraga (p=0,048), status gizi (p=0,012), beban kerja (p=0,04), stress kerja (p=0,000) dengan kelelahan kerja pada petugas kasir MORO Ritel dan Grosir Purwokerto. Simpulan: Terdapat hubungan antara kebiasaan olahraga, status gizi, beban kerja, dan stress kerja dengan kelelahan kerja pada petugas kasir MORO Ritel dan Grosir Purwokerto. Saran: Berolahraga minimal 3 kali seminggu, melakukan rekreasi, melakukan peregangan, memperhatikan asupan gizi Kata kunci: Kelelahan Kerja, Petugas kasir, status gizi, beban kerja, stress kerja | ABSTRACT FACTORS RELATED TO WORK-RELATED FATIGUE ON CASHIER AT MORO GROSIR DAN RITEL PURWOKERTO 2019 Retno Yollanda Puspitasari1, Suryanto2, Nur Ulfah2 1Public Health Student of Jenderal Soedirman University 2 Public Health Lecturer of Jenderal Soedirman University Jl. Dr. Soeparno Karangwangkal Purwokerto 53123 Gedung B Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Telp. 085730689409 Email: retno.yollanda@gmail.com Background: Work-related fatigue can be affected by several factors, such as age, breakfast habit, nutrition status, and workload. MORO Grosir dan Ritel is one of shopping mall located in Jalan Perintis Kemerdekaan Purwokerto. Preliminary surveys showed that some cashier at MORO Grosir dan Ritel Purwokerto experienced work-related fatigue. The purpose of this research is to determine factors related to work-related fatigue on cashier at MORO Grosir dan Ritel Purwokerto 2019 Method: This research used quantitative observational analysis method and cross-sectional approach. The population and sample on this research were 36 people taken by using purposive sampling method. Result: The result of bivariate analysis shows that there was significant relationship between physical activity (p=0.048), nutrition status (p=0.012), workload (p=0,04), work-related stress (p=0.000) and work-related fatigue on cashier at MORO Grosir dan Ritel Purwokerto 2019 Conclusion: There was significant relationship between physical activity, nutrition status, workload, and work-related fatigue on cashier at MORO Grosir dan Ritel Purwokerto 2019 Recommendation: Do exercise at least 3 times a week, do some recreation, do stretching, watch the nutrition intake Keyword: Work-related Fatigue, Cashier, nutrition status, workload, work-related stress | |
| 23503 | 28796 | L1C016053 | PERBANDINGAN KELIMPAHAN ORNAMENTAL FISH PADA
TERUMBU HARD DAN SOFT CORAL DI PULAU MENJANGAN
BESAR, TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA | Penelitian ini mengkaji tentang perbandingan kelimpahan ornamental fish
pada terumbu hard dan soft coral di Pulau Menjangan Besar, Taman Nasional
Karimunjawa. Sebagai salah satu potensi sumber daya hayati ornamental fish
selain sebagai komoditas perdagangan bernilai ekonomis cukup tinggi juga
memiliki daya tarik yang tinggi bagi wisatawan. Terumbu hard dan soft coral
merupakan habitat dari ornamental fish. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
kelimpahan ornamental fish, persentase tutupan hard dan soft coral, serta
mengetahui hubungan dari kedua variabel ukur tersebut. Metode penelitian
penelitian yang digunakan antara lain Line Intercept Transect (LIT) dan Belt
Transect untuk mengukur persentase hard dan soft coral kemudian Underwater
Visual Census (UVC) digunakan untuk mengetahui kelimpahan ornamental fish.
Analisis data menggunakan deskriptif dan statistik Uji-U Mann Whitney dan
analisis korelasi pearson. Hasil penelitian menunjukan terdapat 6 famili
ornamental fish dengan jumlah sebanyak 3.139 individu pada hard coral dan 470
individu pada soft coral. Kelimpahan ornamental fish pada terumbu hard coral
3,45 ind/300m² dan 0,52 ind/300m² pada soft coral. Hasil analisis perbedaan
kelimpahan ornamental fish pada terumbu hard dan soft coral menunjukan
perbedaan yang nyata (p<0,05). Hasil analisis korelasi pearson terhadap
kelimpahan ornamental fish dengan persentase tutupan hard coral menunjukan
adanya korelasi sangat kuat (0,926), terhadap soft coral menunjukan adanya
korelasi sedang (0,497). Kelimpahan ornamental fish pada terumbu hard coral
sebesar 3,45 individu/300m2 dan pada terumbu soft coral sebesar 0,52 individu/300m2. Persentase tutupan hard coral termasuk dalam kategori sedang-baik (46,3-61,7%). Persentase tutupan soft coral termasuk dalam kategori buruk (3,8-15,5%). Hasil analisis menunjukan perbedaan yang nyata antara kelimpahan ornamental fish pada hard dan soft coral (P<0,05). | This study examined a comparation of ornamental fish abundance on hard and
soft coral reefs in Menjangan Besar Island, Karimunjawa National Park. As one of the
potential biological resources ornamental fish in addition to being a trading commodity
is quite high economical value also has a high appeal for tourists. Hard coral and soft
coral is a habitat of ornamental fish. The purpose of this research is to know the
abundance of ornamental fish, hard and soft coral cover percentage, and to know the
relationship of these two measuring variables. Methods of research studies were used
include Line Intercept Transect (LIT) and Belt Transect to measure the percentage of
hard and soft coral and then the Underwater Visual Census (UVC) was used to know
the abundance of ornamental fish. Data analysis used the both descriptive Mann
Whitney test statistical and the Pearson correlation analysis. The results showed that
there were 6 family ornamental fish with a total of 3,139 individuals in hard coral and
470 individuals on soft coral. The abundance of ornamental fish on reef hard coral is
3.45 ind/300m ² and 0.52 ind/300m ² on soft Coral. The result of analysis of the
difference ornamental fish abundance in hard reefs and soft coral shows a noticeable
difference (p < 0.05). The results of Pearson's correlation analysis of ornamental fish
abundance with hard coral cover percentages showed a very strong correlation (0.926),
against soft corals indicating moderate correlation (0.497). The abundance of
ornamental fish on reef hard coral is 3.45 individual/300m2 and on soft coral reefs of
0.52 individual/300m2. The hard coral cover percentage belongs to the medium-fine
category (46,3-61,7%). Soft coral cover percentage belongs to the bad category (3.8-
15.5%). Analysis results show a noticeable difference between the abundance of
ornamental fish on hard and soft coral (p < 0.05). | |
| 23504 | 28959 | C1A016061 | Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Layanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang | Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh dari pendapatan, pendidikan, usia, jumlah tanggungan, iuran BPJS kesehatan, dan riwayat penyakit katastropik terhadap permintaan layanan BPJS kesehatan serta untuk mengetahui variabel dominan yang mempengaruhi permintaan layanan BPJS kesehatan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua masyarakat Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang yang memiliki BPJS kesehatan. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 100 responden dengan menggunakan Multistage Random Sampling dalam penetuan responden. Dengan menggunakan Ordinary Least Square (OLS) menunjukan hasil penelitian bahwa (1) Usia jumlah tanggungan, dan riwayat penyakit katastropik memiliki pengaruh secara signifikan dan positif terhadap permintaan layanan BPJS kesehaan. (2) Iuran BPJS kesehaan memiliki pengaruh secara signifikan dan negatif terhadap permintaan layanan BPJS kesehatan. (3) Pendapatan dan pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan layanan BPJS kesehatan. (4) Usia menjadi variabel dominan yang mempengaruhi permintaan layanan BPJS Kesehatan. | The purpose of this study was to analyze the influence of income, education, age, number of families, the premium of health BPJS, and history of catastrophic illnesses to the demand for health BPJS services and to find out the dominant variable that affects the demand for health BPJS services. The population in this study were all the people of Pasar Kemis District, Tangerang Regency who had health BPJS. The number of respondents taken in this study was 100 respondents using Multistage Random Sampling in determining respondents. The results of research using Ordinary Least Square (OLS) show that (1) The age, the number of families, and history of the catastrophic disease have a significant and positive influence on the demand for health BPJS services. (2) The premium of health BPJS has a significant and negative influence on the demand for health BPJS services. (3) Income and education have no significant effect on the demand for health BPJS services. (4) Age is the dominant variable affecting BPJS Health service. | |
| 23505 | 26692 | B1A015027 | TOKSISITAS SUBLETHAL LIMBAH CAIR BATIK HASIL BIOSORPSI TERHADAP PROFIL DARAH IKAN MAS (Cyprinus carpio) | Penelitian terkait profil darah ikan yang terpapar limbah hasil biosorpsi perlu dilakukan karena profil darah merupakan salah satu indikator adanya cemaran yang masuk ke dalam tubuh ikan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemaparan dan mengetahui konsentrasi limbah cair batik hasil biosorpsi yang paling berpengaruh terhadap profil darah Ikan Mas (Cyrinus carpio). Perlakuan terdiri dari, K0 (kontrol), K1 (3,96 % v.v-1 limbah hasil biosorpsi), K2 (2,64 % v.v-1 limbah hasil biosorpsi), dan K3 (1,32 % v.v-1 limbah hasil biosorpsi). Ikan dipelihara selama 7 hari dan sampel darah diambil pada hari ke-8. Parameter penelitian berupa jumlah leukosit dan eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit. Hasil penelitian menunjukkan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit tertinggi pada perlakuan kontrol berturut-turut sebesar 1,22±0,06 x 106 sel.mm-3; 9,73±0,46 g.dL-1 dan 31,67±1,49 % sedangkan terendah pada perlakuan konsentrasi 3,96 % v.v-1 berturut-turut sebesar 0,93±0,02 x 106 sel.mm-3;5,07±0,36 g.dL-1 dan 26,00±1,15 %. Hasil jumlah leukosit tertinggi 128,61±1,40 x 103 sel.mm-3 pada perlakuan 3,96 % v.v-1 dan terendah 108,23±1,28 x 103 sel.mm-3 pada perlakuan kontrol. Kesimpulan dari penelitian yaitu limbah cair batik hasil biosorpsi berefek terhadap peningkatan jumlah leukosit dan penurunan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, nilai hematokrit. Selain itu, konsentrasi limbah cair batik hasil biosorpsi yang paling berefek terhadap profil darah ikan adalah konsentrasi 75% nilai LC50 sebesar 3,96 % v.v-1. | Research on the profile of fish exposed to waste from biosorption needs to be done because the blood profile is one indicator of the presence of contaminants that enter the body of the fish. This research aims to determine the effects of batik wastewater biosorption results exposure on Carp (Cyprinus carpio) blood profile and determine the concentration that gives the most effect on it. The treatments are K0 (control) and three treatments of batik wastewater biosorption results with different concentrations, ie K1 3.96; K2 2.64; K3 1.32 % v.v-1. The carp maintained for 7 days and the blood was taken in the 8 days. Measured variables included white blood cell count, red blood cell count, hemoglobin, and hematocrit value. The result from the research shows that the highest of the total of erythrocytes cell, hemoglobin and hematocrit in treatment control were 1.22±0.06 x 106 cell.mm-3; 9.73±0.46 g.dL-1 and 31.67±1.49 % while the lowest in the treatment 3,96 % v.v-1 concentration were 0.93±0.02 x 106 cell.mm-3; 5.07±0.36 g.dL-1 and 26.00±1.15 %. The highest leukocytes cell is 128.61±1.40 x 103 cell.mm-3 at treatment 3,96 % v.v-1 and the lowest is 108.23±1.28 x 103 cell.mm-3 at the control. The conclusion, that batik wastewater resulted from biosorption process induced a significant increase the total of leukocytes cells. and decrease in total of erythrocytes cells, hemoglobin level, and hematocrit value.In addition, the concentration of the batik wastewater resulted from biosorption process which most affects the blood profile is 75% LC50 value of 3.96 % v.v-1. | |
| 23506 | 26693 | G1B015045 | POLA KADAR PROLINE RICH PROTEIN (PRP) PADA SALIVA ANAK DAN REMAJA DOWN SYNDROME RENTANG USIA 8-24 TAHUN | Saliva merupakan cairan yang terdapat dalam rongga mulut. Pada saliva terdapat kandungan protein, salah satunya adalah Proline Rich Protein (PRP). Proline Rich Protein (PRP) mempunyai fungsi salah satunya untuk mencegah terjadinya karies. Pada beberapa penelitian, terdapat perbedaan hasil konsentrasi Proline Rich Protein (PRP) antara individu dengan down syndrome dan non down syndrome. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan pola kadar Proline Rich Protein (PRP) pada anak dan remaja down syndrome dan non down syndrome berdasarkan masing-masing usia dalam rentang 8-24 tahun. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan 14 individu down syndrome dan 14 individu non down syndrome rentang usia 8-24 tahun yang dibagi kelompok menurut masing-masing usia. Kelompok down syndrome dipilih dengan metode total sampling, sedangkan untuk kelompok non down syndrome dengan metode purposive sampling dengan cara matching berdasarkan usia dan jenis kelamin. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan pola kadar Proline Rich Protein (PRP) antara kelompok down syndrome usia 10 tahun cenderung tinggi dan kemudian berangsur turun hingga usia 16 tahun. Kadar Proline Rich Protein (PRP) kembali naik hingga usia 24 tahun, sedangkan pada kelompok non down syndrome pada usia 10 tahun mempunyai kadar lebih rendah dari down syndrome. Kadar tertinggi pada non down syndrome terdapat pada usia 16 tahun dan kembali menurun hingga usia 24 tahun. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan garis pola kadar Proline Rich Protein (PRP) pada anak down syndrome dan non down syndrome berdasarkan masing-masing usia dalam rentang 8-24 tahun, sedangkan hasil uji independen T-test mendapat hasil tidak berbeda signifikan pada kadar Proline Rich Protein (PRP) antara individu down syndrome dan non down syndrome dalam rentang usia 8-24 tahun. | Saliva is a liquid that found in the oral cavity. One of content of saliva is Proline Rich Protein (PRP). Proline Rich Protein (PRP) has a function to prevent caries. In some studies, there are differences in the results of Proline Rich Protein (PRP) concentrations between individuals with down’s syndrome and without down’s syndrome. This research aimed to determine the differences in the pattern of salivary Proline Rich Protein (PRP) concentration in children and teenagers with Down’s Syndrome and without Down’s Syndrome based on each age between 8-24 years old. The number of samples study were 14 subject who were divided into the groups of children and teenagers with down's syndrome and without down’s syndrome. The samples of down’s syndrome were selected by the total sampling method, while for the samples of non-down’s syndrome were selected by matching purposive sampling method. The result of this research indicated that Proline Rich Protein (PRP) concentration was higher in the youngest subjects with down’s syndrome (10-years-old) than in the other groups, decreased until 1,2 ng/ml at 16-years-old, but slightly increase at 24-years-old (3,49 ng/ml). The non down’s syndrome group showed the different pattern of proline rich protein. The concentration in subjects without down’s syndrome were increased after 10-years-old and reached the higher concentration in 16-years-old (8,22 ng/ml). The concentration were decreased after 16-years-old in subjects without down’s syndrome and showed the minimum concentration in the 24-years-old. This research had a summary that there were differences in the pattern of salivary Proline Rich Protein (PRP) concentration in subjects with down’s syndrome and without down’s syndrome and result of independent t-test showed that there were no differen in concentration Proline Rich Protein (PRP) between down syndrome and non down syndrome subject. | |
| 23507 | 26694 | B1A015144 | KELIMPAHAN PLANKTON PADA MUARA SUNGAI DI WILAYAH PLAWANGAN BARAT, SEGARA ANAKAN CILACAP | Segara Anakan terletak di bagian selatan Kabupaten Cilacap dengan koordinat 7°35’-7°50’ LS dan 108°45’-109°03’ BT. Wilayah Plawangan Barat memiliki beberapa masukan, seperti Sungai Citanduy, Sungai Cibeureum, Sungai Cikonde, Plawangan Barat, kanal Sungai Kembang Kuning dan laguna. Perbedaan masing-masing stasiun akan mempengaruhi kualitas air dan kelimpahan plankton, sehingga penelitian ini dilakukan dengan tujuan penelitian untuk menentukan kelimpahan plankton, kualitas air, dan hubungan antara kelimpahan plankton dan kualitas air pada wilayah Plawangan Barat di Segara Anakan Cilacap. Kelimpahan plankton tertinggi berada di Stasiun III, diikuti oleh Stasiun II, VII, VI, IV, V dan I pada wilayah Plawangan Barat di Segara Anakan Cilacap. Stasiun III berada di Sungai Citanduy sebagai sungai terbesar yang mempengaruhi kelimpahan Staurastrum sp. tertinggi dan diikuti oleh Melosira granulata yang tinggi. Synedra ulna hanya ditemukan di Stasiun III dan II. Kualitas air meliputi suhu, penetrasi cahaya, pH, salinitas, dan CO2 bebas berada dalam kondisi yang cocok untuk kehidupan plankton, sedangkan O2 terlarut masih di bawah ambang batas normal berdasarkan baku mutu KepMen LH No. 51 tahun 2004. Hubungan antara kelimpahan plankton dan kualitas air menunjukkan bahwa penetrasi cahaya yang semakin tinggi cenderung terdapat kelimpahan fitoplankton yang semakin tinggi pula (p <0,01; r = 0,929). Kadar CO2 bebas yang semakin tinggi cenderung terdapat Melosira granulata yang semakin tinggi pula (p <0,01, r = 0,905). Nilai salinitas semakin tinggi cenderung terdapat kelimpahan Synedra ulna yang lebih rendah (p <0,05, r = -0,7791). | Segara Anakan is located in the southern part of Cilacap Regency with coordinates 7°35’-7°50’ S and 108°45’-109°03’ E. West Plawangan areas have several inputs such as River Citanduy, River Cibeureum, River Cikonde, West Plawangan, canal of River Kembang Kuning and lagoon. The difference of each station will affects water quality and plankton abundance, so this study was conducted with research aims were to determine plankton abundance, water quality, and the relationship between plankton abundance and water quality at West Plawangan areas in Segara Anakan Cilacap. The highest plankton abundance is at Station III and followed by Station II, VII, VI, IV, V and I at West Plawangan areas in Segara Anakan Cilacap. The station III is located at the River Citanduy as the largest river which affects the highest abundance of Staurastrum sp. and followed by the high abundance of Melosira granulata. Synedra ulna is only found at Station III and II. The water quality of temperature, light penetration, pH, salinity and free CO2 is in a suitable condition for the life of plankton, whereas dissolved O2 is still below the normal threshold based on the quality standards of Minister of Environment Decree No. 51 of 2004. The relationship between the plankton abundance and water quality showed that the highest the light penetration tends to be the highest phytoplankton abundance (p <0.01; r = 0.929). The highest free CO2 levels tends to be the higher abundance of Melosira granulata (p <0.01, r = 0.905). The highest of salinity value tends to be the lower abundance of Synedra ulna (p <0.05, r = -0.7791). | |
| 23508 | 26695 | I1D015002 | KEJADIAN STUNTING PADA BAYI USIA 6-24 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PATIKRAJA | Abstrak KEJADIAN STUNTING PADA BAYI USIA 6-24 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PATIKRAJA Tili Nurhayati, Sotyania Wardhianna, Atikah Proverawati Latar Belakang: Stunting memberikan dampak yang sangat merugikan bagi individu, keluarga, maupun negara berupa morbiditas dan mortalitas bayi atau balita, rendahnya intelektualitas dan perkembangan kemampuan kognitif, gangguan pertumbuhan, rendahnya kualitas sumber daya manusia dan penyakit degeneratif. Angka stunting di Puskesmas Patikraja mengalami peningkatan 47,27% pada tahun 2018. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kejadian stunting pada bayi usia 6-24 bulan. Metodologi: Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan pendekatan fenomenologi pada sembilan ibu bayi stunting yang dipilih secara purposive sampling. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam, dilakukan triangulasi sumber data dan triangulasi teknik. Hasil Penelitian: Kejadian stunting dipengaruhi faktor keluarga dan rumah tangga (pengetahuan dan pekerjaan ibu, keadaan fisik serta kondisi kesehatan bayi), perilaku ibu selama kehamilan, pola asuh (ASI Eksklusif, pemberian MP-ASI, penyiapan dan penyimpanan makanan, praktik higiene dan sanitasi), dan sosial budaya. Kesimpulan: Kondisi yang mempengaruhi terjadinya stunting pada bayi usia 6-24 bulan antara lain faktor keluarga dan rumah tangga yaitu kurangnya pengetahuan ibu tentang pengertian, penyebab, dampak, dan kondisi anak stunting; perilaku ibu selama proses kehamilan yaitu peningkatan kuantitas pangan tanpa disertai peningkatan kualitas pangan; pola asuh tidak tepat; adanya kepercayaan pantangan makan ibu hamil yaitu belut, udang, daun pepaya, daun so, lele, dan pepaya. Kata Kunci: Kejadian Stunting, Bayi | Abstract STUNTING CASES OF INFANTS AGED 6-24 MONTHS IN PATIKRAJA PUBLIC HEALTH CENTER AREA Tili Nurhayati, Sotyania Wardhianna, Atikah Proverawati Background: Stunting has a very detrimental impact on individuals, families, and countries in the form of infant or toddler morbidity and mortality, low intellect and cognitive abilities development, growth disturbance, poor quality of human resources and degenerative diseases. The stunting rate in Patikraja Public Health Center has increased 47.27% in 2018. This study aims to describe the stunting cases in infants aged 6-24 months. Methodology: This qualitative descriptive study used a phenomenological approach to nine stunting mothers who were selected by purposive sampling. Qualitative data were obtained through in-depth interviews, triangulation of data sources and technical triangulation. Results: Stunting was influenced by family and household factors (mother's knowledge and job, physical condition and health condition of the baby), maternal behavior, parenting (exclusive breastfeeding, complementary breastfeeding, food preparation and storage, hygiene and sanitation practices), and social culture. Conclusion: The conditions that affect the occurrence of stunting of infants aged 6-24 months include family and household factors are the lack of maternal knowledge about the understanding, causes, impacts, and conditions of stunting children; maternal behavior during the pregnancy is increasing food quantity without accompanied by increasing food quality; improper parenting; the belief abstinence from eating of pregnant women like eel, shrimp, papaya leaves, so leaves, catfish, and papaya. Keywords: Stunting, Infant. | |
| 23509 | 26696 | B1A015127 | ASPEK REPRODUKSI IKAN BETUTU (Oxyeleotris marmorata Blkr.) YANG TERTANGKAP DI WADUK PENJALIN BREBES | Ikan betutu (Oxyeleotris marmorata Blkr.) merupakan ikan air tawar liar di Waduk Penjalin. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui aspek reproduksi ikan betutu di Waduk Penjalin dan mengetahui hubungan panjang dan berat terhadap IKG dan TKG. Metode yang digunakan yaitu survey dengan pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling pada 5 stasiun. Parameter yang diukur yaitu panjang dan berat tubuh, berat gonad, dan berat hati, jumlah telur, diameter telur, jumlah ikan, sedangkan parameter pendukungnya yaitu kualitas air yang terdiri dari suhu, penetrasi cahaya, kedalaman air, pH, oksigen terlarut (Dissolved Oxygen), TDS (Total Dissolved Solid), dan BOD (Biologycal Oxygen Demand). Hasil peneitian ini menunjukkan bahwa rasio kelamin ikan jantan dan ikan betina secara keseluruhan 1,05 : 2,15. Fekunditas telur ikan betutu yang tertangkap sebanyak 9.270 butir dengan diameter telur antara 0,26-0,56 mm. Ikan betutu yang tertangkap memiliki TKG I sampai TKG III dengan dominasi TKG I. Indeks kematangan gonad (IKG) ikan betutu jantan relatif lebih kecil antara 0,0087 % - 0,514 % dibandingkan ikan betutu betina antara 0,0165 % - 1,4205 %. IKG semakin besar akan mempengaruhi nilai Indeks Hepatosomatik yang akan semakin besar sampai sesaat sebelum ikan memijah. Nilai IHS ikan betutu yang diperoleh yaitu 0,2477 % - 4,0761 % pada ikan betina dan pada ikan jantan 0,4065% - 5,1364%. Hasil analisis terhadap hubungan panjang, berat tubuh ikan terhadap indeks kematangan gonad menghasilkan hubungan yang erat, namun tidak ada hubungan antara panjang, berat tubuh ikan terhadap tingkat kematangan gonad. | Betutu (Oxyeleotris marmorata Blkr.) is a wild freshwater fish in the Penjalin reservoir. The purposes of this study are to find out the reproductive aspects of the betutu in the Penjalin reservoir and find out the long and heavy relationship to the Gonado Somatic Index (GSI) and Stage of Gonad Mature (SGM). The method used is a survey with sampling taken by using purposive sampling at 5 stations. The parameters measured were body length and weight, gonad weight, and weight, number of eggs, diameter egg, number of fish, while the supporting parameters were water quality consisting of temperature, light penetration, water depth, pH, Dissolved Oxygen, Total Dissolved Solid (TDS), and Biologycal Oxygen Demand (BOD). The results of this study indicate that the overall sex ratio of male and female fish is 1.05: 2.15. The fecundity of eggs caught are 9,270 eggs with egg diameters between 0.26-0.56 mm. Betutu caught have SGM I to SGM III with the dominance of SGM I. The Gonado Somatic Index (GSI) of male betutu is relatively smaller between 0.0087% - 0.514% compared to female betutu between 0.0165% - 1.4205%. The greater IKG will affect the value of the Hepatosomatic Index which will increase until just before the fish spawn. The HSI value of betutu obtained was 0.2477% - 4.0761% in female and in male 0.4065% - 5.1364%. The results of the analysis on the relationship of length, fish body weight towards the gonad maturity index produced a close relationship, but there was no relation between the length, weight of the fish body to the level of gonadal maturity. | |
| 23510 | 26697 | F1B012080 | PERAN PEMERINTAH KELURAHAN SOKANEGARA DALAM UPAYA PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN DI KELURAHAN SOKANGERA | Penelitian ini berjudul ” Peran Pemerintah Kelurahan Sokanegara dalam Upaya Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Di Kelurahan Sokanegara”. Tujuan dari penelitian ini adalah seberapa besar peran Pemerintah Kelurahan Sokanegara dalam upaya peningkatan partisipasi masyarakat terhadap pembangunan di Kelurahan Sokanegara. Karena Kelurahan Sokanegara beradai di pusat kota dan pusat pembangunan yang ada di Purwokerto, banyak pembangunan yang terjadi di Kelurahan Sokanegara, dengan pembangunan yang berkembang di Purwokerto khususnya di Kelurahan Sokanegara masyarakat harus berperan dalam pembangunan tersebut. Untuk itulah pentingnya pemerintah Kelurahan Sokanegara untuk meningkatkan partisipasi mayarakat di Kelurahan Sokanegara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini adalah dengan purposive sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan model analisis interaktif dari Miles, Hubberman, dan Saldana. Penelitian ini dilakukan di Pemerintah Kelurahan Sokanegara alasan peneliti memilih lokasi tersebut yaitu ingin mengetahui seberapa besar peran Pemerintah Kelurahan Sokanegara dalam mensukseskan pembangunan di lingkungan Kelurahan Sokanegara dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Sasaran penelitian ini adalah seluruh pegawai Pemerintah Kelurahan Sokanegara dan warga Kelurahan Sokanegara. Berdasarkan hasil dari penelitian tentang peran pemerintah kelurahan terhadap partisiapsi masyarakat dalam pembangunan di Kelurahan Sokanegara dapat dikatakan belum optimal. Hal ini karena peranan pemerintah kelurahan belum sepenuhnya bisa dirasakan peranya oleh masyarakat, karena masyarakat di Kelurahan Sokanegara masih ada yang belum paham akan tugas pokok dan fungsi dari pemerintahan kelurahan yang artinya bahwa sebagian masyarakat masih awam tidak tahu pernan pemerintah kelurahan. Hal tersebut di ukur melalui peran sebagai enterpreneur, peran sebagai kordinator, dan peran sebagai fasilitator. | This research is entitled "The Role of Sokanegara Urban Government in Efforts to Increase Community Participation in Development in Sokanegara Sub-District". The purpose of this study is how big the role of the Sokanegara Urban Government is in an effort to increase community participation in development in the Sokanegara urban village. Because the Sokanegara sub-district is in the city center and the development center in Purwokerto, a lot of development has taken place in the Sokanegara sub-district, with development developing in Purwokerto, especially in the Sukarno urban villages, the community must play a role in this development. For this reason, it is important for the government of the North Sumatra sub-district to increase the participation of the people in the Sokanegara sub-district. This study uses descriptive qualitative research methods. The technique of selecting informants in this study was purposive sampling. Data collection methods used were interviews, observation, and documentation. Data analysis methods use interactive analysis models from Miles, Hubberman, and Saldana. This research was conducted in the Sokanegara Village Government. The reason researchers chose this location was to find out how big the role of village government was in the success of development in the Sokanegara neighborhood by involving community participation. The target of this research is all government officials of Sokanegara Village and citizens of the Sokanegara village. Based on the results of this study, the results of the research on the role of the village government in the participation of the community in the development of the Sokanegara sub-district can be said to be not optimal. This is because the role of the kelurahan government has not been fully felt by the community, because there are still people in the sokanegara sub-district who do not yet understand the basic tasks and functions of the kelurahan government, which means that some people still do not know the village administration. This is measured through the role of entrepreneur, role as coordinator, and role as facilitator. | |
| 23511 | 26775 | I1D015040 | POTENSI FLAKES MOCAF: BERAS MERAH DAN TEPUNG KACANG MERAH SEBAGAI ALTERNATIF SNACK PASIEN DM TIPE 2 | Latar Belakang: Indeks glikemik dan beban glikemik merupakan hal yang penting untuk mengontrol glukosa darah pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks glikemik, beban glikemik dan tingkat kekenyangan dari flakes mocaf: beras merah dan tepung kacang merah sebagai alternatif makanan selingan untuk pasien DM tipe 2. Metodologi: Responden berjumlah 10 orang. Pangan uji yang digunakan adalah flakes mocaf: beras merah dan tepung kacang merah. Responden diminta untuk puasa di malam hari sebelum pemeriksaan. Pemeriksaan glukosa darah dilakukan pada menit ke-0 (sebelum makan), 30, 60, 90 dan 120 (setelah makan). Perhitungan IG menggunakan metode incremental area under the blood glucose response curve (IAUC). Pengukuran tingkat kekenyangan menggunakan kuesioner Visual Analogue Scale (VAS). Hasil Penelitian: Indeks glikemik flakes mocaf: beras merah dan tepung kacang merah adalah 50,72±20,97, sedangkan beban glikemiknya adalah 22,2±9,19. Hasil uji Paired t-test menunjukkan p-value 0,000 dan 0,002 pada indeks glikemik dan beban glikemik glukosa dan flakes (terdapat perbedaan). Puncak kekenyangan terdapat pada menit ke-30 dan perlahan menurun selama dua jam. Kesimpulan:Indeks glikemik flakes termasuk kategori rendah. Beban glikemik flakes termasuk kategori tinggi. Terdapat perbedaan yang signifikan pada indeks glikemik dan beban glikemik glukosa dan flakes. Flakes dapat memberikan rasa kenyang dengan baik. Rekomendasi porsi untuk penderita DM Tipe 2 adalah 20 gram flakes. Kata kunci: Flakes, indeks glikemik, beban glikemik, tingkat kekenyangan | Background: Glycemic index and glycemic load are important for controlling blood glucose in patients with type 2 DM. This study aims to determine the glycemic index, glycemic load and level of satiety of mocaf flakes: brown rice and red bean flour as alternative snack for patients with type 2 DM. Methodology:The subjects in this study are 10 healthy people. The test food used in this study is mocaf flakes: brown rice and kidney bean flour. Respondents were asked to fast at night before the examination. Blood glucose tests are performed at 0 minutes (before meals), 30, 60, 90 and 120 (after meals). GI calculation uses the incremental area under the blood glucose response curve (IAUC) method. Measurement of satiety level uses the Visual Analogue Scale (VAS) questionnaire. Results: The glycemic index of mocaf flakes: brown rice and red bean flour is 50.72±20.97, while the glycemic load is 22.2±9.19. Paired t-test results showed p-values are 0.000 and 0.002 on the glycemic index and the glycemic load of glucose and flakes (there are differences). The peak of fullness reached in the 30th minute and slowly decreases for two hours. Conclusion: The glycemic index flakes categorized as low GI. The glycemic load of flakes categorized as high GL. There are significant differences in the glycemic index and the glycemic load of glucose and flakes. Flakes can provide a feeling of full well. Recommended portion for patients with type 2 DM is 20 grams of flakes. Keywords: flakes, glycemic index, glycemic load, satiety level | |
| 23512 | 26698 | C1A012021 | ANALISIS FAKTOR EKONOMI DAN NON EKONOMI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI ASIA TAHUN 2013 – 2017 | Penelitian ini berjudul “Analisis Pengaruh Faktor Ekonomi dan Non Ekonomi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Asia Tahun 2013-2017”. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Menganalisis pengaruh tenga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi di Asia, 2) Menganalisis pengaruh investasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Asia, 3) Menganalisis pengaruh ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi di Asia, 4) Menganalisis pengaruh impor terhadap pertumbuhan ekonomi di Asia, 5) Menganalisis pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi di Asia, 6) Menganalisis pengaruh Human Development Indexterhadap pertumbuhan ekonomi di Asia. Sumber data yang digunakandalampenelitianiniadalah data sekunder. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukaan bahwa: 1) Berdasarkan uji F (simultan) dapat disimpulkan bahwa tenaga kerja (X1), investasi (X2), ekspor (X3), impor (X4), jumlah penduduk (X5) dan IPM (X6) secara bersama-sama berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi (Y). 2) Berdasarkan uji t dapat disimpulkan bahwa variabel investasi, ekspor, IPM berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Negara Asia Tahun 2013-2017. Sedangkan variabel tenaga kerja dan impor dan pertumbuhan penduduk tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Negara Asia Tahun 2013-2017. Implikasi berdasarkan kesimpulan di atas yaitu: 1) Negara-negara di Asia harus lebih membuka pintu investasi seluas-luasnya karena investasi terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, selain itu juga negara-negara di Asia harus lebih meningkatkan ekspor barang komoditas di negaranya juga meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan cara meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan serta kualitas hidup di negara-negara Asia. 2) Perlu adanya peningkatan tenaga kerja baik secara kualitas dan kuantitas. Peningkatan tenaga kerja secara kualitas dengan cara memberikan latihan kerja kepada tenaga kerja agar lebih terampil sehingga dapat bekerja dengan efektif. Peningkatan tenaga kerja secara kuantitas dengan cara memperbanyak lapangan pekerjaan di berbagai sektor. Selain itu juga negara-negara di Asia harus mengurangi impor. Serta menekan pertumbuhan penduduk dengan cara menerapkan program keluarga berencana (KB). | This study is entitled "Analysis of the Effects of Economic and Non-Economic Factors on Economic Growth in Asia in 2013-2017". This study aims to 1) Analyze the effect of the workforce on economic growth in Asia, 2) Analyze the effect of investment on economic growth in Asia, 3) Analyze the effect of exports on economic growth in Asia, 4) Analyze the effect of imports on economic growth in Asia, 5 ) Analyzing the effect of population growth on economic growth in Asia, 6) Analyzing the effect of the Human Development Index on economic growth in Asia. The data source used in this study is secondary data. The analytical method used is multiple linear regression analysis. The results showed that: 1) Based on the F test (simultaneous) it can be concluded that labor (X1), investment (X2), export (X3), import (X4), population (X5) and HDI (X6) together- the same effect on economic growth (Y). 2) Based on the t test it can be concluded that the investment, export, HDI variables have a positive and significant effect on economic growth in Asian Countries in 2013-2017. While labor and import variables and population growth did not significantly influence economic growth in Asian Countries in 2013-2017. Implications based on the conclusions above are: 1) Countries in Asia should open more doors to investment as widely as investment is proven to increase economic growth, in addition, countries in Asia should further increase exports of commodity goods in their countries as well as increase the Development Index Humans (HDI) by improving the quality of health and education and the quality of life in Asian countries. 2) There needs to be an increase in the workforce both in quality and quantity. Quality workforce improvement by providing work training to workers to be more skilled so that they can work effectively. Increasing the workforce in quantity by increasing employment in various sectors. In addition, countries in Asia must reduce imports. And suppress population growth by implementing a family planning (KB) program. | |
| 23513 | 26699 | I1A015092 | Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Pneumonia pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Karanglewas Kabupaten Banyumas | Latar Belakang : Pneumonia merupakan proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Menurut WHO tahun 2015, pneumonia adalah penyebab tunggal terbesar kematian akibat penyakit menular pada anak-anak di seluruh dunia dan menjadi penyebab kematian sebesar 15% pada balita. Di Puskesmas Karanglewas ditemukan kasus pneumonia masih tetap tinggi dan menunjukkan peningkatan dari tahun 2016-2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Karanglewas. Metodologi : Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi case control, dilakukan pada bulan Januari-Desember 2018 pada 86 balita yang terdiri dari 43 kasus dan 43 kontrol. Pengambilan sampel dengan consecutive sampling. Analisis data yang dilakukan adalah univariat, bivariat dengan uji chi-square dan multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil Penelitian : Hasil penelitian didapatkan ada pengaruh keberadaan bahan pencemar di dalam rumah, kebiasaan membuka jendela, dan kebiasaan membersihkan rumah. Variabel yang merupakan faktor paling dominan berpengaruh terhadap kejadian pneumonia pada balita adalah keberadaan bahan pencemar di dalam rumah dengan nilai OR= 15,157. Kesimpulan : Ada pengaruh keberadaan bahan pencemar di dalam rumah terhadap kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Karanglewas. | Background : Pneumonia is an acute infection process that affects the lung tissue (alveoli). According to WHO in 2015, pneumonia is the single biggest cause of death from infectious diseases in children worldwide and is the cause of death by 15% in children under five. In Karanglewas Heralth Center, it was found that pneumonia cases remained high and showed an increase from 2016-2018. This study aims to determine the factors that influence the incidence of pneumonia in children under five in the working area of Karanglewas Health Center. Methodology : This research is a quantitative study using a case control study design, conducted in January-December 2018 on 86 toddlers consisting of 43 cases and 43 controls. Sampling with consecutive sampling. Data analysis performed was univariate, bivariate with chi-square test and multivariate with logistic regression test. Result of Research : The results showed there was an influence of the presence of pollutants in the house, the habit of opening the window, and the habit of cleaning the house. The variable which is the most dominant factor influencing the incidence of pneumonia in infants is the presence of pollutants in the house with an OR value of 15.157. Conclussion : There is an influence of the presence of pollutants in the house against the incidence of pneumonia in children under five in the working area of Karanglewas Health Center. | |
| 23514 | 26713 | G1I014023 | HUBUNGAN ANTARA KONSENTRASI DAN TINGGI BADAN DENGAN HASIL TES SERVIS PENDEK BULUTANGKIS SISWA SMK TELKOM PURWOKERTO | HUBUNGAN ANTARA KONSENTRASI DAN TINGGI BADAN DENGAN HASIL TES SERVIS PENDEK DALAM PERMAINAN BULUTANGKIS SISWA SMK TELKOM PURWOKERTO Bimo Kuncoro Edy1, Ngadiman2, Rohman Hidayat3 Abstrak Latar Belakang: Servis pendek merupakan pukulan awal dalam permainan bulutangkis yang diarahkan pada bagian depan lapangan lawan agar lawan kesulitan dan tidak dapat melakukan serangan. Terdapat faktor yang dapat menunjang atau menghambat pukulan servis pendek, seperti konsentrasi dan tinggi badan. Tujuan: Mengetahui hubungan antara konsentrasi dan tinggi badan dengan hasil tes servis pendek dalam permainan bulutangkis. Metode: penelitian ini menggunakan desain analitik korelasi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 20. Pengukuran konsentrasi menggunakan instrumen grid concentration test, tinggi badan menggunakan pita ukur, serta servis pendek dilakukan selama 20 kali. Uji yang digunakan adalah uji Spearman’s dan uji korelasi ganda. Hasil: Hasil uji Spearman’s dan uji korelasi ganda menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara konsentrasi dan tinggi badan dengan hasil tes servis pendek. Konsentrasi dengan tes servis pendek menunjukkan nilai p=0,833; tinggi badan dengan tes servis pendek p=0,971; dan nilai Sig.F change 0,979. Kesimpulan: tidak terdapat hubungan antara konsentrasi dan tinggi badan dengan hasil tes servis pendek dalam permainan bulutangkis. Kata kunci: Bulutangkis, servis pendek, konsentrasi, tinggi badan 1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman. 2,3Dosen Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Ilmi-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman. | RELATIONSHIP BETWEEN CONCENTRATION AND HEIGHT WITH SHORT SERVICE TEST RESULTS IN BADMINTON HIGH SCHOOL TELKOM PURWOKERTO STUDENTS Bimo Kuncoro Edy1, Ngadiman2, Rohman Hidayat3 Abstract Background: Short service is the initial blow in a badminton that is directed at the front of the opponent’s field so the opponent has difficulty and can not attack. There are factors that can support or inhibit short service blows, such as concentration and height. Purpose: To identify relationship between concentration and height with short service test results in badminton. Methods: This research used analytic correlation design. The sample in this study amounted to 20 respondents. Grid concentration test instrument was used to measure concentration, height used a measuring tape, and short service test were carried out for 20 times. Data was analyzed used Spearman’s test and multiple correlation test. Result: Spearman’s test and multiple correlation test showed that there was no relationship between concentration and height with the results of short service test. Concentration with short service test showed p=0,833; height with a short service test p=0,971; and the Sig.F change value 0,979. Conclusion: There was no relationship between concentration and height with short service test results in badminton. Keywords: Badminton, short service, concentration, height 1Health and Recreation Physical Education Study Program Student, Faculty of Health Science, University of Jenderal Soedirman 2,3Lecturer in Health and Recreation Physical Education Study Program, Faculty of Health Science, University of Jenderal Soedirman | |
| 23515 | 26742 | I1C015050 | Uji Aktivitas Gel Ekstrak Etanolik Terpurifikasi Daun Lindur (Bruguiera gymnorrhiza) terhadap Luka Bakar Pada Tikus | Latar belakang : luka bakar masih menjadi masalah kesehatan global, dimana kejadian paling banyak terjadi di negara berkembang dan hampir setengahnya terjadi di Asia Tenggara. Secara empiris masyarakat negara China memanfaatkan kayu dan daun lindur sebagai obat luka bakar. Daun Lindur (Bruguiera gymnorrhiza) mengandung senyawa flavonoid, tannin, saponin, steroid, dan terpenoid yang memiliki aktivitas dalam penyembuhan luka bakar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas pengaruh pemberian sediaan gel ekstrak etanol terpurifikasi daun lindur terhadap luka bakar pada tikus wistar jantan. Metodologi : Penelitian ini merupakan penelitian experimental laboratorium, dengan melalui 3 tahapan penelitian, yaitu pembuatan ekstrak terpurifikasi daun lindur (Bruguiera gymnorrhiza), formulasi gel ekstrak etanol daun lindur (Bruguiera gymnorrhiza) dan uji aktivitas penyembuhan luka bakar pada tikus. Tikus dibagi kedalam 5 kelompok perlakuan. Kelompok I : luka bakar dioleskan basis gel HPMC, perlakuan II : dioleskan Neocenta® gel, perlakuan III : dioleskan Formula I, perlakuan IV : Formula II, perlakuan V: dioleskan Formula III. Hasil Penelitian : Formula I, Formula II, dan Formula III memiliki aktivitas dalam penyembuhan luka bakar. Formula III merupakan sediaan gel yang paling baik, karena memiliki nilai perbandingan luas area relatif yang paling kecil yaitu 2,1 + 0,26 jika dibandingkan formula lainnya. Kesimpulan : Formula I, Formula II, dan Formula III sediaan gel ekstrak etanol terpurifikasi daun Lindur (Bruguiera gymnorrhiza) memiliki aktivitas dalam proses penyembuhan luka bakar pada tikus. | Background : Burns were a global health problem, the majority of these occurred in developed countries and almost half occure in South-East Asia Region. Empirically, Chinese people used wood and lindur leaves as a skin burn medicine. Lindur leaves (Bruguiera gymnorrhiza) contain flavonoid, tannin, saponin, steroid, and terpenoid compositions which have activity in healing burns. The aimed of this study to determine the activity of giving purified ethanolic extract gel from lindur leaves (bruguiera gymnorrhiza) as therapy for skin burns in male wistar rats. Methods : This research used experimental laboratory design, through three stages of research, the first was manufactured purified extracts of lindur leaves (Bruguiera gymnorrhiza), then gel formulations of ethanol extracts of lindur leaves (Bruguiera gymnorrhiza) and then activity tested of burn healing in rats. Rats were divided into 5 treatment groups. Group I: burned skin applied the base of the HPMC gel, treatment II: applied Neocenta® gel, treatment III: applied Formula I, treatment IV: Formula II, treatment V: applied Formula III. Result : Formula I, Formula II, and Formula III haved the activity of healing burned skin. Formula III’s the best gel formula, because it had the smallest relative area ratio value = 2.1 + 0.26 when compared to other formulas. Conclusion : Formula I, Formula II, and Formula III of purified ethanolic extract gel from lindur leaves (bruguiera gymnorrhiza) have activity in the process of healing burns in rats. | |
| 23516 | 26759 | I1E015026 | HUBUNGAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI, KECEPATAN LARI DAN KELENTUKAN TOGOK DENGAN KELINCAHAN SISWA EKSTRAKURIKULER PENCAK SILAT DI SMP MBS ZAM-ZAM CILONGOK | Latar Belakang : Kelincahan dipengaruhi oleh kekuatan otot tungkai, kecepatan lari dan kelentukan togok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kekuatan otot tungkai, kecepatan lari, dan kelentukan togok dengan kelincahan siswa ekstrakurikuler pencak silat di SMP MBS Zam-Zam Cilongok. Metodologi : Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi korelasi analitik dengan pendekatan cross sectional dan pengambilan sampel 31 siswa ekstrakurikuler pencak silat menggunakan total sampling dengan memperhatikan kriteria inklusi dan ekslusi. Pengukuran kekuatan otot tungkai menggunakan tes leg dynamometer, kecepatan lari menggunakan tes sprint 30 m, kelentukan togok menggunakan tes sit and reach, dan kelincahan menggunakan tes hexagonal obstacle. Uji statistik menggunakan shapiro wilk, pearson product moment, korelasi berganda dan sumbangan efektif. Hasil Penelitian : Terdapat hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan kelincahan p = 0,000 , r = -0,694. Terdapat hubungan antara kecepatan lari dengan kelincahan p = 0,000 , r = 0,742. Terdapat hubungan antara kelentukan togok dengan kelincahan p = 0,000 , r = -0,617. Terdapat hubungan antara kekuatan otot tungkai, kecepatan lari, dan kelentukan togok dengan kelincahan p = 0,000 , r = 0,857 . Sumbangan efektif yang diberikan terhadap dari kekuatan otot tungkai sebesar 23,04%, kecepatan lari 30,13% dan kelentukan togok sebesar 20,18%. Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara kekuatan otot tungkai, kecepatan lari, dan kelentukan togok dengan kelincahan siswa ekstrakurikuler pencak silat di SMP MBS Zam-Zam Cilongok. Kata Kunci : Kekuatan otot tungkai, kecepatan lari, kelentukan togok, kelincahan | Background : The agility depend on leg muscle strength, speed of run, and togok flexibility. The aim of the research to determine correlation of leg muscle strength, speed of run, and togok flexibility with the agility of martial art extracurricular student in junior high school of MBS Zam-Zam Cilongok. Method : The method of uses in this research is the studi of correlation analytic with correlational approach and involving 31 students the with total sampling technique following inclusion and exclusion as a consideration. The measurement of the leg muscle strength uses leg dynamometer test, speed of run uses sprint 30 m, togok flexibility uses sit and reach test, the agility uses hexagonal obstacle test. Shapiro wilk, pearson product moment, multiple correlation and effective contribution are used analysis data. Result : The correlation between of leg muscle strength with the agility were p = 0,000 , r = -0,694. The correlation between of speed of run with the agility were p = 0,000 , r = 0,742. The last correlation between of togok flexibility with the agility were p = 0,000 , r = -0,617. The correlation between of leg muscle strength, speed of run, and togok flexibility with the agility was significant were p = 0,000 , r = 0,857 . Effective contribution of agility from leg muscle strength 23,04% , from speed of run 30,13% and from togok flexibility 20,18% Conclusion : There significant correlation between of leg muscle strength, speed of run, and togok flexibility with the agility of martial art extracurricular student in junior high school of MBS Zam-Zam Cilongok. Keyword : leg muscle strength, speed of run, togok flexibility, agility | |
| 23517 | 26772 | G1D013026 | Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Petugas Kebersihan Tenaga Harian Lepas (THL) Wilayah Ciamis | Latar Belakang : Petugas kebersihan merupakan salah satu pekerjaan yang memiliki tingkat resiko tinggi untuk terkena penyakit dan terjadinya kecelakaan kerja. Kondisi lingkungan kerja yang tidak kondusif dan selalu berhubungan dengan sampah bisa mengakibatkan kecelakaan kerja. Penggunaan APD yang baik dan benar saat bekerja dapat melindungi dari potensi bahaya serta kecelakaan kerja yang kemungkinan terjadi di tempat kerja. Pengetahuan, fasilitas dan pengawasan dapat mempengaruhi perilaku penggunaan APD. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan APD pada petugas kebersihan THL Wilayah Ciamis. Metode Penelitian :Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Besar sampel adalah 83 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dengan uji bivariat menggunakan uji Chi square. Hasil : Hasil penelitian menunjukan hubungan pengetahuan dengan perilaku penggunaan APD dengan nilai p=0,138, hubungan fasilitas dengan perilaku penggunaan APD dengan nilai p=0,668 dan juga hubungan antara pengawasan dengan perilaku penggunaan APD dengan nilai p=0,163. Kesimpulan : Fakor pengetahuan, fasilitas dan pengawasan tidak berhubungan dengan perilaku penggunaan APD pada petugas kebersihan THL Wilayah Ciamis. Kata Kunci :Petugas kebersihan, Alat Pelindung Diri (APD), Pengetahuan, Failitas, Pengawasan, Perilaku. | Background: The janitors is one of the high-risk jobs of disease and work accidents. The condition of the work environment is unconducive and always associated with garbage that can result in work accidents. Good and proper use of PPE in the workplace can protect against potential hazards and workplace accidents. Behavior is influenced by factors of knowledge, facilities and surveillance. Objective: the study aims to determine the factors that associated with the behavior of PPE use in Ciamis Region THL Janitors. Methodology: This research uses quantitative methods with sectional cross approach. The sampling technique uses total sampling. The sample size was 83 respondents who fit the inclusion and exclusion criteria. Data analysis with bivariate test using the chi square test. Results: The results showed the relationship of knowledge with the behavior of PPE use (p= 0,138), the relationship between facilities with PPE usage behavior (p= 0,668) and also the relationship between surveillance with the behavior of PPE use (p = 0,163). Conclusion: Knowledge, facilities and surveillance factors are not related to the behavior of PPE usage in freelance janitor ciamis area. Keywords: janitors, self-protective devices (PPE), knowledge, facilities, surveillance, behavior. | |
| 23518 | 26701 | E2B017030 | PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KREDITUR TERHADAP KEABSAHAN AKTA PENGIKATAN JUAL BELI DENGAN PINJAMAN TANPA HAK TANGGUNGAN (Analisis Putusan Nomor : 34/Pdt/2017/PT. YYK dan Nomor : 214/Pdt.G/2014/PN.Jkt Sel) | Abstrak Unsur terpenting dari kredit (utang) adalah adanya kepercayaaan dari pihak kreditur terhadap peminjam sebagai debitur. Perjanjian Jual Beli (selanjutnya disebut PJB) adalah kesepakatan antara penjual untuk menjual properti miliknya kepada pembeli yang dibuat dengan akta notaris. Kasus yang terjadi pada Putusan Pengadilan Tinggi Yogyakarta Nomor 34/ Pdt /2017/PT.YYK dan Putusan Pengadilan Negeri Nomor 214/Pdt,G/2014/PN. Jkt.Sel adalah kasus utang piutang dengan jaminan sertifikat hak atas tanah dan para pihak menuangkan kesepakatan mereka ke dalam Akta Pengikatan Jual Beli (PPJB) dan Akta Kuasa Jual, mengingat setelah kedua putusan tersebut, terdapat permasalahan utang piutang yang belum selesai, sementara debitur masih belum bisa melunasi utangnya kepada kreditur, dengan jaminan sertifikat hak atas tanah tanpa hak tanggungan. Atas latar belakang tersebut, maka penulis akan menganalisis pertimbangan hakim terhadap putusan Nomor 34/ Pdt /2017/PT.YYK dengan Putusan Nomor 214/Pdt.G/2014/PN. Jkt Sel tentang akta pengikatan jual beli, perlindungan hukum bagi kreditur terhadap keabsahan akta perikatan jual beli dengan pinjaman tanpa hak tanggungan dan pelunasan oleh debitur yang wanprestasi terkait hutang piutang dengan pinjaman tanpa hak tanggungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis normatif. Hasil Penelitian menunjukan bahwa Pada Putusan Nomor 34/ Pdt /2017/PT.YYK yang menyatakan batal demi hukum dan tidak mempunyai kekuatan mengikat akta otentik mengenai “Ikatan Jual Beli” Nomor 01/2015 dan akta otentik berupa “Kuasa Menjual” Nomor 02/2015, karena berdasarkan Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia nomor 275K/PDT/2004, berbunyi sebagai berikut : “ Jual beli yang semula didasari utang piutang adalah perjanjian semu, dimana pihak penjual dalam posisi lemah dan terdesak, sehingga mengandung penyalahgunaan ekonomi. “ Sedangkan sebagai bahan pembanding Putusan Nomor 214/Pdt.G/2014/PN. Jkt Sel, dimana semula mempunyai hubungan hukum yaitu hutang piutang yang menyatakan bahwa Penggugat terbukti melakukan perbuatan wanprestasi terhadap Tergugat, menyatakan Akta Pengikatan Jual Beli No. 45 tanggal 11 Juli 2008 dan seluruh turunannya adalah Akta yang berlaku sah dan benar ; menyatakan Akta Pengakuan Hutang No. 46 tanggal 11 Juli 2008 dan seluruh turunannya adalah Akta yang berlaku sah dan benar; menyatakan Akta Jaminan Fiducia (Barang bergerak) No. 47 tanggal 11 Juli 2008 dan seluruh turunannya adalah akta yang berlaku sah dan benar. | Abstract The most important element of credit (debt) is the trust of the creditor towards the borrower as the debtor. Sale and Purchase Agreement (hereinafter referred to as PJB) is an agreement between a seller to sell his property to a buyer made with a notarial deed. Cases that occurred in Yogyakarta High Court Decision Number 34 / Pdt /2017/PT.YYK and District Court Decision Number 214 / Pdt, G / 2014 / PN. Jkt.Sel is a case of debt receivable with collateral for a certificate of land rights and the parties poured their agreement into the Sale and Purchase Binding Act (PPJB) and the Selling Power of Attorney, considering that after the two decisions, there was an outstanding debt problem, while the debtor was still have not been able to repay their debts to creditors, with guarantees of certificates of land rights without mortgage. The purpose of this study was to analyze the judges' consideration of the decision Number 34 / Pdt /2017/PT.YYK with Decision Number 214 / Pdt.G / 2014 / PN. Jkt Cell regarding sale and purchase agreement. analyze the legal protection for creditors against the validity of the deed of sale and purchase agreement with a loan without mortgage. analyze repayment by defaulting debtors relating to debts and loans without mortgages. The method used in this study is a normative juridical method, analyzed Normatively Qualitatively, The results of the study show that in Decision Number 34 / Pdt /2017/PT.YYK which states are null and void and do not have the power to bind an authentic deed regarding the "Purchase Bond" Number 01/2015 and authentic deed in the form of "Sales Authority" Number 02/2015 , because based on the Supreme Court Jurisprudence of the Republic of Indonesia number 275K / PDT / 2004 read as follows : “ the sale and purchase which was originally based on accounts receivable debts is a pseudo agreement, where the seller is in a weak and pressed position, so that it constains economic abuse”. Whereas as a comparison for Decision Number 214 / Pdt.G / 2014 / PN. Jkt Cell, which originally had a legal relationship, that is, debt and receivables which stated that the Plaintiff was proven to have committed a default on the Defendant, stated the Purchase Binding Agreement No. 45 dated July 11, 2008 and all of its derivatives are valid and correct deeds; declare the Deed of Credit Recognition No. 46 dated July 11, 2008 and all of its derivatives are valid and correct deeds; certifies Fiduciary Deed (movable property) No. 47 dated July 11, 2008 and all of its derivatives are valid and correct deeds. | |
| 23519 | 26702 | F1C012087 | STRATEGI BRANDING ORGANISASI KEMASYARAKATAN PEMUDA PANCASILA MAJELIS PIMPINAN CABANG KABUPATEN BANYUMAS DALAM MELAWAN STIGMA | Proses komunikasi di masyarakat dewasa ini mempunyai bentuk dan metode yang terus berkembang. Namun, jejak sejarah selalu melekat pada ingatan masyarakat sebagai bentuk pelajaran untuk menyongsong kehidupan selanjutnya. Jejak sejarah kadang pada kahirnya berbelok makna atau bahkan bertolak belakang dengan realitas yang ada. Atau bahkan yang paling sering dilihat adalah, ada mata rantai yang hilang dalam memahami sejarah. Paling buruk, kesalahan kita memahami sejarah menimbulkan efek pada stigma yang kita lihat pada sebuah identitas. Pemuda Pancasila sebagai organisasi pun tidak lepas dari stigma yang tertanam di masyarakat. Berangkat dari stigma tersebut, ada upaya untuk merubah dan memberi pemahaman pada masyarakat akan carapandang melihat organisasi. Kasus ini dijadikan sebagai bahan penelitian yang berjudul ‘’STRATEGI BRANDING ORGANISASI KEMASYARAKATAN PEMUDA PANCASILA MAJELIS PIMPINAN CABANG KABUPATEN BANYUMAS DALAM MELAWAN STIGMA’’. rumusan dalam penelitian ini dimulai dari bagaimana sejarah Pemuda Pancasila di Kabupaten Banyumas dan bagaimana strategi untuk branding melawan stigma tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui posisi dan kedudukan Ormas Pemuda Pancasila di Kabupaten Banyumas dan mengetahui strategi branding Organisasi Kemayarakatan Pemuda Pancasila Majelis Pimpinan Cabang Kabupaten Banyumas dalam rangka menghapus stigma yang melekat pada organisasi. Penelitian ini neggunakan metode kualitatif. Serta teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori branding. Adapun sumber data yang akan digunakan adalah data primer dan data sekunder yang diperoleh dari hasil wawancara lapangan dan observasi. Berdasarkan analisis data yang sudah dilakukan, diperoleh hasil bahwa salah pemahaman masyarakat terhadap organisasi Pemuda Pancasila merupakan konsekuensi dari kurangnya beberapa anggota menerapkan nilai dan semangat dari visi dan misi Pemuda pancasila. Dari tidak diterapkannya nilai-nilai tersebut, berdampak pada terjadinya tindakan yang dalam kacamata masyarakat luas adalah negatif dan megenarisir pada seluruh organisasi. Dampak tersebut di lawan dengan program internal dan eksternal organisasi melalui pendidikan karakter dan keterlibatan Pemuda Pancasila dalam kegiatan sosial di Kabupaten Banyumas. Diharapka program tersebut dapat merubah bahkan menghilangkan stigma yang ada. | The process of communication in today's society has a form and method that continues to evolve. However, historical traces are always attached to people's memories as a form of learning to welcome the next life. Historical traces sometimes turn meaning or even contradict the reality. Or even the most frequently seen is, there is a missing link in understanding history. At worst, our misunderstanding of history has an effect on the stigma we see in an identity. Pemuda Pancasila as an organization cannot be separated from the negative stigma that is embedded in society. Departing from the negative stigma, there are efforts to change and give understanding to the public about how they see the organization. This case is used as research material entitled '‘STRATEGY BRANDING ORGANIZATION OF PANCASILA YOUTH COMMUNITY COMMUNITY LEADERSHIP LEADERS OF BANYUMAS DISTRICT IN AGAINST NEGATIVE STIGMA'. The formulation in this study starts from how the history of Pancasila Youth in Banyumas Regency and how the strategy for branding against the negative stigma. The purpose of this study was to determine the position and position of the Pancasila Youth Organization in Banyumas Regency and to know the branding strategy of the Pancasila Youth Organization of the Banyumas Regency Branch Leadership Council in order to remove the stigma attached to the organization. This research uses a qualitative method. And the theory used in this study uses branding theory. The data sources that will be used are primary data and secondary data obtained from the results of field interviews and observations. Based on the analysis of the data that has been done, the results are obtained that the people's misunderstanding of the Pancasila Youth organization is a consequence of the lack of some members applying the values and enthusiasm of the Pancasila Youth vision and mission. From not implementing these values, the impact on the occurrence of actions in the eyes of the wider community is negative and inherits the entire organization. These impacts are opposed to the organization's internal and external programs through character education and the involvement of Pemuda Pancasila in social activities in Banyumas Regency. It is hoped that the program can change or even eliminate the negative stigma that exists. | |
| 23520 | 26703 | I1B015073 | HUBUNGAN PENGGUNAAN AKUN KESEHATAN DI MEDIA SOSIAL TERHADAP PERILAKU HIDUP SEHAT PADA MAHASISWA UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO | Latar belakang: Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap manusia untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Kesehatan yang baik, berasal dari individu yang bisa melakukan tindakan pencegahan sebelum terjadinya suatu penyakit. Penggunaan media sosial dapat memudahkan mahasiswa dalam pencarian informasi, terutama terkait kesehatan. Pemanfaatan akun kesehatan di media sosial merupakan salah satu upaya mahasiswa untuk mengubah perilaku hidup sehat. Tujuan: Mengetahui hubungan penggunaan akun kesehatan di media sosial terhadap perilaku hidup sehat pada mahasiswa Unsoed Purwokerto. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling dengan total sampel sebanyak 445 responden. Pengambilan data penelitian menggunakan kuesioner dan hasilnya di analisis menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian: Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan, rata-rata berusia 19 tahun. Skor penggunaan akun kesehatan di media sosial adalah 17,00 (dari rentang skor 8-32). Skor perilaku hidup sehat adalah 71,00 (dari rentang skor 27-108). Hasil uji statistik menunjukkan p value = 0,000 < 0,05, dengan nilai r sebesar 0,320. Kesimpulan: Penggunaan akun kesehatan di media sosial memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku hidup sehat mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. | Background: Health is the most important thing to human being to support their daily activity. A good condition of health comes from the one who is able to prevent disease to come. The usage of social media easies students to find out the information especially topic about health. It is one of the way to drive them onto health life behaviour. Purpose: This research was aimed to figure out the correlation of health account usage in social media toward life health behaviour of students of Jenderal Soedirman University in Purwokerto. Method: This was a quantitative research with cross sectional design. Samples were taken by accidental sampling within 445 respondents. Data were taken by questionnaire and were analyzed with Spearman analysis. Result: Based on respondents' characteristics showed that most of them were women, had the average of 19 ages. The score of health account usage in social media was 17,00 (range 8-32). Score of health life behaviour was 71,00 (fron 27-108). From statistic analysis showed that p value = 0,000 < 0,05 with r equal to 0,320. Conclusion: The usage of health account in social media had a significant correlation to health life behaviour of students of Jenderal Soedirman University in Purwokerto. |