Artikelilmiahs
Menampilkan 22.921-22.940 dari 50.214 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 22921 | 25446 | B1A015003 | PENGARUH INTERAKSI ANTARA NAA DAN BAP TERHADAP MULTIPLIKASI TANAMAN GAHARU (Aquilaria malaccensis Lamk.) SECARA IN VITRO | Tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) merupakan salah satu jenis tanaman berkayu penghasil gaharu terbaik di hutan alam. Peningkatan ekspor gaharu menyebabkan tingginya eksploitasi kayu gaharu dari hutan alam, sehingga jenis ini sangat sulit ditemukan dan dimasukan ke dalam Appendix II dalam CITES. Penambahan NAA dan BAP pada media kultur diharapkan mampu memacu pertumbuhan kultur gaharu khusunya pada tahap multiplikasi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mempelajari pengaruh interaksi serta konsentrasi NAA dan BAP, serta mendapatkan konsentrasi terbaiknya untuk memacu pertumbuhan tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) pada tahap multiplikasi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola perlakuan Faktorial. Faktor pertama yaitu konsentrasi BAP (B) dengan 4 taraf yaitu B1 : 4 µM, B2 : 6 µM, B3 : 8 µM dan B4 : 10 µM. Faktor kedua yaitu konsentrasi NAA (N) dengan 4 taraf yaitu N1 : 0,5 µM, N2 : 1 µM, N3 : 1,5 µM dan N4 : 2 µM. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah pertumbuhan eksplan tanaman gaharu, dengan parameter yang diukur yaitu jumlah tunas, jumlah akar, jumlah daun, dan rataan tinggi eksplan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian NAA dan BAP berpengaruh pada multiplikasi tanaman gaharu (A. malaccensis Lamk.) dalam kultur in vitro. NAA dengan konsentrasi 2 µM dan 8 µM BAP merupakan konsentrasi terbaik untuk memacu multiplikasi tanaman gaharu (A. malaccensis Lamk.) dalam kultur in vitro. | Agarwood plant (Aquilaria malaccensis Lamk.) Is one of the best types of woody plants producing agarwood in natural forests. Increased export of agarwood causes high exploitation of agarwood from natural forests, so this species is very difficult to find and put into Appendix II in CITES. The addition of NAA and BAP to the culture media is expected to be able to spur the growth of agarwood culture especially in the multiplication stage. The purpose of this study was to study the interaction effects and concentrations of NAA and BAP, and get the best concentration to stimulate the growth of agarwood plants (Aquilaria malaccensis Lamk.) In the multiplication stage. The research design used was a completely randomized design (CRD) with factorial treatment patterns. The first factor is the concentration of BAP (B) B1: 4 µM, B2: 6 µM, B3: 8 µM and B4: 10 µM. The second factor is the NAA (N) N1: 0.5 µM concentration, N2: 1 µM, N3: 1.5 µM and N4: 2 µM. The combination of these two factors resulted in 16 treatments. The variables observed in this study were explants of agarwood plant explants, with parameters measured namely number of shoots, number of roots, number of leaves, and explant height average.The results showed that addition of NAA and BAP had an effect on the multiplication of agarwood (A. malaccensis Lamk.) in in vitro culture. NAA with a concentration of 2 µM and 8 µM BAP was the best concentration to stimulate the multiplication of agarwood (A. malaccensis Lamk.) in in vitro culture. | |
| 22922 | 25449 | I1B015058 | PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN POSTER TERHADAP PENGETAHUAN PENCEGAHAN LOW BACK PAIN PADA PETANI NIRA | Latar Belakang: Low back pain termasuk jenis musculoskeletal disorder yang sering dikeluhkan oleh petani nira. Riwayat pendidikan rendah merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya low back pain. Riwayat pendidikan rendah menyebabkan informasi dan pengetahuan yang dimiliki terbatas. Informasi dalam hal ini terkait pengetahuan pencegahan low back pain. Pemberian informasi pencegahan low back pain dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan kesehatan dengan media poster. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media poster terhadap pengetahuan pencegahan low back pain pada petani nira. Metodologi: Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi experiment dengan rancangan pretest and posttest with control group design. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dan diperoleh 21 responden pada setiap kelompok. Pengukuran skor pengetahuan menggunakan kuesioner pengetahuan. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon dan uji Mann-whitney. Hasil: Hasil uji Mann-whitney menunjukkan ada perbedaan skor pengetahuan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan nilai p=0,001 (p<0,05). Kesimpulan: Pendidikan kesehatan dengan media poster dapat meningkatkan pengetahuan pencegahan low back pain petani nira. | Background: Low back pain is a type of musculoskeletal disorder that is often complained by nira farmers. One factor that affect low back pain is low education. Low education causes limiting information and knowledge. Information this relates to the knowledge of prevention of low back pain. Providing information on prevention of low back pain can be done by providing health education with poster media. Objective: To know the effect of health education with poster media towards the knowledge prevention of low back pain for nira farmers. Methodology: This research is a type of quasi experiment with a pretest and posttest design with control group design. Taking of sample used simple random sampling technique and obtained 21 respondents in each group. Measurement of knowledge scores used a knowledge questionnaire. Data analysis in this study used the Wilcoxon test and Mann-whitney test. Results: The Mann-whitney test results showed the difference of knowledge scores between the intervention group and control group with a value of p=0,001 (p<0,05). Conclusion: Health education with poster media can increase the knowledge of prevention of low back pain for the nira farmers. | |
| 22923 | 25450 | F1B015026 | IMPLEMENTASI KEBIJAKAN REVITALISASI PASAR TRADISIONAL (Studi Kasus di BSD Serpong dan Pasar Manis Purwokerto) | Pertumbuhan pasar modern yang menggeser pasar tradisional perlu mendapat perhatian pemerintah. Salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah melalui kebijakan revitalisasi pasar tradisional. Pasar BSD Serpong pada tahun 2004 telah dinilai sebagai pasar yang telah berhasil dimodernisasi. Sedangkan salah satu pasar yang direvitalisasi pada tahun 2016 adalah Pasar Manis Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana proses modernisasi pasar tradisional di pasar BSD Serpong, bagaimana implementasi kebijakan di pasar Manis Purwokerto, serta bagaimana kebijakan revitalisasi pasar tradisional untuk pengembangan pasar tradisional pada umumnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan bentuk studi kasus terpancang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa proses modernisasi pasar tradisional di pasar BSD Serpong telah mengintegrasikan antara modernisasi fisik dan non fisik. Implementasi Kebijakan revitalisasi Pasar Tradisional di Pasar Manis Purwokerto baru pada aspek fisik. Sementara aspek manajemen, ekonomi, dan sosial sudah diupayakan namun belum maksimal. Kebijakan revitalisasi pasar tradisional di Indonesia seharusnya mencangkup aspek fisik, manajemen, sosial, dan ekonomi secara keseluruhan. | The growth of the modern market that shifts the traditional market needs to get the government's attention. One of the government's efforts to overcome this is through the traditional market revitalization policy. BSD Serpong market in 2004 has been assessed as a market that has been successfully modernized. While one of the revitalized market in 2016 is Manis Market Purwokerto. This study aims to see how the process of modernization of traditional markets in BSD Serpong market, how the implementation of policy in the Manis Market of Purwokerto, and how the policy of revitalizing traditional markets for traditional market development in general. This research uses qualitative method with form of stuck case study. The results of this study indicate that the process of modernization of traditional markets in BSD Serpong market has integrated between physical and non-physical modernization. Implementation of revitalization policy of Traditional Market in Manis Market of Purwokerto new to physical aspect. While management, economic, and social aspects have been attempted but not maximized. Traditional market revitalization policies in Indonesia should cover the physical, management, social and economic aspects as a whole. | |
| 22924 | 25451 | G1B013048 | FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DERMATITIS KONTAK PADA PEMULUNG TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH TRITIH LOR JERUKLEGI KABUPATEN CILACAP | Latar Belakang : Data Ditjen Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI tahun 2014, ditemukan jumlah kasus penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya sebesar 15,6%, dimana penyakit dermatitis sebesar 66,3%. Salah satu masalah kesehatan pada masyarakat pemulung di TPA yang memerlukan perhatian serius adalah Penyakit Kulit Akibat Kerja (PKAK). Risiko sebagai pemulung tentunya sangat besar sekali karena sampah tentunya mengandung banyak sekali bakteri-bakteri patogen akibat pembusukan zat-zat organik yang bisa masuk ke tubuh melalui pori–pori, kulit dan pernafasan. Menurut laporan data penyakit kulit di Puskesmas Jeruklegi 1 Cilacap tahun 2016 dermatitis merupakan penyakit yang termasuk kedalam 10 besar yang beradapada urutan ke-8 dengan presentase sebanyak 217 kasus. Metode : Penelitian ini menggunakandesain penelitian cross sectional. Pemilihan sampel dilalukan dengan tekhnik total sampling sebanyak 50 responden. Analisis data menggunakan univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square. Hasil : Hasil analisis menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa variabel riwayat penyakit kulit (p= 0.000), riwayat alergi (p= 0.000), dan pemakaian APD (p= 0.003) memiliki hubungan yang signifikan dengan dermatitis kontak. | Background : Data of the Directorate General of Medical Services of the Republic of Indonesia Ministry of Health in 2014, found the number of cases of skin diseases and other subcutaneous tissue was 15.6%, where dermatitis was 66.3%. One of the health problems in the scavenger community in TPA that requires serious attention is Work-related Skin Diseases. he risk of being a scavenger is certainly very big because garbage certainly contains a lot of pathogenic bacteria due to decay of organic substances that can enter the body through pores, skin and respiration. According to the report on skin disease data in Jeruklegi Health Center 1, Cilacap in 2016 dermatitis is a disease that belongs to the top 10, which is in the 8th place with a percentage of 217 cases. Method : This study used a cross sectional study design. The sample selection was done with a total sampling technique of 50 respondents. Data analysis using univariate and bivariate using the chi-square test. Results : The results of the analysis using the chi-square test showed that the history of skin diseases (p = 0.000), history of allergies (p = 0.000), and use of PPE (p = 0.003) had a significant relationship with contact dermatitis. | |
| 22925 | 25452 | B1A015092 | KELIMPAHAN DAN SEX RATIO UDANG Macrobrachium spp. YANG TERTANGKAP DI SUNGAI PELUS, KABUPATEN BANYUMAS | Udang air tawar merupakan salah satu hewan yang hidup di perairan air tawar seperti waduk, danau, dan sungai. Salah satu jenis udang air tawar yang hidup di sungai berasal dari genus Macrobrachium. Udang Macrobrachium hidup di sungai yang berarus, terdapat kayu-kayuan atau tumbuhan ditengah atau tepi sungai. Sungai Pelus merupakan salah satu sungai yang mengalir di Kabupaten Banyumas. Salah satu aspek yang dapat dipelajari untuk konservasi sumberdaya udang di Sungai Pelus yaitu Kelimpahan dan Sex ratio dari udang Macrobrachium spp. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kelimpahan dan Sex ratio udang Macrobrachium spp. di Sungai Pelus. Metode penelitian yang digunakan adalah Survey di empat stasiun Sungai Pelus yaitu Stasiun I di Desa Kutayasa, Stasiun II di Desa Kembaran, Stasiun III di Desa Ledug, dan Stasiun IV di Desa Suro, Kabupaten Banyumas. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juli 2018. Metode pengambilan sampel dilakukan secara purposive random sampling. Variabel yang diamati pada penelitian ini yaitu jumlah individu, jumlah individu jantan dan betina, Sex ratio, dan ukuran panjang total udang Macrobrachium pilimanus. Parameter pendukung yang digunakan adalah, parameter fisika yang terdiri dari temperatur/suhu, kecepatan arus sungai, dan Substrat dasar, sedangkan parameter kimia yaitu Dissolved Oxygen (DO). Hasil dari penelitian ini yaitu salah satu jenis udang yang ditemukan pada Sungai Pelus adalah Macrobrachium pilimanus dengan kelimpahan tinggi berada pada stasiun II dan III (25 ekor) kemudian diikuti oleh stasiun IV (17 ekor), dan kelimpahan terendah di stasiun I (10 ekor). Perbandingan jenis kelamin (Sex ratio) pada stasiun I seimbang, didominasi oleh betina di stasiun II, sedangkan jantan didominasi pada stasiun III dan IV. | Freshwater prawn is one of the animals that live in fresh water such as a reservoir, lake, and river. One of the freshwater prawn that live in the river came from Macrobrachium genus. Macrobrachium genus lives in the flowing river, woody or plants that lived in the center or the edge of the river. The Pelus river is one of the rivers that streams in the Banyumas regency. One of the aspects that can be studied for prawn resource conservation in the Pelus river is the abundance and the Sex ratio from Macrobrachium spp prawn. The aims of this research are to know the abundance and Sex ratio of Macrobrachium spp prawn in the Pelus river. The research method that used is Survey at four stations of the Pelus river such as 1st station at Kutayasa village, the 2nd station at Kembaran village, the 3rd station at Ledug village, and 4th station at Suro village, Banyumas regency. The research has been done on May-July 2018. The sampling method used is purposive random sampling. The variable that observed in this research are the number of individuals, number of male and female individuals, Sex ratio, and the total length of Macrobrachium pilimanus prawn. The supporting parameters that used are the physical parameter that contains temperature, the speed of river flow, the basic substrate, while chemical parameter is Dissolved Oxygen (DO). The result of this research showed one type of Macrobrachium prawn that lives at Pelus River was Macrobrachium pilimanus with high abundance of M. pilimanus prawn in 2nd and 3rd station (25 individuals) followed by 4th station ( 17 Individuals, and the lowest abundance at 1st station (10 individuals). Sex ratio at 1st were balanced, 2nd station were dominated by the female , while in the 3rd and 4th station were dominated by the male prawns. | |
| 22926 | 25455 | B1A015017 | DAMPAK EDGE EFFECT TERHADAP KEANEKARAGAMAN SERANGGA PENYERBUK DI CAGAR ALAM BANTARBOLANG, PEMALANG, JAWA TENGAH | Hutan merupakan kumpulan dari berbagai macam tumbuh-tumbuhan dan hewan yang didominasi oleh pepohonan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui edge effect terhadap keanekaragaman serangga penyerbuk di Cagar Alam Bantarbolang, Pemalang. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel stratified sampling. Strata yang digunakan adalah jarak dari tepi hutan ke arah dalam (interior) hutan yaitu 0 m, 50 m, 100 m, 150 m, dan 200 m. Data dianalisis menggunakan indeks diversitas Shannon-Wiener (H’), indeks kemerataan jenis Shannon-Evennes (e), indeks kesamaan (Index of similarity) analisis varian ANOVA dan deskriptif faktor lingkungan. Analisis menggunakan software BD Pro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman dan kelimpahan serangga penyerbuk sangat dipengaruhi oleh jarak dari tepi hutan. Semakin ke arah dalam hutan sejauh 200 m maka keanekaragaman dan kelimpahan serangga penyerbuk semakin berkurang. Keanekaragaman dan kelimpahan tertinggi terdapat pada jarak 0 m dan terendah pada jarak 200 m dari tepi hutan. Spesies serangga penyerbuk yang memiliki kelimpahan tertinggi adalah Eurema hecabe (Lepidoptera) yakni sebanyak 59 individu dan yang terendah adalah Trigona sp. (Hymenoptera) yakni hanya ditemukan 3 spesies. Faktor lingkungan seperti temperatur, kelembapan dan intensitas cahaya merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi aktivitas dan perkembangan serangga penyerbuk. | Forest is collection of plenty plants and animals which is dominated by trees a forest. The purpose of this research was to determine the edge effect on the diversity of pollinating insects in Bantarbolang Nature Reserve, Pemalang. The study used a survey method with a stratified sampling technique. The strata used are the distance from the edge of the forest towards the interior (interior) of the forest, which is 0 m, 50 m, 100 m, 150 m, and 200 m. Data were analyzed using the Shannon-Wiener diversity index (H '), Shannon-Evennes evenness index (e), similarity index (Index of similarity), analyzed variant of ANOVA and descriptive enviromental factors. Analyzed was using BD Pro software. The results showed that the diversity and abundance of pollinating insects was strongly influenced by the distance from the edge of the forest. The more get closer to the forest, the diversity and abundance of pollinating insects as 200 m decreased to far. The highest diversity and abundance found at a distance of 0 m and the lowest is 200 m from the edge of the forest. Pollinator insect species which the highest abundance Eurema hecabe (Lepidoptera) which is as many as 59 individuals and the lowest Trigona sp. (Hymenoptera) which is only found 3 species. Environmental factors such as temperature, humidity and light intensity important factors that can affect the activity and development of pollinating insects. | |
| 22927 | 25456 | E2A017015 | EFEKTIVITAS PENERAPAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG) DALAM UPAYA PENCEGAHAN TINDAK PIDANA KORUPSI DI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO) | Akibat dari buruknya tata kelola perusahaan menyebabkan banyak terjadinya tindak pidana korupsi di perusahaan BUMN maupun swasta. Penerapan GCG secara efektif merupakan sebagai langkah mencegah, menghambat dan mempersulit seseorang melakukan tindakan korupsi dikarenakan GCG memiliki prinsip-prinsip seperti Transparancy, Accountability, Responsibility, Independency dan Fairness. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis efektivitas penerapan GCG dalam upaya pencegahan tindak pidana korupsi di PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan untuk mengetahui dan menganalisis kendala yang dihadapi dalam penerapan GCG di PT Kereta Api Indonesia (Persero). Penelitian ini dilakukan di PT Kereta Api Indonesia (Persero). Berdasarkan hasil penelitian dari data hasil audit internal tiga tahun terakhir tidak ditemukan tindak pidana korupsi yang melibatkan seluruh komponen perusahaan. Implementasi GCG sampai sejauh ini masih efektif untuk mencegah terjadinya tindak pidana korupsi. Upaya hukum yang dijadikan upaya terakhir tetap memberikan efek jera, hal tersebut dikarenakan diikuti dengan pemberian sanksi yang berat. Selain hal itu, untuk mencegah terjadinya korupsi PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah menerapkan whistleblowing System (WBS), Pengendalian Gratifikasi, Benturan Kepentingan (Conflict of Interest) dan Pengelolaan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa Penerapan GCG dalam upaya pencegahan tindak pidana korupsi di PT Kereta Api Indonesia (Persero) berdasarkan hasil penelitian sudah efektif, hal tersebut dibuktikan dengan selama tiga tahun terakhir tidak ada tindak pidana korupsi yang melibatkan seluruh elemen perusahaan. Kesatuan sistem yang terdiri atas substance, structure dan legal culture mampu memberikan kontribusi maksimal terhadap jalannya sistem GCG di PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan kendala yang dihadapi dalam menerapkan GCG dapat dikatakan tidak ada dikarenakan GCG sudah menjadi sebuah sistem yang berjalan dan menjangkau ke seluruh elemen perusahaan untuk menciptakan tata kelola perusahaan yang lebih baik dari tahun ke tahun. Berdasarkan pembahasan tersebut maka saya memberikan saran sebagai berikut, 1) PT Kereta Api Indonesia (Persero) diharapkan terus memberbaiki dan mempertahankan tata kelola perusahaan yang ada saat ini. 2) PT Kereta Api Indonesia (Persero) perlu menerapkan SNI 37001: 2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan. Dengan menerapkan SNI 37001: 2016 bukan hanya menjadikan perusahaan terhindar dari praktik suap menyuap dan korupsi namun juga menunjukkan komitmen perusahaan dalam melawan korupsi. | As a result of the poor corporate governance, many corruption cases have occurred in state-owned and private companies. Effective GCG implementation is a step to prevent, hinder and make it difficult for someone to commit acts of corruption because GCG has principles such as transparency, accountability, responsibility, independence and fairness. This study aims to determine and analyze the effectiveness of GCG implementation an effort to prevent corruption in PT Kereta Api Indonesia (Persero) and to find out and analyze the obstacles faced in implementing GCG at PT Kereta Api Indonesia (Persero). This research was conducted at PT Kereta Api Indonesia (Persero). Based on the results of research from the internal audit data in the last three years, there was no corruption found involving all components of the company. Implementation of GCG so far is still effective in preventing corruption. Legal remedies made as a last resort still have a deterrent effect, this is due to being followed by severe sanctions. In addition to this to prevent corruption PT Kereta Api Indonesia (Persero) has implemented a whistleblowing system (WBS), Gratuity Control, Conflict of Interest and Management of State Operator Assets Reports (LHKPN). Based on the results of the analysis it can be concluded that GCG implementation in an effort to prevent corruption in PT Kereta Api Indonesia (Persero) based on the results of the research has been effective, this has been proven by the fact that in the past three years there has been no corruption involving all elements of the company. The unity of the system consisting of substance, structure and legal culture is able to contribute maximally to the running of the GCG system at PT Kereta Api Indonesia (Persero) and the constraints faced in implementing GCG can be said to be non-existent because GCG has become a system that runs and reaches all company elements to create better corporate governance from year to year. Based on the discussion, I give the following suggestions, 1) PT Kereta Api Indonesia (Persero) is expected to continue to improve and maintain the existing corporate governance. 2) PT Kereta Api Indonesia (Persero) needs to apply SNI 37001: 2016 Anti Bribery Management System. By applying SNI 37001: 2016 not only makes the company avoid the practice of bribery and corruption but also shows the company's commitment to fight corruption. | |
| 22928 | 25457 | G1H013049 | GAMBARAN POLA KONSUMSI PADA SISWI YANG MENGALAMI MENARCHE DINI DI SD 02 KRANJI | Latar Belakang: Menarche merupakan menstruasi pertama kali yang terjadi pada wanita di masa pubertas sekitar usia 12-14 tahun. Usia menarche dikatakan dini apabila terjadi pada usia kurang dari 12 tahun. Riskesdas 2013 menunjukkan 20,9% anak perempuan di Indonesia telah mengalami menarche dini. Faktor yang dapat mempengaruhi menarche dini antara lain adalah konsumsi makanan dan status gizi. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan pola konsumsi pada siswi yang mengalami menarche dini SDN 02 Kranji Metode: Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan deskriptif pada enam siswi yang mengalami menarche dini. Data kualitatif diperoleh dari wawancara mendalam dan dilakukan triangulasi sumber data pada orang tua dan teman sebaya. Hasil Penelitian: Usia menarche yang dialami oleh responden 9-11 tahun dengan status gizi gemuk. Hasil FFQ, responden sangat sering (> 1x sehari) mengkonsumsi nasi, tempe dan susu bubuk. Responden juga sering (setiap hari atau 4-6x/minggu) mengkonsumsi mie instan, ikan bandeng, ikan mujair, daging ayam, telur ayam, tahu, wortel, bayam, kangkung, pisang, pepaya, susu kental manis, fried chiken, sosis goreng, nugget goreng, siomay dan batagor. Kesimpulan: Responden cenderung mengkonsumsi makanan yang menggandung tinggi karbohidrat, tinggi protein nabati dan tinggi kalsium. | Background: Menarche is the first menstruation that occurs in women at puberty around the age of 12-14 years. Age of menarche is said to be early if it occurs at the age of fewer than 12 years. Riskesdas 2013 shows that 20.9% of girls in Indonesia have experienced early menarche. Factors that can affect early menarche include food consumption and nutritional status. The purpose of this study is to describe the consumption patterns of students who had early menarche in SDN 02 Kranji. Method: This qualitative study used a descriptive approach to six female students who experienced early menarche. Qualitative data were obtained from in-depth interviews and triangulation of data sources was carried out on parents and peers. Research Results: Menarche age experienced by respondents 9-11 years with nutritional status fat. FFQ results, respondents very often (> 1x a day) consume rice, tempe, and milk powder. Respondents also often (every day or 4-6x / week) consume instant noodles, milkfish, tilapia fish, chicken meat, chicken eggs, tofu, carrots, spinach, kale, bananas, papaya, sweetened condensed milk, fried chicken, fried sausages, fried nuggets, dumplings, and batagor. Conclusion: Respondents consumed foods containing high carbohydrates, high in vegetable protein and high in calcium. | |
| 22929 | 25458 | G1H013010 | PERBEDAAN ASUPAN KARBOHIDRAT, LEMAK, PROTEIN DAN STATUS GIZI PADA MAHASISWA UNIVERSITAS MUHAMMADYAH PURWOKERTO DENGAN KATERING DAN NON KATERING | Latar Belakang: Mahasiswa tergolong kedalam kategori remaja akhir dengan usia 18-21 tahun dimana pada usia ini terjadi pertumbuhan yang ditunjukkan dengan pertambahan berat badan, tinggi badan, massa lemak dan massa otot. Asupan gizi mahasiswa perlu diperhatikan terutama mereka yang tinggal indekos ataupun asrama. Untuk memenuhi kebutuhan gizi mahasiswa, beberapa asrama di universitas menyediakan penyelenggaraan makanan. Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui perbedaan asupan karbohidrat, lemak, protein dan status gizi pada mahasiswa Universitas Muhammadyah Purwokerto dengan katering dan non katering. Metode: Penelitian ini menggunakan bentuk desain crossectional. Lokasi penelitian dilakukan di UMP pada 34 mahasiswa tinggal di asrama dan 34 mahasiswa tinggal indekos. Data asupan karbohidrat, lemak dan protein diperoleh dari wawancara food recall 24 jam, lalu pengukuran BB dan TB. Hasil Penelitian: Rata-rata asupan energi, karbohidrat, lemak dan protein pada mahasiswa dengan katering adalah 1780,64 kkal, 309,33 gram, 34,8 gram, dan 51,85 gram, sedangkan pada mahasiswa non katering adalah 1992,14 kkal, 321,26 gram, 63,03 gram, dan 49,62 gram. Rata-rata status gizi mahasiswa dengan katering dan non katering adalah 21,27 dan 21,26. Kesimpulan: Ada perbedaan asupan energi dan asupan lemak antara mahasiswa dengan katering dan non katering (p<0,05). Tidak ada perbedaan asupan karbohidrat dan protein antara mahasiswa dengan katering dan non katering (p>0,05). Tidak ada perbedaan status gizi pada mahasiswa katering dan non katering. | Background: Students are belong to late adolescent which has 18-21 years old. In this age, growth which indicated by weight gain, height, fat mass and muscle mass was occured. Nutritional intake of students needs to be considered especially for those who live in boarding houses or dormitories. To comply the nutritional necessary of students, several dormitories provide food service. The aim of this study was to determine the differences of carbohydrate intake, fat, protein intake and nutritional status between students in Universitas Muhammadiyah Purwokerto with catering and non-catering. Methods: This study was done with crossectional design form. The location of the study was conducted at UMP in 34 students living in dormitory and 34 students living in boarding houses. Data on carbohydrate, fat and protein intake were obtained from 24-hour food recall interview and body weight and body height measurement. Results: The average of energy, carbohydrate, fat and protein intake between students with catering are 1780.64 kcal, 309.33 grams, 34.8 grams, and 51.85 grams respectivelly, while in non-catering students are 1992.14 kcal, 321, 26 grams, 63.03 grams and 49.62 grams respectivelly. The average of nutritional status of students with catering and non-catering are 21.27 and 21.26 respectivelly. Conclusion: There were differences in energy intake and fat intake between students with catering and non-catering (p <0.05). There was no difference in carbohydrate and protein intake between students with catering and non-catering (p> 0.05). There were no differences in nutritional status in catering and non-catering students. | |
| 22930 | 25951 | C1B015071 | PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL, EFIKASI DIRI, INTERNAL LOCUS OF CONTROL DAN BEBAN KERJA TERHADAP BURNOUT | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dukungan sosial, efikasi diri, internal locus of control dan beban kerja terhadap burnout pada Rumah Sakit Wijayakusuma Purwokerto. Populasi penelitian ini sebanyak 105 perawat diambil dengan menggunakan metode proportional random sampling, didapatkan 84 responden sebagai sampel. Data penelitian ini dianalisis dengan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) dukungann sosial tidak berpengaruh terhadap burnout, (2) efikasi diri tidak berpengaruh terhadap burnout, (3) internal locus of control tidak berpengaruh terhadap burnout, dan (4) beban kerja berpengaruh positif signifikan terhadap burnout. Implikasi berdasarkan hasil penelitian ini adalah pihak rumah sakit memberikan informasi lebih rinci, memberikan perhatian secara emosional, memberikan penghargaan kepada perawat yang berprestasi maupun memberikan bantuan instrumental kepada perawat. Kemudian untuk meningkatkan efikasi diri dapat dilakukan dengan pemberian motivasi kepada perawat dan mengadakan pelatihan-pelatihan terkait peningkatan rasa percaya diri perawat sehingga perawat memiliki efikasi diri yang tinggi. Untuk internal locus of control dapat ditingkatkan dengan pemberian motivasi dan arahan agar perawat memiliki persepsi bahwa mereka dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan berusaha semaksimal mungkin. Dan yang terakhir adalah pemberian beban kerja yang cukup, tidak terlalu ringan ataupun terlalu berat karena beban kerja yang terlalu berat dapat meningkatkan burnout dan beban kerja yang terlalu ringan dapat menyebabkan perawat merasa jenuh bekerja. | This study aims to analyze the effect of social support, self-efficacy, internal locus of control and workload on burnout in the Wijayakusuma Hospital, Purwokerto. The population of this study was 105 nurses. Samples were taken using proportional random sampling, obtained 84 nurses as samples. The data of this study were analyzed by multiple linear regression. The results showed that: (1) social support has no effect on burnout, (2) self-efficacy has no effect on burnout, (3) internal locus of control has no effect on burnout and (4) the workload has positively significant effect on burnout. The implication based on the results of this study is that the hospital provides more detailed information, gives emotional attention, gives appreciation to nurses who excel and provide instrumental aid to nurses. Then to increase self-efficacy can be done by giving motivation to nurses and conducting trainings related to increased confidence of nurses so that nurses have high self-efficacy. Internal locus of control can be improved by giving motivation and direction so that nurses have the perception that they can carry out their duties by striving as closely as possible. And the latter is a sufficient provision of workloads, not too light or too heavy because workloads that are too heavy can increase burnout and workloads that are too light can cause the nurse to feel saturated working. | |
| 22931 | 25460 | F1B012012 | Collaborative Governance dalam Program Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat (SPBM) di Tiga Kelurahan Di Kecamatan Purwokerto Selatan | Collaborative governance merupakan suatu paradigma yang banyak digunakan dalam penyelesaian permasalahan publik atau pelaksanaan kebijakan-kebijakan dan program-program kebutuhan masyarakat agar bisa dilakukan secara efektif dan bertanggungjawab. Collaborative governance dapat diterapkan dalam pelaksanaan Program Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat (SPBM) yang merupakan salah satu program dari pemerintah dalam rangka untuk menciptakan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, baik secara individu maupun kelompok. Melalui program ini, masyarakat diharapkan turut berpartisipasi memecahkan berbagai permasalahan yang terkait pada upaya peningkatan kualitas kehidupan, kemandrian dan kesejahteraan dengan mekanisme pelaksanaannya yaitu pemberdayaan dan pelibatan penuh peran serta masyarakat dalam pelaksanaan program. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi collaborative governance dalam pelaksanaan program dan mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan collaborative governance dalam pelaksanaan Program SPBM di Kecamatan Purwokerto Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Teknik pengambilan informan menggunakan teknik purposive sampling. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis interaktif dan validitas data yang digunakan adalah triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi collaborative governance dalam pelaksanaan Program SPBM di Kecamatan Purwokerto Selatan telah berjalan, adapun faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan collaborative governance adalah masih rendahnya akuntabilitas diantara masyarakat sehingga di beberapa wilayah jumlah sasaran pengguna belum mencapai target dan partisipasi masyarakatnya rendah. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya nyata dari pemerintah setempat dengan melakukan pelibatan penuh tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap berpengaruh dalam setiap sosialisasi-sosialiasasi program dan pelaporan secara rutin kepada masyarakat melalui selebaran-selebaran. | Collaborative governance is a paradigm that is widely used in solving public problems or implementing policies and programs for public needs so that they can be carried out effectively and responsibly. Collaborative governance can be applied in the implementation of Program Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat (SPBM), which is a program from the government in order to create and improve the quality of life of the society, both individually and in groups. Through this program, the public is expected to participate in solving various problems related to efforts to improve the quality of life, independence and welfare with the implementation mechanism, namely empowerment and full involvement of public participation in the implementation of the program. The purpose of this study is to find out the implementation of collaborative governance in the implementation of the program and find out the factors that support and hinder the implementation of collaborative governance in the implementation of the SPBM in South Purwokerto District. The research method used is a qualitative approach. The informant retrieval technique uses purposive sampling technique. The data analysis technique used is interactive analysis techniques and the data validity used is triangulation. The results of this study indicate that the implementation of collaborative governance in the implementation of the SPBM South Purwokerto Subdistrict has been running, while the driving factors and obstacles to the implementation of collaborative governance are still low accountability among the people so that in some areas the target number of users has not reached the target and public participation is low. Therefore, real efforts from the local government are needed by involving all society leaders who are considered influential in each program socialization and routine reporting to the society through leaflets. | |
| 22932 | 25462 | G1H013015 | EFEKTIFITAS MEDIA BOOKLET DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG BODY IMAGE DI SMKN 3 BANYUMAS | Latar Belakang: Body image negatif dapat menyebabkan pembatasan asupan makanan yang bertujuan untuk menurunkan berat badan atau mendapatkan bentuk badan yang diinginkan oleh seseorang Angka kejadian gizi kurang pada remaja putri tertinggi di Kabupaten Banyumas Tahun 2017 adalah di Kecamatan Banyumas sebesar 46,87%. Maka dari itu penting untuk dilakukan pendidikan gizi dengan media booklet tentang body image pada remaja putri di SMKN 3 Banyumas. Tujuan: Mengetahui perbedaan pengetahuan dan sikap remaja putri terkait body image setelah diberikan media booklet di SMKN 3 Banyumas. Metodologi: Rancangan penelitian adalah quasi eksperimental dengan one group pre-test and post-test desin. Penelitian dilakukan di SMKN 3 Banyumas. Jumlah sampel 37 orang diambil dengan teknik purposive sampling. Uji statistik menggunakan uji Wilcoxon dan uji T. Hasil: Terdapat perbedaan pengetahuan terkait body image setelah diberikan media booklet pada remaja putri (p = 0,000). Terdapat perbedaan sikap terkait body image setelah diberikan media booklet pada remaja putri (p = 0,000). Kesimpulan: Terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap terkait body image sebelum dan setelah diberikan media booklet pada remaja putri (p = 0,000). | Background: Negative body image can cause restriction on food intake that aims to lose weight or get the desired body image shape by someone. The highest incidence of malnutrition in adolescent girls in Banyumas on 2017 was Banyumas sub-district by 46,87 %. Therefore it is important to give a nutritionial education by media booklet about body image for adolescent girl in SMKN 3 Banyumas. Methodology: This research used quasi experimental with one group pretest posttest design, with 37 samples, that were selected by purposive sampling technique. This research was conducted at SMKN 3 Banyumas. Statistical test using Wilcoxon and T test. Results: The treatment showed a difference in knowledge (p=0,000). There was a difference in attitude between treatment and after education by media booklet (p=0,000). Conclusion: There was a difference of knowledge and attitude of adolescent girls related body image before and after educate by media booklet at SMKN 3 Banyumas. | |
| 22933 | 25463 | C1A014103 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYERAPAN TENAGA KERJA PADA INDUSTRI KECIL PAKAIAN JADI DI KOTA BOGOR | Penelitian ini berjudul “Faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja pada industri kecil pakaian jadi di Kota Bogor”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja pada Industri kecil pakaian jadi di Kota Bogor. Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemilik usaha industri kecil pakaian jadi di Kota Bogor. Jumlah responden yang diambil dari penelitian ini adalah 55 unit usaha. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling. Teknik analisis data menggunakan regresi linier berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS) dengan bantuan program SPSS Statistic version 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) variabel modal dan nilai produksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja industri kecil pakaian jadi di Kota Bogor, (2) variabel tingkat upah dan tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja industri kecil pakaian jadi di Kota Bogor. Dalam penelitian ini variabel nilai produksi merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja industri kecil pakaian jadi di Kota Bogor. Implikasi dari penelitian ini bagi pemilik usaha industri pakaian jadi perlu meningkatkan kualitas produksi dan menambah alat produksinya sehingga nilai produksinya dapat meningkat dan mengawasi para tenaga kerja sehingga para tenaga kerja agar lebih produktif yang membuat nilai produksi semakin meningkat. Selain itu, pemilik industri juga dapat menambah modal dengan pinjaman kredit dari bank atau koperasi dan mengembangkan usahanya sehinga dapat menambah jumlah unit yang akan memberikan dampak pada penyerapan tenaga kerja yang lebih banyak lagi. Bagi pemerintah memberikan bantuan permodalan terhadap industri kecil pakaian jadi sehingga para pemilik industri kecil pakaian jadi dapat mengembangkan usahanya dan dapat menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. | This research is entitled "Factors that affect employment in the small clothing industry in the city of Bogor". This study aims to find out and analyze the factors that affect employment in the small clothing industry in the city of Bogor. This type of research uses quantitative and qualitative methods. The population used in this study is the owner of a small clothing industry in the city of Bogor. The number of respondents taken from this study were 55 business units. The sampling technique used in this study was simple random sampling. The data analysis technique uses multiple linear regression with the Ordinary Least Square (OLS) method with the help of the SPSS Statistics version 20 program. The results showed that (1) the variable capital and production value had a positive and significant effect on the employment of small apparel industries in the city of Bogor, (2) the wage level and education level variables did not affect the labor absorption of small apparel industries in the city of Bogor. In this study the variable value of production is the variable that most influences the employment of small-scale apparel industries in the city of Bogor. The implications of this study for business owners of the apparel industry need to improve the quality of production and increase production equipment so that the production value can increase and supervise the workforce so that the workforce is more productive which makes the value of production increase. In addition, industrial owners can also increase capital with credit loans from banks or cooperatives and develop their businesses so that they can increase the number of units that will have an impact on more employment. For the government to provide capital assistance to small apparel industries so that small garment industry owners can develop their businesses and can absorb more workers. | |
| 22934 | 25459 | G1H014016 | PENGARUH LAMA PERKECAMBAHAN TERHADAP KANDUNGAN LEMAK DAN SERAT SUSU KECAMBAH KACANG MERAH UNTUK PENDERITA HIPERKOLESTEROLEMIA | Latar Belakang : Pola makan seimbang untuk penderita hiperkolesterolemia adalah konsumsi sayuran, buah dan kacang-kacangan salah satunya kacang merah. Perkecambahan dapat meningkatan serat dan menurunkan lemak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perkecambahan terhadap kandungan lemak dan serat susu kecambah kacang merah. Metodologi : Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap. Faktor yang diuji adalah lama perkecambahan 0, 10, 20 dan 30 jam. Kadar serat dan lemak dianalisis menggunakan uji F taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) 5%. Perlakuan terbaik dianalisis menggunakan Indeks Efektivitas. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan signifikan (p<0,05) lama perkecambahan terhadap kadar lemak dan serat susu kecambah kacang merah. Kesimpulan : Produk terbaik adalah susu kecambah kacang merah dengan lama perkecambahan 20 jam. Takaran saji bagi laki-laki dewasa sebanyak 317 ml dan perempuan dewasa sebanyak 267 ml. | Background : Balanced diet for hypercholesterolemia is comsumption of vegetables, fruits, and beans which is red kidney beans. Germination can increase fiber and reduce fat. This study aims to determine the effect ofe germination time on fat and fiber of red kidney bean sprout milk. Methods : This study was using completely randomized design. The factors tested were germination time 0, 10, 20 and 30 hours. Fiber and fat were analyzed using F test at 95% confidence level and continued using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at 5% level. The best product was analyzed by the effectiveness index. Results : The results of this study showed that significant difference (p<0,05) of germination time on fat and fiber red kidney bean sprout milk. Conclusion : The best product is red kidneyy bean sprout milk with germination of 20 hours. Serving size for adult men are 317 ml and adult women are 267 ml. | |
| 22935 | 25464 | D1A015098 | Analisis Break Even Poin dan Payback Period Usaha Ternak Sapi Perah di Kabupaten Banyumas | ABSTRAK Penelitian berjudul analisis Break Even Point dan Payback Period usaha ternak sapi perah di Kabupaten Banyumas dilaksanakan mulai 20 Januari sampai dengan tanggal 20 Februari 2019 di Kabupaten Banyumas. Tujuan penelitian ini adalah 1. Mengetahui Break Even Point yang harus dicapai pada usaha sapi perah di Kabupaten Banyumas. 2. Mengetahui Payback Period pada usaha sapi perah di Kabupaten Banyumas. 3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi BEP dan Payback Period pada usaha sapi perah di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dengan teknik pengambilan sampel wilayah menggunakan teknik Purposive Sampling terhadap 2 kecamatan terpilih penghasil susu di Kabupaten Banyumas, yaitu Kecamatan Baturraden dan Sumbang. Terdapat 30 orang peternak sapi perah sebagai responden, serta variabel terikat yaitu BEP dan Payback Period yang dipengaruhi faktor-faktor seperti, Jumlah kepemilikan ternak, tingkat pendidikan, lama beternak, jumlah tenaga kerja, dan biaya produksi lalu dianalisis menggunakan regresi linier berganda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa BEP Produk yang diperoleh sebesar 6.601,57 liter. BEP harga yang dihasilkan yaitu Rp. 4.149,00/liter. Payback Period yang diperoleh yaitu selama 2,65 tahun, artinya usaha ternak sapi perah Kabupaten Banyumas akan kembali balik modal selama 2,65 tahun menjalankan usaha. | ABSTRACT The research entitled analysis of Break Even Point and Payback Period of the dairy cattle farm in Banyumas regency carried out from January 20 to February 20, 2019 in Banyumas Regency. The purpose of this study is 1. To know the Break Even Point that must be achieved in the dairy cattle farm in Banyumas Regency. 2. To know the Payback Period in dairy cattle farm in Banyumas Regency. 3. To know the factors that influence the amount BEP and Payback Period of the dairy cattle farm in Banyumas Regency. This research was conducted by survey method with regional sampling techniques using Purposive Sampling techniques for 2 selected sub-districts producing milk in Banyumas Regency, namely Baturraden and Sumbang Districts. There were 30 dairy farmers as respondents, and the dependent variables were BEP and Payback Period which were influenced by factors (Number of livestock ownership, level of education, length of livestock raising, number of workers, and production costs) were analyzed using multiple linear regression. The results showed that the BEP of the product obtained was 6,601.57 liters of milk. BEP the price generated is Rp. 4.149,00/ liter. The Payback Period obtained is for 2,65 years, meaning that the Banyumas Regency dairy cattle business will return the capital for 2,65 years to run the business. Keywords: Break Even Point , Payback Period, dairy cows, Banyumas. | |
| 22936 | 25465 | C1I015020 | Detection Analysis on Fraudulent Financial Reporting Using Fraud Score | This study aims to examine the elements of fraud in the diamond fraud theory. Fraud is proxied by seven variables consisting of three pressure elements namely financial target, financial stability, external pressure, two variables of opportunity element, namely effective monitoring and nature of industry, one variable from the rationalization element, namely change in auditor, one variable from capability element namely change in directors, which is hypothesized to affect financial statements fraud. This study uses earnings management to see the potential for fraudulent financial statements. Earning management is measured using the F-Score indicator. The research sample was selected using a purposive sampling method from 50 manufacturing companies and a research period of 5 years to obtain the number of sample units 150 data which is listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) in the period 2013 to 2017. The hypothesis testing used a multiple regression analysis model using SPSS 23. The results of the study indicate that financial targets and changes in auditor financial stability have a significant positive effect on fraudulent financial statements. While external pressure, effective monitoring, nature of industry, financial stability, change of directors, have no effect on financial statements fraud. | This study aims to examine the elements of fraud in the diamond fraud theory. Fraud is proxied by seven variables consisting of three pressure elements namely financial target, financial stability, external pressure, two variables of opportunity element, namely effective monitoring and nature of industry, one variable from the rationalization element, namely change in auditor, one variable from capability element namely change in directors, which is hypothesized to affect financial statements fraud. This study uses earnings management to see the potential for fraudulent financial statements. Earning management is measured using the F-Score indicator. The research sample was selected using a purposive sampling method from 50 manufacturing companies and a research period of 5 years to obtain the number of sample units 150 data which is listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) in the period 2013 to 2017. The hypothesis testing used a multiple regression analysis model using SPSS 23. The results of the study indicate that financial targets and changes in auditor financial stability have a significant positive effect on fraudulent financial statements. While external pressure, effective monitoring, nature of industry, financial stability, change of directors, have no effect on financial statements fraud. | |
| 22937 | 25953 | H1K012001 | KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN JUVENILE SPINY LOBSTER (Panulirus sp.) DI PERAIRAN PANTAI TELUK PENYU CILACAP | Juvenile adalah fase dimana lobster muda telah memiliki bentuk dan sifat yang sama seperti lobster dewasa. Periode waktu sebagai juvenile adalah 10-14 hari dan Panjang total adalah 5-7 cm. Juvenile spiny lobster hidup di perairan pantai yang terlindung oleh bebatuan, rumput laut dan karang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jenis, jumlah, kelimpahan dan keanekaragaman spesies juvenile spiny lobster (Panulirus sp.) di perairan Teluk Penyu Cilacap. Metode survei pada tiga stasiun, dilakukan untuk menangkap langsung dengan penyelaman. Hasil juvenile spiny lobster yang hidup di perairan pantai Teluk Penyu Cilacap adalah 3 spesies yaitu P. homarus, P. ornatus, dan P. versicolor. P. homarus diperoleh dengan jumlah yang paling banyak tertangkap. Kelimpahan tertinggi juvenile spiny lobster di perairan pantai Teluk Penyu Cilacap, pada bulan Agustus adalah P. homarus yaitu 73 individu/100 m-2. Sedangkan P. ornatus 4 individu/100 m-2 dan P. versicolor 3 individu/100 m-2. Bulan November kelimpahan paling tinggi P. ornatus yaitu 21 individu/100 m-2. Sedangkan P. homarus 18 individu/100 m-2 dan P. versicolor 5 individu/100 m-2. Keanekaragaman juvenile spiny lobster di perairan pantai Teluk Penyu Cilacap termasuk dalam kategori rendah (H’=0,36-0,94), namun bulan November lebih tinggi dibandingkan bulan Agustus. Parameter fisika dan kimia di perairan Teluk Penyu Cilacap masih berada pada kisaran yang sesuai untuk kehidupan juvenile spiny lobster Kata Kunci : Juvenile spiny lobster (Panulirus sp.); kelimpahan; keanekaragaman; Teluk Penyu. | Juvenile is a phase which the young lobster has same of shape and properties as an adult lobster. The life time as juvenile is 10-14 days and the total lenght a 5-7 cm. Juvenile spiny lobster in habit the coastal waters are protected by rocks, seaweed and coral. The purpose of the study are to know the species, amount, abundance and diversity of juvenile species spiny lobster (Panulirus sp.) in Teluk Penyu Cilacap waters. This survey method are use snorkle and hand sorting at 3 stations. The juvenile of spiny lobster in habit in Teluk Penyu Cilacap waters were found P. homarus, P. ornatus, and P. versicolor. P. homarus was the highest catched in the waters. The highest of spiny lobster species abundance on August was obtained P. homarus 73 individual/100 m-2. While P. ornatus 4 individual/100 m-2, and P. versicolor 3 individual/100 m-2, The highest of spiny lobster species abundance on November was found P. ornatus 21 individual/100 m-2, while P. homarus 18 individual/100 m-2, and P. versicolor 5 individual/100 m-2. The diversity of juvenile spiny lobsters in Teluk Penyu Cilacap waters was found low category (H’=0,36-0,94), while November was found higher than August. Physical and chemical parameters in Teluk Penyu Cilacap waters is obtained in suitable range of life for juvenile spiny lobster. Keywords : Juvenile spiny lobster (Panulirus sp.); abundance; diversity; Penyu Bay. | |
| 22938 | 26059 | F1D012008 | Hubungan Industrial antara Juragan dan Buruh Batik di Kota Pekalongan dalam Perspektif Politik Perburuhan | Penelitian ini berjudul “Hubungan Industrial antara Juragan dan Buruh Batik di Kota Pekalongan dalam Perspektif Politik Perburuhan”. Penelitian ini bermaksud untuk memahami dan mendeskripsikan pola hubungan industrial yang ada pada industri batik di Kota Pekalongan serta menjelaskan permasalahan-permasalahan yang terjadi pada industri batik di Kota Pekalongan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dengan wawancara kepada informan dan observasi. Informan penelitian ini adalah Juragan Griya Batik Mas dan Batik Nulaba di Kampung Batik Kauman Kota Pekalongan, Buruh Batik di Industri Griya Batik Mas dan Batik Nulaba, Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja, dan Ketua Paguyuban Pokdarwis Kampung Batik Kauman Kota Pekalongan. Teknik pemeriksaan validitas data dengan trianggulasi sumber. Sedangkan metode analisis data adalah dengan menggunakan model analisis interaktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan industrial antara juragan dan buruh batik di Kota Pekalongan dalam pemenuhan hak dan kewajiban juragan dan buruh batik dilakukan melalui: 1) Pola perjanjian kerja yang menggunakan sistem perjanjian kerja harian dan borongan, 2) upah kerja yang menggunakan sistem upah harian dimana upah tersebut dibayarkan setiap minggu dengan hitungan harian dan juga menggunakan sistem upah borongan yang diberikan berdasarkan satuan pekerjaan yang disepakati, 3) jaminan sosial yang non formal dimana dilandaskan dengan asas kekeluargaan. | This study is entitled "Industrial Relations between Juragan and Batik Workers in Pekalongan City in the Perspective of Labor Politics". This study intends to understand and describe the patterns of industrial relations that exist in the batik industry in the City of Pekalongan and explain the problems that occur in the batik industry in the City of Pekalongan. This study uses qualitative research methods with a phenomenological approach. This study uses primary data obtained by interviews with informants and observations. The informants of this research are Juragan Griya Batik Mas and Batik Nulaba in Kauman Batik Village in Pekalongan City, Batik Workers in the Batik Mas Griya Industry and Batik Nulaba, Pekalongan City Government through the Department of Industry and Labor, and Chairperson of the Pokdarwis Village in Kauman Batik Village in Pekalongan City. Data validity checking techniques with source triangulation. While the data analysis method is to use an interactive analysis model. The results of this study indicate that industrial relations between the skipper and batik workers in the City of Pekalongan in fulfilling the rights and obligations of the skipper and batik laborers are carried out through: 1) The pattern of work agreements that use the system of daily and piece work agreements, 2) work wages using the daily wage system where the wage is paid weekly on a daily basis and also uses a piece rate system that is given based on agreed work units, 3) non-formal social security which is based on the principle of kinship. | |
| 22939 | 28611 | E1A116007 | PERLINDUNGAN HUKUM PASIEN DALAM PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL EMPIRIS | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sinkronisasi pengaturan perlindungan hukum pasien dalam pelayanan Kesehatan tradisional empiris. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan (statute approach), dan pendekatan analitis (Analytical Approach). Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah spesifikasi penelitian inventarisasi peraturan perundang-undangan (hukum positif), penelitian taraf sinkronisasi hukum dan penemuan hukum in concreto. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder melalui studi kepustakaan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pengaturan perlindungan hukum pasien dalam pelayanan kesehatan tradisional empiris telah menunjukkan taraf sinkronisasi secara vertikal, yakni pengaturan perlindungan hukum pasien dalam pelayanan kesehatan tradisional empiris yang memiliki derajat lebih tinggi menjadi pedoman bagi peraturan yang lebih rendah dan peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Bentuk perlindungan hukum bagi pasien dalam pelayanan kesehatan tradisional empiris dalam peraturan perundang-undangan meliputi jaminan pengaturan mendapatkan pelayanan kesehatan tradisional empiris sesuai dengan program; jaminan pengaturan mendapatkan pelayanan kesehatan oleh penyehat tradisional yang berkompeten di bidangnya; jaminan pengaturan mutu atas obat tradisional yang diberikan; jaminan pengaturan mendapatkan penjelasan atas tindakan pelayanan kesehatan tradisional empiris yang dilakukan; jaminan pengaturan mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhan atau menolak tindakan yang akan dilakukan kepada diri pasien atau klien; jaminan pengaturan mendapatkan catatan mengenai status kesehatan; jaminan pengaturan mendapatkan ganti rugi ketika penyehat tradisional berbuat lalai yang menimbulkan kerugian. | This study was to determine the synchronization of patient legal protection arrangements in traditional empirical health services. The method used in this study was a normative juridical method with a statutory approach, and an analytical approach. The research specifications used were research specifications on inventory of laws and regulations (positive law), research on the extent of legal synchronization, and legal discovery in concreto cases. The type of data used in this study was secondary data from the literature. Based on the results of the study, it could be concluded that the regulation of patient legal protection in traditional empirical health services showed a degree of vertical synchronization. It is namely the regulation of patient legal protection in empirical traditional health services that have a higher degree became a guideline for lower regulations, and the lower legislation did not contradict to higher regulations. Forms of legal protection for patients in traditional empirical health services in the legislation included guaranteeing arrangements to get traditional empirical health services in accordance with the program; Guarantee the arrangement to get health services by traditional health workers who are competent in their fields; Guarantee the quality regulation of traditional medicines given; Guarantee arrangements to get an explanation of traditional empirical health service actions taken; Guaranteed arrangements to get services as needed and reject actions to be taken to patients or clients; Guarantee arrangements to get a record of health status; Regulatory guarantees receive compensation when traditional healers neglect to cause harm. | |
| 22940 | 25467 | E1A015031 | TEKNIK PENGUNGKAPAN KASUS RATNA SARUMPAET TERKAIT PENYEBARAN BERITA HOAKS DI MEDIA SOSIAL ( STUDI KASUS DI POLDA METRO JAYA ) | Berita bohong atau (Hoax) adalah berita yang di manipulasi, dikurangi atau ditambahkan untuk mengaburkan makna sebenarnya dari sebuah informasi dan berita tertentu. Ketentuan Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyatakan Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh Undang-Undang untuk melakukan penyidikan. Pasal 1 ayat (5) KUHAP mencantumkan penyelidikan adalah serangkaian tindakan untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga kuat sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang. Penelitian ini bertujuan mengetahui teknik penyidik Polda Metro Jaya dalam mengungkap kasus Ratna Sarumpaet terkait penyebaran berita hoaks dan kendala penyidik Polda Metro Jaya dalam penegakan hukum kasus Ratna Sarumpaet terkait penyebaran berita hoaks. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan informan, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi kepustakaan. Data yang telah diperoleh dianalisis dengan metode kualitatif dan disajikan dalam bentuk uraian yang tersistematis. Hasil penelitian menunjukkan adanya dugaan tindak pidana cybercrime berkaitan dengan penyebaran berita hoaks yang dilakukan Ratna Sarumpaet. Penyelidik Polda Metro Jaya segera memperoleh bukti-bukti yang berhubungan dengan tindak pidana tersebut salah satunya hasil pemeriksaan yang diperoleh dari saksi ahli bedah plastik berupa alat bukti surat yaitu Visum Et Reperetum yang menyatakan gambaran wajah bengkak memar (Ratna) ini menunjukan tipikal bedah plastik. Dalam penegakan hukum kasus Ratna Sarumpaet terkait penyebaran berita hoaks penyidik terkendala oleh faktor hukumnya, faktor masyarakat dan faktor budaya. | A False news or hoax is a news that is manipulated, lessened, or extended to obscrure the real information in certain reports. Recently, it is spreading fast around society and makes them inconvenience that they cannot identify if the news is real or not. According to Article 1 Verse (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana ( Criminal Procedure Law), an Inspector is a police officer of Indonesia or a civil servant given an exclusive authority to conduct an investigation. According to Article 1 Verse (5) of Criminal Procedure Law, it is defined that an Investigation is a chain of action to search and discover an affair that is strongly presumed as a criminal act so that further investigation can be either conducted or not based on Criminal Procedure Law. This research aims to find out the techniques used by Polda Metro Jaya ( Regional Police of Indonesia) to disclose the case of Ratna Sarumpaet concerning hoax spreading and the obstacles that the investigators of Regional Police of Indonesia face in disclosing the case. Socio-Legal approach is used as a research methodology within the spesification of descriptive qualitative research. Data used for the research is primary and secondary data. The primary data is collected by doing an interview with an informant as an interviewees, and the secondary data is taken from references. The data is, then, analyzed through qualitative approach by providing a systematically structured analysis. The results reveal that the technique used by the investigators of Regional Police of Indonesia is information collected from the citizens showing that there are activities of cybercrime concerning the hoax spreading with Ratna Sarumpaet hold accountable. The investigators begin conducting a clarification immediately with related parties and attain evidences such as, receipt of Special Hospital Bina Estetika, flash disk containing surveillance cameras and laptop as real evidences. The result of inspection from a plastic surgeon is a real evidence of Visum Et Repertum letter stating that Ratna Sarumpaet’s swollen face is the result of plastic surgery. The obstacles faced by the investigators are conspired of three factors which are the law, society, and culture. |