Artikelilmiahs
Menampilkan 22.821-22.840 dari 51.896 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 22821 | 25942 | F1C015057 | Pengelolaan Customer Relationship Management Melalui Inovasi Layanan PT.Taspen (Persero) Cabang Purwokerto | Sebuah perusahaan jasa idelanya dapat mengelola hubungan yang harmonis dengan pelanggannya, baik untuk hubungan jangka panjang ataupun untuk memberikan kualitas pelayanan. Perusahaan jasa tersbeut akan memilih strategi yang tepat untuk mencapai tujuannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penerapan dan pengelolaan hubungan pelanggan melalui program inovasi layanan yang diberikan PT.Taspen (Persero) Cabang Purwokerto kepada peserta. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori excellence yang dikemukakan oleh James Grunig dengan model two way symmetric dimana model ini fokus pada upaya membangun hubungan dan pemahaman bersama antara organisasi dengan publiknya dan adanya komunikasi dua arah. Penelitian ini menggunakan konsep Customer Relationship Management (CRM) untuk mewujudkan hubungan panjang yang harmonis dengan pelanggan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah dalam memberikan kualitas pelayanan kepada peserta dilakukan dengan program inovasi layanan yang dibuat beriorientasi kepada peserta dan dalam mengelola hubungan strategi yang dilakukan dengan cara mendekatkan diri kepada peserta melalui sosialisasi, komunikasi intens dengan kemitraan, dan penanganan kritik yang cepat. Penerapan CRM di Taspen Cabang Purwokerto sesuai degan tiga komponen CRM, yaitu operasional meliputi pelayanan yang baik dengan menekankan pada nilai-nilai Taspen, komponen analitikal meliputi rapat, briefing¸dan evaluasi, dan komponen kolaboratif meliputi pemanfaatan teknologi dan media sebagai sarana publikasi, sistem control, serta untuk berinteraksi dengan peserta Taspen. | Service companies ideally can manage harmonious relationship with their customers, both for long-term relationship or to provide quality service. It will choose the right strategy to achieve its goals. This research aims to identify the application and management of customer relations through service innovation programs provided by PT. Taspen (Persero) Purwokerto Branch to participants. The theory used in this research is excellence theory by James Grunig with a symmetric two way model where this model focuses on efforts to build relationships and mutual understanding between the organization and public and the existence of two-way communication. This research uses the concept of Customer Relationship Management (CRM) to realize long, harmonious relationships with customers. This research uses qualitative research methods using data collection techniques for interviewing, observation, and documentation. The results of this reserach are to provide quality service to participants carried out with service innovation programs that are made oriented to participants and in managing the relationship of strategies carried out by getting closer to the participants through socialization, intense communication with partnerships, and rapid handling of criticism. The application of CRM in Taspen, Purwokerto Branch is in accordance with three components of CRM, namely operational includes good service with emphasis on Taspen values, analytical components including meetings, briefings and evaluations, and collaborative components including the use of technology and media as a means of publication, control systems , and to interact with Taspen participants. | |
| 22822 | 17125 | H1F013085 | FASIES BATUBARA BERDASARKAN PENDEKATAN PALINOLOGI DAERAH MAMPAI JAYA DAN SEKITARNYA, KABUPATEN KAPUAS HULU, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH | Negara Indonesia merupakan negara kepulauan dengan tatanan tektonik yang kompleks sehingga menyebabkan aktivitas tektonik, tanah longsor dan lain-lain yang dapat mempengaruhi perubahan ketinggian muka tanah, hal ini menyebabkan perubahan keadaan lingkungan pada daerah sekitarnya. Mampai Jaya secara administratif merupakan desa di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Tengah. Daerah ini termasuk ke dalam tepi barat Cekungan Barito. Cekungan ini diisi oleh batuan Tersier yang tersusun oleh Formasi Tanjung. Hal ini melatarbelakangi dilakukannya penelitian untuk mengetahui bagimana hubungan antara litologi dengan palinologi berdasarkan beberapa metode penelitaian yaitu, analisis geomorfologi, granulometri dan analisis palinologi. Satuan geomorfologi daerah penelitian secara genetik dikontrol oleh pelapukan, erosi dan proses pengendapan. Kebanyakan dari pola aliran dasar dikontrol oleh struktur regional yang berkembang pada daerah tersebut. Stratigrafi Daerah Mampai dan sekitarnya terdiri dari 4 satuan batuan yang diperoleh dari data litologi serta dilakukan analisis petrografi dan mikropaleontologi untuk mengetahui karakteristik batuan secara mikroskopis serta mengetahui umur dari batuan tersebut guna merekonstruksi sejarah geologi pada daerah penelitian. Analisisis palinologi dilakukan pada 24 sample yang ada dan didapatkan 22 jenis polen dan spora. Terdapat beberapa jenis spesies yang dominan diantaranya acrostichum aureum, cicatricosisporites dorogensis, dicolpopolis, laevigatosporites, monoporites anulatus, palmaepolinites kutchensis, proxapertites operculatus, retitricolporites equatorialis, dan verrucatosporites. Untuk itu berdasarkan fosil indeks yang ditemukan pada lokasi penelitian dapat ditentukan umurnya yaitu akhir eocene. Dilihat dari kelimpahan fossilnya, batubara pada daerah penelitian terendapkan pada lingkungan Transitional Lower Delta Plain yang mengandung karakteristik litofasies dari sekuen tersebut yang merupakan juga sekuen bay-fill yang dicirikan oleh litologi yang berbutir halus dan lebih tipis daripada sekuen upper delta plain. | Indonesia is an archipelago country with a complex tectonic structure causing tectonic activity, landslides and others that can affect changes in ground level, this causes changes in the environment in the surrounding area. Mampai Jaya is administratively a village in Kapuas Hulu Regency, Central Kalimantan Province and entered into Blok IKM "Indo Kurnia Mineral. This area belongs to the western edge of the Barito Basin. This basin is filled with Tertiary rocks arranged by the Tanjung Formation, Limestone Members and Members of Malasan Volcanic Rocks of Montalat Formation, Warukin Formation, and Dahor Formation, as well as breakthrough andesite igneous rocks. This is the background of the research to find out how the relationship between lithology and palinology based on several research methods, namely, geomorphological analysis, granulometry and palinology analysis. The geomorphological unit of the study area is genetically controlled by weathering, erosion and deposition processes. Most of the basic flow patterns are controlled by regional structures that develop in the area. Stratigraphy Mampai and surrounding area is made up of 4 lithologies were obtained from data on lithology and petrographic and micropaleontological analyzes were carried out to know the characteristics of rocks microscopically and determine the age of these rocks in order to reconstruct the geological history of the area of research. Palinology analysis was carried out on 24 existing samples and obtained 22 types of pollen and spores. There are several types of such a dominant species Acrostichum aureum, cicatricosisporites dorogensis, dicolpopolis, laevigatosporites, monoporites anulatus, palmaepolinites kutchensis, proxapertites operculatus, retitricolporites equatorialis, and verrucatosporites. Palynology zoning applies only to the western part of Indonesia that is a part of history because the Eurasia plate tectonics and the geographical spread of different tumbuhannya the eastern part of Indonesia. For it is based on index fossils found at the study site can be determined that the end of eocene age. Judging from its fossil abundance, coal in the study area is deposited on Transitional Lower Delta Plain environment which contains lithofacies characteristics of these sequences which are also bay-fill sequences characterized by fine-grained lithology and thinner than upper delta plain sequences | |
| 22823 | 25375 | I1B015061 | PENGARUH PEMBERIAN AROMATERAPI MINYAK ATSIRI DAUN MINT TERHADAP PENURUNAN MUAL MUNTAH PASCAKEMOTERAPI KANKER DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | Kemoterapi menimbulkan efek mual muntah. Aromaterapi merupakan terapi komplementer yang aman untuk mengurangi mual muntah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi minyak atsiri daun mint terhadap penurunan mual muntah pascakemoterapi kanker. Penelitian ini menggunakan desain quasy experiment metode pre and post test with control group design. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling dengan kurun waktu 6 minggu. Responden penelitian ini adalah pasien kanker yang menjalani kemoterapi dan mengalami mual muntah. Terbagi atas kelompok intervensi (17 responden) dan kelompok kontrol (17 responden). Instrumen penelitian menggunakan kuesioner mual muntah modifikasi dari Rhodes index nausea, vomiting, and retching (Rhodes INVR). Hasil Penelitian ini terdapat perbedaan yang bermakna rerata mual muntah pre dan post pemberian aromaterapi minyak atsiri daun mint (p=0,004). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna rerata mual muntah pre dan post pada kelompok kontrol (p=0,129). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna rerata mual muntah sesudah pemberian aromaterapi minyak atsiri daun mint antara kelompok intervensi dan kontrol (p=0,234). | Cancer treatment namely chemotherapy causes side effects nausea vomiting. Aromatherapy is a complementary therapy that is safe to reduce nausea vomiting. Purpose this research to determine the effect of mint leaves essential oil aromatherapy to reduce the post chemotherapy nausea vomiting of cancer. This study used a quasy experiment with pre and posttest with control group design. The sampling technique used consecutive sampling with a period of 6 weeks. Respondents of this study were cancer patients who underwent chemotherapy and experienced nausea vomiting. Divided into intervention group (17 respondents) and control group (17 respondents). The research instrument used nausea vomiting questionnaires modified from Rhodes index nausea, vomiting, and retching (Rhodes INVR). The result of this study was significant difference in nausea vomiting scores pre and post of aromatherapy essential oils of mint leaves (p = 0.004). There was not significant difference in nausea vomiting scores pre and post in the control group (p = 0.129). There was not significant difference in mean nausea vomiting after mint leaves essential oil aromatherapy between the intervention and control groups (p = 0.234). | |
| 22824 | 26055 | F1B015043 | Peran DINSOSDALDUKKBP3A Kabupaten Purbalingga dalam Upaya Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak | Penelitian ini berjudul Peran DINSOSDALDUKKBP3A Kabupaten Purbalingga Dalam Upaya Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak . Judul ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kasus dan seiring bertambah pula jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Purbalingga. Pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan tanggungjawab dari DINSOSDALDUKKBP3A Kabupaten Purbalingga sesuai dengan Peraturan Bupati Purbalingga Nomor 83 Tahun 2016. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji peran dilihat dari aspek inovasi, koordinasi, fasilitasi serta stimulasi DINSOSDALDUKKBP3A Kabupaten Purbalingga dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pemilihan informannya adalah purposive sampling. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah model analisis mengalir. Hasil penelitian ini menunjukan jika peran DINSOSDALDUKKBP3A Kabupaten Purbalingga dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat dilihat dalam peran inovasi, koordinasi, fasilitasi dan stimulasi, secara keseluruhan belum cukup baik, DINSOSDALDUKKBP3A Kabupaten Purbalingga masih harus meningkatkan perannya karena masih ada kelemahan-kelemahan dalam setiap aspeknya. | This research is titled Role of DINSOSDALDUKKBP3A in Purbalingga Regency in Effort to Prevent and Manage Violence Against Women and Children. This is the case with women and children in Purbalingga Regency. About Position, Organizational Structure, Duties and Functions, and Work Procedure of DINSOSDALDUKKBP3A in Purbalingga Regency. The purpose of this study is to examine the role seen from the aspects of innovation, coordination, facilitation and stimulation of DINSOSDALDUKKBP3A in Purbalingga Regency in an effort to prevent and handle violence against women and children. The research method used was descriptive qualitative, and the informant selection technique was purposive sampling. Data collection is done by in-depth interviews, observation and documentation. The data analysis method used is the flow analysis model. The results of this research indicate that the role of DINSOSDALDUKKBP3A in Purbalingga Regency in the effort to prevent and deal with violence against women and children can be seen weakness in the aspects role of innovation, coordination, facilitation and stimulation. | |
| 22825 | 26214 | D1E014219 | HUBUNGAN JUMLAH TERNAK DAN LUAS LAHAN DENGAN KEMAMPUAN ADOPSI INOVASI PENGGUNAAN RUMPUT ODOT PADA TERNAK SAPI PERAH KECAMATAN BATURRADEN | Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan kemampuan adopsi inovasi penggunaan rumput odot (Y) dengan jumlah ternak (x_1) dan luas lahan (x_2) yang dimiliki peternak sapi perah di Kecamatan Baturradden. Penelitian menggunakan metode survei. Penetapan sampel wilayah dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu pemilihan wilayah yang merupakan desa binaan dari BPPTU-HPT Baturraden yang telah menggunakan rumput odot untuk pakan ternak. Penetapan responden secara sensus yaitu sebanyak 40 peternak yang memperoleh penyuluhan tentang rumput odot. Analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40 peternak di Kecamatan Baturraden memiliki ternak sapi perah sebanyak 260 ekor dengan rataan kepemilikan 4,9 ST. Rataan untuk lahan pakan hijauan sapi perah di kecamatan Baturraden seluas 7m2/ekor. Tahap adopsi peternak di Kecamatan Baturraden yakni,peternak yang di tingkat Sadar sebanyak 34 peternak (85,63%), Minat sebanyak 33 Peternak (81,25%), Uji Coba sebanyak 28 peternak (68,75%), Menilai sebanyak 24 peternak (60,63%), Adopsi sebanyak 18 peternak 18 (45,63%). Kemampuan peternak dalam proses adopsi semakin menurun seiring dengan tingkat adopsi. Terdapat korelasi sedang antara jumlah ternak (0,434) dan luas lahan (0,484) terhadap kemampuan adopsi inovasi penggunaan rumput odot pada ternak sapi perah di Kecamatan Baturraden. | The study aims to analyze the relationship between the ability to adopt innovations in the use of odot grass (Y) with the number of livestock (x_1) and land area (x_2) owned by dairy farmers in Baturradden District. Research using survey methods. Determination of the sample area is done by purposive sampling method, namely the selection of an area which is a target village of Baturraden BPPTU-HPT who have used odot grass for animal feed. Determination of census respondents as many as 40 farmers who received counseling about odot grass. The analysis used is descriptive analysis and Rank Spearman correlation. The results showed that 40 breeders in Baturraden Subdistrict had 260 dairy cows with an average ownership of 4.9 ST. The average for dairy forage land in Baturraden district is 7m2 / head. The adoption stage of breeders in Baturraden Subdistrict is, farmers at the Conscious level were 34 farmers (85.63%), Interests were as many as 33 Farmers (81.25%), Trial of 28 farmers (68.75%), Assessing 24 breeders (60.63%), adoption of 18 farmers 18 (45.63%). The ability of farmers in the adoption process decreases with the level of adoption. There is a moderate correlation between the number of cattle (0.434) and land area (0.484) on the ability to adopt innovations in the use of odot grass in dairy cattle in Baturraden District. | |
| 22826 | 25376 | I1B015021 | HUBUNGAN EFIKASI DIRI DAN KEAKTIFAN BERORGANISASI TERHADAP PERUBAHAN INDEKS PRESTASI MAHASISWA S1 KEPERAWATAN DI KABUPATEN BANYUMAS | Abstrak Latar belakang: Perbedaan tingkat efikasi diri dan keaktifan berorganisasi terjadi pada mahasiswa S1 Keperawatan. Efikasi diri dapat memotivasi individu dalam mencapai target, sedangkan organisasi dapat memberikan banyak manfaat. Efikasi diri dan keaktifan berorganisasi mungkin dapat mempengaruhi pencapaian IP mahasiswa. Tujuan penelitian: Mengetahui hubungan efikasi diri dan keaktifan organisasi terhadap perubahan IP mahasiswa S1 Keperawatan di Kabupaten Banyumas. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan proportionate stratified random sampling, dengan jumlah sampel 204 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Korelasi variabel diuji dengan menggunakan uji koefisien kontingensi dan uji eta. Hasil penelitian: Karakteristik responden mayoritas perempuan. Sebagian besar mahasiswa S1 Keperawatan memiliki tingkat efikasi diri tinggi (74,5%), aktif dalam kegiatan organisasi (51,5%) dan sebagian besar tidak mengalami peningkatan IP (55,4%). Hasil uji eta antara efikasi diri dengan perubahan IP menunjukan pv 0,000 dan uji koefisien kontingensi antara keaktifan organisasi dengan peningkatan IP menunjukkan pv 0,002 dengan nilai r 0,215. Uji regresi logistik menunjukkan faktor yang paling berpengaruh terhadap perubahan IP yaitu efikasi diri. Probablitas responden untuk mengalami peningkatan IP ketika dipengaruhi oleh keaktifan organisasi dan efikasi diri adalah sebesar 60%. Kesimpulan: Efikasi diri merupakan prediktor dominan terhadap perubahan IP. Ketika efikasi diri tinggi dan aktif berorganisasi maka lebih berpeluang mengalami peningkatan IP pada semester berikutnya. | Abstract Research Background: The differences in the level of self-efficacy and activities of the organization occur in nursing undergraduate students. The self efficacy is able to motivate individuals on getting the target their planned before, and organization activities can provide many benefits. The self-efficacy and the organizational activeness can influence the changes on the students’ GPA. Research Objective: This research aimed to find out the relation between the self efficacy and the organizational activeness on the GPA changes of nursing undergraduate students in Banyumas regency. Research Method: This research is quantitative with cross-sectional approach. 204 respondents were taken as the sample using proportionate stratified random sampling techinque. Questionnaire was used as the instrument in this research. Contingency coefficient, eta and logistic regression tests were used to test the variable correlation. Research Result: The major characteristic respondents are female students. Most of the nursing undergraduate students has high self efficacy level in the number of 154 (74,5), being active in organizational activities 105(51,5%) and many of them has no any GPA changes in the number of 113(55,4%). The eta test between the self efficacy and the GPA changes shows pv 0,002 with r value 0,215. The logistic regression shows the infuental factor on the GPA changes which is the self efficacy. The respondents’ probability on experiencing the GPA changes while being influenced by organizational activeness and self effifacy is 60%. Conclusion: Self efficacy is dominant predictor on the GPA changes. When the self efficacy and organizational activeness got higher intensity, the possibility of the GPA improvement in the next semester will be wider. | |
| 22827 | 25377 | I1B015087 | Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Perilaku Makan Sayur Dan Buah Pada Anak Usia Sekolah Di SDN 4 Maleber Kabupaten Ciamis | Latar belakang: Buah dan sayur sangat penting untuk dikonsumsi bagi anak usia sekolah karena merupakan masa emas untuk pertumbuhan dan perkembangan. Pembentukan perilaku mengkonsumsi sayur dan buah tidak lepas dari dukungan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan perilaku anak mengkonsumsi sayur dan buah Metodologi: Penelitian ini merupakan desain komparasi dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada anak usia sekolah yang tinggal bersama keluarga. Sampel yang digunakan berjumlah 114 responden. Instrumen yang digunakan kuesioner primer dan sekunder. Analisa data menggunakan menggunakan uji Chi square Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukan analisis univariat karakteristik usia pada responden disajikan dalam bentuk nilai median usia 11, minimal 9 dan maksimal 12 tahun sedangkan jenis kelamin responden mayoritas menunjukan laki-laki 60 (52,6%), mayoritas keluarga responden berpendidikan SD 51 orang (44,7%) dan pekerjaan keluarga mayoritas buruh 67 orang (58,8%) sedangkan analisis bivariat anatara dukungan keluarga dengan perilaku mengonsumsi sayur dan buah pada anak usia sekolah menunjukan p value 0,000 (<0,05) Kesimpulan: Terdapat hubungan antara dukungan keluarga berhubungan dengan perilaku mengkonsumsi sayur dan buah pada anak usia sekolah di SD Negeri 4 Maleber Kabupaten Ciamis. Kata kunci : Dukungan keluarga, perilaku mengkonsumsi sayur dan buah, anak usia sekolah | Research Background: School-age children are in the golden ages, thus consuming vegetables and fruits is important to support their growth and development. The vegetables and fruits consumption behavior is related to family support. This research aimed to find out the relation between the family support and the vegetables and fruits consumption behavior of children. Research Method: This research was a comwith cross sectional aprproach desaign on the school-age children who live together with their families. The samples were 114 respondents. The primary and secondary questionnaires were being the instrument. Data analysis used Chi square test. Research Result: The results showed an analysis of the age characteristics of respondents presented in the form of a median age of 11, a minimum of 9 and a maximum of 12 years while the respondent's gender showed 60 men (52.6%), helping the respondent's family learn 51 elementary school education (44, 7%) and family work requires 67 people (58.8%) while bivariate analysis between families by eating vegetables and fruit in school-age children shows a p value of 0.000 (<0.05). Conclusion: There is a relationship between family support related to vegetable and fruit consumption behavior in school-age children in SD Negeri 4 Maleber, Ciamis Regency. Keyword: Family support, vegetables and fruits consumption behavior, school-age children | |
| 22828 | 25374 | G1D013023 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS AJIBARANG II | Latar belakang: Kurangnya kesadaran dan pemahaman ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan menjadi salah satu penyebab terjadinya kematian ibu hamil, bayi ataupun ibu masa nifas. Pemeriksaan kehamilan dilakukan minimal empat kali selama kehamilan yaitu satu kali pada trimester pertama (K1), satu kali pada trimester kedua (K2) dan dua kali pada trimester ketiga (K3 dan K4). Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pemeriksaan kehamilan pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Ajibarang II. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dipilih secara random sampling, sejumlah 83 responden. Kuesioner yang digunakan yaitu kuesioner pengetahuan dan dukungan suami. Analisis data menggunakan uji Chi Square dan Fisher. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan (p=0,001) dengan kepatuhan pemeriksaan kehamilan. Sementara itu, usia (p=0,333), pendidikan (p=0,714), pekerjaan (p=0,456), paritas (p=0,261), ketersediaan pelayanan pemeriksaan kehamilan (p=0,652) dan dukungan suami (p=0,412) tidak berhubungan dengan kepatuhan pemeriksaan kehamilan. Kesimpulan: Pengetahuan merupakan faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pemeriksaan kehamilan pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Ajibarang II. Kata Kunci: Kepatuhan, Pemeriksaan Kehamilan, Pengetahuan | Background: Lack of awareness and understanding of pregnant women about the importance of pregnancy screening is one of the causes of the death of pregnant women, infants or mothers in the period of Nifas. Pregnancy screening is performed at least four times during pregnancy which is once in the first trimester (K1), one time in the second trimester (K2) and twice in the third trimester (K3 and K4). Objectives: The purpose of this research is to determine the factors related to the compliance of pregnancy screening in the III trimester of pregnant women in work area of Puskesmas Ajibarang II . Methodology: This study used a Cross sectional approach. Samples were selected using a random sampling, and there were 83 respondents. This study used two questionnaire, they were knowledge questionnaire and husband support. Data were analyzed Chi Square and Fisher test. Results: The results showed that there was a relationship between levels of knowledge level (p= 0.001) with pregnancy screening compliance. Meanwhile is age (p= 0,333), education (p=0,714), job (p=0,456), parity (p=0,261), availability of pregnancy check-up services (p=0,652) and support Husband (p=0,412) were not associated with pregnancy screening. Conclusion: Knowledge is a factor related to the compliance of pregnancy screening in the III trimester of pregnant women in the work area of Puskesmas Ajibarang II. Keywords: Compliance, Pregnancy Screening, Knowledge | |
| 22829 | 25378 | I1B015019 | PERBEDAAN PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN MEDIA VIDEO DAN LEAFLET TERHADAP PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG VERBAL ABUSE PADA ANAK DI SDN 4 ARCAWINANGUN | Latar Belakang : Verbal abuse merupakan kekerasan dalam bentuk kata-kata kasar dan kalimat negatif yang dapat melukai hati anak. Salah satu penyebab verbal abuse adalah kurangnya pengetahuan orang tua. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan orang tua dengan pemberian pendidikan kesehatan. Media video dan leaflet dipercaya mampu meningkatkan pengetahuan orang tua. Tujuan : Mengetahui perbedaan pengaruh pendidikan kesehatan media video dan leaflet terhadap pengetahuan orang tua tentang verbal abuse. Metode : Penelitian ini menggunakan quasy eksperimental design dengan pretest-posttest without control group design. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling yakni sebanyak 17 responden pada masing-masing kelompok. Analisis data menggunakan Uji Paired Sampel t Test dan Uji Independent Sampel t Test. Hasil : Terdapat perbedaan skor pengetahuan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan pada kelompok video (p=0,000) serta terdapat perbedaan pada kelompok leaflet (p=0,010). Tidak terdapat perbedaan pengaruh skor pengetahuan antara kelompok video dan leaflet sebelum perlakuan (p= 0,921) serta tidak terdapat perbedaan pengaruh skor pengetahuan antara kedua kelompok sesudah perlakuan (p=0,821). Kesimpulan : Tidak ada perbedaan pengaruh pendidikan kesehatan media video dan leaflet terhadap pengetahuan orang tua tentang verbal abuse pada anak. | Background: Verbal abuse is violence in the form of harsh words and negative sentences that can hurt a child's heart. One of the causes of verbal abuse is the lack of knowledge of parents. Efforts to increase parental knowledge by providing health education. Video and leaflet media are believed to be able to increase parents' knowledge. Objective: To find out the differences in the influence of health education on video and leaflet media on parents' knowledge about verbal abuse. Method : This research used quasy eksperimental design with pretest-posttest without control group design. The sampling technique of this research used simple random sampling, which were 17 respondents in each group. The data was analyzed using Paired Sampel t Test and Independent Sample t Test. Result : There were differences in knowledge scores before and after the provision of health education in the video group (p = 0,000) and there were differences in the leaflet group (p = 0.010). There was no difference in the effect of the knowledge score between the video and leaflet groups before treatment (p = 0.921) and there was no difference in the effect of knowledge scores between the two groups after treatment (p = 0.821). Conclusion : There is no difference in the effect of health education on video media and leaflets on parents' knowledge about verbal abuse in children. | |
| 22830 | 25379 | G1D013055 | Hubungan antara Self Efficacy dengan Perilaku Vaping pada Remaja di Purwokerto | HUBUNGAN ANTARA SELF EFFICACY DENGAN PERILAKU VAPING PADA REMAJA DI PURWOKERTO Herdika Listya Kurniati1 Dian Susmarini2 Wahyu Ekowati3 Abstrak Latar Belakang: Tren penggunaan vapor (rokok elektronik) sudah mulai beredar di Indonesia yang dilakukan sejak usia remaja, sehingga muncul perilaku vaping pada remaja. Perilaku vaping remaja diduga dipengaruhi oleh self efficacy (keyakinan diri) seseorang. Hal ini berdasarkan keyakinan seseorang untuk vaping atau menolak vaping atas dasar bahaya atau manfaat yang dirasakan remaja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dengan perilaku vaping pada remaja di Purwokerto. Metodologi: Desain pada penelitian ini yaitu korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengumpulan sampel data menggunakan teknik quota sampling, didapatkan sejumlah 60 responden. Uji yang digunakan yaitu uji Pearson Chi-Square. Hasil Penelitian: Responden didominasi oleh laki-laki dengan kategori usia remaja pertengahan dan mendapatkan uang saku lebih dari 15 ribu per hari. Hasil dari uji statistik menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara self efficacy dengan perilaku vaping pada remaja dengan nilai p sebesar 0,795. Kesimpulan: Self efficacy tidak memiliki hubungan dengan perilaku vaping remaja. Kata Kunci: Perilaku vaping, remaja, self efficacy __________________________________________________ 1Mahasiswa Keperawatan Fikes Unsoed 2Departemen Keperawatan Anak Fikes Unsoed 3Departemen Keperawatan Jiwa Fikes Unsoed | RELATIONSHIP BETWEEN SELF EFFICACY WITH THE VAPING BEHAVIOR IN YOUTH IN PURWOKERTO Herdika Listya Kurniati1 Dian Susmarini2 Wahyu Ekowati3 ABSTRACT Background: The trend of using vapor (electronic cigarettes) has begun to exist in Indonesia which has been done since adolescence, so that vaping behavior appears in adolescents. Vaping behavior of adolescents is thought to be influenced by one's self efficacy. Based on a person's belief in vaping or rejecting vaping because of the danger or benefits that adolescents feel.The purpose of this study was to determine the relationship between self efficacy and vaping behavior in adolescents in Purwokerto. Methods: The design in this study is correlational with a cross-sectional approach. Data collection using quota sampling technique, obtained a number of 60 respondents. The data were analyzed with Pearson Chi-Square test. Result: Respondents was dominated by male students in the middle age category of teenagers and received an allowance of more than 15 thousand everyday. The results of statistics test shows that there is not correlation between self efficacy with vaping behavior in adolescents with amount of p value is 0,795. Conclusion: Self efficacy has not correlation with adolescent vaping behavior. Keywords: Adolescent, self efficacy, vaping behavior. __________________________________________________ 1Student of Nursing, Health Science Faculty, Unsoed 2Departement of Child Nursing, Health Science Faculty, Unsoed 3Departement of Mental Health Nursing, Health Science Faculty, Unsoed | |
| 22831 | 25323 | F1D012064 | RELASI AKTOR DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN KARTU INDONESIA PINTAR DI DESA KARANGRAU KECAMATAN BANYUMAS KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini berjudul “Relasi Aktor Dalam Implementasi Kartu Indonesia Pintar Di Desa Karangrau Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas” Program KIP di Kabupaten Banyumas sudah mulai dilaksanakan sejak tahun 2016, di mana pada tahun 2017 Kabupaten Banyumas mendapatkan bantuan KIP untuk diserahkan kepada 3,317 anak. Pelaksanaan program KIP diharapkan dapat membantu anak yang tidak mampu secara ekonomi agar dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga dapat menekan angka putus sekolah khususnya di desa-desa. Hasil penelitian mengungkapkan implementasi kebijakan KIP di desa Karangrau Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas telah menyalurkan dana KIP kepada 86 siswa SD dan 80 siswa SMP. Proses dalam implementasi kebijakan KIP tersebut dilihat dari alur yang digambarkan dalam deskripsi implementasi KIP memerlukan waktu yang cukup lama dari pendataan, pengajuan hingga penerimaan dana KIP oleh siswa. Relasi aktor dalam implementasi kebijakan KIP di desa Karangrau terjadi baik di tingkat atas maupun di tingkat bawah. Relasi aktor di tingkat atas adalah relasi aktor di tingkat kabupaten yang melibatkan dinas pendidikan kabupaten sebagai penyalur informasi daftar penerima KIP, yang selanjutnya di awasi dan dianggarkan oleh DPRD kabupaten Banyumas, dan Camat sebagai pihak pengawas dilingkungan kecamatan. Relasi aktor di tingkat bawah adalah relasi aktor di tingkat kecamatan dan desa yang melibatkan pemerintahan desa. Pemerintah Desa sendiri adalah pihak yang kurang bersinggungan dengan adanya kebijakan KIP, karena pihak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama sebagai penerima dan pendata yang memiliki wewenang dalam mendata dan merekomendasikan siswa penerima KIP yang selanjutnya di serahkan ke pada pihak UPK kecamatan, dan BRI Unit Kecamatan Banyumas merupakan satu-satunya bank yang menyalurkan langsung uang ke pada siswa penerima KIP didampingi guru dan pihak orang tua. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah relasi para aktor tersebut diwujudkan dalam bentuk kerjasama, rapat, koordinasi dan evaluasi pelaksanaan kebijakan KIP saja, namun hasil penelitian yang diperoleh memperlihatkan bahwa actor dominan yang berpengaruh adalah pihak Sekolah karena dari alur implementasi dan aktor-aktor yang berperan justru pihak SD dan SMP lah yang memiliki wewenang untuk merekomendasikan dan melakukan pendataan siswa-siswa penerima KIP. | This research entitled "Actor Relationship in the Implementation of Smart Indonesia Cards in Karangrau Village, Banyumas District, Banyumas Regency" The KIP program in Banyumas Regency has been implemented since 2016, where in 2017 Banyumas Regency received KIP assistance to be submitted to 3,317 children. The implementation of the KIP program is expected to be able to help children who are economically disadvantaged to be able to continue their education to a higher level, so as to reduce the dropout rate especially in villages. The results revealed that KIP policy implementation in Karangrau village, Banyumas District, Banyumas Regency had channeled KIP funds to 86 elementary school students and 80 junior high school students. The process in implementing the KIP policy seen from the plot described in the description of KIP implementation requires a considerable amount of time from data collection, submission to receipt of KIP funds by students. The relation of actors in the implementation of KIP policies in the village of Karangrau occurs both at the top and at the lower levels. The relation of actors at the top level is the relation of actors at the district level involving the district education office as a distributor of KIP recipient list information, which is then monitored and budgeted by the Banyumas Regency DPRD, and the Camat as the supervisor in the sub-district environment. The relation of actors at the lower level is the relation of actors at the sub-district and village levels that involve village government. The Village Government itself is a party that is not in touch with the existence of KIP policy, because the Primary and Secondary Schools as recipients and data collectors have the authority to record and recommend KIP recipient students, which are then submitted to the subdistrict UPK, and BRI Banyumas District Unit is the only bank that channels money directly to KIP recipient students accompanied by teachers and parents. The conclusion obtained in this study is that the relations of these actors are manifested in the form of cooperation, meetings, coordination and evaluation of the implementation of KIP policies only, but the results of the research show that the dominant actor influences is the School because of the flow of implementation and actors it is precisely the elementary and junior high schools that have the authority to recommend and collect KIP recipient students | |
| 22832 | 25381 | H1L014031 | RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PEMESANAN JASA MOBIL ANGKUT BARANG BERBASIS WEB | RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PEMESANAN JASA MOBIL ANGKUT BARANG BERBASIS WEB ABSTRAK Sistem Informasi Pemesanan Jasa Mobil Angkut Barang adalah sebuah sistem yang memiliki fungsi sebagai media bisnis jasa mobil angkut barang serta mengelola administrasi pemesanan pelanggan. Permasalahan yang dihadapi dalam bisnis jasa mobil angkut barang selama ini adalah belum mempunyai sistem informasi yang baik karena data-data yang disimpan dan diolah masih menggunakan media kertas dan penulisan manual, sehingga dapat menyebabkan terjadinya kesalahan dan pelayanan yang diberikan masih belum optimal karena pengolahannya masih dilakukan secara manual. Sistem yang dibangun mampu membantu dalam proses kegiatan administrasi dalam bidang jasa mobil angkut barang yang ada agar lebih baik, serta membantu penyedia layanan jasa mobil angkut barang dalam proses bisnis yang dijalankan. Sistem yang penulis buat merupakan sebuah aplikasi berbasis website dan dalam pengerjaannya penulis menggunakan metode pengembangan waterfall dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP dan untuk menangani data yang disimpan penulis menggunakan DBMS MySQL. Kata kunci : Sistem Informasi, Jasa Mobil Angkut Barang, PHP, Waterfall, MySQL. | FREIGHT CAR SERVICES WEB BASED ORDER INFORMATION SYSTEM DESIGN ABSTRACT Information System of Ordering Freight Car Services is a system that has function as a business media for ordering freight car services and managing customer orders. The issues faced in Freight Car Services business during this time are have not had yet good system information as many data saved and managed still use letter as media and manually written, so that it can cause any mistakes and the service given still not optimal due to the service given manually. Based on the issues, the writer tried to build a new system which can help in the process of administrative activities in freight car services so that it can be better, and also help the freight car services provider in running the business. The system that the writer made is a web-based application and the process of the system itself the writer used waterfall development method by using a language PHP program. To handle the data saved by the writer used DBMS MySQL. Keyword : Information system, car carrying goods service, PHP, waterfall, MySQL. | |
| 22833 | 25943 | D1A015130 | Kualitas Fisik Daging Paha Ayam Kampung Jantan yang Direndam Sari Nanas Muda (Ananas comusus L. Merr) | Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji pengaruh perendaman sari nanas muda terhadap kualitas fisik daging paha ayam kampung jantan. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah ayam kampung jantan. Penelitian dilakukan secara ekperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Rancangan terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan. Variabel yang diamati meliputi keempukan, pH, daya ikat air dan susut masak. Perlakuan terdiri dari R0 (perendaman sesaat) R1 (perendaman 10 menit) R2 (perendaman 20 menit) R3 (perendaman 30 menit). Data rataan hasil pengukuran keempukan daging 0,044 mm/g/dt, 0,043 mm/g/dt, 0,051 mm/g/dt, 0,044 mm/g/dt. Data rataan hasil pengukuran Power of Hidrogen (pH) 6,386; 6,340; 6,146 dan 6,102. Data rataan pengukuran daya ikat air 45,05%, 44,422%, 41,388% dan 42,706%. Data rataan pengukuran susut masak daging 40,6%, 48%, 46,8% dan 45,6%. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa perendaman sari nanas madu muda berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kualitas fisik daging paha ayam kampung jantan. Kesimpulan, perendaman sari nanas muda sampai dengan 30 menit belum mampu meningkatkan kualitas fisik daging paha ayam kampung jantan. | The purpose of study was to examine the effect of soaking young pineapple juice on the physical quality of male native chicken thigh meat. The material used in study was male native chicken. The study was conducted in an experimental manner using a Randomized Complete Block Design (RCBD). The design consists of 4 treatments and 5 replications. Variables observed included tenderness, pH, water holding capacity and cooking losses. The treatment consists of R0 (instant immersion) R1 (10 minutes immersion) R2 (20 minutes immersion) R3 (30 minutes immersion). The average data on meat tenderness measurement results were 0.044 mm/g/s, 0.043 mm/g/s, 0.051 mm/g/s, 0.044 mm/g/s. The average data of measurement results of Power of Hydrogen (pH) 6.386; 6,340; 6,146 and 6,102. The average data for measuring water binding capacity is 45.05%, 44.422%, 41.388% and 42.706%. Data on the average measurements of cooking losses of meat were 40.6%, 48%, 46.8% and 45.6%. The results of the variance analysis showed that soaking young pineapple juice had no significant effect on the physical quality of male chicken thigh meat. Conclusion, soaking young pineapple juice up to 30 minutes has not been able to improve the physical quality of male chicken thigh meat. | |
| 22834 | 25383 | I1B015012 | Hubungan Efikasi Diri dengan Aktivitas Fisik Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman | Latar Belakang: Aktivitas fisik sering dikaitkan dengan morbiditas dan mortalitas. Aktivitas fisik diusia muda menentukan aktivitas fisik diusia dewasa. Mahasiswa merupakan kelompok usia peralihan dari remaja menuju dewasa yang rentan terhadap permasalahan aktivitas fisik. Efikasi diri dapat menjadi faktor yang dapat berhubungan dengan aktivitas fisik pada seseorang. Tujuan: Untuk menentukan hubungan efikasi diri dengan aktivitas fisik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik proportional random sampling. Jumlah sampel sebanyak 253 orang. Instrument aktivitas fisik menggunakan IPAQ tahun 2005 dan efikasi diri menggunakan SOBPAS. Uji statistik menggunakan uji Spearman. Hasil Penelitian: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hampir seluruh responden berada dikategori usia remaja akhir yaitu 18-20 tahun (98,8%) dengan jenis kelamin yang dominan yaitu perempuan (86,6%). Aktivitas fisik tingkat ringan terbanyak berada di jurusan farmasi (92,5%). Aktivitas berat hanya ada di jurusan farmasi (1,5%), tingkat sedang di jurusan keperawatan (21,0%). Efikasi diri pada mahasiswa mayoritas berada di tingkat sedang (94,1%). Hasil uji statistik menunjukkan efikasi diri berhubungan signifikan dengan aktivitas fisik (p= 0,000, r= 0,229). Kesimpulan: Semakin tinggi efikasi diri maka aktivitas fisik semakin tinggi. | Background: Physical activity often associated with morbidity and mortality. Physical activity in young age can be determine physical activity in adulthood. College student is transitional age group from adolescent to adult who are vulnerable to have problem of physical activity. Self efficacy can be factor that can be related with physical activity. Aims: To determine the relationship of self efficacy with physical activity. Methods: This research used cross sectional design. Sample took by proportional sample technique with total sampling 253 people. The instrument of physical activity used IPAQ and self efficacy used SOBPAS. Statistical test using the Spearman test. Result: The result of this research show that almost all of respondents were woman (86,6%) in late adolescents (98.8%) in age 18-20 years old. The mild level of physical activity mostly in pharmacy department (92.5%). The vigorous level of physical activity only in the pharmacy department (1,5%), moderate level in nursing department (21.0%). Self efficacy at college students is moderate level (94,1%). The results of the statistical test showed self efficacy related significant with physical activity (p= 0,000, r= 0,229). Conclusion: The higher self efficacy, the higher physical activity. | |
| 22835 | 25944 | C1A015112 | ANALISIS EFISIENSI USAHA BORDIR KOMPUTER DI DESA TARUNAJAYA KECAMATAN SUKARAJA KABUPATEN TASIKMALAYA | ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian survei pada pemilik industri bordir komputer yang berada di Desa Tarunajaya Kecamatan Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini mengambil judul: “Analisis Efisiensi Usaha Bordir Komputer Di Desa Tarunajaya Kecamatan Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya”. Tujuan penelitian ini mengetahui tingkat efisiensi teknis usaha, tingkat efisiensi alokatif atau efisiensi harga usaha, tingkat efisiensi ekonomis usaha mukena bordir komputer di Desa Tarunajaya Kecamatan Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pengusaha bordir komputer di Desa Tarunajaya Kecamatan Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 48 responden dengan penentuan sampel menggunakan sampel random sampling. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: metode observasi dan dokumentasi. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah: analisis teknis menggunakan metode analisis Data Envelopment Analysis (DEA), analisis ekonomis menggunakan R/C ratio. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dari penelitian yang dilakukan pada bagian sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) Hasil perhitungan efisiensi teknis ini menunjukkan nilai koefisien teknis bahan baku usaha mukena bordir komputer di Desa Tarunajaya Kecamatan Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan 0,493 hal ini dapat dikatakan bahwa usaha mukena bordir komputer di Desa Tarunajaya Kecamatan Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya belum efisien secara teknis. (2) Hasil perhitungan efisiensi harga untuk penggunaan faktor produksi yaitu 0,0014. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan faktor produksi usaha mukena bordir komputer di Desa Tarunajaya Kecamatan Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya ternyata tidak efisien secara harga. (3) Dari perhitungan efisiensi ekonomi diperoleh hasil sebesar 1,09 maka dapat dikatakan bahwa usaha mukena bordir komputer di Desa Tarunajaya Kecamatan Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya sudah efisien secara ekonomi. Salah satu permasalahan yang dihadapi pelaku usaha mukena adalah rendahnya kualitas dari sumber daya manusia hal ini disebabkan oleh rendahnya pengetahuan tentang pembuatan mukena sehingga berpengaruh pada produk yang dihasilkan. Dengan permasalahan tersebut perlu kiranya pelatihan pembuatan mukena dengan menggundang mentor yang sudah ahli dibidang pembuatan mukena, sehingga pelaku usaha dapat mengasilkan produk yang beragam dan tentunya sesuai dengan kebutuhan pasar. Penggunaan faktor produksi tenaga kerja tidak efisiensi kerena jumlah tenaga kerja yang digunakan terlalu banyak.. Sehingga akan mengakibatkan penurunan produksi. Agar keuntungan yang dihasilkan semakin maksimum perlu adanya pengaturan jumlah tenaga kerja. Agar tercapai keuntungan yang maksimal maka pengusaha kecil dan menengah mukena bordir harus mampu menggunakan seluruh faktor-faktor produksi yang dimiliki secara efisien. | ABSTRACT This research is a survey of the research on computer embroidery industry owners in the village of Tarunajaya sub-district of Well-known Tasikmalaya Regency. This research takes the title: "analysis of the efficiency of Computer Embroidery Business in the village of Tarunajaya sub-district of Well-known Tasikmalaya Regency". The purpose of this research is to know the level of technical efficiency of effort, the level of efficiency of alokatif or the efficiency of price undertakings, the degree of economical efficiency efforts at the village computer embroidery mukena Tarunajaya Subdistrict a well-known Tasikmalaya Regency. The population in this research is all computer embroidery entrepreneur in the village of Tarunajaya sub-district of Well-known Tasikmalaya Regency. The sample in this research were 48 respondents take bu using sample random sampling. Types of data used in this research are: primary and secondary data. Data collection methods used in this study are: the methods of observation and documentation. Analytical tools used in this research are: technical analysis using the method of analysis of Data Envelopment Analysis (DEA), economic analysis using R/C ratio. Based on the results of the analysis and discussion of the research done in the previous section, then a conclusion can be drawn as follows: (1) the results of the technical efficiency calculations shows the value of the coefficient technical raw materials businesses mukena embroidery the computer in the village of Tarunajaya sub-district of Well-known Tasikmalaya Regency 0.493 shows it can be said that the effort at the village computer embroidery mukena Tarunajaya Subdistrict a well-known Tasikmalaya Regency not yet technically efficient. (2) the results of the calculation of the efficiency of the price for the use of factors of production is 0.0014. The results show that the use of factors of production effort at the village computer embroidery mukena Tarunajaya Subdistrict a well-known Tasikmalaya Regency turns out to be inefficient in the price. (3) in the calculation of economic efficiency of 1.09 results obtained then it can be said that the effort at the village computer embroidery mukena Tarunajaya Subdistrict a well-known Tasikmalaya Regency already efficient economically. One of the problems facing businessmen mukena is the low quality of human resources this is caused by lack of knowledge about the making of the product so that the effect on mukena produced. With these problems need to be familiar with training mentor who is already an expert in the field of manufacture of mukena, so that businessmen can make a various products and of course in accordance with the needs of the market. One of the problems facing businessmen mukena is the low quality of human resources this is caused by lack of knowledge about the making of the product so that the effect on mukena produced. With these problems need to be familiar with menggundang mukena training mentor who is already an expert in the field of manufacture of mukena, so that businessmen can mengasilkan various products and of course in accordance with the needs of the market. The use of factors of production labor "efficiency is not the amount of labor used too much, So will result in a decrease in production. So that the resulting advantage is getting the maximum need for setting the amount of labor. In order that maximum benefit is reached then the small and medium entrepreneurs mukena embroidery should be able to use all of the factors of production are owned efficiently. | |
| 22836 | 25382 | I1B015040 | PERBEDAAN PENGARUH PENGGUNAAN VIDEO DAN DEMONSTRASI PADA DISCHARGE PLANNING TERHADAP KANGAROO MOTHER CARE SELF EFFICACY IBU DENGAN BAYI BBLR | Abstrak PERBEDAAN PENGARUH PENGGUNAAN VIDEO DAN DEMONSTRASI PADA DISCHARGE PLANNING TERHADAP KANGAROO MOTHER CARE SELF EFFICACY IBU DENGAN BAYI BBLR Sania Kirna Khusnul Khotimah1, Dian Susmarini2, Eni Rahmawati2 Latar Belakang: Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan penyebab tertinggi angka kematian bayi pada satu bulan pertama kehidupan. Bayi BBLR berisiko mengalami hipotermi. Salah satu penanganan hipotermi adalah dengan kangaroo mother care (KMC). Tujuan: Mengetahui perbedaan pengaruh penggunaan video dan demonstrasi pada discharge planning terhadap kangaroo mother care self efficacy pada ibu yang memiliki bayi dengan berat badan lahir rendah. Metodologi: Penelitian ini menggunakan quasi-experimental design non-randomized pretest-posttest design. Teknik sampling yang digunakan adalah quota sampling, yakni sebanyak 19 responden pada masing-masing kelompok. Analisis data menggunakan Uji Independent Sampel t Test. Hasil Penelitian: Mayoritas responden merupakan usia dewasa muda (89,5%), tidak bekerja (78,9%), pendidikan terakhir SMP (34,2%), metode melahirkan caesar (55,3%), tidak pernah memiliki bayi BBLR sebelumnya (89,5%) dan tidak pernah melakukan KMC sebelumnya (97,4%). Tidak ada perbedaan skor self efficacy antara kelompok video dan kelompok demonstrasi sesudah perlakuan (p=0,187) dengan nilai signifikan 5%. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan pengaruh penggunaan video dan demonstrasi terhadap kangaroo mother care self efficacy ibu dengan bayi BBLR. Kata Kunci: Kangaroo Mother Care, Video, BBLR, Discharge Planning | Abstract DIFFERENCES IN THE EFFECT OF VIDEO AND DEMONSTRATION IN DISCHARGE PLANNING ON MOTHER’S KANGAROO MOTHER CARE SELF EFFICACY WITH LOW BIRTH WEIGHT BABY Sania Kirna Khusnul Khotimah1, Dian Susmarini2, Eni Rahmawati2 Background: Low Birth Weight (LBW) is the highest cause of infant mortality in the first month of life. Low birth weight babies are at risk of experiencing hypothermia. One of the treatments for hypothermia is kangaroo mother care (KMC). Objective: To determine the differences in the effect of video and demonstration in discharge planning addressed to mother’s kangaroo mother care self efficacy with low birth weight baby. Methods: This research used quasy experimental non randomized pretest and posttest design. The sampling technique of this research used quota sampling, which were 19 respondents in each group. The data was analyzed using Independent Sample t Test. Results: Most respondents were young adults (89,5%), does not work (78,9%), last education junior high school (34,2%), method of caesarean delivery (55,3%), don’t have low baby birth weight before (89,5%) and never has done KMC before (97,4%). The result showed that there were no differences in self efficacy scores between the video and demonstration groups after treatment (p=0,187) with 5% score significant. Conclusion: There is no difference in the effect of using videos and demonstrations on kangaroo mother care self efficacy for mothers with LBW babies. Keyword: Kangaroo Mother Care, Video, Low Birth Weight Baby, Discharge Planning | |
| 22837 | 25385 | I1B015050 | Hubungan Dukungan Pasangan dan Spiritualitas terhadap Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisa | ABSTRAK HUBUNGAN DUKUNGAN PASANGAN DAN SPIRITUALITAS TERHADAP KECEMASAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISA Ayu Wulan Enggal Puspitasari1, Arif Setyo Upoyo2, Galih Noor Alivian2 Latar belakang: Terapi gagal ginjal secara umum yang sering digunakan adalah hemodialisa. Kecemasan dapat timbul pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik responden (usia, jenis kelamin, lama hemodialisa, dan tingkat pendidikan), dukungan pasangan dan spiritualitas terhadap kecemasan pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa serta mengetahui variabel paling dominan mempengaruhi kecemasan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan consecutive sampling dengan besar sampel 74 responden. Uji statistik yang digunakan yaitu independen t test dan pearson untuk mengetahui hubungan tiap varaiebel bebas dengan variabel terikat, serta regresi linear berganda untuk mengetahui variabel paling dominan mempengaruhi kecemasan. Hasil: Hasil uji terhadap kecemasan didapatkan usia p=0,229, jenis kelamin p=0,632, lama hemodialissa p=0,101, tingkat pendidikan p=0,304, dukungan pasangan p=0,002, dan spiritualitas p=0,009 serta hasil uji multivariat menunjukkan tingkat signifikansi dukungan pasangan p=0,023, spiritualitas p=0,099, usia p=0,277, dan lama hemodialisa p=0,130. Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan antara karakteristik responden dengan kecemasan. Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan pasangan dan spiritualitas terhadap kecemasan. Dukungan pasangan merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap kecemasan pasien yang menjalani hemodialisa. Kata kunci : Dukungan pasangan, hemodialisa, kecemasan, spiritualitas 1Mahasiswa Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman 2Departemen Keperawatan Medikal Bedah Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman | ABSTRACT THE RELATION BETWEEN COUPLE SUPPORT AND SPIRITUALITY TOWARD ANXIETY OF CHRONIC KIDNEY FAILURE PATIENTS UNDERGOING HEMODIALYSIS Ayu Wulan Enggal Puspitasari1, Arif Setyo Upoyo2, Galih Noor Alivian2 Background: Common therapy for kidney failure is hemodialysis. Anxiety can arise in patients with kidney failure who undergoing hemodialysis. This research is aimed at find out the correlation between respondent characteristics (age, gender, duration of hemodialysis, and level of education), couple support and spirituality toward the anxiety of renal failure patients who undergoing hemodialysis and find out the most dominant variable affect anxiety. Methode: This research used a cross sectional approach and used sampling consecutive sampling technique with sample size was 74 respondents. The statistical test used independent t test, one way anova, and pearson to find out the coorrelation each independent variable with dependent variable, and multiple linear regression to find out the most dominant variable affecting anxiety. Results: Correlation test results between anxiety were found age p= 0,229, gender p= 0,632, duration of hemodialysis p= 0,101, education levels p= 0,304, couple support p= 0,002, and spirituality p= 0,009 and multivariate test results showed the significance level of couple support p= 0,023, spirituality p= 0,099, age p= 0,277, and duration of hemodialysis p= 0,130. Conclusion: There was no significant correlation between respondent characteristics toward anxiety. There was a significant correlation between couple support and spirituality towards anxiety. Couple support was the most influences variiable toward anxiety of patients undergoing hemodialysis. Key words: Anxiety , hemodialysis, couple support, spirituality. 1Nursing Department Student, Health Sciences Faculty, Jenderal Soedirman University 2Medical Surgery Department of Nursing Department, Health Sciences Faculty, Jenderal Soedirman University | |
| 22838 | 25386 | I1B015080 | Perbedaan Kualitas Hidup Lansia dengan Penyakit Kronis yang Tinggal di Perdesaan dan Perkotaan di Kabupaten Kebumen | PERBEDAAN KUALITAS HIDUP LANSIA DENGAN PENYAKIT KRONIS YANG TINGGAL DI PERDESAAN DAN PERKOTAAN DI KABUPATEN KEBUMEN Tuti Hartini1, Asep Iskandar2, Endang Triyanto2 Latar belakang: Semakin bertambahnya usia, lansia mengalami perubahan dalam segi fisik, psikis, sosial maupun ekonomi. Hal tersebut berdampak pada kualitas hidup lansia. Kualitas hidup dipengaruhi oleh kondisi kesehatan, penyakit kronis, gangguan mental emosional, sosial ekonomi, serta tempat tinggal. Perbedaan masyarakat perdesaan dan perkotaan terletak pada tingkat pendidikan, pendapatan, pengetahuan, sikap, keterpaparan informasi, akses layanan kesehatan, serta kepadatan penduduk. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas hidup lansia dengan penyakit kronis yang tinggal di perdesaan dan perkotaan berdasarkan domain kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain studi komparatif dan pengambilan data secara cross-sectional. Teknik sampling menggunakan Total Sampling, yakni sebanyak 93 lansia (52 lansia dari perdesaan dan 41 lansia dari perkotaan). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil: Hasil uji Mann-Whitney menunjukan bahwa nilai p-value pada domain kesehatan fisik (p=0,744), kesehatan psikologis (p=0,830), hubungan sosial (p=0,506), lingkungan (p=0,003), kualitas hidup secara umum (p=0,228), dan kesehatan secara umum (p=0,168). Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan pada domain kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial, kualitas hidup secara umum, dan kesehatan secara umum, namun terdapat perbedaan pada domain lingkungan pada lansia dengan penyakit kronis yang tinggal di perdesaan dan perkotaan. Kata kunci: kualitas hidup, penyakit kronis, perdesaan, perkotaan. | THE DIFFERENCE QUALITY OF LIFE OF ELDERLY WITH CHRONIC DISEASE LIVING IN RURAL AND URBAN IN KEBUMEN Tuti Hartini1, Asep Iskandar2, Endang Triyanto2 Background: When human gets older, the elderly have a change in physics, psychology, social, or economics. It is affected by the quality of life of the elderly. Quality of life influenced by health conditions, chronic disease, mental-emotional disorders, social-economics, and residence. The difference in urban and rural was educations, knowledge, attitude, exposure of information, access to health services, and population density. Objective: This study aimed to determine the different quality of life of the elderly with the chronic disease living in rural and urban-based on domains of physical, psychological, social relationships, and environment. Methods: This research was quantitative research with comparative study design and cross-sectional approach. The sample elderly was 93 obtained by total sampling (52 from rural and 41 from urban). Data were collected using the WHOQOL-BREF questionnaire. Data were analysed using the Mann-Whitney test. Result: Result of Mann-Whitney test showed that p-value of physical domain (p=0,744), psychological domain (p=0,830), social relationships domain (p=0,505), environment domain (p=0,003), general quality of life (p=0,228), and general health (p=0,168). Conclusion: There was no difference in the physical domain, psychological domain, social relationships domain, general quality of life, and general health, but there was a difference in the environment domain in elderly with the chronic disease living in rural and urban. Keyword: quality of life, chronic disease, rural, urban. | |
| 22839 | 25387 | F1B113031 | EFEKTIVITAS KEBIJAKAN REVITALISASI PASAR LARANGAN KABUPATEN BANYUMAS | ABSTRAK Penelitian ini berjudul "Efektivitas Revitalisasi Pasar Larangan Kabupaten Banyumas". Program yang dibuat oleh pemerintah pada umumnya dimaksudkan untuk mewujudkan apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh masyarakat. Suatu program dapat dikatakan efektif jika tujuan atau sasaran yang telah ditentukan dapat tercapai. Revitalisasi Pasar adalah salah satu aspek yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Aktivitas aktivitas pasar semakin meningkat serta kondisi pasar yang tidak memadai. Oleh karena itu, adanya revitalisasi pasar diharapkan dapat mengurangi masalah yang muncul, seperti kebersihan pasar yang kurang terawat, tempat parkir yang tidak memadai, dan kondisi pasar yang kurang kondusif karena tidak dikelompokkan. Efektivitas program adalah penilaian sejauh mana suatu program dapat mewujudkan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Untuk mengetahui seberapa efektif suatu program dapat diukur dari indikator menurut Duncan di Streers(1980:50), yaitu pencapaian tujuan, integrasi, adaptasi, efisien dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa efektif revitalisasi pasar Kabupaten Banyumas. Sasaran dalam penelitian ini adalah semua manajer, pedagang, dan pembeli di pasar Larangan Kecamatan Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner, dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah distribusi frekuensi, jumlah rata-rata. Hasil penelitian ini adalah Revitalisasi Pasar Larangan Kabupaten Banyumas telah efektif, dengan 48,0% responden yang menjawab efektivitas program termasuk dalam kategori efektif, dan hasil rata-rata adalah 45,88. Dari lima indikator yang digunakan untuk mengamati efektivitas kebijakan revitalisasi pasar Kabupaten Larangan, hasilnya adalah: (1) pencapaian tujuan dalam kategori efektif, (2) integrasi dalam kategori efektif, (3) adaptasi dalam kategori efektif, ( 4) efisiensi dalam kategori efektif, (5) ekonomis dalam kategori efektif Kata kunci: Efektivitas,Program revitalisasi,Pasar ; Banyumas | ABSTRACT This research is entitled "Effectiveness of Banyumas Regency Prohibition Market Revitalization". Programs made by the government in general are intended to realize what is desired and needed by the community. A program can be said to be effective if the goals or objectives that have been determined can be achieved. Market Revitalization is one aspect that is needed by the community. Market activity activities are increasingly increasing as well as inadequate market conditions. Therefore, the existence of market revitalization is expected to be able to reduce problems that arise, such as poorly maintained market cleanliness, inadequate parking lots, and unfavorable market conditions because they are not zoned. The effectiveness of the program is an assessment of the extent to which a program can realize its predetermined goals by utilizing available resources. To find out how effective a program can be measured from indicators according to Duncan in Streers, namely the achievement of goals, integration, adaptation, efficient and economical. This study aims to find out how effective the market revitalization of Banyumas Regency is. The target in this study is all managers, traders, and buyers in the Larangan District of Banyumas market. This study uses a descriptive research method with a quantitative approach. Data collection techniques through questionnaires, and documentation. The analytical method used is frequency distribution, mean count. The results of this study are the Banyumas Regency Larangan Market Revitalization has been effective, with 48.0% of respondents who answered the effectiveness of the program included in the effective category, and the average results were 45.88. From the five indicators used to observe the effectiveness of the Larangan Regency's market revitalization policy, the results were: (1) achievement of goals in the effective category, (2) integration in effective categories, (3) adaptation in the effective category, (4) efficiency in the effective category, (5) economically in the effective category Keywords: Effectiveness,Program | |
| 22840 | 25403 | F1C014078 | Analisis Resepsi Terhadap Perspektif Gender Pada Pemberitaan Kasus First Travel | Penelitian ini mengkaji tentang resepsi khalayak terhadap perspektif gender pada pemberitaan kasus First Travel. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemaknaan dan penerimaan khalayak terhadap perspektif gender dalam pemberitaan dengan mengeksplorasi Teori Skema Gender, penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis resepsi, dimana khalayak diposisikan sebagai pihak yang aktif dan memiliki kekuatan dalam menginterpretasikan makna pesan secara bebas. Metode pengumpulan data dilakukan dengan Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam. Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria-kriteria tertentu. Dalam hasil penelitian ini ditemukan bahwa informan tidak begitu saja menerima pesan yang ditampilkan oleh pemberitaan media massa. Dengan kata lain, informan dapat memaknai pemberitaan kasus First Travel berdasarkan sudut pandangnya masing-masing sesuai dengan konsep interpretive community. Keseluruhan informan secara kritis menyebut bahwa pemberitaan media masih kurang memperhatikan perspektif gender, media cenderung bias dalam memberitakan antara perempuan dan laki-laki. Ditemukan beberapa faktor signifikan yang mempengaruhi keberagaman pemaknaan dan penerimaan informan, yaitu pola pikir dan pemahaman, keluarga, lingkungan sosial, dan pengalaman informan. Dari hasil analisis spectrum of reading David Morley, terdapat satu informan yang menempati posisi dominant/hegemonic reading, tujuh informan menempati posisi negotiated reading menjadikan posisi ini sebagai posisi yang paling menonjol, dan dua informan menempati posisi oppositional reading. | This study examines the reception of audiences towards the gender perspective in the mass media coverage about First Travel case. This study was conducted to find out the acceptance and the meaning of audience towards the gender perspective in the news by exploring Gender Scheme Theory. This study is a qualitative research with the method of reception analysis, where the audiences is positioned as an actives parties and have a power to interpreting the meaning of the messages freely. Data collection methods are Focus Group Discussion (FGD) and in-depth interview. The informant is determined by purposive sampling technique with certain criteria. In the results of this study found that informants did not just receive messages that displayed by the mass media coverage. In other words, informants can interpret the reporting of First Travel cases based on their respective point of view in accordance with the concept of interpretive community. In general, informant critically stated that media coverage was still not paying attention to the gender perspective, the media tended to be biased in reporting between women and men. A several significant factors were found to influences the informant diversity of meaning and acceptance, which are mindset and understanding, family, social environment, and informant experience. From the results of David Morley's spectrum of reading analysis, there is one informant occupies a dominant/hegemonic reading position, seven informants occupy negotiated reading making this position is the most prominent, and two informants occupy oppositional reading positions. |