Artikelilmiahs
Menampilkan 22.841-22.860 dari 50.207 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 22841 | 25385 | I1B015050 | Hubungan Dukungan Pasangan dan Spiritualitas terhadap Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisa | ABSTRAK HUBUNGAN DUKUNGAN PASANGAN DAN SPIRITUALITAS TERHADAP KECEMASAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISA Ayu Wulan Enggal Puspitasari1, Arif Setyo Upoyo2, Galih Noor Alivian2 Latar belakang: Terapi gagal ginjal secara umum yang sering digunakan adalah hemodialisa. Kecemasan dapat timbul pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik responden (usia, jenis kelamin, lama hemodialisa, dan tingkat pendidikan), dukungan pasangan dan spiritualitas terhadap kecemasan pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa serta mengetahui variabel paling dominan mempengaruhi kecemasan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan consecutive sampling dengan besar sampel 74 responden. Uji statistik yang digunakan yaitu independen t test dan pearson untuk mengetahui hubungan tiap varaiebel bebas dengan variabel terikat, serta regresi linear berganda untuk mengetahui variabel paling dominan mempengaruhi kecemasan. Hasil: Hasil uji terhadap kecemasan didapatkan usia p=0,229, jenis kelamin p=0,632, lama hemodialissa p=0,101, tingkat pendidikan p=0,304, dukungan pasangan p=0,002, dan spiritualitas p=0,009 serta hasil uji multivariat menunjukkan tingkat signifikansi dukungan pasangan p=0,023, spiritualitas p=0,099, usia p=0,277, dan lama hemodialisa p=0,130. Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan antara karakteristik responden dengan kecemasan. Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan pasangan dan spiritualitas terhadap kecemasan. Dukungan pasangan merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap kecemasan pasien yang menjalani hemodialisa. Kata kunci : Dukungan pasangan, hemodialisa, kecemasan, spiritualitas 1Mahasiswa Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman 2Departemen Keperawatan Medikal Bedah Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman | ABSTRACT THE RELATION BETWEEN COUPLE SUPPORT AND SPIRITUALITY TOWARD ANXIETY OF CHRONIC KIDNEY FAILURE PATIENTS UNDERGOING HEMODIALYSIS Ayu Wulan Enggal Puspitasari1, Arif Setyo Upoyo2, Galih Noor Alivian2 Background: Common therapy for kidney failure is hemodialysis. Anxiety can arise in patients with kidney failure who undergoing hemodialysis. This research is aimed at find out the correlation between respondent characteristics (age, gender, duration of hemodialysis, and level of education), couple support and spirituality toward the anxiety of renal failure patients who undergoing hemodialysis and find out the most dominant variable affect anxiety. Methode: This research used a cross sectional approach and used sampling consecutive sampling technique with sample size was 74 respondents. The statistical test used independent t test, one way anova, and pearson to find out the coorrelation each independent variable with dependent variable, and multiple linear regression to find out the most dominant variable affecting anxiety. Results: Correlation test results between anxiety were found age p= 0,229, gender p= 0,632, duration of hemodialysis p= 0,101, education levels p= 0,304, couple support p= 0,002, and spirituality p= 0,009 and multivariate test results showed the significance level of couple support p= 0,023, spirituality p= 0,099, age p= 0,277, and duration of hemodialysis p= 0,130. Conclusion: There was no significant correlation between respondent characteristics toward anxiety. There was a significant correlation between couple support and spirituality towards anxiety. Couple support was the most influences variiable toward anxiety of patients undergoing hemodialysis. Key words: Anxiety , hemodialysis, couple support, spirituality. 1Nursing Department Student, Health Sciences Faculty, Jenderal Soedirman University 2Medical Surgery Department of Nursing Department, Health Sciences Faculty, Jenderal Soedirman University | |
| 22842 | 25386 | I1B015080 | Perbedaan Kualitas Hidup Lansia dengan Penyakit Kronis yang Tinggal di Perdesaan dan Perkotaan di Kabupaten Kebumen | PERBEDAAN KUALITAS HIDUP LANSIA DENGAN PENYAKIT KRONIS YANG TINGGAL DI PERDESAAN DAN PERKOTAAN DI KABUPATEN KEBUMEN Tuti Hartini1, Asep Iskandar2, Endang Triyanto2 Latar belakang: Semakin bertambahnya usia, lansia mengalami perubahan dalam segi fisik, psikis, sosial maupun ekonomi. Hal tersebut berdampak pada kualitas hidup lansia. Kualitas hidup dipengaruhi oleh kondisi kesehatan, penyakit kronis, gangguan mental emosional, sosial ekonomi, serta tempat tinggal. Perbedaan masyarakat perdesaan dan perkotaan terletak pada tingkat pendidikan, pendapatan, pengetahuan, sikap, keterpaparan informasi, akses layanan kesehatan, serta kepadatan penduduk. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas hidup lansia dengan penyakit kronis yang tinggal di perdesaan dan perkotaan berdasarkan domain kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain studi komparatif dan pengambilan data secara cross-sectional. Teknik sampling menggunakan Total Sampling, yakni sebanyak 93 lansia (52 lansia dari perdesaan dan 41 lansia dari perkotaan). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil: Hasil uji Mann-Whitney menunjukan bahwa nilai p-value pada domain kesehatan fisik (p=0,744), kesehatan psikologis (p=0,830), hubungan sosial (p=0,506), lingkungan (p=0,003), kualitas hidup secara umum (p=0,228), dan kesehatan secara umum (p=0,168). Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan pada domain kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial, kualitas hidup secara umum, dan kesehatan secara umum, namun terdapat perbedaan pada domain lingkungan pada lansia dengan penyakit kronis yang tinggal di perdesaan dan perkotaan. Kata kunci: kualitas hidup, penyakit kronis, perdesaan, perkotaan. | THE DIFFERENCE QUALITY OF LIFE OF ELDERLY WITH CHRONIC DISEASE LIVING IN RURAL AND URBAN IN KEBUMEN Tuti Hartini1, Asep Iskandar2, Endang Triyanto2 Background: When human gets older, the elderly have a change in physics, psychology, social, or economics. It is affected by the quality of life of the elderly. Quality of life influenced by health conditions, chronic disease, mental-emotional disorders, social-economics, and residence. The difference in urban and rural was educations, knowledge, attitude, exposure of information, access to health services, and population density. Objective: This study aimed to determine the different quality of life of the elderly with the chronic disease living in rural and urban-based on domains of physical, psychological, social relationships, and environment. Methods: This research was quantitative research with comparative study design and cross-sectional approach. The sample elderly was 93 obtained by total sampling (52 from rural and 41 from urban). Data were collected using the WHOQOL-BREF questionnaire. Data were analysed using the Mann-Whitney test. Result: Result of Mann-Whitney test showed that p-value of physical domain (p=0,744), psychological domain (p=0,830), social relationships domain (p=0,505), environment domain (p=0,003), general quality of life (p=0,228), and general health (p=0,168). Conclusion: There was no difference in the physical domain, psychological domain, social relationships domain, general quality of life, and general health, but there was a difference in the environment domain in elderly with the chronic disease living in rural and urban. Keyword: quality of life, chronic disease, rural, urban. | |
| 22843 | 25387 | F1B113031 | EFEKTIVITAS KEBIJAKAN REVITALISASI PASAR LARANGAN KABUPATEN BANYUMAS | ABSTRAK Penelitian ini berjudul "Efektivitas Revitalisasi Pasar Larangan Kabupaten Banyumas". Program yang dibuat oleh pemerintah pada umumnya dimaksudkan untuk mewujudkan apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh masyarakat. Suatu program dapat dikatakan efektif jika tujuan atau sasaran yang telah ditentukan dapat tercapai. Revitalisasi Pasar adalah salah satu aspek yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Aktivitas aktivitas pasar semakin meningkat serta kondisi pasar yang tidak memadai. Oleh karena itu, adanya revitalisasi pasar diharapkan dapat mengurangi masalah yang muncul, seperti kebersihan pasar yang kurang terawat, tempat parkir yang tidak memadai, dan kondisi pasar yang kurang kondusif karena tidak dikelompokkan. Efektivitas program adalah penilaian sejauh mana suatu program dapat mewujudkan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Untuk mengetahui seberapa efektif suatu program dapat diukur dari indikator menurut Duncan di Streers(1980:50), yaitu pencapaian tujuan, integrasi, adaptasi, efisien dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa efektif revitalisasi pasar Kabupaten Banyumas. Sasaran dalam penelitian ini adalah semua manajer, pedagang, dan pembeli di pasar Larangan Kecamatan Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner, dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah distribusi frekuensi, jumlah rata-rata. Hasil penelitian ini adalah Revitalisasi Pasar Larangan Kabupaten Banyumas telah efektif, dengan 48,0% responden yang menjawab efektivitas program termasuk dalam kategori efektif, dan hasil rata-rata adalah 45,88. Dari lima indikator yang digunakan untuk mengamati efektivitas kebijakan revitalisasi pasar Kabupaten Larangan, hasilnya adalah: (1) pencapaian tujuan dalam kategori efektif, (2) integrasi dalam kategori efektif, (3) adaptasi dalam kategori efektif, ( 4) efisiensi dalam kategori efektif, (5) ekonomis dalam kategori efektif Kata kunci: Efektivitas,Program revitalisasi,Pasar ; Banyumas | ABSTRACT This research is entitled "Effectiveness of Banyumas Regency Prohibition Market Revitalization". Programs made by the government in general are intended to realize what is desired and needed by the community. A program can be said to be effective if the goals or objectives that have been determined can be achieved. Market Revitalization is one aspect that is needed by the community. Market activity activities are increasingly increasing as well as inadequate market conditions. Therefore, the existence of market revitalization is expected to be able to reduce problems that arise, such as poorly maintained market cleanliness, inadequate parking lots, and unfavorable market conditions because they are not zoned. The effectiveness of the program is an assessment of the extent to which a program can realize its predetermined goals by utilizing available resources. To find out how effective a program can be measured from indicators according to Duncan in Streers, namely the achievement of goals, integration, adaptation, efficient and economical. This study aims to find out how effective the market revitalization of Banyumas Regency is. The target in this study is all managers, traders, and buyers in the Larangan District of Banyumas market. This study uses a descriptive research method with a quantitative approach. Data collection techniques through questionnaires, and documentation. The analytical method used is frequency distribution, mean count. The results of this study are the Banyumas Regency Larangan Market Revitalization has been effective, with 48.0% of respondents who answered the effectiveness of the program included in the effective category, and the average results were 45.88. From the five indicators used to observe the effectiveness of the Larangan Regency's market revitalization policy, the results were: (1) achievement of goals in the effective category, (2) integration in effective categories, (3) adaptation in the effective category, (4) efficiency in the effective category, (5) economically in the effective category Keywords: Effectiveness,Program | |
| 22844 | 25403 | F1C014078 | Analisis Resepsi Terhadap Perspektif Gender Pada Pemberitaan Kasus First Travel | Penelitian ini mengkaji tentang resepsi khalayak terhadap perspektif gender pada pemberitaan kasus First Travel. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemaknaan dan penerimaan khalayak terhadap perspektif gender dalam pemberitaan dengan mengeksplorasi Teori Skema Gender, penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis resepsi, dimana khalayak diposisikan sebagai pihak yang aktif dan memiliki kekuatan dalam menginterpretasikan makna pesan secara bebas. Metode pengumpulan data dilakukan dengan Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam. Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria-kriteria tertentu. Dalam hasil penelitian ini ditemukan bahwa informan tidak begitu saja menerima pesan yang ditampilkan oleh pemberitaan media massa. Dengan kata lain, informan dapat memaknai pemberitaan kasus First Travel berdasarkan sudut pandangnya masing-masing sesuai dengan konsep interpretive community. Keseluruhan informan secara kritis menyebut bahwa pemberitaan media masih kurang memperhatikan perspektif gender, media cenderung bias dalam memberitakan antara perempuan dan laki-laki. Ditemukan beberapa faktor signifikan yang mempengaruhi keberagaman pemaknaan dan penerimaan informan, yaitu pola pikir dan pemahaman, keluarga, lingkungan sosial, dan pengalaman informan. Dari hasil analisis spectrum of reading David Morley, terdapat satu informan yang menempati posisi dominant/hegemonic reading, tujuh informan menempati posisi negotiated reading menjadikan posisi ini sebagai posisi yang paling menonjol, dan dua informan menempati posisi oppositional reading. | This study examines the reception of audiences towards the gender perspective in the mass media coverage about First Travel case. This study was conducted to find out the acceptance and the meaning of audience towards the gender perspective in the news by exploring Gender Scheme Theory. This study is a qualitative research with the method of reception analysis, where the audiences is positioned as an actives parties and have a power to interpreting the meaning of the messages freely. Data collection methods are Focus Group Discussion (FGD) and in-depth interview. The informant is determined by purposive sampling technique with certain criteria. In the results of this study found that informants did not just receive messages that displayed by the mass media coverage. In other words, informants can interpret the reporting of First Travel cases based on their respective point of view in accordance with the concept of interpretive community. In general, informant critically stated that media coverage was still not paying attention to the gender perspective, the media tended to be biased in reporting between women and men. A several significant factors were found to influences the informant diversity of meaning and acceptance, which are mindset and understanding, family, social environment, and informant experience. From the results of David Morley's spectrum of reading analysis, there is one informant occupies a dominant/hegemonic reading position, seven informants occupy negotiated reading making this position is the most prominent, and two informants occupy oppositional reading positions. | |
| 22845 | 25384 | I1F017027 | Hubungan Antara Peran Petugas Kesehatan Dengan Pemilihan Kontrasepsi Pada Wanita Usia Subur Penderita Tuberculosis di Kabupaten Banyumas | Dalam upaya mencegah penularan tuberculosis dari orangtua ke janin, maka WUS disarankan untuk menggunakan kontrasepsi non hormonal. Perilaku WUS dalam memilih kontrasepsi salah satunya dipengaruhi oleh peran petugas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara peran petugas kesehatan dengan pemilihan kontrasepsi pada WUS penderita tuberculosis. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 35 responden, teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah Uji kolmogorov-smirnov. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan antara peran petugas kesehatan dengan pemilihan kontrasepsi. Peran petugas kesehatan sebagian besar masuk dalam kategori cukup sebanyak 65,7% dan memilih kontrasesi hormonal sebanyak 65,7%. Hal ini disebabkan karena tingkat pendidikan yang rendah, pekerjaan sebagai IRT, kurangnya informasi dari petugas mengenai kontrasepsi yang dianjurkan bagi WUS penderita tuberculosis. Kesimpulan penelitian tidak ada hubungan antara peran petugas kesehatan dengan pemilihan kontrasepsi pada wanita usia subur penderita tuberculosis di Kabupaten Banyumas. | In an effort to prevent transmission of tuberculosis from parents to fetuses, WUS is advised to use non-hormonal contraception. WUS's behavior in choosing contraception is influenced by the role of health workers. This study aims to determine the relationship between the role of health workers with the selection of contraception in WUS tuberculosis sufferers. This study uses a cross sectional design with a total sample of 35 respondents, the sampling technique using accidental sampling. The research instrument used a questionnaire. The statistical test used was the Kolmogorov-Smirnov Test. The results of this study indicate that there is no relationship between the role of health workers and the choice of contraception. The role of health workers is mostly included in the sufficient category of 65.7% and choosing hormonal contraries as much as 65.7%. This is due to the low level of education, employment as an IRT, lack of information on officers regarding contraception that is recommended for WUS tuberculosis sufferers. The conclusion of the study there was no correlation between the role of health workers and the selection of contraception in women of childbearing age in tuberculosis patients in Banyumas Regency. | |
| 22846 | 25388 | E1A014050 | PERCERAIAN DAN AKIBATNYA TERHADAP HADHANAH (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Pengadilan Agama Surabaya Nomor: 2679/Pdt.G/2017/PA.Sby) | Setiap perkawinan mempunyai tujuan, yaitu, untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Apabila tujuan perkawinan tidak dapat tercapai, maka terjadilah perceraian. yang berakibat pada status suami isteri dan hadhanah. Seperti salah satu perkara mengenai perceraian dan akibatnya terhadap hadhanah yang terjadi di Pengadilan Agama Surabaya dengan Putusan Nomor: 2679/Pdt.G/2017/PA.Sby. Permasalahan dalam penelitian ini adalah mengenai pertimbangan hukum Hakim dalam memutus perkara perceraian dan akibatnya terhadap hadhanah pada Pengadilan Agama Surabaya Nomor: 2679/Pdt.G/2017/PA.Sby. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Yuridis Normatif, spesifikasi penelitian preskriptif analisis, teknik pengumpulan data studi kepustakaan dengan inventarisasi , data yang terkumpul kemudian disajikan dalam bentuk teks naratif dan analisis normatif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap Putusan Pengadilan Agama Surabaya Nomor: 2679/Pdt.G/2017/PA.Sby dapat disimpulkan bahwa Pertimbangan Hukum Hakim mendasarkan pada peraturan perundang-undangan, yaitu penjelasan Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan jo. Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo. Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam dan Pasal 105 huruf (a) Kompilasi Hukum Islam tentang hak asuh anak. Menurut Peneliti pertimbangan hukum Hakim sebaiknya memperhatikan ketentuan Pasal 33 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan jo. Pasal 77 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam, dan Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 80 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam, dan menambahkan ketentuan Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, Pasal 98 Kompilasi Hukum Islam, Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014, serta Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 126 K/Pdt/2001 tanggal 28 Agustus 2003. | Every marriage has a purpose, that is, to form a happy and eternal family. If the goal of marriage cannot be achieved, divorce will occur. which results in the status of husband and wife and hadhanah. Like one of the cases concerning divorce and its consequences for the hadhanah that occurred in the Surabaya Religious Court with Decision Number: 2679/Pdt.G /2017/PA.Sby. The problem in this study is about the legal considerations of the Judge in deciding the case of divorce and its consequences for the hadhanah in the Surabaya Religious Court Number: 2679/Pdt.G/2017/PA.Sby. The method used in this research is normative juridical, specification of analytical prescriptive research, library study data collection techniques with inventory, data collected then presented in the form of narrative texts and qualitative normative analysis. Based on the results of research and discussion of the Surabaya Religious Court Number: 2679/Pdt.G/2017/ PA.Sby, it can be concluded that Judicial Legal Considerations are based on legislation, namely the explanation of Article 39 paragraph (2) Law Number 1 of 1974 concerning Marriage jo. Article 19 letter (f) Government Regulation Number 9 of 1975 jo. Article 116 letter (f) Compilation of Islamic Law and Article 105 letter (a) Compilation of Islamic Law concerning child custody. According to the Researcher, it should be added the provisions of Article 33 of Law Number 1 Year 1974 concerning Marriage jo. Article 77 paragraph (2) Compilation of Islamic Law, and Article 34 paragraph (1) of Law Number 1 Year 1974 jo. Article 80 paragraph (2) Compilation of Islamic Law, and add the provisions of Article 45 paragraph (2) of Law Number 1 Year 1974, Article 98 Compilation of Islamic Law, Article 26 paragraph (1) of Law Number 35 Year 2014, and Court Decision Supreme Court of the Republic of Indonesia Number 126 K / Pdt / 2001 dated August 28, 2003. | |
| 22847 | 25389 | G1G014038 | PENGARUH MINYAK JINTAN HITAM Nigella sativa TERHADAP EKSPRESI TARTRATE RESISTANT ACID PHOSPHATASE (TRAP) TULANG ALVEOLAR TIKUS Sprague dawley MODEL PERIODONTITIS | Tartrate Resistant Acid Phosphatase (TRAP) berperan dalam destruksi tulang alveolar pada periodontitis. Peningkatan aktivitas osteoklas pada saat periodontitis menyebabkan peningkatan penanda resorpsi tulang yaitu TRAP. Jintan hitam memiliki komponen utama berupa Thymoquinone (TQ) yang berperan sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh minyak jintan hitam pada tikus Sprague dawley model periodontitis. Tiga puluh tiga ekor tikus Sprague dawley jantan dibagi ke dalam 3 kelompok: kelompok perlakuan minyak jintan hitam (K1), kelompok kontrol sehat (K2), dan kontrol negatif (K3). Bakteri Aggregatibacter actinomycetecomitans dengan kekeruhan 1 McFarland sebanyak 0.2 mL diinjeksi pada sulkus ginggiva gigi insisivus bawah tikus selama 7 hari. Hewan coba pada kelompok perlakuan diberi minyak jintan hitam selama 5 hari. Setelah di eutanasia, tulang alveolar dibuat preparat histologi. Jumlah osteoklas dihitung menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400x. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan jumlah ekspresi TRAP yang signifikan pada kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol negatif dan tidak terdapat perbedaan ekspresi TRAP signifikan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol sehat. Data penelitian ini menunjukkan bahwa minyak jintan hitam mampu menurunkan ekspresi TRAP pada tulang alveolar, yang berarti dapat menghambat resorpsi tulang alveolar. | Tartrate Resistant Acid Phosphatase (TRAP) affects the alveolar bone destruction in periodontitis. Increase osteoclast activity can increase bone resorption marker, TRAP. Black cumin is a rich source of Thymoquinone which act as antioxidation. The aim of the present study was to investigate the effect of black cumin oil on experimental model of periodontitis in Sprague dawley rat. Thirty three male Sprague dawley rats were divided into 3 groups: a treatment group (K1), a healthy control group (K2), a negative control group (K3). Periodontitis in rat was made by bacteria induction of A. actinomycetemcomitans on the mandibular incisors with 0.2 mL of McFarland for 7 days. Rats in treatment group were administerd black cumin oil for 5 consecutive days. Once in euthanasia, the alveolar bone is made of histology. Total of osteoclast is calculated using a microscope with 400x magnification. The result showed a significant difference of TRAP expression between treatment group and negative control and no significant difference of TRAP expression betweeen treatment group and healthy group. The data of the present study suggest that the black cumin oil could decrease TRAP expression in alveolar bone, which in thurn might inhibit alveolar bone resorption. | |
| 22848 | 25390 | H1F013075 | GEOLOGI DAN PERHITUNGAN SUMBER DAYA BATUBARA MENGGUNAKAN PENDEKATAN REGRESI DAERAH MAMPAI JAYA, KECAMATAN KURUN, KABUPATEN GUNUNG MAS, KALIMANTAN TENGAH | Batubara merupakan batuan yang memiliki nilai ekonomis sebagai bahan galian bukan logam. Batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Lokasi penelitian berada di desa Mampaijaya, Kecamatan Kurun, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan tengah. Geomorfologi area penelitian terdiri dari 3 satuan, yaitu satuan dataran banjir (F 1), satuan perbukitan zona sesar (S 1), satuan dataran denudasional (D 6). Satuan ini dibagi berdasarkan klasifikasi Van Zuidam (1985). Stratigrafi daerah penelitian di bagi menjadi 4 satuan, dari tua ke muda yaitu satuan batupasir, satuan batubara, satuan batupasir batulempung, satuan intrusi, satuan fluvial. Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian berupa sesar geser kanan (right slip fault) (Rickard, 1972) dan sesar naik geser kanan (right reverse slip fault) (Rickard, 1972). Proses pembentukan batuan sedimen pada wilayah penelitian terjadi saat eosen. Pada kala itu proses sedimentasi berulang secara terus menerus menghasilkan satuan batupasir. Kenaikan muka air laut mengakibatkan arus pembawa sedimen melemah. Pada saat suplai sedimen dan detritus biologi setimbang akan diendapkan satuan gambut. Kesetimbangan yang sering bergeser mengakibatkan batubara yang terbentuk multiparting. Setelah suplai air melewati batas setimbang, sedimen mulai terbawa kembali menghasilkan satuan batupasir batulempung. Pada analisis palinologi ditemukan fosil berupa cicatricosisporites dorogensi yang hanya dapat di temukan pada zonasi palinologi indonesia bagian barat yang merupakan bagian dari lempeng eurasia. Hal tersebut membuktikan proses tumbukan lempeng eurasia dan fragmen kontinen gondwana. Proses tumbukan tersebut menghasilkan subduksi yang menghasilkan batuan intrusi pada wilayah penelitian. Setelah proses denudasional yang lama terbentuklah bentukan muka bumi seperti sekarang dan diendapkan endapan fluvial didaerah penelitian. Persebaran batubara pada area penelitian digambarkan sesuai dengan hukum V dan persebaran batubara permukaan diperoleh dengan cara korelasi menggunakan metode regresi. Hasil perhitungan volume sumber daya batubara dengan menggabungkan fungsi regresi sejumlah 85797146,48 m3 dengan berat 124405862,4 ton pada luasan 610,12 ha. | Coal is high economic value rock as non-metalic mineral. Coal can be use as fuel. Researce area located at Mampai Jaya Vilage, Kurun District, Gunung Mas Regency, Central Kalimantan. Area researce geomorphology consists of 3 unit, that is flood plain unit(F 1), fault hill zone (S 1), denudational plain unit (D6). This unit divide based on Van Zuidam clasification (1985). Area researce stratigraphy divide to 4 unit, from old to young that are sandstone unit, coal unit, claystone sandstone unit, intrusion unit, and fluvial unit. Geologi structure that develop at reaserch area are right slip fault and right reverse slip fault (Rickar, 1972). Process Sedimen rock happened at Eosen. At that time sedimentation process repeated again and again produced sandstone unit. Sea level rise causing sedimen carrier current weakened. At the time where sedimen suplay and biological detritus balanced there will be peat deposit. Balanced that usually moved cousing coal with multiparting form. After water suplay break balance line, sedimen started carryed again produce claystone sandstone unit. Palinology analiysis founded cicatricosisporites dorogenesis fossil that only found at palinology zone of western Indonesian which are eurasia plate part. That proof collision between eurasia plate and gonwana fragmen. That colision process produce intrution unit. Long process danudationnal resulted morfologi form this day and fluvian deposit deposited at researce area.Surface coal distribution at research area mada with v rule and underground corelation distribution obtain with regression methot. The volume result of coal resource with regression fungtion is 85797146,48 m3 with weight 124405862,4 ton at area 610,12 ha. | |
| 22849 | 25391 | I1B015042 | PENGARUH HIPNOTERAPI TERHADAP PENURUNAN NYERI KEPALA PADA LANSIA HIPERTENSI DI DESA GUNUNGLURAH KECAMATAN CILONGOK | PENGARUH HIPNOTERAPI TERHADAP PENURUNAN NYERI KEPALA PADA LANSIA HIPERTENSI DI DESA GUNUNGLURAH KECAMATAN CILONGOK Dwi Retnaningtyas1, Arif Setyo Upoyo2, Rahmi Setiyani3 ABSTRAK Latar Belakang: Nyeri kepala pada lansia hipertensi disebabkan karena arteri mengalami penurunan elastisitas dan terjadi vasokontriksi pembuluh darah sehingga pasokan darah yang menuju ke bagian kepala menjadi terhambat. Hipnoterapi diduga mampu menurunkan nyeri kepala dengan merileksasikan pikiran sehingga pemberian sugesti positif guna menurunkan nyeri kepala dapat dengan mudah dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui lama pengaruh hipnoterapi terhadap penurunan nyeri kepala. Metode: Penelitian ini adalah quasi eksperimental non-randomized pretest-posttest with control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang mengikuti posyandu lansia dengan sempel berjumlah 42 responden, teknik sampling yang digunakan adalah non probability sampling dengan pendekatan consecutive sampling. Instrumen yang digunakan untuk pengukuran nyeri dalam penelitian ini yaitu Visual Analog Scale (VAS). Uji yang digunakan yaitu uji Friedman dengan post hoc Wilcoxon dan Uji Man-Whitney berulang. Hasil: Mayoritas responden dalam penelitian ini yaitu SD, tidak bekerja, dan berjenis kelamin perempuan. Hasil menunjukan terdapat penurunan nyeri kepala pada kelompok intervensi dari menit ke 0, 15 dan 30. Hasil dari kelompok kontrol mengalami penurunan nyeri kepala yang signifikan pada menit ke 30 serta terdapat perbedaan nyeri kepala antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada menit ke 0 dan 15 (p=0,005 dan p=0,002). Kesimpulan: Hipnoterapi dapat menurunkan nyeri kepala pada lansia hipertensi dari menit ke-0, 15 dan 30. Kata Kunci: Hipertensi, Hipnoterapi, Nyeri kepala | THE EFFECT OF HYPNOTHERAPY ON DECREASING THE HEADACHE OF ELDERLY WITH HYPERTENSION IN GUNUNGLURAH VILLAGE, CILONGOK Dwi Retnaningtyas1, Arif Setyo Upoyo2, Rahmi Setiyani3 ABSTRACT Background: Headache in elderly with hypertension was caused by the decrease in arteries’ elasticity and a vasoconstriction of blood vessels so that the blood supply to the head was obstructed. Hypnotherapy was assumed to be able to reduce the headache by relaxing the mind so that giving positive suggestions to reduce headache can be easily done. The purpose of this study was to determine the duration of the effect of hypnotherapy on decreasing headache. Method: This research was a quasi-experimental research using non-randomized pretest-posttest with control group design. The population of this research was elderly who join posyandu lansia (elderly health service post) with the sample of 42 respondents. The technique used in this research was non probability sampling with consecutive sampling approach. The instrument used for pain measurement in this study was the Visual Analog Scale (VAS). The test used in this research was the Friedman test with post hoc Wilcoxon and the recurred Man-Whitney test. Results: The majority of respondents in this study were educated in Elementary school, not working and women. The result showed a decrease in headache in the intervention group from minutes 0, 15 and 30. Meanwhile, results from the control group showed a significant decrease in headache at minutes 30 and there were differences in headache between the intervention group and the control group at minutes 0 and 15 ( p = 0.005 and p = 0.002). Conclusion: Hypnotherapy could decrease headache of elderly people with hypertension from minutes 0, 15 and 30. Keywords: Hypertension, Hypnotherapy, Headache | |
| 22850 | 25392 | I1B015048 | Hubungan Fungsi Afektif Keluarga dengan Mekanisme Koping Penderita Tuberculosis di Kecamatan Rawalo | Latar Belakang : Penyakit tuberculosis (TB) merupakan penyakit menular yang dinilai memiliki beban yang cukup berat dan memiliki dampak negatif di berbagai aspek. Dampak negative tersebut mendorong penderita TB melakukan tindakan negatif yang merugikan atau mekanisme koping maladaptif. Contohnya yaitu banyak penderita TB yang mengalami putus pengobatan. Oleh karena ini keluarga sebagai individu terdekat dengan penderita TB dapat melaksanakan fungsi afektif dalam keluarga untuk mencegah penderita menggunakan mekanisme koping maladaptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fungsi afektif keluarga dengan mekanisme koping penderita TB. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode cross sectional. Teknik sampling menggunakan total sampling, yakni sebanyak 53 penderita tuberculosis yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner fungsi afektif keluarga dan kuesioner mekanisme koping. Analisis data menggunakan Uji Spearman. Hasil : Penelitian menunjukan bahwa antara fungsi afektif keluarga dengan mekanisme koping memiliki nilai signifikansi sebesar p=0,000 (p<0,05). Kesimpulan : Ada hubungan antara fungsi afektif keluarga dengan mekanisme koping penderita tuberculosis di Kecamatan Rawalo. | Background: Tuberculosis (TB) is an infectious disease that is considered to have a heavy burden and has a negative impact on various aspects. The negative impact encourages TB sufferers to do adverse negative actions or maladaptive coping mechanisms. For example, there are many TB sufferers who experience treatment breaks. Therefore this family as the closest individual to TB patients can carry out affective functions in the family to prevent patients from using maladaptive coping mechanisms. This study aims to determine the relationship between family affective function and coping mechanisms of TB patients. Method: T his study uses quantitative research with a cross sectional method. The sampling technique uses total sampling, which is as many as 53 tuberculosis sufferers who meet the inclusion criteria. Data were collected using family affective function questionnaires and coping mechanism questionnaires. Data analysis using Spearman Test. Result: The results shows that between family affective functions and coping mechanisms have a significance value of p = 0,000 (p <0.05). Conclution: There is a relationship between the affective function of the family and the coping mechanism for tuberculosis patients in Rawalo District. | |
| 22851 | 25393 | G1D014014 | Hubungan mekanisme koping dengan kualitas tidur pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Prof.Dr.Margono Soekarjo Purwokerto | Latar Belakang: Pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa sering kali dihadapkan dengan berbagai stressor. Stresor dapat berakibat buruk terhadap kualitas tidur. Hal tersebut bergantung pada mekanisme koping yang digunakan, sehingga mekanisme koping diduga mempengaruhi kualitas tidur. Tujuan: Mengetahui hubungan karakteristik responden serta mekanisme koping terhadap kualitas tidur pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling dengan jumlah sampel 59 responden yang memenuhi kriteria inkusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan untuk mengukur mekanisme koping yaitu The Ways Of Coping dan untuk mengukur kualitas tidur yaitu Pittsburg Sleep Quality Index (PSQI). Data tersebut dianalisis menggunakan uji statistik Fisher's Exact Test. Hasil: Hasil uji Fisher's Exact Test untuk mekanisme koping, jenis kelamin, dan usia, menunjukkan bahwa tidak ada hubungan terhadap kualitas tidur, dengan hasil masing-masing nilai p = 1,00, p = 1,00, dan p = 0,05. Hasil uji Fisher's Exact Test pada lama menjalani HD dan kadar Hb menunjukkan bahwa ada hubungan terhadap kualitas tidur, dengan masing-masing nilai p = 0,01 dan p= 0,03. Kesimpulan: ada hubungan bermakna antara lama menjalani hemodialisa dan kadar HB dengan kualitas tidur dan tidak ada hubungan bermakna antara mekanisme koping, jenis kelamin, dan usia dengan kualitas tidur pasien gagal ginjal kronik yang menjalani HD. | Background: On several patients that having a chronical kidney failure often faced with few of stressors especially that undergo haemodialysis (Hd) treatment. These stressors could affect badly to sleep quality. This thing depends on coping mechanism that used, so that coping mechanism estimated affecting sleep quality. This study aims to determine the relationship between characteristic respondents, coping mechanism with sleep quality on patient who had chronical kidney failure that undergo haemodialysis treatment. Methods: This study design is cross-sectional research design with correlation analytic method. consecutive sampling was chosen as sampling technique with patients’s respondeent ( 59 sample). Data analysis used Chi-square and Fisher’s Exact Test. Results: The mayority of patients’s respondent are male, adult age, duration of hemodialysis <6 months, anemia, adaptive coping mechanism and poor sleep quality. result the value of coping mechanism, gender and age, each of the result shown there’s no relation to sleep quality, with each of value p = 1,00, p = 1,00 and p = 0,05. The result on patients duration of hemodialysis <6 months and rate of Hb shown that there is relation between on each parameter and sleep quality, with each value p = 0,01 and p = 0,03. Conclusions: There is a meaningful relationship between respondent that undergo haemodialysis and rate of Hb treatment and there is no meaningful relationshipbetween coping mechanism, gender and age, to sleep quality on a patient that had chronical kidney failure undergo HD treatment. | |
| 22852 | 25394 | I1B015029 | Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Media Aplikasi Smartphone Bunda Cerdas Bayi Sehat (BCBS) Terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil Tentang Persalinan | Latar Belakang: Setiap ibu hamil akan mengalami perubahan psikologis, diantaranya kecemasan yang berlebih menjelang persalinan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang persalinan. salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu memberikan pendidikan kesehatan tentang persalinan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media aplikasi smartphone BCBS terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang persalinan. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasy experimental pretest and posttest with control group. Teknik pengambilan data yaitu quota sampling. Jumlah sampel 48 orang (24 kelompok intervensi dan 24 kelompok kontrol). Pengumpulan data menggunakan kuesioner pengetahuan dan sikap. Uji yang digunakan yaitu uji Wilcoxon, Mann Whitney, Paired sample t test dan Non paired sample t test. Hasil: Rerata usia kelompok intervensi adalah 27,61 tahun sedangkan pada kelompok kontrol 28 tahun. Mayoritas responden berpendidikan SMA/SMK, ibu rumah tangga dan multigravida. Tidak terdapat perbedaan skor pengetahuan dan sikap sebelum diberikan pendidikan pendidikan kesehatan dengan aplikasi BCBS dengan nilai masing-masing p yaitu 0,289 dan 0,828 (p>0,05). Terdapat perbedaan skor pengetahuan dan sikap setelah diberikan pendidikan kesehatan dengan aplikasi BCBS dengan nilai p yang sama yaitu 0,000 (p<0,05) antara kelompok intervensi dan kontrol. Kesimpulan: Aplikasi BCBS efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang persalinan. | Background: Every pregnant woman will experience psychological changes, including excessive anxiety before thebirth. This can be caused by lack of knowledge about labor. One effort that can be done is to provide health education about childbirth. Objective: To determine the effect of health education with BCBS applications on the knowledge and attitudes of pregnant women about labor. Research Methods: This study used a quasy experimental pretest and posttest with control group. The data collection technique was quota sampling. The total sample was 48 people (24 intervention groups and 24 control groups). Data collection uses a knowledge and attitude questionnaire. The used test were Wilcoxon test, Mann Whitney, paired sample t test and non paired sample t test. Results: The average age of the intervention group was 27.61 years while in the control group was 28 years. The majority of respondents graduated high school / vocational education, housewives and multigravidas. There were no differences in the scores of knowledge and attitudes before being given health education in the BCBS application with the values of each p being 0.289 and 0.828 (p> 0.05). There were differences in the scores of knowledge and attitudes after being given health education with the BCBS application with the same p value of 0,000 (p <0.05). Conclusion: BCBS application is effective to increase the knowledge and attitudes of pregnant women about labor. | |
| 22853 | 25945 | A1D015175 | APLIKASI PUPUK ORGANIK CAIR DAN BIO P60 PADA BUDIDAYA TANAMAN KEMANGI SECARA HIDROPONIK SISTEM SUMBU | Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh penggunaan pupuk organik cair terhadap terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kemangi, (2) mengetahui pengaruh penggunaan Bio P60 terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kemangi, (3) mengetahui interaksi antara konsentrasi pupuk organik cair dan Bio P 60 terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kemangi. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan April 2019 hingga Juni 2019 di screen house yang terletak di Kroya Kabupaten Cilacap dan di Laboratorium Agrohortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi pupuk organik cair (POC) yang terdiri dari 4 taraf yaitu 1% AB Mix (kontrol), 1,5% POC, 2% POC, dan 2,5% POC. Faktor kedua yaitu konsentrasi Bio P60 yang terdiri dari 3 taraf yaitu 0%, 0,4%, dan 0,8%. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, kehijauan daun, panjang akar, bobot tajuk segar, bobot tanaman segar, bobot akar segar, bobot tajuk kering, bobot tanaman kering, dan bobot akar kering. Data yang terkumpul kemudian dianalisis keragamannya menggunakan uji F 5%. Apabila pada uji F berbeda nyata dan sangat berbeda nyata maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji DMRT. Hasil Penelitian menunjukan bahwa 1) penggunaan pupuk organik cair pada penelitian ini belum sebaik penggunaan pupuk AB mix dalam meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, kehijauan daun, bobot segar tajuk, bobot segar tanaman, dan bobot kering tajuk; 2) penggunaan Bio P60 pada penelitian ini tidak dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kemangi; 3) tidak ada pengaruh interaksi antara konsentrasi pupuk organik cair dan Bio P60 pada seluruh variabel pertumbuhan dan hasil tanaman kemangi | This research aimed to (1) examine the effect of liquid organic fertilizer on the growth and yield of basil plants, (2) examine the effect of Bio P60 on the growth and yield of basil, (3) examine the interaction between the concentration of liquid organic fertilizer and Bio P 60 to growth and yield of basil plants. This research was conducted from April 2019 until June 2019 at the screen house located in Kroya, Cilacap Regency and in the Agrohorticulture Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. This research used a Randomized Complete Block Design (RCBD) in a factorial pattern with 2 factors and 3 replications. The first factor is the concentration of liquid organic fertilizer (POC) which consists of 4 levels, namely 1% AB Mix (control), 1.5% POC, 2% POC, and 2.5% POC. The second factor is the concentration of Bio P60 which consists of 3 levels, namely 0%, 0.4%, and 0.8%. Observation variables included plant height, number of leaves, leaf area, leaf greenness, root length, crown fresh weight, plant fresh weight, root fresh weight, crown dry weight, plant dry weight, and root dry weight. The data collected was then analyzed for diversity using a 5% F test. If the F test is significantly different and very significantly different, further tests are carried out using the DMRT test. The results showed that 1) the use of liquid organic fertilizer in this study was not as good as the use of AB mix fertilizer in increasing plant height, number of leaves, greening of leaves, canopy fresh weight, plant fresh weight, and canopy dry weight; 2) the use of Bio P60 in this study could not increase the growth and yield of basil plants; 3) there is no interaction effect between the concentration of liquid organic fertilizer and Bio P60 on all growth variables and basil yields. | |
| 22854 | 25396 | E1A014280 | PROYEKSI IDE PIDANA KERJA SOSIAL DALAM SISTEM PEMIDANAAN INDONESIA | Pidana kerja sosial adalah pidana yang menempatkan terpidana kedalam situasi untuk melakukan suatu pekerjaan dengan waktu tertentu tanpa diberikan upah. Indonesia mulai memperkenalkan pidana kerja sosial sejak tahun 1992 dalam rangka pembaharuan hukum pidana Indonesia. Pidana kerja sosial di Indonesia dirumuskan dalam Pasal 95 RKUHP Tahun 2018. Berdasarkan pasal tersebut pidana kerja sosial dapat diberikan apabila tindak pidananya diancam dengan pidana penjara dibawah 5 (lima) tahun, dan hakim menjatuhkan pidana penjara tidak lebih dari 6 (enam) bulan atau pidana denda tidak lebih dari golongan I atau tidak lebih dari Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah). Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis sosiologis (Social Legal Aproach). Spesifikasi penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Jenis dan sumber data yang dipergunakan adalah data primer yang diperoleh langsung dari narasumber serta data sekunder yang digunakan untuk mendukung data primer. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa proyeksi ide pidana kerja sosial dalam sistem pemidanaan Indonesia memberikan warna baru dalam sistem pemidanaan Indonesia. Pidana kerja sosial diharapkan dapat membatasi penggunaan pidana penjara jangka pendek, sehingga nantinya orang yang melakukan tindak pidana ringan tidak dimasukan ke dalam penjara dan dapat terhindar dari efek negatif pengenaan pidana penjara. Hambatan yang mungkin akan dihadapi dalam penerapan pidana kerja sosial yang pertama adalah belum adanya pengaturan mengenai lembaga mana yang akan mengawasi pelaksanaan pidana kerja sosial, dan yang kedua adalah belum siapnya masyarakat Indonesia dengan kehadiran pidana kerja sosial dikarenakan masih ada sebagian masyarakat Indonesia yang beranggapan bahwa pidana penjara adalah satu-satunya jenis pidana yang paling ampuh memberikan rasa jera. | Community service order is a non custodial sentencing disposition whereby offenders serves his sentence by performing a prescribed of hours of community service. Community service order first introduction in Indonesia on 1992 in order to reform the criminal code in Indonesia. community servie order in Indonesia is arranged in draft of criminal code 2018, Article 95. In this article communitu service orde can be given if the imprisonment is under 5 (five) years, and the judge sentence to imprisonment no more than 6 (six) months or forfeit no more than category I (under Rp.1.000.000,00). This research uses social legal aproach, and for reseach spesification in this study are is descriptive research. For the data, this research uses primary data obtained directly from speaker, and uses secondary data to support primary data. Based on the results of the study, can be known that projection of community service order inside the indonesian penal system is give refreshing color for indonesian penal system. Community service order is expected to reduce the uses of short-imprisonement, so in the future the person who commit minor criminal offenses can avoid the negative effect of imprisonement. For the first obstacle that might be faced in implementaion of community service order there is no article that regulates regarding who is the right institution to oversee the community service order. The second obstacle is the indonesian people is not ready to accept community service order, because half of the indonesian peoples is still believe the imprisonement was the perfect way to giving a sense of detterence. | |
| 22855 | 25395 | B1A015066 | FENOLOGI PEMBUNGAAN BEBERAPA JENIS GULMA TERHADAP BERBAGAI FAKTOR LINGKUNGAN DI LAHAN PERTANIAN SERANG, PURBALINGGA | Fenologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang iklim suatu lingkungan yang berpengaruh terhadap penampakan suatu makhluk hidup seperti periode fase pembungaan yang terjadi secara alami pada tumbuhan. Berlangsungnya fase tersebut dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitar, seperti suhu, intensitas cahaya serta kelembapan udara. Penelitian ini sangat penting untuk menentukan keberhasilan waktu mekar bunga. Penelitian ini menggunakan metode survei antara lain pemilihan sampel pengamatan fenologi dan faktor lingkungan kemudian dianalisis secara deskriptif. Parameter yang diamati adalah waktu membukanya bunga terhadap faktor lingkungan. Hasil penelitian menunjukan bahwa fenologi mekarnya bunga gulma yang paling cepat terjadi pada bunga Sonchus oleraceus sedangkan paling lama terjadi pada bunga Ageratum conyzoides. Faktor lingkungan yang mempengaruhi pemekaran bunga, optimal pada siang hari dengan suhu udara berkisar 24,2-27,9 oC, dan intensitas cahaya 679-1490 lux. | Phenology is a study of the climate of an environment that influences the appearance of a living creature such as the period of flowering that occurs naturally in plants. The phase is influenced by the state of the surrounding environment, such as temperature, light intensity and humidity. This research is very important to determine the success of flower bloom. This study uses a survey method between the selection of phenology research samples and Environmental factors then analyzed descriptively. The parameter that is considered is the time to open flowers to environmental factors.The results showed that the fastest blooming of the weed flower phenology occurred in the flowers of Sonchus oleraceus while the longest occurred in the flowers of Ageratum conyzoides. Environmental factors that affect flower expansion, are optimal during the day with temperatures reaching 24,2-27,9oC, and light intensity 679-1490 lux. | |
| 22856 | 25397 | B1A015073 | FENOLOGI BUNGA BERBAGAI TANAMAN PERTANIAN DI DESA SERANG KABUPATEN PURBALINGGA | Fenologi adalah ilmu mengenai respon makhluk hidup terhadap perubahan lingkungan seperti temperatur, intensitas cahaya, kandungan hara, pH, dan kelembaban. Salah satu respon fenologi adalah fase pembungaan suatu tumbuhan, perubahan faktor abiotik, akan menyebabkan perubahan pada waktu pembungaan tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fenologi berbagai tanaman pertanian di desa Serang beserta faktor lingkungan yang berpengaruh. Penelitian dilakukan secara survei pada beberapa tanaman pertanian di desa Serang untuk mengamati fenologi bunganya. Bunga tanaman yang diamati berasal dari genus Solanum, Brassica, Phaseolus, dan Allium. Variabel terikat yang diamati yaitu waktu bunga menutup dan membuka, serta waktu bunga kuncup dan mekar. Variabel bebas yang diamati yaitu faktor abiotik meliputi suhu udara, intensitas cahaya, dan kelembaban. Pengamatan dilakukan pada pagi hari (05.00-08.00 WIB), siang hari (10.00-13.00 WIB), dan sore hari (15.00-17.00 WIB) setiap 7 hari sekali selama 1 bulan. Hasil pengamatan fenologi tersebut dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui korelasi antara waktu menutup dan membukanya mahkota bunga dengan perubahan faktor abiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenologi bunga Capsicum annuum, Brassica juncea, dan Solanum tuberosum merespon perubahan faktor lingkungan dengan membuka dan menutup mahkota bunga secara berulang. Sementara, bunga Phaseolus vulgaris dan Allium cepa tidak membuka dan menutup mahkota bunga secara berulang. Faktor abiotik yang paling berhubungan dengan membuka dan menutupnya mahkota bunga adalah suhu udara (24,2-27,9 oC) dan intensitas cahaya (679-1490 lux). | Phenology is a study about response of living thing to the environment factors such as temperature, light intensity, nutrition, pH, and humidity. One of phenologycal response is the flowering phase of a plant, changes in abiotic factors will cause changes at the time of flowering plants. The purpose of this study was to determine the phenology of various crops in the village of Serang, Purbalingga and its environmental factors. This study was conducted in a survey on several agricultural crops in the village of Serang, Purbalingga to observe the flower phenology. The flower of agricultural crops that observed came from the genus Solanum, Brassica, Phaseolus, and Allium. The dependent variable studied was time when flower closes and opens, and the time when the flower buds and blooms. The independent variable studied was environmental factors include temperature, light intensity, and humidity. The observation start in the morning (05.00-08.00 am), in the noon (10.00 am -13.00 pm), until afternoon (15.00-17.00 pm), every 7 days for 1 month. Data were analyze descriptively to find out the correlation beetwen the time of closing and opening flower crown with the changes of abiotic factors. This study result that Capsicum annuum, Brassica juncea, and Solanum tuberosum opening and closing their crown when the abiotic factor is change. But, in Phaseolus vulgaris and Allium cepa did not opening and closing their crown when the abiotic factor is change. The most abiotic factor that impact to flower phenology is temperature (24,2-27,9 oC) and light intensity (679-1490 lux). | |
| 22857 | 25398 | F1F014039 | The Signification of the Color Red as Symbol Based on Patti Bellantoni's Color Theory in Lynna Ramsay's Film We Need to Talk about Kevin | Penelitian ini berjudul “The Signification of the Color Red as Symbol Based on Patti Bellantoni’s Color Theory in Lynne Ramsay’s film We Need to Talk about Kevin: A Semiotics Analysis”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari tahu makna dari warna merah sebagai simbol berdasarkan theori warna milik Patti Bellantoni dalam film “We Need to Talk about Kevin” karya Lynne Ramsay dengan menggunakan teori semiotika milik Peirce. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika. Data penelitian didapatkan dari data primer beruba film “We Need to Talk about Kevin” dan data sekunder berupa literatur dan sumber-sumber lain yang mendukung penelitian ini. Selain itu, pembahasan penelitian dibagi menjadi empat bagian sesuai dengan empat dari enam sifat warna merah menurut teori makna warna. Bagian pertama menjelaskan simbol yang memiliki makna merah kuat. Simbol ini muncul sebagai rampu merah yang menyelimuti orang-orang dalam adegan insiden. Bagian kedua menjelaskan simbol yang memiliki makna merah menyimpang. Simbol ini muncul sebagai objek-objek berwarna merah yang muncul dalam adegan dimana Kevin menunjukan sifat menantangnya. Bagian ketiga menjelaskan simbol yang memiliki makna merah gelisah. Simbol ini muncul sebagai jam merah yang muncul dalam adegan dimana Eva dan suaminya sedang bersama. Bagian keempat menjelaskan simbol yang memiliki makna merah murka. Simbol ini muncul sebagai cat merah dan kaleng merah yang mengelilingi Eva dalam beberapa adegan. Di dalam setiap bagian pembahasan, simbol-simbol yang ada dianalisa dengan mengidentifikasi elemen-elemen tanda dan interpretasi kontekstual dan universal yang mereka miliki. Hasil dari penelitian menyimpulkan bahwa film ini berfokus dalam menggunakan warna merah sebagai simbol untuk memaknakan emosi negatif, termasuk kekuatan, penyimpangan, kegelisahan, dan kemarahan. Hal ini dilakukan demi membangun tema dari film yang berpusat pada sudut pandang subjektif Eva mengenai kebiasaan dan perbuatan Kevin. | This research entitled “The Signification of the Color Red as Symbol Based on Patti Bellantoni’s Color Theory in Lynne Ramsay’s Film We Need to Talk about Kevin: A Semiotics Analysis”. It aims to figure out the signification of the color red as symbol based on Patti Bellantoni’s color theory in Lynne Ramsay’s film “We Need to Talk about Kevin” by using Peirce’s semiotic theory. This research uses qualitative method with semiotics approach. The research data is taken from primary data in the form of the film “We Need to Talk about Kevin” and also secondary data in the form of literatures and sources that support the research. Furthermore, the discussion of this study is divided into four main parts which correspondent with four out of the six characteristics that the color red has based on the color theory. The first part explains symbol that signifies powerful red. This symbol takes form as red light that engulfs the characters in the incident scenes. The second part explains symbol that signifies defiant red. This symbol takes form as seven red-colored objects in the scenes where Kevin is showing his defiant behaviors. The third part explains the symbol that signifies anxious red. This symbol takes form as red clock in scenes where Eva and her husband are together. The fourth part explains symbol that signifies angry red. This symbol takes form as red paint and red cans that surround Eva in some scenes. In every part of the discussion, the symbols are analyzed by identifying their sign elements and their contextual and universal interpretations. The research result concludes that the film focuses on utilizing the color red as symbol to signify negative emotions which include power, deviancy, anxiousness, and anger. This is done to build its theme which centers on Eva’s subjective perspective dealing with Kevin’s behavior and action. | |
| 22858 | 25400 | I1B015084 | ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU SENAM LANSIA DI POSYANDU NGUDI UTAMA BERDASARKAN THEORY OF REASONED ACTION (TRA) | ABSTRAK ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU SENAM LANSIA DI POSYANDU NGUDI UTAMA BERDASARKAN THEORY OF REASONED ACTION (TRA) Nur Ahmad Yanu Saputra1, Rahmi Setiyani 2, Galih Noor Alivian 3 Latar Belakang : Berbagai perubahan akan terjadi ketika individu memasuki usia lanjut, baik fisik, psikis, serta sosial. Maka dari itu perlu diadakannya posyandu lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku senam lansia berdasarkan Theory of Reasoned Action. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif analitik dengan metode cross sectional. Teknik sampling menggunakan total sampling, yakni sebanyak 92 lansia yang mengikuti posyandu lansia Ngudi Utama desa Kembangan kecamatan Bukateja. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner adaptasi dari Theory of Reasoned Action. Analisis data menggunakan Uji Chi Square. Hasil : Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden (54.3%) aktif dalam mengikuti kegiatan senam lansia. Mayoritas responden menunjukan tingkat behavioral beliefs yang tinggi (73,8%), outcome evaluation yang besar (62.0%) dan normative beliefs yang tinggi (62.0%). Namun sebagian besar responden menunjukan motivation to comply pada tingkat sedang (48,9%). Terdapat hubungan yang signifikan pada Faktor behavioral beliefs, outcome evaluation, normative beliefs dan motivation to comply dengan perilaku senam lansia (p=0,004, p=0,008, p=0.000, p=0,001). Kesimpulan : Faktor behavioral beliefs, outcome evaluation, normative beliefs dan motivation to comply mempunyai hubungan yang signifikan dengan perilaku senam lansia di posyandu lansia Ngudi Utama Desa Kembangan. Kata kunci: perilaku senam lansia, Theory of Reasoned Action, lansia ¹ Mahasiswa Jurusan Keperawatan, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman 2,3 Jurusan Keperawatan, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman | ABSTRACT ANALYSIS OF FACTORS AFFECTING THE BEHAVIOR OF ELDERLY EXERCISE IN ELDERY INTEGRATED HEALTH POST NGUDI UTAMA BASED ON THEORY OF REASONED ACTION (TRA) Nur Ahmad Yanu Saputra1, Rahmi Setiyani 2, Galih Noor Alivian 3 Background: Various changes will occur when the individual enters the elderly, both physical, psychic, as well as social. Therefore, the eldery integrated health post should be held. The study aims to analyse the factors affecting the behavior of elderly exercise based on the Theory of Reasoned Action. Research Methods: This research use quanitative analytical research with cross sectional methods. The sampling technique uses Total Sampling, namely as many as 92 elderly who participated in the posyandu in the elderly Ngudi Utama village in Kembangan, Bukateja sub-district. Data is collected using a questionnaire about adaptation of Theory of Reasoned Action. Data analysis using Chi Square Test. Results: The results showed that most of the respondents (54.3%) Active in following elderly exercise activities. The majority of respondents showed a high level of behavioral beliefs (73.8%), a large evaluation outcome (62.0%) and normative beliefs high (62.0%). However, most of the respondents showed motivation to comply on moderate levels. There is a significant link to behavioral beliefs factors, outcome evaluation, normative beliefs and motivation to comply with elderly exercise behaviors (p = 0,004, p = 0,008, p = 0.000, p = 0.001). Conclusions: Behavioral factors beliefs, outcome evaluations, normative beliefs and motivation to comply have a significant relationship with the behavior of elderly exercise at the Elderly Integrated Health Post Ngudi Utama in Kembangan Village. Keywords: elderly exercise behavior, Theory of Reasoned Action, the elderly ¹ Nursing Department Student, Health Sciences Faculty, Jenderal Soedirman University. 2,3 Nursing Department, Health Sciences Faculty, Jenderal Soedirman University | |
| 22859 | 25401 | B1J014104 | Penggunaan Berbagai Macam Medium Untuk Pertumbuhan Miselium Coprinus comatus Guna Penyediaan Bibit F1 | Coprinus comatus merupakan salah satu jenis jamur edibel dengan tubuh buah yang menyerupai paha ayam, mengandung bahan-bahan penting yang bermanfaat bagi tubuh manusia seperti protein, karbohidrat, dan lemak. Produksi jamur C. comatus di Indonesia masih tergolong rendah karena belum banyak yang mengembangkannya. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budidaya jamur adalah kualitas bibit yang digunakan. Pembuatan bibit dimulai dengan penyediaan kultur murni berupa bibit F0 (stock culture) kemudian bibit F1 (starter). Bibit F1 jamur adalah bibit induk turunan pertama yang sangat mempengaruhi kualitas bibit pada turunan berikutnya. Penelitian terkait jenis medium yang baik untuk pertumbuhan miselium jamur diperlukan guna penyediaan bibit F1 sehingga dapat meningkatkan produksi jamur C. comatus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jenis medium terhadap pertumbuhan miselium C. comatus serta mengetahui medium terbaik untuk pertumbuhan miselium C. comatus guna penyediaan bibit F1. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan berupa perbedaan jenis medium yaitu serealia (jagung, millet, dan sorgum), serta kacang-kacangan (kacang hijau dan kedelai). Tiap perlakukan diulang sebanyak 6 kali sehingga didapatkan 30 unit percobaan. Variabel terikat yaitu pertumbuhan miselium C. comatus, sedangkan variabel bebasnya berupa jenis medium yang digunakan. Parameter utama yaitu kecepatan pertumbuhan miselium C. comatus sedangkan parameter pendukung meliputi laju pertumbuhan miselium, ketebalan miselium, pH medium dan rasio C/N. Hasil penelitian memunjukkan bahwa perbedaan jenis medium berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan miselium C. comatus. Hasil uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) menunjukkan bahwa medium D (sorgum) merupakan jenis medium terbaik untuk pertumbuhan miselium C. comatus dengan rerata kecepatan pertumbuhan 0,424 cm/hari. | Coprinus comatus is one type of edible mushroom with a fruiting body that resembles chicken thighs, containing important ingredients that are beneficial to the human body such as protein, carbohydrates, and fat. C. comatus mushroom production in Indonesia is still relatively low because not many have developed it. One of the factors that determine the success of mushroom cultivation is the quality of seeds used. Seedling production begins with the provision of pure culture in the form of stock culture F0 seeds, then F1 seeds (starter). Mushroom F1 seeds are the first hereditary seedlings that greatly affect the quality of seedlings in the next derivative. Research related to the type of medium that is good for the growth of fungal mycelium is needed to provide F1 seeds so that it can increase the production of C. comatus mushrooms. This study aims to determine the effect of different types of medium on the growth of C. comatus mycelium and to know the best medium for the growth of C. comatus mycelium for the supply of F1 seeds. This study used an experimental method on a laboratory scale a Completely Randomized Design (CRD). Treatment in the form of differences in the types of medium in the form of cereals (corn, millet, and sorghum), as well as beans (green beans and soybeans). Each treatment was repeated 6 times to get 30 experimental units. The dependent variable is the growth of C. comatus mycelium, while the independent variable is the type of medium used. The main parameters are the speed of growth of C. comatus mycelium (mycelium length on growth medium) while supporting parameters include mycelium growth rate, mycelium thickness, pH of medium and C / N ratio. The results of the study showed that diferrent types of medium had a significant effect on the growth of mycelium C.comatus. Duncan Multiple Range Test (DMRT) test results showed that medium D (sorghum) is the best type of medium for C.comatus mycelium growth with a mean growth rate of 0,424 cm/day. | |
| 22860 | 25946 | A1L114029 | KARAKTER PERTUMBUHAN DAN FISIOLOGI LIMA VARIETAS PADI YANG DIBUDIDAYAKAN SECARA SALIBU DENGAN APLIKASI BIOPROTEKTOR | Padi merupakan tanaman budidaya yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Nasi putih merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia yang di konsumsi setiap hari, maka dari itu pola konsumsi beras dalam bentuk nasi putih tahun 2011-2018 secara umum cenderung meningkat. Rata-rata konsumsi beras per kapita seminggu yang berasal dari nasi putih dari Maret 2011 ke Maret 2018 meningkat sebesar 67 persen. Peningkatan konsumsi ini harus di imbangi dengan upaya peningkatan produktivitas lahan melalui peningkatan indeks panen dari 2 sampai 3 bahkan sampai 4 kali panen dalam 1 tahun menggunakan teknologi salibu. Penelitian ini bertujuan untuk :1) mengkaji pengaruh pemberian Bioprotektor terhadap karakter pertumbuhan lima varietas padi pada salibu pertama yang dibudidayakan secara jajar legowo super, 2) mengkaji pengaruh pemberian Bioprotektor terhadap karakter fisiologis lima varietas padi pada salibu pertama yang dibudidayakan secara jajar legowo super, 3) mengetahui varietas yang paling baik digunakan untuk salibu padi, 4) mengetahui pola hubungan antar karakter terhadap hasil padi. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Karang Tengah, Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini berlangsung selama kurang lebih 5 bulan yaitu mulai Maret hingga Juni 2018. Rancangan penelitian menggunakan rancangan petak terbagi (split plot design) dengan rancangan dasar berupa Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan empat ulangan. Main plot adalah BioProtector yang terdiri atas 2 aras yaitu tanpa BioProtector dan dengan BioProtector (180 ml). Sub-plot nya adalah varietas yang terdiri atas 5 aras yaitu varietas Inpago Unsoed 1, Inpari 24, Inpari 32, Inpari 43 dan Logawa. Karakter yang diamati meliputi kerapatan stomata, jumlah klorofil, laju asimilasi bersih, tinggi tanaman, waktu berbunga, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah, persentase gabah isi, dan bobot gabah per rumpun. Hasil menunjukkan bahwa aplikasi BioProtector berpengaruh nyata pada karakter bobot gabah per rumpun. Varietas memberikan pengaruh nyata pada jumlah klorofil, waktu berbunga, dan panjang malai. Karakter laju asimilasi bersih berpengaruh nyata akibat adanya interaksi dari varietas terhadap penggunaan bioprotektor. Karakter yang berhubungan erat dan berpengaruh langsung tinggi terhadap hasil adalah kerapatan stomata, jumlah anakan produktif,dan jumlah gabah, sehingga karakter ini dapat digunakan sebagai indikator seleksi padi daya hasil tinggi. Kata kunci: Padi, Salibu, Bioprotektor, Varietas padi, Jajar legowo super, Karakter, Korelasi. | Rice is a very important crop for the people of Indonesia. White rice is a staple food of Indonesian people which is consumed every day, therefore the pattern of rice consumption in the form of white rice in 2011-2018 generally tends to increase. The average of rice consumption every people in a week that comes from white rice from March 2011 to March 2018 increased by 67 percent. This increase in consumption must be balanced with efforts to increase land productivity through an increase in the harvest index from 2 to 3 even up to 4 times a harvest in 1 year using the salibu technology. This study aims to: 1) examine the effect of bioprotector application to the growth character of the five varieties of rice cultivated in salibu rice cultivation in super legowo cropping pattern.2) examine the effect of Bioprotector application on the physiological characteristics of the five varieties of rice cultivated in salibu rice cultivation in super legowo cropping pattern. 3) discover which varieties are best used for salibu. 4) discover pattern of relationships between characters towards rice yields. This research was conducted in Karang Tengah Village, Kemangkon District, Purbalingga Regency. This study lasted for approximately 5 months starting from March to June 2018. The design of the study used a split plot design with a basic design form of a Complete Randomized Block Design (CRBD) with four replications. The main plot is a Bioprotector consisting of 2 levels, namely without Bioprotector (B0) and with Bioprotector (B1) (180 ml). The sub-plot is a varieties consisting of 5 levels, namely Inpago Unsoed 1, Inpari 24, Inpari 32, Inpari 43 and Logawa.The characters observed included stomata density, amount of chlorophyll, net assimilation rate, plant height, flowering time, number of productive tillers, panicle length, number of grains, percentage of filled grain, and grain weight per clump. The results show that the BioProtector application has significant effect on grain weight per clump. The treatment of varieties significantly affected the amount of chlorophyll, flowering time, and panicle length. There is interaction between Bioprotector and varieties effect on the net assimilation rate.Characters that are closely related and have a high direct effect on rice yield are stomata density, number of productive tillers, and number of grain, so that this character can be used as an indicator of high yield power rice selection. |