Artikelilmiahs

Menampilkan 19.421-19.440 dari 50.081 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1942125724F1J012028Paradoksal Feminisme dalam Novel Hanauzumi karya Jun’Ichi Watanabe
ABSTRAK
Ayu Rosiliana Putri
Paradoksal Feminisme
dalam Novel Hanauzumi karya Jun’Ichi Watanabe
Universitas Jenderal Soedirman
S1 Sastra Jepang
2019

Pembimbing Utama : Dr. Ely Triasih Rahayu, M.Hum Pembimbing Pendamping I : Hartati, M.Hum
Penguji Pendamping II : Idah Hamidah, M.Hum


Penelitian ini menganalisis paradoksal feminisme dalam novel Hanauzumi karya Jun’Ichi Watanabe dengan menggunakan teori feminisme. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukan adanya paradoksal feminisme dengan adanya upayanya memenuhi ambisi pada tokoh utaman namun terjadi perubahan pemikiran didalam perjalanan hidupnya. Data penelitian ini berupa kutipan narasi, dialog dan monolog yang berkaitan dengan bagian cerita yang menunjukkan bentuk-bentuk paradoksla feminisme. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya paradoksal feminisme yang terjadi pada tokoh utaman dalam novel Hanauzumi yang ditunjukan oleh perubahan pola pikir dan kehidupan Gin. Perubahan pandangan pada tokoh utama yang awalnya terlihat sangat feminis berubah seiring berjalanya waktu dan menjadi sebuah paradox, bahwa ambisinya adalah dendam. Feminisme dalam pandangan tokoh Gin yang memudar dan memilih untuk menjadi seorang isteri dengan melepaskan semua usaha dan cita-citanya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa feminisme yang terdapat pada tokoh Gin menjadi paradox sebab kembalinya tokoh Gin sebagai seorang istri dan mengabdi pada suaminya.



Kata kunci : Hanauzumii, paradox, feminisme,

ABSTRACT

Ayu Rosiliana Putri
Paradoxal Feminism
in Hanauzumi’s Novel by Jun’Ichi Watanabe
Jenderal Soedirman University
Japanese Literature
2019

Edviser 1 : Dr. Ely Triasih Rahayu, M.Hum
Edviser 2 : Hartati, M.Hum
Examiner : Idah Hamidah, M.Hum

This study analyses paradoxal feminisn in tha Hanauzumi Novel by Jun'Ichi Watanabe using the theory of feminism. The purpose of this research is to indicate the existence of paradoxical feminism with its efforts to fulfill the ambitions of the main character but there is a change of mind in the course of his life. The research data is in the form of quotations from narratives, dialogues and monologues related to the part of the story that shows paradoxical forms of feminism. The results of this study are the finding of paradoxical feminism that occurs in the main character in Hanauzumi's novel, which is shown by the changing mindset and life of Gin. The change in view of the main character who initially looked very feminist changed with the passage of time and became a paradox, that his ambition was revenge. Feminism in the eyes of Gin fades and chooses to become a wife by giving up all her efforts and ideals. The conclusion of this study is that feminism in Gin's character becomes paradox because the return of Gin as a wife and serving her husband.


Keywords : Hanauzumii, paradox, feminisme,
1942225717D1A015100SUPLEMENTASI TEPUNG BIJI ALPUKAT DALAM PAKAN TERHADAP BOBOT DAN KETEBALAN KERABANG TELUR PUYUHpenelitian ini dilaksanakanuntuk mengkaji suplementasi tepung biji alpukat dalam pakan terhadap bobot dan ketebalan kerabang telur puyuh. Bahan pakan yang digunakan yaitu jagung, dedak padi, bungkil kedelai, tepung ikan, tepung biji alpukat, minyak kelapa sawit, kalsium karbonat (CaCO3), premix, lisin dan metionin. Penelitian dilakukan secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Materi penelitian terdiri dari 100 ekor puyuh betina. Perlakuan tersebut terdiri dari R0 : pakan basal/kontrol; R1 : pakan yang mengandung 3% tepung biji alpukat; R2 : pakan yang mengandung 6% tepung biji alpukat; R3 : pakan yang mengandung 9% tepung biji alpukat. Data yang diperoleh menggunakan analisis variansi. Hasil rataan bobot kerabang telur puyuh dari perlakuan R0, R1, R2, R3 berturut-turut adalah 0,80±0,02; 0,75±0,02; 0,75±0,04; 0,75±0,05 dan rataan ketebalan kerabang telur puyuh dari perlakuan R0, R1, R2, R3 berturut-turut adalah 0,17±0,01; 0,17±0,02; 0,17±0,01; 0,17±0,01. Hasil penelitian menunjukan bahwa suplementasi tepung biji alpukat dalam pakan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot dan ketebalan kerabang telur puyuh. Kesimpulan penelitian adalah suplementasi tepung biji alpukat sampai dengan 9% dalam pakan menghasilkan bobot dan ketebalan keraban telur yang relatif sama. The aim of this research was to know the suplementation of avocado seed flour in feed on the weight and thickness of quail egg shells. . The feed ingredient were used corn, rice bran, soybean meal, fish meal, avocado seed flour, palm oil, calcium carbonate (CaCO3), premix, lysine and methionine. Research conducted an experiment using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replicates. The research material consisted of 100 female quails. The treatment were consists of R0 : basal feed / control ; R1 : feed containing 3% avocado seed flour; R2 : feed containing 6% avocado seed flour; R3 : feed containing 9% avocado seed flour . Data obtained using variance analysis. The average weight of quail egg shells from treatments R0 , R1 , R2 , R3 were 0.80 ± 0.02; 0.75 ± 0.02 ; 0.75 ± 0.04 ; 0.75 ± 0.05 and the average of thickness of the quail egg shell thickness R0, R1, R2, R3 were 0.17 ± 0.01 ; 0.17 ± 0.02 ; 0.17 ± 0.01 ; 0.17 ± 0.01 . The results showed that supplementation of avocado seed flour in feed had no significant effect (P> 0.05) on the weight and thickness of quail egg shells . It can be concluded that the supplementation of avocado seed flour up to 9% in the feed produced relatively the same weight and thickness of egg thickness.
1942326193F1B015044Keberhasilan Implementasi Perdes No. 11 Tahun 2014 Tentang PHBS di Desa Karanglo Kecamatan Cilongok Kabupaten BanyumasABSTRAK
Penelitian ini berjudul Keberhasilan Perdes Nomor 11 Tahun 2014 Tentang Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Di Desa Karanglo Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas menggunakan teori Edward III. Judul tersebut dilatarbelakangi karena saat ini Desa Karanglo menjadi desa terbaik ke III dalam pelaksanaan PHBS se-Indonesia dengan mendapat penghargaan dari Menteri Kesehatan RI. Padahal, desa-desa sekitar karanglo ini masih terbilang tertinggal dalam PHBSnya. PHBS sendiri menjadi masalah yang cukup mengakar di negara berkembang seperti indonesia, khususnya di pedesaan yang masyarakatnya masih primitif. Pemerintah desa dan masyarakat saling mendukung satu sama lain untuk mewujudkan Desa Karanglo yang bersih dan sehat

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa positif dan signifikan pengaruh komunikasi, struktur birokrasi, sumber daya manusia, dan disposisi terhadap Keberhasilan Perdes Nomor 11 Tahun 2014 Tentang Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Di Desa Karanglo Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalam kuantitatif. Pemilihan informan menggunakan teknik proportional stratified random sampling digunakan dengan tujuan untuk memperoleh sampel yang representatif. Pengumpulan data menggunakan pengisian kuisioner, observasi dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah Korelasi Kendall Tau (τ) c, Koefisien Konkordasi Kendall (W), dan Regresi Ordinal.

Hasil penelitian menunjukan bahwa empat faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi yang dikemukakan oleh Edward III mempunyai hubungan positif dan signifikan dalam Implementasi Perdes No 11 Tahun 2014 Di Desa Karanglo Kecamatan Cilongok. Komunikasi yang dilakukan oleh aparatur Desa Karnglo terhadap upaya implementasi PHBS pada masyarakatnya cukup baik sehingga masyarakata dapat memahami baik arti, dan atau prosedur PHBS yang akan dilaksanakan di seluruh desa. Sumberdaya manusia Desa Karanglo sendiri sudah cukup baik, banyak lulusan S1 bahkan ada yang sampai mengenyam pendidikan S2 sehingga masyarakat desa cukup baik dalam menerima informasi. Dalam struktur birokrasi di Desa Karanglo sudah sangat tertata dan rapi, oleh karena itu ini membuat implementasi perdes berjalan dengan baik. Serta disposisi Desa Karanglo juga mendukung dalam pelaksanaan Implementasi Pedres PHBS ini, masyarakat menganggap disposisi yang ada di desa mempermudah dan mendukung jalannya Implementasi Perdes No 11 Tahun 2014 Di Desa Karanglo.
Kata kunci : Desa Karanglo, PHBS.
ABSTRACT
This study is entitled The Success of Perdes Number 11 of 2014 concerning Clean and Healthy Behavior in Karanglo Village, Cilongok Subdistrict, Banyumas Regency using the theory of Edward III. The title was motivated because Karanglo Village is currently the third best village in the implementation of PHBS throughout Indonesia with an award from the Indonesian Minister of Health. In fact, the villages around Karanglo are still lagging behind in PHBS. PHBS itself is a problem that is quite rooted in developing countries such as Indonesia, especially in rural areas where the community is still primitive. The village government and the community support each other to create a clean and healthy Karanglo Village.

The purpose of this study was to find out how positive and significant the influence of communication, bureaucratic structure, human resources, and disposition on the success of Perdes Number 11 of 2014 concerning Clean and Healthy Living Behavior in Karanglo Village, Cilongok District, Banyumas Regency. The method used in this study is quantitative. The selection of informants using proportional stratified random sampling technique was used in order to obtain a representative sample. Data collection uses filling in questionnaires, observation and documentation. The data analysis method used is the Kendall Tau Correlation (τ) c, the Kendall Coordation Coefficient (W), and Ordinal Regression.

The results showed that four factors that influence the success of the implementation proposed by Edward III had a positive and significant relationship in the Implementation of Regulation No. 11 of 2014 in Karanglo Village, Cilongok District. The communication carried out by the Karnglo Village apparatus on the efforts to implement PHBS in the community is quite good so that the community can understand both the meaning and / or procedures of PHBS that will be implemented in all villages. The human resources of Karanglo Village itself are quite good, there are many S1 graduates and some even get S2 education so that the village community is quite good at receiving information. In the bureaucratic structure in Karanglo Village it has been very organized and neat, therefore this makes the implementation of the process work well. As well as the disposition of Karanglo Village also supports the implementation of the PHBS Pedres Implementation, the community considers the disposition in the village to simplify and support the implementation of Perdes No. 11 of 2014 in Karanglo Village.
Keywords: Karanglo Village, PHBS.
1942425723H1F014055GEOLOGI DAN KUALITAS BASALT SEBAGAI BAHAN BANGUNAN BERDASARKAN ANALISIS PETROLOGI, GEOKIMIA, DAN SIFAT KETEKNIKAN DAERAH GUNUNGWETAN DAN SEKITARNYA KECAMATAN JATILAWANG, KABUPATEN BANYUMAS, JAWA TENGAH
Indonesia merupakan negara berkembang. Pemerintah indonesia akan terus meningkatkan pembangunan infrastruktur guna memfasilitasi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan bahan bangunan dengan kualitas yang baik. Lokasi penelitian berada di daerah Gunungwetan dan sekitarnya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Geomorfologi daerah penelitian terbagi menjadi 3 satuan: Satuan Perbukitan Struktural Curam Antiklinal (S9), Satuan Denudasional Bukit Agak Curam (D2) dan Satuan Denudasional Dataran Rendah (D5). Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari 3 satuan: Satuan Batupasir sisipan Batulempung, Satuan Intrusi Basalt, dan Satuan Endapan Aluvial. Struktur geologi yang berkembang adalah Lipatan Antiklin G. Anjir, Sesar Anjak G. Anjir, Sesar Mendatar Kiri Pengadegan, dan Sesar Mendatar Kiri Gunungwetan. Komposisi mineral basalt daerah penelitian, plagioklas (Labradorit-An64Ab36), piroksen, olivin, feldspar, mineral opak, oksida besi, amfibol. Dilakukan metode XRF (X-Ray Flourscene) untuk mengetahui kandungan unsur mayor. Berdasarkan nilai LOI (Loss of Ignition) menunjukan nilai kurang dari 3% yang berarti tidak lapuk dan klasifikasi MIA (Mafic Index Altration) menunjukan nilai lebih dari 50% yang berarti telah mengalami perubahan komposisi atau pelapukan. Nilai kuat tekan dari ketiga sampel basalt yaitu 1038,97 Kg/cm², 1204,45 Kg/cm², dan 1041,67 Kg/cm²; nilai abrasi 7%, 5%, dan 6%; nilai Penyerapan air 1,67%, 0,60%, dan 1,01%. Nilai-nilai tersebut sudah memenuhi standar kualitas. Berdasarkan nilai sifat keteknikan, basalt daerah penelitian direkomendasikan untuk dimanfaatkan sebagai pondasi sedang. Selain itu bisa juga dimanfaatkan untuk pondasi ringan, trotoar, atau batu hias. Indonesia is a developing country. The Indonesian government will continue to improve infrastructure development to facilitate the community. Therefore, good quality building materials are needed. The research location is in the Gunungwetan, Jatilawang District, Banyumas Regency, Central Java Province. The geomorphology of the study area is divided into 3 units: Structurally Steep Hill Anticlinal Unit (S9), Moderately Steep Hill Denudasional Unit (D2) and Lowland Denudational Unit (D5). The stratigraphy of the study area consisted of 3 units: Sandstone Insertion Claystone Unit, Basalt Intrusion Unit, and Alluvial Sediment Unit. The developing geological structure is the Anticline Fold of G. Anjir, Thrust Fault of G. Anjir, the Left-Slip Fault of Pengadegan, and Left-Slip Fault of Gunungwetan. Basalt mineral composition in the study area, plagioclase (Labradorite-An64Ab36), pyroxene, olivine, feldspar, opaque minerals, iron oxide, hornblende. XRF (X-Ray Flourscene) method is used to determine the content of major elements. Based on the value of LOI (Loss of Ignition) shows a value of less than 3% which means it is not weathered and the MIA classification (Mafic Index Altration) shows a value of more than 50% which means that it has undergone changes in composition or weathering. The compressive strength of the three basalt samples was 1038,97 Kg/cm², 1204,45 Kg/cm², and 1041.67 Kg/cm²; abrasion value 7%, 5%, and 6%; the value of water absorption is 1,67%, 0,60%, and 1,01%. This value has met quality standards. Based on the value of engineering properties, the basalt of the study area is recommended to be used as a medium foundation. In addition, it can also be used for light foundations, sidewalks, or decorative stones.
1942525567G1B015002HUBUNGAN PRAKTIK ERGONOMI DENGAN TINGKAT NYERI MUSKULOSKELETAL PADA DOKTER GIGI YANG BEKERJA DI KABUPATEN BANYUMASDokter gigi merupakan profesi yang membutuhkan ketelitian, biasanya dokter gigi melakukan perawatan pada pasien dengan posisi tubuh yang statis dan kaku dalam waktu yang cukup lama sehingga risiko terjadinya Musculoskeletal disorders (MSDs) atau gangguan muskuloskeletal cukup tinggi. Salah satu faktor penyebab gangguan muskuloskeletal yaitu praktik ergonomi dokter gigi yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan praktik ergonomi dengan tingkat nyeri muskuloskeletal pada dokter gigi yang bekerja di Kabupaten Banyumas. Jenis penelitian ini adalah observasi analitik. Rancangan penelitian ini berupa cross sectional study. Lokasi penelitian ini adalah di tempat praktik dokter gigi yang bekerja di Kabupaten Banyumas. Subjek penelitian dipilih dengan cara purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel penelitian sebanyak 33 responden dokter gigi. Cara pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner yaitu kuesioner Cornell Musculoskeletal Discomfort Quesioneires (CMDQ) untuk mengukur tingkat nyeri muskuloskeletal, dan kuesioner Test of Visual Perception (TVP) untuk melihat praktik ergonomi dokter gigi saat melakukan praktik. Hasil penelitian dianalisi dengan Chi-square dan dilanjut dengan uji koefisien kontingensi. Hasil analisis data menunjukkan nilai p=0,005 (p<0,05) dengan C=0,493 sehingga dapat disimpulkan adanya hubungan antara praktik ergonomi dengan tingkat nyeri muskuloskeletal pada dokter gigi yang bekerja di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik ergonomi yang tidak tepat akan meningkatkan risiko terjadinya nyeri muskuloskeletal.

Dentist is a profession which requires thorough actions in dental treatments therefore force the dentists to be in static and stiff positions for a long time. Dentist are at higher risk for work-related musculoskeletal disorders compared to general population. One of the factor that cause the musculoskeletal disorders is improper ergonomic design in dental practice. This research discussed the relation between dental ergonomics and level of musculoskeletal disorders among dentists in Banyumas Regency. The research was an analytical observation using cross-sectional approach. The research was located in dental practices in Banyumas Regency. The study subjects were selected with purposive sampling based on inclusion and exclusion criterias. Thirty-tree dentists were appointed as study subjects. The data were collected using Cornell Musculoskeletal Discomfort Quesioneires (CMDQ) to measure the level of musculoskeletal pain and the Test of Visual Perception Questioner to observe the ergonomic practice respondents. The data was analyzed using Chi-Square test and continued with contingency coefficient test. The analysis showed p-value 0.005 (p<0.05) and C=0.493 which meant there was a relation between dental ergonomics and the level of musculoskeletal disorders among dentists in Banyumas Regency. It is concluded that the improper ergonomic design in dental practices will increase the risk of musculoskeletal disorders.
1942622350A1L011132KAJIAN PEMBERIAN BERBAGAI KONSENTRASI EKSTRAK LIDAH BUAYA (Aloe vera) DAN JENIS PENGEMAS UNTUK MEMPERTAHANKAN KUALITAS BUAH STROBERI (Fragaria spp.)Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsentrasi ekstrak lidah buaya yang tepat, mengkaji jenis pengemas yang baik, dan mengkaji interaksi terbaik antara ekstrak lidah buaya dan jenis pengemas untuk mempertahankan kualitas buah stroberi (Fragaria spp.). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Unsoed untuk perlakuan dan pengukuran variabel pengamatan, sebelumnya dilakukan kegiatan pendahuluan yaitu memanen buah stroberi di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga April 2018. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan 12 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali. Variabel yang diamati adalah susut bobot buah, padatan total terlarut (PTT), kadar air buah, kadar vitamin C, uji organoleptik yang terdiri dari warna, aroma, rasa, tekstur, dan kesukaan. Data pengamatan dianalisis dengan menggunakan uji F pada taraf 5% dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi gel lidah buaya mempengaruhi padatan total terlarut (PTT), kadar vitamin C, dan uji organoleptik tekstur. Jenis pengemas mempengaruhi susut bobot buah, kadar air buah dan uji organoleptik warna. Kombinasi perlakuan mempengaruhi susut bobot buah, padatan total terlarut (PTT), kadar air buah, uji organoleptik warna dan uji organoleptik tekstur.This research aims to examine the exact concentration of aloe vera extract, to examine the good packaging type, and to examine the best interaction between aloe vera extract and packing type to maintain the quality of strawberry fruit (Fragaria spp.). The research was conducted in Agronomy and Horticulture Laboratory of Faculty of Agriculture Unsoed for the treatment and measurement of observation variable, previously conducted preliminary activity that is harvesting strawberry fruit in Serang Village, Karangreja Subdistrict, Purbalingga Regency. The study was conducted from March to April 2018. The experimental design used was Randomized Block Design (RAK) of factorial pattern with 12 treatments and repeated 3 times. The variables observed were shrinkage of fruit weight, total soluble solid (PTT), fruit water content, vitamin C content, organoleptic test consisting of color, aroma, taste, texture, and liking. Observational data were analyzed by using F test at 5% level followed by DMRT (Duncan Multiple Range Test) test. The results showed that the concentration of aloe vera gel influenced total soluble solid (PTT), vitamin C level, and organoleptic test of texture. This type of packaging affects the shrinkage of fruit weight, fruit water content and color organoleptic test. The combination of treatments affects the shrinkage of fruit weight, total soluble solid (PTT), fruit water content, organoleptic test of colour and organoleptic test of texture.
1942725750D1A015189TOTAL BAKTERI DAN pH YOGURT BUNGA TELANG (Clitoria ternatea Linn.) PADA LAMA PENYIMPANAN SUHU DINGIN
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan suhu dingin terhadap total bakteri dan pH yogurt bunga telang serta mengetahui pengaruh lama penyimpanan terbaik terhadap total bakteri dan pH yogurt bunga telang. Materi penelitian adalah susu sapi, starter komersial kering, susu skim, bunga telang dan aquades. Penelitian dilaksanakan dengan metode ekperimen menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan yang diuji yogurt bunga telang yang disimpan pada suhu dingin selama P1 (0 hari tanpa penyimpanan), P2 (lama penyimpanan 5 hari), P3 (lama penyimpanan 10 hari) P4 (lama penyimpanan 15 hari) dan P5 (lama penyimpanan 20 hari). Rataan pH yogurt bunga telang P1 3,44 ± 0,03, P2 = 3,11 ± 0,06, P3 = 3,30 ± 0,03, P4 = 2,92 ± 0,03 dan P5 = 2,51 ± 0,01. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa lama penyimpanan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pH yogurt bunga telang dengan persamaan y = 0,02059x + 3,6766 dan R2 = 80,2%. Rataan total bakteri yogurt bunga telang P1 9,05 ± 0.00, P2 9,06 ±0,01, P3 9,18±0,02, P4 9,30 ± 0,01 dan P5 9,28 ± 0,01 (log 10 CFU/ml). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa lama penyimpanan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap total bakteri yogurt bunga telang dengan persamaan y= 0,0712x+8,9618 R² = 89.3%. Semakin lama penyimpanan akan menaikan total bakteri yogurt bunga telang dan pH yogurt bunga telang semakin asam.This study aims to determine the effect of the storage time of cold temperatures on total bacteria and the pH of butterfly pea yogurt and to determine the effect of the best storage time on total bacteria and pH of butterfly pea yogurt. The research material was cow's milk, dry commercial starter, skim milk, telang and aquades. The research was carried out by the experimental method using a completely randomized design (CRD). The treatments tested were butterfly pea yogurt stored at cold temperatures for P1 (0 days without storage), P2 (5 days storage duration), P3 (10 days storage period) P4 (15 days storage period) and P5 (20 days storage period) . The average pH of butterfly pea yogurt P1 was 3.44 ± 0.03, P2 = 3.11 ± 0.06, P3 = 3.30 ± 0.03, P4 = 2.92 ± 0.03 and P5 = 2.51 ± 0.01. The results of the variance analysis showed that the storage time had a very significant effect (P <0.01) on the pH of butterfly pea yogurt with the equation y = 0.02059x + 3.6766 and R2 = 80.2%. The total bacteria butterfly pea yogurt between P1 9.05 ± 0.00, P2 9.06 ± 0.01, P3 9.18 ± 0.02, P4 9.30 ± 0.01 and P5 9.28 ± 0.01 ( log 10 CFU/ ml). The results of the variance analysis showed that storage time had a very significant effect (P <0.01) on the total yogurt bacteria of butterfly pea yogurt with the equation y = 0.0712x + 8.9618 R² = 89.3%. Conclusion, the longer the storage time will increase the total bacteria of the butterfly pea yogurt and the pH of the butterfly pea yogurt increasingly acidic.
1942822639D1E014264PENGARUH LAMA PERENDAMAN MENGGUNAKAN Ca(OH)2 8% PADA PEMBUATAN KERUPUK RAMBAK KULIT KAMBING TERHADAP TINGKAT KERENYAHAN DAN KADAR KALSIUMTujuan penelitian ini adalah mengkaji tingkat kerenyahan dan kadar kalsium kerupuk rambak kulit kambing yang direndam menggunakan Ca(OH)2 8% dengan lama waktu yang berbeda. Materi yang digunakan adalah 5 kilogram kulit kambing berusia ±2 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah metode experimen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari R0 (perendaman 0 jam), R1 (perendaman 12 jam), R2 (perendaman 24 jam), R3 (perendaman 36 jam) dengan konsentrasi larutan CaOH)2 8%. Peubah yang diukur adalah tingkat kerenyahan dan kadar kalsium. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa lama perendaman menggunakan Ca(OH)2 8% pada pembuatan kerupuk rambak kulit kambing berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap tingkat kerenyahan dan kadar kalsium. Rataan tingkat kerenyahan dan kadar kalsium masing-masing untuk R0, R1, R2 dan R3 adalah 0.0092±0,0008 cm3/g, 0.0229±0.0018 cm3/g, 0.0676±0.0287 cm3/g, dan 0.1174±0.0345 cm3/g dan kadar kalsium R0, R1, R2 dan R3 adalah 0.5580±0.0834%, 2.7900±1.0816%, 3.3040±0.3241% dan 3.4720±0.3259%. Kesimpulan penelitian ini adalah lama perendaman terbaik menggunakan larutan Ca(OH)2 8% selama 29,44 jam pada pembuatan kerupuk rambak kulit kambing menghasilkan tingkat kerenyahan dan kadar kalsium yang optimal.The purpose of this research was to investigate the level of crispness and calcium of goat hide crackers immersed using Ca(OH)2 8% with different immersion time. The material used was 5 kilograms of 2 years old goat hide. The research method used was experimental method. The experimental design used was Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 5 replicates The treatment consisted of R0 (0 hour immersion), R1 (12 hours immersion), R2 (24 hour immersion), R3 (36 hours immersion) with Ca(OH)2 8%. The variables measured were levels of crispness and calcium content. The result of the analysis of variance showed that the immersion time using Ca(OH)2 8% in the making of goat hide crackers had a highly significant effect (P<0.01) on the level of crispness and calcium content. The means crispness and calium content for R0, R1, R2 and R3 were 0.0092±0.0008 cm3/g, 0.0229±0.0018 cm3/g, 0.0676±0.0287 cm3/g, 0.1174±0,0345 cm3/g and 0.5580±0.0834%, 2.7900±1.0816%, 3.3040±0.3259%, 3.4720±0.3259%, respectively. The conclusion of this research, the best goat hide crackers that have optimal crispness and calcium content is immersion time using Ca(OH)2 8% for 24.4 hours
1942925355A1L113019EVALUASI UNSUR HARA PHOSPOR (P) PADA LAHAN SAWAH IRIGASI POMPA AIR KEBASEN DI KECAMATAN KEBASEN KABUPATEN BANYUMASSurvei tanah untuk mengetahui kebutuhan pupuk Phospor (P) dapat dilakukan untuk meningkatkan efisensi penggunaan pupuk dan menjaga hasil padi sawah tetap tinggi. Salah satu daerah yang potensial untuk pengembangan pertanian khususnya budidaya padi sawah adalah pada lahan sawah irigasi pompa air di daerah Kebasen, Kecamatan Banyumas. Penelitian ini betujuan untuk : (1) mengetahui besarnya kandungan unsur hara P pada tanah sawah yang teraliri irigasi pompa air Kebasen di Kabupaten Banyumas, dan (2) memetakan status hara P pada lahan sawah yang teraliri irigasi pompa air Kebasen di Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah yang teraliri irigasi pompa air Kebasen wilayah Kabupaten Banyumas. Analisis tanah dilakukan di laboratorium Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Semarang. Pengambilan sampel dipilih berdasarkan 6 satuan lahan homogen (SLH), yang terbentuk dari overlay peta jenis tanah, kemiringan lereng dan penggunaan lahan. Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan metode purposive sampling dengan cara komposit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan P-total pada tanah Komplek Podsolik Merah Kuning memiliki harkat tinggi dengan nilai rata-rata 54,24 mg/100g. Pada tanah Komplek Latosol Merah Kuning dan Podsolik Merah Kuning memiliki harkat sangat tinggi dengan nilai 63,98 mg/100g. Selain itu, kandungan P-tersedia pada tanah Komplek Podsolik Merah Kuning memiliki harkat tinggi dengan nilai rata-rata 13,21 ppm dan pada tanah Komplek Latosol Merah Kuning dan Podsolik Merah Kuning memiliki harkat tinggi dengan nilai 14,30 ppm. Berdasarkan hasil dari analisis menunjukkan bahwa lahan sawah tidak memerlukan rekomendasi pemupukan namun untuk mencapai pertanian berkelanjutan diberikan pupuk sebesar 5,2 kg/ha P2O5 pada tanah Komplek Podsolik Merah Kuning dan penambahan pupuk phonska sebesar 34,67 kg/ha. Pada tanah Komplek Latosol Merah Kuning dan Podsolik Merah Kuning diberikan pupuk sebesar 2,6 kg/ha P2O5 dan penambahan pupuk phonska sebesar 17,33 kg/ha, jumlah tersebut dapat dikurangi jika diimbangi dengan pengembalian jerami hasil panen ke lahan sawah supaya ketersediaan hara P tetap stabil. Soil survey to investigate requiremant of Phospor fertilizer can be implemented to improve the efficiency of fertilizer use and to maintain high product of paddy field. One potential area for agriculture development specifically for paddy field cultivation is paddy field water pum irrigation in Kebasen area, Banyumas. This research aims to find out the P content of nutrient elements in soil of paddy field with Kebasen water pump irrigation in Banyumas, and to map the status of P on the Kebasen water pump wetland's irrigation in district Banyumas. The survey method was applied in this research at the wetland's water pump irrigation Kebasen Banyumas Regency area. The soil characteristic was analised laboratory of Agricultural Technology Assessment Institute (BPTP) Semarang. Sampling was selected based on homogeneous land units (SLH). There were 6 SLH formed overlay map of the soil type, slope and the slope of the land use. Soil sampling was performed by purposive sampling method using composite method. The results showed that the P-total content of the yellow Red Podsolic complex has a high harp with an average value of 54.24 mg/100g. In the land of the Latosol Red Yellow complex and Podsolik red Yellow has a very high harp with a value of 63.98 mg/100g. In addition, the content of P-available on the soil of the yellow red Podsolik complex has a high harkat with an average value of 13.21 ppm and on the ground Latosol Red Yellow complex and Podsolik red Yellow has a high harkat with a value of 14.30 ppm. Based on the results of the analysis shows that the rice field does not require fertilization recommendation but to achieve sustainable agriculture is given fertilizer of 5.2 kg/ha P2O5 on the soil of the yellow red Podsolik complex and the addition of Phonska fertilizer of 34.67 kg/ha. On the ground Latosol red yellow and Podsolik yellow red is given a fertilizer of 2.6 kg/ha P2O5 and the addition of Phonska fertilizer of 17.33 kg/ha, the amount can be reduced if offset by the return of straw crops to the rice field so that Availability of P nutrient remains stable.
1943022638E1A114117PERANAN BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DALAM PENYUSUNAN RENCANA KERJA PEMERINTAH DESA (RKPDes) DAN PENGARUHNYA TERHADAP PEMBANGUNAN DESA DI DESA NEGARADAHA KECAMATAN BUMIAYU KABUPATEN BREBES Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) adalah proses dalam menghasilkan dokumen Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) yang disusun setiap satu tahun sekali melalui musyawarah desa yang diselenggarakan oleh Badan Permusyawaratan Desa.
Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan yang bersifat Undang-undang dan Konsep. Sumber data penelitian ini menggunakan data sekunder yang berupa peraturan perundang-undangan, buku literatur, dan situs internet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis peranan BPD sebagai lembaga tingkat desa dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) serta pengaruh pelaksanaan tugas dan fungsi BPD terhadap pembangunan sarana dan prasana di Desa Negaradaha Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peranan BPD dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) adalah sebagai penyelenggara musyawarah desa penyusunan rencana pembangunan desa melalui panitia musyawarah desa penyusunan RKPDes yang dibentuk oleh BPD dengan Ketua adalah sekretaris BPD untuk menghasilkan Dokumen RKPDes yang dijadikan dasar penyusunan RKPDes oleh Pemerintah Desa melalui tim Penyusun RKPDes. Pelaksanaan tugas BPD ini berpengaruh terhadap pembangunan sarana prasarana Desa yang lebih terencana, terarah dan terprogram.
The arrangement of RKPDes is a process to create the document of RKPDes which is the explanation of RPJMDes arranged every year through a village discussion held by BPD.
This research uses juridical normative method with an approach of Constitution and Concept. This research used secondary data which were legislation, literature books, and internet sites. This research aims to know and analyse the role of BPD as a village-level institution in the arrangement of RKPDes and the influence of BPD jobs and functions implementation to the development of infrastructure in Negaradaha Village, Bumiayu District, Brebes Regency.
Based on the research result, we can conclude that the role of BPD in the arrangement of RKPDes is as the holder of village discussion of the arrangement of village development plan through the committee of village discussion of RKPDes arrangement as the foundation in the RKPDes arrangement by RKPDes Arrangement Team established by the Village Government. This BPD job implementation influences the village infrastructure development which is more well-planned, well-directed, and well-programmed.
1943126186K1A015044Aktivitas Antioksidan Protein Hidrolisat Hasil Hidrolisis Susu Kambing Peranakan Etawa Menggunakan Ekstrak Kasar Bromelin Buah Nanas Madu (Ananas comosus L.)Susu kambing merupakan bahan pangan bernutrisi tinggi yang bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan protein yang cukup tinggi menjadikan susu kambing sangat potensial sebagai penghasil peptida susu yang memiliki sifat bioaktif. Tujuan dari penelitian ini yaitu menguji aktivitas antioksidan peptida hasil hidrolisis whey dan kasein susu kambing peranakan etawa menggunakan enzim bromelin. Ekstrak kasar bromelin diisolasi dari buah nanas madu (Ananas comosus L.). Karakterisasi enzim dilakukan untuk menentukan pH dan suhu optimum bromelin. Hidrolisis susu kambing dilakukan dengan menginkubasi substrat kasein dan whey selama 10, 20, 30, 40, 50, dan 60 menit. Protein hidrolisat yang diperoleh dilakukan analisis aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH serta dilakukan uji hemolisis terhadap sel darah merah ayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa enzim bromelin memiliki aktivitas optimum pada pH 7 dan suhu 55 °C. Nilai derajat hidrolisis tertinggi diperoleh pada inkubasi selama 60 menit dengan derajat hidrolisis whey sebesar 45% dan kasein sebesar 50%. Protein hidrolisat dari whey dan kasein yang diinkubasi selama 30 menit memiliki persentase inhibisi tertinggi terhadap radikal DPPH. Nilai AAI protein hidrolisat dari kasein adalah 3,73x10-4 dan whey 3,28x10-4 yang menunjukkan aktivitas antioksidan lemah. Hasil uji hemolisis menunjukkan bahwa protein hidrolisat dari kasein dan whey tidak menyebabkan terjadinya hemolisis pada sel darah merah ayam.Goat milk is a high nutritious food that is beneficial to health. High protein content makes goat milk very potential as a producer of milk peptides that have bioactive properties. The purpose of this study was to test the antioxidant activity of the peptides from whey hydrolysis and etawa goat milk casein using bromelin enzymes. Crude bromelin extract was isolated from pineapple honey (Ananas comosus L.). The characterization of enzymes was carried out to determine the optimum pH and temperature of bromelin. Hydrolysis of goat's milk was done by incubating casein and whey substrates for 10, 20, 30, 40, 50, and 60 minutes. The hydrolyzate protein obtained was analyzed by antioxidant activity using the DPPH method and hemolysis was tested on chicken red blood cells. The results showed that the bromelin enzyme had optimum activity at pH 7 and a temperature of 55 °C. The highest value of hydrolysis degree was obtained at incubation for 60 minutes with whey hydrolysis degree of 45% and casein by 50%. The hydrolyzate protein from whey and casein incubated for 30 minutes had the highest percentage of inhibition. The AAI value of hydrolyzate protein from casein was 3.73x10-4 and 3.28x10-4 whey which showed weak antioxidant activity. The hemolysis test results showed that the hydrolyzate protein from casein and whey did not cause hemolysis in chicken red blood cells.
1943225568H1B014043KEBERLAKUAN SIFAT-SIFAT HIMPUNAN BILANGAN RIIL PADA HIMPUNAN BILANGAN HIPERRIILPenelitian ini membahas tentang keberlakuan sifat-sifat himpunan bilangan riil pada himpunan bilangan hiperriil, yaitu sifat aljabar, sifat keterurutan, dan sifat kelengkapan dengan menggunakan ukuran aditif terbatas. Ukuran aditif terbatas merupakan suatu pemetaan dari himpunan kuasa atas himpunan bilangan asli ke himpunan {0,1}. Himpunan bagian dari himpunan bilangan asli berukuran 0 apabila himpunan tersebut berhingga dan berukuran 1 apabila himpunan tersebut tak berhingga. Himpunan bilangan hiperriil dapat dibentuk dari semua kelas ekuivalensi pada himpunan barisan bilangan riil dengan menggunakan relasi yang melibatkan ukuran aditif terbatas, yakni dua barisan bilangan riil dikatakan berelasi jika dan hanya jika kedua barisan tersebut sama hampir di mana-mana. Pada himpunan bilangan hiperriil terdapat bilangan infinitesimal selain 0. Bilangan infinitesimal merupakan suatu bilangan yang lebih kecil dari setiap bilangan riil positif dan lebih besar dari setiap bilangan riil negatif. Akibatnya, pada himpunan bilangan hiperriil terdapat bilangan positif terkecil. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa himpunan bilangan hiperriil merupakan suatu lapangan yang terurut dan lengkap.This research discusses the validity of the properties of real numbers set to hyperreal numbers set, i.e. algebraic, ordered, and completeness properties, by using a finitely additive measure. This finitely additive measure is a map from the power set of natural numbers set onto set {0,1}. The subset of natural numbers set has measure zero if it’s finite and one if it’s infinite. The set of hyperreal numbers is contructed from equivalence classes of the set of all sequence of real numbers by using a relation involving the finitely additive measure, that is, two sequences of real numbers are said to be related if and only if those two sequences are the same almost everywhere. In the hyperreal numbers set, there exist infinitesimal numbers besides 0. Infinitesimal number is a number which is less than any positive real number and greater than any negative real number. So, in hyperreal number set, there are some smallest positive numbers. The results show that hyperreal numbers set is an ordered and complete field.
1943325670F1D014007Perilaku Golongan Putih dalam Pilkades Warungpring
Kabupaten Pemalang Tahun 2016
Penelitian ini tentang perilaku golongan putih dalam pilkades warungpring Kabupaten Pemalang tahun 2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan paradigma konstruktivisme, serta menggunakan perspektif institusionalisme dan pendekan studi kasus. Dalam pemelilihan informan, peneliti menggunakan dua teknik pemilihan informan diantaranya adalah teknik purposive sampling dan snowball sampling. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dilakukan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Kerangka pemikiran yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah Pemilihan Kepala Desa, Perilaku Poliitik, Elit dan Masa dan Perilaku Golongan Putih.
Hasil penelitian menunjukan bahwa perilaku golongan putih yang terjadi pada pemilihan kepala desa warungpring pada tahun 2016 adalah karena adanya kegagalan salah satu bakal calon yang gagal dalam tahap seleksi pilkades. Adanya pengaruh elit politik juga mempengaruhi sikap politik dalam pilkades. Massa pendukung bakal calon tersebut menilai ada kejanggalan dalam proses penetapan tes kesahatan yang menyatakan calon yang di usung mereka dinyatakan tidak sehat dan diisukan menggunakan narkoba. Tidak sampai disitu adanya hal tersebut berujung pada perilaku politik sebagian masyarakat yang kemudian memilih untuk golput karena mereka mengaku kecewa dengan pilkades tersebut. Akibatnya pada hari pemilihan kepala desa prosentasi pemilih hanya 43% atau tidak memenuhi syarat kourum sesaui dengan perda nomor 10 tahun 2016 di Kabupaten Pemalang. Kemudian pilkades diulang 7 hari setelah putaran pertama dengan himbauan dari pemerintah daerah, polsek setempat serta pemerintah kecamatan warungpring agar pilkades memenuhi syarat kuorum.


Kata Kunci: Pemilihan Kepala Desa, Perilaku Politik, Perilaku Golongan Putih

The purpose of this study was to describe and explain how the behavior of the white group in the election of Warungpring Village in 2016. The method used in this study was a qualitative method using the constructivism paradigm, and using an institutionalist perspective and a case study mentor. In selecting informants, researchers used two informant selection techniques including purposive sampling and snowball sampling techniques. Data collection used in this study is carried out by observation techniques, in-depth interviews, and documentation. The frame of mind used in this study included the Village Chief Election, Polyitic Behavior, White Group Behavior.
The results showed that the behavior of the white group that occurred in the warungpring village head election in 2016 was due to a failure of one of the prospective candidates who failed the election election process. The mass of supporters of the candidates assessed the irregularities in the process of determining the health test which stated that candidates in their stretchers were declared unhealthy and rumored to use drugs. It did not arrive there, this led to the political behavior of some people who later chose to abstain because they claimed to be disappointed with the election. As a result, on the day of the village head election the percentage of voters was only 43% or did not meet the requirements of the quorum according to the regulation number 10 of 2016 in Pemalang District. Then the local election was repeated 7 days after the first round with appeals from the local government, the local police and the warungpring sub-district government so that the pilkades fulfilled the quorum requirements.


Keywords: Village Chief Election, Political Behavior, White Group Behavior

1943422642D1B016018EFEK SUPLEMENTASI TEPUNG RUMPUT LAUT MERAH (Gracilaria sp.) TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING DAN KECERNAAN BAHAN ORGANIK PAKAN DOMBA SECARA IN VITROPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui level pemberian terbaik dari tepung rumput laut Gracilaria sp. berdasarkan pengaruhnya terhadap kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik yang dilakukan secara in vitro. Materi yang digunakan adalah cairan rumen berasal dari 3 ekor domba yang dipelihara di Green House Fapet Unsoed yang telah beradaptasi dengan pakan yang akan diuji. Perlakuan yang diuji yaitu suplementasi tepung rumput laut Gracilaria sp. dengan level penambahan 0% (P0) sebagai pakan kontrol, P0 + 2% (P1), P0 + 4% (P2), P0 + 6% (P3), dan P0 + 8% (P4) dari bahan kering (BK) pakan pada ransum yang tersusun dari 40% konsentrat dan 60% hijauan Cynodon dactylon. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap. Setiap perlakuan diulang 4 kali, sehingga terdapat 20 unit percobaan. Peubah yang diukur adalah kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik. Hasil pengamatan kecernaan bahan kering yaitu 65,8 ± 1,83 % (P0); 63,42 ± 0,92 % (P1), 66,29 ± 1,37 % (P2), 69,35 ± 1,4 % (P3) dan 71,04 ± 2,44 % (P4). Hasil pengukuran kecernaan bahan organik yaitu 63,96 ± 2,22 % (P0); 60,17 ± 1,69 % (P1), 65,69 ± 3,29% (P2), 68,33 ± 1,61% (P3) dan 69,72 ± 2,77% (P4). Hasil penelitian memperlihatkan perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0.01) terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik. Hasil penelitian menunjukan semakin tinggi suplementasi tepung rumput laut (Gracilaria sp.) meningkatkan kecernaan (bahan kering dan organik). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa, suplementasi tepung rumput laut Gracilaria sp. pada level 8% mempengaruhi peningkatan kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik.The aims of this research were to determine the best level of Gracilaria sp. Seaweed meal based on its effect on dry matter digestibility and organic matter digestibility of sheep feed on in vitro. The materials used were rumen fluid from 3 sheeps that were kept in Greenhouse of Faculty of Animal Science Jenderal Soedirman University had been adapted with the feed to be tested. The treatments were supplementation of Gracilaria sp. seaweed meal at the level of 0% as control feed, P0 + 2% (P1), P0 + 4% (P2), P0 + 6% (P3), dan P0 + 8% (P4) of dry matter feed on a ration composed of 40% concentrate and 60% Cynodon dactylon forage. The method used was the experiment method using a Completely Randomized Design (CRD).The each treatment was repeated 4 times, so there were 20 experimental units. The variables measured were dry matter digestibility and organic matter digestibility. The results of dry matter digestibility were 65.8 ± 1.83% (P0); 63.42 ± 0.92% (P1), 66.29 ± 1.37% (P2), 69.35 ± 1.4% (P3) and 71.04 ± 2.44% (P4). The results of organic material digestibility were 63.96 ± 2.22% (P0); 60.17 ± 1.69% (P1), 65.69 ± 3.29% (P2), 68.33 ± 1.61% (P3) and 69.72 ± 2.77% (P4). The results showed that the treatment had highly significant effect (P <0.01) on the digestibility of dry matter and organic matter. The results showed that higher supplementation of seaweed meal (Gracilaria sp.) could increased digestibility (dry and organic matter). Based on these results it can be concluded that, supplementation of Gracilaria sp. seaweed meal at the level of 8% gives a significant effect on the dry matter digestibility and organic matter digestibility.
1943522643G1F014034Analisis Kualitatif Faktor-Faktor Pendukung Kepatuhan Pasien Infeksi Dalam Meminum Antibiotik Cefixime Setelah Masa Rawat Inap Di Rumah Sakit Prof. Dr. Margono SoekarjoLatar Belakang: Penggunaan antibiotik harus sesuai dengan regimen yang telah ditentukan dokter atau apoteker untuk mencegah resistensi. Pasien setelah masa rawat inap berpotensi pada masalah kepatuhan dalam penggunaan antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor-faktor pendukung kepatuhan pasien infeksi dalam meminum antibiotik cefixime setelah masa rawat inap di Rumah Sakit Prof. Dr. Margono Soekarjo.
Metode: Penelitian dilakukan menggunakan metode non-experimental berdasarkan pada pendekatan kualitatif fenomenologis dengan cara wawancara mendalam (indepth interview). Wawancara dilakukan di rumah informan pada hari ke-7 setelah keluar dari rumah sakit dan triangulasi waktu (wawancara kedua) dilakukan satu minggu setelah wawancara pertama. Hasil wawancara dianalisis secara deskriptif dengan proses berfikir induktif.
Hasil dan Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor pendukung kepatuhan pasien infeksi dalam meminum antibiotik cefixime setelah masa rawat inap adalah keinginan untuk sembuh, informasi bahwa antibiotik harus dihabiskan, takut terjadi kekambuhan, diingatkan anggota keluarga, bentuk sediaan, kondisi kesehatan yang memburuk dan mengikuti saran dokter. Selain itu, didapatkan hasil bahwa pasien patuh meminum dan menghabiskan antibiotik sesuai aturan pakai, etiket membantu pasien dalam mengingat jam minum obat, pasien mendapatkan informasi antibiotik harus dihabiskan dari tenaga kesehatan dan pasien mendapatkan informasi manfaat obat dari internet.
Background: The use of antibiotics should be accordance with the regimen that doctors or pharmacists have determined to prevent resistance. Patients after hospitalization have the potential for compliance issues in antibiotic use. This research aimed to explore the factors supporting adherence of infection patients in consuming cefixime antibiotic after the hospitalization at Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital.
Methods: The research was conducted using non-experimental method based on qualitative phenomenological approach by indepth interview. The interview was conducted at the informant's house on the 7th day after discharge from the hospital and the time triangulation (second interview) was conducted one week after the first interview. Interview results were analyzed descriptively by inductive thinking process.
Results and Conclusion: The results showed that the factors supporting adherence of infection patients in consuming cefixime antibiotic after the hospitalization were the desire to recover, information that antibiotics should be spent, the fear of recurrence, reminded by the family, the dosage form, the deteriorating health condition and followed doctor suggestion. In addition, the results obtained that patients obediently consume and spend antibiotics according to the rules of use, etiquette helps patient in remembering time to consume the medicine, patient get information that antibiotic should be spent from health personnel and patient get information of drug benefit from the internet.
1943622644H1D013048ANALISIS KEKUATAN RANGKA BATANG STRUKTUR ATAS JEMBATAN MERAH SUNGAI SERAYUJembatan merah sungai serayu merupakan jembatan yang sudah ada sejak zaman penjajahan belanda, dimana awalnya jembatan merah serayu digunakan sebagai jembatan penyeberangan kereta api yang mengangkut tebu. Jembatan merah sungai serayu memiliki panjang 105 m yang terbagi menjadi 2 bentang dan memiliki lebar jembatan sebesar 3,4 m. Jembatan merah sungai serayu merupakan jembatan yang menghubungkan jalan kelas III C dimana beban maksimum kendaraan yang dapat melalui kelas jalan tersebut maksimal sebesar 9 ton. Analisis bertujuan untuk mengetahui kapasitas kekuatan jembatan merah sungai serayu dalam menerima kombinasi beban ultimit dan beban kerja, mengetahui batasan kendaraan yang dapat melalui jembatan tersebut berdasarkan stress ratio yang ada. Analisis kelayakan jembatan dilakukan menggunakan software SAP 2000 dengan memasukkan data pembebanan jembatan. Analisis mengacu pada SNI T02-2005 mengenai Perencanaan Struktur Baja Untuk Jembatan, SNI 1725:2016 mengenai Pembebanan Untuk Jembatan. Pada analisis ini diambil 4 jenis kendaraan, yaitu truck, bus 9 ton, bus 4,5 ton dan mobil penumpang untuk mengetahui batasan kendaraan yang dapat melewati jembatan tersebut. Struktur atas jembatan tersebut mempunyai stress ratio maksimum sebesar 2,745 pada penampang memanjang jembatan, dan angka kelangsingan yang tinggi pada ikatan angin. Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa jembatan merah sungai serayu sudah tidak dapat dibebani dengan beban kendaraan lagi.Merah Bridge of Serayu River is a bridge that has been around since the Dutch colonial era, where originally Merah Bridge of Serayu River is used as a railwaybridge that carries the sugar cane. Merah Bridge of Serayu River has a length of 105 m which is divided into two spans and bridge has a width of 3.4 m. Merah Bridge of Serayu River is a bridge that connects the road class III C where the maximum load of a vehicle that can be through the road class is 9 tons. The analysis purposed to know the strength capacity of the Merah Bridge of Serayu River in receiving the combination load ultimit and workload, knowing the limitations of the vehicle which can be through the bridge based on stress ratio. Feasibility analysis of the bridge is conducted using software SAP 2000 by entering data loading bridges. Analysis refers to the SNI T02-2005 about the planning of the steel structure For Bridge, SNI 1725:2016 about Loading For Bridge. On this analysis taken 4 types of vehicles, namely trucks, buses 9 tonnes, buses 4.5 tonnes and cars to know the limitations of vehicles that can pass through the bridge. The structure of the bridge have stress ratio maximum of 2.745 on elongated cross section of the bridge, and the slimness of the high wind in bonding. Based on the analysis it can be concluded that Merah Bridge of Serayu River can not be saddled with that burden of the vehicle again.
1943722429A1H014018PEMODELAN PERSAMAAN STRUKTURAL SIKAP DAN PERILAKU KONSUMEN PANGAN LOKAL DI KABUPATEN BANYUMASPangan lokal merupakan pangan segar yang belum diolah yang dihasilkan dan dijual di lingkungan sekitar desa atau di lingkungan provinsi. Pemodelan persamaan struktural adalah teknik statistik yang dapat digunakan untuk membantu penelitian dalam konfirmasi model penelitian yang melibatkan variabel laten. Dalam penelitian ini model konseptual pangan lokal akan dibuat dengan mereformulasi kerangka model pangan berkelanjutan dan model teori alfabet. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Melihat hubungan antara indikator dengan variabel penelitian, 2) Melihat hubungan antara variabel eksogen dengan variabel endogen.
Model yang diuji untuk penelitian ini terdiri dari 15 hipotesis. Sampel yang diambil berjumlah 150 responden konsumer pangan lokal yang berbelanja di pasar tradisional di daerah pedesaan di Kabupaten Banyumas dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sistematik sampling dan menggunakan kuesione skala-likert 5. Analisis data dilakukan dengan metode analisis SEM (Structural Equation Modelling) menggunakan aplikasi Smart PLS 3. Analisa data terdiri dari 2 tahap, 1) Tahap pengujian outer model untuk melihat hubungan antara indikator dengan variabel penelitian, 2) tahap pengujian inner model untuk melihat hubungan antara variabel eksogen dengan variabel endogen. Model yang diuji dikembangkan dari model Vermeir dan Verbeke (2006) dan Zepeda dan Deal (2009). Model perilaku konsumsi pangan lokal perlu ditelaah di Kabupaten Banyumas untuk mempromosikan pangan lokal.
Hasil Penelitian tahap 1 menunjukkan instrumen, dalam hal ini indikator yang reliabel dan valid yang diukur dari nilai convergent validity, discriminant validity, dan composite reliability sudah memenuhi persyaratan statistik. Hasil penelitian tahap 2 menunjukan hubungan variabel eksogen dengan varibael endogen yang dikategorikan menjadi 3 signifikan. Kuat (Sikap terhadap Pengalaman/ Kebiasaan/ Tradisi, Niat Perilaku terhadap Perilaku, Informasi dan Pengetahuan terhadap Kepastian, Motivasi terhadap Keterlibatan, Pengalaman/ Kebiasaan/ Tradisi terhadap Niat Perilaku, Kontrol Perilaku terhadap Ketersediaan, dan Norma Subjektif terhadap Sikap). Sedang (Subjektif terhadap Niat Perilaku). Lemah (Kepastian terhadap Sikap). R2 (Koefisien determinasi) melihat pada hubungan variabel eksogen dengan variabel endogen dan Q2 menunjukkan model memiliki predictive relevance, Sikap = R2 0.234 dan Q2 0.099 , Ketersediaan = R2 0.291 dan Q2 0.134, Perilaku = R2 0.253 dan Q2 0.211, Norma subjektif = R2 0.400 dan Q2 0.208, Keterlibatan = R2 0.081 dan Q2 0.038, Kepastian = R2 0.164 dan Q2 0.083, Pengalaman/ Kebiasaan/ Tradisi = R2 0.082 dan Q2 0.035.
Local food is fresh food that has not been processed. It is produced and sold in the neighborhood village or within a province. SEM (Structural Equation Modeling) is statistical technique that can be used to assit the exploratory research. In this study, the model of conceptual model of local food was reformulating from conceptual model of sustainable food model and alphabet theory model. The purpose of this research are to, 1) Examine the relation between indicators and research variables, 2) Examine the relation between exogenous variables and endogenous variables to know the correlation between various factors framework model that influence consumer’s attitude and behavior in Banyumas regency, and to analyze the correlation between various factors of framework model that influence the attitude and behavior of local food consumers in Banyumas regency.
Model tested for this study consists of 15 hypothesis. Respondents were 150 shoppers who shoped at traditional market in rural Banyumas regency. The sampling technique used was systematic sampling and the questioner use 5 likert-scale. Data analysis was done by SEM method using SMART PLS 3 App to obtain the significant level of relationship between factors that exist in influence consumers’ attitudes and behavior. The model of local food consumption behavior need to be explored in Banyumas regency in order to promote local food.
The results of Phase 1 show the instrument, in this case a reliable and valid indicator that is measured by the convergent validity value, discriminant validity, and composite reliability are in accordance with statistical requirements. The results of phase 2 show the relation of exogenous variables to endogenous variables categorized into 3 significant. Subtantial are Attitude to habit, behavior intention to behavior, information and knowledge to certainty, motivation to involvement, habit to behavior intention, PBC to availability, and subjective norm to attitude. The relation between significant factors with moderate and weak levels, each are subjective norms to behavior intention and certainty to attitude. R2 (coefficient of determination) Looks at the exogenous relation variables to endogenous variables and Q2 shows a model that has predictive relevance, Attitude = R2 0.234 and Q2 0.099, Availability = R2 0.291 and Q2 0.134, behavior = R2 0.253 and Q2 0.211, subjective norms = R2 0.400 and Q2 0.208, involvement = R2 0.081 and Q2 0.038, certainty = R2 0.164 and Q2 0.083, past experience/ habit/ tradition = R2 0.082 dan Q2 0.035.
1943822609G1F014009Isolasi Senyawa Non Fenolik dari Tanaman Daun Pucuk Merah (Syzygium myrtifolium Walp.)Penelitian ini bertujuan untuk melakukan isolasi senyawa non fenolik dari S. myrtifolium. Metode yang digunakan meliputi proses ekstraksi, fraksinasi menggunakan kromatografi vakum cair (KVC), pemurnian menggunakan kromatografi kolom, serta karakterisasi menggunakan instrumen spektroskopi 1H-NMR. Pada spektrum 1H-NMR isolat murni yang telah didapatkan, terdapat 4 sinyal utama yaitu pada 0,94 ppm (6H, dt, J=7,5 Hz dan 15 Hz); 1,5 ppm (28H, m); 4,28 ppm (2H, t, J=5,4 Hz); 8,10 ppm (1H, s). Berdasarkan interpretasi spektrum 1H-NMR, isolat yang didapatkan adalah golongan asam lemak jenuh yaitu asam lemak alkil ester.This study aims to isolate non phenolic compound from pucuk merah’s leaves (S. myrtifolium). The methods used are extraction, fractionation using vacuum liquid chromatography (VLC),purification process using column chromatography, and characterization using spectroscopy 1H-NMR. The 1H-NMR isolate’s spectra has 4 main signals, at 0,94 ppm (6H, dt, J=7,5 Hz dan 15 Hz); 1,5 ppm (28H, m); 4,28 ppm (2H, t, J=5,4 Hz); 8,10 ppm (1H, s). Based on the interpretation of 1H-NMR spectra, the isolate obtained is saturated fatty acid groups, namely alkyl ester fatty acid.
1943922645B1J014115Daya Serap Karbon Dioksida Pohon Jambu Biji (Psidium guajava) Di Desa Ketenger Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas.Konsentrasi gas rumah kaca (GRK), khususnya karbon dioksida (CO2) di atmosfer terus meningkat, sehingga perlu ada upaya untuk menurunkan konsentrasi gas CO2 di atmosfer. Pengembangan tanaman merupakan salah satu upaya untuk mengurangi CO2 di atmosfer karena tanaman dapat mereduksi CO2 melalui proses fotosintesis. Pengembangan tanaman bisa dalam bentuk hutan, tanaman pertanian, maupun tanaman perkebunan. Jenis tanaman perkebunan yang sedang dikembangkan oleh masyarakat salah satunya adalah jambu biji (Psidium guajava). Banyak faktor yang dapat mempengaruhi suatu tanaman dalam menyerap CO2. Faktor tersebut diantaranya adalah sifat genetik, intensitas sinar matahari, dan umur tanaman. Umur tanaman tampaknya lebih mudah digunakan sebagai variabel penduga daya serap tanaman terhadap CO2 dibanding faktor lain. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh umur pohon jambu biji terhadap daya serap CO2 dan mengetahui hubungan antara umur pohon jambu biji dengan daya serap CO2.Sampel penelitian ini adalah tanaman jambu biji umur 1 tahun, 4 tahun, dan 8 tahun. Pengambilan sampel tanaman jambu menggunakan teknik stratified random sampling, sedangkan pengujian daya serap daun jambu terhadap CO2 menggunakan analisis massa karbohidrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur pohon memiliki pengaruh terhadap daya serap CO2, semakin tua umur pohon semakin besar CO2 yang diserap. Umur pohon jambu memiliki hubungan dengan daya serap CO2 dan terjadinya peningkatan daya serap CO2 seiring bertambahnya umur pohon.Concentration of greenhouse gas (GHG), especially carbon dioxide (CO2) in the atmosphere increase continuously, so there is a need to reduce the concentration of CO2 in the atmosphere. Intensification of plant is one of the efforts to reduce CO2 in the atmosphere, because plants can reduction CO2 through the process of photosynthesis. Plant intensification can be done in the form of forest, agricultural plant, or plantation plant. One of plantation plant that are being developed nowadays by the community is guava (Psidium guajava). Many factors can affect a plant in absorbing CO2. Those factors include the genetic characteristic, intensity of sunlight, and age of the plant. The age of plant seems to be easier to use as a variable for estimating the absorptive capacity of plant against CO2 than other factors. Therefore, the purpose of this research is to determine the influence of age of guava trees on CO2 absorption and determine the relationship between the age of the guava trees with the absorptive capacity of CO2. Plants to be sampled in this research were guava trees with different ages, each of them is 1, 4, and 8 years. This research was conducted using survey method using stratified random sampling technique, meanwhile the absorptive capacity test of guajava leaves toward CO2 was conducted using mass carbohydrate analysis. The result showed that the age of guava tree has an influence on the absorption of CO2, the older of guava tree showed greater CO2 absorption. The age of guava tree has a relationship with the absorption of CO2 and the increase of CO2 absorption occurs as the age of the tree increases.
1944022646E1A014182PEMBUKTIAN CYBERBULLYING DI MEDIA SOSIAL (Studi Kasus Putusan Nomor : 68/Pid.Prap/2015/PN.Jkt.Sel.)Media sosial seperti Twitter, Instagram, Path, Ask.fm, Facebook dan sebagainya sangat digemari oleh semua lingkup masyarakat. Saat ini, muncul beberapa kasus terkait penyalahgunaan jejaring sosial marak terjadi, salah satunya adalah cyberbullying. Hal tersebut sangat potensial terhadap munculnya berbagai bentuk tindak pidana, sehingga melahirkan aturan baru di Indonesia, yaitu diundangkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Pembuktian merupakan masalah yang memegang peranan penting dalam proses pemeriksaan di sidang pengadilan untuk menentukan nasib terdakwa. Penyelesaian suatu perkara dalam persidangan tentunya membutuhkan teknik pembuktian yang tepat sehingga apa yang diharapkan dapat dikabulkan di Pengadilan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembuktian dalam kasus cyberbullying di media sosial sesuai dengan UU ITE, penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, dengan spesifikasi penelitian preskriptif, metode pengumpulan data studi kepustakaan dan kuesioner, metode analisis data kualitatif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pembuktian dalam kasus cyberbullying dapat memenuhi ketentuan Pasal 5 UU ITE, karena hanya ketentuan-ketentuan yang mensyaratkan keterkaitan antar bukti yang satu dengan yang lain, namun kekuatan alat bukti dalam hukum acara pidana hakikatnya sama, tidak ada suatu alat bukti yang melebihi alat bukti lain. Selain itu, sesuai dengan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, bukti elektronik merupakan alat bukti yang sah dan merupakan perluasan dari alat bukti yang diatur dalam Pasal 184 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.
Social media like Twitter, Instagram, Path, Ask.fm, Facebook and so on are very popular with all societies. At present, there have been several cases related to the abuse of social networks, one of which is cyberbullying. It is very potential for the emergence of various forms of criminal acts, and the Indonesian government has initiated a new regulation as the Information and Electronic Transaction Law No. 11 year 2008. The proof is a problem that plays an essential role in the examination process at a court hearing to determine the fate of the defendant. Completion of a case in a trial indeed requires proper verification techniques so that what is expected can be granted in the Court.
This study aims to find out the evidence in the case of cyberbullying on social media by following the Information and Electronic Transaction Law No. 11 year 2008, this study uses a normative juridical approach, with prescriptive research specifications, data collection methods of literature study and questionnaires, qualitative data analysis methods.
The results of the research show that the evidence in the case of cyberbullying can fulfill the provisions of Article 5 of the Information and Electronic Transaction Law No. 11 year 2008, because only the provisions that require the interrelation between the evidence with one another, but the strength of evidence in criminal procedural law is essentially the same, there is no evidence beyond other. In addition, by Article 5 of the Information and Electronic Transaction Law No. 11 year 2008, electronic evidence is a valid proof and is an extension of proof provided for in Article 184 of the Criminal Procedure Code.