Artikelilmiahs

Menampilkan 19.161-19.180 dari 50.080 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1916122436H1F011041GEOLOGI DAN POTENSI ANDESIT UNTUK MATERIAL KONSTRUKSI JALAN, DAERAH JONGGOL, KECAMATAN CIKALONGKULON, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARATDaerah penelitian secara administratif terletak di Daerah Jonggol,Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Penelitian dilakukan untuk mengetahui kondisi geologi, menghitung perkiraan cadangan potensi Andesit serta uji agregat untuk menguji kelayakan batuan yang ada pada daerah penelitian. Pemetaan geologi permukaan yang mencakup geomorfologi daerah penelitian dengan pengamatan peta topografi dan kondisi morfologi daerah penelitian, stratigrafi daerah penelitian dengan melakukan spot mapping dan struktur geologi serta pengambilan contoh batuan untuk analisa laboratorium. Sedangkan metode perhitungan potensi batuan menggunakan metode kontur dihitung dengan rumus kerucut terpancung, yang kemudian dibandingkan dengan data pengukuran langsung di lapangan. Berdasarkan analisa geomorfologi diketahui bahwa daerah penelitian dibagi menjadi 5 (lima) satuan, yaitu Satuan Lembah Aluvial Jamban Hilir, Satuan Perbukitan Struktural Buanajaya, Satuan Dataran Denudasional Cirahong, Satuan Perbukitan Denudasional Kiaramangu, Satuan Bukit Intrusi Gunung Gambir. Berdasarkan karakteristik litologi dan umur batuan dari tua ke muda dibagi menjadi 4 (empat) satuan batuan, yaitu Satuan Andesit, Satuan Batupasir, Satuan Breksi, Satuan Aluvial. Struktur geologi yang terdapat pada daerah penelitian berupa sesar geser. Keterdapatan Intrusi Andesit daerah penelitian memiliki potensi sebagai bahan tambang yang bermanfaat untuk material kontruksi pembangunan. Berdasarkan hasil perhitungan potensi cadangan dengan metode konvensional kerucut terpancung dari luas kontur didapatkan potensi cadangan sebesar 3.281.505,2 m3, sedangkan data pengukuran langsung di lapangan yaitu sebesar 2.966.430,2 m3. Berdasarkan analisis uji agregat batuan, andesit pada daerah penelitian termasuk dalam batuan yang sangat keras. The administrative area is located in Jonggol Region, Cikalongkulon District, Cianjur Regency, West Java. The study was conducted to determine the geological conditions, calculate the estimated Andesite potential reserves and the aggregate test to test the feasibility of rocks in the study area. Surface geological mapping that includes geomorphology of the study area with topographic map observation and morphological conditions of the study area, stratigraphy of the research area by conducting spot mapping and geological structure and taking rock samples for laboratory analysis. While the method of calculating rock potential using the contour method is calculated by the conical frustum formula, which is then compared with direct measurement data in the field. Based on geomorphological analysis, it is known that the study area is divided into 5 (five) units, namely Lower Latrine Alluvial Valley Unit, Buanajaya Structural Hills Unit, Cirahong Denudational Plain Unit, Kiaramangu Denudational Hills Unit, Gambir mount Intrusion Unit. Based on the characteristics of lithology and age of rocks from old to young are divided into 4 (four) rock units, namely Andesite Unit, Sandstone Unit, Breccia Unit, Alluvial Unit. The geological structure found in the study area is a sliding fault. The presence of Andesite Intrusion in the study area has the potential as a useful mining material for construction material.Based on the results of the calculation of the reserve potential with conventional methods conical frustum from the area of the contour, the potential of reserves is 3,281,505.2 m3, while the measurement data directly in the field is 2,966,430.2 m3. Based on the analysis of rock aggregate test, andesite in the study area is included in very strong rocks.
1916222438H1D012074DAMPAK PERTUMBUHAN PENGGUNAAN LAHAN PERUMAHAN TERHADAP POLA PERJALANAN DI KAWASAN KOTA PURBALINGGAKedudukan Kota Purbalingga sebagai pusat pemukiman penduduk, kegiatan ekonomi dan sosial serta kegiatan politik dan administrasi pemerintahan menjadikan kota ini semakin berkembang. Perkembangannya menimbulkan daya tarik terhadap migran yang akan berpengaruh terhadap peningkatan pertumbuhan penduduk dan pada gilirannya akan berimbas pada peningkatan kebutuhan lahan perumahan. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan lahan perumahan maka akan meningkat pula jumlah pergerakan. Peningkatan pergerakan ini berdampak pada sistem transportasi seperti meningkatnya volume kendaraan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola perjalanan yang terjadi dengan zona asal kawasan perumahan Kota Purbalingga. Data primer berupa hasil wawancara rumah tangga, jumlah populasi rumah tangga, pengukuran titik koordinat perumahan. Data sekunder diperoleh dari pihak BPS Purbalingga, DPMPTSP Purbalingga dan DPUPR Purbalingga.
Analisis dilakukan melalui empat tahapan yaitu: (1) analisis penentuan zona, (2) analisis bangkitan pergerakan menggunakan analisis regresi dengan metode coba-coba, (3) analisis matriks asal-tujuan menggunakan metode analogi/seragam, dan (4) analisis garis keinginan.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa dampak yang terjadi akibat pertumbuhan penggunaan lahan perumahan terhadap pola perjalanan di Kota Purbalingga adalah semakin meningkatnya pergerakan setiap tahunnya dikarenakan laju pertumbuhan penduduk. Dampak terhadap transportasi adalah perubahan volume kendaraan, jarak perjalanan, pemilihan moda yang akan digunakan. Hasil analisis matriks asal–tujuan menunjukkan bahwa asumsi nilai tingkat pertumbuhan sebesar 1,24%.
As a centre of settlements, economics, social activities, political and government activities Purbalingga city is growing rapidly. Its functions generate in-migration and increase the needs of settlements in turn. Settlements demand is followed by growth of movements. This happen as people move to fulfill their daily. The increasing movements then affects to the changes in transport system such as a higher traffic volume. This study identifies trip pattern with settlement area in Purbalingga City as the origin. Data is collected using household questionnaire method regarding of househould and its traffic characteristics. Other data is housing spasial coordinate that is gained by field surveys. Statistical data on the other side is obtained from Statistic of Purbalingga Regency, Purbalingga Invenstment Forum and Purbalingga Public Work.
There are four stages in analysis process: (1) zone determination analysis, (2) trip generation analysis using regression analysis with trial and error method, (3) origin-destination matrix analysis using analogy/uniform method, and (4) desire line analysis.
Resulting from the research widening settlement areas affect the trip pattern in Purbalingga City along with the increasing movement. The OD Matrix shows that movement-growth factor is 1,24%.
1916322442E1A014003KEBIJAKAN KRIMINAL DALAM PENANGGULANGAN CYBERTERRORISM DI INDONESIAABSTRAK

Cyberterrorism diartikan sebagai teror di dunia maya yang membawa akibat yang cukup fatal, baik serangannya terhadap jaringan komputer maupun melumpuhkan komunikasi internet di suatu tempat. Cyberterrorism yang terjadi di Indonesia saat ini adalah pemanfaatan jaringan komputer maupun internet sebagai media komunikasi sesama anggota teroris untuk mengembangkan jaringannya serta penyebaran ajaran terorisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebijakan kriminal terhadap penanggulangan cyberterrorism di Indonesia serta pertanggung jawaban pidana terhadap pelaku cyberterrorism di Indonesia.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Jenis dan sumber data meliputi data sekunder dan data primer yang diperoleh dari wawancara dan studi kepustakaan. Data yang terkumpul disajikan secara deskriptif dalam bentuk uraian yang disusun secara sistematis. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis data normatif kualitatif.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan penal dan kebijakan non-penal yang ada di Indonesia saat ini dapat digunakan dalam penanggulangan cyberterrorism. Rumusan tentang pertanggung jawaban pidana terhadap pelaku cyberterrorism di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik serta Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, baik secara individu maupun korporasi.

Kata Kunci : cyberterrorism, kebijakan kriminal, pertanggungjawaban pidana
ABSTRACT

Cyberterrorism are defined as a terror in the virtual world that brings a a serious effect, due to both the attacks against computer networks although crippling the internet communication in one place. Cyberterrotism that currently happening in Indonesia is exploiting computer networks or the internet as a communication media for the fellow members of terrorist network to develop and spread the precept of terrorism. This research aims to know the criminal policy against tackling cyberterrorism in Indonesia and liability of criminal perpetrators cyberterrorism in Indonesia.

This research are normative juridical and empirical juridical research with research specs descriptive. Types and resources of a data were including secondary and primary data which are obtained from interviews and the study of librarianship. The data collected are presented in the form of a descriptive elucidation also systematically arranged. Methods of data analysis are a method of normative qualitative.

Based on the results of research and discussion, it can be concluded that the existing penal and non-penal policies in Indonesia at this time can be used in combat the cyberterrorism. The outline of criminal liability against perpetrators of cyberterrorism in Indonesia have been regulated in the regulation of Information and Electronic Transaction and the regulation of Terrorism, both individually although corporately.

Keywords: cyberterrorism, criminal policy, criminal responsibility
1916422443A1L011116PENGGUNAAN KALIUM PERMANGANAT DAN BERBAGAI KEMASAN UNTUK MEMPERPANJANG UMUR SIMPAN BUAH PISANG MASPenelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui pengaruh konsentrasi kalium permanganat dalam mempertahankan mutu buah pisang mas, 2) Mengetahui tingkat kesegaran buah pisang mas pada berbagai jenis kemasan, 3) Mengetahui pengaruh kalium permanganat dan jenis kemasan terhadap tingkat kesegaran buah pisang mas. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini berlangsung selama 1 bulan (Agustus-September 2017). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) pola Faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah Konsentrasi KMnO4 yaitu: kontrol, 15%, 25%, 35% dan faktor kedua adalah jenis kemasan yaitu: tanpa kemasan, plastik mika, styrofoam. Hasil penelitian menujukan bahwa: penyimpanan terlama diperoleh pada perlakuan A3 selama 17 hari setelah perlakuan dan penyimpanan tersingkat pada perlakuan A1 selama 14,3 hari setelah perlakuan. Konsentrasi KMnO4 35% merupakan konsentrasi KMnO4 yang baik untuk menghambat kematangan buah pisang mas dalam penyimpanan 17 hari, tanpa perlakuan kemasan merupakan perlakuan yang baik untuk penyimpanan buah pisang mas selama 17 hari.This research aims to: 1) To know the effect of kalium permanganate concentration in maintaining the quality of banana mas, 2) To know the freshness of banana mas on various types of packaging, 3) to know the effect of kalium permanganat and type of packaging to freshness level of banana mas. This research was conducted at Agronomy and Horticulture Laboratory, Faculty of Agriculture, General Soedirman University, Purwokerto. This study lasted for 1 month (August-September 2017). This research uses Randomized Block Design (RAKL) Factorial pattern with 3 replications. The first factor is the concentration of KMnO4 that is: control, 15%, 25%, 35% and second factor is packaging type that is: non-packaging, plastic mica, styrofoam. The results showed that: the longest storage was obtained at treatment A3 for 17 days after treatment and the shortest storage at treatment A1 for 14.3 days after treatment. KMnO4 concentration of 35% is a good concentration of KMnO4 to inhibit the maturity of banana mas in 17 days storage, without the packaging treatment is a good treatment for the storage of banana mas for 17 days.
1916522445G1G014023PENGARUH APLIKASI EMULSI GEL EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP KADAR PROTEIN KARBONIL CAIRAN SULKUS GINGIVA PADA GINGIVITIS
Gingivitis merupakan inflamasi yang terjadi pada gingiva disebabkan adanya interaksi bakteri plak, jaringan, dan respon host. Kondisi gingivitis diketahui berkaitan dengan keadaan stres oksidatif. Salah satu penanda biologi stres oksidatif adalah kadar protein karbonil cairan sulkus gingiva. Ekstrak kulit buah naga merah memiliki kandungan senyawa antioksidan seperti flavonoid, betakaroten, polifenol, dan betalain yang dapat berperan dalam mengatasi stres oksidatif sehingga membantu dalam proses penyembuhan inflamasi gingiva. Untuk meningkatkan efektivitasnya, ekstrak dibuat dalam sediaan emulsi gel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi emulsi gel ekstrak etanol kulit buah naga merah dengan konsentrasi sebesar 0,8%, 1,6%, dan 3,2% terhadap kadar protein karbonil cairan sulkus gingiva pada tikus model gingivitis. Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan posttest-only with control group design. Penelitian ini menggunakan 30 tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu K1 (tikus sehat, aplikasi basis gel viscolam 2,5%), K2 (tikus gingivitis, aplikasi basis gel viscolam 2,5%), P1, P2, dan P3 (tikus gingivitis, aplikasi emulsi gel ekstrak kulit buah naga merah masing-masing 0,8%, 1,6%, dan 3,2% secara topikal sebanyak 1 mL setiap 24 jam). Setelah 14 hari perlakuan, pada setiap kelompok dilakukan pengukuran kadar protein karbonil cairan sulkus gingiva dengan metode ELISA. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar seluruh kelompok. Uji Post-Hoc LSD menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara semua kelompok perlakuan dengan K2 tetapi tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok P1 dan P2 dengan K1. Pemberian aplikasi emulsi gel ekstrak kulit buah naga merah terbukti dapat menurunkan kadar protein karbonil cairan sulkus gingiva pada semua kelompok perlakuan. Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian emulsi gel ekstrak etanol kulit buah naga merah dapat menurunkan kadar protein karbonil cairan sulkus gingiva pada gingivitis. Konsentrasi emulsi gel ekstrak kulit buah naga merah terbaik adalah 0,8%.Gingivitis is an inflammation condition caused by interaction between plaque bacteria, tissue, and host immune response in gingiva. Gingivitis is associated with oxidative stress condition. One of biological markers in oxidative stress condition is gingival crevicular fluid protein carbonyl level. Red dragon fruit peel extract contains antioxidant compound for example flavonoid, betacarotene, polyphenols, and betalain that have important part in gingival healing by inhibiting oxidative reactions. The effectiveness of extract could increased in emulsion gel form. This research aimed to study the effect of ethanol extract of red dragon fruit peel emulsion gel application in various concentration 0.8%, 1.6%, and 3.2% on protein carbonyl level in gingival crevicular fluid in gingivitis. The experimental study was conducted with posttest-only with control group design. This research used 30 male Wistar rats which were divided into 5 groups: K1 (healthy control, 2.5% viscolam gel base application), K2 (negative control, 2.5% viscolam gel base application), P1, P2, and P3 (gingivitis groups, treated with 0.8%, 1.6%, and 3.2% extract of red dragon fruit peel emulsion gel respectively, one mililitre of emulsion gel was given topically every 24 hours). After 14 days of treatment, gingival crevicular fluid protein carbonyl level of each groups were measured by ELISA method. The result of One-way ANOVA test revealed that there was significant difference between all of groups. The Post-Hoc LSD test revealed that there were significant differences between all of treatment groups with K2 but there was no significant differences between P1 and P2 with K1. Extract of red dragon fruit peel emulsion gel application was shown to decrease in all of treatment groups. The conclusion of this research was ethanol extract of red dragon fruit peel emulsion gel application could decrease on gingival crevicular fluid protein carbonyl level in gingivitis. The best concentration of extract of red dragon fruit peel emulsion gel was 0,8%.
1916622446F1B013077IMPLEMENTASI PROGRAM KELOMPOK USAHA BERSAMA (KUBE) DI DESA KALITINGGAR KECAMATAN PADAMARA KABUPATEN PURBALINGGAProgram KUBE merupakan wadah himpunan anggota kelompok yang tergolong masyarakat miskin yang dibentuk, tumbuh dan berkembang atas dasar prakarsanya sendiri melalui usaha ekonomi produktif, sehingga mampu memberi nilai tambah ekonomis dan kemandirian. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan implementasi program KUBE dan faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi program KUBE di Desa Kalitinggar Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga. Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Kalitinggar Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga. Sasaran penelitian ini adalah pendamping kelompok KUBE, ketua kelompok KUBE, anggota kelompok KUBE, kepala bidang asistensi dan rehabilitasi sosial, dan kepala seksi asistensi dan rehabilitasi sosial. Metode penelitian adalah kualitatif. Pemilihan informan melalui teknik purposive dan snowball. Teknik pengumpulan data adalah wawancara mendalam, observasi, dokumentasi. Analisa data dengan deskripsi secara interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program KUBE sudah sesuai dengan juklak dan juknis Dinas Sosial. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam pelaksanaan program KUBE yaitu faktor internal (jumlah, kompetensi, pemahaman, sasaran, sumber dana, komunikasi, koordinasi, realisasi penggunaan dana) dan faktor eksternal (dukungan dan partisipasi pemerintah, hambatan, kendala, kondisi sosial ekonomi). Diharapkan pengajuan proposal ke pihak terkait untuk penyediaan modal dan bahan baku dalam pengembangan usaha ekonomi produktif dalam program KUBE.

Kata Kunci : Implementasi, Program Kelompok Usaha Bersama (KUBE)
The KUBE program is a collection of group members belonging to the poor formed, growing and developing on their own initiative through productive economic effort, so as to give economic value added and independence. The purpose of this research is to describe the implementation of KUBE program and the factors that influence the implementation of KUBE program in Kalitinggar Village, Padamara Subdistrict, Purbalingga Regency. The location of this research was conducted in Kalitinggar Village, Padamalingga District. The objectives of this research are the KUBE group supporters, KUBE group leaders, KUBE group members, heads of social assistance and rehabilitation, and head of social assistance and rehabilitation sections. The research method is qualitative. The selection of informants through purposive and snowball techniques. Data collection techniques are in-depth interviews, observation, documentation. Analyze data with descriptions interactively. The results show that the implementation of KUBE program is in accordance with the operational guidelines and juknis of Social Service. Factors that can influence the success of the KUBE program implementation are internal factors (number, competence, understanding, goals, funding sources, communication, coordination, realization of funds usage) and external factors (government support and participation, obstacles, constraints, socio-economic conditions). Expected submission of proposals to related parties for the provision of capital and raw materials in the development of productive economic enterprises in the program KUBE.

Keywords: Implementation, Joint Business Group Program (KUBE)
1916725538G1G014046HUBUNGAN INTENSITAS PENCAHAYAAN RUANG KERJA DAN DURASI KERJA DENGAN KELELAHAN MATA DOKTER GIGI PRAKTIK SWASTA PADA MALAM HARI DI KABUPATEN BANYUMASABSTRAK

Dokter gigi merupakan profesi yang memerlukan ketelitian dan fokus dalam waktu yang lama. Dokter gigi memiliki risiko tinggi terhadap kelelahan mata. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kelelahan mata diantaranya intensitas pencahayan ruang kerja dan durasi kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas pencahayaan ruang kerja dan durasi kerja dengan kelelahan mata dokter gigi praktek swasta pada malam hari di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada 41 orang dokter gigi praktik swasta di Kabupaten Banyumas. Data intensitas pencahayaan ruang kerja diperoleh dari pengukuran menggunakan lux meter. Data durasi kerja dan kelelahan mata diperoleh dari pengisian kuesioner. Hasil penelitian ini dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan intensitas pencahayaan ruang kerja dengan kelelahan mata (p = 0,000), dan adanya hubungan durasi kerja dengan kelelahan mata (p = 0,004). Simpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan intensitas pencahayaan ruang kerja dan durasi kerja dengan kelelahan mata dokter gigi praktik swasta pada malam hari di Kabupaten Banyumas.


ABSTRACT

Dentist’s are jobs that require accuracy and focus for a long time. Dentist’s has a high risk of eye fatigue. Factors that can cause eye fatigue include the intensity of the workspace lighting and the duration of work. This research aimed to know the relationship between the intensity of workspace lighting and the duration of work with the eye fatigue of dentists in private practice at night in Banyumas Regency. The study used a cross-sectional approach carried out on 41 private practice dentists in Banyumas Regency. Workspace lighting intensity data obtained from measurements using lux meters. The data on work duration and eye fatigue were obtained from filling out the questionnaire. The results of this study were analyzed using the Chi-Square test. The results showed a correlation between workplace lighting intensity and eye fatigue (p = 0,000), and the relationship between duration of work and eye fatigue (p = 0.004). The conclusion of this study is that there is a correlation between the intensity of workspace lighting and the duration of work with the eye fatigue of dentists in private practice at night in Banyumas Regency
1916822447A1M014054OPTIMASI PROPORSI EKSTRAK JERUK NIPIS DAN PAPAIN SERTA PENAMBAHAN MALTODEKSTRIN DALAM PEMBUATAN KEJU OLES ANALOG KOMBINASI SUSU SAPI DAN SUSU JAGUNGKeju oles tidak hanya terbuat dari susu hewani, tetapi dapat dibuat dari campuran susu nabati salah satunya susu jagung. Pada dasarnya, keju oels analog dibuat dengan menggumpalkan kasin susu. Bahan yang digunakan sebagai penggumpal adalah enzim rennet akan tetapi jumlahnya terbatas dan mahal. Oleh karena itu, perlu digunakan bahan alternatif sebagai penggumpal yaitu papain. Jeruk nipis juga dapat digunakan sebagai penggumpal kasien susu karena memiliki pH rendah untuk menciptakan titik isoelektrik. Maltodekstrin berguna untuk meningkatkan rendemen. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengetahui berapa proporsi formula optimum terbaik antara ekstrak jeruk nipis, papain dan maltodekstrin untuk membuat keju oles analog berbasis susu jagung yang mengandung rendemen dan protein tinggi serta dapat diterima secara sensori 2) mengetahui karakteristik fisikokimia dan sensori keju oles analog berbasis susu jagung yang dihasilkan dari formula optimum terbaik. Rancangan percobaan yang digunakan adalah respone surface methodology dengan 3 faktor yaitu 1) ekstrak jeruk nipis, 2) papain 3) maltodekstrin. Ketiga faktor ditentukan batas bawah (1%, 0,018% dan 5%) dan batas atas (3%, 0,022% dan 15%). Hasil penelitian menghasilkan formula optimum terbaik yaitu jeruk nipis 2,178%, papain 0,022% dan maltodekstrin 15%. Karakteristik keju oles analog dari formula optimum terbaik menghasilkan rendemen 20,314%, pH 5,4, total padatan terlarut 14, kadar air 65,329%, kadar protein 13,516% dan kadar lemak 4,552%. Spread cheese is not only from animal milk, but can be made from a mixture of vegetable milk like corn milk. Basically, spread cheese is made by agglomerating the milk casein. The material used as coagulant is rennet enzyme, but it is limited and expensive. Therefore, it is necessary to use alternative material as a coagulant that is papain enzyme. Lime can also coagulate milk casein protein because it has low pH to create isoelectric point. Maltodextrin is useful for increasing the yield. The purpose of this research are 1) to determine the proportion of the best optimum formula between lime extract, papain enzyme, and maltodextrin to produce analogue spread cheese that has high yield and protein 2) to know the physicochemical and sensory characteristics of analogue spread cheese from the best optimum formula result. Experimental design in this study using Response Surface methodology with 3 factors : lime extract, papain enzyme and maltodextrin. These three factors are determined lower limit (1%, 0,018%, 5%) and upper limit (3%, 0,022%,15%). The result showed that the best proportion of optimum formula for analogue spread cheese was concentration of lime extract 2,178%, papain concentration 0,022% and maltodextrin concentration 15%. Physicochemical characteristic of analogue spread cheese produced from the best proportion of optimum formula had a yield 20,314%, pH 5,4, total solid 14, water content 65,329%, dissolved protein content 13, 516% and fat content 4,552%.
1916922448A1M014066PENGARUH MODEL KEMASAN DAN PEMILIHAN STRATEGI PEMASARAN PRODUK REMPEYEK KACANG TERHADAP PREFERENSI KONSUMEN DI PURWOKERTORempeyek merupakan makanan camilan yang memiliki cita rasa gurih dengan bahan dasar utama kacang yang dicampur adonan tepung beras dan bumbu. Rempeyek biasa ditemukan di warung makan, pasar, atau pasar swalayan. Biasanya rempeyek dibungkus dengan plastik dan di-seal dengan tali rafia atau stapler yang membuat kemasan menjadi kurang baik. Rempeyek yang dijual oleh kelompok usaha masih terbatas, salah satu masalah yang di hadapi adalah desain kemasan. Untuk meningkatkan penjualan produk rempeyek perlu dilakukan pengemasan yang menarik dan tepat. Oleh sebab itu diperlukan preferensi konsumen dilakukan untuk mengetahui peningkatan atau penurunan pemasaran produk. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui preferensi konsumen terhadap desain dan warna label kemasan produk rempeyek kacang. 2) mengetahui preferensi konsumen terhadap jenis dan ukuran kemasan produk rempeyek kacang. 3) mengetahui preferensi konsumen terhadap harga produk berdasarkan label, jenis dan ukuran kemasan. 4) mengetahui preferensi konsumen terhadap tempat penjualan produk rempeyek kacang. 5) mengetahui preferensi konsumen terhadap media promosi rempeyek kacang. Penelitian ini menggunakan metode survei berupa kuesioner. Kuesioner yang berbentuk pertanyaan kombinasi dengan menggunakan metode skoring pada skala likert 7 jenjang. Responden pada penelitian ini berjumlah 70 orang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kedua desain agak disukai oleh konsumen; Warna label kuning, hijau dan cokelat agak disukai oleh konsumen; tanpa kemasan primer disukai oleh konsumen, jenis kemasan sekunder yang disukai adalah stand pouch alufo transmetz zipper, ukuran 75 gram dan 150 gram agak disukai oleh konsumen; harga produk yang disukai oleh konsumen adalah kisaran Rp3.100 – 8.100, dengan model kemasan stand pouch bening zipper dan stand pouch alufo transmetz zipper dengan ukuran 75 gram dan 150 gram; tempat pembelian yang sesuai adalah toko oleh-oleh; media promosi yang disukai menurut responden adalah instagram, media online, facebook, poster dan spanduk.Rempeyek is a snack food that has savory flavors with the main ingredients of beans mixed with rice flour mixture and seasoning. Rempeyek is usually found in food stalls, markets, or supermarkets. Usually peanut rempeyek is wrapped in plastic and sealed with raffia rope or stapler which makes the packaging less good. Rempeyek sold by UKM is still limited, one of the problems faced is packaging design. Plan increasing sales of peanut rempeyek products, it is necessary to do attractive and appropriate packaging. Therefore, consumer preference is needed to determine the increase or decrease in product marketing. This study aims to: 1) consumer preferences for the design and color of label packaging for peanut bran products. 2) consumer preferences for the types and sizes of peanut rempeyek products. 3) consumer preferences for product prices based on label, type and size of packaging. 4) consumer preferences for the sale of peanut butter products. 5) consumer preferences for rempeyek kacang promotion media. This study uses a questionnaire survey method. Questionnaires in the form of combination questions using scoring methods on 7-level Likert scale. Respondents in this study amounted to 70 people. The results of this study indicate that both designs are rather favored by consumers; yellow, green and brown label colors are rather preferred by consumers; without the primary packaging favored by consumers, the preferred type of secondary packaging is the alufo transmetz zipper stand pouch, the size of 75 grams and 150 grams is rather preferred by consumers; the price of the product favored by consumers is the range of Rp3,100 - 8,100, with a clear zipper pouch stand model and alufo transmetz zipper stand pouch with a size of 75 grams and 150 grams; the appropriate place of purchase is a gift shop; the preferred promotional media according to respondents are instagram, online media, facebook, posters and banners.
1917022450D1E013159PENGARUH INTERVAL PEMERAHAN TERHADAP PRODUKSI SUSU, TOTAL SOLID DAN BERAT JENIS
SUSU SAPI PERAH DI KTT TIRTO MARGO UTOMO
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interval pemerahan yang berbeda
terhadap produksi susu, total solid, dan berat jenis susu. Materi yang digunakan dalam penelitian
adalah 30 sampel susu pemerahan pagi dan sore. Alat yang digunakan adalah ember takar dan
lactoscan milk analyzer. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei di KTT Tirto Margo
Utomo Desa Limpakuwus Kecamatan Sumbang. Peubah yang diukur adalah produksi susu, total
solid, dan berat jenis susu. Hasil penelitian produksi susu pada interval pemerahan 15 (pagi) dan 9
jam (sore) yaitu 7,213 ± 2,49 liter dan 5,30 ± 2,25 liter, total solid pada interval pemerahan 15 dan
9 jam yaitu 11,57 ± 1,34 % dan 11,91 ± 2,06 % dan berat jenis susu pada interval pemerahan 15
dan 9 jam yaitu 1,026 ± 0,001 g/ml dan 1,025 ± 0,001 g/ml. Hasil analisis regresi menunjukkan
bahwa interval pemerahan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap produksi susu,
berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap total solid, dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap
berat jenis susu. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin lama interval
pemerahan akan meningkatkan jumlah produksi susu dan menurunkan persentase total solid
This resesrch was aimed to find out the effect of different milking intervals on milk
production, total solid, and milk density. The used materials of this research were 30 samples of
morning and evening milking milk. The used tools are measuring bucket and lactoscan milk
analyzer. The research used survey method in The KTT Tirto Margo Utomo Limpakuwus Village.
The measured variables were the milk productions, total solid, and milk density. The results of
research on milk production at 15 and 9 hour milking intervals were 7.213 ± 2.49 liters and 5.30 ±
2.25 liters, total solid at 15 and 9 hours milking intervals were 11.57 ± 1.34% and 11.91 ± 2.06%
and milk density at 15 and 9 hour milking intervals were 1.026 ± 0.001 g /ml and 1.025 ± 0.001
g/ml. The results of regression analysis showed that the milking interval had a very significant
effect (P <0.01) on milk production, significantly (P <0.05) on total solid, and no significant effect
(P> 0.05) on the specific density of milk. Based on the results of the study it can be concluded that
the longer the milking interval will increase the amount of milk production and reduce the
percentage of total solid.
1917125539H1G014045KONDISI ALAMI SUNGAI SEBAGAI DASAR PENGELOLAAN UNTUK TERJAGANYA KELESTARIAN SPESIES ASLI
SUNGAI PELUS
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi lingkungan Sungai Pelus, mengetahui keanekaragaman ikan, mengetahui kegiatan antropogenik dan mengetahui peraturan daerah yang mengatur Sungai Pelus. Metode yang digunakan yaitu metode survey dan wawancara. Kondisi lingkungan Sungai Pelus masih dalam kondisi optimum untuk kehidupan biota. Kegiatan antropogenik meliputi MCK, Penangkapan ikan, pertambangan batu dan pasir serta pariwisata. Ikan yang ditemukan pada sungai terdiri atas ikan asli yang meliputi Ikan Uceng, Ikan Nilem, Ikan Wader, Ikan Palung , Ikan Kehkel, Ikan Tawes, Ikan Benteur, Ikan Lunjar, Ikan Keting, Ikan Pelus, Ikan Sili dan Ikan Gabus. Ikan introduksi meliputi Ikan Nila, Ikan Mas, Ikan Mujair, Ikan Sapu-Sapu, dan Ikan Lele Dumbo.This research aims to discover the environmental condition of Pelus River, the diversity of fish, the anthropogenic activities, and the regional regulations of Pelus River. Methods implemented in this study are the survey and interview method. The environmental condition of Pelus River remains in optimum level for the life of the organisms. Anthropogenic activities include MCK (Bath, Wash, Toilet), fishing, rock and sand mining, and tourism. Therefore, pollutant resources are assembled by domestic, agricultural, and industrial waste. Fishes discovered in the river are native fish, including Uceng Fish, Nilem Fish, Wader Fish, Palung Fish , Kehkel Fish, Tawes Fish, Benteur Fish, Lunjar Fish, Keting Fish, Pelus Fish, Silin Fish dan Gabus Fish. Meanwhile, the introduced fishes consist of Nila Fish, Mas Fish, Mujair Fish, Sapu-Sapu Fish, dan Lele Dumbo Fish.
1917226189E1A015110PELAKSANAAN FUNGSI PENGAWASAN TERHADAP PERILAKU HAKIM OLEH MAHKAMAH AGUNGKekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka dan tidak dapat dicampuri oleh kekuasaan negara lainnya, karena itu akan memengaruhi nilai keadilan. Namun, kemerdekaan hakim tidak serta merta membuat hakim dapat berperilaku menyimpang, sehingga diperlukan adanya pengawasan terhadap perilaku hakim. Kewenangan untuk mengawasi perilaku hakim dilakukan secara internal oleh Mahkamah Agung dan secara eksternal oleh Komisi Yudisial. Prinsipnya kewenangan untuk mengawasi perilaku hakim berdasarkan kode etik dan terhadap penanganan perkara tetap berada di tangan Mahkamah Agung sebagai pemegang kekuasaan kehakiman. Pengawasan eksternal diperlukan sebagai fungsi kontrol dalam lingkup kekuasaan kehakiman, meskipun pada hakikatnya Komisi Yudisial bukan sebagai pelaku kekuasaan kehakiman. Namun, pengawasan yang dilakukan oleh Komisi Yudisial bukan sebagai fungsi checks and balances pada lingkup kekuasaan kehakiman.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif, menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach), dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Metode pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui studi kepustakaan dan wawancara, dengan metode analisis bahan hukum secara kualitatif. Penelitian dilakukan untuk menganalisis norma-norma hukum yang berkaitan dengan prinsip-prinsip negara hukum, pembagian kekuasaan, checks and balances, dan kekuasaan kehakiman.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pengawasan terhadap perilaku hakim oleh Mahkamah Agung memiliki dasar argumentasi sebagaimana tercantum dalam Pasal 24A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman, serta Undang-Undang Mahkamah Agung. Pengawasan terhadap perilaku hakim dilakukan secara fungsional oleh Badan Pengawasan Mahkamah Agung yang memiliki tugas mengawasi lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung, termasuk pejabat pengadilan dan para hakim, serta administrasi peradilan.
Kata kunci: kekuasaan kehakiman, Badan Pengawasan Mahkamah Agung, pengawasan terhadap perilaku hakim.
Judicial power is an independent power and cannot be intervened by other power, because it will affect the value of justice. However, the independence of judges does not necessarily make judges behave in ways that are deviant, so that there is a need to supervise the behavior of judges. The authority to supervise the behavior of judges is carried out internally by the Supreme Court and externally by the Judicial Commission. The principle is the authority to supervise the behavior of judges based on a code of ethics and the handling of cases remains in the hands of the Supreme Court as subject of judicial power. External supervision is needed as checks and balances within the scope of judicial authority, even though the Judicial Commission is essentially not a subject of judicial power. However, the supervision is carried out by the Judicial Commission not as a function of checks and balances on the relationship of the judicial authority.
The method used in this research is normative juridical, using a statute approach, with descriptive research specifications. The methods of collecting legal material for this research is through library research and interviews, with qualitative methods of legal material analysis. The research was conducted to analyze legal norms relating to the principles of the rule of law, the distribution of powers, checks and balances, and judicial power.
Based on the results of this research, it can be concluded that the supervision on behavior of judges by the Supreme Court has the basis of arguments as stated in Article 24A of Constitution of the Republic of Indonesia Year 1945, Judicial Power Law, and the Supreme Court Law. Supervision on behavior of judges is carried out functionally by the Supreme Court Supervisory Agency which has the task of overseeing the judicial environment under the Supreme Court, including court officials and judges, and judicial administration.
Keywords: judicial power, Supreme Court Supervisory Agency, supervision on behavior of judges.
1917322454A1M014072TINGKAT PENERIMAAN DOKUMEN SISTEM PENJAMINAN MUTU DI INDUSTRI KECIL MENENGAH GULA KELAPA KRISTAL ‘UD. KALIMENGAJI’ DESA PERNASIDI, KECAMATAN CILONGOK, BANYUMASIndustri kecil menengah ‘UD. Kalimengaji’ berkeinginan meningkatkan mutu produk yang dihasilkan dengan menciptakan produk gula kelapa yang memiliki kontinuitas terhadap mutu dan aman dipasarkan sesuai dengan tuntutan konsumen melalui pelaksanaan Good Manufacturing Practices (GMP) dan Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai tingkat kepentingan dan kemudahan terhadap: 1) Pedoman mutu, 2) Prosedur mutu, 3) Instruksi kerja, 4) Formulir kutu. Penelitian ini memiliki tahapan: 1) Identifikasi dan observasi di IKM ‘UD. Kalimengaji’, 2) Pemberian kuesioner dan wawancara terkait dokumen sistem penjaminan mutu, 3) Kegiatan kaji tindak disertai dengan sosialisasi manajemen mutu, 4) Pemberian kuesioner akhir setelah kegiatan kaji tindak. Analisis data menggunakan uji t untuk mengetahui perbedaan pra kaji tindak dengan pascakaji tindak terhadap draf dokumen sistem penjaminan mutu (SPM) menggunakan SPSS 16.0. Hasil penelitian menunjukan nilai pada tingkat kepentingan terhadap dokumen pedoman mutu (4.7) netral menjadi (6.1) penting, tingkat kemudahan dari (4.6) netral menjadi (6.1) mudah. Dokumen prosedur mutu didapatkan nilai tingkat kepentingan dari (4.9) netral menjadi (6.5) penting, tingkat kemudahan dari (4.3) netral menjadi (6.5) mudah. Dokumen instruksi kerja didapatkan nilai untuk tingkat kepentingan dari (4.9) netral menjadi (6.6) penting, tingkat kemudahan dari (4.5) netral menjadi (6.5) mudah. Dokumen formulir mutu didapatkan nilai pada tingkat kepentingan dari (4.7) netral menjadi (6.5) penting, tingkat kemudahan dari (3.7) agak sulit menjadi (6.4) mudah.Small and medium industries 'UD. Kalimengaji' wish to improve the quality of products by creating coconut sugar products that have continuity to have quality and safe for the market according to consumer demands through the implementation of Good Manufacturing Practices (GMP) and Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP). This research aims to determine the value of importance and convenience to: 1) Quality guidelines, 2) Quality procedures, 3) Work instructions, 4) Quality form. This research has several stages: 1) Identification and observation at IKM 'UD. Kalimengaji ', 2) Providing questionnaires and do interview related to quality assurance system documents, 3) Follow-up to review activities accompanied by socialization of quality management, 4) Submission of the final questionnaire after the action to review activities. Data analysis using t test to know difference of pre action with post action towards draft document of quality assurance system (SPM) using SPSS 16.0. The result of the research shows the value of importance from neutral (4.7) to (6.1) important, the convenience level rom (4.6) neutral to (6.1) easy. The quality procedure document found that the importance value (4.9) is neutral to (6.5) important, the convenience level (4.3) neutral to (6.5) easy. The work instruction document obtained values for the importance (4.9) neutral to (6.6) important, the convenience level (4.5) neutral to (6.5) easy. The quality form document obtained values at the importance (4.7) neutral to (6.5) important, the conveniece from (3.7) is rather difficult to (6.4) easy.
1917426190L1B015040PREVALENSI, INTENSITAS DAN IDENTIFIKASI MOLEKULER PARASIT PADA IKAN SIDAT (Anguilla bicolor) YANG DIBERI PAKAN DENGAN TAMBAHAN VITAMIN CKeberadaan parasit merupakan tantangan tersendiri dalam pemeliharaan sidat. Komponen mikronutrien penting seperti vitamin C diharapkan dapat mendukung performa fisiologis ikan sidat dalam lingkungan pemeliharaan yang rentan memungkinkan terjadinya infeksi parasit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai intensitas dan prevalensi parasit yang ditemukan pada kelompok ikan sidat dengan perlakuan pemberian pakan mengandung vitamin C pada dosis berbeda selama 60 hari ( 0 mg/kg, 40 mg/kg, 60 mg/kg, dan 80 mg/kg pakan), serta mengidentifikasi suatu jenis parasit secara molekuler. Sebanyak 88 ekor sidat berukuran panjang 25,69 – 28,62 cm dan berat 18,94 – 33,75 gram dibedah dan diamati keberadaan parasitnya. Endoparasit yang ditemukan teridentifikasi sebagai Angulillicola crassus dengan nilai similaritas berkisar 94,47–95,29% berdasarkan sekuen gen sitokrom oksidase sebagai marka molekulernya. Adapun, nilai prevalensi parasit yang ditemukan berkisar antara 4,17–26,09% dengan intensitas berkisar antara 1 – 365,5 individu/ekor. Tidak ditemukan perbedaan nilai intensitas di setiap kelompok perlakuan, mengindikasikan pemberian vitamin C dalam kisaran dosis tersebut tidak cukup memberikan efek antiparasitik bagi sidat. Nilai faktor kondisi ikan berkisar 0,1326 – 0,1412. Tidak ada perbedaan nilai rerata faktor kondisi antara sidat terinfeksi parasit dengan sidat sehat (Sig. > 0,05), namun rerata faktor kondisi kelompok ikan yang sehat menunjukkan nilai yang lebih baik.The existence of parasite is an inevitable obstacle of eel’s (Anguilla bicolor) rearing. Vitamin C as an important component of feed micronutrient is expected to be able to support physiological performance of eels within rearing environment, in which the eels become vulnerable upon parasite infection. This research aims to know the value of prevalence and intensity of the parasite on the eel’s body under the treatment of vitamin C enriched diet in different doses for 60 days (0 mg/kg, 40 mg/kg, 60 mg/kg, and 80 mg/kg of feed), and also to identify the type of parasite found using molecular basis. As much as 88 eels at 25,69 – 28,62 cm of length and 18,94 – 33,75 gram of weight were examined. The endoparasite found is identified as Anguillicola crassus, showing similarity value of 94,47–95,29% based on COI gene sequence that served as its molecular barcode. The value of parasite prevalence found is ranging from 4,17–26,09% while the intensity is 1 – 365,5 parasite/fish. There is no difference found in intensity value for each treatment, indicating that the prescribed dose of vitamin C on feed is unable to promote antiparasitic effect for eels. The value of condition factor is ranging from 0,1326 – 0,1412. No significant difference of condition factor found between infected and uninfected eels (Sig. > 0,05), but the uninfected eels show better value of condition factor.
1917522452G1B014072Pengaruh Faktor Keluarga terhadap Perilaku Seksual Berisiko pada Remaja di Kampung Sri Rahayu PurwokertoLatar Belakang: Perilaku seksual berisiko pada remaja salah satunya dipengaruhi oleh faktor keluarga yang dapat mengakibatkan aborsi, hamil diluar nikah dan penyakit menular seksual. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa sebanyak 15% remaja di Kampung Sri Rahayu memiliki perilaku seksual berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor keluarga terhadap perilaku seksual berisiko pada remaja di Kampung Sri Rahayu Purwokerto.
Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah remaja usia 10-19 tahun di Kampung Sri Rahayu Purwokerto sebanyak 47 remaja. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan chi square dan regresi logistik.
Hasil Penelitian: Hasil analisis bivariat menunjukkan variabel yang berhubungan dengan p < 0,05 yaitu pola asuh orang tua (0,002) dan keharmonisan keluarga (0,002), sedangkan variabel pola komunikasi tidak berhubungan dengan perilaku seksual berisiko (0,728). Faktor dominan yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko adalah keharmonisan keluarga.
Kesimpulan: Semakin tidak harmonis keluarga yang dimiliki oleh remaja, maka semakin tinggi remaja berperilaku seksual berisiko (Exp B = 14,052).
Background: Risk sexual behavior among adolescent which caused by family factors can lead to abortion, unmarried pregnancy and sexual transmitted diseases. The result of preliminary study shows that as many as 15% adolescent in Kampung Sri Rahayu Purwokerto have risk sexual behavior. This study aims to determine the influence of family factors on risk sexual behavior among adolescent in Kampung Sri Rahayu Purwokerto.

Methods: This study was correlational with cross-sectional and quantitative method. The subjects were adolescent aged 10-19 years old in Kampung Sri Rahayu Purwokerto were amount 47 adolescent. Data analysis were Chi Square and Logistic Regression.

Results: Bivariate analysis showed that there were significant correlations between parenting (p = 0,002) and harmony in family (p = 0,002) with risk sexual behavior but no significant correlation between communication patterns with risk sexual behavior (p = 0,728). Multivariate analysis showed the most impacted factor was harmony in family.

Conclusion: The less harmonious families, the higher adolescent to have risk sexual behavior (Exp B = 14,052).
1917622571G1H011035HUBUNGAN ASUPAN GIZI DAN KEBIASAAN DUDUK LAMA DENGAN PERSEN LEMAK TUBUH PADA GAMERS REMAJA DI PURWOKERTOLatar Belakang: Persen lemak tubuh dapat dipengaruhi oleh aktivitas fisik yang kurang serta penyimpangan pola makan dimana asupan cenderung tinggi energi (lemak, protein, dan karbohidrat) dan rendah serat. Gamers merupakan salah satu kelompok dengan aktivitas kurang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan asupan gizi dan kebiasaan lama duduk dengan persen lemak tubuh.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian studi analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 44 orang, sampel diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran asupan gizi menggunakan kuesioner food recall 2x24 jam, kebiasaan duduk menggunakan kuesioner ASAQ, dan persen lemak tubuh menggunakan alat BIA. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Pearson.
Hasil: Rerata asupan energi, lemak, protein dan karbohidrat pada gamers di Purwokerto berturut-turut adalah 1916,93 kcal, 72,04; 76,71; dan 259.21. Rerata kebiasaan lama duduk saat bermain game dan persentase lemak tubuh adalah 8,89 jam/hari, dan 23,24%. Terdapat hubungan antara asupan energi nilai p= 0,020, lemak dan karbohidrat dengan persen lemak tubuh. Tidak ada hubungan antara protein dan kebiasaan duduk lama dengan persen lemak tubuh.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara asupan energi, lemak dan karbohidrat dengan persen lemak tubuh. Tidak ada hubungan antara protein dan kebiasaan duduk dengan persen lemak tubuh.
Kata Kunci: Asupan gizi, kebiasaan duduk, persen lemak tubuh.
Background: Body fat percentage may be affected by physical activities poorly as well as dietary deviations where intake tends to be high in energy (fat, protein, and carbohydrate) and low in fiber. Gamers are one of the groups with less activity. The purpose of this study to determine the relationship between the nutritional intake and sedentary behaviour with body fat percentage of adolescence in Purwokerto.
Method: This research used analytic study design with cross sectional approach. Sample as many as 44 people, taken by purposive sampling technique. Nutritional intake were measured by using 2x24 hours food recall questionnaire, sedentary behaviour using ASAQ questionnaire, and body fat percentage using BIA scales. Bivariate analysis used Pearson correlation product moment test.
Results: the means of energy intake, fat, protein, and carbohydrate were 1916,93 kcal, 72,04; 76,71; 259.21 respectively. The mean of sedentary behaviour and body fat percentage were 8,89 hours/day, and 23,24%. There is a relationship between energy intake, fat and carbohydrate with body fat percentage. However, there is no relationship between sedentary behaviour and body fat percentage.
Conclusion: There is a relationship between the energy intake, fat and carbohydrates with body fat percentage, but no relationship between sedentary behaviour and body fat percentage.

Keywords: Nutritional intake, sedentary behaviour, body fat percentage.
1917722576D1E014263PEMANFAATAN Indigofera zollingeriana DALAM PAKAN DOMBA EKOR TIPIS DITINJAU DARI KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK SECARA IN VITROTujuan penelitian untuk mengetahui kecernaan bahan kering dan bahan organik secara in vitro ransum domba yang diberi konsentrat dan Indigofera zollingeriana pada imbangan yang berbeda. Materi yang digunakan adalah cairan rumen yang berasal dari 3 ekor domba ekor tipis, rumput lapang sebagai pakan basal, konsentrat dan I. zollingeriana dari kebun Experimental Farm Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen in vitro dan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diteliti yaitu P0 (40 % rumput lapang + 60% konsentrat + 0% tepung I. zollingeriana), P1 (40 % rumput lapang +40% konsentrat + 20% tepung I. zollingeriana), P2 (40 % rumput lapang +20% konsentrat + 40% tepung I. zollingeriana), P3 (40 % rumput lapang + 0% konsentrat + 60% tepung I. zollingeriana). Variabel yang diukur yaitu kecernaan bahan kering (KBK) dan kecernaan bahan organik (KBO). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penggunaan I. zollingeriana dalam Pakan Domba Ekor Tipis berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap KBK dan KBO secara in vitro. Berdasarkan dari uji lanjut dunnet dengan membandingkan perlakuan dengan kontrol didapatkan bahwa perlakuan P0 dan P1 tidak berbeda nyata dan P2 dan P3 berbeda nyata terhadap P0. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan I. zollingeriana dapat menggantikan konsentrat 100 persen dalam pakan domba ekor tipis secara in vitro ditinjau dari kecernaan bahan kering dan bahan organik.This research aimed was to analyzed dry matter digestibility and organic matter digestibility with in vitro of sheep diet with different ration. Materials used in this research were rumen liquid from 3 sheeps, native grass as basal feed, concentrate and I. zollingeriana taken from Experimental Farm Faculty of Animal Science Jenderal Soedirman University Purwokerto. The research was conducted with in vitro experiment method with completed random design (CRD) with four treatment and five replications. Treatments researched were P0 (40% native grass + 60% concentrate + 0% I. zollingeriana), P1 (40% native grass + 40% concentrate + 20% I. zollingeriana), P2 (40% native grass + 20% concentrate + 40% I. zollingeriana), P3 (40% native grass + 0% concentrate + 60% I. zollingeriana). Variables analyzed were dry matter digestibility (DMD) and organic matter digestibility (OMD). Result of analysis of variance showed that the used of I. zollingeriona in sheep diet had significant effect (P<0.05) to (DMD) and (OMD) with in vitro. Based on dunnet test to compare between treatments and control, P0 and P1 was not significant and P2 and P3 was significant to P0. It could be concluded that the used of I. zollingeriona could substituted 100 percent of concentrate inside of sheep diet with in vitro observed from the digestibility of dry matter and organic matter.
1917822625F1C013035KOMUNIKASI ANTARPRIBADI ORANG TUA DENGAN ANAK
DALAM KELUARGA NARAPIDANA
Kedekatan antar anggota keluarga bisa berubah ketika dihadapkan dengan kondisi salah satu anggota keluarganya menjadi seorang narapidana di lembaga pemasyarakatan. Perasaan sedih, malu, marah, dan kecewa menyelimuti anggota keluarga narapidana. Hanya beberapa anggota keluarga yang masih mau berkunjung ke Lapas untuk membesuk. Tak banyak juga yang diutarakan ketika pertemuan antara keluarga dengan terpidana itu terjadi. Banyak penyebab beberapa hal perlu dirahasiakan selama percakapan langsung ketika membesuk. Hal ini tak lain untuk menjaga perasaan para terpidana. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan motif keluarga terpidana dalam melakukan komunikasi dengan salah seorang keluarganya yang menjadi narapidana; (2) Menganalisis mengenai komunikasi antarpribadi dalam keluarga narapidana. Metode dalam penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Adapun teori yang digunakan termasuk dalam Teori Komunikasi Antarpribadi yakni Teori Manajemen Privasi Komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Komunikasi antarpribadi keluarga narapidana berlangsung secara tatap muka, yakni ketika waktu membesuk ke Lapas; (2) Motif yang mendasari keluarga untuk mau membesuk keluarganya yang menjadi terpidana, pertama karena adanya hubungan kekerabatan, kedua karena rasa kasih sayang dari keluarga terpidana; (3) Ada beberapa hal ketika membesuk yang tidak bisa diungkapkan, seperti menunggu momen yang tepat, ingin menjaga perasaan terpidana, dan tidak ingin membebani pikiran para terpidana. The closeness between family members can be change when one of his family members being a prisoner in a Prison. The feelings of sadness, shame, anger, and disappointment cover up the family members of the prisoner. Only a few family members are still willing to visit the prisoner. There are not much conversation when they meet each other. There are many causes that several things need to be kept secret during direct conversation when visiting the inmates. This is none other than to keep the feelings of the inmates. This study aims to: (1) Describe the motive of the prisoners family in communicating with one of his relatives who become prisoners; (2) Analyze interpersonal communication in prisoners families. The method used in this research is qualitative with phenomenological approach. The theory that used is management of privacy communication. It can be categorized as interpersonal communication theory. The results showed that: (1) Interpersonal communication of the prisoners families is happen when face-to-face each other when visiting in prison; (2) There are two motives of the family to go visit their relatives in prison, first because of a kinship relationship, secondly because of the love of the prisoners family; (3) There are several things they can not expressed when visiting the prison, such as waiting for the right moment, want to keep the feelings of the prisoner, and not to burden the minds of the prisoner.
1917922813A1L013132PENGARUH KONSENTRASI SERUM DARAH SAPI DAN SERUM DARAH AYAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KAILAN
(Brassica oleraceae var.acephala)
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pertumbuhan dan hasil tanaman kailan pada variasi konsentrasi serum darah sapi, (2) mengetahui pertumbuhan dan hasil tanaman kalian pada konsentrasi serum darah ayam, dan (3) mengetahui kombinasi paling baik antara serum darah sapi dan darah ayam pada pertumbuhan dan hasil tanaman kailan. Penelitian ini dilaksanakan mulai Januari sampai Februari 2018 di Screen House, Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Faktor pertama yang ingin dikaji adalah konsentrasi serum darah sapi, terdiri (0%), (5%), (10%), dan (15%). Faktor kedua adalah konsentrasi serum darah ayam, terdiri (0%), (5%), (10%), dan (15%). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F, apabila terdapat keragaman dilanjutkan dengan DMRT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi serum darah sapi berpengaruh terhadap variabel yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot tanaman segar, bobot tajuk segar, volume akar dan bobot akar. Serum darah sapi dengan konsentrasi 15% memberikan nilai terbaik pada nilai rata-rata tinggi tanaman yaitu 36,50 cm dan rata-rata bobot tanaman segar yaitu 124,74 g. Konsentrasi serum darah ayam berpengaruh terhadap variabel jumlah daun, bobot tanaman segar, bobot tajuk segar, luas daun, bobot akar dan volume akar, namun tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman. Serum darah ayam dengan konsentrasi 15% memberikan nilai terbaik pada rata-rata bobot tanaman segar yaitu 111,01 g. Konsentrasi serum darah sapi dan konsentrasi serum darah ayam tidak saling berkaitan dalam mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman kailan. Konsentrasi 10% pada serum darah sapi dan 15% pada serum darah ayam memiliki pengaruh yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kailan. This research was conducted from January to February 2018 at the screen house of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. This research uses Completely Randomized Block Design (CRBD). The first factor consisted of 4 levels of cow blood serum concentration, (0%), (5%), (10%), and (15%). The second factor consisted of 4 levels of chicken blood serum concentration, (0%), (5%), (10%), and (15%). The variables observed were plant height, number of leaves, leaf area, fresh plant weight, fresh crown weight, root weight and root volume. Data were analyzed by F test, and continued with DMRT if significant with an alpha of 5%. The results showed that cow blood serum concentration affected on variables, plant height, leaf number, leaf area, fresh plant weight, fresh crown weight, root volume and root weight variables. Cow blood serum with concentration of 15% gave the best value on the plant height 36.50 cm and the fresh plant weight 124.74 g. Chicken blood serum concentration affected on variables leaf number, fresh plant weight, fresh crown weight, leaf width, root weight and root volume, but did not give effect on plant height. Chicken blood serum with concentration of 15% gave the best value on the fresh plant weight 111.01 g. Concentration of cow blood serum and concentration of chicken blood serum were not interrelated in affecting the growth and yield of kale plants. Concentration of 10% in cow blood serum and 15% in chicken blood serum gave the best effect on the growth and yield of kale plants.
1918022076H1A014004PENURUNAN BOD LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA DENGAN METODE ELEKTROKIMIA MENGGUNAKAN ELEKTRODA Al/C, Fe/C, DAN C/CNilai biochemical oxygen demand (BOD) yang tinggi pada limbah cair tapioka disebabkan karena masih mengandung senyawa organik, apabila langsung dibuang ke perairan akan mencemari perairan. Oleh karena itu perlu dilakukan penurunan nilai BOD sebelum dibuang ke perairan. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu menggunakan metode elektrokimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh voltase, pH larutan, waktu elektrolisis, dan material elektroda yang paling efektif terhadap penurunan nilai BOD limbah cair tapioka. Elektroda yang digunakan yaitu Al/C, Fe/C, dan C/C. Hasil penelitian menunjukkan penurunan nilai BOD pada kondisi terbaik terjadi pada voltase 12V, pH 1, dan waktu elektrolisis selama 5 jam pada masing-masing elektroda, sedangkan material elektroda yang paling efektif adalah C/C dengan nilai BOD 0 mg/L (100%).The high value of biochemical oxygen demand (BOD) tapioca wastewater was caused by the existence of organic compounds, if it directly threw away to waters, it will contaminate it. Therefore it is necessary to decrease the value of BOD before it is being threw away into the waters. One of the method to do that, is to use electrochemical methods. The purpose of this research to determine the effect of voltage, pH of solution, time of electrolysis, and the most effective electrode material to decrease in the BOD value of tapioca wastewater. The electrodes used were Al/C, Fe/C, and C/C. The results showed that the BOD reduction at the best conditions was happen at 12V, pH 1, and electrolysis time for 5 hours on each electrode, while the most effective electrode material is C/C with BOD value 0 mg/L (100%).