Artikelilmiahs

Menampilkan 1.721-1.740 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
17217700P2CC11030PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH, KEPUASAN KERJA, KOMITMEN ORGANISASI TERHADAP KINERJA GURU TERSERTIFIKASI SMA/SMK DI KABUPATEN PURBALINGGA
Penelitian ini dengan judul: “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Guru Tersertifikasi SMA/SMK Di Kabupaten Purbalingga. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, kepuasan kerja intrinsik, kepuasan kerja extrinsik, komitmen afektif, komitmen kontinuan, komitmen normatif terhadap kinerja guru tersertifikasi SMA/SMK Di Kabupaten Purbalingga. Alat analisis yang digunakan Structural Equation Modeling (SEM).
Dari hasil penelitian dan analisis data diperoleh kesimpulan bahwa:
Kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja intrinsik, kepuasan kerja ekstrinsik, komitmen afektif, komitmen kontinuan dan kinerja semakin baik kepemimpinan kepala sekolah semakin meningkat, kepuasan kerja intrinsik, kepuasan kerja ekstrinsik, komitmen afektif, komitmen kontinuan dan kinerja guru. Namun kepemimpinan kepala sekolah tidak berpengaruh terhadap komitmen normatif.
Kepuasan kerja intrinsik berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen afektif, komitmen kontinuan, komitmen normatif semakin tinggi kepuasan kerja intrinsik semakin meningkat pula komitmen afektif, komitmen kontinuan, komitmen normatif dan kinerja guru.
Kepuasan kerja ekstrinsik berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen afektif, komitmen kontinuan, komitmen normatif dan kinerja semakin tinggi kepuasan kerja ekstrinsik semakin meningkat pula komitmen afektif, komitmen kontinuan, komitmen normatif dan kinerja guru SMA/SMK Kabupaten Purbalingga.
Komitmen afektif, komitmen kontinuan, dan komitmen normatif berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru, semakin tinggi komitmen afektif, komitmen kontinuan dan komitmen normatif semakin meningkat pula kinerja guru.
Pihak sekolah perlu mengkaji lebih dalam atau mendesain ulang kebijakan-kebijakan kaitannya dalam hal ini adalah yang berkaitan dengan komitmen normatifnya dengan cara membangun guru senang dengan pekerjaannya, dan memanfaatkan guru dalam kegiatan belajar secara optimal sehingga guru merasa dibutuhkan oleh sekolah. Dalam hal ini guru sebagai pegawai negeri, perlu sekiranya kepala sekolah melakukan pengkajian mendalam dimana perlu adanya perbaikan-perbaikan kebijakan dalam hal pengelolaan organisasi sekolah sistem administrasi sekolah sehingga dapat meningkatkan komitmen normatif guru. Dasamping itu perlu mempertahankan dan jika perlu meningkatkan kepemimpinan kepala sekolah, kepuasan kerja intrinsik guru, kepuasan kerja ekstrinsik guru, komitmen afektif dan kontinuan karena variabel ini terbukti mempunyai pengaruh signifikan terhadap kinerja guru SMA/SMK Kabupaten Purbalingga.
This study is tested The Effects of Headmaster Leadership , Job Satisfaction, Organizational Commitment on Senior High school Certified teacher In Purbalingga. The purpose of this study is to determine the effect of headmaster, intrinsic job satisfaction , extrinsik job satisfaction, affective commitment, continuants commitment, normative commitment to the performance of senior high school certified teachers In Purbalingga. The analytical tool used Structural Equation Modeling (SEM).
From the research and analysis of the data it is concluded that: Headmaster leadership have significant positive effect on intrinsic job satisfaction, extrinsic job satisfaction , affective commitment , commitment continuants da better performance increasing school leadership, intrinsic job satisfaction, extrinsic job satisfaction, affective commitment, commitment continuants and performance of senior high school teacher. But the principal leadership has no effect on normative commitment. Intrinsic job satisfaction and a significant positive effect on affective commitment , continuants commitment , normative commitment to the higher intrinsic job satisfaction also increase the affective commitment, continuants commitment, normative commitment and performance of senior high school teacher. Extrinsic job satisfaction and a significant positive effect on affective commitment , continuants commitment , normative commitment and performance of senior high school certified teachers of the higher extrinsic job satisfaction also increase the affective commitment, continuants commitment, normative commitment and performance of teachers SMA/SMK Purbalingga. Affective commitment, continuants commitment, and normative commitment and a significant positive effect on teacher performance, the higher affective commitment, normative commitment and commitment continuants also increase the performance of senior high school teachers.
The school needs to examine more deeply or redesign policies in this regard is related to normative commitment by building teacher senag with his work, and take advantage of the teacher in the learning activities optimally so that teachers feel needed by the school. In this regard teachers as civil servants , in case the principal needs to do in-depth assessment of where the need for improvements in the management policy of the school organization school administration systems so as to improve the normative commitment of teachers . Also it needs to maintain and where necessary improve school leadership, teachers' intrinsic job satisfaction, extrinsic job satisfaction of teachers , affective commitment and continuants because these variables proved to have a significant influence on the performance of senior high school certified teachers SMA/SMK Purbalingga.
17227758H1D009036ANALISIS TAHANAN LATERAL PADA SAMBUNGAN GESER KOMPOSIT BAMBU LAMINASI-BETON MENGGUNAKAN ABAQUSDalam pemanfaatannya di bidang struktur, bambu laminasi bisa digunakan di berbagai kondisi yang menuntut kebutuhan kapasitas tarik yang tinggi seperti balok untuk gelagar jembatan atau struktur bangunan lainnya, dimana bambu laminasi bisa dikompositkan dengan material lain seperti beton. Pada penggunaan struktur komposit tersebut, komponen sambungan merupakan salah satu bagian yang perlu didesain dengan baik. Untuk memperoleh sambungan konstruksi antara komposit bambu laminasi dengan beton, maka diperlukan perencanaan sambungan yang dapat diandalkan terhadap tahanan lateral. Pemahaman akan perilaku sambungan tersebut dapat diperoleh dari pengujian eksperimental di laboratorium.
Tujuan yang ingin dicapai dari kajian ini adalah untuk memperkuat hasil eksperimental Ferawati (2013) mengenai pengembangan shear connector dengan alat sambung (dowel) untuk struktur komposit bambu laminasi-beton terhadap tahanan lateral dengan melakukan pemodelan benda uji menggunakan program ABAQUS. Parameter yang ditinjau meliputi kapasitas tahanan lateral, indeks daktilitas, dan mode kelelehan. Hasil kajian menunjukkan bahwa benda uji dengan variasi diameter 10, 13, dan 16 mm menghasilkan nilai rasio tahanan lateral numerik terhadap eksperimental berturut-turut adalah 0,78; 1,01; dan 0,91. Rasio daktilitas numerik terhadap eksperimental berturut-turut adalah 0,67; 0,57; dan 1,59. Mode kelelehan pada pemodelan numerik memiliki kategori yang sama dengan hasil eksperimental yaitu mode kelelehan IIIs, dimana kelelehan yang terjadi terdapat pada material beton dan baja.
Terdapat perbedaan trend pada daktilitas hasil numerik dengan hasil eksperimental berdasarkan data properties material yang diinputkan ke dalam program, khususnya bambu petung laminasi yang memiliki kemungkinan ketidakhomogenan antara benda uji satu dengan yang lainnya. Selain itu, peneliti melakukan pendekatan input data material pada bambu. Bambu merupakan bahan orthotropik, sedangkan penginputan datanya digunakan isotropik dikarenakan keterbatasan peneliti. Pendekatan yang dilakukan ialah menyesuaikan data input berdasarkan kondisi arah serat bambu pada saat pengujian penelitian Ferawati, yaitu tekan sejajar serat sebagai input data isotropik. Beberapa hal terkait ketidakhomegenan bahan dan pendekatan tersebut dapat menyebakan perbedaan antara eksperimental dengan pemodelan.

In its use in the field of structures, laminated bamboo can be used in a variety of conditions that require the high tensile capacity such as beams for bridge girder or other structures, which can be composited laminated bamboo with other materials such as concrete. On the use of the composite structure, connection is one part that needs to be designed properly. To obtain the connection between the composite laminated bamboo construction with concrete, it is necessary to plan a reliable connection to the lateral resistance. An understanding of the behavior, can be obtained from experimental tests in the laboratory.
The aim of this study is to strengthen the research Ferawati (2013) regarding the development of shear connector (dowel) by connecting structure composite concrete-laminated bamboo as a construction material on the lateral prisoners by modeling the test specimen using ABAQUS program. Parameters of which include lateral resistance capacity, ductility index, and melting mode. The results showed that the variation of the test object with a diameter of 10, 13, and 16 mm produces ratio of lateral resistance a numerical value to the experimental are 0,78 ; 1,01; and 0,91. Ductility ratio of numerical to experimental are 0,67 ; 0,57; and 1,59. Melting mode on numerical modeling has the same category with the experimental results is melting mode IIIs, where melting is occurs in concrete and steel material.
There are differences in trends in ductility numerical results with experimental results based on the material properties of the data entered into the program, especially petung laminated bamboo which has the possibility of irregularities in the test specimen to one another. In addition, the researchers doing approach the bamboo material data input. Bamboo is an orthotropic material, while inputting data used isotropic due to limitations of the researcher. The approach taken is adjust the input data based on the condition of bamboo fiber direction at the time of testing Ferawati, that is press parallel fibers as isotropic data input. Some things about irregularities materials, and approaches can cause the difference between the experimental with modeling
17237774P2FB08049IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ALOKASI DANA DESA DI WILAYAH KECAMATAN JERUKLEGI KABUPATEN CILACAP
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang pengelolaan keuangan desa dalam implementasi Alokasi Dana Desa (ADD) di Kecamatan Jeruklegi Kabupaten Cilacap dan untuk menemukan upaya perbaikan yang dapat dilakukan oleh pemerintahan desa di wilayah Kecamatan Jeruklegi dan Pemerintah Kecamatan Jeruklegi dalam implementasi ADD setelah ditemukan adanya penyimpangan. Penelitian dilakukan di Kecamatan Jeruklegi Kabupaten Cilacap dengan mengikutsertakan desa klasifikasi sedang dan kurang mampu sebagai sampel. Untuk mencapai tujuan penelitian, digunakan metode penelitian kualitatif dan menggunakan teknik analisis model interaktif.
Permasalahan dalam implementasi kebijakan Alokasi Dana Desa (ADD) dijumpai pada pelaksanaan pengelolaan di tingkat desa dari unsur pemerintah desa maupun lembaga kemasyarakatan di desa dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, pencatatan / pelaporan dan pertanggungjawaban kegiatan yang belum dilaksanakan secara optimal dan menggali upaya perbaikan yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Desa.
Hasil penelitian menemukan bahwa dalam implementasi ADD di Kecamatan Jeruklegi Kabupaten Cilacap: Pada aspek pengelolaan ADD, belum semua desa melaksanakan sesuai prosedur yang diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 9 Tahun 2007 tentang Pedoman pengelolaan keuangan desa. Ada kelemahan dalam setiap tahapan, yaitu pertama pada tahap perencanaan, penyusunan rencana penggunaan belum melalui mekanisme musrenbangdes tapi mendasari usulan pemerintah desa dengan alasan sudah masuk dalam RPJMDes dan penyusunan Peraturan Desa tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa terlambat sehingga menyebabkan waktu pelaksanaan kegiatan sangat sempit.
Kedua tahap pelaksanaan, pengajuan proposal pencairan dana Pemerintah Desa dibuat secara global tidak memperhatikan rincian detil penggunaan anggaran sehingga sangat berpotensi menimbulkan kesalahan perhitungan anggaran khususnya kegiatan yang bersifat fisik. Pemerintah desa terjebak dengan teknik pemerintah kabupaten dalam pencairan anggaran yang dilakukan dua termin masing-masing 50% sehingga pengelolaan dana untuk membiayai kegiatan tidak tepat. Kendala lain adalah kapasitas Aparatur Pemerintah Desa sebagai pelaksana kebijakan ADD masih rendah. Rendahnya kemampuan tim pelaksana pengelola ADD tersebut juga dijadikan alasan bagi oknum kepala desa atau oknum perangkat desa dan lembaga desa lainnya untuk mengambil alih kewenangan tim pelaksana ADD.
Ketiga, tahap pemanfaatan dana ADD belum dapat dirasakan oleh masyarakat secara merata karena tidak adanya penentuan skala prioritas pembangunan. Pelaksanaan pembangunan baru sebatas untuk membiayai operasional Pemerintah Desa dan kelembagaan desa seperti PKK, BPD, LPPMD dan Karang Taruna dan Linmas, sedangkan kebutuhan utama masyarakat belum terpenuhi secara tuntas, karena dana dibagikan secara merata kepada lembaga desa sesuai dengan kebutuhan yang diajukan dalam proposal.
Keempat, Pencatatan dan pelaporan kegiatan seringkali terlambat karena kurangnya pemahaman para penerima dana sehingga Bendahara Desa tidak dapat menyusun laporan tepat waktu yang berakibat pada mundurnya pencairan ADD tahap berikutnya karena SPJ ADD sebelumnya menjadi syarat pencairan anggaran berikutnya. Kondisi ini mengakibatkan Tim Pendamping Kecamatan juga tidak dapat membuat laporan rekapan tepat waktu.
Kelima, Pada tahap pertanggungjawaban belum mampu mewujudkan administrasi keuangan pengelolaan ADD yang akuntabel. Keterbatasan sumberdaya manusia dalam pengelolaan ADD dan bendahara ADD yang merangkap sebagai bendahara desa sebagai pelaksana pengelolaan keuangan desa menyebabkan sistem pelaporan dan pertanggungjawaban secara administrasi mengalami hambatan.
Upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintahan desa dalam pengelolaan keuangan desa setelah ditemukan adanya penyimpangan ADD di Kecamatan Jeruklegi Kabupaten Cilacap diantaranya 1) melakukan penjadwalan kegiatan desa, misalnya dengan musrenbangdes terintegrasi, memadukan perencanaan kegiatan yang akan didanai melalui APBN, APBD Propinsi, APBD Kabupaten dan APBDes khususnya yang didanai melalui ADD sehingga dapat mempercepat proses perencanaan dan penyusunan rancangan Peraturan Desa tentang APBDes. 2) Pengawasan secara ketat, dengan berkoordinasi dengan Dinas Cipta Karya Dan Tata Ruang dan Dinas Bina Marga dalam menetapkan design enginering pada tahapan pengajuan proposal pembangunan fisik sehingga akan diperoleh spesifikasi bangunan dan anggaran yang dibutuhkan dan tim pendamping kecamatan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala dan terencana (terjadwal) pada setiap triwulan untuk mengetahui perkembangan fisik dan keuangan, meningkatkan peran serta BPD dan masyarakat dalam kegiatan pengawasan, 3) Pemanfaatan secara efisien dan efektif, dengan mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat akan menghasilkan kegiatan yang tepat sasaran sesuai harapan masyarakat. Selanjutnya pemerintah desa dan masyarakat berkewajiban turut menjaga dan memelihara hasil – hasil pembangunan yang sudah didanai dari ADD sehingga menjadi kegiatan yang berkelanjutan, bermanfaat lebih lama dan dimanfaatkan secara efisien dan efektif.
The problem in the implementation of ADD ( Alokasi Dana Desa/ Village Fund Allocation) is found in the implementation of the management in the level of village from the village government element and social institute in village in the planning, implementation, utilization, registration/ responsibility reporting of the program that have not been optimal and improvement means which can be done by the village government.
The research is done in Jeruklegi sub district of Cilacap regency. It took the village with medium and indigent classification as the sample. To reach the purpose of the research, it used qualitative method and interactive model for the technique of analysis.
The result is the implementation of in Jeruklegi sub district of Cilacap regency: In Aspect of ADD management: Not all the village do the management as the procedure in Perda Cilacap (Law of Cilacap ) No 9 Year 2007 about the Guidelines of the Village Fund Management. There is the weakness in each level; First in the planning, the plan arrangement is not through the mechanism of musrenbangdes. But it constitutes the proposal of the village government with the reason it has included in RPJMDes and the Village Law Arrangement about the revenue and expenditure budget of the village’s late. So that causing the time of implementation is limited.
Second, In the Implementation, the submission of the proposal of liquefaction of fund village government is made globally and nonobservance to the detail of the use of fund. Therefore, it is potentially make mistake in accounting especially physical program. The government is trapped in the technique of liquefaction from the sub province government in liquefaction by two (termin). Each gets 50% so that the management of the fund is not appropriate. Another constraint is the capacity of the village government as the implementer of the policy is still low. The low of the ability is also used as the reason for the head of village or officer and other village institution to take the authority of the ADD implementer team.
Third, the utilization of ADD has not experienced by the villager because there is not the determination of the priority scale of the development. The implementation of new development is still on defraying the operational of village government and the institution like PKK, BPD, LPPMD, Karang Taruna and Linmas. In other side the main needs of the society has not been fulfilled because the fund is divided to the institution based on the needs on the proposal submitted.
Fourth, record and report of the program is often late because of under understanding of the donation receiver so that village treasure could not arrange the report on time which effect to the deterioration liquefaction of ADD for the next stage because SPJ of ADD before become the requirement of next liquefaction calculation. This condition effect sub district team-laborers also could not make the recapitulation report on time.
Fifth, in the responsibility stage cannot be able to create the ADD management of finance administration accountably. The restrictiveness of human resource in ADD management and treasure who tevens as the village treasure also become the finance management organizer of the village that effect the obstacle of responsibility reporting administration.
The effort which can be done by the village administration in village finance management after found the deviation ADD at Jeruklegi sub district of Cilacap regency are 1) do village program schedule, like integrating of Musrenbangdes, fuse the strategy of the program which donated by APBN, province APBD, Regency APBD and APBDes especially donated by ADD so that can expedite planning process and palling arrangement of village regulation about APBDes. 2) control strictly, through coordination with Cipta Karya Official and Lay-Out and Bina Marga Official in determining of engineering design in the stage of physical building proposal so that will have the building specification and the budget which is needed and sub district labor team evaluate periodical and scheduled in every three month to know the physical development and finance, upgrade the action of BPD and society in controlling program, 3) to use efficiently and effectively, by enabling society optimally will produce the right activity appropriate with society’s hope. Furthermore the village government and the society be liable to keep building result which donated from ADD so it become progress activity, longer useful, and exploited efficiently and effectively.
17247762G1D008086HUBUNGAN LINGKUNGAN BELAJAR KLINIK TERHADAP TINGKAT KECEMASAN MAHASISWAPROGRAM PROFESI NERS DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTOLingkungan belajar klinik penting dalam pendidikan keperawatan. Ada 5 faktor yang mempengaruhi lingkungan belajar klinik yaitu ilmu pengetahuan dasar, atmosfer sosial, program pelatihan dan workshop, supervisi, dan beban kerja. Kecemasan adalah suatu ketegangan, rasa tidak aman, kekhawatiran, yang timbul karena dirasakan akan mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkungan belajar klinik terhadap tingkat kecemasan pada pembelajaran klinik mahasiswa program Ners di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, dengan instrumen kecemasan menggunakan skala Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Sampel penelitian ini berjumlah 65 responden. Analisa data penelitian menggunakan uji Fisher Exact Test dengan tingkat kemaknaan ( 0,05). Hasil uji Fisher’s Exact Test menunjukan bahwa ada hubungan yang bermakna antara faktor atmosfer sosial (p.value 0,023) dengan tingkat kecemasan dan ada hubungan yang bermakna antara faktor program pelatihan dan workshop (p.value 0,020) dengan tingkat kecemasan, sementara ilmu pengetahuan dasar, supervisi dan beban kerja tidak ada hubungan yang bermakna dengan tingkat kecemasan. Clinical learning environment is important in nursing education. There are 5 factors that influence clinical learning environment. These are basic science, social atmosphere, training programs and workshops, supervision, and workload. Anxiety is a tension, insecurity, fear, which arises due to the perceived will experience unpleasant occurrences. This study aims to determine the relationship of clinical learning environment to the level of anxiety in the clinical learning student nurses in Prof . dr . Margono Soekarjo hospitals Purwokerto. This study used a cross-sectional design. Anxienty was measured by the Hamilton scale anxiety Anxiety Rating Scale (HARS). Sample size was 65 respondents. Analysis of research data used the Fisher Exact Test with significant level 0.05. The results showed that there was a significant relationship between anxiety level and social atmosphere (p.value 0.023) and workshop training program (p.value 0,020), while there was no relationship between anxiety level and basic science, supervision and workload.
17257763H1D008078MODEL PEMILIHAN MODA ANTARA SHUTTLE DAN BUS PATAS RUTE PURWOKERTO-YOGYAKARTA DENGAN TEKNIK STATED PREFERENCE (Studi Kasus Shuttle Sumber Alam dan Bus Patas Efisiensi)Penelitian ini menitikberatkan pada transportasi angkutan umum penumpang antar kota antara moda shuttle dan bus patas yang melayani rute Purwokerto-Yogyakarta. Penelitian ini dimaksudkan untuk membangun model pemilihan moda antara shuttle dan bus patas rute melalui pengetahuan atas preferensi pengguna jasa (studi kasus shuttle sumber alam dan bus patas efisiensi) terhadap atribut perjalanan moda kemudian dimodelkan untuk memperoleh nilai utilitas dan probabilitas pemilihan masing-masing moda. Perumusan perilaku individu dalam memilih moda ke dalam model pemilihan moda dilakukan dengan menggunakan data SP (Stated Preference).
Analisis data model pemilihan moda menggunakan model logit binomial dan estimasi parameter model dengan menggunakan analisa regresi. Dari hasil penelitian ini didapat empat atribut perjalanan yang dianggap berpengaruh signifikan dalam perilaku pemilihan moda, yaitu waktu tempuh perjalanan, frekuensi keberangkatan, tingkat pelayanan, dan toleransi keterlambatan. Dengan persamaan selisih utilitas antara moda shuttle dan moda bus patas adalah:

Ushuttle – Ubus patas = -29,006 – 1,289X2+ 8,4819 X3+ 3,576 X4-4,1609X5
R2 = 0,892

dimana:
X2 = selisih waktu tempuh perjalanan (journey time) antara shuttle dan bus patas
X3 = selisih frekuensi keberangkatan antara shuttle dan bus patas
X4 = selisih tingkat pelayanan (service) antara shuttle dan bus patas
X5 = selisih toleransi keterlambatan antara shuttle dan bus patas

Kata kunci : stated preference, model pemilihan moda,atribut perjalanan
This research focuses on intercity passenger public transportation between shuttle and rapid bus modes that serves Purwokerto-Yogyakarta route. The aim of this research was to formulate a mode choice between shuttle and rapid bus based on preference passengers of (case study shuttle of sumber alam and rapid bus of efisiensi) to the trip attribute, and then be modeled to find out the utility of value and the mode choice probability each type. The formulation of human behavior in this transportation mode in used SP (Stated Preference) data.
Model of data analysis of modal choice using binomial logit model and parameter estimation model by using regression analysis. The result of analysis obtained four trip attribute which have influence in mode choice behavior, there are journey time, departure frequency, quality of service, and delay time allowance. With the difference utilities shuttle mode and rapid bus mode is:

Ushuttle – Ubus patas = -29.006 – 1.289X2+ 8.4819 X3+ 3.576 X4-4.1609X5
R2 = 0.892
Where:
X2 = the difference of journey time shuttle and rapid bus
X3 = the difference of departure frequency shuttle and rapid bus
X4 = the difference of service quality shuttle and rapid bus
X5 = the difference of delay time shuttle and rapid bus


Keywords : stated preference, mode choice models, trip attributes.
17267764H1L009070RANCANG BANGUN APLIKASI TRANSAKSI PENJUALAN DAN PEMBELIAN BARANG MENGGUNAKAN FRAMEWORK CODEIGNITER PADA TOKO SPORTINDO
Dunia bisnis dan perdagangan saat ini membutuhkan suatu teknologi informasi yang mampu menangani masalah mengenai pencatatan hasil transaksi penjualan dan pembelian barang. Sportindo merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang penjualan pakaian dan accesories olahraga. Selama ini proses transaksi penjualan masih dilakukan dengan mencatat semua hasil transaksi penjualan dan pembelian barang di buku/kertas. Proses ini membutuhkan waktu yang lama dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk pembelian kertas/nota penjualan. Pengelolaan data transaksi yang baik menyebabkan semua data transaksi dapat terorganisir dengan baik. Oleh karena itu, perlu dibuat suatu aplikasi transaksi penjualan dan pembelian barang yang dapat mengelola data transaksi dengan baik. Pembuatan aplikasi tersebut menggunakan beberapa metode diantaranya observasi dan melakukan penelitian/wawancara langsung ke toko tersebut. Metode pengembangan sistem yang digunakan adalah metode waterfall. Aplikasi transaksi penjualan dan pembelian barang mempunyai 8 menu yaitu menu dashboard, data pengguna, data kategori, data barang, data supplier, data transaksi pembelian, data transaksi penjualan, data backup dan restore database, data laporan transaksi penjualan dan pembelian barang. Pengujian aplikasi transaksi penjualan dan pembelian barang ini dilakukan langsung dengan pengguna yang akan menggunakan langsung aplikasi ini yaitu pemilik dari toko sportindo dan 2 orang pegawai secara localhost. Setelah melalui proses pengujian aplikasi, didapat hasil dimana aplikasi transaksi penjualan dan pembelian barang bisa berjalan sesuai dengan keinginan pihak toko tersebut.
Kata kunci : transaksi penjualan barang, transaksi pembelian barang.
The world of business and commerce currently need for information technologies that can handle recording the sale transaction result and purchase of goods issue. Sportindo is one of the company that is involved in the sale of sports clothing and accesories. Until present, the sale transaction process was done by recording all the results of the sale and purchase of goods in a book / paper. This process takes a long time and not a small amount of cost was spended for the purchase of paper / bill of sale. Good data management transaction causes all transaction data can be organized well. Therefore, an application was needed to make the sale and purchase of goods that can properly manage transaction data. The Making of the application was using several methods including observation and conduct research / interviews directly to the store. The System development method that was used is the waterfall method. Sales and purchases of goods application have 8 menu that is dashboard menu, user data, categorical data, the data item, supplier data, purchases transaction data, sales transaction data, a backup data and restore database, the data report sales and purchases of goods. Testing of sales and purchases of goods applications is done directly by the users who will be using this application that is the direct owner of the store and 2 employees Sportindo in the localhost. After going through the process of testing the application, in which obtained the result that the sales and purchasing transaction application can be run in accordance with the store side of expectation.
Key words : the sale of items, purchases of items.
17277765B1J009079KOMUNITAS SEMUT (HYMENOPTERA: FORMICIDAE) DI LAHAN SAYURAN ORGANIK DAN INTENSIFPengelolaan lahan pertanian intensif dan organik diduga mempengaruhi keanekaragaman serangga salah satunya Famili Formicidae (Semut). Famili Formicidae (semut) dapat digunakan sebagai bioindikator kualitas lingkungan karena semut merupakan kelompok serangga yang paling dominan di habitat terestrial. Selain itu, semut juga memiliki kepekaan terhadap tekanan yang ada di lingkungannya, sehingga dapat digunakan sebagai indikator gangguan habitat dan juga indikator pengaruh aplikasi pestisida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman dan kelimpahan semut pada lahan yang berbeda, yaitu lahan pertanian organik dan intensif. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah survei dengan teknik pengambilan sampel sistematik mengikuti line transek. Setiap line transek dibagi menjadi 5 kuadran. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan pitfall trap. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga kali. Parameter yang dihitung adalah jumlah individu dan jumlah spesies. Parameter lain yang diukur adalah temperatur, pH, dan kelembaban tanah. Variabel yang diamati adalah kelimpahan dan keragaman semut pada dua lahan yang berbeda. Data dianalisis menggunakan Indeks Keragaman berdasarkan Margurran (1985), yaitu Indeks Shannon-Wiener dan Indeks Kesamaan Morista-Horn. Sedangkan kelimpahan dianalisis menggunakan Uji T-test pada tingkat kesalahan 10 dan 20%. Total semut yang didapat adalah 336 individu, 38 spesies dan 3 subfamilia. Berdasarkan indeks Shanon-Wienner, keragaman semut di lahan sayuran organik dan intensif masing-masing adalah (H’) 1,9 dan (H’) 2,1. Hasil tersebut menunjukkan keragaman spesies pada kedua lahan tidak berbeda nyata, yang dapat disebabkan praktek intensifikasi lahan yang belum lama serta penggunaan pestisida dan pupuk buatan yang tidak intens pada lahan sayuran intensif desa Melung. Hasil yang sama juga didapat pada kelimpahan semut di kedua lahan menggunakan uji t (-0,725 < 0,235). Indeks Morisita-Horn menunjukkan kesamaan semut pada kedua lahan sebesar 68%.



Melung is one of the agrotourism villages that applies organic and intensive farming. Generally farmers manage the land by using organic and intensive agricultural systems. Organic and intensive land management systems may affect soil insect diversity and abundance, especially ants. The objectives of this research were (1) to distinguish ant diversity in organic and intensive land and (2) to distinguish ant abundance in organic and intensive land. Samplings were conducted in May and July 2013. Ants were collected using five pitfall traps per land with a systematic line transect. Ants were identified up to the level of genus. The total density of ants was 336 individuals, 38 species and 3 subfamilies (Myrmicinae, Formicinae and Ponerinae). Anoplolepis sp. was a dominant ant species on both lands. Shanon-Wienner Index (H’) showed that ant diversity in organic land was 1,9 and the ant diversity in intensive land was 2,1. The results showed that species diversity in organic and intensive land was not significantly different. The same result was showed in the species abundance with t-test (-0,725 < 0,235). Similarity index Morisita-Horn showed that ant similarity in organic and intensive land was 68%.
17287766G1D010015FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA ULKUS DIABETIKUM PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan diabetes melitus yang terjadi karena resistensi tubuh terhadap efek insulin yang diproduksi oleh sel beta pankreas. Diabetes melitus yang tidak terkontrol pada pasien diabetes melitus akan menyebabkan berbagai komplikasi salah satunya ulkus diabetikum.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi terjadinya ulkus diabetikum pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUD Prof dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain case control. Pengambilan sampel menggunakan metode quota sampling dengan sampel sebanyak 72 orang terdiri dari 36 kelompok kasus (penderita diabetes melitus dengan ulkus diabetikum dan 36 kelompok kontrol (penderita diabetes melitus tanpa ulkus diabetikum) di RSUD dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat.
Hasil: Faktor perawatan kaki tidak teratur (p=0,000), penggunaan alas kaki tidak tepat (p=0,000), adanya deformitas kaki (p=0,004), adanya riwayat ulkus sebelumnya (p=0,002), lama diabetes mellitus ≥8tahun (p=0,018), dan olahraga tidak teratur (p=0,000) merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya ulkus diabetikum sedangkan faktor gangguan penglihatan (p=0,083), dukungan keluarga (p=0,083) dan merokok (p=0,101) tidak mempengaruhi terjadinya ulkus diabetikum.
Kesimpulan: faktor olahraga merupakan faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi terjadinya ulkus diabetikum, penderita diabetes mellitus yang tidak melakukan olahraga secara teratur berisiko 10.617 kali terjadinya ulkus diabetikum.

Background : Diabetes mellitus type 2 is a diabetes mellitus that occurs because the body's resistance to the effects of insulin which is produced by the beta cells of the pancreas . Uncontrolled diabetes mellitus in patients who has diabetes mellitus cause lead to various complications one of them is diabeticum ulcer.
Purpose : This research aimed to know the factors that influence of the occurrence of diabeticum ulcers in patients with diabetes mellitus type 2 in RSUD Prof. dr . Margono Soekarjo Purwokerto.
Methods : This research used a case control design. Taking sample use quota sampling method with the total of sample are 72 people consist of 36 groups of cases (patients with diabetes mellitus with diabeticum ulcers) and 36 control group (patients with diabetes mellitus without diabeticum ulcers in RSUD Prof. dr . Margono Soekarjo Purwokerto. Instrument that used in this research is questionnaire, and it was analyzed used univariate , bivariate and multivariate analyzes.
Results : Factor irregular foot care (p = 0.000), incorrect use of footwear (p = 0.000), presence of foot deformity (p = 0.004), a history of previous ulcers (p = 0.002), duration of diabetes mellitus ≥ 8year (p = 0.018) , and irregular exercise (p = 0.000) are factors that influence the occurrence of diabeticum ulcers while impaired vision factors (p = 0.083), family support (p = 0.083) and smoking (p = 0.101) did not influence the occurrence of diabeticum ulcers.
Conclusion : sport factor is the most dominant factor that influencing the occurrence of diabeticum ulcers , patient who has diabetes mellitus and did not do regularly exercise will easily get 10,617 times of the risk of diabeticum ulcers.
17297770H1D008038Studi Pengembangan Fasilitas Pangkalan Pendaratan Ikan (Ppi) Cikidang
Kabupaten Pangandaran
Pelabuhan perikanan adalah tempat pelayanan umum bagi nelayan serta masyarakat dalam usaha perikanan. Pelabuhan perikanan berfungsi sebagai pusat pembinaan dan peningkatan kegiatan ekonomi perikanan yang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas pendukung. Salah satu pangkalan perikanan di Jawa Barat adalah Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cikidang. Sebagai salah satu pangkalan pendaratan ikan, PPI Cikidang beroperasi untuk melayani masyarakat melalui fasilitas yang disediakannya.Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kebutuhan fasilitas Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cikidang.
Penelitian ini dimulai dari tahap pengukuran di lapangan dan pengumpulan data-data mengenai alur, kolam pelabuhan, dermaga dan breakwater. Yang selanjutnya mengolah data dan membandingkan antara hasil pengukuran dengan perhitungan yang dilakukan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kedalaman alur dan kolam pelabuhan tidak aman. Kedalaman alur berdasarkan pengukuran adalah 0,995 meter, sementara berdasarkan perhitungaan adalah 2,28 meter. Kedalaman kolam pelabuhan berdasarkan pengukuran adalah 0,54 meter, sementara berdasarkan perhitungan adalah 1,775 meter. Dari hasil pengukuran panjang dermaga pendaratan dan perbekalan adalah 100 meter dan panjang dermaga tambat adalah 180 meter. Berdasarkan hasil perhitungan panjang dermaga pendaratan dan perbekalan adalah 88,65 meter dan panjang dermaga tambat adalah 180 meter. Luas kolam pelabuhan pada kondisi normal adalah 21.337,84 meter2, sedangkan pada kondisi badai adalah 31.111,08 meter2. Luasan ini cukup untuk menampung kapal sebanyak 518 unit. Kolam pelabuhan dilindungi breakwater dengan lebar puncak 2,81 meter berdasarkan hasil perhitungan dan 4 meter berdasarkan hasil pengukuran. Tebal lapis lindung breakwater adalah 1,873 meter dengan jumlah hexapod 19 buah untuk 10 meter2. Dengan dimensi tersebut breakwater mampu menahan gelombang setinggi 1,2 meter pada bagian ujung dan 1,4 meter pada bagian lengan.

Kata kunci : pangkalan pendaratan ikan, alur, kolam pelabuhan, dermaga, pemecah gelombang.
Fishery Port is a public service for fishery trade and founding centre with proponent facilities. Research about Fishery Port took a place in Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cikidang. The aim of this reserach is to analyze facilities needed in PPI Cikidang. This Research started by measuring and collecting data about channel, port water reservoir and breakwater. The result of this research compared with anlyzing data planning.
The finding this result shows that the condition of depth channel water reservoir and Port Water Reservoir aren’t save. Researcher got the depth of channel is 0.995 meters, meanwhile based on calculation it should be 2.28 meters. Then, the depth of the pool is 0.54 meters, it should be 1.775 meters. The measuring of length arrival dan supply quay is 100 meters, then the length of tether quay is 180 meters. They should be 88.65 and 180 meters. The wide of port water reservoir in normal condition is 21,337.84 meters2, then in storm is 31,111.08 meters2. This are can accomodate 518 units of ships. It covered by breakwater with width of peak based on calculation is 2,8metersthen in reality it’s 4 meters. The bold of breakwater cover is 1.873 meters with 19 hexapods for 10 meters2. The breakwater can support 1.2 meters height of waves in its point and 1.4 meters height in the arm.

Keywords: port fishery, channel, port basin, breakwater
17307752B1J009131DISTRIBUSI SPASIAL DAN TEMPORAL KERANG TOTOK
Polymesoda erosa DI KAWASAN MANGROVE SEGARA ANAKAN CILACAP
Segara Anakan merupakan salah satu hutan mangrove terbesar di pulau Jawa. Mereka mempunyai peranan fungsi ekologi dan ekonomi penting pada konservasi keragaman biologi. Polymesoda erosa merupakan salah satu bivalvia yang terdapat di Segara Anakan. Distribusi dan kelimpahan bivalvia sangat ditentukan oleh faktor lingkungan dan fase kehidupannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan P. erosa dan distribusi spasial dan temporal P. erosa di kawasan Segara Anakan Cilacap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan sampling menggunakan metode petak kuadrat pada 12 stasiun selama musim kemarau dan musim penghujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan P. erosa lebih banyak terdapat pada musim kemarau dibandingkan musim penghujan yaitu masing-masing 16,167 ind/m2 dan 12 ind/m2. P. erosa didistribusikan secara mengelompok pada bagian tengah dari Segara Anakan. Dominan ukuran panjang cangkang P. erosa adalah 5,01 — 6,00 cm dan mengalami pergeseran ukuran cangkang dari musim kemarau ke musim penghujan sekitar 0,341%. P. erosa juga memiliki ukuran berat yang lebih banyak pada musim kemarau (1 — 20 g) daripada musim penghujan (21 — 40 g). Betina P. erosa mendominasi daripada jantan selama kedua periode.Segara Anakan is one of largest mangrove forests in Java island. Where they fulfill important ecological and economical functions in conserving biological diversity. Polymesoda erosa is one of bivalvia which is lived in Segara Anakan. The ditribution and the abundance of bivalvia was influenced by environmental conditions and phase of their life. The aims of this study is to know the abundance of P. erosa and the spatial and temporal distribution of P. erosa in Segara Anakan Cilacap area. The method which is used in this research is survey method with squares plot sampling technique in 12 stations during dry and rainy season. The results shows that P. erosa is more abundant in dry season than rainy season which is 16.167 ind/m and 12 ind/m respectively. P. erosa were aggregately distributed of in the middle of Segara Anakan. The dominant lenght of P. erosa is 5.01 – 6.00 cm and its was moved from dry to rainy season about 0.341%. P. erosa has also more weight in dry season (1 – 20 g) rather than in rainy season (21 – 40 g). The female P. erosa is more dominant than male during both periods.
17317767B1J009096AKTIVITAS PROTEASE DAN AMILASE IKAN NILEM (Osteochilus hasselti C.V.) SELAMA 24 JAMVariasi aktivitas enzim digesti merupakan perubahan aktivitas enzim yang terjadi didalam organ pencernaan ikan (intestine). Perubahan ini dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya yaitu waktu, suhu, dan species. Perubahan aktivitas enzim digesti pada ikan nilem dilihat dari waktu setelah pemberian pakan. Lamanya waktu setelah pemberian pakan tersebut berkorelasi dengan aktivitas enzim digesti (protease dan amylase) pada tubuh ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perubahan aktivitas enzim protease dan amylase digesti dalam kurun waktu 24 jam, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah berupa aspek fisiologi mengenai perubahan aktivitas protease dan amylase digesti ikan nilem dalam kurun waktu 24 jam. Metode penelitian ini dilakukan secara survei menggunakan teknik pengambilan sampel dengan 4 waktu pembedahan dan 4 kali ulangan. Waktu pembedahan dilakukan selama 24 jam, ikan nilem yang dibedah pada pukul 06:00 WIB (P1), ikan nilem yang dibedah pada pukul 12:00 WIB (P2), ikan nilem yang dibedah pada pukul 18:00 WIB (P3), dan ikan nilem yang dibedah pada pukul 24:00 WIB (P4). Parameter yang diukur adalah aktivitas protease dan amilase digesti. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas protease adalah 0,624±0,170 U/menit (P1), 0,683±0,09 U/menit (P2), 0,804±0,361 U/menit (P3), 0,712±0,065 U/menit (P4) menunjukkan terdapat perbedaan yang tidak signifikan antar waktu pengambilan sampel (P>0,05). Aktivitas amilase adalah 0,915±0,111 U/menit (P1), 1,429±0,424 U/menit (P2), 1,307±0,601 U/menit (P3), 0,977±0,081 U/menit (P4), menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar waktu pengambilan sampel (P>0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aktivitas protease dan amilase ikan nlem tidak dipengaruhi oleh lamanya waktu setelah pemberian pakan.


Variation of digestive enzymes activity is changes of enzymes activity in fish Osteochilus hasselti digestive organs ( intestine ). This change is influenced by several things including time, temperature, and species. Changes in the activity of digestive enzymes in fish nilem can be seen from time after feeding. The length of time after feeding correlat with digestive enzymes activity ( protease and amylase ) in fish’s body. The aim of this study to determine the change in protease and amylase activity within 24 hours. The results are expected to provide scientific information such as physiological aspects, that is changes of protease and amylase in fish nilem digestion within 24 hours. Methods has been done by survey using sampling techniques with 4 treatments and 4 replications. Treatment for 24 hours by fed twice, the fish were dissected at 06:00 pm ( P1 ), 12:00 pm ( P2 ), 18:00 pm ( P3 ), 24:00 pm ( P4 ). Parameters were digestion protease and amylase activity. The results showed that protease activity were 0.624 ± 0.170 U / min ( P1 ) , 0.683 ± 0.09 U / min ( P2 ) , 0.804 ± 0.361 U / min ( P3 ) , 0.712 ± 0.065 U / min ( P4 ). There was not significant difference between sampling time ( P > 0.05 ). Amylase activity were 0.915 ± 0.111 U / min ( P1 ) , 1.429 ± 0.424 U / min ( P2 ) , 1.307 ± 0.601 U / min ( P3 ) , 0.977 ± 0.081 U / min ( P4 ). There was not significant difference between sampling time ( P > 0.05 ). It can be concluded that no change protease and amylase activity in fish during the observation.

Keywords : amylase , Osteochilus hasselti , time , protease .
17327768H1D007041PEMODELAN BANGKITAN DAN TARIKAN PERJALANAN DENGAN METODE STEP-WISE
(STUDI KASUS DI KABUPATEN BANYUMAS)
ABSTRAK
PEMODELAN BANGKITAN DAN TARIKAN PERJALANAN DENGAN METODE STEP-WISE
(STUDI KASUS DI KABUPATEN BANYUMAS)

Durriyyatun Nawiroh
Dalam pembangunan suatu wilayah, transportasi memegang peranan yang cukup penting. Sehingga, segala hal yang berkaitan dengannya perlu mendapat perhatian dari waktu ke waktu. Salah satunya adalah perihal bangkitan dan tarikan perjalanan yang akan selalu berkaitan erat dengan perkembangan ekonomi di suatu wilayah. Banyumas sebagai kabupaten yang memiliki kegiatan yang cukup kompleks tentu akan selalu diiringi dengan perubahan pola lalu lintasnya. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk dapat mengetahui pola lalu lintas yang di antaranya berupa matriks perjalanan, bangkitan serta tarikan perjalanan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis regresi metode Stepwise. Dalam proses ini, diperlukan dua kelompok data utama sebagai variabel terikat dan variabel bebas. Variabel terikat yang digunakan bersumber dari hasil wawancara yang dilakukan di lima lokasi utama yaitu simpang timur dan barat Hotel Horison Purwokerto, simpang Sawangan, Jalan Bank dan Stasiun Purwokerto. Hasil wawancara ini digunakan untuk membuat matriks perjalanan dan selanjutnya digunakan dalam analisis regresi. Sedangkan variabel bebas seluruhnya bersumber dari data BPS berupa data kependudukan, julah sekolah, guru dan murid jumlah hotel, kendaraan dan PDRB di tiap kecamatan di Kabupaten Banyumas.
Matriks perjalanan yang dihasilkan dianggap tidak mewakili pergerakan di Kabupaten Banyumas karena beberapa zona tidak terisi oleh hasil wawancara. Hal ini mengakibatkan model bangkitan dan tarikan dari hasil wawancara dianggap berkualitas kurang baik. Setelah perjalanan diestimasi berdasar jumlah kendaraan dan PDRB kemudian dilakukan analisis regresi diperoleh model bangkitan terbaik Yb= 6362,15 +1,085X4 -0,2846X5 +0,1681X7 +0,2202X8 +72,3341X10 -0,1534X12 yang melibatkan variabel bebas kepadatan per km2 (X4), kepadatan per desa (X5), jumlah siswa (X7), jumlah guru (X8), PDRB (X10) dan jumlah mobil pribadi (X12) dengan nilai R2 sebesar 0,97445. Dan model tarikan terbaik Yt= -223,87 +0,441X1 -4,0412X2 +0,0076X3 +3,7823X6 +3,0834X10 +0,9716X11 +1,2374X12 dengan nilai R2 sebesar 0,99917 melibatkan variabel luas wilayah (X1), jumlah desa (X2), jumlah penduduk (X3), jumlah sekolah (X6), PDRB (X10), jumlah motor (X11) dan jumlah mobil (X12).
Kata kunci: matriks perjalanan, bangkitan, tarikan, stepwise, analisis regresi
Abstrack
In the development, transportation play an important part. So, all things that related to it need to be noticed time after time. One of the important part is trip generation and trip attraction that will always be closely associated with the economic development in a region. Banyumas as a regency that has a fairly complex activity would always be accompanied by changes in the traffic pattern. Therefore, this study was conducted in order to be able to know the traffic patterns among a trip matrices, trip generation and trip attraction . The study was conducted using stepwise regression analysis method. In this process, it takes two main data group, dependent variable and independent variables. The dependent variable is sourced from interviews conducted in five major locations namely east and west intersection of Hotel Horison Purwokerto, intersection of Sawangan, Bank Road and Station of Purwokerto. The results of these interviews are used to make the trip matrices and subsequently used in the regression analysis. The independent variables derived from Statistic Central Institution include the demographic data, the number of schools, teachers and students, the number of hotels, vehicles and GDRP in each subdistrict in Banyumas .
Trip matrix that resulted is considered not representative of the movement in Banyumas because some zones are not occupied by the interview . This resulted the trip productions and attractions model of the interview are considered as poor quality . After regression analysis of the trip that estimated based on the number of vehicles and GDRP was performed, the best model of trip production was resulted Yb=6362,15+1,085X4-0,2846X5+0,1681X7+0,2202X8+72,3341X10-0,1534X12 involving independent variable density per km2 (X4) , density per village (X5) , number of students (X7) , number of teachers (X8) , GDRP (X10) and the number of private cars (X12) with a R2 value of 0.97445. And the best attraction model Yt=-223,87+0,441X1-4,0412X2+0,0076X3+3,7823X6+3,0834X10 +0,9716X11+1,2374X12 with R2 value of 0.99917 involving variable area (X1) , number of villages (X2) , population (X3) , number of schools (X6) , GDRP (X10), the number of motors (X11) and the number of cars (X12) .
Keywords : trip matrices, trip productions , trip attractions, stepwise , regression analysis
17337769H1C009046PENINGKATAN KUALITAS CITRA MENGGUNAKAN METODE HISTOGRAM EQUALIZATION PADA CITRA MAGNETIC RESONANCE IMAGING (MRI)Citra merupakan salah satu elemen multimedia yang biasa digunakan dalam penyampaian suatu informasi, baik itu informasi yang hanya bersifat hiburan sampai informasi yang dapat dikatakan sebagai informasi penting yang salah satu contohnya ialah informasi di bidang medis sebagai contoh ialah citra MRI. Citra MRI ini memiliki beberapa faktor kelebihan, namun bila pemilihan parameternya tidak tepat akan memunculkan sebuah artefak yang disebabkan karena pergerakan fisiologi dan banyaknya parameter pada teknik penggambaran. Untuk mengatasi hal ini, maka dibutuhkan pengolahan citra untuk memperbaiki citra MRI. Histogram Equalization merupakan salah satu metode dari pengolahan citra untuk memperbaiki citra dengan cara meningkatkan kekontrasan citra.Dari hasil penelitian yang dilakukan, citra yang baik mempunyai kisaran dinamis (tingkat ke-abu-an) yang cukup lebar, distribusi piksel yang cukup merata pada kisaran dinamis (tingkat ke-abu-an) tersebut, dan adanya informasi yang ada di dalam citra seperti bentuk sumsum dan letak tumor yang berguna untuk mendiagnosa pasien.The image is one of the multimedia elements commonly used in the delivery of information, whether it is entertainment information only to the information that can be regarded as an important information which one example is the information in the medical field as an example is the MRI image. The MRI images has several advantages factor, but if the selection parameters are not right will bring up an artifact caused by the movement of the physiology and number of parameters in imaging techniques. To overcome this, it is necessary image processing to improve the image of MRI. Histogram Equalizationis a method of image processing to improve the image by increasing the contrast of the image.Our research result shows that a good image have dynamic range (grayscale level) that is wide, distribution pixel that is quite prevalent in the range dynamic, and the lack of information that is in its image as bone marrow and form the layout tumors that are useful to diagnosa patients.
17347772H1D009012PERKUATAN BALOK BETON BERTULANG METODE NEAR SURFACE MOUNTED MENGGUNAKAN BAJA TULANGANSalah satu penyebab kegagalan struktur dikarenakan adanya perubahan fungsi bangunan. Agar tidak terjadi kegagalan struktur maka perlu dilakukan perkuatan sebagai antisipasi awal. Metode perkuatan dalam penelitian ini adalah metode Near Surface Mounted (NSM). Metode NSM merupakan metode perkuatan dengan memasangkan material di permukaan beton. Metode NSM sering digunakan dalam perkuatan beton bertulang, karena cara ini telah berhasil memperbaiki dan meningkatkan kuat lentur beton bertulang tanpa perlu adanya penambahan dimensi.
Pada kajian ini akan dilakukan penelitian perkuatan balok beton bertulang menggunakan metode NSM menggunakan baja tulangan. Parameter pengujian yang dilakukan meliputi kapasitas lentur, kekakuan lentur, daktilitas, dan pola retak serta tipe keruntuhan. Penelitian dilakukan terhadap 3 buah balok beton bertulang, masing-masing 2 balok tanpa perkuatan atau balok kontrol (BK), 2 buah balok diperkuat dengan 2 Baja Tulangan (BP1), dan 2 buah balok diperkuat dengan 3 baja tulangan (BP2).
Dari hasil pengujian menunjukan bahwa kapasitas beban lentur BP1 dan BP2 mengalami peningkatan terhadap BK dengan rasio sebesar 1,19 dan 1,12. Kekakuan lentur ekivalen BP1 dan BP2 juga mengalami peningkatan terhadap BK dengan rasio 0,97 dan 1,19. Sedangkan pada indeks daktilitas BP1 dan BP2 mengalami penurunan terhadap BK dengan rasio sebesar 0,65 dan 0,52. Pola retak yang terjadi untuk benda uji BK, BP1 dan BP2 dapat dikategorikan tipe keruntuhan lentur.

One cause of failure of the structure due to changes in the function of the building . To avoid failure of the structure, it is necessary to strengtheningas an early anticipating .Strengthening method in this study is the method of Near Surface Mounted ( NSM ) . NSM method is a method of strengthening with a using of material on the surface of the concrete . NSM method commonly used in strengthening concrete reinforcement , because of the way has succed to improve and enchance the flexural strength of reinforced concrete without the need for additional dimensions.
In this study the research will be carried out strengthening of reinforced concrete beams using NSM method using steel reinforcement .Parameter testing was performedon the flexural capacity , bending stiffness , ductility , and fracture pattern and type of collapse . Research was performed on 3 pieces of reinforced concrete beams , each of 2 beams without reinforcement or control beam (BK ) , 2 pieces of beams reinforced with 2 Steel Reinforcement ( BP1 ) , and 2 pieces of beams reinforced with 3 Steel Reinforcement ( BP2 ) .
From the test results show that the bending load capacity BP1 and BP2 increased with a ratio of 1,19 and 1,12 to BK. Bending stiffness equivalent BP1 and BP2 also increased the ratio of 0,97 and 1,19 to BK. While the BP1 and BP2 ductility index decreased to BK with a ratio of 0,65 and 0,52 . The pattern of cracks that occurred for the specimen BK , BP1 and BP2 can be categorized types of bending collapse .
17357776G1D009052Hubungan antara frekuensi kemoterapi dengan kadar asam urat pada pasien kanker payudara di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN KEMOTERAPI DENGAN KADAR ASAM URAT PADA PASIEN KANKER PAYUDARA
DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

Listia Puji Rahmania1 Saryono2 Yuli Dwi Hartanto3

Latar belakang:. Kemoterapi adalah proses pengobatan yang bertujuan untuk menghancurkan atau memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker. Sindrom Lisis Tumor (SLT) adalah komplikasi yang secara potensial fatal berkaitan dengan pengrusakan sel akibat kemoterapi. Lisis sel tumor dengan cepat setelah kemoterapi mengakibatkan meningkatnya pengeluaran asam urat. Ketidakseimbangan peningkatan asam urat dengan pengeluaran dari dalam tubuh menyebabkan asam urat terakumulasi dalam tubuh yang menyebabkan hiperurisemia.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara frekuensi kemoterapi dengan kadar asam urat pada pasien kanker payudara di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Metode: Desain penelitian ini adalah desain korelasi dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 42 responden. Penelitian ini dilakukan di Bangsal Bougenvile RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Analisis data menggunakan uji statistik Spearman.
Hasil: Usia responden antara 40-60 tahun dengan rerata 49,04, stadium II dengan rerata 2,45, frekuensi kemoterapi dari 1 sampai 6 dengan rerata 2,76, dan kadar asam urat dengan rerata 5,98 mg/dL. Hasil uji Spearman pada hubungan frekuensi kemoterapi dengan kadar asam urat diperoleh nilai p= 0,976.
Kesimpulan: tidak terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi kemoterapi dengan kadar asam urat pada pasien kanker payudara di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto yang menjalani kemoterapi.


Kata Kunci: Kanker payudara, Frekuensi Kemoterapi, Asam Urat.
Referensi: 71 (1991-2013).
CORRELATION BETWEEN CHEMOTHERAPY
WITH URIC ACID LEVEL AT BREAST CANCER PATIENTS
IN MARGONO HOSPITAL PURWOKERTO


Listia Puji Rahmania1 Saryono2 Yuli Dwi Hartanto3

Background: Chemotherapy is the treatment process that aims to destroy or slow the growth of cancer cells. Tumor Lysis Syndrome (TLS) is a potentially fatal complication related to chemotherapy-induced cell destruction. Lysis of tumor cells quickly after chemotherapy resulted in increased of uric acid. Imbalance with increased of uric acid from the body causes the expenditure of uric acid accumulates in the body that cause hyperuricemia.
Objective: This study was to know the correlation between frequency of chemotherapy with uric acid levels at breast cancer patients in Margono Hospital Purwokerto.
Methods: The design in this study was correlative design with cross sectional approach. The sampling method used purposive sampling. The respondents in this study were 42 respondents. This research was conducted in the ward of bougenville Margono Hospital Corebon. Data analysis used the Spearman statistical test.
Results: Respondents aged between 40-60 years with a mean of 49.04, stage II with a mean of 2.45, the frequency of chemotherapy from 1 to 6 with a mean of 2.76 and uric acid levels with a mean of 5.98 mg / dL. The result of Spearman test toward the correlation between frequency of chemotherapy with uric acid level showed p value = 0,976.
Conclusion: There was no correlation between frequency of chemotherapy with uric acid levels at breast cancer patients in Margono Hospital Purwokerto.


Keywords: Breast Cancer, Chemotherapy Frequency, Uric Acid.
Reference: 71 (1991-2013).
17367777B1J009163KERAGAMAN TUNGAU FAMILIA Macrochelidae (ACARI: MESOSTIGMATA) PADA FESES AYAM (Gallus gallus)
YANG DIPELIHARA DENGAN TIPE KANDANG
LITTER PANGGUNG DAN LITTER POSTAL
Pemeliharaan ayam pedaging menggunakan beberapa tipe kandang, diantaranya tipe kandang litter panggung dan litter postal. Perlakuan feses pada kedua tipe kandang akan menyebabkan keadaan feses sebagai tempat hidup tungau Familia Macrochelidae akan berbeda. Keragaman tungau Familia Macrochelidae diduga akan berbeda juga pada kedua tipe kandang. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keragaman tungau Familia Macrochelidae pada feses ayam yang dipelihara dengan tipe kandang litter panggung dan litter postal. Penelitian ini menggunakan metode survei, dengan teknik pengambilan sampel secara sistematis. Pengambilan sampel sebanyak 100 gram di setiap sudut (4 titik) dan bagian tengah kandang (1 titik) dan dilakukan 4 kali pengulangan dengan interval 1 minggu. Sampel feses yang didapat kemudian dibawa ke laboratorium untuk diekstraksi menggunakan Barlese-Tullgren termodifikasi dan diamati lebih lanjut. Tungau yang diperoleh kemudian dihitung jumlah dan jenisnya, diawetkan, serta diidentifikasi di Laboratorium Entomologi-Parasitologi, Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Variabel yang diamati adalah keragaman tungau Familia Macrochelidae, tipe kandang litter panggung dan litter postal. Parameter yang diamati adalah jenis dan jumlah tungau Familia Macrochelidae, temperatur dan kelembaban feses ayam. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan indeks Shannon-Wiener dan indeks Shannon-Evennes. Indeks keragaman tungau Familia Macrochelidae pada feses ayam yang dipelihara dengan tipe kandang litter panggung adalah 0,81354. Indeks keragaman pada tipe kandang litter postal adalah 0,79871.Broiler chicken maintenance using some cage type, including the type of litter stage cage and litter postal cage. Faeces treatment in both types of cages will cause the faeces as a place for mites Macrochelidae to live different. The diversity of mites Macrochelidae also expected to be different in the two types of cages. The aimed of this research were to know the diversity of mites species in the Familia Macrochelidae on chicken faeces that were kept by the type of litter stage cage and litter postal cage. This research used survey method, with systematic sampling technique. The samples were as many as 100 grams in each corner of the cage (4 points) and the center of the cage (1 point) and performed 4 repetitions with 1 week intervals. The samples obtained were then taken to the laboratory to be extracted using Barlese-Tullgren and observed. Mites were obtained and calculated their number and species, preserved and identified in the Laboratory of Parasitology-Entomology, Faculty of Biology, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The variables measured were Familia Macrochelidae mite diversity, type of litter stage cage and litter postal cage. Parameters measured were the species and number of mites in the Familia Macrochelidae, temperature and humidity of chicken faeces. The result were analyzed using Shannon-Wiener index and Shannon-Evennes index. Diversity index of mite of Familia Macrochelidae on chickens faeces that was kept with the type of litter stage cage was 0.81354. Diversity index on the type of litter postal cage was 0.79871.
17377778G1D009011ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN TERAPI BERMAIN DI RUANG ANAK RSUD KABUPATEN PURBALINGGA DAN BANYUMASANALISIS FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PELAKSANAAN TERAPI BERMAIN DI RUANG ANAK
RSUD KABUPATEN PURBALINGGA DAN BANYUMAS

Rr. Rizki Prilli Nindyaningtyas1), Haryatiningsih Purwandari2), AcikYuli Purwanti3)
1Mahasiswa Jurusan IlmuKeperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan , Universitas Jenderal Soedirman
2 Jurusan Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Imu-Ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman
3RSUD Banyumas
Latar belakang : Anak yang dirawat di rumah sakit dapat mengalami krisis dan kecemasan. Bermain diperlukan untuk mengurangi rasa takut dan cemas yang dialami akibat perawatan yang dialami anak.
Tujuan : Mengidentifikasi faktor dominan yang mempengaruhi pelaksanaan terapi bermain di ruang anak RSUD Kabupaten Purbalingga dan Banyumas.
Metode : Desain penelitian non eksperimen dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 28 orang, menggunakan teknik total sampling dengan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Analisis data yang digunakan adalah uji statistik non parametrik dengan uji chi square.
Hasil : Hasil analisis hubungan jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, masa kerja dengan pelaksanaan terapi bermain diperoleh nilai p (0,613); (0,252); (1,000); (0,113). Hasil analisis hubungan persepsi perawat tentang keberadaan prosedur tetap (SOP) terapi bermain dan pelatihan dengan pelaksanaan terapi bermain diperoleh nilai p (0,000); (0,429). Hasil analisis hubungan sarana prasarana, pengetahuan dan motivasi dengan pelaksanaan terapi bermain diperoleh nilai p (0,002); (0,783); (0,252).
Kesimpulan : Jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, masa kerja, pelatihan, pengetahuan, motivasi dan sikap tidak berhubungan secara signifikan dengan pelaksanaan terapi bermain di ruang anak, sebaliknya persepsi perawat tentang keberadaan prosedur tetap (SOP) terapi bermain dan sarana prasarana berhubungan secara signifikan dengan pelaksanaan terapi bermain di ruang anak. Faktor yang paling dominan mempengaruhi pelaksanaan terapi bermain adalah faktor persepsi perawat tentang keberadaan prosedur tetap (SOP) terapi bermain.

Kata kunci : faktor – faktor, pelaksanaan, terapi bermain, rumah sakit
ABSTRACT

FACTORS ANALYSIS THAT AFFECT THE IMPLEMENTATION OF PLAY THERAPY IN THE CHILD ROOM AT RSUD IN THE REGENCY OF PURBALINGGA AND BANYUMAS

Rr. Rizki Prilli Nindyaningtyas1), Haryatiningsih Purwandari 2), Acik Yuli Purwanti3)

1Student of Nursing Majority, Faculty of Medical and Health Sciences,
Jenderal Soedirman University
2Lecturer of Nursing Majority, Faculty of Medical and Health Sciences,
Jenderal Sudirman University
3RSUD Banyumas

Background: The Children that are taken care in the hospital they can experience the crisis and anxiety. Playing game is needed to reduce the fear and anxiety that are caused by the treatment that happened to the children.
Purpose: To identify the dominant factor that affect the implementation of play therapy in the child room at RSUD in the Regency of Purbalingga and Banyumas.
Method: Research design of non experiment by using the approach of cross sectional. The number of sample is 28 people by using the technique of total sampling and questioner as the research instrument. Data analysis in this research is the statistic test of non parametrical by using test of chi square.
Result: The result of analysis of sex type, age, education level, work period and the implementation of play therapy which are obtained the value p (0.613); (0.252); (1.000); (0.113). The analysis result of the correlation of nurse perception about the existence of fix procedure (SOP) of play therapy and practicing with the implementation of play therapy are obtained the value p (0.000); (0.429). Analysis result of the correlation of infrastructure, knowledge and motivation and with the implementation of play therapy are obtained the value p (0.002); (0.783); (0.252).
Conclusion: The sex type, age, education level, work period, practicing, knowledge, motivation and attitude do not have the significant correlation with the implementation of play therapy in the room child, but in the contrary the perception of nurse about the existence of fix procedure (SOP) of game therapy and infrastructure have the significant correlation with the implementation of play therapy in the child room. The most dominant factor that affect the implementation of game therapy is the perception factor of nurse about the existence of fix procedure (SOP) of play therapy.


Keywords: factors, implementation, play therapy, child room, hospital
17387779B1J009061ANALISIS FENETIK KULTIVAR Solanum melongena L.Penelitian dengan judul “Analisis Fenetik kultivar Solanum melongena L.” telah dilaksanakan pada bulan Agustus – Oktober 2013, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kemiripan antar tanaman dari Solanum melongena L. Metode penelitian yang digunakan adalah metode observasi berbasis koleksi herbarium yang diperoleh dengan mengamati sampel tanaman Solanum melongena L. yang terdapat di Herbarium Unsoed (PUNS) dan metode eksploratif dengan teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak terpilih (Purposive Random Sampling) di Wilayah Banyumas dan sekitarnya. Data karakter dan sifat morfologi tanaman dari Solanum melongena L. dianalisis secara deskriptif menggunakan metode UPGMA (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean). Hasil penelitian diperoleh 5 spesies tanaman dari Solanum melongena L. yaitu: Solanum melongena ‘Gelatik’, Solanum melongena ‘Hijau’, Solanum melongena ‘Putih’, Solanum melongena var. esculentum, dan Solanum melongena var. serpentimum. Berdasarkan fenogram diperoleh 4 kelompok kekerabatan. Kelompok I terdiri atas Solanum melongena var. esculentum dan Solanum melongena var. serpentimum. Kelompok II terdiri atas Solanum melongena ‘Hijau’. kelompok III terdiri dari Solanum melongena ‘Gelatik’, dan Kelompok IV terdiri atas Solanum melongena ‘Putih’. Hubungan kemiripan terdekat yaitu antara Solanum melongena var. esculentum dan Solanum melongena var. serpentimum dengan nilai ketidaksamaan 0,095. Hubungan kemiripan terjauh yaitu antara Solanum melongena var. esculentum dan Solanum melongena ‘Putih’ dengan nilai ketidaksamaan 1,417.
Kata kunci: Analisis Fenetik, Kemiripan, Varietas, Solanum melongena L, Banyumas.

A research entitled “Phenetic Analysis of Cultivated Solanum melongena L.” has been conducted from Augusts to October 2013, The aim of this research is to know the relationship amongst Solanum melongena L.. The research methods were collection–based method by observing sample in PUNS and explorative method with purposive random sampling technique in Banyumas. The relationship was analyzed by using UPGMA (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) methods. The result of this study showed five species of Solanum melongena L., namely Solanum melongena ‘Gelatik’, Solanum melongena ‘Hijau’, Solanum melongena ‘Putih’, Solanum melongena var. esculentum and Solanum melongena var. serpentimum. The phenogram showed four groups, namely the first group consists of Solanum melongena var. esculentum and Solanum melongena var. serpentimum. The second group is Solanum melongena ‘Hijau’. The third group is Solanum melongena ‘Gelatik’. And The fourth group consists of Solanum melongena ‘Putih’. The closest relationship is between Solanum melongena var. serpentimum and Solanum melongena var. serpentimum with a dissimilarity of 0,095. The farthest relationship is between Solanum melongena var. esculentum, and Solanum melongena ‘Putih’. with a dissimilarity of 1,417.
Key words: Phenetic Analisis, Similarity, Variety, Solanum melongena L, Banyumas.
17397780G1A010086EFEK PEMBERIAN PROPOLIS TERHADAP JUMLAH SEL ENDOTEL DAN KETEBALAN DINDING AORTA ABDOMINALIS PADA TIKUS PUTIH JANTAN YANG DIINDUKSI KARBON TETRAKLORIDALatar Belakang: Karbon tetraklorida (CCl4) mengandung triklorometil radikal merupakan suatu radikal bebas yang dapat menyebabkan stres oksidatif. Induksi CCl4 pada aorta tikus putih terbukti mengakibatkan sirkulasi endothelemia yang secara tidak langsung akan mempengaruhi ketebalan lapisan intima. Disfungsi endotel karena stres oksidatif dapat dicegah oleh antioksidan dengan berat molekul kecil yang salah satunya terkandung dalam propolis.
Tujuan: Mengetahui efek pemberian propolis terhadap jumlah sel endotel dan ketebalan intima aorta abdominalis pada tikus putih jantan yang diinduksi karbon tetraklorida.
Metode: Jumlah hewan coba18 ekor yang terbagi dalam 3 kelompok. Satu kelompok berjumlah 5 ekor dan 1 ekor cadangan. Kelompok A: tikus kontrol+ aquades 2 mL/hari. B: tikus+induksi CCl4 1 ml/hari + sonde aquades 1 ml/hari. C: tikus+ induksi CCl4 1 ml/hari + sonde propolis 0,054 g/hari. Perlakuan selama 30 hari kemudian dilakukan pengamatan preparat. Analisis data yang digunakan adalah Uji Oneway ANOVA dilanjutkan uji Post hoc Least Significant Difference (LSD).
Hasil: Kelompok B memiliki julmah sel endotel lebih sedikit (9,53 sel) dibandingkan kelompok A (18,53 sel) dan C (15,78 sel). Kelompok B memiliki ketebalan intima aorta abdominalis lebih tipis (3,48 µm) dibandingkan dengan kelompok A (4,55 µm) dan C (4,20 µm). Terdapat perbedaan jumlah sel endotel dan ketebalan intima aorta abdominalis yang signifikan antara kelompok B dengan kelompok C (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan ketebalan intima aorta abdominalis yang signifikan antara kelompok A dengan kelompok C (p=0,277).
Kesimpulan: Pemberian propolis dapat meningkatkan jumlah sel endotel dan ketebalan intima aorta abdominalis pada tikus putih jantan yang diinduksi karbon tetraklorida.


Background: Carbon tetrachloride (CCl4) included trichloromethyl radical was a free radical that could cause oxidative stress. Induction of CCl4 in rat aorta evidenly could cause endothelemia circulation which would indirectly affect intima layer thickness. Endothelial dysfunction caused by oxidative stress could be prevented by antioxidants with low molecular weight which one of them was in propolis.
Objective: This study was aimed to determine the effect of propolis on the number of endothelial cells and intima thickness of abdominal aorta in male rats induced by carbon tetrachloride.
Methods: The number of animal was 18 divided into 3 groups. Each group consisted of 5 animals and 1 animal as a reserve. Group A : control rats+ aquadest 2 mL /day. B: rats+ aquadest 2 mL /day + CCl4 1 mL/day. C: rats+ CCl4 1 mL/day +propolis 0,054 g/day. The treatments were done for 30 days and then the preparations were observed. This study used oneway ANOVA continued by post hoc Least Significant Difference (LSD) as data analysis method.
Results: Group B had lesser number of endothelial cells (9,53 cells) than group A (18,53 cells) and C (15,78 cells). Group B had thinner intima of abdominal aorta (3,48 µm) than group A (4,55 µm) and C (4,20 µm). There were significant differences in the number of endothelial cells and intimal thickness of the abdominal aorta between group B and group C (P<0,05). There were no significant differences in the intima thickness of abdominal aorta between group A and group C (p=0,277).
Conclusions: Propolis could increase the number of endothelial cells and intima thickness of abdominal aorta in male rats induced by carbon tetrachloride.

17407781G1D010007PERBEDAAN ANTARA PEMBERIAN TERAPI AKUPRESUDAN INFORMASI PERAWATAN MANDIRI TERHADAP PENURUNAN KEJADIAN HOT FLASHES PADA WANITA PERIMENOPAUSE DI KECAMATAN PURWOKERTO UTARA
Latar Belakang : Perimenopause merupakan masa dimana produksi hormon estrogen dan progesteron berkurang dan mengakibatkan munculnya gejala-gejala menopause, salah satunya adalah hot flashes. Terapi non-farmakologi yang dapat digunakan untuk menguranginya ialah akupresur.
Tujuan : Mengetahui perbedaan antara pemberian terapi akupresur dan informasi perawatan mandiri terhadap penurunan kejadian hot flashes pada wanita perimenopause di Kecamatan Purwokerto Utara.
Metode : Penelitian ini menggunakan quasi experiment, non randomized pretest-posttet with control group design dan purposive sampling. Sampel masing-masing kelompok sebanyak 11 responden. Data dianalisis dengan Wilcoxon dan Mann-Withney U.
Hasil : Kejadian hot flashes sebelum intervensi pada kelompok akupresur 1-8 dengan median 3 dan kelompok perawatan mandiri 2-10 dengan median 2. Setelah intervensi pada kelompok akupresur 0-5 dengan median 1 dan kelompok perawatan mandiri 2-7 dengan median 2. Ada perbedaan kejadian hot flashes sebelum dan setelah intervensi pada kelompok akupresur (p<0,05). Tidak ada perbedaan kejadian hot flashes sebelum dan setelah intervensi pada kelompok perawatan mandiri (p>0,05). Tidak ada perbedaan kejadian hot flashes sebelum intervensi antara kelompok akupresur dan perawatan mandiri (p>0,05). Ada perbedaan kejadian hot flashes antara kelompok akupresur dan perawatan mandiri setelah intervensi (p<0,05).
Kesimpulan : Ada perbedaan antara pemberian terapi akupresur dan informasi perawatan mandiri terhadap penurunan kejadian hot flashes pada wanita perimenopause di Kecamatan Purwokerto Utara.
Background: Perimenopause is the period which reduce production of estrogen and progesterone until menopause symptoms showed. One of the symptoms was hot flashes. Non-pharmacological therapy that could be used for reducing these symptoms was acupressure.
Purpose: To find the diference between acupressure and self care information for reduce hot flashes in perimenopausal women in North Purwokerto subdistrict.
Method: Quasi experiment, non randomized pretest-posttet with control group design dan purposive sampling was set to investigate 11 subjects in each group. Data were analysed with Wilcoxon and Mann-withney U.
Result: Incidence of hot flashes before intervention in acupressure group 1-8 with median 3 and self-care group 2-10 with median 2. After intervention in acupressure group 0-5 with median 1 and self-care group 2-7 with median 2. There was difference of hot flashes before and after intervention in acupressure group (p<0.05). No difference of hot flashes before and after intervention in the self-care group (p>0.05). No difference of hot flashes before intervention between acupressure and self-care group (p>0.05). There was difference of hot flashes between acupressure and self-care group after intervention (p<0.05).
Conclusion: There was difference between acupressure and self care information for reduce hot flashes in perimenopausal women in North Purwokerto subdistrict.