Artikel Ilmiah : H1D007041 a.n. DURRIYYATUN NAWIROH
| NIM | H1D007041 |
|---|---|
| Namamhs | DURRIYYATUN NAWIROH |
| Judul Artikel | PEMODELAN BANGKITAN DAN TARIKAN PERJALANAN DENGAN METODE STEP-WISE (STUDI KASUS DI KABUPATEN BANYUMAS) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | ABSTRAK PEMODELAN BANGKITAN DAN TARIKAN PERJALANAN DENGAN METODE STEP-WISE (STUDI KASUS DI KABUPATEN BANYUMAS) Durriyyatun Nawiroh Dalam pembangunan suatu wilayah, transportasi memegang peranan yang cukup penting. Sehingga, segala hal yang berkaitan dengannya perlu mendapat perhatian dari waktu ke waktu. Salah satunya adalah perihal bangkitan dan tarikan perjalanan yang akan selalu berkaitan erat dengan perkembangan ekonomi di suatu wilayah. Banyumas sebagai kabupaten yang memiliki kegiatan yang cukup kompleks tentu akan selalu diiringi dengan perubahan pola lalu lintasnya. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk dapat mengetahui pola lalu lintas yang di antaranya berupa matriks perjalanan, bangkitan serta tarikan perjalanan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis regresi metode Stepwise. Dalam proses ini, diperlukan dua kelompok data utama sebagai variabel terikat dan variabel bebas. Variabel terikat yang digunakan bersumber dari hasil wawancara yang dilakukan di lima lokasi utama yaitu simpang timur dan barat Hotel Horison Purwokerto, simpang Sawangan, Jalan Bank dan Stasiun Purwokerto. Hasil wawancara ini digunakan untuk membuat matriks perjalanan dan selanjutnya digunakan dalam analisis regresi. Sedangkan variabel bebas seluruhnya bersumber dari data BPS berupa data kependudukan, julah sekolah, guru dan murid jumlah hotel, kendaraan dan PDRB di tiap kecamatan di Kabupaten Banyumas. Matriks perjalanan yang dihasilkan dianggap tidak mewakili pergerakan di Kabupaten Banyumas karena beberapa zona tidak terisi oleh hasil wawancara. Hal ini mengakibatkan model bangkitan dan tarikan dari hasil wawancara dianggap berkualitas kurang baik. Setelah perjalanan diestimasi berdasar jumlah kendaraan dan PDRB kemudian dilakukan analisis regresi diperoleh model bangkitan terbaik Yb= 6362,15 +1,085X4 -0,2846X5 +0,1681X7 +0,2202X8 +72,3341X10 -0,1534X12 yang melibatkan variabel bebas kepadatan per km2 (X4), kepadatan per desa (X5), jumlah siswa (X7), jumlah guru (X8), PDRB (X10) dan jumlah mobil pribadi (X12) dengan nilai R2 sebesar 0,97445. Dan model tarikan terbaik Yt= -223,87 +0,441X1 -4,0412X2 +0,0076X3 +3,7823X6 +3,0834X10 +0,9716X11 +1,2374X12 dengan nilai R2 sebesar 0,99917 melibatkan variabel luas wilayah (X1), jumlah desa (X2), jumlah penduduk (X3), jumlah sekolah (X6), PDRB (X10), jumlah motor (X11) dan jumlah mobil (X12). Kata kunci: matriks perjalanan, bangkitan, tarikan, stepwise, analisis regresi |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Abstrack In the development, transportation play an important part. So, all things that related to it need to be noticed time after time. One of the important part is trip generation and trip attraction that will always be closely associated with the economic development in a region. Banyumas as a regency that has a fairly complex activity would always be accompanied by changes in the traffic pattern. Therefore, this study was conducted in order to be able to know the traffic patterns among a trip matrices, trip generation and trip attraction . The study was conducted using stepwise regression analysis method. In this process, it takes two main data group, dependent variable and independent variables. The dependent variable is sourced from interviews conducted in five major locations namely east and west intersection of Hotel Horison Purwokerto, intersection of Sawangan, Bank Road and Station of Purwokerto. The results of these interviews are used to make the trip matrices and subsequently used in the regression analysis. The independent variables derived from Statistic Central Institution include the demographic data, the number of schools, teachers and students, the number of hotels, vehicles and GDRP in each subdistrict in Banyumas . Trip matrix that resulted is considered not representative of the movement in Banyumas because some zones are not occupied by the interview . This resulted the trip productions and attractions model of the interview are considered as poor quality . After regression analysis of the trip that estimated based on the number of vehicles and GDRP was performed, the best model of trip production was resulted Yb=6362,15+1,085X4-0,2846X5+0,1681X7+0,2202X8+72,3341X10-0,1534X12 involving independent variable density per km2 (X4) , density per village (X5) , number of students (X7) , number of teachers (X8) , GDRP (X10) and the number of private cars (X12) with a R2 value of 0.97445. And the best attraction model Yt=-223,87+0,441X1-4,0412X2+0,0076X3+3,7823X6+3,0834X10 +0,9716X11+1,2374X12 with R2 value of 0.99917 involving variable area (X1) , number of villages (X2) , population (X3) , number of schools (X6) , GDRP (X10), the number of motors (X11) and the number of cars (X12) . Keywords : trip matrices, trip productions , trip attractions, stepwise , regression analysis |
| Kata kunci | Kata kunci: matriks perjalanan, bangkitan, tarikan, stepwise, analisis regresi |
| Pembimbing 1 | Dr. Gito Sugiyanto, S.T., M.T. |
| Pembimbing 2 | Eva Wahyu Indriyati, S.T., M.T. |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2014 |
| Jumlah Halaman | 10 |
| Tgl. Entri | (belum diset) |