Artikelilmiahs

Menampilkan 16.921-16.940 dari 50.008 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1692120117E1A013094PROSTITUSI ONLINE MELALUI MEDIA FACEBOOK DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK (ITE) (STUDI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI SLEMAN NOMOR.470/Pid.Sus/2014/PN.Smn)ABSTRAK

PROSTITUSI ONLINE MELALUI MEDIA FACEBOOK DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK (ITE)
(Studi Putusan Pengadilan Negeri Sleman Nomor.470/Pid.Sus/2014/PN.Smn)

Lahirnya internet mengubah paradigma baru dalam kehidupan manusia. Kehidupan manusia berkembang menjadi serba online dan global, kehidupan berubah dari yang bersifat nyata (real) ke realitas baru yang bersifat maya (virtual). Internet yang telah menjadi gaya hidup masyarakat saat ini justru menghadirkan kompleksitas pemahaman salah satunya adalah masalah prostitusi yang dilakukan secara online, salah satunya dengan menggunakan media facebook.. Prostitusi online ini dapat dijerat dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, namun dalam undang-undang tersebut juga tidak disebutkan secara khusus ketentuan mengenai prostitusi online. Berdasarkan atas hasil penelitian, dakwaan pertama Jasa Penuntut Umum dalam Pasal 45 ayat (1) Jo Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik sudah didasarkan pada fakta-fakta hukum dalam persidangan dan telah terpenuhi semua unsur-unsurnya. Hakim Pengadilan Negeri Sleman yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara dalam Putusan Nomor. 470/Pid.Sus/2014/PN.Smn, sebelum menjatuhkan putusan pidana terhadap Terdakwa MMP maka hakim perlu mempertimbangkan beberapa hal baik pertimbangan hukum (yuridis) maupun pertimbangan non hukum ( non yuridis). Berdasarkan hal tersebut maka Majelis Hakim menyatakan Terdakwa MMP terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana Mendistribusikan atau Mentransmisikan atau Membuat dapat Diaksesnya Informasi Elektronik yang Memiliki Muatan Melanggar Kesusilaan.

Kata Kunci: Prostitusi Online, Facebook, Informasi dan Transaksi Elektronik

ABSTRACT

Prostitution Online Through The Medium Of Facebook In Terms Of Law No. 11 Of 2008 On Information and Electronic Transactions (ITE)
(Studies Of The Country Sleman No. 470/Pid.Sus/2014/PN.Smn)

The born of the internet changed the new paradigm in human life. Human life has developed into completely online and global, life turned form the real to new reality that is virtual. Internet has become a lifestyle of today’s society it presents the understanding one of them is the problem of prostitution is done online, one of them with the use of media in facebook. Prostitution online can be entangled with the Law No.11 Of 2008 On Information and Electronic Transaction, but in the law is also not mentioned specifically the provisions on prostitution online. Based on the results of research, the public prosecutor’s indictment in article 45 paragraph 1 Jo Article 27 paragraph 1 of Law No.11 Of 2008 On Information and Elektronic Transaction is based on the facts of law in the trial and has fulfilled all its elements. The jugde said the district court sleman check, prosecute and deciding the case in the decision of No.470/Pid.Sus/2014/PN.Smn, before dropping the criminal verdict against the defendant MMP the judges need to consider some good things the legal considerations juridical and consideration for the law. Based on that then the judges said the defendant MMP been proven legally and convincingly performs criminal acts of distributing or transmitting or making can in access to its electronic information that has cargo in violation of decency.


Keyword : Prostitution Online, Facebook, Information and Electronic Transaction.
1692220118D1E013146pH, Kadar Air dan Alkohol Kefir Sari Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) dengan Lama Penyimpanan BerbedaTujuan penelitian untuk mengkaji pengaruh lama penyimpanan berbeda terhadap pH, kadar air dan alkohol kefir sari buah naga merah 5% pada suhu 8-100C. Materi yang digunakan yaitu susu sapi, buah naga merah, biji kefir, aquadest, buffer. Peubah yang diamati meliputi pH, kadar air dan alkohol. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan yaitu P0 = kefir sari buah naga merah 5% tanpa penyimpanan, P1 = kefir sari buah naga merah 5% dengan 3 hari penyimpanan , P2 = kefir sari buah naga merah 5% dengan 6 hari penyimpanan, P3 = kefir sari buah naga merah 5% dengan 9 hari penyimpanan dan P4 = kefir sari buah naga merah 5% dengan 12 hari penyimpanan, setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama penyimpanan berbeda pada kefir sari buah naga merah memberikan pengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap kadar air, berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap pH dan alkohol. Semakin lama penyimpanan kefir sari buah naga merah pada suhu 8-100C menurunkan pH dengan garis persamaan Y= 3,8125 – 0,04125 X dengan R2= 95,64% kadar air relatif tetap dan meningkatkan kadar alkohol dengan persamaan Y= -0,611 + 0,061X dengan R2 87,53%. Kesimpulan penelitian adalah lama penyimpanan yang berbeda pada suhu 8-100 C pada kefir sari buah naga merah 5% menurunkan nilai pH dan meningkatkan alkohol, sedangkan kadar air relatif tetap.The aim of research to examine the effect of different storage time on pH, water content and alcohol kefir red dragon fruit juice 5% and get the best storage periods at temperature 8-100C. The materials used is cows milk, red dragon fruit, kefir seeds, aquades, buffer. Observed variables includw pH, water content and alcohol. The study used Completely Randomized Design with five treatments: P0 = kefir red dragon juice 5% whitout storage, P1 = kefir red dragon juice 5% with 3 days storage, P2 = kefir red dragon fruit juice 5% with 6 days storage, P3 = kefir red dragon juice 5% with 9 days storage and P4 = kefir red dragon juice 5% with 12 days storage, each treatment repeated four times. The results showed that the storage time is different in kefir juice red dragon effect was not significant (P> 0.05) to water levels, was highly significant (P <0.01) in toward pH and alcohol. The longer storage of kefir red dragon fruit juice at a temperature of 8-100C lower the pH to the line Y= 3,8125 – 0,04125 X dengan R2= 95,64%, the water content is relatively fixed and increasing levels alcohol with the equation Y= - 0,611 + 0,061X dengan R2 87,53%. Research conclusion is different storage time at temperature 8-100C at kefir juice red dragon fruit 5% decrease value of pH, and increase alcohol, whereas relative water content.
1692320119A1C113003Faktor - faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen dalam Pembelian Sayuran Organik pada Pasar Modern dan Pasar Tradisional di Kota Jakarta SelatanFenomena dari pasar modern menjadikan banyak pilihan untuk membeli sayuran organik. Namun, hal ini tidak mengurangi minat konsumen manapun untuk memilih pasar tradisional sebagai tempat untuk membeli sayuran organik. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) mengetahui faktor – faktor yang dipertimbangkan oleh konsumen dalam pembelian sayuran organik pada pasar modern dan pasar tradisional di Kota Jakarta Selatan; 2) Mengetahui faktor yang paling dominan bagi konsumen dalam pembelian sayuran organik pada pasar modern dan pasar tradisional di Kota Jakarta Selatan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoder survei. Tempat penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu di Pasar Modern Carrefour Lebak Bulus dan Pasar Tradisional Mayestik. Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga Mei 2017. Sasaran penelitian ini ditujukan kepada konsumen sayuran organik di Pasar Modern Carrefour Lebak Bulus dan Pasar Tradisional Mayestik. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah accidental sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari wawancara dengan konsumen menggunakan kuesioner dan data sekunder yang diperoleh dengan mencatat literatur dan dokumen lainnya yang berkaitan dengan penelitian. Data dianalisis dengan menggunakan analisis faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan sehingga dapat menimbulkan keputusan pembelian produk sayuran organik di Pasar Modern Carrefour Lebak Bulus adalah faktor psikologis yang memiliki variabel dengan loading factor tertinggi yaitu sebesar 0,886 dan Pasar Tradisional Mayestik adalah faktor harga yang memiliki variabel dengan loading factor tertinggi yaitu sebesar 0,920.The phenomenon of modern markets has many choices of buying organic vegetables. However, this does not reduce interest from any consumer to choose traditional market as a choice of place to buy organic vegetables. The purpose of this research are: 1) to know the factors considered by consumers in the purchase of organic vegetables in modern markets and traditional markets in South Jakarta; 2) to know the most dominant factor for consumers in purchasing organic vegetables in modern markets and traditional market in South Jakarta. The research method used is survey method. The location of the research was chosen purposively in The Modern Market of Carrefour Lebak Bulus and The Traditional Market of Mayestik. The research was conducted from April to May 2017. The target of this research is directed to consumer of organic vegetables in The Modern Market of Carrefour Lebak Bulus and The Traditional Market of Mayestik. Samples were taken by using Accidental Sampling. The data collected was primary data obtained from interviews for consumers used questionneres, while secondary data taken by noting literature and other documents related to the study. Data was analyzed using factorial analysis. The results showed that the most dominant factor that can lead to the decision to purchase organic vegetables product in The Modern Market of Carrefour Lebak Bulus is a psychological factor that has the variable with the highest loading factor that is equal to 0,886, and The Traditional Market of Mayestik is a price factor that has the variable with the highest loading factor that is equal to 0,920.
1692421431A1L013048PENGARUH APLIKASI MIKORIZA DAN Trichoderma sp. TERHADAP KEBUTUHAN AIR TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) PADA TANAH ULTISOLPenelitian ini bertujuan untuk: 1) mengkaji pengaruh aplikasi pupuk hayati mikoriza+Trichoderma sp. terhadap kebutuhan air, titik layu permanen, berat jenis isi, berat jenis partikel, porositas, batas cair, batas berubah warna dan hasil tanaman bawang merah pada tanah ultisol, 2) mengkaji pengaruh aplikasi pupuk kimia pabrikan terhadap kebutuhan air, titik layu permanen, berat jenis isi, berat jenis partikel, porositas, batas cair, batas berubah warna dan hasil tanaman bawang merah pada tanah ultisol, 3) menentukan titik optimasi pemberian gabungan pupuk hayati mikoriza+Trichoderma sp. dan pupuk kimia pabrikan serta menentukan interaksi yang terjadi terhadap variabel yang signifikan.
Penelitian dilaksanakan pada April sampai September 2017 di screen house Fakultas Pertanian dan Laboratorium Tanah/Sumberdaya Lahan, Unsoed, Purwokerto. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 2 faktor. Faktor pertama yakni dosis pupuk hayati mikoriza+Trichoderma sp. yang terdiri atas 3 taraf yaitu H1 = 10 g mikoriza+0 gram Trichoderma sp./polibag, H2 = 20 g mikoriza+10 gram Trichoderma sp./polibag, H3 = 30 g mikoriza+20 gram Trichoderma sp./polibag. Faktor kedua adalah penggunaan dosis pupuk kimia pabrikan yang terdiri dari 2 macam dan 1 kontrol, yaitu P0= kontrol (dosis pupuk kimia pabrikan 0 %), P1= dosis pupuk kimia pabrikan 50 %, P2 = dosis pupuk kimia pabrikan 100 %. Percobaan diulang 3 kali dengan 9 kombinasi sehingga diperoleh 27 unit percobaan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pengaplikasian mikoriza+Trichoderma sp. berpengaruh terhadap kebutuhan air tanaman dan berat jenis partikel, tetapi tidak berpengaruh terhadap batas cair, batas berubah warna, berat jenis isi, porositas, titik layu permanen, tinggi tanaman, bobot umbi segar, dan bobot umbi kering. Pengaplikasian pupuk kimia pabrikan berpengaruh terhadap kebutuhan air tanaman dan batas cair, tetapi tidak berpengaruh terhadap berat jenis isi, berat jenis partikel, batas berubah warna, porositas, titik layu permanen, bobot umbi segar, bobot umbi kering dan tinggi tanaman. Titik optimasi kebutuhan air tanaman pada penggunaan pupuk hayati sebesar 5,302 L/tanaman, sedangkan pada pupuk kimia pabrikan sebesar 5,336 L/tanaman, dan titik optimasi penggunaan pupuk hayati pada variabel kebutuhan air tanaman sebesar 32,855 g/tanaman, sedangkan pada penggunaan pupuk kimia pabrikan sebesar 53,226 %. Titik optimasi berat jenis partikel pada penggunaan pupuk kimia pabrikan sebesar 2,360 g/cm3, dan titik optimasi penggunaan pupuk hayati pada variabel berat jenis partikel sebesar 68,693 g/tanaman. Titik optimasi batas cair pada penggunaan pupuk kimia pabrikan sebesar 43,007 %, dan titik optimasi penggunaan pupuk kimia pabrikan variabel batas cair sebesar 2,056 %.
This study aims to: 1) to examine the effect of the biological fertilizer application mycorrhiza+Trichoderma sp. to the water requirement, the point of permanent wilting, the characteristics of physical soil (the density of content, the density of particles, porosity, the limit of liquid, the limit of changes color) and the product of onion on the ultisol, 2) to examine the effect of chemical fertilizer manufacturer toward the water requirement, the point of permanent wilting, the characteristics of physical soil (the density of content, the density of particles, porosity, the limit of liquid, the limit of changes color) and the product of onion on the ultisol, 3) to determine the point of the combined optimization of biological fertilizer mycorrhiza+Trichoderma sp. and chemical fertilizer manufactured and determine the interactions that occur on a significant variable.
The research was conducted from April to September 2017 in the screen house the Faculty of Agriculture and Soil Laboratory/Land Resources, Unsoed, Purwokerto. The experimental design used was a complete randomized block design (RAKL) with two factors. The biological fertilizer dose mycorrhiza+Trichoderma sp. which consists of three levels ie H1 = 10 g mycorrhiza and 0 g of Trichoderma sp./polybag, H2 = 20 g mycorrhiza and 10 g of Trichoderma sp./polybag, H3 = 30 g mycorrhiza and 20 g of Trichoderma sp./polybag. The second factor is the use of chemical fertilizer manufacturer which consists of 2 and 1 control ie P0= control (the use of chemical fertilizer manufacturer 0%), P1= use of chemical fertilizer manufacturer 50%, P2 = use of chemical fertilizer manufacturer 100%. The experiment was repeated three times with a 9 combination thus obtained 27 experimental units.
The results showed that the application of mycorrhiza +Trichoderma sp. effect on crop water needs and density of particles, but does not affect the liquid limit, the limit changed color, density content, porosity, permanent wilting point, plant height, fresh tuber weight, and the weight of dried tubers. The application of chemical fertilizer manufacturer affect the water requirements of plants and the liquid limit, but does not affect the contents of specific gravity, density of particles, the boundary change color, porosity, permanent wilting point, fresh tuber weight, tuber dry weight and plant height. Point optimization of crop water requirements on the use of biological fertilizers amounted to 5.302 L/plant, while chemical fertilizer factory of 5.336 L/plants, and point optimization of the use of biological fertilizer at variable crop water requirement of 32.855 g/plant, while the use of chemical fertilizers manufacturer of 53.226%. Optimization point density of particles on the use of chemical fertilizers manufacturer of 2.360 g/cm3,and the point of optimum use of biological fertilizers on variable particle density of 68.693 g/plant. Optimization point liquid limit on the use of chemical fertilizers manufacturer of 43.007%, and the optimization point of chemical fertilizer use variable manufacturing the liquid limit of 2.056%.
1692520113D1E013173PERTUMBUHAN ABSOLUT DAN RELATIF AYAM BROILER PADA PEMBERIAN TEPUNG DAUN AKAR PURWO (Eryngium foetidum L.)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung daun akar purwo terhadap pertumbuhan absolut dan relatif ayam broiler. Materi yang digunakan ialah 80 ekor ayam broiler MB-202 platinum PT. Jafpa Comfeed Indonesia. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan, 5 ulangan dan diuji lanjut menggunakan orthogonal polynomial dengan perlakuan 4 taraf daun akar purwo konsentrasi 0%(R0), 1.5%(R1), 3% (R2), 4.5% (R3). Rataan partumbuhan absolut ayam broiler R0, R1, R2, R3 adalah 19.37g, 20.55g, 22.94g, 23.41g sedangkan rataan persentase pertumbuhan relatif ayam broiler adalah 60.376%, 60.350%, 59.286%, 59.284%. Hasil analisis variansi menunjukan bahwa penambahan tepung daun akar purwo (Eryngium foetidum L) pada pakan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) pada pertumbuhan absolut dan berpengaruh nyata (P<0,05) pada pertumbuhan relatif. Semakin tinggi taraf penambahan tepung daun akar purwo maka semakin tinggi pertumbuhan absolut dan persentase pertumbuhan relatif semakin rendah. Kesimpulan penelitian penggunaan tepung daun akar purwo sampai taraf 4.5% mampu meningkatkan pertumbuhan absolut dan penurunan persentase pertumbuhan relatif.The research amed to know the effect of akar purwo leaf meal on absolute and relative growth of broiler chicken. The materials used were 80 heads of broiler chicken MB-202 platinum PT. Japfa Comfeed Indonesia. The research design used was Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatmeants, 5 replications and was tested further using the orthogonal polynomial test with treatments of 4 levels of akar purwo leaf meal i.e 0%(R0), 1.5% (R1), 3% (R2), 4.5% (R3) concentration. The mean values of absolute growth of broiler chicken were R0, R1, R2, R3 i.e 19.37g, 20.55g, 22.94g, 23.41g whereas the presentation mean of relative growth of broiler chicken were 60.38%, 60.35%, 59.29%, 59.28%. The results of variance analysis showed that the additions of akar purwo laef meal (Eryngium foetidum L) of feed gave very significant effect (P<0,01) on absolute growth and a significant effect (P<0,05) on relative growth. The highest absolute growth was in the treatment of R3 and the lowest relative growth was in treatment R3. The conclusion is akar purwo leaf meal up to 4.5% is able to increase absolute growth and decrease relative growth.
1692620116E1A113037PERAN DACTYLOSCOPY DALAM PROSES PENYIDIKAN PADA TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (STUDI DI POLRES BANYUMAS)Pengungkapan tindak pidana melalui dactyloscopy dinilai efektif karena setiap manusia mempunyai sidik jari yang berbeda dengan manusia lainnya. Sehingga sidik jari yang berada di tempat kejadian perkara dapat di identifikasi dengan sidik jari manusia yang dicurigai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran dactyloscopy dan hambatan penyidik dalam mengungkap tindak pidana pembunuhan di Polres Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Penelitian ini berlokasi di Polres Banyumas. Jenis dan sumber data meliputi data sekunder dan data primer yang diperoleh dari wawancara. Kemudian data yang terkumpul disajikan dalam bentuk uraian secara sistematis. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data normatif kualitatif yang secara keseluruhan pembahasan dan penjabaran yang disusun secara logis terhadap hasil penelitian norma, kaidah, maupun teori hukum yang relevan dengan pokok permasalahan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan peran dactyloscopy dalam mengungkap tindak pidana pembunuhan di Polres Banyumas dapat membantu mengungkapkan pelaku tindak pidana pembunuhan dan dactyloscopy melalui sidik jari laten dapat menentukan peristiwa pidana yang terjadi serta tersangka tindak pidana pembunuhan. Hambatan yang dihadapi penyidik adalah kurangnya kualitas pemahaman penyidik terhadap dactyloscopy, kurangnya penguasaan teknologi informasi oleh penyidik, terbatasnya sarana/fasilitas dan tempat kejadian perkara yang tidak orisinil. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka diperlukan adanya peningkatan kemampuan penyidik tentang dactyloscopy dan sosialisasi masyarakat tentang pentingnya TKP karena TKP merupakan titik awal mengungkap suatu tindak pidana dengan harapan mengurangi resiko rusak atau hilangnya sidik jari.

Kata kunci: Dactyloscopy, Tempat Kejadian Perkara
Criminal act disclosure by dactyloscopy considered as an effective thing, because every human has a different fingerprint with other humans. Fingerprints were on the crime scene can be identified with human fingerprints which are suspected. This study aims to determine the role dactyloscopy and barriers of the investigators in uncovering the murder case in Police Office in Banyumas. This study uses qualitative research methods with sociological juridical approach with descriptive research specifications. This study is located in Police Office in Banyumas. Types and sources of data include secondary data and primary data obtained from interviews. Then the collected data is presented in the form of a systematic description. Methods of data analysis used in this study is qualitative normative data analysis methods that overall discussion and elaboration are arranged logically on the results of norms, rules, and legal and relevant theory towards the subject topic. Based on the results of this study concluded that role of dactyloscopy in uncovering the criminal act murder case in Police Office in Banyumas can help to reveal the murder criminal case and dactyloscopy through latent fingerprints to determine the criminal events that occur as well as criminal murder suspects. Barriers faced by investigators is a lack of understanding of the investigator about dactyloscopy, lack of mastery of information technology by the investigator, the limited infrastructure/facilities and the crime scene that is not original scene. Based on these results it is necessary to increase the ability of investigators on dactyloscopy and community about the importance of the scene because the scene is the starting point to uncover a crime and hoping to reduce the risk of fingerprints damage or loss.

Keywords: Dactyloscopy, crime scene
1692720095H1C013001RANCANG BANGUN PENYEIMBANG TEGANGAN PADA INVERTER PWM LIMA TINGKAT DENGAN KONTROL PI YANG DILENGKAPI TRAFO Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah menciptakan teknologi yang bertujuan untuk memudahkan kehidupan manusia itu sendiri. Tidak terkecuali perkembangan teknologi semikonduktor yang menghasilkan perkembangan di berbagai bidang komponen elektronika daya. Contohnya, dengan ditemukan insulated gate bipolar transistor (IGBT). Salah satu pengaplikasian IGBT adalah inverter. Fungsi inverter adalah sebagai penghasil bentuk gelombang keluaran AC dari sebuah sumber tegangan DC. Salah satu aplikasi yang banyak pada perkembangan inverter yang digunakan adalah catu daya sumber tegangan. Hal yang harus diperhatikan pada catu daya sumber tegangan adalah kestabilan tegangan yang dibangkitkan agar tidak terjadi over voltage dan under voltage yang dapat mengakibatkan kerusakan pada peralatan, sehingga dibutuhkan suatu rangkaian pengontrol kestabilan tegangan pada catu daya yang handal, efektif dan efisien.
Pada penelitian ini akan dilakukan rancang bangun penyeimbang tegangan pada inverter PWM lima tingkat dengan kontrol PI yang dilengkapi trafo. Sistem kerja penyeimbang tegangan akan dilakukan penurunan tegangan menggunakan metode buck converter. Tujuan menggunakan metode ini adalah agar tegangan dari digunakan pada inverter lima tingkat. Parameter pendeteksi tegangan akan dilakukan pada bagian buck converter terutama pada komponen kapasitor. Nilai tegangan dari kapasitor akan menjadi indikasi menentukan apakah terdapat over/under voltage yang kemudian akan diproses menggunakan kontrol PI.
Hasil dari kontrol PI berupa nilai PWM (pulse width modulation) yang digunakan untuk menentukan kecepatan Switch IGBT pada Buck Chopper agar nilai tegangan pada kapasitor tetap stabil sehingga keluaran pada inverter lima tingkat yang dilengkapi Trafo juga stabil.


Advances in science and technology today have created a technology that aims to facilitate human life itself. Not to mention the development of semiconductor technology that produces developments in various areas of power electronics components. For example, with an insulated gate bipolar transistor (IGBT). One of IGBT application is inverter. The inverter function is as the output waveform generator AC output from a DC voltage source. One of the many applications on the inverter development used is the power supply voltage source. The thing that must be considered in the source power supply voltage is the stability of the voltage generated in order to avoid over voltage and under voltage that can cause damage to the equipment, so it takes a series of voltage stability controller on a reliable, effective and efficient power supply. In this research will be design of voltage balancer in five-level PWM inverter with PI control with transformer. Working system of stress balancer will be done by using buck chopper method. The purpose of using this method is to allow the voltage from being used on a five-level inverter. The voltage detection parameters will be performed on the buck chopper especially on the capacitor components. The voltage value of the capacitor will be an indication of whether there is an over / under voltage which will then be processed using a PI control. The result of the PI control is the PWM (pulse width modulation) value used to determine the speed of the IGBT Switch on the Buck Chopper so that the voltage value on the capacitor remains stable so that the output in the five-tier inverter equipped with the Transformer is also stable.


1692821564A1L013139Uji Daya Hasil dan Seleksi Ketahanan Galur Piramida Inpari 13 Terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri (Bacterial Leaf Blight)Padi (Oryza sativa) merupakan tanaman penting bagi masyarakat Indonesia. Inpari 13 merupakan salah satu varietas padi di Indonesia. Padi varietas ini memiliki potensi hasil 8 ton/ha dengan tekstur nasi pulen. Selain itu Inpari 13 merupakan varietas yang cukup digemari petani karena umur panen yang pendek, meskipun demikian varietas ini rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB). Introgresi gen-gen ketahanan penyakit HDB pada galur baru yang memiliki kesamaan sifat seperti Inpari 13 berpotensi menghasilkan varietas padi yang berumur panen pendek dan tahan terhadap penyakit HDB. Penelitian uji ketahanan dan seleksi ketahanan ini bertujuan untuk mengkaji kemampuan produksi galur piramida Inpari 13 dan ketahanannya terhadap penyakit HDB. Penelitian dilakukan di Balai Besar Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB BIOGEN), Bogor dan lahan sawah Balai Besar Padi (BB Padi), Sukamandi pada bulan April sampai Oktober 2017. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap non faktorial dengan tiga ulangan. Secara garis besar penelitian ini dibagi menjadi empat bagian yakni seleksi foreground, evaluasi ketahanan tanaman terhadap penyakit, seleksi background, dan uji daya hasil. Variabel pengamatan yang diamati adalah keberadaan pita DNA, intensitas serangan, respon ketahanan, umur panen, umur berbunga, tinggi tanaman, panjang malai, jumlah anakan produktif, jumlah anakan total, jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa, berat per petak, dan bobot 1000 butir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh galur piramida Inpari 13 memiliki respon ketahanan dengan kategori “tahan”, lima diantaranya telah memiliki alel gen ketahanan Xa4, xa5, Xa7, dan Xa21 dalam keadaan homozigot, empat diantaranya telah mewarisi pemulihan genom tetua Inpari 13 >50% di seluruh kromosom. Selain itu tidak ada perbedaan yang signifikan antara galur piramida Inpari 13 dan tanaman pembanding kecuali untuk seluruh variabel pengamatan kecuali variabel panjang malai, jumlah gabah isi, bobot 1000 butir, umur panen, dan umur berbunga.Rice is an important staple food for Indonesian people. Inpari 13 is one of the elite variety exsisted in Indonesia which is so popular amongst farmers due to it’s characteristic for early flowering. Neverheless, Inpari 13 is susceptible to bacterial leaf blight (BLB). Introgression of genes conferring resistance to BLB in the Inpari 13 while maintain it’s characteristic at the same time allowed it to produce new variety that possessed both early flowering and resistance to BLB. Yield trials and resistance selection research were conducted as an effort to study Inpari 13-pyramid lines production capability and its resistance to BLB. This research was conducted at Biotechnology and Agricultural Genetic Resource Research Center (BB BIOGEN), Bogor and at paddy fields of Rice Research Center (BB Padi), Sukamandi on April until October 2017. Non factorial Randomized Complete Block Design was used in this research with three blocks as replication. This study was divided into four parts i.e foreground selection, evaluation of the BLB resistance, background selection, and yield trials. Variables observed were DNA band’s exsistance that follow either recurrent or donor parent, disease’s intensity and plant’s response, harvesting time, flowering time, plant height, panicle lenght, number of maximum shoots, number of productive shoots, number of filled grains, number of empty grains, wieght of 1000 grains, and grain yield per clump. Results showed that all Inpari 13-pyramid lines possessed resistance to BLB, 5 of them were contained Xa4, xa5, Xa7, and Xa21 resistance genes alleles in homozygous condition, 4 of them inherited more than 50% genome recovery of Inpari 13 in all chromosomes. In the yield trials, there was no significant difference between all Inpari 13-pyramid lines and checks varieties except for panicle lenght, number of filled grains, number of empty grains, harvesting time, and flowering time.
1692920122C1C013108PENGARUH KINERJA BANK BERBASIS RISIKO TERHADAP RETURN SAHAM PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2013-2016 Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kinerja bank berbasis risiko terhadap return saham perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2016. Kinerja bank berbasis risiko terdiri atas risk profile, peringkat good corporate governance, earnings, dan capital. Populasi dalam penelitian ini berupa hyphothetical population, yaitu populasi yang berasal dari ukuran imajiner. Teknik purposive sampling digunakan dalam penelitian ini dengan jumlah 14 perusahaan perbankan periode 2013-2016. Data penelitian berupa data sekunder yang diperoleh dengan menggunakan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis Partial Least Square.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa risk profile berpengaruh negatif terhadap return saham perbankan. Peringkat good corporate governance tidak berpengaruh negatif terhadap return saham perbankan. Earnings tidak berpengaruh positif terhadap return saham perbankan. Capital tidak berpengaruh positif terhadap return saham perbankan. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa risk profile dapat dilihat dengan rasio Net Performing Loan (NPL) dan Loan to Deposit Ratio (LDR). Menjaga rasio NPL dan LDR pada batas aman menurut peraturan Bank Indonesia akan memberikan sinyal baik bahwa bank dalam kondisi yang prima. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 15/15/PBI/2013, batas aman untuk rasio NPL adalah di bawah 5 persen dan batas aman untuk rasio LDR adalah 78 persen hingga 92 persen.
This study aimed to examine the effect of banking performance based on risk to stock return on banks listed in Indonesian Stock Exchange period 2013-2016. Banking performance based on risk component is risk profile, good corporate governance, earnings, and capital. The population in this study used hypothetical population, the one which its population come from imaginary measurements. Purposive sampling technique used in this study as many as 14 banks periode 2013-2016. The research data were secondary collected through the documentation method. The analysis data technique used Partial Least Square analysis.
The results of this study showed that risk profile had a negative effect on the banking stock return. Good corporate governance did not have a negative effect on the banking stock return. Earnings did not have a positive effect on the banking stock return. Capital did not have a positive effect on the banking stock return. The result of this study provide information that risk profile could be seen by the ratio of Net Performing Loan (NPL) and Loan to Deposit Ratio (LDR). Keeping the ratio of NPL and LDR at the safe limit according to Indonesian Bank regulations will show a good signal that the bank is in good condition. Based on Indonesian Bank Regulations No. 15/15/PBI/2013, NPL safe limit below 5 percent and LDR safe limit between 78 percent to 92 percent.
1693020123G1F013003PROFIL KLT DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BUNGA PEPAYA JANTAN (Carica papaya L) PADA Escherichia coliDiare merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri E.coli. Pengobatan diare dapat dilakukan dengan bahan alam seperti bunga pepaya jantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak bunga pepaya jantan terhadap bakteri E.coli.
Penelitian ini bersifat eksperimental meliputi maserasi dengan pelarut etanol 96%. Uji parameter simplisia non-spesifik yang dilakukan adalah kadar air, kadar abu, kadar abu tidak larut asam, dan kadar sari larut etanol. Uji kandungan senyawa menggunakan KLT, dan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauer dengan melihat diameter zona hambat ekstrak dalam menghambat E.coli.
Ekstrak etanol bunga pepaya jantan positif mengandung flavonoid, fenolik, terpenoid, dan steroid dari hasil KLT. Diameter zona hambat yang dihasilkan adalah 1,6 mm pada 300 ppm; 5,3 mm pada 500 ppm; 6,6 mm pada 750 ppm, dan 10 mm pada 1000 ppm.
Ekstrak etanol bunga pepaya jantan mengandung senyawa flavonoid, fenolik, terpenoid, steroid, dan mempunyai aktivitas antibakteri terhadap E.coli.
Diarrhea is the diseases caused by bacteria E.coli. Treatment for diarrhea can be done with herbs such as male carica papaya flowers. This study aims to determine the antibacterial activity of male carica papaya flowers extract against E.coli.
This study was an experimental study include maceration with 96% ethanol solvent. The non-specific simplicia parameter test were water content, ash content, dissoluble acid ash content, and ethanol soluble concentration. Determination of extract compound used TLC method, and antibacterial activity test used kirby-bauer disc diffusion method seen from inhibitory zone diameter in against E.coli.
Ethanolic extract male carica papaya flowers positive contain flavonoid, phenolic, terpenoid, and steroid. The inhibitory zone diameter was 1,6 mm at 300 ppm; 5,3 mm at 500 ppm; 6,6 mm at 750 ppm; and 10 mm at 1000 ppm.
Ethanolic extract male carica papaya flowers contain flavonoid compounds, phenolic, terpenoid, steroid and have antibacterial activity against E.coli.
1693121433A1L113084PENGARUH APLIKASI PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAYAM CABUT (Amaranthus tricolor L.) SECARA ORGANIKPenelitian ini bertujuan untuk : 1) mendapatkan jenis bayam terbaik untuk budidaya secara organik, 2) mendapatkan konsentrasipupuk cair organik terbaik untuk mendukung pertumbuhan tanaman bayam, 3) mendapatkan bentuk perlakuan terbaik untuk budidaya bayam secara organik. Penelitian dilaksanakan di screen house serta Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Penelitian dilakukan pada bulan September sampai Oktober 2017. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan yaitu faktor pertama adalah konsentrasi POC (kontrol, 2,5 ml POC/l air,5 ml POC/l air) dan faktor kedua jenis bayam (bayam merah, bayam hijau dan bayam putih), masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali yang menghasilkan 27 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu jumlah daun, tinggi tanaman, luas daun, bobot tanaman segar, bobot tajuk segar, bobot akar segar, panjangakar total, bobot tanaman kering, bobot tajuk kering, bobot akar kering, LAB dan LPT. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa, 1) ketiga jenis bayam yang diuji tidak memberikan pengaruh terhadap semua variabel pengamatan,This research aims to: 1) get the best types of spinach for organic cultivation, 2) get the best concentration of organic liquid fertilizer to support the growth of spinach plants, 3) get the best treatment for organic spinach cultivation. The research was conducted at screen house and Agronomy and Horticulture Laboratory of Agriculture Faculty of Jenderal Soedirman University Purwokerto. The study was conducted in September to October 2017. The study used Randomized Block Design (RBD) with two treatment factors. The first factor wasPOC concentration (contro l,2.5 ml POC / l water,5 ml POC / l water). and second factor was types of spinach (red spinach, green spinach andwhite spinach). Each treatment combination was repeated 3 times resulting in 27 experimental units. The variables observed were leaf number, plant height, leaf area, fresh plant weight, fresh crown weight, fresh root weight, total root length, dry plant weight, dry crown weight, dry root weight, LAB and LPT. The result of the research showed that 1) difference of spinach type did not give difference to all observation variables, 2) POC concentration 2.92 ml / l gave the highest on plant while POC concentration 4.22 ml / l gave the highest number of leaves, 3) the interaction effect between spinach type and POC concentration did not affect all observation variables
1693220120H1A012010PENGARUH VARIASI KONSENTRASI KH2PO4 PADA SINTESIS FOTOKATALIS Ag3PO4 DAN UJI AKTIVITASNYA TERHADAP RHODAMIN BRhodamin B sebagai salah satu pewarna tekstil, sangat sulit untuk didegradasi dalam perairan. Senyawa ini berbahaya bagi manusia serta dapat merusak ekosistem air. Oleh sebab itu, diperlukan metode yang tepat untuk menguraikannya. Fotokatalisis adalah metode yang efektif dan efisien dalam mendegradasi pewarna tekstil Rhodamin B dengan bantuan radiasi cahaya tampak. Fotokatalis Ag3PO4 berhasil disintesis dengan metode presipitasi, yang berasal dari AgNO3 dan variasi molar KH2PO4 yang dinamakan sebagai sampel AK010, AK015, AK030, AK045 dan AK060. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel AK015 mempunyai aktivitas tertinggi. Morfologi tetrahedron dan ukuran spheric 1-3 µm, menyebabkan tingginya fotokatalitik Ag3PO4. Profil XRD (X-ray Diffraction) telah terbukti bahwa struktur sampel tersebut adalah kubus berpusat badan. Penurunan aktivitas pada uji recycle di AK015, menunjukkan bahwa sampel tidak stabil.
Rhodamine B as one of the textile dyes is difficult to degrade in the river. It is also harmful to humans and can damage the water ecosystem. Therefore, an appropriate method is needed to degrade it. Photocatalysis is effective and efficient method to degrading the dye of Rhodamine B under visible light irradiation. Photocatalyst of Ag3PO4 was successfully synthesized by precipitation method using the starting material of AgNO3 and KH2PO4 with the molar variation named as AK010, AK015, AK030, AK045 and AK060. The result showed that the AK015 exhibited the highest photocatalytic activity. The tetrahedron morpoholgy and spheric size of 1-3 µm in AK015 caused the enahnced photocatalytic activity of Ag3PO4. The XRD (X-ray Diffraction) profile proved that the structure of the sample is a body centered cube. The decreased activity of recycle test in AK015 showed that the sample is not stable.
1693320124H1C013046PERANCANGAN SISTEM KENDALI MANIPULATOR LENGAN ROBOT PEMINDAH BARANG BERDASARKAN PARAMETER WARNA DAN UKURAN BERBASIS MIKROKONTROLER ARDUINO
Salah satu permasalahan pada dunia industri yang masih ditemui yaitu masalah penyortiran barang yang masih menggunakan tenaga manusia, misalnya penyortiran berdasarkan warna pada body mainan diecast mobil yang telah dilakukan pengecatan untuk kemudian dipasangi sticker, yang memungkinkan terjadi human error dan penggunaan waktu yang tidak efisien. Penggunaan robot dapat menjadi solusi untuk menambah efisiensi waktu, mengurangi error, dan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Jenis robot yang digunakan pada dunia industri salah satunya adalah lengan robot. Robot Pegasus merupakan salah satu lengan robot yang dikendalikan menggunakan sistem PLC (Programmable Logic Controller). Berdasarkan permasalahan tersebut maka pada penelitian ini dirancang desain sistem kendali Robot Pegasus dengan Arduino untuk mendeteksi warna (hijau, biru, dan kuning) dan ukuran objek (besar dan kecil) kemudian memindahkannya pada lokasi tujuan (6 lokasi tujuan objek dan 1 lokasi pembuangan).
Metode yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu rancang bangun sistem kendali Robot Pegasus dengan merancang hardware dan software sistem Arduino yang berisi Arduino Mega 2560, kamera Pixy, sensor ultrasonik HC-SR04, LED, buzzer, dan relay kemudian memrogram Robot Pegasus untuk memindah barang dari lokasi pengambilan ke lokasi tujuan sesuai perintah Arduino.
Hasil rancang bangun dan pengujian yang dilakukan menunjukkan alat-alat yang digunakan berupa Arduino Mega 2560, kamera Pixy, sensor ultrasonik HC-SR04, LED, buzzer, relay, dan Robot Pegasus berfungsi dengan baik. Desain sistem yang dibuat sesuai dengan tujuan perancangan sistem, komunikasi antara Arduino dan Robot Pegasus melalui relay bekerja dengan baik sehingga menghasilkan sistem yang terintegrasi. Pada pengujian keseluruhan sistem, Arduino dapat mendeteksi objek sesuai dengan warna dan ukuran objek dengan tingkat keberhasilan 96% dan error sebesar 4% serta tingkat keberhasilan Robot Pegasus dalam memindah objek sebesar 100%. Hal tersebut menunjukkan sistem yang dibuat bekerja dengan baik dan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi.
One of the problems in the industrial world that is still encountered is the problem of sorting goods that still use human power, such as color-based sorting on the body diecast car toys that have been done painting and then fitted stickers, which allows human error and the use of inefficient time. The use of robots can be a solution to increase time efficiency, reduce errors, and improve the quality and quantity of production. The type of robot used in the industrial world one of which is the robot arm. Pegasus robot is one of the robot arm that is controlled using PLC (Programmable Logic Controller) system. Based on the problem, this research designed the design of Robot Pegasus control system with Arduino to detect the color (green, blue, and yellow) and the size of the object (large and small) and then move it to the destination location (6 object locations and 1 disposal location).
The method used in this research is the design of Robot Pegasus control system by designing hardware and software of Arduino system which contains Arduino Mega 2560, Pixy camera, ultrasonic sensor HC-SR04, LED, buzzer, and relay then programming Robot Pegasus to move goods from location retrieval to destination location as ordered by Arduino.
The results of the design and testing performed show the tools used in the form of Arduino Mega 2560, Pixy camera, ultrasonic sensor HC-SR04, LED, buzzer, relay, and Robot Pegasus works well. Design system made in accordance with the purpose of system design, communication between Arduino and Robot Pegasus through the relay work well to produce an integrated system. In testing the whole system, Arduino can detect objects according to color and size of objects with 96% success rate and error of 4% and success rate of Pegasus Robot in moving object 100%. It shows the system that works well and has a high success rate.
1693421434F1G012002TINDAK TUTUR PENGEMUDI, KONDEKTUR DAN PENUMPANG UMUM BUS JURUSAN PURWOKERTO-CILACAP







SKRIPSI

Oleh :
Runi Yuliyanti
F1G012002


Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan
memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) Sastra Indonesia


KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU BUDAYA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
PURWOKERTO
2018
Penelitian ini berjudul‘’Tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap dan mendeskripsikan prinsip kesantunan Leech tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umumbus jurusan Purwokerto-Cilacap.
Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini yaitu tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap. Sumber data dari penelitian ini adalah tuturan di dalam bus jurusan Purwokerto-Cilacap yang mengungkapkan sebuah tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan tersebut. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak. Teknik dasar penelitian ini menggunakan teknik sadap dan teknik lanjutan teknik simak libat cakap, teknik rekam. Metode analisis data penelitian ini menggunakan metode padan dengan teknik dasar teknik pilah unsur penentu dan teknik lanjutan berupa teknik daya pilah pembeda reaksi dan keterdengaran. Metode penyajian data penelitian ini menggunakan metode informal.
Hasil penelitian bentuk tindak tutur yang ditemukan pada interaksi antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap menggunakan tindak tutur lokusi,ilokusi dan perlokusi yang menunjukkan bahwa tindak tutur bahasa dalam komunikasi antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap lebih banyak mematuhi prinsip kesantunan menurut Leech. Hal itu juga menunjukkan adanya tindak tutur langsung dan literal sebagai bentuk penyampaian penutur dan mitra tutur dalam percakapan.

Kata kunci: Pragmatik, Tindak tutur, Prinsip kesantunan Leech.


This research entitled ''Acting speech driver, conductor and passenger general bus department Purwokerto-Cilacap”. The purpose of this research is to describe the form of speech acts of driver, conductor and passenger of public buses Purwokerto-Cilacap and describe the principle of politeness Leech acts speech driver, conductor and passenger general bus Purwokerto-Cilacap.
The form of this research is descriptive qualitative. The data of this research is the act of driver's speech, conductor and passenger of public bus of Purwokerto-Cilacap department. Sources of data from this study is a speech in the Purwokerto-Cilacap bus that reveals a speech acts driver, conductor and general passenger bus majors. Methods of data collection in this study using the method of simak.Teknik basic research using techniques tapping techniques and advanced techniques simulation libat ably, techniques record. Methods of data analysis of this study using the method of the technique with the basic techniques of separating the determinant elements and advanced techniques in the form of differentiating techniques of reaction and hearing distortion. Method of presenting this research data using informal method.
The result of the speech act study found in the interaction between driver, conductor and passenger of public bus of Purwokerto-Cilacap department using speech act of locusi, ilokusi and perlokusi indicating that speech acts in communication between driver, conductor and passenger of public bus of Purwokerto-Cilacap more many adhere to the principle of politeness according to Leech. It also indicates direct and literal speech acts as a form of speech and speech-speaker delivery in the conversation
Keywords: Pragmatic, Speech, Leech's politeness principle.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi. Sesuai dengan perkembangan budaya manusia, maka penggunaan bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi ikut berkembang, terutama di bidang kosakata.Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya apabila dalam perkembangannya tidak diatur dengan sistem, maka penggunaan bahasa tersebut akan kacau, tidak terarah, dan setiap orang berbeda beda dalam menggunakan bahasa tersebut, baik dalam bentuk lisan maupun tulis.
Komunikasi merupakan suatu interaksi sosial melalui pesan yang dapat diberi sandi atau kode secara formal simbolis bahasa dapat digunakan dalam berkomunikasi yang berhubungan dengan penulisan bahasa agar lebih komunikatif atau penggambaran peristiwa tentang beberapa aspek budaya yang sama-sama dimiliki bagi setiap orang (Kusneni,2012).
Bahasa sebagai gejala sosial yang sangat kompleks baik masalah sosialnya,kulturnya, maupun situasionalnya. Dengan demikian, mendekati bahasa dari pandangan linguistik belumlah cukup sebab studi bahasa juga memperhitungkan faktor sosial dan situasionalnya, adapun pragmatik adalah ilmu bahasa yang mempelajari tentang makna tuturan serta maknanya dapat disesuaikan dengan situasi, tempat, dan waktu tertentu.Dalam penelitian ini pendekatan pragmatik digunakan untuk mengkaji satuan analisis tindak ujaran atau tindak tutur, setiap ujaran yang dituturkan oleh penutur memiliki makna dan maksud tertentu sesuai dengan tujuan masing-masing. Tindak tutur dalam peristiwa tutur merupakan dua gejala yang terjadi pada suatu proses yaitu proses komunikasi. Di dalam kehidupan manusia tidak bisa lepas dari peristiwa tutur, karena dengan tuturan manusia dapat menyampaikan informasi kepada lawan tuturnya serta dapat dimengerti satu sama lain. Tuturan atau tindak tutur itu beraneka ragam jenisnya salah satunya pengelompokan berdasarkan sifat hubungannya yang di dalamnya mencakup tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi.
Pendekatan terhadap makna memang tidak dapat dilakukan dengan menggunakan sudut pandang pragmatik saja. Pendekatan dengan satu sudut pandang saja tidak akan sampai pada penjelasan makna yang sesuai dengan fakta yang dapat diamati, tidak sederhana, serta tidak dapat dirapatkan. Sementara itu, pendekatan terhadap makna dari satu sudut pandang paduan pragmatik akan sampai pada sajian penjelasan makna yang sesuai dengan fakta, sederhana, dan dapat digeneralisasi (Rustono,1999:15).
Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur atau penulis dan ditafsirkan oleh pendengar atau pembaca sebagai akibatnya studi ini lebih banyak berhubungan dengan analisis tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya daripada dengan makna terpisah dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri. Pragmatik adalah studi tentang maksud penutur.Manfaat belajar bahasa melalui pragmatik ialah bahwa seseorang dapat bertutur kata tentang makna yang dimaksudkan orang, asumsi mereka, maksud atau tujuan mereka, dan jenis-jenis tindakan yang mereka perlihatkan ketika mereka sedang berbicara ( Yule:3).
Penutur cenderung menggunakan bahasa seperlunya saja dalam berkomunikasi, dengan konteks situasi yang jelas, dimana komunikasi tersebut terjadi, siapa lawan bicaranya, tujuan pembicaraan, norma, pesan, serta alat yang digunakan (lisan/tulis) dalam suatu peristiwa komunikasi. Dalam kesehariannya pemakaian bahasa di dalam bus tidak memiliki struktur bahasa yang lengkap, meskipun begitu interaksi antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum dapat berjalan dengan lancar.Hal tersebut dapat berlangsung karena antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum sudah saling memahami bentuk tuturan, tujuan tuturan dan konteks tuturan yang terdapat pada kegiatan interaksi komunikasi di dalam bus tersebut. Bentuk tindak tutur dalam bus cenderung terdiri dari kalimat-kalimat yang singkat, pemakaian kalimat yang singkat tersebut memiliki tujuan untuk menghemat waktu agar tercipta suatu proses komunikasi yang efektif selama di dalam perjalanan.
Berikut adalah contoh tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum di dalam bus Jurusan Purwokerto-Cilacap.
Konteks:
Seorang kondektur yang mengasih aba-aba kepada penumpangnya agar segera bersiap-siap untuk turun.
P1 (Kondektur): Yang pasar Sampang siap-siap turun bu. ayo cepat. (1)
P2(Penumpang): Iya pak sabar dulu ini lagi bersiap mau turun. (2)
P1 (Kondektur): Cepat ya bu di belakang ada bis lagi. (3)

Data di atas merupakan bentuk tindak tutur ilokusi dengan verba ‘’menyuruh’’, dalam hal ini berkaitan dengan tindak tutur direktif, hal itu terjadi pada P1 dalam tuturan (1) yaitu ‘’ Yang pasar sampang siap-siap bu. Ayo cepat’’dan tuturan (3) yaitu ‘’Cepat ya bu di belakang ada bis lagi’’. Maksud yang terkandung pada tuturan itu adalah kondektur menyuruh kepada penumpangnya untuk segera bersiap-siap yang mau turun di pasar Sampang,karena pengemudi juga sudah tidak sabar untuk mengejar penumpang yang lain agar tidak berebut dengan bus yang dibelakangnya.
Tuturan di atas termasuk ke dalam tindak tutur langsung dan literal. Hal itu dapat dilihat dalam tuturan (1) dan (3), karena tuturan tersebut bersifat secara langsung dan apa yang dituturkan sama dengan apa yang dimaksud. Tindak tutur langsung dalam konteks ini adalah bahwa kondektur memerintahkan kepada penumpang untuk segera turun dari bus, karena dibelakang masih ada bus lagi serta agar tidak saling berebut untuk mencari penumpang. Konteks literal yaitu maksud tuturan yang disampaikan kondektur kepada penumpang sama dengan yang diucapkan pada tuturan di atas.
Konteks:
Salah satu kondektur yang sedang mencari penumpang dan memberitahukan tujuan kepada orang-orang yang sedang menunggu bus di depan terminal.
P1 (Kondektur) : Pak, bu.. Cilacap Maos Sampang, Bu. (1)
P2 (Penumpang) : Wangon pak. (2)
P1 (Kondektur) : Ora yuh..terus. (3)

Dari data di atas tuturan(1) yaitu‘’Pak, bu..cilacap maos sampang, Bu’’ merupakan bentuk tindak tutur ilokusi dengan verba ‘’penawaran’’, dalam hal ini berkaitan dengan tindak tutur komisif yang berfungsi ‘’menawarkan’’. Maksud yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah untuk mewujudkan suatu tindakan yang telah dituturkan oleh kondektur yaitu dengan melakukan penawaran kepada penumpang yang sedang menunggu bus di sekitar Terminal.
Tuturan di atas termasuk ke dalam tindak tutur langsung dan literal. Hal itu dapat dilihat pada P1 dalam tuturan (1) yaitu‘’Pak, bu..cilacap maos sampang, ngendi bu?’’, karena kondektur menawarkan secara langsung kepada penumpang yang ada di Terminal. Tindak tutur literal, karena tuturan di atas memiliki maksud ucapan yang sama dengan apa yang dilakukan kondektur kepada penumpang.
Peneliti memilih bus kota jurusan Purwokerto-Cilacap karena bermaksud ingin mengetahui secara langsung bagaimana pemakaian bentuk tindak tutur dan kesantunan tindak tutur antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap agar dapat mengetahui tentang bentuk tindak tutur dan maksud tindak tutur dalam interaksi antar pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap diperlukan suatu penelitian lebih lanjut.

METODE PENELITIAN
3.1 Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengamati fenomena suatu bahasa pada kurun waktu tertentu (Kesuma,2007:52). Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang menitikberatkan pada fenomena-fenomena yang terjadi dalam masyarakat dan hasil penelitiannya bukan dalam bentuk angka, melainkan kata-kata. Penelitian bersifat deskriptif kualitatif digunakan karena penelitian ini membahas tentang tindak tutur dan prinsip kesantunan yang bertujuan untuk mengungkapkan suatu tindak tutur pada pengemudi, kondekturdan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap.
3.2 Data dan Sumber Data
Data adalah bahan jadi penelitian, objek penelitian beserta dengan konteksnya (Kesuma,2007). Data dari penelitian ini yaitu tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap. Sumber data dari penelitian ini adalah tuturan di dalam bus jurusan Purwokerto-Cilacap yang mengungkapkan suatu tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan tersebut.

3.3 Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini adalah bentuk tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak. Metode simak adalah metode yang dilakukan dengan cara menyimak untuk memperoleh data secara lisan(Kesuma,2007). Teknik dasar metode ini adalah teknik sadap,maksudnya peneliti dalam memanfaatkan data dengan cara menyadap pembicaraan seseorang. Peneliti mendapatkan data dengan cara melakukan penyadapan terhadap penggunaan bahasa lisan. Dalam penelitian ini peneliti menyadap bagaimana tindak tutur pengemudi dan kondektur bus jurusan Purwokerto-Cilacap dengan menggunakan makna untuk berkomunikasi di dalam bus ketika berbicara dengan kondektur.
Teknik lanjutan yang digunakan dalam penelitian ini adalah simak libat cakap yaitu peneliti terlibat langsung dalam percakapan, dan teknik rekam yaitu teknik penjaringan data dengan merekam penggunaan bahasa.



3.5 Metode Analisis Data
Tahap analisis data merupakan upaya peneliti menangani langsung masalah yang terkandung pada data (Sudaryanto,1993:6). Analisis data pada penelitian ini menggunakan metode padan. Metode padan adalah metode analisis data yang alat penelitian berada di luar, terlepas dan tidak menjadi bagian dalam bahasa yang bersangkutan atau yang diteliti dan alat penentunya ialah kenyataan yang ditunjuk oleh bahasa atau referen (Sudaryanto, 1993: 13).
Penelitian ini menggunakan metode padan sebagai metode yang digunakan untuk menganalisis data berupa tuturan pemakai bahasa dalam tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap. Metode padan memiliki beberapa teknik dalam menganalisis suatu data yaitu teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasar analisis data dalam metode padan adalah teknik pilah unsur penentu. Teknik dasar ini digunakan sesuai dengan kebutuhan peneliti. Teknik pilah unsur penentu juga memiliki teknik lanjutan, ada lima teknik lanjutan yakni, teknik pilah unsur penentu dengan daya pilah pembeda referen, pembeda organ, pembeda larik tulisan, pembeda reaksi dan keterdengaran, serta pembeda sifat dan watak aneka langue (Sudaryanto, 1993: 22-26).
Teknik lanjutan yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik lanjutan dengan daya pilah pembeda reaksi dan keterdengaran. Teknik lanjutan ini dikenal dengan daya pilah pragmatis, karena berkaitan dengan mitra tutur (Sudaryanto, 1993: 25). Dalam kegiatan bertutur antara penutur dan mitra tutur akan menghasilkan sebuah reaksi terhadap mitra tutur. Reaksi itulah yang akan membuat peneliti mengetahui bentuk tindak tutur.
Konteks :
Di dalam bus saat pengemudi menyuruh kondekturnya untuk mencari penumpang dan tiba-tiba bus berhenti dan kondektur segera keluar untuk mencari penumpang.
P1 (Kondektur ): Purwokerto, Rawalo, Tanjung.(1)
P2 (Penumpang : Patikraja pak. (2)
P1 (Kondektur): Iya, ayo pak naik saja ini lewat patikraja. (3)
P2 (Penumpang) : Oh iya iya. (4)

Pada data di atas, percakapanP1 dalam tuturan (1) yaitu ‘’Purwokerto, Rawalo, Tanjung.’’ merupakan bentuk tindak tutur ilokusi asertif dengan verba ‘’menyatakan’’. Maksud dari tuturan itu adalah kondektur sedang memberitahukan kepada penumpang yang ada di sekitar terminal yang akan menaiki bus dengan jurusan yang telah disampaikan.
Tuturan di atas termasuk ke dalam tindak tutur langsung dan literal, karena pada percakapan P1 dalam tuturan (1) yaitu kondektur menyampaikan informasi secara langsung kepada penumpang. Tindak tutur literal bahwa isi tuturannya sama dengan apa yang dimaksud ucapan kondektur kepada penumpang, sehingga penumpang dapat memberikan jawaban ‘’iya, ayo pak naik saja ini lewat patikraja.’’
3.6 Metode Penyajian Data
Tahap penyajian analisis data ada dua macam, yaitu yang bersifat formal dan informal. Penyajian data secara formal adalah penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kaidah yang digunakan dalam penyajian hasil analisis data adalah dengan menggunakan simbol-simbol.Penyajian data secara informal adalah penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata biasa, termasuk penggunaan terminologi yang bersifat teknis (Sudaryanto, 1993:145).
Hasil analisis data pada penelitian ini disajikan secara informal, karena data yang disajikan menggunakan bahasa dengan kata-kata biasa secara kasat mata yang dapat dilihat dan dipahami.

PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Tindak tutur yang ditemukan pada interaksi antara pengemudi, kondektur dan penumpang umumbus jurusan Purwokerto-Cilacap adalah terdapat 3 bentuk tindak tutur yaitu tindak tutur lokusi, ilokusi dan perlokusi. Data yang menunjukkan tindak tutur lokusi terdapat 1 data ditunjukkan pada data (1). Data yang menunjukkan tindak tutur ilokusi verba ‘’melaporkan terdapat 1 data ditunjukkan pada data (2), tindak tutur verba ‘’mengumumkan’’ terdapat 1 data ditunjukkan pada data (3) , tindak tutur verba‘’perintah’’ terdapat 3 data ditunjukkan pada data (4), (5) dan (6), tindak tutur ilokusi verba’’bertanya’’ terdapat 3 data ditunjukkan pada data (7), (8) dan (9), tindak tutur ilokusi verba ‘’menyarankan’’ terdapat 1 data ditunjukkan pada data 10), tindak tutur ilokusi verba ‘’mendesak’’ terdapat 1 data ditunjukkan pada data (11), tindak tutur ilokusi verba ‘’berterimakasih’’ terdapat 1 data ditunjukkan pada data (12), tindak tutur ilokusi atau komisif verba ‘’berjanji’’ terdapat 1 data ditunjukkan pada data (13). Datayang menunjukkan tindak tutur perlokusi verba ‘’membujuk’’ terdapat 2data ditunjukkan pada data (14) dan (15).
Prinsip kesantunan menurut Leech terdapat 6 maksim yaitu maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim permufakatan dan maksim kesimpatian. Data yang menunjukkan maksim kebijaksanaan terdapat 1 data ditunjukkan pada data (4). Data yang menunjukkan maksim kedermawanan terdapat 3 data ditunjukkan pada data (4), (11) dan (12). Data yang menunjukkan maksim penghargaan terdapat 1 data ditunjukkan pada data (14). Data yang menunjukkan maksim kesederhanaan terdapat 1 data ditunjukkan pada data (10). Data yang menunjukkanmaksim permufakatanterdapat 4 data ditunjukkan pada data (1), (2),(3) dan(5). Data yang menunjukkan maksim kesimpatianterdapat 1 data ditunjukkan pada data (10).
Berdasarkanuraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tindak tutur yang ditemukan dalam komunikasi antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap menggunakan tindak tutur lokusi, ilokusi dan perlokusi. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi interaksi antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap lebih banyak mematuhi prinsip kesantunan menurut Leech. Hal itu menunjukkan bahwa komunikasi tersebut telah dijalankan dengan baik sehingga terjalin hubungan yang baikdengan menggunakan bahasa yang lugas dan apa adanya. Bentuk tindak tutur dalam komunikasi antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap sebagian besar juga berbentuk tindak tutur langsung dan literal, hal ini menunjukkan sebagaibentuk penyampaian yang diperoleh dari penutur dan mitra tutur dalam percakapan.
5.2 Saran
Penelitian mengenai bentuk tindak tutur yang terjadi di dalam Bus jurusan Purwokerto-Cilacap ini masih sangat terbatas, karena masih banyak lagi teori mengenai bentuk tindak tutur dan prinsip kesantunan Leech yang lebih luas.Penulis juga berharap agar penelitian selanjutnya lebih mendalam dan luas untuk memperoleh hasil yang memuaskan.
DAFTAR PUSTAKA
Aprilia Ika . 2017. Analisis Tindak Tutur Ilokusi Pada Pos Pembaca Dalam Koran Solopos Januari 2017 Dan Diimplementasikan Sebagai Bahan Ajar Bahasa Indonesia Di SMA. Jurnal. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Kesuma. 2007. Pengantar (Metode) Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Carasvatibooks.

Oktaviani Sella. 2015. Tindak Tutur Lokusi Dan Perlokusi Dalam Dialog Film 5 CM Karya Rizal Mantovani. Jurnal. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Rahardi Kunjana. 2008. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. PT Gelora Aksara Pratama: Erlangga.

Rahmawati Rodhiati . 2014. Analisis Kesantunan Berbahasa Di Lingkungan Terminal Sekitar Wilayah Bojonegoro Dengan Prinsip Kesantunan Leech. Jurnal Edu kata Vol 1 No. 2, Agustus 2014: 149-158: Bojonegoro.

Rohmadi Muhammad. 2004.Pragmatik Teori dan Analisis. Yogyakarta: Lingkar Media.

Rustono. 1999.Pokok-Pokok Pragmatik. Semarang: CV. IKIP Semarang Press.

Sudaryanto.1993.Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistik.Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Supriyadi Slamet.2012.Wacana Karikatur Indonesia Perspektif Kajian Pragmatik.Surakarta: UNS Press dan LPP UNS 2012.

Wijana Putu. 2006. Sosiolinguistik Kajian Teori dan Analisis.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yule George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

1693520103D1E013172PENGARUH METODE THAWING DAN LAMA POST THAWING TERHADAP INTEGRITAS MEMBRAN DAN ABNORMALITAS SPERMATOZOA SAPI SIMMENTALPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi metode thawing dan lama post thawing terhadap integritas membran serta abnormalitas spermatozoa sapi Simmental. Materi penelitian yang digunakan adalah 24 straw sapi Simmental berasal dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Banyumas, larutan eosin negrosin 50 ml, 24 ml larutan Hipoosmotik Swelling Test (HOS Test) (1,351 g fruktosa, 0,735 g Na-sitrat, 100 ml Aquabidest). Semen beku di thawing menggunakan air suhu 37oC selama 30 detik dan air PDAM selama 30 detik dengan lama post thawing 20, 40 dan 60 menit. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola factorial dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Peubah yang diukur adalah integritas membran dan abnormalitas spermatozoa sapi Simmental. Hasil penelitian menunjukan tidak ada interaksi antara metode thawing dan lama post thawing (P>0,05) terhadap integritas membran dan abnormalitas sapi Simmental. Akan tetapi, lama post thawing berpengaruh nyata (P<0.05) menurunkan persentase integritas membran dan menaikan persentase abnormalitas spermatozoa sapi Simmental. Rataan persentase integritas membran dan abnormalitas pada metode thawing air suhu 37oC adalah 44,56 ± 1,8% dan 9,73 ± 1,4% sedangkan pada metode thawing air PDAM adalah 27,12 ± 2,0% dan 11,02 ± 2,1%. Rataan persentase integritas membran pada lama post thawing 20, 40, 60 menit adalah 40,16 ± 2.8%; 35.00 ± 1.0%; 32.36 ± 1.4%. Sedangkan rataan persentase abnormalitas pada lama post thawing 20, 40, 60 menit adalah 8,80 ± 0,9%; 10,35 ± 1,7%; 11,96 ± 2,3%. Berdasarkan hasil penelitian metode thawing menggunakan air suhu 37oC selama 30 detik dengan lama post thawing 20 menit memperoleh kualitas semen yang baik dan layak digunakan untuk keperluan inseminasi buatan.The purpose of this research was to find out the interaction between thawing method and post thawing time on membrane integrity and Simmental spermatozoa abnormality. The research material used was 24 straw Simmental cattle from Livestock and Fishery Department of Banyumas Regency, 50 ml eosin nigrosin solution, 24 ml of Hipoosmotic Swelling Test (HOS Test) (1.351 g fructose, 0.735 g Na-citrate, 100 ml Aquabidest). The frozen semen was thawed using 37oC temperature water for 30 seconds and tap water for 30 seconds with post thawing length of 20, 40 and 60 minutes. Research method using Completely Randomized Design (CRD) factorial pattern with 6 treatments and 4 replicates. The measured variables were Simmental’s spermatozoa membrane integrity and spermatozoa morphological abnormality. The results showed that there was no interaction between thawing method and post thawing time (P>0.05) on Simmental’s spermatozoa membrane integrity and spermatozoa morphological abnormality. However, post thawing duration significantly (P<0.05) decreased the percentage of membrane integrity and increased the percentage of Simmental cattle spermatozoa abnormalities. The percentage of membrane integrity and abnormality in thawing method of temperature 37oC was 44.56 ± 1.8% and 9.73 ± 1.4% while the tap water thawing method was 27.12 ± 2.0% and 11.02 ± 2.1%. The mean percentage of membrane integrity at post thawing length of 20, 40, 60 min was 40.16 ± 2.8%; 35.00 ± 1.0%; 32.36 ± 1.4%. While the mean percentage of abnormality in different post thawing time was 8.80 ± 0.9%; 10.35 ± 1.7%; 11.96 ± 2.3%. Based on thawing method, it uses 37oC temperature for 30 second with 20 minutes post thawing time to get good semen quality and suitable for artificial insemination.
1693620125B1J012084KARAKTER MORFOLOGI IKAN MATA BULAN (Megalops cyprinoides Broussnet, 1782) PADA DUA HABITAT YANG BERBEDAIkan mata bulan (Megalops cyprinoides Broussonet, 1782) merupakan salah satu spesies ikan yang umum ditemukan di Indonesia. Karakteristik yang berbeda dari kondisi lingkungan di Danau Rawa Biru Taman Nasional Wasur Merauke, Papua dan sepanjang pesisir pantai Logending Kebumen, Jawa Tengah dapat mempengaruhi tubuh ikan dan menyebabkan perbedaan bentuk tubuh ikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan karakter morfologi ikan mata bulan dari kedua lokasi penelitian dengan menggunakan metode truss morphometric dan meristic yang kemudian dianalisis menggunakan uji “t” kemudian dibandingkan dengan kondisi lingkungan dari kedua lokasi penelitian. Berdasarkan analisis uji “t” pada jarak truss menunujukkan terdapat beberapa perbedaan karakter morfologi, yaitu jarak antara batas kepala badan bagian dorsal-sirip pectoral, jarak antara sirip dorsal bagian depan-sirip ventral, jarak antara batas kepala badan bagian dorsal-sirip ventral, jarak antara sirip pektoral-sirip dorsal bagian depan, jarak antara sirip dorsal bagian depan-sirip dorsal bagian belakang, jarak antara sirip dorsal bagian belakang-sirip anal bagian depan, jarak antara sirip anal bagian depan-sirip ventral, jarak antara sirip dorsal bagian depan-sirip anal bagian depan, jarak antara sirip dorsal bagian belakang-sirip anal bagian belakang, jarak antara sirip dorsal bagian belakang-batas badan ekor bagian dorsal dan jarak antara sirip dorsal bagian belakang-batas badan ekor bagian ventral. Berdasarkan hasil analisis uji “t” pada karakter meristic menunjukkan bahwa karakter meristic tidak dapat digunakan untuk membedakan populasi ikan mata bulan dari kedua lokasi penelitian.Mata bulan (Megalops cyprinoides Broussonet, 1782) is a common fish that can be found in Indonesia. Different ecological condition between Danau Rawa Biru Taman Nasional Wasur Merauke, Papua and along the coastal area of pantai Logending Kebumen, Jawa Tengah can be affect to the shape of the fish. This research was conducted to know the difference morphological character of mata bulan from both research sites by using truss morphometric and meristic method which then analyzed by t test then it compared with the environmental condition from both research sites. Based on t test analysis of truss distance there are some differences in morphological characters, that is the distance between the boundary of head and the dorsal body-pectoral fin, distance between front side of dorsal fin-ventral fin, distance between boundary of head and dorsal body-ventral fin, distance between pectoral fin-front side of dorsal fin, distance between front side of dorsal fin-back side of dorsal fin, distance between back side of dorsal fin-front side of anal fin, distance between front side of anal fin-ventral fin, distance between front side of dorsal fin-front side of anal fin, distance between back side of dorsal fin-back side of anal fin, distance between back side of dorsal fin-boundary of body and dorsal tail and the distance between back side of dorsal fin-boundary of body and ventral tail. Based on the “t” test of meristic character, it shown that meristic characters can’t be use to distinguish the population of mata bulan from both of research sites.
1693720126D1E012266Pemupukan Pupuk Organik Cair Herbal Terhadap Diameter Batang Dan Imbangan Daun Dan Batang Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) Defoliasi KeduaPenelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan pupuk cair herbal terhadap diameter batang dan imbangan daun dan batang rumput gajah defoliasi kedua yang sebelumnya diberi pupuk padat organik granul dari feses ayam pada defoliasi pertama. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pupuk organik granul yang telah diberikan pada defoliasi pertama, urin sapi bunting 240 liter, herbal nanas, temulawak dan mengkudu masing-masing 10 kg, EM4 5 liter, molases 9 liter, air 9 liter, 648 rumpun rumput gajah dan lahan seluas ± 405 m2. Metode penelitian yang digunakan adalah eksferimental dan rancangan yang digunakan adalah Nested (grouped) dengan 12 perlakuan dan 3 ulangan.
Penelitian ini menunjukan hasil rataan diameter batang rumput gajah untuk jenis pupuk, nilai rataan dari P1, P2, P3, dan P4 berturut – turut adalah 1.32 ; 1.49 ; 1.49 ; 1.42 cm dan untuk dosis, nilai rataan d1, d2,d3 berturut – turut adalah 1.47; 1.43; 1.39 cm. Sedangkan untuk Imbangan daun dan batang pada P1, P2, P3, dan P4 berturut – turut adalah 1.48; 1.83; 1.46; 1.35 dan dosis, nilai rataan d1, d2,d3 berturut – turut adalah 1.69; 1.49; 1.45.
Hasil analisis variansi pada diameter batang rumput gajah jenis pupuk dan dosis pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan diameter batang rumput gajah. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penggunaan pupuk cair urin sapi bunting dan herbal tidak berpengaruh nyata terhadap imbangan daun dan batang rumput gajah.
Kata Kunci : Rumput Gajah, Pupuk Cair Urin Sapi Bunting, Herbal, Diameter Batang, Imbangan Daun dan Batang.
The research aimed to assess the in fluence of the use herbal liquid fertilizer on the stem diameter and the leaves and stems ratio of elephant grass at second defoliasi that was given solid organic fertilizer from chicken feces granule at the first defoliasi. The materials used in this study were the granule organic fertilizer that was been given in the first defoliation, 240 liters of cow urine, pineapple herb, temulawak and mengkudu each of 10 kg, EM4 5 liters, molases 9 liters, water 9 liters, 648 Elephants grass bunches and land area of ± 405 m2. The research method used was eksperimental and the design used was Nested (grouped) with 12 treatments and 3 replications.
The results of this study was, the average diameter of elephant grass stem for the type of fertilizer, the mean values of P1, P2, P3, and P4 were 1.32; 1.49; 1.49; 1.42 cm respectively and for the doses, the mean values of d1, d2, d3 were 1.47; 1.43; 1.39 cm. While for the ratio of leaves to stems in P1, P2, P3, and P4 were 1.48; 1.83; 1.46; 1.35, respectively and for the doses, the mean values of d1, d2, d3 were 1.69; 1.49; 1.45.
The results of variance analysis showed that the fertilizer type did not significantly affect the increase of elephant grass stem diameter. The results of variance analysis showed that the use of pregnant cow urine and herbal plus urine did not significantly affect the ratio of leaves to stems of elephant grass.

Keywords : Elephant grass, Solid Organic Fertilizer, Pregnant Cow Urine Liquid Fertilizer, Herbs, Number of Tillers and Width of Leaves.
1693820127E1A013053Penjatuhan Sanksi Pidana Pengawasan Terhadap Anak Yang Melakukan Tindak Pidana Kepemilikan Senjata Tajam (Tinjauan Yuridis Putusan Pengadilan Negeri Yogyakarta No. 1/Pid.Sus-Anak/2016/PN.YYK) Pidana pengawasan merupakan pidana yang khusus dikenakan untuk Anak, yakni pengawasan yang dilakukan oleh Penuntut Umum terhadap perilaku Anak dalam kehidupan sehari-hari di rumah Anak dan pemberian bimbingan yang dilakukan oleh Pembimbing Kemasyarakatan. Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Yogyakarta No. 1/Pid.Sus-Anak/2016/PN.YYK, hakim menjatuhkan pidana pengawasan selama 4 (empat) bulan kepada Irvansyah Mega Hariyadi als Mega bin Hudiyanto Iman Prayitno. Putusan tersebut didasarkan pada hal-hal yang meringankan dari terdakwa yaitu terdakwa yang masih dalam usia sekolah, menyesali perbuatannya serta bersikap sopan dalam persidangan.
Pidana pengawasan ini dilaksanakan oleh Jaksa Penuntut Umum yang bekerjasama dengan BAPAS untuk memberikan pembinaan serta pendidikan kepada terdakwa agar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. BAPAS membuat serta memberikan laporan perilaku anak kepada Jaksa Penuntut Umum untuk melihat perkembangan anak serta konsistensinya dalam menjalankan pidana pengawasannya. Pidana pengawasan ini merupakan pidana pokok dengan jenis pidana dengan syarat, sehingga apabila terdakwa tidak menjalankan dengan baik maka hakim dapat memberikan hukuman lebih berdasarkan laporan tersebut. Adapun permasalahan dalam skripsi ini yaitu bagaimanakah pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan pidana pengawasan serta penerapan pidana pengawasan terhadap anak yang melakukan tindak pidana kepemilikan senjata tajam yang dilakukan oleh anak dalam putusan No. 1/Pid.Sus-Anak/2016/PN.YYK.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pertimbangan yang digunakan hanya yang meringankan saja berdasarkan fakta hukum yang ada serta penerapannya dilakukan oleh Jaksa Penuntut Umum yang bekerjasama dengan BAPAS.

Kata Kunci : Penerapan, Pidana pengawasan, Anak
Under-supervision punishment is the special punishment which imposed for children, namely the supervision made by the Prosecutor against the behavior of children in daily life at home and the provision of guidance provided by the Counselor of Society. Based on decision of Yogyakarta District Court Number 1/Pid.Sus-Anak/2016/PN.YYK, the Judges dropped sentence to Irvansyah Mega Hariyadi als Mega son of Hudiyanto Iman Prayitno for 4 (four) months under surveillance punishment. The decision was based on the relief of the defendant, the defendant who was still in school age, regret on his actions, and being polite in the Court.
This under-supervision punishment is carried out by the Public Prosecutor in cooperation with BAPAS to provide guidance and education to the defendant in order to transform to be a better person. BAPAS creates and reports the child’s behavior to the Public Prosecutor to see the child’s progress and consistency in carrying out the under-supervision punishment. This under-supervision punishment are primary punishment with a condition, so if the defendant doesn’t fulfill it then the Judges may impose more punishment based on the report. The problem in this thesis is how the judges’ legal consideration in imposing the under-supervision punishment and the implementation of the under-supervision punishment to the children who commited criminal acts of possession of sharp weapons in decision of Yogyakarta District Court Number 1/Pid.Sus-Anak/2016/PN.YYK.
The result of this research indicate that the considerations only used to ease punishment based on the existing legal fact and its implementation is done by Public Prosecutor in cooperation with BAPAS.

Keywords : Implementation, Under-supervision punishment, Children
1693920128H1K013044ESTIMASI LUAS TERUMBU KARANG BERDASARKAN DATA CITRA SPOT-7 DAN LANDSAT-8 DI PERAIRAN PULAU SEMAK DAUN, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTALuas terumbu karang dari tahun ke tahun mengalami penurunan dan kerusakan akibat dari aktivitas manusia maupun faktor alam. Untuk mengetahui luas terumbu karang dapat memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dengan menggunakan citra satelit SPOT-7 dan Landsat-8. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi terumbu karang dan menghitung luas terumbu karang dengan citra satelit SPOT-7 dan Landsat-8 serta melihat perbedaannya di perairan Pulau Semak Daun, Taman Nasional Kepulauan Seribu. Data yang digunakan adalah data citra satelit SPOT-7 dan Landsat-8 yang diolah dengan metode algoritma Lyzenga untuk mengetahui tutupan terumbu karang. Pengambilan data lapang menggunakan teknik PIT pada 6 stasiun berbeda sepanjang 100 m. Hasil klasifikasi terbagi menjadi 5 kelas yaitu karang hidup, karang mati, patahan karang (rubble), lamun dan pasir. Luas karang hidup yang dihasilkan citra SPOT-7 dan Landsat-8 adalah sebesar 55,5 ha dan 63,05 ha dan karang mati sebesar 96,19 ha dan 114,40 ha. Persentase tutupan terumbu karang pada data lapang menghasilkan rata-rata 47,6 % yang masuk dalam kategori sedang. Nilai regresi yang dihasilkan sebesar 0,817 yang menunjukkan bahwa citra SPOT-7 dan Landsat-8 memiliki hubungan yang erat. Uji akurasi terhadap citra satelit SPOT-7 dan Landsat-8 memberikan hasil yang cukup memadai yaitu 71,42 % dan 60 %.The area of coral reefs has decreased in size and sustained damage from year to year as a result of human activity as well as natural factors. To determine the extent to which coral reefs have been affected, the remote sensing technology of SPOT-7 and Landsat-8 satellites can be applied. The purpose of this study was to determine the condition of coral reefs and calculate the extent of coral reefs with SPOT-7 and Landsat-8 satellite and see its difference in the waters of Semak Daun Island, Kepulauan Seribu National Park. The data used were SPOT-7 and Landsat-8 satellite image, which was processed by Lyzenga algorithm method to know coral cover. Field data was collected using PIT technique at 6 different stations along 100 m. Classification results were divided into 5 classes: live corals, dead coral, rubble, seagrass and sand. The area of live coral produced by SPOT-7 and Landsat-8 was 55.5 ha and 63.05 ha and dead coral was 96,19 ha and 114,40 ha. The percentage of coral cover on the field resulted in an average of 47.6% in the moderate category. Based on the analysis regression test, the value is about 0.817 which indicates that the SPOT-7 and Landsat-8 images have a close relationship. The accuracy test on SPOT-7 and Landsat-8 satellite image gives sufficient result that is 71.42% and 60%.
1694020129H1D012019ANALISIS PENGARUH PARAMETER GERUSAN DI BAHU JALAN TERHADAP LEBAR, PANJANG, DAN TINGGI GERUSAN BERDASARKAN DATA LAPANGAN
Studi kasus : Ruas Jalan Wonosobo – Purworejo – Magelang
Bahu jalan, terletak di bagian kanan dan kiri jalan yang dipergunakan sebagai ruangan untuk menghindarkan diri dari saat-saat darurat, sehingga dapat mencegah terjadinya kecelakaan atau memberikan kenyamanan dan kelegaan pada pengemudi untuk meningkatkan kapasitas jalan yang bersangkutan. Salah satu masalah yang sering dijumpai pada bahu jalan yang terbuat dari tanah asli adalah terjadinya gerusan yang disebabkan oleh hujan dan air yang melimpas dari badan jalan sehingga menyebabkan terbentuknya cekungan dan aliran air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan gerusan dengan kemiringan melintang (St), kemiringan memanjang jalan (Sl) dan butiran D50.
Untuk mendapatkan data kerusakan gerusan, kemiringan melintang dan kemiringan memanjang jalan dilakukan dengan survey langsung di lapangan. Dari hasil survey didapatkan 20 titik lokasi terjadinya gerusan di bahu jalan di sepanjang ruas jalan Wonosobo – Purworejo – Magelang. Untuk sampel butiran D50 didapatkan dari tanah di lokasi terjadinya gerusan untuk kemudian dilakukan pengujian di laboratorium. Untuk mengetahui hubungan gerusan dengan kemiringan melintang (St), kemiringan memanjang (Sl) jalan dan butiran D50, dilakukan analisis regresi multivariabel.
Berdasarkan hasil analisis regresi multivariabel didapatkan kemiringan melintang paling berpengaruh terhadap kedalaman gerusan dengan persamaan: Ds = (2811.84 x Sl) + (5859.70 x St) + (548.01 x d50), untuk panjang gerusan variabel yang paling berpengaruh adalah kemiringan melintang dengan persamaan: Ls = (368251.97 x Sl) + (625780.92 x St) + (13020.15 x d50). Sedangkan kemiringan memanjang paling berpengaruh terhadap lebar gerusan dengan persamaan Ws = (8067.49 x Sl) + (1336.13 x St) + (366.23 x d50). Dari hasil analisis regresi multivariabel tersebut dapat disimpulkan bahwa kemiringan melintang, kemiringan memanjang dan butiran D50 mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap terjadinya gerusan.
Shoulder of the road, located on the right and left of the road that is used as a room to avoid self-emergency, so as to prevent accidents or provide comfort and relief to the driver to increase the capacity of the road concerned. One of the problems that is often encountered on the shoulders of roads made from the soil is the occurrence of scouring caused by rain and water that flow of the road so as to cause the formation of hollows and water flow. The purpose of this research is to know the relation of scour with transverse slope (St), longitudinal slope (Sl) and granules D50.
In order to obtain crash damage data, the cross-sectional slope and slope of the road is done by direct survey in the field. From the survey results obtained 20 points where the occurrence of scour on the shoulder of road along the road Wonosobo - Purworejo - Magelang. For samples of D50 granules obtained from soil at the site of scouring for later testing in the laboratory. To determine the relation of scour with transverse slope (St), longitudinal slope (Sl) of road and granules D50 , multivariable regression analysis was performed.
Based on the result of multivariable regression analysis, it was found that the transverse slope had the most influence on the scour depth with the equation: Ds = (2811.84 x Sl) + (5859.70 x St) + (548.01 x d50), for the most influential variable scrolling length is the transverse slope of the equation: Ls = (368251.97 x Sl) + (625780.92 x St) + (13020.15 x d50). While the longitudinal slope most affect the width of scour with the equation Ws = (8067.49 x Sl) + (1336.13 x St) + (366.23 x d50). From the results of multivariable regression analysis it can be concluded that the transverse slope, elongated slope and granules D50 has a significant effect on the occurrence of scouring.