Home
Login.
Artikelilmiahs
21434
Update
RUNI YULIYANTI
NIM
Judul Artikel
TINDAK TUTUR PENGEMUDI, KONDEKTUR DAN PENUMPANG UMUM BUS JURUSAN PURWOKERTO-CILACAP SKRIPSI Oleh : Runi Yuliyanti F1G012002 Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) Sastra Indonesia KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS ILMU BUDAYA JURUSAN SASTRA INDONESIA PURWOKERTO 2018
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini berjudul‘’Tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap dan mendeskripsikan prinsip kesantunan Leech tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umumbus jurusan Purwokerto-Cilacap. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini yaitu tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap. Sumber data dari penelitian ini adalah tuturan di dalam bus jurusan Purwokerto-Cilacap yang mengungkapkan sebuah tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan tersebut. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak. Teknik dasar penelitian ini menggunakan teknik sadap dan teknik lanjutan teknik simak libat cakap, teknik rekam. Metode analisis data penelitian ini menggunakan metode padan dengan teknik dasar teknik pilah unsur penentu dan teknik lanjutan berupa teknik daya pilah pembeda reaksi dan keterdengaran. Metode penyajian data penelitian ini menggunakan metode informal. Hasil penelitian bentuk tindak tutur yang ditemukan pada interaksi antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap menggunakan tindak tutur lokusi,ilokusi dan perlokusi yang menunjukkan bahwa tindak tutur bahasa dalam komunikasi antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap lebih banyak mematuhi prinsip kesantunan menurut Leech. Hal itu juga menunjukkan adanya tindak tutur langsung dan literal sebagai bentuk penyampaian penutur dan mitra tutur dalam percakapan. Kata kunci: Pragmatik, Tindak tutur, Prinsip kesantunan Leech.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This research entitled ''Acting speech driver, conductor and passenger general bus department Purwokerto-Cilacap”. The purpose of this research is to describe the form of speech acts of driver, conductor and passenger of public buses Purwokerto-Cilacap and describe the principle of politeness Leech acts speech driver, conductor and passenger general bus Purwokerto-Cilacap. The form of this research is descriptive qualitative. The data of this research is the act of driver's speech, conductor and passenger of public bus of Purwokerto-Cilacap department. Sources of data from this study is a speech in the Purwokerto-Cilacap bus that reveals a speech acts driver, conductor and general passenger bus majors. Methods of data collection in this study using the method of simak.Teknik basic research using techniques tapping techniques and advanced techniques simulation libat ably, techniques record. Methods of data analysis of this study using the method of the technique with the basic techniques of separating the determinant elements and advanced techniques in the form of differentiating techniques of reaction and hearing distortion. Method of presenting this research data using informal method. The result of the speech act study found in the interaction between driver, conductor and passenger of public bus of Purwokerto-Cilacap department using speech act of locusi, ilokusi and perlokusi indicating that speech acts in communication between driver, conductor and passenger of public bus of Purwokerto-Cilacap more many adhere to the principle of politeness according to Leech. It also indicates direct and literal speech acts as a form of speech and speech-speaker delivery in the conversation Keywords: Pragmatic, Speech, Leech's politeness principle. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi. Sesuai dengan perkembangan budaya manusia, maka penggunaan bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi ikut berkembang, terutama di bidang kosakata.Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya apabila dalam perkembangannya tidak diatur dengan sistem, maka penggunaan bahasa tersebut akan kacau, tidak terarah, dan setiap orang berbeda beda dalam menggunakan bahasa tersebut, baik dalam bentuk lisan maupun tulis. Komunikasi merupakan suatu interaksi sosial melalui pesan yang dapat diberi sandi atau kode secara formal simbolis bahasa dapat digunakan dalam berkomunikasi yang berhubungan dengan penulisan bahasa agar lebih komunikatif atau penggambaran peristiwa tentang beberapa aspek budaya yang sama-sama dimiliki bagi setiap orang (Kusneni,2012). Bahasa sebagai gejala sosial yang sangat kompleks baik masalah sosialnya,kulturnya, maupun situasionalnya. Dengan demikian, mendekati bahasa dari pandangan linguistik belumlah cukup sebab studi bahasa juga memperhitungkan faktor sosial dan situasionalnya, adapun pragmatik adalah ilmu bahasa yang mempelajari tentang makna tuturan serta maknanya dapat disesuaikan dengan situasi, tempat, dan waktu tertentu.Dalam penelitian ini pendekatan pragmatik digunakan untuk mengkaji satuan analisis tindak ujaran atau tindak tutur, setiap ujaran yang dituturkan oleh penutur memiliki makna dan maksud tertentu sesuai dengan tujuan masing-masing. Tindak tutur dalam peristiwa tutur merupakan dua gejala yang terjadi pada suatu proses yaitu proses komunikasi. Di dalam kehidupan manusia tidak bisa lepas dari peristiwa tutur, karena dengan tuturan manusia dapat menyampaikan informasi kepada lawan tuturnya serta dapat dimengerti satu sama lain. Tuturan atau tindak tutur itu beraneka ragam jenisnya salah satunya pengelompokan berdasarkan sifat hubungannya yang di dalamnya mencakup tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Pendekatan terhadap makna memang tidak dapat dilakukan dengan menggunakan sudut pandang pragmatik saja. Pendekatan dengan satu sudut pandang saja tidak akan sampai pada penjelasan makna yang sesuai dengan fakta yang dapat diamati, tidak sederhana, serta tidak dapat dirapatkan. Sementara itu, pendekatan terhadap makna dari satu sudut pandang paduan pragmatik akan sampai pada sajian penjelasan makna yang sesuai dengan fakta, sederhana, dan dapat digeneralisasi (Rustono,1999:15). Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur atau penulis dan ditafsirkan oleh pendengar atau pembaca sebagai akibatnya studi ini lebih banyak berhubungan dengan analisis tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya daripada dengan makna terpisah dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri. Pragmatik adalah studi tentang maksud penutur.Manfaat belajar bahasa melalui pragmatik ialah bahwa seseorang dapat bertutur kata tentang makna yang dimaksudkan orang, asumsi mereka, maksud atau tujuan mereka, dan jenis-jenis tindakan yang mereka perlihatkan ketika mereka sedang berbicara ( Yule:3). Penutur cenderung menggunakan bahasa seperlunya saja dalam berkomunikasi, dengan konteks situasi yang jelas, dimana komunikasi tersebut terjadi, siapa lawan bicaranya, tujuan pembicaraan, norma, pesan, serta alat yang digunakan (lisan/tulis) dalam suatu peristiwa komunikasi. Dalam kesehariannya pemakaian bahasa di dalam bus tidak memiliki struktur bahasa yang lengkap, meskipun begitu interaksi antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum dapat berjalan dengan lancar.Hal tersebut dapat berlangsung karena antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum sudah saling memahami bentuk tuturan, tujuan tuturan dan konteks tuturan yang terdapat pada kegiatan interaksi komunikasi di dalam bus tersebut. Bentuk tindak tutur dalam bus cenderung terdiri dari kalimat-kalimat yang singkat, pemakaian kalimat yang singkat tersebut memiliki tujuan untuk menghemat waktu agar tercipta suatu proses komunikasi yang efektif selama di dalam perjalanan. Berikut adalah contoh tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum di dalam bus Jurusan Purwokerto-Cilacap. Konteks: Seorang kondektur yang mengasih aba-aba kepada penumpangnya agar segera bersiap-siap untuk turun. P1 (Kondektur): Yang pasar Sampang siap-siap turun bu. ayo cepat. (1) P2(Penumpang): Iya pak sabar dulu ini lagi bersiap mau turun. (2) P1 (Kondektur): Cepat ya bu di belakang ada bis lagi. (3) Data di atas merupakan bentuk tindak tutur ilokusi dengan verba ‘’menyuruh’’, dalam hal ini berkaitan dengan tindak tutur direktif, hal itu terjadi pada P1 dalam tuturan (1) yaitu ‘’ Yang pasar sampang siap-siap bu. Ayo cepat’’dan tuturan (3) yaitu ‘’Cepat ya bu di belakang ada bis lagi’’. Maksud yang terkandung pada tuturan itu adalah kondektur menyuruh kepada penumpangnya untuk segera bersiap-siap yang mau turun di pasar Sampang,karena pengemudi juga sudah tidak sabar untuk mengejar penumpang yang lain agar tidak berebut dengan bus yang dibelakangnya. Tuturan di atas termasuk ke dalam tindak tutur langsung dan literal. Hal itu dapat dilihat dalam tuturan (1) dan (3), karena tuturan tersebut bersifat secara langsung dan apa yang dituturkan sama dengan apa yang dimaksud. Tindak tutur langsung dalam konteks ini adalah bahwa kondektur memerintahkan kepada penumpang untuk segera turun dari bus, karena dibelakang masih ada bus lagi serta agar tidak saling berebut untuk mencari penumpang. Konteks literal yaitu maksud tuturan yang disampaikan kondektur kepada penumpang sama dengan yang diucapkan pada tuturan di atas. Konteks: Salah satu kondektur yang sedang mencari penumpang dan memberitahukan tujuan kepada orang-orang yang sedang menunggu bus di depan terminal. P1 (Kondektur) : Pak, bu.. Cilacap Maos Sampang, Bu. (1) P2 (Penumpang) : Wangon pak. (2) P1 (Kondektur) : Ora yuh..terus. (3) Dari data di atas tuturan(1) yaitu‘’Pak, bu..cilacap maos sampang, Bu’’ merupakan bentuk tindak tutur ilokusi dengan verba ‘’penawaran’’, dalam hal ini berkaitan dengan tindak tutur komisif yang berfungsi ‘’menawarkan’’. Maksud yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah untuk mewujudkan suatu tindakan yang telah dituturkan oleh kondektur yaitu dengan melakukan penawaran kepada penumpang yang sedang menunggu bus di sekitar Terminal. Tuturan di atas termasuk ke dalam tindak tutur langsung dan literal. Hal itu dapat dilihat pada P1 dalam tuturan (1) yaitu‘’Pak, bu..cilacap maos sampang, ngendi bu?’’, karena kondektur menawarkan secara langsung kepada penumpang yang ada di Terminal. Tindak tutur literal, karena tuturan di atas memiliki maksud ucapan yang sama dengan apa yang dilakukan kondektur kepada penumpang. Peneliti memilih bus kota jurusan Purwokerto-Cilacap karena bermaksud ingin mengetahui secara langsung bagaimana pemakaian bentuk tindak tutur dan kesantunan tindak tutur antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap agar dapat mengetahui tentang bentuk tindak tutur dan maksud tindak tutur dalam interaksi antar pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap diperlukan suatu penelitian lebih lanjut. METODE PENELITIAN 3.1 Bentuk Penelitian Bentuk penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengamati fenomena suatu bahasa pada kurun waktu tertentu (Kesuma,2007:52). Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang menitikberatkan pada fenomena-fenomena yang terjadi dalam masyarakat dan hasil penelitiannya bukan dalam bentuk angka, melainkan kata-kata. Penelitian bersifat deskriptif kualitatif digunakan karena penelitian ini membahas tentang tindak tutur dan prinsip kesantunan yang bertujuan untuk mengungkapkan suatu tindak tutur pada pengemudi, kondekturdan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap. 3.2 Data dan Sumber Data Data adalah bahan jadi penelitian, objek penelitian beserta dengan konteksnya (Kesuma,2007). Data dari penelitian ini yaitu tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap. Sumber data dari penelitian ini adalah tuturan di dalam bus jurusan Purwokerto-Cilacap yang mengungkapkan suatu tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan tersebut. 3.3 Fokus Penelitian Fokus penelitian ini adalah bentuk tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap. 3.4 Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak. Metode simak adalah metode yang dilakukan dengan cara menyimak untuk memperoleh data secara lisan(Kesuma,2007). Teknik dasar metode ini adalah teknik sadap,maksudnya peneliti dalam memanfaatkan data dengan cara menyadap pembicaraan seseorang. Peneliti mendapatkan data dengan cara melakukan penyadapan terhadap penggunaan bahasa lisan. Dalam penelitian ini peneliti menyadap bagaimana tindak tutur pengemudi dan kondektur bus jurusan Purwokerto-Cilacap dengan menggunakan makna untuk berkomunikasi di dalam bus ketika berbicara dengan kondektur. Teknik lanjutan yang digunakan dalam penelitian ini adalah simak libat cakap yaitu peneliti terlibat langsung dalam percakapan, dan teknik rekam yaitu teknik penjaringan data dengan merekam penggunaan bahasa. 3.5 Metode Analisis Data Tahap analisis data merupakan upaya peneliti menangani langsung masalah yang terkandung pada data (Sudaryanto,1993:6). Analisis data pada penelitian ini menggunakan metode padan. Metode padan adalah metode analisis data yang alat penelitian berada di luar, terlepas dan tidak menjadi bagian dalam bahasa yang bersangkutan atau yang diteliti dan alat penentunya ialah kenyataan yang ditunjuk oleh bahasa atau referen (Sudaryanto, 1993: 13). Penelitian ini menggunakan metode padan sebagai metode yang digunakan untuk menganalisis data berupa tuturan pemakai bahasa dalam tindak tutur pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap. Metode padan memiliki beberapa teknik dalam menganalisis suatu data yaitu teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasar analisis data dalam metode padan adalah teknik pilah unsur penentu. Teknik dasar ini digunakan sesuai dengan kebutuhan peneliti. Teknik pilah unsur penentu juga memiliki teknik lanjutan, ada lima teknik lanjutan yakni, teknik pilah unsur penentu dengan daya pilah pembeda referen, pembeda organ, pembeda larik tulisan, pembeda reaksi dan keterdengaran, serta pembeda sifat dan watak aneka langue (Sudaryanto, 1993: 22-26). Teknik lanjutan yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik lanjutan dengan daya pilah pembeda reaksi dan keterdengaran. Teknik lanjutan ini dikenal dengan daya pilah pragmatis, karena berkaitan dengan mitra tutur (Sudaryanto, 1993: 25). Dalam kegiatan bertutur antara penutur dan mitra tutur akan menghasilkan sebuah reaksi terhadap mitra tutur. Reaksi itulah yang akan membuat peneliti mengetahui bentuk tindak tutur. Konteks : Di dalam bus saat pengemudi menyuruh kondekturnya untuk mencari penumpang dan tiba-tiba bus berhenti dan kondektur segera keluar untuk mencari penumpang. P1 (Kondektur ): Purwokerto, Rawalo, Tanjung.(1) P2 (Penumpang : Patikraja pak. (2) P1 (Kondektur): Iya, ayo pak naik saja ini lewat patikraja. (3) P2 (Penumpang) : Oh iya iya. (4) Pada data di atas, percakapanP1 dalam tuturan (1) yaitu ‘’Purwokerto, Rawalo, Tanjung.’’ merupakan bentuk tindak tutur ilokusi asertif dengan verba ‘’menyatakan’’. Maksud dari tuturan itu adalah kondektur sedang memberitahukan kepada penumpang yang ada di sekitar terminal yang akan menaiki bus dengan jurusan yang telah disampaikan. Tuturan di atas termasuk ke dalam tindak tutur langsung dan literal, karena pada percakapan P1 dalam tuturan (1) yaitu kondektur menyampaikan informasi secara langsung kepada penumpang. Tindak tutur literal bahwa isi tuturannya sama dengan apa yang dimaksud ucapan kondektur kepada penumpang, sehingga penumpang dapat memberikan jawaban ‘’iya, ayo pak naik saja ini lewat patikraja.’’ 3.6 Metode Penyajian Data Tahap penyajian analisis data ada dua macam, yaitu yang bersifat formal dan informal. Penyajian data secara formal adalah penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kaidah yang digunakan dalam penyajian hasil analisis data adalah dengan menggunakan simbol-simbol.Penyajian data secara informal adalah penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata biasa, termasuk penggunaan terminologi yang bersifat teknis (Sudaryanto, 1993:145). Hasil analisis data pada penelitian ini disajikan secara informal, karena data yang disajikan menggunakan bahasa dengan kata-kata biasa secara kasat mata yang dapat dilihat dan dipahami. PENUTUP 5.1 Kesimpulan Tindak tutur yang ditemukan pada interaksi antara pengemudi, kondektur dan penumpang umumbus jurusan Purwokerto-Cilacap adalah terdapat 3 bentuk tindak tutur yaitu tindak tutur lokusi, ilokusi dan perlokusi. Data yang menunjukkan tindak tutur lokusi terdapat 1 data ditunjukkan pada data (1). Data yang menunjukkan tindak tutur ilokusi verba ‘’melaporkan terdapat 1 data ditunjukkan pada data (2), tindak tutur verba ‘’mengumumkan’’ terdapat 1 data ditunjukkan pada data (3) , tindak tutur verba‘’perintah’’ terdapat 3 data ditunjukkan pada data (4), (5) dan (6), tindak tutur ilokusi verba’’bertanya’’ terdapat 3 data ditunjukkan pada data (7), (8) dan (9), tindak tutur ilokusi verba ‘’menyarankan’’ terdapat 1 data ditunjukkan pada data 10), tindak tutur ilokusi verba ‘’mendesak’’ terdapat 1 data ditunjukkan pada data (11), tindak tutur ilokusi verba ‘’berterimakasih’’ terdapat 1 data ditunjukkan pada data (12), tindak tutur ilokusi atau komisif verba ‘’berjanji’’ terdapat 1 data ditunjukkan pada data (13). Datayang menunjukkan tindak tutur perlokusi verba ‘’membujuk’’ terdapat 2data ditunjukkan pada data (14) dan (15). Prinsip kesantunan menurut Leech terdapat 6 maksim yaitu maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim permufakatan dan maksim kesimpatian. Data yang menunjukkan maksim kebijaksanaan terdapat 1 data ditunjukkan pada data (4). Data yang menunjukkan maksim kedermawanan terdapat 3 data ditunjukkan pada data (4), (11) dan (12). Data yang menunjukkan maksim penghargaan terdapat 1 data ditunjukkan pada data (14). Data yang menunjukkan maksim kesederhanaan terdapat 1 data ditunjukkan pada data (10). Data yang menunjukkanmaksim permufakatanterdapat 4 data ditunjukkan pada data (1), (2),(3) dan(5). Data yang menunjukkan maksim kesimpatianterdapat 1 data ditunjukkan pada data (10). Berdasarkanuraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tindak tutur yang ditemukan dalam komunikasi antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap menggunakan tindak tutur lokusi, ilokusi dan perlokusi. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi interaksi antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap lebih banyak mematuhi prinsip kesantunan menurut Leech. Hal itu menunjukkan bahwa komunikasi tersebut telah dijalankan dengan baik sehingga terjalin hubungan yang baikdengan menggunakan bahasa yang lugas dan apa adanya. Bentuk tindak tutur dalam komunikasi antara pengemudi, kondektur dan penumpang umum bus jurusan Purwokerto-Cilacap sebagian besar juga berbentuk tindak tutur langsung dan literal, hal ini menunjukkan sebagaibentuk penyampaian yang diperoleh dari penutur dan mitra tutur dalam percakapan. 5.2 Saran Penelitian mengenai bentuk tindak tutur yang terjadi di dalam Bus jurusan Purwokerto-Cilacap ini masih sangat terbatas, karena masih banyak lagi teori mengenai bentuk tindak tutur dan prinsip kesantunan Leech yang lebih luas.Penulis juga berharap agar penelitian selanjutnya lebih mendalam dan luas untuk memperoleh hasil yang memuaskan. DAFTAR PUSTAKA Aprilia Ika . 2017. Analisis Tindak Tutur Ilokusi Pada Pos Pembaca Dalam Koran Solopos Januari 2017 Dan Diimplementasikan Sebagai Bahan Ajar Bahasa Indonesia Di SMA. Jurnal. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kesuma. 2007. Pengantar (Metode) Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Carasvatibooks. Oktaviani Sella. 2015. Tindak Tutur Lokusi Dan Perlokusi Dalam Dialog Film 5 CM Karya Rizal Mantovani. Jurnal. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Rahardi Kunjana. 2008. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. PT Gelora Aksara Pratama: Erlangga. Rahmawati Rodhiati . 2014. Analisis Kesantunan Berbahasa Di Lingkungan Terminal Sekitar Wilayah Bojonegoro Dengan Prinsip Kesantunan Leech. Jurnal Edu kata Vol 1 No. 2, Agustus 2014: 149-158: Bojonegoro. Rohmadi Muhammad. 2004.Pragmatik Teori dan Analisis. Yogyakarta: Lingkar Media. Rustono. 1999.Pokok-Pokok Pragmatik. Semarang: CV. IKIP Semarang Press. Sudaryanto.1993.Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistik.Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Supriyadi Slamet.2012.Wacana Karikatur Indonesia Perspektif Kajian Pragmatik.Surakarta: UNS Press dan LPP UNS 2012. Wijana Putu. 2006. Sosiolinguistik Kajian Teori dan Analisis.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Yule George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save